Anda di halaman 1dari 118

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Alur Pelayanan Perbekalan Farmasi di Gudang RSUD Prof. Dr.


Margono Soekarjo Purwokerto .................................................................
2. Alur Pelayanan Pengelolaan Sediaan Farmasi Pusat Geriatri Paviliun
Abiyasa RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto ........................
3. Alur Pelayanan Resep di Satelit Farmasi Rawat Inap dan Instalasi Bedah
Sentral (IBS) RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto ................
4. Alur Pelayanan Resep di Satelit Farmasi Rawat Jalan dan Instalasi
Gawat Darurat RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto ..............
5. Evaluasi Medication Error di Instalasi Farmasi Rawat Jalan dan Rawat
Inap RSUD Prof. Dr. Margomo Soekarjo Purwokerto .............................
6. Monitoring Pasien Ensephalopati Hepatikum, Kolestasis, dan Joundice
di Bangsal Mawar RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto ........
7. Alur Pelayanan Satelit Farmasi ICU, HCU, ICCU, dan Kemoterapi di
RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto ......................................
LAMPIRAN 1

ALUR PELAYANAN PERBEKALAN FARMASI


DI GUDANG RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
PURWOKERTO

I. Pendahuluan
A. Gudang Sediaan Farmasi RSMS
Rumah Sakit sebagai Sarana Pelayanan Kesehatan rujukan semula
melaksanakan kegiatan penyembuhan dan pemulihan dengan terjadinya
perubahan pada orientasi nilai dan perkembangan pemikiran yang sejalan dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan sosial budaya, maka rumah sakit dituntut
untuk melaksanakan pelayanan yang paripurna dan terpadu yaitu peningkatan
kesehatan, pencegahan, pengobatan dan pemulihan.
Rumah Sakit adalah pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan
kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap,
rawat jalan, dan gawat darurat. Pengelolaan obat di Rumah Sakit merupakan segi
manajemen rumah sakit yang penting.Tujuan pengelolaan obat yang baik di
rumah sakit adalah agar obat yang diperlukan setiap saat, dalam jumlah yang
cukup dan terjamin untuk mendukung pelayanan yang bermutu.
Pengelolaan obat termasuk proses penyimpanan yang efektif dan efisien.
Proses pengelolaan dapat terjadi dengan baik bila dilaksanakan dengan dukungan
kemampuan menggunakan sumber daya yang tersedia dalam suatu sistem. Dan
juga tanpa manajemen dari seorang kepala IFRS maka semua usaha akan sia-sia
dan pencapaian usaha akan lebih sulit.
Fasilitas penyimpanan merupakan salah satu bagiandari sistem suplai obat.
Gudang merupakan tempat pemberhentian sementara barang sebelum dialirkan,
dan berfungsi mendekatkan barang kepada pemakai hingga menjamin kelancaran
dan keamanan persediaan. Fasilitas penyimpanna dapat dimanfaatkan secara
optimal bila kegiatan lain dalam sistem suplai obat (seperti seleksiobat,
perencanaan biaya dan pengadaan) ditetapkan secara tetap.
B. Struktur Organisasi
Untuk mewujudkan tujuan dan melaksanakan tugas, disusun suatu stuktur
organisasi sub instalasi farmasi sediaan sebagai berikut:
Ka. Instalasi Farmasi

Penanggung Jawab Logistik

Koordinator Gudang Koordinator Gudang


Farmasi Pusat RSMS Buffer Abiyasa

PJ PENUNJANG PJ OBAT ADMINISTRASI


ALKES

Gambar 1. Struktur Organisasi Gudang Farmasi


Jumlah sumber daya manusia untuk Gudang SediaanFarmasi sebanyak 11
orang, terdiri dari 1 orang Apoteker sebagai penanggung jawab (Ka. Sub
Instalasi), 6 orang Asisten Apoteker, dan 1 orang tenaga administrasi, 2 tenaga
pengantar dan 1 Cleaning Service.
C. Layout Gudang
Gudang Sediaan Farmasi adalah tempat penyimpanan obat di farmasi yang
merupakan salah satu unit pelayanan instalasi farmasi rumah sakit berperan
penting dalam mendukung seluruh kegiatan operasional rumah sakit, yang
mengelola sediaan farmasi khususnya dalam hal perencanaan, sediaan,
pengadaan, penerimaan, penyimpanan dan pengeluaran, pengendalian,
pemantauan dalam evaluasi dan administrasinya. Pengelolaan sediaan farmasi
meliputi obat-obatan, alat kesehatan, alat perawatan, bahan kimia, bahan
radiologi, dan alat kedokteran.
Lokasi gudang dibangun dengan mempertimbangkan beberapa faktor
seperti keamanan dan kemudahan lokasi untuk dijangkau baik untuk pengiriman
barang ke setiap satelit-satelit farmasi maupun untuk menerima barang datang dari
distributor atau sejenisnya. Kegiatan operasional Gudang Farmasi atau biasa
disebut dengan Gudang Pusat RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo dilakukan pada
sebuah gedung tersendiri dan terpisah, namun masih berada di lingkungan rumah
sakit. Adapun ruangan-ruangan yang terdapat dalam gudang tersebut digambarkan
sebagai berikut

Gambar 2. Denah Gudang Farmasi Pusat

Gambar 3. Tata letak gudang logistik RSMS Ruang 5


Gambar 4. Tata letak gudang logistik RSMS ruang 6

Keterangan:
R1 = Ruang dengan suhu (15o-25oC) untuk menyimpan sediaan injeksi, dan
sebagian obat luar
R2 = Ruang dengan suhu (15o-25oC) untuk menyimpan sediaan injeksi
sitostatika dan oral
R3 = Ruang dengan suhu sejuk penyimpanan infusa
R4 = Ruang dengan suhu (15o-25oC) untuk menyimpan sediaan obat oral,
injeksi dan beberapa obat luar
R5 = Ruang penyimpanan obat-obat yang disimpan pada suhu (25o-30oC)
R6 = Ruang penyimpanan alkes (lantai 2)
R 7 B3 = Ruang penyimpanan B3 ( bahan berbahaya & beracun)
I. Hasil Dan Pembahasan
A. Kegiatan Sub Instalasi Sediaan Farmasi
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 58 tahun
2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit, pengelolaan
sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai meliputi pemilihan,
perencanaan kebutuhan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian,
pemusnahan dan penarikan, pengendalian, dan administrasi.
1. Seleksi obat
Pemilihan adalah kegiatan untuk menetapkan jenis Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai sesuai dengan kebutuhan. Pemilihan
Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai ini berdasarkan:
1) Formularium dan standar pengobatan/pedoman diagnosa dan terapi
2) Standar Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
yang telah ditetapkan
3) Pola penyakit
4) Efektifitas dan keamanan
5) Pengobatan berbasis bukti
6) Mutu
7) Harga
8) Ketersediaan di pasaran
(Permenkes 58, 2014)
Pemilihan obat di rumah sakit merujuk pada Formularium Nasional
(FORNAS) seseuai dengan kelas rumah sakit masing-masing, Formularium
Rumah Sakit, Formularium Jaminan Kesehatan bagi masyarakat miskin.
Sedangkan pemilihan alat kesehatan di rumah sakit dapat berdasarkan dari data
pemakaian sebelumnya, standar ISO, daftar harga alat, daftar alat kesehatan
yang dikeluarkan oleh Ditjen Binfar dan Alkes, serta spesifikasi yang ditetapkan
oleh rumah sakit (Anonim, 2008).
Formularium Rumah Sakit disusun mengacu kepada Formularium Nasional.
Formularium Rumah Sakit merupakan daftar obat yang disepakati staf medis,
disusun oleh Tim Farmasi dan Terapi (TFT) yang ditetapkan oleh Pimpinan
Rumah Sakit. Formularium Rumah Sakit harus tersedia untuk semua penulis
Resep, pemberi Obat, dan penyedia Obat di Rumah Sakit. Evaluasi terhadap
Formularium Rumah Sakit harus secara rutin dan dilakukan revisi sesuai
kebijakan dan kebutuhan Rumah Sakit (Anonim, 2014).
Penyusunan dan revisi Formularium Rumah Sakit dikembangkan
berdasarkan pertimbangan terapeutik dan ekonomi dari penggunaan obat agar
dihasilkan Formularium Rumah Sakit yang selalu mutakhir dan dapat memenuhi
kebutuhan pengobatan yang rasional. Adapun kriteria pemilihan obat untuk
masuk formularium rumah berdasarkan Permenkes 58 tahun2014 yaitu :
1) Mengutamakan penggunaan Obat generik;
2) Memiliki rasio manfaat-risiko (benefit-risk ratio) yang paling
menguntungkan penderita;
3) Mutu terjamin, termasuk stabilitas dan bioavailabilitas;
4) Praktis dalam penyimpanan dan pengangkutan;
5) Praktis dalam penggunaan dan penyerahan;
6) Menguntungkan dalam hal kepatuhan dan penerimaan oleh pasien;
7) Memiliki rasio manfaat-biaya (benefit-cost ratio) yang tertinggi berdasarkan
biaya langsung dan tidak langsung, dan
8) Obat lain yang terbukti paling efektif secara ilmiah dan aman (evidence based
medicines) yang paling dibutuhkan untuk pelayanan dengan harga yang
terjangkau.
2. Perencanaan
Perencanaan kebutuhan merupakan kegiatan untuk menentukan jumlah
dan periode pengadaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai sesuai dengan hasil kegiatan pemilihan untuk menjamin
terpenuhinya kriteria tepat jenis, tepat jumlah, tepat waktu dan efisien.
Perencanaan dilakukan untuk menghindari kekosongan Obat dengan
menggunakan metode yang dapat dipertanggungjawabkan dan dasar-dasar
perencanaan yang telah ditentukan antara lain konsumsi, epidemiologi, dan
kombinasi (metode konsumsi dan epidemiologi) dan disesuaikan dengan
anggaran yang tersedia. Pedoman perencanaan harus mempertimbangkan :
1) Anggaran yang tersedia.
2) Penetapan prioritas.
3) Sisa persediaan.
4) Data pemakaian periode yang lain
5) Waktu tunggu pemesanan
6) Rencana pengembangan
Tahapan perencanaan yaitu:
1) Tahap pemilihan obat, dilakukan untuk menentukan obat yang benar-benar
diperlukan sesuai dengan pola penyakit.
2) Tahap kompilasi pemakaian obat adalah rekapitulasi data pemakaian obat di
unit pelayanan kesehatan.
3) Tahap perhitungan kebutuhan obat, dapat dilakukan dengan metode
konsumsi, morbiditas maupun metode gabungan konsumsi dan morbiditas.
4) Tahap proyeksi kebutuhan obat, adalah perhitungan kebutuhan obat secara
komprehensif dengan mempertimbangkan data pemakaian obat dan jumlah
sisa stok pada periode yang masih berjalan.
5) Tahap penyesuaian rencana pengadaan obat, dilakukan penyesuaian terhadap
rencana pengadaan obat dengan anggaran dana yang tersedia (Anonim,
2010).
Perencanaan dapat dibuat berdasarkan beberapa metode, yaitu konsumsi,
epidemiologi, serta kombinasi antara metode konsumsi dan epidemiologi.
a) Metode Konsumsi
Metode konsumsi adalah metode yang didasarkan atas analisa data
konsumsi obat tahun sebelumnya. Perhitungan kebutuhan obat dengan metode
konsumsi perlu memperhatikan hal-hal berikut:
1) Pengumpulan dan pengolahan data
2) Analisa data untuk informasi dan evaluasi
3) Perhitungan perkiraan kebutuhan obat
4) Penyesuaian jumlah kebutuhan obat dengan alokasi dana
Data yang perlu dipersiapkan untuk perhitungan dengan metode konsumsi:
1) Daftar obat
2) Stok awal
3) Penerimaan
4) Pengeluaran
5) Sisa stok
6) Obat hilang/rusak, kadaluarsa
7) Kekosongan obat
8) Pemakaian rata-rata/pergerakan obat pertahun
9) Waktu tunggu
10) Stok pengaman
11) Perkembangan pola kunjungan
Rumus yang digunakan:
CT = (CA x T) + SS - Si
Keterangan:
CT = Kebutuhan per periode waktu
CA = Kebutuhan rata-rata waktu (bulan)
T = Lama kebutuhan (bulan/tahun)
SS = Safety Stok
Si = Sisa Stok
Kelebihan dari metode konsumsi ini yaitu mudah digunakan, tidak
memerlukan data penyakit maupun standar pengobatan, serta jika data
konsumsi lengkap, pola penulisan resep tidak berubah dan kebutuhan relatif
konstan data yang diperoleh dinilai akurat sehingga kemungkinan kelebihan
maupun kekurangan obat sangat kecil.
Kekurangannya antara lain kurang tepat dalam penentuan jenis dan
jumlah, serta tidak dapat untuk mengkaji penggunaan obat dalam perbaikan
penulisan resep dan tidak mendukung penggunaan obat yang rasional.
b) Metode Epidemiologi
Metode ini dapat juga disebut dengan metode morbiditas. Metode ini
dalam perhitungannya menggunakan data pola penyakit.Metode epidemiologi
didasarkan pada jumlah kunjungan, frekuensi penyakit, serta standar
pengobatan. Langkah-langkah yang dilakukan dalam metode ini yaitu
menghitung jumlah pasien yang akan dilayani, menentukan jumlah kunjungan
kasus berdasarkan frekuensi penyakit, serta menghitung kebutuhan obat
berdasarkan standar pengobatan yang disesuaikan dengan jumlah pasien yang
akan dilayani. Langkah-langkah dalam metode ini adalah:
1) Menetapkan pola morbiditas penyakit berdasarkan kelompok umur dan
penyakit.
2) Menyiapkan data populasi penduduk.
3) Menyediakan data masing-masing penyakit pertahun untuk seluruh populasi
pada kelompok umur yang ada.
4) Menghitung frekuensi kejadian masing-masing penyakit pertahun untuk
seluruh populasi pada kelompok umur yang ada.
5) Menghitung jenis, jumlah, dosis, frekuensi dan lama pembelian obat
menggunakan pedoman pengobatan yang ada.
6) Menghitung jumlah yang harus diadakan untuk tahun anggaran yang akan
datang.
Rumus yang digunakan:
CT = (CE x T) + SS Si
Keterangan:
CT = Kebutuhan per periode waktu
CE = Perhitungan standar pengobatan
T = Lama kebutuhan (bulan/tahun)
SS = Safety Stock
Si = Sisa Stok
Kelebihan dari metode epidemiologi ini yaitu perkiraan kebutuhan
obat mendekati kebenaran dan dapat mendukung usaha untuk memperbaiki
pola penggunaan obat karena dalam perhitungannya menggunakan standar
pengobatan.Kekurangan dari metode ini yaitu membutuhan banyak waktu dan
tenaga, sebab perhitungannya lebih sulit terutama jika data penyakit tidak
mudah didapatkan karena tidak dilakukannya pencatatan dan pelaporan yang baik
(Anonim, 2008).
c. Metode kombinasi Konsumsi dan Epidemiologi
Metode ini digunakan karena adanya keterbatasan pada kedua metode
konsumsi dan epidemiologi. Dengan metode kombinasi bisa meminimalkan
kekurangan dari masing-masing metode konsumsi maupun epidemiologi (Quick
et al, 2012). Proses perencanaan dilakukan dengan mempertimbangkan
berbagai hal, salah satunya yaitu alokasi dana sehingga dalam penyusunan
perencanaan diperlukan skala prioritas untuk menentukan obat-obat yang akan
masuk dalam daftar perencanaan. Adapun metode yang digunakan dalam
menentukan skala prioritas yaitu:
1) Analisa ABC
Analisis ABC merupakan analisis yang menggunakan prinsip pareto,
dimana barang-barang dalam jumlah sedikit, menggunakan dana paling besar.
Analisis ABC digunakan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan dana
dengan pengelompokan obat atau sediaan farmasi berdasarkan jumlah
anggaran yang digunakan (Suciati & Wiku, 2006). Obat yang termasuk
dalam kelompok A adalah obat yang jumlah nilai rencana pengadaannya
menyerap dana sekitar 80% dan jumlah item obatnya 20%. Kelompok B
adalah obat yang jumlah nilai rencana pengadaannya menyerap dana sekitar 15%
dan jumlah item obatnya sekitar 30%, sedangkan kelompok C menyerap dana
sekitar 5% dan jumlah item obatnya 50%. (Suciati et al, 2006).
2) Analisa VEN
Analisis VEN digunakan meningkatkan efisiensi penggunaan dana
dengan pengelompokan obat atafarmasi berdasarkan dampak tiap jenis obat
pada kesehatan. Kelompok V (vital) adalah obat-obatlife saving, vaksin, dan
obatobat untuk penyakit penyebab kematian terbesar.Kelompok E (essensial)
adalah kelompok obat yang bekerja kausal/ obat-obat yang bekerja pada
sumber penyakit.Kelompok N (non essensial) yaitu obat-obat penunjang/ obat
yang kerjanya ringan dan biasa digunakan untuk menimbulkan kenyamanan
atau untuk mengatasi keluhan ringan.
3) Kombinasi ABC-VEN
Metode ini digunakan untuk menetapkan prioritas untuk pengadaan
obat dimana anggaran yang ada tidak sesuai dengan kebutuhan, yang
dilakukan dengan mengkombinasikan metode ABC-VEN, kemudian
mengurangi obat pada kelompok tertentu (Anonim, 2008).

