Anda di halaman 1dari 19

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Malaria adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh protozoa dari genus
Plasmodium, yang secara klinis ditandai dengan serangan paroksismal dan periodik,
disertai anemia, pembesaran limpa dan kadang-kadang dengan komplikasi pernisiosa
seperti ikterik, diare, black water fever, acute tubular necrosis, dan malaria serebral.1
Berdasarkan laporan WHO (2000), terdapat lebih dari 2400 juta penduduk atau total
40% dari penduduk dunia tinggal di daerah endemis malaria. Sementara, prevalensi
penyakit malaria di seluruh dunia diperkirakan antara 300-500 juta klinis setiap
tahunnya. Sedangkan angka kematian yang dilaporkan mencapai 1-1,5 juta penduduk
per tahun, terutama terjadi pada anak-anak di Afrika, khususnya daerah yang kurang
terjangkau oleh pelayanan kesehatan.2
Di Indonesia, sampai saat ini angka kesakitan penyakit malaria masih cukup
tinggi, terutama daerah luar Jawa dan Bali. Namun, kini di daerah Jawa dan Bali
sudah terjadi peningkatan jumlah penderita malaria. Hal ini diakibatkan banyaknya
pengungsi yang berasal dari daerah yang dilanda konflik, sehingga juga ikut berperan
bagi terjadinya penyebaran malaria dari daerah endemis ke daerah non endemis.2
Dalam pelaksanaan program pemberantasan malaria, sudah banyak biaya dan
tenaga yang dikerahkan tetapi belum membuatkan hasil yang nyata. Salah satu
kendala adalah keterlambatan mendiagnosis malaria sedini mungkin sehingga tidak
dapat segera diberi pengobatan. Oleh sebab itu, perbaikan strategi pemberantasan
malaria, upaya diagnosis dini dan pengobatan yang tepat merupakan sasaran utama.3
Dari 300-500 juta kasus malaria di dunia, terdapat sekitar 3 juta kasus malaria
berat (malaria komplikasi) dan kasus kematian akibat malaria. Dari kasus tersebut
paling banyak disebabkan oleh Plasmodium falciparum. Malaria berat atau malaria
komplikasi yang disebabkan oleh Plasmodium falciparum ditandai dengan disfungsi
berbagai organ. Salah satu jenis malaria komplikasi adalah malaria serebral. Studi

SMF/Bagian Saraf RSUD Prof.Dr. W.Z. Johannes / Referat Malaria Serebral Halaman 1

Z. W.34 kali pada orang dewasa (>15 tahun) dan 0.25 kali pada anak-anak (<10 tahun). Dalam refrat ini akan diuraikan tentang mekanisme terjadinya malaria serebral. Johannes / Referat Malaria Serebral Halaman 2 . Secara khusus akan dibahas mengenai etiologi.2 1. terapi.Dr. pathogenesis.terhadap populasi migran di Indonesia menunjukkan bahwa risiko terkena malaria komplikasi setiap tahunnya 1. dan prognosis pasien yang menderita malaria serebral. komplikasi.2 Tujuan Penulisan refrat ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai infeksi malaria falciparum dengan komplikasi malaria berat. penegakan diagnosis. yaitu malaria serebral. SMF/Bagian Saraf RSUD Prof.

