Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Karena atas berkat
dan tuntunanNya, penulis dapat menyelesaikan referat yang berjudul Cemas Berpisah pada
Anak.

Melalui kesempatan ini, Penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua
pihak baik yang secara langsung maupun tidak langsung telah membantu penulis dalam
pembuatan referat ini. Secara khusus, penulis mengucapkan terima kasih kepada dr. Linda
Kartikasari, Sp.KJ yang telah membimbing penulis dalam penyelesaian referat ini.

Penulis menyadari bahwa referat ini jauh dari sempurna karena keterbatasan
pengetahuan, kemampuan dan pengalaman penulis. Oleh karena itu, penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran untuk menyempurnakan referat ini.

Akhir kata, Penulis berharap semoga referat ini dapatmemberikan manfaat kepada
almamater, dokter-dokter dan pihak-pihak lain yang memerlukan.

Sekian dan terima kasih.

Semarang, 4 November 2013

Page 1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar 1
Daftar Isi 2
Bab I. Pendahuluan

I.1 Latar Belakang 3

I.2 Tujuan.. 3

I.3 Manfaat .. 4

Bab II. Tinjauan Pustaka

II.1 Definisi... 5

II.2 Klasifikasi............... 6

II.3 Pedoman Diagnostik ... 7

II.4 Gejala Klinis 8

II.5 Etiologi. 9

II.6 Epidemiologi. 11

II.7 Patofisiologi.. 11

II.8 Penatalaksanaan.... 13

II.9 Prognosis .. 14

Bab III. Penutup

III.1 Kesimpulan 15

Daftar Pustaka 16

Page 2
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Kecemasan merupakan hal yang umum dialami oleh manusia. Semua manusia, baik anak-
anak maupun orang dewasa pasti pernah mengalami kecemasan terhadap suatu hal tetapi
penyebab kecemasan pada setiap orang adalah berbeda. Reaksi kecemasan terhadap hal tertentu
merupakan proses yang wajar terjadi selama tahap perkembangan seseorang dengan fokus
kecemasan yang dapat berubah di usia dan tingkat perembangan kognitif yang berbeda.
Beberapa contoh diantarannya adalah pada anak usia Taman Kanak-kanak dimana tidak mau
berpisah dengan orang tuanya karena tidak ingin masuk ke lingkungan lain selain rumahnya atau
tidak mau bergaul dengan teman sebayanya, kecemasan terhadap dokter gigi dan petir pada awal
usia Sekolah Dasar, sementara kecemasan terhadap evaluasi (tes atau laporan lisan) dan situasi
sosial sebagian besar terjadi pada anak-anak remaja.
Reaksi individu terhadap kecemasan pun berbeda ada yang tergolong wajar tetapi juga ada
yang berlebihan sehingga menimbulkan masalah pada individu yang mengalaminya. kecemasan
dalam tingkat tertentu dapat memberikan fungsi perlindungan bagi dirinya agar bersikap
waspada terhadap bahaya dan memotivasi perilaku tertentu yang adaptif untuk menghindari hal-
hal yang di takutinya misalnya belajar sebelum ujian. Disisi lain kecemasan juga dapat menjadi
masalah atau gangguanyaitu jika tidak sesuai dengan tingkat perkembangan yang diharapkan,
terjadi dalam frekuensi atau intensitas yang berlebihan yang mempengaruhi dan menganggu
fungsi hubungan, fungsi sehari-hari dan performa sekolah. Contohnya anak yang mengalami
kecemasan terhadap sekolah atau kecemasan berpisah dengan orangtua dapat menampilkan
perilaku menghindari kecemasannya dengan menolak sekolah.

I.2 Tujuan

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Referat dalam Kepaniteraan Ilmu Kesehatan
Psikiatri Program Pendidikan Profesi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jakarta bertempat di RSJD Amino Gondohutomo Semarang.

