Anda di halaman 1dari 9

.

JUDUL
PENGARUH KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA
DALAM PROYEK PELAKSANAAN PEMBANGUNAN APARTEMEN PT. SUMARECON DI KOTA
BEKASI.

II. LATAR BELAKANG MASALAH


Pada sebuah proyek pelaksanaan pembangunan sering kali terjadi kecelakaan kerja. Dalam UU No. 1
tahun 1970, yang dimaksud dengan tempat kerja adalah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau
terbuka, bergerak atau tetap, tempat tenaga kerja bekerja, atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk
keperluan suatu usaha dan terdapat sumber sumber bahaya. Kecelakaan kerja adalah kecelakaan dan
atau penyakit yang menimpa tenaga kerja karena hubungan kerja di tempat kerja (Ervianto, 2005 : 197).
Ada banyak kemungkinan penyebab terjadinya kecelakaan kerja dalam proyek konstruksi, salah satu
penyebabnya adalah karakter dari proyek itu sendiri. Proyek konstruksi mempunyai mempunyai konotasi
yang kurang baik apabila ditinjau dari aspek kebersihan dan kerapian, lebih tepatnya dapat disebut
semrawut karena padat alat, pekerja, material. Faktor lain timbulnya kecelakaan kerja adalah faktor
pekerja konstruksi yang cenderung kurang mengindahkan ketentuan standar keselamatan kerja,
pemilihan metodakerj yang kurang tepat, perubahan tempat kerja dengan karakter yang berbeda beda
sehingga harus menyesuaikan diri, perselisihan yang mungkin timbul diantara para pekerja sehingga
mempengaruhi kinerjanya, perselisihan antara pekerj dengan tim proyek, peralatan yang digunakan dan
masih banyak faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja.
Sering terjadinya kecelakaan kerja dapat merusak reputasi sebuah perusahaan konstruksi yang dapat
menghambat perusahaan tersebut untuk mendapatkan sebuah proyek. Untuk itu, usaha usaha
pencegahan timbulnya kecelakaan kerja perlu dilakukan sedini mungkin. Adapun salah satu tindakan
yang dapat dilakukan untuk pencegahan kecelakaan kerja dengan membuat program keselamatan dan
kesehatan kerja yang diharapkan dapat meminimalisir dan mencegah terjadinya kecelakaan kerja.
Keselamatan kerja itu sendiri merupakan hal yang harus dipertimbangkan terlebih dahulu oleh para
pekerja, terutama pekerjaan yang memang pada dasarnya memiliki tingkat resiko kecelakaan yang amat
tinggi. Saat ini keselamatan kerja telah menjadi hal yang dipermasalahkan yang banyak menyita berbagai
organisasi karena mencakup permasalahan segi kemanusiaan, biaya dan manfaat ekonomi, aspek hukum,
pertanggung jawaban serta cira organisasi itu sendiri. Keselamatan kerja merupakan sarana untuk
pencegahan kecelakaan, cacat, dan kematian sebagai akibat kecelakaan kerja.
Oleh karena itu, pada proses pembangunan proyek konstruksi umumnya merupakan kegiatan yang
banyak mengandung resiko yang berbahaya. Hal ini membuat dunia industri konstruksi membawa citra
buruk dalam hal keselamatan para pekerjanya. Dengan situasi tempat proyek yang mencerminkan
karakter yang keras dan kegiatannya yang sangat sulit dilaksanakan sehingga memerlukan stamina yang
prima dalam bekerja.
Dalam mengantisipasi kecelakaan dalam sebuah proyek diperlukan adanya pihak yang bertanggung
jawab terhadap resiko tersebut. Misalnya adanya kerja sama antara kontraktor dengan lembaga yang
bergerak dibidang keselamatan kerja. Karena pada dasarnya semua para pekerja harus sudah mendapat
jaminan kerja dari pihak pihak yang terkait.
Salah satu faktor penyebab kecelakaan kerja lainnya adalah kesehatan para pekerjanya. Dalam sebuah
proyek pelaksanaan pembangunan pihak kontraktor perlu memelihara kesehatan para pekerjanya,
kesehatan ini menyangkut kesehatan fisik ataupun mental. Kesehatan para pekerja yang buruk akan
mengakibatkan kecenderungan tingkat absensi yang tinggi dan produksi yang rendah. Adanya program
kesehatan yang baik akan menguntungkan para pekerja secara material, karena mereka akan lebih jarang