A B C
V VA VB VC
E EA EB EC
N NA NB NC

Gambar 5 . Kombinasi Metode ABC-VEN

Perencanaan yang dilakukan di RSMS Prof. Dr. Margono Soekarjo

menggunakan metode konsumsi yaitu dengan menggunakan data penggunaan

obat periode sebelumnya. Adapun alur perencanaan obat yang dilakukan yaitu

sebagai berikut:

Collecting Data

Pengolahan Data

Usulan Perencanaan

Rapat Internal IF

Rapat Terpadu dengan Bid.


Gambar 6. Alur Perencanaan Tahunan Perbekalan Farmasi

3. Pengadaan
Pengadaan dapat dilakukan melalui pembelian, produksi, sumbangan
hibah/dropping, atau hibah. Pada kondisi khusus rumah sakit menetapkan
kebijakan-kebijakan yang harus diikuti oleh IFRS. Pelaksana pengadaan untuk
Rumah sakit dilaksanakan oleh Unit Layanan Pengadaan (ULP) dimana apoteker
selalu dilibatkan dalam kegiatan tersebut.
a. Pembelian
Di Rumah Sakit Prof. Dr. Margono Soekarjo (RSMS), pembelian obat
sesuai dengan Formularium RS dimana obat dan alat kesehatan yang sesuai e-
catalog dibeli melalui e-purchasing. Sedangkan untuk obat diluar e-catalog
dilaksanakan melalui sistem tender.
b. Produksi
Produksi sediaan farmasi di rumah sakit merupakan kegiatn membuat,
merubah bentuk, dan pengemasankembali sediaan steril atau non steril untuk
memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di rumah sakit.Kegiatan produksi yang
dilakukan di RSMS adalah produksi steril sebatas rekonstitusi sediaan sitostatika.
Persyaratan teknis untuk produksi steril yaitu :
1. Ruangan aseptis
2. Peralatan : Laminar Air Flow, autoclave, cyoguard, alat pelindung diri, dll
3. Sumber Daya Manusia yang terlatih
c. Sumbangan hibah/dropping
Pada prinsipnya pengelolaan sediaan farmasi dari hibah/ sumbangan
mengikuti kaidah umum pengelolaan sediaan farmasi reguler.Sediaan farmasi
yang tersisa dapat dipakai untuk menunjang pelayanan kesehatan disaat situasi
normal.
Sumber anggaran yang digunakan dalam perencanaan kebutuhan sediaan
farmasi di Rumah Sakit Prof.Margono Soekarjo (RSMS) berasal dari anggaran
subsidi (APBD) dan anggaran operasional (BLU). Perencanaan dilaksanakan
untuk kebutuhan 1 tahun kedepan yang dituang kandalam DPA (dana berasal dari
anggaran subsidi) dan RBA (dana berasal dari anggaran operasional).

Perencanaan IFRS

Ka. Sie Penunjang

Ka. Bid Penunjang

Wadir. Penunjang dan Pendidikan

Pengguna Anggaran (Direktur)

Pejabat Pembuat Komitmen

Pejabat Pelaksanana Teknis Kegiatan

Pejabat Pengadaan Pejabat Pengadaan Pejabat Pengadaan


Obat e - Katalog Obat non e - Katalog BMHP

Gambar 7. Alur Pengadaan Sediaan Farmasi dan BMHP

Adapun prosedur pengadaan sediaan farmasi yaitu :


1) Pejabat pengadaan Obat dan Alkes atau Panitia Pengadaan membuat surat
pesanan ke distributor sesuai dengan perencanaan sediaan farmasi yang
diajukan oleh Instalasi Farmasi, dan telah ditandatangani oleh Apoteker
Instalasi Farmasi yang menjadi anggota Panitia Pengadaan
2) Melaksanakan pengadaan baik secara langsung maupun tender sesuai
peraturan yang berlaku
3) Menyerahkan surat pesanan ke distributor/PBF yang telah ditetapkan dab
meminta distributor tersebut untuk menyiapkan dan mengirim sesuai yang
dipesan
4) Meminta distributor untuk menyertakan MSDS (Material Safety Data
Sheet) pada saat mengirim B3 (Bahan Berbahaya Beracun)
5) Menanyakan kembali ke distributor apabila sediaan farmasi yang dipesan
dalam waktu satu minggu belum datang
6) Menghubungi distributor lain apabila pada distributor sebelumnya terjadi
kekosongan barang (stock out)
7) Menghubungi user (dokter) apabila sediaan faemasi yang dimaksud tidak
tersedia di distributor supaya bisa mencari alternatif penggantinya
8) Membuat laporan pengadaan setiap bulannya
9) Melaksanakan evaluasi pengadaan dan melaporkan hasilnya ke atasannya
langsung
4. Penerimaan dan Pemeriksaan Sediaan Farmasi
Penerimaan merupakan kegiatan untuk menjamin kesesuaian jenis,
spesifikasi, jumlah, mutu, waktu penyerahan dan harga yang tertera dalam kontrak
atau surat pesanan dengan kondisi fisik yang diterima. Semua dokumen terkait
penerimaan barang harus tersimpan dengan baik. Kegiatan penerimaan dan
pemeriksaan sediaan farmasi dilakukan setelah pengadaan barang selesai
dilakukan. Pedagang Besar Farmasi (PBF) mengirimkan barang yang telah
dipesan sesuai dengan surat pesanan. Setelah barang datang, dilakukan
pemeriksaan barang oleh Panitia penerima Hasil/Panitia Pemeriksaan.
Pemeriksaan meliputi kesesuaian antara surat pesanan, barang yang datang dan
faktur. Pemeriksaan barang bertujuan untuk mengetahui ke sesuaian barang
yang diterima (sesuai dengan spesifikasi obat) dengan SP. Pemeriksaan barang
meliputi: Nama barang, nomor Batch, Expired Date (ED), jumlah barang dan
kondisi fisik.
Hal-hal yang harus diperhatikan saat penerimaan barangadalah:
1) Barang sediaan farmasi sangat diupayakan bersumber dari penyedia
barang/jasa atau PBF yang telah dipilih oleh rumah sakit.
2) Obat dan alat kesehatan harus memiliki sertifikat analisis
3) Sediaan farmasi khususnya yang bersifat toksik dan berbahaya harus
menyertakan Medical Safety Data Sheet (MSDS) minimal pada pengiriman
pertama kali.
4) Pemeriksaan kesesuaian jumlah barangdengan dokumen pengiriman.
5) Pemeriksaan kesesuaian jenis dan spesifikasi barangdengan surat pesanan
6) Pemeriksaan barang saat diterima harus dalam keadaan baik
7) Khusus untuk alat kesehatan atau kedokteran harus mempunyai certificate of
origin
8) Tanggal kadaluwarsa(expired date) minimal 2 tahun kecuali sediaan farmasi
tertentu yang memang tanggal kadaluwarsanya pendek.

Menandatangani faktur barang dengan mencantumkan


nama petugas penerima, tanggal penerimaan, nomor SIK,
serta membubuhkan stampel.

Menyimpan salinan faktur sebagai arsip

Memasukkan data ke dalam komputer yang meliputi nama, distributor,


pabrik, nomor faktur, tanggal barang datang, jenis dan jumlah barang,
satuan kemasan, harga satuan, nomor batch, tanggal kadaluarsa, MSDS
untuk B3, certicate of origin untuk alat kesehatan

