Anda di halaman 1dari 41

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................... Error! Bookmark not defined.


DAFTAR ISI............................................................................................................................................... 1
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................................. 3
1.1 Latar Belakang ....................................................................................................................... 3
1.2 Tujuan Makalah ..................................................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN PELAPORAN KEUANGAN SEKTOR PUBLIK ............................................................ 4
2.1 Teori Pelaporan dalam Sektor Publik .................................................................................. 8
2.1.1 Laporan Keuangan di Organisasi Sektor Publik.......................................................... 8
2.1.2 Jenis Laporan Keuangan Sektor Publik........................................................................ 9
2.2 Sistem Pelaporan Keuangan Sektor Publik ....................................................................... 16
2.2.1 Dasar kas (cash base) .................................................................................................. 16
2.2.2 Dasar akrual (accrual base) ........................................................................................ 16
2.2.3 Accounting Fund (Akuntansi Dana) ........................................................................... 17
2.3 Siklus Akuntansi Keuangan Sektor Publik ........................................................................ 17
2.3.1 Transaksi ...................................................................................................................... 17
2.3.2 Analisis Bukti Transaksi ............................................................................................. 18
2.3.3 Mencatat Data Transaksi ............................................................................................ 18
2.3.4 Mengelompokkan dan Mengikhtisarkan Data yang dicatat (Posting) .................... 18
2.3.5 Penerbitan Laporan dan Catatannya ......................................................................... 19
2.4 Teknik Pelaporan Keuangan Sektor Publik ....................................................................... 19
2.4.1 Tahap pencatatan dan penggolongan ........................................................................ 19
2.4.2 Tahap pengikhtisaran ................................................................................................. 19
2.4.3 Tahap pelaporan.......................................................................................................... 19
2.5 Contoh Laporan Keuangan Sektor Publik dan Unsur-Unsurnya di Organisasi Sektor
Publik 20
2.5.1 Pemerintah Pusat ........................................................................................................ 20
2.5.2 LSM ............................................................................................................................... 26
2.5.3 Organisasi Nirlaba (Yayasan) ..................................................................................... 27
2.6 Laporan Keuangan Sektor Publik dan Unsur-unsurnya di Negara-negara Lain ................. 37
2.6.1 Jepang .................................................................................................................................. 37

1|Page
2.6.2 India .............................................................................................................................. 39
BAB IV PENUTUP ................................................................................................................................... 40
4.1 Simpulan .............................................................................................................................. 40
4.2 Saran ..................................................................................................................................... 40
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................. 41

2|Page
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sektor publik merupakan organisasi yang kompleks dan heterogen.


Kompleksitas sektor publik tersebut menyebabkan kebutuhan informasi untuk
perencanaan dan pengendalian manajemen lebih bervariasi. Demikian juga bagi
stekeholder sektor publik, mereka membutuhkan informasi yang lebih bervariasi,
handal, dan relevan untuk pengambilan keputusan. Tugas dan tanggung jawab akuntan
sektor publik adalah menyediakan informasi baik untuk memenuhi kebutuhan internal
organisasi maupun kebutuhan pihak eksternal.

Akuntansi sektor publik memiliki peran penting untuk menyiapkan laporan


keuangan sebagai salah satu bentuk pelaksanaan akuntabilitas publik. Akuntansi dan
laporan keuangan mengandung pengertian sebagai suatu proses pengumpulan,
pengolahan, dan pengkomunikasian informasi yang bermanfaat untuk pembuatan
keputusan dan untuk menilai kinerja organisasi. Informasi keuangan bukan merupakan
tujuan akhir akuntansi sektor publik. Informasi keuangan berfungsi memberikan dasar
pertimbangan untuk pengambilan keputusan. Informasi akuntansi merupakan alat
untuk melaksanakan akuntabilitas sektor publik secara efektif, bukan tujuan akhir
sektor publik itu sendiri. Karena kebutuhan informasi di sektor publik lebih bervariasi,
maka informasi tidak terbatas pada informasi keuangan yang dihasilkan dari sistem
akuntansi organisasi. Informasi non-moneter seperti ukuran output pelayanan harus
juga dipertimbangkan dalam pembuatan keputusan.

Untuk itulah kelompok kami yang mana mendapatkan kesempatan untuk


menyajikan pembahasan mengenai pelaporan keuangan sektor publik berusaha untuk
menyampaikan Pelaporan Keuangan Sektor Publik secara singkat, padat dan jelas.

1.2 Tujuan Makalah

Tujuan dari pembuatan makalah ini selain sebagai pemenuhan tugas mata kuliah
Akuntansi Sektor Publik, juga bertujuan untuk memberikan pengetahuan tambahan bagi
para mahasiswa/I mengenai pelaporan Keuangan Sektor Publik yang berbeda dengan
Pelaporan Keuangan Perusahaan swasta.

3|Page
BAB II
PEMBAHASAN
PELAPORAN KEUANGAN SEKTOR PUBLIK

Laporan keuangan organisasi sektor publik merupakan komponen penting untuk


menciptakan akuntabilitas sektor publik. Laporan Keuangan Sektor publik merupakan
representasi informasi keuangan dari transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu
entitas sector publik. Informasi keuangan yang terdapat dalam laporan ini yang
nantinya akan digunakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan, baik itu internal
maupun eksternal. Dilihat dari sisi pengguna eksternal, laporan keuangan sebagai alat
pengendalian dan evaluasi kinerja manajerial organisasi Sektor Publik. Adanya
tuntutan yang semakin besar terhadap pelaksanaan akuntabiltas publik menimbulkan
implikasi bagi manajemen sektor publik untuk memberikan informasi kepada publik,
salah satunya adalah informasi akuntansi yang berupa laporan keuangan.

Perbedaan Laporan Keuangan Sektor Publik Dengan Sektor Swasta

Sebagian besar perbedaan dan persamaan laporan keuangan sector public dan
swasta adalah sebagai berikut:

Perbedaan

Laporan Departemen Pemerintah Laporan KeuanganSektor Swasta


Focus finansial dan politik Focus financial
Kinerja diukur secara financial dan non-
Sebagian besar kinerja diukur secara
finasial financial
Pertanggungjawaban kepada perlemen Pertanggungjawaban kepada pemegang
dan masyarakat luas saham dan kreditur
Berfokus pada bagian organisasi Berfokus kepada organisasi secara
keseluruhan
Melihat kemasa depan secara detail Tidak dapat melihat masa depan secara
detail
Aturan pelaporan ditentukan oleh Aturan pelaporan ditentukan oleh
departemen keuangan undang-undang, standar akuntansi, pasar
modal, dan praktik akuntansi
Laporan diperiksa oleh treasury Laporan diperikssa oleh auditor
independen
Cash accounting Accrual accounting
Persamaan
Dokumen-dokumen sumber

4|Page
Berperan sebagai hubungan masyarakat (public relations)

A. Tujuan Umum dari Laporan Keuangan Sektor Publik

1. Kepatuhan dan Pengelolaan (compliance and stewardship)

Laporan keuangan digunakan untuk memberikan jaminan kepada pengguna


laporan keuangan dan pihak otoritas penguasa bahwa pengelolaan sumber daya
telah dilakukan sesuai dengan ketentuan hokum dan peraturan lain yang telah
ditetapkan.

2. Akuntabilitas dan Pelaporan Retrospektif (accountability and retrospective


reporting).

Laporan keuangan digunakan sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada


publik, untuk memonitor kinerja dan mengevaluasi manajemen, memberikan
dasar untuk mengamati trend antar kurun waktu, pencapaian atas tujuan yang
telah ditetapkan, dan membandingkannya dengan kinerja organisasi lain yang
sejenis jika ada, serta memungkinkan pihak luar untuk memperoleh informasi
biaya atas barang dan jasa yang diterima dan untuk menilai efisiensi dan
efektivitas penggunaan sumber daya organisasi.

