Anda di halaman 1dari 4

BIODIESEL DARI MINYAK GORENG

BEKAS
Desember 21, 2011

MENGAKTUALKAN KEMBALI KONVERSI MINYAK GORENG BEKAS
MENJADI BIODIESEL

Karna Wijaya, Manajer Biofuel, Katalis dan Hidrogen, PSE-UGM

Dewasa ini sumber energi
utama yang digunakan di
berbagai Negara adalah
minyak bumi. Eksploitasi
secara ekstensif dan
berkepanjangan
menyebabkan cadangan
minyak bumi semakin
menipis dan harganya
melonjak secara tajam dari
tahun ke tahun. Di antara
berbagai produk olahan
minyak bumi, seperti
bensin, minyak tanah,
minyak solar, dan avtur.
Solar merupakan bahan
bakar yang tergolong
paling banyak digunakan karena kebanyakan alat transportasi, alat pertanian, penggerak
generator listrik dan peralatan berat lainnya menggunakan solar sebagai sumber energi.
Mengingat arti penting solar serta cadangan minyak bumi yang semakin menipis,
berbagai upaya telah dilakukan untuk mencari energi alternatif pengganti bahan bakar
diesel tersebut. Bahan bakar alternatif yang saat ini sangat menjanjikan sebagai pengganti
petrodisel adalah minyak sawit dan hasil olahannya yang disebut dengan biodiesel.
Namun sayangnya minyak sawit memiliki sifat mudah teroksidasi dan menjadi rusak
karena minyak sawit banyak mengandung asam lemak. Penggunaan langsung minyak
sawit dapat menyebabkan kerusakan mesin diesel karena hasil pembakaran minyak sawit
membentuk deposit pada pipa injektor mesin diesel dan asap berlebih. Selain itu minyak
sawit juga memiliki viskositas yang lebih tinggi dari pada petrodiesel. Dari sisi ekonomi
penggunaan minyak sawit secara langsung juga kurang menguntungkan karena harus
bersaing dengan minyak goreng komersial yang pada gilirannya mengganggu ketahanan
pangan. Konversi minyak sawit murah seperti CPO parit atau minyak goreng bekas
menjadi biodiesel diperlukan agar minyak sawit dapat digunakan sebagai bahan bakar
tanpa mengganggu ketahanan pangan.

Sementara itu. Bentuk metil atau etil ester ini relatif lebih ramah lingkungan namun juga kurang ekonomis karena menggunakan bahan baku minyak sawit goreng. karena minyak goreng bekas mengandung asam lemak bebas dengan konsentrasi cukup tinggi. Untuk mengatasi kelemahan minyak sawit. Sebenarnya konversi langsung minyak jelantah atau minyak goreng bekas menjadi biodisel sudah cukup lama dilakukan oleh para peneliti biodiesel namun beberapa mengalami kegagalan. Skema di bawah ini memperlihatkan proses pembuatan biodesel dari minyak goreng bekas yang mengadopsi prinsip zero waste process. Minyak jelantah ini tidak baik jika digunakan kembali untuk memasak karena banyak mengandung asam lemak bebas dan radikal yang dapat membahayakan kesehatan. tidak menghasilan cemaran yang berbahaya bagi lingkungan (non toksik) serta mudah terurai secara alami. . mudah diproses. Kandungan asam lemak bebas dapat dikurangi dengan cara mengesterkan asam lemak bebas dengan katalis asam homogen. Selain itu biodiesel yang berasal dari minyak nabati merupakan bahan bakar yang dapat diperbaharui (renewable). maka minyak sawit itu harus dikonversi terlebih dahulu menjadi bentuk metil atau etil esternya (biodiesel).Biodiesel yang secara umum didefinisikan sebagai ester monoalkil dari tanaman dan lemak hewan merupakan bahan bakar alternatif yang sangat potensial digunakan sebagai pengganti solar karena kemiripan karakteristiknya. minyak goreng bekas atau jelantah dari industri pangan dan rumah tangga cukup banyak tersedia di Indonesia. harganya relatif stabil. seperti asam sulfat atau katalis asam heterogen seperti zeolit atau lempung teraktivasi asam.

Skema 1. Salah satu contoh hasil uji ASTM biodiesel dari minyak goreng bekas (didanai oleh DP2M-DIKTI) . Siklus pengolahan minyak bekas/jelantah menjadi biodiesel Hasil penelitian oleh peneliti dari tahun 2005 hingga saat ini menunjukkan bahwa biodiesel yang diproduksi dari minyak sawit bekas (jelantah) memiliki kualitas yang hampir sama baiknya dengan biodiesel standard yang dipersyaratkan oleh ASTM dan diesel perdagangan sehingga biodiesel yang merupakan hasil konversi minyak sawit goreng bekas memiliki peluang untuk dipasarkan baik di dalam negeri maupun untuk diekspor. Kendala utama yang dihadapi untuk keperluan produksi masal adalah pasokan serta harga minyak goreng bekas yang mungkin sangat berfluaktif dari waktu ke waktu. Tabel 1.

khususnya dari minyak sawit perlu diaktualkan kembali. menjamin keamanan pasokan bahan baku untuk industri biodiesel dan memantapkan kembali teknologi pengolahan minyak goreng bekas menjadi biodiesel (biodiesel refinery technology) . mempromosikan bahaya penggunaan minyak goreng bekas untuk memasak. industri dan peneliti juga mulai memperhatikan potensi pengembanganya. memetakan potensi minyak goreng bekas pada zona pengembangan. masyarakat. begitu pula penelitian tentang konversi minyak goreng bekas menjadi biodiesel sudah mapan dan cukup lama.Mengingat minyak goreng bekas relatif mudah dan murah didapat maka sudah selayaknya pemerintah. Di Jepang konversi minyak goreng bekas menjadi biodiesel sudah mencapai titik ultimate dan telah digunakan sebagai bahan bakar biosolar sarana transportasi. riset dan pengembangan biodiesel dari minyak goreng bekas di Indonesia. sementara di Indonesia ketersediaan minyak goreng bekas sangat melimpah. beberapa rekomendasi yang dapat kita lakukan bersama-sama adalah: membangun zona pengembangan biodiesel dari minyak goreng bekas. memberikan insentif kepada pelaku industri biodiesel berbasis minyak goreng bekas. namun dalam prakteknya masih sangat sedikit sarana transportasi yang menggunakan biodiesel minyak goreng bekas. Reaktualisasi dan rekomendasi Setelah sekian lama terpendam. mengatur tata niaga penjualan minyak goreng bekas sehingga harga tidak berfluktuasi secara tajam. menjamin pasokan bahan baku.