Membubuhkan cap tanggal datang pada kemasan


luar, menandai obat-obatan High Alert, dan LASA

Menyimpan di tempat yang sesuai dengn kondisi persyaratan


penyimpanan untuk masing-masing perbekalan farmasi

Gambar 8. Alur penerimaan dan pemeriksaan sediaan farmasi

5. Penyimpanan
Sediaan farmasi yang telah diterima dan diperiksa selanjutnya di simpan
dalam gudang. Fungsi dari penyimpanan adalah untuk memelihara mutu dan
kualitas sediaan farmasi sehingga dapat memudahkan dalam pengelolaan dan
pengawasan.
Tata letak penyimpanan obat di gudang pusat RS Margono Soekarjo
dibedakan berdasarkan:
1) Suhu penyimpanan:
a) Ruang 1 : Suhu sejuk (15-25oC), seperti injeksi, suppositoria, infus kemasan
kecil, salep, tetes mata dan obat luar.
b) Ruang 2 : Suhu sejuk (15o 25oC) dan suhu 2o 8oC (kulkas), seperti obat-
obat sitostatika, preparat gigi, kapsul kosong.
c) Ruang 3 : Suhu ruang (>25 oC), seperti infus cairan dasar, cairan lain, dan
alkes khusus hemodialisa.
d) Ruang 4 : Suhu sejuk (15-25oC), seperti obat-obat oral, infus kemasan besar
yang disimpan pada suhu sejuk dan lemari obat psikotropika dan narkotika.
e) Ruang 5 : Suhu ruang (>25 oC) seperti obat-obat oral dan obat narkotika
yang disimpan pada suhu ruang dan.
f) Ruang 6 : Suhu ruang (>25 oC) seperti alat-alat kesehatan, peralatan rumah
tangga dan bahan baku.
2) Menyusun di dalam rak/almari berdasarkan bentuk sediaan dan disusun
secara alfabetis, serta untuk masing-masing jenis sediaan
dominanmenggunakan metode FEFO (First Expired First Out).
3) Mencatat pada kartu stok, meliputi: tanggal barang datang, nama barang,
jumlah, distributor, no. batch, tanggal kadaluarsa, dan menyertakan MSDS
(Material Safty Data Sheet) untuk Bahan Beracun dan Berbahaya.
Penyimpanan untuk obat sitostatika sudah memenuhi persyaratan penyimpanan
obat sitostatik, antara lain:
1) Obat sitostatika disimpan secara terpisah dari obat-obat lain.
2) Terdapat lembar pengaman di dekat tempat penyimpanan.
3) Letak penyimpanan obat sitostatika diusahakan minimal sejajar dengan mata
atau lebih rendah agar mudah terlihat tanda berbahaya oleh petugas.
4) Tanda obat berbahaya pada kotak kemasan luar berada di sisi sebelah luar
sehingga mudah terlihat.
5) Obat yang disimpan di lemari pendingin (2-80C), diletakkan di lemari
pendingin yang terpisah.
6) Bila tidak tersedia lemari pendingin yang terpisah, maka obat sitostatika
dimasukkan dalam wadah tertutup dari bahan anti bocor dan disimpan
bersama obat lainnya di lemari pendingin yang sama.
Penyimpanan B3 dengan ketentuan sebagai berikut :
1) Menyimpan B3 di ruang terpisah dari sediaan farmasi lain.
2) Meletakkan B3 di tempat penyimpanan dengan posisi sejajar dengan mata
atau lebih rendah agar mudah terlihat oleh petugas.
3) Memberi logo tanda bahan berbahaya pada tempat penyimpanan B3 sesuai
dengan logo yang berlaku untuk klasifikasi B3 yang dimaksud.
4) Menjaga ventilasi atau sirkulasi udara di ruang penyimpanan.
5) Menjaga suhu di ruang penyimpanan agar jangan terlalu tinggi untuk
menghindari kemungkinan terjadinya kebakaran dan dilarang menempatkan
barang serta melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan suhu ruangan.
6) Memasang tanda Dilarang Merokok di sekitar tempat penyimpanan B3.
7) Menyediakan peralatan pemadam kebakaran dalam jumlah yang cukup dan
siap pakai.
8) Meletakkan lembar data MSDS di tiap tempat penyimpanan B3.
9) Menyediakan tempat pembuangan sementara B3 yang sudah rusak atau
kadaluwarsa.
10) Melakukan pembuangan/pemusnahan B3 dengan bekerja sama dengan
instalasi pembuangan limbah dan disaksikan oleh petugas yang berwenang.
6. Distribusi
Distribusi merupakan suatu rangkaian kegiatan dalam rangka
menyalurkan/menyerahkan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis
pakai dari tempat penyimpanan sampai kepada unit pelayanan/pasien dengan tetap
menjamin mutu, stabilitas, jenis, jumlah dan ketepatan waktu.
Tujuan distribusi obat antara lain :
1) Menjamin ketersediaan obat
2) Memelihara mutu obat
3) Menghindari pengunaan yang tidak bertangung jawab
4) Menjaga kelangsungan persediaan
5) Memperpendek waktu tunggu
6) Pengendaliaan persediaan
7) Mempermudah pencarian dan pengawasan waktu tunggu
Pendistribusian dari gudang pusat ke satelit farmasi memberikan surat
permintaan dari masing-masing satelit farmasi tersebut dimana akan
diperiksa lagi sesuai dengan SIM. Sistem Distribusi pada umumnya dibagi
menjadi tiga yaitu :
a. Sistem Persediaan Lengkap di Ruangan (Floor stock)
Pada sistem ini perbekalan farmasi diberikan kepada masing-masing
unit perawatan sebagai persediaan. Sistem ini memungkinkan perbekalan
farmasi tersedia apabila diperlukan, contohnya: untuk persediaan obat-obat
emergency.
b. Sistem Resep Perorangan (Individual Prescribing)
Sistem ini memungkinkan semua resep dokter dapat dianalisis
langsung oleh Apoteker dan terjalin kerjasama antara dokter, Apoteker,
perawat dan pasien.Resep dapat dikaji terlebih dahulu oleh Apoteker. Pada
sistem ini menjamin adanya legalisasi persediaan
c. Sistem Unit Dosis (Unit Dose Dispensing)
Didefinisikan sebagai obat-obatan yang diminta disiapkan dan
digunakan dalam dosis satu kali pemakaian. Sistem ini melibatkan
kerjasama antara dokter, apoteker dan perawat.
Alur Distribusi Sediaan Gudang RSMS
Proses pendistribusian sediaan dari gudang pusat ke satelit farmasi melalui
beberapa langkah yaitu masing-masing satelit farmasi memberikan surat
permintaan ke Gudang. Petugas gudang akan memeriksa surat permintaan tersebut
dimana akan diperiksa lagi sesuai dengan SIM. Setelah itu petugas akan
mengambil barang-barang seperti yang tertera di SP. Sebelum dikirim ke masing-
masing satelit, petugas lain melakukan pemeriksaan kembali antara SP dengan
barang, dan jika sudah sesuai SP akan ditandatangani dan barang siap dikirim ke
satelit farmasi.

Penerimaan Surat Permintaan

Pemeriksaan Surat Permintaan dan disesuaikan dengan Sistem Informasi


Manajemen
Penyiapan obat

Memeriksa kembali sebelum dikirim ke Satelit Farmasi

Membuat surat pengeluaran


Gambar 9. Alur Distribusi Sediaan dari Gudang

7. Administrasi
Administrasi harus dilakukan secara tertib dan berkesinambungan untuk
memudahkan penelusuran kegiatan yang sudah berlalu.
Kegiatan administrasi terdiri dari:
1. Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan dan pelaporan terhadap kegiatan pengelolaan Sediaan Farmasi,
Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang meliputi perencanaan
kebutuhan, pengadaan, penerimaan, pendistribusian, pengendalian persediaan,
pengembalian, pemusnahan dan penarikan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai. Pelaporan dibuat secara periodik yang dilakukan
Instalasi Farmasi dalam periode waktu tertentu (bulanan, triwulanan, semester
atau pertahun).
Jenis-jenis pelaporan yang dibuat menyesuaikan dengan peraturan yang
berlaku. Pencatatan dilakukan untuk:
1) persyaratan Kementerian Kesehatan/BPOM;
2) dasar akreditasi Rumah Sakit;
3) dasar audit Rumah Sakit; dan
4) dokumentasi farmasi.
Pelaporan digunakan sebagai:
1) komunikasi antara level manajemen
2) penyiapan laporan tahunan yang komprehensif mengenai kegiatan di
Instalasi Farmasi.
3) laporan tahunan
2. Administrasi keuangan
Apabila Instalasi Farmasi Rumah Sakit harus mengelola keuangan maka
perlu menyelenggarakan administrasi keuangan. Administrasi keuangan
merupakan pengaturan anggaran, pengendalian dan analisa biaya, pengumpulan
informasi keuangan, penyiapan laporan, penggunaan laporan yang berkaitan
dengan semua kegiatan Pelayanan Kefarmasian secara rutin atau tidak rutin dalam
periode bulanan, triwulanan, semesteran atau tahunan.
Penanganan obat ED
Kebijakan yang ditetapkan Gudang pusat dan Gudang buffer Abiyasa
RSUD Margono Soekarjo Purwokerto tentang near ED ditetapkan dengan Standar
Prosedur Operasional No Dokumen SPO.FAR.50 yang diterbitkan pada tanggal 7
Maret 2014. SPO tersebut berisi mengenai prosedur penanganaan obat mendekati
ED, meliputi:
1) Sediaan farmasi yang hampir kadaluarsa adalah sediaanfarmasi yang tanggal
kadaluarsanya tiga bulan yang akan datang atau kurang
2) Pemantauan tanggal kadaluarsa dilakukan secara periodik setiap satu bulan
sekali, dengan melihat catatan tanggal ED pada kartu stok.
3) Apabila sediaan farmasi telah masuk ke dalam kriteria hampir kadaluwarsa,
maka diberi penandaan khusus, menggunakan kertas warna merah menyala
(asturo) dengan tulisan NEAR ED.berwarna hitam.
4) Sediaan farmasi yang hampir kadaluwarsa diletakkan dalam rak yang paling
depan sehingga mudah terlihat dan diambil pertama kali.
5) Melaporkan keberadaan sediaan farmasi yang hapir kadaluwarsa kepada
Kepala Instalasi Farmasi .
6) Kepala Instalasi Farmasi memberikan informasi kepada dokter penulis resep
untuk segera meresepkan sediaan farmasi yang hampir kadaluwarsa tersebut .
7) Apabila telah mencapai atau melewati tanggal kadaluwarsa, sediaan farmasi
tersebut dikumpulkan di gudang sentral untuk dilakukan pemusnahan sesuai
dengan protap pemusnahan.
Alur Evaluasi Obat Macet
Dalam mengatasi adanya obat macet di Gudang, kebijakan yang diterapkan
oleh Rumah Sakit Prof. Margono Soekarjo adalah sebagai berikut:
1) Mencatat obat macet dari kartu stok atau computer.
2) Melaporkan hasil data obat macetke atasan (Kepala Sub Instalasi Sediaan
Farmasi)
3) Ka.Sub Instalasi Sediaan Farmasi melaporkan kepada Kepala Instalasi
Farmasi mengenai adanya obat macet
4) Pengambilan tindakan oleh Kepala Instalasi Farmasi atas permasalahan obat
macet, yaitu melakukan tindakan :
a) Memberikan informasi obat macet kepada SMF (Staf Medis Fungsional)
baik secara individu maupun melalui TFT (Tim Farmasi dan Terapi)
b) Memberikan informasi kepada principle atau distributor lewat Kepala Sub
Instalasi Sediaan Farmasi
c) Jika kedua hal di atas tidak berhasil maka Kepala IFRS dapat melaporkan
perihal tersebut langsung kepada Direktur untuk ditindaklanjuti.

Pemusnahan
Pemusnahan sediaan farmasi yang kadaluarsa/ rusak harus dilaksanakan
oleh petugas yang berwenang dan disaksikan oleh pejabat yang berwenang.
Adapun prosedurnya yaitu:
1. Mengumpulkan dan mengeluarkan sediaan farmasi yang kadaluarsa/ rusak ke
dalam suatu wadah khusus dan diberi label kadaluarsa/ rusak.
2. Membuat daftar obat yang telah kadaluarsa/ rusak ke Direktur untuk dilakukan
pemusnahan.
3. Melaporkan daftar obat yang telah kadaluarsa/rusak ke DPPAD (Dinas
Pendapatan dan Pengelolaan Aset Daerah) Provinsi.
4. Melaksanakan pemusnahan setelah mendapat surat pemusnahan dari DPPAD.
5. Membuat berita acara pemusnahan.
6. Menandatangani berita acara pemusnahan bagi petugas dan saksi yang
ditunjuk.
7. Melaporkan kepada direktur hasil pemusnahan sediaan farmasi.
8. Melaporkan kepada Dinas Kesehatan Provinsi.
Gudang Buffer Abiyasa
Gudang Farmasi terdapat juga diPusat Geriatri dan Paviliun Abiyasa RSUD
Prof Dr. Margono Soekarjo atau yang biasa disebut dengan Gudang Buffer
Abiyasa mempunyai tugas dalam pengelolaan (penerimaan, penyimpanan dan
pendistribusian) sediaan farmasi dan peralatan kesehatan..
Tujuan pembentukan GudangBuffer Abiyasaadalah menjamin ketersediaan
obat yang diperlukan dalam pelayanan setiap satelit yang ada di Pusat Geriatri dan
Paviliun Abiyasa RSUD Prof Dr. Margono Soekarjo serta terpeliharanya mutu
obat dan alat kesehatan yang menunjang pelaksanaan upaya kesehatan yang
menyeluruh, terarah dan terpadu. Fungsi Gudang Buffer Abiyasa meliputi:
a) Penerimaan, penyimpanan, pemeliharaan dan pendistribusian obat, alat
kesehatan dan sediaan farmasi yang didapat dari Gudang Farmasi Pusat RSMS
untuk pelayanan kesehatan di Pusat Geriatri dan Paviliun Abiyasa RSUD Prof
Dr. Margono Soekarjo
b) penyusunan perencanaan obat dan alkes, pencatatan dan pelaporan mengenai
penggunaan obat, alat kesehatan dan sediaan farmasi di Pusat Geriatri dan
Paviliun Abiyasa RSUD Prof Dr. Margono Soekarjo
c) Dokumentasi;
d) Pengamatan dan penjagaan terhadap mutu dan keamanan obat;
e) Melakukan urusan tatausaha dan kepegawaian
Adapun cara permintaan yang diajukan oleh Gudang Buffer Abiyasa untuk
menjamin ketersediaan sediaan farmasi dan mencegah kekosongan sediaan
farmasi di Pusat Geriatri dan Paviliun Abiyasa RSUD Prof Dr. Margono Soekarjo
adalah mengirim surat permintaan kepada Gudang Pusat RSMS dibawah
tanggung jawab apoteker sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan yaitu hari
senin dan kamis.
Setelah itu Gudang Pusat RSMS akan menyiapkan sediaan farmasi sesuai
dengan surat permintaan dari Gudang Buffer Abiyasa, setelah semua sudah sesuai
dan ditandatangani oleh kepala gudang pusat RSMS maka sediaan farmasi akan
segera dikirim menggunakan kendaraan dengan memperhatikan penyimpanan
dengan tujuan tidak ada barang rusak ketika sampai di Gudang Buffer Abiyasa.
Kegiatan Mahasiswa PKPA
Kegiatan mahasiswa PKPA di Sub IF Sediaan, meliputi :
a) Orientasi ruangan dan tata letak barang-barang di gudang.
b) Mempelajari Formularium Nasional dan Formularium Rumah Sakit
c) Mempelajari metodeperencanaan epidemiologi, konsumsi dan
kombinasi;metode pengadaan secara e-catalog, e-tender dan pembelian
langsung; metode penyimpanan berdasarkan suhu, jenis sediaan, FEFO,
obat sitostatika, narkotika psikotropika,B3, dan obat high alert.
d) Sediaan farmasi di Gudang Sediaan Farmasi.
e) Mempelajari berbagai SOP di gudang farmasi

