Anda di halaman 1dari 12

Pengertian Tentang Saktah, Tashil, Isymam, Naql dan

Imalah Dalam Bacaan Al-Qur'an

Dalam kaidah membaca al-Qur'an, ada perubahan cara membaca


dengan pola tertentu, ada juga yang tidak menggunakan pola tertentu,
sebagaimana dalam grammer bahas Inggris ada yang disebut regular
verb dan irregular verb. Perubahan cara baca yang tidak beraturan ini
juga dikenal dalam metode qira'ah Imam Ashim yang banyak dipakai
kaum Muslim di Indonesia, kaidah ini dinamakan Gharib.
Qiraah Imam Ashim riwayat Hafs mulai berkembang dan menyebar luas
pada masa pemerintahan Turki Utsmani yang didukung oleh banyaknya
cetakan Al-Quran dari Arab Saudi sampai menyebar ke seluruh dunia,
waktu penyebarannya terutama pada musim-musim haji.
Gharib menurut bahasa artinya tersembunyi atau samar, sedangkan
menurut istilah Ulama qurra, gharib artinya sesuatu yang perlu
penjelasan khusus dikarenakan samarnya pembahasan atau karena
peliknya permasalahan baik dari segi huruf, lafadz, arti maupun
pemahaman yang terdapat dalam Al-Quran. Adapun bacaan-bacaan yang
dianggap gharib (tersembunyi/samar) dalam qiraah Imam Ashim riwayat
Hafs diantaranya adalah : Imalah, Isymam, Saktah, Tashil, dan Naql.

Jenis Bacaan Spesial

1. Saktah (diam, tidak bergerak)


Ialah berhenti sejenak tanpa bernafas. Adapun tanda saktah yang
terdapat dalam al-Qur'an biasanya dengan ( )dan kadang-kadang
juga dengan ( )saja.
Di dalam al-Qur'an bacaan saktah ada pada 4 tempat, yakni:
1. Surah al-Kahfi ayat 1dan 2:
2. Surah Yasin ayat 52:
3.Surah al-Qiyamah ayat 27:

4. Surah al-Muthaffifiin ayat 14:

2. Tashil (memberi kemudahan, keringanan atau menyederhanakan)


Cara membaca dua hamzah yang berjejer, hamzah pertama dibaca biasa
sedangkan yang kedua disuarakan antara hamzah dan alif (samar-
samar).
Di dalam al-Qur'an bacaan tashil hanya ada pada 1 tempat, yaitu:

1. Surah Fushshilaat ayat 44:
3. Isymam (mencampurkan).
Adalah mencampurkan dammah pada sukun dengan memoncongkan bibir
atau mengangkat dua bibir (mecucu - Jawa).
Dalam al-Qur'an bacaan ini hanya terdapat pada 1 tempat, yakni:
1. Surat Yusuf ayat 11:

4. Naql (memindah)
Adalah membaca lam sukun (" )al" diganti dengan harakat huruf
hamzah sesudahnya (i) "i" sehingga menjadi (" )ali" kemudian huruf
hamzah kasrah (i) "i" dari kata "" dibuang, sehingga berbunyi (lismu)
kemudian dihubungkan dengan " " maka menjadilah bacaan (bi'sa

lismu).
Dalam al-Qur'an, ayat yang mesti dibaca naql hanyalah ada pada 1
tempat, yakni:

1. Surah al-Hujurat: 11:

5. Imalah (memiringkan atau membengkokan)


Cara merubah bacaan "RO" menjadi "RE" (seperti "E" dalam kata sate).
Dalam al-Qur'an, lafadz yang dibaca dengan metode ini ada pada 1
tempat, yakni:
1. Surat Hud ayat 41:

Kaidah Bacaan Khusus Lainnya

Disamping hal-hal tersebut di atas, ada hal-hal lain yang juga harus
diperhatikan oleh qari' agar ia terhindar dari kesalahan membaca, karena
beberapa kata berikut agak berbeda lafadz dengan yang umum diketahui,
sebagai unsur kehatian-hatian, diantaranya adalah:

1. Shad-nya dibaca sin. ( Q.S. Al-Baqarah: 245).dan ( Q.S.
Al-A'raf: 69)
2. "S" nya boleh dibaca shad boleh juga sin. ( Q.S. Athur: 37).
3. Shadnya tetap dibaca shad ( Q.S. Al-Ghosiyah: 22).
4. Ha'-nya dibaca dhommah. (Q.s. Al-Fath: 10).

5. Ha'nya dhommah dan pendek ketika washol ( disambung).(Q.S.
al-Kahfi: 63).
6. Qaf-nya mati, ha-nya kasrah dan pendek. ( Q.S. An-Nur: 52).
7. Ha'-nya dhommah dan pendek ( Q.S. Az-Zumar: 7).
8. Lam-nya kasrah, Ha'-nya kasrah dan pendek ( Q.S. Az-Zukhruf:
88).
9. Ha'-nya dibaca pendek, sebab bukan Ha' dhomir (kata ganti),
( Q.S. Hud: 91), ( Q.S. al-Mu'minun: 19), demikian juga
lafadz .
10. Fa'-nya dibaca pendek, ( Q.S.al-Muthaffifiin: 31), demikian juga
lafadz:
11. Kaf-nya dibaca fathah. (Q.S. an-Nahl: 76).
12. Pada waktu membaca ba-nya kedua lafadz berikut, hendklah
berhati-hati jangan sampai salah membaca harakat dan panjang
pendeknya. ( Q.S. an-Nisa: 23), ( Q.S. al-Ahzab: 59).
13. Lam-nya yang kedua dibaca kasrah. ( Q.S. Ar-Ruum: 22).
14. Mim-nya dibaca kasrah ( Q.S. Hud: 66) dan (Q.S. al-Ma'arij:
11).
15. Dzal-nya fathah,sedang nun-nya dhommah. ( Q.S.

