Anda di halaman 1dari 38

CASE BASED DISCUSSION

MODUL 1 (DENTAL KARIES DAN PENYAKIT


PULPA)

PERAWATAN SALURAN AKAR

Diajukan untuk memenuhi syarat dalam melengkapi kepaniteraan klinik modul 1

Oleh
SHERIFA AMELIA
1110070110-090

Pembimbing : drg. Widyawati, M.Kes Sp.KG

RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT


UNIVERSITAS BAITURRAHMAH
PADANG
2016
MODUL 2
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS BAITURRAHMAH
PADANG

HALAMAN PENGESAHAN

Telah didiskusikan CBD Perawatan Saluran Akar


guna melengkapi persyaratan Kepaniteraan Klinik pada Modul 1.

Padang, Desember 2016

Disetujui Oleh
Dosen Pembimbing

(drg. Widyawati, M.Kes,. Sp.KG)

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat
dan karunia-Nya sehingga penulisan CBD PERAWATAN SALURAN AKAR
untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan kepanitraan klinik modul
1 (Dental Karies dan Penyakit Pulpa) dapat diselesaikan.
Dalam kesempatan ini dengan tulus dan segala kerendahan hati penulis

menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya khususnya kepada yang

terhormat Drg. Widyawati, M.Kes., Sp.KG selaku dosen pembimbing yang telah

memberikan bantuan, dan dorongan. Selain itu penulis mengucapkan terima kasih

kepada semua pihak yang telah membantu.

Penulis juga menyadari bahwa CBD ini belum sempurna sebagaimana

mestinya, baik dari segi ilmiah maupun dari segi tata bahasanya, karena itu kritik

dan saran sangat penulis harapkan dari pembaca.

Akhir kata penulis mengharapkan Allah SWT melimpahkan berkah-Nya

kepada kita semua dan semoga CBD ini dapat bermanfaat serta dapat memberikan

sumbangan pemikiran yang berguna bagi semua pihak yang memerlukan.

Padang, Desember 2016

Sherifa Amelia

iii
DAFTAR ISI

Halaman Sampul Luar ..................................................................................... i


Halaman Pengesahan ...................................................................................... ii
Kata Pengantar ................................................................................................. iii
Daftar Isi .......................................................................................................... iv

BAB 1 PENDAHULUAN .............................................................................. 1


1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................... 3
1.1 Tujuan ....................................................................................................... 3
1.2 Manfaat ..................................................................................................... 3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA .................................................................... 4

BAB 3 LAPORAN KASUS .......................................................................... 11

BAB 3 PEMBAHASAN ................................................................................. 21

BAB 4 KESIMPULAN .................................................................................. 32

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 33

iv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ilmu endodontik adalah cabang ilmu kedokteran gigi yang berhubungan

dengan etiologi, pencegahan, diagnosis dan terapi terhadap penyakit-penyakit

yang mengenai pulpa gigi, akar gigi dan jaringan periapikal (Dorland, 1996)

Perawatan endodontik merupakan bagian dari ilmu kedokteran gigi yang

menyangkut perawatan penyakit atau cedera pada jaringan pulpa dan jaringan

periapikal. Tujuan perawatan endodontik adalah mengembalikan keadaan gigi

yang sakit agar dapat diterima secara biologik oleh jaringan sekitarnya sehingga

gigi dapat dipertahankan selama mungkin didalam mulut. Hal ini berarti gigi

tersebut tidak menimbulkan keluhan dan dapat berfungsi baik. (Oktavia M, 2013)

Perawatan endodontik terbagi atas perawatan pulpa vital dan non vital. Perawatan

pulpa vital merupakan perawatan untuk memelihara pulpa baik yang belum

terinfeksi bakteri maupun yang sudah terinfeksi. Perawatan ini dilakukan dengan

menghilangkan semua jaringan keras dan lunak yang terinfeksi tersebut dan

memperbaiki gigi dengan bahan restorasi tahan bakteri untuk mempertahankan

sisa jaringan pulpa yang sehat. Jenis perawatan pulpa vital yaitu kaping pulpa

indirek, kaping pulpa direk, pulpotomi serta pemberian lining pada kavitas yang

dalam untuk mencegah terjadinya kebocoran bakteri yang dapat menginfeksi

jarinagn pulpa yang sehat. Perawatan pulpa nonvital didasarkan pada adanya

kemungkinan penyebaran infeksi pada pulpa yang mati dan inflamasi sisa jaringan

pulpa ke jaringan periradikuler (Stock dkk., 2004). Jenis perawatan pulpa nonvital

1
yaitu perawatan saluran akar, apeksifikasi dan bedah endodontik yang meliputi

kuretase, apikoektomi, amputasi akar, hemiseksi, dan perawatan perforasi

(Rhodes, 2006).

Perawatan saluran akar merupakan pilihan perawatan untuk penyakit pulpa

pada saluran akar dengan menghilangkan bakteri dan produk metabolismenya

dari sistem saluran akar (Stock dkk., 2004). Tujuan perawatan saluran akar

yaitu membersihkan dan mendisinfeksi sistem saluran akar sehingga

mengurangi munculnya bakteri, menghilangkan jaringan nekrotik, dan

membantu proses penyembuhan periapikal (Rhodes, 2006).

Perawatan saluran akar merupakan perawatan yang dilakukan dengan

cara pengambilan pulpa non vital atau nekrotik dari saluran akar dan

menggantinya dengan bahan pengisi. Nekrosis atau matinya pulpa dapat

disebabkan oleh injuri yang membahayakan pulpa seperti bakteri, trauma dan

iritasi kimiawi. Mikroorganisme akan menginvasi pulpa yang nekrosis,

berkembang biak, dan menginfeksi sistem saluran akar termasuk tubulus

dentinalisnya (Stock dkk., 2004). Perawatan saluran akar adalah perawatan

yang paling banyak dilakukan dalam kasus perawatan endodontik. Perawatan

saluran akar dapat dibagi atas tiga tahap utama yaitu : 1. preparasi biomekanis

saluran akar atau pembersihan dan pembentukan (cleaning dan shaping), 2.

disinfeksi saluran akar dan 3. obturasi saluran akar. Obturasi saluran akar yang

hermetis merupakan syarat utama keberhasilan perawatan saluran akar, hal ini

tidak mungkin dicapai bila saluran akar tidak dipreparasi dan dipersiapkan

untuk menerima bahan pengisi (Anusavine KJ.,1996).

