Anda di halaman 1dari 18

BAB X

INDUKSI MATEMATIK DAN VEKTOR

1. INDUKSI MATEMATIKA
1.1 Pengertian Induksi Matematika
Induksi matematik adalah merupakan teknik pembuktian yang baku
di dalam Matematika. Induksi matematik digunakan untuk membuktikan
pernyataan yang khusus menyangkut bilangan bulat positif. Pembuktian
dengan Induksi matematik dapat diilustrasikan dengan fenomena yang
terkenal dengan Efek Domino. Sejumlah batu domino diletakan berdiri
dengan jarak ruang yang sama satu dengan yang lain. Untuk merebahkan
domino kita hanya cukup mendorong domino 1 ke kanan. Jika Domino 1
didorong kekanan, ia akan memdorong domino ke 2, domino 2
mendorong domino 3, dst sampai semua domino rebah ke kanan.

1.2 Prinsip Induksi Sederhana


Misal p(n) adalah pernyataan yang bergantung pada n bilangan bulat
positif. Kita ingin membuktikan bahwa p(n) benar utnuk semua bilangan bulat
positif. Langkah induksi:
a. Basis Induksi: tunjukan p(1) benar
b. Hipotesa induksi: Misal p(n) benar untuk semua bilangan positif n 1.
c. Buktikan bahwa p(n+1) benar.
Contoh:
n(n+1)
1) Tunjukan bahwa 1 + 2 + 3 + . . . + n = untuk n 1.
2
Jawab:
Basis induksi
1(1+1)
Untuk n = 1, 1 =
2
= 2/2
= 1 (benar)

Hipotesa induksi
Andaikan untuk n1
n(n+1)
1+2+3+...+n= benar
2

Akan dibuktikan untuk (n+1),

1
(n+1)(n+2)
1 + 2 + 3 + . . . + n + (n+1) =
2
bukti :
n(n+1)
1 + 2 + 3 + . . . + n + (n+1) = + (n+1)
2
n(n+1) 2( n+1)
= +
2 2
n(n+1)
= (n+2)
2
(n+1)(n+2)
=
2
Terbukti.
n(n+1)
1+2+3+...+n= untuk n1.
2

2) Tunjukan: 1 + 3 + 5 + . . . + (2n 1) = n2 , untuk n bilangan pasitif.


Jawab:
Basis induksi Untuk n = 1, 1 = 12
= 1(benar)
Hipotesa induksi
Andaikan untuk n1,
1 + 3 + 5 + . . . + (2n 1) = n2 benar
Akan dibuktikan:
1 + 3 + 5 + . . . + (2n 1) + (2(n+1) 1)= (n+1)2
Bukti:
1 + 3 + 5 + . . . + (2n 1) + (2(n+1) 1) = n2 + (2(n+1) 1)
= n2 + 2n + 1
= (n+1)2
Terbukti.
1 + 3 + 5 + . . . + (2n 1) = n2 , untuk n bilangan pasitif.

3) Untuk n 1, tujukan bahwa n3 + 2n adalah kelipatan 3


Jawab:
Basis Induksi
Untuk n = 1, 13 + 2.1 = 1 + 2 = 3 adalah kelipatan 3 (benar).
Hipotesa Induksi
Andaikan benar bahwa n3 + 2n adalah kelipatan 3.
Akan dibuktikan:
Untuk p(n+1): (n+1)3 + 2(n+1) adalah kelipatan 3
Bukti:
(n+1)3 + 2(n+1) = ( n3 + 3 n2 + 3n + 1) + (2n + 2)
= ( n3 + 2n) + (3 n2 + 3n + 3)
= ( n3 + 2n) + 3 ( n2 + n + 1)

2
Karena ( n3 + 2n) adalah kelipatan 3 (hipotesa Induksi) dan 3 ( n2
+ n + 1) adalah juga merupakan kelipatan 3, maka ( n3 + 2n) + 3 (
2
n + n + 1) adalah kelipatan 3.
Terbukti.
n3 + 2n adalah kelipatan 3 untuk n 1.

