Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN TETAP

SATUAN PROSES 2
SAPONIFIKASI

Disusun oleh kelompok 1 (4 KC) :


Annisa Nurul Firda NPM 061530400995
Berlianita Putri Irani NPM 061530400996
Defta Adelia Rani NPM 061530400997
Dwi Shafira Pertiwi NPM 061530401000
Meiriska Wulandari NPM 061530401003
Muhammad Arief NPM 061530401004
Muhammad Zubairi NPM 061530401005
Niko Pratama NPM 061530401008
Nuzul Al Qori NPM 061530401009
Rizka Aprilia NPM 061530401011
Robby Asmedy NPM 061530401012

Dosen Pembimbing : Endang Supraptiah, S.T., M.T.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA


PALEMBANG
2017
SAPONIFIKASI

I. Tujuan Percobaan
1. Mempelajari proses pembuatan sabun dari Minyak.
2. Untuk mengetahui reaksi yang terjadi pada proses pembuatan sabun dari Minyak.

II. Alat dan Bahan yang digunakan


Alat
1. Hot plate 6. Erlenmeyer
2. Spatula 7. Ember
3. Kaca arloji
4. Pengaduk
5. Gelas kimia

Bahan
1. NaOH
2. Etanol
3. Aquades
4. Alkohol

III. Dasar teori


Saponifikasi pada dasarnya adalah proses pembuatan sabun yang berlangsung
dengan mereaksikan asam lemak khususnya trigliserida dengan alkali yang
menghasilkan gliserol dan garam karboksilat (sejenis sabun). Sabun merupakan
garam (natrium) yang mempunyai rangkaian karbon yang panjang. Reaksi dibawah
ini merupakan reaksi saponifikasi tripalmitin / trigliserida.
Selain dari reaksi diatas sabun juga bisa dihasilkan dari reaksi netralisasi Fatty
Acid (FA), namun disini hanya didapat sabun tanpa adanya Gliserin (Glycerol),
karena saat proses pembuatan Fatty Acid, glycerol sudah dipisahkan tersendiri.

Selain dari minyak atau lemak dan NaOH pada pembuatan sabun dipergunakan
bahan-bahan tambahan sebagai berikut:
a. Cairan pengisi seperti tepung tapioka, gapleh dan lain-lain.
b. Zat pewarna
c. Parfum, agar baunya wangi.
d. Zat pemutih, misal natrium sulfat

Bahan baku pembuatan sabun, antara lain:


a. Minyak kelapa sawit
Mengandung asam palmitat, asam oleat, asam stearat, dan asam myfistat.
b. Minyak Zaitun
Mengandung asam palmitat, asam oleat dan asam stearat.
c. Minyak Kelapa
d. Mengandung asam palmitat, asam oleat dan asam stearat.
Minyak

Lemak dan minyak merupakan senyawa organik yang penting bagi


kehidupan makhluk hidup.Lemak dan minyak merupakan salah satu kelompok yang
termasuk golongan lipida. Salah satu sifat yang khas dan mencirikan golongan lipida
adalah daya larutnya dalam pelarut organik (misalnya ether, benzene, chloroform)
atau sebaliknya ketidak-larutannya dalam pelarut air. Kelompok lipida dapat
dibedakan berdasarkan polaritasnya atau berdasarkan struktur kimia tertentu :
a. Kelompok Trigliserida ( lemak,minyak,asam lemak dan lain-lain ).
b. Kelomok turunan asam lemak ( lilin,aldehid asam lemak dan lain-lain ).
c. Fosfolipida dan serebrosida ( termasuk glikolipida ).
d. Sterol-sterol dan steroida.
e. Karotenoida.
f. Kelompok lipida lain.
Lemak dan minyak atau secara kimiawi adalah trigliserida merupakan bagian
terbesar dari kelompok lipida. Trigliserida ini merupakan senyawa hasil kondensasi
satu molekul gliserol dengan tiga molekul asam lemak.

