Anda di halaman 1dari 70

MINI RESEARCH

HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU


PSN MASYARAKAT DENGAN ANGKA BEBAS JENTIK
DI KELURAHAN ARGOMULYA WILAYAH KERJA
PUSKESMAS SEDAYU 1
Disusun untuk Memenuhi Sebagian Syarat Kepaniteraan Klinik
Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta

Disusun oleh :

Wahyu Wijayanto (20110310147)


Yuda Arie Dharmawan (20110310195)
Destha Alissa (20110310199)
Hannisa Hafiz (20110310201)
Muchammad Rizki Musaffa (20110310108)
Siti Novita Kuman (20110310223)

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
PUSKESMAS SEDAYU 1
2017
PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama :

1. Wahyu Wijayanto (20110310147)

2. Yuda Arie Dharmawan (20110310195)

3. Destha Alissa (20110310199)

4. Hannisa Hafiz (20110310201)

5. Muchammad Rizki Musaffa (20110310108)

6. Siti Novita Kuman (20110310223)

Fakultas : Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Program Studi : Pendidikan Dokter

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Karya Tulis Ilmiah yang saya

tulis ini benar-benar merupakan hasil karya sendiri dan belum diajukan dalam

bentuk apapun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang

berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun karya yang tidak

diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan

dalam Daftar Pustaka di bagian akhir Karya Tulis Ilmiah ini.

Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan Karya Tulis

Ilmiah ini mengandung unsur ketidakaslian, maka saya bersedia menerima

sanksi atas perbuatan tersebut.

Yogyakarta, 31 Januari 2017


Yang membuat pernyataan,

Penulis

i
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan berkah,


rahmat, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan
Mini Research yang berjudul Hubungan Pengetahuan, Sikap Dan Perilaku
Psn Masyarakat Dengan Angka Bebas Jentik Di Kelurahan Argomulya
Wilayah Kerja Puskesmas Sedayu 1. Laporan Mini Research ini
dimaksudkan untuk memenuhi sebagian syarat kepaniteraan klinik di bagian
Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Sholawat dan salam senantiasa
tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang telah menjadi suri tauladan bagi
kita.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah


memberikan bantuan selama penulisan Laporan Mini Research ini, antara lain
:

1. dr. H. Ardi Pramono, Sp.An, M.Kes selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
2. dr. Sistia Utami selaku kepala Puskesmas Sewon I Bantul.
3. dr. Denny Anggoro Prakoso, M.Sc selaku dosen pembimbing Ilmu Kesehatan
Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas
Muhammadyah Yogyakarta yang telah bersedia meluangkan waktu dan
membimbing penulis dengan penuh kesabaran dalam menyelesaikan Mini
Research ini.
4. dr. Annamafsul , dr. Hari dan dr. Dina selaku dokter pembimbing Ilmu
Kesehatan Masyarakat di Puskesmas Sedayu 1.

Seluruh staf Puskesmas Sedayu 1 atas bimbingan dan masukannya


selama penulis menjalankan stase Ilmu Kesehatan Masyarakat di Puskesmas
Sedayu 1.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan Mini Research ini


masih jauh dari sempurna, sehingga saran dan kritik yang bersifat
membangun sangat diperlukan oleh penulis. Semoga Mini Research ini dapat
bermanfaat bagi pembaca serta menambah khasanah ilmu pengetahuan
Kedokteran Indonesia.

Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

ii
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL.i
PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN.............ii
KATA PENGANTAR....iii
DAFTAR ISI...iv
DAFTAR TABEL...vi
DAFTAR GAMBAR.vii
BAB I. PENDAHULUAN......1
A. Latar Belakang.....1
B. Rumusan Masalah4
C. Tujuan Penelitian.....5
D. Manfaat Penelitian...6
E. Keaslian Penelitian...7
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA9
a. Tinjauan Pustaka..6
b. Kerangka Konsep...25
c. Hipotesis ....26
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN.27
A. Desain Penelitian27
B. Populasi dan Sampel Penelitian.28
C. Lokasi dan Waktu Penelitian.29
D. Variabel Penelitian.....27
E. Definisi Operasional...31
F. Alat dan Bahan Penelitian..32
G. Jalannya Penelitian.33
H. Analisis Data..34
I. Etika Penelitian..34
BAB IV. HASIL PENELITIAN....36
A. Hasil Penelitian..36
B. Pembahasan42
C. Keterbatasan...47
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN50
A. Kesimpulan..50
B. Saran.50
DAFTAR PUSTAKA51
LAMPIRAN...52

iii
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Distribusi Usia Responden

Tabel 4.2 Distribusi Pendidikan dan Pekerjaan Responden

Tabel 4.3 Data Angka Bebas Jentik

Tabel. 4.4 Hubungan Pengetahuan, sikap dan perilaku antara pedukuhan Pulahan
dan Srontakan

iv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Angka Kesakitan (IR) dan Angka Kematian (CFR) Demam Berdarah
Dengue di Kabupaten Bantul 2011 2015

Gambar 1.2 Jumlah Kasus DBD di Kabupaten Bantul Tahun 2015

Gambar 2.1 Diagram Proses Terbentuknya Sikap dan Reaksi Notoadmodjo (2003)
Gambar 2.2 Kerangka Konsep
Gambar 3.1 Alur Pengambilan Data
Gambar 4.1 Distribusi Pengetahuan Responden
Gambar 4.2 Distribusi Sikap Responden
Gambar 4.3 Distribusi Perilaku Responden

v
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam suatu pembangunan kesehatan telah ditetapkan suatu visi yakni

mencapai Indonesia sehat 2010. Makna dari visi ini adalah masyarakat Indonesia

terbebas dari suatu penyakit termasuk salah satunya penyakit demam berdarah.

Sebenarnya penyakit demam berdarah dengue dapat ditekan serendah mungkin

dengan pemberantasan vektor penularnya. Pada kenyataan sangat jauh dari harapan

tersebut. Hingga saat ini penyakit Demam Berdarah Dengue tetap sebagai salah satu

penyakit yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia.

World Health Organization (WHO) memperkirakan insiden Demam Dengue

telah meningkat dalam kurun waktu 50 tahun terakhir. Insidens Demam Dengue

terjadi baik di daerah tropik maupun subtropik wilayah urban, menyerang lebih dari

100 juta penduduk tiap tahun, termasuk 500.000 kasus DBD dan sekitar 30.000

kematian terutama anak anak. Penyakit ini endemik di 100 negara termasuk Asia

(WHO, 1999; Xu, 2006). Sementara itu, terhitung sejak tahun 1968 hingga tahun

2009, World Health Organization(WHO) mencatat negara Indonesia sebagai negara

dengan kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara (Achmadi, 2011).

Kementerian Kesehatan RI mencatat jumlah penderita DBD di Indonesia

pada bulan Januari-Februari 2016 sebanyak 8.487 orang penderita DBD dengan

jumlah kematian 108 orang. Golongan terbanyak yang mengalami DBD di

Indonesia pada usia 5-14 tahun mencapai 43,44% dan usia 15-44 tahun mencapai

33,25%. Menurut Dinas Kesehatan Bantul Pada tahun 2015 jumlah kasus DBD

naik bila dibandingkan pada Tahun 2014. Pada tahun 2014 terdapat 622 kasus DBD

(IR 0,64), sedangkan pada Tahun 2015 sebanyak 1441 kasus (IR 1,48) dan

1
pada tahun 2016 sebanyak 2225 kasus.

Gambar 1.1 Angka Kesakitan (IR) dan Angka Kematian (CFR)


Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Bantul 2011 2015

Gambar 1.2 Jumlah Kasus DBD di Kabupaten Bantul Tahun 2015

Peta penyebaran penyakit DBD pada Tahun 2015 memperlihatkan

bahwa kasus demam berdarah terdapat di seluruh wilayah kecamatan.

Kejadian paling tinggi terjadi di wilayah kerja Puskesmas Kasihan II

sebanyak 175 kasus. Menurut data surveilen dari puskesmas sedayu 1, terjadi

peningkatan kasus DBD pada tahun 2013 terdapat 3 kasus, 2014 terdapat 4

kasus, 2015 terdapat 24 kasus dan pada tahun 2016 meningkat dengan jumlah

25 kasus. Kelurahan argomulyo merupakan daerah endemis dengan angka

2
kejadian terbanyak selama 2013 sampai 2016 terjadi di dusun Puluhan dengan

jumlah kejadian sebanyak 9 kasus. Sedangkan untuk kasus demam berdarah

sporadik terbanyak pada dusun srontakan dengan jumlah kejadian sebanyak

2 kasus yang terjadi pada tahun 2014 dan 2015.

Faktor penyebab masih tingginya penderita demam berdarah dengue

di berbagai wilayah di Indonesia adalah akibat penyakit DBD merupakan

penyakit yang sifatnya menular dengan media penular atau vektor berupa

nyamuk baik Aedes aegypti maupun albopictus. Sementara itu vektor Aedes

aegypti dan Aedes albopictus masih banyak dijumpai di wilayah Indonesia.

Disisi lain dengan adanya kemajuan teknologi dalam bidang transportasi

menyebabkan mobilitas penduduk relatif cepat sehingga memudahkan

penyebaran sumber penularan dari satu kota ke kota lainnya (Soegijanto,

2004 : 1). Mengingat belum ada obat untuk membasmi virus dengue maka

salah satu cara untuk memutuskan rantai penularan dapat dilakukan dengan

memutuskan mata rantai penularnya. Dalam hal ini adalah dengan mambasmi

nyamuk demam berdarah dengue khususnya Aedes aegypti maupun

albopictus. Pada daerah terjangkit dengan radius minimal 100 meter harus

dilakukan pengasapan (fogging) untuk membasmi nyamuk dewasa. Pada saat

yang bersamaan harus diikuti dengan kegiatan 3M yakni menguras, menutup

dan mengubur tempat perindukan nyamuk (container). Kegiatan ini idealnya

dilakukan setiap keluarga minimal satu minggu sekali sehingga angka bebas

jentik dapat ditingkatkan sampai pada target aman untuk pemberantasan

penyakit demam berdarah dengue yakni minimal 95% (Sumber : Subdin P2

Dinkes Propinsi Jawa Timur, 2007).

Untuk keperluan pemberantasan penularan DBD, survey terhadap

keberadaan jentik nyamuk sangat bermanfaat. Survey terhadap keberadaan

3
jentik nyamuk dapat digunakan sebagai indikator untuk menentukan angka

bebas jentik disuatu daerah. Apabila suatu daerah memiliki angka bebas

jenitk sama atau lebih besar dari 95% maka dapat dikatakan bahwa daerah

tersebut sehingga kemungkinan terjadi penularan penyakit DBD berkurang,

demikian juga sebaliknya ( Depkes RI, 2005).

Kurangnya perilaku kepala keluarga dalam pemberantasan sarang

nyamuk tersebut dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya adalah

karena ketidaktahuan kepala keluarga terhadap maksud, tujuan, manfaat, dan

keuntungan ataupun kerugian jika tidak melaksanakan pemberantasan sarang

nyamuk (3M). Akibatnya timbul sikap negatif atau tidak mendukung terhadap

anjuran melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk. Hal ini sesuai konsep

K-A-P(Knowledge-Attitude-Practice) dalam Notoatmodjo (2003: 131),

artinya perilaku seseorang dapat terwujud jika didukung oleh sikap yang

positif mengenai perilaku yang harus dilakukannya. Sementara itu sikap yang

terbentuk juga harus didukung pengetahuan yang memadai mengenai apa

yang akan dilakukannya. Guna meningkatkan perilaku terhadap

pemberantasan sarang nyamuk maka perlu ada upaya peningkatan

pengEtahuan maupun sikap tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk Aedes

Aegypti dan secara teknis dapat dilakukan melalui pendidikan kesehatan

kepada masyarakat tentang pemberantasan sarang nyamuk.

Mengingat latar belakang permasalahan di atas maka peneliti merasa

perlu mengadakan penelitian mengenai pengetahuan, sikap dan perilaku

tentang pemberantasan sarang nyamuk Aedes Aegypti dengan merumuskan

dalam judul penulisan Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Perilaku

4
PSN dengan Angka Bebas Jentik Di Kelurahan Argomulya Wilayah Kerja

Puskesmas Sedayu 1.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, maka penurunan masalah penelitian adalah

Apakah terdapat hubungan antara pengetahuan, sikap dan perilaku pemberantasan

sarang nyamuk pada masyarakat dengan angka bebas jentik di kelurahan

argomulyo wilayah kerja puskesmas sedayu 1?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan antara kegiatan pemberantasan sarang

nyamuk demam berdarah dengan keberadaan jentik nyamuk aedes aegypt di

kelurahan argomulyo wilayah kerja puskesmas sedayu 1.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan warga desa argomulyo

terhadap kegiatan pemberantasan sarang nyamuk di puskesmas

Sedayu 1.

b. Untuk mengetahui gambaran sikap dan perilaku warga terhadap

pemberantasan sarang nyamuk.

c. Untuk membandingkan tingkat pengetahuan , sikap dan perilaku

antara padukuhan Puluhan ( daerah endemis) dan Srontakan ( daerah

sporadik ) Kelurahan Argomulyo.

