Anda di halaman 1dari 8

ABSORPSI OBAT PER ORAL SECARA IN VITRO

1. TUJUAN
Mempelajari pengaruh pH terhadap absorpsi obat melalui saluran
pencernaan secara in vitro.

2. PRINSIP
Berdasarkan absorpsi, derajat ionisasi dan kecepatan transfort obat

3. TEORI
Pada umumnya, manusia sering mengonsumsi makanan ataupun obat-
obatan secara oral. Obat yang sering diberikan secara oral akan diteruskan ke
dalam sirkulasi sistemik yang disebut sebagai proses absorbsi.
Absorbsi obat merupakan suatu proses pergerakan obat dari tempat pemberian
ke dalam sirkulasi umum di dalam tubuh. Absorbsi obat dari saluran
pencernaan ke dalam darah umumnya terjadi setelah obat tersebut larut dalam
cairan di sekeliling membrane tempat terjadinya absorbsi. Absorbsi obat akan
lebih baik jika semakin baik kelarutannya dalam lipida sampai absorbsi
optimal tercapai. Faktor utama yang mempengaruhi absorbsi obat yaitu
karakteristik sifat fisika kimia molekul, property dan komponen cairan
gastrointestinal serta sifat membrane absorbsi (Banker, 2002).
Luas permukaan dinding usus, kecepatan pengosongan lambung,
pergerakan saluran cerna dan aliran darah ke tempat absorbsi, semuanya
mempengaruhi laju dan jumlah absorbsi obat walaupun ada variasi. Agar
suatu obat dapat mencapai tempat kerja di jaringan/organ, obat tersebut harus
melewati berbagai membran yang memiliki struktur lipoprotein (Shargel,
2005).
Obat-obat yang bersifat asam lemah (pKa 3,0) seperti asam salisilat,
umumnya tidak terion pada cairan lambung dan hampir semua terion pada
cairan usus (Aulton, 2002).Usus halus panjangnya sekitar 6 meter. Terdiri dari

1
duodenum, jejunum, dan ileum. Area permukaan dalam luas di sepanjang
usus halus membantu absorbsi produk pencernaan (Faiz, Moffat, 2002)
Absorpsi obat mengharuskan molekul-molekul obat berada dalam
bentuk larutan pada tempat absorpsi. Disolusi dari bentuk-bentuk sediaan
padat dalam cairan-cairan saluran cerna merupakan syarat untuk
menyampaikan suatu obat ke sirkulasi sistemik setelah pemberian oral
(Lachman, dkk, 1991). Umumnya absorpsi obat pada saluran cerna terjadi
secara difusi pasif sehingga untuk dapat diabsorpsi, obat harus larut dalam
cairan pencernaan. Absorpsi sistemik suatu obat dari tempat ekstravaskular
dipengaruhi oleh sifat-sifat anatomik dan fisiologik tempat absorpsi, serta
sifat-sifat fisikokimia obat tersebut (Shargel dan Yu, 1999). Obat-obat yang
diabsorpsi oleh difusi pasif, yang menunjukkan kelarutan dalam air rendah,
cenderung memiliki laju absorpsi oral lebih lambat daripada yang
menunjukkan kelarutan dalam air yang tinggi (Lachman, dkk, 1991).
Pergerakan molekul melalui membran biologi membutuhkan energi
dan terjadi perbedaan potensial kimia. Proses ini sama seperti difusi
terfasilitasi yang membutuhkan pembawa, namun transpor aktif
membutuhkan energi untuk bergerak dari konsentrasi yang rendah menuju
konsentrasi yang lebih tinggi.. Beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh
molekul obat agar dapat dinyatakan mempunyai mekanisme transpor aktif:
1. Molekul (senyawa) ditranspor dari daerah yang mempunyai perbedaan
potensial kimia yang rendah menuju yang lebih tinggi.
2. Hasil metabolisme senyawa akan mengganggu transpor.
3. Kecepatan transpor akan mengalami penjenuhan apabila konsentrasi dari
senyawa meningkat.
4. Sistem transpor umumnya memperlihatkan struktur kimia spesifik.
5. Senyawa kimia dengan struktur yang hampir sama akan bekerja sebagai
kompetitif inhibitor (Gennaro, 2000).
Metode kantung terbalik merupakan teknik in vitro yang mudah dan
cepat dilaksanakan serta dapat ditemukan seluruh tipe sel dan lapisan