3. Perencanaan dan Informasi Otorisasi (planning and authorization information)

Laporan keuangan berfungsi untuk memberikan daar perencanaan kebijakan


dan aktivitas di masa yang akan datang dan untuk memberikan informasi
pendukung mengenai otorisasi penggunaan dana.

4. Kelangsungan Organisasi (viability)

Laporan keuangan berfungsi untuk membantu pembaca dalam menentukan


apakah suatu organisasi atau unit kerja dapat meneruskan menyediakan barang
dan jasa (pelayanan) di masa yang akan datang.

5. Hubungan Masyarakat (public relation)

Laporan keuangan berfungsi untuk memberikan kesempatan kepada


organisasi, untuk mengemukakan pernyataan atas prestasi yang telah dicapai
kepada pemilik yang dipengaruhi karyawan dan masyarakat serta sebagai alat
komunikasi dengan public dan pihak-pihak lain yang berkepentingan.

5|Page
6. Sumber Fakta dan Gambaran (source of facts and figures)

Laporan keuangan bertujuan untuk memberikan informasi kepada kelompok


kepentingan yang ingin mengetahui organisasi secara lebih mendalam.

B. TUJUAN LAPORAN KEUANGAN MENURUT SFAC NO 4

Sebagai bagian dari usaha untuk membuat rerangka konseptual, Financial


Accounting Standards Board (FASB, 1980) mengeluarkan Statement of Financial Accounting
Concepts No.4 (SFAC 4) mengenai tujuan laporan keuangan untuk organisasi
nonbisnis/nirlaba (objectives of financial reporting by nonbusiness organizations). Tujuan
laporan keuangan organisasi nirlaba dalam SFAC 4 tersebut adalah:

1. Laporan keuangan organisasi nonbisnis hendaknya dapat memberikan informasi


yang bermanfaat bagi penyedia dan calon penyedia sumber daya, serta pemakai dan
calon pemakai lainnya dalam pembuatan keputusan yang rasional mengenai alokasi
sumber daya organisasi.

2. Memberikan informasi untuk membantu para penyedia dan calon penyedia sumber
daya, serta pemakai dan calon pemakai lainnya dalam menilai pelayanan yang
diberikan oleh organisasi nonbisnis serta kemampuannya untuk melanjutkan
member pelayanan tersebut.

3. Memberikan informasi yang bermanfaat bagi penyedia dan calon penyedia sumber
daya, serta pemakai dan calon pemakai lainnya dalam menilai kinerja manajer
organisasi nonbisnis atas pelaksanaan tanggung jawab pengelolaan serta aspek
kinerja lainnya.

4. Memberikan informasi mengenai sumber daya ekonomi, kewajiban, dan kekayaan


bersih organisasi, serta pengaruh dari transaksi, peristiwa dan kejadian ekonomi
yang mengubah sumber daya dan kepentingan sumber daya tersebut.

5. Memberikan informasi mengenai kinerja organisasi selama satu periode.


Pengukuran secara periodic atas perubahan jumlah dan keadaan/kondisi sumber
kekayaan bersih organisasi nonbisnis serta informasi mengenai usaha dan hasil
pelayanan organisasi secara bersama-sama yang dapat menunjukkan informasi yang
berguna untuk menilai kinerja.

6. Memberikan informasi mengenai bagaimana oganisasi memperoleh dan


membelanjakan kas atau sumber daya kas, mengenai utang dan pembayaran
kembali utang, dan mengenai factor-faktor lain yang dapat mempengaruhi likuiditas
organisasi.

6|Page
7. Memberikan penjelasan dan interprestasi untuk membantu pemakai dalam
memahami informasi keuangan yang diberikan.

C. Kebutuhan Informasi Pemakai Laporan Keuangan Pemerintah

Kebutuhan informasi pemakai laporan keuangan pemerintah tersebut


dapat dijabarkan sebagai berikut :

1. Masyarakat pengguna pelayanan publik membutuhkan informasi atas


biaya, harga, dan kualitas pelayanan yang diberikan.

2. Masyarakat pembayar pajak dan pemberi bantuan ingin mengetahui


keberadaan dan penggunaan dana yang telah diberikan. Publik ingin
mengetahui apakah pemerintah melakukan etaatan fiskal dan
ketaatan pada peraturan perundangan atas pengeluaran
pengeluaran yang dilakukan.

3. Kreditor dan investor membutuhkan informasi untuk menghiitung


tingkat risiko, likuiditas, dan solvabilitas.

4. Parlemen dan kelompok politik memerlukan informasi keuangan


untuk melakukan fungsi pengawasan, encegah terjadinya laporan yang
bias atas kondisi keuangan pemerintah, dan penyelewengan keuangan
negara.

5. Manajer publik membutuhkan informasi akuntansi sebagai komponen


sistem informasi manajemen untuk membantu perencanaan dan
pengendalian organisasi, pengukuran kinerja, dan membandingkan
kinerja organisasi antar kurun waktu dan dengan organisasi lain yang
sejenis.

6. Pegawai membutuhkan informasi atas gaji dan manajemen


kompensasi.

7|Page
2.1 Teori Pelaporan dalam Sektor Publik

Ada 2 jenis pelaporan yang dikenal dalam Sektor Publik, yaitu Pelaporan
Kinerja dan Pelaporan.

a. Pelaporan Kinerja, merupakan refleksi kewajiban untuk


mempresentasikandan melaporkan kinerja keseluruhan aktivitas serta
sumber daya yang harus dipertanggungjawabkan. Pelaporan ini juga
merupakan wujud dari proses akuntanbilitas. Entitas yang berkewajiban
(sebaiknya) untuk membuat laporan ini antara lain adalah pemerintah
pusat, pemerintah daerah, unit kerja pemerintahan, unit pelaksana teknis,
LSM, partai politik (ParPol), Yayasan dan organisasi kemasyarakatan
lainnya.

b. Pelaporan Keuangan, merupakan refleksi dari posisi keuangan serta


transaksi yang telah dilakukan suatu organisasisektor public dalam kurun
waktu tertentu.

2.1.1 Laporan Keuangan di Organisasi Sektor Publik

2.1.1.1 Tujuan Umum Laporan Keuangan Untuk Organisasi Sektor Publik

Bagi organisasi Sektor Publik seperti halnya pemerintahan, tujuan umum


laporan keuangan adalah :

a. Untuk memberikan informasi yang digunakan dalam pembuatan keputusan


ekonomi, sosial, dan politik serta sebagai bukti pertanggungjawaban
(accontability) dan pengelolaan (stewardship).

b. Untuk memberikan informasi yang digunakan untuk mengevaluasi kinerja


manajerial dan organisasional.

2.1.1.2 Tujuan Khusus Laporan Keuangan Untuk Organisasi Sektor Publik

Tujuan khusus dari pelaporan keuangan untuk organisasi Sektor Publik


adalah menyediakan informasi yang relevan dalam pengambilan keputusan dan
menunjukkan akuntanbilitas entitas atas sumber daya yang dipercayakan
dengan cara :

a. Menyediakan informasi mengenai sumber daya, alokasi, dan penggunaan


sumber daya keuangan.

8|Page
b. Menyediakan informasi mengenai bagaimana enntitas mendanai aktivitasnya
dan memenuhi kasnya.

c. Menyediakan informasi yang berguna untuk mengevaluasi kemampuan


entitas dalam membiayai aktivitasnya dan memenuhi kewajiban serta
komitmennya.

d. Menyediakan informasi mengenai kondisi keuangan suatu entitas dan


perubahan yang terjadi.

e. Menyediakan informasi secara kesuluruhan yang berguna dalam


mengevaluasi kinerja entitas menyangkut biaya jasa, efisiensi, dan
pencapaian tujuan.

