Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH FITOTERAPI

OBAT HERBAL TERSTANDAR


Rheumakur

OLEH :

KELAS :A
KELOMPOK VI

FADILAH AYU LESTARI (O1A114013)


LILI HANDAYANI (O1A114022)
NIMBAR ARASTI (O1A114030)
NUR AFNI RIDWAN (O1A114032)
NURNANINGSIH (O1A114035)
NUR RESKY PERMATASARI (O1A114036)
FUAD KURNIAWAN (F1F1 13 155)

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2017

i
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah


melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penyusun memperoleh
kesehatan dan kekuatan untuk dapat menyelesaikan makalah dengan judul Obat
Herbal Terstandar (Rheumakur) sesuai dengan batas waktu yang telah
ditentukan. Makalah ini disusun bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah
Fitoterapi.
Pada kesempatan kali ini penulis tidak lupa menyampaikan rasa syukur
dan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyusunan
makalah ini dan orang-orang yang telah banyak memberikan dukungan kepada
penulis.
Penyusun menyadari sepenuhnya atas keterbatasan ilmu maupun dari segi
penyampaian yang menjadikan makalah ini masih jauh dari kata sempurna.Oleh
karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diperlukan dari semua pihak
untuk kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat berguna untuk para pembaca.Amin.

Kendari, Mei 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................. i
DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii
BAB IPENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ............................................................................................ 4
1.2. Rumusan Masalah ....................................................................................... 5
1.3. Tujuan Penulisan ......................................................................................... 5
BAB IIPEMBAHASAN
2.1. Defiinisi OHT .............................................................................................. 6
2.2. Konsep Pengembangan Obat Herbal TerstandarError! Bookmark not
defined.
2.3. Contoh Produk OHT (Rheumakur) ......... Error! Bookmark not defined.
2.4. Simplisia OHT (Rheumakur) .................. Error! Bookmark not defined.
BAB IIIPENUTUP
3.1. Kesimpulan................................................ Error! Bookmark not defined.
DAFTAR PUSTAKA ........................................... Error! Bookmark not defined.

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional masih selalu digunakan
masyarakat Indonesia terutama di daerah pedesaan yang masih kaya dengan
keanekaragaman tumbuhannya.Sejak ribuan tahun yang lalu, obat dan pengobatan
tradisional sudah ada di Indonesia, jauh sebelum pelayanan kesehatan formal
dengan obat-obatan modernnya dikenal masyarakat.Berdasarkan perkiraan World
Health Organization (WHO), lebih dari 80% penduduk negara-negara
berkembang tergantung pada obat tradisional untuk mengatasi masalah kesehatan.
Obat tradisional merupakan warisan budaya bangsa perlu terus
dilestariakan dan dikembangkan untuk menunjang pembangunan kesehatan
sekaligus untuk meningkatkan perekonomian rakyat.Produksi, dan penggunaan
obat tradisional di Indonesia memperlihatkan kecendrungan terus meningkat, baik
jenis maupun volumenya.Perkembangan ini telah mendorong pertumbuhan usaha
di bidang obat tradisional, mulai dari usaha budidaya tanaman obat, usaha
industry obat tradisional, penjaja dan penyeduh obat tradisional atau
jamu.Bersamaan itu upaya pemanfaatan obat tradisional dalam pelayanan
kesehatan formal juga terus digalakkan melalui berbagai kegiatan uji klinik kearah
pengembangan fitofarmaka.
Obat bahan alam merupakan obat yang menggunakan bahan baku berasal
dari alam (tumbuhan dan hewan).Obat bahan alam dapat dikelompokkan menjadi
3 jenis yaitu jamu, jamu herbal terstandar, dan fitofarmaka. Jamu (Empirical
based herbal medicine) adalah obat bahan alam yang disediakan secara
tradisional, misalnya dalambentuk serbuk seduhan, pil, dan cairan yang berisi
seluruh bahan tanaman yang menjadi penyusun jamu tersebut dan digunakan
secara tradisional.
Obat Herbal Terstandar ( Standarized based Herbal Medicine) merupakan
obat tradisional yang disajikan dari hasil ekstraksi atau penyarian bahan alam,
baik tanaman obat, binatang, maupun mineral. Obat herbal ini umumnya ditunjang
oleh pembuktian ilmiah berupa penelitian praklinis.

