Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ilmu perpetaan dilandasi terhadap ilmu tentang pemetaan. Pertama
mengetahui bagaimana cara mendapatkan data untuk membuat peta, cara
mengolah data yang diambil tersebut, dan untuk membuat peta yang baik dan
benar sesuai estetika peta yang berlaku. Pengambilan data di lapangan
digunakan alat theodolite yang berguna untuk mendapatkan beda tinggi, zenith,
azimuth dari alat tersebut. Metode yang digunakan dalam pengukuran ini
menggunakan penyipat ruang yaitu metode polygon dimana metode ini dalam
pengukurannya pada akhirnya harus bertemu lagi dengan titik awal yang diukur.
Dalam bidang pertambangan mempunyai metode penambangan yaitu tambang
terbuka, tambang bawah tanah dan tambang bawah air.
Pengukuran yang dilakukan di kampus I Unisba Jl Tamansari No.1
Bandung dilakukan untuk mendapatkan data sebagai landasan untuk pembuatan
peta pemetaan situasi surface. Hasil akhir dari pengukuran ini akan
menghasilkan gambaran dari bentuk ruang kampus I Unisba tersebut dari
pengukuran penyipat ruang.

1.2 Perumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan pengukuran surface ?
2. Bagaimana cara melakukan pengukuran sufrace ?
3. Bagaimana cara menentukan titik detail ?

1.3 Maksud dan Tujuan


1.3.1 Maksud
Maksud dari pengukuran surface yang telah dilakukan agar dapat
memahami tentang penyipat ruang dengan menggunakan metode tertutup atau
bisa disebut juga dengan metode polygon tertutup.

1.3.2 Tujuan

1
2

Untuk mengetahui bagaimana cara melakukan pengukuran dengan


metode polygon tertutup.

Untuk mendapatkan titik koordinat (x, y, z) keberadaan dari titik ukur.

Dapat memproses data berupa output seperti peta situasi dan peta
topografi.

1.4 Metode Pelaksanaan


Pengukuran dilakukan di Kampus II Unisba Desa Ciburial, Provinsi Jawa
Barat, di pengukuran ini dilakukan agar dapat mengoperasikan alat beserta
kegunaannya dengan baik, menggambarkan bentuk kondisi serta mengetahui
elevasi permukaan yang ada di Kampus II Unisba.

1.5 Metode Pengamatan


Metode yang dipakai pada pengukuran ini yaitu dengan polygon tertutup.
Pada metode ini didapatkan data dari azimuth sebenarnya karena pada
pengukuran, magnet pada alat dibuka saat pengukuran awal sehingga pada
akhirnya menggambarkan bentuk bangunan pada daerah pemetaan.
Pemetaan diawali dengan pengamatan terhadap titik-titik patok yang
sudah ditentukan. Setelah itu mempersiapkan peralatan yang akan digunakan
yaitu theodolite serta perlengkapan yang akan dipakai, setelah peralatan dan
perlengkapan sudah siap lalu alat dipasang serta diukur tinggi alat, dimana tinggi
alat tersebut menjadi acuan pada saat penembakan rambu ukur, kemudian
menentukan titik detail yang akan diambil untuk menggambarkan bentuk
bangunan daerah pemetaan. lalu membuat sketsa kasar dengan
menggambarkan keadaan sekitar sesuai dengan posisi pengambilan titik.

2
3

Sumber : http://skema.pembuatan.peta/
Gambar 1.1
Skema Pemetaan

1.6 Sistematika Penulisan


Dalam sistematika penulisan dalam pembuatan draft Surface ini hasil
pemetaan adalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini menjelaskan latar belakang, maksud dan tujuan, ruang
lingkup, metode pengamatan pengukuran dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN UMUM
Pada bab ini menjelaskan faktor-faktor yang berhubungan dengan
keadaan pada saat pengukuran yaitu mencakup lokasi dan kesampaian
daerah, keadaan iklim dan cuaca, keadaan vegetasi.
BAB III LANDASAN TEORI
Pada bab ini berisi penjelasan teori-teori dasar yang menunjang dan
berkaitan dengan pembahasan suatu pengukuran, alat-alat yang
digunakan.