Fushshilat: 29).
16. Dal-nya fathah dan Nun-nya kasroh. ( Q.S. Al-Khasyr: 17).
17. Dhod-nya boleh dibaca fathah atau dhommah. Dalam 1 ayat ada 3
kata, apabila yang awal dibaca fathah, maka semuanya harus
dibaca fathah, dan apabila yang pertama dibaca dhommah, maka
semuanya harus dibaca dhommah. ( Q.S. ar-Ruum: 54).

18. Lam-nya ( )tanwin, kemudian di idh-ghaomkan pada wawu ketika

washol (sambung). Lafadh ( )ini bermakna qorobah bukan

ististna. ( Q.S. at-Taubah: 8 dan 10).
19. Ta-nya dibaca fathah dan tanpa ( ,(( Q.S. at-Taubah:
100).
20. () dibaca panjang 2 ketukan, ( Q.S. al-Isra': 5), ( Q.S.
al-A'raf: 38-39), demikian juga lafadz ( )
dengan ( )
21. Hamzahnya pendek. (Q.S. Al-A'raf: 145).
22. Wawu-nya dibaca pendek. ( Q.S. al-Mulk: 3).

23. (Q.S.al-Baqarah:277) dan (Q.S. at-Taubah: 5 dan 11),

(Q.S.al-Hajj: 41), Ta-nya fathah, wawu-nya dhommah ketika
washol (sambung), dan mati ketika waqof (berhenti). Ini fi'il Madhi
(kata lampau) bukan fi'il 'Amr (kata perintah).
Bacaan-bacaan Gharib dari Imam Ashim Riwayat Hafs

A. Pendahuluan
Berbicara tentang al-Quran memang bagai lautan yang tak bertepi, semakin jauh ia dikejar semakin
luas pula jangkauannya. Dari aspek manapun al-Quran dikaji dan diteliti, ia tidak pernah habis atau
basi, bahkan semakin kaya dan selalu aktual. Mungkin itulah salah satu mukjizat yang terpancar dari
kitabullah sebagai bukti kebenaran risalah Allah yang dititipkan pada Rasul-Nya, yaitu al-Islam.
Aspek bacaan al-Quran atau qiraah dalam pengertian yang luas, bukan hanya sekedar melafadzkan
huruf Arab dengan lancar- merupakan salah satu aspek kajian yang paling jarang diperbincangkan
baik kalangan santri atau kaum terpelajar, padahal membaca al-Quran tergolong ibadah mahdlah
yang paling utama. Hal ini barangkali bisa dimengerti, mengingat kurangnya kitab atau buku yang
secara panjang lebar mengupas ilmu qiraah dan minimnya guru al-Quran yang memiliki kemampuan
memadahi tentang itu dan juga terlalu padatnya disiplin ilmu yang dipelajari. Tingginya semangat
para santri mempelajari dan mencari dalil batalnya wudlu misalnya dari al-Quran, hadis dan
pendapat-pendapat ulama, ternyata tidak diikuti oleh semangat mentashihkan bacaan atau mencari
dalil bacaan saktah, madd, ghunnah yang sama-sama wajib dan penting bagi kaum muslimin.

Dari fenomena di atas perlu kiranya ditumbuhkan lagi semangat untuk mengkaji aspek bacaan al-
Quran yang masih misteri bagi kebanyakan orang agar kembali diminati sebagaimana begitu
semangatnya anak-anak kecil di tempat-tempat pendidikan al-Quran untuk bisa membaca dengan
lancar.
Sebagai akibat dari kurangnya pengetahuan mereka tentang bacaan al-Quran, seringkali dianggap
ilmu qiraah (yang dipersempit dengan ilmu tajwid) itu hanya mempelajari makhraj dan sifat huruf,
hukum nun atau mim mati dan tanwin, dan mad saja, sehingga mereka membaca al-Quran apa
adanya sebagaimana yang terdapat dalam tulisan mushaf atau rasm, padahal ada banyak kalimat yang
cara bacanya tidak sama persis dengan tulisannya, seperti bacaan imalah, tashil, isymam dan lain
sebagainya.
Dalam kesempatan ini penulis berusaha memberikan sedikit pemahaman tentang bacaan gharib dari
bacaan Imam Ashim dari riwayat Hafs yang banyak dianut oleh hampir seluruh kaum muslimin
sedunia, juga alasan-alasan secara bahasa terntang proses atau asal mula terjadinya bacaan gharib
tersebut.
Alasan-alasan (ihtijaj) kebahasaan dari bacaan gharib al-Quran yang akan dipaparkan penulis di sini,
hanyalah sebutir debu dibanding dari (besar dan luasnya) hikmah atau rahasia sesungguhnya yang
dikehendaki Allah dari perbedaan-perbedaan bacaan al-Quran tersebut. Dengan kata lain alasan-
alasan tersebut bukanlah faktor utama yang mendorong shahibul Qaul (Allah) memilih kata atau
lahjah tertentu, akan tetapi hanya sebuah usaha memahami rahasia-rahasia Allah melalui tanda-tanda
dan ilmu-ilmu yang ia titipkan pada hambanya. Imam Nasiruddin Ahmad mengatakan bahwa ihtijajul
qiraah tidak dimaksudkan mengkoreksi bacaan atau bahasa al-Quran dengan kaidah-kaidah bahasa
Arab, akan tetapi sebaliknya proses penarikan argumen atau alasan itu sebagai usaha mengkoreksi
kaidah-kaidah bahasa Arab dengan bahasa al-Quran (Abu Thahir, 1994:290).
Seringkali argumen-argumen yang dikemukakan mengenai bentuk qiraah tertentu kurang relevan bila
diqiyaskan dengan bacaan imam lain dalam kata yang sama atau hampir sama. Namun, dari sini justru
menjadikan kita semakin meyakini bahwa perbedaan bentuk bacaan tersebut bukan hasil kreativitas
imam-imam qiraah atau para pakar bahasa Arab di masa itu, akan tetapi mereka mewarisinya dari
para sahabat, dari Nabi, dari Malaikat Jibril, dan dari Allah azza wa jalla.