Johannes / Referat Malaria Serebral Halaman 3 . hemiplegi dan berakhir pada kematian jika tidak secepatnya mendapat perawatan yang tepat.1 Malaria serebral merupakan penyebab utama ensefalopati non traumatik di dunia sehingga merupakan penyakit parasitic terpenting pada manusia. malaria serebral terutama banyak pada anak umur 6 bulan sampai 5 tahun. Namun. Empat spesies dari plasmodium penyebab malaria pada manusia yakni Plasmodium falciparum. Plasmodium vivax dan Plasmodium malariae. Hamper 10% anak yang sembuh dari malaria serebral menderita sekuele neurologi yang penting. dan Irian Jaya.2 Etiologi Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh protozoa intraseluler dari genus plasmodium.5 Pada daerah endemik Afrika. Sulawesi Utara.5 Penyebab malaria serebral adalah akibat sumbatan pembuluh kapiler di otak karena menurunnya aliran darah efektif dan adanya hemolisa sel darah. Plasmodium falciparum adalah infeksi yang paling serius dan sering memberikan komplikasi malaria berat yakni malaria serebral dengan angka kematian tinggi. kebutaan kortikal dan gejala lain yang difus. walaupun demikian masih sering dijumpai pula di daerah endemik seperti di Jepara (Jawa Tengah). W. Sekuele ini adalah hemiparesis pada lebih dari 50%. BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.Z. Plasmodium ovale. gangguan kesadaran. Maluku.1 2.3 Epidemiologi Malaria serebral terjadi kira-kira 2% pada penderita non imun.1 Definisi Malaria serebral adalah suatu komplikasi berat dari infeksi Plasmodium falciparum yang ditandai dengan deman yang sangat tinggi. penyembuhan SMF/Bagian Saraf RSUD Prof.4 2. kejang yang terutama pada anak.Dr.

dan halofantrin juga dapat menyebabkan gangguan perilaku. Anemia berat dan hipoksemia dapat menyebabkan disfungsi serebral pada pasien dengan malaria. Hipoglikemia. Di daerah endemis. meflokuin.sempurna terjadi dalam kira-kira 6 bulan pada separuh anak yang pulang dengan masalah neurologi pasca malaria serebral. Demam derajat tinggi. Siklus seksual parasit malaria berkembang di darah manusia yang telah terinfeksi. kuinin. 2.6 2. Obat-obat antimalaria. dapat terjadi hipoglikemia. Manifestasi tersebut akan menurun bila derajat panas diturunkan. Apabila kesadaran tidak mengalami gangguan setelah serangan kejang atau demam. Perlu adanya pertimbangan pemberian infus dextrose 25-50% untuk mengatasi hal ini. betina akan terinfeksi setelah menggigit orang yang darahnya mengandung gametosit. akan mengganggu kesadaran. W. hampir selalu terjadi pada kasus yang dialami orang tua dan seringkali akibat muntah berlebih. . anemia berat sering menjadi komplikasi malaria berat pada anak. Nyamuk Anopheles sp. dan psikosis. . dengan kematian yang disebabkan oleh anemia yaitu kegagalan curah jantung. dan psikosis. . kejang. maka kemungkinan penyebabnya adalah obat antimalaria. Johannes / Referat Malaria Serebral Halaman 4 . halusinasi. pada infeksi malaria berat .4 Faktor Risiko Beberapa faktor yang mempengaruhi manifestasi neurologi pada malaria. seperti klorokuin. Kejadian hipoglikemia lebih sering terjadi pada ibu hamil.Dr.Z. Bila tidak terdapat demam tinggi atau parasitemia yang menyertai manifestasi neurologis. antara lain:7 . kejang demam (pada anak).5 Siklus Hidup Plasmodium Siklus hidup Plasmodium terjadi pada tubuh nyamuk dan manusia. Hiponatremia. maka prognosis penderita umumnya baik . Siklus perkembangan Plasmodium dalam nyamuk berkisar 7- SMF/Bagian Saraf RSUD Prof.

