Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Istilah pubertas maupun adolescensia sering di maknai dengan masa


remaja, yakni masa perkembangan sifat tergantung (dependence) terhadap
orang tua kearah kemandirian (independence), minat-minat seksual, perenungan
diri, perhatian terhadap nilai-nilai estetika dan isu-isu moral. Sedangkan
menurut Harold Alberty (1967:86), remaja merupakan masa peralihan antara
masa anak dan masa dewasa yakni berlangsung 11-13 tahun sampai 18-20
tahun menurut umur kalender kelahiran seseorang.

Sejauh mana remaja dapat mengamalkan nilai-nilai yang di anutnya dan


yang telah dicontohkan kepada mereka? Salah satu tugas perkembangan yang
harus dilakukukan remaja adalah mempelajari apa yang diharapkan oleh
kelompoknya lalu menyesuaikan tingkah lakunya dengan harapan sosial tanpa
bimbingan, pengawasan, motivasi, dan ancaman sebagaimana sewaktu kecil.
Dia juga di tuntut mampu mengendalikan tingkah lakunya karena dia bukan
lagi tanggung jawab orang tua atau guru.

Berdasarkan penelitian empiris yang dilakukan Kohlberg pada tahun


1958, sekaligus menjadi disertasi doktornya dengan judul The Developmental
of model of moral Think and choice in the years 10 to 16. menyebutkan bahwa
tahap-tahap perkembangan moral pada individu dapat di bagi sebagai berikut:

1. Tingkat Prakonvensional

Pada tingkat ini anak tanggap terhadap aturan-aturan budaya dan


terhadap ungkapan-ungkapan budaya mengenai baik dan buruk, benar dan
salah. Akan tetapi, hal ini semata-mata ditafsirkan dari segi sebab akibat fisik
atau kenikmatan perbuatan (hukuman, keuntungan, pertukaran dan kebaikan).

2. Tingkat Konvensional

1
Pada tingkat ini, anak hanya menurut harapan keluarga, kelompok atau
bangsa. Ia memandang bahwa hal tersebut bernilai bagi dirinya sendiri, tanpa
mengindahkan akibat yang segera dan nyata.

3. Tingkat Pasca-konvensional

Pada tingkat ini terdapat usaha yang jelas untuk merumuskan nilai-nilai
dan prinsip moral yang dimiliki keabsahan dan dapat diterapkan, terlepas dari
otoritas kelompok atau orang yang berpegang pada prinsip-prinsip itu dan
terlepas pula dari identifikasi individu sendiri dengan kelompok tersebut.

Piaget menyebutkan bahwa masa remaja sudah mencapai tahap


pelaksanan formal dalam kemampuan kognitif. Dia mampu mempertimbangkan
segala kemungkinan untuk mengatasi suatu masalah dari beberapa sudut
pandang dan berani mempertanggung jawabkan.

Sehingga kohlberg juga berpendapat bahwa perkembangan moral


ketiga, moralitaspasca-konvensional harus di capai selama masa remaja.
Sejumlah prinsip di terimanya melalui dua tahap; pertama menyakini bahwa
dalam keyakinan moral harus ada fleksibilitas sehingga memungkinkan
dilakukan perbaikan dan perubahan standar moral bila menguntungkan semua
anggota kelompok; kedua menyesuaikan diri dengan standar sosial dan ideal
untuk menjahui hukuman sosial terhadap dirinya sendiri, sehingga
perkembangan moralnya tidak lagi atas dasar keinginan pribadi, tatapi
mernghormati orang lain.

Akan tetapi pada kenyataan banyak di temukan remaja yang belum bisa
mencapai tahap pasca-konvensional, dan juga pernah di temukan remaja yang
baru mencapai tahapprakonvensional.