1.3 Prinsip Induksi Yang Dirapatkan (Generalized)


Prinsip Induksi sederhana digunakan untuk membuktikan pernyataan
p(n) dimana n dimulai dari 1. Prinsip Induksi yang dirapatkan digunakan
untuk membuktikan pernyataan p(n) dimana n tidak harus dimulai dari 1,
tetapi berlaku untuk semua bilangan bulat positif (nonnegative).
Misal p(n) adalah pernyataan. Kita akan buktikan p(n) benar untuk semua bilangan
bulat n n0 . Langkah Induksi:

1. Basis Induksi: p( n0 ) benar

2. Hipotesa Induksi : Andaikan p(n) benar untuk n n0 .

3. Akan dibuktikan bahwa p(n+1) benar.

Contoh:

1. Tunjukan bahwa utnuk semua bilangan bulat non negative

20 + 21+ 22 + . . . + 2n = 2n+1 1

Jawab:

Basis Induksi
Untuk n = 0 20 = 20+1 1
1=21
1 = 1 (benar)
Hipotesa Induksi

0
Andaikan untuk n0, 2 + 21 + 22 + . . . + 2
n
= 2
n+1
1
adalah benar.

Akan dibuktikan untuk p(n+1) : 20 + 21+ 22 +...+ 2n +


2n+1 = 2n+2 1
Bukti:

3
20 + 21+ 22 +...+ 2n + 2n+1 =( 2n+11 )+
n+1
2
= ( 2n+1 +2n +1 ) 1
= 2. 2n+1 1
= 2n+2 1 (terbukti)

0 1 2 n n+1
2 + 2 +2 + . . . + 2 = 2 1, utnuk semua
bilangan bulat nonnegatif.

2. Tunjukan bahwa n2 2n + 1 , untuk n4


Jawab:
Basis Induksi
Untuk n = 4 4 2 2.4 + 1
16 9 (benar)
Hipotesa Induksi
Andaikan benar bahwa n2 2n + 1 , untuk n4.
Akan dibuktikan bahwa ( n+1 )2 2(n+1) + 1
Bukti:
( n+1 )2 = n2 + 2n + 1 (2n + 1) + 2n + 1= (2n + 2) + 2n = 2
(n+1) + 2n
Karena untuk n4, 2n 1, maka : 2(n+1) + 2n 2(n+1) + 1
jadi, (n+1) 2(n+1) +1(terbukti)

1.4 Prinsip Induksi Kuat


Misal p(n) adalah suatu pernyataan yang menyangkut bilangan bulat. Kita
akan buktikan bahwa p(n) adalah benar utnuk semua bilangan bulat n n0 .
Langkah induksi:
1. Basis Induksi: p( n0 ) benar.
2. Hipotesa Induksi : Andaikan utnuk semua bilangn bulat n n0 , p(
n0 ), p( n0 + 1), . . . , p(n) benar.
3. Akan dibuktikan p(n+1) benar.
Contoh:
Tunjukan bahwa bilangan bulat positif adalah bilangan prima jika hanya jika
hanya habis dibagi 1 dan dirinya sendiri.
Jawab:
Kita akan buktikan bahwa utnuk setiap bilangan bulat n2, dapat dinyatakan
sebagai hasil kali satu atau lebih bilangan prima.
Basis Induksi
Untuk n = 2 2 = 1.2 ( 2 dapat dinyatakan sebagai perkalian satu bilangan
prima) benar.
Hipotesa induksi

4
Misalkan 2,3,4, . . ., n dapat dinyatakan sebagai hasil kali satu atau
lebih bilangan prima.
Akan dibuktikan bahwa (n+1) dapat dinyatakan sebagai hasil kali satu
atau lebih bilangan prima.
Bukti:
Jika (n+1) adalah bilangan prima , maka (n+1) dapat dinyatakan sebagai
hasil kali satu bilangan prima yaitu (n+1) = 1.(n+1)
Jika (n+1) bukan bilangan prima, maka terdapat bilangan positif a
sedemikian sehingga 2< a < (n+1) yang membagi habis (n+1). Dengan kata
lain:
(n+1)
= b atau (n+1) = ab
a
Dari hipotesa, karena 2< a,b<n maka a dan b dapat dinyatakan sebagai
hasil kali satu atau lebih bilangan prima. Jadi, ab juga dapat dinyatakan
sebagai hasil kali satu atau lebih bilangan prima, sehingga (n+1) dapat
dinyatakan sebagai hasil kali satu atau lebih bilangan prima. (terbukti)

