Anda di halaman 1dari 96

ISSN 2252-4401

INFO BPK MANADO


Vol. 1 No. 1, November Tahun 2011

BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN


BALAI PENELITIAN KEHUTANAN MANADO
MANADO SULAWESI UTARA

INFO BPK Manado, ISSN ISSN


VOL. 1 No. 1 Hal 1-87
MANADO November 2011 2252-4401

i
UCAPAN TERIMA KASIH

Dewan Redaksi INFO BPK MANADO mengucapkan terima kasih dan


penghargaan setinggi-tingginya kepada mitra bestari (peer reviewers) yang
telah menelaah analisa/naskah yang dimuat pada edisi Vol. 1 No. 1 tahun
2012:

1. Dr. Ir. Martina Langi, M.Sc.


(Program Studi Kehutanan UNSRAT, Manado)
2. Dr. Ir. John S. Tasirin, M.Sc.
(Program Studi Kehutanan UNSRAT, Manado)
3. Ir. Hengky Walangitan, MP.
(Program Studi Kehutanan UNSRAT, Manado)

ii
ISSN 2252-4401

INFO BPK MANADO


Vol. 1 No. 1, November 2011

DAFTAR ISI
Avifauna Penghuni Hutan Kobe Kawasan Taman Nasional Aketajawe
Lolobata Provinsi Maluku Utara
Diah Irawati Dwi Arini ............................................................................ 1-20

Potensi Permudaan Alami Jenis-jenis Eboni (Diospyros spp.)


di Cagar Alam Tangkoko, Bitung, Sulawesi Utara
Ady Suryawan, Julianus Kinho dan Anita Mayasari................................ 21-34

Karakteristik Morfologi Zingiberaceae di Cagar Alam


Gunung Ambang Sulawesi Utara
Julianus Kinho ......................................................................................... 35-50

Keterkaitan Struktur dan Komposisi Vegetasi terhadap


Keberadaan Anoa di Kompleks Gunung Poniki Taman Nasional
Bogani Nani Wartabone Sulawesi Utara
Arif Irawan .............................................................................................. 51-70

Karakteristik Pemanfaatan Lahan Hutan oleh Masyarakat


Sekitar Kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone
Lis Nurrani .............................................................................................. 71-87

iii
INFO BPK MANADO
ISSN 2252-4401 Vol. 1 No. 1, November 2011

ABSTRAK
Diah Irawati Dwi Arini (Balai Penelitin Kehutanan Manado)
Avifauna Penghuni Hutan Kobe Kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata Provinsi
Maluku Utara
INFO BPK MANADO. November. 2011, Vol.1 No. 1, hlm. 1 20

Melalui pengamatan langsung dengan menggunakan metode jalur dan


pemasangan jaring kabut (Mistnet), diperoleh hasil sebanyak 39 jenis burung,
dimana 14 jenis diantaranya merupakan jenis endemik, 23 diantaranya adalah
burung penetap dan dua lainnya merupakan jenis burung pengunjung. Habitat
alami sebagai tempat hidup jenis-jenis burung di kawasan ini umumnya berada
pada hutan sekunder serta pinggiran hutan dan hanya sebagian kecil saja yang
dijumpai pada hutan-hutan primer.

Kata kunci : Avifauna, habitat, hutan kobe, taman nasional, Maluku Utara

Ady Suryawan, Julianus Kinho & Anita Mayasari (Balai Penelitian Kehutanan Manado)
Potensi Permudaan Alami Jenis-jenis Eboni (Diospyros spp.) di Cagar Alam Tangkoko, Bitung,
Sulawesi Utara
INFO BPK MANADO. November. 2011, Vol.1 No. 1, hlm. 21 34

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi permudaan alami jenis-jenis


eboni yang ada di CA Tangkoko. Hasil penelitian diketahui ada 90 jenis anakan yang
didominasi oleh jenis Drypethes neglecta dan Koordersiodendron pinnatum. Potensi
permudaan alam D. minahassae 197 pohon/ha, D. pilosanthera 178 pohon/ha, D.
cauliflora 104 pohon/ha, D. marritima 32pohon/ha, D. hebecarpa 16 pohon/ha, D.
malabarica 10 pohon/ha, dan D. ebenum 5 pohon/ha. Jumlah permudaan ini relatif
rendah. Beberapa faktor yang mempengaruhinya antara lain sifat biji rekalsitran,
persaingan /kompetisi yang kuat oleh jenis-jenis yang lain dan sebaran daerah yang
cukup spesifik, sehingga keberhasilan permudaan eboni menjadi rendah.

Kata kunci : Eboni, Diospyros, CA Tangkoko, permudaan alami

iv
Julianus Kinho (Balai Penelitian Kehutanan Manado)
Karakteristik Morfologi Zingiberaceae di Cagar Alam Gunung Ambang Sulawesi Utara
INFO BPK MANADO. November. 2011, Vol.1 No. 1, hlm. 35 50

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik morfologi jahe-jahean


di sekitar Danau Alia di Kabupaten Bolaang Mongondow sampai Danau Iloloi di
Kabupaten Minahasa Selatan pada kawasan Cagar Alam Gunung Ambang di
Sulawesi Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 6 (enam) jenis jahe-
jahean yang merupakan tumbuhan herba terrestrial dari famili Zingiberaceae.
Jenis-jenis tersebut adalah Alpinia rubricaulis K. Schum., Etlingera heliconiifolia (K.
Schum.) A.D. Poulsen., Etlingera sp., Alpinia eremochlamys K. Schum., Etlingera
sp., dan Alpinia monopleura K. Schum.
Kata kunci : Jahe, jenis, morfologi, melindungi, identifikasi, menjelajah
Arif Irawan (Balai Penelitian Kehutanan Manado)
Keterkaitan Struktur dan Komposisi Vegetasi terhadap Keberadaan Anoa di Kompleks
Gunung Poniki Taman Nasional Bogani Nani Wartabone Sulawesi Utara
INFO BPK MANADO. November. 2011, Vol.1 No. 1, hlm. 51 70

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur dan komposisi vegetasi di


Kompleks Gunung Poniki, Taman Nasional Bogani Nani Wartabone serta kaitannya
dengan keberadaan anoa pada kawasan ini. Dari hasil uji korelasi dapat diketahui
bahwa ketiga variabel struktur dan komposisi vegetasi memiliki nilai signifikansi
lebih besar dari 0,05, sehingga dapat dikatakan bahwa variabel kerapatan,
dominasi, dan keragaman pohon tidak mempengaruhi keberadaan anoa di
kawasan ini.

Kata kunci :Vegetasi, struktur, komposisi, anoa


Lis Nurrani (Balai Penelitian Kehutanan Manado)
Karakteristik Pemanfaatan Lahan Hutan oleh Masyarakat Sekitar Taman Nasional Bogani
Nani Wartabone
INFO BPK MANADO. November. 2011, Vol.1 No. 1, hlm. 71 87

Pola pemanfaatan lahan yang diterapkan oleh masyarakat sekitar Taman


Nasional Bogani Nani Wartabone berupa kebun polikultur (85%) dan ladang
monokultur maupun polikultur. Kebun didominasi oleh tanaman tahunan seperti
kelapa, coklat, cengkeh, kopi dan vanili, sedangkan ladang didominasi oleh
tanaman musiman jagung dan kedelai. Hasil analisis tabulasi silang yang dilanjutkan
dengan uji chi square test menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang
signifikan antara variabel asal-usul penduduk dengan status kepemilikan lahan
demikian juga untuk variabel luas lahan dengan pendapatan petani. Hasil penelitian
juga menunjukkan bahwa pendapatan masyarakat masih dibawah UMP Sulawesi
Utara sebanyak 72%. Kebun polikultur memberikan fungsi produksi dan fungsi
relatif seimbang sedangkan ladang hanya memiliki fungsi produksi.

Kata kunci : Pemanfaatan lahan, masyarakat, Taman Nasional

v
vi
Avifauna Penghuni Hutan Kobe
Diah Irawati Dwi Arini

AVIFAUNA PENGHUNI HUTAN KOBE


KAWASAN TAMAN NASIONAL AKETAJAWE LOLOBATA
PROVINSI MALUKU UTARA
Avifauna of Kobe Forest in Aketajawe Lolobata National Park
North Maluku Province

Diah Irawati Dwi Arini


Balai Penelitian Kehutanan Manado
Jl. Raya Adipura Kel. Kima Atas Kec. Mapanget Kota Manado
Telp : (0431) 3666683 Email : bpk_mdo@yahoo.com

ABSTRACT

Halmahera is the second largest island in the Maluku Province keeps potential
wildlife diversity that has characterized the characters closer to the fauna Australia.
The presence of Aketajawe Lolobata National Park is a concept of the conservation
of species of forest ecosystems which is devoted to the conservation of species of
birds beak is hooked in the province of North Maluku. Lack of data and information
on the potential of biodiversity in the region make this research is important in
order to obtain the validation data related to diversity of fauna, especially species
of avifauna. Through direct observation method using line and installation of fog
nets (Mistnet), retrieved results by as much 39 species of birds, of which 14 are
endemic species, among species, of which 23 are bird and two other settlers is a
type of bird visitors. Natural Habitat as a place of living species of birds in the area
is generally located in the secondary forest and forest edges and only a small
percentage are found in old-growth forests

Keywords : Avifauna, habitat, kobe forest, national park, North Maluku

ABSTRAK

Halmahera merupakan pulau terbesar kedua di Kepulauan Maluku menyimpan


potensi keanekaragaman satwa yang memiliki ciri lebih dekat dengan karakter
fauna di kawasan Australia. Kehadiran Taman Nasional Aketajawe Lolobata
merupakan sebuah konsep pelestarian ekosistem hutan yang dikhususkan pada
konservasi terhadap jenis-jenis burung paruh bengkok di Provinsi Maluku Utara.
Minimnya data dan informasi mengenai potensi hayati di wilayah ini membuat
penelitian ini penting guna memperoleh validasi data terkait keanekaragaman
fauna terutama jenis-jenis avifauna. Melalui pengamatan langsung dengan
menggunakan metode jalur dan pemasangan jaring kabut (Mistnet), diperoleh hasil

1
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

sebanyak 39 jenis burung, dimana 14 jenis diantaranya merupakan jenis endemik,


23 diantaranya adalah burung penetap dan dua lainnya merupakan jenis burung
pengunjung. Habitat alami sebagai tempat hidup jenis-jenis burung di kawasan ini
umumnya berada pada hutan sekunder serta pinggiran hutan dan hanya sebagian
kecil saja yang dijumpai pada hutan-hutan primer.

Kata kunci : Avifauna, Habitat, Hutan Kobe, Taman Nasional, Maluku Utara

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kawasan Wallacea yang terdiri dari ribuan pulau termasuk wilayah
Maluku Utara memiliki keanekaragaman hayati yang mengagumkan.
Keragaman ini dicirikan oleh tingkat endemisitas spesies yang begitu tinggi
terutama pada jenis burung (avifauna). Avifauna kawasan Wallacea sangat
kaya, paling sedikit ada 249 jenis yang terdapat di kawasan ini, yang
merupakan 36 % dari 698 jenis yang tercatat di kawasan ini, selain itu
terdapat 27 jenis endemik Indonesia (Coates et al, 2000).
Sebagai bagian dari wilayah paling timur garis Wallace, Kepulauan
Maluku khususnya Maluku Utara menjadi tempat hidup berbagai satwa
campuran Oriental dan Australia serta menjadi arena evolusi berbagai jenis
burung endemik. Kekayaan jenis fauna endemik Maluku Utara dan pulau-
pulau lainnya di Indonesiai merupakan sebuah kebanggaan tersendiri,
namun di sisi lain menjadi sebuah amanah besar untuk dikelola dengan baik
agar dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang.
Sebagai bagian dari upaya melestarikan kekayaan burung-burung
endemik khususnya burung paruh bengkok (Psittacidae) dan habitatnya di
Maluku Utara, Pemerintah telah menetapkan hutan Aketajawe-Lolobata
sebagai kawasan Taman Nasional berdasarkan Keputusan Menteri
Kehutanan Nomor : 397/Kpts-II/2004 tanggal 18 Oktober 2004. Taman
Nasional Aketajawe-Lolobata (TNAL) merupakan kawasan konservasi di
Indonesia yang mewakili keanekaragaman hayati Bioregion Wallacea bagian
timur. Kawasan ini menyimpan variasi kekayaan fauna yang sangat beragam
dan potensial, namun hingga kini belum banyak informasi dan publikasi
terkait potensi hayati utamanya penyebaran jenis-jenis burung endemik di

2
Avifauna Penghuni Hutan Kobe
Diah Irawati Dwi Arini

kawasan ini. Oleh karena itu dipandang perlu untuk melakukan kajian
terkait keanekaragaman fauna khususnya jenis-jenis avifauna endemik di
kawasan TN. Aketajawe-Lolobata. Penunjukan kawasan Aketajawe-Lolobata
menjadi Taman Nasional, selain sebagai tempat pelestarian bagi flora dan
fauna juga secara langsung ditujukan untuk menjaga kesejahteraan
masyarakat sekitar melalui perlindungan kawasan sebagai water catchment
area, setidaknya puluhan sungai dan anak sungai berhulu di kawasan ini
menjadi pasokan air bersih bagi masyarakat sekitar kawasan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data dan
informasi keragaman jenis fauna khususnya jenis-jenis burung endemik di
Kawasan Hutan Blok Aketajawe pada Taman Nasional Aketajawe Lolobata
yang diharapkan dapat menambah khasanah dan informasi guna
melengkapi database bioekologi di kawasan ini serta dapat digunakan
sebagai bahan pertimbangan dalam pengelolaan kawasan konservasi
berbasis kesejahteraan masyarakat dan kelestarian hutan bagi kehidupan
jenis-jenis burung Maluku.

II. METODOLOGI PENELITIAN

A. Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian dilakukan di Kawasan Hutan Blok Aketajawe yang
merupakan wilayah Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah (SPTNW) I
Weda. Secara administrasi lokasi ini masuk dalam wilayah pemerintahan
Desa Kobe Kecamatan Weda Kabupaten Halmahera Tengah Provinsi
Maluku Utara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2009, di
sekitar Desa Kobe dan Sungai Kaligoro pada ketinggian tempat 150-380 m
dpl.

3
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

: TN. Aketajawe - Lolobata

Gambar 1. Peta lokasi penelitian

B. Bahan dan Alat


Bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain
teropong/binoculer, jaring kabut (mistnet), jaring perangkap nylon, Global
Positioning System (GPS), kamera digital dilengkapi dengan lensa tele
dengan ukuran 55 200 mm, handycam, alat ukur diameter/kaliper, mistar,
tali tambang, meteran, tali rafia, bambu, lembar isian data, alat tulis
menulis, larutan alkohol 70 % dan 95 % untuk pengawetan spesimen,
toples, minor surgery set. Buku Panduan Lapang Burung Wallacea (Coates
et al, 2000).

C. Prosedur Penelitian
Jenis data yang dikumpulkan terdiri atas data primer dan sekunder.
Data primer berupa jenis burung, aktivitas dan waktu perjumpaan diperoleh
melalui pengamatan langsung di lapangan. Metode yang digunakan adalah
metode jalur dibantu dengan pemasangan jaring kabut (mistnet) (Boer,
1993). Data sekunder berupa kondisi umum kawasan serta data-data hasil-

4
Avifauna Penghuni Hutan Kobe
Diah Irawati Dwi Arini

hasil penelitian dan kajian diperoleh dari Balai TN. Aketajawe-Lolobata


maupun penelusuran literatur lainnya.
Penempatan jalur pengamatan dilakukan secara purposive random
sampling yaitu pada lokasi-lokasi yang menjadi habitat utama burung.
Pengumpulan data dilakukan dengan dua cara yaitu pengamatan secara
langsung atau visual dan pemasangan jaring kabut yang berfungsi untuk
menangkap burung guna pengukuran morfometri tubuh satwa. Jenis-jenis
burung yang terjaring selanjutnya dilakukan pengukuran sampel tubuh
mencakup panjang paruh, lebar paruh, tebal paruh, panjang kepala, lebar
kepala, lebar badan, panjang sayap, lebar sayap, panjang tungkai, panjang
total, panjang ekor, lebar ekor, panjang sayap, lebar sayap. Setelah
dilakukan pengukuran kemudian burung tersebut dilepaskan kembali.
Pemasangan jaring kabut dilakukan sepanjang 50 meter untuk lima buah
mistnet yang dipasang sejajar dengan menggunakan tiang bambu atau
diikat pada pohon. Pengamatan dengan metode jalur dilakukan pada pagi
hingga sore hari yang dimulai pukul 07.00 - 17.00 WITA, dan merekam
setiap jenis satwa yang dijumpai. mencakup jenis burung, jumlah individu
burung, serta aktivitas burung.

D. Analisis Data
Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif
kualitatif dan data yang telah dikumpulkan kemudian disajikan dalam
bentuk tabel serta grafik.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Kondisi Umum Lokasi Penelitian


Aketajawe Lolobata adalah Taman Nasional pertama yang berada di
wilayah administrasi Provinsi Maluku Utara, merupakan wilayah daratan
yang terdiri dari ekosistem dengan tipe hutan hujan dataran rendah, hutan
hujan perbukitan, hutan hujan sub montana dan hutan rawa air tawar.
Ditetapkan sebagai Taman Nasional berdasarkan Keputusan Menteri

5
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

Kehutanan Nomor : 397/Kpts-II/2004 tanggal 18 Oktober 2004 tentang


Perubahan Fungsi Sebagian Kawasan Hutan Lindung, Hutan Produksi
Terbatas, dan Hutan Produksi Tetap seluas 167.300. Taman Nasional
Aketajawe-Lolobata (TNAL) merupakan kawasan konservasi yang
mengkombinasikan dua kawasan inti yang terpisah yaitu kawasan hutan
Aketajawe (77.100 Ha) sebagai bagian dari administrasi pemerintahan Kota
Tidore Kepulauan, Kabupaten Halmahera Tengah dan Halmahera Timur.
Sedangkan kawasan hutan Lolobata (90.200 Ha) seutuhnya menjadi bagian
administrasi Kab. Halmahera Timur. Perlindungan yang diharapkan dari
kombinasi dua kawasan ini adalah perlindungan terhadap perwakilan
keanekaragaman ekosistem dan rangkaian habitat yang lengkap mulai dari
dataran rendah sampai pegunungan, perlindungan daerah resapan air yang
penting bagi kawasan sekitarnya atau di bawahnya untuk kebutuhan air
masyarakat, pertanian, industri dan lainnya (Dephut, 2009).
Topografi TNAL berdasarkan klasifikasi USDA Soil Taxonomy (1998)
memiliki kemiringan lereng di wilayah ini terdiri dari datar (0-3 %),
bergelombang (8-15 %), hingga bergunung (15-30 %). Topografi merupakan
salah satu faktor penentu terhadap variasi vegetasi, hal ini dapat dibuktikan
dari variasi hutan yang membentuk Halmahera khususnya Kawasan
Aketajawe mulai dari hutan mangrove, hutan dataran rendah dan
pegunungan (Dephut, 2007).
Tanah utama pembentuk Pulau Halmahera adalah jenis-jenis tanah
vulkanis yang terbentuk dari endapan lava beberapa gunung berapi. Tanah
vulkanis (inceptisol) adalah tanah yang terbentuk akibat sedimentasi
vulkanik dan berasal dari endapan batu berlapis-lapis, bahan organik
jumlahnya berubah tidak teratur dengan kedalaman. Vulkanis yang sangat
subur merupakan pusat utama industri rempah-rempah di Wilayah Maluku,
hal ini jugalah yang membuat vegetasi pembentuk hutan Halmahera
tumbuh dengan cepat dengan tegakan-tegakan besar. Tanah disini
mengandung banyak batu kapur koral dan batuan ultrabasa yang sekarang
membentuk bukit-bukit karst dan gunung-gunung batuan beku yang tinggi
(Coates et al., 2000).