Page 3
1.3.Manfaat

Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfat bagi mahasiswa dalam memahami
tentang Gangguan Kecemasan khususnya Kecemasan Berpisah pada Anak, memahami etiologi
dan patogenesis, manifestasi klinis, penegakan diagnosis, pengelolaan dan penatalaksanaan
secara efektif dan efisien serta menentukan prognosisnya.

Page 4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II. 1 . Definisi Cemas

Cemas (At a Glance,2008) adalah keadaan emosi yang tidak menyenangkan, melibatkan
rasa takut yang subjektif, rasa tidak nyaman pada tubuh dan gejala fisik. Cemas (Kaplan, 2009)
memiliki banyak efek: mempengaruhi kognitif dan cenderung menghasilkan presepsi yang
menyesatkan. Hal ini berbeda dengan rasa takut dimana rasa takut adalah respons yang sesuai
terhadap ancaman yang di ketahui sedangkan cemas adalah respon terhadap sesuatu ancaman
yang tidak diketahui dan samar-samar. Kebanyakan efek dari cemas adalah perasaan ketakutan
disertai tanda somatik pertanda sistem saraf autonom yang hiperaktif seperti palpitasi dan
berkeringat.

II. 2. Klasifikasi Cemas

Secara umum terdapat lima tipe gangguan cemas, yaitu: gangguan panik (gangguan cemas
masif, muncul mendadak, tanpa faktor pencetus), gangguan cemas umum (cemas kronik
terapung-bebas), gangguan fobik (cemas perihal situasi atau objek spesifik), gangguan obsesif-
kompulsif (kebutuhan persisten untuk mengulangi pikiran atau perilaku), gangguan stress pasca
trauma (cemas sesudah stressor hidup yang besar).1

A. Gangguan panik
Ditandai dengan serangan panik spontan dan dapat berkaitan dengan agorafobia (takut di
ruang terbuka, di luar rumah sendirian, atau dalam keramaian). Agorafobia dapat terjadi
sendiri, meski biasanya pasien mengalami serangan panik pula. Cemas antisipatorik
ditandai oleh perasaan bahwa panik dan tak berdaya atau penghinaan akan terjadi pada
suatu saat kelak. Agorafobik dapat menjadi terkekang dalam rumah dan tak pernah keluar
rumah atau hanya keluar rumah bersama teman.1
B. Gangguan cemas umum
Ditandai dengan cemas umum, kronik selama minimal 1 bulan lamanya.1

Page 5
C. Gangguan fobik
Ditandai dengan adanya ketakutan irasional akan benda atau situasi dan kebutuhan akan
menghindarinya. Terbagi menjadi fobia sosial dan fobia sederhana. Fobia sosial meliputi
takut situasi publik misalnya berbicara di depan umum, sedangkan fobia sederhana
meliputi takut sesuatu misalnya kuda dan situasi terisolasi.1
D. Gangguan obsesif kompulsif
Ide, impuls, pikiran (obsesi), atau pola perilaku (kompulsif) intrusif rekuren yang ego-alien
dan menimbulkan cemas jika ditolak.1
E. Gangguan stress pasca trauma
Cemas akibat stress kehidupan mayor luar biasa. Kejadian dihidupkan kembali lewat
mimpi atau pikiran terjaga.1

Menurut PPDGJ-III gangguan psikiatri di bagi menjadi empat yaitu gangguan mental
organik, gangguan mental psikootik, gangguan neurotik dan gangguan kepribadian dan pada
anak-anak, remaja dan perkemb dikenal gangguan masa kanak, remaja dan perkembangan yang
di bagi menjadi retardasi mental (F70), dan gangguan masa kanak, remaja dan perkembangan.
Gangguan masa kanak, remaja dan perkembangan di bagi lagi menjadi dua yaitu gangguan
perkembangan psikologis (F80) dan gangguan perilaku dan emosional dengan onset biasanya
pada masa kanak dan remaja (F90). Secara umum akan di bahas menyangkut dengan F90 dan
lebih khusus mengenai gangguan anxietas perpisahan pada masa kanak dan diagnosis
bandingnya.3