2. VEKTOR
2.1 Vektor di dalam Ruang Dimensi Dua ( R2 )

Untuk memudahkan menjelaskan vektor kepada siswa maka pada bidang

dibuat sebuah sistem koordinat kartesius, sehingga setiap vektor yang sejajar

bidang koordinat diwakili oleh vektor yang besar dan arahnya sama dan terletak

pada bidang tersebut. Vektor-vektor yang sejajar dengan suatu bidang datar

dinamakan vektor-vektor koplanar. Dan untuk menyatakan vektor yang lain pada

bidang kartesius, digunakan vektor satuan, sehingga jika A(x,y) serta i dan j

masing-masing vektor pada arah positif pada sumbu x dan y. Untuk lebih jelasnya

perhatikan gambar 3 berikut:

Suatu vektor a dalam koordinat kartesius


O

tersebut dapat dinyatakan :


Y


OA ( xy )
a

a= = (x,y) = =xi+yj
i

5
A(x,y)
X
Panjang vektor a adalah x2+ y 2 dan

y
besarnya tg = x

Gambar 3.

Sedangkan i adalah vektor satuan pada sumbu X dan j merupakan vektor

satuan pada sumbu Y, maka vektor ini dapat dinyatakan sebagai kombinasi linier

dalam vektor i dan j atau bentuk komponennya yaitu :


1 0
0 1

righ righ


i = dan j =
( ) ( )

Contoh:

Vektor

OA pada gambar berikut dapat dinyatakan

Vektor a =

OA = 5I+3j
Y
( kombinasi linier dari i dan j )

A(5,3)
3
atau vektor a =

OA =
(53)
a
( bentuk komponen )
X
O 5

Gambar 4

2.2 Vektor di dalam Ruang Dimensi Tiga ( R3 )

Untuk menentukan kedudukan atau letak titik di dalam ruang dapat

digunakan sistem koordinat dengan sumbu X , Y dan Z dengan masing-masing

6
sumbu saling tegak lurus dan berpotongan di sebuah titik O, Sebuah titik P dalam

ruang disajikan dalam pasangan berurutan (x,y,z) dengan salib sumbu kartesius

digunakan aturan tangan kanan seperti pada gambar 5 berikut :


X

Jarak P sampai bidang YOZ


P2
xp

adalah x atau PP1 = xp


i

Jarak P sampai bidang XOZ


zp
O

Z
adalah y atau PP2 = yp

Jarak P sampai bidang XOY


j

adalah z atau PP3 = zp


P3

P(x,y,z)
yp

P1

Gambar 5
Y

Dengan demikian vektor posisi P adalah



OP dinyatakan dengan

bentuk sebagai berikut :


OP = x i + y j + z k jika i, j dan k merupakan vektor satuan dalam koordinat

ruang. ( i: vektor satuan pada sumbu X; j: vektor satuan pada sumbu Y dan k;

vektor satuan pada sumbu Z )

()
x

OP= y
atau z

7

OP x 2 + y 2 + z2
|OP|=
Besar ( panjang / norm ) vektor tersebut adalah .

Sebagai contoh, misalkan sebuah titik A (3,2,4), maka vektor posisi titik A adalah


OA atau a dapat dinyatakan dengan :

()
3
2
a=

OA = 3 i + 2 j + 4 k atau a =

OA = 4

2.3 Operasi Vektor

1. Penjumlahan Vektor

Dua buah vektor a dan b dapat dijumlahkan yang hasilnya a + b dengan

cara sebagai berikut :

Perhatikan gambar 6 berikut :

a
Gambar 6

Dua vektor pada gambar 6 diatas dapat dijumlahkan dengan dua cara

yaitu :

a). aturan segitiga vektor, yaitu pangkal b digeser ke ujung a sehingga:

a+b

b
a
Gambar 7

8
b). aturan jajaran genjang, yaitu pangkal b digeser ke pangkal a,

kemudian dilukis jajaran genjang, sehingga:

b a+b

a
Gambar 8

Jika kedua vektor mengapit sudut tertentu maka besarnya jumlah dua

vektor tersebut dapat dicari dengan menggunakan rumus aturan cosinus

seperti pada trigonometri yaitu:

a+b
b
1800- b

a
Gambar 9

Maka didapat :

( a + b )2 = a2 + b2 2ab Cos (1800 - )

= a2 + b2 2ab Cos

Jadi a + b = a2+b2 -2ab Cos

Sehingga jika = 900 maka Cos = 0 maka a + b = a2 +b2


Jika vektor disajikan dalam bentuk komponen maka penjumlahan dapat

dilakukan dengan menjumlahkan komponennya, misalnya:

a=
(62 ) dan b =
(14) maka a + b =
(6+1
2+4 )=
( 6)
7

Sifat penjumlahan vektor:

9
Jika a, b dan c adalah suatu vektor maka:

1) a+b=b+a sifat komulatif

2) (a+b)+c=a+(b+c) sifat asosiatif

3) Setiap vector mempunyai elemen identitas, yaitu vektor

nol sehingga a + 0 = a + 0

4) Setiap vektor mempunyai invers ( yaitu vektor negatif )

sehingga a + ( - a ) = 0

Dua vektor yang sama besar dan arahnya berlawanan

dinamakan dua vektor yang berlawanan

Contoh:

1) Buktikan bahwa sudut yang menghadap busur setengah

lingkaran adalah sudut siku-siku.