6
Avifauna Penghuni Hutan Kobe
Diah Irawati Dwi Arini

Dalam hal iklim, Wilayah Maluku Utara dipengaruhi oleh iklim laut
tropis dan iklim musim, oleh karena itu iklimnya sangat dipengaruhi lautan
dan bervariasi antara wilayah, yaitu daerah iklim Halmahera Utara, iklim
Halmahera Tengah/Barat, iklim Bacan dan daerah iklim Kepulauan Sula.
Kawasan Aketajawe dan Lolobata berada pada wilayah iklim Halmahera
Tengah dan Barat dengan musim hujan pada bulan Oktober-Maret dengan
musim pancaroba pada bulan April, dan musim kemarau pada bulan April-
September yang diselingi angin Timur dan perubahan cuaca pada bulan
September. Curah hujan rata-rata antara 2.000 2.500 mm per tahun
(Dephut, 2009).
B. Keragaman Jenis Burung Hutan Kobe Kawasan TNAL
Hasil penelitian para ahli ornithologi terhadap kelompok avifauna
menyimpulkan bahwa sebanyak 213 jenis burung yang tercatat di
Halmahera, 126 jenis diantaranya merupakan burung penetap. Burung
penetap dianggap penting bagi konservasi dan saat ini diperkirakan
terancam punah secara global (Poulsen et al, 1999).
Pulau Halmahera adalah pulau terbesar kedua di Maluku setelah
Seram dan merupakan miniatur yang secara fisik paling mirip dengan
Sulawesi. Kemiripan tidak saja dalam hal sejarah terbentuknya kedua pulau
yang notabene sebuah busur pulau, tetapi fisiografi dan bentuknya juga
sangat mirip. Walaupun kekayaan jenisnya tidak setinggi di sub kawasan
Sulawesi, namun Kepulauan Maluku mendukung enam marga endemik dan
64 jenis endemik (Coates & Bishop, 2000).
Hasil eksplorasi jenis avifauna dan mamalia pada hutan kawasan TN.
Aketajawe-Lolobata menemukan sebanyak 39 jenis burung yang dijumpai
melalui perjumpaan secara langsung. Dari semua jenis tersebut
dikelompokkan ke dalam 22 famili, sebanyak 17 jenis merupakan burung
endemik, 20 jenis burung penetap dan dua jenis burung pengunjung.
Perjumpaan didominasi oleh kelompok julang irian (Rhyticeros plicatus) dan
dua jenis burung paruh bengkok yaitu nuri pipi merah (Geoffroyus
geoffroyi) serta nuri bayan (Eclectus roratus) dengan frekuensi perjumpaan
rata-rata 5-10 menit per hari.

7
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

Columbidae merupakan marga dengan jenis yang paling banyak


ditemukan, sebanyak tujuh spesies dijumpai dan tiga diantaranya adalah
endemik Maluku Utara yaitu walik dada merah (Ptilinopus bernsteinii), walik
kepala kelabu (Ptilinopus hyogaster) dan pergam boke (Ducula basilica).
Sedangkan empat jenis lainnya bersifat umum antara lain pergam mata
putih (Ducula perspicillata), uncal ambon (Macropygia amboinensis
amboinensis), pergam laut (Ducula bicolor) dan tekukur biasa (Streptopelia
chinensis).
Dari keluarga Pssitacidae sebanyak enam jenis terdiri atas nuri Kalung
ungu (Eos squamata), nuri pipi merah (Geoffroyus geoffroyi), nuri bayan
(Ecletus roratus) dan kakatua putih (Cacatua alba) yang sesekali terlihat
melintas di lokasi pengamatan. Perjumpaan dengan Cacatua alba pada
lokasi penelitian di hutan Kobe, agak berbeda karena hanya terlihat
beberapa kali saja, berbeda dengan dua tempat penelitian sebelumnya
yaitu Kawasan Tayawi dan hutan di sekitar sungai Yomoyomoto dimana
intensitas pertemuan dengan jenis endemik ini sangat tinggi. Lokasi
penelitian yang masih dekat dengan wilayah pantai menjadi alasan
mengapa jenis burung Cacatua alba jarang ditemukan pada kawasan ini.
Marga Pssitacidae merupakan penciri khusus dari avifauna kawasan timur
Indonesia, marga ini juga dikenal sebagai keluarga burung paruh bengkok
dan merupakan ekosistem asli Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Jenis
endemik lain dari marga Pssitacidae yaitu kasturi ternate (Lorius garulus),
ciri khusus sebagai indikator untuk mengenali jenis ini adalah bulu dominan
merah dan sayap berwarna hijau.
Dari famili Campephagidae juga ditemukan sebanyak tiga jenis,
dimana satu jenis adalah endemik yaitu kapasan halmahera (Lalage aurea)
dan dua lainnya terdiri atas Kepudang Sungu Kartula (Coracina papuensis)
dan kepudang sungu miniak (Coracina tenuirostris). Perbandingan jumlah
jenis berdasarkan familinya dapat dilihat dalam Gambar 2.

8
Avifauna Penghuni Hutan Kobe
Diah Irawati Dwi Arini

Gambar 2. Grafik perbandingan jumlah jenis burung berdasarkan famili yang


dijumpai di TNAL.

Jenis-jenis burung endemik lainnya yang dijumpai pada lokasi


pengamatan antara lain cikuakua halmahera (Melitograis gilolensis), brinji
emas (Ixos affinis), bubut goliath (Centropus goliath), elang alap halmahera
(Accipiter henicogrammus), cendrawasih halmahera (Lycocorax
pyrrhopterus), bubut kai (Centropus spilopterus), cikuakua hitam (Philemon
fuscicapillus), cikuakua halmahera (Melitograis gilolensis), kepudang
halmahera (Oriolus phaeochromus) dan paok halmahera (Pitta maxima).
Jenis-jenis burung yang dijumpai dalam pengamatan disajikan dalam
Gambar 3.
Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat sekitar, beberapa
jenis burung maupun satwa terestrial tertentu diburu untuk keperluan
konsumsi atau diperjual belikan, terutama yang mudah ditangkap dengan
jerat. Jenis burung berukuran besar seperti pergam (Ducula sp) dan julang
irian (Aceros plicatus) jarang diburu karena sebagian besar masyarakat tidak
memiliki senapan angin sedangkan perburuan burung-burung kecil biasanya
hanya menggunakan lem perekat atau jaring perangkap. Masalah yang kini
menjadi kekhawatiran adalah meningkatnya penggunaan pestisida
komersial untuk meracuni ikan pada sungai-sungai yang notabene sebagai

9
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

tempat dimana satwa mencari air. Fakta yang cukup mengejutkan lagi
adalah jenis burung paruh bengkok terutama kasturi ternate (Lorius
garulus), kakatua putih (Cacatua alba), nuri bayan (Eclectus roratus) dan
nuri kalung ungu (Eos squamata) banyak ditangkap oleh Suku Togutil untuk
dijual kepada para penambang emas. Kondisi ini diperparah dengan
perilaku ma
Masyarakat di desa-desa sekitar yang juga sering kali menangkap
jenis tersebut untuk binatang peliharaan ataupun untuk diperdagangkan
secara ilegal baik domestik maupun internasional. Burung dijual dengan
harga antara Rp. 10.000 - 45.000 per ekor atau terkadang hanya ditukar
dengan jam tangan, rhum, dan komoditi lainnya kepada nelayan Filipina.
Kemungkinan tingkat penangkapan burung paruh bengkok telah melebihi
kuota dan sistem perijinan legal.
Salah satu keunikan yang dijumpai pada saat penelitian adalah
penemuan burung yang diperkirakan bubut kai (Centropus spilopterus) jenis
ini dinyatakan endemik Pulau Kai, namun ditemukan pada kawasan
pinggiran hutan di luar batas kawasan taman nasional. Bubut Kai memiliki
karakteristik morfologi hampir sama dengan bubut goliath (Centropus
goliath) mulai dari warna bulu dan ukuran tubuhnya. Yang membedakan
adalah garis putih pada kedua sayap bagian samping sedangkan bubut kai
yang dijumpai berbulu hitam pada seluruh bagian tubuhnya. Kegiatan
eksplorasi fauna pada tahun 2008 juga menemukan jenis ini yaitu pada
lokasi penelitian di Desa Tomares (S. Yomoyomoto) dan sekitarnya. Namun
tentunya perlu dilakukan kajian lebih mendalam lagi untuk memastikan
apakah jenis tersebut memang dapat dijumpai di luar Pulau Kai.

10
Avifauna Penghuni Hutan Kobe
Diah Irawati Dwi Arini

Rhyticeros plicatus Geoffroyus geoffroyi Eclectus roratus

Cacatua alba Ptilinopus bernsteinii Lorius garulus

Centropus goliath Ixos affinis Lalage aurea

Eos squamata Heliastur indus Dicrurus bracteatus

Gambar 3. Jenis burung yang dijumpai di Kawasan TNAL

11
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

C. Penggunaan Habitat Burung di Kawasan TNAL


Penutupan vegetasi pada lokasi penelitian didominasi oleh hutan
primer yang sebagian telah terfragmentasi menjadi mosaik-mosaik kecil.
Fragmentasi habitat disebabkan oleh adanya pembukaan hutan menjadi
jalan logging oleh perusahaan-perusahaan kayu yang dulunya beroperasi di
sekitar kawasan TNAL. Secara umum, tipe habitat di lokasi penelitian dapat
dibagi ke dalam tiga kelompok yaitu habitat hutan primer, semak belukar,
hutan sekunder serta pinggiran hutan. Hutan sekunder dan pinggiran hutan
didefinisikan sebagai habitat yang sangat bervariasi, pada awalnya berupa
lahan yang ditumbuhi semak sampai hutan-hutan berpohon tinggi, sering
ditumbuhi banyak pohon tinggi yang diantaranya merupakan sisa hutan
aslinya. Tipe hutan ini juga mencakup tumbuhan hasil regenerasi yang lebat
di tepi hutan, seperti di sepanjang jalan, jalan setapak, jalur pembalakan,
anak-anak sungai dan sungai-sungai cabang.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sebagian besar burung dapat
dijumpai pada bagian hutan sekunder dan pinggiran hutan dan hanya
beberapa jenis saja yang dijumpai di habitat hutan primer diantaranya walik
dada merah (Ptilinopus bernsteinii), julang irian (Rhyticeros plicatus),
kakatua putih (Cacatua alba) dan lainnya. Jenis-jenis burung paruh bengkok
seperti nuri pipi merah (Geoffroyus geoffroyi), nuri bayan (Eclectus roratus)
banyak menggunakan pohon-pohon tinggi terutama bagian tajuk paling
atas untuk melakukan aktivitas hariannya. Persentase penggunaan habitat
berdasarkan perjumpaan oleh kelompok burung di lokasi penelitian dapat
dilihat dalam Gambar 4.

12
Avifauna Penghuni Hutan Kobe
Diah Irawati Dwi Arini

Gambar 4. Grafik perbandingan penggunaan habitat oleh burung pada kawasan


konservasi Taman Nasional Aketajawe Lolobata

D. Keragaman Satwa Lain di TNAL


Hutan Kobe kawasan TNAL juga menyimpan kekayaan satwa lain
selain burung. Hasil perjumpaan menemukan sebanyak tiga jenis mamalia
yang terdiri atas rusa sambar (Cervus timorensis), babi hutan (Sus scrofa)
dan satu jenis kelelawar (Fooradoxous sp). Babi hutan (Sus scrofa) teramati
ketika sedang mencari makan di sekitar bekas jalan sarad dengan
mengagali-gali tanah untuk mendapatkan larva ataupun umbi-umbian.
Jumlah individu yang teramati sebanyak tiga ekor, dimana dua ekor
merupakan anak dan seekor lainnya adalah induk babi. Keberadaan Sus
scrofa juga terlihat dari jejak-jejak kaki yang banyak ditemukan dalam
kawasan taman nasional. Pada pemukiman warga yang berada di sekitar
Taman Nasional, beberapa masyarakat terlihat melakukan penangkapan
dengan tujuan untuk memelihara satwa tersebut.
Secara umum babi hutan maluku mempunyai ciri-ciri morfologi yang
sama dengan Sus celebensis namun pada babi maluku terdapat janggut
putih pada rahang. Satwa ini memiliki penciuman yang sangat tajam
sehingga mampu mengidentifikasi kehadiran makhluk asing dengan cepat,
sehingga babi hutan senang hidup pada hutan-hutan primer. Mamalia ini
sering kali ditangkap oleh masyarakat sekitar untuk dipelihara kemudian

13
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

dikonsumsi oleh sebagian besar warga Desa Kobe yang beragama Kristen.
Perburuan terhadap jenis ini akan meningkat ketika menjelang hari-hari
besar keagamaan. Perburuan babi dan rusa semakin hari dirasakan semakin
meningkat seiring dengan berkembangnya pasar lokal di lokasi-lokasi
transmigrasi dan tempat pendulangan emas ilegal.
Mamalia lainnya yang ditemukan adalah rusa sambar (Cervus
timorensis). Indikasi keberadaan mamalia bertanduk indah ini dilihat dari
banyaknya jejak kaki yang ditemukan pada kawasan. Pengamatan dilakukan
pada ketinggian tempat antara 150-380 mdpl. Rusa sambar (Cervus
timorensis) yang merupakan jenis introduksi sama dengan babi hutan (Sus
scrofa) (Poulsen et al, 1999). Masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar
kawasan TNAL, biasanya melakukan perburuan kedua jenis tersebut untuk
dikonsumsi dagingnya ataupun untuk dijual. Daging rusa biasanya dijual
dengan harga Rp. 15.000 per lembarnya (rata-rata 1-2 kg). Jika masih hidup
harga jualnya bisa mencapai Rp. 300.000 - 600.000 per ekor. Metode
perburuan terhadap jenis ini dilakukan dengan cara memasang perangkap
dan kadang kala menggunakan jasa anjing sebagai pemburu. Kobe
merupakan salah satu daerah di Maluku Utara yang dikenal sebagai
pemasok jenis Rusa sebagai satwa peliharaan maupun untuk kepentingan
suplai daging rusa. Mamalia lainnya yang berada dalam kawasan Taman
Nasional adalah kuskus beruang halmahera (Ailurops ornatus. Keberadaan
satwa marsupialia ini diketahui berdasarkan informasi masyarakat sekitar
yang sering kali menangkap satwa tersebut untuk dikonsumsi.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan sebanyak 39 jenis
burung, 14 jenis merupakan jenis endemik Maluku Utara, 23 jenis
dikelompokkan sebagai burung penetap dan dua lainnya adalah jenis
burung pengunjung.
2. Berdasarkan penggunaan habitatnya, sebanyak 45% burung
ditemukan pada habitat hutan sekunder dan pinggiran hutan, 23%

14
Avifauna Penghuni Hutan Kobe
Diah Irawati Dwi Arini

ditemukan pada habitat semak belukar, 19% pada hutan primer, 8%


ditemukan pada habitat lahan pertanian dan atau pemukiman serta
5% ditemukan di kawasan perairan (danau).
B. Saran

1. Melihat potensi yang ada, diperlukan suatu penetapan prioritas


terkait dengan kegiatan penelitian satwa. Penelitian lebih lanjut
mengenai populasi dan habitat khususnya bagi satwa-satwa endemik
yang saat ini sudah mulai terancam keberadaannya sangat diperlukan
guna mencegah kepunahannya di alam khususnya untuk jenis
avifauna .
2. Kerusakan habitat dan perburuan satwa merupakan permasalahan
utama yang dihadapi Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Konsep
pengelolaan kolaboratif dengan melibatkan beberapa pihak terutama
masyarakat baik yang berada di dalam maupun disekitar kawasan
diharapkan dapat menjadi alternatif solusi untuk dapat
mempertahankan keberadaan hutan dan keberlangsungan satwa
penghuninya.

DAFTAR PUSTAKA

Boer, Chandradewana. 1993. Studi Tentang Keragaman Jenis Burung Berdasarkan


Tingkat Pemanfaatan Hutan Hujan Tropis di Kalimantan Timur
Indonesia. Disertasi. Universitas Wuerzburg.
Coates, B.J. dan K.D. Bishop. 2000. Panduan Lapangan Burung-Burung di Kawasan
Wallace. BirdLife International Indonesia Programme & Dove
Publication. Bogor.
Departemen Kehutanan. 2009. Buku Statistik Taman Nasional Aketajawe Lolobata.
Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. Balai
Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Ternate.
. 2007. Buku Statistik Taman Nasional Aketajawe Lolobata.
Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. Balai
Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Ternate.
. 2004. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 397/Kpts-
II/2004 tanggal 18 Oktober 2004. Tentang Penetapan Kawasan Taman
Nasional Aketajawe Lolobata di Maluku Utara. Jakarta.

15
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

Poulsen, Michael K., Frank R. L., dan Yusup C. 1999. Evaluasi Terhadap Usulan
Taman Nasional Lalobata dan Ake Tajawe. BirdLife. Bogor.
Suyanto, A. 2001. Kelelawar di Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan
Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Bogor.
Undang-Undang No 5 Tahun 1999. Tentang Konservasi Sumberdaya Alam dan
Ekosistemnya. Jakarta
Monk, K.A., Y. D. Fretes, and G.R. Lilley. 2000. Ekologi Nusa Tenggara dan Maluku.
Seri Ekologi Indonesia Buku V. Prenhallindo. Jakarta.
Whitten, A.J. Mustafa, F. and G.S. Hendersen. 1987. Ekologi Sulawesi. Gadjah Mada
Press Yogyakarta.

16
Avifauna Penghuni Hutan Kobe
Diah Irawati Dwi Arini

Lampiran 1. Daftar jenis-Jenis burung hasil pengamatan pada Taman Nasional Aketajawe-Lolobata

No Famili Nama Lokal Nama Ilmiah Sebaran Habitat

1 Accipitridae 1 Elang Alap Halmahera Accipiter henicogrammus E S


2 Elang bondol Haliastur indus <R> S
2 Alcedinidae 3 Cekakak pita biasa Tanysiptera galatea R> L
3 Ardeidae 4 Kuntul Kerbau Bubulcus ibis < R, V? > Sb, A
4 Bucerotidae 5 Julang Irian Rhyticeros plicatus R> P, S
6 Kepudang Sungu Kartula Coracina papuensis R S, A
5 Campephagidae 7 Kepudang sungu miniak Coracina tenuirostris R> S
8 Kapasan Halmahera Lalage aurea E S, A
9 Uncal Ambon Macropygia amboinensis amboinensis R> P, S, A, Sb
10 Pergam Mata Putih Ducula perspicillata R> S
11 Pergam Laut Ducula bicolor <R> P, S
6 Columbidae 12 Walik Kepala Kelabu Ptilinopus hyogaster E S
13 Walik Dada Merah Ptilinopus bernsteinii E P
14 Pergam boke Ducula basilica E P
15 Tekukur biasa Streptopelia chinensis <R L

17
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

No Famili Nama Lokal Nama Ilmiah Sebaran Habitat

7 Corvidae 16 Cendrawasih halmahera Lycocorax pyrrhopterus E (MU) S

8 Cuculidae 17 Bubut Goliath Centropus goliath E P, Sb


18 Bubut Kai Centropus spilopterus E Sb

9 Dicruridae 19 Srigunting Lencana Dicrurus bracteatus <R> P, S


20 Walet Sapi Collocalia esculenta <R> S, Sb
10 Hemiprocnidae 21 Tepekong Kumis Hemiprocne mystacea R> S, Sb
11 Hirundinidae 22 Layang-layang api Hirundo rustica <V> S, Sb
12 Megapodidae 23 Gosong Kelam Megapodius freycinet R> S

13 Meliphagidae 24 Cikuakua hitam Philemon fuscicapillus E S


25 Cikuakua Halmahera Melitograis gilolensis E Sb
14 Muscicapidae 26 Sikatan Belang Ficedula westermanni <R S, Sb

15 Nectariniidae 27 Burung Madu Sriganti Nectarinia jugularis <R> S


28 Burung madu hitam Nectarinia aspasia R> S, Sb
16 Oriolidae 29 Kepudang Halmahera Oriolus phaeochromus E S
Pitta maxima P, S
17 Pittidae 30 Paok Halmahera E

18
Avifauna Penghuni Hutan Kobe
Diah Irawati Dwi Arini

No Famili Nama Lokal Nama Ilmiah Sebaran Habitat

31 Nuri Pipi Merah Geoffroyus geoffroyi R> P, S


32 Nuri Bayan Eclectus roratus R> P,S

18 Psittacidae 33 Nuri Kalung Ungu Eos squamata R> S


34 Kasturi Ternate Lorius garrulus E S
35 Kakatua Putih Cacatua alba E S, P
36 Perkici dagu merah Charmosyna placentis R> S
19 Pycnonotidae 37 Brinji Emas Ixos affinis E S
20 Rhipiduridae 38 Kipasan Kebun Rhipidura rufiventris R> L, A
21 Sturnidae 39 Perling Ungu Aplonis metallica R> Sb, S
Keterangan Sebaran : Keterangan Penutupan Lahan :
R : Penetap P : Hutan Primer
E : Endemik
S : Hutan Sekunder dan Pinggiran Hutan
V : Pengunjung
Int : Introduksi A : Pemukiman dan Lahan Pertanian
< : Sebaran dijumpai pula di sebelah Barat Maluku (Utara) L : Perairan (Danau/Sungai)
> : Sebaran dijumpai pula di sebelah Timur Maluku (Utara) Sb : Semak Belukar

19
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

20
Potensi Permudaan Alami Jenis-Jenis Eboni..
Ady Suryawan, Julianus Kinho & Anita Mayasari

POTENSI PERMUDAAN ALAMI JENIS-JENIS EBONI (Diospyros spp.) DI


CAGAR ALAM TANGKOKO, BITUNG, SULAWESI UTARA.
Natural Regeneration of Diospyros species in Tangkoko Nature Reserve,
Bitung, North Sulawesi

Ady Suryawan, Julianus Kinho dan Anita Mayasari

Balai Penelitian Kehutanan Manado.