B. Pembahasan
Gudang Sediaan Farmasi di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo memiliki
peranan yang penting dalam mewujudkan pelayanan medik, rujukan medik, dan
kesehatan yang unggul bagi masyarakat. Gudang Farmasi dipimpin oleh seorang
apoteker yang bertanggung jawab terhadap manajemen sediaan farmasi. Gudang
Sediaan Farmasi bertugas untuk mengelola sediaan farmasi, perencanaan,
penerimaan, penyimpanan, serta menyalurkan sediaan farmasi tersebut ke instalasi
farmasi. Fungsi dari gudang farmasi adalah sebagai tempat penyimpanan obat-
obatan sebelum disalurkan ke satelit-satelit farmasi lainnya yaitu apotek rawat
jalan, apotek rawat inap, IGD, IBS, ICU, ICCU, HCU, Kemoterapi, gudang
Abiyasa. Gudang Abiayasa merupakan gudang antara atau penyangga yang
digunakan untuk menyimpan obat atau alat kesehatan dari gudang pusat yang
berada di RSMS sebelum obat atau alat kesehatan disalurkan ke satelit farmasi di
pavilliun Abiyasa.
Metode perencanaan yang dilakukan oleh Gudang Sediaan Farmasi di
RSMS sebagian besar menggunakan metode konsumsi serta menggunakan
metode epidemiologi untuk kasus-kasus tertentu misalnya penyakit autoimun dan
kemoterapi. Data yang diperlukan untuk perencanaan dan pengadaan sediaan
farmasi dengan metode konsumsi yaitu kebutuhan rata-rata setiap bulan, lama
kebutuhan, safety stok, dan sisa stok akhir. Untuk metode epidemiologi
membutuhkan data perhitungan kebutuhan obat berdasarkan standar pengobatan,
lama kebutuhan, safetystok, dansisastok. Pengadaan sediaan farmasi dilakukan
oleh Unit Layanan Pengadaan (ULP) dengan menggunakan sistem e-catalog, e-
tender, serta penunjukan langsung. Obat-obatan yang terdapat di Formularium
Nasional dibeli dengan mengunakan e-catalog dan pembayarannya menggunakan
e-purchasing. Obat-obatan yang tidak terdapat di e-catalog dibeli dengan
menggunakan sisteme-tender. Sedangkan obat yang tidak terdapat di keduanya
dibeli dengan sistem penunjukan langsung berdasarkan harga yang paling murah.
Masing-masing sistem mempunyai kelebihan dan kekurangan. Sistem tender
kelebihannya yaitu stabilitas harga terjamin dan persediaan stok/barang untuk
jangka waktu tertentu terjaga (aman), sedangkan kekurangannya yaitu mahal,
proses lama, butuh tempat penyimpanan yang luas dan kemungkinan resiko
macet. Sistem penunjukkan langsung memiliki kelebihan yaitu harga lebih murah
dan proses cepat, sedangkan kekurangannya yaitu stabilitas harga tidak terjamin
dan administrasi banyak/boros.
Dalam proses perencanaan dan pengadaan obat hal yang paling penting untuk
diperhatikan adalah waktu tunggu (Lead Time). Dimana waktu tunggu adalah
waktu yang dihitung dari permintaan obat oleh unit pengelola obat sampai dengan
penerimaan obat. Lead Time paling pendek yang biasa terjadi adalah 2 hari, dan
yang paling lama adalah 3 bulan. Solusi jika terjadi Lead Time yang panjang
maka dilakukan pengadaan obat menggunakan pembelian langsung.
Penerimaan sediaan farmasi di Gudang Sediaan Farmasi RSMS dilakukan oleh
tim penerima dan kemudian diperiksa. Pemeriksaan dilakukan dengan cara
mencocokkan barang sesuai spesifikasinya (jumlah, merek, no. Batch, Expired
Date dan keterangan lain yang diperlukan). Untuk bahan baku obat harus
memiliki sertifikat analisis sedangkan untuk sediaan farmasi khususnya yang
bersifat toksis dan berbahaya harus menyertakan Medical Safety Data Sheet
(MSDS) minimal pada pengiriman pertama kali. Pemeriksaan ini bertujuan untuk
mengetahui kesesuaian spesifikasi sediaan farmasi yang diterima dengan surat
pesanan. Sistem penyimpanan yang digunakan di Gudang Instalasi Farmasi
RSMS sebagian berdasarkan bentuk sediaan, alphabetis, sesuai dengan syarat
penyimpanan (misalnya penyimpanan narkotika dan psikotropika) yang
disimpan pada tempat yang aman dan dikendalikan oleh suhu yang terbagi
menjadi 2 yaitu suhu dingin (2-8 C) dan suhu kamar (15-25 C) yang selalu di
cek secara berkala yaitu 2 kali sehari pada jam 8.00 WIB dan 14.00 WIB, serta
dominasi metode FEFO (First Expire First Out). Penyimpanan narkotika dan
psikotropika dilakukan dengan menempatkan pada lemari khusus yang
dilengkapi dengan kunci. Hal ini untuk mencegah terjadinya pencurian dan
penyalahgunaan terhadap obat-obat ini. Selain itu, ruang penyimpanan untuk obat
sitostatik dan B3 di gudang RSMS dipisah dari obat-obat lain dan diberi label obat
sitostatika dan tanda berbahaya, dan letak penyimpanan obat diusahakan minimal
sejajar dengan mata atau lebih rendah agar petugas lebih mudah melihat label
tanda berbahaya di obat.
Penempatan obat dan alkes di gudang menggunakan rak, almari, dan pallet
kayu. Fungsi penggunaan pallet kayu ini yaitu untuk menjaga perbekalan farmasi
dari kontak dengan alas langsung serta untuk memudahkan proses pembersihan
ruangan sekitar. Gudang farmasi RSMS telah memenuhi persyaratan yang berlaku
dimana persyaratan ruang penyimpanan sediaan farmasi diantaranya utilities
(sumber listrik, air, AC), Communication (telpon), Drainage (ruang penyimpanan
harus berada di lingkungan yang baik dengan sistem pengairan yang baik pula),
Security (aman dari resiko pencurian dan penyalahgunaan serta hewan
pengganggu), Size (memiliki ukuran yang cukup untuk menampung barang yang
ada), Accessbility (mudah dan cepat diakses).
Dalam penyimpanan juga dilakukan penandaan terhadap obat-obat LASA
dan HIGH ALERT untuk meminimalkan kesalahan dalam pengambilan obat
sekaligus pengendalian terhadap obat-obat HIGH ALERT. Penandaan obat NEAR
ED dilakukan pada semua item obat di gudang, yaitu NEAR ED 1 (obat dengan
ED 6 bulan), NEAR ED 2 (6-12 bulan), NEAR ED 3 (12-24 bulan). Obat dengan
tanda Near ED diletakkan paling depan dalam rak penyimpanan, sehingga lebih
mudah terlihat dan akan lebih cepat keluar. Untuk mengembangkan manajemen
institusi jasa, gudang farmasi RSMS telah menerapkan sistem SIM, dengan
adanya SIM maka akan membantu dalam proses mencatat barang masuk maupun
barang keluar, memudahkan dalam perubahan data yang ada, kebutuhan informasi
dapat disajikan dengan cepat serta pembuatan laporan yang dihasilkan lebih
akurat. Proses pengendalian yang dilakukan pada tahap penyimpanan obat
meliputi pencatatan pada kartu stok (nama distributor, tanggal masuk/keluar,
jumlah obat keluar/masuk, tempat distribusi perbekalan farmasi, sisa stok, no
batch, tanggal kadaluarsa dan paraf petugas yang melakukan pencatatan) yang
selalu dicatat setiap barang datang maupun barang keluar dan dilakukan kegiatan
stok opname setiap akhir bulan guna untuk mengantisipasi barang keluar tanpa
pencatatan sehingga dapat meminimalisir kesalahan dan mengurangi kerugian
akibat kehilangan barang.
Distribusi sediaan farmasi dari gudang ke masing-masing satelit farmasi
dan unit-unit kerja lainnya berdasarkan pada SIM inventory. Sistem ini untuk
memudahkan monitoring, menghindari penumpukan atau kekurangan sediaan di
satelit lain, sehingga pendistribusian obat dapat tercapai secara merata sesuai
dengan kebutuhan. Obat yang didistribusikan secara FEFO kemudian dicatat di
kartu stok masing-masing obat, kemudian dimasukkan ke dalam SIM.
Sediaan farmasi yang mengalami ED dan rusak dan tidak bisa dilakukan
return ke distributornya maka dikumpulkan di gudang untuk dilakukan
pemusnahan. Sebelum melakukan pemusnahan, RSMS terlebih dahulu membuat
laporan dan berita acara ke DinKes Kab. Banyumas kemudian pemusnahan akan
dilakukan oleh DinKes yang disaksikan oleh staf farmasi RS. Kegiatan yang
dilakukan di gudang farmasi RSMS selalu didokumentasikan dimana pelaporan
dari kegiatan tersebut dibagi menjadi 2, yaitu pelaporan internal dan eksternal.
Pelaporan internal meliputi seluruh kegiatan selain pelaporan narkotik,
psikotropik dan prekusor dikarenakan ketiganya termasuk pelaporan eksternal.

II. KESIMPULAN
1. Fungsi gudang farmasi selain dalam hal pengelolaan perbekalan yaitu
melakukan penerimaan, penyimpanan, pendistribusian obat, alkes, dan
perbekalan farmasi; Penyusunan rencana, pencatatan, dan pelaporan
mengenai persediaan dan penggunaan obat, alkes, dan perbekalan farmasi.
2. Berdasarkan hasil praktek kerja lapangan, mahasiswa mampu mengetahui
dan memahami alur pelayanan di Gudang farmasi mulai proses perencanaan,
pengadaan, penerimaan dan pemeriksaan, penyimpanan hingga Distribusi
obat ke depo dan satelit-satelit farmasi.
3. Pengadaan sediaan farmasi dan alat kesehatan di RS Margono Soekarjo di
dasarkan pada formularium nasional yang dilakukan dengan cara pembelian
langsung melalui e-purchacing untuk obat-obat e-catalogue. Bagi obat
formularium nasional yang tidak terdapat pada e-catalogue dilakukan
pembelian dengan cara tender terbuka, jika pemesanan tender gagal dilakukan
maka dilakukan pemilihan langsung ke distributor yang menawarkan harga
paling murah.
LAMPIRAN 2

ALUR PELAYANAN DAN PENGELOLAAN SEDIAAN FARMASI


PUSAT GERIATRI PAVILIUN ABIYASA RSUD PROF. DR. MARGONO
SOEKARJO PURWOKERTO

I. Pendahuluan
A. Latar belakang
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 menyatakan bahwa
Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat
yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang
produktif secara sosial dan ekonomis(1). Salah satu upaya pemerintah dalam
meningkatkan dan menunjang kesehatan masyarakat adalah dengan dibangunnya sebuah
rumah sakit. Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan
pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat
inap, rawat jalan, dan gawat darurat (Undang-Undang Republik Indonesia No. 44/2009
tentang Rumah Sakit). Status kepemilikan rumah sakit bisa dari pemerintah ataupun
swasta.
Pelayanan farmasi rumah sakit merupakan salah satu kegiatan di rumah sakit yang
menunjang pelayanan kesehatan yang bermutu. Sesuai dengan Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 58 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah
Sakit menyatakan bahwa Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan
pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Rumah sakit tidak dipisahkan
dengan pelayanan kefarmasian.
Layanan kefarmasian merupakan revenue center utama di rumah sakit yang
berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan
bahan medis habis pakai yang bermutu dan terjangkau bagi semua lapisan masyarakat
termasuk pelayanan farmasi klinik. Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai harus dilaksanakan secara multidisiplin, terkoordinir dan
menggunakan proses yang efektif untuk menjamin kendali mutu dan kendali biaya. Pasal
15 ayat (3) Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit menyatakan
bahwa Pengelolaan Alat Kesehatan, Sediaan Farmasi, dan Bahan Medis Habis Pakai di
Rumah Sakit harus dilakukan oleh Instalasi Farmasi sistem satu pintu.
Sistem satu pintu adalah satu kebijakan kefarmasian termasuk pembuatan
formularium, pengadaan, dan pendistribusian Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai yang bertujuan untuk mengutamakan kepentingan pasien
melalui Instalasi Farmasi Rumah Sakit. Dengan demikian semua Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang beredar di Rumah Sakit merupakan
tanggung jawab Instalasi Farmasi Rumah Sakit, sehingga tidak ada pengelolaan Sediaan
Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai di Rumah Sakit yang
dilaksanakan selain oleh Instalasi Farmasi Rumah Sakit. Satelit farmasi di Paviliun
Abiyasa Rumah Sakit Margono Soekarjo (RSMS) terbagi atas beberapa bagian yaitu
satelit farmasi rawat inap yang bertanggung jawab atas pelayanan kefarmasian terhadap
pasien rawat inap, satelit farmasi rawat jalan yang bertanggung jawab atas pelayanan
kefarmasian terhadap pasien rawat jalan, serta satelit farmasi Instalasi Gawat Darurat
(IGD).
Salah satu tugas dari Satelit farmasi sebagai unit pelayanan yaitu melakukan
pelayanan resep yang mencakup penerimaan resep pasien rawat jalan maupun rawat inap
dan memastikan penyerahan obat yang tepat pada penderita. Pelayanan kefarmasian di
Satelit Farmasi Rawat Jalan dan rawat inap melibatkan pelaksana farmasi, pelaksana
logistik dan pelaksana administrasi Pelaksana farmasi bertanggung jawab dalam
penerimaan resep, peracikan dan penyerahan obat kepada pasien. Pelaksana logistik
bertugas dalam melaksanakan kegiatan pengadaan, penyimpanan dan penyaluran obat
serta peralatan penunjang pelayanan farmasi. Pelaksana administrasi bertugas
melaksanakan kegiatan administrasi untuk mendukung fungsi manajemen di SF Rawat
Jalan dan rawat inap.
Satelit Farmasi Instalasi Gawat Darurat sebagai penunjang pelayanan kesehatan
dalam hal penyediaan obat dan alat kesehatan, terutama obat-obat penyelamat hidup (life
saving drugs) selama 24 jam setiap hari termasuk hari libur. Untuk lebih memahami
peran serta mahasiswa apoteker dalam alur pelayanan, cara pengelolaan perbekalan
farmasi dan sistem distribusi obat di satelit farmasi pavilliun abiyasa Rumah Sakit
Margono Soekarjo maka dilakukan kegiatan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA).
B. Tujuan
Kegiatan PKPA bertujuan untuk mengetahui alur pelayanan Satelit Farmasi
Pavilliun Abiyasa RSMS, mengetahui cara pengelolaan perbekalan farmasi Satelit
Farmasi Pavilliun Abiyasa RSMS, serta mengetahui sistem distribusi Satelit Farmasi
Pavilliun Abiyasa RSMS.