absen bekerja dengan lingkungan yang menyenangkan, sehingga secara keseluruhan akan mampu
bekerja lebih lama berarti lebih produktif. Kesehatan kerja dapat dilakukan dengan penciptaan
lingkungan kerja yang sehat. Hal ini menjaga kesehatan dari gangguan-gangguan penglihatan,
pendengaran, kelelahan dll.
Dengan adanya keselamatan dan kesehatan kerja yang baik dalam sebuah proyek pembangunan
merupakan suatu usaha untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja. Selain keselamatan dan kesehatan
kerja yang baik dapat meningkatkan produktivitas yang tinggi. Karena salah satu faktor meningkatkan
produktivitas kerja adalah faktor keselamatan dan kesehatan kerja.
Produktivitas pada dasarnya merupakan suatu sikap mental yang selalu mempunyai pandangan bahwa
mutu kehidupan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini.
Produktivitas mengandung pengertian perbandingan antara hasil yang dicapai dengan keseluruhan
sumber daya yang dipergunakan.
Oleh karena itu, diperlukan adanya pengawasan terhadap keselamatan dan kesehatan kerja diharapkan
dapat memberikan produktivitas kerja dalam proyek bangunan yang optimal. Misalkan saja, dengan tidak
adanya pengawasan terhadap tingkat keselamatan dan kesehatan kerja bila terjadi kecelakaan dapat
merugikan pihak pihak yang lain misal kerugian dari pihak kontraktor yang dapat dituntut karenanya
kurangnya pengawasan terhadap keselamatan kerja, keterlambatan hasil kerja karena berkurangnya
pekerja akibat kecelakaan kerja dan juga dapat merusak reputasi perusahaan konstrusi tersebut. Dari
latar belakang hal tersebut maka perlu kiranya penulis mengetahui seberapa besar pengaruh tingkat
keselamatan dan kerja terhadap hasil kerja dalam proyek pelaksanaan pembangunan, sehingga penulis
mengambil judul Pengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja Terhadap Produktivitas Kerja Dalam
Proyek Pelaksanaan Pembangunan Apartemen PT. Sumarecon Di Kota Bekasi.
III. RUMUSAN DAN BATASAN MASALAH
Setiap kontraktor tentunya ingin agar pekerjaan pembangunan yang mereka tangani dapat selesai tepat
waktu bahkan selesai sebelum waktu kontrak yang ditentukan. Tapi, masih banyak kendala yang masih
mereka harus hadapai dalam kenyataannya.
Salah satunya kecelakaan kerja yang sering terjadi dan dapat juga berakibat bertambahnya waktu kerja
dan berkurangnya kualitas hasil kerja. Dari urain diatas, yang menjadi permasalahan adalah :
Seberapa pengaruhkah keselamatan dan kesehatan kerja terhadap produktivitas kerja dalam sebuah
proyek pembangunan ?
Dalam penelitian ini, peneliti hanya ingin membatasi masalah yang diteliti agar tidak keluar dari judul
atau pokok permasalahan yang dibahas. Adapun batasan masalahnya, peneliti hanya meneliti tentang
pengaruh keselamatan dan kesehatan kerja terhadap proyek pelaksanaan pembangunan.
IV. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan dari penelitian ini adalah ingin mengetahui seberapa besar pengaruh keselamatan dan kesehatan
kerja terhadap produktivitas kerja dalam proyek pembangunan.
V. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat penelitian ini adalah :
1) Sebagai sarana pengembangan ilmu pengetahuan melalui penelitian dan juga dapat memberikan
masukan bagi setiap mahasiswa FT di UNNES khususya mahasiswa Pendidikan Teknik Bangunan
tentang keselamatan dan kesehatan kerja, karena pada jurusan Teknik Sipil mahasiswa mempelajari mata
kuliah keselamatan kerja agar berguna untuk diri sendiri dan juga digunakan untuk masyarakat umum
khususnya para pekerja bangunan.
2) Bagi pihak kontraktor dan pihak pihak yang terkait lainnya dalam sebuah proyek pembangunan agar
lebih memerhatikan lagi para pekerjanya dalam bekerja.
3) Bagi para pekerjanya sebagai bahan informasi tentang seberapa penting keselamatan dan
kesehatannya dalam bekerja di sebuah proyek pembangunan.