B. Sekilas tentang bacaan gharib Imam Ashim Riwayat Hafs


Salah satu imam qiraat yang bacaannya paling banyak diikuti adalah Abu Bakar Ashim bin Abi An-
Najud (w. 120 H), yang terkenal dengan nama Imam Ashim. Qari asal Kufah ini berguru pada Abu
Abdurrahman As-Sulami yang merupakan murid langsung Ali bin Abi Thalib. Beliau juga belajar al-
Quran dari Zurr bin Hubaisy yang merupakan murid dari Abdullan bin Masud. Beliau mengajarkan
al-Quran yang berasal dari jalur Ali bin Abi thalib kepada muridnya Hafs bin Sulaiman, sementara
untuk muridnya yang lain Abu Bakar bin Iyasy, beliau mengajarkan al-Quran yang berasal dari jalur
Abdullah bin Masud.
Para ulama terkenal era tabiin banyak yang pernah berguru kepadanya, diantaranya Hafs bin
Sulaiman, Abu Bakar bin Iyasy Syubah, al-Amasy, Nuaim bin Maisarah, Atha bin Abi Rabah. Dua
murid yang disebut pertama di atas menjadi perawi utama dari Ashim. Antara Hafs (w.180 H) dan
Syubah (w.193 H) terdapat perbedaan 520 huruf meski keduanya sama-sama murid dari Ashim.
Bacaan Hafs mulai tersebar luas pada masa pemerintahan Turki Utsmani didukung oleh banyaknya
cetakan al-Quran dari Saudi Arabia hingga ke seluruh dunia, padahal sebelumnya hanya mendominasi
di kawasan timur saja (benua Asia).
Sebelum diulas tentang bacaan gharib versi Hafs, ada baiknya dijelaskan terlebih dahulu di sini
pengertian gharib itu. Istilah gharib terambil dari bahasa Arab, menurut Ibrahim Musthafa (tt: 647/2)
ia merupakan isim sifat dari kata gharaba yaghribu yang artinya ghamudla (sulit) dan khafiya
(samar). Dalam literature Arab, istilah gharib al-Qiraat tidak popular dalam peristilahan ilmu qiraat
dan tidak pernah dipakai dalam tulisan para pakar ilmu qiraat. Istilah ini banyak dipakai dalam buku-
buku tajwid di Indonesia. Misalnya, metode qiraati memasukkan bahasan gharib al-qiraah tersebut
pada jilid 6. Istilah tersebut dimaksudkan sebagai bacaan yang jumlahnya terbatas dan orang awam
jarang memahami dan mengenal bacaan tersebut. Adakalanya istilah ini dimaknai sebagai bacaan-
bacaan al-Quran yang mana antara tulisan dan cara bacanya sedikit berbeda. Adapun bacaan-bacaan
yang dianggap gharib adalah imalah, tashil, isymam, naql, badal, saktah, shilah.

C. Pembahasan
1. Saktah
Secara bahasa kata saktah berasal dari bahasa Arab: yang berarti diam; tidak
bergerak. Adapun dalam istilah ilmu qiraat, saktah adalah memutus kata sambil menahan nafas
dengan niat meneruskan bacaan (M. Makky Nasr, tt:153). Dalam qiraah sabah bacaan saktah
banyak dijumpai pada bacaannya Imam Hamzah (baik dari riwayat khalaf maupun khalaf), yaitu
setiap ada hamzah qatha yang didahului tanwin atau al tarif, seperti ( Arwani Amin,
tt:3-6).
Sedangkan dalam bacaan Imam Ashim riwayat Hafs; di al-Quran bacaan saktah hanya ada di empat
tempat, yaitu:
a. Surat al-Kahfi ayat 1 :

) 1 (


)2(
1. Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al kitab (Al-Quran) dan Dia
tidak Mengadakan kebengkokan di dalamnya;
2. (Sebagai bimbingan) yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah
dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh,
bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik,

b. Surat Yasin ayat 52 :





Mereka berkata: Aduhai celakalah kami! siapakah yang membangkitkan Kami dari tempat-tidur
Kami (kubur)?. Inilah yang dijanjikan (tuhan) yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-
rasul(Nya).

c. Surat al-Qiyamah 27 :
) 26(
)27(

26. Sekali-kali jangan. apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan, 27. Dan
dikatakan (kepadanya): Siapakah yang dapat menyembuhkan?,

d. Surat al-Muthaffifin 14 :


Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.

