Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH PROSES INDUSTRI KIMIA

PEMBUATAN POLIPROPILENA

Disusun oleh:
Maudy Maghfiroh Eka Jadid
Muhammad Hafizh Ahsan
Olivia Izzati Atiqa
2B / D4 Teknik Kimia

TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya makalah
yang berjudul "Polipropilena". Atas dukungan moral dan materil yang diberikan dalam
penyusunan makalah ini, maka kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Windi
Zamrudi B.Tech M.Pd. selaku dosen pembimbing kami, yang memberikan dorongan, masukan
kepada kami.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi
makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak
kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang
membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Malang, 27 Mei 2017

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................................. i


DAFTAR ISI ............................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................................... 1
1.1 LATAR BELAKANG ............................................................................................ 1
1.2 RUMUSAN MASALAH ........................................................................................ 2
1.3 TUJUAN ................................................................................................................. 2
BAB II ISI ................................................................................................................................. 3
2.1 PROPILENA ........................................................................................................... 3
2.2 POLIPROPILENA .................................................................................................. 3
2.3 STRUKTUR KRISTALINITAS POLIPROPILENA ............................................. 7
2.4 SIFAT POLIPROPILENA ...................................................................................... 8
2.5 PEMBUATAN POLIPROPILENA ........................................................................ 10
2.5.1 Bahan Baku Pembuatan ........................................................................ 10
2.5.2 Proses Pembuatan ................................................................................. 13
2.5.3 Pembagian Jenis Hasil .......................................................................... 19
2.6 MANFAAT DAN KEGUNAAN ........................................................................... 20
2.7 PEMBUATAN POLIPROPILENA DALAM INDUSTRI .................................... 22
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................... 24
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Polimer merupakan molekul besar yang terbentuk dari unit unit berulang sederhana.
Nama ini diturunkan dari bahasa Yunani Poly, yang berarti banyak dan mer, yang
berarti bagian. Sedangkan industry polimer (polimer sintesis) baru dikembangkan
beberapa puluh tahun terakhir ini.
Polimer tersusun atas perulangan monomer menggunakan ikatan kimia tertentu.
Ukuran polimer, dinyatakan dalam massa (massa rata-rata ukuran molekul dan jumlah
rata-rata ukuran molekul) dan tingkat polimerisasi, sangat mempengaruhi sifatnya, seperti
suhu cair dan viskositasnya terhadap ukuran molekul (massal seri hidrokarbon).
Polimer merupakan molekul besar (makromolekul) yang terbangun oleh susunan unit
ulangan kimia yang kecil, sederhana dan terikat oleh ikatan kovalen. Unit ulangan ini
biasanya setara atau hampir sama dengan monomer yaitu bahan awal dari polimer.
Dalam kehidupan sehari-hari banyak barang-barang yang digunakan merupakan
polimer sintetis mulai dari kantong palstik untuk belanja, plastic pembungkus makanan
dan minuman, kemasan plastic, alat-alat listrik, alat-alat rumah tangga, dan alat-alat
elektronik.
Kata polimer pertama kali digunakan oleh kimiawan Swedia, Berzelius pada tahun
1833, sepanjang abad 19 para kimiawan bekerja dengan makromolekul tanpa memiliki
suatu pengertian yang jelas mengenai strukturnya. Sebenarnya beberapa polimer alam
yang termodifikasi telah dikomersialkan. Sebagai cntoh, selulosa nitrat dipasarkan di
bawah nama-nama celluloid dan guncotton. Sepanjang tahun 1839 dilaporkan
mengenai polimerisasi stirena, dan selama 1860-an dipublikasikan sintesis poli (etilena
glikol) dan poli (etilena suksinat) bahkan dengan struktur-struktur yang tepat.
Bahan plastic buatan pertama kali dikembangkan pada abad ke-19, dan saat ini di
awal abad ke-21 jenis bahan ini telah ada di sekeliling kita dalam bentuk dan kegunaan
yang sangat beragam. Cellulose nitrate merupakan salah satu jenis bahan plastic yang
pertama-tama dikembangkan. Ahan ini ditemukan Alexander Parkes di pertengahan
abad ke-19 dan pertama kali dipamerkan pada suatu Pameran Akbar di London tahun
1862 dalam bentuk sol sepatu dan bola-bola billiard. Pada tahun 1869 John Wesley
Hyatt mengembangkan bahan Cellulose nitrate lebih lanjut dengan cara
mencampurkannya dengan camphor menjadi bahan baru yang kemudian diberi nama
Celluloid. Bahan ini menjadi sangat popular digunkan pada produk-produk sisir rambut,
kancing pakaian dan gagang pisau.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apa pengertian dari propilena, polipropilena serta struktur dan sifatnya?
2. Bagaimana proses pembuatan propilena menjadi polipropilena?
3. Apa manfaat dari polipropilena dalam kehidupan sehari-hari?
4. Bagaimana proses pembuatan polipropilena dalam industry?

