Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH HUKUM PEMERINTAHAN DAERAH

PERBANDINGAN SISTEM PEMERINTAHAN INDONESIA

DAN DI NEGARA NEGARA LAIN

Disususun Oleh:

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS HUKUM

PURWOKERTO

2017
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Sistem pemerintahan mempunyai sistem dan tujuan untuk menjaga suatu kestabilan negara itu.
Namun di beberapa negara sering terjadi tindakan separatisme karena sistem pemerintahan yang dianggap
memberatkan rakyat ataupun merugikan rakyat. Sistem pemerintahan mempunyai fondasi yang kuat
dimana tidak bisa diubah dan menjadi statis. Jika suatu pemerintahan mempunya sistem pemerintahan
yang statis, absolut maka hal itu akan berlangsung selama-lamanya hingga adanya desakan kaum
minoritas untuk memprotes hal hal tersebut.

Secara luas berarti sistem pemerintahan itu menjaga kestabilan masyarakat, menjaga tingkah laku
kaum mayoritas maupun minoritas, menjaga fondasi pemerintahan, menjaga kekuatan politik, pertahanan,
ekonomi, keamanan sehingga menjadi sistem pemerintahan yang kontinu dan demokrasi dimana
seharusnya masyarakat bisa ikut turut andil dalam pembangunan sistem pemerintahan tersebut. Hingga
saat ini hanya sedikit negara yang bisa mempraktikkan sistem pemerintahan itu secara menyeluruh.

Secara sempit, sistem pemerintahan hanya sebagai sarana kelompok untuk menjalankan roda
pemerintahan guna menjaga kestabilan negara dalam waktu relatif lama dan mencegah adanya perilaku
reaksioner maupun radikal dari rakyatnya itu sendiri.

Setiap negara dalam menjalankan pemerintahannya, memiliki sistem yang berbeda-beda


meskipun dengan nama yang sama seperti sistem presidensial atau sistem parlementer. Baik sistem
presidensial maupun sistem perlementer, sesungguhnya berakar dari nilai-nilai yang sama, yaitu
demokrasi .

Demokrasi sebagai sistem pemerintahan yang mengandung nilai-nilai tertentu yang berbeda
dengan sistem pemerintahan lain seperti monarki,tirani,aristokrasi dan lain-lain. Demokrasi adalah suatu
bentuk pemerintahan yang mengakui hak segenap anggota masyarakat untuk mempengaruhi keputusan
politik, baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
Banyak sistem pemerintahan yang di anut oleh Negara Negara di dunia antara lain yaitu
presidensial,parlementer dan referendum. Sitem pemerintahan Negara Negara di dunia berbeda beda
sesuai dengan kondisi social budaya dan politik yang berkembang di negara yang bersangkutan.

Makalah ini membahas tentang sistem pemerintahan yang ada di dunia baik di tinjau dari bentuk
pemerintahannya serta kelebihan dan kekurangannya dan membandingkan sistem pemerintahan di negara
lain dengan sistem pemerintahan yang ada di indonesia.

2. Rumusan Masalah
1. Ingin mengetahui Perbandingan Sistem Pemerintahan di Indonesia dengan di Berbagai Negara?
2. Ingin mengetahui Sistem Pemerintahan di Berbagai Negara?
BAB II

PEMBAHASAN

A. Perbandingan Sistem Pemerintahan di Indonesia dengan Negara lain

Sistem pemerintahan negara-negara didunia ini berbeda-beda sesuai dengan keinginan dari negara
yang bersangkutan dan disesuaikan dengan keadaan bangsa dan negaranya. Sebagaimana dikemukakan
sebelumnya, sistem pemerintahan presidensial dan sistem pemerintahan parlementer merupakan dua
model sistem pemerintahan yang dijadikan acuan oleh banyak negara. Amerika Serikat dan Inggris
masing-masing dianggap pelopor dari sistem pemerintahan presidensial dan sistem pemerintahan
parlementer1. Dari dua model tersebut, kemudian dicontoh oleh negara-negar lainnya.

Contoh negara yang menggunakan sistem pemerintahan presidensial: Amerika Serikat, Filipina,
Brasil, Mesir, dan Argentina. Dan contoh negara yang menggunakan sistem pemerintahan parlemen:
Inggris, India, Malaysia, Jepang, dan Australia.