II. Alur Pelayanan Dan Sistem Distribusi Obat Di Paviliun Abiyasa Rsud Prof. Dr.
Margono Soekardjo

A. Satelit Farmasi Rawat Inap Pavilium Abiyasa


Depo Farmasi Rawat Inap merupakan bagian dari instalasi farmasi yang memiliki
peranan penting dalam memberikan pelayanan kesehatan. Tujuan pelayanan resep untuk
pasien rawat inap adalah memberikan obat dan alat kesehatan di Depo Farmasi Rawat Inap
Pusat Geriatri dan Paviliun Abiyasa untuk pasien umum dan pasien BPJS secara tepat
pasien, tepat jumlah, tepat waktu sesuai standar dan memahami aturan pakai. Tidak ada
perbedaan pemilihan obat pasien umum dan BPJS semua menggunakan formularium
rumah sakit yang telah disusun berdasarakan pada ketentuan formularium nasional.
1. Alur pelayanan Depo Farmasi Rawat Inap
Unit Pelayanan Depo Farmasi Rawat Inap umum dan BPJS meliputi
penerimaan resep, peracikan/penyiapan obat dan pendistribusian obat. Depo Farmasi
Rawat Inap Umum dan BPJS melayani seluruh ruang Rawat Inap yang terdapat di
paviliun Abiyasa, yang meliputi: Anthurium(lantai 1), Alamanda(lantai 2),
Amarilis(lantai 3), Anyelir (lantai 4), Adenium (Lantai 1 dan 2), ICU (Intensive Care
Unit), HCU (High Care Unit), ICCU
Resep dapat berupa permintaan obat maupun alat kesehatan yang
diperlukan untuk melakukan tindakan yang tertulis dalam kartu pasien rawat inap.
Kartu pasien rawat inap terdiri dari dua jenis yaitu yang berwarna putih untuk pasien
dengan jaminan kesehatan seperti BPJS, sedangkan kartu berwarna kuning untuk pasien
umun tanpa jaminan kesehatan (umum). Kemudian setelah resep diterima dicatat dalam
buku penerimaan resep untuk dokumentasi, kemudian dilakukan skrining resep oleh
apoteker mulai dari skrining administratif, skrining farmasetis, dan skrining klinis.
Apabila resep kurang lengkap atau terdapat obat yang perlu ditanyakan maka langsung
dikonfirmasikan kepada dokter penulis resep, jika resep lengkap maka dilanjutkan
proses pengetikan etiket. Etiket diketik lengkap dan jelas kemudian dicetak. Etiket
dibedakan menjadi berbagai macam warna sesuai dengan kebutuhan pasien dan waktu
pemberian. Etiket yang dicetak (print) biasanya untuk obat injeksi dan obat untuk
pasien pulang. Etiket untuk pendistribusian secara One Unit Daily Dose (OUDD) resep
dibedakan menjadi 4 macam warna, yaitu kuning untuk obat yang diminum pagi hari,
putih untuk siang hari, merah muda untuk sore hari, dan hijau untuk malam hari,
sedangkan etiket untuk obat luar berwarna biru. Sebelum dilakukan pengemasan, baik
obat maupun alat kesehatan dilakukan pengecekan kembali (double check) untuk
kesesuaian antara obat atau alat kesehatan yang diambil dengan yang tertulis dalam
kartu obat (resep) oleh petugas. Hal ini dilakukan untuk agar tidak terjadi kesalahan
sebelum didistribusikan ke masing-masing ruang rawat inap.
Obat yang telah siap kemudian dikemas dalam plastik putih dan ditandai
sesuai nama pasien dan ruangan. Kemudian dicatat dalam buku ekspedisi sebelum
didistribusikan. Obat kemudian diantar ke setiap ruangan dan dilakukan penerimaan
sekaligus pengecekan oleh perawat tiap ruangan, jika obat sudah lengkap maka
penerima/perawat menandatangani buku tersebut sebagai bukti telah menerima obat
dari Depo farmasi rawat inap, jika obat kurang lengkap, maka dikonfirmasi ke apotek
rawat inap.

Ditulis dibuku penerimaan


Kartu obat

Skrining resep

Entri data komputer

Dispensing obat + penulisan etiket


Gambar 1. Bagan Alur Pelayanan Resep di Satelit Farmasi Rawat Inap
paviliun Abiyasa RSUD PROF. Dr. Margono Soekardjo

Selain pelayanan resep, terdapat juga pelayanan retur obat di Depo Farmasi
Rawat Inap. Depo Farmasi Rawat Inap menerima retur obat dari pasien yang keluar,
meninggal, alergi obat, maupun kelebihan menerima obat. Obat racikan tidak diterima
dalam retur. Sistematika alur pelayanan retur obat di Depo farmasi rawat inap Paviliun
Abiyasa dan Pusat Geriatri. Sistematika alur pelayanan retur obat di Depo farmasi
rawat inap Paviliun Abiyasa dan Pusat Geriatri dapat dilihat pada gambar berikut :

Kartu Obat Ditulis dibuku penerimaan


(buku defecta)

Skrining resep

Entry data komputer

Pemberian harga dikartu obat

Dispensing obat + penulisan etiket

Checking
Gambar 2. Alur Pelayanan Obat Retur Depo Farmasi Rawat Inap Pusat Geriatri dan Paviliun
Abiyasa

2. Penyimpanan Obat Depo Farmasi Rawat Inap

Depo Farmasi Rawat Inap memiliki sistem penyimpanan obat dan alat
kesehatan yang tersedia dipisahkan berdasarkan suhu penyimpanan:
1) Suhu ruang (15o 25oC) pada ruangan AC.
2) Suhu dingin (2o 8oC), pada almari pendingin contoh sediaan suppositiria,
insulin dan serum.
Penataan obat dan alat kesehatan disusun pada rak-rak penyimpanan berdasarkan atas:
1) Pemisahan penyimpanan obat dan alat kesehatan, sehingga memudahkan pengambilan
obat
2) Alfabet nama generik obat, obat branded, sehingga memudahkan pengambilan obat
3) Tanggal kadaluarsa FEFO (First Expired date First Out), obat-obat yang tanggal
kadaluarsanya lebih dahulu diletakkan di depan atau diletakkan di tempat terpisah
Untuk obat-obat LASA (Look Alike Sound Alike) penataannya sudah ada pemisahan
jarak dan diberikan penandaan khusus, dan untuk obat-obat yang HIGH ALERT dan
NEAR ED sudah diberi penandaan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya
kesalahan pengambilan obat.
Tempat penyimpanan obat menggunakan rak bersusun dan almari. Untuk obat-obat
narkotik dan psikotropik di simpan dalam lemari berpintu dan berkunci ganda. Depo Farmasi
Rawat Inap melayani pasien umum dan BPJS. Obat atau alkes yang tidak jadi digunakan
dapat dikembalikan (diretur), jadi pasien hanya membayar obat atau alkes yang dipakai saja.
3. Sistem Distribusi Depo Farmasi Rawat Inap
Sistem distribusi di Depo Farmasi Rawat Inap Abiyasa menggunakan sistem
OUDD (One Unit Dose Dispensing). Depo farmasi rawat inap menyiapkan obat pada
perawat untuk dosis sehari ODD (One Daily Dosage) dan bagian keperawatan
memberikan pada pasien untuk dosis sekali minum UDD (Unit Daily Dosage).

B. Depo Farmasi Rawat Jalan Pavilium Abiyasa


1. Sumber Daya Manusia dan Waktu Pelayanan
Sumber daya manusia yang ada pada Satelit Farmasi Rawat Jalan Abiyasa terdiri
dari 5 orang yang dikoordinir 1 AA senior dan 1 Apoteker sebagai penanggung jawab
pelayanan farmasi klinik di satelit farmasi rawat jalan. Dalam melakukan pelayanan
resep di satelit farmasi rawat jalan Abiyasa dilakukan mulai pukul 07.00 selesai (pasien
habis).
2. Pelayanan
Satelit Farmasi Rawat Jalan (SFRJ) melayani pasien umum dan pasien Jaminan
Kesehatan Nasional (JKN) serta pasien pasien peserta asuransi kesehatan yang lain.
Kegiatan pelayanan resep meliputi penerimaan resep oleh petugas penerima resep yang
dimulai dengan memeriksa identitas pasien, memberikan nomor urut resep kepada pasien
atau keluarga pasien. Apoteker dan dibantu Asisten Apoteker melakukan skrinning
administrasi, farmasetis dan klinis pada resep. Petugas akan meng-entry resep ke
komputer untuk laporan keuangan dengan sebelumnya petugas menanyakan dulu
kesanggupan pasien untuk membayar, apabila pasien mengalami kesulitan dalam
pembayaran maka petugas akan mengurangi jumlah obat atau mengganti jenis obat yang
sesuai dengan kemampuan keuangan pasien. Dalam kesehariannya, apotek rawat jalan
bisa menerima resep pasien hingga 150an.
Pasien melakukan pembayaran di loket keuangan dan menyerahkan kembali
resep ke apotek rawat jalan yang kemudian akan dilayani oleh Apoteker dan Asisten
Apoteker. Obat diserahkan kepada bagian peracikan sesuai dengan apa yang telah
diresepkan untuk diracik, pemberian etiket serta pengemasan obat ke dalam wadah
plastik. Sebelum diserahkanrt kepada pasien, obat harus dilakukan pengecekan ulang
oleh Apoteker atau Asisten Apoteker . Setelah obat siap, nama pasien, nomor dan
poliklinik akan dipanggil, kemudian obat diserahkan kepada pasien dengan diberi
penjelasan tentang jumlah, cara pemakaian obat dan hal-hal yang perlu dilakukan pasien.
Adapun alur pelayanan resep rawat jalan untuk pasien umum dan BPJS dapat dilihat
pada Gambar 3 dan Gambar 4.

Pasien datang membawa resep dari


dokter

Pasien diberi nomor urut/antri

Petugas melakukan skrining administrasi, klinis dan farmasetis

Petugas melakukan entry data kedalam


komputer

Petugas mengkonfirmasi harga obat ke


pasien

Apabila pasien kurang setuju dengan harga yang ditawarkan, obat


disubsitusi dengan obat generik atau diberikan sesusai kemampuan
keuangan pasien

Pasien melakukan pembayaran di kasir

Pasien menyerahkan kembali resep ke apotek rawat jalan dengan


membawa kwitansi sebagai bukti pembayaran yang kemudian dilayani
oleh petugas kefarmasian

Dispensing obat oleh petugas farmasi


(resep obat racikan/non racikan)

Pemberian etiket dan pengemasan obat


kedalam wadah obat/plastik

Pengecekkan akhir oleh Apoteker, penyerahan


obat ke pasien disertai PIO dan konseling bila
diperlukan.
Gambar 3.Alur Pelayanan Satelit Farmasi Rawat Jalan untuk Pasien Umum
di Paviliun Abiyasa

Pasien datang membawa resep dari dokter

Pasien diberi nomor urut

Petugas melakukan skrining administrasi, klinis dan farmasetis

Petugas melakukan entry data kedalam komputer dan konfirmasi harga


obat kepada pasien

Apabila pasien keberatan untuk iur biaya akan dilakukan penyesuaian jumlah
obat

Pasien melakukan pembayaran dikasir


Gambar 4.Alur Pelayanan Satelit Farmasi Rawat Jalan untuk Pasien BPJS

Satelit farmasi rawat jalan juga mengadakan dispensing obat untuk obat racikan
dibagi dua yaitu repackaging dan peracikan. Bentuk repackaging misalnya obat dalam
volume besar di packaging menjadi volume lebih kecil sesuai dengan resep. Bentuk
peracikan dalam bentuk beberapa obat jadi disiapkan untuk dijadikan kapsul, puyer, atau
sediaan topikal yang biasa diresepkan kemudian dikemas lagi dan diberi etiket. Satelit
farmasi rawat jalan juga mengadakan pengemasan awal khusus untuk obat-obat racikan
dan non-racikan tertentu yang sering diresepkan dalam jumlah dan dosis yang tetap
untuk mempercepat dan mengefisiensikan pelayanan seperti sediaan campuran pulveres,
kapsul dan sediaan jadi.
Ketika penyerahan obat, dilakukan PIO dan konseling yang diberikan oleh
Apoteker kepada pasien dengan menjelaskan secara ringkas untuk PIO (cara pakai,
aturan pakai, indikasi) dan untuk obat-obat yang dipakai dengan cara pemakaian khusus
maka akan diberikan konseling kepada pasien dan tidak lupa Apoteker akan menanyakan
apakah pasien sudah pernah menggunakan obat tersebut atau belum, sehingga pasien
akan pulang dengan membawa obat dan paham akan indikasi serta cara pemakaiannya.
Kegiatan administrasi yang dilakukan pada rawat jalan Abiyasa adalah
pengelompokkan resep-resep yang masuk setiap harinya berdasarkan poliklinik.
Poliklinik yang ada meliputi poliklinik syaraf, THT, penyakit dalam, penyakit kulit dan
kelamin, anak, paru-paru, gigi, mata, obstetrik dan ginekologi, bedah, jantung, kesehatan
jiwa, dan DM (Diabetes Mellitus). Kemudian resep di setiap poliklinik dikelompokkan
berdasarkan BPJS atau umum. Kegiatan administrasi yang dilakukan satelit farmasi
Paviliun Abiyasa adalah laporan psikotropika-narkotika, obat macet, obat yang telah
kadaluarsa dan mendekati kadaluarsa, obat yang di-copy, cakupan resep, dan laporan
medication error yang rutin dilakukan setiap bulan.
3. Penyimpanan obat
Penyimpanan obat di Satelit Farmasi Rawat Jalan Pusat Geriatri Paviliun Abiyasa
RSMS menggunakan sistem FEFO (First Expired First Out) dengan memperhatikan
aturan Look Alike Sound Alike (LASA) dan obat High Alert. Obat dikelompokkan
berdasarkan nama sediaan (generik dan generik bermerk), bentuk sediaan, kemudian
dikelompokkan lagi berdasarkan efek farmakologi, serta disusun secara alfabetis. Obat
pada suhu dingin (2-8C) disimpan di dalam lemari pendingin, serta Obat psikotropika
dan narkotika disimpan di lemari khusus dengan pintu dan kunci ganda.
4. Sistem distribusi
Sistem distribusi di Satelit Farmasi Rawat Jalan Pusat Geriatri Paviliun Abiyasa
menggunakan Individual Prescription (resep perorangan) dengan alur pelayanan yang
telah dijelaskan sebelumnya. Sistem ini digunakan karena lebih cocok dilakukan kepada
pasien. Dokter akan meresepkan obat untuk diberikan kepada pasien dalam jangka waktu
tertentu sehingga pasien tidak perlu datang memeriksakan atau menebus obat setiap
harinya. Obat yang belum diambil pasien sampai waktu operasional selesai akan
dititipkan ke apotek IGD, sehingga pasien dapat mengambil obatnya disana. Ketika
terdapat pasien datang untuk memeriksakan diri pada saat jam operasional apotek rawat
jalan tutup, maka pasien dapat menebus resep ke apotek IGD yang berada didalam IGD
RS Paviliun Abiyasa.