2
mukosa sehingga mencerminkan proses/lingkungan sebenarnya saat obat
mengalami proses absorpsi di usus (Barthe, et al, 1999). Pada umumnya,
manusia sering mengonsumsi makanan ataupun obat-obatan secara oral.
Obat yang sering diberikan secara oral akan diteruskan ke dalam sirkulasi
sistemik yang disebut sebagai proses absorbsi.
Absorbsi obat merupakan suatu proses pergerakan obat dari tempat
pemberian ke dalam sirkulasi umum di dalam tubuh. Absorbsi obat dari
saluran pencernaan ke dalam darah umumnya terjadi setelah obat tersebut
larut dalam cairan di sekeliling membrane tempat terjadinya absorbsi.
Absorbsi obat akan lebih baik jika semakin baik kelarutannya dalam
lipida sampai absorbsi optimal tercapai. Faktor utama yang
mempengaruhi absorbsi obat yaitu karakteristik sifat fisika kimia
molekul, property dan komponen cairan gastrointestinal serta sifat
membrane absorbsi (Banker, 2002).
Luas permukaan dinding usus, kecepatan pengosongan lambung,
pergerakan saluran cerna dan aliran darah ke tempat absorbsi, semuanya
mempengaruhi laju dan jumlah absorbsi obat walaupun ada variasi.Agar
suatu obat dapat mencapai tempat kerja di jaringan/organ, obat tersebut
harus melewati berbagai membran yang memiliki struktur lipoprotein
(Shargel, 2005).
Asam salisilat 99,0-100,5% merupakan kandungan kering.
Pemeriannya berwarna putih, berbentuk serbuk Kristal tidak berwarna,
agak larut di dalam air, mudah larut di dalam etanol 96%, sedikit larut di
dalam metilen klorida (Depkes RI, 1995). Obat-obat yang bersifat asam
lemah (pKa 3,0) seperti asam salisilat, umumnya tidak terion pada cairan
lambung dan hampir semua terion pada cairan usus (Aulton, 2002).
Usus halus panjangnya sekitar 6 meter.Terdiri dari duodenum,
jejunum, dan ileum.Area permukaan dalam luas di sepanjang usus halus
membantu absorbsi produk pencernaan (Faiz, Moffat, 2002).Pada
makalah ini kami akan membahas tentang uji absorbsi obat asam salisilat

3
secara in vitro pada usus. Disini akan dipaparkan mengenai bagaimana uji
dilakukan, bahan atau media dan prosedur kerja.
4. ALAT DAN BAHAN
4.1. Alat
Tabung crane dan Wilson yang di modifikasi, spektrofotometer, water
bath (penangas air), timbangan analitik, pH meter, alat-alat bedah, dan
alat-alat gelas .

4.2. Bahan
Tikus putih jantan, dapar pH 1.2, dapar pH 7.5, larutan NaCl 0.9% b/v
cafein, eter, gas oksigen, alcohol, seng sulfat, dan barium hidroksida.

5. PROSEDUR PERCOBAAN
5.1. Penentuan absorpsi pada usus halus tikus
Hewan percobaan dipuasakan selama 20-24 jam, tapi diberi
minum air masak. Tikus dibunuh dengan eter, kemudan dibuka
perutnya di sepanjang linea mediana dan usus dikeluarkan. Usus
sepanjang 10 cm dibawah pylorus dibuang dan 20 cm dibawahnya
dipotong unntuk percobaan. Usus dibagi dua bagian sama panjang,
kremudian dibersihkan. Bagian anal digunakan sebagai control. Ujung
anal dari potongan usus tersebut diikat dengan benang, kemudian
dengan menggunakan batang gelas yang berdiameter 2 mm usus
tersebut di ukur dengan panjang 10 cm yang sebelumnya telah diisi
dengan cairan serosal 1.4 ml yang terdiri dari larutan NaCl 0.9% b/v,
kantong usus yang sudah diisi cairan serosal ini dimasukkan ke dalam
tabung yang sudah diisi cairan mucosal 75 ml ( yang mengandung
bahan obat) pada suhu 37oC. Kantong usus untuk kontpl dilakukan
dengan cara yang sama, tetapi dengan menggunakan cairan mucosal
tanpa obat. Selama percobaan berlangsung, seluruh bagian usus dijaga
agar dapat terendam dalam cairan mucosal dan selalu dialiri gas