Meskipun sama-sama menggunakan sistem presidensial atau parlementer, terdapat variasi-variasi


disesuaikan dengan perkembangan ketatanegaraan negara yang bersangkutan. Misalnya, Indonesia yang
menganut sistem pemerintahan presidensial tidak akan sama persis dengan sistem pemerintahan
presidensial yang berjalan di Amerika Serikat. Bahkan, negara-negara tertentu memakai sistem campuran
antara presidensial dan parlementer (mixed parliamentary presidential system). Contohnya, negara
Prancis sekarang ini. Negara tersebut memiliki presiden sebagai kepala negara yang memiliki kekuasaan
besar, tetapi juga terdapat perdana menteri yang diangkat oleh presiden untuk menjalankan pemerintahan
sehari-hari.

Sistem pemerintahan suatu negara berguna bagi negara lain. Salah satu kegunaan penting sistem
pemerintahan adalah sistem pemerintahan suatu negara menjadi dapat mengadakan perbandingan oleh
negara lain2. Suatu negara dapat mengadakan perbandingan sistem pemerintahan yang dijalankan dengan
sistem pemerintahan yang dilaksakan negara lain. Negara-negara dapat mencari dan menemukan
beberapa persamaan dan perbedaan antarsistem pemerintahan. Tujuan selanjutnya adalah negara dapat
mengembangkan suatu sistem pemerintahan yang dianggap lebih baik dari sebelumnya setelah melakukan

1
Inu Kencana Syafiie. (1994). Ilmu Pemerintahan. Bandung: Mandar Maju.
2
Ibrahim R.dkk. (1995). Sistem Pemerintahan Parlementer dan Presidesial. Jakarta: Grafindo Persada.
perbandingan dengan negara-negara lain. Mereka bisa pula mengadopsi sistem pemerintahan negara lain
sebagai sistem pemerintahan negara yang bersangkutan. Para pejabat negara, politisi, dan para anggota
parlemen negara sering mengadakan kunjungan ke luar negeri atau antarnegara. Mereka melakukan
pengamatan, pengkajian, perbandingan sistem pemerintahan negara yang dikunjungi dengan sistem
pemerintahan negaranya. Seusai kunjungan para anggota parlemen tersebut memiliki pengetahuan dan
wawasan yang semakin luas untuk dapat mengembangkan sistem pemerintahan negaranya.

Pembangunan sistem pemerintahan di Indonesia juga tidak lepas dari hasil mengadakan
perbandingan sistem pemerintahan antarnegara. Sebagai negara dengan sistem presidensial, Indonesia
banyak mengadopsi praktik-praktik pemerintahan di Amerika Serikat. Misalnya, pemilihan presiden
langsung dan mekanisme cheks and balance. Konvensi Partai Golkar menjelang pemilu tahun 2004 juga
mencontoh praktik konvensi di Amerika Serikat. Namun, tidak semua praktik pemerintahan di Indonesia
bersifat tiruan semata dari sistem pemerintahan Amerika Serikat. Contohnya, Indonesia mengenal adanya
lembaga Majelis Permusyawaratan Rakyat, sedangkan di Amerika Serikat tidak ada lembaga semacam
itu. Dengan demikian, sistem pemerintahan suatu negara dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan atau
model yang dapat diadopsi menjadi bagian dari sistem pemerintahan negara lain. Amerika Serikat dan
Inggris masing-masing telah mampu membuktikan diri sebagai negara yang menganut sistem
pemerintahan presidensial dan parlementer seara ideal. Sistem pemerintahan dari kedua negara tersebut
selanjutnya banyak ditiru oleh negara-negara lain di dunia yang tentunya disesuaikan dengan negara yang
bersangkutan.

B. Perbandingan Sistem Indonesia dengan Sistem Negara Lain

Berdasarkan penjelasan UUD 45, Indonesia menganut sistem Presidensia. Tapi dalam praktiknya
banyak elemen-elemen Sistem Pemerintahan Parlementer. Jadi dapat dikatakan Sistem Pemerintahan
Indonesia adalah perpaduan antara Presidensial dan Parlementer.

kelebihan Sistem Pemerintahan Indonesia


Presiden dan menteri selama masa jabatannya tidak dapat dijatuhkan DPR.
Pemerintah punya waktu untuk menjalankan programnya dengan tidak dibayangi krisis
kabinet.
Presiden tidak dapat memberlakukan dan atau membubarkan DPR.
Kelemahan Sistem Pemerintahan Indonesia
Ada kecenderungan terlalu kuatnya otoritas dan konsentrasi kekuasaan di tangan Presiden.
Sering terjadinya pergantian para pejabat karena adanya hak perogatif presiden.
Pengawasan rakyat terhadap pemerintah kurang berpengaruh.
Pengaruh rakyat terhadap kebijaksanaan politik kurang mendapat perhatian3.

