Anda di halaman 1dari 16

UJI DISOLUSI PARTIKULAT

1. Tujuan
Mempelajari pengaruh keadaan bahan (baku) obat (polimorf, hidrat,
solvate) terhadap kecepatan disolusi partikulat sebagai preformulasi untuk bentuk
sediaannya.

2. Prinsip
Berdasarkan proses pelarutan zat aktif dalam media pelarut dengan
menggunakan alat disolusi tipe 2 (tipe dayung).

3. Teori
Disolusi obat adalah suatu proses pelarutan senyawa aktif dari bentuk
sediaan padat ke dalam media pelarut. Pelarut suatu zat aktif sangat penting
artinya karena ketersediaan suatu obat sangat tergantung dari kemampuan zat
tersebut melarut ke dalam media pelarut. Pelarut suatu zat aktif sangat penting
artinya karena ketersediaan suatu obat sangat tergantung dari kemampuan zat
tersebut melarut ke dalam media pelarut sebelum diserap ke dalam tubuh. Sediaan
obat yang harus diuji disolusinya adalah bentuk padat atau semi padat yaitu
bentuk tablet, kapsul dan salep (Martin,1993)
Agar suatu obat diabsorbsi, mula-mula obat tersebut harus larut dalam
cairan pada tempat absorpsi. Dalam hal ini dimana kelarutan suatu obat
tergantung dari apakah medium asam atau medium basa, obat tersebut akan
dilarutkan berturut-turut dalam lambung dan dalam usus halus. Proses melarutnya
suatu obat disebut disolusi (Ansel, 1989).
Jika proses disolusi untuk suatu partikel obat tertentu adalah cepat atau jika
obat diberikan sebagai suatu larutan dan tetap ada dalam tubuh seperti itu, laju
obat yang terabsorbsi terutama akan tergantung pada kesanggupannya menembus
pembatas membran. Tetapi, jika disolusi untuk suatu partikel obat lambat,
misalnya mungkin karena karakteristik zat obat atau bentuk dosis yang diberikan,
proses disolusinya sendiri akan merupakan tahap yang menentukan laju dalam
proses absorbsi (Ansel, 1989)
Kecepatan pelarutan berbanding lurus dengan luas permukaan bahan padat,
koefisien difusi, serta berbanding lurus dengan turunnya konsentrasi pada waktu t.
Kecepatan pelarutan ini juga berbanding terbalik dengan tebal lapisan difusi.
Pelepasan zat aktif dari suatu produk obat sangat dipengaruhi oleh sifat
fisikokimia zat aktif dan bentuk sediaan. Ketersediaan zat aktif ditetapkan oleh
kecepatan pelepasan zat aktif dari bentuk sediaan, dimana pelepasan zat aktif
ditentukan oleh kecepatan melarutnya dalam media sekelilingnya (Tjay, 2002).
Agar suatu obat diabsorbsi, mula-mula obat tersebut harus larutan dalam
cairan pada tempat absorbsi. Sebagai contoh, suatu obat yang diberikan secara
oral dalam bentuk tablet atau kapsul tidak dapat diabsorbsi sampai partikel-
partikel obat larut dalam cairan pada suatu tempat dalam saluran lambung-usus.
Dalam hal dimana kelarutan suatu obat tergantung dari apakah medium asam atau
medium basa, obat tersebut akan dilarutkan berturut-turut dalam lambung dan
dalam usus halus. Proses melarutnya suatu obat disebut disolusi (Ansel, 1985).
Pelepasan zat aktif dari suatu produk obat sangat dipengaruhi oleh sifat
fisikokimia zat aktif dan bentuk sediaan. Ketersediaan zat aktif biasanya
ditetapkan oleh kecepatan pelepasan zat aktif dari bentuk sediaannya. Pelepasan
zat aktif dari bentuk sediaan biasanya ditentukan oleh kecepatan melarutnya
dalam media sekelilingnya (Amir, 2007).
Disolusi adalah suatu jenis khusus dari suatu reaksi heterogen yang
menghasilkan transfer massa karena adanya pelepasan dan pemindahan
menyeluruh ke pelarut dari permukaan padat. Teori disolusi yang umum adalah
(Amir, 2007) :
1. Teori film (model difusi lapisan)