3
4

BAB IV KEGIATAN LAPANGAN


Pada bab ini menjelaskan seluruh kegiatan yang dilakukan pada saat
pengukuran serta mencakup hasil-hasil perhitungan yang berupa azimuth
awal, beda tinggi, jarak datar dari data yang didapat dari pengukuran.
BAB V ANALISA
Pada bab ini menjelaskan tentang hasil yang didapat dari pengolahan
data setelah melakukan pengukuran dilapangan yang dimana didapatkan
analisa dalam pengukuran hingga pengolahan data yang didapat
dilapangan.
BAB VI KESIMPULAN
Pada bab ini menjelaskan tentang pokok-pokok permasalahan yang ada
dilapangan serta faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi dalam
kegiatan pengukuran ini
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

BAB II
TINJAUAN UMUM

2.1 Keadaaan Umum


2.1.1 Lokasi Kesampaian Daerah Pengukuran
Kegiatan Pengukuran dilakukan di Kampus II Unisba, yang terletak di Desa
Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat.

4
5

Jarak tempuh ke kampus II UNISBA Ciburial sekitar 8 km dengan


menggunakan kendaraan roda dua ataupu roda empat dan dapat ditempuh
dalam waktu sekitar 30 menit dari Kampus I UNISBA Jalan Tamansari No.1
Bandung tanpa kemacetan.
2.1.2 Keadaan Geografi dan Administrasi
Wilayah Desa Ciburial terdiri dari 3 dusun, 51 unit RT serta 12 unit RW.
Desa Ciburial merupakan daerah yang terletak di kawasan Dago Atas.
Sedangkan secara administratif, daerah ini termasuk dalam wilayah Kecamatan
Cimenyan, Kabupaten Bandung Barat Propinsi Jawa Barat. Secara geografis,
desa Ciburial berbatasan dengan beberapa wilayah administrative kabupaten
Bandung, kabupaten Bandung barat maupun kota Bandung, antara lain sebagai
berikut :
Utara : Kecamatan Lembang
Selatan : Kecamatan Mandalamekar
Barat : Kecamatan Mekarsaluyu
Timur : Kecamatan Mekarmanik
2.1.3 Keadaan Penduduk
Secara keseluruhan, wilayah Arcamanik memiliki jumlah penduduk 55,943
jiwa dengan komposisi penduduk laki-laki sebanyak 28,933 jiwa atau 51,7 % dan
penduduk perempuan sebanyak 48,3 % atau sekitar 27,010 jiwa (sumber:BPS
Kota Bandung 2012). Jumlah penduduk yang terdaftar di jalan Golf Barat
sebanyak 146 jiwa (sumber:PPID Kota Bandung Kecamatan Arcamanik).

2.1.4 Iklim
Iklim di jalan Golf Barat pada tahun 2015 dengan rata-rata temperatur 28,3 dan
data curah hujan sebagai berikut :

Bulan Temperatur Curah Hujan Hari Hujan


Januari 28,3 216,9 26
Februari 28,6 250 23
Maret 29,6 305 24
April 29,1 286 26
Mei 28,7 171 23
Juni 28,5 231,5 16
Juli 28 159 16
Agustus 29,4 74 9
September 30,1 72 10
Oktober 30 234 21

5
6

November 29,8 164 19


Desember 28,4 478 27

2.1.5 Flora dan Fauna


Ada beragam jenis flora dan fauna yang dapat ditemukan di kampus II
UNISBA, antaara lain:
Tabel 2.1.5
Flora dan Fauna
Sumber: Dok. Flora kampus II UNISBA
Nama Nama Ilmiah Foto

Pohon Sirsak Annona muricata

Pohon Mangga Mangifera indica

Pohon
Dimocarpus longan
Kelengkeng

6
7

Pohon Jambu
Eugenia aquea
Air

Pohon Jambu
Psidium guajava
Batu

Bambu Bambusa sp

Pohon Cemara Casuarina equisetifolia

Pohon Pinus Pinus mercusii

7
8

Pohon Sukun Artocarpus communis

Ayam Gallus gallus dometicus

2.2 Waktu Pelaksaan


Kegiatan Pengukuran dilakukan di Kampus II Unisba, yang terletak di
Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa
barat pada waktu Sabtu, 7 januari 2017 Pukul 07.00 sampai dengan 03.00 WIB.