4
1.2.Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari makalah ini yaitu:
1. Apa yang di maksud dengan obat herbal terstandar ?
2. Bagaimana konsep pengembangan obat herbal terstandar?
3. Contoh obat herbal terstandar ?
4. Contoh simplisia obat herbal terstandar ?

1.3.Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan dari makalah ini yaitu:
1. Untuk mengetahui apa yang di maksud dengan Obat herbal terstandar.
2. Untuk mengetahui konsep pengembangan obat herbal terstandar.
3. Untuk mengetahui contoh obat herbal terstandar.
4. Untuk mengetahui contoh obat herbal terstandar.

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Defiinisi OHT


Menurut Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik
Indonesia Nomor : Hk.00.05.41.1384 tentangKriteria dan Tata Laksana
Pendaftaran Obat Tradisional, Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka, Obat
herbal terstandar adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan
dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan bahan bakunya telah di
standarisasi.
Berbeda dengan obat modern yang mengandung satuataubeberapa zat aktif
yang jelas identitas dan jumlahnya,obat tradisional/obat herbal mengandung
banyak kandungankimia dan umumnya tidak diketahui atau tidak dapat
dipastikanzataktifyangberperandalammenimbulkanefekterapiataumenimbulkanefe
ksamping.Selainitukandungankimiaobatherbalditentukanolehbanyakfaktor.Halitud
isebabkantanamanmerupakan organisme hidup sehingga letakgeografis/tempat
tumbuh tanaman, iklim, cara pembudidayaan,cara dan waktu panen, cara
perlakuan pascapanen(pengeringan, penyimpanan) dapat
mempengaruhikandungan kimia obat herbal.
Kandungan kimia tanamanobat ditentukan tidak saja oleh jenis (spesies)
tanaman obat,tetapi juga oleh anak jenis dan varietasnya. Sebagai contohbau
minyak kayu putih yang disuling dari daun Eucalyptussp bervariasi tergantung
dari anak jenis dan varietastumbuhan, bahkan ada di antaranya yang tidak
berbau.Pada tanaman obat, kandungan kimia yang memiliki kerjaterapeutik
termasuk pada golongan metabolit sekunder.Umumnya metabolit sekunder pada
tanaman bermanfaatsebagai mekanisme pertahanan terhadap berbagai
predatorseperti serangga dan mikroorganisme dan hanya dihasilkanoleh tanaman
tertentu termasuk tanaman obat.Kandunganaktif tanaman obat antara lain berupa
alkaloid, flavonoid,minyak esensial, glikosida, tanin, saponin, resin, dan terpen.

