Anda di halaman 1dari 12

23

BAB III

METODE PENELITIAN

3.ADesain Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode experimental dengan percobaan

di Laboratorium. Bertujuan untuk mengetahui suatu gejala atau pengaruh yang timbul sebagai

adanya perlakuan.

3.B Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Farmakologi Fakultas Farmasi Institut Sains dan

Teknologi Nasional Jakarta pada bulan Juni 2017.

3.CAlat

Peralatan yang digunakan untuk penelitian ini adalah : timbangan analitik, spuit injeksi

intraperitoneal dan peroral, bejana maserasi, gelas ukur, erlenmeyer, penangas air, stopwatch,

timbangan mencit, mortir, stamper dll.

3.DBahan

3.D.1Hewan Uji

Pada penelitian ini digunakan mencit jantan galur Balb c yang berumur lebih kurang 5

minggu dengan berat badan 20-30 gram berjumlah 18 ekor. Untuk mengurangi faktor-faktor

yang mempengaruhi hasil penelitian, maka digunakan hewan uji dengan galur, lingkungan

dan makanan yang sama.

3.D.2Bahan Uji

Pada penelitian ini, bahan uji yang digunakan adalah Ekstrak Etanol Serbuk Kayu

Bidara Laut (Strychnos ligustrina Blume). Ekstrak serbuk kayu yang digunakan telah

23

E. 3. CMC. asam mefenamat. Nyeri ditandai dengan geliat.E. Populasi dalam penelitian ini adalah Kayu Bidara Laut (Strychnos ligustrina Blume) yang diperoleh di Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cibinong. 3.3Bahan Bahan Kimia Bahan kimia yang digunakan adalah asam asetat. 24 dideterminasi di Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan telah dilakukan uji skrining fitokimia di Laboratorium Fakultas Farmasi Institut Sains dan Teknologi Nasional Jakarta.D.E Populasi dan Sampel 3. etanol. Pemilihan sampel kayu bidara laut (Strychnos ligustrina Blume) terutama dengan kondisi kayu yang kering dan bersih baik dari kotoran maupun penyakit. 3. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah ekstrak kental yang terbuat dari bagian tanaman bidara laut.F Prinsip Percobaan Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode Sigmund.2 Sampel Sampel adalah sebagian kecil dari populasi yang digunakan dalam melakukan penelitian. NaCl fisiologis serta aquadest.1 Populasi Populasi adalah semua obyek yang menjadi sasaran penelitian. yaitu abdomen menyentuh dasar . Induksi dilakukan secara intraperitoneal dengan cara menyuntikkan asam asetat kepada mencit yang sebulumnya telah diberikan bahan uji secara per oral. 3.

meliputi berat badan dan keadaan fisiknya. mata jernih bersinar. . Setelah sepuluh menit. Jumlah minimal per kelompok mengikuti rumus Federer (Wibosono. jumlah geliat yang terjadi dihitung dengan interval waktu lima menit selama waktu tertentu. Mencit yang sehat memiliki cirri-ciri bulu bersih dan tidak berdiri. (t) (n-1) ≥ 15 Dimana t : kelompok perlakuan = 3 n : jumlah sampel per kelompok perlakuan Maka (t) (n-1) ≥ 15 (3) (n-1) ≥ 15 3n-3 ≥ 15 3n ≥ 15 + 3 3n ≥ 18 n ≥6 Total jumlah mencit yang akan digunakan pada penelitian ini adalah 18 ekor mencit jantan. Mencit yang dinyatakan sehat dikelompokkan secara acak dengan jumlah 6 ekor untuk tiap kelompok.G Tahapan penelitian 3. 2002). 25 tempat berpijak dan kedua kaki ditarik kebelakang.1 Persiapan Hewan Uji Sebelum digunakan. dan berat badan bertambah atau tidak berkurang setiap hari. hewan uji terlebih dahulu diaklimatisasi selama satu minggu di kandang hewan dengan tujuan mengadaptasikan hewan uji dengan lingkungan yang baru. masing-masing untuk 3 kelompok perlakuan. Pada tahap ini dilakukan pengamatan terhadap keadaan umum hewan uji. 3.G.