Setiap siklus dari proses ini. dan akhirnya muncul sebagai 8-24 merozoit yang baru. Plasmodium falciparum dan 72 jam pada Plasmodium malariae. dan akhirnya berkembang menjadi sporozoit yang bersifat infektif. Johannes / Referat Malaria Serebral Halaman 5 . W. akan berlangsung selama 48 jam pada Plasmodium vivax.8 Gambar 2.20 hari. yang dikenali sebagai skizogoni eritrositik. hepatosit yang terinfeksi akan ruptur dan melepaskan merozoit ke dalam darah di mana mereka akan menginfeksi eritrosit. Parasit akan multiplikasi dalam eritrosit sekali lagi dan berubah dari merozoit kepada trofozoit. Nyamuk Anopheles yang terinfeksi ini akan bersifat infektif sepanjang hidupnya. parasit akan bertambah secara logaritmik dan setiap kali sel-sel ruptur akan terjadi serangan klasik demam yang intermiten. dan melepaskan merozoit untuk menginfeksi sel-sel yang lain. Eritrosit akan pecah. Sporozoit ini yang akan bermigrasi ke kelenjar ludah nyamuk dan kemudian akan ditransmisi kepada manusia lainnya apabila digigit oleh nyamuk yang terinfeksi ini. Setelah beberapa hari.Z. Dengan setiap siklus ini. Sporozoit yang telah diinokulasi pada manusia akan bermigrasi kepada hati dan bermultiplikasi dalam hepatosit sebagai merozoit. skizont.Dr. Plasmodium ovale.1 Siklus Hidup Plasmodium SMF/Bagian Saraf RSUD Prof.

Parasit yang bersekuestrasi menumpuk di otak. melepaskan toksin malaria yang akan menstimulasi sistem RES dengan dilepaskanya sitokin proinflamasi seperti TNF alfa dan sitokin lainnya dan mengubah aliran darah lokal dan endotelium vaskular. Penelitian di Vietnam melaporkan bahwa sekuestrasi di otak terjadi baik pada kasus malaria serebral maupun non serebral SMF/Bagian Saraf RSUD Prof. sitoadherens. akan masuk kedalam sel hati dan terjadi skizogoni ektsra eritrosit. menyebabkan anemia. Hal ini berpengaruh terjadinya sitoadherens dan sekuestrasi. usus. Sitoaherens merupakan proses spesifik yang hanya terjadi di kapiler dan venula post kapiler.2. sekuestrasi dan rosseting. limpa.Z. Sitoadherens Sitoadherens adalah melekatnya EP matang di permukaan endotel vaskular. paru. menyebabkan eritrosit mengalami perubahan seperti pembentukan knob. Skizon hati yang matang akan pecah dan selanjutnya merozoit akan menginvasi sel eritrosit dan terjadi skizogoni intra eritrosit. Penumpukan EP di mikrovaskular menyebabkan gangguan aliran mikrovaskular sehingga terjadi anoksia/hipoksia jaringan. Sekuestrasi menyebabkan ketidak sesuaian antara parasitemia di perifer dan jumlan total parasit dalam tubuh. jantung. W. hipoksia jaringan dan organ. Johannes / Referat Malaria Serebral Halaman 6 .Dr. mengubah biokimia sistemik.6 Patofisiologi Malaria Berat Setelah sporozoit dilepas sewaktu nyamuk anopeles betina menggigit manusia. eritrosit dan menyebabkan sel ini sulit melewati kapiler dan filtrasi limpa. Sekuestrasi Sitoadherens menyebabkan EP bersekuestrasi dalam mikrovaskular organ vital. otot dan ginjal.5 Eritrosit Parasit (EP) EP memulai proses patologik infeksi malaria falsiparum dengan kemampuan adhesi dengan sel lain yaitu endotel vaskular. hepar. Skizon yang matang akan pecah.