6
2.2. Konsep Pengembangan Obat Herbal Terstandar
Dalam rangka pengembangan obat tradisional Indonesia menjadi obat
herbal terstandar, maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, antara lain
sebagai berikut.
1. Standarisasi dan Persyaratan Mutu Simplisia
Simplisia merupakan bahan baku yang berasal dari tanaman yang belum
mengalami pengolahan, kecuali pengeringan. Standarisasi simplisia dibutuhkan
karena kandungan kimia tanaman obat sangat bervariasi tergantung banyak faktor
seperti telah dikemukakan sebelumnya. Standarisasi simplisia diperlukan untuk
mendapatkan efek yang dapat diulang(reproducible). Kandungan kimia yang
dapat digunakan sebagai standar adalah kandungan kimia yang berkhasiat, atau
kandungan kimia yang hanya sebagai petanda (marker), atau yang memiliki sidik
jari (fingerprint) pada kromatogram. Untuk mendapatkan simplisia dengan mutu
standar diperlukan pembudidayaan dalam kondisi standar. Dewasa ini industri
obat tradisional disarankan dan didorong untuk melakukan budidaya dan
mengembangkan sendiri tanaman sumber simplisianya sehingga diharapkan
diperoleh simplisia dengan mutu standar yang relatif homogen. Standarisasi tidak
saja diperlukan pada simplisia, tetapi juga pada metode pembuatan sediaan
termasuk pelarut yang digunakan dan standardisasi sediaan jadinya.
Untuk pengembangan obat tradisional menjadi obat herbal terstandardisasi
simplisia harus memenuhi persaratan mutu agar dapat menimbulkan efek dan
aman. Pemeliharaan mutu harus diupayakan dari hulu ke hilir mulai dari
budidaya, pemanenan dan pengolahan pasca panen, pembuatan bahan baku,
sampai ke pembuatan sediaan dan sediaannya. Parameter standar mutu simplisia
antara lain mencakup kadar abu, kadar zat terekstraksi air, kadar zat terekstraksi
etanol, bahan organik asing, cemaran mikroba termasuk bakteri patogen, cemaran
jamur/kapang, cemaran aflatoksin, cemaran residu pestisida, cemaran logam berat,
kadar air, kadar zat aktif/zat identitas. Parameter standar mutu ekstrak selain hal di
atas juga mencakup konsistensi ekstrak, sedangkan parameter untuk sediaan
termasuk di antaranya waktu hancur, kadar bahan tambahan (pengawet, pewarna,
pemanis, bahan kimia obat), kadar etanol, dan stabilitas.

7
2. Tahap Uji Praklinik

Uji preklinik dilakukan secara in vitro dan in vivo pada hewan coba untuk
melihat toksisitas dan efek farmakodinamiknya. Bentuk sediaan dan cara
pemberian pada hewan coba disesuaikan dengan rencana pemberian pada
manusia. Uji farmakodinamik pada hewan coba digunakan untuk memprediksi
efek pada manusia, sedangkan uji toksisitas dimaksudkan untuk melihat
keamanannya.
a. Uji Toksisitas

Uji toksisitas dibagi menjadi uji toksisitas akut, subkronik, kronik, dan uji
toksisitas khusus yang meliputi uji teratogenisitas, mutagenisitas, dan
karsinogenisitas. Ujitoksisitas akut dimaksudkan untuk menentukan LD50
(lethaldose) yaitu dosis yang mematikan 50% hewan coba, menilaiberbagai gejala
toksik, spektrum efek toksik pada organ, dancara kematian. Uji LD50 perlu
dilakukan untuk semua jenisobat yang akan diberikan pada manusia. Untuk
pemberiandosis tunggal cukup dilakukan uji toksisitas akut. Pada ujitoksisitas
subkronik obat diberikan selama satu atau tigabulan, sedangkan pada uji toksisitas
kronik obat diberikanselama enam bulan atau lebih. Uji toksisitas subkronik
dankronik bertujuan untuk mengetahui efek toksik obattradisional pada pemberian
jangka lama. Lama pemberiansediaan obat pada uji toksisitas ditentukan
berdasarkan lamapemberian obat pada manusia (Tabel 1).

Tabel 1. Hubungan Lama Pemberian Obat pada Manusia danLama


Pemberian Obat pada Hewan Coba pada UjiToksisitas

b. Uji Farmakodinamik

8
Penelitianfarmakodinamik obat tradisional bertujuan untuk meneliti efek
farmakodinamik dan menelusuri mekanisme kerja dalam menimbulkan efek dari
obat tradisional tersebut. Penelitian dilakukan secara in vitro dan in vivo pada
hewan coba. Cara pemberian obat tradisional yang diuji dan bentuk sediaan
disesuaikan dengan cara pemberiannya pada manusia. Hasil positif secara in vitro
dan in vivo pada hewan coba hanya dapat dipakai untuk perkiraan kemungkinan
efek pada manusia.