II. 3. Kriteria diagnositik gangguan cemas perpisahan pada anak dan kriteria diagnosis
bandingnya

Gangguan cemas perpisahan, fobia dan sosial masa kanan termasuk dalam gangguan emosional
dengan onset khas pada masa kanak (F93) menurut PPDGJ III : 3

A. Gangguan anxietas perpisahan masa kanak (F93.0)


Pedoman Diagnostik
Ciri diagnostik terpenting ialah anxietas yang berlebihan yang berfokus dan berkaitan
dengan perpisahan dari tokoh yang akrab hubungannya dengan si anak (lazimnya

Page 6
orang tua atau kerabat dekat lainnya), yang bukan hanya bagian dari anxietas umum
berkenaan dengan situasi
Anxietas dapat berbentuk sebagai berikut :
a) Tidak realistik, kekhawatiran yang mendalam kalau-kalau ada bencana yang
akan menimpa tokoh lekat atau kekhawatiran orang tua itu akan pergi dan tidak
kembali lagi;
b) Tidak realistik, kekgawatiran mendalam akan terjadi peristiwa buruk, seperti
misalnya anak akan kesasar, diculik atau dimasukan dalam rumah sakit, atau
terbunuh, yang akan memisahkannya dari tokoh yang lekat dengan dirinya;
c) Terus menerus enggan atau menolak masuk sekolah, semata-mata karena takut
akan perpisahan (bukan karena alasan lainseperti kekhawatiran tetntang peristiwa
sekolah);
d) Terus menerus enggan atau meolak tidur tanpa ditemani atau didampingi oleh
tokoh kesayangannya;
e) Terus menerus takut yang tidak wajar untuk ditinggalkan seorang diri, atau tanpa
ditemani orang yang akrab di rumah pada siang hari;
f) Berulang mimpi buruk tentang perpisahan;
g) Sering timbulnya gejala fisik (rasa mual, sakit perut, sakit kepala, muntah-
muntah, dsb) pada peristiwa perpisahan dari tokoh yang akrab dengan dirinya,
seperti keluar rumah untuk pergi sekolah;
h) Mengalami rasa susah yang berlebihan (yang tampak dari anxietas, menangis,
mengadat, merana, apati atau pengunduran sosial), pada saat sebelum, selama
atau sehabis berlangsungnya perpisahan dengan tokoh yang akrab dengan
dirinya.
Diagnosis ini mengsyaratkan tidak adanya gangguan umum pada perkembangan
fungsi kepribadian
B. Gangguan anxietas fobik masa kanak (F93.1)
Pedoman Diagnostik
Kategori ini hanya berlaku terhadap rasa takut yang khas timbul pada suatu fase
perkembangan yang spesifik pada anak;

Page 7
Memenuhi kriteria :
a) Onset pada masa usia perkembangan yang sesuai;
b) Taraf anxietas itu secara klinis tidak normal; dan
c) Anxietas itu tidak merupakan bagian dari suatu gangguan yang menyeluruh.
C. Gangguan anxietas sosial masa kanak (F93.2)
Kategori ini hanya berlaku bagi gangguan yang timbul sebelum usia 6 tahun, yang
tak lazim derajatnya dan disertai aneka masalah berkenaan dengan fungsi secara
sosial, dan yang tidak merupakan bagian dari gangguan emosional yang bersifat lebih
menyeluruh.
Anak dengan gangguan ijni senantiasa dan berulang kali mengalami rasa waswas dan
takut dan menghindari orang yang tidak dikenal; rasa takutnya hanya timbul pada
orang dewasa, atau hanya dengan teman sebaya atau dengan kedua kelompok itu.
Rasa takut itu berhubungan denganketakutan yang selektif dengan oreng tua-nya atau
dengan orang lain yang akrab. Kecenderungan menghindar atau rasa takut terhadap
perpisahan sosial melebihi batas normal terhadap anak usia itu dan berhubungan
dengan masalah fungsi sosial yang secara klinis bermakna.