2
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan kasus dalam pembahasan ini, maka dapat dirumuskan

permasalahan sebagai berikut :

Bagaimana penatalaksanaan perawatan saluran akar pada kasus ?

Bagaimana pengkajian kekurangan yang dilakukan operator pada kasus ?

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Dari uraian diatas tujuan umum dari pembahasan diskusi kasus ini adalah

ingin mengetahui bagaimana cara membahas kasus pada bagian

konservasi.

1.3.2 Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari pembahasan diskusi kasus ini adalah :

Untuk mengetahui bagaimana prosedur yang dilakukan oleh operator

dalam perawatan saluran akar.

Sebagai kajian diskusi antara mahasiswa coass Fakultas Kedokteran Gigi

Universitas Baiturrahmah Padang.

1.4 Manfaat

Manfaat laporan diskusi ini adalah :

a. Mahasiswa mampu menjelaskan dan memahami mengenai SOP

Konseravasi dalam perawatan saluran akar.

b. Mahasiswa mampu menjelaskan bagaimana cara melakukan perawatan

saluran akar.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Perawatan Saluran Akar

Perawatan saluran akar merupakan bagian dari perawatan endodontik

yang bertujuan untuk mempertahankan gigi selama mungkin didalam rongga

mulut, walaupun jaringan pulpanya telah mengalami infeksi atau non vital

(Roelianto, 2003).

Perawatan saluran akar adalah mengeluarkan seluruh jaringan pulpa gigi

pada ruang pulpa dan saluran akar yang rusak dan di ikuti dengan pembersihan,

perbaikan bentuk dan pengisian sistem saluran akar sehingga gigi dapat tetap

menjadi unit fungsional dalam lengkung rahang (Siswandi 2001).

2.2 Tujuan Perawatan Saluran Akar

Tujuan perawatan adalah untuk membersihkan kavitas pulpa yang

terinfeksi dan kotoran toksik serta untuk membentuk saluran akar agar dapat

menerima bahan pengisi yang akan menutup seluruh sistem saluran akar dari

jaringan periodontal dalam rongga mulut. Terapi endodontik harus mencakup

penutupan seluruh sistem saluran akar untuk mencegah timbunan cairan sisa pada

jaringan di saluran akar dan membentuk media kultur untuk bakterisasi atau

mikroorganisme yang dapat masuk dari aliran darah (Grossman, et.al, 1995).

2.2 Indikasi dan Kontraindikasi Perawatan Saluran Akar

Dalam melakukan perawatan saluran akar, ada tiga faktor yang mempengaruhi

keputusan apakah perawatan saluran akar dilakukan atau tidak, yaitu :

1. Daya tahan tubuh pasien secara umum

4
2. Tingkat keterlibatan jaringan periapeks

3. Pencapaian daerah periapeks melalui saluran akar

Indikasi Perawatan Saluran Akar adalah :

1. Karies yang luas.

2. Email yang tidak di dukung oleh dentin.

3. Gigi sulung dengan infeksi yang melewati kamar pulpa, baik pada gigi

vital, nekrosis sebagian maupun gigi sudah nonvital.

4. Saluran akar yang dapat dimasukkan instrumen.

5. Kelainan jaringan periapeks pada gambaran radiografi kurang dari

sepertiga apeks.

6. Mahkota gigi masih bisa direstorasi dan berguna untuk keperluan prostetik

(untuk pilar restorasi jembatan).

7. Gigi tidak goyang dan periodonsium normal.

8. Foto rontgen menunjukan resorpsi akar tidak lebih dari sepertiga apikal,

tidak ada granuloma pada gigi sulung.

9. Kondisi pasien baik

10. Pasien ingin giginya di pertahankan dan bersedia untuk memelihara

kesehatan gigi dan mulutnya.

11. Keadaan ekonomi pasien memungkinkan.

Sedangkan Kontraindikasi dari perawatan saluran akar adalah :

1. Bila dijumpai kerusakan luas jaringan periapikal yang melibatkan lebih

dari sepertiga panjang akar. Kasus seperti ini merupakan luar biasa, karena

dalam pengamatan dikatakan bahwa makin besar jumlah kerusakan tulang

yang rusak, makin kecil kemungkinan untuk diperbaiki.

5
2. Bila saluran akar gigi tanpa pulpa dengan daerah radiolusen terhalang

oleh akar berkurva/bengkok, akar berliku-liku, dentin sekunder, kanal

yang mengapur atau sebagian mengapur, gigi malposisi, atau suatu

instrumen yang patah.

3. Bila apeks akar mengalami fraktur.

Pada umumnya kontraindikasi perawatan saluran akar bergantung pada :

a. Status pasien

b. Alasan dental

c. Alasan lokal

d. Gigi tidak dapat direstorasi lagi

e. Resorpsi akar lebih dari sepertiga apikal

f. Kondisi pasien buruk, mengidam penyakit kronis, seperti diabetes

melitus, TBC, dan lain-lain.

g. Terdapat belokan ujung dengan granuloma (kista) yang sukar di

bersihkan atau sukar dilakukan bedah endodonti.

2.3 Prosedur Perawatan Saluran Akar

Perawatan endodontik adalah suatu usaha menyelamatkan gigi terhadap

tindakan pencabutan agar gigi dapat bertahan dalam soket. Tujuan dari perawatan

endodontik adalah mengembalikan keadaan gigi yang sakit agar dapat diterima

secara biologik oleh jaringan sekitarnya. Ini berarti gigi tersebut tanpa simtom,

dapat berfungsi, dan tidak ada tanda-tanda patologik yang lain.

Menurut Grossman, et.al (1995), Soendoro (1990) dan Siswandi (2001)

perawatan saluran akar dibagi menjadi 3 tahap penting yaitu: preparasi, sterilisasi,

6
dan pengisian saluran akar, dimana ketiganya harus dilakukan secara berurutan

untuk menunjang keberhasilan perawatan.