1.3 TUJUAN
1. Untuk mengetahui pengertian propilena, polipropilena serta struktur dan sifatnya
2. Untuk mengetahui dan memahami proses pembuatan polipropilena
3. Untuk mengetahui manfaat dan kegunaan polipropilena dalam kehidupan sehari-hari
4. Untuk mengetahui proses pembuatan polipropilena dalam industri
BAB II
ISI

2.1 PROPILENA
Merupakan bahan baku dalam pembuatan polipropilena jenis homopolimer
sedangkan untuk jenis random copolymer dan impact copolymer selain propilena diperlukan
juga etilena dengan komposisi tertentu.
Propilena merupakan hidrokarbon alfatik dengan satu rantainya mempunyai ikatan
rangkap dua atau ikatan tidak jenuh. Polipropilena merupakan golongan olefin yang
diperoleh dari hasil cracking (perengkahan) minyak bumi pada temperature 700-9000 C,
untuk menghilangkan gas nafhtalena dan dilanjutkan dengan proses fraksionasi.

2.2 POLIPROPILENA
Polipropilena atau polipropena (PP) adalah sebuah polimer termo-plastik yang
dibuat oleh industry kimia dan digunakan dalam berbagai aplikasi, diantaranya pengemasan,
tekstil (contohnya tali, pakaian dalam termal, dan karpet), alat tulis, berbagai tipe wadah
etrpakaikan ulang serta bagian plastic, perengkapan laboratorium, pengeras suara, komponen
otomotif, dan uang kertas polimer. Polimer adisi yang terbuat dari propilena monomer,
permukannya tidak rata serta memiliki sifat resistan yang tidak biasa terhadap kebanyakan
pelarut kimia, basa dan asam.
Struktur molekul propilena dapat dilihat pada gambar berikut.
CH2=CH-CH3

Secara industry, polimerisasi polipropilena dilakukan dengan menggunakan katalis


koordinasi. Proses polimerisasi ini akan menghasilkan suatu rantai linear yang berbetuk A-
A-A-A-A- , dengan A merupakan propilena. Reaksi polimerisasi dari propilena secara
umum dapat dilihat pada gambar berikut.
Pengolahan lelehnya polipropilena bisa dicapai melalui ekstrusi dan pencetakan.
Metode ekstrusi (peleleran) yang umum menyertakan produksi serta pintal ikat (spun bond)
dan tiup (hembus) leleh untuk membentuk gulungan yang panjang untuk nantinya diubah
menjadi beragam produk yang berguna seperti masker muka, penyaring, dan lap.
Teknik pembentukan yang paling umum adalah pencetakan suntik, yang digunakan
untuk berbagai bagian seperti cangkir, alat pemotong, botol kecil, topi, wadah, perabotan,
dan suku cadang otomotif seperti baterai. Teknik pencetakan tiup dan injection-stretch blow
molding juga digunakan, yang melibatkan ekstrusi dan pencetakan.
Ada banyak penerapan penggunaan akhir untuk PP (polipropilena) karena dalam
proses pembuatannya bisa di-tailor grade dengan aditif serta sifat molekul yang spesifik.
Sebagai missal, berbagai aditif antistatic bisa ditambahkan untuk memperkuat resistensi
permukaan polipropilena terhadap debu dan pasir. Kebanyakan teknik penyelesaikan fisik,
seperti permesinan, bisa pula digunakan pada polpropilena. Perawatan permukaan bisa
diterapkan ke berbagai bagia polipropilena untuk meningkatkan adhesi (rekatan) cat dan
tinta cetak.
Gambaran umum Polipropilena :
Penggunaan : Termoplastik, fiber, termoplastik elastomer
Monomer : propilena
Polimerisasi : Ziegler-Natta, metallocene catalyst
Titik leleh : 1650C
Temperature glass transition : -170C
2.3 STRUKTUR KRISTALINITAS POLIPROPILENA
Kristalinitas merupakan sifat penting yang terdapat pada polimer. Kristalinitas
merupakan ikatan antara rantai molekul sehingga menghasilkan susunan olekul yang lebih
teratur. Pada polimer polipropilena, rantai polimer yang trebentuk dapat tersususn
membentuk daerah kristalin (molekul tersusun teratur) dan bagian lain membentk daerah
amorf (molekul tersusun secara tidak teratur)
Dalam struktur polimer atom-atom karbon terikat secara tetrahedral dengan sudut
ikatan C-C 109.50 dan membentuk rantai zigzag planar sebagai berikut :

Untuk polipropilena struktur zigzag planar dapat terjadi dalam tiga cara yang
berbeda-beda tergantung pada posisi relative gugus metal satu sama lain di dalam rantai
polimernya. Ini menghasilkan struktur isotaktik, ataktik dan sindotaktik.
(a) Struktur isotatik

Dikatakan bersturktur isotaktik jika gugus metal pada posisi yang sama di dalam
polimer tersebut.
(b) Struktur ataktik

Disebut polimer ataktik apabila gugus alkil/fenil yang berada pada rantai karbonnya
berposisi secara random.
(c) Struktur sindotaktik