II.4. Gejala Klinik

Pada kondisi cemas akibat perpisahan pada anak akan memberikan respon berupa
perubahan perilaku. Respon perilaku anak akibat perpisahan di bagi menjadi tiga yaitu, tahap
protes (phase of protest), tahap putus asa (phase of despair) dan tahap menolak (phase of
denial).4

Pada tahap protes, reaksi anak dimanifestasikan dengan menangis kuat-kuat, menjerit,
memanggil orang tuannya atau menggunakan tingkah laku yang agresif agar orang lain tau
bahwa ia tidak ingin ditinggalkan orang tuanya serta menolak perhatian orang asing atau orang
lain.

Pada tahap putus asa menampilkan perilaku anak yang cenderung tampak tenang, tidak
aktif, menarik diri, menangis berkurang, kurang minat bermain, tidak nafsu makan, sedih dan
apatis.

Page 8
Tahap berikutnya adalah tahap menolak dimana anak samar-samar menerima perpisahan,
membina hubungan dangkal dengan orang lain serta terlihat menyukai lingkungannya. Anak
mulai kelihatan gembira dengan lingkungannya. Fase ini dapat terjadi setelah anak berpisah lama
dengan orang tuanya.

Selain itu ciri-ciri kecemasan dapat dilihat dari dua aspek yaitu aspek fisik (debaran jantung
cepat, keringat bercucuran, pernafasan terganggu, tubuh gemetaran, kepala pusing dan gangguan
pencernaan. Sedangkan dari aspek psikis (merasa ketakutan, tidak mampu memusatkan
perhatian, merasa tidak berdaya, hilang kepercayaan pada diri sendiri, merasa gelisah dan merasa
akan timbul bahaya terhadap diri sendiri. Ciri anak yang mengalami kecemasan di sekolah dapat
di tunjukan dengan perilaku menolak untuk berangkat ke sekolah, minta pulang tidak lama
setelah tiba di sekolah, pergi ke sekolah sambil menangis, dan menempel terus dengan orang
yang mengantarkan ke sekolah.4

II.5. Etiologi

Gangguan kecemasan pada anak dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain yaitu faktor
genetik, faktor kognitif, faktor pola asuh orang tua.4

a. Faktor genetik
Gangguan kecemasan dapat disebabkan oleh faktor genetik. Faktor genetik ini
diekspreksikan dalam temperamen anak yang disebut behavioral inhibition yaitu
temperamen yang dikarakteristikan dengan sikap waspada dan kaku dalam menghadapi
situasi yang dipresepsikan berbahaya, tidak familiar atau yang melibatkan orang lain
yang tidak familiar. Behavioral inhibition tersebut mudah membuat seseorang
mengembangkan kondisi patologis, misalnya kecemasan yang tinggi khususnya saat
menghadapi lingkungan yang tidak familiar atau pengalaman tertentu.
b. Faktor kognitif
Distorsi kognitif atau keyakinan/pikiran yang salah pada seseorang dapat menjadi
penyebab terjadinya gangguan kecemasan. Distorsi kognitif tersebut dapat berupa
keyakinan yang salah sebagai contoh bahwa dunia merupakan tempat yang berbahaya
sehingga terlalu sensitif atau bersikap berlebihan terhadap situasi yang ambigu sebagai