C. Perbedaan Sistem Pemerintahan Indonesia dan Sistem Pemerintahan Malaysia


a) Badan Eksekutif
- Badan Eksekutif Malaysia terletak pada Perdana Menteri sebagai penggerak pemerintahan
negara.
- Badan Eksekutif Indonesia terletak pada Presiden yang mempunyai 2 kedudukan sebagai kepala
negara dan kepala pemerintahan.
b) Badan Legislatif
- Di Malaysia ada 2 Dewan Utama dalam badan perundangan yaitu Dewan Negara dan Dewan
Rakyat yang perannyan membuat undang-undang.
- Di Indonesia berada di tangan DPR yang perannya membuat undang-undang dengan persetujuan
Presiden

Dalam Sistem Pemerintahan kabinet parlementer, perlu dicapai adanya keseimbangan melalui
mayoritas partai untuk membentuk kabinet atas kekuatan sendiri. Kalau tidak, maka dibentuk suatu
kabinet koalisi berdasarkan kerjasama antara beberapa partai yang bersama-sama mencapai mayoritas
dalam badan legislatif. Beberapa negara, seperti Negera Belanda dan negara-negara Skandinavia, pada
umumnya berhasil mencapai suatu keseimbangan, sekalipun tidak dapat dielakkan suatu dualisme
antara pemerintah dan dewan perwakilan rakyat4.

Sistem Presidensial , Amerika Serikat yang mempertahankan ajaran Montesquieu, di mana


kedudukan tiga kekuasaan negara yaitu legislatif, eksekutif dan legislatif, terpisah satu sama lain secara
tajam dan saling menguji serta saling mengadakan perimbangan (check and balance). Kekuasaan
membuat undang-undang ada di tangan congress, sedangkan presiden mempunyai hak veto terhadap
undang-undang yang sudah dibuat itu. Kekuasaan eksekutif ada pada presiden dan pemimpin-pemimpin

3
C.S.T Kansil dan Christine. (2001). Ilmu Negara. Jakarta: Pradnya Paramita.
4
Kusnardi dan Bintan Saragih. (1993). Ilmu Negara. Jakarta: Gaya Media Pratama.
departemen, yaitu para menteri yang tidak bertanggung jawab pada parlemen. Karena presiden dipilih
oleh rakyat, maka sebagai kepala eksekutif ia hanya bertanggung jawab kepada rakyat.

Pelaksanaan kekuasaan kehakiman menjadi tanggung jawab Supreme Court (Mahkamah Agung),
dan kekuasaan legislatif berada di tangan DPR atau Konggres (Senat dan Parlemen di Amerika). Dalam
Praktiknya, sistem presidensial menerapkan teori Trias Politika Montesqueu secara murni melalui
pemisahan kekuasaaan (Separation of Power )5. Contohnya adalah Amerika dengan Chek and Balance.
Sedangkan yang diterapkan di Indonesia adalah pembagian kekuasaan (Distribution of Power).

Menyadari adanya kelemahan dari masing-masing sistem pemerintahan, negara-negara pun


berusaha memperbaharui dan berupaya mengkombinasikan dalam sistem pemerintahannya Hal ini
dimaksudkan agar kelemahan tersebut dapat dicegah atau dikendalikan. Misalnya, di Amerika Serikat
yang menggunakan sistem presidensial, maka untuk mencegah kekuasaan presiden yang besar,
diadakanlah mekanisme cheks and balance, terutama antara eksekutif dan legislatif.

Pada pemerintahan sistem referandum, pertentangan yang terjadi antara eksekutif (bundesrat) dan
legislatif (keputusan daripada rakyat) jarang terjadi. Anggota-anggota dari bundesrat ini dipilih
oleh bundesversammlung untuk waktu 3 tahun lamanya dan bisa dipilih kembali.

Sistem satu kamar , Beberapa pemerintahan sub-nasional yang menggunakan sistem legislatif
satu kamar antara lain adalah negara bagian Nebraska di Amerika Srikat, Queensland di Australia, semua
provinsi dan atau wilayah di Kanada dan Bundeslnder Jerman (Bavaria menghapuskan Senatnya pada
tahun 1999). Adapun di Britania Raya, Parlemen Skotlandia, Dewan Nasional Wales dan Dewan Irlandia
Utara yang telah meramping juga menganut sistem satu kamar.