Secara umum lemak diartikan sebagai trigliserida yang dalam kondisi suhu
ruang berada dalam keadaan padat. Sedangkan minyak adalah trigliserida yang
dalam suhu ruang berbentuk cair. Secara lebih pasti tidak ada batasan yang jelas
untuk membedakan minyak dan lemak. Reaksi dan sifat kimia pada minyak atau
lemak:
1. Esterifikasi
Proses Esterifikasi bertujuan untuk asam-asam lemak bebas dari trigliserida,
menjadi bentuk ester. Reaksi esterifikasi dapat dilakukan melalui reaksi kimia
yang disebut interifikasi atau penukaran estar yang didasarkan pada prinsip
trans-esterifikasi Fiedel-Craft.
2. Hidrolisa
Dalam reaksi hidrolisa, lemak dan minyak akan diubah menjadi asam-asam
lemak bebas dan gliserol, proses ini dibantu adanya asam, alkali, uap air, panas,
dan eznim lipolitik seperti lipase. Reaksi hidrolisis mengakibatkan kerusakan
lemak dan minyak yaitu hydrolytic rancidity yaitu terjadi flavor dan rasa
tengik pada lemak atau minyak. Hal ini terjadi karena terdapat sejumlah air
dalam lemak dan minyak tersebut.

3. Penyabunan
Reaksi ini dilakukan dengan penambahan sejumlah larutan basa kepada
trigliserida. Bila penyabunan telah lengkap, lapisan air yang mengandung
gliserol dipisahkan dan kemudian gliserol dipulihkan dengan penyulingan.
4. Enzimatis
Enzim yang dapat menguraikan lemak atau minyak dan akan menyebabkan
minyak tersebut menjadi tengik, ketengikan itu disebut Enzimatic rancidity
Lipase yang bekerja memecah lemak menjadi gliserol dan asam lemak serta
menyebabkan minyak berwarna gelap. Enzim peroksida membantu proses
oksidasi minyak sehingga menghasilkan keton.
5. Oksidasi
Oksidasi dapat berlangsung bila terjadi kontak antara sejumlah oksigen dengan
lemak atau minyak. Terjadinya reaksi oksidasi ini akan mengakibatkan bau
tengik kepada minyak atau lemak Oxidative rancidity.
6. Hidrogenasi
Proses Hidrogenasi bertujuan untuk menjernihkan ikatan dari rantai dari karbon
asam lemak pada lemak atau minyak. Setelah proses Hidrogenasi selesai,
minyak didinginkan dan katalisator dipisahkan dengan penyaringan. Hasilnya
adalah minyak yang bersifat plastis atau keras, tergantung pada derajat
kejenuhan.

Sifat fisika lemak dan minyak :


1. Bau amis (fish flavor) yang disebabkan oleh terbentuknya trimetil- amin dari
lecitin
2. Bobot jenis dari lemak dan minyak biasanya ditentukan pada temperatur kamar
3. Indeks bias dari lemak dan minyak dipakai pada pengenalan unsur kimia dan
untuk pengujian kemurnian minyak.
4. Minyak atau lemak tidak larut dalam air kecuali minyak jarak (Coaster oil),
sedikit larut dalam alkohol dan larut sempurna dalam dietil eter, karbon disulfide
dan pelarut halogen.
5. Titik didih asam lemak semakin meningkat dengan bertambahnya panjang rantai
karbon.
6. Rasa pada lemak dan minyak selain terdapat secara alami juga terjadi karena
asam-asam yang berantai sangat pendek sebagai hasil penguraian pada
kerusakan minyak atau lemak
7. Titik kekeruhan ditetapkan dengan cara mendinginkan campuran lemak atau
minyak dengan pelarut lemak
8. Titik lunak dari lemak atau minyak ditetapkan untuk mengidentifikasikan
minyak atau lemak
9. Shot Melting point adalah temperatur pertama saat terjadi tetesan pertama dari
minyak/lemak.
10. Slipping point digunakan untuk pengenalan minyak atau lemak alam serta
pengaruh kehadiran komponen-komponennya.
Senyawa lemak dan minyak merupakan senyawa alam penting yang dapat dipelajari
secara lebih dalam dan relatif lebih mudah bila dibandingkan dengan senyawa
makro nutrien lain. Kemudahan tersebut diakibatkan oleh:
1. molekul lemak relatif lebih kecil dan kurang kompleks dibandingkan
karbohidrat atau protein.
2. molekul lemak dapat disintesis di laboratorium menurut kebutuhan.