2.1.2 Jenis Laporan Keuangan Sektor Publik

Penyajian Laporan Keuangan Terdiri dari :

2.1.2.1 Laporan Posisi Keuangan (Neraca)

Atau biasa dikenal juga dengan Neraca, adalah laporan keuangan yang
menyajikan posisi aktiva, utang, dan modal pemilik selama suatu periode
tertentu. Secara minimumnya, laporan keuangan harus memasukkan akun-akun
yang menyajikan jumlah berikut :

Properti, Pabrik, dan Peralatan


Aktiva tidak berwujud
Aktiva Keuangan [selain pada point (d), (f), dan (h)
Investasi yang diperlakuakan dengan metode ekuitas
Persediaan
Pemulihan transaksi non-pertukaran, termasuk pajak dan transfer
Piutang dari transaksi Pertukaran
Kas dan setara kas
Utang pajak dan transfer
Utang karena transaksi pertukaran
Cadangan (provision)
Kewajiban tidak lancer
Partisipasi minoritas
Aktiva atau ekuitas neto

9|Page
2.1.2.2 Laporan Kinerja keuangan (Lapoan Surplus-Defisit)

Atau disebut juga Laporan Pendapatan dan Biaya, Laporan


Surplus-Rugi, Laporan Operasi atau yang lebih biasa digunakan,
Laporan laba-Rugi, adalah laporan keuangan yang menyajikan
pendapatan dan biaya selama satu periode tertentu. Laporan ini harus
mencakup minimum :

Pendapatan dari aktivitas operasi

Surplus atau defisit dari aktivitas Operasi

Biaya Keuangan (Biaya pinjaman)

Surplus atau defisit neto saham dari asosiasi dan joint


venture yang menggunakan metode ekuitas

Surplus atau defisit dari aktivitas biasa

Pos-pos luar biasa

Saham partisipasi minoritas dari surplus atau defisit


neto

Surplus atau defisit neto untuk periode

2.1.2.3 Laporan Perubahan Aktiva atau Ekuitas Neto

Menggambarkan kenaikan ataupun penurunan kekayaan


berdasarkan prinsip pengukuran tertentu yang diadopsi dan harus
diungkapkan pada laporan keuangan. Perubahan aktiva atau ekuitas
neto secara keseluruhan menyajikan total surplus/defisit neto selama
periode tertentu. Pendapatan dan juga biaya lainnya diakui secara
langsung sebagai perubahan aktivaekuitas netodari tiap kontribusi
dan distribusi kepada pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik.

Laporan ini mencakup :

a. Kontribusi oleh pemilik dan distribusi kepada pemilik


dalam kapasitasnya sebagai pemilik

b. Saldo akumulasi surplus dan defisit pada awal periode, pada


tanggal pelaporan, dan pergerakan selama periode

10 | P a g e
c. Pengungkapan komponen asset/ekuitas neto secara
terpisah dan rekonsiliasi antara nilai tercatat setiap
komponen asset/ekuitas neto pada awal dan akhir periode
yang mengungkapkan setiap perubahan.

2.1.2.4 Laporan Arus Kas

Menyajikan informasi tentang penerimaan dan pengeluaran


kas selama satu periode tertentu. Penerimaan dan pengeluaran kas
diklasifikasikan menurut kegiatan operasi, kegiatan pembiayaan, dan
kegiatan investigasi. Informasi arus kas sangat bermanfaatbagi
pemakai laporan keuangan karena menyediakan dasar estimasi
kemampuan entitas untuk menghasilkan kas dan setara kas, serta
kebutuhan entitas untuk menggunakan arus kas tersebut.

2.1.2.5 Catatan Atas Laporan Keuangan Sektor Publik

Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK) merupakan bagian


penting dan tak terpisahkan dari setiap laporan keuangan yang
menyajikan informasi tentang penjelasan akun-akun laporan
keuangan dalam rangka pengungkapan yang memadai. CALK
bertujuan menginformasikan pengungkapan yang diperlukan atas
laporan keuangan.

Berdasarkan PP No. 8 Tahun 2006 dan Permendagri No. 13


Tahun 2006 Juncto Permendagri No.59 Tahun 2007, Catatan Atas
Laporan Keuangan entitas publik harus mencakup hal-hal berikut:

1. Informasi tentang Kebijakan Fiskal/Keuangan, Ekonomi Makro,


Pencapaian Target Undang-undang APBN/Perda APBD, serta
kendala dan hambatan yang dihadapi dalam pencapaian target.

2. Ikhtisar Pencapaian Kinerja Kerja Keuangan yang harus


mencakup:

Menguraikan strategi dan sumber daya yang digunakan


untuk mencapai tujuan

11 | P a g e
Memberikan gambaran yang jelas tentang realisasi dan
rencana kinerja keuangan dalam satu pelaporan entitas
pelaporan.

Menguraikan prosedur yang telah dan dijalankan oleh


manajemen agar dapat memberikan keyakinan yang
beralasan bahwa informasi kinerja keuangan yang
dilaporkan itu relevan.

3. Kebijakan Akuntansi yang memuat :

a. Entitas Pelaporan

b. Entitas akuntansi yang mendasari penyusunan


laporan keuangan

c. Basis pengukuran yang digunakan dalam


penyusunan laporan keuangan

d. Kesesuaian kebijaka-kebijakan akuntansi yang


diterapkan dengan ketentuan-ketentuan pernyataan
Standar Akuntansi Pemerintahan oleh suatu entitas
pelaporan

e. Setiap kebijakan akuntansi tertentu yang diperlukan


untuk memahami laporan keuangan

4. Penjelasan Tentang Perkiraan Laporan Realisasi Anggaran,


Neraca, dan Laporan Arus Kas

i. Laporan Realisasi Anggaran

Pendapatan

Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan


persentase) atas selisih lebih/kurang antara realisasi
dengan anggaran pendapatan.

Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan


persentase) atas selisih antara pendapatanperiode
berjalan dan pendapatan periode yang lalu

12 | P a g e
Penjelasan atas masing-masing jenis pendapatan

Belanja

Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan


persentase) atas selisih lebih/kurang antara realisasi
dengan anggaran belanja.

Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan


persentase) atas selisih antara belanja periode berjalan
dan belanja periode yang lalu

Penjelasan atas masing-masing jenis belanja.

Transfer

Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan


persentase) atas selisih lebih/kurang antara realisasi
dengan anggaran transfer.

Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan


persentase) atas selisih antara transfer periode berjalan
dan transfer periode yang lalu

Penjelasan atas masing-masing jenis transfer

Pembiayaan

Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan


persentase) atas selisih lebih/kurang antara realisasi
dengan anggaran pembiayaan.

Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan


persentase) atas selisih antara pembiayaan periode
berjalan dan pembiayaan periode yang lalu.

Penjelasan atas masing-masing jenis pembiayaan.

ii. Neraca

Pengungkapan akun-akun neraca yaitu :

13 | P a g e
Aset Lancar, menjelaskan akun-akun yang ada pada pos atau
bagian aset lancer seperti kas di Bendahara Pengeluaran
dan Penerimaan, Piutang

Investasi Jangka Panjang, menjelaskan akun-akun seperti


Penyertaan modal pemerintahan, investasi dalam obligasi,
dan Pinjaman kepada Perusahaan Daerah

Aset Tetap, untuk seluruh akun yang ada dalam kelompok


ini diungkapkan dasar pembukuannya. Juga harus
diungkapkan (jika ada) perbedaan pencatatan perolehan
aset tetap yang terjadi antara bagian keuangan dengan
bagian pengelola/pencatat aset. Daftar aset tetap juga harus
dilampirkan dalam laporan keuangan.