Jl Raya Adipura, Kel. Kima Atas, Kec. Mapanget, Manado, Sulawesi Utara.
suryawanbioconserv@gmail.com

ABSTRACT

Ebony is a type of wood due to its beautiful luxury fiber and high quality wood and
has become primadona export from Indonesia of Sulawesi. The conservation area is
an area source of germplasm. However, deforestation, land use, and function of
disaster are factor that threatens sustainability of biodiversity. This research aims
to find out potential natural regeneration of diospyros species in tangkoko nature
reserve. Data retrieval method is using the nedsted method of sampling with an
area of 6 ha on two observation blocks. Research results known there are 90 kinds
of chicks dominated by species of Drypethes and Koordersiodendron pinnatum
neglecta. The potential of natural regeneration, D. minahassae 197 trees/ha, D.
pilosanthera 178 trees/ha, D. cauliflora 104 trees/ha, D. marritima 32 trees/ha, D.
hebecarpa 16 trees/ha, D. malabarica 10 trees/ha, and D. ebenum 5 trees/ha. This
number regeneration is relatively low. Several factors influence it seeds rekalsitran,
among others of the nature of competition/competition strong by the kinds of the
other and to scatter an area sufficiently species, so the success of ebony
regeneration is low.

Keywords: Ebony, Diospyros, Tangkoko Nature Reserve, natural regeneration

ABSTRAK

Eboni merupakan kayu jenis mewah karena seratnya indah dan kualitas kayunya
tinggi serta telah menjadi primadona ekspor Indonesia yang berasal dari Sulawesi.
Kawasan konservasi merupakan kawasan sumber plasma nutfah. Deforestasi, alih
fungsi lahan, dan bencana merupakan faktor yang mengancam kelestarian jenis
keanekaragaman hayati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi

21
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

permudaan alami jenis-jenis eboni yang ada di CA Tangkoko. Metode pengambilan


data menggunakan metode nedsted sampling dengan luas 6 ha pada dua blok
pengamatan. Hasil penelitian diketahui ada 90 jenis anakan yang didominasi oleh
jenis Drypethes neglecta dan Koordersiodendron pinnatum. Potensi permudaan
alam D. minahassae 197 pohon/ha, D. pilosanthera 178 pohon/ha, D. cauliflora 104
pohon/ha, D. marritima 32pohon/ha, D. hebecarpa 16 pohon/ha, D. malabarica 10
pohon/ha, dan D. ebenum 5 pohon/ha. Jumlah permudaan ini relatif rendah.
Beberapa faktor yang mempengaruhinya antara lain sifat biji rekalsitran,
persaingan /kompetisi yang kuat oleh jenis-jenis yang lain dan sebaran daerah yang
cukup spesifik, sehingga keberhasilan permudaan eboni menjadi rendah.
.
Kata kunci : Eboni, Diospyros, CA Tangkoko, permudaan alami

I. PENDAHULUAN

Salah satu jenis kayu perdagangan yang termasuk dalam kayu kelas
mewah dan banyak tumbuh di Sulawesi adalah eboni. Menurut
Suriarahardja dan Wasono (1996) dalam Hendromono (2007) eboni
merupakan salah satu jenis pohon andalan di Sulawesi Selatan, Tengah dan
Utara yang mulai langka dan merupakan jenis yang secara alami hanya
tumbuh di Sulawesi serta sangat diminati oleh mancanegara sebagai mebel,
hiasan, ukiran, konstruksi, alat rumah tangga dan alat musik.
Eboni merupakan anggota suku Ebenacea, Marga Diospyros termasuk
Lissocarpa dan Maba, memiliki antara 400 hingga 500 jenis yang tersebar di
daerah pantropis (Sunaryo, 2003). Menurut catatan Holtus dan Lam (1942) ,
Clayton dkk (1991), Lee dkk (1998, 1999, 2000, 2001), dan Djamaludin
(1999) dalam Kinho dkk (2010) di wilayah Sulawesi Utara terdapat sepuluh
jenis eboni yaitu Diospyros celebica, Diospyros buxifolia, Diospyros
hebecarpa, Diospyros javanica, Diospyros korthalsiana, Diospyros
macrophylla, Diospyros maritime, Diospyros minahassae, Diospyros rumphii
dan Diospyros sp yang tersebar di kawasan konservasi baik yang dikelola
oleh BKSDA Sulawesi Utara maupun Taman Nasional Bogani Nani
Wartabone.
Pemungutan eboni khususnya jenis D. celebica menurut Sanusi
(2002) telah dilakukan sejak abad ke-18 dalam jumlah yang besar dan

22
Potensi Permudaan Alami Jenis-Jenis Eboni..
Ady Suryawan, Julianus Kinho & Anita Mayasari

mengalami penurunan sejak tahun 1955. Penurunan ini disebabkan oleh


tegakan eboni di alam berkurang drastis karena pemungutan berlebihan
dan tidak diimbangi dengan permudaannya. Volume tebangan kayu eboni
yang berhasil tercatat selama kurun waktu 1969 sampai 1982 sebesar
114.341,678 m3. Hal ini menyebabkan populasi eboni semakin terbatas.
Kawasan konservasi merupakan sumber plasma nutfah berbagai
keanekeragaman hayati. Adanya deforestasi, alih fungsi lahan, bencana
alam dan berbagai aktivitas manusia lainnya telah menjadi ancaman bagi
kelestariannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika anakan
dan potensi permudaan alam jenis jenis eboni di Cagar Alam Tangkoko.
Diharapkan kajian ini dapat memberikan gambaran kelestarian jenis eboni
serta menjadi bahan pertimbangan dalam pengelolaan kawasan konservasi
khususnya CA Tangkoko.

II. KONDISI UMUM CAGAR ALAM TANGKOKO

Cagar Alam Tangkoko dilindungi sejak pemerintah kolonial Belanda


sebagai kawasan hutan dengan fungsi Cagar Alam berdasarkan Besluit Van
den Governeur Nederlands Indie (GB) No.6 Stbl.90 tanggal 12 Pebruari 1919
dengan luas 4.446 ha. Topografi landai sampai bergunung dengan
ketinggian mencapai 1.109 m dpl. Berdasarkan Shcmidth dan Ferguson
curah hujan 2.500 3.000 mm/tahun, dengan temperatur rata-rata 20o
25o C. Bentang alam terdiri dari pantai hingga pegunungan dan tipe
ekosistem hutan pantai, hutan dataran rendah, hutan pegunungan serta
hutan lumut. Menurut Kinho dkk (2010) sedikitnya terdapat 140 jenis
pohon yang tediri dari 102 marga dan 44 suku serta 8 jenis dari marga
Diospyros.

III. METODE PENELITIAN


A. Waktu dan Lokasi Kegiatan
Penelitian dilakukan di Cagar Alam Tangkoko pada tanggal 18 sampai
27 Agustus 2010 dengan metode nedsted sampling seluas 6 ha.

23
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

Pengamatan pertama berada pada ketinggian antara 127-194 meter dpl


bertopografi landai sampai jurang dan kedua pada ketinggian 504 564
meter dpl dengan topografi yang relatif landai.

B. Bahan dan Alat


Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah koran, alkohol 70
% dan tally sheet. Alat yang digunakan ialah meteran roll, solatip, plastik,
tali, gunting stek, kamera, peta kerja, GPS, parang, kompas dan alat tulis.

C. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian menggunakan metode nedsted sampling seluas 6
ha. Pada setiap ketinggian dibuat 5 jalur pengamatan dengan base line
searah garis kontur dan arah rintisan memotong kontur. Setiap jalur
memiliki petak pengamatan 15 buah berukuran 5x5 meter diletakan pada
kiri dan kanan arah rintisan. Pengamatan dilakukan dengan melihat semua
jenis anakan tingkat semai sampai pancang dan dihitung jumlahnya. Jenis
yang belum bisa diidentifikasi secara langsung, lebih lanjut diidentifikasi di
Herbarium Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam Bogor. Selanjutnya data
dianalisa menurut Indriyanto (2010) dengan indeks nilai penting (INP) dan
indeks keanekaragaman Shannon (H) yaitu.
INP = DR+ FR + KR; DR (dominasi relatif), FR (Frekuensi relatif) dan KR
(kerapatan relatif)
; H = Indeks Shannon, N = Total nilai
penting, n.i = Nilai penting dari tiap spesies

24
Potensi Permudaan Alami Jenis-Jenis Eboni..
Ady Suryawan, Julianus Kinho & Anita Mayasari

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Keanekaragaman Jenis - Jenis Permudaan

Jenis-jenis permudaan yang berhasil ditemukan tersaji dalam Tabel 1.


Tabel 1. Daftar jenis permudaan alam di CA Tangkoko
No. Nama Jenis No. Nama Jenis No. Nama Jenis
1 Acalypha caturus Bl. 31 Diospyros malabarica 61 Leocosiche sapitelata
2 Aglaia cortalsiana 32 Diospyros maritima Blume. 62 Litsea sp.
3 Aglaia macrocarpa 33 Diospyros minahassae Bakh. 63 Macaranga mapa
4 Alectrion sp. 34 Diospyros pilosanthera Blanco 64 Mallotus ricinoides Muell.Arg.
5 Alstonia scholaris R. Br. 35 Dracontomelon dao Merr.et Rolfe 65 Melanolepis multiglandulosa Rich.f.et.Zoll
6 Alstonia sumatrana 36 Dracontomelon mangiferumBI 66 Malotus columnaris
7 Antidesma celebicum Miq. 37 Drypetes neglecta 67 Meliosma pinnata
8 Apocyna jasmine 38 Dysoxylum molisimum 68 Morinda bracteata Roxb.
9 Ardisia sp. 39 Erythrina subumbrans (Hassk.) Merr. 69 Ocrocia acuminatisima
10 Artocarpus dada 40 Euginia acuminatisima 70 Palaquium obtusifolium
11 Avero belimbing 41 Ficus pubinervis Bl. 71 Piper aduncum
12 Baringtonia acutangula Gaertn. 42 Ficus sp. 72 Pipturus argentus
13 Buchanania arborescens Bl 43 Ficus variegata Bl. 73 Pisonia umbellifera Seem.
14 Calophyllum saulattri Burm Bl. 44 Garcinia daedalanthera Pierre 74 Polyalthia latericia
15 Cananga odorata Hook.f.et Th 45 Garcinia tetranda 75 Polyalthia glauca Boerl.

25
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

No. Nama Jenis No. Nama Jenis No. Nama Jenis


16 Canarium asperum Benth. 46 Glochidion philipicum 76 Polyalthia latericia
17 Canarium chrysanum 47 Gnetum gnemon L. 77 Polyscias nodosa Seem
18 Canarium hirsutum Willd 48 Gymnacranthera forbesii (King) Warb. 78 Pometia curiacea
19 Caparis micracanta 49 Gymnacranthera paniculata Warb. 79 Prunus arborea
20 Chisocheton kingee 50 Homalium celebicum Kds 80 Pterospermum celebicum Miq.
21 Clerodendron minahasa 51 Homalium foetidum Benth. 81 Sandoricum coetjapi
22 Cratoxylon celebicum Bl. 52 Horsfieldia braceata 82 Santiria
23 Cratoxylon sp. 53 Ionimus javanicum 83 Siphonodon celastrinew Griff.
24 Cryptocarya bicolor 54 Ixora sp. 84 Spatudea
25 Cryptocarya sp. 55 Kjellbergiodendron celebicum Merr. 85 Sterculia insularis
26 Dendronicde microstikma 56 Koordersiodendron pinnatum Merr. 86 Syzigium sp.
27 Dillenia ochreata T.et B. 57 Lea aculeata Bl. 87 Terminalia celebica
28 Diospyros cauliflora Bl. 58 Lea indica 88 Tricalichia minahasa
29 Diospyros ebenum King. 59 Lea rubra 89 Vilebrunia rubescens
30 Diospyros hebecarpa Cunn. 60 Lea sp. 90 Vitex quinata F.N.Vill.

26
Potensi Permudaan Alami Jenis-Jenis Eboni..
Ady Suryawan, Julianus Kinho & Anita Mayasari

Hasil pengamatan pada plot pertama ditemukan 88 jenis pancang


dan 69 jenis tingkat semai, pada plot kedua 76 jenis pancang dan 58 jenis
semai, hasil rekapitulasi jenis yang ditemukan telah tersaji pada Tabel 1 di
atas. Perhitungan indeks Shannon (H) menunjukan bahwa plot di bawah
500 mdpl mempunyai nilai 2,868 sedangkan di atas 500 mdpl 2,777. Indeks
Shannon merupakan indeks keanekaragaman dan sebagai indikator
kestabilan ekosistem. Semakin tinggi nilai H maka mengindikasikan semakin
tinggi jumlah spesies dan semakin tinggi kelimpahan relatifnya.

B. Dinamika Permudaan Alam di CA Tangkoko


Perhitungan INP dapat menunjukan dinamika populasi vegetasi
dalam suatu ekosistem sebagaimana pada Tabel 2 dan 3 di bawah ini.

Tabel 2. Hasil tabulasi INP tingkat semai disusun mulai dari yang tertinggi
Tinggi FR KR INP
Nama Ilmiah Famili
(mdpl) (%) (%) (%)
Drypetes neglecta
(Koord.) Pax et Hoffim Euphorbiaceae 9,33 10,32 19,65
Koordersiodendron
pinnatum Merr. Anacardiaceae 7,18 7,57 14,75
< 500 Polyalthia glauca Boerl. Annonaceae 5,5 5,39 10,89
Baringtonia acutangula
Gaertn. Lecythidaceae 4,78 4,36 9,14
Palaquium obtusifolium
Burk Sapotaceae 5,26 3,67 8,93
Drypetes neglecta
(Koord.) Pax et Hoffim Euphorbiaceae 9,33 10,32 19,65
Koordersiodendron
pinnatum Merr. Anacardiaceae 7,18 7,57 14,75
> 501 Homalium foetidum
Benth. Flacourtiaceae 4,07 6,88 10,95
Polyalthia glauca Boerl. Annonaceae 5,5 5,39 10,89
Garcinia daedalanthera
Pierre Guttiferae 5,26 4,93 10,19
Keterangan : FR = Frekuensi relatif, KR = Kerapatan relatif, INP = Indek nilai penting

27
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

Tabel 3. Hasil tabulasi INP tingkat pancang disusun mulai dari yang tertinggi
Tinggi FR KR INP
Nama Ilmiah Famili
(mdpl) (%) (%) (%)
Drypetes neglecta (Koord.)
Pax et Hoffim Euphorbiaceae 9,33 10,32 19,65
Koordersiodendron pinnatum
Merr. Anacardiaceae 7,18 7,18 14,75
< 500
Polyalthia glauca Boerl. Annonaceae 5,5 5,39 10,89
Baringtonia acutangula
Gaertn. Lecythidaceae 4,78 4,36 9,14
Palaquium obtusifolium Burk Sapotaceae 5,26 3,67 8.93
Siphonodon celastrinew Griff. Celastraceae 7,62 10,43 18.06
Dysoxylum molisimum Meliaceae 6,93 9,42 16,35
> 501 Vilebrunia rubescens Urticaceae 5,77 6,38 12,15
Lea indica Leaceae 4,16 6,81 10,97
Achtonoides sp Mrtaceae 4,39 6,52 10,91
Keterangan : FR = Frekuensi relatif, KR = Kerapatan relatif, INP = Indek nilai penting

Berdasar hasil perhitungan di atas diketahui bahwa Drypetes neglecta


merupakan jenis paling dominan dengan INP tertinggi disusul
Koordersiodendron pinnatum. Hasil analisis pada tingkat pancang
menunjukan D. neglecta dan K. pinnatum merupakan jenis dominan. Kedua
jenis ini sebagai pohon dominan pada tingkat pancang dan semai. Hal ini
menunjukkan bahwa permudaan alami CA Tangkoko didominasi oleh D.
nelecta dan K. pinnatum. Sebaran kedua jenis ini memiliki cukup luas pada
kedua plot pengamatan karena frekuensi perjumpaan petak ukur yang
berisi kedua jenis relatif paling tinggi dibandingkan jenis lain. Berdasar nilai
KR, kedua jenis tersebut memiliki kerapatan paling tinggi di setiap petak
ukur. Dominasi akan memberikan sifat negatif terhadap jenis yang lainnya
karena faktor persaingan akan semakin tinggi.
Tingkat dominasi pada tingkat anakan ini berbeda dengan dominasi
pada tingkat pohon. Penelitian Kurniawan dkk (2008) menyebutkan bahwa
asosiasi pohon di CA Tangkoko didominasi oleh pohon dengan jenis
Palaquium sp dan Cananga odorata. Palaquium sp atau dikenal dengan
nama lokal Nyatoh menurut Cendrawasih dalam Kurniawan dkk 2008
merupakan salah satu jenis yang berpotensi dan endemik di Sulawesi,

28
Potensi Permudaan Alami Jenis-Jenis Eboni..
Ady Suryawan, Julianus Kinho & Anita Mayasari

sehingga pada hutan alam dataran rendah di Sulawesi Utara banyak


dijumpai dalam jumlah yang tinggi.
Penelitian ini memberikan informasi bahwa dinamika hutan di CA
Tangkoko nampak jelas terjadi. Permudaan akan sangat mempengaruhi
dinamika hutan di masa yang akan datang. Semakin tinggi jumlah atau
kerapatan, sebaran dan penguasaan daerah suatu jenis anakan vegetasi,
maka peluang keberhasilan menjadi pohon akan semakin tinggi. Hal ini
seperti dikatakan oleh Soerianegara dan Indrawan, 1982 dalam Indriyanto
(2010) bahwa komunitas hutan merupakan suatu sistem yang hidup dan
tumbuh karena komunitas itu terbentuk secara berangsur-angsur melalui
beberapa tahap invasi oleh tetumbuhan, adaptasi, agregasi, persaingan dan
penguasaan, reaksi terhadap tempat tumbuh dan stabilisasi. Perubahan
dalam komunitas selalu terjadi bahkan dalam komunitas hutan yang stabil
pun akan selalu mengalami perubahan, misalnya ada pohon-pohon yang
tumbang maka akan memberikan peluang dan ruang tumbuh bagi
tumbuhan lain.

C. Potensi Permudaan Jenis-Jenis Eboni


Permudaan eboni yang berhasil dijumpai ada 8 jenis, 1 jenis berada di
luar petak pengamatan yaitu Diospyros korthalsiana dan 7 jenis di dalam
petak pengamatan yaitu Diospyros cauliflora, Diospyros ebenum, Diospyros
hebecarpa, Diospyros malabarica, Diospyros maritima, Diospyros
minahassae dan Diospyros pilosanthera. Menurut Lee dkk (2001) di CA
Tangkoko ada 6 jenis eboni yang ditemukan yaitu D. celebica, D. javanica, D.
korthalsiana, D. maritima, D. minahassae dan D. rumphii, beberapa jenis
eboni yang tidak dijumpai yaitu D. celebica, D. javanica dan D. rumphii. Hal
ini mengindikasikan bahwa ketiga jenis tersebut mengalami pengurangan
populasi di habitat alaminya. Namun ada eboni jenis lain yang berhasil
ditemukan yaitu D. malabarica, dan D. pilosanthera. Jumlah individu
ketujuh jenis eboni dalam plot pengamatan disajikan dalam Gambar 1.

29
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

Gambar 1. Jenis dan jumlah permudaan eboni di Cagar Alam Tangkoko

Total permudaan didalam petak ukur yaitu D. minahassae 74 pohon,


D. pilosanthera 67 pohon, D. cauliflora 39 pohon, D. maritima 12 pohon,
D. hebecarpa 6 pohon, D. malabarica 4 pohon dan D. ebenum 2 pohon.
Permudaan D. ebenum, D. hebecarpa dan D. malabarica sangat minim
karena hanya ditemukan dalam kondisi tingkat vegetasi tertentu saja dan
pada ketinggian tertentu di bawah 500 mdpl.
Ketinggian tempat tumbuh mempengaruhi populasi jenis, hal ini
ditunjukkan dengan permudaan D. minahassae dan D. pilosanthera dimana
populasi semai di atas 500 mdpl lebih banyak dibanding dengan populasi
permudaan di bawah 500 mdpl. Ketinggian tempat akan mempengaruhi
kondisi iklim suatu tempat. Kemungkinan D. minahassae dan
D. pilosanthera lebih dapat beradaptasi pada daerah dengan kelembaban
yang lebih tinggi dan temperatur lebih rendah. D. hebecarpa, D. maritima
dan D. malabarica merupakan jenis eboni yang hanya ditemukan di
dataran rendah sedangkan D. cauliflora merupakan jenis yang memiliki
tingkat permudaan paling lengkap dan tersebar merata di kedua ketinggian.
Bila dibandingkan jenis-jenis eboni dengan lima jenis permudaan
dominan plot pengamatan sebelumnya, maka eboni pada plot pengamatan

30
Potensi Permudaan Alami Jenis-Jenis Eboni..
Ady Suryawan, Julianus Kinho & Anita Mayasari

ini berada dalam kondisi tertekan. Hasil perhitungan INP, ketujuh jenis
eboni disajikan pada gambar 2.

Gambar 2. Hasil perhitungan INP jenis jenis eboni di CA Tangkoko.