Fenomena tersebut banyak di jumpai pada remaja yang pada umumnya


mereka masih duduk di bangku SMA/SMK, seperti:

1. Berperangi tidak terpuji, meremehkan peraturan dan disiplin sekolah


2. Suka berhura-hura dan bergerombol.

2
3. Mentaati peraturan sekolah, karena takut pada hukuman.
4. Dan tidak jarang kita mendengar perkelahian terjadi antar remaja yang tidak
jelas sebabnya. Bahkan perkelahian dapat meningkat menjadi permusuhan
kelompok, yang menimbulkan korban pada kedua belah pihak. Bila ditanyakan
kepada mereka, apa yang menyebabkan mereka berbuat kekerasan sesama
remaja, dan apa masalahnya sehingga peristiwa yang memalukan tersebut
terjadi, banyak yang menjawab bahwa mereka tidak sadar mengapa mereka
secepat itu menjadi marah dan ikut berkelahi.

Fenomena di atas menggambarkan bahwa upaya remaja untuk mencapai


moralitas dewasa; mengganti konsep moral khusus dengan konsep
moral umum, merumuskan konsep yang baru dikembangkan ke dalam kode
moral sebagai pedoman tingkah laku, dan mengendalikan tingkah laku sendiri,
merupakan upaya yang tidak mudah bagi mayoritas remaja.

Menurut Rice (1999), masa remaja adalah masa peralihan, ketika


individu yang memiliki kematangan. Pada masa tersebut, ada dua hal
penting menyebabkan remaja melakukan pengendalian diri. Dua hal tersebut
adalah, pertama hal yang bersifat eksternal, yaitu adanya perubahan
lingkungan. Pada saat ini, masyarakat dunia sedang mengalami banyak
perubahan begitu cepat yang membawa berabagai dampak, baik positif maupun
negatif bagi remaja. Dan kedua adalah hal yang bersifat internal, yaitu
karakteristik di dalam diri remaja yang membuat relatif lebih bergejolak
dibandingkan dengan masa perkembangan lainnya (storm and stress period).

Agar remaja yang sedang mengalami perubahan cepat dalam tubuhnya


itu mampu menyesuaikan diri dengan keadaan perubahan tersebut, maka
berbagai usaha baik dari pihak orang tua, guru maupun orang dewasa lainnya,
amat diperlukan.

Salah satu peran guru adalah sebagai pembimbing dalam tugasnya yaitu
mendidik, guru harus membantu murid-muridnya agar mencapai kedewasaan
secara optimal. Artinya kedewasaan yang sempurna (sesuai dengan kodrat yang

3
di punyai murid) Dalam peranan ini guru harus memperhatikan aspek-aspek
pribadi setiap murid antara lain kematangan, kebutuhan, kemampuan,
kecakapannya dan sebagainya agar mereka (murid) dapat mencapai tingkat
perkembangan dan kedewasaan yang optimal.

Untuk itu di samping orang tua guru di sekolah juga mempunyai


peranan penting dalam membantu remaja untuk mengatasi kesulitanya,
keterbukaan hati guru dalam membantu kesulitan remaja, akan menjadikan
remaja sadar akan sikap dan tingkah lakunya yang kurang baik.

Usaha yang terpenting guru adalah memberikan peranan pada akal


dalam memahami dan menerima kebenaran agama termasuk mencoba
memahami hikmah dan fungsi ajaran agama.

Guru agama yang bijaksana dan mengerti perkembangan perasaan


remaja yang tidak menentu, dapat menggugahnya kepada petunjuk agama
tentang pertumbuhan dan perkembangan seseorang yang sedang memasuki
masa baligh (puber). Salah satu ketentuan, misalnya dengan memberikan
pengertian tentang berbagai ibadah yang dulu telah dilakukan remaja, seperti
sholat, puasa dan sebagainya, sekarang diberikan hikmah dan makna psikologis
bagi ibadahya tersebut, misalnya makna sholat bagi kesehatan mentalnya. Ia
dapat mengungkapkan perasaan yang galau kepada Allah dan ia dapat berdoa
memohon ampun atas kekeliuannya, ia boleh minta dan mengajukan berbagai
harapan dan keinginan kepada Allah yang Maha Mengerti dan Maha Penyayang
kepada hamban-Nya.