2. Teori pembaharuan-permukaan dari Danckwerts (teori penetrasi)
3. Teori Solvasi terbatas/Inerfisial
Kecepatan disolusi merupakan kecepatan zat aktif larut dari suatu bentuk
sediaan utuh/ pecahan/ partikel yang berasal dari bentuk sediaan itu sendiri.
Kecepatan disolusi zat aktif dari keadaan polar atau dari sediaannya didefinisikan
sebagai jumlah zat aktif yang terdisolusi per unit waktu di bawah kondisi antar
permukaan padat-cair, suhu dan komposisi media yang dibakukan (Shargel,
1988).
Tes kecepatan melarut telah didesain untuk mengukur berapa kecepatan zat
aktif dari satu tablet atau kapsul melarut ke dalam larutan. Hal ini perlu diketahui
sebagai indikator kualitas dan dapat memberikan informasi sangat berharga
tentang konsistensi dari batch satu ke batch lainnya. Tes disolusi ini didesain
untuk membandingkan kecepatan melarutnya suatu obat, yang ada di dalam suatu
sediaan pada kondisi dan ketentuan yang sama dan dapat diulangi (Shargel, 1988).
Kecepatan disolusi sediaan sangat berpengaruh terhadap respon klinis dari
kelayakan sistem penghantaran obat. Disolusi menjadi sifat sangat penting pada
zat aktif yang dikandung oleh sediaan obat tertentu, dimana berpengaruh terhadap
kecepatan dan besarnya ketersediaan zat aktif dalam tubuh. Jika disolusi makin
cepat, maka absorbsi makin cepat. Zat aktif dari sediaan padat (tablet, kapsul,
serbuk, suppositoria), sediaan sistem terdispersi (suspensi dan emulsi), atau
sediaan-sediaan semisolid (salep, krim, pasta) mengalami disolusi dalam
media/cairan biologis kemudian diikuti absorbsi zat aktif ke dalam sirkulasi
sistemik (Voigt, 1995).
Bila suatu tablet atau sediaan obat lainnya dimasukkan dalam saluran cerna,
obat tersebut mulai masuk ke dalam larutan dari bentuk padatnya. Kalau tablet
tersebut tidak dilapisi polimer, matriks padat juga mengalami disintegrasi menjadi
granul-granul, dan granul-granul ini mengalami pemecahan menjadi partikel-
partikel halus. Disintegrasi, deagregasi dan disolusi bisa berlangsung secara
serentak dengan melepasnya suatu obat dari bentuk dimana obat tersebut
diberikan (Martin, 1993).
Mekanisme disolusi, tidak dipengaruhi oleh kekuatan kimia atau reaktivitas
partikel-partikel padat terlarut ke dalam zat cair, dengan mengalami dua langkah
berturut-turut (Gennaro, 1990) :
1. Larutan dari zat padat pada permukaan membentuk lapisan tebal yang
tetap atau film disekitar partikel.
2. Difusi dari lapisan tersebut pada massa dari zat cair.
Pada waktu suatu partikel obat mengalami disolusi, molekul-molekul obat
pada permukaan mula-mula masuk ke dalam larutan menciptakan suatu lapisan
jenuh obat-larutan yang membungkus permukaan partikel obat padat. Lapisan
larutan ini dikenal sebagai lapisan difusi. Dari lapisan difusi ini, molekul-molekul
obat keluar melewati cairan yang melarut dan berhubungan dengan membran
biologis serta absorbsi terjadi. Jika molekul-molekul obat terus meninggalkan
larutan difusi, molekul-molekul tersebut diganti dengan obat yang dilarutkan dari
permukaan partikel obat dan proses absorbsi tersebut berlanjut (Martin, 1993).
Jika proses disolusi untuk suatu partikel obat tertentu adalah cepat, atau jika
obat diberikan sebagai suatu larutan dan tetap ada dalam tubuh seperti itu, laju
obat yang terabsorbsi terutama akan tergantung pada kesanggupannya menembus
pembatas membran. Tetapi, jika laju disolusi untuk suatu partikel obat lambat,
misalnya mungkin karena karakteristik zat obat atau bentuk dosis yang diberikan ,