Hasil perhitungan INP rata-rata menunjukkan D. minahassae saja


yang memiliki nilai INP rata-rata paling tinggi, sedangkan yang lain relatif
sangat kecil bila dibandingkan dengan jenis dominan seperti D. neglecta
dan K. pinnatum. Faktor permudaan ini sangat mempengaruhi kelestarian
suatu jenis di habitat aslinya. Menurut Mueller et. all (1974) kecenderungan
jumlah yang tinggi pada tingkat permudaan menandakan terpeliharanya
populasi di habitatnya, dan sangat mungkin di waktu yang akan datang
jumlah populasi akan terus berkembang. Namun pada penelitian ini jenis-
jenis eboni yang dijumpai cenderung memiliki permudaan dalam jumlah
minim.
Kondisi permudaan alam yang minim menurut Hani dan Effendi
(2009) disebabkan anakan yang tumbuh di bawah tegakan mengalami
pertumbuhan yang kurang optimal, karena akan mengalami persaingan
yang cukup ketat dalam mendapatkan unsur hara dan cahaya. Menurut
Alrasyid (2002) biji eboni bersifat rekalsitran atau daya perkecambahan

31
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

cepat menurun dan mudah terserang jamur Penicillopsis clavariaeformis.


Hal ini ditunjukkan pada waktu penelitian dilakukan banyak ditemukan
buah eboni yang jatuh mengalami kebusukan. Sedangkan bila buah eboni
dijemur menurut Alrasyid (2002) daya perkecambahan akan menurun
hingga menjadi 0%. Upaya yang mungkin dilakukan menurut Yuniarti (2002)
biji hendaknya disimpan menggunakan wadah yang porositasnya tinggi
misalnya kantong kain blacu dengan ruangan bersuhu 18-20oC dan
kelembaban 50-60%. Selain beberapa pendapat tersebut, Eboni merupakan
jenis yang memiliki pertumbuhan lambat, sehingga untuk melakukan
reproduksi menurut taksiran yang dilakukan Steup dan Beversluis dalam
Alrasyid (2002) menyebutkan bahwa MAI (Mean Annual Increment) dari
diameter dan volumenya berkisar 0,5 cm/th dan 0,5 m3/ha/th.
Populasi suatu jenis vegetasi dipengaruhi oleh kompetisi dan
distribusi. Semai yang tumbuh pada daerah yang padat maka faktor
kompetisi tinggi, kemungkinan keberhasilan berkembang menjadi pohon
lebih rendah. Sedangkan distribusi wilayah yang luas akan memberikan
kesempatan lebih tinggi bagi keberhasilan permudaan alam. Bila suatu jenis
tumbuh hanya pada daerah yang spesifik maka bila tumbuh bukan pada
daerahnya akan mengalami pertumbuhan yang tidak optimal.
Hasil kajian ini menunjukkan bahwa dinamika hutan menjadi penting
karena ada beberapa jenis tertentu yang mengalami tekanan sehingga
kelimpahan di alam mengalami penurunan serta adanya jenis-jenis dengan
status kritis, langka dan atau terancam punah. Hal inilah yang perlu
mendapatkan kajian dan pengelolaan yang lebih intensif, sehingga
kelestarian jenis (conservasi species) dapat berhasil. Upaya pelestarian jenis
dapat dilakukan dengan berbagai metode baik secara insitu maupun exsitu.

V. KESIMPULAN DAN SARAN


Potensi permudaan alam jenis-jenis eboni sangat rendah yaitu
D. minahassae 197 pohon/ha, D. pilosanthera 178 pohon/ha, D. cauliflora
104 pohon/ha, D. marritima 32pohon/ha, D. hebecarpa 16 pohon/ha,
D. malabarica 10 pohon/ha, dan D. ebenum 5 pohon/ha. Faktor yang
dominan terhadap perkembangbiakan eboni di CA Tangkoko dipengaruhi

32
Potensi Permudaan Alami Jenis-Jenis Eboni..
Ady Suryawan, Julianus Kinho & Anita Mayasari

oleh sifat biji eboni yang rekalsitran, daerah sebaran yang tidak luas dan
adanya persaingan yang kuat dengan jenis lain. Perlu adanya upaya
konservasi terhadap beberapa jenis eboni di CA Tangkoko.

DAFTAR PUSTAKA

Alrasyid, H. 2002. Kajian Budidaya Pohon Eboni. Berita Bilogi Volume 6, Nomor 2.
Halaman 219-225. Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi-LIPI. Bogor.
BKSDA, 2010. Profil Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Utara. Manado.
BPKH Wil VI. 2009. Profil Kawasan Konservasi. Manado. Diakses dari
http://bpkh6.blogspot.com/ pada tanggal 17 januari 2011
Hani, A. dan Effendi, R. 2009. Potensi Permudaan Alam Tingkat Semai (Khaya
antotecha) di Hutan Penelitian Pasir Hantap, Sukabumi, Jawa Barat. Bogor.
Mitra Hutan Tanaman Vol 4 No 2 Hal 49-56
Hendromono. 2007. Teknik Pembibitan Eboni Dari Anakan Hasil Permudaan Alam.
Jurnal Hutan Tanaman Vo 4 No 2 Halaman 91- 98. Pusat Litbang Hutan
Tanaman. Bogor
Kinho, J., dkk. 2010. Kajian Habitat dan Populasi Eboni (Diospyros spp.) Pada
Kawasan Konservasi di Cagar Alam Tangkoko, Taman Nasional Bogani Nani
Wartabone dan Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Laporan Hasil
Penelitian. Balai Penelitian Kehutanan Manado. Manado
Kurniawan, A., Undaharta, N.K.E. dan Pendit, I.M.R. 2008. Asosiasi Jenis-Jenis
Pohon Dominan di Hutan Dataran Rendah Cagar Alam Tangkoko, Bitung,
Sulawesi Utara. Biodiversitas Vol 9 No 3 halaman 199-203
Lee, R.J., J. Riley, dan R. Merrill. 2001. Keanekaragaman Hayati dan Konservasi Di
Sulawesi Bagian Utara. WCS-IP dan NRM. Jakarta.
Mueller-Dumbois, D. dan H. Ellenberg. 1974. Aims and Methods of Vegetation
Ecology. John Wiley & Sons, Inc. Canada
Sinombor, S.H. 2008. Kawasan Konservasi Tangkoko : Aset Sejarah Alam Dunia dan
Rumah Satwa Sulawesi. Kompas 30 April 2008 | 01:51 WIB diakses dari
http://nasional.kompas.com/read/2008/04/30/01515048/aset.sejarah.ala
m.dunia.dan.rumah.satwa.sulawesi
Sunaryo. 2003. Tingkat Kualitas Kayu Eboni (Diospyros celebica Bakh.) Berdasarkan
Komposisi Serat Gelap dan Terang. Pusat Penelitian Biologi-LIPI. Bogor.

33
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

34
Karakteristik Morfologi Zingiberaceae..
Julianus Kinho

KARAKTERISTIK MORFOLOGI ZINGIBERACEAE


DI CAGAR ALAM GUNUNG AMBANG SULAWESI UTARA
Morphological Characteristics of Zingiberaceae in Gunung Ambang Nature
Reserve in North Sulawesi

Julianus Kinho

Balai Penelitian Kehutanan Manado


d/a : Jln. Raya Adipura Kel.Kima Atas, Kec.Mapanget - Manado
Tlp. (0431) 3666683 e-mail :kinho81@yahoo.com

ABSTRACT
Ginger group is herbaceous plant from Zingiberaceae family. The plants are
cultivated and have been developed for pharmacy industries since a long time age.
Most of them have beautiful ornament in appearance. They are potential plants to
use as ornamental plants. Wild species are abundant in tropical forests of
Indonesian. In the northern part of Sulawesi,gingers are widely found from lowland
to mountain forests. To develop the plants for the future they need to be preserved
and identified. This research was to recognize the morphologic characteristics of
gingers around Alia Lake in Bolaang Mongondow regency and Iloloi Lake in South of
Minahasa regency in Mount Ambang Nature Reserve in North Sulawesi. Study is
done by exploring the hole area using iregular transect to cover the potential
growing sites. The results show that sixtypes of gingers were found. They are
Alpinia rubricaulisK.Schum., Etlingera heliconiifolia (K.Schum.)A.D.Poulsen.,
Etlingera sp. Alpinia eremochlamysK.Schum., Etlingera sp., and Alpinia monopleura
K.Schum.

Keyword: Ginger, species, morphologic, preserved, identified, exploring

ABSTRAK
Kelompok jahe-jahean merupakan tumbuhan herba dari famili Zingiberaceae. Jenis
tumbuhan ini sudah dibudidayakan dan dikembangkan dalam industri farmasi sejak
lama. Beberapa jenis dari famili ini memiliki keindahan arsitektur dan ornamen.
Banyak dari jenis tumbuhan ini memiliki ornamen yang indah dalam
penampilannya. Beberapa jenis diantaranya sangat berpotensi untuk
dikembangkan sebagai tanaman hias. Jahe-jahean memiliki kerabat liar yang hidup
di hutan-hutan tropis Indonesia. Jenis-jenis ini tumbuh dan tersebar luas mulai dari
hutan dataran rendah sampai hutan pegunungan di bagian utara Sulawesi. Jahe-

35
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

jahean penting untuk diketahui sehingga dapat dilestarikan dan dikembangkan


selanjutnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik morfologi
jahe-jahean di sekitar Danau Alia di Kabupaten Bolaang Mongondow sampai Danau
Iloloi di Kabupaten Minahasa Selatan pada kawasan Cagar Alam Gunung Ambang di
Sulawesi Utara. Penelitian ini dilakukan dengan cara menjelajah seluruh area
menggunakan transek iregular untuk mewakili daerah-daerah yang potensial
sebagai tempat tumbuhnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 6
(enam) jenis jahe-jahean yang merupakan tumbuhan herba terrestrial dari famili
Zingiberaceae. Jenis-jenis tersebut adalah Alpinia rubricaulis K. Schum., Etlingera
heliconiifolia (K. Schum.) A.D. Poulsen., Etlingera sp., Alpinia eremochlamys K.
Schum., Etlingera sp., dan Alpinia monopleura K. Schum.

Kata kunci : Jahe, jenis, morfologi, melindungi, identifikasi, menjelajah

I. PENDAHULUAN
Pulau Sulawesi sebagai hasil dari suatu proses geologi yang kompleks,
merupakan muara tempat bercampurnya (harbors a melange) berbagai
spesies hewan dan tumbuhan dalam persentase besar yang tidak dapat
ditemukan di tempat manapun di dunia (Lee,R.J, et.al 2001). Sulawesi sejak
diperkenalkan oleh Wallace, banyak peneliti yang kagum dengan ekologinya
sebagai kumpulan ekosistem yang sangat beragam dan kompleks sehingga
banyak ditemukan flora dan fauna yang unik dan endemik. Pengetahuan ini
kemudian menjadikan Sulawesi sebagai ekoregion prioritas bagi pelestarian
keanekaragaman hayati. Sebagai ekoregion prioritas di bioregion
Wallaceae, Sulawesi juga tidak luput dari berbagai tekanan dan ancaman
terhadap kelestarian keanekaragaman hayati.
Luas pembukaan kawasan hutan di Sulawesi cukup tinggi. Hal ini
dapat terlihat bahwa dalam kurun waktu 15 tahun terakhir ini, 21% area
hutan di Sulawesi bagian utara telah berubah fungsi atau ditebang, karena
pembalakan, pertambangan, kebakaran, pertanian dan perluasan wilayah
(Lee,R.J, et.al 2001). Semua itu secara drastis telah mengurangi habitat flora
maupun fauna. Hal ini sangat memprihatinkan dan mengkhawatirkan
karena baik flora maupun fauna yang endemik ataupun potensial yang
belum dikenal akan mengalami penyusutan secara kuantitas maupun
kualitas.

36
Karakteristik Morfologi Zingiberaceae..
Julianus Kinho

Penelitian dasar mengenai keanekaragaman jenis flora di Sulawesi


masih sangat diperlukan. Apabila dibandingkan dengan pulau-pulau besar
lainnya di Indonesia, jumlah spesimen tumbuhan (herbarium) yang telah
dikoleksi dari Pulau Sulawesi masih sangat sedikit kira-kira 23 spesimen per
100 km2, sedangkan di Pulau Jawa tercatat hampir 1.000 spesimen/100 km2
(Whitten et al., 1987). Aktifitas geologi pada masa lalu menyebabkan Pulau
Sulawesi secara biogeografi terisolasi dari pulau-pulau di sebelah barat
(Asiatis), maupun di sebelah timur (Australis). Isolasi geografi dan kondisi
lingkungan seperti variasi topografi, gradien elevasi, dan variasi jenis tanah
menyebabkan flora dan fauna di bioregion ini berkembang secara khas
(Siebert, 2000). Struktur dan komposisi biota pulau ini sangat unik,
walaupun jumlah jenisnya relatif sedikit, dimana jumlah jenis tumbuhan
tinggi diperkirakan hanya 5.000 spesies, termasuk 2.100 tumbuhan berkayu
(Whitten et al., 1987; Keler et al., 2002). Jumlah spesimen tumbuhan yang
telah dikoleksi dari Pulau Sulawesi diperkirakan sebanyak 32.500 spesimen
(Keler et al., 2002 dalam Pitopang, 2004).
Jenis tumbuhan yang telah dikoleksi dari Pulau Sulawesi diantaranya
adalah jenis-jenis herba. Tumbuhan herba memiliki peran yang sangat
penting dalam mendukung ekosistem hutan. Salah satu fungsi tumbuhan
herba dalam ekosistem hutan yaitu untuk menghambat limpasan
permukaan pada lantai hutan yang dapat menyebabkan erosi permukaan
pada saat musim hujan. Tumbuhan herba juga banyak digunakan dalam
pengobatan tradisional, bahkan tidak sedikit dari jenis-jenis herba dari
hutan, telah didomestikasi dan dikembangkan. Jenis-jenis tumbuhan herba
dari famili Zingiberaceae (jahe-jahean) merupakan tanaman multiguna yang
sudah banyak dibudidayakan dan dikembangkan baik sebagai tanaman hias,
maupun sebagai tanaman obat. Anggota dari famili ini masih memiliki
kerabat liar yang hidup di hutan-hutan tropis Indonesia, khususnya di
Sulawesi Utara yang belum banyak diketahui jenis dan manfaatnya.
Data dan informasi tentang jenis-jenis tumbuhan dari famili
Zingiberaceae di kawasan Cagar Alam Gunung Ambang, Sulawesi Utara
belum banyak diketahui. Eksplorasi dan identifikasi perlu dilakukan untuk

37
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

mengetahui karakteristik morfologi setiap jenisnya. Penelitian ini bertujuan


untuk mengetahui karakteristik morfologi jenis-jenis Zingiberaceae di CA.
Gunung Ambang.

II. METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu


Penelitian ini dilaksanakan di sekitar Danau Alia sampai Danau Iloloi
pada kawasan Cagar Alam Gunung Ambang pada tanggal 21 Nopember - 4
Desember 2008.

B. Alat dan Bahan


Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah roll meter,
mistar, minicaliper, cutter, gunting stek, parang, kamera digital, camcorder
dan alat tulis menulis. Bahan yang digunakan terdiri dari alkohol 70%,
kertas koran, tali raffia, selotip dan kantong spesimen.

C. Prosedur Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey.
Survey ini dilaksanakan dengan melakukan eksplorasi di semua situs yang
berpotensi ditemukannya jenis-jenis target bertumbuh secara alami.
Pengambilan data dilakukan dengan cara pengamatan dan pengukuran
langsung di lapangan, pengambilan dokumentasi dan pengambilan
spesimen herbarium. Spesimen yang dikumpulkan selanjutnya diidentifikasi
di Herbarium Bogoriense (BO) dan Herbarium Royal Botanical Garden
Edinburgh (E).

D. Analisa Data
Data hasil identifikasi dan karakterisasi yang dikumpulkan,
selanjutnya dianalisis secara deskriptif kualitatif.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kawasan hutan di sekitar
Danau Alia di Kabupaten Bolaang Mongondow sampai Danau Iloloi di

38
Karakteristik Morfologi Zingiberaceae..
Julianus Kinho

Kabupaten Minahasa Selatan terdapat sedikitnya 6 jenis tumbuhan dari


famili Zingiberaceae yang hidupnya menyebar pada ketinggian 478-1.480 m
dpl. Jenis-jenis ini banyak dijumpai hidup berkoloni dan lebih banyak
dijumpai pada daerah terbuka atau daerah-daerah dengan tutupan tajuk
yang tidak terlalu rapat. Jenis yang paling sering dijumpai adalah Tuis
(Alpinia monopleura), sedangkan jenis yang jarang dijumpai adalah Tuis
sarewou (Etlingera sp.).
Tuis (A. monopleura) memiliki ciri khas yang dapat dibedakan dari
jenis lainnya yaitu jenis ini umumnya tumbuh berumpun dengan perawakan
yang cukup besar, pembungaan (inflorescence) dan pembuahan
(infructescence) selalu muncul pada bagian ujung dari cabang daun
(terminal of leaf). Tangkai bunga dan buah dari jenis Tuis (A. monopleura)
memiliki ukuran yang cukup panjang yang bisa mencapai lebih dari 50 cm.
Tuis sarewou (Etlingera sp.) merupakan jenis dengan ciri khas yang
unik dan berbeda dari jenis-jenis Tuis lainnya (Zingberaceae) yang
ditemukan di CA. Gunung Ambang, khususnya disekitar Danau Alia sampai
Danau Iloloi. Jenis ini memiliki ciri yang sangat khas yaitu pada permukaan
kulit buahnya selalu basah karena terdapat cairan berlendir. Jenis ini
umumnya ditemukan pada daerah yang lembab dengan tutupan tajuk
hutan yang tidak terlalu rapat sekitar 60-70%.
Daftar jenis Zingiberaceae yang dijumpai pada kawasan CA. Gunung
Ambang, di sekitar Danau Alia Kabupaten Bolaang Mongondow sampai
Danau Iloloi, Kabupaten Minahasa Selatan ditampilkan dalam Tabel 1.

39
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

Tabel 1. Daftar jenis Zingiberaceae di sekitar Danau Alia sampai Danau Iloloi
pada kawasan Cagar Alam Gunung Ambang
No
Nama Botani Nama Daerah Keterangan

1 Alpinia rubricaulis K.Schum Tuis (Bahasa Totabuan dan


Bahasa Minahasa)
2 Etlingera heliconiifolia Tuis (Bahasa Totabuan dan
(K.Schum.)A.D. Poulsen Bahasa Minahasa)
3 Etlingera sp. 1. Tuis (Bahasa Tontemboan)
sarewou
4 Alpinia eremochlamys K.Schum Tuis (Bahasa Minahasa)
5 Etlingera sp. 2. Tuis (Bahasa Tontemboan)
6 Alpinia monopleura K.Schum Tuis (Bahasa Minahasa)

Deskripsi Jenis Zingiberaceae


Deskripsi jenis-jenis Zingiberaceae di sekitar Danau Alia Kabupaten
Bolaang Mongondow sampai Danau Iloloi Kabupaten Minahasa Selatan
pada kawasan Cagar Alam Gunung Ambang adalah sebagai berikut :

1. Alpinia rubricaulis K. Schum.

Nama Daerah : Tuis (Bahasa Totabuan dan Bahasa Minahasa)

Ciri Morfologi

Perawakan : Herba terestrial, tinggi 2-3,5 m. Hidup berkelompok atau


berumpun.

Daun : Daun majemuk dengan panjang 2-3 m, lebar bentangan


daun 1-1,5m.

Anak Daun : Bentuk anak daun memanjang dengan panjang 67 cm,


lebar anak daun 13,5 cm; panjang tangkai anak daun 12 cm,
permukaan anak daun bergelombang, pinggiran anak daun
bergelombang dangkal.

40
Karakteristik Morfologi Zingiberaceae..
Julianus Kinho

Bunga : Bunga majemuk, terletak pada bagian ujung dari cabang


daun (terminal on leafy shoot), panjang tangkai bunga 30-
50 cm, bunga berwarna merah muda, kelopak berwarna
putih, tangkai putik berwarna merah muda.

Buah : Banyak dalam satu kumpulan bertangkai, buah oval tidak


berekor, jumlah buah 46 atau lebih, warna buah merah
sampai merah tua, warna tangkai buah merah dengan
panjang 30 cm, permukaan kulit buah mengkilap, berbulu
halus dengan ciri utama tangkai buah berwarna merah.

Habitat : Tanah berpasir dan tanah berbatu, dengan solum sedang,


cukup bahan organik, di daerah perbukitan dan daerah
lembab dengan sedikit pencahayaan.

Perbanyakan : Dapat diperbanyak dengan menggunakan buah maupun


dengan rimpang yang bertunas.

Ciri Utama : Tangkai bunga dan atau tangkai buah berwarna merah,
permukaan daun bergelombang

Keterangan :
a,b,c : Perbungaan (inflorescense)
d,e : Perbuahan (infructescence)
f : Buah (fruit)

Gambar 1. Bunga dan buah Alpinia rubricaulis K.Schum

41
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

3. Etlingera heliconiifolia (K. Schum.) A.D. Poulsen

Nama Daerah : Tuis (Bahasa Totabuan dan Bahasa Minahasa)


Ciri Morfologi
Perawakan : Herba terestrial,tinggi 3-6 m. Hidup berkelompok
atau berumpun.