Sedangkan disebut dengan polimer sindotaktik apabila gugus alkil/fenil memiliki


kedudukan yang tidak sama misalnya cis dan trans, namun kedudukan tersebut berubah
secara beraturan.
Ketiga struktur polipropilena tersebut pada dasarnya secara kimia berbeda satu
sama lain. Polipropilena ataktik tidak dapat berubah menjadi polipropilena sindotaktik atau
menjadi struktur lainnya tanpa memutuskan dan menyusun kembali beberapa ikatan kimia.
Struktur yang lebih teratur memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk berkristalisasi
daripada struktur yang tidak teratur. Jadi, struktur isotaktik dan sindotaktik lebh cenderung
membentuk daerah kristalin daripada ataktik. Polipropilena berstruktur stereogular seperti
isotatik dan sindotaktik adalah sangat kristalin bersifat keras dan kuat. Dalam struktur
polipropilena ataktik gugus metal bertindak seperti cabang rantai pendek yang muncul pada
sisi rantai secara acak. Ini mengakibatkan sulitnya untuk mendapatkan daerah-daerah rantai
yang sama (tersusun) sehingga mempunyai sifat kristalin rendah menyebabkan tingginya
kadar oksigen pada bahan tersebut sehingga bahan polimer ini mudah terdegradasi oleh
pengaruh lingkungan seperti kelembaban cuaca, radiasi sinar matahari dan lain sebagainya.

2.4 SIFAT POLIPROPILENA


Polipropilena merupakan bahan baku plastic yang ringan dengan densitas 0.90-0.92
, memiliki kekerasan dan kerapuhan yang paling tinggi dan bersifat kurang stabil terhadap
paas dikarenakan adanya hydrogen tersier. Penggunaan pengisi dan penguat memungkinkan
polipropilena memiliki mutu kimia yang baik sebagai bahan polimer dan tahan terhadap
pemecahan karena tekanan (stress-cracking) walaupun pada temperatur tinggi.
Kerapuhan plipropilena di bawah 00 C dapat dihilangkan dengan penggunaan bahan
pengisis. Dngan bantuan pengisis dan penguat, akan terdapat adisi yang baik.
Polimer yang memiliki konduktivitas rendah seperti polpropilena (konduktivitas =
0.12 W/m) kristalinitasnya sangat rentan terhadap laju pendinginan. Misalnya dalam suatu
proses pencetakan termoplastik membentuk barang jadi yang tebal dan luas, bagian tengah
akan menjadi dingin lebih lambat daipada bagian luar, yang besentuhan langsung dengan
cetakan. Akibatnya akan terjadi perbedaan derajat kristalinitas pada permukaan dengan
bagian tengahnya.
Polipropilena mempunyai tegangan (tensile) yang rendah, kekuatan benturan
(impact strength) yang tinggi dan ketahanan yang tinggi terhadap pelarut organic.
Polipropilena juga mempunyai sifat usolator yang baik, mudah diproses dan sangat tahan
terhadap air karena sedikit sekali menyerap air, dan sifat kekakuan yang tinggi. Seperti
polyolefin lain, polipropilena juga mempunyai ketahanan yang baik terhadap bahan kimia
anorganik non pengoksidasi, deterjen, alcohol dan sebagainya. Tetapi polipropilena dapat
terdegradasi oleh zat pengoksidasi seperti asam nitrat dan hydrogen peroksida. Sifat
kristalinitasnya yang tinggi menyebabkan daya regangannya tinggi, kaku dan keras.
Sifat fisik polipropilena ditunjukkan pada table berikut :
Parameter Nilai
Berat molekul 42.078
Titik didih ( P=101.3 kPa dlm 0C) 47.7
Titik leleh (0C) 190-20
Temperature kritik (0C) 92
Densitas kritik (g/ml) 0.2333
Tekanan kritik (MPa) 4.3
Lower explosion limit (% V udara) 24
Upper explosion limit (% V udara) 11.1
Temperature autoignition (0C) 224
Kelarutan dalam air (T=200C ; P 101.3 44.6
kPa)
Bau Bau gas alam
Titik nyala (0C) 08
Densitas uap 1.5
Specific gravity 0.516
Tekanan uap (200 C dlm psig) 132
Indeks bias 1.49
Tensile strength (psi) 4300-5500
Elongation (%) 200-700
Tensile modus (103 , psi) 1.6-2.3
Impact of strength (ft-lb/in of notch) 0.5-2.0
Densitas 0.855 gr/cm3
Titik leleh 1600 C

Sifat kimia polipropilena adalah sebagai berikut :


1. Polipropilena diproduksi melalui system cracking pada proses pmurnian minyak
bumi yang juga menghasilkan etile, metana dan hydrogen. Reaksi yang terjadi
adalah :
2CH3CH2CH3 CH3CH=CH2 + CH2=CH2 + CH4 + H2
2. Reaksi polipropilena dengan ammonia menghasilkan akrilonitrit pada industry
asam akrilit. Reaksi yang terjadi adalah :
CH3CH=CH2+ NH3 + 3/2 O2 CH2CHCN + 3H2O
3. Pada temperature tinggi klorinasi propilen dengan klorida memproduksi
gliserol. Reaksi yang terjadi adalah :
CH3CH=CH2 + Cl2 770 K CH2=CH2Cl + HCl