5
D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan

tentang pemberantasan sarang nyamuk.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini dapat memperluas wawasan dan pengetahuan

mahasiswa tentang pola pengetahuan sikap dan perilaku warga desa

argomulyo terhadap pemberantasan sarang nyamuk.

b. Bagi Puskesmas

Hasil penelitian ini bermanfaat untuk memberikan sumbangan

pemikiran kepada Puskesmas Sedayu I untuk membuat program kebijakan

kesehatan dalam mengatasi perkembangan jentik nyamuk di rumah warga

desa argomulyo.

c. Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul

Hasil penelitian ini bermanfaat untuk memberikan masukan kepada

kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul dalam mengatasi masalah

pemberantasan sarang nyamuk.

d. Bagi Masyarakat

Sebagai masukan kepada warga desa argomulyo dalam mengatasi

jentik nyamuk yang terdapat di rumah dan mengetahui kegiatan sarang

nyamuk di desa argomulyo.

6
E. Keaslian Penelitian

1. Pengetahuan, Sikap Dan Perilaku Pemberantasan Sarang Nyamuk

Terhadap Infeksi Dengue Di Kecamatan Denpasar Selatan, Kota

Denpasar, Bali (Purnama Sang Gede et al., 2013). Penelitian ini

menggunakan studi observasional dengan rancangan case control

berpasangan dengan jumlah 150 orang . Secara random pasien dibagi

menjadi dua yaitu kelompok sampel kasus dan kelompok kontrol. Pasien

yang dimasukkan kedalam kelompok sampel kasus adalah pasien dengan

kasus baru infeksi dengue dan kontrolnya adalah yang tidak menderita

infeksi dengue dengan umur, jenis kelamin dan asal tempat tinggal yang

sama dengan kelompok sampel kasus. Kedua kelompok di nilai

pengetahuan , sikap dan perilaku pemberantasan nyamuk (PSN) yang

dikumpulkan dengan tekhnik wawancara dan observasi. Kesimpulan yang

didapatkan dari penelitian ini didapatkan bahwa tingkat pengetahuan sikap

dan perilaku pemberantasan sarang nyamuk (PSN) berpengaruh terhadap

infeksi dengue di Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar. Dari hasil

analisis dari ketiga faktor resiko tersebut yang paling dominan

meningkatkan resiko infeksi dengue adalah sikap dengan nilai OR = 4,28

(CI95% 2,159-8,497)

2. Perilaku 3M, Abatisasi Dan Keberadaan Jentik Aedes Hubungannya

Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue ( Respati Yunita Ken., Et

Al 2012). Penelitian ini menggunakan studi cross sectional dengan jumlah

sampel 98 responden yang diambil dengan metode simple random

sampling. Lokasi penelitian di Kelurahan Pacarkeling Kecamatan

7
Tambaksari Kota Surabaya. Data diambil dengan menggunakan

wawancara dengan menggunakan kuisener dan identifikasi larva aedes

aegepty dengan metode visual. Dari hasil penelitian didapatkan terdapat

hubungan antara perilaku 3M , abatisasi dan keberadaan jentik aedes

dengan kejadian demam berdarah.

3. Hubungan Breeding Place Dan Perilaku Masyarakat Dengan Keberadaan

Jentik Vektor DBD di Desa Gagak Sipat Kecamatan Ngemplak Kabupaten

Boyolali (Sari Dhina.,2012). Penelitian ini menggunakan studi observasional

dengan rancangan cross sectioanal dengan populasi penelitian di seluruh

rumah di Desa Gagak Sipat sebanyak 2137 rumah dengan sampel sebanyak

96 responden. Pada penelitian ini menggunakan analisis data secara statistik

denga uji Chi Square pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara breeding place dan perilaku

masyarakat terhadap keberadaan jentik vektor DBD didesa Gagak Sipat

Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali.

8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Pustaka
1. Konsep Pengetahuan
a. Definisi
Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau

disadari seseorang (Irmayanti, 2010). Sedangkan menurut (Notoadmodjo,

2003) pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang

melakukan penginderaan suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui

panca indera manusia yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman,

rasa dan raba. Sedangkan menurut Irmayanti (2010) pengetahuan adalah

informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang yang

tidak dibatasi pada deskripsi, hipotesis, konsep, teori, prinsip dan prosedur.

Dalam pengertian lain pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan

diperoleh manusia melalui pengamatan indrawi.

Pengetahuan bisa didapatkan dengan melakukan pengamatan dan

observasi yang dilakukan secara empiris dan rasional. Pengetahuan empiris

tersebut juga dapat berkembang menjadi pengetahuan deskriptif bila

seseorang dapat melukiskan dan menggambarkan segala ciri, sifat, dan gejala

yang ada pada objek empiris tersebut. Pengetahuan empiris juga bisa

didapatkan melalui pengalaman pribadi manusia yang terjadi berulangkali.

Misalnya, seseorang yang sering dipilih untuk memimpin organisasi dengan

sendirinya akan mendapatkan pengetahuan tentang manajemen organisasi.

Selain pengetahuan empiris, ada pula pengetahuan yang didapatkan

melalui akal budi yang kemudian dikenal sebagai rasionalisme. Rasionalisme

lebih menekankan pengetahuan yang bersifat apriori; tidak menekankan pada

9
pengalaman. Misalnya pengetahuan tentang matematika. Dalam matematika,

hasil 1 + 1 = 2 bukan didapatkan melalui pengalaman atau pengamatan

empiris, melainkan melalui sebuah pemikiran logis akal budi.Pengetahuan

tentang keadaan sehat dan sakit adalah pengalaman seseorang tentang

keadaan sehat dan sakitnya seseorang yang menyebabkan seseorang tersebut

bertindak untuk mengatasi masalah sakitnya dan bertindak untuk

mempertahankan kesehatannya atau bahkan meningkatkan status

kesehatannya. Rasa sakit akan menyebabkan seseorang bertindak pasif dan

atau aktif dengan tahapan-tahapannya.

b. Domain Pengetahuan

Pengetahuan seseorang dapat diklasifikasikan menjadi beberapa

macam atas dasar tingakat kemampuan (domain). Atas dasar ini ada beberapa

tingkat pengetahuan yang perlu di ketahui antara lain domain kognitif, afektif

dan psikomotor menurut Bloom dalam Notoatmodjo (2003 ).

1) Domain Kognitif

Aspek kognitif berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku

atau apa yang benar bagi objek sikap. Menurut Notoatmodjo (2003 ) aspek

kognitif terdiri dari beberapa tingkat kemampuan, yaitu :

a) Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai kemampuan mengingat suatu materi yang telah

dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan, tingkat ini

merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.

b) Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan

secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginter

10
presentasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham

terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan

contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek

yang dipelajari.

c) Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan kemampuan menggunakan materi yang telah

dipelajari pada situasi atau kondisi riil. Aplikasi dapat diartikan

sebagai penggunaan hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya

dalam konteks atau situasi lain, misalnya dapat menggunakan rumus

statistik dalam perhitungan hasil penelitian, dapat menggunakan

prinsip siklus pemecahan masalah (problem solving cycle) di dalam

pemecahan masalah dari kasus yang diberikan.

d) Analisis (Analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau

suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam

satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lainnya.

c. Faktor yang mempengaruhi Pengetahuan

Faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang antara lain

pendidikan, pengalaman, usia, penyuluhan, media masa dan sosial budaya

(Notoadmodjo, 2003).

1) Pendidikan

Menurut Dewantoro dalam Tjiptojuwono, dkk., (1996), pendidikan

adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar

mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah

mendapat keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

11
2) Pengalaman

Pengalaman merupakan salah satu sumber pengetahuan yang paling

dikenal dan dimanfaatkan, melalui pengalaman orang dapat memperoleh

berbagai jawaban atas pertanyaan, persoalan yang mereka hadapi.

Kenyaatannya, kemampuan untuk memetik pelajaran dari pengalaman

pada umumnya dianggap karakteristik utama dari perilaku cerdas.

2. Konsep Sikap
a. Definisi

Sikap seseorang terhadap suatu obyek adalah perasaan mendukung

atau memihak (favorable) ataupun perasaan tidak mendukung

(unfavorable) terhadap objek tersebut. Formulasi menurut Thrustone

mengatakan bahwa sikap adalah derajad afek positif atau afek negatif

yang dikaitkan dengan suatu objek psikologis (Azwar, 2008 ). Menurut

Purwanto (1998 ), sikap adalah penilaian yang positif atau negatif tentang

sistem yang mempengaruhi perasaan emosi yang menghubungkan

respon terhadap objek sosial.

b. Pembagian Sikap

Sikap seseorang selalu diarahkan terhadap sesuatu hal atau objek

tertentu, tidak ada satu sikap pun yang tanpa objek (Purwanto 1998 ).

Sikap dibagi menjadi dua yaitu :

1) Sikap sosial : yaitu kesadaran individu yang menentukan perbuatan

nyata, secara berulang-ulang terhadap objek sosial. Sikap ini

dinyatakan tidak oleh seseorang saja tetapi diperhatikan oleh orang-

orang sekelompoknya.

12
2) Sikap individual : yaitu sikap yang hanya dimiliki oleh perseorangan

dan objeknya bukan merupakan objek sosial.

Di samping pembagian sikap atas sosial dan individual, sikap juga dibedakan atas :

1) Sikap positif : sikap menunjukkan atau memperlihatkan, menerima,

mengakui, menyetujui serta melaksanakan norma yang berlaku

dimana individu berada.

2) Sikap negatif : sikap menujukkan atau memperlihatkan, penolakan

atau tidak setuju terhadap norma-norma yang berlaku dimana

individu berada.

c. Komponen Pokok Sikap

Menurut Alport yang dikutip Notoadmodjo (2005 ) sikap itu terdiri

dari 3 komponen pokok, yaitu :

1) Kepercayaan atau keyakinan

Ide, dan konsep terhadap obyek. Artinya, bagaimana keyakinan dan

pendapat atau pemikiran seseorang terhadap objek.

2) Kehidupan emosional atau evaluasi

Orang terhadap obyek.Artinya, bagaimana penilaian (terkandung

didalamnya faktor emosi) orang tersebut terhadap objek.

3) Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave)

Artinya, sikap merupakan komponen yang mendahului tindakan atau

perilaku terbuka. Sikap adalah ancang-ancang untuk bertindak atau

berperilaku terbuka (tindakan).

13
Ketiga komponen ini secara bersama membentuk sikap yang utuh.

Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiran, keyakinan, dan

emosi memegang peranan penting. Misalnya seorang kepala keluarga yang

telah mengetahui pentingnya pemberantasan sarang nyamuk, maka

pengetahuan tersebut akan membawa dirinya untuk berpikir dan berusaha

agar lingkungannya aman dari penyakit demam berdaran dengue. Dalam

berpikir ini, komponen emosi dan keyakinan ikut bekerja sehingga para

kepala keluarga berniat untuk mau melakukan gerakan PSN. Dengan

demikian, kepala keluarga tersebut mempunyai sikap tertentu terhadap objek

yang berupa pemberantasan sarang nyamuk.

d. Proses Terbentuknya Sikap

Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi

merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap itu masih merupakan

reaksi tertutup, bukan reaksi terbuka. Lebih jelasnya dapat dilihat pada

diagram dibawah ini.

Sikap

Gambar 2.1 Diagram Proses Terbentuknya Sikap dan Reaksi Notoadmodjo


(2003 )

14
e. Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Sikap

Diantara berbagai faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap

adalah pengalaman pribadi, kebudayaan, pengaruh orang lain yang dianggap

penting, media massa, institusi atau lembaga pendidikan dan lembaga agama

serta faktor emosi dalam diri individu (Azwar, 2008 ).

f. Tingkatan Sikap

Berbagai tingkatan sikap menurut Notoatmodjo (2003), yaitu :

1) Menerima (receiving)

Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan

stimulus yang diberikan objek.

2) Merespon (responding)

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan

tugas yang diberikan adalah suatu usaha untuk menjawab pertanyaan

atau mengerjakan tugas yang diberikan, terlepas pekerjaan itu benar atau

salah, adalah berarti orang menerima ide tersebut.

3) Menghargai (valuing)

Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu

masalah, adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga. Misalnya, seorang

anggota masyarakat / kepala rumah tangga mengajak para tetangganya

yang untuk melakukan kerja bakti melakukan kegiatan pemberantasan

sarang nyamuk dengan melakukan 3m

4) Pertanggung jawaban (responsible)

sikap individu akan bertanggungjawab dan siap menanggung segala

resiko atas segala sesuatu yang telah dipilihnya (Sunaryo, 2003). Ini

merupakan sikap yang paling tinggi, misalnya, seorang kepala rumah

15
tangga mau melakukan kegiatan PSN dengan mengubur kaleng- kaleng

bekas walaupun dilarang atau mendapat tantangan dari istrinya sendiri.

g. Pengukuran Sikap

Pengukuran sikap tidak dapat dilakukan secara cermat melalui cara

penanyaan langsung (direct questioning) maupun observasi tingkah laku.

Metode pengukuran sikap yang dianggap dapat diandalkan dan dapat

memberikan penafsiran terhadap sikap manusia adalah pengukuran melalui

skala sikap (attitude scale) (Azwar, 2008 ). Dilihat dari bentuknya, skala sikap

tidak lain daripada kumpulan pernyataan sikap (attitude statements).

Pernyataan sikap adalah rangkaian kalimat yang mengatakan sesuatu

mengenai objek sikap yang diukur. Suatu pernyataan sikap dapat berisi hal-

hal positif mengenai objek sikap, yaitu berisi pernyataan yang mendukung

atau memihak pada objek sikap. Pernyataan ini disebut pernyataan yang

favorable. Contoh pernyataan yang favorable adalah untuk mencegah

Penyakit DBD sebaiknya melakukan PSN satu minggu sekali. Sebaliknya

suatu pernyataan sikap dapat pula berisi hal-hal negatif mengenai objek sikap.

Hal negatif dalam pernyataan sikap ini sifatnya tidak memihak atau tidak

mendukung terhadap objek sikap, dan karenanya disebut dengan pernyataan

yang unfavorable. Sebagai contoh pernyataan yang unfavorable adalah

Fogging cara efektif untuk memberantas syarang nyamuk Aedes Aegypti

(Azwar, 2008 ). Lebih lanjut dijelaskan sebagai kumpulan pernyataan

mengenai sikap, maka suatu skala sikap hendaknya berisi sebagian

pernyataan favorable dan sebagian pernyataan yang unfavorable. Untuk

membuat banyak pernyataan sikap, penyusun skala harus merencanakan

langkah-langkah penulisan pernyataan sesuai dengan prosedur yang

16
semestinya serta menuruti suatu kaidah penulisan pernyataan yang jelas. Oleh

karena itu perlu adanya perencanaan skala sikap.

3. Konsep Perilaku

a. Definisi

Perilaku dari pandangan biologis merupakan suatu kegiatan atau

aktivitas organisme yang bersangkutan, jadi pada hakikatnya perilaku

manusia adalah suatu aktivitas daripada manusia itu sendiri, oleh sebab

itu, perilaku manusia itu mempunyai bentangan yang sangat luas,

mencakup: berjalan, berbicara, bereaksi, berpakaian, dan lain-lain.

Bahkan kegiatan internal seperti: berpikir, persepsi, dan emosi juga

merupakan perilaku manusia (Notoatmodjo, 2003).

Seorang ahli psikologis yang bernama John Elder mengatakan

bahwa perilaku manusia adalah segenap aktivitas manusia yang dapat

atau tidak dapat diamati indera secara langsung. Oleh karena itu perilaku

manusia mencakup segala aktivitas manusia yang sangat luas, misalnya

berjalan, berbicara, berpakaian bahkan berpikir (Depkes R.I., 2005 ).

Faktor yang Mempengaruhi Perilaku

Faktor yang mempengaruhi perilaku dibedakan menjadi dua, yakni

faktor intern dan ekstern. Faktor intern mencakup : pengetahuan,

kecerdasan, persepsi, emosi, motivasi, dan sebagainya yang berfungsi

untuk mengolah rangsangan dari luar. Sedang faktor ekstern, meliputi:

lingkungan sekitar, baik fisik maupun non fisik seperti: iklim, manusia,

sosial ekonomi, kebudayaan, dan lain-lain (Notoatmodjo, 2003).

17
Teori WHO

Tim kerja WHO merumuskan ada 4 alasan pokok (determinan) perilaku,

yaitu :

1) Pemikiran dan perasaan (thoughts and feeling) Hasil pemikiran dan

perasaan seseorang, atau lebih tepat diartikan pertimbangan pribadi

terhadap objek atau stimulus, merupakan modal awal untuk bertindak atau

berperilaku. Seorang kepala rumah tangga akan melakukan kegiatan 3m

(menguras, menutup, mengubur tempat penampungan air, akan

didasarkan pertimbangan untung ruginya, manfaatnya, dan sumber daya

atau biaya yang tersedia, dan sebagainya.

2) Adanya acuan atau referensi dari seseorang atau pribadi yang dipercayai

(personal references). Di dalam masyarakat, dimana sikap paternalistik

masih kuat, maka perilaku masyarakat tergantung dari perilaku acuan

(referansi) yang pada umumnya adalah para tokoh masyarakat setempat.

3) Sumber daya (resources) Sumber daya yang tersedia merupakan

pendukung untuk terjadinya perilaku seseorang atau masyarakat. Kalau

dibandingkan dengan teori Green, sumberdaya ini adalah sama dengan

faktor enabling (sarana dan prasarana atau fasilitas).

4) Sosial budaya (culture) setempat Faktor sosio-budaya biasanya sangat

berpengaruh terhadap terbentuknya perilaku seseorang. Faktor ini

merupakan faktor eksternal terbentuknya perilaku seseorang. Hal ini

dapat dilihat dari perilaku tiap etnis di Indonesia yang berbeda-beda,

karena tiap etnis mempunyai budaya yang khas.

18
4. Pengenalan Nyamuk

a. Definisi

Nyamuk merupakan vektor atau penular utama dari penyakit. Menurut

klasifikasinya nyamuk dibagi dalam dua subfamili yaitu Culicinae yang

terbagi menjadi 109 genus dan Anophelinae yang terbagi menjadi 3

genus.

b. Siklus Hidup Nyamuk (Aedes sp, Culex sp, Anopheles sp)

Nyamuk termasuk dalam kelompok serangga yang mengalami

metamormofosa sempurna dengan bentuk siklus hidup berupa telur, larva,

pupa dewasa (Sembel, 2009).

1) Telur

Telur biasanya diletakkan di atas permukaan air satu per satu atau

berkelompok. Telur-telur dari jenis Culex sp diletakkan berkelompok

(raft). Dalam satu kelompok biasa terdapat puluhan atau ratusan ribu

nyamuk. Nyamuk Anopheles sp dan Aedes sp meletakkan telur di

atas permukaan air satu persatu. Telur dapat bertahan hidup dalam

waktu yang cukup lama dalam bentuk dorman. Namun, bila air cukup

tersedia, telur telur itu biasanya menetas 2-3 hari sesudah diletakkan

(Sembel, 2009).

2) Larva

Telur menetas menjadi larva. Berbeda dengan larva dari anggota

Diptera yang lain seperti lalat yang larvanya tidak bertungkai, larva

nyamuk memiliki kepala yang cukup besar serta toraks dan abdomen

yang cukup jelas. Larva dari kebanyakan nyamuk menggantungkan

diri di permukaan air. Stadium larva memerlukan waktu kurang lebih

satu minggu. Pertumbuhan dan perkembangan larva dipengaruhi

19
beberapa faktor, diantaranya adalah temperatur, cukup tidaknya

bahan makanan, ada tidaknya pemangsa dalam air dan lain

sebagainya (Soegijanto 2006). Kebanyakan larva nyamuk menyaring

mikroorganisme dan partikel-partikel lainnya yang ada di dalam air.

Larva biasanya melakukan pergantian kulit empat kali dan berpupasi

sesudah tujuh hari (Sembel, 2009).

3) Pupa

Sesudah melewati pergantian kulit keempat, maka terjadi pupasi.

Pupa berbentuk agak pendek, tidak makan, tetapi tetap aktif bergerak

dalam air terutama bila diganggu. Mereka berenang naik turun dari

bagian dasar ke permukaan air. Bila perkembangan pupa sudah

sempurna, yaitu sesudah dua atau tiga hari, maka kulit pupa akan

pecah dan nyamuk dewasa keluar serta terbang (Sembel, 2009).

4) Dewasa

Nyamuk dewasa yang baru keluar dari pupa berhenti sejenak di

atas permukaan air untuk mengeringkan tubuhnya terutama sayap

sayapnya dan sesudah mampu mengembangkan sayapnya, nyamuk

dewasa terbang mencari makan. Dalam keadaan istirahat, bentuk

dewasa Culex sp dan Aedes sp hinggap dalam keadaan sejajar dengan

permukaan, sedangkan Anopheles sp hinggap membentuk sudut

dengan permukaan (Sembel, 2009).

c. Habitat Pembiakan nyamuk

Berdasarkan tempat bertelur, habitat nyamuk dapat dibagi menjadi

container habitats dan ground water habitats (genangan air tanah). Container

habitat terdiri dari wadah alami dan wadah artifisial. Genangan air tanah

20
adalah genangan air yang terdapat tanah di dasarnya. Spesies yang memiliki

habitat genangan air tanah adalah Anopheles sp, Culex sp (Qomariah, 2004).

Wadah alami banyak terdapat di area hutan atau area perkebunan.

Namun wadah alami juga banyak terdapat di tempat lain, misalnya area bekas

penebangan pohon, ruas- ruas bambu, area pantai dimana terdapat banyak

tempurung kelapa. Spesies yang memiliki habitat wadah alami adalah Aedes

sp, Anopheles sp, Culex sp (Rattanarithikul dan Harrison, 2005). Wadah

artifisial adalah wadah terindikasi adanya aktifitas manusia atau modifikasi

manusia. Habitat ini kebanyakan berada di area pemukiman. Contoh wadah

artifisial yaitu, barang-barang bekas, penampung air kulkas/dispenser, tempat

penampungan air. Spesies yang memiliki habitat wadah artifisial adalah

Aedes sp, Culex sp. Beberapa wadah artifisial memiliki ukuran dan daya tarik

yang cukup besar untuk menarik spesies dan genera nyamuk yang memiliki

habitat genangan air tanah (Rattanarithikul dan Harrison, 2005). Perubahan

alam dapat menyebabkan perubahan habitat. Misalnya banjir dapat menyapu

telur yang ada di selokan (Rattanarithikul dan Harrison, 2005).

d. Identifikasi Larva Nyamuk

1) Survei larva

Survei larva dilakukan dengan mengambil larva nyamuk di berbagai

habitat. Kemudian diidentifikasi dan dihitung. Survei larva bertujuan untuk

mengetahui ada tidaknya larva nyamuk (Soekirno dkk, 2006). Pemeriksaan

dilakukan dengan mata telanjang di semua tempat air di dalam dan di luar

rumah di suatu daerah. Survei larva terdiri dari 2 metode, yaitu :

21
a) Metode Single Survey

Dilakukan dengan mengambil satu larva di setiap genangan air yang

terdapat larva, kemudian dilakukan identifikasi jenis larva.

b) Metode Visual

Dilakukan dengan melihat ada tidaknya larva di setiap genangan air

tanpa melakukan pengambilan larva. Survei ini bertujuan untuk

mengukur kepadatan larva.

2) Angka bebas Larva (ABL)

Angka bebas larva adalah persentase jumlah rumah bebas larva diantara

rumah yang diperiksa secara acak (Yuniati, 2012). =

: 100% jika hasil

perhitungan >50% resiko penularan penyakit rendah sedangkan <50%

resiko penularan penyakit tinggi

e. Lingkungan Hidup Nyamuk Aedes Aegypti

Nyamuk Aedes Aegypti bersifat urban hidup di perkotaan dan lebih

sering hidup di dalam dan di sekitar rumah (domestik) dan sangat erat

hubungannya dengan manusia. Jangkauan terbang (flight range) rata-rata

nyamuk Aedes Aegypti adalah sekitar 100 meter tetapi pada keadaan tertentu

nyamuk ini dapat terbang sampai beberapa kilometer dalam usahanya untuk

mencari tempat perindukan untuk meletakkan telurnya.Nyamuk Aedes

Aegypti hidup di dalam dan di sekitar rumah sehingga makanan yang

diperoleh semuanya sudah tersedia di situ. Boleh dikatakan bahwa nyamuk

betina sangat menyukai darah manusia (anthropophilic) dari pada darah

binatang. Kebiasaan menghisap darah terutama pada pagi hari jam 08.00 -

12.00 dan sore hari jam 15.00 - 17.00. Nyamuk betina mempunyai kebiasaan

menghisap darah berpindah-pindah berkali-kali dari satu individu ke individu

22
yang lain. Hal ini disebabkan karena pada siang hari manusia yang menjadi

sumber makanan darah utamanya dalam keadaan aktif bekerja/bergerak

sehingga nyamuk tidak bisa menghisap darah dengan tenang sampai kenyang

pada satu individu. Keadaan inilah yang menyebabkan penularan penyakit

DBD menjadi lebih mudah terjadi.

Tempat perindukan nyamtk Aedes Aegypti yaitu tempat di mana

nyamukAedes Aegypti meletakkan telurnya terdapat di dalam rumah (indoor)

maupun di luar rumah (outdoor). Tempat perindukan yang ada di dalam

rumah yang paling utama adalah tempat-tempat penampungan air : bak air

mandi, bak air WC, tandon air minum, tempayan, gentong tanah liat, gentong

plastik, ember, drum, vas tanaman hias, perangkap semut, dan lain-lain.

Sedangkan tempat perindukan di luar rumah (halaman): drum, kaleng bekas,

botol bekas, ban bekas, pot bekas, pot tanaman hias yang terisi oleh air hujan,

tandon airminum, dan lain-lain.

Nyamuk Aedes Aegypti lebih menyukai tempat perindukan yang

berwarna gelap, terlindung dari sinar matahari, permukaan terbuka lebar,

berisi air tawar jernih dan tenang. Dikatakan bahwa tempat-tempat

perindukan nyamuk Aedes ini tidak selalu ada terus-menerus sepanjang

tahun. Tempat perindukan yang ada di luar rumah terutama pada musim

kemarau akan banyak menghilang, karena airnya mengering. Tetapi tempat

perindukan yang ada di dalam rumah boleh dikatakan selalu ada sepanjang

tahun. Bila musim hujan tiba maka tempat perindukan di luar rumah akan

muncul kembali. Oleh karena itu populasi nyamuk Aedes Aegypti pada waktu

musim kemarau menurun jumlahnya dan musim hujan meningkat. Tapi bila

23
hujan sangat lebat dan terus-menerus, tempat perindukan di luar rumah rusak

karena airnya tumpah dan mengalir keluar, sehingga telur dan jentik keluar.

Dikatakan bahwa jumlah populasi nyamuk Aedes Aegypti pada

waktu musim kemarau sangat sedikit walaupun tempat perindukan yang di

dalam rumah masih tetap ada. Hal ini disebabkan selain jumlah tempat

perindukannya berkurang (yang di luar rumah mengering) juga karena

pengaruh suhu udara yang tinggi dan kelembaban udara yang relatif rendah

sangat tidak menguntungkan bagi kehidupan nyamuk, akibatnya umur

nyamuk lebih pendek dan cepat mati. Sebaliknya pada waktu musim hujan

jumlah populasi nyamuk Aedes Aegypti akan meningkat, karena tempat

perindukan di luar rumah terbentuk lagi dan suhu yang sejuk serta

kelembaban udara yang relatif tinggi sangat menguntungkan bagi kehidupan

nyamuk. Nyamuk Aedes Aegypti mempunyai kebiasaan istirahat terutama di

dalam rumah di tempat yang gelap, lembab pada benda-benda yang

bergantung. Berdasarkan hubungan antara iklim dan jumlah populasi nyamuk

Aedes Aegypti, maka dapat diketahui pola musim penularan penyakit DBD

(Demam Berdarah Dengue). Secara umum dapat dikatakan bahwa pola

musim penularan penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue) sejalan dengan

pola musim penghujan.

f. Upaya Pengendalian Vektor Aedes Aegypti

Sebagaimana telah diketahui Aedes Aegypti merupakan vektor utama

dari penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue). Untuk mengatasi penyakit

DBD (Demam Berdarah Dengue). sampai saat ini masih belum ada cara yang

efektif, karena sampai saat ini masih belum ditemukan obat anti virus dengue

yang efektif maupun vaksin yang dapat melindungi diri terhadap infeksi virus

24
dengue. Oleh karena itu perlu dipikirkan cara penanggulangan penyakit DBD

(Demam Berdarah Dengue). dengan melalui pengendalian terhadap nyamuk

Aedes Aegypti. ujuan pengendalian vektor utama adalah upaya untuk

menurunkan kepadatan populasi nyamuk Aedes Aegypti sampai serendah

mungkin sehingga kemampuan sebagai vektor menghilang. Secara garis

besar ada 3 cara pengendalian vektor yaitu dengan cara :

1) Pengendalian Cara Kimia

Di sini digunakan insektisida yang dapat ditujukan terhadap nyamuk

dewasa atau larva. Insektisida yang dapat digunakan terhadap nyamuk

dewasa Aedes Aegypti antara dari golongan organochlorine,

organophosphor, carbamate, dan pyrethroid. Bahan-bahan insektisida

tersebut dapat diaplikasikan dalam bentuk penyemprotan (spray) terhadap

rumah penduduk. Insektisida yang dapat digunakan terhadap larva Aedes

Aegypti yaitu dari golongan organophosphor (Temephos) dalam bentuk sand

granules yang dilarutkan dalam air di tempat perindukannya (abatisasi).

2) Pengendalian cara radiasi

Nyamuk dewasa jantan diradiasi dengan bahan radioaktif dengan

dosis tertentu sehingga menjadi mandul. Kemudian nyamuk jantan yang

telah diradiasi ini dilepaskan ke alam bebas. Meskipun nanti akan ber

ovulasi dengan nyamuk betina tapi nyamuk betina tidak akan dapat

menghasilkan telur yang fertil.

3) Pangendalian lingkungan.

Di sini dapat digunakan beberapa cara antara lain dengan mencegah

nyamuk kontak dengan manusia yaitu memasang kawat kasa pada lubang

ventilasi rumah, jendela, dan pintu. Sekarang sedang digalakkan oleh

25
pemerintah dan yang paling efektif yaitu dengan cara gerakan 3M satu

minggu sekali yaitu :

a) Menguras tempat penampungan air dengan menyikat dinding

bagian dalam dan dibilas paling sedikit seminggu sekali.

b) Menutup rapat tempat penampungan air sedemikian rupa sehingga

tidak dapat diterobos oleh nyamuk dewasa.

c) Menanam/menimbun dalam tanah barang-barang bekas atau

sampah yang dapat menampung air hujan.

d. Kerangka Konsep

Keterangan
Diteliti
Tidak diteliti

26
e. Hipotesis

1. Ada hubungan antara faktor pengetahuan PSN terhadap angka bebas jentik di

kelurahan Argomulyo, Sedayu.

2. Ada hubungan antara faktor sikap PSN terhadap angka bebas jentik di

kelurahan Argomulyo, Sedayu.

3. Ada hubungan antara faktor perilaku PSN terhadap angka bebas jentik di

kelurahan Argomulyo, Sedayu.

4. Tidak ada perbedaan antara pengetahuan, sikap dan perilaku antara

padukuhan Srontakan dan Puluhan

27
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional analitik

descriptif yaitu penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan

menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data pokok. Dalam

penelitian ini menggunakan pendekatan analisis dengan Uji beda Man

Whitney untuk mengetahui perbedaan pengetahuna, sikap dan perilaku antara

padukuhan Srontakan dan Puluhan. Sedangkan untuk menentukan hubungan

pengetahuan, sikap, dan perilaku PSN masyarakat dengan angka bebas jentik

di kelurahan Agromulyo wilayah kerja puskesmas Sedayu menggunakan

pendekatan descriptif.

B. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi penelitian

Populasi yang di teliti dalam penelitian ini adalah warga yang tinggal

di kelurahan argomulyo sedayu bantul.

2. Sampel

Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan tekhnik Purposive

sampling dengan kriteria penelitian antara lain :

Kriteria inklusi penelitian

a. Kepala keluarga yang bisa membaca dan menulis

b. Kepala keluarga yang bersedia menjadi responden

c. Kepala keluarga yang memiliki rumah atau sebagai penanggungjawab

menempati rumah.

28
d. Bertempat tinggal di pedukuhan yang termasuk daerah endemis dan

sporadik

Kriteria ekslusi penelitian

a. Kepala keluarga yang sedang tidak ada di rumah pada saat pengambilan

data

b. Kepala keluarga yang sedang berhalangan atau sakit sehingga tidak

dapat mengikuti penelitian

Gay dan Diehl (1992) berpendapat bahwa: (1) Jika penelitiannya

bersifat deskriptf, maka sampel minimumnya adalah 10% dari populasi (2)

Jika penelitianya korelasional, sampel minimumnya adalah 30 subjek (3)

Apabila penelitian kausal perbandingan, sampelnya sebanyak 30 subjek per

grup (4) Apabila penelitian eksperimental, sampel minimumnya adalah 15

subjek per grup. Penelitian ini bersifat korelasi maka diambil jumlah sampel

minimal sebanyak 30 subjek yang sesuai dengan kriteria penelitian (inklusi

dan eksklusi).

C. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi penelitian

Lokasi penelitian adalah tempat yang akan di lakukan oleh peneliti

dalam melaksanakan kegiatan penelitian. Penelitian ini telah di lakukan di

kelurahan argomulyo sedayu bantul dengan pemilihian wilayah

berdasarkan kriteria inklusi yaitu wilayah pedukuhan Puluhan dan

Srontakan.

29
2. Waktu penelitian

Penelitian ini dilakukan selama tiga hari dimulai dari tanggal 26 - 28 januari

2017.

D. Variabel Penelitian

1. Variabel Independen

Variabel Bebas atau juga dikenal dengan istilah variabel Independent

adalah merupakan variabel yang diduga memiliki fungsi sebagai penyebab

timbulnya variabel yang lain. Biasanya variabel bebas akan dimanipulasi,

diamati dan diukur dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana

pengaruhnya terhadap variabel lainnya. Secara singkat, variabel bebas adalah

variabel yang dapat mempengaruhi atau menjadi penyebab perubahan atau

timbulnya variabel dependen (terikat). Variabel bebas memiliki fungsi utama

sebagai acuan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap variabel lain.

Variabel bebas penelitian ini adalah tingkat pengetahuan , sikap dan perilaku

PSN masyarakat di kelurahan argomulyo wilayah kerja puskesmas sedayu 1.

2. Variabel Dependent

Jenis variabel kedua adalah variabel terikat atau disebut juga dengan

istilah dependent atau variable Output atau Kriteria atau Konsekuen. Ia adalah

hasil / akibat yang ditimbulkan oleh variabel bebas. variabel ini merupakan

hasil yang timbul sebagai akibat langsung dari manipulasi dan pengaruh

variabel bebas. Dalam sebuah penelitian variabel tergantung diamati dan

diukur untuk mengetahui pengaruh dari variabel bebas. Disini variabel

dependen juga disebut dengan variabel terikat yaitu variabel yang

dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Variabel

30
tergantung berfungsi untuk mengetahui pengaruh dari variabel bebas. Pada

penelitian ini adalah angka bebas jentik.

E. Definisi Operasional

No Variabel Definisi Alat Ukur Kategori Skala

1. Pengetahua segala sesuatu yang Kuisener Baik : > 75 Nominal


n diketahui kepala
Sedang :
keluarga tentang
40 75
pemberantasan
sarang nyamuk Aedes Buruk : <
Aegypty 40

2. Sikap respon psikologis Kuisener Baik : > 75 Nominal


sebagai bentuk
Sedang :
kecenderungan untuk
40 75
melakukan
pemberantasan Buruk : <
sarang nyamuk Aedes 40
Aegypti.

3. Perilaku Perilaku nyata dalam Kuisener Baik : > 75 Nominal


memberantas sarang
Sedang :
nyamuk Aedes
40 75
aegypti.
Buruk : <
40

4. Angka Keadaan yang Observasi Tidak ada


Bebas menggambarkan kategori
Jentik luasnya penyebaran
jentik nyamuk
didaerah yang diteliti.
Jumlah kepadatan
jentik dihitung
dengan menggunakan
rumus ABJ = Jumlah
rumah bebas Jentik
dibagi Jumlah rumah
diperiksa dikalikan
100%.

31
F. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa data pengisian

kuesioner oleh kepala keluarga di kelurahan Argomulyo yang merupakan

wilayah kerja Puskesmas Sedayu 1. Kuisener tersebut untuk menilai

pengetahuan sikap dan perilaku yang diadaptasi dari Yohanes Santoso yang

telah dinyatakan valid pada ketiga domain pengetahun sikap dan perilaku

dengan nilai r 0,361. Sedangkan untuk uji reliabilitas instrumen pengetahuna

sikap dan perilaku dengan koefisisen Crombach menunjukkan nilai =0.931

yang berarti instrumen ini cukup reliabel . Kuisener diisi oleh subjek dengan

cara diisi sendiri dan juga dengan wawancara oleh peneliti.

Untuk menilai angka bebas jentik instrumen yang digunakan yaitu

pengisian form data yang dibuat oleh surveilen puskesmas Sedayu 1 dan

menggunakan senter untuk observasi jentik nyamuk.

32
G. Cara Pengambilan Data

Pada penelitian ini penulis melakukan serangkaian tahapan

Populasi di wilayah kerja Puskesmas Sedayu 1


Kelurahan Argomulyo

Subjek Penelitian

Kriteria Inklusi : Kriteria Eksklusi :

a. Kepala keluarga yang bisa a. Kepala keluarga yang sedang


membaca dan menulis tidak ada di rumah pada saat
b. Kepala keluarga yang pengambilan data
bersedia menjadi responden b. Kepala keluarga yang sedang
c. Kepala keluarga yang
berhalangan atau sakit sehingga
memiliki rumah atau
sebagai penanggungjawab tidak dapat mengikuti penelitian
menempati rumah.
d. Bertempat tinggal di
pedukuhan yang termasuk
daerah endemis dan
sporadik dikelurahan
Argomulyo

Informed Concent

Pengisian kuisener Pengamatan

Pengetahuan sikap dan perilaku Jentik nyamuk

SKORING DAN ANALISIS

Gambar3.1 Alur Pengambilan Data

33
H. Analisis Data
Data yang telah terkumpul dianalisis dengan menggunakan program SPSS.

Analisis data meliputi:

1) Analisis Univariat

Analisis univariat dilakukan untuk mendapatkan gambaran

distribusi responden serta menggambarkan masing-masing

variabel, baik variabel bebas maupun variabel terikat.

2) Analisis Bivariat

Analisis bivariat dilakukan untuk menguji hipotesis

hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat, dengan uji Chi

Square dengan tingkat kemaknaan 95% dengan program komputer

SPSS. Dasar pengambilan keputusan berdasarkan tingkat signifikan

(nilai p) adalah:

Jika nilai p > 0,05 maka hipotesis penelitian ditolak

Jika nilai p 0,05 maka hipotesis penelitian diterima

I. Etika Penelitian

1. Informed Consent

Setiap responden yang ikut dalam penelitian ini diberi lembar

persetujuan agar responden dapat mengetahui maksud dan tujuan peneliti

serta dampak yang diteliti selama proses penelitian ini berlangsung.

Apabila dokter/bidan bersedia untuk menjadi responden, maka

diharapkan untuk menandatangani lembar persetujuan dan jika menolak

untuk menjadi responden penelitian, maka peneliti tidak memaksa dan

tetap menghormati haknya.

34
2. Confidentiality

Pada penelitian ini, peneliti bersedia menjaga kerahasiaan dari setiap

responden. Peneliti juga akan menjelaskan tentang prosedur penelitian dan

pengisian kuesioner kepada responden.

3. Benefit

Peneliti berusaha untuk memaksimalkan manfaat penelitian dan

meminimalkan kerugian yang timbul akibat penelitan ini.

4. Justice

Semua responden yang ikut dalam penelitian ini diperlakukan adil dan

diberikan hak yang sama.

35
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
1. Gambaran umum penelitian
Penelitian ini dilakukan di Padukuhan Puluhan dan Padukuhan

Srontakan Kelurahan Argomulyo wilayah kerja Puskesmas Sedayu 1

Bantul . Sampel diambil dari kedua padukuhan dengan tekhnik purposive

sampling yang disesuaikan dengan kriteria inklusi dan eksklusi sehingga

diperoleh jumlah sampel masing - masing berjumlah 15 sampel pada

padukuhan puluhan dan 15 sampel pada padukuhan srontakan. Setelah

mendapat persetujuan dari responden maka semua sampel dinilai tingkat

pengetahuan sikap dan perilaku PSN dengan menggunakan kuisener yang

diisi dengan cara diwawancara maupun diisi sendiri oleh responden. Selain

itu juga dilakukan pengamatan terhadap jentik nyamuk didalam dan luar

lingkungan tempat tinggal untuk menghitung angka bebas jentik dikedua

padukuhan. Setelah diperoleh data maka kuisener pengetahuan , sikap dan

perilaku di skoring dan dianalisis. Hasil data pengukuran diolah dan

ditampilkan dalam bentu tabel dan diagram .

2. Karakteristik tempat penelitian

Padukuhan Puluhan dan srontakan termasuk dalam kelurahan

Argomulyo yang merupakan wilayah kerja puskesmas sedayu 1 Bantul. Dari

data yang diperoleh dari surveilance puskesmas sedayu 1 dari tahun 2011

sampai 2016 , kedua padukuhan tersebut merupakan daerah endemis demam

berdarah yakni pada padukuhan Puluhan dan daerah sporadik demam

berdarah pada padukuhan Srontakan. Secara geografis, Desa Argomulyo

merupakan salah satu desa dari Tujuh puluh lima desa di Kabupaten Bantul

36
yang terletak di bagian barat laut. Batas Desa Argomulyo di sebelah timur

yaitu Desa Balecatur, Kabupaten Sleman, di sebelah Barat berbatasan dengan

Desa Argorejo dan Desa Argosari, di sebelah Utara berbatasan dengan Desa

Sumbersari, Moyudan, Sleman dan Desa Sidomulyo, Godean, Kabupaten

Sleman, di sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Bangunjiwo, Kasihan dan

Desa Tri Widadi Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul.Desa Argomulyo

terletak di antara 110 12 34 - 110 31 08 Bujur Timur dan antara 7

4404 - 8 00 27 Lintang Selatan. Curah hujan di wilayah tersebut rata-

rata per tahunnya mencapai 2.150 mm, dengan rata-rata hari hujan sebanyak

106 hari per tahun atau 9 hari per bulan dengan curah hujan tertinggi pada

bulan Januari dan terendah pada bulan Agustus. Suhu terendahnya lebih

kurang 24,2C (Juli) dan tertinggi 25,4C (April), dengan kelembaban

terendah 78,6% (Agustus), serta tertinggi 85,9% (Januari). Intensitas

penyinaran matahari rata-rata bulanan mencapai lebih kurang 45,5%,

terendah 37,5% (Maret) dan tertinggi 52,5% (Juli). Dengan kondisi geografis

dan iklim tersebut menyebabkan pola vegetasi pada wilayah tersebut terdapat

banyak tanaman bambu dan kelapa yang merupakan salah satu tempat yang

beresiko menjadi tempat hidup bagi jentik nyamuk.

3. Karakteristik subjek
Karakteristik subjek dalam penelitian ini diambil sebanyak 15 subjek dari

padukuhan Puluhan dan 15 subjek dari padukuhan Srontakan yang telah

memenuhi kriteria inklusi dan bersedia untuk menjadi responden.

37
Tabel 4.1 Distribusi Usia Responden
Umur N Minimum Maximum Mean Std.
Deviation
Srontakan 15 30 82 58,2667 14,91627
Puluhan 15 28 72 48,6000 13,26542

Distribusi rata rata usia pada responden dipedukuhan srontakan berusia rata

rata 58 tahun dengan usia paling muda 30 tahun dan paling tua berusia 82 tahun

sedangkan pada pedukuhan Puluhan usia responden rata-rata 48 tahun dengan usia

paling muda 28 tahun dan usia paling tua 72 tahun.

Tabel 4.2 Distribusi Pendidikan dan Pekerjaan Responden


Karakteristik Srontakan Puluhan Jumlah
Subjek N % N %
Pendidikan
Sekolah dasar 2 13,3 4 26,7 6
Sekolah 2 13,3 3 20,0 5
menengah
pertama
Sekolah 8 53,3 6 40,0 14
menengah atas
Sarjana 3 20.0 2 13,3 5
Pekerjaan
Buruh 2 13,3 3 20 5
PNS/POLRI 3 20,0 0 0 3
Swasta 3 20,0 8 53.3 11
Pensiunan 5 33,3 1 6.7 6
Petani 2 13,3 3 20.0 5

Distribusi pendidikan responden pada padukuhan Srontakan yang

berpendidikan terakhir sekolah dasar dan sekolah menengah pertama masing

masing berjumlah 2 orang, responden yang memiliki riwayat pendidikan terakhir

sekolah menengah atas berjumlah 8 orang sedangkan yang berpendidikan sarjana

berjumlah tiga orang. Untuk distribusi pendidikan pada padukuhan Puluhan

berjumlah 4 orang yang menamatkan sekolah dasar, 3 orang menamatkan sekolah

menengah pertama dan 6 orang menamtkan sekolah menengah atas serta dengan

riwayat pendidikan terakhir sarjana berjumlah 2 orang.

38
Distribusi pekerjaan responden pada padukuhan srontakan yang bekerja

sebagai buruh dan petani masing masing berjumlah 2 orang , responden yang

bekerja sebagai PNS/POLRI dan swasta masing- masing berjumlah 3 orang

serta yang berstatus pensiunan berjumlah 5 orang. Sedangkan distribusi

responden pada padukuhan Puluhan yang bekerja sebagai buruh dan petani

berjumlah masing masing 3 orang, responden yang bekerja swasta

berjumlah 8 orang serta yang sudah berstatus pensiun berjumlah 1 orang.

TINGKAT TINGKAT PENGETAHUAN


PENGETAHUAN DI DI PEDUKUHAN
PEDUKUHAN PULUHAN SRONTAKAN
BAIK SEDANG BURUK BAIK SEDANG BURUK

0%
20%
33%
40%

60%

47%

Gambar 4.1 Distribusi Pengetahuan Responden

Masyarakat padukuhan Puluhan memiliki tingkat pengetahuan PSN yang

baik yaitu sekitar 60% dibandingkan dengan tingkat pengetahuan PSN yang baik

pada pedukuhan srontakan hanya sebesar 33%. Sedangkan pada padukuhan

srantakan lebih dominan masyarakat dengan tingkat pengetahuan PSN sedang yaitu

sebesar 47% dibandingkan pedukuhan puluhan sebesar 40%. Dan untuk tingkat

pengetahuan yang buruk hanya terdapat pada padukuhan srontakan dengan

persentase 20%.

39
SIKAP RESPONDEN DI SIKAP RESPONDEN DI
PEDUKUHAN PEDUKUHAN PULUHAN
SRONTAKAN BAIK SEDANG BURUK
BAIK SEDANG BURUK
13% 0%
0%

40%

60%

87%

Gambar 4.2 Distribusi Sikap Responden

Dari kedua pedukuhan tidak memiliki sikap PSN yang buruk sedangkan

untuk kategori sikap PSN yang baik diantara kedua pedukuhan persentasi terbesar

pada pedukuhan puluhan dengan persentase 87% sedangkan pada pedukuhan

srontakan hanya sebesar 60%. Dan untuk kategori sedang dari sikap PSN pada

padukuhan srontakan sebesar 40% dan pada padukuhan puluhan sebesar 13%.

PERILAKU RESPONDEN PERILAKU RESPONDEN DI


DI PEDUKUHAN PEDUKUHAN PULUHAN
SRONTAKAN
13%
13% 13%
33%

54%
74%

BAIK SEDANG BURUK BAIK SEDANG BURUK

Gambar 4.3 Distribusi Perilaku Responden

Rata rata persentase perilaku PSN responden pada kedua padukuhan

termasuk dalam kategori sedang dengan persentase 74% untuk pedukuhan

srontakan dan 54% untuk pedukuhan puluhan. Sedangkan perilaku PSN responden

dengan kategori baik dominan pada padukuhan puluhan dengan persentase 33%

40
dibandingan dengan padukuhan puluhan sebesar 13% dan untuk kategori sikap PSN

yang buruk memiliki persentase yang sama antara kedua pedukuhan sebesar 13%.

3. Angka Bebas Jentik ( ABJ )

Angka bebas jentik di hitung dengan menggunakan rumus :

Jumlah Rumah di Periksa Negatif


= 100%
Jumlah Seluruh Rumah diperiksa

Nilai rekomendasi ABJ Depkes > 95%

Data dari hasil observasi jentik nyamuk didalam dan diluar lingkungan

tempat tinggal didapatkan sebagai berikut :

Tabel 4.3 Data Angka Bebas Jentik


Pedukuhan Jumlah Rumah Jumlah Rumah ABJ
yang negatif yang diperiksa %
jentik
Srontakan 8 15 53
Puluhan 12 15 80

Maka , dari hasil perhitungan angka bebeas jentik pada padukuhan

srontakan dan puluhan masih rendah dikarenanakan ABJ kedua pedukuhan <

95%.

4. Hubungan Pengetahuan , sikap dan perilaku antara pedukuhan Puluhan


dan pedukuhan Srontakan

Tabel. 4.4 Hubungan Pengetahuan, sikap dan perilaku antara


pedukuhan Pulahan dan Srontakan
Srontakan Puluhan P Value
(Mean (Mean
Rank) Rank)
Pengetahuan 18,10 12,90 0,073
Sikap 17,50 13,50 0,104
Perilaku 16,80 14,20 0,344

Pada tabel diatas menunjukkan hubungan pengetahuan sikap dan

perilaku antara padukuhan puluhan dan pedukuhan srontakan. Untuk

menguji normalitas digunakan Shapiro Wilk, dari hasil uji normalitas

41
didapatkan semua item penilaian berdistribusi data tidak normal. Selanjutnya

digunakan uji Mann Whitney untuk pengambilan keputusan. Uji hipotesis

pada pengetahuan sikap dan perilaku didapatkan nilai p berturut turut 0,073,

0,104 dan 0,344 sehingga dengan kata lain p > 0,05. Maka dapat disimpulkan

bahwa tidak ada perbedaan antara tingkat pengetahuan , sikap dan perilaku

antara pedukuhan puluhan dan pedukuhan srontakan.

B. Pembahasan

1. Perbandingan tingkat pengetahuan PSN antara padukuhan puluhan dan

srontakan

Berdasarkan Hasil wawancara, observasi dan analisis yang dilakukan

pada kedua pedukuhan dengan total 30 sampel penelitian, didapatkan bahwa

di pedukuhan Srontakan memiliki tingkat pengetahuan warga terhadap PSN

yang baik sebesar 33,3% Sedang 46,7% dan buruk 20% dari jumlah 15

sampel penelitian. Sedangkan di Pedukuhan Puluhan memiliki tingkat

pengetahuan terhadap PSN yang baik sebesar 60% sedang 40% dan buruk

0%. Dari kedua hasil diatas, lalu dibandingkan dan didapatkan hasil

perbandingan p Value sebesar 0,073 yang dimana berdasarkan hasil hipotesis

menyatakan bahwa hasil p value yang bermakna adalah jika p < 0,05.

Sehingga didapatkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada

tingkat pengetahuan mengenai PSN antara Pedukuhan Srontakan dengan

Pedukuhan Puluhan. Ketidakbermaknaan dari hasil perbandingan tersebut

dapat didukung oleh karakteristik pendidikan terakhir responden yang setara

dimana pada kedua wilayah tersebut rata rata pendidikan terakhir responden

adalah sekolah menengah atas, pendidikan menjadi salah satu parameter atau

hal yang dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan (Notoadmojo,2003).

42
Berdasarkan jawaban hasil kuesioner wawancara mengenai

pengetahuan, didapatkan point pertanyaan dengan skoring terendah dan

paling banyak tidak diketahui oleh responden pada pertanyaan no 9

(terlampir) pada pedukuhan srontakan dan pada pedukuhan puluhan skorng

terendah dan yang paling banyak tidak diketahui responden yaitu jawaban

pertanyaan pada poin nomor 5 (Terlampir).

2. Perbandingan sikap PSN antara padukuhan puluhan dan srontakan

Berdasarkan Hasil wawancara, observasi dan analisis yang dilakukan

pada kedua pedukuhan dengan total 30 sampel penelitian, didapatkan bahwa di

pedukuhan Srontakan memiliki tingkat sikap terhadap PSN yang Baik sebesar

60% Sedang 40% dan buruk 0% dari jumlah 15 sampel penelitian. Sedangkan di

Pedukuhan Puluhan memiliki tingkat sikap terhadap PSN yang baik sebesar

86,7% sedang 13,3% dan buruk 0%. Dari kedua hasil diatas, lalu dibandingkan

dan didapatkan hasil perbandingan p Value sebesar 0,104 Yang dimana

berdasarkan hasil hipotesis menyatakan bahwa hasil p value yang bermakna

adalah jika p = 0,05. Sehingga didapatkan bahwa tidak terdapat perbedaan

yang signifikan pada tingkat sikap mengenai PSN antara Pedukuhan Srontakan

dengan Pedukuhan Puluhan. Kemungkinan penyebab ketidaksignifikan

perbedaan sikap antara sikap PSN antara kedua pedukuhan tersebut dapat

dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti yang dikemukakan oleh Azwar (2008)

bahwa sikap dapat dipengaruhi salah satunya oleh Kebudayaan. Responden yang

rata rata berasal dari jawa memungkinkan untuk memilki latarbelakang

kebudayaan yang sama sehingga menyebabkan karakteristik sikap yang sama

antara kedua pedukuhan. Berdasarkan jawaban hasil kuesioner wawancara

mengenai Sikap didapatkan sampel pada pedukuhan srontakan tidak mengetahui

43
jawaban pertanyaan pada poin nomor 9 (Terlampir) dan pada pedukuhan

puluhan tidak mengetahui jawaban pertanyaan pada poin nomor 2 (Terlampir).

3. Perbandingan perilaku PSN antara padukuhan puluhan dan srontakan

Berdasarkan Hasil wawancara, observasi dan analisis yang dilakukan

pada kedua pedukuhan dengan total 30 sampel penelitian, didapatkan bahwa di

pedukuhan Srontakan memiliki tingkat perilaku terhadap PSN yang Baik sebesar

13,3% Sedang 73,3% dan buruk 13,3% dari jumlah 15 sampel penelitian.

Sedangkan di Pedukuhan Puluhan memiliki tingkat perilaku terhadap PSN yang

baik sebesar 37,3% sedang 53,3% dan buruk 13,3%. Dari kedua hasil diatas, lalu

dibandingkan dan didapatkan hasil perbandingan p Value sebesar 0,344 Yang

dimana berdasarkan hasil hipotesis menyatakan bahwa hasil p value yang

bermakna adalah jika p = 0,05. Sehingga didapatkan bahwa tidak terdapat

perbedaan yang signifikan pada tingkat perilaku mengenai PSN antara

Pedukuhan Srontakan dengan Pedukuhan Puluhan. Hasil tersebut dapat

didukung atas teori terbentuknya suatu sikap menurut WHO dipengaruhi oleh

beberapa faktor yaitu pemikiran dan perasaa, acuan atau referensi dari

seseorang, sumberdaya yang meliputi sarana dan prasarana dan sosial budaya.

Faktor faktor tersebut yang memungkinkan sama pada responden dikedua

padukuhan tersebut adalah faktor latar belakang kebudayaan dan sumberdaya

dimana kedua padukuhan yang memiliki latar belakang budaya suku jawa dan

lokasi kedua wilayah tersebut yang tidak cukup jauh sehingga keterediaan sarana

dan prasarana yang sama antara kedua wilayah tersebut sehingga menyebabkan

hasil tidak ada perbedaan Sikap PSN antara kedua wilayah tersebut.

Berdasarkan jawaban hasil kuesioner wawancara mengenai pengetahuan,

didapatkan sampel pada pedukuhan srontakan tidak mengetahui jawaban

44
pertanyaan pada poin nomor 4, 5, dan 8 (Terlampir) dan pada pedukuhan

puluhan tidak mengetahui jawaban pertanyaan pada poin nomor 3, 4, 5, 6, dan 9

(Terlampir).

4. Hubungan pengetahuan sikap dan perilaku PSN masyarakat dengan angka

bebas jentik

Pada Penelitian kali ini, untuk mendapatkan hasil angka bebas jentik di

kedua pedukuhan, peneliti menggunakan metode observasi langsung dimana

peneliti mendatangi ke tempat sampel untuk melakukan pemeriksaan jumlah

jentik secara langsung. Setelah dilakukan pemeriksaan dan dilakukan

perhitungan ABJ , didapatkan hasil Angka Bebas Jentik di Pedukuhan Srontakan

sebesar 53% dan di pedukuhan Puluhan sebesar 80%. Hubungan pengetahuan,

sikap dan perilaku pemberantasan sarang nyamuk terhadap angka bebas jentik

dilakukan dengan observasi deskriptif didapatkan ABJ kedua pedukuhan yaitu

Srontakan dan Puluhan memiliki ABJ < 95% yang berarti memiliki resiko

terhadap penyebaran virus dengue yang besar hal ini didukung oleh tingkat

pengetahuan , sikap dan perilaku PSN yang sama pada kedua pedukuhan tersebut

sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan sikap

dan perilaku PSN dengan ABJ di kelurahan Argomulyo wilayah kerja

puskesmas Sedayu 1

Berdasarkan Pengendalian vektor melalui surveilans vektor diatur dalam

Kepmenkes No.581 tahun 1992, bahwa kegiatan pemberantasan sarang nyamuk

(PSN) dilakukan secara periodik oleh masyarakat yang dikoordinir oleh RT/RW

dalam bentuk PSN dengan pesan inti 3M plus. Keberhasilan kegiatan PSN antara

lain dapat diukur dengan Angka Bebas Jentik (ABJ). Apabila ABJ lebih atau

sama dengan 95% diharapkan penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi.

45
Maka berdasarkan peraturan pemerintah diatas dapat disimpulkan bahwa

keadaan angka bebas jentik di kedua pedukuhan belum mencapai target yang

ditetapkan.

Pada 3 sub pembahasan sebelumnya didapatkan nilai hasil dari analisis

> 0,05, sehingga tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pengetahuan,

sikap dan perilaku PSN masyarakat di desa Argomulyo yang dalam hal ini

diwakili oleh pedukuhan Puluhan dan srontakan. Hasil pada penelitian ini tidak

didapatkan hasil bermakna yang signifikan karena peningkatan maupun

penurunan angka bebas jentik bisa disebabkan oleh beberapa factor lain selain

subjek yang diteliti antara lain :

Kelembaban Udara mempengaruhi keberadaaan jentik nyamuk penular

DBD. Hasil penelitian ini dilukung oleh penelitian Ririh clan Anny (

2005) yang menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara

kelembaban udara dengan keberaclaan jentik nyamuk Aedes aegypti di

Kelurahan Wonokusumo. Menurut Mardihusoclo (1988), kelembaban

udara yang berkisar antara 70 persen sampai dengan 80 persen

merupakan kelembaban yang optimal untuk proses embriosasi clan

ketahanan hiclup embrio nyamuk.

Keberadaan Saluran Air hujan yang Kurang Lancar

Ada hubungan antara keberaclaan saluran air hujan clengan keberaclaan

jentik nyamuk penular DBD. Hal ini dilukung oleh penelitian yang

dilakukan Arman ( 2005) dimana diperoleh hubungan antara

keberaclaan saluran air hujan clengan enclemisitas DBD, dan juga oleh

Suyasa ( 2008) dimana terdapat hubungan antara keberaclaan saluran air

hujan dengan keberadaan vektor DBD. Perubahan musim dari kemarau

46
ke penghujan menjadi titik rawan ledakan kasus demam berdarah,

apalagi didukung oleh keberadaan saluran air hujan yang

dapatmenampung genangan air. Kegiatan gotong royong untuk

membersihkan lingkungan terutama saluran got menjadi mutlak

dilakukan. Upaya ini dapat menekan populasi nyamuk DBD pada saat

musim puncak, sehingga wabah atau kejadian luar biasa penyakit dapat

dihindari.

Keberadaan Kontainer

Ada hubungan antara keberadaan kontainer dengan keberadaan jentik

nyamuk penular DBD. Hasil penelitian ini sesuai dengan pernyataan

Soegijanto ( 2004) yang menyebutkan bahwa telur, larva, clan pupa

nyamuk Aedes aegypti tumbuh clan berkembang di dalam air. Genangan

yang disukai sebagai tempat perindukan nyamuk ini berupa genangan

air yang tertampung di suatu wadah yang biasa disebut container atau

TPA, bukan genangan air di tanah.

C. Keterbatasan penelitian

Dalam penelitian ini penulis masih mengalami bebereapa keterbatasan dalam

penelitian, antara lain:

1. Periode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini relatif pendek yaitu

dari 16 Januari 2017 sampai 31 Januari 2017.

2. Keterbatasan Jumlah sampel dan cakupan daerah yang terbatas untuk

diteliti.

3. Saat akan dilakukan pengambilan sampel, beberapa rumah yang akan

dilakukan observasi dalam keadaan kosong atau menolak untuk dilakukan

observasi secara langsung.

47
4. Adanya keterbatasan penelitian dengan menggunakan kuesioner yaitu

terkadang jawaban yang diberikan oleh sampel tidak menunjukkan keadaan

sesungguhnya.

48
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian pembahasan diatas maka dapat disimpulkan hal hal

sebagai berikut:

1.Tidak terdapat terdapat perbedaan pengetahuan , sikap dan perilaku PSN

antara pedukuhan Srontakan dan pedukuhan Puluhan

2. Nilai ABJ yang didapatkan dari kedua pedukuhan rendah, yaitu pedukuhan

Srontakan 53 % dan pedukuhan Puluhan 80%

3. Terdapat hubungan antara pengetahuan sikap dan perilaku PSN dengan

ABJ di kelurahan Argomulyo wilayah kerja puskesmas Sedayu 1

B. SARAN

Sebagai penutup dalam penelitian ini, penyusun dapat mengemukakan

beberapa saran sebagai berikut :

1. Perlu dilakukan penelitian lagi dengan jumlah sampel yang lebih banyak

2. Perlu dilakukan penelitian lagi antara wilayah yang endemis dan non

endemis

3. Perlunya Peningkatan kegiatan dan evaluasi program pemberantasan

sarang nyamuk

49
DAFTAR PUSTAKA

Achmadi. 2011. Dasar-Dasar Penyakit Berbasis Lingkungan. Jakarta: Rajawali pers.


Aminah, Singgih, Soetiyono, Chaorul. 2001. S. larak, D.metel, dan E.
Ahmadi, Abu dan Munawar Sholeh. 2007. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Rineka
Cipta. Hal : 123 125
Apriadji, 1996, Informasi dan teknologi. http //id.wikipedia.org/wiki/ informasi.diakses
tanggal 22 Januari 2010. jam 24.00 wib
Azwar, S. 2008. Seri Psikologi, Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta :
Liberty. Hal : 5, 31, 87, 107
Depertemen Kesehatan. 2017. http://www.depkes.go.id/article/print/16030700001.
Diakses tanggal 23 Januari 2017. Jam: 19.30 wib
Depkes R.I. 2002. Pemberantasan Penyakit Menular (P2M). Jakarta : Ditjen P2M-
PPLP.Hal : 3 - 21
Depkes RI. 2005. Pencegahan dan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue di
Indonesia. Jakarta : Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.Hal
: 3, 4, 22, 64
Depkes, 2004. Pemberantasan Penyakit Menular (P2M). Jakarta : Ditjen P2M-PPLP. Hal
: 12 - 18
Dinkes Jogja . 2016. http://www.kependudukan.jogjaprov.go.id/olah. Diakses tanggal
23 Januari 2017. Jam: 19.00 wib
Dinkes Bantul. 2016. http://dinkes.bantulkab.go.id/filestorage/dokumen/2016/. Diakses
tanggal 23 Januari 2017. Jam 19.00
Dinkes Jatim. 2007. Buku Panduan PSN-DBD Bagi Kader Kesehatan : Subdin P2 Dinkes
Propinsi Jawa Timur. Hal : 27 35
Hidayat, C., Santoso, L., dan Suwasono, H. (2007), Pengaruh pH Air Perindukan terhadap
Pertumbuhan dan Perkembangbiakan Ae. aegypti Pra Dewasa, Cermin Dunia
Kedokteran, No. 119.
Irmayanti. 2010. Pengetahuan. http://id.wikipedia.org/wiki/Pengetahuan". Diakses
tanggal 22 Januari 2010. Jam : 22.00 wib
Mardihusodo, SJ. 1988. Pengaruh Perubahan Lingkungan Fisik Terhadap Penetasan Telur
NyamukAedes aegypti. Berita Kedokteran Masyarakat IV: 6.
Medika. Sudoyo, A.W., 2006, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jakarta : FKUI. Suriadi,
2006, Asuhan Keperawatan pada Anak ( Edisi V ), Jakarta : CV.Agung.
Medika. Sudoyo, A.W., 2006, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jakarta : FKUI. Suriadi,
2006, Asuhan Keperawatan pada Anak ( Edisi V ), Jakarta : CV.Agung.
Ridha, M.R., Rahayu, N., Rosvita, N.A., dan Setyaningtyas, D.A. (2013), Hubungan
Kondisi Lingkungan dan Kontainer dengan Keberadaan Jentik Nyamuk Ae. aegypti

50
di Daerah Endemis Demam Berdarah Dengue di Kota Banjarbaru, Jurnal BUSKI,
Vol. 4, No.3 : 133-137.
Ririh, Y, clan Anny, V. 2005. Hubungan Kondisi Lingkungan, Kontainer clan Perilaku
Masyarakat dengan Keberadaan Jentik Nyamuk Aedes aegypti di Daerah Endemis
Demam Berdarah Dengue Surabaya. Jurnal Kesehatan Lingkungan I (2) : 170 - 182.

51
LAMPIRAN
Lampiran 1. Kuesioner Penelitian

HUBUNGAN PENGETAHUAN , SIKAP DAN PERILAKU PSN MASYARAKAT


DENGAN ANGKA BEBAS JENTIK DI KELURAHAN ARGOMULYO WILAYAH
KERJA PUSKESMAS SEDAYU I

Nama :..
Alamat :..
Umur :.
Status dalam keluarga :..
Pekerjaan :.
Pendidikan terakhir :..

a. Tidak sekolah/buta huruf


b. Sekolah Dasar (SD) atau sederajat
c. Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama(SLTP) atau sederajat
d. Sekolah Menengah Umum(SMU) atau sederajat
e. Akademi (D1, D2, D3)
f. Sarjana (S1, S2, S3)

Apakah terdapat anggota keluarga yang menderita demam berdarah selama kurun
waktu satu tahun kebelakang?
a. Ya, yaitu..........................................
b. Tidak

Jika ya, keadaan penderita tersebut saat ini :


a. Sehat
b. Masih menderita sakit akibat komplikasi penyakit demam berdarah
c. Meninggal dunia

I. PENGETAHUAN
1. Apakah bapak/ibu mengetahui penyakit demam berdarah ?
a. Tahu b. Tidak tahu

52
Bila tahu, apa penyebab penyakit demam berdarah?
a. Virus / bibit penyakit yang sangat kecil
b. Gigitan serangga (nyamuk, lalat, dan lain-lain)
c. Makanan / minuman yang tidak dimasak dengan baik / bersih
d. Terkena kutukan / guna-guna
e. Tidak tahu

2. Bagaimana tanda-tanda orang yang menderita penyakit demam berdarah ?


(boleh lebih dari satu jawaban)
a. Demam mendadak
b. Sakit kepala
c. Nyeri sendi / tulang / otot
d. Nyeri ulu hati
e. Perdarahan berupa : bintik-bintik merah di kulit, perdarahan gusi / hidung,
batuk darah, berak darah, dan lain-lain.
f. Tidak tahu

3. Apakah penyakit demam berdarah merupakan penyakit yang berbahaya ?


a. Ya, b. Tidak
Jika ya, demam berdarah berbahaya karena
a. Menyebabkan kematian
b. Menularkan ke anggota keluarga yang lain

4. Menurut bapak/ibu, bagaimana cara penyebaran penyakit demam berdarah ?


a. Melalui gigitan nyamuk yang sebelumnya telah menggigit penderita demam
Berdarah
b. Melalui debu / angin
c. Melalui batuk / dahak
d. Bersentuhan dengan penderita demam berdarah
e. Melalui barang yang dipakai oleh penderita demam berdarah
f. Tidak tahu

5. Apakah bapak/ibu mengetahui kegunaan dari bubuk abate ?


a. Tahu b. Tidak tahu

Bila tahu, untuk apa bubuk abate ?


a. Menghilangkan warna pada air
b. Membunuh jentik-jentik nyamuk
c. Menghilangkan bau pada air
53
d. Membuat air jadi tahan lama
e. Tidak tahu

Tempat-tempat apa saja yang berpotensi / dapat menjadi tempat bersarang


nyamuk demam berdarah ? (boleh lebih dari satu jawaban)
a. Tempat penampungan air (tempayan) yang tidak tertutup
b. Bak mandi
c. Tempat minum burung
d. Kaleng bekas yang terisi air
e. Ban bekas yang terisi air
f. Tidak tahu

7. Apakah bapak/ibu mengetahui istilah 3 M dalam penanggulangan /


pencegahan demam berdarah ?
a. Tahu, yaitu singkatan dari
b. Tidak tahu

8. Bagaimana cara mencegah penyakit demam berdarah ? (boleh lebih dari satu
jawaban)
a. Menguras bak mandi secara teratur minimal 1 minggu sekali
b. Menutup tempat penyimpanan air yang dapat menjadi tempat berkembang
biak nyamuk
c. Mengubur / membersihkan barang bekas yang dapat menampung air (kaleng
bekas, botol bekas, wadah plastik bekas, ban bekas, dan lain-lain)
d. Memberikan insektisida pembunuh larva nyamuk (contoh : abate) pada tempat
penyimpanan air / bak mandi setiap 3-4 bulan sekali
e. Menanami kolam dengan ikan pemakan jentik nyamuk (contoh : ikan adu /
ikan cupang)
f. Tidak tahu

9. Apakah bapak/ibu tahu tentang program puskesmas untuk memberantas


demam berdarah?
a. Tahu b. Tidak tahu

Jika tahu, apakah program puskesmastersebut?(boleh lebih dari satu)


a. 3M
b. Juru pengawas jentik
c. Foging (pengasapan)
d. Penyebaran bubuk abate
e. Pelaporan dan pengawasan warga yang terkena demam berdarah
f. Tidak tahu

54
10. Pengetahuan yang bapak/ibu dapat mengenai demam berdarah didapat dari :

a. Tetangga
b. Pemerintah
c. Dokter
d. Mantri
e. Puskesmas

II. SIKAP
1. Menurut bapak/ibu, apakah upaya pencegahan penyakit demam merupakan
kebutuhan masyarakat yang harus segera dilakukan ?
a. Ya, alasan.
b. Tidak, alasan
c. Tidak tahu

2. Menurut bapak/ibu, penanggulangan penyakit demam berdarah merupakan


tanggung jawab siapa ?
a. Pemerintah
b. Penderita demam berdarah dan keluarganya
c. Masyarakat
d. Pemerintah dan seluruh komponen masyarakat / semua pihak
e. Lain-lain, yaitu...........................................

3. Apakah bapak/ibu setuju bila diadakan upaya pencegahan penyakit demam


berdarah secara berkala / rutin di lingkungan tempat tinggal ibu ?
a. Setuju, alasan....................................................................................
b. Tidak setuju, alasan.........................................................................
c. Tidak tahu

4. Bila diadakan upaya pencegahan penyakit demam berdarah di lingkungan


tempat tinggal bapak/ibu, apakah ibu bersedia untuk ikut secara aktif melaksanakannya
?
a. Bersedia
b. Tidak bersedia
c. Tidak tahu

5. Apakah menurut bapak/ ibu perlu membersihkan / menguras bak mandi ?


a. Perlu b. Tidak perlu

55
6. Apakah bapak/ibu setuju dengan upaya 3M yang digalakkan oleh pemerintah?

a. Setuju b. Tidak setuju

7. Menurut bapak/ibu apakah boleh menyimpan pakaian digantung?


a. Boleh
b. Tidak boleh
c. Tidak tahu

8. Menurut bapak/ibu apakah pengawasan terhadap jentik nyamuk perlu


dilakukan?
a. Perlu
b. Tidak perlu
c. Tidak tahu

9. Menurut bapak/ibu apakah foging(pengasapan) efektif mencegah demam


berdarah?
a. Efektif
b. Tidak efektif
c. Tidak tahu

10. Menurut bapak/ibu bagaimana sebaiknya yang harus dilakukan untuk


mencegah demam berdarah?
a. Memperhatikan kesehatan diri dan melakukan 3M
b. Memperhatikan kesehatan diri saja
c. Cukup dengan melakukan 3M
d. Tidak tahu

III. PERILAKU
1.Apakah keluarga bapak/ibu menguras dan membersihkan bak mandi / tempat
penampungan air yang berada di rumah ?
a. Ya b. Tidak

Jika ya, seberapa sering hal tersebut dilakukan ?


a. Satu minggu sekali
b. Dua minggu sekali
c. Tiga minggu sekali
d. 1 bulan sekali

56
2.Apakah keluarga bapak/ibu menggunakan tempat penyimpanan / penampungan air
untuk keperluan sehari-hari di rumah ?
a. Ya b.Tidak

Jika ya, bagaimana keadaan tempat penyimpanan / penampungan air tersebut ?


a. Bertutup
b. Tidak bertutup / terbuka

3.Apakah keluarga bapak/ibu secara teratur membersihkan / mengubur / membakar


barang bekas yang dapat menjadi tempat bersarangnya nyamuk ?
a. Secara teratur
b. Kadang-kadang
c. Tidak pernah

4.Apakah keluarga bapak/ibu menggunakan abate pada tempat penampungan air di


rumah?
a. Ya b. Tidak
Jika ya, seberapa sering abate tersebut digunakan / diganti kembali ?
a. Kurang dari satu bulan sekali
b. Satu bulan sekali
c. Dua bulan sekali
d. Tiga bulan sekali
e. Lebih dari tiga bulan sekali

5. Apakah keluarga bapak/ibu menutup jendela / lubang angin / pintu dengan


kawat anti nyamuk ?
a. Ya, alasan..........................................................................
b. Tidak, alasan.....................................................................

