Anda di halaman 1dari 10

KONSTRUKSI JEMBATAN BETON BERTULANG

https://tekniksip.wordpress.com/2016/03/28/konstruksi-jembatan-beton-bertulang/

Pengertian umum

Jembatan merupakan salah satu bentuk konstruksi yang berfungsi meneruskan jalan melalui
suatu rintangan. Seperti sungai, lembah dan lain-lain sehingga lalu lintas jalan tidak terputus
olehnya.

Dalam perencanaan konstruksi jembatan dikenal dua bagian yang merupakan satu kesatuan
yang utuh yakni :

Bangunan Bawah ( Sub Struktur )

Bangunan Atas ( Super Struktur )

Bangunan atas terdiri dari lantai kendaraan, trotoar, tiang-tiang sandaran dan gelagar.

Bangunan bawah terdiri dari pondasi, abutmen, pilar jembatan dan lain-lain.

Syarat dan bentuk jembatan

Pemilihan bentuk jembatan sangat dipengaruhi oleh kondisi dari lokasi jembatan tersebut.
Pemilihan lokasi tergantung medan dari suatu daerah dan tentunya disesuaikan dengan
kebutuhan masyarakat di daerah dengan kata lain bentuk dari konstruksi jembatan harus
layak dan ekonomis.

Perencanaan konstruksi jembatan berkaitan dengan letaknya. Oleh beberapa ahli menentukan
syarat-syarat untuk acuan dari suatu perencanaan jembatan sebagai berikut :

Letaknya dipilih sedemikian rupa dari lebar pengaliran agar bentang bersih jembatan tidak
terlalu panjang.

Kondisi dan parameter tanah dari lapisan tanah dasar hendaknya memungkinkan perencanaan
struktur pondasi lebih efesien.

Penggerusan ( scow-ing ) pada penampang sungai hendaknya dapat diantisipasi sebelumnya
dengan baik agar profil saluran di daerah jembatan dapat teratur dan panjang.

Dari syarat-syarat tersebut diatas telah dijelaskan bahwa pemilihan penepatan jembatan
merupakan salah satu dari rangkaian system perencanaan konstruksi jembatan yang baik,
namun demikian aspek–aspek yang lain tetap menjadi bagian yang penting, misalnya saja
system perhitungan konstruksi; penggunaan struktur ataupun mengenai system nonteknik
seperti obyektifitas pelaksana dalam merealisasikan jembatan tersebut.

Mengenai bentuk-bentuk jembatan dapat dibedakan sesuai dengan:

Seperti jembatan kayu. merupakan jenis jembatan baja yang pelaksanaannya dibuat sebagai gelagar dinding penuh. Secara umum. Jembatan Beton Bertulang Definisi Jembatan beton merupakan jembatan yang konstruksinya terbuat dari material utama bersumber dari beton. pasir.Material yang digunakan Jembatan kayu Jembatan baja Jembatan beton Jembatan gabungan baja dan beton Jenis konstruksinya Jembatan ulir Jembatan gelagar Jembatan plat Jembatan gantung Jembatan dinding penuh Jembatan lengkungan Menurut penggolongan Jembatan yang dapat digerakan. Jembatan tetep. dan bahan perekatBahan perekat yang biasa dipakai adalah air dan semen. jembatan beton dan jembatan batu. Sifat Dasar Beton Beton adalah suatu campuran yang terdiri dari agregat alam seperti kerikil. jenis jembatan seperti ini digunakan untuk keperluan lalu lintas. beton dibagi dalam dua bagian yaitu: Beton bertulang Beton tidak bertulang .