proses disolusinya sendiri akan merupakan tahap yang menentukan laju dalam
proses absorbsi. Perlahan-lahan obat yang larut tidak hanya bisa diabsorbsi pada
suatu laju rendah, obat-obat tersebut mungkin tidak seluruhnya diabsorbsi atau
dalam beberapa hal banyak yang tidak diabsorbsi setelah pemberian oral, karena
batasan waktu alamiah bahwa obat bisa tinggal dalam lambung atau saluran usus
halus (Martin, 1993).
Pemikiran awal dilakukannya uji hancurnya tablet didasarkan pada
kenyataan bahwa tablet itu pecah menjadi lebih luas dan akan berhubungan
dengan tersedianya obat di dalam cairan tubuh. Namun sebenarnya uji hancur
hanya waktu yang diperlukan tablet untuk hancur di bawah kondisi yang
ditetapkan dan lewatnya partikel melalui saringan. Uji ini tidak memberi jaminan
bahwa partikel-partilkel tersebut akan melepas bahan obat dalam larutan dengan
kecepatan yang seharusnya. Untuk itulah sebabnya uji disolusi dan ketentuan uji
dikembangkan bagi hampir seluruh produk tablet (Martin, 1993).
Pelepasan dari bentuk-bentuk sediaan dan kemudian absorpsi dalam tubuh
dikontrol oleh sifat fisika kimia dari obat dan bentuk yang diberikan, serta sifat-
sifat fisika kimia dan fisiologis dari sistem biologis. Konsentrasi obat, kelarutan
dalam air, ukuran molekul, bentuk kristal, ikatan protein, dan pKa adalah faktor-
faktor fisika kimia yang harus dipahami untuk mendesain sistem pemberian
(Martin, 1993).
Obat-obat yang diberikan dalam bentuk larutan biasanya diabsorpsi lebih
cepat dibandingkan pemberian dalam bentuk padat, karena tidak membutuhkan
prose melarut (Ansel, 1989).
Disolusi dari suatu partikel obat dikontrol oleh beberapa sifat fisika-kimia,
termasuk bentuk kimia, kebiasaan kristal, ukuran partikel, kelarutan, luas
permukaan, dan sifat-sifat pembasahan. Bila data kelarutan kesetimbangan
dirangkaikan, maka eksperimen disolusi dapat membantu mengidentifikasi daerah
masalah bioavailabilitas potensial (Lachman, 1994).
Obat dapat diubah dalam sistem saluran cerna menjadi berbagai bentuk
yang menjadikannya kurang atau lebih lambat tersedia untuk diabsorpsi.
Perubahan ini mungkin disebabkan oleh penggabungan atau berikatannya obat-
obat dengan beberapa bahan lain yang mungkin berupa suatu unsur yang normal
dari sistem saluran cerna atau suatu bahan makanan atau bahan obat lain (Ansel,
1989).
Dalam bidang farmasi, penentuan kecepatan pelarutan suatu zat perlu
dilakukan karena kecepatan pelarutan suatu zat aktif dapat dilakukan pada
beberapa tahap pembuatan sediaan obat yaitu : tahap preformulasi, tahap
formulasi, dan tahap produksi (Effendi, 2005).
Beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi disolusi adalah luas
permukaan, bentuk obat kristal dan amorf, bentuk garam, atau faktor lainnya yaitu
keadaan hidrasi dari suatu obat dapat mempengaruhi kelarutan dan pola absorpsi.
Biasanya bentuk anhidrat dari suatu molekul organik lebih mudah larut daripada
anhidratnya (Ansel, 1989).
Analisis kecepatan disolusi zat aktif dari sediaannya merupakan analisis
yang penting dalam pengujian mutu untuk sediaan-sediaan obat. Analisis disolusi
telah masuk persyaratan wajib USP untuk persyaratan tablet dan kapsul, sejak
tahun 1960. Berbagai studi telah berhasil dalam korelasi disolusi in vivo dengan
disolusi in vitro. Namun, disolusi bukan merupakan suatu peramal koefisien
terapi, tetapi disolusi lebih merupakan parameter mutu yang dapat memberikan
informasi berharga tentang ketersediaan hayati dari suatu produk (Voigt, 1995).