Dengan pemahaman baru tentang makna dan hikmah ajaran agama bagi
kesehatan mental, dan kepentingan hidup pada umumnya, remaja akan mampu
mengatasi kesulitannya, dan mampu mengendalikan diri.

Dengan kemampuan pengendalian diri (self control) yang baik, remaja


di harapkan mampu mengendalikan dan menahan tingkah laku yang bersifat
menyakiti dan merugikan orang lain atau mampu mengendalikan serta menahan
tingkah laku yang bertentangan dengan norma-norma sosial yang berlaku.

4
Remaja juga di harapkan dapat mengantisipasi akibat-akibat negatif yang di
timbulkan pada masa stroom and stress period.

Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Kahfi ayat 10 dan 13:

(ingatlah) tatkala Para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam


gua, lalu mereka berdoa: "Wahai Tuhan Kami, berikanlah rahmat kepada Kami
dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi Kami petunjuk yang Lurus dalam urusan
Kami (ini).

Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar.


Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan
mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.

Berangkat dari kerangka di atas maka peneliti mengambil


judul: UPAYA GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM
MENINGKATKAN SELF CONTROL REMAJA (Study Kasus di SMK PGRI 2
Ponorogo).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dan fokus penelitian, maka dapat


dirumuskan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimanakah Pembelajaran Guru PAI di SMK PGRI 2 Ponorogo?


2. Bagaimanakah Upaya-upaya Guru PAI dalam meningkatkan Self
Control siswa di SMK PGRI 2 Ponorogo?
3. Hasil apa yang di capai dalam meningkatkan self control siswa di
SMK PGRI 2 Ponorogo?
4. Apa faktor pendukung dan penghambat terhadap Peningkatan Self
Control siswa di SMK PGRI 2 Ponorogo?

5
C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah dan fokus penelitian, maka Tujuan


Penelitian yang ingin di capai adalah:

1. Untuk mendiskripsikan dan menjelaskan pembelajaran Guru PAI di


SMK PGRI 2 Ponorogo.
2. Untuk mendiskripsikan dan menjelaskan upaya-upaya Guru PAI dalam
meningkatkan self control siswa di SMK PGRI 2 Ponorogo.
3. Untuk mendiskripsikan dan menjelaskan hasil yang di capai dalam
meningkatkan self control siswa di SMK PGRI 2 Ponorogo.
4. Untuk mendiskripsikan dan menjelaskan faktor pendukung dan
penghambat terhadap peningkatan self control siswa di SMK PGRI 2
Ponorogo.

D. Manfaat Penelitian
Teoritis
Penelitian ini di harapkan dapat menunjukkan bahwa pendidikan
agama dan keagamaan yang di lakukan oleh Guru PAI di SMK PGRI 2
Ponorogo dapat membentuk self control siswa.
Praktis
Penelitian ini dapat berguna sebagai masukan dalam menentukan
kebijakan lebih lanjut bagi SMK PGRI 2 Ponorogo mengenai peranan
Guru PAI dalam membantu siswa siswa membentuk self control yang
baik.

6
BAB II

PEMBAHASAN

A. Tinjauan Pustaka
Self Control (kontrol diri) adalah kemampuan untuk membimbing
tingkah laku sendiri; kemampuan untuk membimbing tingkah laku
sendiri; kemampuan untuk menekan atau merintangi impuls-impuls atau
tingkah laku impulsif.
Averill (dalam, Herlina Siwi, 2000) Menyebut kontrol diri dengan
sebutan kontrol personal, yang terdiri dari tiga jenis kontrol, yaitu:
1. Behavior Control (kontrol perilaku), yang terdiri dari dua komponen,
yaitu kemampuan mengatur pelaksanaan (regulated administration)
dan kemampuan memodifikasi stimulus (stimulus modifiability)
2. Cognitive control (kontrol kognitif), yang terdiri dari dua komponen,
yaitu memperoleh informasi (information gain) dan melakukan
penilaian (appraisal).
3. Decisional Control merupakan kemampuan seseorang untuk memilih
hasil atau suatu tindakan berdasarkan pada sesuatu yang diyakini atau
disetujuinya, kontrol diri dalam menentukan pilihan akan berfungsi
baik dengan adanya suatu kesempatan, kebebasan atau kemungkinan
pada diri individu untuk memilih berbagai kemungkinan tindakan.
Untuk mengukur kontrol diri digunakan aspek-aspek sebagai berikut:
a. Kemampuan mengontrol perilaku
b. Kemampuan mengontrol stimulus
c. Kemampuan mengantisipasi suatu peristiwa atau kejadian
d. Kemampuan menafsirkan peristiwa atau kejadian.
e. Kemampuan mengambil keputusan.
Pendidikan agama Islam hendaknya dapat mewarnai kepribadian anak,
sehingga agama Islam itu, benar-benar menjadi bagian dari pribadinya