8
9

BAB III
LANDASAN TEORI

3.1 Metode Perhitungan Pemetaan Surface


Surface mining merupakan kegiatan usaha penggalian yang seluruh
aktifitas kerjanya berhubungan langsung dengan udara bebas dan terik matahari
yang letaknya tepat di permukaan tanah.
3.1.1 Definisi dan Jenis Poligon

Metode polygon adalah salah satu cara penentuan posisi horizontal


banyak titik dimana titik satu dengan yang lainnya dihubungkan satu sama lain
dengan pengukuran sudut dan jarak sehingga membentuk rangkaian titik-titik
(poligon). Pengukuran polygon sendiri mengandung arti salah satu metode
penentuan titik diantara beberapa metode penentuan titik yang lain. Berdasarkan
bentuknya polygon dapat dibagi dalam dua bagian, diantaranya:

1. Polygon berdasarkan visualnya, macamnya adalah :


a. Polygon tertutup

9
10

Sumber : http://miningunpad.blogspot.com
Gambar 3.1.1
Contoh Poligon Tertutup

Pada poligon tertutup :


Garis-garis kembali ke titik awal, jadi membentuk segi banyak.
Berakhir di stasiun lain yang mempunyai ketelitian letak sama
Poligon tertutup memberikan pengecekan pada sudut-sudut dan
jarak.
Poligon tertutup biasanya dipergunakan untuk :
Pengukuran titik kontur.
Bangunan sipil terpusat.
Waduk.
Bendungan.
Kampus UPI.
Pemukiman.
Jembatan (karena diisolir dari 1 tempat).
Kepemilikan tanah.
Topografi kerangka.

b. Polygon terbuka

Sumber : http://miningunpad.blogspot.com
Gambar 3.1.1
Contoh Poligon Terbuka

(secara geometris dan matematis), terdiri atas serangkaian garis yang


berhubungan tetapi tidak kembali ke titik awal atau terikat pada sebuah titik
dengan ketelitian sama atau lebih tinggi ordenya. Titik pertama tidak sama
dengan titik terakhir.
c. Polygon bercabang
Dilihat dari geometris, poligon terbagi menjadi 3, yaitu:
1. Poligon terikat sempurna
Dikatakan poligon terikat sempurna, apabila :

10
11

Sudut awal dan sudut akhir diketahui besarnya sehingga terjadi


hubungan antara sudut awal dengan sudut akhir.
Adanya absis dan ordinat titik awal atau akhir.
Koordinat awal dan koordinat akhir diketahui.
2. Poligon terikat sebagian.
Dikatakan poligon terikat sebagian, apabila :
Hanya diikat oleh koordinat saja atau sudut saja.
Terikat sudut dengan koordinat akhir tidak diketahui.
3. Poligon tidak terikat
Dikatakan poligon tidak terikat, apabila :
Hanya ada titik awal, azimuth awal, dan jarak.
Tidak terikat koordinat dan tidak terikat sudut.
Dilihat dari geometris, poligon terbagi menjadi 3, yaitu:
Polygon terikat sempurna
Polygon terikat sebagian
Polygon tidak terikat
Untuk mendapatkan nilai sudut-sudut dalam atau sudut-sudut luar serta
jarak-jarak mendatar antara titik-titik polygon diperoleh atau diukur dari lapangan
menggunakan alat pengukur sudut dan pengukur jarak yang mempunyai tingkat
ketelitian tinggi.
Pengolahan data polygon dikontrol terhadap sudut-sudut dalam atau luar
polygon dan dikontrol terhadap koordinat baik absis maupun ordinat. Pengolahan
data polygon dimulai dengan menghitung sudut awal dan sudut akhir dari titik-titik
ikat polygon. kontrol sudut polygon diawali terlebih dahulu dilakukan yaitu untuk
memperoleh koreksi sudut polygon dengan cara mengontroljumlah sudut polygon
terhadap pengurangan sudut akhir dengan sudut awal polygon. Koreksi sudut
polygon yang diperoleh kemudian dibagi secara merata tanpa bobot terhadap
sudut-sudut polygon hasil pengukuran dan pengamatan di lapangan.
Sudut-sudut jurusan titik polygon terhadap titik polygon berikutnya
mengacu terhadap sudut awal polygon dijumlahkan terhadap sudut polygon yang
dikoreksi. Kontrol Koordinat berbeda dengan kontrol sudut yaitu koordinat akhir
dan awal dikurangi serta dibandingkan terhadap jumlah proyeksinya terhadap
absis dan ordinat. Koreksi absis dan ordinat akan diperoleh dan dibandingkan
dengan mempertimbangkan bobot kepada masing-masin titik polygon. Bobot
koreksi didekati dengan cara perbandingan jarak pada suatu ruas garis terhadap
jarak total polygon dari awal sampai dengan akhir pengukuran.