Di beberapa negara, sistem dua kamar dilakukan dengan menyejajarkan unsur-unsur demokratis
dan kebangsawanan. Contohnya adalah Majelis Tinggi (House of Lords) Britania Raya, yang terdiri dari
sejumlah anggota hereditary peers. Majelis Tinggi ini merupakan sisa-sisa sistem kebangsawanan yang
dulu penah mendominasi politik Britania Raya, sementara majelis lainnya, Majelis Rendah (House of
Commons), anggotanya sepenuhnya dipilih.

Beberapa negara seperti Australia, Amerika Serikat, India, Brazil, Swiss dan Jerman, mengaitkan
sistem dua kamar mereka dengan struktur politik federal mereka. Di Amerika Serikat,
Australia dan Brazil misalnya, masing-masing negara bagian mendapatkan jumlah kursi yang sama di

5
C.S.T. Kansil. (1987). Hukum Antar Tata Pemerintahan (Comparative Government). Jakarta: Erlangga.
majelis tinggi badan legislatif, dengan tidak mempedulikan perbedaan jumlah penduduk antara masing-
masing negara bagian.

Di Britania Raya, sistem dua kamar ini dipraktekkan dengan menggunakan Majelis Tinggi(House
of Lords) dan Mejelis Rendah (House of Commons). Dan di Amerika Serikat sistem ini diterapkan
melalui kehadiran Senat dan Dewan Perwakilan.

Indonesia juga menggunakan sistem yang agak mendekati sistem dua kamar melalui kehadiran
Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), meskipun dalam
prakteknya sistem ini tidak sepenuhnya diberlakukan karena persidangan MPR tidak berlangsung sesering
persidangan DPR.

D. Perbandingan System Pemerintahan Berbagai Negara


1. Negara Republik Indonesia (presidensial)
Bentuk negara adalah kesatuan dengan prinsip otonomi yang luas dengan 35 provinsi termasuk
daerah istimewa.
Bentuk pemerintahan adalah republik dengan sistem presidensial.
Pemegang kekuasaan eksekutif adalah presiden sebagai kepala negara sekaligus kepala
pemerintahan.
Kabinet atau menteri diangkat dan diberhentikan serta bertanggungjawab kepada presiden.
Parlemen pemegang kekuasaan Eksekutif yang terdiri dari 2 kamar yaitu DPR dan DPD yang
merupakan sekaligus anggota MPR. Anggota DPR dipilih rakyat melalui pemilu dengan sitem
proporsional terbuka, DPD dipilih rakyat secara langsung melalui pemilu yang berasal dari
masing-masing provinsi sejumlah 4 orang setiap provinsi dengan sistem pemilihan distrik
perwakilan banyak.
Kekuasaan Yudikatif dijalankan oleh mahkamah agung dan badan peradilan di bawahnya6.

2. Prancis: (bukan parlementer resmi)


Presiden kuat karena dipilih langsung oleh rakyat.
Kepala negara adalah presiden dengan masa jabatan 7 tahun.
Presiden dapat bertindak dimasa darurat untuk menyelesaikan krisis.

6
Ibrahim R.dkk. (1995). Sistem Pemerintahan Parlementer dan Presidesial. Jakarta: Grafindo Persada.
Bila terjadi pertentangan antara kabinet dengan legislatif maka presiden membubarkan legislatif.
Jika suatu UU telah disetujui legislatif tapi tidak disetujui presiden maka diajukan kepada rakyat
melalui referendum atau persetujuan mahkamah konstitusional.
Mosi dan interplasi dipersukar harus disetujui oleh 10 % dari anggota legislatif.

3. Inggris : (Parlementer)
Kepala negara adalah raja, ratu sifatnya simbolis tidak dapat diganggu gugat.
UU dalam penyekenggaraan negara berrsifat konvensi.
Kekuasaan pemerintah ada di tangan Perdana Menteri.
Kabinet yang tidak memperoleh kepercayaan dari badan legislatif harus meletakkan jabatannya.
Perdana Menteri sewaktu-waktu dapat mengadakan pemilu.
Hanya ada 2partai besar yaitu konservatif dan partai buruh.

4. India :(Parlementer)
Badan eksekutif adalah presiden sebagai kepala negara dan perdana menteri yang dipimpin oleh
Perdana Menteri.
Presiden dipolih oleh lembaga legislatif baik dipusat maupun didaerah.
Pemerintah dapat menyatakan keadaan darurat dan pembatasan kegiatan bagi para pelaku politik
agar tidak mengganggu usaha pembangunan.