Gambar 1. Triad Endodontik (Di kutip dari Grossman, 1995. Endodontik Practice 11
th ed Lea and Febiger 263-285).
a. Preparasi saluran akar

Preparasi saluran akar merupakan salah satu triad endodontik yang harus

dilakukan karena sangat mempengaruhi hasil pengisian serta perawatan

selanjutnya. Cara preparasi yang baik adalah tetap mempertahankan kontruksi

dibagian apikal dan bentuk asli dari saluran akar bagian sepertiga apikal, oleh

karena itu diperlukan pengukuran panjang gigi dimana untuk mempermudah

prosedur preparasi sehingga dapat mencegah luka pada jaringan periapikal serta

mendapatkan patokan untuk pemilihan bahan pengisi saluran akar (Grossman,

et.al, 1995).

b. Sterilisasi saluran akar

Sterilisasi saluran akar dilakukan dengan tujuan untuk menghilangkan semua

bentuk mikroorganisme dalam saluran akar agar benar-benar dalam keadaan steril.

Sebaiknya dalam pemilihan bahan sterilisasi harus memilih bahan yang tidak

mengiritasi jaringan periapikal serta mudah dalam penggunaannya. Sebaiknya

7
hanya diletakan diatas oriface dengan menggunakan gulungan kapas kecil yang

sebelumnya ditetesi bahan sterilisasi seperti (ChKM) chlorophenol

camphormental (Siswandi, 2003).

c. Pengisian saluran akar

Tahap terakir dari perawatan saluran akar adalah pengisian saluran akar dengan

tujuan untuk mencegah terjadinya kebocoran melalui jaringan periradikuler

kedalam sistem saluran akar serta menutup semua iritasi yang tidak dapat

dibersihkan. Metode yang banyak dilakukan dalam pengisian saluran akar adalah

dengan metode kondensasi lateral, hal ini karena bentuk akar yang bervariasi

terutama pada daerah dua pertiga koronal (Soendoro, 1990).

2.3 Kesalahan-kesalahan pada perawatan saluran akar

Ada beberapa kesalahan-kesalah dalam perawatan endodontik yaitu:

1. Tidak mengikuti perencanaan perawatan. Suatu tahap perawatan harus

diselesaikan sebelum mulai dengan tahap berikutnya. Sebagai contoh

kesalahan yang akan menyebabkan waktu terbuang adalah jika telah dimulai

mengisi saluran akar, sedangkan pelebaran dan pembersihannya belum

selesai. Seperti tahap-tahap lain dalam perawatan kedokteran gigi, disini tidak

dijumpai alternatif lain dalam pendekatan prosedur perawatannya.

2. Tidak menyediakan waktu yang cukup. Kesalahan yang paling banyak

menimbulkan problema, adalah jika operator tidak menyediakan waktu yang

cukup untuk menyelesaikan suatu tahap perawatan yang telah direncanakan.

Dalam perawatan endodontik setiap informasi baru yang tidak disangka

sebelumnya, seperti adanya saluran akar tambahan, dan saluran akar yang

8
sangat bengkok, dapat memperpanjang waktu perawatan. Asumsi bahwa

waktu yang direncanakan akan cukup adalah tidak bijaksana. Kecuali jika

telah diperhitungkan pula kemungkinan ditemukannya hal-hal seperti diatas

sebagai sesuatu yang wajar.

Jika waktu kurang, diperlukan rencana kunjungan tambahan untuk

menyelesaikan perawatan. Jika tidak pekerjaan akan terburu-buru yang

mungkin akan mengakibatkan kesalahan. Usaha untuk menyelesaikan suatu

tahap yang waktunya tidak cukup dapat mengakibatkan perforasi, patahnya

instrumen pada waktu melebarkan saluran akar, atau dapat pula terjadi

kesalahan lainnya. Sebaiknya disediakan waktu yang lebih banyak daripada

yang telah diperkirakan.

3. Tidak membuang seluruh jaringan pulpa. Pembersihan gigi vital yang tidak

sempurna akan mengakibatkan tertinggalnya jaringan dalam saluran akar. Jika

pembersihan dilanjutkan pada kunjungan berikutnya, mungkin akan timbul

kesukaran untuk mendapatkan anastesi yang dalam bagi sisa jaringan tersebut.

Karena itu seluruh jaringan pulpa harus diangkat dari setiap saluran akar pada

kunjungan pertama yang dijadwalkan untuk pembersihan saluran akar.

4. Membiarkan gigi terbuka. Pembukaan kamar pulpa gigi dengan abses

alveolar akut adalah cara yang efektif untuk drainase dan meredakan rasa

sakit. Keadaan ini adalah satu-satunya indikasi untuk membiarkan gigi

terbuka.

Kesalahan yang sering terjadi adalah jika gigi dengan pulpitis dibiarkan

terbuka. Meskipun tindakan ini mungkin dapat meredakan rasa sakit, tetapi

9
umumnya malah mengakibatkan rasa sakit yang lebih parah dalam waktu 1-2

hari.

5. Tidak ada catatan yang akurat. Karena perawatan endodontik harus dan

membutuhkan pengukuran panjang kerja yang tepat, diameter pelebaran,

patokan tumpuan pengukuran, dan sebagainya, maka diperlukan catatan yang

akurat. Tahap yang telah diselesaikan pada tiap kunjungan, juga ukuran dan

panjang alat yang digunakan terakhir harus dicatatat. Jika hal ini tidak

dilakukan, maka akan membuang waktu untuk memeriksa dan menentukannya

kembali. Gambar radiografi juga harus dipasang secara kronologis sesuai

dengan tanggal pengambilannya, untuk mendapatkan gambaran diagnosis,

anatomi saluran akar, dan prosedur pembersihan serta pengisiannya.

10
BAB III

LAPORAN KASUS

Seorang perempuan berusia 19 tahun datang ke RSGM Baiturrahmah

dengan keluhan ingin memperbaiki gigi depan atas yang berlubang dan telah

berubah warna sejak waktu remaja. Sebelumnya pasien pernah mengeluhkan rasa

sakit pada giginya, pernah bengkak dan sudah berapa lama ini gigi tidak pernah

sakit lagi. Pemeriksaan Ekstra Oral TMJ normal dan bibir simetris, dan

pemeriksaan intra oral menunjukan perubahan warna pada gigi 21, test Clorethil

(-), perkusi (+), palpasi (-), mobility (-), dan cavity test (-). Pasien memiliki oral

hygiene yang baik. Hasil pemeriksaan radiologi menunjukan adanya gambaran

radiolusen berbatas difus pada apeks gigi. Pasien tidak memiliki alergi obat dan

penyakit sistemik. Diagnosa yang didapatkan setelah dilakukan pemeriksaan

adalah nekrosis pulpa yang disertai abses periapikal, rencana perawatan yang

dilakukan adalah perawatan saluran akar dan prognosanya baik.