Bukti:

Perhatikan gambar berikut :


B

A O C
Gambar 10

Kita tunjukkan bahwa vektor



AB tegak lurus pada vektor


BC dengan memisalkan O sebagai pusat dari setengah

lingkaran maka:


AB
BC
(OA+
OB).(
BO+
OC)
. =


(OC+
OB).(
OB+
OC)
=

10
=

OC.
OC
OB.
OB

|OC|
2
|OB|
2
=

= O ( terbukti )

karena

OC dan

OB mempunyai panjang yang sama.

2) Diketahui vektor :

() () ()
1 2 1
2 1 2
a = 3 ; b = 2 dan c = 3

Tentukan x jika : a) x = a + b

b) x + a = c

Penyelesaian :

a). x = a + b

( ) ( ) ()
1 2 1
2 1 1
= 3 + 2 = 1

b). x + a = c x = c - a

() () ()
1 1 0
2 2 4
= 3 - 3 = 0

3) Ditentukan titik-titik P(2,7,8) dan Q(-1,1,-1). Tentukanlah

dalam bentuk komponen vektor yang diwakili oleh



PR

11
1
apabila R adalah titik pada

PQ sehingga

PR = 3

PQ
dan berapa koordinat R.

Penyelesaian :


PQ =qp

( )()( )
1 2 3
1 7 = 6
= 1 8 9

1
Karena

PR = 3

PQ sehingga komponen vector yang

() ()
3 1
1 6 2
diwakili oleh

PR = 3 9 = 3

Misal koordinat titik R adalh (x,y,z) maka:

( ) () ()
1 x 2
2 y 7

PR =rp 3 = z - 8

() ( ) () ()
x 1 2 1
y 2 7 5
z = 3 + 8 = 5

Jadi koordinat R (1,5,5)

2. Selisih Dua Vektor

12
Selisih dua vektor a dan b, dinyatakan sebagai a - b dapat dipandang

sebagai penjumlahan vektor a dengan invers vektor b atau - b ditulis a b =

a + ( - b ) digambarkan sebagai berikut:

a a -b a
b b

a -b a -b
-b

Gambar 11

Contoh:

Diketahui dua titik P(-1,4,3) dan titik Q(2,1,-3)

Tentukan vektor

PQ
Penyelesaian :


PQ =

OQ
OP

( )( )( )
2 1 3
1 4 = 3
= 3 3 6

3. Perkalian Vektor dengan Skalar

Jika a suatu vektor dan k adalah skalar ( bilangan nyata ) maka

perkalian vektor a dengan skalar k ditulis ka atau ak merupakan vektor yang

panjangnya k |a| dan mempunyai arah yang sama dengan a, sedangkan -

k a = a + a + a +.+
a 13

sebanyak k suku
ka adalah vektor yang panjangnya k |a| tetapi berlawanan arah dengan a.

Dengan kata lain didefinisikan :

Sebagai contoh dapat digambarkan :

a
3a -2a
Gambar 12

Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa:

a). Jika ada 2 vektor yang sejajar, maka yang satu dapat dinyatakan

sebagai hasil perbanyakan vektor yang lain dengan skalar.

b). Untuk membuktikan dua vektor sejajar cukup membuktikan salah

satu vektor merupakan kelipatan vektor yang lain dalam bentuk

komponen.

4. Perkalian Titik ( Dot Product )

Hasil kali titik atau dot product antara dua buah vektor akan

menghasilkan suatu skalar atau bilangan real. Perkalian titik sering

disebut juga perkalian skalar dua vektor. Hasil kali skalar dua vektor a

dan b didefinisikan :

a.b = |a| |b| Cos

dimana adalah sudut yang diapit oleh kedua vektor a dan b.