3 Penapisan Fitokimia Penapisan fitokimia dilakukan hanya untuk mengetahui kandungan kimia dari kayu bidara laut dengan menggunakan metode Fransworth. 26 3. 3. Identifikasi Golongan Alkaloid Sebanyak 2 gram sampel ditambahkan dengan 5 ml ammonia 25%.2 Penyiapan Bahan yang Digunakan 1. Determinasi dilakukan di Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cibinong. Filtrat berupa larutan organik diambil (sebagai larutan A). digerus dalam mortar kemudian ditambahkan 20 ml kloroform dan digerus kembali dengan kuat. Larutan A diteteskan beberapa tetes pada kertas saring dan ditetesi dengan pereaksi Dragendorff.G.2.2. terlebih dahulu dideterminasi untuk mengidentifikasi jenis dan memastikan kebenaran simplisia. diambil larutan bagian atasnya (larutan B).2. Jika terbentuk warna merah atau . Batang kayu bidara laut yang akan digunakan di Rajang terlebih dahulu kemudian dikeringkan dengan panas matahari dan kemudian digiling hingga menjadi serbuk. Pengumpulan dan penyediaan simplisia 2. Sebelum dilakukan penelitian terhadap tumbuhan.G. campuran tersebut disaring dengan kertas saring.1 Determinasi Tanaman Bahan yang digunakan adalah kayu bidara laut yang diperoleh dari Bima Nusa Tenggara Barat.G. 3. 1. serbuk yang diperoleh disimpan dalam wadah bersih dan tertutup rapat.2 Penyiapan Bahan Uji 3.G. sebagian dari larutan A (10 ml) diekstraksi dengan dengan 10 ml larutan HCl 1:10 dengan pengocokan dalam tabung reaksi.

Jika terbentuk warna pada lapisan butanol (lapisan atas) maka hal itu menunjukkan adanya senyawa golongan flavonoid. 2. disaring dengan kertas saring. ditambahkan masing-masing pereaksi Dragendorff dan Mayer. di didihkan selama 15 menit lalu didinginkan dan disaring dengan kertas saring. 27 jingga pada kertas saring maka hal itu menunjukkan adanya senyawa golongan alkaloid dalam sampel. Larutan B dibagi dalam dua tabung reaksi. Identifikasi Golongan Tannin 2 gram sampel ditambahkan 100 ml air . dikocok dengan kuat lalu dibiarkan hingga memisah. filtrate yang diperoleh dibagi menjadi . 3. 4. Jika dalam tabung reaksi terbentuk busa yang stabil dan jika ditambahkan 1 tetes HCl 1% busa tetap stabil maka hal itu menunjukkan adanya senyawa golongan saponin. Identifikasi Golongan Flavonoid 1 gram sampel ditambahkan 50 ml air panas. di didihkan selama 5 menit. serta 5 ml butanol. Jika terbentuk endapan merah bata dengan pereaksi Dragendorff dan endapan putih dengan pereaksi Mayer maka hal itu menunjukkan adanya senyawa golongan alkaloid. Ke dalam 5 ml larutan percobaan (dalam tabung reaksi) ditambahkan serbuk atau lempeng magnesium secukupnya dan 1 ml HCl pekat. dimasukkan kedalam tabung reaksi dan dikocok secara vertikal selama 10 detik. diperoleh filtrat yang akan digunakan sebagai larutan percobaan. kemudian dibiarkan selama 10 menit. Identifikasi Golongan Saponin Sebanyak 10 ml larutan percobaan yang diperoleh dari percobaan b (identifikasi senyawa golongan flavonoid).

Identifikasi Senyawa Golongan Kuinon Diambil 5 ml larutan dari percobaan b (identifikasi golongan flavonoid). Jika terbentuk warna hijau atau merah maka hal itu menunjukkan adanya senyawa golongan steroid dan triterpenoid dalam simplisia tersebut. Kedalam residu ditambahkan 2 tetes asam asetat anhidrat dan 1 tetes asam sulfat pekat (pereaksi Liberman-Bouchard).G. dibiarkan selama 2 jam dalam wadah tertutup rapat lalu disaring dan diambil filtratnya. jika terbentuk warna merah maka hal itu menunjukkan adanya senyawa golongan kuinon.2. 3.5-2.5 jam dimana pelarut tetap diganti dan disaring. 28 2 bagian. Proses tersebut diulangi terus menerus sampai diperoleh filtrat yang mendekati jernih kemudian semua filtrat digabung dan diuapkan atau dipekatkan dengan rotary . Proses tersebut dilakukan 1. ditambahkan beberapa tetes larutan NaOH 1 N. 6. 5 ml filtrat diuapkan dalam cawan penguap hingga diperoleh residu/sisa. Kedalam filtrat pertama ditambahkan 10 ml larutan FeCl3 1%. Identifikasi Golongan Steroid dan Triterpenoid 1 gram sampel ditambahkan dengan 20 ml eter. 250 gram serbuk kering kayu bidara laut dimaserasi dengan pelarut etanol 70% dan dilakukan dengan pengadukan secara terus menerus.4 Pembuatan Ekstrak Etanol Serbuk Kayu Bidara Laut Pembuatan ekstrak dilakukan dengan metode maserasi. 5. lalu dimasukkan kedalam tabung reaksi. jika terbentuk warna biru tua atau hijau kehitaman maka hal itu menunjukkan adanya senyawa golongan tannin.