Pada saktah (1), alasan linguistiknya adalah bahwa susunan kalimat pada surat Al-Kahfi ayat 1 sudah
sempurna. Dengan kata lain, apabila seorang qari mewaqafkan bacaan pada kata , maka ia sudah
berhenti pada waqaf tamm (sempurna). Namun setelah melihat kalimat setelahnya itu ternyata
terdapat kata , kalimatnya menjadi rancu. Kata bukan sifat/naat dari kata , melainkan jadi
hal atau maful bih, sehingga jelas tidak tepat bila kalimat tersebut diterjemahkan: Allah tidak
menjadikan al-Quran sebagai ajaran yang bengkok serta lurus. Mestinya terjemahannya adalah:
Allah tidak menjadikan al-Quran sebagai ajaran yang bengkok, melainkan menjadikannya sebagai
ajaran yang lurus. Terjemahan tersebut sesuai dengan analisis sintaksis dan analisis Irab oleh Ad-
Darwisy.
Menurut Ad-Darwisy (2002:530/V) kata dinashabkan sebagai hal (penjelas) dari kalimat
, sedang Az-Zamakhsyari berpendapat bahwa kata tersebut dinashabkan lantaran menyimpan
fiil berupa . Berbeda juga dengan pendapat Abu Hayyan, menurutnya kata itu badal
mufrad dari badal jumlah . Tidak mungkin seorang qari memulai bacaan (ibtida)
dari , sebagaimana juga tidak dibenarkan meneruskan bacaan (washal) dari ayat sebelumnya,
karena beberapa alasan di atas. Jadi, kalimat di atas baik diwashalkan maupun diwaqafkan sama-sama
tidak tepat, sebagai solusi dari keduanya adalah saktah.
Demikian juga halnya pada saktah (2) pada ayat: . Menurut Ad-
Darwisy (2002:213/VIII) kata itu mubtada dan khabarnya

. Berbeda halnya dengan
pendapat Az-Zamakhsyari yang menjadikan kata itu sifat dari , sementara sebagai mubtada
yang khabarnya tersimpan, yaitu kata atau . Dari aspek makna, kedua pendapat di atas dapat
dipakai. Pertama, orang yang dibangkitkan dari kuburnya itu mengatakan: Siapakah yang
membangkitkan dari tempat tidur kami (yang) ini. Apa yang dijanjikan Allah dan dibenarkan oleh
para rasul ini pasti benar. Kedua, orang yang dibangkitkan dari kuburnya itu mengatakan: Siapakah
yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami. Inilah yang dijanjikan Allah dan dibenarkan oleh
para rasul ini pasti benar. Dengan membaca saktah, kedua makna yang sama-sama benar tersebut
bisa diakomodir, sekaligus juga untuk memisahkan antara ucapan malaikat dan orang kafir.
Dijelaskan dalam beberapa tafsir bahwa kata dan seterusnya bukan perkataan orang kafir,
melainkan perkataan malaikat atau orang mukmin (As-Shabuni, 1997:16/III).
Sedangkan untuk pada pada dan pada yaitu untuk menekankan fungsi
sebagai kata tanya dan fungsi sebagai kata penegas, juga untuk mempertegas idharnya lam dan nun
karena biasanya dua huruf tersebut bila bertemu ra diidghamkan sehingga bunyi keduanya hilang
(Al-Qaisy, 1987:II/55). Ibnu Zanjalah berpendapat bahwa kata dan itu perlu dipisahkan untuk
menghindari idgham, sebab masing-masing merupakan kata terpisah yang memiliki makna tersendiri.
Selain empat tempat di atas, sebetulnya ada dua lagi saktah yang dianjurkan oleh para imam qiraat
termasuk Imam Ashim, yaitu:
1. Pertemuan antara surat al-Anfal dan surat at-Taubah:


()

2. Pertemuan dua ha pada surat al-Haqqah, ayat 28-29:

)(

Saktah pertama, secara linguistik digunakan untuk memilah dua surat yang berbeda meski tidak
dipisah dengan basmalah, sementara saktah kedua dimaksudkan untuk membedakan dua ha, ha
saktah pada dan ha fiil pada .

2. Imalah
Secara bahasa imalah berasal dari kata )( yang berarti memiringkan atau
membengkokkan (tombak), sedangkan secara istilah imalah berarti memiringkan fathah ke arah
kasrah atau memiringkan alif ke arah ya (Abu Thahir, 311). Bacaan ini banyak ditemui pada bacaan
Imam Hamzah dan al-Kisai, yaitu di antaranya pada kata yang berakhiran alif layyinah, seperti
. Namun pada riwayat Imam Hafs hanya terdapat pada kata ( QS. Hud:41).
Dan Nuh berkata: Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu
berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.