VI. LANDASAN TEORI


1. Keselamatan Kerja
Perlindungan tenaga kerja meliputi beberapa aspek dan salah satunya yaitu perlindungan keselamatan,
Perlindungan tersebut bermaksud agar tenaga kerja secara aman melakukan kerjaannya sehari-hari
untuk meningkatkan produksi dan produktivitas. Tenaga kerja harus memperoleh perlindungan dari
berbagai soal disekitarnya dan pada dirinya yang dapat menimpa atau mengganggu dirinya serta
pelaksanaan pekerjaannya.
Keselamatan kerja menunjukkan pada kondisi yang aman atau selamat dari penderitaan, kerusakan atau
kerugian di tempat kerja. Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan instrumen yang memproteksi
pekerja, perusahaan, lingkungan hidup, dan masyarakat sekitar dari bahaya akibat kecelakaan kerja.
Keselamatan dan kesehatan kerja bertujuan mencegah, mengurangi, bahkan menihilkan risiko
kecelakaan kerja (zero accident).
Keselamatan kerja merupakan sarana atau alat untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja yang tidak
diduga yang disebabkan oleh kelalaian kerja serta lingkungan kerja yang tidak kondusif. Konsep ini
diharapkan mampu menihilkan kecelakaan kerja sehingga mencegah terjadinya cacat atau kematian
terhadap pekerja, kemudian mencegah terjadinya kerusakan tempat dan peralatan kerja.
Perlindungan keselamatan kerja tersebut merupakan hak asasi yang wajib dipenuhi oleh perusahaan
konstruksi bangunan. Dalam pelaksanaan pembangunan, kontraktor utama maupun subkontraktor
sudah selayaknya tidak mengizinkan pekerjanya untuk beraktivitas bila terjadi hal hal berikut :
1) Tidak mematuhi keselamatan dan kesehatan kerja,
2) Tidak menggunakan peralatan pelindung diri selama bekerja, dan
3) Tidak mengizinkan pekerja menggunakan peralatan yang tidak aman.
Secara umum, setiap pekerja konstruksi harus mematuhi dan menggunakan peralatan perlindungan
dalam bekerja sesuai dengan peraturan keselamatan dan kesehatan kerja. Dalam hal ini pihak pihak
yang berkewajiban menambah klausal tentang keselamatan dan kesehatan kerja dalam setiap kontrak
kerja yang dibuatnya. Untuk itu perlu dipertimbangkan dan mengimplementasikan program keselamatan
kerja (Ervianto, 2005 : 196) diantaranya sebagai berikut :
Komitmen pimpinan perusahaan untuk mengembangkan program yang mudah dilaksanakan,
Kebijakan pimpinan tentang keselamatan dan kesehatan kerja,
Ketentuan penciptaan lingkungan kerja yang menjamin terciptanya keselamatan dan kesehatan dalam
bekerja,
Ketentuan pengawasan selam proyek berlangsung,
Pendelegasian wewenang yang cukup selama proyek berlangsung,
Ketentuan penyelenggaraan pelatihan dan pendidikan,
Melakukan penelusuran penyebab utama terjadinya kecelakaan kerja,
Mengukur kinerja program keselamatan dan kesehatan kerja, dan
Pendokumentasian yang memadai dan pencatatan kecelakaan kerja secara kontinu.
Semua hal hal ini dapat dijadikan bahan pertimbangan guna untuk meminimalisir dan mencegah