2.5 PEMBUATAN POLIPROPILENA


2.5.1 BAHAN BAKU PEMBUATAN POLIPROPILENA
Dalam pembuatan polipropilena terdapat dua macam bahan baku, yakni
a. Bahan baku utama (feedstock) dari polipropilena adalah propilena (C3H6) yang
diambil dari minyak bumi untuk menjadi polipropilena.
b. Bahan baku penunjang, antara lain :
Katalis (Kaminsk / Ziegler-Natta / metallocene)
Katalis Ziegler-Natta mampu membatasi berbagai monomer mendatang ke
sebuah orientasi yang spesifik, hanya menambahkan monomer-monomer
itu ke rantai polimer jika mereka menghadap ke arah yang benar.
Polipropilena yang paling tersedia secara komersial dibuat dengan katalis
Ziegler-Natta, yang menghasilkan polipropilena yang ada pada umumnya
isotaktik. Dengan gugus metal konsisten di satu sisi, molekul seperti itu
cenderung melingkar ke dalam bentuk heliks; heliks-heliks ini lalu berjajar
bersebelahan untuk membentuk Kristal yang memberikan sifat-sifat yang
diinginkan dari sebuah polipropilena komersial.
Katalis Kaminsky yang terekayasa dengan lebih presisi menawarkan
tingkat kendali yang lebih besar. Didasarkan pada molekul metalosena,
katalis ini menggunakan gugus organic untuk mengendalikan monomer
yang ditambahkan, sehingga pilihan katalis yang lebih tepat mampu
menghasilkan polipropilena isotaktik, sindotaktik atau ataktik, atau bahkan
kombinasi dari ketiga sifat tersebut. Selain control kualitatif tadi, katalis
Kaminsky membolehkan control kuantitatif yang lebih baik, dengan jauh
lebih baiknya rasio taktisitas yangdiinginkan daripada teknik Ziegler-Natta
sebelumnya. Katalis ini menghasilka pula distribusi berat molekul yag
lebih sempit daripada katalis Ziegler-Natta yang tradisional, yang mampu
meningkatkan berbagai sifat lebih jauh lagi.
Reaksi kebanyakan katalis metolesena membutuhkan sebuah ko-katalis
untuk pengaktifan. Salah satu ko-katalis yang paling umum digunakan
untuk tujuan ini adalah Methylaluminumoxane (MAO). Ko-katalis yang
lain adalah Al(C2H5)3. Ada sejumlah katalis metalosena yang bisa
digunakan untuk polimerisasi polipropilena. (Sejumlah katalis metalosena
dipakai untuk proses industry, sedangkan yang lain tidak, dikarenakan
harganya yang tinggi). Salah satunya yang paling sederhana adalah
Cp2MCl2 (M=Zr, Hf). Katalis yang berbeda bisa menghasilkan polimer
dengan berat molekul serta sifat yang berbeda. Katalis metalosena sedang
diteliti secara aktif.
Katalis metalosena bereaksi dulu dengan ko-katalis. Jika MAO adalah ko-
katalisnya, langkah pertama adalah menggantikan satu atom Cl d katalis
dengan satu gugus metal dari MAO. Gugus metal di MAO digantikan oleh
Cl dari katalis. MAO lalu menghilangkan Cl lainnya dari katalis. Ini
membuat katalis bermuatan positif dan rentan terhadap serangan dari
propilena.
Begitu katalis diaktifkan, ikatan ganda di propena berkoordinasi dengan
logamnya katalis. Gugus metal di katalis lalu bermigasi ke propena, dan
ikatan ganda terputus. Hal ini memulai polimerisasi. Begitu metal
bermigrasi maka katalis bermuatan positif terbentuk kembali dan propena
yang lain berkoordinasi dengan logam. Propena kedua berkoordinasi dan
migras berlanjut serta sebuah rantai polimer tumbuh dari katalis
metalosena.
Ko katalis Tri Ethyl Aluminium (TEAL), Al(C2H5)3
Ko-katalis berfungsi sebagai pembentuk kompleks katalis aktif yang
digunakan adalah Tri Ethyl Alumunium (TEAL). TEAL berwujud cairan
pada kondisi ruang, bening dan tidak berwarna.
Sifat-sifat fisik TEAL
No Sifat Fisik Nilai
1 Titik didih (0C) 185
2 Titik beku (0C) -58
3 Tekanan uap (mmHg) 0.025
4 Densitas (gr/mL) 0.8324
TEAL merupakan senyawa yang reaktif terhadap air dan udara, dan
dapat menyala secara spontan di udara. Apabila terjadi kebakaran gunakan
dry chemical, vermisalite, atau pasir kering sebagai pemadam. Jangan
gunakan air. Produk dekomposisi TEAL berbahaya, dapat berupa oksida
karbon, oksida alimunium, dan uap flammable yang mengandung debu. Laju
alir TEAL yang diumpankan ditentukan oleh rasio katalis terhadap ko-katalis
dalam reactor.
Selectivity Control Agent (NPTMS)
Hydrogen
Nitrogen
Carbon Monoxide
Aditif
Aditif ditambahkan guna mendapatkan produk polipropilena dengan
sifat tertentu sesuai dengan yang diinginkan. Aditif berbentuk padatan dan
cairan. Aditif ditambahkan dalam resin sebelum proses pelleting. Aditif padat
ditambahkan ke resin pada master mix blender. Sedangkan aditif cair
ditambahkan pada mixer hopper sebelum extruder. Secara umum fungsi zat
aditif antara lain :
Untuk mempengaruhi sifat-sifat dari produk
Untuk mempermudah proses fibrikasi
Untuk mencegah pelapukan material akibat pengaruh sinar UV atau sinar
matahari
Untuk member warna dengan mengatur sifat transparansi
Macam-macam zat aditif yang digunakan yaitu :
o Antioksidan : berfungsi untuk mencegah oksidasi dan perubahan warna
dari polimer maupun penurunan sifat mekanik.
o Acid acceptor (penetral asam) : berfungsi untuk mencegah terjadinya
degradasi polimer dan korosi pada mesin produksi dengan menetralisir residu
anion yang bersifat asam.
o Heat stabilizer (penstabil panas) : berfungsi mengurangi kemungkinan
kerusakan akiat adanya panas.
o Nucleating and clarifying agent : berfungsi untuk meningkatkan
kejernihan produk dengan mempengaruhi ukuran Kristal lebih halus dan
homogeny. Millad merupakan clarifying agent yang berbentuk serbuk putih
dengan titik leleh 2700C dan berat molekul 378 gram/mol. Clarifying agent
merupakan perkembangan dari nucleating agent. Nucleating agent berfungsi
untuk membentuk lebih banyak Kristal atau pertumbuhan inti Kristal.
o Slip agent : berfungsi untuk melicinkan permukaan.
o Anti block agent : berfungsi untuk mencegah lengket.
o Optical brightening agent : berfungsi untuk menigkatkan keputihan.