Daun : Daun majemuk,panjang daun 4-6 m, lebar daun 2-3


m, permukaan daun licin, ujung daun tumpul

Anak Daun : Bentuk anak daun memanjang, dengan panjang


131 cm, lebar 16 cm, panjang tangkai anak daun 1-
2 cm, duduk anak daun selang seling.

Bunga : Bunga majemuk, berwarna merah dengan


sedikitwarna putih dibagian tengah

Buah : Buah berasal dari rhizome,diatas permukaan


tanah,banyak dalam satu kumpulan bertangkai
(tandan), bentuk dasar buah seperti jantung
dengan permukaan buah bersisik, jumlah tandan
buah 2, kadang-kadang lebih, panjang buah 25,3
cm dengan lebar 10,3 cm, warna buah merah.

Habitat : Hidup di tanah alvisol dan tanah berbatu dengan


solum sedang, cukup bahan organik, di daerah
lereng (slope).

Perbanyakan : Dapat diperbanyak dengan menggunakan buah


maupun dengan rimpang yang bertunas

Ciri Utama : Permukaan anak daun licin mengkilap, buah


berbentuk jantung, permukaan kulit buah bersisik
kasar

42
Karakteristik Morfologi Zingiberaceae..
Julianus Kinho

Perbungaan Perbuahan

Daun

Gambar 2. Bunga, buah dan daun Etlingera heliconiifolia.

3. Etlingera sp. 1.
Nama Daerah : Tuis sarewou (Bahasa Tontemboan)
Ciri Morfologi
Perawakan : Herba terestrial, tinggi 4-5 m. Hidup
berkelompok atau berumpun.

Daun : Panjang daun 3-5 m, lebar bentangan daun 1-3


m.

Anak Daun : Letak anak daun selang seling, bentuk anak daun
memanjang, panjang anak daun 53 cm, lebar
anak daun 11 cm, panjang tangkai anak daun 2-5
cm.

Bunga : Berasal dari rhizome, bunga majemuk, berwarna


kuning, dengan lingkar putih, perhiasan bunga
ada, bau khas tidak ada.

Buah : Berwarna merah, banyak dalam satu kumpulan


bertangkai, permukaan buah berlendir, bentuk
buah bulat telur, jumlah buah 5 atau lebih dalam
satu rumpun, panjang buah 4,5 cm-13 cm dengan
lebar 5,2-6,8 cm.

Habitat : Hidup di tanah liat, dengan solum sedang, cukup


bahan organik, di daerah lereng yang agak

43
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

lembab

Perbanyakan : Dapat dilakukan dengan menggunakan buah


maupun dengan rimpang yang bertunas.

Ciri Utama : Buahnya berlendir .

Perbuahan Daun

Perbungaan Belahan Buah

Perbungaan

Gambar 3. Daun, bunga dan buah Etlingera sp.

4. Alpinia eremochlamys K. Schum.


Nama Daerah : Tuis (Bahasa Minahasa)
Ciri Morfologi
Perawakan : Herba terestrial,tinggi 2-3 m. Hidup berkelompok atau
berumpun.

Daun : Panjang daun 3-5 m, lebar bentangan daun 2-2,5 m,


permukaan daun licin mengkilap, ujung daun runcing.

Anak Daun : Letak anak daun selang seling, bentuk anak daun
memanjang, panjang anak daun 40-57 cm, lebar anak

44
Karakteristik Morfologi Zingiberaceae..
Julianus Kinho

daun 9-11,5 cm. Panjang tangkai anak daun 3-7 cm.

Bunga : Terletak pada bagian tengah ujung daun (terminal on


leafy shoot), dalam satu tangkai bunga.

Buah : Berwarna hijau sampai hijau tua, banyak dalam satu


kumpulan bertangkai, bentuk buah bulat berekor, jumlah
buah dalam satu tangkai 35, diameter buah 1,7 cm.

Habitat : Hidup di tanah alvisol dan tanah berbatu dengan solum


sedang, cukup bahan organik, di daerah lembah.

Perbanyakan : Dapat dilakukan dengan menggunakan buah maupun


dengan rimpang yang bertunas.

Ciri Utama : Buah bulat berekor, dengan tangkai anak buah yang
pendek, permukaan kulit buah licin dan terdapat garis
yang nyata.

Daun (leaf) Perbuahan (infructescence)

Gambar 4. Daun dan buah Alpinia eremochlamys K.Schum.

45
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

5. Etlingera sp. 2.
Nama Daerah : Tuis (Bahasa Tontemboan)
Ciri Morfologi
Perawakan : Herba terestrial,tinggi 2-3 m. Hidup berkelompok atau
berumpun

Daun : Panjang daun 1-2 m, lebar bentangan daun 80-100


cm, permukaan daun licin mengkilap berwarna hijau,
belakang daun berwarna merah bata.

Anak Daun : Bentuk anak daun memanjang, panjang anak daun 46


cm, lebar anak daun 13 cm, panjang tangkai anak
daun 4-6 cm, duduk anak daun selang-seling, belakang
anak daun muda berwarna merah bata, anak daun tua
berwarna merah kecoklatan, berbulu halus, pinggiran
anak daun bergelombang.

Bunga : Tidak tampak pada saat penelitian

Buah : Tidak tampak pada saat penelitian

Habitat : Hidup di tanah alvisol, dengan solum dalam, cukup


bahan organik, di daerah lembah yang agak lembab.

Perbanyakan : Dapat dilakukan dengan menggunakan rimpang yang


bertunas.

Ciri Utama : Tepi anak daun bergelombang, belakang anak daun


muda berwarna merah bata, belakang anak daun tua
berwarna merah kecoklatan, berbulu halus.

46
Karakteristik Morfologi Zingiberaceae..
Julianus Kinho

Tampak belakang daun Tampak depan daun

Gambar 5. Tampak belakang dan depan daun Etlingera sp2.

6. Alpinia monopleura K. Schum.


Nama Daerah : Tuis (Bahasa Minahasa)
Ciri Morfologi
Perawakan : Herba terestrial,tinggi 4-6 m. Hidup berkelompok atau
berumpun.

Daun : Daun majemuk dengan panjang 2-3 m, lebar bentangan


daun 1-1,5 cm.

Anak Daun : Duduk anak daun selang seling, bentuk anak daun
memanjang dengan panjang 115-120 cm, lebar anak daun
15-20 cm, panjang tangkai anak daun 12-13 cm, belakang
anak daun berbulu halus agak lebat.

Bunga : Terletak pada bagian ujung dari cabang daun (terminal on


leavy shoot), bunga majemuk dengan panjang tangkai
bunga 95-100 cm (kadang labih). Panjang tangkai anak
bunga 5-7 cm berwarna putih krem kecoklatan, perhiasan
bunga ada, tangkai bunga berwarna hijau muda
kekuningan, bunga berwarna putih.

47
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

Buah : Buah banyak dalam satu kumpulan bertangkai, panjang


tangkai buah 97 cm, dengan jumlah buah 77 buah,
panjang tangkai anak buah 5 cm, tangkai buah berwarna
hijau muda, buah tersusun ganjil genap 1-2-1-2, dst. Satu
tangkai anak buah terdiri dari 2 bulir namun hanya satu
yang berhasil menjadi buah, satu bulir lainnya kadang-
kadang masih berbunga bulir yang satunya sudah menjadi
buah dengan diameter 1,6-1,9 cm.

Habitat : Hidup di tanah aluvial, solum sedang, cukup bahan


organik, di daerah lembah yang terbuka.

Perbanyakan : Dapat dilakukan dengan menggunakan buah dan rimpang


yang bertunas.

Ciri Utama : buah bulat, berekor, dalam satu tangkai anak buah
terdapat dua bulir namun hanya satu yang menjadi buah.

Daun Perbungaan Daun dan buah

Gambar 6. Daun dan buah Alpinia monopleura K.Schum.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat 2 jenis jahe


hutan yang memiliki perawakan yang cukup besar yaitu Etlingera
heliconiifolia (K.Schum.) A.D. Poulsen dan Alpinia monopleura K.Schum
dengan tinggi bisa mencapai 6 m atau lebih. Perbedaan utama pada kedua
jenis ini yaitu pada letak perbungaan (inflorescence) dan perbuahan
(infructescence) dimana untuk jenis Etlingera heliconiifolia (K.Schum.) A.D.
Poulsen., bunga dan buahnya keluar dari rimpang atau rhizome dan
terkadang tertimbun oleh serasah atau tanah sedangkan untuk jenis Alpinia
monopleura K. Schum bunga dan buahnya terletak padabagian ujung dari
cabang daun (terminal of leaf). Perbungaan dan perbuahan pada Alpinia

48
Karakteristik Morfologi Zingiberaceae..
Julianus Kinho

monopleura cukup panjang dan menjuntai sehingga mudah dikenal. Selain


kedua ciri di atas, terdapat ciri lainnya yang dapat membedakan keduanya
yaitu pada tulang primer anak daun untuk jenis Etlingera heliconiifolia (K.
Schum.) A.D. Poulsen tidak kaku sehingga tidak mudah patah sedangkan
pada jenis Alpinia monopleura K. Schum tulang primer anak daunnya sangat
kaku sehingga mudah patah.

IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa :

1. Terdapat 6 (enam) jenis dari famili Zingiberacae yang terdapat di sekitar


Danau Alia sampai dengan Danau ilIoloi pada kawasan Cagar Alam
Gunung Ambang.
2. Jenis-jenis Zingiberaceae yang terdapat di sekitar Danau Alia sampai
Danau Iloloi adalah Alpinia rubricaulis K. Schum., Etlingera heliconiifolia
(K. Schum.) A.D. Poulsen., Etlingera sp., Alpinia eremochlamys K.
Schum., Etlingera sp., dan Alpinia monopleura K. Schum.
3. Terdapat 2 (dua) jenis Zingiberaceae yang memiliki perawakan yang
cukup besar yaitu Etlingera heliconiifolia (K. Schum.) A.D. Poulsen dan
Alpinia monopleura K. Schum dengan tinggi bisa mencapai 6 m atau
lebih. Perbedaan utama pada kedua jenis ini yaitu pada letak bunga dan
buah, dimana untuk jenis Etlingera heliconiifolia (K. Schum.) A.D.
Poulsen., bunga dan buahnya keluar dari rimpang atau rhizome dan
terkadang tertimbun oleh serasah atau tanah sedangkan untuk jenis
Alpinia monopleura K. Schum bunga dan buahnya terletak pada bagian
ujung dari cabang daun dengan ukuran yang cukup panjang dan
menjuntai sehingga mudah dikenal.

49
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

DAFTAR PUSTAKA

Kinnaird,M.F.1997. Sulawesi Utara Sebuah Panduan Sejarah Alam. Yayasan


Pengembangan Wallacea. Jakarta.
Keler, P.J.A., M.Bos, S.E.C. Sierra Daza, L.P.M.Willemse, R.Pitopang, and
S.R.Gradstein. 2002. Checklist of Woody Plants of Sulawesi, Indonesia.
Blumea Suplement 14:1-160.
Lee,R.J. 1998. Ecological Assessments and Recomendations for Gunung Ambang
Nature Reserve in North Sulawesi, Indonesia. WCS. New York,USA.
Lee, R.J., J. Riley, dan R. Merrill. 2001. Keanekaragaman Hayati dan Konservasi Di
Sulawesi Bagian Utara. WCS-IP dan NRM. Jakarta.
Poulsen,A.D. 2006. Gingers of Sarawak.A Pocket Guide.Natural History Publication
(Borneo). Kota Kinabalu,Sabah,Malaysia in association with Royal
Botanical Garden Edinburgh,Scotland.
Ramadhanil, P., dan R.Gradstein. 2004. Herbarium Celebense (CEB) dan
Peranannya Dalam Menunjang Penelitian Taksonomi Tumbuhan di
Sulawesi. Jurnal Biodiversitas Volume 5, Nomor 1. Hal 36-41.
Siebert, S.F. 1998. Rattan Use, Economics, Ecology and Management in the
Southern Lore Lindu National Region of Sulawesi Indonesia. Missoula:
School of Forestry. University Montana, Missoula.
Tjitrosoepomo, G. 1997. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada University
Press.Yogyakarta.
Whitten, A.J., M. Mustafa and G.S. Henderson. 1987. The Ecology of Sulawesi.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

50
Keterkaitan Struktur dan Komposisi Vegetasi..
Arif Irawan

KETERKAITAN STRUKTUR DAN KOMPOSISI VEGETASI


TERHADAP KEBERADAAN ANOA DI KOMPLEKS GUNUNG PONIKI
TAMAN NASIONAL BOGANI NANI WARTABONE SULAWESI UTARA
The Relations of Vegetation Structure and Composition
to the Presence of Anoa
in Mount Poniki, Bogani Nani Wartabone National Park, North Sulawesi

Arif Irawan

Balai Penelitian Kehutanan Manado


Jl. Tugu Adipura Raya Kel. Kima Atas Kec.Mapanget Kota Manado
Telp : (0431) 3666683 Email : arif_net23@yahoo.com

ABSTRACT
Sulawesi is an island with arichbiodiversity and high level of endemicity. Anoa
(Bubalus sp.) is one of the mammals currently of concern to many parties because
their existence is increasingly threatened. This study is aimed to investigate the
vegetation structure and composition of Mount Poniki, an area Bogani Nani
Wartabone National Park, and their relation to the presence of anoa. The
vegetation was recorded using circular plot methods with radius r= 17.8 meter. The
study employed correlation analysis between density, dominance, and diversity and
anoas foot print found in the area. The collected data include all plant species
within the sampling plot. The tree curve structure at Mount Poniki similar is an
inverse J shape and the vegetation consist of a complete stage A, B, C, D, and E
stratification. The species composition at sapling and pole is dominated with
Orophea sp. with Importance Value Index (IVI) 57.8% and 51.7%. Tree level is
dominated by Calophyllum soulattri Burm.f (IVI=32.1%). The result of correlation
test showed that three variables of vegetation structure and composition have
significance value greater than 0.05 or in the other words the variables of density,
dominance, and tree diversity do not influence the presence of anoa in this area.

Keywords: Vegetation, structure, composition, anoa

51
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

ABSTRAK
Pulau Sulawesi merupakan wilayah yang memiliki keanekaragaman hayati yang
sangat kaya yang sebagian besarnya adalah jenis endemik. Anoa (Bubalus spp.)
merupakan salah satu mamalia yang saat ini sedang menjadi perhatian banyak
pihak karena keberadaannya yang semakin terancam. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui struktur dan komposisi vegetasi di Kompleks Gunung Poniki,
Taman Nasional Bogani Nani Wartabone serta kaitannya dengan keberadaan anoa
pada kawasan ini. Pencatatan vegetasi menggunakan metode circular plot dengan
data yang dikumpulkan meliputi semua jenis vegetasi yang terdapat di dalam plot
lingkaran yang memiliki jari-jari 17,8 meter. Analisis data menggunakan uji korelasi
antara variabel kerapatan, dominasi, dan keragaman pohon dengan jumlah jejak
anoa yang ditemukan. Struktur sebaran kurva pohon di Kompleks Gunung Poniki
menyerupai huruf J terbalik dan tingkat stratifikasi vegetasi tersusun atas stratum
yang lengkap yaitu stratum A, B, C, D, dan E, Komposisi jenis di kawasan ini
didominasi jenis Orophea sp. pada tingkat anakan pohon dan pohon muda dengan
nilai INP sebesar 57.8% dan 51.7% , sedangkan pada tingkat pohon didominasi oleh
jenis Calophyllum soulattri Burm.f (INP=32.1%). Selanjutnya dari hasil uji korelasi
dapat diketahui bahwa ketiga variabel struktur dan komposisi vegetasi memiliki
nilai signifikansi lebih besar dari 0,05, sehingga dapat dikatakan bahwa variabel
kerapatan, dominasi, dan keragaman pohon tidak mempengaruhi keberadaan anoa
di kawasan ini.

Kata kunci :Vegetasi, struktur, komposisi, anoa

I. PENDAHULUAN
Pulau Sulawesi merupakan salah satu wilayah penting, karena secara
geografis terletak di antara Paparan Sunda dan Sahul, sehingga
menyebabkan pulau ini dihuni oleh banyak perwakilan keanekaragaman
hayati dunia yang sebagian besar diketahui merupakan jenis endemik.
Adapun tingkat endemisitas yang dimaksud diantaranya terdapat pada
kelompok mamalia dimana dari 114 jenis yang ditemukan di pulau ini 60%
(53 jenis) adalah endemik, dari kelompok aves 380 jenis dimana 25% atau
(96 jenis) diantaranya adalah endemik, dari kelompok serangga, khususnya
kupu-kupu Sulawesi memiliki 560 jenis dengan 235 jenis (42%) adalah
endemik, dari kelompok reptilia tercatat 46 jenis kadal Sulawesi dan 18
jenis diantaranya adalah endemik.1

52
Keterkaitan Struktur dan Komposisi Vegetasi..
Arif Irawan

Anoa (Bubalus spp.) merupakan salah satu mamalia endemik


Sulawesi yang saat ini sedang menjadi perhatian banyak pihak karena
keberadaannya yang semakin terancam. Sebenarnya anoa merupakan
satwa langka endemik sulawesi yang statusnya sudah dilindungi sejak tahun
1931 berdasarkan ordonansi peraturan perlindungan binatang Liar 1931
No. 134 dan 266, kemudian diperkuat dengan Undang-Undang No. 5 tahun
1990 yang dipertegas dengan surat Keputusan Menteri Kehutanan
No.301/Kpts-II/1991 dan No. 882/Kpts-II/1992 serta Peraturan Pemerintah
Nomor 7 Tahun 1999.2 IUCN (International Union For Conservation Of
Natural Resources) memasukkan anoa ke dalam red data book dengan
kategori endangered.3 Sedangkan CITES (Convention of International Trade
in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) memasukkan anoa dalam
Appendiks I, yaitu lampiran dari memorandum yang dikeluarkan CITES yang
berisi jenis-jenis satwa dan tumbuhan yang dilarang untuk ditangkap,
dibunuh dan diperdagangkan di seluruh dunia.4Namun tidak berjalannya
penegakan aturan tersebut selama ini menyebabkan seolah peraturan-
peraturan yang telah dibuat menjadi tidak berarti.
Bedasarkan hasil kajian Mustari5 banyak kawasan hutan yang
dahulunya dikenal sebagai habitat anoa sudah tidak dijumpai kembali
keberadaan satwa ini didalamnya. Seperti yang terjadi di Cagar Alam
Tangkoko Batuangus di Bitung Sulawesi Utara, anoa punah secara lokal. Hal
ini merupakan salah satu akibat dari konversi kawasan hutan baik legal
maupun illegal menjadi lahan pertanian, perkebunan, pemukiman dan lain-
lain. Selain itu menurunnya kualitas habitat ini juga diakibatkan oleh
kerusakan vegetasi (misalnya penebangan yang tidak terkendali,
pembakaran atau bencana alam).
Salah satu tempat yang menjadi habitat anoa di Sulawesi Utara yang
semakin terancam keberadaannya adalah di bagian pedalaman Taman
Nasional Bogani Nani Wartabone. Hasil wawancara dengan masyarakat
yang dilakukan oleh Balai Penelitian Kehutanan Manado pada tahun 2009,
di kawasan Desa Toraut tepatnya di Kompleks Gunung Poniki satwa ini
masih dapat dijumpai walaupun diperkirakan jumlahnya terus menurun. Hal

53
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

ini dapat diindikasikan melalui frekuensi perjumpaan masyarakat dengan


satwa ini yang sudah semakin jarang.
Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) yang semula
bernama Taman Nasional Dumoga Bone ditetapkan sebagai taman nasional
oleh Menteri Kehutanan tahun 1990 dengan luas 287.115 hektar. Secara
administratif wilayah ini terletak pada dua provinsi yaitu Provinsi Sulawesi
Utara dan Gorontalo. Topografi Taman Nasional Bogani Nani Wartabone
beragam mulai dari datar, bergelombang ringan sampai berat dan berbukit
terjal dengan ketinggian tempat berkisar antara 50 - 1.970 m dpl dengan
kawasan terbagi menjadi hutan lumut, hutan hujan pegunungan rendah,
hutan hujan dataran rendah dan hutan sekunder.6 Luasnya wilayah dan
bervariasinya topografi mengakibatkan masih banyak hal yang belum tergali
dari kawasan ini, salah satunya terkait informasi vegetasi yang merupakan
salah satu data dasar untuk digunakan dalam pengelolaannya.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur dan
komposisi vegetasi di kawasan Kompleks Gunung Poniki, Taman Nasional
Bogani Nani Wartabone dan kaitannya dengan keberadaan anoa di
dalamnya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu bahan
masukan dalam mengembangkan pelestarian anoa dan kawasan TNBNW
secara komprehensif.