terjadinya kecelakaan kerja yang juga dapat mempengaruhhi produktivitas kerja para pekerjanya.
Kesuksesan keselamatan kerja konstruksi tal lepas dari peran berbagai pihak yang terlibat, berinteraksi
dan kerja sama. Masing masing pihak mempunyai tanggung jawab bersama yang saling mendukung
untuk keberhasilan pelaksanaan proyek konstruksi yang ditandai dengan evaluasi positif dari
pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja.
Dalam penerapan keselamatan kerja bidang konstruksi, diperlukan adanya pendidikan dan pelatihan
mengenai metoda dan prosedur yang benar pemakaian peralatan keselamatan kerja. Penyediaan
peralatan kerja yang memenuhi persyaratan atau dalam meletakkan tanda tanda daerah bahaya bagi
para pekerja juga merupakan salah satu penerapan keselamatan kerja. Adapun standar peralatan kerja
yang harus disiapkan oleh kontraktor dalam menjaga keselamatan dan kesehatan kerja adalah :
1. Pakaian kerja
Tujuan pemakaian pakaian kerja adalah melindungi badan manusia terhadap pengaruh pengaruh yang
kurang sehat atau dapat melukai badan.
2. Sepatu kerja
Sepatu kerja (safety shoes) merupakan perlindungan terhadap kaki untuk mengindari benda benda
tajam.
3. Helm
Digunakan untuk pelindung kepala dan sedauh menjadi keharusan bagi para pekerja konstruksi untuk
menggunakannya dengan benar sesuai peraturan pemakaian yang dikeluarkan dari pabrik pembuatnya.
4. Sarung tangan
Tujuan dari penggunaan sarung tangan adalah untuk melindungi tangan dari benda - benda tajam dan
keras selama menjalankan kegiatan.
5. Masker
Pelindung pernapasan sangata diperlukan oleh para pekerja konstruksi mengingat lokasi proyek yang
sangat berbahaya bagi pernapasan.
6. Kacamata kerja
Kacamata pengaman digunakan untuk perlindungan terhadap mata dari debu kayu, batu atau serpihan
besi yang bertebangan tertiup angin, mengingat partikel partikel debu yang terkadang tidak terlihat
oleh mata.
7. Sabuk pengaman
Sudah selayaknya dalam pelaksanaan bangunan gedung bertingkat para pekerjanya menggunakan sabuk
pengaman.
8. P3K
Apabila terjadi kecelakaan kerja baik ringan ataupun berat pada pekerja konstruksi, sudah seharusnya
dilakukan pertolongan pertama di proyek.
Selain itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh semua unsur konstruksi terutama dalam
pekerjaan konstruksi, yaitu :
Lokasi pekerjaan, kebersihan tempat bekerja di lokasi pekerjaan ikut menentukan produktivitas kerja
para pekerja konstruksi. Secara rasional, seseorang bekerja di lingkungan yang bersih tentu akan
mendapatkan kualitas kerja yang baik bila dibandingkan dengan tempat kerja yang kotor dan acak
acakan. Selain tempat kerja, kebersihan alat alat kerja juga memberikan konstribusi yang cukup pada
kualitas hasil kerja.
Bahaya merokok, untuk menghindari bahaya kebakaran, sebaiknya semua pekerja konstruksi tidak
merokok pada saat bekerja terutama di lokasi yang mudah terbakar. (Ervianto, 2005 : 200)