C. Depo Farmasi Gawat Darurat Paviliun Abiyasa


Depo Farmasi Instalasi Gawat Darurat (IGD) Pusat geriatri dan Paviliun
Abiyasa RSMS yang mempunyai tugas yaitu menyelenggarakan pelayanan
kefarmasian untuk melayani pasien yang masuk ke Paviliun Abiyasa melalui Instalasi
Gawat Darurat. Depo Farmasi Instalasi Gawat Darurat berfungsi sebagai penunjang
pelayanan kesehatan dengan menyediakan alat kesehatan, obat-obatan (terutama untu
obat-obat yang sifatnya life saving drugs/penyelamat hidup). Life saving drugs
merupakan obat yang diperlukan pada keadaan darurat untuk mencegah terjadinya
kecacatan atau kematian serta tidak dapat digantikan dengan obat jenis lainnya. Depo
Farmasi Instalasi Gawat Darurat juga melayani kebutuhan obat untuk pasien rawat
jalan, rawat inap diluar jam kerja kedua depofarmasi tersebut, serta melayani
kebutuhan obat dan alat kesehatan untuk pasien hemodialisa.
1. Sumber Daya Manusia Depo Farmasi IGD
Sumber daya manusia (SDM) yang terdapat di Depo Farmasi IGD Pusat
Geriatri dan Paviliun Abiyasa RSMS terdiri dari 5 pelaksana farmasi yaitu 1 Apoteker
dan 4 Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK). Pelaksana farmasi bertugas melayani resep
yang masuk dari depo farmasi rawat jalan, rawat inap, ruang hemodialisa, menerima
pengembalian obat atau alkes yang tidak digunakan oleh pasien (retur), dan membuat
laporan rutin setiap bulannya seperti laporan NEAR ED, laporan obat macet, laporan
obat ED, laporan cakupan resep, laporan copy resep, laporan narkotik, laporan
psikotropik, laporan form laporan narkotik, dan laporan form absensi pegawai. Waktu
pelayanan di depo farmasi IGD dibagi menjadi 3 shift jam kerja yaitu pagi (07.00-
14.00 WIB), siang (14.00-21.00 WIB) dan malam (21.00-07.00 WIB).
2. Alur Pelayanan Depo Farmasi IGD
Secara garis besar pelayanan resep di Depo Farmasi IGD Pusat Geriatri dan
Paviliun Abiyasa RSMS dimulai dari dokter mengisi kartu obat secara individual
prescribing (IP). Depo Farmasi IGD Pusat Geriatri dan Paviliun Abiyasa RSMS
melayani pasien BPJS dan non BPJS. Pasien BPJS mendapatkan 3 rangkap kartu obat
yaitu warna putih, pink dan kuning, sedangkan untuk pasien non BPJS atau umum
hanya mendapatkan kartu obat warna kuning. Kemudian dilakukan skrining resep
sesuai dengan persyaratan yaitu skrinning administratif, skrinning farmasetis dan
skrinning klinis, jika terdapat ketidaksesuaian resep maka Apoteker akan melakukan
konfirmasi kepada dokter, setelah itu dilakukan entry data penggunaan obat di
komputer, penulisan etiket, dispensing obat, dan penyerahan obat kepada perawat.
Penulisan etiket di IGD dilakukan secara manual dan elektronik yaitu dengan cara di
print dengan printer khusus pembuatan etiket. Etiket putih untuk penggunaan oral dan
biru untuk penggunaan obat luar. Skema alur pelayanan pada Depo Farmasi IGD
Pusat Geriatri dan Paviliun Abiyasa RSMS dapat dilihat pada Gambar 5.

Skrining resep dan entry data di komputer


Pasien datang

Pemantauan kondisi pasien


Observasi kondisi klinis pasien

Perawat mengambil dan mencatat obat dan atau Rawat jalan Pasien yang Rawat inap
alkes yang diperlukan untuk tindakan segera di mendapat
kartu obat tindakan khusus
Gambar 5. Alur Pelayanan Resep Paisen IGD di Depo Farmasi Gawat Darurat Pusat Geriatri
dan Paviliun Abiyasa

Pasien dari luar IGD

Pasien Rawat Jalan Pasien Rawat Inap Pasien hemodialisa

Resep Kartu obat Kartu obat

Skrining resep Skrining Skrining

Entry data ke Entry data ke Entry data ke


komputer komputer komputer

Konfirmasi harga Dispensing Dispensing


(Umum/BPJS) (UDD)

Penyerahan obat Penyerahan obat


Dispensing pada perawat dan alkes pada
perawat

Penyerahan obat
ke pasien
Gambar 6 . Alur Pelayanan Resep Pasien Non IGD di Depo Farmasi Gawat Darurat Pusat
Geriatri dan Paviliun Abiyasa

3. Penyimpanan Depo Farmasi IGD


Sistem penyimpanan obat dan alat kesehatan di Depo Farmasi IGD Pusat Geriatri
dan Paviliun Abiyasa disusun berdasarkan bentuk sediaan yang terdiri dari tablet, sirup,
topikal, infus, injeksi dan alkes, berdasarkan suhu yaitu untuk obat-obat yang stabil pada
suhu kamar disimpan pada suhu 25C-30C, sedangkan untuk obat-obat yang tidak stabil
pada suhu kamar maka disimpan pada suhu dingin antara 2-8C seperti insulin, albumin,
induxin, dan roculac, kemudian berdasarkan alfabetis yaitu dengan menggunakan prinsip
FEFO (First Expired First Out) yaitu obat yang NEAR ED diletakkan didepan agar dapat
keluar terlebih dahulu. Untuk obat-obat LASA (Look Alike Sound Alike) penataannya
yaitu di pisah dan diberi jarak dengan obat lain serta diberikan penandaan khusus untuk
mencegah kesalahan dalam pengambilan. Penyimpanan obat khusus seperti
penyimpanan psikotropik, narkotik, high alert, dan B3, semua obat-obat tersebut
disimpan terpisah. Untuk penyimpanan psikotropik dan narkotik disimpan pada lemari
yang memiliki pintu ganda, kunci ganda dan selalu terkunci. Untuk obat-obat high alert
disimpah terpisah dengan obat lain dan diberi penanda HIGH Alert, sedangkan untuk
B3 juga disimpan terpisah dan diberi penanda B3. Untuk memudahkan dalam mencari
obat maka penyimpanan obat generik dengan obat patent dipisah dan diberi penanda
yaitu warna orange untuk obat generik dan warna pink untuk obat patent.
4. Sistem Distribusi Depo Farmasi IGD
Sistem distribusi obat dan alat kesehatan di Satelit Farmasi Gawat Darurat Pusat
Geriatri dan Paviliun Abiyasa RSMS adalah :
1) IP (Individual Prescribing), sistem ini diterapkan untuk :
a) Pasien IGD yang kondisinya baik dan diperbolehkan pulang (rawat jalan), maka
keluarga pasien akan membawa resep dari dokter ke Depo Farmasi 24 Jam.
b) Untuk pasien rawat jalan sore, hemodialisa, dan rawat inap (di luar jam buka
Satelit Farmasi Rawat Inap)
2) UDD (Unit Daily Dosage) diterapkan bagi pasien IGD yang dipindahkan ke rawat
inap, maka dokter meresepkan obat dan alat kesehatan yang diperlukan dan
selanjutnya Depo Farmasi IGD 24 Jam menyerahkan obat tersebut ke perawat
untuk dibawa ke ruang rawat inap.
3) ODD (One daily Dose Dispensing) diterapkan untuk pasien rawat inap sore (diluar
jam kerja Depo farmasi rawat inap).

D. Evaluasi Pelayanan
Pavilliun Abiyasa memiliki alur pelayanan yang cukup baik karena sudah mampu
menerapkan sistem UDD walaupun masih terbatas, yaitu hanya diruang rawat Anthurium.
Hal ini disebabkan karena keterbatasan jumlah petugas farmasi, yaitu hanya terdiri dari 3
orang apoteker yang dibantu oleh asisten apoteker. Penambahan apoteker sangat
diperlukan untuk memperbaiki sistem pelayanan di Pavilliun Abiyasa.
Ruang penyimpanan obat khususnya di Instalasi Farmasi IGD terlalu sempit dan
tidak sesuai dengan jumlah barang yang ada di dalam ruangan. Hal ini membuat
penyimpanan obat di lemari penyimpanan dan di lantai menjadi bertumpuk sehingga
mengganggu aktivitas dalam ruangan yang juga berpengaruh pada kualitas pelayanan
Rumah sakit karena berpotensi meningkatkan terjadinya kesahalan.
Pada Instalasi Farmasi Rawat Jalan, pengambilan obat narkotika dan psikotropika
tidak dilakukan pencatatan pada kartu stok. Hal ini tidak sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

III. Pembahasan
A. Satelit Farmasi Rawat Jalan
Secara umum pelayanan kefarmasian di Satelit farmasi rawat jalan sudah sangat
baik, petugas sangat tanggap dan terampil dalam melakukan pelayanan. Selama kami
praktek kerja disana, tidak diketemukan permasalahan yang serius karena dilakukan
pemeriksaan ulang (double check) oleh petugas farmasi yang berbeda sebelum
dilakukan penyerahan obat kepada pasien, sehingga kesalahan yang terjadi sebelumnya
dapat diminimalkan dan dihindari. Sudah dilakukannya konseling kepada pasien yang
perlu penanganan khusus seperti pasien yang memakai alat bantu kesehatan dan pasien
penyakit kronis.
B. Satelit Farmasi Rawat Inap
Obat dan alat kesehatan telah disimpan dan disusun sesuai dengan aturan yang benar
(obat LASA, High Alert), namun permasalahan dalam pelayanan di Apotek rawat inap
baik yang dilakukan oleh pegawai farmasi ataupun oleh mahasiswa PKPA yaitu
kesalahan pengambilan obat ataupun alkes seperti obat dan alat kesehatan yang diambil
melebihi atau bahkan kurang dari yang diminta dalam resep. Permasalahan ini dapat
ditangani dengan dilakukan pemeriksaan ulang (double check) oleh petugas farmasi yang
berbeda, sehingga kesalahan yang terjadi sebelumnya dapat diminimalkan dan dihindari.
C. Satelit Farmasi Gawat Darurat
Beberapa kali terdapat obat yang kurang disiapkan untuk pasien rawat inap,
sehingga perawat perlu mengkonfirmasikan dan mengambil obat kembali di SFGD.
Permasalahan ini dapat ditangani dengan dilakukan pemeriksaan ulang (double check)
oleh petugas farmasi yang berbeda, sehingga kesalahan yang terjadi sebelumnya dapat
diminimalkan dan dihindari.

III. Kesimpulan dan Saran


Kesimpulan
Alur pelayanan resep di Instalasi Farmasi Rawat Inap Paviliun Abiyasa RSUD Prof.
Dr. Margono Soekarjo yaitu dengan menuliskan nama pasien dalam buku penerimaan sesuai
dengan ruangan pasien, dispensing obat dan alat kesehatan oleh apoteker dan asisten apoteker
dan distribusi ke ruang perawat untuk dapat diserahkan kepada pasien.
Alur pelayanan resep di Instalasi Farmasi Rawat Jalan Paviliun Abiyasa RSMS yaitu
penerimaan resep, skrining resep, entry data, pemberian harga obat dan persetujuan harga
oleh pasien, pembayaran, dispensing dan pemberian etiket, cek akhir, penyerahan obat dan
PIO.
Alur pelayanan resep di Instalasi Farmasi Gawat Darurat Paviliun Abiyasa RSMS
yaitu pasien diperiksa, untuk pertolongan pertama tersedia paket box di apotek IGD. Jika
perlu, dapat meminta perbekalan farmasi tambahan ke apotek IGD. Kemudian dilakukan
penulisan di kartu obat, entry resep, dan pemberian harga. Pasien rawat jalan mendapatkan
resep individual sedangkan pasien rawat inap akan dipindahkan ke bangsal rawat inap.
Saran
- Kegiatan kunjungan apoteker (visite) ke pasien rawat inap perlu dijalankan secara rutin
dan terjadwal.
- Setiap melakukan peracikan obat terutama untuk sediaan kapsul sebaiknya alat blender
yang telah digunakan langsung di bersihkan sebelum melakukan peracikan obat
selanjutnya.
LAMPIRAN 3

ALUR PELAYANAN RESEP DI SATELIT FARMASI RAWAT INAP DAN


INSTALASI BEDAH SENTRAL (IBS) RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
PURWOKERTO