2.5.2 PROSES PEMBUATAN POLIPROPILENA


A. Pembuatan bahan baku
Polipropilena adalah hasil polimerisasi propena. Polimerisasi adalah
penggabungan molekul molekul sejenis menjadi molekul raksasa sehingga beranati
karbon sangat panjang. Molekul yang bergabung disebut monomer monomer.
Sedangkan molekul raksasa yang terbentuk disebut polimer.
Jenis polimerisasi yang terjadi pada pembuatan polipropilena ini adalah
polimerisasi adisi, karena terjadi ikatan antara monomer propilena melalui ikatan
rangkapnya. Pertumbuhan yang terjadi pada polimerisasi ini disebabkan karena adanya
penambahan monomer yang berlangsug secara terus menerus pada pusat aktif radikal
bebas. Polimerisasi adisi menghasilkan berat molekul yang sama dengan berat semu
unit monomer yeng tergabung dalam rantai polimer.
Polimerisasi ini akan berlangsung sampai semua monomer habis bereaksi. Akan
tetapi, terminasinya dapat diatur dengan menambah molekul hydrogen yan memutuskan
pertumbuhan atau perpanjangan rantai polimer. Polimerisasi adisi pada umumnya
berlangsung dalam kondisi tanpa katalisator dan temperature kamar, pada polimerisasi
adisi juga tidak dihasilkan molekul-molekul ringan sebagai produk samping. Adapun
sifat-sifat polimerisasi adalah :
a. Tidak ada hasil samping
b. Mekanisme reaksi adalah reaksi rantai (chain growth) berlangsung cepat
c. Hasilnya pada umumnya adalah polimer termoplastik, artinya dengan
pemanasan dapat melebur lagi, dan dapat berubah menjadi bentuk lain.
nCH2 = CH CH2 (-CH2 CH-) n CH3
Mekanisme rekasi yang terjadi terdiri dari 3 tahapan, yaitu :
1. Inisiasi
2. Propagasi, dan
3. Terminasi

Polimerisasi Ziegler-Natta merupakan metode sintesis polimer dengan monomer


yang memliki ikatan rangkap, termasuk jenis polimerisasi adisi, metode ini sesuai
dengan namanya, ditemukan oleh dua ilmuwan yaitu Ziegler dan Natta. Polimerisasi
Ziegler-Natta menggunakan system katalis dan ko-katalis dalam reaksi polimerisasinya.
Katalis ini merupakan senyawa komplek dari golongn I-III dengan halide dan turunan
logam transisi golongan IV-VII.
Katalis Ziegler-Natta biasanya adalah senyawa TiCl3 sebagai ko-katalis yang
digunakan adalah TiCl3 dan Al(C2H5)2Cl atau TiCl4 dengan Al(C2H5)3. Reaksi antara
katalis dan ko katalis ini akan menghasilkan suatu kompleks yang selanjutnya akan
bereaksi dengan molekul propilena. Pada proses pengakhiran, polimerisasi Ziegler-
Natta dilakukan dengan menambahkan molekul hydrogen akan memutuskan
pertumbuhan rantai polimer.
Sebelum terjadi ketiga tahapan reaksi tersebut, katalis TiCl4 diaktifkan terlebih
dahulu oleh ko-katalis Al(C2H5)3 sehingga akan terbentuk pusat aktif (active center)
katalis seperti pada reaksi berikut :