1. Identifikasi Pasien

Nama : Dukke Ulima Rahma

Umur : 19 Tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Pekerjaan : Mahasiswa

Alamat : Jl. DPR VIII Tunggul Hitam

Tanggal Pemeriksaan : 15 Juni 2016

11
2. Pemeriksaan Subyektif

Keluhan Utama: Pasien datang dengan keluhan ingin menambal gigi depan

yang berlubang dan berubah warna sejak masa remaja.

Keluhan Tambahan: Pasien pernah merasakan sakit dan bengkak pada gigi

tersebut.

Riwayat Medis Gigi dan Mulut: belum pernah ke dokter gigi

Riwayat Penyakit Sistemik : -

3. Pemeriksaan Obyektif

Ekstra Oral

Kepala : Normal

Wajah : Normal

TMJ : Normal

Gaya Berjalan : Normal

Intra Oral

Lidah : Normal

Mukosa Palatum: Normal

Mukosa Pipi : Normal

Mukosa Bibir : Normal

Dasar Mulut : Normal

Gigi-Geligi :

NP

18 17 16 15 14 13 12 11 21 22 23 24 25 26 27 28

48 47 46 45 44 43 42 41 31 32 33 34 35 36 3738

12
Keterangan gigi 11 :
Sondase : -

Perkusi : +

Palpasi : -

Mobility : -

Cavity Test : -

4. Pemeriksaan Penunjang

Gambar 2. Rontgen Foto Pasien


5. Diagnosis

Setelah dilakukan pemeriksaan lengkap pada gigi 11 didiagnosa dengan

Nekrosis Pulpa disertai Abses periapikal

6. Rencana Perawatan

Perawatan Saluran Akar pada Gigi 11

7. Prognosis

Prognosis pada kasus ini adalah baik, hal ini disebabkan karena:

Pasien masih muda.

Oral hygiene pasien baik.

Pasien kooperatif.

13
8. Alat dan Bahan

Alat Bahan

1. Alat standar. 1. Paper point untuk mengeringkan

2. Nerbeken. saluran akar.

3. Bur sesuai dengan fungsinya. 2. Larutan irigasi (H2O, NaOCl)

4. Eksplorer/barbed broach. 3. Bahan dressing

5. Jarum miller. 4. Gutta percha.

6. Endo block. 5. Eugenol dan Endomethason.

7. Jarum file dan reamer. 6. Cavit/tumpatan sementara.

8. Endobox 7. Alkohol.

9. Spuit irigasi. 8. Kapas.

10. Lentulo 9. Catton Roll

11. Sprider. 10. Masker

12. Plugger 11. Handscoon

9. Cara Kerja

Kunjungan ke-I ( 15-Juni-2016)

- Menegakkan diagnosa dengan melakukan pemeriksaan subjektif,

objektif, dan preoperatif radiograf

Gambar 3. Rontgen Foto Pasien

14
- Trepanasi abses menggunakan jarum miller dengan cara memasukkan

jarum miller 1 mm lebih panjang dari panjang kerja

- Medikamentosa dengan memberikan obat metronidazol 500 mg 3 kali

sehari selama 3 hari.

- Pasien didatangkan setelah 1 minggu kemudian.

Kunjungan ke-II ( 22-Juli-2016)

- Dilakukan anamnesa kepada pasien, dan pasien tidak mengeluhkan

adanya rasa sakit

- Akses koronal dengan melakukan tahapan buka atap pulpa

menggunakan contra angel high speed dan endo akses bur. Setelah

terbuka, atap pulpa diperlebar dengan menggunakan diamendo bur. Out

line form dibentuk seperti segitiga dengan puncak segitiga berada di

singulum

- Ekstirpasi menggunakan jarum ekstirpasi yang berfungsi untuk

mengeluarkan jaringan pulpa yang nekrortik di dalam saluran akar

dengan gerakan searah dengan jarum jam, setelah dirasakan adanya

tahanan jarum ekstirpasi ditarik keluar.

- Pengukuran panjang kerja dengan melakukan rontgen dengan

sebelumnya memasukkan jarum miller kedalam saluran akar , dan

didapatkan panjang gigi 22 mm, sehingga panjang kerja adalah 22mm-

1mm = 21mm.

15
Gambar 4. Rontgen foto pengukuran panjang kerja

Kunjungan III (24-Juni-2016)

- Preparasi biomekanis saluran akar dengan tehnik step back

menggunakan jarum k-file, dan didapatkan :

No. K-file Panjang kerja


1/3 apikal

IAF 60 21 mm

70 21 mm

80 21 mm

90 21 mm

100 21 mm

2/3 koronal

MAF 100 21 mm

110 20 mm

Rekap 100 21 mm

120 19 mm

Rekap 100 21 mm

130 18 mm

16
Rekap 100 21 mm

140 17 mm

Rekap 100 21 mm

Setiap pergantian jarum K-file dilakukan irigasi pada saluran akar

menggunakan NaOCl dan H2O2 3% secara bergantian dengan spuit

plastik disposible dan kelebihan larutan irigasi di absorbsi dengan kapas

untuk memonitor debris yang keluar dari saluran akar.

- Keringkan saluran akar dengan menggunakan paper point No. 100

sasuai MAF

- Sterilisasi saluran akar/dressing menggunakan pulperyl dengan cara

mengoleskan paper point yang telah diolesi bahan pulperyl kedinding

saluran akar.

- Letakkan kapas steril diatas kavitas agar cavit tidak masuk kedalam

saluran akar

- Tumpatan sementara menggunakan cavit dengan tehnik inkremental,

aplikasikan selapis demi selapis lalu dipadatkan.

- Kontrol 3-5 hari kemudian

Kunjungan ke IV ( 28-Juni-2016)

- Dilakukan anamnesa kepada pasien, dan pasien tidak mengeluhkan

adanya rasa sakit

- Buka tambalan sementara menggunakan contra angel high speed dengan

round bur, dan ambil kapas menggunakan pingset

- Kemudian masukkan paper point ke dalam saluran akar

17
- Periksa paper point masih basah atau kering dan berbau atau tidak, jika

basah dan berbau berarti saluran akar belum steril sementara jika sudah

kering dan tidak berbau berarti saluran akar sudah steril.