Untuk 1 mencit (20 g BB) = 260 mg/ml. Volume pemberian Volume pemberian maksimal pada mencit secara oral yaitu sebanyak 1 ml.0026 dan faktor farmakokinetik mencit yaitu 10.0026 x 10 = 0. . . Pembuatan Sediaan Ekstrak Etanol Serbuk Kayu Bidara Laut Dengan Dosis Tunggal. Maka dosis x faktor konversi manusia ke mencit dengan BB 20 g x faktor farmakokinetik yaitu : Dosis = 10 g x 0. Perhitungan Dosis Tunggal Ekstrak Etanol Serbuk Kayu Bidara Laut Dari penelitian terdahulu menyebutkan bahwa dosis lazim rebusan serbuk kayu bidara laut oleh masyarakat yaitu sekitar 10% atau 10 g serbuk dalam 100 ml air.2. faktor konversi dosis manusia ke mencit yaitu 0. Dihitung hasil persentase (%) kadar ekstrak dengan rumus : 𝐵𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 % 𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 = 𝐵𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑠𝑒𝑟𝑏𝑢𝑘 𝑠𝑖𝑚𝑝𝑙𝑖𝑠𝑖𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘𝑠𝑖 𝑥 100 % 3.260 g/20g BB mencit .5 Pembuatan Sediaan Uji 1.G. Berat ekstrak kental = 260 mg x 10 ml = 2600 mg. Untuk 6 mencit (20 g BB) = 6 x 1 ml = 6 ml ≈ 10 ml. 29 evaporator pada suhu 40oC hingga diperoleh ekstrak kental.

Dosis Pemberian Asam Mefenamat Dosis terapi asam mefenamat pada manusia yaitu 500 mg. 3. yang kemudian akan diberikan secara oral sebanyak 1 ml kepada mencit. 30 Jadi 2600 mg ekstrak kental serbuk kayu bidara laut dilarutkan dalam 10 ml larutan CMC 0. Dibuat larutan asam asetat 10% yaitu dengan memipet 1 ml asam asetat glacial lalu diencerkan dengan NaCl fisiologis ad 10 ml . Dosis = 500 mg x 0.6 % dengan metode pengenceran menggunakan NaCl fisiologis sebagai pelarut.5% dan tidak lebih dari 100. Pembuatan Larutan Sediaan Antalgin. .6% sudah menimbulkan rasa nyeri dengan adanya geliat.0026 x 10 = 13 mg/20 g BB mencit .6% yaitu dengan memipet 3 ml asam asetat 10% diencerkan dengan NaCl fisiologis ad 50 ml.5% b/b asam asetat ( FI IV. Untuk 1 mencit (20 g BB) = 13 mg/ml Untuk 6 mencit (20 g BB) = 6 x 1 ml = 6 ml ≈ 10 ml . 1995). Asam asetat glasial mengandung tidak kurang dari 99. Dibuat larutan asam asetat 0. Berdasarkan penelitian terdahulu 0.5% . Dari asam asetat glasial dibuat asam asetat 0.2 ml asam asetat 0. faktor konversi dosis manusia ke mencit yaitu 0. Pembuatan Larutan Sediaan Penginduksi Asam Asetat. .0026 dan faktor farmakokinetik mencit yaitu 10. Volume Pemberian Volume pemberian maksimal secara oral pada mencit yaitu 1 ml. 2.

