Anda di halaman 1dari 3

Strongylus equinus

Signalement sampel
Jenis hewan : Kuda
Lokasi pengambilan : Peternakan Kuda Mega Star, Batu, Malang
Sampel yang diambil : Feses
Konsistensi feses : konsistensi sedikit lembek
Kondisi hewan : Sehat tidak ada kelainan
Cara penyimpanan :Sampel diletakkan dalam pot yang telah diberi
formalin 10%

Gambar Hasil

Taksonomi
Phylum : Nemathelmintes
Class : Nematoda
Ordo : Strongylida
Family : Strongyloidae
Genus : Strongylus
Spesies : Strongylus equinus

Morfologi
Cacing Strongylus equinus kaku dan berwarna abu-abu gelap kadang tampak
garis merah karena terdapat darah di ususnya. Cacing jantang memiliki panjang 26-35
mm dan cacing betina memiliki panjang 38-47 mm dengan diameter 2 mm. pada
perubahan bentuk kepala tidak tampak jelas dengan tubuhnya sewaktu cacing
istirahat.
Pada bagian buccal capsul berbentuk bulat lonjong dengan terdapat eksternal
dan internal leaf crowns, pada dasar atau basic bucal capsul terdapat gigi dorsal yang
besar bercabang di bagian ujungnya dan 2 gigi kecil sub ventral, bagian dorsal
esophagus terdapat banyak kelenjar-kelenjar (esophagus glands).
Cacing jantan memiliki 2 spikula yang sederhana berbentuk silinder, valve
terletak 12-14 mm dari posterior tubuh. Untuk telur dari cacing Strongylus equinus
memiliki dinding tipis dan sudah bersegmen sewaktu dikeluarkan. Ukuran telur 70-85
x 40-47 mikron.

Siklus Hidup
Telurtelur keluar bersama tinja dan telah mengalami awal segmentasi.
Dinding telur tipis, terdiri dari lapisan dinding sebelah luar yang terdiri dari bahan
chitin dan membrana vitellinus di dalamnya. Pada suhu 26o C terbentuk larva stadium
I dalam waktu 20-24 jam yang menetas dari telur dan menjadi larva stadium bebas.
Setelah menetas, larva berada pada stadium I, yaitu bentuk rhabditiform. Makanan
larva adalah bakteri, kemudian terus bertumbuh dan menjadi larva stadium II. Bentuk
rhabditiform esofagus berkurang, kemudian tumbuh menjadi larva yang kutikulanya
masih tetap berasal dari stadium sebelumnya dan bersifat infeksius. Larva stadium
infeksius tidak makan bakteri dari alam sekitarnya, tetapi memperoleh makanannya
dari granula makanan yang tersimpan didalam sel-sel intestinum. Larva infeksius
tidak aktif masuk kedalam tubuh hospes, tetapi tertelan bersama makanan.
Larva stadium infeksius bersifat :
1. geotrofik negatif : selalu merayap keatas ke daun-daun rumput dan lain-
lain.
2. Phototropic pada sinar lemah, tapi takut pada sinar kuat, sehingga larva
merayap naik pada pagi hari dan sore hari atau pada cuaca mendung.
3. Migrasi terjadi lebih aktif pada keadaan panas dibanding dingin.
Kemampuan hidup larva pada pasture tergantung pada kondisi lingkungan
yaitu, kelembaban, suhu dan sinar matahari. Karena persedian makanan terbatas,
kondisi yang mendukung pergerakan maka larva lebih cepat mati. Pada musim panas,
larva tidak dapat hidup lebih dari 3 bulan, tetapi pada musim dingin dapat hidup
setahun atau lebih.
Infeksi terjadi karena memakan larva infeksius dan perkembangan larva
stadium infektif selanjutnya yaitu pelepasan dan pergantian kulit yang terjadi didalam
usus halus hospes.
Pada Strongylus equinus, larva yang telah berganti kulit, menembus masuk
mukosa sekum dan kolon dan masuk ke sub serosa untuk membentuk nodule. Sebelas
hari setelah infeksi, terbentuk larva didalam nodule. Larva stadium 4 migrasi ke
rongga peritonium, terus ke hati yang berlangsung selama 6-8 minggu. Antara 2-4
bulan setelah infeksi, larva meninggalkan hati melalui ligamentum hepatika dan pergi
ke rongga peritonium melalui pankreas. Setelah 118 hari dari saat infeksi, terbentuk
larva stadium 5 dan menuju ke sekum dan kolon. Periode prepaten adalah 260 hari.

Patogenesa
Pada caciing dewasa menempel pada membran mukosa dari kolon
menggunakan buccal capsul, cacing menghisap darah sehingga menyebabkan
pecahnya pembuluh darah. Bagian mukosa yang dilekati mulut cacing mengalami
peningkatan aktifitas sel goblet dan infiltrasi limfosit dan eosinophil (Bendryman dkk,
2011).
Patologi
Pada penampakan secara makros terdapat noddul-nodul serta petichae pada
daerah kolon selain itu juga dapat ditemukan adanya perdarahan pada daerah sekitar
kolon dan sekum, terkadang juga ditemukan cacing dalam stadium larva yang
ditemukan di daerah usus dan bahkan daerah pancreas.
Pada gambaran mikroskopis ditemukan adanya rupture pada daerah sel epitel
di daerah mukosa usus, dimana adanya aktivitas dari sel goblet dan infiltrasi dari sel-
sel limfosit dan eosinophil di daerah usus.

Gejala Klinis
Gejala klinis yang tampak yaitu adanya diare dengan feses bercampur lender
dan darah, kondisi tubuh yang jelek, lemah, penurunan berat badan, anemi dan
melanjut pada kematian (Bendryman dkk, 2011).

Pengobatan dan Pencegahan


Pencegahan dari penyakit cacing Strongylus equinus adalah dengan menjaga
agar kandang hewan selalu dalam kondisi kering untuk menghindari kemungkinan
dari perkembangan larva, pemberian pakan yang baik juga mempengaruhi
terinfeksinya cacing, melakukan penggembalaan pada kuda dengan interval 30-90
hari serta pemberian obat cacing yang teratur dengan pengaturan manajemen
pemeliharaan yang baik.
Pengobatan dapat dilakukan apabila hewan terinfeksi cacing Strongylus
equinus dengan menggunakan Methyridine 200 mg/kgBB efektif terhadap larva dan
cacing dewasa, Thiabendazole 50 mg/kgBB (Bendryman dkk, 2011)

DAFTAR PUSTAKA

Bendryman, Sri Subekti. S. Koesdarto, S.M Sosiawati, Kusnoto. 2011. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Helmint. Airlangga University Press. Surabaya.