2. Kesehatan Kerja
Tak hanya itu, program kesehatan kerja merupakan suatu hal yang penting dan perlu diperhatikan oleh
pihak kontraktor. Karena dengan adanya program kesehatan yang baik akan menguntungkan para
pekerja secara material, karena pekerja akan lebih jarang absen, bekerja dengan lingkungan yang lebih
menyenangkan, sehingga secara keseluruhan pekerja akan mampu bekerja lebih lama. Kesehatan kerja
menunjukkan pada kondisi yang bebas dari gangguan fisik, mental, emosi atau rasa sakit yang
disebabkan oleh lingkungan kerja. Resiko kesehatan merupakan faktor-faktor dalam lingkungan kerja
yang bekerja melebihi periode waktu yang ditentukan, lingkungan yang dapat membuat stress emosi atau
gangguan fisik. Kesehatan kerja diharapkan menjadi instrumen yang mampu menciptakan dan
memelihara derajat kesehatan kerja setinggi-tingginya.
Dalam bekerja diperlukan usaha-usaha untuk meningkatkan kesehatan kerja. Adapun usaha-usaha untuk
meningkatkan kesehatan kerja adalah sebagai berikut :
1. Mengatur suhu, kelembaban, kebersihan udara, penggunaan warna ruangan kerja, penerangan yang
cukup terang dan menyejukkan, dan mencegah kebisingan.
2. Mencegah dan memberikan perawatan terhadap timbulnya penyakit.
3. Memelihara kebersihan dan ketertiban, serta keserasian lingkungan kerja.
Perusahaan konstruksi memperhatikan kesehatan pekerja untuk memberikan kondisi kerja yang lebih
sehat, serta menjadi lebih bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan tersebut, terutama bagi perusahaan
konstruksi yang mempunyai tingkat kecelakaan yang tinggi. Dibawah ini dikemukakan beberapa sebab
yang memungkinkan terjadinya kecelakaan dan gangguan kesehatan pekerjanya yaitu :
a. Keadaan Tempat Lingkungan Kerja
1) Penyusunan dan penyimpanan barang-barang yang berbahaya kurang diperhitungkan keamanannya.
2) Ruang kerja yang terlalu padat dan sesak.
3) Pembuangan kotoran dan limbah yang tidak pada tempatnya.
4) Pengaturan Udara
5) Pergantian udara diruang kerja yang tidak baik (ruang kerja yang kotor, berdebu, dan berbau tidak
enak).
6) Suhu udara yang tidak dikondisikan pengaturannya.
b. Pengaturan Penerangan
1) Pengaturan dan penggunaan sumber cahaya yang tidak tepat.
2) Ruang kerja yang kurang cahaya, remang-remang.
c. Pemakaian Peralatan Kerja
1) Pengaman peralatan kerja yang sudah usang atau rusak.
2) Penggunaan mesin, alat elektronik tanpa pengaman yang baik.
d. Kondisi Fisik dan Mental Pekerja
1) Kerusakan alat indera, stamina pegawai yang usang atau rusak.
2) Emosi pekerja yang tidak stabil, kepribadian pekerja yang rapuh, cara berfikir dan kemampuan
persepsi yang lemah, motivasi kerja rendah, sikap pekerja yang ceroboh, kurang cermat, dan kurang
pengetahuan dalam penggunaan fasilitas kerja terutama fasilitas kerja yang membawa resiko.
Tak hanya itu, kesehatan kerja dalam konteks ini berkaitan dengan masalah pengaturan jam kerja, shift,
kerja wanita, tenaga kerja kaum muda, pengaturan jam lembur, analisis dan pengelolaan lingkungan
hidup, dan lain-lain. Hal-hal tersebut mempunyai korelasi yang erat terhadap peristiwa kecelakaan kerja.
3. Produktivitas Kerja
Produktivitas kerja merupakan suatu konsep yang menunjukkan adanya kaitan output dengan input yang