4. Alat dan Bahan


4.1. Alat
Alat-alat yang digunakan adalah timbangan analitik, alat-alat gelas,
tabung disolusi, penyangga (holder) motor pemutar, stopwatch,
spektrofotometer UV.

4.2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan adalah teofillin anhidrat, teofillin
monohidrat, kloramfenikol, kloramfenikol dalam metanol, dan dapar fosfat
pH 6,8.

5. Prosedur
Sampel dimasukkan ke dalam tabung uji disolusi dengan suhu yang telah
diatur 37 0,5C, kemudian ditambahkan 500 mL dapar fosfat pH 6,8.
Selanjutnya dipasang motor pemutar dan segera diputar dengan kecepatan 50
putaran per menit. Sampel hasil disolusi diambil tiap rentang waktu tertentu
(menit ke 5, 10, 15, 20 dan 30). Sampel yang diperoleh ditentukan kadarnya
secara spektrofotometrik.

6. Hasil pengamatan
Medium Disolusi : Dapar fosfat pH 6,8
Volume : 500 mL
Kecepatan : 50 rpm
Penentuan kadar secara spektrofotometrik
Percobaan dilakukan pada maks:
1. Kloramfenikol : 271 nm
2. Teofilin : 274 nm
Volume sampel tiap kali pengambilan : 5 mL

Tabel 6.1 Hasil pengamatan % disolusi teofilin anhidrat

ppm mg faktor mg %
t (menit) absorbansi
(g/ml) terdisolusi koreksi terkoreksi disolusi
0 0 0 0 0 0 0
5 0.591 13.987 6.994 0.070 6.994 13.987
10 0.517 12.443 6.221 0.062 6.291 12.582
15 0.579 13.737 6.868 0.069 7.001 14.001
20 0.457 11.190 5.595 0.056 5.796 11.592
30 1.016 22.860 11.430 0.114 11.687 23.374

Tabel 6.2 Hasil pengamatan % disolusi teofilin monohidrat

ppm mg faktor mg %
t (menit) absorbansi
(g/ml) terdisolusi koreksi terkoreksi disolusi
0 0 0 0 0 0 0
5 0.482 15.746 7.873 0.079 7.873 15.746
10 0.51 16.450 8.225 0.082 8.304 16.607
15 0.547 17.379 8.690 0.087 8.851 17.701
20 0.541 17.229 8.614 0.086 8.862 17.724
30 0.597 18.636 9.318 0.093 9.652 19.304

Tabel 6.3 Hasil pengamatan % disolusi kloramfenikol

t ppm mg faktor mg %
absorbansi
(menit) (g/ml) terdisolusi koreksi terkoreksi disolusi
0 0 0 0 0 0 0
5 0.765 111.619 55.809 0.558 55.809 111.619
10 0.424 76.464 38.232 0.382 38.790 77.580
15 0.409 74.918 37.459 0.375 38.399 76.798
20 0.443 78.423 39.211 0.392 40.526 81.053
30 0.474 81.619 40.809 0.408 42.516 85.033

Tabel 6.4 Hasil pengamatan % disolusi kloramfenikol dalam metanol

ppm mg faktor mg %
t (menit) absorbansi
(g/ml) terdisolusi koreksi terkoreksi disolusi
0 0 0 0 0 0 0
5 0.297 113.650 56.825 0.568 56.825 14.206
10 0.16 107.248 53.624 0.536 54.192 13.548
15 0.127 105.706 52.853 0.529 53.957 13.489
20 0.128 105.752 52.876 0.529 54.509 13.627
30 0.124 105.565 52.783 0.528 54.944 13.736