termasuk segala unsur tambahan tetap yang dianggap merupakan satu satuan dengan jembatan (Sumantri.Beton bertulang adalah suatu bahan bangunan yang kuat. Beban Primer Beban primer adalah beban yang merupakan muatan utama dalam perhitungan tegangan untuk setiap perencanaan jembatan. baja akan dapat menyediakan kekuatan tarik dan sebagian kekuatan geser. 1989:63). Beban primer jembatan mencakup beban mati.5 ) Beban mati tambahan dengan menggunakan rumus sebagai berikut: . Contoh beban mati pada jembatan: berat beton. sedangkan beban sekunder adalah beban sementara yang mengakibatkan tegangan – tegangan yang relatif kecil daripada tegangan akibat beban primer dan biasanya tergantung dari bentang. Beban Mati Beban mati adalah semua muatan yang berasal dari berat sendiri jembatan atau bagian jembatan yang ditinjau. berat aspal.tipe jembatan dan keadaan setempat. berat pasangan bata. Rumus untuk berat sendiri: QMS = b . h . Mamfaat dan keserbangunannya dicapai dengan mengkombinasikan segi-segi yang terbaik dari beton dan baja dengan demikian apabila keduanya dikombinasikan. berat baja.beban hidup dan beban kejut.5- 25. Beban Yang Dihitung Dalam Merencanakan Jembatan Secara umum beban – beban yang dihitung dalam merencanakan jembatan dibagi atas dua yaitu beban primer dan beban sekunder.bahan. tahan lama dan dapat dibentuk menjadi berbagai ukuran. Beton tidak bertulang hanya mampu atau kuat menahan kekuatan tekan dari beban yang diberikan. Beban primer adalah beban utama dalam perhitungan tegangan untuk setipa perencanaan jembatan. Dalam menentukan besarnya muatan mati harus dipergunakan nilai berat volume untuk bahan-bahan bangunan.sistem kontruksi. berat plesteran dll. wc Dimana : QMS= Berat sendiri b = Slab lantai jembatan h = Tebal slab lantai jembatan wc = Berat beton bertulang ( yang disyaratkan dalam RSNI T-02-2005 adalah dari 23.

beban hidup yang ditinjau terdiri dari : Beban “T”(Beban lantai kendaraan) Beban “T” merupakan beban kendaraan truk yang mempunyai beban roda ganda (Dual Wheel Load) sebesar 10 ton.8 ) Beban Hidup Yang termasuk dengan beban hidup adalah beban yang berasal dari berat kendaraan- kendaraan bergerak lalu lintas dan/atau pejalan kaki yang dianggap bekerja pada jembatan. Berdasarkan PPPJJR-1987. halaman 5-7. T = 100 kN. Beban hidup pada lantai jembatan berupa beban roda ganda oleh Truk (beban T) yang besarnya. yang bekerja pada seluruh lebar bagian jembatan yang dingunakan untuk lalu lintas kendaraan.Dimana : QMA = Beban mati tambahan ta = Tebal lapisan aspal + ovelay ( berat yang ditetapkan dalam RSNI T-02-2005 adalah 22. T Dimana : PTT = Beban truk “T” DLA = Faktor beban dinamis untuk pembebanan truk Beban “D”(Jalur lalu lintas ) . Dengan menggunakan rumus: PTT = ( 1 + DLA ) .0 ) ha = Tebal genangan air hujan ( berat yang ditetapkan dalam RSNI T-02-2005 adalah 9.

Beban “D” adalah susunan beban pada setiap jalur lalu lintas yang terdiri dari beban garis “P” ton per jalur lalu lintas (P = 12 ton) dan beban terbagi rata “q” ton per meter panjang per jalur sebagai berikut: q = 2. Beban Angin ( EW ) . q = 2. beban “D” sepenuhnya (100%) harus dibebankan pada seluruh jembatan. dan gaya akibat perbedaan suhu. Sedangkan beban terbagi rata (q) dan beban terpusat (T) tidak dikalikan dengan koefisien kejut.2 t/m untuk L < 30 m. Untuk jembatan dengan lebar lantai kendaraan > 5. contoh beban hidup pada jembatan: beban kendaraan yang melintas. Beban Kejut Menurut Anonim (1987:10) beban kejut diperhitungkan pengaruh getaran-getaran dari pengaruh dinamis lainnya. dan biasanya tergantung dari bentang..50 m sedangkan lebar selebihnya dibebani hanya separuh beban “D” (50%). dan keadaan setempat. gaya rem. beban orang berjalan dll. Sedangkan Beban Sekunder terdiri dari beban angin. system jembatan.1/60) x (L – 30)} t/m untuk 30 m < L < 60 m. Besarnya koefisien kejut ditentukan dengan rumus: Dimana : K = Koefisien kejut L = Panjang dalam meter dari bentang yang bersangkutan Beban Sekunder Beban sekunder adalah beban pada jembatan-jembatan yang merupakan beban atau muatan sementara.50 m. Ketentuan penggunaan beban “D” dalam arah melintang jembatan sebagai berikut: Untuk jembatan dengan lebar lantai kendaraan < 5.50 m. beban “D” sepenuhnya (100%) dibebankan pada lebar jalur 5.2 t/m – {(1. q = 1. Pada umumnya beban ini mengakibatkan tegangan-tegangan yang relative lebih kecil dari pada tegangan-tegangan akibat beban primer. yang selalu bekerja pada perhitungan tegangan pada setiap perencanaan jembatan. tegangan-tegangan akibat beban garis (P) harus dikalikan dengan koefisien kejut.1{1 + (30/L)} untuk L > 60 m.