2.3. Contoh Produk OHT (Rheumakur)

Komposisi
Setiap kapsul lunak mengandung :
Curcuminoid dari minyak atsiri Curcuma domestica dan Curcuma xanthorrhiza.

Khasiat
Mereda nyeri sendi dan otot
Mengurangi resiko serangan rematik
Aman digunakan dalam jangka panjang tanpa efek samping

Aturan Pakai
1-2 kapsul lunak 2x sehari

Perhatian
Hindari pemberian pada anak-anak di bawah usia 10 tahun dan wanita hamil atau
menyusui.

9
2.4. Simplisia OHT (Rheumakur)
Rheumakur merupakan kombinasi dari minyak atsiri Curcuma
xanthorrhiza (Temulawak) dan minyak atsiri Curcuma domestica
(Kunyit).Komposisi ini membantu meredakan nyeri radang dan nyeri sendi.

1. Kunyit
Klasifikasi dari tanaman kunyit adalah sebagai berikut.
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Curcuma
Spesies: Curcuma domestica Valet

a. Deskripsi
Kunyit merupakan salah satu jenis tanaman temu-temuan yang termasuk
dalam famili Zingiberaceae yang mempunyai batang semu yang dibentuk dari
pelepah daun-daunnya. Ketinggian tanamannya dapatmencapai 1,0 - 1,5 meter,
rumbuh tegap dan rnembentuk rumpun sepertisemak yang bergerombol.
Daunnya tunggal dan bertangkai, berbentuk lancet yang lebar, bertepi rata,
ujung dan pangkalnya meruncingbertulang menyirip, permukaannya licin, dan
berwarna hijau pucat. Panjang daunnya sekitar 20 - 40 cm dan lebamya sekitar
15 - 30 cm. Bunganya merupakan bunga majemuk yang berbentuk kerucut
yang muncul dari batang semunya. Panjang bunga berkisar antara 10 - 15 cm,
berwarna putih sampai kuning muda atau kemerahan. Setiap bunga mempunyai
tiga lembar kelopak dan tiga lembar tajuk. Bagian utama tanarnan kunyit
adalah rimpangnya yang rnerupakan tempat tumbuhnya tunas.Kulit rimpang

10
berwarna kecokelatan dan bagian dalamnya berwarna kuning tua, kuning
jingga, atau kuning jingga kemerahan sampai kecokelatan.

b. Kandungan Kimia
Senyawa utama yang terkandung dalam rimpang kunyit adalah kur-
kuminoid dan minyakatsiri. Kandungan kurkuminoid berkisar antara
3,0-5,0%,yang terdiridarikurkumindanturunannya
yaitudemetoksikurkumindanbisdernetoksikurkumin.Kurkuminoidberbentuk
Kristalprismaataubatang pendek, membentuk emulsi atautidaklarut
dalamair,danmudahlarutdalam aseton,etanol, metanol,bensen,dan khloroform.
Senyawa yang terkandung dalam kunyit yaitu kurkumin dan minyak
atsirimempunyaiperanansebagaiantioksidan,antitumor, antikanker,
antirnikroba, antipikun, danantiracun.Secara tradisional kunyitsering
digunakan oleh masyarakat diberbagai negara untuk meogobati berbagai jenis
penyakit, seperti pcnyakit yang disebabkanolehmikrobaparasit,gigitan
serangga, penyakit mata,cacar, sakit perut (diare, sembelit, kembung),
gangguan pencernaan,gangguan hati, asrna, menghilangkan gatal-garal dan
penyakit kulit lain, mengurangirasanyeridansakit pada penderita rematik
arthritis.