Aset Lainnya, menjelaskan akun-akun seperti Tagihan


Penjualan Angsuran, Tuntutan Ganti Rugi, dan Kemitraan
dengan pihak ketiga.

Kewajiban Jangka Pendek, menjelaskan akun-akun seperti


Uang Muka dari Kas Umum Negara (KUN), Pendapatan yang
Ditangguhkan, Bagian Lancar Utang Jangka Panjang dan
Utang Bunga

Kewajiban Jangka Panjang, menjelaskan akun-akunseperti


Utang Dalam Negeri Obligasi, Utang Dalam Negeri Sektor
Perbankan, dan Utang Luar Negeri

Ekuitas Dana Lancar, menjelaskan akun-akun seperi


Cadangan Piutang dan Cadangan Persediaan

Ekuitas Dana Investasi, menjelaskan akun-akun seperti


Diinvestasikan jangka Panjang dan Diinvestasikan Dalam
Aset Tetap.

iii. Laporan Arus Kas

Arus Kas dari Aktivitas Operasi, menjelaskan penerimaan


dan pengeluaran kas (arus kas masuk dan keluar) dari

14 | P a g e
aktivitas operasi seperti Pendapatan Pajak dan belanja
Pegawai.

Arus Kas dari Aktivitas Investasi Aset Non-Keuangan,


menjelaskan penerimaan dan pengeluaran kas (arus kas
masuk dan keluar) dari aktivitas Investasi Aset Non-
Keuangan seperti Pendapatan Penjualan Aset tetap dan
Belanja Aset

Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan, menjelaskan


penerimaan dan pengeluaran kas (arus kas masuk dan
keluar) dari aktivitas Pembiayaan yang mengakibatkan
perubahan dalam jumlah dan komposisi ekuitas dan
pinjaman pemerintah sehubungan dengan defisit/surplus
anggaran.

Arus Kas dari Aktivitas Non-anggaran, penerimaan dan


pengeluaran kas yang tidak mempengaruhi anggaran
pemerintah yaitu perhitungan pihak ketiga yang berasal
dari potongan SPM Khusus seperti potongan iuran Taspen,
Askes, Jamsostek, dan potongan PPN/Pajak lainnya yang
menjadi hak pemerintah pusat.

iv. Pengungkapan Lainnya, berisi beberapa hal yang mempengaruhi


laporan keuangan antara lain:

Penggantian manajemen pemerintahan selama tahun


berjalan

Kesalahan manajemen pemerintahan lalu yang telah


dikoreksi manajemen pemerintah yang baru.

Kontijensi, yaitu kondisi yang belum memiliki kepastian


pada tanggal neraca. Hal ini harus diungkapkan pada catatan
atas neraca

15 | P a g e
Komitmen, yaitu bentuk perjanjian dengan pihak ketiga
yang hatus diungkapkan dalam catatan atas laporan
keuangan.

Penggabungan atau pemekaran entitas tahun berjalan

Kejadian yang mempunyai dampak social, seperti


pemogokan yang harus diatasi pemerintah

Kejadian penting setelah tanggal neraca (subsequent event)


yang berpengaruh secara signifikan pada akun yang tersaji
di neraca.

2.2 Sistem Pelaporan Keuangan Sektor Publik

2.2.1 Dasar kas (cash base)

Sistem akuntansi dasar kas hanya mengakui arus kas masuk dan arus kas
keluar. Akun keuangan akhirnya akan dirangkum dalam buku kas. Laporan
keuangan tidak bisa dihasilkan apabila tidak ada data tentang aktiva dan
kewajiban. Data yang ada hanyalah perimbangan kas. Penjualan hanya dicatat
saat kas diterima, sehingga tidak ada pos piutang. Pembelian dicatat saat kas
dibayarkan sehingga tidak ada utang. Penyesuaian saham tidak dilakukan,
karena akun tidak memerhatikan pencatatan, dimana yang diperhatikan hanya
kenyataan bahwa kas dibayar untuk pembelian (sehingga tidak ada gambaran
tentang penutupan saham/closing stock figure.

2.2.2 Dasar akrual (accrual base)

Definisi konsep akuntansi akrual sebagaimana tercantum pada SSAP 2


adalah sebagai berikut:

Penerimaan dan biaya bertambah (diakui karena diperoleh atau


dimasukkan bukan sebagai uang yang diterima atau dibayarkan) dalam

16 | P a g e
jumlah yang sesuai satu sama lain, dapat dipertahankan atau dianggap
benar, dan berkaitan dengan rekening laba dan rugi selama periode
bersangkutan.

Penerapan dasar akrual akan sangat memengaruhi sistem akuntansi yang


digunakan seperti penambahan pos-pos akrual dan berbagai formulir
pembukuan. Penerapan dasar akrual lebih mengutamakan laporan yang
dihasilkan untuk kepentingan kreditor dan debitor. Pengetahuan yang lengkap
tentang siapa yang meminjami uang dan berapa banyak, serta pada saat yang
sama, siapa yang dipinjami dan berapa banyak. Oleh karena itu, organisasi
sektor publik akan membuat catatan yang sangat teliti dari para debitor dan
kreditor. Jadi, sistem akuntansi yang dibangun dapat dipilah mana yang
berorientasi utang dan mana yang berorientasi piutang.

2.2.3 Accounting Fund (Akuntansi Dana)

Akuntansi dana merupakan salah satu alternative system akuntansi di


sektor public yang dikembangkan dari dasar kas dan prosedur pengendalian
anggaran. Di sector swasta, akuntansi dana tidak begitu popular karena kecilnya
dana kas yang disimpan. Namun, bagi sector public dana kas sector publik cukup
penting dan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan.besarnya dana kas
sangat mempengaruhi anggaran organisasi sector public, sehingga sistem
akuntansi lebih memprioritaskan pengelolaan dana.

2.3 Siklus Akuntansi Keuangan Sektor Publik

2.3.1 Transaksi

Merupakansuatu kegiatan yang dapat mengubah posisi keuangan suatu


entitas dan pencatatannya memerlukan data, bukti atau dokumen pendukung
dalam kegiata operasi suatu entitas (jual-beli). Pencatatan transaksi akuntansi
adalah :

Pemegang Kas Bendahara Rutin (Belanja Administrasi Umum, Belanja


Operasi dan Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Fisik

Pemegang Kas Bendahara Proyek (Belanja Modal)

Pemegang Kas Bendahara Gaji

17 | P a g e
Pemegang Kas Bendahara Penerima

Siklus Akuntansi
Dokumen Catatan Laporan
Peringkasan

Dokumen Buku Buku Laporan


Transaksi Jurnal Besar Keuangan

Pencatatan & Penggolongan Daftar Saldo


Kertas Kerja
Buku Penyesuaian
Pembantu

Buku Jurnal Kumpulan Laporan Realisasi Anggaran


Bukti Penerimaan
Penerimaan Kas Rekening Neraca
Kas (Ringkasan dan
Rincian) Laporan Arus Kas
Bukti Pengeluaran Buku Jurnal Catatan atas Lap Keuangan
Kas Pengeluaran Kas
Laporan Kinerja Keuangan
Laporan Perubahan Ekuitas
Bukti Memorial Buku Jurnal Umum

Kebijakan Akuntansi

Gambar 2.3.1 Siklus Akuntansi

Jenis Transaksi menurut jenisnya terbagi menjadi :

Transaksi Kas, transaksi yang mengakibatkan pertambahan atau


pengurangan kas. Contohnya Penerimaan Piutang, Pembayaran
Belanja Gaji, dll.