Analisis lemak dan minyak yang umum dilakukan ,dapat digolongkan dalam tiga
kelompok tujuan berikut:
1. Penentuan kuantitatif atau penentuan kadar lemak yang terdapat dalam bahan
makanan atau pertanian.
2. Penentuan kualitas minyak (murni) sebagai bahan makanan yang berkaitan
dengan proses ekstraksinya, atau ada tidaknya perlakuan pemurnian lanjutan
misalnya penjernihan, penghilangan bau, penghilangan warna dan sebagainya.
3. Penentuan sifat fisis maupun kimiawi yang khas atau mencirikan sifat minyak
tertentu.

IV. Prosedur Kerja


1. Membuatn larutan NaOh 30%
2. Menimbang mentega 10 gram, lalu mencmapurkannya dengan 80ml larutan
NaOH 30%, sambil memanaskan campran diatas hotplate
3. Setelah mentega melelh, campuran ditambahkan 8ml etanol. Lalu diaduk dan
dipanaskan pada suhu 70-800C, sehingga cairannya tidak tepat mendidih.
Pengadukan dilakukan selama 5 menit.
4. Mendinginkan larutan yang terbentuk ke dalam ember berisi air es hingga
terbentuk sabun yang diinginkan
V. Data Pengamatan

Perlakuan Pengamatan
Memanaskan campuran antara 10 gr mentega Mentega menjadi leleh. Terbentuk dua
+ 80ml larutan NaOH 30% . lapisan dimana lapisan atas cenderung
memiliki warna kuning lebih pekat
dibandingkan lapisan bawah.

Menambahkan 8ml etanol kedalam Tetap terbentuk dua lapisan, namun yang
campuran, kemudian memanaskannya pada memebedakannya adalah lapisan atas
suhu 70-800C selama 5 menit sambil diaduk. menjadi lebih kuning sedangkan yang bawah
semakin jernih.

Melakukan proses pendinginan dengan Terbentuk sabun (padat). Didapat sabun


menggunakan air es hingga terbentuk sabun sebanyak 19,30 gr
yang diinginkan, kemudian menimbang sabun
yang terbentuk.
VI. Perhitungan
1. Secara teoritis
10
Mol mentega = = 0,01171 mol
854 /
30
Mol NaOH = = 0,75 mol
40 /

Reaksi:

m : 0,01171 0,75 - -

b : 0,01171 0,03513 0,01171 0,03513

s : - 0,71487 0,01171 0,03513

Komponen In Out
mol gram mol gram
Mentega 0,01171 10 - -
NaOH 0,75 30 0,71487 28,5948
Gliserol - 0,01171 1,07732
Sabun - 0,03513 10,67952
Total 40 40,35164

Secara praktikum :

Berat sabun = 19,30 gram


19,30 gr
Mol sabun = = 0,06348 mol
304 gr/mol
m : 0,01171 0,75 - -

b : 0,02116 0,06348 0,02116 0,6348

s : -0,00945 0,68652 0,02116 0,6348

Komponen In Out
mol gram mol gram
Mentega 0,01171 10 -0,00945 -8,0702
NaOH 0,75 30 0,68652 27,4600
Gliserol - 0,02116 1,94672
Sabun - 0,06348 19,29792
Total 40 40,63514


%yield
Secara =
Teori : x 100% %konversi = x 100%

10,63952 0,01171
= = x 100%
30 0,01171

= 35,5984% = 10%



%konversi = x 100%

%yield = x 100%

0,06348
19,29392
= x 100%
0,01171
=
30
= 542,107
= 64,3264%

jumla mol bereaksi


% kesalahan = x 100%
jumlah mol mulamula"