c. Khasiat
Kurkumin merupakan pigmen berwarna kuning dari serbuk
kunyit.Kurkumin tersedia secara komersial yang terdiri atas campuran ketiga
golongan kurkuminoid dimana kurkumin sebagai pigmen utamanya.Zat warna
kuning alami yang diperbolehkan untuk pewarna makanan ini telah cukup lama
dikenal sebagai obat batuk, obat gangguan hati, rematik, antiradang dan
penurun lemak darah serta sinusitis. Keberadaan gugusan phenolik pada ketiga
senyawa tersebut dilaporkan juga menyebabkan aktivitas antioksidan yang kuat
pada sistem biologis sehingga dapat mencegah penyakit-penyakit yang
berhubungan dengan reaksi peroksidasi. Bahkan, Institut Nasional Kanker telah
mencoba mengembangkan bahan ini dalam uji klinis anti kanker dan

11
penelitian-penelitian praklinis lain terus dilakukan terhadap sel kanker yang
lain(Cahyono,2011).
d.Mekanisme kerja
Hampir 2 dekade yang lalu, laboratorium kami adalah yang pertama
mengisolasi 2 sitokin yang berbeda (TNF- dan TNF-) sebagai agen
antitumor. TNF- adalah mediator utama peradangan pada kebanyakan
penyakit, dan efek ini diatur oleh aktivasi faktor transkripsi, faktor nuklir (NF)
-B. Sedangkan TNF adalah aktivator NF-B yang paling potensial yang telah
dijelaskan, ekspresi TNF- juga diatur oleh NF-B (Aggarwal, 2003). Selain
TNF, NF-B diaktifkan oleh kebanyakan sitokin inflamasi; Bakteri gram
negatif; Berbagai penyakit yang menyebabkan virus; Polutan lingkungan;
Kimia, fisik, mekanik, dan psikologis; Glukosa tinggi; asam lemak; radiasi
ultraviolet; asap rokok; Dan faktor penyebab penyakit lainnya . Menariknya,
sebagian besar mediator peradangan yang telah diidentifikasi hingga saat ini
juga diatur oleh NF-B, termasuk sitokin inflamasi, kemokin, molekul adhesi,
enzim, dan kinase (lihat Gambar 1). Dengan demikian, produk gen yang
diregulasi NF-B dan NF-B telah dikaitkan erat dengan kebanyakan penyakit
kronis. Oleh karena itu, agen yang menurunkan kadar NF-B dan NF-B-
produk gen yang diatur memiliki khasiat potensial terhadap beberapa penyakit
ini.
Kurkumin juga menekan aktivasi NF-B di sebagian besar sel tumor,
yang menyebabkan penekanan protein anti-apoptosis dan menghasilkan
apoptosis (Aggarwal et al., 2004); (Kunnumakkara et al., 2007). Juga
menunjukkan bahwa kurkumin dapat menurunkan ekspresi protein interleukin
(IL) -6, TNF, dan berbagai kemokin lainnya (Jagetia dan Aggarwal, 2007).
Abe et al (Abe et al., 1999) menunjukkan bahwa kurkumin menghambat
produksi IL-8, MIP-1, MCP-1, IL-1, dan TNF- yang disebabkan oleh
rangsangan inflamasi pada monosit darah perifer manusia dan makrofag
alveolar. Kurkumin menghambat dan menurunkan regulasi ekspresi produk
gen NF-B yang diregulasi seperti molekul perekat COX-2, TNF, 5-LOX, IL-
1, IL-6, IL-8, MIP-1, C-reactive protein (CRP), CXCR-4, dan lainnya (Hong

12
et al, 2004). Penelitian terbaru dari laboratorium kami menunjukkan bahwa
kurkumin langsung mengikat kinase IkB yang dibutuhkan untuk aktivasi NF-
B (Aggarwal et al., 2006c). Laboratorium kami adalah yang pertama
menunjukkan bahwa kurkumin adalah penghambat potensial STAT 3, faktor
transkripsi lain yang melaluinya sitokin sitokin IL-6 memediasi pengaruhnya
Jadi kurkumin bisa menekan peradangan melalui beberapa jalur (Bharat, 2009).

e.Toksit
ditoleransi dengan baik dalam tubuh. dan tidak adanya efek samping
yang signifikan secara klinis menunjukkan bahwa kurkumin dapat digunakan
dengan aman (Natural society, 2014).