- Dari hasil pemeriksaan ternyata paper point masih basah dan berbau,

maka dilanjutkan tindakan irigasi saluran akar dengan NaOCl 2,5%

kemudian irigasi lagi dengan H2O2 3% menggunakan spuit plastik

disposible

- Lakukan sterilisasi saluran akar/dressing kembali menggunakan vitapex

dengan cara mengoleskan paper point yang telah diolesi bahan vitapex

kedinding saluran akar.

- Letakkan kapas steril diatas kavitas agar cavit tidak masuk kedalam

saluran akar

- Tumpatan sementara menggunakan cavit dengan tehnik inkremental,

aplikasikan selapis demi selapis lalu dipadatkan.

- Dikarenakan libur lebaran, pasien didatangkan 1 bulan yang kemudian

Kunjungan ke V (29-Juli-2016)

- Dilakukan anamnesa kepada pasien, dan pasien tidak mengeluhkan

adanya rasa sakit

- Buka tambalan sementara menggunakan contra angel high speed dengan

round bur, dan ambil kapas menggunakan pingset

- Kemudian masukkan paper point ke dalam saluran akar

- Periksa paper point masih basah atau kering dan berbau atau tidak, jika

basah dan berbau berarti saluran akar belum steril sementara jika sudah

kering dan tidak berbau berarti saluran akar sudah steril.

18
- Dari hasil pemeriksaan ternyata paper point sudah kering dan tidak

berbau, maka dilanjutkan tindakan obturasi.

- Obturasi saluran akar dilakukan secara kondensasi lateral. Saluran akar

dapat dilakukan obturasi dengan syarat gigi tersebut asimptomatis, dan

saluran akar cukup kering dan tidak berbau.

- Pilih master gutta percha atau tug back dengan ukuran 90 sesuai dengan

MAF, sebagai master cone.

- Dinding saluran akar diolesi dengan pasta saluran akar/sealer yaitu

endometason dan eugenol menggunakan lentullo.

- Master gutta percha diukur sesuai panjang kerja yaitu 21 mm,

selanjutnya master gutta percha diolesi dengan sealer lalu dimasukkan

ke dalam saluran akar, semaksimal mungkin ditekan kearah lateral

menggunakan spreader, sisa ruang saluran akar diisi lagi dengan gutta

percha tambahan no 15 dan 20 sampai penuh.

- Kelebihan gutta percha dipotong sampai orifice menggunakan

ekskavator yang dipanaskan.

- Kemudian dipadatkan menggunakan plugger

- Lakukan RO foto pengisian

Gambar 5. Rontgen foto obturasi

19
- Jika telah hermetis dan tidak over/under filling dilanjutkan dengan

pemberian basis GIC tipe 3 yang diaduk menggunakan glass plate dan

semen spatele, lalu dibawa ke kavitas menggunakan plastis instrumen.

- Kemudian kavitas ditumpat menggunakan cavit dengan tehnik

inkremental, aplikasikan selapis demi selapis lalu dipadatkan.

- Kontrol satu minggu kemudian.

Kunjungan ke-VIII ( 5-Agustus-2016)

- Dilakukan anamnesa kepada pasien, dan pasien tidak mengeluhkan

adanya rasa sakit, pemeriksaan objekif juga didapatkan hasil

perkusi,palpasi,moblity yang negatif, dan tidak ada kelainan di RO foto

Gambar 6. Rontgen foto kontrol obturasi

- Selanjutnya dirujuk ke bagian prosthodonti untuk dilakukan perawatan

akhir (Follow Up Dowel Crown).

20
BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Radiografi Kedokteran Gigi


Radiografi dental merupakan bagian yang penting dalam perawatan gigi.

Bersamaan dengan pemeriksaan oral, radiografi dental memberikan gambaran

yang lengkap dalam pemeriksaan rongga mulut. Gambaran yang di hasilkan

foto Rontgen sangat membantu dalam penatalaksanaan berbagai kasus,

terutama penegakkan diagnosis, perencanaan perawatan, maupun evaluasi

hasil perawatan yang dilakukan. Dengan adanya pemeriksaan radiografi,

dapat diperoleh gambaran lokasi suatu obyek secara tepat sehingga

komplikasi ataupun kegagalan dalam perawatan dapat dihindari, dengan

demikian perawatan yang dihasilkan lebih maksimal.

a. Menegakkan diagnosis

Dalam mendiagnosis penyakit atau kelainan pada gigi tidak selalu dapat

terlihat langsung melalui pemeriksaan klinis. Penggunaan radiografi

kedokteran gigi dapat membantu untuk mengetahui ada atau tidaknya

kelainan, besarnya kerusakan atau keparahan, serta hubungannya dengan

jaringan di sekitarnya.

b. Evaluasi hasil perawatan

Untuk melihat keberhasilan perawatan yang telah dilakukan, maka

dilakukan radiografi, sebagai contoh untuk mengetahui apakah apeks gigi

telah menutup setelah dilakukan perawatan, apeksifikasi atau apakah ada

terjadi karies sekunder pada pasien yang telah melakukan penambalan gigi

(Alhamid, 2010).

21
Radiografi periapikal dalah radiografi yang berguna untuk melihat gigi

geliligi secara individual mulai dari keseluruhan mahkota, akar gigi dan

jaringan pendukungnya.Indikasi penggunaan radiografi antara lain untuk

melihat infeksi pada apikal, status periodontal, lesi-lesi pada periapikal dan

lainnya. Radiografi periapikal adalah jenis pemeriksaan radiograf yang

sangat luas penggunaannya dalam kedokteran gigi. Salah satu indikasi

penggunaan radiografi periapikal adalah pemeriksaan selama perawatan

endodontic. Keberhasilan obturasi endodontik biasanya dievaluasi dari

gambaran radiograf. Material restorasi endodontik termasuk gutta percha,

silver points, dan sealer lebih radiopak daripada struktur gigi (Utami, 2014).

Hasil interpertasi Rotgen yang baik saat obturasi adalah :

a. Pengisian saluran akar hermetis

b. Radiopaque pada basis tidak terdapat rongga atau padat

c. Lamina dura tidak terlihat

d. Membran periodontal melebar pada bagian apikal distal dan mesial

e. Puncak alveolar normal (Alhamid, 2010).

4.2 Akses Korona ( Buka atap pulpa)

Pembukaan atap pulpa (BAP) dilakukan dengan bur high speed yang

digunakan untuk mendapatkan akses dan membentuk kavitas. Diamond bur (

endo akses bur ) digunakan untuk penetrasi awal atap dari ruang pulpa dan

untuk membuang atap ruang pulpa tanpa merusak dasarnya (Louis, 1995).