7. Pembahasan
Disolusi obat merupakan suatu proses pelarutan senyawa aktif dari bentuk
sediaan padat ke dalam media pelarut. Pelarutan suatu zat aktif sangat penting
artinya karena ketersediaan suatu obat sangat tergantung dari kemampuan zat
tersebut melarut ke dalam media pelarut sebelum diserap ke dalam tubuh.
Pada praktikum ini dilakukan uji disolusi terhadap zat aktif kloramfenikol,
kloramfenikol terendam metanol, teofilin monohidrat dan teofilin anhidrat yang
berdasarkan pada proses pelarutan zat aktif dalam media pelarut dengan
menggunakan alat disolusi tipe 2 (tipe dayung).
Metode dayung terdiri atas suatu dayung yang dilapisi khusus, yang
berfungsi memperkecil turbulensi yang disebabkan oleh pengadukan. Dayung
diikat secara vertikal ke suatu motor yang berputar dengan suatu kecepatan yang
terkendali. Tablet atau kapsul diletakkan dalam labu pelarutan yang beralas bulat
yang juga berfungsi untuk memperkecil turbulensi dari media pelarutan. Alat
ditempatkan dalam suatu bak air yang bersuhu konstan, seperti pada metode
basket dipertahankan pada 37C. Posisi dan kesejajaran dayung ditetapkan dalam
USP. Metode dayung sangat peka terhadap kemiringan dayung. Pada beberapa
produk obat, kesejajaran dayung yang tidak tepat secara drastis dapat
mempengaruhi hasil pelarutan.Standar kalibrasi pelarutan yang sama digunakan
untuk memeriksa peralatan sebelum uji dilaksanakan (Agoes, 2008).
Laju disolusi obat secara in vitro dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya
adalah sifat fisika kimia obat. Sifat fisika kimia obat berpengaruh besar terhadap
kinetika disolusi. Luas permukaan efektif dapat diperbesar dengan memperkecil
ukuran partikel. Laju disolusi akan diperbesar karena kelarutan terjadi pada
permukaan solut. Kelarutan obat dalam air juga mempengaruhi laju disolusi. Obat
berbentuk garam, pada umumnya lebih mudah larut dari pada obat berbentuk
asam maupun basa bebas. Obat dapat membentuk suatu polimorfi yaitu
terdapatnya beberapa kinetika pelarutan yang berbeda meskipun memiliki struktur
kimia yang identik. Polimorfisme dan sifat permukaan zat akan sangat
mempengaruhi kelarutan suatu zat, adanya polimorfisme seperti struktur internal
zat yang berlainan, akan mempengaruhi kelarutan zat tersebut dimana kristal
metastabil akan lebih mudah larut daripada bentuk stabilnya
Obat bentuk kristal secara umum lebih keras, kaku dan secara
termodinamik lebih stabil daripada bentuk amorf, kondisi ini menyebabkan obat
bentuk amorf lebih mudah terdisolusi dari pada bentuk kristal (Shargel dan Yu,
1999).
Pada uji disolusi partikulat ini, zat aktif yang dimasukan ke dalam dapar
fosfat pH 6,8 sebanyak 50 mg. Dapar fosfat pH 6,8 sebagai medium disolusi
ditujukan untuk mengasumsikan kerja obat di usus agar sama seperti suasana pH
di dalam usus dan memahami profil disolusi obat. Kemudian suhu yang
digunakan yaitu dipertahankan agar tetap 37C, agar sesuai dengan suhu tubuh
manusia. Hal ini sebagai pembanding jika obat tersebut berada dalam tubuh
manusia
Pengambilan sampel dilakukan pada menit ke 5, 10, 15, 20 dan 30.
Perbedaan waktu pengambilan sampel dimaksudkan untuk mengetahui kelarutan
obat tersebut dalam waktu tertentu.
Untuk setiap kali pengambilan sampel maka ditambahkan dapar fospat pH
6.8 ke dalam labu disolusi sebanyak sampel yang diambil. Hal ini dikarenakan
volume cairan tubuh tidak berkurang. Sebagaimana pengambilan sampel dalam
labu disolusi.
Dari data yang didapat % disolusi kloramfenikol, kloramfenikol terendam
metanol, teofillin anhidrat dan teofillin monohidrat menunjukkan hasil yang tidak
baik. Setiap menit pengujian sampel yang dilakukan mengalami kenaikan dan
penurunan % disolusi. Seperti pada teofillin anhidrat menit ke-15, memiliki %
disolusi sebesar 14.001 % sedangkan pada 5 menit berikutnya yaitu menit ke-20
memiliki % disolusi sebesar 11.592 %. Penyimpangan ini juga terjadi pada sampel
kloramfenikol menit ke-5 yaitu sebesar 111.619 % sedangkan pada menit
berikutnya yaitu menit ke 10 memiliki % disolusi sebesar 77.580 %.
Penyimpangan hasil uji disolusi partikulat tersebut dapat disebabkan oleh
kesalahan dalam pengambilan cuplikan, dimana posisi yang dianjurkan untuk
pengambilan cuplikan adalah di antara bagian puncak dayung dengan permukaan
medium . Cuplikan harus diambil 10-25 mm dari dinding bejana disolusi, karena
bagian ini diperkirakan merupakan bagian yang paling baik pengadukannya
(Martin, et. al., 2008).

8. Kesimpulan
Pada praktikum ini dapat diketahui bahwa teofillin anhidrat memiliki %
disolusi yang lebih baik yaitu 23.374 % selama 30 menit dibandingkan teofillin
monohidrat dengan % disolusi sebesar 19.304 % selama 30 menit, dan
kloramfenikol memiliki % disolusi yang lebih baik yaitu 85.03 % selama 30 menit
dibandingkan kloramfenikol terendam metanol dengan % disolusi sebesar 13.7
%.
DAFTAR PUSTAKA

Amir, Syarif.dr, dkk.2007. Farmakologi dan Terapi. Edisi kelima. Jakarta : Gaya
Baru.