2. Temulawak
Klasifikasi dari tanaman temulawak adalah sebagai berikut.
Regnum : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Curcuma
Spesies : Curcuma xantorrhiza Roxb.

a. Deskripsi
Terna berbatang semu setinggi kurang lebih 2 m, berwarna hijau atau
coklat gelap, akar rimpang terbentuk dengan sempurna, bercabang-cabang
kuat, berwarna hijau gelap. Tiap tanaman mempunyai daun 2 sampai 9 helai,
berbentuk bundar memanjang hingga bangun lanset, berwarna hijau atau coklat
keunguan terang sampai gelap, panjang 31-84 cm, lebar 10-18 cm, panjang
tangkai daun 43-80 cm lebih.

13
b. Kandungan Kimia
Penelitian menunjukkan bahwa komponen aktif utama yang terdapat
dalam temulawak adalah xanthorrhizol dan kurkuminoid. Beberapa efikasi dari
xanthorrhizol adalah berpotensi sebagai antibakteri Streptococcus mutans.
Kurkuminoid dapat digunakan sebagai antioksidan, antiinflamasi dan anti
hiperkolesterolemia. Khasiat lain yang dimiliki oleh komponen kimia dalam
temulawak adalah anti bakteri.

c. Khasiat
Temulawak sudah lama digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk
pemeliharaan kesehatan, pencegahan dan pengobatan penyakit serta pada masa
pemulihan. Berdasarkan sifat zat-zat aktif yang terkandung dalam temulawak
sampai saat ini sudah diketahui tujuh manfaatnya yaitu memperbaiki nafsu
makan, memperbaiki fungsi pencernaan memelihara kesehatan fungsi hati,
pereda nyeri sendi dan tulang, menurunkan lemak darah, sebagai antioksidan
yang dapat membantu memelihara kesehatan dan membantu menghambat
penggumpalan darah (BPOM, 2005).

d. Mekanisme Kerja
1) Memperbaiki nafsu makan
Cara kerja
Masyarakat Indonesia secara turun menurun menggunakan temulawak
untuk memperbaiki nafsu makan.Secara praklinik dan klinik telah
ditemukan bahwa rimpang temulawak dapat meningkatkan/memperbaiki
nafsu makan.
2) Memperbaiki fungsi pencernaan
Cara kerja
Secara praklinis ditemukan bahwa serbuk rimpang temulawak dapat
meningkatkan aktivitas musin dalam cairan lambung. Disamping itu
rebusan temulawak dapat menurunkan kontraksi usus halus.
3) Memelihara kesehatan fungsi hati

14
Cara kerja
Pada dasarnya aktivitas temulawak pada hati berkaitan erat dengan
aktivitas kolagoga yang berpengaruh pada hati, yaitu meningkatkan
prodiksi empedu dalam hati dan merangsang pengosongan Kntung
empedu. Disamping itu temulawak dapat mengurangi aktivitas enzim
glutamat oksalaasetat transaminase (GOT) serta menurunkan aktivitas
enzim glutamat piruvat transminase (GPT) baik secara praklinik in vitro
dan in vivo maupun secara klinik. Kurkuminoid yang terkandung dalam
temulawak bekerja melindungi hati.
4) Mengurangi nyeri dan radang sendi
Cara kerja
Kurkumin yang terkandung dalam temulawak mempunyai aktivitas anti
radang yang setara dengan 100 g fenilbutazon yang dapat berguna
menggurangi nyeri dan raadang sendi.Aktivitas ini dapat dicapai melalui
penghambatan migrasi sel-sel leukosit kedaerah radang, atau melalui
penghambatan pembentukan serta transportasi mediator radang yaitu
prostaglandin. Dari uji klinis menggunakan kurkumin dengan dosis
tertentu ditunjukan adanya perbaikan pada penderita radang sendi.
5) Menurunkan lemak darah
Cara kerja
Hasil uji praklinik dan klinik menunjukkan bahwa ekstrak temulawak atau
komponen isolatnya dapat menurunkan kadar kolesterol total, trigliserida
dan dapat meningkatkan kadar HDL kolesterol. Komponen yang diduga
berperan dalam menurunkan lemak darah adalah kurkuminoid.
6) Antioksidan, membantu memelihara kesehatan
Cara kerja
Kurkumin bekerja sebagai antioksidan karena mampu menangkap radikal
bebas oksigen seperti anion, superoksida dan radikal hidroksil.
7) Membantu menghambat penggumpalan darah
Cara kerja