Preparasi Akses korona merupakan fase yang paling penting dari aspek

teknik perawatan akar. Akses korona merupakan kunci untuk membuka pintu

22
bagi keberhasilan tahap pembersihan, pembentukan dan obturasi saluran

akarnya (Grossman, 1995).

Tujuan preparasi akses koronal adalah :

a. Membuat akses yang lurus.

b. Menghemat preparasi jaringan gigi.

c. Membuka atap ruang pulpa (Weine, 2004).

Prosedur preparasi akses korana yang dilakukan adalah :

a. Outline Form Cavity Entrance

- Proyeksi ruang pulpa ke permukaan gigi di bagian cingulum untuk gigi

anterior

- Tujuan: Untuk membuat akses yang lurus, menghemat preparasi

jaringan gigi, membuka atap pulpa.

b. Preparasi saluran Akar Tunggal

- Preparasi dimulai dengan round bur no 2 atau 4 atau tapered fissure

diamond bur dengan arah tegak lurus pada permukaan enamel

samapimenembus jaringan dentin dan diteruskan sampai atap pulpa

terbukan dengan kedalaman 3mm.

- Setelah itu arah bur diubah menjadi sejajar sumbu gigi sampai

menembus atap pulpa sehingga ditemukan lubang saluran akar yang

terletak pada dasar pulpa yang disebut orifice.

- Gunakan tapered fissure no 2 atau 4 untuk membentuk dinding cavity

entrance divergen ke arah oklusal atau insisal samapi jarum miller dapat

masuk dengan lurus, setelah terasa tembus maka orifice dicari dengan

menggunakan jarum miller.

23
- Menghilangkan tanduk pulpa menggunakan round diamond bur dengan

gerakan menarik keluar kavitas sehingga cavity entrance terbentuk

dengan baik dan alat preparasi dapat dimasukkan ke dalam saluran akar

dengan bebas.Masukkan jarum ektirpasi, diputar searah jarum jam dan

ditarik keluar, diulang lagi sampai jaringan pulpa dicabut ( Walton,

2008).

4.3 Pengukuran panjang kerja

Perawatan saluran akar tidak mungkin berhasil dengan baik apabila

pembersihan dan pembentukan saluran akar serta pengisian saluran akar tidak

dilakukan dengan optimal. Untuk mencapai kondisi diatas maka dibutuhkan

suatu penentuan panjang kerja yang akurat. Menentukan panjang kerja secara

tepat merupakan salah satu faktor penting pada tahap-perawatan endodontik

dan juga menentukan kegagalan ataupun keberhasilan dari perawatan

tersebut. Penentuan panjang kerja penting di lakukan lebih dahulu untuk

menghindari instrumen berlebih yang dapat melukai jaringan periapeks,

sebaliknya jika panjang kerja kurang dari ukuran sebenarnya hal ini dapat

menyebabkan tertinggalnya jaringan nekrotik yang dampaknya dapat berupa

inflamasi yang terus menerus setelah perawatan selesai.

Penentuan panjang kerja yang tepat dapat menghindari timbulnya rasa

sakit pada daerah periapikal setelah perawatan saluran akar. Pengukuran

panjang kerja membutuhkan keterampilan dalam menggunakan teknik yang

telah teruji dan memakai metode yang praktis serta efisien.

Panjang kerja (working lenghth) adalah jarak antara titik acuan pada

bagian korona gigi dan titik yang dapat diidentifikasi pada bagian apeks akar

24
gigi. Penentuan panjang kerja tujuannya adalah untuk menentukan panjang

(jarak dari apeks) yang dipreparasi dan diobturasi sampai pada pertemuan

dentin-sementum. (Honggowidjojo, 2000)

Secara umum ada tiga metode pengukuran panjang kerja, yaitu

metode ; radiografik, elektronik, dan taktil. Metode taktil dianggap kurang

akurat oleh karena itu metode ini tidak begitu di anjurkan, karena kepekaan

perabaan ujung jari operator tidak bisa diandalkan.

Pengukuran panjang kerja dengan metode radiografi harus di dahului

oleh penentuan daerah titik referensi atau titik acuan. Untuk gigi anterior titik

referensi terletak diinsisal, dan pada gigi posterior terletak ditonjol gigi. Titik

referensi ini harus stabil. Bila ada tonjol gigi yang fraktur, harus diratakan

terlebih dahulu. Instrumen yang akan dipakai dalam metode radiografik harus

di beri stop instrumen yang terbuat dari metal, karet silicon, atau plastik. Stop

instrumen yang terbaik adalah karet silicon yang berbentuk tetesan air mata

karena bahan ini dapat disterilkan dan disesuaikan dengan lengkung

instrumen.

Metode radiografi ini dimulai dengan eksplorasi saluran akar

menggunakan jarum file yang kecil. Jarum file yang dipakai pada foto

rontgen harus diatas nomor 15, agar ujung instrumen ini dapat terlihat jelas

dalam film rontgen. Instrumen harus berhenti paling sedikit 0,5 sampai 1 mm

lebih pendek daripada saluran yang diukur (Hardianti, 2014)

4.4 Preparasi Biomekanis

Obturasi saluran akar yang hermetis merupakan syarat utama

keberhasilan perawatan saluran akar, hal ini tidak mungkin dicapai bila

25
saluran akar tidak dipreparasi dan dipersiapkan untuk menerima bahan

pengisi (Grossman dkk., 1988).

Preparasi biomekanis saluran akar adalah salah satu langkah penting

dalam perawatan endodonti yang bertujuan untuk membentuk dan

membersihkan sistem saluran akar sebelum dilakukan pengisian saluran

akar. Saluran akar dapat dibentuk dengan instrumen tangan ataupun rotary

instrument dan harus selalu disertai dengan tindakan irigasi saluran akar.

Pada kasus ini teknik preparasi yang dilakukan adalah teknik step back

dimana dilakukan preparasi pada sepertiga apikal terlebih dahulu sampai

didapatkan MAF (master apical file) dan melanjutkan dengan preparasi 2/3

korona dengan setiap pergantian file panjang kerja dikurang 1. pada tahap ini

setiap pergantian file dilakukan irigasi.

Nama lain preparasi step back adalah preparasi teleskopik atau preparasi

serial. Preparasi step back menjaga agar bagian apikal tetap dalam ukuran

kecil, dan membentuk saluran akar corong yang membesar ke arah koronal.