Dalam ilmu qiraat, ada bacaan yang menyerupai imalah, yakni taqlil atau baina baina dari qiraat
Imam Warsy, terutama pada lafadz yang berwazan ( Arwani Amin, 18), hanya saja
taqlil lebih mendekati fathah seperti bunyi re pada kata mereka.
Bacaan imalah diakui termasuk salah satu dialek bahasa Arab standar (fasih) untuk penduduk Najed
dari suku Tamim, Qais dan Asad. Bacaan imalah ini bermanfaat untuk memudahkan pengucapan
huruf, karena lidah itu akan terangkat bila membaca fathah dan turun bila membaca imalah dan
tentunya turunnya lidah itu lebih ringan dari terangkatnya lidah (Abu Thahir, 1994:312). Juga dengan
bacaan imalah, huruf ya yang merupakan asal dari alif layyinah tersebut akan tetap tampak ketika
dibaca.
Alasan diimalahkannnya kata majraha adalah untuk membedakan antara kata majraha yang
berarti berjalan di daratan dengan kata majraha yang berarti berjalan di laut. Menurut kamus
kontemporer bahasa Arab Mujam al-lughah al-Arabiyyah al-muashirah, kata majraha berasal
dari kata jara yang artinya berjalan atau mengalir dan kata tersebut bisa digunakan baik berjalan di
atas daratan maupun di atas air, hanya saja kecendrungannya perjalanan kendaraan (misalnya kapal
laut) di air tidak stabil sebagaimana di darat. Adakalanya dihempas oleh ombak atau terpaan angin
besar, sehingga sangat rasional bila kata majraha itu diimalahkan.

3. Naql (Menggeser harakat)

Secara bahasa naql berasal dari kata berarti memindah; menggeser. Adapun
secara istilah naql berarti memindahkan harakat ke huruf sebelumnya, sebagaimana yang
banyak ditemui pada riwayat Imam Hamzah dan Warsy, yakni setiap ada al tarif atau tanwin
bertemu hamzah, contoh terbaca dan terbaca .
Dalam riwayat Hafs bacaan naql hanya ada di satu tempat yaitu pada kata ( QS. al-
Hujurat:11).
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang
lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan
perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan
janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung
ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa
yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.

Alasan bacaan naql pada kata yaitu terdapatnya dua hamzah washal (hamzah yang tidak terbaca
di tengah kalimat), yakni hamzah pada al tarif dan ismu (salah satu dari sepuluh kata benda yang
tergolong hamzah washal), yang mengapit lam sehingga kedua hamzah tersebut tidak terbaca
ketika disambung dengan kata sebelumnya. Di antara manfaat bacaan naql ini adalah untuk
memudahkan umat Islam membacanya.

4. Badal/Ibdal (mengganti huruf)

a. Penggantian Hamzah dengan Ya


Badal/ibdal yang dimaksud di sini adalah ( mengganti hamzah sukun dengan ya.
Semua imam qiraat sepakat mengganti hamzah qatha bila tidak disambung dengan kata
sebelumnya- yang jatuh setelah hamzah washal dengan ya sukun, seperti ( QS. Yunus:15),
( QS .al-Ahqaf:4). Di bawah ini uraian ayat selengkapnya:
Katakanlah: Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan
kepada-Ku Apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau Adakah mereka berserikat (dengan
Allah) dalam (penciptaan) langit? bawalah kepada-Ku kitab yang sebelum (Al Quran) ini atau
peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar
(QS .al-Ahqaf:4)

Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak
mengharapkan Pertemuan dengan Kami berkata: Datangkanlah Al Quran yang lain dari ini[675]
atau gantilah dia. Katakanlah: Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. aku
tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai
Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat). (QS. Yunus:15)

Adapun bacaan Imam Warsy, al-Susy dan Abu Jafar, hamzah qatha dalam kalimat tersebut diganti
ya ketika diwashalkan (Al-Qadli, 1981:143).

b. Penggantian Shad dengan Siin


Yakni mengganti shad dengan siin pada kata ( QS. al-Baqarah:245) dan ( QS. al-Araf:69)
untuk selain bacaan Nafi, al-Bazzi, Ibnu Dzakwan, Syubah, Ali Kisai, Abu Jafar dan Khalad. (Al-
Qadli, 1981:119) sedangkan pada ( QS. al-Ghasyiyah:22) Imam Ashim membaca
sebagaimana tulisan mushaf, lain halnya dengan ( QS. al-Thur:37) kata ini bisa dibaca
dengan mengganti shad dengan siin atau dibaca tetap sebagaimana tulisannya (Al-Qadli, 1981:306).

Alasan digantinya shad dengan siin pada semua kalimat di atas yaitu mengembalikan pada asal
katanya, yaitu . Sedangkan alasan ditetapkannya shad yaitu mengikuti
rasm/khat usmani al-Quran dan juga untuk menyesuaikan sifat ithbaq dengan huruf sesudahnya (tha)
yang mempunyai sifat istila (Al-Qaisy, 1987:I/34).