dibutuhkan seorang tenaga kerja untuk menghasilkan produk. Pengukuran produktivitas dilakukan
dengan melihat jumlah output yang dihasilkan oleh setiap pekerja selama sebulan. Seorang pekerja dapat
dikatakan produktif apabila ia mampu menghasilkan jumlah produk yang lebih banyak dibandingkan
dengan pekerja lain dalam waktu yang sama. Produktivitas kerja merupakan suatu sikap mental yang
selalu mempunyai pandangan bahwa mutu kehidupan hari harus lebih baik dari kemarin dan hari esok
lebih baik dari hari ini (Sulistyarini, 2006 : 36).
Untuk keperluan peningkatan produktivitas dalam proyek konstruksi, tentunya sistem yang mengaturnya
harus direncanakan dan dirancang. Dari berbagai faktor yang mempengaruhi produktivitas sebuah
pekerjaan, faktor manusia khusunya keselamatan dan kesehatan kerja memberikan konstribusi yang
penting. Karena proyek konstruksi selalu membutuhkan pekerja yang bekerja dalam cuaca dan kondisi
apa pun. Untuk mendapatkan tingkat produktivitas yang diinginkan dan meminimalkan resiko yang
mungkin terjadi serta mengutamakan keselamatan dan kesehatan kerja, para pimpinan harus memahami
kemampuan dan keterbatasan yang diakibatkan lokasi proyek.
Penelitian tentang produktivitas telah banyak dilakukan, diantaranya dilakukan di Singapura oleh Low
pada tahun 1992. Low menyimpulkan bahwa produktivitas konstruksi dipengaruhi oleh tujuh faktor,
yaitu buildability, structure of industry, training, mechanisation and automation, foreign labour,
standardization, building control.
Di Indonesia, penelitian serupa dilakukan oleh Kaming pada tahun 1997. Faktor faktor yang
mempengaruhi produktivitas, diantaranya :
1. Metoda dan teknologi, terdiri atas faktor : disain rekayasa, metoda konstruksi, urutan kerja,
pengukuran kerja.
2. Manajemen lapangan, terdiri atas faktor : perencanaan dan penjadwalan, tata letak lapangan,
komunikasi lapangan, manajemen material, manajemen peralatan, manajemen tenaga kerja.
3. Lingkungan kerja, terdiri atas faktor : keselamatan kerja, lingkungan fisik, kualitas pengawasan,
keamanan kerja, latihan kerja, partisipasi.
4. Faktor manusia, terdiri atas faktor : tingkat upah kerja, kepuasan kerja, intensif, pembagian
keuntungan, hubungan kerja mandor pekerja, hubungan kerja antarsejawat, kemangkiran. (Ervianto,
2005 : 220)
Produktivitas dalam proyek konstruksi memiliki salah satu pendekatan manajemen yang digunakan
untuk mempelajari produktivitas kerja adalah work study. Metoda ini secara sistematik dapat digunakan
untuk mengetahui dan memperbaiki atau meningkatkan kinerja penggunaan dalam suatu proyek. Work
study adalah teknik manajemen yang bertujuan meningkatkan produktivitas dengan cara
menyempurnakan penggunaan sumber daya secara tepat.
Work study dapat diaplikasikan dalam berbagai kasus. Pada umumnya, harapan yang ingin dicapai
adalah sebagai berikut :
1. Menentukan metoda konstruksi yang tepat dalam suatu proses produksi,
2. Menyempurnakan penggunaan metoda pelaksanaan dengan cara mengeliminasi kegiatan yang tidak
diperlukan, mengoptimalkan penggunaan kerja, alat dan material, dan
3. Meningkatkan produktivitas dari suatu kegiatan.
VII. KERANGKA BERPIKIR