Setelah katalis diaktifkan oleh ko-katalis membentuk radikal bebas Ti, maka
monomer propilen akan menyerang abgian aktif ini dan berkoordinasi dengan logam
transisi, selanjutnya ia menyisip antara metal dan grup alkil, sehingga mulailah
terbentuk rantai polipropilena.
Radikal propilena yang terbentuk akan menyerang monomer propilena lainnya
terus menerus dan membentuk radikal polimer yang panjang. Pada tahap ini tidak
terjadi pengakhiran, polimerisasi terus berlangsung sampai tidak ada lagi gugs fungsi
yang tersedia untuk berekasi. Cara penghentian reaksi yang biasa dikenal adalah dengan
penghentian ujung atau dengan menggunakan salah satu monomer secara berlebihan.

B. Pembuatan Polipropilena

Polipropilena dapat dibuat dari monomer propilen melalui proses polimerisasi


menggunakan katalis Ziegler-Natta, Kaminsky, atau metallocene. Pembuatan propilena
terdir dari 4 tahap besar. Pertama, persiapan bahan baku dari minyak mentah untuk
mendapatkan monomer. Kedua, monomer mengalami polimerisasi pada produksi yang
lebih besar. Ketiga, hasil dari polimerisasi terbentuk resin-resin (pelet/butiran).
Keempat, produk resin yang terbentuk akan diolah lebih lanjut untuk menjadi produk
baru.

Berikut adalah diagram alir pembuatan propilena.


Tahapan proses pembuatan Polipropilena
a. Persiapan bahan baku, dimana seperti yang telah dijelaskan jika bahan
baku utama pembuatan polipropilena adalah propena yang diambil dari minyak
bumi untuk menjadi polipropilena.
b. Selanjuutnya bahan dimasukkan ke dalam reactor dimana di dalam rekator
terjadi reaksi polimerisasi propilen menjadi resin propilena dengan
menggunakan fluidized bed reactor fasa gas, reaksi ini terjadi di dalam unggun
resin polipropilena yang terfluidakan dengan menggunakan unggun resin.
c. Product Discharge System merupakan suatu system yang digunakan untuk
mengeluarkan resin yang terbentuk di dalam reactor dan dikirim ke product
receiver.
d. Pada product receiver ini terjadi proses pemisahan campuran gas
hidrokarbon, hydrogen, dan nitrogen dengan resin polipropilene, dari bagian
bawah product receiver dimasukkan gas nitrogen yang berasal dari nitrogen
surge tank.
e. Purge bin merupakan alat yang digunakan untuk menetralisir sisa katalis
dank o katalis (TEAL) serta menghilangkan sisa-sisa gas yang masih terdapat di
dalam resin.
f. Pelletizing system dimana untuk proses pembuatan pellet polipropilen dari
resin polipropilena. Resin polipropilene yang berasal dari product purge bin dan
aditif masuk ke dalam polipropilen dan additive dicampur dan diletakkan di
dalam long continous mixer masuk ke dalam melt pump yang berfungsi untuk
menaikkan tekanan polimer agar polimer melewati transition piece1, screen
changer transition piece 2 dan die plate.
g. Hasil dari pelletizing system akan masuk ke dalam silo angd bagging
dimana pellet yang dihasilkan akan dimasukkan ke dalam silo dan untuk proses
pengantongan produk.
Bagan pembuatan Polipropilena dapat diringkas sebagai berikut :

Resin atau biji plastic yan telah terbentuk kemudian diproses lebih lanjut untuk
dijadikan produk baru. Salah satu caranya adalah dengan metode ekstrusi seperti yang
telah dijelaskan sebelumnya. Proses ekstrusi adalah proses mengubah bentuk dari bahan
baku bijih plastic menjadi gulungan-gulungan atau roll plastic. Pertama-tama bijih
plastic dilelehkan pada Ekstruder, kemudian diinjeksikan melalui cetakan, setelah
keluar dari cetakan yang sesuai dengan profil yang diinginkan dimasukkan ke dalam
alat kalibrasi. Keluar dari alat kalibrasi masuk tangki air untuk didinginkan, setelah
dingin dimasukka ke bahan penarik kemudian dipotong-potong sesuai dengan ukuran
yang diminta pada alat potong dan disusun pada alat penyusun.

Pada tahap terminasi ini diinjeksikan sejumlah hydrogen yang berfungsi sebagai
terminator. Hydrogen sebagai terminator akan bergabung dengan sisi aktif katalis
sehingga terjadi pemotongan radkal polimer yang akan menghentikan polimerisasi
propilen.