Ansel, Howard C., 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi IV. Jakarta :
UI Press

Effendi, M. Idris, 2005, Penuntun Praktikum Farmasi Fisika. Makasar :


Universitas Hasanuddin Press.

Gennaro, A. R., et all., 1990, Remingtos Pharmaceutical Sciensces, Edisi 18th.


Pensylvania : Marck Publishing Company.

Lachman, Leon, dkk, 1994, Teori dan Praktek Farmasi Industri I Edisi III. Jakarta
: UI Press, Jakarta.

Martin, Alfred, dkk. 1993 . Farmasi Fisika: Dasar-dasar farmasi fisika dalam
ilmu farmasetika, diterjemahkan oleh Yoshita , edisi III , jilid II. Jakarta;
penerbit UI.

Shargel, Leon, dan Andrew B.C.Y.U. 1988. Biofarmasi dan Farmakokinetika


Terapan. Edisi II. Penerjemah Dr. Fasich, Apt. dan Dra. Siti Sjamsiah,
Apt. Surabaya : Airlangga University Press.

Voigt, 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Yogyakarta : Universitas Gadjah


Mada Press.

LAMPIRAN
HASIL UJI DISOLUSI

1. Pembuatan kurva baku teofillin anhidrat


Konsentrasi Konsentrasi
Absorbansi
uji dalam ppm
1 18 0.791
2 16 0.671
3 14 0.587
4 12 0.523
5 10 0.386

2. Hasil uji disolusi teofillin anhidrat

ppm mg faktor mg %
t (menit) absorbansi
(g/ml) terdisolusi koreksi terkoreksi disolusi
0 0 0 0 0 0 0
5 0.591 13.987 6.994 0.070 6.994 13.987
10 0.517 12.443 6.221 0.062 6.291 12.582
15 0.579 13.737 6.868 0.069 7.001 14.001
20 0.457 11.190 5.595 0.056 5.796 11.592
30 1.016 22.860 11.430 0.114 11.687 23.374
3. Pembuatan kurva baku teofillin monohidrat

Konsentrasi Konsentrasi dalam


Absorbansi
uji ppm
1 14 0.6935
2 12 0.6376
3 11 0.5865
4 9 0.4889
5 6 0.3871

4. Hasil uji disolusi teofilin monohidrat

t (menit) Absorbansi ppm mg faktor mg %


(g/ml) terdisolusi koreksi terkoreksi disolusi
0 0 0 0 0 0 0
5 0.482 15.746 7.873 0.079 7.873 15.746
10 0.51 16.450 8.225 0.082 8.304 16.607
15 0.547 17.379 8.690 0.087 8.851 17.701
20 0.541 17.229 8.614 0.086 8.862 17.724
30 0.597 18.636 9.318 0.093 9.652 19.304

5. Pembuatan kurva baku kloramfenikol

Konsentrasi Konsentrasi
Absorbansi
uji dalam ppm
1 100 0.6444
2 95 0.6064
3 90 0.5561
4 85 0.5104
5 80 0.4504
6. Hasil uji disolusi kloramfenikol

ppm mg faktor mg %
t (menit) absorbansi
(g/ml) terdisolusi koreksi terkoreksi disolusi
0 0 0 0 0 0 0
5 0.765 111.619 55.809 0.558 55.809 111.619
10 0.424 76.464 38.232 0.382 38.790 77.580
15 0.409 74.918 37.459 0.375 38.399 76.798
20 0.443 78.423 39.211 0.392 40.526 81.053
30 0.474 81.619 40.809 0.408 42.516 85.033

7. Pembuatan kurva baku kloramfenikol terendam metanol

Konsentrasi Konsentrasi Absorbansi


uji dalam ppm
1 140 0.862
2 135 0.758
3 130 0.653
4 125 0.532
5 120 0.431
6 115 0.333

8. Hasil uji disolusi klorampenikol terendam metanol

ppm mg faktor mg %
t (menit) Absorbansi
(g/ml) terdisolusi koreksi terkoreksi disolusi
0 0 0 0 0 0 0
5 0.297 113.650 56.825 0.568 56.825 14.206
10 0.16 107.248 53.624 0.536 54.192 13.548
15 0.127 105.706 52.853 0.529 53.957 13.489
20 0.128 105.752 52.876 0.529 54.509 13.627
30 0.124 105.565 52.783 0.528 54.944 13.736