7
yang akan menjadi pengendali (controling) dalam hidupnya di
kemudian hari. Untuk tujuan pembinaan pribadi itu, maka pendidikan
agama hendaknya diberikan oleh guru yang benar-benar tercermin
agama itu dalam sikap, tingkah laku, gerak-gerik, cara berpakaian, cara
berbicara, cara menghadapi persoalan dan dalam keseluruhan
pribadinya. Atau dengan singkat dapat dikatakan bahwa Pendidikan
Agama akan sukses, apabila ajaran agama itu hidup dan tercermin dalam
pribadi guru.
Tiga langkah orang dewasa dalam membangun kontrol diri pada anak,
yaitu:
1. langkah pertama adalah memperbaiki perilaku anda, sehingga dapat
memberi contoh control diri yang baik bagi anak dan menunjukkan
bahwa hal tersebut merupakan prioritas.
2. langkah kedua adalah membantu anak menumbuhkan sistem regulasi
internal sehingga dapat menjadi motivator bagi diri mereka sendiri.
3. langkah ketiga mengajarkan cara membantu anak menggunakan
kontrol diri ketika menghadapi godaan dan stres, mengajarkan untuk
berfikir sebelum bertindak sehingga mereka akan memilih sesuatu
yang aman dan baik.

Berdasarkan uraian tersebut maka penelitian ini terkait dengan telaah


pustaka terdahulu yang berusaha mengupas pembahasan tentang:

1. Mukh. Nur Sikin, tahun 2002, yang berjudul: Upaya Guru PAI dalam
meningkatkan nilai-nilai Islam di SMU Negeri 5
Yogyakart. Menghasilkan temuan tentang nilai-nilai agama Islam di
Sekolah, meliputi sholat dhuha, sholat jamaah dan membaca Al-quran
melalui kegiatan ekstra kulikuler keagamaan.
2. Sriyati, tahun 2004, yang berjudul: Upaya Guru PAI dalam pembinaan
Akhlak Siswa di SMK Muhammadiyah 2 Yogyakarta. Menghasilkan

8
temuan tentang pentingnya peranan guru PAI di SMK dalam menangani
perilaku jelek siswa melalui pembelajaran PAI.
3. Dewi Ima Maghfiroh 2004, yang berjudul: Pengaruh Pembelajaran PAI
terhadap ketaatan beribadah siswi tingkat III di SMKN 2
Ponorogo, menghasilkan temuan tentang:
1) Pembelajaran PAI di SMK Negeri 2 Ponorogo pada kategori sedang
2) Ketaatan beribadah siswi tingkat III di SMK Negeri 2 Ponorogo pada
kategori sedang.
3) Ada pengaruh yang signifikan anatara pembelajaran PAI dengan
ketaatan beribadah siswi tingkat III SMK Negeri 2 Ponorogo. Karena
pembelajaran PAI selain berdasakan kurikulum yang di tetapkan juga
berdasarkan kegiatan-kegiatan keagamaan yang bersifat non
kurikulum.
4. M. Nur Ghufron, tahun 2003, yang berjudul: Hubungan Kontrol diri,
persepsi remaja terhadap penerapan disiplin orang tua dengan
prokrastinasi akademik.Menghasilkan temuan tentang:
1) Ada hubungan negatif antara kontrol diri dengan prokrastinasi
akademik.
2) Ada hubungan negatif antara persepsi remaja terhadap penerapan
disiplinotoriter orang tua dengan prokrastinasi akademik
3) Ada hubungan negatif antara persepsi remaja terhadap penerapan
disiplin demokrasi orang tua dengan prokrastinasi akademik.
4) Ada hubungan positif antara persepsi remaja terhadap penerapan
disiplin permisif orang tua dengan prokrastinasi akademik.