5. Amerika serikat : (presidensial)


Badan eksekutif adalah presiden bersama para menteri.
Masa jabatan presiden 4 tahun dan maksimal 2 periode.
Presiden terpisah dari legislatif atau kongres.
Presiden tidak dapat membubarkan kongres begitu juga kongres tidak dapat memberhentikan
presiden.
Mayoritas UU disiapkan pemerintah dan diajukan ke kongres.
Presiden punya wewenang untuk membatalkan atau memveto rancangan UU.
Veto presiden batal bila ditentang leh 2/3 anggota kongres.
Check and balances, presiden boleh memilih menterinya, tetapi dalam hal penetapan hakim
agung dan duta besar dan untuk mengadakan perjanjian internasional harus disetujui senat.
6. Pakistan : (parlementer kabinet)
Badan eksekutif adalah presiden dan menterinya yang beragama islam.
Perdana menteri adalah pembantunya tidak boleh merangkap anggota legislatif.
Presiden punya wewenang memveto RUU, veto gagal bila UU diterima 2/3 anggota legislatif.
Presiden berwenang membubarkan badan legislatif dan presiden harus mengundurkan diri dalam
jangka waktu 4 bulan dan mengadakan pemilu baru.
Dalam keadaan darurat reiden dapat mengeluarkan ketetapan yang diajukan ke legislatif paling
lama 6 bulan.
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Sistem pemerintahan pada umumnya berlaku, yaitu sistem pemerintahan parlementer dan sIstem
pemerintahan presidensial. Ciri utama parlementer adalah kekuasaan legislatif lebih kuat daripada
kekuasaan eksekutif dan kedudukan kepala negara ( raja, ratu dan presiden ) hanya sebagai simbol yang
tidak bisa diganggu gugat. Pada system presidensial, ciri yang paling menonjol antara lain dikepalai oleh
seorang presiden dan presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR. Oleh sebab itu, antara presiden dan
DPR tidak bisa saling menjatuhkan. Jika dibandingkan dengan sistem pemerintahan negara lain, sistem
pemerintahan presidensial di Indonesia adalah pemerintahan yang cenderung stabil, programnya lancer,
dan tidak terjadi krisis cabinet. Adapun kelemahannya jika menteri-menterinya tidak bersih, jujur, dan
profesiona,.maka akan terjadi salah uruh dan tumbuh suburnya praktik KKN.

Sistem pemerintaha diartikan sebagai suatu tatanan utuh yang terdiri atas berbagai komponen
pemerintahan yang bekerja saling bergantungan dan memengaruhi dalam mencapaian tujuan dan fungsi
pemerintahan yang terdiri atas dua jenis yaitu presidensial dan parlementer. Sistem pemerintahan negara
menggambarkan adanya lembaga-lembaga yang bekerja dan berjalan saling berhubungan satu sama lain
menuju tercapainya tujuan penyelenggaraan negara. Lembaga-lembaga negara dalam suatu sistem politik
meliputi empat institusi pokok, yaitu eksekutif, birokratif, legislatif, dan yudikatif. Selain itu, terdapat
lembaga lain atau unsur lain seperti parlemen, pemilu, dan dewan menteri. Pembagian sistem
pemerintahan negara secara modern terbagi dua, yaitu presidensial dan ministerial (parlemen). Pembagian
sistem pemerintahan presidensial dan parlementer didasarkan pada hubungan antara kekuasaan eksekutif
dan legislatif. Dalam sistem parlementer, badan eksekutif mendapat pengawasan langsung dari legislatif.
Sebaliknya, apabila badan eksekutif berada diluar pengawasan legislatif maka sistem pemerintahannya
adalah presidensial. Dalam sistem pemerintahan negara republik, lembaga-lembaga negara itu berjalan
sesuai dengan mekanisme demokratis, sedangkan dalam sistem pemerintahan negara monarki, lembaga
itu bekerja sesuai dengan prinsip-prinsip yang berbeda.

Sistem pemerintahan suatu negara berbeda dengan sistem pemerintahan yang dijalankan di
negara lain. Namun, terdapat juga beberapa persamaan antar sistem pemerintahan negara itu. Misalnya,
dua negara memiliki sistem pemerintahan yang sama.
DAFTAR PUSTAKA

- C.S.T Kansil dan Christine. (2001). Ilmu Negara. Jakarta: Pradnya Paramita.
- C.S.T. Kansil. (1987). Hukum Antar Tata Pemerintahan (Comparative Government). Jakarta:
Erlangga.
- Ibrahim R.dkk. (1995). Sistem Pemerintahan Parlementer dan Presidesial. Jakarta: Grafindo
Persada.
- Inu Kencana Syafiie. (1994). Ilmu Pemerintahan. Bandung: Mandar Maju.
- Kusnardi dan Bintan Saragih. (1993). Ilmu Negara. Jakarta: Gaya Media Pratama.