Page 9
situasi yang mnengancam. Menururt sejumlah penelitian,gangguan kecemasan juga dapat
disebabkan karena seseorang menganggap dirinya tidak mampu mengatasi situasi yang
menuruntnya menimbulkan bahaya atau memicu kecemasannya menambahkan
keyakinan seseorang bahwa kecemasan meupakan suatu yang tidak dapat dikontrol juga
dapat meningkatkan munculnya gangguan kecemasan.
Selain itu, keyakinan seseorang mengenai kemampuannya mengatasi peristiwa atau objek
yang mencemaskan secara efektif disebut self efficacy. Anak dengan self effecacy rendah
tidak mencoba berbagai strategi yang berbeda untuk meghadapi situasi yang
menimbulkan kecemasannya, selain menampilkan perilaki menghindar sehingga gagal
mengatasi situasi tersebut, yang pada akhirnya membuat ia didiagnosa mengalami
gangguan kecemasan.
Menurut teori pembelajaran, gangguan kecemasan dapat disebabkan seseorang terpapar
informasi yang negatif. Informasi negatif tersebut dapat diperoleh dari media cetak,
elektronik, atau internet. Pengalaman menghadapi situasi yang mencemaskan baik secara
langsung maupun tidak langsung juga dapat memicu perasaan cemas. Oleh karena itu
perasaan cemas pada anak juga dapat muncul karena melihat perilaku orang tua yang
tidak tepat dalam menghadapi kecemasan mareka.
Selain itu, proses pembelajaran juga terjadi dari perilaku menghindar yang umumnya di
tampilkan seseorang yang mengalami kecemasan. Perasaan tidak menyenangkan yang
dialami anak saat cemas diminimalkan dengan memindahkan atau menghindari situasi
yang mengancam.hal ini menyebabkan anak belajar mengurangi dan mengatasi perasaan
cemas dengan menghindari situasi-situasi yang menimbulkan kecemasan. Perilaku
menghindar ini tidak afektif mengatasi kecemasan karena hanya bersifat sementaara
dalam membebaskan seseorang dari kecemasannya.
c. Faktor pola asuh orang tua
Orangtua yang pencemas seringkali memiliki anak yang pencemas. Orangtua yang
pencemas seringkali menerapkan pola asuh yang terlalu mengontrol atau melindungi
terhadap anak mereka. orangtua ini merasakan anaknya rapuh dan tidak yakin akan
kemampuan ananknya dalam mengatasi masalah. Mereka ingin melindungi anak-anaknya
dari tekanan hidup. Hal ini membahayakan karena membatasi kesempatan anak untuk
mengembangkan kemampuan menghadapi masalah.

Page 10
Pola asuh tersebut juga membuat anak kurang mampu mengelolah emosi-emosinya.
Kemampuan yang rendah dalam mengelolah emosi dapat meningkatkan kemungkinan
terjadinya gangguan cemas. Hal ini disebabkan individu yang mengalami gangguan
kecemasan kurang mampu memahami bagaimana cara menyembunyikan dan mengubah
emosi-emosinya tau kurang memwakili kemampuan untuk menenangkan diri disaat
mengalami kecemasan.

II.6. Epidemiologi

Menurut penelitian Wandell dkk (2004) terdapat 64.000 anak di British Columbia yang
mengalami gangguan kecemasan. Sementara pada pennelitian Last, Perrin, Hersen dan Kazdin
(dalam Wenar & Kerig,2005) terdapat 45% anak di klinik kesehatann mental yang didiagnosa
mengalami gangguan kecemasan. Di Indonesia pernah dilakukan penilitian oleh Hidayat dkk
(2010) di Puskesmas Kecamatan Grohol Petamburan Jakarta Barat pada bulan Mei sampai Juli
2008. Dari penelitian tersebut didapatkan jumlah gangguan jiwa terbanyak adalah gangguan
kecemasan sebesar 14% dari sampel penelitian yang berjumblah 1052 orang. Namun penelitian
tidak menyatakan berapa jumlah penderita kecemasan dari kalangan anak-anak. Jumlah anak
yang mengalami gangguan kecemasan juga dapat dilihat dari penanganan kasus yang dilakukan
oleh mahasiswa Program Profesi Klinis Anak di Klinik Terpadu Fakultas Psikologi UI pada
bulan Juli 2009-Mei 2012. Dari hasil pemeriksaan tersebut ditemukan sebanyak 1,71% anak
yang mengalami kecemasan yaitu Separation Anxiety Disorder (0,73%), Generalized Anxiety
Disorder (0,49%), Spesific Phobia (ketinggian, 0,24%), dan Anxiety NOS (0,24%). Dari data
Klinik Terpadu tersebut ditemukan pula adanya kecemasan pada anak, namun tidak memenuhi
kriteria gangguan kecemasan tertentu, antara lain kecemasan terhadap pelajaran Bahasa Inggris,
saat berpisah dengan ibu dan terhadap klason mobil. Jumlah kecemasan tanpa diagnosa
gangguan tersebut sebanyak 3,17%.4