11
12

3.1.2 Dasar Perhitungan Koordinat Poligon


Sudut
= awal-akhir + (n1) x 180
Beda Tinggi

Beda tinggi = (t +) + (t -) = t akhir t awal

Beda Absis ( X)

X = (d x sin +) + (d x sin -) = X akhir X awal

Beda Ordinat ( Y)

Y = (d x cos +) (d x cos ) = Y akhir Y awal

3.2 Alat Ukur


Alat ukur merupakan suatu peralatan yang digunakan untuk menunjang
suatu kegiatan pengukuran, sehingga kegiatan akan menghasilkan output atau
hasil data yang sesuai. Alat ukur dibagi menjadi beberapa macam, antara lain :
3.2.1 Peralatan
Pada saat pengambilan data, alat-alat yang diperlukan adalah :
Theodolite
Teodolit dinyatakan sebagai alat ukur sudut, karena alat ini disiapkan atau
dirancang untuk mengukur sudut baik sudut vertikal maupun horizontal.
Oleh karena itu kegunaan alat ukur ini adalah untuk mengukur sudut.
Kegunaan lain alat ukur ini yaitu dengan bantuan rambu ukur dapat
digunakan sebagai pengukur jarak baik jarak horizontal maupun miring
dan mengukur beda tinggi dengan menggunakan metode. Theodolit
dipasang di tripod. Sumbu kesatu sudah dalam keadaan tegak, yang
diperlihatkan oleh kedudukan gelembung nivo kotak ada di tengah. Sumbu
kedua sudah dalam keadaan mendatar, yang diperlihatkan oleh
gelembung nivo tabung ada di tengah. Pada pembidikan alat yang diatur
adalah benangnya karena teropong theodolit penggunaannya tidak harus
mendatar.

12
13

Sumber : Dokumentasi Perpetaan, 2016


Foto 3.2.1
Theodolite

Fungsi dari bagian bagian Theodolite yaitu :


Lensa Obyektik,untuk menangkap bayangan secara obyek
Plat Dasar, sebagai tempat penyangga seluruh bagian alat tehodolite
Penggerak Halus Horizontal, untuk menggerakan teropong serta
memperjelas suatu objek.
Statif
Statif merupakan alat pengukuran yang digunakan sebagai tempat alat
pengukuran berdiri.

Sumber : globalsurveybandung.com/2015/02/tripod-lokal.html
Gambar 3.2.1
Statif
Rambu Ukur
Rambu ukur merupakan alat yang digunakan sebagai titik tembak, yang
nantinya akan menghasilkan data berupa benang tengah, benang atas dan
benang bawah.

Sumber : Dokumentasi Perpetaan, 2016


Foto 3.2.1
Rambu Ukur
Unting Unting

13
14

Unting unting merupakan yang di gunakan untuk penyeimbang alat ukur


seperti theodolite.

Sumber : suryaputrabangsa.blogspot.co.id/ilmu-ukur-wilayah
Foto 3.2.1
Unting-Unting
3.2.2.Perlengkapan
Adapun perlengkapan yang diperlukan untuk kelangsungan kegian dalam
pemetaan ini antara lain :
Meteran
Meteran merupakan alat untuk membantu dalam mengukur jarak datar
dan membantu dalam pengukuran tinggi alat dsb..

Sumber : google.com/gambar-roll-meter
Foto 3.2.2
Meteran
Payung
Payung untuk berjaga jaga jika terjadi hujan pada saat pengukuran di
lapangan.
Senter
Senter alat pendukung dalam melakukan penerangan.

3.3 Data Hasil Pengolahan

14
15

Kegiatan pemetaan yang dilakukan di Kampus II Unisba, yang terletak di


Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung Barat. menggunakan
metode polygon tertutup, dimana metode ini menggunakan alat Theodolite data
yang diambil dari pengukuran ini adalah Benang Atas, Benang Bawah, Benang
Tengah, Azimuth dan Zenith yang dikemudian dilakukan pengolahan data yang
nantinya menghasilkan koordinat (X,Y,Z) dari titik yang diukur. Dalam kegiatan
pemetaan dilakukan pengukuran sebanyak 11 titik dengan detail untuk
menggambarkan bentuk bangunan daerah sekitar pemetaan.