2.5.3 PEMBAGIAN PROPILENA


Berdasarkan monomer penyusunnya polipropilena dapat dibedakan menjadi :
1. Polipropilena Homopolimer, yaitu polipropilena uang disusun hanya oleh monomer
propilena. Sifat utama jenis polipropilena ini adalah kekauannya yang bahkan juga
dimiliki pada temperature tinggi. Jenis polipropilena ini memiliki temperature
transisi gelas 00 C, sehingga polipropilena jenis ini bersifat getas pada temperature
rendah. Pada sifat optis, jeis polipropilena ini memiliki tingkat kebeningan sedang
(translucent). Polipropilena jenis ini juha memiliki sifat kemengkilapan yang baik.
Aplikasinya meliputi kemasan makanan (baik rigid maupun flexible), peralatan
rumah tangga, karung palstik, dan lain-lain.
2. Polipropilena Random Copolimer yaitu polipropilena yang disusun oleh monomer
propilena dan etilena yang tersusun acak dalam ranati polipropilena. Random
copolymer dikenal terutama dari kebeningannya dan kelenturannya yang tinggi.
Karenanya, polipropilena random copolymer banyak digunakan untuk pembuatan
peralatan yang bening, tutup botol jenis flip top dan kemasan lainnya.
Karakteristik yang penting lainnya adalah polipropilena random copolymer
memiliki temperature leleh yang lebih rendah dibanding polipropilena
homopolymer. Namun kekuatan dan kekerasannya kurang jika dibandingkan oleh
polipropilena homopolimer. Karena karakteristik ini, polipropilena random
copolymer juga digunakan sebagai bahan laminasi (extrusion coating) untuk
aplikasi karung.
3. Polipropilena Impact Copolimer (ICP) yaitu polipropilena yang disusun oleh
monomer propilena dan etilena yang tersusun dalam dua blok fasa, yaitu
polipropilena homopolimer dan ethylene-propylene-rubber (EPR). ICP
menawarkan variasi sifat yang besar, namun terutama dapat dikenali dari sifatnya
yang memiliki ketahanan pembebanan kejut yang sangat baik, termasuk pada
temperature rendah (memiliki temperature transisi gelas -300C) dan berwarna putih
susu doff, berbeda dengan polipropilena homopolimer atau juga polipropilena
random copolymer. Aplikasi polipropilena jenis ini antara lain bahan baku
pembuatan kaleng plastic, pallet, elektronik dan perlengkapan otomotif.

2.6 MANFAAT DAN KEGUNAAN POLIPROPILENA


Karena polipropilena kebal dari lelah, kebanyakan living hinge (engsel fleksibel
tipis yang terbuat dari plastic yang menghubungkan dua bagian dari palstik yang kaku),
seperti yang ada di botol dengan tutup flip top, dibuat dari bahan ini.
Lembar propilena yang sangat tipis dipakai sebagai dielektrik dalam pulsa berdaya
tinggi tertentu serta kondensator frekuesni radio yang kehilangan frekuensinya rendah.
Kebanyakan barang dari palstik untuk keperluan medis atau laboratorium bisa
dibuat dari polipropilena karena mampu menahan panas di dalam autoklaf. Sifat tahan
panas ini menyebabkan digunakan sebagai bahan untuk membuat ketel (ceret) tingkat-
konsumen. Wadah penyimpan makan yang terbuat darinya takkan meleleh di dalam
mesin cuci piring dan selama proses pengisian panas industry berlangsung. Untuk alasan
inilah sebagian besar tong plastic untuk produk susu perahan terbuat dari polpropilena
yang ditutupi dengan foil aluminium (keduanya merupakan bahan tahan panas). Sesuai
produk diinginkan, tabung sering diberi tutup yang terbuat dari bahan yang kurang tahan
panas, seperti polietilena berdensitas rendah (LDPE) atau polistirena. Wadah seperti ini
merupakan contoh yang bagus mengenai perbedaan modulus, karena tampak jelas beda
kekenyalan LDPE (lebih lunak, lebih mudah dilenturkan) dengan polipropilena yang
tebalnya sama. Jadi wadah penyimpan makan dari polpropilena sering memiliki tutup
yang terbuat dari LDPE yang lebih fleksibel agar bisa tertutup rapat-rapat. Polipropilena
juga bisa dibuat menjadi botol sekali pakai untuk menyimpan produk konsumen
berbentuk cairan atau tepung, meski HDPE dan polietilena tereftalatlah yang umumnya
dipakai untuk membuat botol semacam itu. Ember plastic, baterai mobil, container
penyejuk, piring dan kendi sering terbuat dari polipropilena atau HDPE, keduanya
memliki penampilan, rasa, serta sifat yang hampir sama pada suhu ambient.
Polipropilena merupakan sebuah polimer utama dalam barang-barang tak tertenun.
Sekitar 50% digunakan dalam berbagai produk sanitasi yang dipakai untuk menyerap air
(hidrofil), bukan yang secara alami menolak air (hidrofobik). Penggunaan tak tertenun
lainnya yang menarik adalah saringan udara, gas, dan cair dimana serat bisa dibentuk
menjadi lembaran atau jarring yang bisa dilipat untuk membentuk kartrij atau lapisan
yang menyaring dalam batas-batas 0.5 sampai 30 mikron. Aplikasi ini bisa ditemukan di
dalam rumah sebagai saringan air atau saringan tipe pengondisian udara. Wilayah
permukaan tinggi serta polipropilena hidrofobik alami yang tak tertenun merupakan
penyerap tumpahan minyak yang ideal dengan perintang apung yang biasanya diletakkan
di dekat tumpahan minyak di sungai.
Polipropilena juga umum digunakan sebagai polipropilena berorientasi dwi sumbu
Biaxially Oriented Polypropilene (BOPP). Lembaran BOPP ini digunakan untuk
membuat berbagai macam bahan seperti clear bag (tas yang transparan). Saat
polipropilena berorientasi dwi sumbu, ia menjadi sejernih Kristal dan berfungsi sebagai
bahan pengemasan untuk berbagai produk artistic eceran.
Polipropilena yang berwarna-warni banyak dipakai dala pembuatan permadani dan
tatakan untuk digunakan di rumah.
Militer AS pernah menggunakan polipropilena atau polypro untuk membuat
lapisan dasar cuaca dingin seperti kaos lengan panjang atau celana dalam yang panjang.
(Saat ini polyester menggantikan polipropilena dalam berbagai aplikasi di militer AS).
Kaos dari polipropilena tidak mudah terbakar, tapi bisa meleleh yang berakibat pada
bekas terbakar pada bagian baju yang terkena apapun jenis ledakan atau api.
Polipropilena digunakan pula sebagai pengganti polivinil klorida (PVC) sebagai
insulasi untuk kabel listrik LSZH (Low Smoke Zero Halogen) dalam lingkungan ventilasi
rendah, terutama sekali terowongan. Ini karena polipropilena mengeluarkan sedikit asap
serta halogen yang tidak beracun, yang akan menghasilkan asam pada suhu tinggi.