Gambar 1

Faktor yang berhubungan dengan produktivitas kerja adalah keselamatan dan kesehatan kerja, karena
merupakan faktor intern yang mempunyai pengaruh yang besar terhadap pelaksanaan tugas pekerja.
Keselamatan dan kesehatan kerja yang baik akan membuat karyawan merasa aman dan tenang dalam
bekerja, hal ini akan meningkatkan produktivitas kerja yang maksimal.
VIII. HIPOTESIS
Hipotesis dapat diartikan sebagai jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian. Rumusan
masalah tersebut dapat berupa pernyataan tentang hubungan dua variabel atau lebih, perbandingan
(komparasi) atau variabel mandiri (deskripsi) (Sugiyono, 2005 : 82).
Terdapat tiga macam bentuk hipotesis, yaitu :
1. Hipotesis Deskriptif
Hipotesis deskriptif adalah dugaan tentang nilai suatu variabel mandiri, tidak membuat perbandingan
atau hubungan.
2. Hipotesis Komparatif
Pernyataan yang menunjukkan dugaan nilai dalam suatu variabel atau lebih pada sampel yang berbeda.
3. Hipotesis Asosiasi
Hipotesis asosiatif adalah suatu pernyataan yang menunjukkan dugaan tentang hubungan antara dua
variabel atau lebih. (Sugiyono, 2005 : 83)
Berdasarkan jenis hipotesis diatas, penelitian ini termasuk hipotesis asosiatif, karena meneliti hubungan
antara keselamatan dan kesehatan kerja terhadap produktivitas kerja. Adapun hipotesisnya yang
berdasarkan permasalahan dan tujuan penelitian maka hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut :
Ada pengaruh antara program keselamatan dan kesehatan kerja terhadap produktivitas kerja dalam
sebuah proyek pelaksanaan pembangunan apartemen PT. Sumarecon di kota Bekasi
IX. METODE PENELITIAN
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, karena alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini
adalah berupa kuesioner. Data yang diperoleh berupa jawaban dari pekerja terhadap pertanyaan atau
butir-butir yang diajukan.
2. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kuantitas dan
karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya
(Sugiyono, 2005 : 55). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pekerja proyek pelaksanaan
pembangunan apartemen PT. Sumarecon di kota Bekasi yang jumlah pekerjanya kurang lebih 100 orang.
3. Sampel dan Teknik Sampling
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono,
2005 : 56).
Teknik sampling adalah merupakan teknik pengambilan sampel (Sugiyono, 2005 : 56). Berdasarkan
populasi yang ada maka dalam pengambilan sampel menggunakan teknik Simple Random Sampling.
Karena pengambilan sampel anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang
ada dalam populasi itu. Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen (Sugiyono,
2005 : 58). Untuk dengan subyek lebih dari 300 orang sebaiknya menggunakan penelitian sampel.
Jumlah sampel dapat diambil 10 15 % atau 20 25 % atau lebih, tergantung dari kemampuan peneliti
(Arikunto, 2006:170).
Mengingat populasinya lebih dari 100, maka dalam hal ini peneliti mengambil sampel sebesar 15 % dari
populasi tersebut. Besarnya sampel dalam penelitian ini adalah 45 orang.
4. Variabel
Dalam penelitian ini ada dua variabel yaitu, variabel bebas dan variabel terikat.
1. Variabel Bebas
Variabel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variabel terikat (Sugiyono, 2005 : 3). Dalam hal
ini variabel bebasnya adalah keselamatan kerja dan kesehatan kerja pada para pekerja proyek
pembangunan apartemen di kota Bekasi. Sehingga dalam penelitian ini terdapat dua variabel bebas,
yaitu:
a. Keselamatan kerja yang selanjutnya disebut variabel X1 dan
b. Kesehatan kerja yang selanjutnya disebut variabel X2
2. Variabel Terikat
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas
(Sugiyono, 2005 : 3). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah produktivitas kerja para pekerja
pembangunan proyek apartemen di kota Bekasi. Sehingga dalam hal ini produktivitas kerja disebut juga
sebagai variabel Y.
5. Metode Pengumpulan Data
1. Metode Kuesioner
Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi atau hal
hal yang diketahui oleh koresponden. Dalam hal ini, peneliti menggunakan metode kuesioner tertutup
dengan sistem check list dimana responden tinggal membubuhkan tanda check () pada kolom yang
sesuai.
2. Metode Dokumentasi dan Observasi
Dimana peneliti memperoleh data mengenai hasil kerja proyek dengan pengaruh keselamatan dan
kesehatan kerja terhadap produktivitas kerja.
3. Studi Pustaka
Dalam metodi ini peneliti membaca buku atau literature lainnya, yang berkaitan dengan masalah yang
peneliti bahas.
6. Instrumen Penelitian
Instrumen dalam penelitian ini berupa kuesioner. Dimana data yang diperoleh berupa jawaban dari
pekerja terhadap pertanyaan atau butir-butir yang diajukan. Butir-butir yang baik adalah sebagai berikut:
1. Butir-butir harus relevan atau terkait dengan apa yang diukur.
2. Butir-butir harus ringkas.
3. Butir-butir tidak membingungkan.
4. Butir-butir yang bagus harus memuat satu pemikiran.
Setelah menentukan pertanyaan atau butir-butir langkah selanjutnya adalah pembentukan skala akan
memilih satu format jawaban untuk daftar pertanyaan. Di dalam penelitian ini peneliti menggunakan
format tipe linkert dengan skala dengan lima tingkatan (dari 1 sampai 5) lebih tinggi keandalannya dari
skala dua tingkatan yaitu ya atau tidak (Sulistyarini, 2006 : 46). Selain itu tipe pengukuran likert sangat
popular dengan sejumlah keuntungan antara lain :
1. Mempunyai banyak kemudahan. Menyusun sejumlah pertanyaan mengenai sifat atau sikap tertentu
relatif mudah. Menentukan skor juga mudah karena tiap jawaban diberi nilai berupa angka yangmudah
dijumlahkan.
2. Skala tipe likert mempunyai reliabilitas tinggi dalam mengurutkan manusia berdasarkan intensitas
sikap tertentu.
3. Selain itu skala likert ini sangat luwes atau fleksibel, lebih fleksibel daripada teknik pengukuran
lainnya.
Kategori dari penilaian skala likert :
1. SS : 4
2. S : 3
3. KS : 2
4. TS : 1
Daftar pertanyaan terdiri dari :
1. 5 pertanyaan tentang program keselamatan kerja.
2. 5 pertanyaan tentang program kesehatan kerja.
3. 5 pertanyaan tentang produktivitas kerja.