II. METODE PENELITIAN


Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2010 di kawasan Taman
Nasional Bogani Nani Wartabone yaitu pada Kompleks Gunung Poniki.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah data struktur dan
komposisi vegetasi serta jejak anoa yang ditemukan di Kompleks Hutan
Gunung Poniki. Pencatatan struktur dan komposisi vegetasi dilakukan
dengan menggunakan metode circular plot. Data yang dikumpulkan
meliputi semua jenis vegetasi yang terdapat di dalam plot lingkaran yang
berjari-jari 17,8 m dan jumlahnya sebanyak 18 plot. Penempatan titik pusat
lingkaran dilakukan pada lokasi yang banyak di dalamnya ditemukan jejak
kaki anoa. Pencatatan vegetasi dilakukan untuk tingkat anakan pohon atau

54
Keterkaitan Struktur dan Komposisi Vegetasi..
Arif Irawan

sapling (diameter < 10 cm), pohon muda atau poles (diameter 10-35 cm)
dan tingkat pohon atau trees (> 35 cm).
Pencatatan data dilakukan terhadap semua jumlah, jenis, diameter
serta tinggi pohon yang terdapat dalam plot penelitian. Data tersebut
digunakan untuk mendapatkan dominasi berdasarkan kerapatan, frekuensi,
dan dominasi (Persamaan 1, 3, 5) yang selanjutnya dijumlahkan untuk
memperoleh indeks nilai penting (Persamaan 7) masing-masing jenis
pohon7.
(1)

(2)

...(3)

(4)

(5)

(6)

Tingkat keanekaragaman jenis (diversitas) dihitung dengan


menggunakan persamaan Shannon Index of Diversity (Persamaan 8)8
sebagai berikut :

(H) = (8)

55
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

dimana nilai H merupakan Indeks Keanekaragaman Shannon (Shannon


Index of Diversity), adalah Proporsi individu jenis ke-I terhadap semua
jenis, adalah Jumlah individu suatu jenis, dan adalah Jumlah individu
seluruh jenis. Selanjutnya untuk mengetahui kaitan antara struktur dan
komposisi vegetasi terhadap keberadaan anoa (jumlah jejak kaki yang
ditemukan) digunakan uji korelasi dengan tingkat kepercayaan yang
digunakan sebesar 95 %.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil penelitian yang dilakukan di Taman Nasional Bogani Nani
Wartabone pada kawasan Kompleks Gunung Poniki diketahui bahwa jumlah
pohon yang ditemukan adalah 98 jenis (95 jenis telah teridentifikasi) yang
berasal dari 48 famili dengan jumlah individu sebanyak 4.762. Jumlah
tersebut tidak berbeda jauh dengan hasil penelitian yang telah dilakukan
Gunawan,10 pada lokasi yang sama ditemukan jenis pohon sebanyak 107
jenis. Hasil pencatatan di Kompleks Gunung Poniki tersebut juga sesuai
dengan yang dinyatakan Vickery dalam Indriyanto7 bahwa jumlah jenis
pohon yang ditemukan dalam hutan hujan tropis lebih banyak
dibandingkan dengan yang ditemukan pada ekosistem lainnya, seperti jika
dibandingkan dengan hasil komposisi vegetasi pada blok Adudu di SM
Nantu Gorontalo yang merupakan hutan dataran rendah, tercatat sebanyak
61 jenis10
Hasil tabulasi menunjukkan bahwa jumlah individu terbanyak yang
ditemukan yaitu jenis Orophea sp dengan jumlah individu 1.039, diikuti oleh
Calophyllum soulattri Burm.f.dan Psychotria sp masing-masing sebanyak
532 dan 251 individu.

56
Keterkaitan Struktur dan Komposisi Vegetasi..
Arif Irawan

Tabel 1. Sepuluh jenis dominan di petak contoh Kompleks Gunung Poniki


TNBNW

Jumlah
No Nama Latin Family
Individu
1 Orophea sp. Annonaceae 1039
2 Calophyllum soulattri Burm.f. Clusiaceae 532
3 Psychotria sp. Rubiaceae 251
4 Meliosma nitida Blume. Sabiaceae 207
5 Alangium javanicum Wang. Alangiaceae 194
6 Aphanamixis grandifolia Blume. Meliaceae 173
7 Crypteronia griffithii Clarke. Crypteroniaceae 161
8 Cratoxylum celebicum Blume. Hypericaceae 157
9 Antidesma montanum Blume. Euphorbiaceae 142
10 Tricalysia minahasae Comb. Rubiaceae 130

Selanjutnya dari tabel 2 dapat diketahui keragaman famili


berdasarkan perbandingan antara jumlah jenis dan jumlah individu pohon
yang terdapat di lokasi.
Tabel 2. Sepuluh famili dominan di petak contoh Kompleks Gunung Poniki
TNBNW
Jumlah Prosentase Jumlah Prosentase
No Famili
Individu (%) Jenis (%)
1 Annonaceae 1095 22.99 5 5.26
2 Euphorbiaceae 345 7.24 9 9.47
3 Lauraceae 57 1.20 5 5.26
4 Meliaceae 252 5.29 6 6.32
5 Moraceae 55 1.15 4 4.21
6 Myristicaceae 73 1.53 4 4.21
7 Rubiaceae 521 10.94 5 5.26
8 Anacardiaceae 5 0.10 3 3.16
9 Elaeocarpaceae 30 0.63 3 3.16
10 Sapindaceae 85 1.78 3 3.16

57
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

Jumlah jenis tertinggi yang ditemukan pada Kompleks Gunung Poniki


adalah dari famili Euphorbiaceae dengan jumlah jenis sebanyak 9
(sembilan) jenis (9,47%) dan jumlah individu 345 individu, diikuti Famili
Meliaceae sebanyak 6 (enam) jenis (6,32%) dengan jumlah individunya 252
individu.
Struktur tegakan pohon di Kompleks Gunung Poniki dibagi
berdasarkan kelas diameter < 10 cm, 10-20 cm, 20-30 cm, 30-40 cm dan
diameter > 40 cm. Struktur tegakan pohon adalah hubungan antara
banyaknya pohon dengan kelas diameter dan tinggi dalam suatu plot
penelitian.11 Nilai ini diharapkan dapat menggambarkan keadaan tegakan
yang berada di suatu wilayah tertentu secara umum. Kelas diameter yang
mendominasi tegakan di Kompleks Gunung Poniki adalah tingkat diameter
< 10 cm dan semakin menurun pada kelas diameter selanjutnya. Grafik
struktur tegakan secara lengkap dapat ditampilkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Struktur tegakan berdasarkan hubungan antara kelas diameter dengan


jumlah pohon di Kompleks Gunung Poniki.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebaran pohon di lokasi


kawasan Kompleks Gunung Poniki menyerupai huruf J terbalik (Gambar
1). Hal ini menunjukkan bahwa populasi pohon yang berdiameter besar

58
Keterkaitan Struktur dan Komposisi Vegetasi..
Arif Irawan

relatif menurun drastis seiring dengan pohon yang berdiameter kecil


sehingga secara umum mengakibatkan jumlah pohon menurun secara
drastis seiiring dengan pertumbuhan kelas diameter. Kondisi tersebut
merupakan hal yang normal bagi keberadaan suatu hutan alam, karena
biasanya komposisi pohon berdiameter kecil lebih banyak jumlahnya dari
pohon berdiameter besar. Hal ini dimungkinkan adanya tingkat persaingan
antar individu tumbuhan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya berupa
cahaya, air tanah, oksigen, unsur hara, dan karbon dioksida.
Struktur tinggi pohon di Kompleks Gunung Poniki diperoleh dengan
membagi berdasar stratifikasi tajuk yang merupakan susunan tumbuhan
secara vertikal di dalam suatu komunitas tumbuhan atau ekosistem hutan.
Tiap lapisan dalam stratifikasi itu disebut stratum. Stratifikasi tajuk
komunitas hutan di Kompleks Gunung Poniki tersusun atas stratum yang
lengkap mulai stratum A hingga E. Secara lengkap jumlah pohon pada
masing-masing tingkatan stratum dapat dilihat pada Gambar 2.

A : Tinggi tegakan 30 m; B : Tinggi tegakan 20-30 m; C : Tinggi tegakan 4-20 m;


D : Tinggi tegakan 1-4 m; E : Tinggi tegakan 0-1 m

Gambar 2. Tingkat stratifikasi pohon di Kompleks Gunung Poniki.

59
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

Indriyanto8 menjelaskan bahwa adanya tingkat stratum dikarenakan


persaingan antar tumbuhan serta sifat toleransi spesies pohon terhadap
radiasi matahari. Selain itu stratum juga menunjukkan kelas umur dari
masing-masing vegetasi penyusun hutan. Perbedaan tersebut dapat dilihat
dari tidak seragamnya tajuk-tajuk pohon (stratum) di Komplek Gunung
Poniki, atau dengan kata lain di hutan ini terdapat perbedaan kelas umur
dari setiap vegetasi. Hal ini disebabkan karena pada hutan hujan tropis,
faktor lingkungan berfluktuasi. Seperti yang umum dijumpai pada tegakan
hutan alam di hutan hujan tropis bahwa stratifikasi (pelapisan tajuk hutan)
berkembang dengan baik sehingga hutan hujan tropis yang sempurna akan
memiliki lima strata atau lapisan tajuk hutan, yaitu strata A, B, C, D dan E.
Kondisi seperti ini mencerminkan tegakan hutan tidak seumur.7
Selanjutnya untuk mengetahui tingkat komposisi suatu habitat
digunakan analisis vegetasi, yaitu suatu cara untuk mempelajari susunan
dan atau komposisi vegetasi secara bentuk vegetasi dari masyarakat
tumbuh-tumbuhan. Dengan analisis vegetasi diharapkan dapat diketahui
komposisi vegetasi suatu ekosistem yang merupakan keseluruhan genetik
dan jenis-jenis tumbuhan di dalam kawasan suatu ekosistem.
Hasil analisis vegetasi terhadap semua jumlah jenis yang ada di lokasi
Kompleks Gunung Poniki diperoleh jumlah masing-masing tingkatan pohon
sebanyak 89 jenis untuk anakan pohon, 66 jenis untuk tingkat pohon muda
dan 37 jenis untuk tingkat pohon. Untuk menggambarkan secara kuantitatif
keadaan vegetasi dari hasil analisis vegetasi digunakan parameter
Kerapatan relatif (KR), Frekuensi Relatif (FR), Dominasi Relatif (DR) dan
Indeks Nilai Penting (INP).
Berdasarkan hasil perhitungan (Tabel 3) didapatkan nilai KR dominan
di Kompleks Gunung Poniki untuk tingkat anakan pohon adalah jenis
Orophea sp. dan Calophyllum soulattri Burm. Selanjutnya diketahui jenis
Orophea sp, C. soulattri, Iilex cymosa Lamk, merupakan jenis yang paling
tersebar karena ketiganya memiliki nilai FR yang terbesar. Untuk nilai
Dominasi di Kompleks Gunung Poniki pada tingkatan ini jenis yang
menonjol adalah jenis Orophea sp, C. soulattri dan Psychotria sp. Indeks
Nilai Penting (INP) untuk tingkat anakan pohon di Kompleks Gunung Poniki

60
Keterkaitan Struktur dan Komposisi Vegetasi..
Arif Irawan

tertinggi adalah Orophea sp., diikuti jenis C. soulattri dan Psychotria sp.
Urutan nilai INP (Tabel 2) menggambarkan secara berurutan bahwa jenis-
jenis tersebut merupakan jenis yang memiliki tingkat kepentingan yang
lebih tinggi pada Kompleks Gunung Poniki dibandingkan jenis pohon yang
lainnya atau dengan kata lain Kompleks Gunung Poniki merupakan habitat
yang penting bagi keberadaan jenis-jenis tersebut. Dominasi tingkat
anakan kelima jenis tersebut menunjukkan kemampuannya untuk
mencapai lokasi distribusi dibandingkan jenis-jenis yang lain.

Tabel 3. Lima Jenis dominan pada tingkat anakan pohon (sapling) di petak
contoh Kompleks Gunung Poniki TNBNW

Jenis KR FR DR INP
No Famili
(Species) (%) (%) (%) (%)
1 Orophea sp. Annonaceae 21.318 3.502 33.015 57.835
2 Calophyllum
soulattri Burm.f. Guttiferae 11.843 3.502 5.799 21.145
3 Psychotria sp. Rubiaceae 5.844 3.113 5.778 14.735
4 Meliosma nitida
Blume. Sabiaceae 4.403 2.335 4.482 11.219
5 Alangium
javanicum Wang. Alangiaceae 3.193 3.307 4.090 10.590
Ket :KR=Kerapatan Relatif; FR=Frekuensi Relatif; DR=Dominasi Relatif; INP=Indeks Niai Penting

Selanjutnya dari hasil perhitungan (Tabel 4) diketahui nilai Kerapatan


Relatif (KR) tingkat pohon muda didominasi oleh jenis Orophea sp. diikuti
oleh jenis A. javanicum dan C soulattri. Sedangkan nilai Frekuensi Relatif
(FR) pada tingkatan pohon muda didominasi secara berturut-turut adalah
jenis Orophea sp., A. javanicum dan C. soulattri. Jenis Orophea sp. dan C.
soulattri merupakan jenis yang tetap konsisten untuk tetap dominan seperti
pada tingkatan anakannya. Hal ini berarti bahwa kedua jenis tersebut
memiliki tingkat persaingan yang lebih menonjol terhadap jenis lainnya
atau juga karena faktor regenerasi yang sangat baik. Untuk nilai Dominasi
Relatif (DR) pada tingkatan pohon muda didominasi jenis Orophea sp., A.

61
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

javanicum,C. soulattri . Tidak seperti halnya pada tingkatan anakan


sebelumnya nilai Dominasi Relatif untuk Orophea sp pada tingkatan ini
tidak terlampau jauh dengan nilai Dominasi Relatif kedua. Hal ini
dikarenakan selain faktor jumlah individunya yang semakin berkurang
dibanding tingkatan sebelumnya juga karena jenis ini bukan merupakan
jenis pohon yang berdiameter besar dibanding jenis pohon yang lain seperti
Ficus sp., A. javanicum, dan C. soulattri. Indeks Nilai Penting (INP) tingkat
pohon muda masih didominasi oleh jenis-jenis yang mendominasi pada
tingkat anakan pohon. Selain jenis A. javanicum dan jenis pohon lain yang
mendominasi antara lain Orophea sp. dan C. soulattri. Berdasarkan hasil ini
dapat diketahui bahwa tingkat kepentingan jenis pohon tertinggi terhadap
Kompleks Gunung Poniki adalah jenis Orophea sp. Dominasi pada tahap
pohon muda ini menunjukkan kemampuan jenis tersebut untuk beradaptasi
lebih baik dibandingkan jenis lainnya.

Tabel 4. Lima jenis dominan pada tingkat pohon muda (Poles) di petak
contoh Kompleks Gunung Poniki TNBNW

Jenis KR FR DR INP
No Famili
(Species) (%) (%) (%) (%)
1 Orophea sp. Annonaceae 27.563 6.391 17.788 51.742
2 Alangium
javanicum Wang. Alangiaceae 8.123 6.015 8.569 22.706
3 Calophyllum
soulattri Burm.f. Guttiferae 6.258 5.263 6.379 17.901
4 Antidesma
montanum
Blume. Euphorbiaceae 4.794 4.511 6.024 15.328
5 Meliosma nitida
Blume. Sabiaceae 4.394 4.511 3.999 12.904
Ket :KR=Kerapatan Relatif; FR=Frekuensi Relatif; DR=Dominasi Relatif; INP=Indeks Niai Penting

62
Keterkaitan Struktur dan Komposisi Vegetasi..
Arif Irawan

Hasil perhitungan pada tingkat pohon (Tabel 5) dapat diketahui


bahwa jenis C. soulattri, Chionanthus macrophylla Wall., dan A. javanicum
merupakan jenis yang mempunyai nilai Kerapatan Relatif (KR) lebih
dominan dibandingkan jenis lainnya. Jenis Orophea sp., yang sebelumnya
sangat menonjol sudah tidak mendominasi lagi. Hal ini disebabkan jenis
Orophea sp. jarang ditemukan memiliki diameter di atas 35 cm, sehingga
hanya jenis-jenis pohon yang berdiameter besar akan memiliki
perbandingan lurus dengan jumlah individunya pada tingkat pohon.
Nilai Frekuensi Relatif (FR) dominan untuk tingkat pohon secara
berurutan adalah jenis C. soulattri, Ficus sp, jenis C. macrophylla dan
Dillenia serrata Thunb. D. serrata atau dikenal dengan nama leler, memilki
nilai Kerapatan Relatif yang cukup tinggi. Jenis tersebut merupakan salah
satu pohon yang dimanfaatkan buahnya oleh anoa sebagai pakan.
Selanjutnya nilai Dominasi Relatif (DR) dominan adalah jenis Ficus sp., C.
soulattri, Michelia alba Dc. Jenis Ficus sp. secara individu lebih jarang
ditemukan, tetapi jenis ini memiliki nilai diameter lebih besar per
individunya, sehingga nilai Dominasi Relatif (DR) jenis ini merupakan jenis
yang dominan.
Indeks Nilai Penting (INP) tingkat pohon didominasi oleh C. soulattri,
Ficus sp., dan diikuti jenis C. macrophylla. Pada tingkat pohon jenis C.
soulattri memiliki tingkat kepentingan terhadap Kompleks Gunung Poniki
bukan lagi jenis Orophea sp. Dominasi terhadap jenis-jenis pada tingkat
pohon menunjukkan bahwa jenis tersebut mampu beradaptasi dan
beregenerasi pada habitatnya.

63
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

Tabel 5. Lima jenis dominan pada tingkat pohon (trees) di petak contoh
Kompleks Gunung Poniki TNBNW

Jenis KR FR DR INP
No Famili
(Species) (%) (%) (%) (%)
1 Calophyllum
soulattri Burm.f. Guttiferae 10.853 10.101 11.152 32.106
2 Ficus sp. Moraceae 6.202 7.071 17.312 30.584
3 Chionanthus
macrophylla
Wall. Oleaceae 6.977 6.061 6.561 19.599
4 Michelia alba Magnoliac
Dc. eae 4.651 5.051 9.705 19.406
5 Ardisia villosa Myrsinace
Roxb. ae 6.202 4.040 8.594 18.836
Ket :KR=Kerapatan Relatif; FR=Frekuensi Relatif; DR=Dominasi Relatif; INP=Indeks Niai Penting

Hasil analisis vegetasi dari ketiga tingkatan yang telah diuraikan di


atas mengindikasikan bahwa regenerasi vegetasi di Kompleks Gunung
Poniki tergolong cukup baik. Hal ini dapat dilihat dari dominasi jenis yang
sama pada tingkat anakan dan pohon muda, sedangkan pada tingkat
pohon didominasi jenis berbeda dipengaruhi karakteristik jenis pohon.
Berdasarkan nilai INP tersebut dapat diketahui bahwa Kompleks Gunung
Poniki merupakan tipe hutan dengan klasifikasi hutan campuran.
Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan nilai korelasi (r) untuk
mengetahui keterkaitan kerapatan pohon terhadap keberadaan anoa
adalah sebesar 0,072 dengan nilai signifikasi sebesar 0,778. Nilai tersebut
lebih besar dari 0,05, sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada keterkaitan
atau hubungan yang signifikan antara tingkat kerapatan pohon terhadap
keberadaan anoa. Sedangkan nilai korelasi (r) untuk mengetahui hubungan
dominasi pohon terhadap keberadaan anoa adalah sebesar 0,119 dengan
besaran nilai signifikansinya adalah 0,638. Berdasarkan nilai tersebut maka
dapat dikatakan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara variabel

64
Keterkaitan Struktur dan Komposisi Vegetasi..
Arif Irawan

tingkat dominasi pohon terhadap keberadaan anoa. Untuk nilai keragaman


jenis pohon dalam suatu wilayah dapat diketahui melalui nilai indeks
keanekaragaman jenis. Nilai ini merupakan gambaran tingkat
keanekaragaman jenis dalam suatu komunitas tumbuhan. Jika nilainya
semakin tinggi maka semakin meningkat pula tingkat keanekaragaman
komunitas tersebut. Dari hasil perhitungan didapatkan nilai korelasi (r)
adalah 0,009 dengan nilai signifikansi sebesar 0,972. Berdasarkan nilai
tersebut karena signifikansi yang lebih besar dari 0,05 maka tidak terdapat
hubungan yang signifikan antara variabel keragaman jenis pohon terhadap
keberadaan anoa di Kompleks Gunung Poniki.
Hasil perhitungan pengaruh ketiga variabel struktur dan komposisi
tersebut dapat diketahui bahwa dalam memilih daerah habitat dan juga
daerah jelajahnya (home range), satwa ini tidak berdasarkan faktor tingkat
kerapatan, tingkat dominasi, dan tingkat keragaman jenis pohon yang ada
pada wilayah tersebut. Dari pengamatan di lapangan dimungkinkan
terdapat faktor-faktor lain yang berpengaruh, sehingga disinyalir
keberadaan anoa di suatu lokasi di Kompleks Gunung Poniki dipengaruhi
gabungan beberapa faktor yang terkait dengan kebutuhannya dalam
bertahan hidup. Beberapa faktor lain yang mungkin menjadi pendorong
anoa menempati suatu habitat tertentu tersebut antara lain faktor akses
manusia ke lokasi, keberadaan sumber pakan, ketersediaan garam mineral,
kerapatan tajuk pohon, kerapatan tumbuhan bawah dan jarak lokasi dari
sungai.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN


Struktur dan komposisi vegetasi yang meliputi variabel kerapatan,
dominasi, dan keragaman pohon tidak dapat dijadikan ukuran parameter
keberadaan anoa pada kawasan ini. Jumlah jenis pohon yang ditemukan di
TN Bogani Nani Wartabone pada kawasan kompleks Gunung Poniki
sebanyak 98 jenis (95 jenis telah teridentifikasi) berasal dari 48 famili,
dengan jumlah individu dan famili yang mendominasi adalah jenis Orophea
sp dan famili Euphorbiaceae. Sebaran kurva pohon di lokasi Kompleks

65
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

Gunung Poniki menyerupai huruf J terbalik dan tingkat stratifikasi


vegetasi tersusun atas stratum tajuk lengkap. Komposisi jenis di kawasan ini
didominasi jenis Orophea sp. pada tingkat anakan pohon dan pohon muda,
sedangkan pada tingkat pohon yang didominasi oleh jenis Calophyllum
soulattri Burm.f. Saran berdasarkan hasil penelitian ini adalah untuk
mengetahui keberadaan Anoa di kompleks Gunung Poniki dapat diketahui
pada lokasi-lokasi yang dimungkinkan memilki kecenderungan faktor akses
manusia ke lokasi, keberadaan sumber pakan, ketersediaan garam mineral,
kerapatan tajuk pohon, kerapatan tumbuhan bawah dan dimungkinkan
pula jarak lokasi tersebut dari sungai.