Pada dasarnya teknik ini terdiri dari 2 fase : dimana preparasi dilakukan

di bagian apikal konstriksi dan Fase 2 melibatkan preparasi dari saluran akar

sisanya.

Fase I

a. Buat akses kavitas hingga terlihat orifis saluran akar.

b. Ukur panjang ker ja.

c. Masukkan instrumen pertama ke dalam saluran akar dengan teknik watch

winding.

d. Keluarkan instrumen dan lakukan irigasi ke saluran akar.

26
e. Masukkan instrumen dengan nomor yang lebih besar dengan cara yang

sama,kemudian lakukan irigasi.

f. Lakukan rekapitulasi dengan nomor instrumen sebelumnya yang lebih kecil.

g. Ulangi prosedur ini hingga K-File nomor 25 diperoleh sesuai panjang ker ja.

Fase II

a. Ulangi prosedur di atas dengan nomor file yang lebih besar secara

berurutan dengan panjang ker ja lebih pendek 1mm pada setiap kenaikan nomor

file.

b. Prosedur ini diakhiri dengan gerakan tarik dorong untuk menghaluskan

dinding saluran akar dengan master apical file (MAF).

Keuntungan tehnik step back:

a. Trauma pada daerah periapikal lebih kecil.

b. Tekanan pada saat kondensasi dapat mengisi saluran akar lateral.

c. Overfilling dapat dicegah oleh karena preparasi foramen apikal lebih

sempit (Rasinta, 2006).

4.5 Irigasi

Tindakan irigasi saluran akar sangat penting karena bertujuan untuk

menghilangkan debris, smear layer beserta mikroorganisme dari saluran

akar yang tidak dapat dijangkau hanya dengan menggunakan instrumen

mekanis (Louis, 1995).

Bahan yang dapat digunakan untuk irigasi antara lain hidrogen

peroksidase (H2O2) 3%, NaOCl, 3%, EDTA 15%,Chlorhexidine, dan

Akuades. Hidrogen peroksidase (H2O2) 3% merupakan salah satu bahan

irigasi yang sering digunakan. karena mudah didapat, dapat mengangkat

27
kotoran dari hasil preparasi saluran akar. Penggunaan larutan H2O2 3%

diikuti dengan larutan irigasi lainnya misal akuades, karena sisa oksigen

peroksida dalam saluran akar harus dinetralisir atau dihilangkan. Oksigen

yang terjadi akan menghasilkan gelembung udara kemudian akan membantu

pengeluaran kotoran secara efektif (Dian, 2013).

Sodium hipoklorit (NaOCl) merupakan bahan irigasi yang sering

digunakan. Konsetrasi yang sering digunakan adalah 2-5 %. NaOCl

merupakan agen pereduksi, berupa larutan yang bewarna jernih yang

berfungsi sebagai debridement, pelumas, antimikroba, dan melarutkan

jaringan lunak. Daya kerja antibakterinya melepas oksigen bebas yang

bergabung dengan sel protoplasma sehingga merusak sel. Kombinasi antara

NaOCl dengan H2O2 sangan efektif sebagai larutan irigasi karena NaOCl

membawa debridement yang telah dilunakan oleh H2O2 sehingga menutupi

kekurangan dari H2O2 (Mulyawati, 2011).

4.6 Sterilisasi saluran akar/ dressing

Sterilisasi saluran akar bertujuan untuk mematikan sisasisa kuman yang

ada di dalam saluran akar dan tubuli dentin, yang tidak dapat dicapai

pada waktu preparasi ruang pulpa. Preparasi biomekanis hanya dapat

menghilangkan 70% kuman dalam saluran akar dan tubuli dentin (Irawan,

2010).

Obat sterilisasi yang digunakan dalam sterilisasi saluran akar antara

lain adalah kalsium hidroksida (Ca(OH)2). Kalsium hidroksida mempunyai

sifat mampu membunuh mikroorganisme, merangsang pembentukan

jaringan keras, melarutkan jaringan, mempunyai efek bakterisidal dan

28
disinfektan, mencegah resorbsi tulang, mengurangi rasa sakit, tidak

menyebabkan perubahan warna, daya iritasi ringan, menghambat

inflamasi. (Yanti, 2001; Winata, 2012)

4.7 Obturasi

Tahap pengisian saluran akar merupakan tahapan yang dilakukan

setelah preparasi saluran akar untuk menutup seluruh sistem saluran akar

secara hermetis hingga kedap cairan (tight fluid seal).

Syarat untuk melakukan pengisian saluran akar adalah :

Tidak ada keluhan penderita

Tidak ada gejala klinik

Tidak ada eksudat yang berlebihan (saluran akar kering)

Tumpatan sementara baik, hasil perbenihan negative.

Tujuan pengisian saluran akar yaitu untuk mencegah masuknya

cairan maupun kuman dari jaringan periapikal kedalam saluran akar agar

tidak terjadi infeksi ulang. Bahan pengisi saluran akar yang digunakan harus

menutup seluruh sistem saluran akar terutama di daerah apikal yang banyak

terdapat saluran akar tambahan. Bahan pengisi saluran akar utama

biasanya bahan padat atau semi padat (pasta atau bentuk padat yang

dilunakkan) dan disertai dengan semen saluran akar (sealer). Bahan

pengisi terbagi atas bahan padat dan semi padat.

Pada kasus ini bahan pengisi yang digunakan adalah gutta perca dengan

bahan sealer endometason dan eugenol. Kandungan utama gutta perca

merupakan bahan an-organik 75 % yaitu oksida seng, bahan organik 20

% yaitu gutta-percha dan tambahan wax, resin atau garam -garam

29
metal,memberikan sifat plastis, bahan tambahan 5% yaitu bahan pengikat,

opaker, dan pewarna. Berbentuk kon ada tipe standar dengan ukuran (#15

- #40, #45 - #80), maupun bentuk kon tipe konvensional dimana ukurannya

berbeda antara ujung kon maupun badannya, misalkan ukurannya fine

medium, ujungnya runcing, badannya medium. .Keuntungannya adalah,

bersifat plastis, larut dalam kloroform / ekaliptol, dapat beradaptasi dengan

baik terhadap dinding saluran akar, manipulasinya sederhana, dapat

dikeluarkan dari saluran akar bila diperlukan, toksisitasnya rendah.