35,2984 %64,3264%
= x 100%
35,59 84

= 80,70%
VII. Analisa Data
Pada percobaan kali ini mengenai reaksi penyabunan yang bertujuan untuk
mengetahui reaksi saponifikasi pada senyawa ester. Ester adalah suatu asam
karboksilat yang mempunyai gugus COOH ester dapt diubah menjadi aneka ragam
senyawa lain. Bahan terpenting yang dibutuhkan dalam percobaan ini yaitu mentega
dengan empat buah pereaksi yaitu etanol, larutan CaCl2 dan larutan NaOH 30%.
Campurana antara mentega dan NaOH 30% dipanaskan dengan suhu sampai 700C,
sehingga menghasilkan gliserol dan sabun mentah. Proses ini merupakan reaksi
penyabunan atau saponifikasi . reaksi penyabunan atau saponifikasi adalah hidrolisis
suatu asam lemak (ester) oleh adanya basa kuat dan merupakan reaksi irreversibel.
Dalam proses saponifikasi terjadi hidrolisis lemak.
Berdasarkan data pengamatan yang didapat dari praktikum saponifikasi untuk
berat sabun yang didapat secara teori sebanak 10,67952 gram, sedangkan dai
praktikum yang telah dilakukan jumlah dari sabun yang dihasilkan sebanyak
19,29792 gram. Hal ini terjadi karena pada saat proses pembuatan sabun tidak
dilakukan penyaringan secara sempurna, sehingga pada saat penimbangan sabun
(produk)berat yang didapat bukan berat bersih sabun namun masih tercampur dengan
air. Sehingga berat yang didapat secara praktik lebih besar.
Sabun yang didapatkan pada praktikum ini untuk kelompok 1 berupa sabun
padatan sedangkan kelompok 2 berupa sabun cair. Perbedaan wujud sabun yang
didapatkan dikarenakan jenis alkali yang digunakan pada kedua kelompok berbeda.
Untuk menghasilkan sabun cair maka alkali yang digunakan adalah KOH, sedangkan
untuk menghasilkan sabun padat maka alkali yang digunakan adalah NaOH. Lalu
etanol yang digunakan bertujuan sebagai pelarut bagi mentega atau minyak yang
digunakan. Sabun yang berbahan dasar mentega akan lebih berwarna kuning bila
dibandingkan sabun yang terbuat dari minyak. Berdasarkan hasil uji sabun, sabun
yang dihasilkan akan menimbulkan rasa licin di tangan namun belum cukup baik
dalam menghasilkan buih atau busa. Hal ini dikarenakan gliserol yang terbentuk tidak
dipisahkan dari sabun yang terbentuk, sehingga sabun yang dihasilkan tidak berbusa.
Dari perhitungan yang telah dilakukan, 10 gram mentega yang dicampur dengan
80ml NaOH 30% dan etanol 6ml amakan akan menghasilkan sabun sebanyak 19,30
gram, dengan %yield yang didapat secara praktikum adalah 64,3264% dan %konversi
sebesar 542,1007%.

VIII. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat dianalisa bahwa :
2. Dalam penyabunan mentega terjadi reaksi saponifikasi yaitu reaksi hidrolisis
suatu asam lemak (ester) oleh adanya basa lemah
3. Sabun dari mentega akan menghasilkan sabun berwarna kuning pekat
dibandingkan sabun yang berbahan dasar minyak
4. Sabun yang masih mengandung gliserol akan menghambat terbentuknya buih
atau busa
5. Penggunaan alkali pada pembuatan sabun:
- NaOH : sabun padat
- KOH : sabun cair
5. Sabun yang didapat sebanyak 19,30 gran.
Gambar Alat

Erlenmeyer Gelas Kimia Pipet Tetes

Pipet Ukur

Anda mungkin juga menyukai