UCAPAN TERIMA KASIH


Ucapan terimakasih disampaikan kepada Diah Irawati Dwi Arini, S.Hut
dan Lis Nurrani, S.Hut atas ijin penggunaan data untuk bahan analisis dalam
tulisan ini serta kepada Yermias Kafiar, Sumarno N. Patandi, Harwiyaddin
Kama, dan Syamsir Shabri yang telah banyak membantu pekerjaan di
lapangan.

DAFTAR PUSTAKA

1
Marthen. T.L 2003 Fauna Endemik Sulawesi : Permasalahan dan Usaha
Konservasi
2
Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Satwa
Tumbuhan tanggal 27 Januari 1999
3
IUCN. 2010. The IUCN Red List of Threatened Species www.iucnredlist.org. Diakses
28 Maret 2011
4
Convention on International Trade in Endangared Species of Wild Fauna and Flora.
www.cites.org. Diakses 28 Maret 2011
5
Mustari, A.H. 2003. Ecology and conservation of lowland Anoa (Bubalus
depressicornis) in Sulawesi, Indonesia. Disertasi. University of New
England. England.
6
Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. 2006. Revisi Zonasi Taman Nasional
Bogani Nani Wartabone. Kotamobagu, Sulawesi Utara.
7
Indriyanto. 2010. Ekologi Hutan. Bumi Aksara. Jakarta.

66
Keterkaitan Struktur dan Komposisi Vegetasi..
Arif Irawan

8
Irwanto. 2007. Analisis Vegetasi untuk Pengelolaan Kawasan Hutan Lindung Pulau
Marsegu, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku. Sekolah Pasca
Sarjana UGM Yogyakarta.
9
Gunawan, H. 1998. Struktur Vegetasi dan Status Populasi Satwaliar di Kompleks
Hutan Gunung Poniki Taman Nasional Bogani Nani Wartabone Sulawesi
Utara.Buletin Penelitian Kehutanan 3(2):66-84.
10
Arini, Irawan, Nurrani, Kafiar, Patandi, Kama, Shabri. 2010. Kajian populasi dan
Habitat Anoa (Bubalus spp) pada Kawasan Konservasi di provinsi Sulawesi
Utara dan Gorontalo. Laporan Penelitian. Balai Penelitian Kehutanan
Manado. Manado.
11
Samsoedin I. N.M,Heriyanto, dan E. Subiandono. 2010. Struktur dan Komposisi
Jenis Tumbuhan Hutan Pamah di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus
(KHDTK) Carita, Provinsi Banten, Jurnal Penelitian dan Konservasi Alam 8 (2)
:134-148.

67
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

Lampiran 1

Tabel 1. Struktur vegetasi masing-masing plot dan data jejak anoa yang
dicatat
Tingkat Tingkat Jumlah
Plot Tingkat Dominasi
Kerapatan Keragaman Jejak
1 161.8289 493.4956 2.74 3
2 212.0863 422.6847 3.15 4
3 284.4571 523.6259 3.22 6
4 266.3644 317.0591 2.26 2
5 332.7042 755.3141 2.47 4
6 270.385 257.584 2.52 2
7 329.6888 322.3943 3.15 6
8 230.179 487.0555 2.79 7
9 352.8072 392.15216 2.75 3
10 293.5034 353.6909 2.59 7
11 249.2769 492.3722 2.39 15
12 213.0915 168.6085 2.26 2
13 281.4416 452.655 2.97 4
14 226.1584 200.5552 2.71 3
15 319.6373 535.7021 2.52 7
16 176.9061 326.1399 2.66 2
17 255.3077 238.7066 2.75 15
18 330.6939 385.3639 2.88 3

68
Tabel 2. Output Korelasi Jejak Anoa terhadap Tingkat Kerapatan, Dominasi, dan Keragaman
Pohon di Kompleks Gunung Poniki

Correlations

jumlah_jejak Kerapatan Keragaman Dominasi


jumlah_jejak Pearson Correlation 1 .072 .009 .119
Sig. (2-tailed) .778 .972 .638
N 18 18 18 18
Kerapatan Pearson Correlation .072 1 .107 .285
Sig. (2-tailed) .778 .674 .252
N 18 18 18 18
Keragaman Pearson Correlation .009 .107 1 .129
Sig. (2-tailed) .972 .674 .610
N 18 18 18 18
Dominasi Pearson Correlation .119 .285 .129 1
Sig. (2-tailed) .638 .252 .610
N 18 18 18 18
Keterkaitan Struktur dan Komposisi Vegetasi..
Arif Irawan

69
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

70
Karakteristik Pemanfaatan Lahan Hutan oleh Masyarakat..
Lis Nurrani

KARAKTERISTIK PEMANFAATAN LAHAN HUTAN OLEH MASYARAKAT


SEKITAR KAWASAN TAMAN NASIONAL BOGANI NANI WARTABONE
The Characteristic of Using Land by communities about Bogani Nani
Wartabone National Park

Lis Nurrani

Balai Penelitian Kehutanan Manado


Jalan Raya Adipura Kel. Kima Atas, Kec. Mapanget-Manado. Telp. (0431) 3666683
Email : yoe_lizz@yahoo.com

ABSTRACT
Research patterns of forest land use by local communities within the National Park
Bogani Nani Wartabone conducted in four villages namely Mengkang, Lolanan,
matayangan and Toraut Village. The purposed of this studied was identified
patterns of forest land use and its impact on socio-economic and forest
communities. The method of collected data through interviews using questionnaires
list of people who make land use, the respondents in each village as many as 30
people. The majority rural communities as farmers and farm workers as a result of
lack livelihood in rural and other low skills in the field of community is one of the
causes of forest land into agricultural land. The result showed that the applied
pattern of society in the form of polyculture gardens (85%) and the fields of
monoculture or polyculture. Garden dominated by annual crops such as coconut,
chocolate, clove, coffee and vanilla, while the field is dominated by corn and
soybean crops. The result of cross tabulation, followed by chi square test showed
that there was no causal relationship between the origins population variables of
the status of land ownership and also there is no causal linkage between the
variable area of the average revenue per in the community. Incomes are still below
the minimum wage as much as 72% of North Sulawesi. Polyculture garden gives the
production function and the function is relatively balanced, while the field has only
the production function.

Keywords : Land use, community, national parks

71
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

ABSTRAK
Penelitian pola pemanfaatan lahan hutan oleh masyarakat lokal di dalam kawasan
Taman Nasional Bogani Nani Wartabone dilaksanakan pada empat desa yaitu Desa
Mengkang, Desa Lolanan, Desa Toraut dan Desa Matayangan. Tujuan penelitian ini
adalah untuk mengidentifikasi pola-pola pemanfaatan lahan hutan dan dampak
ekologis terhadap hutan serta sosial ekonomi masyarakat setempat. Metode
pengumpulan data menggunakan daftar kuesioner terhadap masyarakat yang
melakukan pemanfaatan lahan di dalam kawasan. Responden diambil secara
purposive random sampling sebanyak 30 orang tiap desa. Analisis data
menggunakan analisis tabulasi silang (cross tab) yang dilanjutkan dengan uji chi
square test. Kondisi masyarakat desa yang mayoritas sebagai petani dan buruh tani
sebagai akibat dari kurangnya mata pencaharian di desa serta rendahnya
keterampilan masyarakat di bidang lainnya merupakan salah satu penyebab adanya
pemanfaatan lahan hutan menjadi lahan pertanian. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa pola yang diterapkan masyarakat berupa kebun polikultur (85%) dan ladang
monokultur maupun polikultur. Kebun didominasi oleh tanaman tahunan seperti
kelapa, coklat, cengkeh, kopi dan vanili, sedangkan ladang didominasi oleh
tanaman musiman jagung dan kedelai. Hasil analisis tabulasi silang yang dilanjutkan
dengan uji chi square test menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang
signifikan antara variabel asal-usul penduduk dengan status kepemilikan lahan
demikian juga untuk variabel luas lahan dengan pendapatan petani. Hasil penelitian
juga menunjukkan bahwa pendapatan masyarakat masih dibawah UMP Sulawesi
Utara sebanyak 72%. Kebun polikultur memberikan fungsi produksi dan fungsi
relatif seimbang sedangkan ladang hanya memiliki fungsi produksi.

Kata kunci : Pemanfaatan lahan, masyarakat, Taman Nasional

I. PENDAHULUAN
Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) termasuk dalam
tipe ekosistem hutan dataran rendah dan dataran tinggi. Memiliki
keanekaragaman jenis yang sangat tinggi sehingga menjadi kantong
kawasan konservasi darat bagi tumbuhan dan satwa yang sangat potensial
di sepanjang jazirah pulau Sulawesi. Satwa endemik yang menghuni
diantaranya adalah maleo, babirusa, rangkong sulawesi, tarsius dan monyet
sulawesi. Sedangkan jenis tumbuhan endemik antara lain kayu matayangan,
kayu inggris, eboni dan berbagai jenis anggrek (BTNBNW, 2006)

72
Karakteristik Pemanfaatan Lahan Hutan oleh Masyarakat..
Lis Nurrani

Tekanan penduduk terhadap lahan yang semakin meningkat


didorong oleh adanya potensi kawasan hutan seperti kayu, lahan subur dan
potensi lainnya menyebabkan tingkat kerusakan ekosistem TNBNW
tergolong tinggi.
Adanya benturan kepentingan antara pemenuhan kebutuhan
masyarakat sekitar kawasan dengan kepentingan konservasi dapat
menimbulkan konflik yang akan berakibat buruk pada kelestarian hutan itu
sendiri. Untuk mengetahui sejauh mana dampak dari pemanfaatan lahan
hutan ini maka perlu dilakukan penelitian bentuk-bentuk pemanfaatan
lahan hutan yang dilakukan oleh masyarakat di dalam kawasan TNBNW.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi pemanfaatan
lahan hutan dan dampaknya terhadap kelestarian hutan.

II. METODE PENELITIAN


A. Risalah Lokasi Penelitian
1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2010 di empat desa
yang berada di sekitar kawasan TNBNW yaitu Desa Mengkang, Kecamatan
Lolayan; Desa Lolanan, Kecamatan Sang Tombolang; Desa Toraut, dan Desa
Matayangan, Kecamatan Dumoga Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow-
Sulawesi Utara.

2. Letak dan Luas


Taman Nasional Bogani Nani Wartabone secara geografis terletak
antara 020 05 LU dan 123 0 12418 BT. Secara administratif wilayah
ini terletak pada dua provinsi yaitu Provinsi Sulawesi Utara (Kabupaten
Bolaang Mongondow, meliputi 14 kecamatan) dan Provinsi Gorontalo
(Kabupaten Bone Bolango, meliputi 4 kecamatan). Kawasan ini ditetapkan
dengan Keputusan Menteri Kehutanan nomor 724/Kpts-II/1993 tanggal 8
Nopember 1993 dengan luas 287.115 ha dengan perincian seluas
170.115 ha di Provinsi Sulawesi Utara dan 110.000 ha terletak di Provinsi
Gorontalo.

73
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

3. Keadaan Topografi, Tanah dan Iklim


Kondisi topografi kawasan TNBNW bervariasi mulai dari datar,
bergelombang, sampai berbukit dan bergunung pada ketinggian 50-1.970
mdpl. Sebagian besar wilayah atau sekitar 90% luas TNBNW mempunyai
kelerengan 25-45%. Jenis-jenis tanah yang ditemukan di kawasan TNBNW
meliputi latosol, podsolik, renzina, aluvial dan andosol. Bahan induk tanah
terutama berasal dari bahan vulkanis (BTNBNW, 2006). Pada kawasan yang
mengandung batuan kapur dan vulkanik biasanya bertopografi terjal
dengan tanah dangkal bertekstur sedang dan peka terhadap erosi.
Tipe iklim di kawasan TNBNW berdasarkan klasifikasi iklim Schmidt
dan Ferguson tergolong tipe A, B dan C. Curah hujan relatif merata
sepanjang tahun dengan periode musim penghujan di bulan Nopember-
Januari dan Maret-Mei, sedangkan periode kering pada bulan agustus-
September. Secara umum curah hujan rata-rata tahunan di Lembah
Dumoga sebesar 1.700 - 2.200 mm/th, sedangkan di wilayah Gorontalo
sebesar 1.200 mm/th. Kelembaban udara disekitar kawasan pada umumnya
tinggi.

4. Kondisi Ekosistem dan Zonasi


Keragaman tipe ekosistem pada kawasan TN BNW dibagi menjadi 4
tipe ekosistem utama, yaitu ekosistem hutan sekunder pada daerah bekas
penambangan, perambahan yang tidak terpelihara; ekosistem hutan hujan
dataran rendah (hutan pamah) ditemukan pada ketinggian 300-1000 m dpl,
umumnya terletak di atas batuan vulkanis; ekosistem hutan hujan
pegunungan rendah terdapat pada ketinggian 1000-1600 m dpl, kanopi
rendah dan sedikit terbuka, vegetasi bawah cukup tebal dengan jenis-jenis
rotan, pandan, dan paku-pakuan; dan ekosistem hutan lumut pada
ketinggian di atas 1600 m dpl, disekitar puncak pegunungan (BTNBNW,
2006).
Taman Nasional Bogani Nani Wartabone terbagi menjadi empat zona
(revisi tahun 2006) yaitu zona inti, zona rimba, zona pemanfaatan dan zona
rehabilitasi. Zona rehabilitasi diperuntukkan pada lokasi-lokasi yang
mengalami kerusakan atau perubahan fungsi. Zona ini diarahkan untuk

74
Karakteristik Pemanfaatan Lahan Hutan oleh Masyarakat..
Lis Nurrani

pengembalian ekosistem kawasan yang rusak menjadi atau mendekati


kondisi ekosistem alaminya dengan melibatkan masyarakat.
B. Bahan dan Alat Penelitian
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi sebagian
kawasan TNBNW beserta masyarakat sekitarnya yang beraktivitas didalam
kawasan tersebut.
Alat yang digunakan adalah Peta kerja, GPS, kamera, Tally sheet,
kuesioner, milimeter blok, tali plastik, voice recorder, papan data dan alat
tulis.
C. Prosedur Penelitian
Metode yang digunakan untuk pengumpulan data adalah dengan
wawancara, kuesioner, observasi dan studi literatur. Penarikan sampel
secara purposive random sampling, setiap desa dipilih 30 KK sebagai
responden. Sehingga jumlah responden keseluruhan ada 120 KK yang
tersebar di empat desa. Untuk menggambarkan struktur dan komposisi
lahan digambarkan melalui sketsa dengan ukuran 20 x 50 m.
D. Analisa Data
x Data dan informasi hasil pengamatan dikompilasi dalam bentuk tabel
frekuensi, kemudian dideskripsikan dan diinterpretasikan menggunakan
analisis deskriptif untuk menggambarkan pola pemanfaatan lahan, jenis
tanaman, potensi lahan dan kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar
kawasan taman nasional.
x Analisis tabulasi silang (crosstab) dengan pengujian chi square test
dilakukan pada variabel asal-usul penduduk terhadap status kepemilikan
serta variabel luas lahan terhadap pendapatan yang diperoleh untuk
mengetahui pengaruh hubungan antar variabel tersebut.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


1. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Sekitar TN. Bogani Nani Wartabone
Kondisi sosial masyarakat di empat desa sekitar kawasan taman
nasional dapat dilihat pada Tabel 1.

75
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

Table 1. Kondisi sosial masyarakat di empat desa sekitar kawasan TNBNW


Lokasi Desa
Karakteristik Desa Desa Desa
Desa Toraut
Mengkang Lolanan Matayangan
Asal - usul Asli (100%) Asli (83%) Asli (63%) Asli (20%)
penduduk Pendatang Pendatang Pendatang
(17%) (37%) (80%)
Jumlah KK 55 228 926 214
Petani dan Petani dan Petani dan Petani dan
buruh tani buruh tani buruh tani buruh tani
( 98%) (90%) (78%) (90%)
Pekerjaan :
Pedagang Pedagang Pedagang (10%) buruh panjat
(2%) (10%) Pertambangan kelapa (10%)
(12 %)
Bahan utama
Kayu Kayu, Bata Kayu Kayu
perumahan
Jarak ke
- hutan 0,5 - 4 km 1 - 2 km * *
- lahan garapan 0,5 - 6 km 4 - 5 km 0 30 km 1 6 km
(*) tidak ada data
Keterangan :
x Penduduk asli merupakan masyarakat suku Mongondow yang merupakan suku
asli di Sulawesi Utara khususnya di Bolaang Mongondow.
x Penduduk pendatang merupakan masyarakat yang berasal dari luar suku
Mongondow seperti suku lain di wilayah Silawesi Utara dan transmigran dari
Jawa dan Bali.

Masyarakat sekitar kawasan TNBNW di empat desa didominasi oleh


suku asli Mongondow. Suku pendatang berasal dari Minahasa, Sanger dan
Bugis serta transmigran dari Jawa dan Bali sejak tahun 1970-an
(transmigran khusus di desa Matayangan). Mata pencaharian utama
mereka adalah petani dan buruh tani bagi mereka yang tidak memiliki lahan
garapan sendiri. Pekerjaan sampingan yang sering dilakukan adalah sebagai
buruh panjat kelapa, buruh petik cengkeh, buruh angkut peralatan tambang
dari desa ke lokasi galian, dan buruh angkut tanah yang mengandung emas

76
Karakteristik Pemanfaatan Lahan Hutan oleh Masyarakat..
Lis Nurrani

dari lokasi galian menuju tempat pengolahan emas. Pekerjaan sampingan


dilakukan pada masa jeda setelah masa tanam selesai dan sebelum datang
masa panen. Penghasilan dari pekerjaan sampingan ini sangat bermanfaat
membantu pemenuhan kebutuhan hidup karena hasil panen tidak
memadai, serta dijadikan sebagai modal yang digunakan sebagai biaya pada
masa tanam dan panen nanti.
Hasil pengamatan terhadap responden pada empat desa sekitar
TNBNW menunjukkan bahwa rata-rata masyarakat berpenghasilan di atas
Rp. 1.000.000 sebesar 28 %, 48% berpenghasilan antara Rp 500.000 Rp.
1.000.000, dan 24% yang masih di bawah Rp. 500.000 (Grafik 1). Menurut
Sukanto (2000) dalam buku ekonomi perkotaan, ukuran kemiskinan
bermacam-macam ada yang berdasarkan penghasilan, ada yang
berdasarkan konsumsi dan ada yang didasarkan pada luas perumahan.
Namun kemiskinan pada hakikatnya merupakan perbedaan antara
penghasilan dan standard hidup minimum. Sayogjo menetapkan batas
kemiskinan dengan menggunakan ekuivalen konsumsi beras sebanyak 360
kg per kapita per tahun. Jika dibandingkan dengan standar upah minimum
yang ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara melalui Peraturan
Gubernur No. 33A Tahun 2011 tentang Upah Minimum Provinsi sebesar Rp.
1.050.000,-, maka hanya 28% masyarakat sekitar TNBNW yang
berpenghasilan di atas UMP. Sedangkan 72% masyarakat masih di bawah
UMP, ini mengindikasikan bahwa kesejahteraan masyarakat sekitar
kawasan TNBNW masih rendah.

77
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

Grafik 1. Persentase rata-rata pendapatan hasil panen per bulan responden.