1. Pendahuluan
Menurut Permenkes No 58 tahun 2014 Instalasi Farmasi adalah unit pelaksana
fungsional yang menyelenggarakan seluruh kegiatan pelayananan kefarmasian di Rumah
Sakit. Instalasi Farmasi Rawat Inap merupakan salah satu instalasi faramsi RSUD Prof. Dr.
Margono Soekarjo yang memberikan pelayanan kefarmasian pada pasien rawat inap.
Instalasi Farmasi Rawat Inap melayani resep dalam bentuk Kartu Obat dari ruang perawatan
(Kenanga, Teratai, Aster, Mawar, Dahlia, Bougenvile, Edelweis, Cempaka, Flamboyan,
Seruni, dan VK) yang diantar melalui perawat, aerocom, dan langsung oleh keluarga pasien
setiap hari Senin sampai Sabtu pukul 07.00 sampai selesai. Tenaga Farmasi di Depo Farmasi
Rawat Inap terdiri dari apoteker penangungjawab (APJ), koordinator, Tenaga Teknis
Kefarmasian (TTK), reseptir, dan transporter. Staf dalam Sub Depo ini berperan sebagai
pelaksana farmasi, dan pelaksana logistik.
Pelaksana farmasi bertugas melayani resep pasien yang masuk meliputi: skrining,
validasi farmasi, pembuatan etiket, entry data, compounding dan dispensing, checking serta
menerima pengembalian obat atau alkes yang tidak digunakan lagi oleh pasien (retur).
Kegiatan di Depo Farmasi Rawat Inap meliputi input data mengenai nama obat, jumlah,
serta harga obat. Tenaga Teknis Kefarmasian akan menuliskan keseluruhan harga obat yang
tertera pada resep atau kartu obat. Selanjutnya, petugas akan meng-entry obat dan alat
kesehatan yang dikembalikan atau di-retur sesuai dengan obat atau alkes yang telah di
resepkan sebelumnya (petugas skrining akan mengecek kembali jumlah dan jenis obat dan
alat kesehatan yang dikembalikan oleh pasien). Pelaksana logistik bertugas dalam
pengadaan perbekalan farmasi di gudang penyangga (buffer stock), memeriksa kesesuaian
barang yang diterima dengan pesanan, mencatat arus keluar masuk perbekalan farmasi di
Depo Rawat Inap dan mengatur penyimpanan perbekalan farmasi sesuai dengan syarat
penyimpanan serta memeriksa perbekalan farmasi yang kadaluwarsa atau rusak. Dalam
pelayanan kefarmasian Depo Farmasi Rawat Inap melakukan pelayanan obat atau alkes
harus memperhatikan Formularium Nasional (FORNAS) untuk pasien BPJS dan Daftar
Obat Rumah Sakit (DORS) untuk pasien umum.
Instalasi Farmasi Bedah Sentral (IBS) di RSMS merupakan bagian dibawah Sub
Pelayanan Depo Farmasi Non VIP yang dikelola oleh dua orang Tenaga Teknis Kefarmasian
(TTK) di bawah pengawasan Apoteker Kepala Sub Pelayanan Instalasi Farmasi dan bagian
dari Rumah Sakit yang memiliki fasilitas khusus. IBS berfungsi menyelenggarakan
pelayanan pembedahan yang efektif dan terjangkau bagi penderita rawat inap baik umum
maupun BPJS, selain itu juga berfungsi sebagai tempat pendidikan, pelatihan dan penelitian.
Sebagai tempat pembedahan maka IBS harus steril dan ruangannya didesain khusus untuk
menjamin sterilitasnya. Obat yang tersedia di IBS sebagian besar adalah obat anestesi dan
obat life saving. Obat-obat dan alat kesehatan yang dikelola oleh Depo IBS meliputi obat-
obat injeksi dan alat kesehatan, sedangkan untuk operasi berupa alat-alat steril yang
disediakan di instalasi CSSD.

II. Tujuan
Mengetahui alur pelayanan kefarmasian di Apotek Rawat Inap dan Depo Instalasi
Bedah Sentral sesuai dengan prosedur tetap yang berlaku di Rumah Sakit Prof.dr. Margono
Soekarjo.

III. Metode Penelitian


Metode yang digunakan dalam penyusunan laporan ini adalah dengan terjun langsung
untuk melakukan proses pelayanan kefarmasian di Instalasi Farmasi Rawat Inap dan
Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Prof.dr. Margono Soekarjo, Purwokerto.

IV. Hasil Dan Pembahasan


A. Depo Farmasi Rawat Inap
RumahSakit Prof. Margono Soekarjo (RSMS) telah menerapkan Standar Prosedur
Operasional (SPO) dalam hal pelayanan resep rawat inap yaitu dari penerimaan resep hingga
penyerahan obat dan konseling pasien. Pembuatan SPO bertujuan agar obat yang diberikan
kepada pasien rawat inap umum dan BPJS tepat pasien, tepat jumlah dan dosis obat, tepat
waktu, sesuai standar serta pasien memahami aturan pemakaian obat. Pembuatan SPO ini
juga bertujuan agar obat yang diberikan kepada pasien rawat inap umum dan BPJS dapat
dipahami oleh petugas sehingga dapat meminimalkan resiko kesalahan dalam dispensing
dan meningkatkan kepatuhan petugas dispensing. Pasien BPJS terdiri BPJS PBI (Jamkesda,
Jamkesmas, Askin) dan BPJS non PBI (Askes, Asuransi, Mandiri.
Pelayanan resep untuk pasien rawat inap adalah memberikan pelayanan obat dan atau
alat kesehatan sesuai resep yang tertulis dalam kartu obat yang diberikan oleh dokter di
Instalasi Rawat Inap dan melayani pengembalian obat atau alat kesehatan yang tidak
digunakan (retur). Bentuk pelayanan resep rawat inap yaitu menggunkaan resep non
elektronik, kemudian system distribusi pelayanan resep menggunakan Once Daily - Unit
Dose Dispensing (OUDD) dan Individual Prescription (IP). Distribusi OUDD untuk pasien
rawat inap di bangsal mawar dan IP untuk pasien pulang.
Depo Farmasi Rawat Inap memberikan pelayanan resep yang berbentuk kartu obat
untuk pasien rawat inap umum, BPJS PBI dan BPJS non PBI. Warna Kartu obat untuk
masing-masing pelayanan tidak ada yang membedakan. Adapun alur pelayanan resep di
Depo Farmasi Rawat Inap sebagai berikut

PASIEN

PASIEN RAWAT
INAP PASIEN PULANG

Kartu obat atau resep Kartu obat atau resep


Gambar 1. Alur Pelayanan Resep di Instalasi Farmasi Rawat Inap RSUD
Prof. Dr. Margono Soekarjo

1. Penyerahan kartu obat


a) Kartu obat diantar keluarga pasien
Keluarga pasien menyerahkan kartu obat ke Tenaga Teknis
Kefarmasian (TTK). Tenaga Teknis Kefarmasian akan melakukan
peencatatan di buku penerimaan resep, kemudian kartu obat diberi nomor
antrian dan ditandai CITO dan diberi nomor jika obat akan ditunggu, resep
tersebut diutamakan untuk dilayani.
b) Kartu obat dari ruang perawatan
Perawat dari ruang perawatan menyerahkan kartu obat yang berisi
resep ke apotek rawat inap. Petugas di rawat inap akan melakukan
pencatatan di buku penerimaan resep.
c) Skrining Resep
Skrining resep yang dilakukan meliputi skrining administrasi, skrining
farmasetis, dan skrining klinis. Skrining administrasi meliputi nama pasien,
alamat pasien, usia pasien, ruang perawatan, kelengkapan resep (nama
dokter, SIK dokter, paraf dokter, tanggal penulisan resep). Skrining
farmasetis meliputi nama obat, bentuk sediaan, dosis, kekuatan obat,
frekuensi obat, inkompatibilitas. Skrining klinis meliputi interaksi obat, Drug
Related Problem (DRP), dan toksisitas. Apabila setelah dilakukan skrining
resep tidak ada masalah, artinya obat yang diberikan telah rasional dan
dilanjutkan dengan penulisan etiket yang meliputi tanggal, nama pasien,
aturan pakai, waktu pemberian obat, dan paraf.
d) Pembuatan Etiket
Etiket yang ada di depo farmasi rawat inap dibagi menjadi dua, yaitu
etiket manual dan elektronik. Etiket manual digunakan untuk resep dengan
sistem Unit Dose Dispensing (UDD) sedangkan etiket elektronik digunakan
untuk resep non UDD.
e) Entry Data
Entry data dilakukan oleh petugas atau Tenaga Teknis Kefarmasian
yang meliputi nama pasien, alamat pasien, ruang perawatan, jaminan
pembayaran, nama obat, jumlah obat dan harga obat. Setelah data di entry
resep akan diberi cap validasi farmasi.
f) Dispensing dan Coumpounding
Setelah data dientry dan dicap validasi, kartu obat kemudian
diserahkan ke bagian dispensing untuk dilakukan penyiapan obat dan alkes
yang tertulis dalam resep, untuk obat racikan diserahkan ke bagian
compounding untuk dilakukan pencampuran obat. Proses dispensing dan
compounding dibawah pengawasan Apoteker penanggung jawab. Semua
obat yang sudah disediakan kemudian dilakukan verifikasi akhir oleh petugas
farmasi.
g) Verifikasi
Setelah obat dan alkes lengkap maka diserahkan ke bagian verifikasi
untuk dilakukan pengecekan ulang. Tujuannya untuk meminimalkan
kesalahan pemberian obat dan alat kesehatan. Obat dan alat kesehatan yang
telah dipastikan benar sesuai dengan yang tertera pada kartu obat, kemudian
dilanjutkan dengan pengemasan.
h) Pengemasan dan pemberian identitas
Setelah selesai dilakukan verifikasi, obat dan alkes dimasukkan ke
dalam kantong plastik dengan disertai pemberian identitas pada kantong
plastik meliputi nama pasien dan kamar perawatan.
i) Penyerahan Obat dan alat kesehatan
1. Penyerahan langsung kepada pasien atau keluarga pasien
Obat dan alkes yang disiapkan berdasarkan kartu obat dengan tanda
CITO diserahkan langsung kepada keluarga pasien dengan memanggil
nama pasien, menanyakan nomor antrian, ruangan pasien dan alamat
pasien, yang disesuaikan pada kartu obat. Penyerahan obat langsung
diserahkan kepada keluarga pasien diikuti dengan pemberian PIO dan
konseling.
2. Distribusi obat dan alat kesehatan ke bangsal
Obat dan alat kesehatan yang disiapkan berdasarkan kartu obat yang berasal dari
ruang perawatan, didistribusikan ke masing-masing ruang perawatan oleh petugas. Alur
pelayanan rawat inap yang ada di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo sudah berjalan dengan
baik, namun masih terdapat kendala terutama dalam ketersediaan obat. Dalam mengatasi stok
obat atau alkes yang kosong, Apoteker maupun petugas farmasi di Apotek Rawat Inap telah
melakukan solusi seperti menawarkan penggunaan obat yang berbeda dengan kelas terapi
yang sama kepada dokter, pemakaian obat dari apotek rawat jalan maupun penggantian obat
generik atau obat yang memiliki kandungan dan efek sama namun dengan nama dagang
berbeda atau bentuk sediaan yang berbeda. Contohnya asam folat diganti dengananemolat,
cilostazol diganti dengan citas Apabila tidak bisa diganti, maka dibuat copy resep
Sistem pengelolaan perbekalan farmasi di Depo Rawat Inap Rumah Sakit dr.
Margono Soekarjo menggunakan resep individu (Individual Prescription) dan Once Daily -
Unit Dose Dispensing (OUDD). Administrasi Depo Farmasi Rawat Inap umum dan BPJS
meliputi perhitungan jumlah resep dan laporan klaim BPJS Rawat Inap. Laporan yang
dikerjakan antara lain laporan penggunaan narkotik dan psikotropik serta laporan penggunaan
obat. Laporan penggunaan narkotik dan psikotropik dari masing masing depo dikumpulkan
ke sekertariat dan selanjutnya dilaporkan ke Departemen Kesehatan sebulan sekali secara
online (email) dan manual sesuai dengan peraturan yang berlaku. Depo Farmasi Rawat inap
juga melayani resep retur, adapun alur resep retur dapat dilihat sebagai berikut :

Obat dan alkes bersama kartu Obat dan alkes disertai kartu obat
obat oleh keluarga pasien dari ruang perawat (biasanya
(untuk pasien pulang) sudah ditulis perawat)

Diberi nomor antrian

Pengecekan obat dan alkes yang


diretur dan di tulis di kartu obat
dengan tanda RETUR

Kartu obat diserahkan kekeluarga pasien Distribusi kartu


dikomunikasikan kepada pasien agar jangan obat keruang
dibawa pulang namun diserahkan kebagian pasien
administrasi
Gambar 2. Alur Pelayanan Resep Retur di Instalasi Farmasi Rawat Inap RSUD Prof.
dr. MargonoSoekarjo