dengan jumlah kuantitatif lebih tinggi pada malaria serebral. Terdapat tonus dan refleks fisiologi yang meningkat. Dilaporkan juga tidak ada kasus malaria serebral yang tidak mengalami sekustrasi.Z.6 Gejala Klinis Tanda dan gejala malaria berat tidak khas. kelemahan secara menyeluruh diikuti dengan nyeri kepala. jaundice. punggung. nyeri perut. klonus pada SMF/Bagian Saraf RSUD Prof. Rosetting berperan dalam terjadinya obstruksi mikrovaskular. dan selanjutnya berupa hepatosplenomegali. Dengan demikian sekuentrasi diperlukan dalam patogenesa malaria serebral. Kadar IFN-gamma. IL-6. postural hipotensi.9 Pasien dengan malaria serebral terdapat penurunan kesadaran dengan GCS < 11 (yang tidak dapat dibangunkan). Pasien dengan malaria serebral sering ditemukan fenomena bruxism. 2. retinopati. IL-1. kelelahan. yang sering ditemukan nistagmus pada refleks okulosefalik dan okulovestibular. Tanda lain berupa anemia.Dr. tidak jarang terdapat kaku kuduk. LT dan IL-3 juga meningkat pada malaria berat. Refleks kornea. pupil masih tetap ada kecuali koma dalam. W. anoreksia. Sitokin-sitokin ini saling berinteraksi dan menghasilkan efek patologi Meskipun demikian peranan sitokin dalam patogenesis malaria berat masih dalam perdebatan. bulu mata. ekstremitas. Sitokin Kadar TNF-alfa di daerah perifer meningkat secara nyata pada penderita malaria terutama malaria berat. muntah dan yang jarang adalah diare ringan. mual. Kelainan deviasi conjugasi sangat jarang terjadi. Meskipun demikian peranan rosetting dalam patogenesis malaria berat masih belum jelas. Rosetting Rosetting adalah perlekatan antara satu buah EP matang yang diselubungi oleh sekitar 10 atau lebih eritrosit non parasit sehingga berbentuk seperti bunga. Johannes / Referat Malaria Serebral Halaman 7 . Mulanya didahului dengan demam.

W.0 Edema paru/sindroma distress pernapasan mg/dL) orang dewasa Hipoglikemia Hipotensi/syok Glukosa < 40 mg/dL TD sistolik < 50 mmHg pada anak usia 1-5 tahun atau < 80 mmHg pada orang dewasa.1 Manifestasi Penyakit Malaria Berat10 Tanda Utama Koma yang tidak dapat dibangunkan Kegagalan untuk menentukan lokasi atau bereaksi secara tepat terhadap rangsangan yang berbahaya.Z. koma bertahan selama >30 menit setelah Anemia normokromik normositik yang terjadinya konvulsi yang menyeluruh berat Hematokrit < 15 % atau hemoglobin < 5 g/dL dengan tingkat parasitemia > 10. hidung.000 per mikoliter Kegagalan ginjal Curah urin < 400 mL/24 jam pada orang dewasa atau 12 mL/kgBB/24 jam pada anak-anak.9 Tabel 2. GIT dan Konvulsi atau bukti yang menunjukkan DIC SMF/Bagian Saraf RSUD Prof.angkel dan patella juga sering timbul. Kasus kejang sebesar 50% pada pasien malaria serebral.Dr. tidak terjadi perbaikan setelah dilakukan terapi rehidrasi. Johannes / Referat Malaria Serebral Halaman 8 . kadar kreatinin serum > 265 µmol/L (> 3. dengan bentuk kejang Jacksonian dan menyeluruh. perbedaan suhu kulit dan bagian Perdarahan/DIC dalam tubuh > 10˚C Perdarahan yang signifikan serta perdarahan dari gusi.

pemeriksaan fisik dan laboratorium. Diagnosis dini dan pegobatan cepat merupakan salah satu sasaran perbaikan strategi pemberantasan malaria.3 Diagnosis pasti malaria harus ditegakkan dengan pemeriksaan sediaan darah secara mikroskopik atau tes diagnostik cepat. Johannes / Referat Malaria Serebral Halaman 9 . cokelat. Penegakan diagnosis malaria sedini mungkin dapat memberikan pengobatan yang cepar dan mencegah komplikasi penyakit lebih lanjut.Z.25 atau kadar bikarbonat plasma < 15 mmol/L.Dr. atau merah.11 SMF/Bagian Saraf RSUD Prof. tidak berkaitan dengan efek obat-obat yang bersifat oksidan dan defek enzim sel darah merah (defisiensi G6PD) Tanda Lainnya Kelemahan yang ekstrim Hiperparasitemia Parasitemia > 5 % pada pasien nonimun Ikterus Serum bilirubin > 50 µmol/L (> 3.7 Penegakkan Diagnosis Diagnosis malaria secara umum ditegakkan seperti diagnosis penyakit lainnya berdasarkan anamnesis. W.0 Hiperpireksia mg/dl) Suhu rektal > 41˚C 2.Asidemia/asidosis >2 x kejang dalam waktu 24 jam pH arterial < 7. kadar laktat dalam Hemoglobinuria darah vena > 6 mmol/L urin secara makroskopis berwarna hitam.