Transaksi Non-kas, transaksi yang mengakibatkan perubahan pada


aset, utang, pendapatan, belanja tapi tidak mempengaruhi kas.
Contohnya penerimaan aktiva tetap dari Donatur, Pembebasan Utang.

2.3.2 Analisis Bukti Transaksi

Dalam setiap transaksi selalu disertai dengan bukti pendukung yang


berisi informasi tentang kegiatan transaksi tersebut. Dari bukti transaksi ini,
nantinya akan dianalisis kemudian digunakan untuk dasar pencatatan.

2.3.3 Mencatat Data Transaksi

Pencatatan data transaksi dilakukan oleh bendahara dalam jurnal

2.3.4 Mengelompokkan dan Mengikhtisarkan Data yang dicatat (Posting)

18 | P a g e
Sama hal-nya dengan posting pada perusahaan swasta, posting dalam hal
ini juga mengelompokkan berdasarkan daftar nama akun yang ada pada buku
besar.

2.3.5 Penerbitan Laporan dan Catatannya

Selama satu periode akuntansi, transaksi dicatat dan dikelompokkan


dalam buku besar yang kemudian sesuai dengan catatan tersebut, dibuat laporan
keuangan yang nantinya disampaikan pada pihak-pihak yang berkepentingan.
Laporan keuangan Sektor Publik yang telah disusun tersebut kemudian dianalisi
untuk menilai kebenaran dan reliabilitasnya.

2.4 Teknik Pelaporan Keuangan Sektor Publik

2.4.1 Tahap pencatatan dan penggolongan

yaitu kegiatan pengidentifikasian dan pengukuran dalam bentuk


bukti transaksi dan bukti pencatatan yang dicatat dalam buku jurnal.
Jurnal adalah media pencatatan transaksi secara urut waktu (kronologis).
Manfaat jurnal adalah menggambarkan pos-pos yang terpengaruh oleh
transaksi, dapat memberikan gambaran secara kronologis, jurnal dapat
dibagi menjadi berberapa jurnal khusus yang memungkinkan pengerjaan
oleh beberapa orang dalam waktu yang bersamaan, apabila terjadi
kesalahan maka akan lebih mudah menemukannya dalam jurnal daripada
mencari pada buku besar.

2.4.2 Tahap pengikhtisaran

transaksi-transaksi yang sudah dicatat dan digolongkan dalam


jurnal, diringkas dan dibukukan dalam rekening-rekening buku besar
dalam jangka waktu tertentu. Buku besar dibagi menjadi buku besar
umum dan buku besar pembantu. Adapun fungsi dari buku besar umum
adalah mengumpulkan data transaksi kemudian mengklasifikasikannya
untuk divalidasi, mencatat penyesuaian terhadap akun untuk
mempersiapkan laporan keuangan.

2.4.3 Tahap pelaporan

19 | P a g e
data akuntansi yang tercatat dalam rekening-rekening buku besar
akan disajikan dalam bentuk laporan keuangan. Penyederhanaan
penyusunan laporan keuangan biasanya dilakukan melalui neraca lajur
atau kertas kerja.

Sistem pencatatan dalam akuntansi terbagi menjadi dua yaitu


single book keeping entry dan double book keeping entry. Single book
keeping entry adalah sistem pencatatan yang hanya melibatkan satu buku
besar untuk pencatatan seluruh transaksi yang terjadi. Sedangkan, double
book keeping entry adalah sistem pencatat transaksi pada lebih dari satu
akun buku besar. Pemilihan sistem pencatatan ini tergantung pada
karakteristik entitas, pada entitas yang tidak begitu kompleks tidak
terlalu memerlukan double book keeping entry.

2.5 Contoh Laporan Keuangan Sektor Publik dan Unsur-Unsurnya di Organisasi


Sektor Publik

2.5.1 Pemerintah Pusat

Peraturan pemerintah tentang standar akuntansi pemerintahan


merupakan pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara pasal 32 ayat (2) yang menyatakan bahwa standar
akuntansi disusun oleh suatu komite standar yang independen yang di
tetapkan dengan Peraturan Pemerintah setelah terlebih dahulu mendapat
pertimbangan dari badan pemeriksa keuangan. Menurut Standar
Akuntansi Pemerintahan yang dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah
No. 24 Tahun 2005 dan UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan
Negara mensyaratkan setiap instansi pemerintahan harus menyusun
laporan keuangan sebagai berikut: Laporan Keuangan Pemerintah terdiri
dari Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Neraca, Laporan Arus Kas, dan
disertai Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK). Pihak yang mempunyai
tanggung jawab untuk menyusun Laporan Keuangan Pemerintah Pusat
adalah Menteri Keuangan selaku pengelola fiscal yang akan

2.5.1.1 Laporan Realisasi Anggaran

20 | P a g e
Laporan Realisasi Anggaran menggambarkan perbandingan antara
anggaran dengan realisasinya dalam satu periode pelaporan. Di dalam
Laporan Realisasi Anggaran mengungkapkan kegiatan keuangan
pemerintah pusat/daerah yang menunjukkan ketaatan terhadap
APBN/APBD. Laporan Realisasi Anggaran menyajikan ikhtisar sumber,
alokasi dan penggunaan sumber daya ekonomi yang dikelola oleh
pemerintah pusat/daerah dalam satu periode pelaporan. Laporan
Realisasi Anggaran menyajikan sekurang-kurangnya unsur-unsur sebagai
berikut:

a) pendapatan;

b) belanja;

c) transfer;

d) surplus/defisit;

e) pembiayaan;

f) sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran

21 | P a g e
Gambar 2.5.1.1 contoh Laporan Realisasi Anggaran PemDa

2.5.1.2 Laporan Posisi Keuangan

Laporan posisi keuangan menggambarkan posisi keuangan suatu


entitas pelaporan mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas dana pada
tanggal tertentu. Neraca tingkat pemerintah pusat, merupakan
konsolidasi dari neraca tingkat kementerian/lembaga. Setiap entitas
pelaporan mengklasifikasikan asetnya dalam aset lancar dan nonlancar

22 | P a g e
serta mengklasifikasikan kewajibannya Neraca mencantumkan sekurang-
kurangnya pos-pos 39 berikut:

a) kas dan setara kas;

b) investasi jangka pendek;

c) piutang pajak dan bukan pajak;

d) persediaan;

e) investasi jangka panjang;

f) aset tetap;

g) kewajiban jangka pendek;

h) kewajiban jangka panjang;

i) ekuitas dana.

2.5.1.3 Laporan Arus Kas

Laporan Arus Kas menyajikan informasi mengenai sumber,


penggunaaan, perubahan kas dan setara kas selama satu periode
akuntansi, dan saldo kas dan setara kas pada tanggal pelaporan. Arus
masuk dan keluar kas diklasifikasikan berdasarkan aktivitas operasi,
investasi aset nonkeuangan, pembiayaan, dan nonanggaran. Penyajian
Laporan Arus Kas dan pengungkapan yang berhubungan dengan arus kas
diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan Nomor 03
tentang Laporan Arus Kas.