2.7 PEMBUATAN POLIPROPILENA DALAM INDUSTRI


Berdasarkan kualitasnya, produk polipropilena yang dihasilkan PT Chandra Asri
Petrochemical Polypropylene Plant digolongkan menjadi 3 jenis, yaitu :
a. Primer; merupakan produk yang memenuhi kualitas yang diinginkan
b. Near prime; merupakan produk yang menyimpang sedikit dari kualitas yang
diinginkan
c. Utility; merupakan produk yang tidak memenuhi kualitas yang diinginkan.
Selain ketiga kategori di atas sebagai hasil sisa produk juga dihasilkan enam jenis
hasil sisa (scarp) yang masing-masing memiliki nilai jual tertentu dan disimpan di gudang
pokok. Keenam hasil sisa tersebut adalah :
a. Rebagging ; produk dari tumpahan pellet akibat karung yang rusak atau
berlubang, baik dari proses bagging maupun loading. Produk ini dikemas dalam
karung dan dapat diolah tetapi harus dipertimbangkan adanya pengotor.
b. Trash ; diperoleh dari proses produksi (ayakan), merupakan pellet over size atau
less than size.
c. Sweeping ; merupakan scarp yang sama dengan rebagging, kandungan pengotor
lebih banyak.
d. Dust ; merupakan ekor pellet yang memang harus dihilangkan dalam proses
produksi.
e. Resin ; berupa bubuk yang merupakan hasil reaksi yang tidak memenuhi
spesifikasi dan kualifikasi sehingga tidak menjadi pellet.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
a. Propilena merupakan hidrokarbon alifatik dengan satu rantainya mempunyai ikatan rangkap dua
atau ikatan tak jenuh. Polipropilena adalah sebuah polimer termo-plastik yang dibuat oleh
industry kimia dan digunakan sebagai berbagai aplikas, struktur dari polipropilena yaitu
CH2=CH-CH3
b. Mekanisme pembuatan polipropilena melalui tiga tahapan utama yaitu propagasi, iniasiasi, dan
terminasi.
c. Kegunaan dari polipropilena dalam kehidupan sehari-hari seperti untuk keperluan medis atau
laboratorium, tong plastik untuk produk susu perah, untuk menyimpan produk konsumen
berbentuk cairan atau tepung, serta dapat digunakan sebagai pengganti PVC
d. Produk polipropilena yang dihasilkan PT. Chandra Asri Petrochemical Polypropylene Plant
digolongkan menjadi 3 jenis, yaitu primer, near primer, dan utility.
3.2 Saran
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan lebih fokkus
dan detail dalam menjelaskan tentang makalh diats dengan sumber yang lebih banyak yang
tentunya dapat dipertanggungjawabkan. Untuk saran bisa berisi kritik atau saran terhadap
penulisan juga bisa untuk menanggapi terhadap kesimpulan dari bahasan makalah yang telah
dijelaskan.
DAFTAR PUSTAKA

http://www.firdausali.com/polipropilena-(polypropylene).html
http://www.200912140808370.BukuSaku-Catatan2-PengetahuanDasarPolipropena.pdf
http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-kesehatan/makromolekul/polimerisasi.html
http://www.chandra-asri.com/product_types.php
http://id.wikipedia.org/wiki/Polipropilena