7. Uji Validitas dan Uji Reabilitas


1. Validitas
Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid.
Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukur (Sugiyono,
2005 : 267).
Dalam penelitian ini uji validitas yang digunakan adalah uji validitas konstruksi. Dimana instrumen
dikonstruksi tentang aspek aspek yang akan diukur dengan berlandaskan teori tertentu, maka
selanjutnya dikonsultasikan dengan ahli (Sugiyono, 2005 : 271).
2. Reabilitas
Reliabilitas menunjuk pada suatu pengertian bahwa sesuatu instrument cukup dapat dipercaya untuk
digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Instrumen yang baik tidak
akan bersifat tendensius mengarahkan responden untuk memilih jawaban-jawaban tertentu. Instrumen
yang sudah dapat dipercaya, yang realibel akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga. Apabila
datanya memang benar sesuai dengan kenyataannya, maka berapa kalipun diambil tetap akan sama.
Reliabilitas menunjuk pada tingkat keterandalan sesuatu. Reliabel artinya, dapat dipercaya, jadi dapat
diandalkan (Suliatyarini, 2006 : 52).
Adapun cara pengujian instrumen ini dengan cara test retest. Dimana pengujian instrumen ini
dilakukakn dengan cara mencobakan instrumen beberapa kalipada responden. Jadi dalam hal ini
instrumennya sama, respondennya sama, dan waktunya yang berbeda. Reliabilitas diukur dari koefisien
korelasi antara percobaan pertama dengan berikutnya. Bila koefisien korelasi positif dan signifikan maka
instrumen tersebut sudah dinyatakan reliabel (Sugiyono, 2005 :273).
8. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi ganda. Persamaan regresi
ganda mengandung makna bahwa dalam suatu persamaan regresi terdapat satu variabel dependent dan
lebih dari satu variabel independent (Sugiyono, 2005 : 250). Secara umum model regresi berganda
dirumuskan sebagai berikut:
Y = a + b1X1 + b2X2
Keterangan :
Y : Produktivitas Kerja Pekerja
a : konstanta
X1 : Keselamatan Kerja
X2 : Kesehatan Kerja
b1 : Koefisien regresi Faktor Keselamatan Kerja
b2 : Koefisien regresi Faktor Kesehatan Kerja
Untuk mendapat kepastian dari persamaan regresi tersebut, tiap-tiap variabel diadakan tes hipotesis
dengan menggunakan variabel independent (Keselamatan kerja dan Kesehatan kerja) berpengaruh
terhadap variabel dependent (Produktivitas kerja), oleh karenanya diadakan Uji Signifikan Statistik.

DAFTAR PUSTAKA

Ervianto, Wulfram I. 2005. Manajemen Proyek Konstruksi (Edisi Revisi). Yogyakarta : C.V Andi Offset.

Sulistyarini, Wahyu Ratna. 2006. Pengaruh Program Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Terhadap
Produktivitas Kerja Karyawan Pada CV. Sahabat Di Klaten. Surakarta : Jurusan Ekonomi Islam, STAIN
Surakarta.

Sugiyono. 2005. Statistika Untuk Penelitian. Bandung : CV. Alfabeta

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta.