Anda di halaman 1dari 11

Etika Profesi & Hukum Kesehatan Selasa, 13 Desember 2016

Laporan Wawancara Etika Profesi Gizi


di Puskesmas Airtiris

Oleh:
Laily Rahmi 1413211013
Mairani zulfi 1413211039
Syahreni Arva Inda 1413211027

Dosen Pengampu:

Widawati, SP, MHSc, MSSc

STIKes Tuanku Tambusai Riau


2016
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Wawancara (interview) merupakan salah satu metode pengumpulan data


untuk mendapatkan informasi dengan cara bertanya langsung kepada responden.
Apabila wawancara dijadikan satu-satunya alat pengumpulan data, atau sebagai
metode diberi kedudukan yang utama dalam serangkaian metode-metode
pengumpulan data lainnya, ia akan memiliki ciri sebagai metode primer.
Sebaliknya jika ia digunakan sebagai alat untuk mencari informasi-informasi yang
tidak dapat diperoleh dengan cara lain, ia akan menjadi metode perlengkap.

Dalam proses interview terdapat 2 (dua) pihak dengan kedudukan yang


berbeda. Pihak pertama berfungsi sebagai penanya, disebut pula
sebagai interviewer, sedang pihak kedua berfungsi sebagai pemberi informasi
(Information supplyer), interviewee atau informan. Interviewer mengajukan
pertanyaan-pertanyaan, meminta keterangan atau penjelasan, sambil menilai
jawaban-jawabannya. Sekaligus ia mengadakan paraphrase (menyatakan kembali
isi jawaban interviewee dengan kata-kata lain), mengingat-ingat dan mencatat
jawaban-jawaban. Disamping itu dia juga menggali keterangan-keterangan lebih
lanjut dan berusaha melakukan probing (rangsangan, dorongan).
Pihak interviewee diharap mau memberikan keterangan serta penjelasan, dan
menjawab semua pertanyaan yang diajukan kepadanya.

B. Tujuan
Untuk menggali informasi bagaimana seorang profesi gizi di Puskesmas
menjalankan etika profesi gizi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu


dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan
pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas
pertanyaan tersebut. (Lexy J, 2006 :186). Wawancara merupakan bagian yang
penting untuk memperoleh informasi dibalik pengalaman partisipan. Interviewer
bisa mempengaru tingkat kedalaman informasi tentang suatu topik. Wawancara
digunakan sebagai tindak lanjut terhadap responden untuk menginvestigasi respon
mereka. ( McNamara, 1999 )

Ada 3 tipe yang fundamental dalam wawancara yaitu

1. Wawancara terstruktur

Secara isi dan verbal adalah untuk menunjukkan daftar-daftar pertanyaan


yang sudah di urutkan yang urutannya untuk mengantisipasi pertanyaan yang
diajukan, dengan sedikit atau tidak ada perluasan.

2. Wawancara tidak terstruktur

Merupakan wawancara yang tidak merefleksikan teori, ide atau dilakukan


tanpa ada pengorganisasian. Wawancara tidak terstruktur biasanya menghabiskan
sangat banyak waktu dan sulit untuk mengatur karena pembicaraannya kurang
terarah.

3. Semi terstruktur

Terdiri dari beberapa pertanyaan kunci yang membantu untuk


mengidentifikasi beberapa area yang ingin di eksplor, tetapi juga
memperbolehkan interviwer atau interviewee untuk memberikan ide atau respon
yang lebih detail.

Sebelum wawancara dilakukan, sebaiknya responden diberi informasi


tentang apa yang akan digali secara detail dan memberikan jaminan tentang etika
wawancara. Ini akan memberikan ide terhadap interviewee tentang apa yang
diharapkan dari dilakukannya wawancara, termasuk kemungkinan jujur dan juga
sebuah aspek fundamental dari proses inform konsen.
Kelebihan wawancara :
Fleksibel

Boleh memnggunakan kata-kata yang lebih fleksibel, namun tetap urut dan
terarah. Dapat mengklarifikasi atau memparafrase pertanyaan jika interviewe
mengalami kebingungan. Juga dengan mudah mengeksplore topik yang terlalu
kompleks atau abstrak.

Penambahan informasi

Memperbolehkan untuk mengevaluasi interpersonal skill, bahasa


nonverbal, perilaku dibawah stres dan konsistensi internal dari jawaban
interwiewe.

Alasan teknis

Menggunakan cara Seperti tidak memperbolehkan interviewe kembali ke


pertanyaan sebelumnya, atau tidak membatasi waktu interviewe dalam
memberikan respon, memungkinkan bagi interwiewer untuk melakukan inquiry
untuk memperoleh informasi yang lebih dalam dengan menggunakan pendekatan
emosional.

Kekurangan wawancara :
Memerlukan pelatihan dan praktek
Menghabiskan waktu.
Harus terjaga kerahasiaannya.
Ada potensi untuk bias terhadap respon.
Karakter dari interviewer bisa mempengaruhi respon dari interviewe.

Tipe interview yang bisa digunakan adalah Two-Person & Team


Interviews yang berdasarkan jumlah orang. Persiapan wawancara yang dilakukan :

1. Membaca materi latar belakang


2. Menetapkan tujuan wawancara
3. Memutuskan siapa yang diwawancarai
4. Menyiapkan orang yang diwawancarai
5. Menyiapkan jenis dan struktur pertanyaan.
BAB III
HASIL & PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan Wawancara
Tanggal wawancara : 15 November 2016.
Waktu wawancara : Pkl.08.30 09.20 WIB.
Tempat : Puskesmas Airtiris.

B. Biodata Interviewee
Nama : Ariani
Panggilan : Nani
Tempat Tanggal Lahir : Pematang Siantar, 12 Juli 1967
Lulusan : SPAG Banda Aceh
Pekerjaan saat ini : kepala instalasi gizi puskesmas Airtiris.

C. Alur Wawancara

Sebelum melakukan wawancara kami mempersiapkan hal-hal yang


diperlukan selama proses wawancara seperti buku, pena, alat perekam suara,
kamera hand phone, dan tak lupa pula daftar pertanyaan yang akan kami ajukan
pada Kepala Instalasi Gizi di puskesmas nantinya.

Berdasarkan surat izin yang kami antar ke puskesmas pada hari Jumat
taggal 11 November 2016, kami sampai di puskesmas Airtiris pada jam 08.00
WIB. Sebelum ke instalasi gizi, kami terlebih dahulu ke ruang TU untuk meminta
izin dan memberitahukan tujuan kami datang ke puskesmas. Kemudian kami
disuruh menunggu di ruang tunggu oleh kepala TU selagi kepala instalasi gizi
mempersiapkan tempat kami untuk melakukan wawancara karena gedung
puskesmas Airtiris sedang di renovasi sehingga kegiatan dialihkan di kantor
darurat samping gedung yang sedang di renovasi. Ketika jam menunjukkan jam
08.30, kami di panggil kepala instalasi gizi ke ruangannya untuk memulai
wawancara.
Wawancara kami mulai dengan perkenalan terlebih dahulu, lalu meminta
izin untuk merekam suara Beliau. Setelah itu barulah kami mulai mengajukan
pertanyaan secara bergantian sesuai dengan pertanyaan yang telah kami bagi
sambil mencatat hal-hal penting dari jawaban interviewee. Wawancara kami
akhiri dengan mengucapkan terima kasih dan kalimat pujian pada interviewee dan
tak lupa pula kami menyempatkan foto bersama dengan kepala instalasi gizi
tersebut untuk dokumentasi dan pelengkap data wawancara kami.

D. Hasil Wawancara

Kepala instalasi gizi di puskesmas airtiris bernama Ariani atau biasa di


panggil Bu Nani. Ibu Nani lahir di Pematang Siantar pada tanggal 12 Juli 1967
dan sudah bekerja sebagai kepala instalasi gizi di puskesmas Airtiris selama 28
tahun. Ia lulusan SPAG ( Sekolah Pembantu Ahli Gizi ) atau pada saat sekarang
ini setara dengan D1 di Banda Aceh, Beliau bekerja di puskesmas airtiris atas S.K
yang diperoleh. Karena hal tersebut, Bu Nani menuturkan bahwa tidak ada
persyaratan khusus untuk bekerja di puskesmas Airtiris.

Karena Bu Nani bukan seorang ahli gizi, ia tidak terlalu mengetahui kode
etik seorang ahli gizi apalagi tentang hukum kesehatan karena ia memperoleh
pekerjaan tersebut melalui S.K. Namun, ia memahami bagaimana etika dan norma
seorang tenaga ksehatan pada pasien. Bu Nani menuturkan jika ia selalu bersikap
ramah terhadap pasien, selalu tersenyum, dan melayani pasien tanpa memandang
status sosialnya.

Dalam menjalankan tugas sebagai kepala instalasi gizi Bu Nani memiliki


banyak tugas yang harus ia lakukan. Untuk tugas di dalam puskesmas, Bu Nani
bertugas sebagai konsultan gizi dan juga pembimbing pasien dalam melaksanakan
saran gizi yang ia berikan. Misalnya, Bu Nani memberikan konsultasi pada
seorang Ibu yang memiliki bayi yang baru lahir. Bu Nani memberikan
pengetahuan tentang bagaimana cara mengurus bayi, terutama cara menyusui bayi
sebagai nutrisi tubuhnya. Lalu Bu Nani juga langsung mempraktekkan bagaimana
cara menyusui bayi yang benar menggunakan alat peraga dan juga
mempraktekkan bagaimana cara memandikan bayi dengan benar sehingga siIbu
bayi mengetahui dan bisa melakukannya langsung dan bayipun dapat tumbuh
dengan sehat. Kemudian untuk tugas diluar puskesmas, Bu Nani berperan sebagai
penyuluh bagi mansyarakat. Namun, dalam kegiatan diluar puskesmas tersebut Bu
Nani bekerja sama dengan tim kesehatan seperti perawat dan bidan. Biasanya Bu
Nani mengadakan penyuluhan ke posyandu-posyandu yang tersebar di kecamatan
Kampar.

Program gizi yang dijalankan Ibu Nani menekankan pada balita terutama
pertumbuhan balita. KMS menjadi acuan bagi Bu Nani untuk melihat dan menilai
pertumbuhan balita di berbagai posyandu. Pemantauan pertumbuhan balita
menjadi prioritas yang dilakukan mengingat pertumbuhan balita juga bisa menjadi
tolak ukur status gizi yang baik pada balita.

Karena Bu Nani bukan seorang ahli gizi, ia berusaha mengembangkan


pengetahuannya tentang gizi dengan mengikuti berbagai seminar dan pelatihan
gizi. Sehingga, Bu Nani pantas menjadi seorang kepala instalasi gizi. Apalagi
Beliau memiliki pengalaman kerja selama bertahun-tahun di puskesmas Airtiris.
Namun sayangnya, Bu Nani tidak masuk dalam Organisasi gizi manapun.
BAB IV

PENUTUP

1. Kesimpulan

Dari hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa kepala instalasi gizi


puskesmas Airtiris tidak berasal dari ahli gizi dan masih belum memahami
tentang etika profesi seorang ahli gizi. Namun Beliau telah berusaha dalam
profesinya untuk menjadi seorang tenaga gizi dengan cara mengikuti berbagai
seminar dan pelatihan gizi.

2. Saran

Untuk kegiatan wawancara selanjutnya alangkah baiknya mencari tempat


yang memiliki kepala instalasi gizi yang profesinya sebagai ahli gizi, sehingga
informasi yang didapat lebih lengkap.
DAFTAR PUSTAKA

Sji-pwi.article/145/Teknik wawancara slide.http://.org/attachments/ -.pdf. diakses


pada 1 Desember 2016

Sunyonoms. paper-mata-kuliah-penelitian- kualitatif.

https://.files.wordpress.com.pdf. diakses pada 1 Desember 2016

Unsri.Upload arsip Bab VI WAWANCARA.http://www..ac.id/.pdf diakses pada 1


Desember 2016

Zainulanwar.staff.Materi-Wawancara-Survey_1.
http://.umm.ac.id/files/2010/04/.pdf diakses pada 1 Desember 2016
LAMPIRAN

A. Daftar Pertanyaan

1. Ibu, perkenalkan nama saya Syahreni Arva Inda biasa dipanggil Nanda,
dan ni rekan saya Laily dan Mairani. Kami dari STIKes Tuanku Tambusai
Riau jurusan S1 Gizi bermaksud ingin mewawancarai Ibu tentang etika
profesi gizi, apakah ibu ada waktu ?
2. Siapa nama Ibu ?
3. Ibu lulusan dari perguruan tinggi mana ?
4. Sudah berapa lama Ibu bekerja disini ?
5. Sebagai seorang profesi gizi, etika apa saja yang telah Ibu miliki ?
6. Apa saja peran Ibu sebagai tenaga gizi di Puskesmas ?
7. Adakah standar profesi gizi yang harus dipenuhi untuk bekerja di
Puskesmas ini?
8. Adakah Ibu mengikuti uji kompetensi sebagai ahli gizi ?
9. Apakah sebelum bekerja disini, Ibu telah melakukan sertifikasi, registrasi
dan legalisasi profesi gizi ?
10. Sebagai tenaga gizi, apakah Ibu ada masuk dalam organisasi gizi di
Indonesia ?
11. Pengembangan dengan membangun kemitraan merupakan salah satu
fungsi ahli gizi dalam kode etik ahli gizi, apakah Ibu sudah melakukan hal
tersebut ?
B. Foto di Puskesmas Airtiris

Gambar 1. Ketika Wawancara

Gambar 2. Foto Bersama Kepala Instalasi Gizi & Kepala TU puskesmas Airtiris