Page 11
II.7. Patofisiogi

Saat inspirasi berisi udara, akan mengangkat konsentrasi CO2 meningkatkan pelepasan
katekolamin di seluruh tubuh dan merasakan cemas. Respon ini di mediasi oleh Locus Coeruleus
(grup norepinefrin) yang mengandung neuron dimulai dari pons dan di proyeksikan di semua
wilayah otak besar. Locus Coeruleus merupakan bagian dari Reticular Activating System (RAS)
yang berfungsi mengatur regulasi irama dan aktivitas noradrenergik.hipothalamus dan thalamus
juga memiliki peran dalam precepsi dan respon terhadap ancaman eksternal.mereka bertindak
dengan mengirim informasi dari RAS ke daerah limbik dan korteks yang terlibat dalam
pengintegrasian perasaan dan presepsi.3
Thalamus diduga memiliki peran dalam presepsi kecemasan sedangkan inti hipothalamus
memediasi respon oleh sistem neuroendokrin. Kortisol urin telah terbukti meningkat pada bayi
berusia 1 tahun yang menunjukan tekanan yang ekstrime ketika dipisahkan dari sosok yang
melekat pada mereka.3

II. 8. Penatalaksanaan
Terapi yang bisa dilakukan untuk penatalaksanaan gangguan cemas berpisah pada anak antara
lain terapi Cognitif Behavior Therapy (CBT) dan terapi farmakologi (farmakoterapi).
a. Cognitif Behavior Therapy (CBT)4
Merupakan intervensi psikologis yang melibatkan interaksi antara cara berpikir, merasa
dan berperilaku dalam diri seseorang. CBT membantu seseorang dalam mengidentifikasi
pola kognitif atau pikiran dan emosi yang berkaitan dengan perilakunya. CBT untuk
mengatasi kecemasan pada anak mengintegrasikan pendekatan perilaku (behavior) yang
sudah terbukti efisien dengan penekanan pada faktor pemrosesan informasi kognitif yang
berkaitan dengan kecemasan anak tersebut. Tujuan intervensi ini adalah mengajarkan
anak mengenali tanda-tanda adanya dorongan kecemasan, dan menggunakan tanda-tanda
tersebut sebagai informasi dalam mengelolah kecemasannya.
Secara umum tahapan CBT dalam mengatasi kecemasan pada anak adalah :
- Psikoedukasi model kognitif dan teori yang mendasari penggunaan CBT dalam
treatment kecemasan anak
- Mengajarkan anak mengidentifikasi gejala-gejala fisiologis dibadan mereka yang
merupakan tanda kecemasan. Kemudian anak diajarkan ketrampilan relaksasi, yang

Page 12
merupakan latihan melepaskan ketegangan otot besar sehingga menjadi relaks secara
bertahap, untuk mengatasi gejala-gejala fisiologis tidak menyenangkan saat cemas
- Mengajarkan anak mengindentifikasi pikiran yang menimbulkan kecemasan dan
menggantikannya dengan pikiran yang menurunkan kecemasan melalui berbicara
pada diri mereka sendiri secara positif.
- Melatih anak mengembangkan ketrampilan menghargai diri sendiri, misalnya
memuji upaya yang telah ia gunakan yaitu self talk dan relaksasi dalam menghadapi
kecemasan
- Melatih anak mengidentifikasi situasi atau peristiwa yang mencemaskannya dan
menyusun hirarki kecemasan. Anak didorong menggunakan strategi emosi dan
kognitif yang diajarkan dalam CBT untuk mengatasi kecemasan pada situasi-situasi
tersebut. Kegiatan ini dikenal dengan istilah exposure task.
Kendall telah mengembangkan program CBT yang dikenal dengan Coping Cat untuk
menangani kecemasan pada anak dengan menggunakan 4 prinsip berdasarkan tahapan di
atas. Prinsip-prinsip tersebut dikenal dengan singkatan FEAR, yang dijabarkan sebagai
berikut :
- F atau feeling frightenend, yaitu mengajarkan anak untuk mengenali gejala fisik saat
cemas
- E atau expecting bad things to happen, yaitu mengajarkan anak mengidentifikasi
pikirannya saat cemas
- A atau attitudes and actions that can help, yaitu mengajarkan anak mengembangkan
strategi mengatasi kecemasan
- R atau result an rewards, yaitu mengajarkan anak mengevaluasi usahanya dalam
mengatasi kecemasan dan menghargai diri mereka sendiri atas usahanya itu.
b. Farmakoterapi
Studi terapi farmakologi dari cemas berpisah cenderung fokus pada sampel dengan
perilaku penolakan sekolah dan berbagai status diagnosis lain dan atau komorbitas. SSRI
tampaknya menjadi pengobatan lini pertama untuk gangguan cemas berpisah, namun
terkait hal ini dibutuhkan penelitian lebih lanjut. Antidepresan trisiklik dan
benzodiazepine dapat dipertimbangkan kalau anak tidak menanggapi SSRI atau ketika
efek samping telah melebihi manfaat. Antidepresan trisiklik dan tetrasiklik cukup efektif