5. Isymam
Yaitu membaca harakat kata yang diwaqaf tanpa ada suara dengan mengangkat dua bibir setelah
mensukunkan huruf yang dirafa, seperti . Dalam bacaan Imam Hisyam juga mengisymamkan
kata seperti dengan mencampur dlammah dan kasrah dalam satu huruf, demikian juga Imam
Hamzah membaca isymam kata dengan memadukan bunyi dan ( Al-Qadli,
1981:15). Namun dalam bacaan Hafs isymam hanya ada kata . yakni lidah melafadzkan
tanpa ada perubahan suara alias tetap sama dengan tulisannya. Berikut ini ayat selengkapnya:
Mereka berkata: Wahai ayah Kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai Kami terhadap Yusuf,
Padahal Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang mengingini kebaikan baginya.

Kalau diamati, ternyata rasm al-Quran hanya menulis satu nun yang ditasydid. Pertanyaan yang
muncul, mana dlammahnya? sehingga untuk mempertemukan keduanya dipilih jalan tengah yaitu
bunyi bacaan mengikuti rasm, sedang gerakan bibir mengikuti kata asal. Dalam bacaan imam Ibnu
Amir untuk riwayat As-Susy, seperti bacaan di atas disebut idgham kabir, yakni bertemunya dua
huruf yang sama dan sama-sama hidup, lalu melebur menjadi satu huruf. Dalam bacaan Imam Ashim,
hanya dikenal satu idgham saja, yaitu idgham shagir (mengidghamkan dua huruf yang sama, yang
salah satunya huruf mati).
Secara bahasa, hal itu bisa difahami bahwa memang asal dari kalimat itu terdapat dua nun yang
diidharkan, nun pertama dirafakan dan kedua dinashabkan (Al-Qaisy, 1987:II/161). Nun pertama
dirafakan (didlammahkan) karena ia termasuk fiil mudlari yang tidak kemasukan amil nawashib
maupun jawazim. Kata la yang masuk pada kata tamanu adalah nafy (yang berarti tidak) bukan
nahy (yang berarti jangan). Hal itu diambil dari pemahaman konteks ayat:




(Mereka, saudara-saudara Yusuf, berkata: wahai ayah kami, mengapa engkau tidak percaya pada
kami untuk melindungi Yusuf, padahal kami selalu menasehatinya).

6. Tas-hil
Arti tashil secara bahasa memberi kemudahan atau keringanan, sedangkan dalam istilah qiraat, tashil
diartikan membaca hamzah kedua dari dua hamzah yang beriringan dengan bunyi leburan hamzah
dengan alif, seperti dan lain-lain.
Hanya saja dalam riwayat Hafs bacaan tashil hanya satu yaitu pada QS. al-Fusshilat:44).
Dan Jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka
mengatakan: Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya? Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa
asing sedang (Rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar
bagi orang-orang mukmin. dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan,
sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari
tempat yang jauh.

Ketika bertemu dua hamzah qatha yang berurutan pada satu kata maka melafadzkan kata semacam
ini bagi orang Arab terasa berat, sehingga bacaan seperti ini bisa meringankan.
Juga ada tashil yang berasal dari mad lazim, sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam Nasr Makky
(tt:137) ada enam tempat, yaitu
1. Surat al-Anam ayat 143 :

2. Surat al-Anam ayat 144 :
3. Surat Yunus 51
:
4. Surat Yunus 91 :
5. Surat Yunus 59 :
6. Surat al-Naml 59
:

7. Madd & Qasr


Dalam qiraat khusnya bacaan Hafs, banyak ditemukan kata yang tertulis dalam rasm usmani pendek
tapi dibaca panjang dan tertulis panjang dibaca pendek, di antaranya:
a- terbaca
Imam Ashim dan Ali Kisai membaca mim dengan alif, sedang yang lain membaca pendek. Mereka
yang membaca dengan alif beralasan sesuai dengan ayat al-Quran : dan bukan
juga karena maalik berarti dzat yang memiliki, sedangkan malik berarti tuan atau penguasa
sehingga dalam Allah berfirman: yang berarti tuhan manusia dan tidak cocok makna yang
seperti itu untuk kata hari pembalasan ( Al-Qaisy, 1987:I/26).

b- terbaca ketika washal


Alasan dipendekkannya nun ketika washal pada semua kata ( dlamir yang berarti saya) karena
fungsi alif tersebut hanya berfungsi menjelaskan harakat sebagaimana menambahkan ha ketika
berhenti () . Ketika ada kata benda yang hurufnya sedikit lalu diwaqafkan dengan sukun maka
bunyinya akan janggal dan diberi tambahan alif itu agar bunyi nun tetap sebagaimana asalnya.
Sedangkan tidak ditambahkannya alif ketika washal karena nun sudah berharakat (Al-Qaisy,
1987:II/61).
Ada juga lafadz yang mirip dengan yaitu pada QS. Al-Kahfi:38. Berikut ini paparan ayatnya:
Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun
dengan Tuhanku.

yakni dibaca pendek ketika washal dan dibaca panjang ketika waqaf. Hal itu dikarenakan asal dari
adalah + dan bukan + .