0012 .75 m Transfer beban angin ke lantai jembatan dengan menggunakan rumus: 1.2 ( RSNI T-02-2005 ) Vw = Kecepatan angin rencana Bidang vertikal yang ditiup angin merupakan bidang samping kendaraan dengan tinggi ( h ) = 2. PEW = [ 1/2*h / x * TEW ] 2.Pengaruh tekanan angin bekerja dalam arah horizontal sebesar 100 kg/cm2. (Vw)2 Dimana : Cw = koefisien seret = 1. Jarak antara roda kendaraan ( x ) = 1. Beban garis merata tambahan arah horisontal pada permukaan lantai jembatan akibat angin yang meniup kendaraan di atas jembatan dihitung dengan rumus : TEW = 0. Beban Gaya Rem . Dalam memperhitungkan jumlah luas bagian jembatan pada setiap sisi digunakan jumlah luas bagian jembatan pada setiap sisi digunakan ketentuan sebagai berikut: Ø Untuk jmbatan berdinding penuh diambil sebesar 100% terhadap luas sisi jembatan Ø Untuk jembatan rangka diambil sebesar 30% terhadap luas sisi jembatan.00 m di atas lantai jembatan. Cw .

Peninjauan khusus terhadap timbulnya tegangan- tegangan akibat perbedaan suhu yang ada antara bagian-bagian jembatan dengan bahan yang berbeda. Penyebaran Gaya : 28. Beban angin 9. Untuk potongan memanjang lantai dengan menggunakan rumus: . Gaya ini bekerja dalam arah memanjang jembatan. Gaya akibat aliran air 15. 6. 10. 4. Beban hidup yang bekerja pada lantai kendaraan adalah beban “T” yang merupakan kendaraan truk yang mempunyai beban roda ganda sebesar 10 ton. Diasumsikan untuk baja sebesar C dan beton 10. maka beban gempa juga diperhitungkan dalam perencanaan struktur jembatan 8. Beban untuk jembatan kelas II diambil sebesar 70 % yaitu untuk jembatan permanen. Beban hidup 24. Beban angin dihitung pada daerah konstruksi jembatan yang harus menahan beban angin. Yang termaksud beban khusus adalah: 13. 25. 12. Perencanaan Pipa Sandaran 17. Besarnya T diambil 70 %. Akibat berat aspal 22. Pada perencanaan pipa sandaran.25 x 3. Muatan ini bersifat tidak terlalu bekerja pada jembatan. Gaya Akibat Perbedaan Suhu 5. Bidang kontak roda untuk beban 70 % adalah (14 x 35) cm2 (sumber: PPPJJR -1987. maka T = 70 % x 10 = 7 ton. Beban mati 20. tergantung pada keadaan setempat. ditentukan: 18. Penyebaran gaya terhadap lantai jembatan dengan sudut 450 dapat dilihat pada gambar berikut: 27. pengaruh ini diperhitungkan senilai dengan pengaruh gaya rem sebesar 5% dari muatan D tanpa koefisien kejut yang memenuhi semua jalur lalu lintas yang ada dalam satu jurusan. hal:23). Gaya akibat gempa bumi 14. Beban Khusus 11.3. hanya berpengaruh pada sebagian konstruksi. Akibat berat air hujan 23. Beban Gempa 7. akibat gaya rem dan traksi ditinjau untuk kedua jurusan lalu lintas. Perbedaan suhu harus ditetapkan sesuai dengan keadaan setempat. 26. Untuk pembangunan jembatan pada daerah yang dipengaruhi oleh gempa. Akibat berat sendiri lantai kendaraan 21. Beban roda disebar merata pada lantai kendaraan berukuran (2. Gaya akibat tekanan tanah dan lain-lain 16. Beban khusus adalah beban atau muatan yang merupakan pemuatan khusus untuk perhitungan tegangan pada perencanaan jembatan. Beban hidup yang bekerja pada pipa sandaran 19.5) m2 yaitu pada jarak antara gelagar memanjang dan gelagar melintang.