.Z. W. Terlihat mata kuning atau ikterik. . Tanda dehidrasi: mata cekung. Riwayat mendapat transfusi darah. anak dibawah 1 tahun >50 kali per menit. 1. hematom. Riwayat minum obat malaria satu bulan terakhir. Konjunctiva atau telapak tangan pucat. diare. telapak tangan pucat. . produksi air seni berkurang. . . Nadi cepat dan lemah/kecil. . Tanda-tanda anemia berat: konjunktiva pucat. purpura. . . Pemeriksaaan Fisik: . Riwayat tinggal di daerah endemik malaria. bibir kerins. Manifestasi perdarahan: ptekie. . Anamnesis Pada anamnesis sangat penting diperhatikan: . . turgor dan elastisitas kulit berkurang. . . Pada tersangka malaria berat ditemukan tanda-tanda klinis sebagai berikut: . SMF/Bagian Saraf RSUD Prof. Penurunan derajat kesadaran dengan GCS <11. . . muntah. . menggigil.Dr. Tekanan darah sistolik <70mmHg. . Keluhan utama: Demam. Frekuensi nafas > 35 kali per manit pada orang dewasa atau >40 kali per menit pada balita. Johannes / Referat Malaria Serebral Halaman 10 . mual. Riwayat sakit malaria. lidah pucat. berkeringat dan dapat disertai sakit kepala. Pembesaran limpa (splenomegali). Temperatur rektal ≥ 40°C. 2. nyeri otot dan pegal-pegal. . Pembesaran hati (hepatomegali). Demam (T ≥ 37. Adanya ronkhi pada kedua paru. Riwayat berkunjung dan bermalam 1-4 minggu yang lalu ke daerah endemik malaria.5°C).

dengan menggunakan metoda immunokromatografi.Z. ketidak sadaran post iktal jarang menetap setelah lebih dari 30-60 menit. Tes ini kurang bermanfaat sebagai alat diagnostik sebab antibodi baru terjadi setelah beberapa hari parasitemia. dan tes >1:20 dinyatakan positif Gejala klinis untuk malaria serebral diantaranya berbagai tingkatan penurunan kesadaran berupa delirium. 3. Onset koma dapat bertahap setelah stadium inisial konfusi atau mendadak setelah serangan pertama. . Pemeriksaan dengan tes diagnostik cepat (Rapid Diagnostic Test) Mekanisme kerja tes ini berdasarkan deteksi antigen parasit malaria.11 SMF/Bagian Saraf RSUD Prof. W. dan ketidak sadaran dengan respon motorik terhadap rangsang sakit yang dapat diobservasi/dinilai. Gagal ginjal ditandai dengan oliguria sampai dengan anuria. Tes serologi Tes ini berguna untuk mendeteksi adanya antibodi spesifik terhadap malaria atau pada keadaan dimana parasit sangat minimal. Manfaat tes serologi terutama untuk penelitian epidemiologi atau alat uji saring donor darah. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan dengan mikroskop Pemeriksaan sediaan darah tebal dan tipis untuk menentukan: . Tetapi.Dr. Gejala neurologik: kaku kuduk. Kepadatan parasit. dalam bentuk dipstik. Spesies dan stadium plasmodium. Bila penyebab ketidaksadaran masih ragu-ragu. Titer >1:200 dianggap sebagai infeksi baru. reflek patologis. . . . Ada tidaknya parasit malaria (positif atau negatif). Johannes / Referat Malaria Serebral Halaman 11 . stupor. seperti meningoensefalitis viral atau bakterial harus disingkirkan. Pembesaran limpa dan atau hepar. mengantuk. . maka penyebab ensefalopati lain yang lazim ditempat itu.