23 | P a g e
Gambar 2.5.1.3 Laporan Arus Kas DKI Jakarta

24 | P a g e
2.5.1.4 Catatan Atas Laporan Keuangan

Catatan atas Laporan Keuangan disajikan secara sistematis. Setiap


pos dalam Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus Kas
harus mempunyai referensi silang dengan informasi terkait dalam
Catatan atas Laporan Keuangan. Catatan atas Laporan Keuangan meliputi
penjelasan atau daftar terinci atau analisis atas nilai suatu pos yang
disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus
Kas. Termasuk pula dalam Catatan atas Laporan Keuangan adalah
penyajian informasi yang diharuskan dan dianjurkan oleh Standar
Akuntansi Pemerintahan serta pengungkapan-pengungkapan lainnya
yang diperlukan untuk penyajian yang wajar atas laporan keuangan,
seperti kewajiban kontinjensi dan komitmen-komitmen lainnya. Dalam
keadaan tertentu masih dimungkinkan untuk mengubah susunan
penyajian atas pos-pos tertentu dalam Catatan atas Laporan Keuangan.
Misalnya informasi tingkat bunga dan penyesuaian nilai wajar dapat
digabungkan dengan informasi jatuh tempo surat-surat berharga.

Selain mensyarat penyusunan laporan keuangan di atas, PP SAP


juga memuat prosedur yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam
menyusun dan menyaksikan laporan keuangan baik bagi pemerintah
pusat maupun daerah.

Dengan adanya SAP maka laporan keuangan pemerintah


pusat/daerah akan lebih berkualitas (dapat dipahami, relevan ,handal dan
dapat diperbandingkan). Laporan tersebut akan diaudit terlebih dahulu
oleh BPK untuk diberikan opini dalam rangka meningkatkan kredibilitas
laporan, sebelum disampaikan kepada para Stakeholder antara lain:
pemerintah (eksekutif), DPR/DPRD (legislatif ) ,investor ,kreditor dan
mesyarakat pada umumnya dalam rangka transpaansi dan akuntanbilitas
Keuangan Negara.

25 | P a g e
2.5.2 LSM

Tujuan dari pelaporan keuangan LSM adalah menyediakan


informasi yang berguna untuk mengambil keputusan, di samping untuk
menunjukan akuntabilitas organisasi serta menjaga tingkat kepercayaan
sumber dana dengan:

a. Menyediakan informasi mengenai sumber-sumber, alokasi, dan


penggunaan sumber daya keuangan;

b. Menyediakan informasi mengenai bagaimana organisasi LSM


mendanai aktivitasnya dan memenuhi persyaratannya;

c. Menyediakan informasi yang berguna dalam mengevaluasi


kemampuan organisasi LSM dalam mendanai aktivitasnya dan
memenuhi kewajiban serta komitmennya;

d. Menyediakan informasi mengenai kondisi keuangan suatu


organisasi LSM dan perubahan di dalamnya; dan

e. Menyediakan informasi menyeluruh yang berguna dalam


mengevaluasi kinerja organisasi LSM dari segi biaya jasa, efisiensi,
dan pencapaian tujuan.

Laporan keuangan LSM juga memainkan


peranan prediktif dan prospektif yang menyediakan informasi yang
berguna dalam memprediksi banyaknya sumber daya yang diisyaratkan
untuk operasi berkelanjutan, sumber daya yang dapat dihasilkan oleh
operasi yang berkelanjutan, dan risiko ketidakpastian di masa depan.
Laporan keuangan dapat juga menyediakan informasi kepada
pemakainya, seperti:

26 | P a g e
a. Mengindikasikan apakah sumber daya telah ditetapkan dan
digunakan sesuai dengan anggaran yang ditetapkan; dan

b. Mengindikasikan apakah sumber daya telah ditetapkan dan


digunakan sesuai dengan persyaratan, termasuk batas keuangan
yang ditetapkan oleh pengambil kebijakan di masing-masing LSM.

Untuk mencapai tujuannya, laporan keuangan LSM harus disusun


atas dasar akrual. Dengan dasar ini, pengaruh transaksi dan peristiwa lain
diakui pada saat terjadinya (dan bukan pada saat kas atau setara kas
diterima atau dibayar) serta dicatat dalam catatan akuntansi serta
dilaporkan dalam laporan keuangan periode bersangkutan.

Laporan keuangan LSM yang disusun atas dasar akrual akan


memberikan informasi kepada pemakai tidak hanya transaksi masa lalu
yang melibatkan penerimaan dan pembayaran kas, tetapi juga kewajiban
pembayaran kas di masa depan. Oleh karena itu, dengan penggunaan
dasar akrual, laporan keuangan LSM dapat menyediakan jenis transaksi
masa lalu dan peristiwa lainnya yang paling berguna bagi pemakai dalam
pengambilan keputusan.

Laporan keuangan LSM biasanya disusun atas dasar kelangsungan


usaha organisasi LSM dan dalam melanjutkan usahanya di masa depan.
Oleh karena itu, organisasi ini diasumsikan tidak bermaksud atau
berkeinginan melikuidasi atau mengurangi secara material skala
pelayanannya.

Laporan keuangan LSM mencakup :

1. Laporan Posisi Keuangan

2. Laporan Laba Rugi (Aktivitas)

3. Laporan Arus Kas

2.5.3 Organisasi Nirlaba (Yayasan)

Karakteristik organisasi nirlaba berbeda dengan organisasi bisnis.


Perbedaan utama yang mendasar terletak pada cara organisasi
memperoleh sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai

27 | P a g e
aktivitas operasinya. Organisasi nirlaba memperoleh sumber daya dari
sumbangan para anggota dan para penyumbang lain yang tidak
mengharapkan imbalan apapun dari organisasi tersebut. Sebagai akibat
dari karakteristik tersebut, dalam organisasi nirlaba timbul transaksi
tertentu yang jarang atau bahkan tidak pernah terjadi dalam organisasi
bisnis, misalnya penerimaan sumbangan.

Para pengguna laporan keuangan organisasi nirlaba memiliki


kepentingan bersama yang tidak berbeda dengan organisasi bisnis, yaitu
untuk menilai:

a. Jasa yang diberikan oleh organisasi nirlaba dan


kemampuannya untuk terus memberikan jasa tersebut,

b. Cara manajer melaksanakan tanggung jawabnya dan aspek


kinerja manajer.

c. Kemampuan organisasi untuk terus memberikan jasa


dikomunikasikan melalui laporan posisi keuangan yang
menyediakan informasi mengenai aktiva, kewajiban, aktiva
bersih, dan informasi mengenai hubungan di antara unsur-
unsur tersebut.

Laporan ini harus menyajikan secara terpisah aktiva bersih baik


yang terikat maupun yang tidak terikat penggunaannya.
Pertanggungjawaban manajer mengenai kemampuannya mengelola
sumber daya organisasi yang diterima dari para penyumbang disajikan
melalui laporan aktivitas dan laporan arus kas. Laporan aktivitas harus
menyajikan informasi mengenai perubahan yang terjadi dalam kelompok
aktiva bersih.

2.5.3.1 Laporan Posisi Keuangan

Tujuan laporan posisi keuangan adalah untuk menyediakan


informasi mengenai aktiva, kewajiban, dan aktiva bersih dan informasi
mengenai hubungan di antara unsur-unsur tersebut pada waktu tertentu.

Informasi dalam laporan posisi keuangan yang digunakan bersama


pengungkapan dan informasi dalam laporan keuangan lainnya, dapat

28 | P a g e
membantu para penyumbang, anggota organisasi, kreditur dan pihak-pihak
lain untuk menilai:

a. kemampuan organisasi untuk memberikan jasa secara


berkelanjutan dan

b. likuiditas, fleksibilitas keuangan, kemampuan untuk


memenuhi kewajibannya, dan kebutuhan pendanaan
eksternal.

Laporan posisi keuangan, menyediakan informasi yang relevan


mengenai likuiditas, fleksibilitas keuangan, dan hubungan antara aktiva
dan kewajiban. Informasi tersebut umumnya disajikan dengan
pengumpulan aktiva dan kewajiban yang memiliki karakteristik serupa
dalam suatu kelompok yang relatif homogen.