u = a1 + 2 (1/2 x tebal plat beton + tebal aspal) 30. Untuk potongan melintang lantai dengan menggunakan rumus: 31. kecuali apabila persyaratan kekuatan minimum pada pasal 5. v = b2 + 2 (1/2 x tebal plat beton + tebal aspal) 32.1.008 (fc’ – 30 ) untuk fc’ > 30 MPa 50. Beban angin 33.3. 39.1.1. Hubungan antara distribusi tegangan tekan beton dan regangan dapat berbentuk persegi.5. – Bidang rata yang tegak lurus sumbu tetap rata setelah mengalami lentur.1. hubungan distribusi tegangan tekan beton dan regangan dapat dianggap dipenuhi oleh distribusi tegangan beton persegi ekivalen. trapesium. Berdasarkan SKNI T-12-2004.003.1 Asumsi perencanaan 40. β1 = 0. Reaksi pada roda akibat angin (R) : 35. tekanan angin diambil sebesar 150 kg/m2. 45.4.85 fc’ terdistribusi merata pada daerah tekan ekivalen yang dibatasi oleh tepi tertekan terluar dari penampang dan suatu garis yang sejajar dengan sumbu netral sejarak a = β1c dari tepi tertekan terluar tersebut.1. Analisis Struktur pelat 38.1.1. serta konsisten dengan anggapan: 41. 34. 43. sedangkan jarak as roda kendaraan adalah 1. 5. – Regangan batas beton yang tertekan diambil sebesar 0. 47. tetapi β1 pada persamaan 5. Berdasarkan PPPJJR 1987. Luas bidang muatan hidup yang bertekanan angin ditetapkan setinggi 2 m di atas lantai kendaraan. 44.1. 42. Faktor β1 harus diambil sebesar: 48.65. Walaupun demikian.85 – 0. Kekuatan pelat lantai terhadap lentur harus ditentukan sesuai pasal 5.1. 5. Seperti terlihat pada gambar berikut: 36. β1 untuk= 0.1 sampai pasal 5. Perhitungan kekuatan dari suatu penampang yang terlentur harus memperhitungkan keseimbangan dari tegangan dan kompatibilitas regangan.85 fc’ < 30 MPa 49. yang diasumsikan bahwa tegangan beton = 0.1. Muatan angin merupakan muatan sekunder. 46. – Distribusi tegangan tekan ditentukan dari hubungan tegangan-regangan beton. – Beton tidak diperhitungkan dalam memikul tegangan tarik. Jarak c dari tepi dengan regangan tekan maksimum ke sumbu netral harus diukur dalam arah tegak lurus sumbu tersebut.2 Faktor reduksi kekuatan .29.4 dianggap memenuhi dengan memasang tulangan tarik minimum sesuai dengan pasal 5. parabola atau bentuk lainnya yang menghasilkan perkiraan kekuatan yang cukup baik terhadap hasil pengujian yang lebih menyeluruh.75 m. 51. 37.1-2 tidak boleh diambil kurang dari 0.

3 Kekuatan rencana dalam lentur 54. Jarak tulangan 78. luas tulangan yang diperlukan pada setiap penampang.5-1. 64. Pada balok T sederhana dengan bagian sayap tertarik.1fc’Ag dan ρPb.1. 53. Bila beban dekat dengan sisi yang tidak ditumpu. As min tidak boleh kurang dari nilai terkecil di antara : 61. c) 40 mm . Untuk pelat lantai satu arah di atas dua perletakan atau menerus. Perencanaan kekuatan pada penampang terhadap momen lentur harus berdasarkan kekuatan nominal yang dikalikan dengan suatu faktor reduksi kekuatan Φ sesuai dengan pasal 4. 69. Kekuatan nominal dalam lentur pada penampang kritis beton harus diambil tidak lebih kecil dari 1. lebar pelat tidak boleh lebih besar dari harga terkecil berikut ini: 71. Faktor reduksi kekuatan diambil sesuai dengan pasal 4. bila berdasarkan analisis diperlukan tulangan tarik.75 dari rasio ρb yang menghasilkan kondisi regangan batas berimbang untuk penampang. ln = bentang bersih dari pelat. 57. positif atau negatif. 5. 73.5. b) 1. atau 81. dan untuk komponen struktur yang dibebani kombinasi lentur dan aksial tekan dimana kuat tekan rencana ρPn kurang dari nilai yang terkecil antara 0. atau 80.5 Syarat tulangan minimum 58.1. paling sedikit harus sepertiga lebih besar dari yang diperlukan berdasarkan analisis. dengan pengertian : 68. yang dipenuhi oleh suatu persyaratan tulangan tarik minimum sebagaimana disampaikan dalam pasal 5. 70. a) 1. atau 72.2 Mcr (momen retak).75.1. 2) setengah dari harga di atas ditambah jarak dari titik pusat beban ke sisi yang tidak ditumpu. lebar pelat yang menahan momen lentur akibat beban terpusat dapat ditentukan sesuai dengan : 66.2 55. Jarak bersih minimum antara tulangan sejajar. Untuk komponen struktur beton dengan tulangan tekan.5 kali ukuran nominal maksimum agregat.1.5. maka luas As tidak boleh kurang dari:yang ada 59.2.5 kali diameter tulangan. 5. Penulangan 74. 65. bf = adalah lebar bagian sayap penampang. Dan tidak lebih kecil dari: 60. 77.1. Dan 62. Untuk komponen struktur lentur. Bila beban tidak dekat dengan sisi yang tidak ditumpu: 67. 76.1.1. Pada setiap penampang dari suatu komponen struktur lentur.52. bagian ρb untuk tulangan tekan tidak perlu direduksi dengan faktor 0. Sebagai alternatif. untuk komponen struktur yang besar dan masif. maka rasio tulangan ρ tidak boleh melampaui 0. 1) harga sama dengan persamaan 5. dengan pengertian : 63.1. a* = jarak tegak lurus dari tumpuan terdekat ke penampang yang diperhitungkan. 5. Syarat tulangan maksimum 75. seikat tulangan dan sejenisnya tidak boleh kurang dari: 79.4 Kekuatan minimum 56. Jarak tulangan harus cukup memadai untuk penempatan penggetar dan me- mungkinkan ukuran terbesar dari agregat kasar dapat bergerak saat digetarkan.5.