c-
Imam Nafi, Abu Bakar, Hisyam, al-Kisai membaca kata di atas dengan tanwin, sementara yang lain
termasuk Imam Ashim riwayat Hafs membacanya dengan tanpa tanwin. Semua ulama
mewaqafkannya dengan alif kecuali Hamzah dan Qonbul, keduanya mewaqafkan tanpa alif (Al-
Qaisy, 1987:II/352).
Alasan mereka yang mewaqafkan dengan alif adalah karena mengikuti rasm atau khot mushaf yang
mencantumkan alif dan ketika washal alifnya tidak terbaca karena sighat muntahal jumu yang
termasuk isim ghairu munsharif sehingga tidak boleh ditanwin. Sedangkan
meskipun bukan termasuk jama akan tetapi ia disamakan dengan syair yang akhir baitnya terdapat
fathah yang dipanjangkan dengan alif (Al-Qaisy, 1987:II/353).

d-
Dalam rasm usmani ada beberapa huruf yang tertulis tapi tidak terbaca seperti , ada
pula yang tak tertulis tapi terbaca seperti . Inilah yang merupakan keunikan dari rasm al-
Quran yang penuh rahasia dan mukjizat.

8. Shilah
Kaidah umum yang berkaitan dengan ha dlamir berbunyi bahwa apabila ada ha dlamir yang tidak
didahului huruf mati maka harus dipaanjangkan seperti , dan juga untuk menguatkan huruf ha
perlu ditambahkan huruf mad setelahnya, karena tidak ada alasan yang mengharuskan membuang
huruf setelah ha dan huruf sebelumnya berharakat, inilah ijma para ulama qiraah (Al-Qaisy,
1987:I/44), sebaliknya apabila ha didahului huruf yang disukun maka dibaca pendek, seperti .
Para ulama qurra kecuali Ibnu Katsir, kurang senang menggabungkan dua huruf sukun yang dipisah
oleh huruf lemah yaitu ha, sehingga mereka membuang huruf mad setelah ha dan inilah madzhab
Imam Sibawaih (Al-Qaisy, I/42).
Kendatipun demikian dalam riwayat Hafs ditemukan ha dlamir yang dipanjang walau didahului
huruf mati seperti ( QS. al-Furqan:69). Dalam hal ini Imam Hafs sama bacaannya dengan
Ibnu Katsir, yaitu membaca shilah ha (panjang). Alasannya diketahui bahwa ha adalah huruf lemah
sebagaimana juga hamzah, sehingga ketika ha dikasrahkan, maka sebagai ganti dari wawu sukun
adalah ya untuk menguatkan ha. Dalam perkataan Arab sendiri jarang dijumpai wawu sukun yang
didahului kasrah, sehingga menjadi atau ( Al-Qaisy, 1987:I/42). Dan ada pula ha yang
dipendekkan (kendatipun tidak didahului huruf mati) dengan mendlammahkan ha tanpa shilah, yaitu
( QS. Al-Zumar:7), bacaan seperti juga dijumpai pada bacaan Imam Hamzah, Nafi, Yaqub
(Al-Qadli, 1981:274).
Alasan dipanjangkannya kata yaitu mengembalikannya pada asalnya, yang mana berasal dari
kata . Ketika digabung dengan menjadi , akan tetapi karena ha didahului ya sukun yang
identik dengan kasrah maka harakat ha harus disesuaikan dengan harakat sebelumnya dan mengganti
huruf mad wawu menjadi ya untuk menyesuaikannya dengan kasrah sehingga menjadi dan huruf
mad diganti dengan harakat kasrah berdiri: . Al-Khalidi (2004:50) menyebut ha tersebut dengan
istilah haul khafdli (ha panjang yang berfungsi merendahkan). Menurutnya konteks ayat itu
memang menghendaki dipanjangkannya ha tersebut. Ayat itu menceritakan beberapa dosa dan
kemaksiatan yang tidak akan dilakukan oleh ibadur rahman (hamba pilihan Allah yang pengasih).
(yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu,
dalam Keadaan terhina,

Sebagai konsekuensi atas dosa yang dilakukan, mereka akan mendapatkan siksa yang pediah serta
abadi dalam kehinaan. Saat kita memanjangkan ha pada fii-hii, seakan-akan kita ikut membantu
melemparkan mereka ke neraka serta ikut menjerumuskan para pelaku dosa tersebut ke jurang
kehinaan (khafdlu).
Mengenai alasan dipendekkannnya ha pada kata dan semacamnya yaitu mengembalikannya
pada tulisan mushaf yang tidak terdapat wawu mad setelah ha.
Demikian juga dalam al-Quran terdapat terdapat ha dlamir yang didlammahkan meski jatuh setelah
ya sukun (), yaitu pada surat Al-Fath ayat 10.
Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu Sesungguhnya mereka berjanji setia
kepada Allah. tangan Allah di atas tangan mereka, Maka Barangsiapa yang melanggar janjinya
niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan Barangsiapa menepati
janjinya kepada Allah Maka Allah akan memberinya pahala yang besar.