6. Apakah keluarga bapak/ibu pernah melakukan pengawasan terhadap jentik


nyamuk di rumah ?
a. Ya b. Tidak

Jika ya, kapan dan bagaimana hasil pemeriksaan tersebut ?


Tanggal............................. bulan................................. tahun.................................
Hasilnya.....................................
57
7. Bagaimana kebiasaan keluarga bapak/ibu dalam menyimpan pakaian yang
telah dipakai?
a. Digantungkan di kamar
b. Di simpan di tempat baju kotor

8. Apakah keluarga bapak/ibu menggunakan perlindungan terhadap gigitan


nyamuk pada saat beristirahat di pagi dan sore hari (contoh : memakai lotion anti
nyamuk / obat nyamuk semprot / bakar / elektrik, memakai kelambu) ?
a. Ya, alasan................................................................................
b. Tidak, alasan...........................................................................

9. Pernahkah keluarga bapak/ibu mengikuti kegiatan pencegahan /


penanggulangan demam berdarah yang dilakukan di lingkungan tempat tinggal ibu ?

a. Pernah b. Tidak pernah, alasan.....................................


10. Bagaimana cara pembuangan sampah yang selama ini dilakukan oleh
bapak/ibu?
a. Diangkut / dikumpulkan secara rutin oleh petugas kebersihan
b. Dibakar / dikubur secara rutin di lingkungan sekitar rumah
c. Dibuang ke sungai

58
Lampiran 2. Hasil skoring kuisener pengetahuan sikap dan perilaku
No Puluhan Pengetahuan Sikap Perilaku
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 Desanto 10 6 10 10 10 10 10 10 6 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 0 10 0 0 10 10 10 0 0

2 Warnanik 0 2 10 10 10 8 10 10 10 10 10 0 10 10 10 10 0 10 10 10 10 0 0 0 0 10 10 0 0 10

3 Sudiartono 0 0 10 0 10 0 0 0 2 10 10 0 10 10 10 10 0 10 10 0 10 10 0 10 0 0 0 10 10 10

4 Purna 0 2 2 10 0 10 2 2 0 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 0 10 0 0 0 10 10 0 10

5 Suparno 10 2 10 10 0 2 10 2 2 10 0 0 10 10 10 10 0 10 10 10 10 0 10 10 0 10 10 10 0 10

6 Sumiati 10 2 10 10 0 2 0 4 4 10 10 0 10 0 10 10 10 10 10 0 10 10 10 0 0 0 10 10 10 10

7 Suhartini 0 0 10 0 0 0 10 0 2 10 10 0 10 10 10 10 10 10 10 10 10 0 0 0 0 0 10 0 0 10

8 Sutarto 10 4 10 10 10 4 10 2 4 10 0 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10

9 Taryadi 10 2 10 10 0 2 0 2 2 10 10 0 10 0 10 10 10 10 10 10 10 10 0 0 0 0 0 10 10 10

10 Subrata 10 4 10 10 10 6 10 6 6 10 10 10 10 10 10 10 10 10 0 10 10 10 10 0 0 0 10 0 0 10

11 wakijan 10 2 10 10 0 2 0 4 2 10 0 0 10 10 10 10 10 10 0 10 10 0 0 0 10 0 10 10 0 10
12 Bambang s 10 10 10 10 10 2 6 2 2 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 0 10 10 10 0 0 10 0 10 10 10
13 marsudi 10 2 10 10 0 6 0 8 0 10 10 10 10 0 10 10 10 10 0 10 0 0 0 0 0 1o 0 0 0 10

14 ZudiH 10 2 10 10 10 10 10 10 10 10 10 0 10 10 10 10 10 10 0 10 10 10 0 0 10 10 10 10 10 10
15 Eko putro 10 2 10 10 0 10 0 10 0 10 10 0 10 10 10 10 10 10 0 10 10 10 0 0 0 0 0 0 10 0

Total yg 4 2 0 2 8 2 6 2 3 0 3 9 0 3 0 0 3 0 5 3 1 5 8 10 11 8 5 4 8 2
salah

NO Srontakan Pengetahuan Sikap Perilaku


1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 Rully 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 0 10 10 10 10 0 0 0 10 10 10 10
2 Aris 10 6 10 10 10 10 10 10 0 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 0 0 10 10 10 10 10
3 Suwansi 10 4 10 10 10 8 10 10 2 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 0 0 0 0 0 0 10 0 10 10
4 Sakijo 10 10 10 10 10 10 10 8 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 0 0 0 10 10 10 10
5 Samino 10 10 10 10 0 10 10 4 0 0 10 10 10 10 10 10 10 10 0 10 10 0 10 0 0 0 10 0 10 10
6 Swada 10 6 10 10 10 10 10 10 0 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 0 0 10 0 0 10 10 10 0 0
7 Dwi yanto 10 2 10 10 10 8 10 6 6 10 10 10 10 10 10 10 10 10 0 10 10 0 10 0 0 10 10 0 0 10
8 Daryoto 10 10 10 10 10 0 10 10 6 10 10 10 10 10 10 10 10 10 0 10 10 10 10 10 0 10 0 10 10 10
9 Ngtijo 10 4 10 10 10 2 10 6 0 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 0 0 0 0 0 10
10 Bagus 10 4 10 10 10 8 10 10 0 10 10 10 10 10 10 10 10 10 0 10 10 10 10 0 10 10 10 0 10 10
11 Radi 10 4 10 10 0 8 0 6 0 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 0 0 0 0 10 10 0 10 10
12 Cholibun 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 0 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 0 0 10
13 Joyoutomo 10 2 10 10 10 8 0 0 2 10 10 0 10 10 10 10 0 10 10 10 10 0 0 10 10 10 0 0 0 10
14 Edi 10 10 10 10 10 2 10 6 4 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 2 10 10 0 0 10 10 0 10 10
15 Sukimin 10` 0 10 10 10 2 0 2 4 10 10 0 10 10 10 10 0 0 10 0 0 0 0 0 0 0 0 10 10 10

Total yg 0 1 0 0 2 1 3 1 6 1 0 2 0 0 0 0 3 1 4 1 3 6 4 11 12 6 4 9 5 1
salah

59
Lampiran 3. Angka Bebas Jentik di Pedukuhan Srontakan dan Puluhan
Pedukuhan Puluhan

Pedukuhan Srontakan

Lampiran 4. Hasil Olah Data

Descriptives

60
Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation


Umur (Srontakan) 15 30,00 82,00 58,2667 14,91627
Umur (Puluhan) 15 28,00 72,00 48,6000 13,26542
Valid N (lis twise) 15

Frequency Table
Pekerjaan (Srontakan)

Cumulative
Frequency Perc ent Valid Percent Perc ent
Valid Buruh 2 13,3 13,3 13,3
PNS/POLRI 3 20,0 20,0 33,3
Swasta 3 20,0 20,0 53,3
Pensiunan 5 33,3 33,3 86,7
Petani 2 13,3 13,3 100,0
Total 15 100,0 100,0

Pendidikan (Srontakan)

Cumulative
Frequency Perc ent Valid Percent Perc ent
Valid SD 2 13,3 13,3 13,3
SMP 2 13,3 13,3 26,7
SMA 8 53,3 53,3 80,0
Perguruan Tinggi 3 20,0 20,0 100,0
Total 15 100,0 100,0

Pekerjaan (Puluhan)

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Buruh 3 20,0 20,0 20,0
Swasta 8 53,3 53,3 73,3
Pensiunan 1 6,7 6,7 80,0
Petani 3 20,0 20,0 100,0
Total 15 100,0 100,0

Pendidikan (Puluhan)

Cumulative
Frequency Perc ent Valid Percent Perc ent
Valid SD 4 26,7 26,7 26,7
SMP 3 20,0 20,0 46,7
SMA 6 40,0 40,0 86,7
Perguruan Tinggi 2 13,3 13,3 100,0
Total 15 100,0 100,0

61
Frequency Table Tingkat Pengetahuan, Sikap dan Perilaku
Pedukuhan Srontakan dan Puluhan

Padukuhan Srontakan

Pengetahuan

Cumulative
Frequency Perc ent Valid Percent Perc ent
Valid Buruk 3 20,0 20,0 20,0
Sedang 7 46,7 46,7 66,7
Baik 5 33,3 33,3 100,0
Total 15 100,0 100,0

Sikap

Cumulative
Frequency Perc ent Valid Percent Perc ent
Valid Sedang 6 40,0 40,0 40,0
Baik 9 60,0 60,0 100,0
Total 15 100,0 100,0

Perilaku

Cumulative
Frequency Perc ent Valid Percent Perc ent
Valid Buruk 2 13,3 13,3 13,3
Sedang 11 73,3 73,3 86,7
Baik 2 13,3 13,3 100,0
Total 15 100,0 100,0

62
Padukuhan Puluhan
Pengetahuan

Cumulative
Frequency Perc ent Valid Percent Perc ent
Valid Sedang 6 40,0 40,0 40,0
Baik 9 60,0 60,0 100,0
Total 15 100,0 100,0

Sikap

Cumulative
Frequency Perc ent Valid Percent Perc ent
Valid Sedang 2 13,3 13,3 13,3
Baik 13 86,7 86,7 100,0
Total 15 100,0 100,0

Perilaku

Cumulative
Frequency Perc ent Valid Percent Perc ent
Valid Buruk 2 13,3 13,3 13,3
Sedang 8 53,3 53,3 66,7
Baik 5 33,3 33,3 100,0
Total 15 100,0 100,0

Tabel Perbandingan Tingkat Pengetahuan sikap dan perilaku


antara padukuhan Srontakan dan Puluhan

Mann-Whitney Test
Ranks

Pedukuhan N Mean Rank Sum of Ranks


Pengetahuan Puluhan 15 12,90 193,50
Srontakan 15 18,10 271,50
Total 30

Test Statisticsb

Pengetahuan
Mann-Whitney U 73,500
Wilcoxon W 193,500
Z -1,790
Asymp. Sig. (2-tailed) ,073
Exact Sig. [2*(1-tailed a
,106
Sig.)]
a. Not correc ted for ties.
b. Grouping Variable: Pedukuhan

63
NPar Tests
Mann-Whitney Test
Ranks

Pedukuhan N Mean Rank Sum of Ranks


Sikap Puluhan 15 13,50 202,50
Srontakan 15 17,50 262,50
Total 30

Test Statisticsb

Sikap
Mann-Whitney U 82,500
Wilcoxon W 202,500
Z -1,624
Asymp. Sig. (2-tailed) ,104
Exact Sig. [2*(1-tailed a
,217
Sig.)]
a. Not correc ted for ties.
b. Grouping Variable: Pedukuhan

NPar Tests
Mann-Whitney Test

Ranks

Pedukuhan N Mean Rank Sum of Ranks


Perilaku Puluhan 15 14,20 213,00
Srontakan 15 16,80 252,00
Total 30

Test Statisticsb

Perilaku
Mann-Whitney U 93,000
Wilcoxon W 213,000
Z -,946
Asymp. Sig. (2-tailed) ,344
Exact Sig. [2*(1-tailed a
,436
Sig.)]
a. Not correc ted for ties.
b. Grouping Variable: Pedukuhan

64