Manifestasi okular : pandangan divergen (dysconjugate gaze) dan konvergensi spasme sering terjadi.Z. Koma menetap selama 24 – 72 jam. kmudian tak dapat dibangukan. mula-mula dapat dibangunkan. Mulut mencebil (pouting) atau timbul refleks mencebil bila sisi mulut dipukul 8. Gangguan kesadaran dengan demam non-spesifik 2. Kejang umum dan sekuel neurologik 3. namun hanya terdapat 3 gejala terpenting. Rahang mengatup rapat dan gigi kretekan (seperti mengasah) 7. Manifestasi neurologis (1 atau beberapa manifestasi) berikut ini dapat ditemukan:12 1. Tetapi tanda Frank (Frank sign) meningitis. dengan < 10 lekosit/ml. Ensefalopati difus simetris 2. protein sering naik ringan Meskipun manifestasi klinis malaria serebral sangat beragam. Perdarahan sub konjunctive dan retina serta papil udem kadang terlihat 11. Kejang umum atau fokal 3. Cairan serebrospinal (LCS) jernih. baik pada anak dan dewasa. Tanda-tanda neurologis fokal kadang-kadang ada 10. yaitu:13 1. W. Terdapat plantar fleksi atau plantar ekstensi 6. Johannes / Referat Malaria Serebral Halaman 12 . SMF/Bagian Saraf RSUD Prof. Motorik abnormal seperti deserebrasi rigidity dan dekortikasi rigidity 9. Refleks tendon bervariasi 5. Kekakuan leher ringan kadang ada. Kernigs (+) dan photofobia jarang ada. Untuk itu adanya meningitis harus disingkirkan dengan pemeriksaan punksi lumbal (LP) 12.Dr. Tonus otot dapat meningkat atau turun 4.

Hipoglikemia penderita diabetes melitus. Ditemukan parasit malaria falsiparum dalam sediaan darah tipis/tebal. Glomerulonefritis. sindrom syok dengue.Dr. SMF/Bagian Saraf RSUD Prof. Penderita berasal dari daerah endemis atau berada di daerah malaria. Johannes / Referat Malaria Serebral Halaman 13 . jamur. 2. demam kuning. semua kasus demam dengan perubahan sensorium harus diobati sebagai serebral malaria. 3. 5. sepsis. Pandi positif lemah. 3. Hipotensi dibedakan hipotensi karena gangguan sirkulasi 8. 4. 5. sedangkan kemungkinan penyebab yang lain telah disingkirkan. 6. insulinoma 7. yaitu menurut Lubis dkk (2005) dalam dexamedia 2005.Z. 4. hipoglikemi ringan. Kriteria diagnosis lainnnya. Gagal pernafasan oleh karena sebab lain seperti infeksi paru akut. trauma kepala. sementara menyingkirkan meningoensefalitis yang biasa terjadi di tempat itu. Kelainan cairan serebro spinal yang berupa Nonne positif. W. Leptospirosis. Demam atau riwayat demam yang tinggi. Penurunan kesadaran karena ensefalopati yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Adanya manifestasi serebral berupa kesadaran menurun dengan atau tanpa gejala-gejala neurologis yang lain. alkoholisme . yaitu harus memenuhi lima kriteria berikut:14 1.8 Diagnosis Banding Diagnosa banding dari malaria berat tergantung manifestasi organ yang terlibat seperti:15 1.12 2. Penyakit sistem biliaris (kolesistitis). 2. Demam tifoid. Di daerah endemis malaria. metabolik. virus.