Berdasarkan judul skripsi yang mereka angkat, maka penulis akan


mengadakan penelitian, sehingga sampai saat ini gagasan penelitian muncul
dan belum ditemukan penelitian yang membahas tentang: Upaya Guru
Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan self control siswa di SMK
PGRI 2 Ponorogo, hal ini sebagai bentuk betapaurgennya self control bagi
anak SMK.

9
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Pendekatan dan Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini digunakan Metodologi dengan pendekatan


kualitatif, yang memiliki karakteristik alami (natural setting) sebagai
sumber data lansung, deskriptif, proses lebih dipentingkan dari pada hasil,
analisis dalam penelitian kualitatif cenderung dilakukan secara analisa
induktif dan makna merupakan hal yang esensial.[20]

Ada 6 (enam) macam metodologi penelitian yang menggunakan


pendekatan kualitatif, yaitu: etnografis, studi kasus, grounded theory,
interaktif, partisipatories, dan penelitian tindakan kelas.

Dalam hal ini penelitian yang digunakan adalah penelitian studi kasus
(case study), yaitu: suatu penelitian yang dilakukan untuk mempelajari
secara intensif tentang latar belakang keadaan sekarang, dan interaksi
lingkungan suatu unit sosial: individu, kelompok, lembaga, atau
masyarakat.[21]

Kehadiran Peneliti

Ciri khas penelitian kualitatif tidak dapat dipisahkan dari pengamatan


berperan serta, sebab peranan penelitilah yang menentukan keseluruhan
skenarionya.[22]

Untuk itu, dalam hal ini peneliti adalah sebagai instrumen kunci,
partisipasi penuh sekaligus pengumpul data, sedangkan instrumen yang lain
adalah sebagai penunjang.

Lokasi Penelitian

Penelitian ini berlokasi di SMK PGRI 2 Ponorogo karena di dasarkan


pada beberapa pertimbangan:

10
SMK adalah Sekolah Menengah Kejuruan yang memiliki konotasi
keagamaan yang tidak begitu baik menurut pandangan masyarakat.
Ternyata memiliki suatu kegiatan keagamaan yang begitu unik,
sehingga Guru Pendidikan Agama Islam di SMK sangat berperan dalam
memantau penyimpangan perilaku para siswa.
Adanya Imam-Imam setiap Kelas yang bertujuan untuk mendisplinkan
berjalannya kegiatan sholat jamaah Dluhur dan kursus membaca Al-
Quran.
Keberhasilan pendidikan agama Islam tidak hanya dilihat dari keaktifan
siswa dalam mengikuti pelajaran di kelas dan keaktifan mengikuti ekstra
keagamaan, tapi harus dilihat juga dari meningkatnya pengendalian diri
pada siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Sumber Data

Sumber data utama dalam penelitian ini adalah kata-kata dan tindakan,
selebihnya adalah tambahan, seperti dokumen dan lainnya.

Dengan demikian sumber data dalam penelitian ini adalah kata-kata dan
tidakan sebagai sumber utama, sedangkan sumber data tertulis, foto dan
catatan tertulis adalah sumber data tambahan.

Prosedur Pengumpulan Data

Tehnik pengumpulan data pada penelitian ini adalah


wawancara, observasi dan dokumentasi. Sebab bagi peneliti kualitatif
fenomena dapat di mengerti maknanya secara baik, apabila dilakukan
interaksi dengan subyek melalui wawancara mendalam dan observasi pada
latar, dimana fenomena tersebut berlansung dan di samping itu untuk
melengkapi data diperlukan dokumentasi (tentang bahan-bahan yang ditulis
oleh atau tentang subyek).