15
Kurkumin dari temulawak membatu menghambat penggumpalan darah
dengan cara menghambat pembentukan tromboksan B2, yaitu zat yang
berperan dalam proses penggumpalan darah.

e. Kontraindikasi
Belum diketahui dengan pasti adanya larangan penggunaan temulawak.

f. Interaksi
Belum diketahui adanya interaksi temulawak dengan obat-obatan atau bahan-
bahan yang lain.

g. Perhatian
a) Karena temulawak bekerja merangsang fungsi saluran empedu, maka tidak
dianjurkan penggunaannya bila ada penyumbatan saluran empedu dan batu
empedu. Dalam hal penyumbatan batu empedu, penggunaannya hanya
setelah berkonsultasi dengan dokter atau di bawah pengawasan dokter.
b) Pemakaian temulawak bersama dengan tanaman lain yang mengandung
kurkuminoid seperti kunyit, perlu diperhitungkan dosisnya agar tidak
berlebihan.
c) Hati-hati menggunakan temulawak bersama dengan obat pengencer darah.

(BPOM, 2005).

16
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah ini yaitu:
1. Obat herbal terstandar adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan
keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan bahan
bakunya telah di standarisasi.
2. Dalam rangka pengembangan obat tradisional Indonesia menjadi obat herbal
terstandar, maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, antara lain yaitu
standarisasi dan persyaratan mutu simplisia serta tahapan uji praklinik.
3. Contoh produk obat herbal terstandar yaitu Rheumakur.
4. Simplisia dari obat herbal terstandarRheumakur merupakan kombinasi dari
Temulawak(Curcuma xanthorrhiza)dan kunyit(Curcuma domestica).
Komposisi ini membantu meredakan nyeri radang dan nyeri sendi.

17
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Herbal Plants Collection of Biopharmaca Conservation and Cultivation


Station. ITB : Biopharmaca Research Center.

Badan POM RI. 2005. Kriteria dan Tata Laksana Pendaftaran Obat Tradisional,
Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka,Nomor : Hk.00.05.41.1384.

Badan POM RI. 2005. Gerakan Nasional Minum Temulawak. Info POM.Vol. 6
(6).

Cahyono,B., Muhammad D.K.H. dan Leenawaty L. 2011.Pengaruh Proses


Pengeringan Rimpang Temulawak (Curcuma Xanthorriza Roxb) terhadap
Kandungan dan Komposisi Kurkuminoid. Reaktor. Vol.13 (3).

Dewoto, H. R. 2007. Pengembangan Obat Tradisional Indonesia Menjadi


Fitofarmaka. Majalah Kedokteran Indonesia.Vol. 57 (7).

Ditjen POM.1980. Materi Medika Indonesia. Jakarta. Departeman Kesehatan


Republik Indonesia.

Hartati, S.Y. 2013. Khasiat Kunyit Sebagai Obat Tradisional Dan Manfaat
Lainnya. Warta Penelitian Dan Pengembangan Tanaman Industri.Vol. 19
(2).

http://www.phytochemindo.com/products/herbal_medicine/22?lang=id

18