14
Dari definisi diatas, dapat kita tentukan sifat-sifat hasil kali skalar

sebagai berikut :

1). Jika a dan b merupakan dua vektor yang arahnya sama maka a.b =

|a| |b|
2). Jika a dan b merupakan dua vektor yang berlawanan arah maka a.b

=- |a| |b|
3). Jika a dan b merupakan dua vektor yang tegak lurus maka a.b = 0

4). Jika a dan b merupakan dua vektor dan a.b 0 maka sudut antara

dua vektor tersebut adalah sudut lancip

5). Jika a dan b merupakan dua vektor dan a.b 0 maka sudut antara

dua vektor tersebut adalah sudut tumpul

6). Sifat komutatif yaitu a.b = b.a

7). Sifat distributif yaitu a.( b + c ) = a.b + a.c

Apabila vektor a dan b yang dinyatakan dalam bentuk komponen,

misalnya : a = a1 i + a2 j + a3 k dan b = b1 i + b2 j + b3 k maka :

a.b = ( a1 i + a2 j + a3 k ). ( b1 i + b2 j + b3 k ). Dengan menggunakan sifat

distributif dan hasil kali skalar dua vektor yang saling tegak lurus dan

searah maka :

i . i = i2 = 1 ; j . j = j2 = 1 dan k . k = k2 = 1

i . j = 0 ; j . k = 0 dan k . i = 0

Dengan demikian, kita peroleh rumus hasil kali skalar dua vektor yaitu :

untuk vektor a = a1 i + a2 j + a3 k dan b = b1 i + b2 j + b3 k maka : a.b =

a1 b1 + a2 b2 + a3 b3 ( bukti diserahkan kepada peserta diklat )

15
Contoh:

1). Hitunglah perkalian skalar antara:

a=2i+3 j+5 k dan b=i+ j+k

Penyelesaian:

a . b = 2.1 + 3.1 + 5.1

= 2 + 3 + 5 = 10

2). Diketahui vektor-vektor sebagai berikut:


1 5
2 4
4 0

righ righ



( ) ( ) ( ) ( )
a= b=

Tentukan hasil kali skalar dua vektor tersebut

Penyelesaian:

a . b = 1.5 + 2.4 + 4.0

=5+8

=13

5. Perkalian Silang ( Cross Product )

Perkalian silang sering disebut juga perkalian vektor antara dua vektor.

Perkalian vektor antara vektor a dan b didefinisikan sebagai vektor yang

mempunyai besar |a| |b| Sin , dengan adalah sudut yang diapit

oleh kedua vektor. Arah vektor hasil kalinya adalah tegak lurus vektor a

dan b serta vektor a , b dan ax b dalam urutan membentuk system

tangan kanan, sehingga dapat digambarkan sebagai berikut :

axb b Perhatikan bahwa :

a 16
bxa
|axb| = |a| |b| Sin

bxa = -(ax b)

Jika = 00 maka |axb| =0

Jika =900 maka |axb| = |a|

|b|

Secara geometri, norm perkalian antara dua vector merupakan luas

bangun segi empat yang dibentuk oleh kedua vektor tersebut. Sifat ini

dapat diturunkan dari persamaan Lagrange. |axb| 2


= |a| 2 |b| 2

(a.b)2

Apabila vektor dinyatakan dalam bentuk vektor satuan i , j dan k

Misalnya : a = a1 i + a2 j + a3 k dan b = b1 i + b2 j + b3 k

Karena i x i = 1.1 Sin 00 = 0 analog sehingga : ixi = jxj = kxk = 0

Juga i x j = 1.1 Sin 900 = 1 dalam arah OZ yaitu i x j = k sehingga i x j =

k ; j x k = i dan k x i = j

Maka : axb = ( a1 i + a2 j + a3 k )x ( b1 i + b2 j + b3 k ).

Dengan sifat diatas dan hukum distributive dapat dijabarkan menjadi :

axb = ( a2b3 a3b2) i (a1b3 a3b1) j + (a1b2 a2b1) k . Dan apabila ditulis

dalam bentuk determinan matriks, maka kita dapatkan rumus sebagai

berikut :

i j k
|a 1 a2 a3 |
axb =
b1 b2 b3

17
Contoh :

Diketahui vektor p = 2i + 4j + 3k dan q = i + 5j - 2k

Tentukan pxq

Penyelesaian :

i j k
|2 4 3 |
pxq = 1 5 2

4 3 2 3 2 4
| | | | | |
= 5 2 i- 1 2 j+ 1 5 k

= ( -8-15) i - ( -4-3) j + (10-4) k

= -22 i + 7 j + 6 k

SOAL DAN JAWABAN

18