Sedangkan kekurangannya adalah, sulit untuk saluran akar yang sempit dan

bengkok, penyimpanan yang tidak baik / terlalu lama akan mudah patah.

Teknik Pengisian Gutta Point / Gutta Percha ada berbagai teknik seperti,

single cone, kondensasi, kloropercha / eucapercha, kompaksi termoplastis.

Pada kasus ini menggunakan teknik kondensasi. Teknik ini dilakukan

dengan memasukkan guttap point ke dalam saluran akar,kemudian

dilakukan kondensasi atau penekanan kearah lateral maupun kearah

vertikal. Indikasi teknik ini jika bentuk saluran akarnya oval atau tidak

teratur. Teknik kondensasi lateral yaitu saluran akar diulasi semen dan

guttap point utama (#25) dimasukkan sesuai dengan panjang preparasi,

kemudian ditekan dengan spreader ke arah lateral. Dengan cara yang

sama dimasukkan guttap point tambahan (lebih kecil dari spreader)

hingga seluruh saluran akar terisi sempurna. Sedangkan teknik kondensasi

vertikal adalah saluran akar diulasi semen dan guttap point utama dimasukkan

sesuai dengan panjang preparasi, kemudian guttap point dipanaskan ditekan

dengan plugger ke arah vertikal ke bawah. Dengan cara yang sama Gutt ap

30
percha tambahan (dibuat seperti bola) dimasukkan dan ditekan hingga

seluruh saluran akar terisi sempurna. (Subiwahjudii, 2011)

Adapun syarat-syarat sealer adalah biokompatibilitas, tidak terjadi

pengerutan pada saat pengerasan, dapat diukur waktu pengerasannya, melekat

ke dinding kanal dengan baik, radiopak, tidak mewarnai gigi, mampu

dilarutkan dengan baik menggunakan bahan pelarut, tidak larut oleh

cairan jaringan pada mulut, bakteriostatik, dan dapat menutup bagian apikal,

lateral, dan koronal akar gigi (Tarigan, 2006)

Jenis sealer berbahan dasar seng oksid eugenol dengan bahan

tambahan obat-obatan yang sering digunakan di klinik yaitu

Endomethasone. Komposisi Endomethasone terdiri dari serbuk berisi

timol iodida, paraformaldehid, hidrokortison asetat, deksametason, timah

oksida, seng oksid, magnesium stearat, dan barium sulfat, sedangkan

cairannya berisi eugenol. Sealer yang mengandung seng oksid tanpa

digabung dengan eugenol akan mudah mengalami dekomposisi oleh adanya

air sehingga lemah dan tidak stabil (Ingle dan bakland, 2002).

31
BAB V
KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan

Perawatan saluran akar adalah perawatan yang paling banyak dilakukan

dalam kasus perawatan endodontik. Perawatan saluran akar dapat dibagi atas tiga

tahap utama yaitu : 1. preparasi biomekanis saluran akar atau pembersihan dan

pembentukan (cleaning dan shaping), 2. disinfeksi saluran akar dan 3. obturasi

saluran akar.

Banyak faktor yang dapat menjadi penyebab kegagalan perawatan

endodontik seperti pengetahuan operator yang kurang, skill yang kurang, bekerja

tidak sesuai SOP, pemilihan bahan yang tidak sesuai indikasi dan yang lainya.

Oleh sebab itu, pentingnya semua hal tersebut dipahami oleh operator sebagai

kunci keberhasilan perawatan endodontik, sehingga didapatkan prognosa

perawatan yang baik serta hasil yang memuaskan.

32
DAFTAR PUSTAKA

Cohen, S., Hargreaves, K. M, 2006, Pathway of The Pulp. 9thed. Mosby


Elsevier,St. Louis, h. 102, 319-321.
Dian, A.W. 2013. Perbedaan khasiat antibakteri bahan irigasi antara hydrogen

nperoksida 3% dan infusum daun Sirih 20% terhadap bakteri mix.

Skripsi. Universitas Erlangga. Surabaya

Grossman, L. L., Oliet, S., Del Rio, C. E., 1995, Ilmu Endodontik dalam
Praktek(terj.),edisi kesebelas, EGC, Jakarta, H. 65, 155, 196, 248.
Hardianti. 2014. Perbandingan Tingkat Keakuratan Radiografi Konvensional

Dengan Digital Dalam Pengukuran Panjang Kerja Pada Perawatan

Endodontik. Skripsi.FKG UNHAS: Makassar

Honggowidjojo H. 2000. Pengukuran panjang kerja dan foto rontgen pada

perawatan saluran akar, Majalah Ilmiah Kedokteran Gigi : 16 (46) : 174-

80

Louis I.Grossman ,Seymour Oliet, Carlos E. Del Rio.1995. Ilmu endodontik

dalam praktek.edisi 11.EGC.Jakarta

Mulyawati E. Peran bahan disinfeksi pada perawatan saluran akar. Maj Ked Gi.

Vol 18(2) Desember 2011 h. 205-9

Oktavia M. 2013. Perawatan Saluran Akar Pada Dens Invaginatus. Skripsi. FKG

Mahasaraswati: Denpasar

Prof. DR.drg rasinta tarigan.2006. perawatan pulpa gigi.edisi 2.EGC. Jakarta

Rhodes, J. S., 2006, Advanced Endodontics Clinical Retreatment and Surgery,


Taylor & Francis Group, London, h. 130.
Stock, C., Walker, R., Gulabivala, K., 2004, Endodontics, 3rded, Mosby,
London,h 1-25, 135.
Subiwahjudii, A. 2012. Pengisian Saluran Akar. Literature Review. FKG Unair

33
Utami, H.L. 2014. adiopasitas antara sealer berbahan dasar resin epoksi

dibandingkan dengan sealer berbahan dasar seng oksid eugenol pada

teknik radiografi periapikal digital. Skripsi. UGM; Yogyakarta

Walton dan Torabinejad, 2008, Ed.3, Prinsip dan Praktik Ilmu Endodontia, lilia

Juwono, Jakarta, EGC hal 204-266

Weine, F. S., 2004, Endodontic Therapy, 6thed., Mosby, St. Louis, h.2,222
Winata, Y.A. 2012. Daya Hambat 3 Mix Mp Dan Kalsium Hidroksida (Ca(Oh)2)

Terhadap Bakteri Streptococcus Spesies (Penelitian Laboratoris).

Skripsi.FKG Jember; Surabaya.

34

Anda mungkin juga menyukai