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Maksud


digunakannya wawancara anatara lain adalah (a) mengkonstruksi
mengenai orang, kejadian, kegiatan organisasi, perasaan, motivasi,

11
tuntutan, kepedulian dan lain-lain, (b) mengkonstruksikan kebulatan-
kebulatan demikian yang dialami masa lalu.

Dalam penelitian ini teknik wawancara yang peneliti gunakan adalah


wawancara mendalam artinya peneliti mengajukan beberapa pertanyaan
secara mendalam yang berhubungan dengan fokus permasalahan. Sehingga
data-data yang dibutuhkan dalam penelitian dapat terkumpul secara
maksimal sedangkan subjek peneliti dengan teknik Purposive Sampling
yaitu pengambilan sampel bertujuan, sehingga memenuhi kepentingan
peneliti.[23]

Sedangkan jumlah informan yang diambil terdiri dari: 1). Kepala


Sekolah SMK PGRI 2 Ponorogo; 2). Guru Bimbingan dan Penyuluhan
SMK PGRI 2 Ponorogo; 3). Guru PAI SMK PGRI 2 Ponorogo; dan 4).
Seluruh Imam Kelas SMK PGRI 2 Ponorogo.

Teknik Observasi, dalam penelitian kualitatif observasi diklarifikasikan


menurut tiga cara. Pertama, pengamat dapat bertindak sebagai
partisipan atau non partisipan.Kedua, observasi dapat dilakukan secara
terus terang atau penyamaran. Ketiga, observasi yang menyangkut latar
penelitian dan dalam penelitian ini digunakan tehnik observasi yang
pertama di mana pengamat bertindak sebagai partisipan.
Tehnik Dokumentasi, digunakan untuk mengumpulkan data dari sumber
non insani, sumber ini terdiri dari dokumen dan rekaman.

Rekaman sebagai setiap tulisan atau pernyataan yang dipersiapkan


oleh atau untuk individual atau organisasi dengan tujuan membuktikan
adanya suatu peristiwa atau memenihi accounting. Sedangkan Dokumen
digunakan untuk mengacu atau bukan selain rekaman, yaitu tidak
dipersiapkan secara khusus untuk tujuan tertentu, seperti: surat-surat, buku
harian, catatan khusus, foto-foto dan sebagainya.

12
Analisa Data

Setelah semua data terkumpul, maka langka berikutnya adalah


pengelolahan dan analisa data. Yang di maksud dengan analisis data adalah
proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari
hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara
mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit,
melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting
dan akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami
oleh dirinya sendiri atau orang lain.

Analisis data dalam kasus ini menggunakan analisis data kualitatif,


maka dalam analisis data selama di lapangan peneliti menggunakan
model spradley, yaitu tehnik analisa data yang di sesuaikan dengan tahapan
dalam penelitian, yaitu:

1. Pada tahap penjelajahan dengan tehnik pengumpulan data grand tour


question, yakni pertama dengan memilih situasi sosial (place, actor,
activity),
2. Kemudian setelah memasuki lapangan, dimulai dengan menetapkan
seseorang informan key informant yang merupakan informan yang
berwibawa dan dipercaya mampu membukakan pintu kepada peneliti
untuk memasuki obyek penelitian. Setelah itu peneliti melakukan
wawancara kepada informan tersebut, dan mencatat hasil wawancara.
Setelah itu perhatian peneliti pada obyek penelitian dan memulai
mengajukan pertanyaan deskriptif, dilanjutkan dengan analisis terhadap
hasil wawancara. Berdasarkan hasil dari analisis wawancara selanjutnya
peneliti melakukan analisis domain.
3. Pada tahap menentukan fokus (dilakukan dengan observasi terfokus)
analisa data dilakukan dengan analisis taksonomi.