4
oksigen dengan kecepatan kira-kira 100 gelembung permenit. Pada
waktu tertentu kadar obat dalam cairan serosal ditentukan. Untuk
penentuan ini seluruh cairan serosal diambil melalui kanula dan segera
dicuci ddengan larutan 0.9% b/v natrium klorida, kemudian diisi lag
dengan 1.4 ml larutan 0.9% b/v natrium klorida.

5.2. Cara analisis


Di ambil 1 ml sampel kemudian ditambah dengan 2 ml larutan
sengsulfat 5% dan 2 ml barium hidroksida 0.3 N. larutan dikocok dan
disentrifugasi selama 5 menit. Ambil bagian yang jernih, kemudian
dibaca pada panjang gelombbang maksimum .
Catatan : cairan mucosal terdiri dari : 0.01 M asam salisilat dalam
cairan lambung buatan tanpa peptin (pH 1,2) dan dalam cairan usus
buatan tanpa pankreatin (Ph 7.5). Cairan serosal terdiri dari 1.4 ml
larutan 0.9% b/v natrium klorida.

5.3. Evaluasi Data


A. Dibuat grafik hubungan antara jumlah dan kadar obat yang
ditranspor sebagai fungsi waktu.
B. Dihitung Pm (permeabilitas) dan lag time
C. Di hitung Ka (tetapan kecepatan absorpsi)
D. Bandingkan parameter diatas pada pH 1.2 dan pH 7.5

6. HASIL DATA PENGAMATAN


6.1 Kurva Baku
6.1 Tabel kurva baku kafein
Konsentrasi dalam ppm Absorbansi
Konsentrasi uji
(Sumbu X) (Sumbu Y)
1 2 0.213
2 4 0.362
3 6 0.468

5
4 8 0.595
5 10 0.769

1.000 Kurva Baku

ABSORBANSI
0.500 y = 0.0673x + 0.0779
R = 0.9935

0.000
0 2 4 6 8 10 12
PPM

Gambar 6.1 kurva kalibrasi kafein

6.2 Hasil % terabsorpsi kelompok 5


6.2 Tabel % terabsopsi kafein kelompok 5
mg
% terabsorpsi
Waktu Abs C (g/mL) terabsorpsi
0 0 0 0 0
5 0.266 2.795 0.210 0.144
10 0.338 3.865 0.290 0.199
15 0.364 4.251 0.319 0.219
20 0.398 4.756 0.357 0.245
30 0.425 5.158 0.387 0.266

% terabsorpsi
0.3
0.25
0.2
0.15 %
0.1 terabsorpsi
0.05
0
0 5 10 15 20 30

Gambar 6.2 grafik % terabsorpsi kafein

6
6.3 Permeabilitas dan lag time
a. pH 1.2
Tabel 6.3 lag time pH 1,2
Lag Time pH
Waktu 1.2
0 0
5 0.339
10 0.676
15 1.014
20 1.352
30 2.026

Lag Time pH 1.2


2.5

1.5
Lag Time pH
1 1.2
0.5

0
0 10 20 30 40

Gambar 6.3 grafik Lag Time pH 1.2


b. pH 7.5
6.4 Tabel Lag Time pH 7.5
Lag Time pH
Waktu 7.5
0 0
5 0.339
10 0.677
15 1.014
20 1.351
30 2.025

7
Lag Time pH 7.5
2.5
2
1.5
Lag Time pH
1 7.5
0.5
0
0 20 40

Gambar 6.4 Grafik Lag Time pH 7.5


6.4 Kecepatan Absorpsi
a. Kecepatan absorpsi pH 1.2

Ka = Pm . Cg
Ka = 0,023 . 2,956

Ka = 0,680 ppm/menit

b. Kecepatan Absopsi pH 7.5


Ka = Pm . Cg
Ka = 0,025 . 2,722

Ka = 0,681 ppm/menit