Salah satu penyebab rendahnya penghasilan petani adalah adanya


sistem ijon oleh tengkulak. Petani sangat bergantung pada tengkulak yang
menyediakan bibit, pupuk, dan insektisida dengan konsekuensi mereka
harus menjual hasil ladang terutama jagung kepada tengkulak tersebut.
Melalui sistem paket, yaitu tiap 1 hektar lahan terdiri dari 4 paket, tiap
paket memuat bibit, pupuk dan pembasmi hama yang digunakan selama
masa tanam hingga panen tiba. Harga bibit, pupuk, insektisida dan hasil
panen juga dikendalikan oleh tengkulak, sehingga pendapatan yang
diperoleh petani hanyalah sisanya. Ini menjadi kerugian yang besar bagi
taman nasional. Disamping perambahan kawasan terus berlanjut,
kesejahteraan masyarakat pun tetap terpuruk. Hanya segelintir orang saja
yang bisa menikmati hasilnya.

2. Latar Belakang Adanya Pemanfaatan Lahan Hutan oleh Masyarakat


Lokal
Beberapa hal yang perlu dicermati adalah latar belakang masyarakat
mengolah lahan (memanfaatkan lahan hutan) di dalam kawasan Taman
Nasional, dapat digolongkan menjadi beberapa yaitu :

a) Masyarakat lokal telah mengolah lahan sejak sebelum ditetapkannya


kawasan tersebut sebagai kawasan Taman Nasional.

78
Karakteristik Pemanfaatan Lahan Hutan oleh Masyarakat..
Lis Nurrani

b) Semakin berkurangnya lahan garapan dan jenis mata pencaharian di


desa sekitar kawasan Taman Nasional.
c) Potensi lahan hutan lebih subur/produktif dibandingkan dengan
lahan yang berada di desa serta bebas biaya pajak kepemilikan lahan
garapan.
d) Adanya lahan-lahan terbuka, kritis dan terlantar bekas HPH dan
penebangan liar (illegal logging) mengundang masyarakat untuk
masuk dan mengolah disana.

Beberapa sebab adanya ketimpangan adalah kurangnya koordinasi antara


pengelola Taman Nasional, Pemda setempat serta masyarakat lokal. Hal ini
dapat dilihat dari kurangnya informasi dan sosialisasi terhadap masyarakat
mengenai batas-batas kawasan dan pengaturan pengelolaan bersama.
Kurangnya sosialisasi dan pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu
hal yang harus segera ditindak lanjuti selain peningkatan pengamanan oleh
petugas taman nasional, sebab pembangunan hutan tidak akan pernah
tercapai selama kesejahteraan masyarakat terabaikan.

3. Luas Pemilikan Lahan Garapan Masyarakat


Luas lahan garapan masyarakat yang berada di dalam kawasan
Taman Nasional Bogani Nani Wartabone disajikan dalam Tabel 2.
Tabel 2. Distribusi responden berdasarkan luas pemilikan lahan garapan
Jumlah persen (%) tiap desa Jumlah
Luas lahan Desa Desa Desa Desa Total
Mengkang Lolanan Toraut Matayangan (%)
< 2 ha 54 33 40 64 47,75
antara
43 64 52 33 48
2 - 4 ha
> 4 ha 3 3 8 3 4,25

Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas pemilikan lahan


masyarakat dari empat desa sekitar TNBNW dibagi menjadi tiga kategori,
yaitu pemilikan lahan sempit (< 2 Ha), pemilikan lahan sedang (antara 2 4

79
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

Ha) dan pemilikan lahan luas/besar (> 4 Ha) dengan persentasi berturut-
turut sebesar 47,75%, 48% dan 4,25%. Lahan yang dimiliki oleh masyarakat
berasal dari membuka hutan/belukar dengan cara sistem tebas bakar.
Hasil analisis tabulasi silang (crosstab) yang kemudian dilanjutkan
dengan pengujian chi square test terhadap variabel luas lahan garapan
masyarakat terhadap rata-rata pendapatan per bulan yang didapatkan
menunjukkan bahwa tidak ada hubungan saling mempengaruhi diantara
keduanya (Tabel 3). Artinya seberapapun luas masyarakat membuka hutan
untuk dijadikan lahan garapan ternyata tidak memberikan pengaruh positif
terhadap peningkatan taraf kehidupan mereka. Hal ini disebabkan karena
ada sistem ijon yang sudah membudaya di masyarakat.
Tabel 3. Nilai uji chi square test terhadap variabel luas lahan garapan
masyarakat terhadap rata-rata pendapatan masyarakat per bulan
Chi-Square Tests

Asy mp. Sig.


Value df (2-sided)
Pearson Chi-Square 7.257a 4 .123
Likelihood Ratio 8.610 4 .072
Linear-by -Linear
2.089 1 .148
Association
N of Valid Cases 120
a. 3 cells (33.3%) hav e expect ed count less t han 5. The
minimum expected count is 1.45.

4. Pola Pemanfatan Lahan Garapan yang Diterapkan Oleh Masyarakat


Pemanfaatan lahan yang dilakukan oleh masyarakat di empat desa
sekitar TNBNW dapat dilihat dalam Tabel 4.

80
Karakteristik Pemanfaatan Lahan Hutan oleh Masyarakat..
Lis Nurrani

Tabel 4. Pola pemanfaatan lahan garapan yang diterapkan oleh masyarakat


Distribusi frekuensi tiap desa (%) Rata-
rata
Indikator Desa Desa Desa Desa
jumlah
Mengkang Lolanan Toraut Matayangan
(%)
a. Kebun 70 100 70 100 85
b. Ladang 3 0 30 0 8,25
Kombinasi
c. antara 27 0 0 0 6,75
keduanya

Mayoritas masyarakat dari empat desa sekitar TN. Bogani Nani


Wartabone memanfaatkan lahan hutan di dalam kawasan taman nasional
untuk dijadikan sebagai lahan pertanian kering berupa kebun sebanyak
85%. Pola pertanian lainnya adalah ladang dan kombinasi diantara
keduanya dengan prosentase 8,25% dan 6,75%.
Kebun dikelola secara polikultur artinya dalam satu bentang lahan
garapan lebih dari dua jenis tanaman. Baik itu antar tanaman tahunan
seperti coklat, kelapa, cengkeh, kopi dan vanili maupun antara tanaman
tahunan dengan tanaman musiman seperti jagung, dan cabe (rica-Manado).
Tanaman buah-buahan lokal seperti durian, matoa, langsat, dan rambutan
juga ditanam diantara tanaman kebun, meskipun persentasenya sangat
sedikit. Ladang masyarakat didominasi oleh tanaman jagung, baik ditanam
secara monokultur maupun polikultur. Secara polikultur jagung ditanam
bersama-sama dengan tanaman tahunan seperti kelapa dan coklat dalam
satu bentang lahan.
Pola ladang polikultur selain menambah pendapatan secara ekonomi
juga berperan dalam perlindungan tanah terutama kesuburan dan erosi.
Adanya naungan akan menjaga kestabilan tanah dari ancaman erosi
permukaan tanah dan kehilangan hara tanah yang lebih banyak lagi bila
dibandingkan dengan pola ladang monokultur.

81
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

5. Struktur dan Komposisi Jenis Tanaman Penyusun Lahan Garapan


Masyarakat
Lahan garapan masyarakat disusun oleh beberapa jenis tanaman
berdasarkan pola pemanfaatan lahan yang diterapkan, dapat dilihat pada
Tabel 5.
Tabel 5. Komposisi jenis tanaman yang menyusun lahan garapan
masyarakat
Gambaran komposisi tanaman tiap lokasi
Indikator Desa Desa Desa
Ds. Matayangan
Mengkang Lolanan Toraut
Jenis Tanaman Penyusun Kebun
Nantu, Nantu,
- Perkayuan dadap, pala,
Mahoni, Kayu sirih sengon,
nantu
Cempaka pala
cengkeh, coklat,
- Tanaman coklat, kelapa, coklat, kelapa,
coklat, kelapa,
perkebunan kopi, cengkeh panili
kelapa panili
rambutan,
durian,
langsat,
langsat langsat,
kemiri, durian, durian
rambutan, rambutan,
- MPTS rambutan, matoa,
nanas, nangka, matoa,
langsat, matoa kemiri,
pisang, durian,
nangka,
mangga
nanas,
- Jagung jagung,
- Palawija jagung, cabe
cabe
Gedi,
- tomat, - -
cabe,
- Sayuran terong
Gambaran komposisi tanaman tiap lokasi
Indikator Ds.
Ds. Mengkang Ds. Toraut Ds. Matayangan
Lolanan
Jenis Tanaman Penyusun Ladang
nantu,
- - -
- Perkayuan sengon
- Tanaman kelapa,
- - -
perkebunan coklat
- MPTS - - Durian -

82
Karakteristik Pemanfaatan Lahan Hutan oleh Masyarakat..
Lis Nurrani

jagung,
- Palawija - jagung -
kedelai kacang

Cengkeh merupakan komoditi utama yang dibudidayakan


masyarakat Lolanan, disamping karena memiliki nilai ekonomi tinggi, juga
karena lahan garapan masyarakat yang terletak pada ketinggian 635 mdpl
sesuai dengan syarat tumbuh tanaman ini. Kelapa merupakan salah satu
komoditi unggulan Sulawesi Utara dengan produk utama penghasil kopra
sebagai bahan baku pembuatan minyak kelapa dan produk turunan lainnya.
Masyarakat menanam kopi dan coklat disertai dengan pohon
pelindung/naungan, yang biasanya dipilih jenis dadap (Erythrina
subumbrans Merr). Selain berfungsi sebagai naungan, pohon ini juga dapat
menjaga kesuburan tanah.

Ket Gambar:
Ne (Nangka)
Kp (Kopi)
Ki (Kemiri)
Ka (Kelapa)
Ck (Cokelat)
Mt (Matoa)
Du (Durian)
Rb (Rambutan)

Gambar 1. Struktur tanaman yang menyusun kebun polikultur.

Nantu, cempaka dan mahoni merupakan tanaman hasil dari


pengkayaan yang merupakan salah satu program dari pengelola TNBNW
ataupun tanaman yang memang sudah ada di lahan tersebut yang tidak
ditebang pada saat pembukaan/pembersihan lahan. Sedangkan kayu sirih
(Piper sp) banyak ditemui di kebun sebagai tanda adanya perubahan fungsi

83
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

hutan dari ekosistem hutan dataran rendah menjadi ekosistem hutan


sekunder yang dimanfaatkan masyarakat sebagai kayu bakar.
Komposisi jenis tanaman kebun yang dibudidayakan masyarakat
terdiri lebih dari 4 macam tanaman keras yang dapat dibagi kedalam tiga
stratum tajuk lihat Gambar 1. Stratum atas dihuni oleh MPTS yang
didominasi oleh tanaman buah-buahan seperti durian, kelapa, rambutan
dan kemiri. Dengan ciri tajuknya tidak terlalu rimbun, secara ekologi
menaungi tanaman yang ada di bawahnya dan salah satu keuntungan dari
durian adalah daunnya mudah busuk terdekomposisi mikroorganisme.
Stratum tengah dihuni oleh tanaman kopi, coklat, cengkeh, jeruk dan
pisang. Sedangkan stratum bawah dihuni oleh semak belukar, rumput dan
tanaman semusim seperti cabe, jagung dan sayuran sebagai bahan
makanan tambahan petani. Pengaturan tataruang pola ladang yang sering
diterapkan oleh masyarakat dapat dilihat pada Gambar 2 dengan tanaman
utama yang dibudidayakan adalah tanaman jagung.

Gambar 2. Ladang masyarakat.

6. Fungsi Ekonomi dan Ekologi Tiap Pola Pemanfaatan Lahan


Siklus tanam jagung dua kali dalam setahun. Setelah masa panen
selesai biasanya masyarakat membersihkan lahan dengan cara dibakar.
Kebiasaan tersebut dapat menyebabkan dampak buruk seperti peningkatan
suhu udara, polusi asap hingga hilangnya atau berkurangnya nutrient dalam

84
Karakteristik Pemanfaatan Lahan Hutan oleh Masyarakat..
Lis Nurrani

hara tanah dan penimbunan kandungan karbon (C) dalam tanah yang akan
menurunkan produktivitas lahan dan tentu saja mengganggu ekosistem
kawasan disekitarnya.

Potensi tanaman kayu disekitar kebun ditemui jenis kayu sirih (Piper
sp), yang dimanfaatkan masyarakat sebagai kayu bakar dan kayu dadap
(Erythrina subumbrans Merr) yang berfungsi sebagai naungan tanaman
coklat dan kopi. Umumnya masyarakat masih enggan menanam tanaman
pohon di lahan mereka karena beranggapan bahwa pohon akan
mengurangi ruang bagi tanaman musiman, sehingga akan mengurangi hasil
panen. Padahal justru sebenarnya dengan adanya pohon maka akan
semakin meningkatkan produktivitas tanah. Menurut Suharjito. (2003)
keberadaan pohon dalam ladang/kebun mempunyai dua peranan utama.
Pertama, pohon dapat mempertahankan produksi tanaman semusim dan
memberikan pengaruh positif pada lingkungan fisik, terutama dengan
memperlambat kehilangan hara dan energi, dan menahan daya perusak air
dan angin. Kedua, hasil dari pohon berperan dalam ekonomi rumah tangga
petani.
Jenis tanaman serba guna (MPTS) yang banyak dibudidayakan di
keempat desa adalah tanaman buah-buahan yang merupakan buah lokal
Wilayah Bolaang Mongondow yaitu durian, matoa, langsat, rambutan,
nangka, mangga dan pisang. Tanaman buah-buahan dapat memberikan
manfaat secara ekonomi maupun secara ekologi. Secara ekonomi tanaman
ini menghasilkan buah yang dapat memberikan nilai tambah bagi
pendapatan masyarakat, sedangkan secara ekologi tanaman ini dapat
menjaga keseimbangan hara tanah yang dibutuhkan tanaman disekitarnya
dalam pertumbuhan dan produktivitasnya serta mengurangi erosi
permukaan tanah.

7. Dampak Ekologis Alih Fungsi Kawasan Hutan TNBNW


Perubahan fungsi lahan di Toraut-Matayangan sangat berpengaruh
pada kondisi fisik wilayah disekitarnya. Perubahan suhu udara,
berkurangnya mata air dan semakin keruhnya air sungai yang mengalir

85
Info BPK Manado Volume 1 No 1, November 2011

disekitar desa merupakan salah satu indikator yang langsung dirasakan oleh
masyarakat.
Dampak lain dari semakin terbukanya lahan hutan menjadi lahan
pertanian adalah semakin terdesaknya habitat satwa liar penghuni kawasan
Taman Nasional. Satwa liar yang dulu sering ditemui di hutan dekat desa
seperti anoa, babi, babi rusa dan beberapa burung sekarang mulai
berkurang. Kebiasaan masyarakat lokal Sulawesi Utara yang suka berburu
satwa liar ini juga menambah semakin berkurangnya populasi satwa
tersebut. Saat ini masyarakat yang berburu harus menempuh jarak jauh
(sampai menginap) untuk mencapai lokasi buruannya.

IV. KESIMPULAN
Pola pemanfaatan lahan hutan menjadi lahan pertanian yang
diterapkan oleh masyarakat sekitar Taman Nasional Bogani Nani
Wartabone tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap peningkatan
kehidupan sosial dan ekonomi masyarakatnya. Sehingga kesejahteraan
hidup yang didapatkan tidak sebanding dengan kerusakan hutan yang
ditimbulkan.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Upah Minimum Propinsi Sulawesi Utara. www.suarakita-manado.com
diakses tanggal 28 Februari 2011.
Arganita, E. 2010. Tipologi Sistem Tegalan Pada Kawasan Penyangga Taman
Nasional Gunung Merapi di Desa Glagaharjo, Kec. Cangkringan, Kab. Sleman,
Yogyakarta. Fakultas Kehutanan UGM. Yogyakarta (tidak dipublikasikan).
Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. 2006. Revisi Zonasi Taman Nasional
Bogani Nani Wartabone. Kotamobagu. Sulawesi Utara.
Benyamine, H.E. 2009. Perladangan Berpindah : Bentuk Pertanian Konservasi pada
Wilayah Tropis Basah.
http://borneojarjua2008.wordpress.com/2009/05/28/ di unduh tanggal 14
Desember 2010.
Bismark, M. Dan Reny S. 2008. Pengelolaan Lahan dan Hutan Rakyat Daerah
Penyangga Taman Nasional Gunung Ciremai, Kabupaten Majalengka, jawa
Barat. Info Hutan Vol. V No. 4 Tahun 2008. Pusat Litbang Hutan dan
Konservasi Alam. Bogor.

86
Karakteristik Pemanfaatan Lahan Hutan oleh Masyarakat..
Lis Nurrani

Hairiah, K., dkk. 2003. Pengantar Agroforestri. World Agroforestri Center (ICRAF).
Bogor.
Iqbal Hasan. 2008. Analisis Data Penelitian dengan Statistik. Cetakan Ketiga. PT.
Bumi Aksara. Jakarta.
Isw. 2010. Pertanian Tradisional + Polikultur = Ekologis dan Ekonomis. Bitra
Indonesia.
http://www.bitra.or.id/index.php?option=com_content&view=article.
Diunduh tanggal 7 Desember 2010.
Suharjito, D., dkk. 2003. Aspek Sosial Ekonomi dan Budaya Agroforestri. World
Agroforestri Center (ICRAF). Bogor.
Wiratno, dkk. 2004. Berkaca di Cermin Retak, Refleksi Konservasi dan Implikasi Bagi
Pengelolaan Taman Nasional. Departemen Kehutanan, The Gibbon
Foundation, Forest Press, dan PILI-NGO Movement.

87
INFO BPK MANADO ISSN
Vol. 1 No. 1, November Tahun 2011

INFO BPK Manado memuat karya tulis ilmiah dari hasil penelitian, karya ilmiah
atau pandangan ilmiah bidang kehutanan. Majalah ini terbit secara berkala dua
kali dalam setahun.

Susunan Dewan Redaksi ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Kepala Balai


Penelitian Kehutanan Manado No. SK. 15/VIII/BPKMND-3/2011 Tanggal 2 Mei
2011

Penanggung Jawab : Kepala Balai Penelitian Kehutanan Manado

Dewan Redaksi

Ketua Merangkap anggota : Dr. Ir. J.S. Tasirin, M.Sc.


Anggota : 1. Dr. Ir. Martina A. Langi, M.Sc.
2. Ir. H. Walangitan, MP
3. Kristian Mairi, S.Hut, M.Sc.
4. Ir. La Ode Asir Tira, M.Si.

Sekretariat Redaksi

Ketua merangkap anggota : Kepala Seksi Data, Informasi dan Kerjasama


Anggota : 1. Lulus Turbianti, S.Hut
2. M. Farid Fahmi, S.Kom

Diterbitkan oleh:
Balai Penelitian Kehutanan Manado
Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan
Alamat : Jl. Raya Adipura Kel. Kima Atas Kec. Mapanget Manado 95119
Telepon : (0431) 3666683
Email : publikasi.bpkmdo@yahoo.com
Website : www.bpk-manado.litbang.dephut.go.id

Percetakan : IPB Press


PETUNJUK PENULISAN NASKAH
INFO BPK MANADO

1. Judul harus jelas dan menggambarkan isi tulisan, ringkas tidak lebih dari
dua baris (tidak lebih dari 13 kata), ditulis dengan huruf Times New Roman
font 12 dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
2. Naskah yang dikirim terdiri dari 10-20 halaman, 2 spasi, ukuran kertas A4
dan font ukuran 12.
3. Nama penulis ditulis dibawah judul dan dicantumkan tanpa gelar,
dicantumkan pula alamat instansi, No. Telp/faks serta alamat email penulis.
4. Abstrak tidak lebih dari 200 kata, berisi intisari secara menyeluruh
mengenai permasalahan, tujuan, metodologi dan hasil yang dicapai, dapat
merangsang pembaca untuk mendapat informasi lebih lanjut, diketik
dengan font 10 spasi satu. Ditulis dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa
Inggris.
5. kata kunci ditulis di bawah abstrak dan maksimal lima kata kunci diketik
miring dengan jarak satu spasi.
6. Tubuh naskah, diatur dalam Bab dan Sub bab secara konsisten sesuai
dengan kebutuhan. Semua nomor ditulis rata di batas kiri tulisan, seperti:
I,II,III, dst untuk Bab
A, B, C, dst untuk Sub Bab
1, 2, 3, dst untuk Sub subbab
a, b, c, dst untuk Sub sub subbab
7. Sistematik penulisan adalah sebagai berikut:
Judul : Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris
Abstrak : Bahasa Inggris
Abstrak : Bahasa Indonesia
I. Pendahuluan
II. Bahan dan Metode
III. Hasil dan Pembahasan
IV. Kesimpulan dan Saran
Daftar Pustaka
8. Tabel, gambar, grafik dan sejenisnya diberi nomor, judul dan keterangan.
Penomoran tabel dan gambar digunakan angka internasional secara
berurutan. Hanya kata pertama dari nama tabel dan gambar dimulai
dengan huruf besar. Dibawah tabel atau gambar dicantumkan sumber data
atau gambar.
9. Daftar pustaka merupakan referensi yang dirujuk dalam naskah dan
disajikan secara alphabetik nama belakang penulis pertama. Pustaka yang
dirujuk diusahakan terbitan paling lama sepuluh tahun terakhir. Pustaka
dapat berasal antara lain dari buku, jurnal, prosiding dan internet.