Sumber : Data Hasil Perhitungan Kelompok 3


Gambar 4.2
Sketsa Hasil Pengukuran

Table 4.2
Perhitungan Luas Poligon Lintasan
TABEL PERHITUNGAN LUAS POLIGON LINTASAN

X Y Xi . Yi +1 Yi . Xi +1

780001,345 9235990,35

779.998,677 9.235.995,273 7,20409E+12 7,20406E+12

779.996,414 9.236.004,601 7,20407E+12 7,20404E+12

780.003,481 9.236.020,129 7,20406E+12 7,20412E+12

780.017,808 9.236.013,776 7,20412E+12 7,20426E+12

780.012,750 9.236.002,026 7,20425E+12 7,20421E+12

780.025,507 9.235.996,546 7,2042E+12 7,20432E+12

15
16

780.018,420 9.235.979,695 7,2043E+12 7,20425E+12

780.015,644 9.235.969,848 7,20423E+12 7,20421E+12

780.000,993 9.235.973,850 7,2042E+12 7,20407E+12

780.006,042 9.235.985,300 7,20408E+12 7,20412E+12

780.001,719 9.235.989,058 7,20413E+12 7,20408E+12

780001,345 9235990,35 7,20409E+12 7,20408E+12

= 8,64498E+13 8,64498E+13

823,3203125

Table 4.3
Perhitungan Luas Total Area
TABEL PERHITUNGAN LUAS TOTAL AREA

X Y Xi . Yi +1 Yi . Xi +1

779997,2645 9235985,983

779993,6512 9235991,322 7,20405E+12 7,20401E+12

779987,4124 9236000,249 7,20402E+12 7,20396E+12

779988,2451 9236013,794 7,20397E+12 7,20397E+12

779999,8353 9236022,272 7,20399E+12 7,20409E+12

780024,0172 9236022,49 7,2041E+12 7,20432E+12

780029,2046 9236021,721 7,20432E+12 7,20437E+12

780027,1268 9236011,059 7,20436E+12 7,20435E+12

780029,9433 9235996,534 7,20433E+12 7,20437E+12

780024,1597 9235982,289 7,20434E+12 7,2043E+12

780019,4976 9235976,47 7,20428E+12 7,20425E+12

780014,9356 9235966,06 7,20423E+12 7,2042E+12

780017,2631 9235966,41 7,20419E+12 7,20421E+12

16
17

779997,2645 9235985,983 7,20423E+12 7,20403E+12

= 9,36544E+13 9,36544E+13

1600,685938

BAB IV
ANALISA

17
18

Dari data yang diperoleh hasil pengukuran surface dan pembuatan peta
topografi dapat dianalisakan bahwa:
terdapat 11 titik yang diukur menggunakan metode poligon tertutup
ternyata hasil akhirnya tidak tertutup antara titik terakhir (titik 9) dengan titik
awala pengukuran (titik 10), maka kami lakukan pengkoreksian sudut

menggunakan rumus untuk yang searah jarum jam dan

rumus untuk yang berlawanan arah jarum jam. Dan dari

hasil perhitungan kelompok kami memperoleh koreksi sudut sebesar 18


diantara titik 9 dan titik 10.
Pada peta topografi hasil kelompok kami terdapat kontur yang renggang
dan rapat, kontur yang rapat menandakan bahwa daerah atau lokasi tersebut
terjal atau curam. Pada peta topografi kelompok kami, lokasi tersebut berada di
daerah titik 1 (daerah kopma dan tangga menuju parkiran arah barat laut), titik 3
(tangga menuju parkiran arah timur) dan titik 7 (tangga batu). Dan kontur yang
renggang menandakan bahwa daerah tersebut landai atau rata, pada peta kami
daerah tersebut berada pada titik 10, titik 11 dan titik 12 (sekitaran bangku besi).
Titik elevasi tertinggi berada pada titik 4 yaitu sebesar 779,912 mdpl dan
terrendah berada di titik 779,907 mdpl.
Pembuatan peta topografi dengan menggunakan software Surfer 13 dan
arcGIS 10.3 hasil akhirnya berbeda dengan pembuatan secara manual,
dikarenakan pada software penarikan garis melewati batas gedung sedangkan
pada pembuatan peta topografi secara manual tidak melewati batas gedung atau
tidak memotong gedung.
Pada aplikasi acrGIS 10.3 terdapat banyak kontur yang rapat yaitu dititik
yang terdapat tangga dan lebih detail dibandingkan dengan surfer 13 dan cara
manual hal ini dikarenakan pada aplikasi acrGIS 10.3 sudah terdapat berbagai
macam metode, cara penukuran dan menu lainnya yang digunakan dalam
pembuatan peta dapat dikatakan lebih lengkap dan lebih memudahkan dalam
pembuatan peta. Aplikasi acrGIS 10.3 juga sudah banyak digunakan oleh
perusahaan-perusahaan yang terkait dengan pembuatan peta.