Sebagai contoh, organisasi biasanya melaporkan masing-masing


unsur aktiva dalam kelompok yang homogen, seperti:

a. kas dan setara kas;

b. piutang pasien, pelajar, anggota, dan penerima jasa yang lain;

c. persediaan;

d. sewa, asuransi, dan jasa lainnya yang dibayar di muka;

e. surat berharga/efek dan investasi jangka panjang;

f. tanah, gedung, peralatan, serta aktiva tetap lainnya yang


digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa.

Kas atau aktiva lain yang dibatasi penggunaanya oleh penyumbang


harus disajikan terpisah dari kas atau aktiva lain yang tidak terikat
penggunaannya.

Laporan posisi keuangan menyajikan jumlah masing-masing


kelompok aktiva bersih berdasarkan ada atau tidaknya pembatasan oleh
penyumbang, yaitu: terikat secara permanen, terikat secara temporer,
dan tidak terikat.

29 | P a g e
Informasi mengenai sifat dan jumlah dari pembatasan permanen
atau temporer diungkapkan dengan cara menyajikan jumlah tersebut
dalam laporan keuangan atau dalam catatan atas laporan keuangan.

Pembatasan permanen terhadap (1) aktiva, seperti tanah atau


karya seni, yang disumbangkan untuk tujuan tertentu, untuk dirawat dan
tidak untuk dijual, atau (2) aktiva yang disumbangkan untuk investasi
yang mendatangkan pendapatan secara permanen dapat disajikan
sebagai unsur terpisah dalam kelompok aktiva bersih yang
penggunaannya dibatasi secara permanen atau disajikan dalam catatan
atas laporan keuangan.

Pembatasan permanen kelompok kedua tersebut berasal dari


hibah atau wakaf dan warisan yang menjadi dana abadi (endowment).

Pembatasan temporer terhadap (1) sumbangan berupa aktivitas


operasi tertentu, (2) investasi untuk jangka waktu tertentu, (3)
penggunaan selama periode tertentu dimasa depan, atau (4) pemerolehan
aktiva tetap, dapat disajikan sebagai unsur terpisah dalam kelompok
aktiva bersih yang penggunaannya dibatasi secara temporer atau
disajikan dalam catatan atas laporan keuangan.

Pembatasan temporer oleh penyumbang dapat berbentuk


pembatasan waktu atau pembatasan penggunaan, atau keduanya.

Aktiva bersih tidak terikat umumnya meliputi pendapatan dari


jasa, penjualan barang, sumbangan, dan dividen atau hasil investasi,
dikurangi beban untuk memperoleh pendapatan tersebut. Batasan
terhadap penggunaan aktiva bersih tidak terikat dapat berasal dari sifat
organisasi, lingkungan operasi, dan tujuan organisasi yang tercantum
dalam akte pendirian, dan dari perjanjian kontraktual dengan pemasok,
kreditur dan pihak lain yang berhubungan dengan organisasi.

Informasi mengenai batasan-batasan tersebut umumnya disajikan


dalam catatan atas laporan keuangan.

30 | P a g e
Gambar 2.5.3.1 Contoh Bentuk Laporan Posisi Keuangan Yayasan

2.5.3.2 Laporan Arus Kas

Tujuan utama laporan arus kas adalah menyajikan informasi


mengenai penerimaan dan pengeluaran kas dalam suatu periode.

31 | P a g e
Laporan arus kas disajikan sesuai PSAK 2 tentang Laporan Arus
Kas dengan tambahan berikut ini:

Aktivitas pendanaan:

1. penerimaan kas dari penyumbang yang penggunaannya dibatasi


untuk jangka panjang.

2. penerimaan kas dari sumbangan dan penghasilan investasi yang


penggunaannya dibatasi untuk pemerolehan, pembangunan dan
pemeliharaan aktiva tetap, atau peningkatan dana abadi
(endowment).

3. bunga dan dividen yang dibatasi penggunaannya untuk jangka


panjang.

Pengungkapan informasi mengenai aktivitas investasi dan


pendanaan nonkas: sumbangan berupa bangunan atau aktiva
investasi.

32 | P a g e
Gambar 2.5.3.2 Contoh bentuk Laporan Arus Kas Yayasan

2.5.3.3 Laporan Aktivitas

Tujuan utama laporan aktivitas adalah menyediakan informasi


mengenai pengaruh transaksi dan peristiwa lain yang mengubah
jumlah dan sifat aktiva bersih, hubungan antar transaksi, dan peristiwa
lain, dan bagaimana penggunaan sumber daya dalam pelaksanaan
berbagai program atau jasa,

Informasi dalam laporan aktivitas, yang digunakan bersama


dengan pengungkapan informasi dalam laporan keuangan lainnya,

33 | P a g e
dapat membantu para penyumbang, anggota organisasi, kreditur dan
pihak lainnya untuk :

(a) mengevaluasi kinerja dalam suatu periode,

(b) menilai upaya, kemampuan, dan kesinambungan organisasi

dan memberikan jasa, dan

(c) menilai pelaksanaan tanggung jawab dan kinerja manajer.

Laporan aktivitas mencakup organisasi secara keseluruhan dan


menyajikan perubahan jumlah aktiva bersih selama suatu periode.
Perubahan aktiva bersih dalam laporan aktivitas tercermin pada aktiva
bersih atau ekuitas dalam laporan posisi keuangan.

Laporan aktivitas menyajikan pendapatan sebagai penambah


aktiva bersih tidak terikat, kecuali jika penggunaannya dibatasi oleh
penyumbang, dan menyajikan beban sebagai pengurang aktiva bersih
tidak terikat.

Sumbangan disajikan sebagai penambah aktiva bersih tidak


terikat, terikat permanen, atau terikat temporer, tergantung pada ada
tidaknya pembatasan. Dalam hal sumbangan terikat yang pembatasannya
tidak berlaku lagi dalam periode yang sama, dapat disajikan sebagai
sumbangan tidak terikat sepanjang disajikan secara konsisten dan
diungkapkan sebagai kebijakan akuntansi.

Laporan aktivitas menyajikan keuntungan dan kerugian yang


diakui dari investasi dan aktiva lain (atau kewajiban) sebagai penambah
atau pengurang aktiva bersih tidak terikat, kecuali jika penggunaannya
dibatasi.

Klasifikasi Pendapatan, Beban, Keuntungan dan Kerugian dalam


kelompok aktiva bersih tidak menutup peluang adanya klasifikasi
tambahan dalam laporan aktivitas.

Laporan aktivitas menyajikan jumlah pendapatan dan beban


secara bruto. Namun demikian pendapatan investasi dapat disajikan
secara neto dengan syarat beban-beban terkait, seperti beban penitipan

34 | P a g e
dan beban penasihat investasi, diungkapkan dalam catatan atas laporan
keuangan.

Laporan aktivitas menyajikan jumlah neto keuntungan dan


kerugian yang berasal dari transaksi insidental atau peristiwa lain yang
berada di luar pengendalian organisasi dan manajemen. Misalnya,
keuntungan atau kerugian penjualan tanah dan gedung yang tidak
digunakan lagi.

Program pemberian jasa merupakan aktivitas untuk menyediakan


barang dan jasa kepada para penerima manfaat, pelanggan, atau anggota
dalam rangka mencapai tujuan atau misi organisasi. Pemberian jasa
tersebut merupakan tujuan dan hasil utama yang dilaksanakan melalui
berbagai program utama.

Aktivitas pendukung meliputi semua aktivitas selain program


pemberian jasa. Umumnya, aktivitas pendukung meliputi aktivitas
manajemen dan umum, pencarian dana, dan pengembangan anggota.