Asbabun nuzul dari ayat tersebut adalah: bahwa pada bulan Zulkaidah tahun keenam Hijriyyah Nabi
Muhammad s.a.w. beserta pengikut-pengikutnya hendak mengunjungi Mekkah untuk melakukan
umrah dan melihat keluarga-keluarga mereka yang telah lama ditinggalkan. Sesampai di Hudaibiyah
beliau berhenti dan mengutus Utsman bin Affan lebih dahulu ke Mekah untuk menyampaikan maksud
kedatangan beliau dan kamu muslimin. mereka menanti-nanti kembalinya Utsman, tetapi tidak juga
datang karena Utsman ditahan oleh kaum musyrikin kemudian tersiar lagi kabar bahwa Utsman telah
dibunuh. karena itu Nabi menganjurkan agar kamu muslimin melakukan baiah (janji setia) kepada
beliau. merekapun Mengadakan janji setia kepada Nabi dan mereka akan memerangi kamu Quraisy
bersama Nabi sampai kemenangan tercapai. Perjanjian setia ini telah diridhai Allah sebagaimana
tersebut dalam ayat 18 surat ini, karena itu disebut Baiatur Ridwan. Baiatur Ridwan ini
menggetarkan kaum musyrikin, sehingga mereka melepaskan Utsman dan mengirim utusan untuk
Mengadakan Perjanjian damai dengan kaum muslimin. Perjanjian ini terkenal dengan Shulhul
Hudaibiyah.

Menurut Al-Khalidi, Sifat memenuhi janji berjuang ini merupakan sifat yang mulia dan luhur (rifah).
Harakat dlammah memberikan nuansa kemuliaan dan keagungan akhlak. Jadi tepat sekali Allah
mendlammahkan ha tersebut karena memang suasana sosiologisnya menunjukkan hal keluhuran itu,
sehingga Al-Khalidi menyebutnya ha tersebut dengan istilah ha rifah.

9. Memfathah atau mendlammah dlad


Dalam al-Quran ada lafadz serupa yang diulang tiga kali dalam satu ayat yaitu ( QS. al-
Ruum:54).
Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari Keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu)
sesudah Keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah
(kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha
mengetahui lagi Maha Kuasa.

Kata tersebut adalah masdar dari . Para ulama qiraah berbeda dalam membaca harakat
dlad, Imam Hamzah dan Imam Syubah (salah satu perawi dari Imam Ashim) memfathah dlad dan
lainnya kecuali Imam Hafs membacanya dengan dlammah. Sedangkan Imam Hafs membaca
keduanya, fathah dan dlammah.
Alasan terjadinya perbedaan itu karena dalam ilmu sharaf, kata itu mempunyai dua
masdar yaitu dan , sebagaimana yang terjadi pada kata juga mempunyai dua masdar
yakni dan ( Al-Qaisy, 1987:II/213).

10. Hukum Membaca Basmalah Pada Surat Taubat


Dalam Mushaf Usmani semua surat al-Quran di awali dengan basmalah kecuali surat al-Baraah atau
surat al-taubat. Terkait dengan hal itu, sahabat Nabi Ubay bin Kaab berkata bahwa Rasulullah pernah
menyuruh kami menulis basmalah di awal setiap surat, dan tidak memerintahkan kami menulisnya di
awal surat al-Baraah, oleh karenanya surat tersebut digabungkan dengan surat al-Anfal dan itu lebih
utama karena adanya keserupaan keduanya.
(Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan RasulNya (yang dihadapkan) kepada
orang-orang musyrikin yang kamu (kaum muslimin) telah Mengadakan Perjanjian (dengan mereka).

Imam Ashim berkata: Basmalah tidak ditulis di awal surat al-Baraah, karena basmalah itu berarti
rahmat atau kasih sayang, sedangkan al-Baraah merupakan surat adzab atau siksaan (al-Qaisy,
1987:I/20).
Para ulama fiqh berbeda pendapat mengenai hukum membaca basmalah di awal surat al-Baraah ini,
Imam Ibnu Hajar dan al-Khatib mengharamkan membaca basmalah di awal surat ini dan
memakruhkan membacanya di tengah surat. Sedangkan Imam Ramli dan para pengikutnya
memakruhkan membaca basmalah di awal surat dan mensunnahkan membacanya di tengah surat
sebagaimana surat-surat yang lain (Al-Qadli, 1981:13).

Daftar Rujukan
Abu Thahir, Abd al-Qayyum ibn Abd al-Ghafur. 1994. Shafahat fi Ulumal-Qiraat. Madinah: Mathabi
ar-Rasyid.
Ad-Darwisyi, Muhyiddin. 2002. Irabul Quran wa Bayanuh. Damaskus: Dar Ibn Katsir. Juz I. Hal. 5-
7.
Al-Khalidi, Shalah Abd Fattah. 2004. Lathaif Quraniyyah. Damaskus: Dar al-Qalam
Al-Qadli, Abdul Fattah. 1981. Al-Budur az-Zahirah. Cet. 1. Beirut: Dar al-Kitab al-Araby.
Al-Qaisy, Abu Muhammad Makki ibn Abi Thalib. 1987. Al-Kasyfu an Wujuh al-Qiraat as-sabI wa
Ilaliha wa Hujajiha. Cet. 4. Beirut: Muassasah ar-Risalah.
Arwani Amin. Tanpa tahun. Faidl al-Barakat. Kudus: Penerbit Menara Kudus
Ibrahim Mushtofa. Tanpa tahun. Al-Mujam al-Wasith. Kairo: Dar ad-Dawah
Muhammad Makki Nasr. Tanpa tahun. Nihayat al-Qaul al-Mufid fi Ilm at-Tajwid. Kairo: Maktabat
as-Sofa.