Pembuatan larutan CMC 0. 3. Setelah ditimbang. kontrol positif dan kelompok uji.5%.5 Jadi CMC yang ditimbang yaitu = x 50 ml = 0. Tiap kelompok terdiri dari 6 ekor mencit. 3. . Untuk kelompok kontrol negatif diberikan larutan CMC 0.5% Volume larutan CMC 0. Setelah mengembang.5% yang dibutuhkan oleh kelompok kontrol positif dan kelompok bahan uji adalah berturut-turut 10 ml.2.G. hewan dikelompokkan secara acak yaitu : kelompok kontrol negatif. sehingga larutan CMC 0.6 Uji Analgetik 1. Pada kelompok uji diberikan zat uji dengan dosis tunggal 260mg/20 g BB mencit secara oral sebanyak 1ml .25 g ad 50 ml 100 . 4. lalu diberikan secara oral kepada mencit sebanyak 1 ml.25 g CMC ditimbang lalu dikembangkan dalam 5 ml air hangat (60oC) selama 30 menit.5% secara oral masing- masing sebanyak 1 ml 4.5% yang dibutuhkn adalah 20 ml dan dilebihkan volumenya menjadi 50 ml. minum tetap diberikan 2. Cara Pembuatan Sejumlah 0. Hewan percobaan dipuasakan selama ± 18 jam. Untuk kelompok kontrol positif diberikan larutan asam mefenamat secara oral sebanyak 1 ml dengan dosis 13 mg/20 g BB mencit. lalu ditambahkan aquadest sampai 50 ml. 0. 31 Berat asam mefenamat = 13 mg/ml x 10 ml = 130 mg Jadi 130 mg asam mefenamat 500 mg dilarutkan dalam 10 ml larutan CMC 0. CMC digerus sampai homogen. 5.

05). 7. .(𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑔𝑒𝑙𝑖𝑎𝑡 𝑟𝑎𝑡𝑎𝑎𝑛 𝑘𝑜𝑛𝑡𝑟𝑜𝑙 𝑥 100%) 3. Hitung geliat yang terjadi dengan pada menit ke 10 selang waktu 5 menit selama 1 jam 8. sedangkan levene-test berfungsi untuk menentukan apakah variabel dari data tersebut homogen atau tidak. Dikatakan data terdistribusi normal dan variabel homogen adalah apabila nilai probabilitas (p) > 0. 1965) 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑔𝑒𝑙𝑖𝑎𝑡 𝑟𝑎𝑡𝑎𝑎𝑛 𝑧𝑎𝑡 𝑢𝑗𝑖 % inhibisi geliat = 100% . 2008).2 ml/20 g BB. lalu diinjeksikan secara intraperitonial (ip) larutan asam asetat sebanyak 0.H Analisis Data Analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan cara test shapire wilk dan levene-test. Setelah 30 menit pemberian zat uji. maka akan dilanjutkan dengan analisis statistik parametrik yaitu analisis varian satu jalan (One Way Anova) dengan taraf kepercayaan 95% menggunakan SPSS. 32 6. tetapi jika nilai probabilitas (p) < 0.05. maka dilakukan uji statistik Non Parametrik Kruskal-Wallis (Santoso. Jika data terdistribusi normal dan homogen.05 maka data tersebut tidak terdistribusi normal dan homogen. Hitung persentase inhibisi pada masing-masing kelompok dengan menggunakan rumus (Turner. Shapire wilk berfungsi untuk mengetahui apakah data yang diperoleh terdistribusi normal atau tidak. Uji Anova bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang bermakna atau tidak antar kelompok perlakuan (p < 0. Sedangkan jika data tidak homogen.

33 Alur Kerja Penelitian Determinasi Tanaman Kayu Bidara Laut Serbuk Skrining fitokimia Maserasi dengan etanol Penguapan dengan rotary evaporator 40oC 70% Ekstrak kental Aklimatisasi Dipuasakan 3 18 Hewan Uji Mencit selama ± 2 selama ± 18 kelompok minggu jam perlakuan Diberi perlakuan secara oral 6 ekor mencit 6 ekor mencit 6 ekor mencit pemberian pemberian Bahan pemberian Kontrol (+) Uji Kontrol (-) Kontrol (+) Diamkan selama 30 menit Diinduksi dengan asam asetat Amati geliat yang terjadi .

34 Hitung jumlah kumulatif geliat Pengumpulan data Kontrol (+). Pemberian bahan uji. Kontrol (-) Analisis Data .