13
4. Pada tahap selection (dilakukan dengan observasi terseleksi) selanjutnya
peneliti mengajukan pertanyaan kontras, yang dilakukan dengan analisis
komponensial.
5. Hasil dari analisis komponensial, melalui analisis tema peneliti
menemukan tema-tema budaya. Berdasarkan temuan tersebut,
selanjutnya peneliti menuliskan laporan penelitian kualitatif.
Pengecekan Keabsahan Temuan

Keabsahan data merupakan konsep penting yang diperbaruhi dari


konsep kesahihan (validitas) dan keandalan (reliabilitas). Derajat
kepercayaan keabsahan data (kredebilitas) dapat diadakan pengecekkan
dengan tehnik pengamatan yang tekun, dan triangulasi.

Ketekunan pengamatan yang dimaksud adalah menemukan ciri-ciri dan


unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu
yang sedang dicari.

Tahapan-tahapan Penelitian

Tahapan-tahapan penelitian ini ada tiga tahapan dan ditambah dengan


tahap terakhir penelitian yaitu tahap penulisan laporan hasil penelitian.
Tahap-tahap penelitian tersebut adalah (1) tahap pra lapangan, yang
meliputi menyusun rancangan penelitian, memilih lapangan penelitian,
mengurus perizinan, menjajagi dan menilai keadaan lapangan, memilih dan
memanfaatkan informan, menyiapkan perlengkapan penelitian dan
menyangkut persoalan etika penelitian; (2) tahap pekerjaan lapangan, yang
meliputi memahami latar penelitian dan persiapan diri, memasuki lapangan
dan berperan serta sambil mengumpulkan data, (3) tahap analisis data, yang
meliputi analisis selama dan setelah pengumpulan data; (4) tahap penulisan
hasil laporan penelitian.

14
DAFTAR PUSTAKA

Al-Mighwar, Muhammad. Psikologi Remaja; Petumjuk bagi guru dan orang


tua. Bandung: Pustaka Setia, 2006.

Al-Quran dan Terjemahanya, 18: 10; 18: 13.

Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:


Rineka Cipta, 1998.

Borba, Michele. Membangun Kecerdasan Moral; Tujuh Kebajikan Utama Agar


Anak Bermoral Tinggi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008.

Daradjat, Zakiah. Remaja Harapan Dan Tantangan. Bandung: Remaja


Rosdakarya, 1995.

Daradjat, Zakiah. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Bulan Bintang, 1979.

Fatimah, Enung. Psikologi Perkembangan; Perkembangan Peserta Didik.


Bandung: Pustaka Setia, 2006.

Ghufron, M. Nur. Hubungan Kontrol diri, persepsi remaja terhadap


penerapan disiplin orang tua dengan prokrastinasi akademik. Tesis Ilmu
Psikologi UGM
Yogyakarta,2003. http://www.damandiri.or.id/file/mnurgufronugmbab2.pdf

Gunarsa, D. Singgih. Bunga rampai Psikologi Perkembangan; Dari anak


sampai usia lanjut. Jakarta: Gunung Mulia, 2006.

Hasil observasi awal di SMK PGRI 2 PONOROGO. Pada senin, 1-30


November 2007, pukul. 07.30 WIB-12.45 WIB.

Hasil wawancara dengan Pak Didik (Salah satu satpam di SMK PGRI 2
Ponorogo) pada Senin , 26 November 2007, pukul. 12.30 WIB-12.45 WIB.

Kartono, Kartini. dalam Kamus Lengka PsIkologi. Jakarta: Raja Grafindo


Persada, 1999.

15
Makmun, Abin Syamsuddin. Psikologi Kependidikan. Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2005.

Moleong, Lexy. Metodologi Penelitian Kualitatif . Bandung: PT. Remaja Rosda


Karya, 2002.

Mulyasa. Menjadi Guru Profesinal; Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan


Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006.

Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka


Pelajar, 2004

Sugiyono, Metodologi Penelitian kuantitatif kualitatif dan R & D Bandung:


Alfabeta, 2006.

Suryabrata, Sumadi. Metodologi Penelitian. Jakarta: Raja Grafindo Persada,


1998.

Usman, Uzer. Menjadi Guru Proffesional. Bandung: Remaja Rosdakarya,


1995.

16

Anda mungkin juga menyukai