Kebutuhan Oksigen.Z.2. Bila ada tanda – tanda dehidrasi.9 Terapi Penanganan malaria serebral tergantung kecepatan dan ketepatan dalam melakukan diagnosa seawal mungkin. dan respirasi tiap setengah jam. 4. Pertahankan fungsi vital : Sirkulasi. Untuk maintenance cairan. b. tonus otot. perhatikan warna dan temperatur kulit. tensi. kesadaran. 20% untuk dehidrasi sedang dan 30% untuk dehidrasi berat dari kebutuhan maintenance. W. 3. ukuran dan reaksi pupil.5 Pada setiap penderita malaria serebral. Monitoring : temperatur. Johannes / Referat Malaria Serebral Halaman 14 . Perhatikan juga timbulnya ikterus. Non – Farmakologi a. Kebutuhan pasien dewasa sekitar 30ml/kgBB. Setiap kenaikan suhu 1 derajat celcius ditambah 10% kebutuhan maintenance b. lakukan posisi tredelenburg’s. hitung kebutuhan cairan berdasarkan berat badan pasien. tindakan penanganan dan pengobatan yang perlu dilakukan adalah:5 1.Dr. Sebaiknya penderita yang diduga menderita malaria serebral dirawat pada bilik intensif untuk dapat dilakukan pengawasan serta tindakan – tindakan yang tepat. cairan dan nutrisi 2. perdarahan. Pertahankan sirkulasi : bila hipotensi. beri terapi tambahan sekitar 10% untuk dehidrasi ringan. nadi. Terapi pemberian kebutuhan cairan : a. Suportif 1. Terapi Simptomatik16 SMF/Bagian Saraf RSUD Prof. kejang.

Z. Jangan diberikan lebih dari 100mg/24 jam. (Dosis orang dewasa) c. . Pada pasien kejang beri anti kejang (diazepam IV 5 – 10 mg atau Fenitoin IM 100mg) 3. W. .2 Terapi Obat Anti Malaria Hari Jenis obat Jumlah tablet per hari menurut kelompok umur 1 – 4 th 5 – 9 th 10 – 14 th > 15 th H1 *Artesunate 1 2 3 4 **Amodiaquine 1 2 3 4 Primaquin ¾ 1½ 2 2–3 H2 *Artesunate 1 2 3 4 **Amodiaquine 1 2 3 4 H3 *Artesunate 1 2 3 4 **Amodiaquine 1 2 3 4 d. Johannes / Referat Malaria Serebral Halaman 15 . beri setiap 4 jam dan lakukan kompres hangat. Anemia berat beri transfusi darah SMF/Bagian Saraf RSUD Prof.Dr. Terapi Obat Anti Malaria17 Tabel 2. Pada pasien koma dalam jaga oksigenasi. bila perlu lakukan intubasi untuk mempertahankan oksigenasi 2. Terapi Komplikasi5 1. Pemberian antipiretik untuk mencegah hipertermia : Parasetamol 15mg/kgBB/x. Pada pasien dengan keluhan kejang beri antokonvulsan : Diazepam 5 – 10mg IV (secara perlahan jangan lebih dari 5mg/menit) ulang 15 menit kemudian bila masih kejang.

14 SMF/Bagian Saraf RSUD Prof. transfusi darah segar. kejang berulang. 4. Johannes / Referat Malaria Serebral Halaman 16 . hipoglikemi berulang dan hiperparasitemia risiko kematian tinggi. Pada koma dalam. W. tanda-tanda herniasi.10 Prognosis Pada malaria serebral mortalitas tergantung pada.Dr. Perdarahan berat beri vitamin K 10 mg/hari selama 3 hari.Z. diagnosis dini dan pengobatan tepat prognosis sangat baik. 2. Juga prognosis tergantung dari jumlah dan berat kegagalan fungsi organ.