Page 13
untuk meredakan gejala panik. Mulai dari imipramine (tofranisl) dosis 25 mg sehari
dengan dosis maksiamal 200 mg sehari.5
II. 9. Prognosis
Gangguan cemas berpisah dapat naik dan turun selama periode awal. Sekitar 30-40% dari
individu yang terkena pada masa kecil dapat menjadi gejala kejiwaan saat dewasa. beberapa
studi telah menunjukan sebanyak 65% dari individu dengan gangguan cemas berpisah memiliki
kecemasan komorbid. Prognosis bail dengan deteksi dini dan pengobatan yang melibatkan
keluarga.

Page 14
BAB III
PENUTUP

III. 1. Kesimpulan

Cemas memiliki banyak efek yaitu mempengaruhi kognitif dan cenderung menghasilkan
presepsi yang menyesatkan. Hal ini berbeda dengan rasa takut dimana rasa takut adalah respons
yang sesuai terhadap ancaman yang di ketahui sedangkan cemas adalah respon terhadap sesuatu
ancaman yang tidak diketahui dan samar-samar.Secara umum terdapat lima tipe gangguan
cemas, yaitu: gangguan panik (gangguan cemas masif, muncul mendadak, tanpa faktor
pencetus), gangguan cemas umum (cemas kronik terapung-bebas), gangguan fobik (cemas
perihal situasi atau objek spesifik), gangguan obsesif-kompulsif (kebutuhan persisten untuk
mengulangi pikiran atau perilaku), gangguan stress pasca trauma (cemas sesudah stressor hidup
yang besar).Pada kondisi cemas akibat perpisahan pada anak akan memberikan respon berupa
perubahan perilaku. Respon perilaku anak akibat perpisahan di bagi menjadi tiga yaitu, tahap
protes (phase of protest), tahap putus asa (phase of despair) dan tahap menolak (phase of denial).

Page 15
DAFTAR PUSTAKA
1. Kaplan HI, Sadock BJ. Anxiety disorder: Pocket Handbook of Clinical Psychiatry.
Department of Psychiatry : New York. 2010. P 201-217.
2. Katona,K .dkk. AT a Glance Psikiatri, Ed 4. Jakarta. Erlangga. 2002. Hal 28-29.
3. Rusdi, M. F.42 Gangguan Perilaku dan Emosional dengan Onset Khas pada Masa Kanak.
Buku saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan ringkasan dari PPGDJ III. Bagian Ilmu
Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya. 2001. Hal 141-142
4. Novitasari Y. Tesis : Penerapan Cognitive Behavior Theraphy Untuk Menurunkan
Kecemasan pada Anak Usia Sekolah; Universitas Indonesia. 2013
5. Kay J, Tasman A. Essentials of Psychiatry : Jhon Wiley & Sons,Ltd ;England. 2006. P
353-364

Page 16