Aktivitas manajemen dan umum meliputi pengawasan, manajemen


bisnis, pembukuan, penganggaran, pendanaan, dan aktivitas administratif
lainnya, dan semua aktivitas manajemen dan administrasi kecuali
program pemberian jasa atau pencarian dana.

Aktivitas pencarian dana meliputi publikasi dan kampanye


pencarian dana; pengadaan daftar alamat penyumbang; pelaksanaan
acara khusus pencarian dana; pembuatan dan penyebaran manual,
petunjuk, dan bahan lainnya; dan pelaksanaan aktivitas lain dalam rangka
pencarian dana dari individu, yayasan, pemerintah dan lain-lain.

Aktivitas pengembangan anggota meliputi pencarian anggota baru


dan pengumpulan iuran anggota, hubungan dan aktivitas sejenis.

35 | P a g e
Gambar 2.5.3.3 Contoh Bentuk Laporan Aktivitas Yayasan

36 | P a g e
2.6 Laporan Keuangan Sektor Publik dan Unsur-unsurnya di Negara-negara Lain

2.6.1 Jepang

Formasi Laporan Keuangan Pemerintah Jepang yaitu:

(1) Laporan neraca public

(2) Laporan biaya-biaya administrasi (Laporan pengeluaran tahun berjalan)

(3) Laporan pendukung penerimaan dan perubahan modal pembayar pajak

(4) Laporan penerimaan dan pengeluaran kas

Hingga kini,pemerintah Jepang hanya menggunakan laporan pemerimaan


dan pengeluarankas untuk menghitung pengelolaan keuangan.

a. Laporan Neraca Publik

Berdasarkan Provisional Concept and standart for the Japanese


Government balance Sheet.

The Japanese Government Balance Sheet memberikan tinjauan


mengenai keseluruhan posisi fiscal pemerintah atas dasar saham
(stock basis) sebagai alat penjelas posisi fiscal pemerintah kepada
penduduk jepang.

Memperbaiki akuntabilitas pemerintah terkait dengan kabijakan.

b. Ruang Lingkup Neraca:

Seluruh aset dan kewajibanpemerintah adalah subjek dari neraca


pemerintah,yakni semua general account dan 310 special account
government (termasuk akun internal accounting dan dana juga
merupakan subjek).

General account and special accounts dikonsolidasi dan semua


kredit serta utang diantara akun-akun tersebut di-offseta jumlah
asset dan kewajiban yang dimiliki pemerintah ditunjukkan.

c. Tanggal Neraca

37 | P a g e
Tanggal neraca merupakan hari terakhir pada tahun fiscal.

Meskipun demikian,tetap ada akun-akun pada periode


penyelesaian (settlement periods). Jumlah akun-akun ini
menunjukkan penyelesaian pembayaran dan penerimaan kas
selama settlement periods.

Terkait dengan present value of future pension benefits,karena


jumlah yang dievaluasi pada revaluasi actuarial (actuarial
revaluation) hanya lima tahun sekali dapat digunakan, maka
jumlah yang terakhir yang harus digunakan.

d. Aset

Kas dan deposito,sekuritas,piutang usaha,kenaikan


pendapatan,aktiva tidak berwujud.

e. Utang

Utang usaha kenaikan utang,sekuritas jangka pendek yang


dipegang oleh masyarakat,obligasi pemerintah yang dipegang oleh
masyarakat.

Laporan biaya administrasi (laporan pengeluaran tahun berjalan):

Biaya operasi

Peningkatan bonus yang diharapkan yang tidak terpenuhi dengan


cadangan

Peluang

Isi spesifik dari pernyataan ini adalah:

Biaya administrasi pada laporan laba rugi lembaga-lembaga

independen,dan pendapatan lain-lain yang berasala dari bantuan


yang lebih sedikit ketimbang untuk biaya operasi.

Jumlah penyusutan asset telah dihitung berdasarkan prosedur


akuntansi yang sesuai untuk penyusutan asset khusus.

38 | P a g e
Estimasi peningkatan bonus tidak dicatat sesuai dengan prosedur
akuntansi untuk manfaat yang dikembalikan.

Peningkatan biaya oportunitas (opportunity cost) dari penggunaan


asset pemerintah.

Contoh Laporan Keuangan Sektor Publik Jepang

Laporan Keuangan JOGMEC (Japan Oil,Gas and Metal National Corporation)


meliputi:

Neraca

Laporan Laba/Rugi

Laporan Arus Kas

Catatan atas Laporan Keuangan

2.6.2 India

Pelaporan keuangan di India meliputi:

Rekening penerimaan modal

Rekening pembayaran modal

Dana Kontinjensi.

Rekening penerimaan pendapatan.

Rekening pengeluaran pendapatan.

Rekening penerimaan public.

Rekening pembayaran public.

Penerimaan pembalanjaan Negara bagian.

Pengeluaran biaya untuk masing-masing departemen.

39 | P a g e
BAB IV PENUTUP

4.1 Simpulan

Akuntansi Sektor publik memiliki peran utama untuk menyiapkan laporan keuangan
sebagai salah satu bentuk pelaksanaan akuntabilitas publik. Dilihat dari sisi internal
organisasi laporan keuangan sektor publik merupakan alat pengendalian dan evaluasi
kinerja manajerial dan organisasi. Sedangkan dari sisi eksternal, laporan keuangan
merupakan alat pertanggungjawaban terhadap publik dan sebagai dasar untuk mengambil
keputusan. Akuntansi sektor publik bertujuan untuk memberi informasi yang bertujuan
untuk pengambilan keputusan ekonomi, sosial, politik, dan sebagai bukti
pertanggungjawaban dan pengelolaan, serta untuk memberi informasi yang digunakan
untuk mengevaluasi kinerja manajerial dan organisasional. Laporan keuangan pemerintahan
dan laporan keuangan komersial memiliki perbedaan. Pernedaan tersebut meliputi jenis
laporan yang dihasilkan, elemen laporan keuangan, tujuan laporan keuangan, dan teknik
akuntansi yang digunakan.

4.2 Saran

Dalam memahami Pelaporan Keuangan Sektor Publik, disarankan kepada


Mahasiswa/I untuk tidak melupakan dasar-dasar pada pelaporan perusahaan
swasta, karena pada dasarnya keduanya memiliki beberapa persamaan sehingga jika
telah memahami pelaporan pada perusahaan swasta, tidak akan mengalami
kesulitan dalam memahami pembahasan ini.

40 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA
Bastian, Indra, 2010. Akuntansi Sektor Publki (Edisi Ketiga). Yogyakarta:
Erlangga

Mardiasmo, 2009, Akuntansi Sektor Publik, Yogyakarta: Andi

Mahsun, Mohammad., Sulistiyowati, Firma dan Purwanugraha, Heribertus


Andre, 2007, Akuntansi Sektor Publik (Edisi Kedua), Yogyakarta: BFE

Sugijanto, Robert Gunadi H, dan Sonny Loho, 1995. Akuntansi Pemerintahan


dan Organisasi Nirlaba. Malang: PPA-FE Unibraw

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan. Standar Akuntansi Pemerintahan.


Published at http://www.ksap.org/

Pengertian Akuntansi Sektor Publik. Akutansi Sektor Publik. Published at


www.hestiku.blogspot.com

Teori dan Standar Akuntansi Sektor. Publik Published at


www.kumpulanilmu.blogspot.com

Akuntansi Sektor Publik. Translasi Mata Uang Asing.


www.mustikaaksara.blogspot.com

Teknik Pelaporan Keuangan Akuntansi Sektor Publik. Published at


www.digitalnotes.blogspot.com

Komite Standar Akuntansi Pemerintah. Organisasi Nirlaba. Artikel pada


www.ksap.org

41 | P a g e