pemeriksaan fisik. 5. gangguan kesadaran. dengan konsekuensi blokade mikrosirkulasi serebral. SMF/Bagian Saraf RSUD Prof. Johannes / Referat Malaria Serebral Halaman 17 . hemiplegi dan berakhir pada kematian jika tidak secepatnya mendapatkan perawatan yang tepat. Salah satu komplikasi tersebut adalah malaria serebral. 6. yaitu sekuestrasi. yang mencakup berbagai proses patologi penting. yang disebut sebagai malaria berat. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis. dan pemeriksaan penunjang. 4. Prognosis malaria serebral tergantung pada. Malaria serebral ditandai demam yang sangat tinggi.Dr. BAB 3 PENUTUP Kesimpulan dari penulisan refrat ini. 2. 7. sitoadherensi. kejang yang terutama terjadi pada anak. Terapi dibagi menjadi 2 yakni terapi farmakologi dan non farmakologi.Z. dimana sebelumnya pasien terbukti menderita malaria dan terdapat lebih dari satu manifestasi neurologis. Malaria dapat menimbulkan berbagai komplikasi berat. Malaria adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh parasit dari genus Plasmodium. diagnosis dini dan pengobatan tepat. W. Dasar patogenesis malaria serebral adalah abnormalitas eritrosir terinfeksi. 3. dan rosetting eritrosit. antara lain: 1.

Unites States of America: Appleton & Lange 7. Tjitra E. Fakultas Kedokteran Universitas Riau.malariasite. Kakkilaya BS. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 2014.. Jakarta : EGC. Hien TT. Neurogical aspects of tropical disease: Serebral malaria.. W. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Riau 2008 12. Isselbacher.69:433-41 5. Manifestasi klinis dan pengobatan malaria. UK Elsevier Saunders. 10. diakses tanggal 5 Agustus 2008). M. Moss. 2014. 2002. (available at www.G.Z. Dalam: Kumar. 4. p. 6. Malaria. 2005:95-100 9.] Aru W Sudoyo. P. 1005.com. Malaria serebral: Laporan Kasus. Pusat Informasi Penyakit Infeksi. Malaria serebral (Komplikasi): Suatu penyakit imunologis. Zulkarnain and Setiawan. 6th ed.. 3. Falciparum malaria. Infection Disease. Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Malaria. P. [book auth. Kalimantan Selatan. Finch.131:5-6 2. RSUD Arifin Achmad Pekanbaru.19(I):71–131.. 1737. (available at www. DAFTAR PUSTAKA 1. 11. Clark. Tropical Medicine and Sexually Transmitted Disease. Iskandar. J Neurol Neurosurg Psychiatry 2000. K. Abraham M. Laburatorium Parasitologi FK Universitas Lambung Mangkurat. 2001. Malaria.com. et al. Rudolph. p. Munthe CE. 2009.Dr. White N. Central nervous system involvement in P. 1995. Johannes / Referat Malaria Serebral Halaman 18 . Tropical Medicine Int'l Health Journal. Akhyar Y. Rudolph’s Pediatric 20th Edition. Malaria Berat . Newton CRJC. Putera HD. 3. Cermin Dunia Kedokteran. R. 2.infeksi. Severe Malaria. Vol. Clinical Medicine. diakses tanggal 5 Agustus 2008) 8.101:5-11 4. World Health Organization. 1966. SMF/Bagian Saraf RSUD Prof. Cermin Dunia Kedokteran. 13. Vol. dkk. Budi.

Johannes / Referat Malaria Serebral Halaman 19 . Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. 2015. Guideline for the treatment of malaria. SMF/Bagian Saraf RSUD Prof. Malaria Serebral Ringan. 2003:12-50. World Health Organization.cerebralmalaria. 5 tentang pedoman tatalaksana malaria. Permenkes no.Dr. diakses tanggal 5 Agustus 2008). 14.13. Anonymous. (Available at www. KEMENKES : JAKARTA 17. 16. Lubis HN. Cerebral Malaria.com. 15. W. Dexa Media 2005.18(2):45-9.Z. Malaria Berat. Konsensus Penanganan Malaria.