18
19

Penembakan detail sebaiknya dilakukan dari arah utara dan searah jarum
jam dari tempat berdirinya alat yang bertujuan untuk memudahkan saat
pengolahan. Dari data kami titik yang memiliki banyak detail yaitu pada titik 5
(sebelah timur dari gedung SC) terdapat 18 titik detail, karena daerah itu terdapat
banyak pilar atau tiang yang kami tembak satu persatu.
Dan hasil akhir dari praktikum ini adalah untuk menghitung luas daerah

yang kita ukur, luas lintasan poligon yang kami dapatkan adalah 823,3203125

dan luas titik terluar hasil pengukuran kelompok kami adalah seluas

1600,685938 .

19
20

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
Dari data yang kami dapatkan disimpulkan bahwa penggambaran peta
situasi dan peta topografi kampus 1 Unisba jl.Tamansari No.1 Kelurahan Taman
Sari, Kecamatan Bandung Wetan, Provinsi Jawa Barat, dilakukan dengan
pengukuran disetiap titik koordinat terlebih dahulu, dan disetiap titik koordinat
dilakukan juga pengukuran detail yang berfungsi untuk mempermudah kita dalam
membuat peta situasi sehingga sudutsudut dari setiap bangunan akan lebih
terlihat jelas. Pada pengukuran langkah yang pertama dilakukan adalah :
1. Melakukan survey, membuat sketsa kasar, mempersiapkan alat dan
perlengkapan, kemudian dilakukan pengukuran pada setiap patok.
Sehingga didapat data benang atas, benang bawah, benang tengah,
azimuth dan zenith.
2. Metode pengukurn yang dipakai pada pengukuran ini adalah metode
poligon tertutup dan metode polar.
Peta topografi digunakan untuk mengetahui bentuk permukaan bumi yang
meliputi bentuk relief (tinggi rendahnya) permukaan bumi yaitu dapat ditunjukan
dengan titik-titik ketinggian berdasarkan garis bentuk atau garis kontur.
Penggunaan theodolit berfungsi untuk mendapatkan azimut, zenith,
benang atas, benang bawah, dan benang tengah. Cara pembacaan azimuth
berbeda dengan pembacaan zenith. Pembacaan azimuth dengan cara kiri bawah
ke kanan atas, dengan garis yang sejajar berselisih 1800, dan setiap garis
memiliki nilai 10 kemudian menit dan detik dapat dilihat disamping alat.
Sedangkan pembacaan Zenith dari kiri atas ke kanan bawah, dengan 1 garisnya
bernilai 100. Peletakkan alat sebelum pengukuran harus tepat pada titik yang
telah ditentukan, menggunakan unting-unting.
Perbedaan pembuatan peta topografi dengan menggunakan software
surfer 13 dan arcGIS 10.3 dengan manual adalah hanya pada tingkat ketelitian
atau detailnya saja dan jika menggunakan software pekerjaan akan menjadi lebih
mudah karena tidak perlu menghitung dan menggambar lagi maka waktu akan
menjadi lebih efisien.

20
21

Dan luas total area yang kami dapatkan adalah 1600,685938 dan

untuk luas poligon lintasannya seluas 823,3203125 hampir setengahnya dari

luas area total.

6.2 Saran
Sebaiknya praktikum ini dimulai pada pagi hari agar pengukuran tidak
sampai malam sebab pada malam pembacaan benang atas, benang bawah,
benang tengah, azimuth dan zenith lebih sulut dan dibutuhkan alat bantu berupa
senter yang jumlahnya harus lebih dari satu.

21