5 kali diameter tulangan atau 1. c) Pengangkuran dari tulangan positif harus memenuhi : 90.7. termasuk bagian sayap balok T. b) Tulangan geser minimum ini dapat tidak dipasang untuk balok di mana kebutuhan kekuatan geser terfaktor Vu < 0. dimana tulangan menerusnya 95. a) Penyebaran 85. tidak boleh kurang dari setengahnya harus diperpanjang sejarak 12 db melalui muka perletakan. disediakan suatu luas sengkang tambahan disamping sengkang yang diperlukan untuk menahan geser dan puntir. harus dipasang tulangan minimum sesuai pasal 5. Syarat-syarat tulangan geser 99.0. tidak kurang dari seperempat dari tulangan positif total yang diperlukan di tengah bentang harus diperpanjang/ diteruskan melalui permukaan dekat perletakan.5φ Vc.6. 1) Bila tulangan tarik diperlukan pada tengah bentang. sepanjang tiga perempat tinggi efektif komponen struktur diukur dari titik penghentian tulangan.82. . balok L dan balok I pada tumpuan.4bws/fy. Bagian ujung dan pengangkuran dari tulangan lentur harus didasarkan pada momen lentur hipotetis yang dibentuk oleh pemindahan secara merata dari momen lentur positif dan negatif.2. atau bila Vu < φ Vc dan tinggi total balok tidak melampaui nilai terbesar dari 250 mm. 100. Tulangan tarik harus disebarkan dengan merata pada daerah tegangan tarik beton maksimum. ΦVn. a) Apabila 0. 97. Tidak kurang dari sepertiga tulangan tarik akibat momen negatif total yang diperlukan pada tumpuan harus diperpanjang sejarak h melewati titik balik lentur. 89.2.5 Vu pada bagian muka perletakan. 88. 98. 2) Pada balok menerus atau terkekang secara lentur. Pada perletakan sederhana.. 92. 93. tulangan angkur harus dapat menyalurkan gaya tarik sebesar 1. Jarak bersih antara tulangan yang sejajar dalam lapisan tidak boleh kurang dari 1.. dimana ρb adalah rasio dari luas tulangan yang diputus terhadap luas tulangan tarik total pada penampang tersebut. 3) pada setiap pemutusan batang tulangan atau kawat. 86. Luas sengkang tambahan Av tidak boleh kurang dari. 2) gaya geser terfaktor pada titik pemutusan tulangan tidak melebihi dua pertiga dari kuat geser rencana ΦVn. tulangan geser harus dipasang sesuai dengan perencanaan tulangan geser pada pasal 5. 91. 1) untuk batang D36 dan yang lebih kecil. c) Apabila Vu > φ Vc.5φ Vc < Vu < φ Vc .5 kali diameter seikat tulangan. Detail tulangan lentur 84. b) Pengangkuran – umum 87. memberikan luas dua kali dari luas tulangan lentur yang diperlukan pada titik pemutusan tulangan dan geser terfaktornya tidak melampaui tiga perempat dari kuat geser rencana. atau sepertiganya harus diperpanjang 8 db ditambah h/2 melalui muka perletakan. d) Tulangan lentur tidak boleh dihentikan di daerah tarik kecuali bila salah satu ketentuan berikut dipenuhi: 94. 101. 83.5 kali tebal sayap atau setengah lebar bagian badan. sejarak h pada balok terhadap tiap sisi potongan momen maksimum yang relevan. Spasi s tidak boleh lebih dari d/8ρb. 96. 2.