B. Depo Farmasi IBS ( Instalasi Bedah Sentral)


Satelit Farmasi Instalasi Bedah Sentral (IBS) di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo
merupakan bagian dari Sub Satelit Farmasi Rawat Inap yang dikelola oleh satu orang
Apoteker penanggung jawab dan dua orang Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK). Gedung IBS
terdiri dari 2 lantai, dimana lantai 2 dilakukan operasi bedah yang terdiri dari Onkologi,
Ortopedi, Umum, Obsgyn dan Mata, sedangkan lantai 3 digunakan untuk operasi Syaraf,
THT, Bedah Plastik dan Urologi. Depo IBS merupakan depo yang melakukan pelayanan
operasi yang bersifat selektif dan terjadwal, dimana jadwal operasi minimal sudah ada 1 hari
sebelum dilakukan operasi sedangkan untuk operasi yang bersifat emergency atau dadakan,
operasi dilakukan di Depo IGD. Satelit Rawat IBS berfungsi menyelenggarakan pelayanan
pembedahan yang efektif dan terjangkau bagi penderita rawat inap baik umum maupun
BPJS, selain itu juga berfungsi sebagai tempat pendidikan, pelatihan dan penelitian. Sebagai
tempat pembedahan maka IBS harus steril dan ruangannya didesain khusus untuk menjamin
sterilitasnya. IBS mempunyai aturan-aturan yang harus dipatuhi semua karyawan untuk
menjaga kebersihan dan meminimalkan terjadinya infeksi, misalnya penggunaan pakaian,
topi dan masker khusus bagi semua orang yang berada di IBS serta larangan keluar masuk
ruangan IBS secara sembarangan. Biasanya sterilisasi peralatan operasi dilakukan oleh
bagian Central sterile Supplay Departemen (CSSD).
Obat yang tersedia di IBS sebagian besar adalah obat anestesi dan obat life saving.
Obat-obat dan alat kesehatan yang dikelola oleh SF IBS meliputi obat-obat injeksi dan alat
kesehatan habis pakai, sedangkan untuk operasi berupa alat-alat yang dapat disterilkan.
Sistem distribusi obat dan alkes yang diterapkan di SF IBS adalah individual prescribing.
Pelayanan resep untuk pasien bedah sentral adalah memberikan pelayanan obat dan alat
kesehatan sesuai dengan kebutuhan di masing-masing ruang operasi per pasien di IBS. Satelit
ini menyediakan obat-obat khusus yaitu injeksi beserta alkes untuk keperluan pembedahan.
Tujuan dari pelayanan resep bedah sentral adalah agar perbekalan farmasi yang diberikan
kepada pasien yang dioperasi dikamar bedah tepat pasien, tepat jumlah dan dosis obat, tepat
waktu, serta sesuai dengan standar.
Sistem distribusi obat dan alkes yang diterapkan di Depo Farmasi IBS adalah sistem
paket dimana sistem paket tersebut merupakan gabungan dari semi floor stock dan Unit Dose
Dispensing (UDD). Floor stock disini dikarenakan semua obat dan alkes di siapkan untuk
paket operasi tertentu berdasarkan tindakan yang akan dilakukan dimana jumlahnya bisa
berlebih untuk satu kali operasi atau jika kurang jumlahnya dapat meminta kembali di bagian
farmasi dan UDD karena digunakan untuk kebutuhan pasien untuk 1 kali penggunaan.
Prosedur pelayanan resep bedah sentral, berdasarkan kebijakan keputusan Direktur
No.800/0020A/I2014 tentang Kebijakan Pelayanan Farmasi di RSUD Prof. Dr. Margono
Soekarjo Purwokerto butir 1, adalah sebagai berikut:
a. Memeriksa identitas pasien beserta ruang operasinya
b. Memeriksa ketersediaan obat, apabila tidak tersedia, diskusikan dengan dokter bedah dan
atau dokter anestesi untuk alternative obat pengganti.
c. Mengisi perbekalan farmasi sesuai dengan kebutuhan.
d. Mengecek perbekalan farmasi yang telah disediakan termasuk jumlah obat, dosis, dan rute
pemberian.
e. Menyerahkan perbekalan yang telah disiapkan kepada petugas yang bertugas dikamar
operasi.
f. Mengentry seluruh perbekalan farmasi yang digunakan pasien yang dioperasi.

Adapun Alur Pelayanan Resep yang dilakukan di Depo Farmasi IBS dapat dilihat pada
skema berikut :

Jadwal Dispensing Use Skrining dan


operasi konfirmasi

Checking dan returning Entry data

Gambar 3. Alur Pelayanan Resep di Apotek IBS

a. Jadwal Kamar Operasi


Jadwal operasi keluar minimal 1 hari sebelumnya sehingga petugas dapat mulai menyicil
menyiapkan obat dan alkes untuk operasi.
b. Dispensing (anastesi dan bedah)
Obat dan alkes disiapkan bedasarkan kebutuhan operasi pada masing-masing OK yaitu
biasanya paket berdasarkan jenis tindakan berupa tindakan untuk anastesi dan untuk
pembedahan sesuai kasus. Dispensing anastesi biasanya didasarkan pada diagnosa pasien,
jenis kelamin dan jenis tindakan sedangkan untuk dispensing pembedahan yaitu disesuaikan
dengan jenis tindakan yang diambil.
c. Use
Penggunaan obat dan alkes untuk OK biasanya diambil oleh petugas pembedahan, bisa
dokter anestesi, perawat anastesi atau perawat bedah. Bila terdapat tambahan obat dan alkes
selama operasi berlangsung, maka petugas dapat mengambil di Depo Farmasi IBS. Obat yang
digunakan selama operasi ditulis dikartu obat yang berwarna hijau setelah operasi selesai.
d. Skrining dan konfirmasi
Skrining biasanya lebih ditekankan kepada penggunaan dosis anastesi untuk anak-anak.
Konfirmasi dilakukan misalnya untuk paket operasi tertentu yang seharusnya membutuhkan
obat atau alkes tertentu, namun dokter tidak menggunakannya jadi dibutuhkan konfirmasi
untuk mengetahui alasan obat atau alkes tersebut tidak digunakan.
e. Entrying
Setelah operasi selesai, obat dan alkes serta kartu obat di kembalikan di Depo Farmasi
IBS, maka petugas di depo melakukan entry ke SIM Rumah Sakit mengenai penggunaan
obat.
f. Checking dan returning
Tahap ini dilakukan untuk mengecek kesesuaian di kartu obat dan bentuk fisik dari obat
yang tersedia dan untuk melakukan checking setelah proses entry apakah ada barang yang di
retur atau tidak. Jika ada return obat dan alkes, maka obat dan alkes tersebut kemudian
dikembalikan ketempat semula di depo.

V. Kesimpulan
1. Alur pelayanan resep apotek rawat inap RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo dimulai dari
pencatatan kartu obat pada buku penerimaan resep, kemudian skrining resep, penulisan
etiket, entry data, penyiapan obat, checking, pengemasan dan pemberian identitas pasien, dan
terakhir distribusi obat ke bangsal.
2. Alur pelayanan kefarmasian di Instalasi Bedah Sentral (IBS) RSUD Prof. dr. Margono
Soekarjo dimulai dari penyiapan obat dan alkes setelah daftar operasi pasien (keluar H-1
sebelum dilakukan operasi), paket obat dan alkes disesuaikan dengan kebutuhan operasi pada
masing-masing kamar operasi sesuai tindakan, tambahan obat yang dibutuhkan saat operasi
berlangsung dapat diambil oleh perawat atau diantar oleh petugas di Depo Farmasi IBS, obat
dan alkes yang digunakan selama operasi ditulis di kartu obat setelah operasi selesai dan
diserahkan oleh perawat ke bagian Depo Farmasi di IBS untuk dilakukan entry data. Obat
dan alkes yang tidak digunakan dikembalikan ke rak oleh petugas Depo Farmasi di IBS.
LAMPIRAN 4

ALUR PELAYANAN RESEP DI SATELIT FARMASI RAWAT JALAN DAN


INSTALASI GAWAT DARURAT (IGD) RSUD PROF. DR. MARGONO
SOEKARJO PURWOKERTO

I. Pendahuluan
A. Latar Belakang
Menurut UU No.44 Th.2009, rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan bagi
masyarakat dengan karakteristik tersendiri yang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu
pengetahuan kesehatan, kemajuan teknologi, dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat, yang
harus tetap mampu meningkatkan pelayanan yang lebih bermutu dan terjangkau oleh
masyarakat agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Instalasi farmasi merupakan salah satu revenue center utama mengingat lebih dari 90%
pelayanan di rumah sakit menggunakan perbekalan farmasi, dan 50% dari seluruh pemasukan
rumah sakit berasal dari pengelolaan perbekalan farmasi (Yusmainita, 2002), sehingga tidak
mengherankan apabila instalasi farmasi sering mendapat prioritas tinggi dalam pengelolaan
manajemen rumah sakit (Roberts, 2011).
Pelayanan instalasi farmasi rumah sakit meliputi semua unit yang terdapat di rumah
sakit diantaranya unit rawat jalan dan rawat inap, dimana keduanya memiliki alur pelayanan
resep yang berbeda dengan pola asuh kefarmasian yang berbeda pula. Pasien rawat jalan
berbeda dengan pasien rawat inap, dimana tingkat kepatuhan dalam mengkonsumsi obat tidak
bisa dikontrol dan juga tidak semua resep dibeli dari instalasi rumah sakit, sehingga tidak bisa
dipastikan kebenaran dan keamanannya. Disamping obat-obat yang ditulis pada resep, ada
kemungkinan pasien juga menggunakan obat lain yang dibeli dari apotek luar, toko obat, atau
didapat dari keluarganya (Siregar & Amalia, 2004).
Melihat peningkatan jumlah kunjungan yang cukup tinggi, pasien rawat jalan
merupakan salah satu sumber potensi pemasukan bagi rumah sakit, karena pada saat ini ada
perubahan pemahaman dari pelayanan pasien inap ke pasien rawat jalan dan kemajuan
teknologi yang pesat telah memfokuskan fasilitas yang ada sekarang untuk merencanakan
kegiatan pengembangan penunjang medis dan pusat-pusat pelayanan pasien rawat jalan
mandiri (Bastian, 2008).
Dari kondisi dan pernyataan-pernyataan diatas disimpulkan bahwa pengelolaan instalasi
farmasi rumah sakit bisa meningkatkan pendapatan rumah sakit, bila dikelola dengan baik
dengan adanya kesadaran dari semua pihak baik manajemen rumah sakit dan tim farmasi
akan pentingnya mengambil peluang yang ada, salah satunya adalah pengelolaan resep dari
pasien rawat jalan (Rossignol, 2005).
Rumah Sakit Daerah Prof Dr Margono Soekarjo Purwokerto RSUD kelas B Pendidikan
yang merupakan milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang berada di kota Purwokerto
dengan jangkauan pelayanan untuk masyarakat di wilayah Jawa Tengah bagian barat-selatan.
Mengacu Peraturan Gubernur Nomor 059/76 Tahun 2008 maka mulai 1 Januari 2009
menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK BLUD).
Badan Layanan Umum Daerah adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah di lingkungan
pemerintah daerah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa
penyediaan barang dan/ atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan, dan
dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitasTujuan
utamanya adalah meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat untuk
mewujudkan penyelenggaraan tugas-tugas Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Tengah dalam
mewujudkan kesejahteraan umum melalui peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
IFRS Prof. DR. Margono Soekarjo Purwokerto merupakan unit fungsional yang
bertanggung jawab terhadap peningkatan mutu pelayanan kefarmasian secara menyeluruh
yang meliputi perbekalan farmasi maupun farmasi klinik. IFRS dapat melakukan evaluasi dan
pengendalian mutu dengan mengadakan pengukuran kinerja agar dapat memberikan
kontribusi positif terhadap kemajuan dan pendapatan rumah sakit. Kepuasan pelanggan
(pasien) merupakan salah satu pemegang peranan dalam meningkatkan pendapatan dari
perusahaan agar dapat bertahan di era bisnis yang semakin kompetitif. Kepuasan pelanggan
akan tercapai jika kinerja produk (barang atau jasa) semakin mendekati atau melebihi yang
diharapkan atau dipersepsikan oleh konsumen (Julianto dan Heppy, 2000).
Berdasarkan beberapa uraian diatas maka disusunlah makalah ini, dimana didalam
makalah ini dibahas tentang alur pelayanan satelit farmasi rawat jalan dan instalasi gawat
darurat (IGD) di RSUD Prof. DR. Margono Soekarjo, Purwokerto.

II. Tinjauan Pustaka


A. Satelit Farmasi Rawat Jalan dan IGD Rumah Sakit Margono Soekarjoe
1. Satelit Farmasi Rawat Jalan
Satelit Farmasi Rawat Jalan merupakan salah satu sub unit pelayanan farmasi rumah sakit
yang melaksanakan pelayanan kefarmasian untuk pasien Poli Klinik Rawat Jalan Rumah
Sakit Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Pelayanan kefarmasian di Satelit Farmasi
Rawat Jalan dilakukan dari hari senin hingga sabtu yang dimulai pukul 08.00 WIB hingga
selesai.
Satelit Farmasi Rawat Jalan dalam melayani resep pasien menggunakan sistem pelayanan
resep manual dan komputerisasi. Sistem peresepan secara manual merupakan sistem
peresepan konvensional dimana permintaan obat pasien ditulis secara tertulis dalam resep
oleh dokter dan resep tersebut harus diserahkan di satelit farmasi rawat jalan. Sedangkan
sistem peresepan komputerisasi merupakan sistem peresepan yang permintaan obat pasien
tertulis dalam komputer dan permintaan obat tersebut sudah dapat diakses langsung dalam
komputer di satelit farmasi rawat jalan yang telah terintergrasi oleh suatu sistem informasi.
Peresepan secara komputerisasi bertujuan untuk mempercepat waktu pelayanan sehingga
waktu tunggu pasien dalam pengambilan obat menjadi lebih singkat. Selain itu dengan
adanya sistem peresepan secara komputerisasi juga dapat mempermudah dalam pembacaan
resep sehingga dapat meminimalkan terjadinya medication error.
Pelayanan di Satelit Farmasi Rawat Jalan melayani resep Umum dan resep BPJS baik
kategori PBI maupun non PBI. Untuk membedakan ketiga jenis resep tersebut maka
diberikan perbedaan warna antar jenis resep dimana untuk resep umum berwarna kuning,
resep BPJS PBI berwarna biru, sedangkan resep BPJS non PBI berwarna putih. Selain itu
pada kegiatan pelayanan resep di rawat jalan juga dikelompokan menjadi beberapa bagian
yang terdiri dari kelompok resep B, C, dan D.
Kelompok resep B merupakan kelompok resep khusus untuk pasien BPJS, kelompok
resep C untuk pasien yang menerima obat racikan, dan kelompok resep D adalah kelompok
pasien umum. Secara umum yang membedakan resep umum dan resep BPJS adalah pada
sistem pembayaran dimana pasien umum membayar sejumlah obat yang diterima,
sedangkan pada pasien BPJS pembayarannya telah ditanggung asuransi kesehatan.
Berdasarkan alur pelayanan resep pasien umum tersebut pasien yang akan menebus resep
maka harus menyerahkan resepnya atau kartu pendaftaran kepada petugas penerima resep
dari satelit farmasi rawat jalan yang terdapat pada loket 3. Selanjutnya petugas bagian
penerimaan resep tersebut akan mengidentifikasi resep yang dibawa pasien tersebut,
memberikan nomor resep, dan memberikan nomor urut pasien. Dalam hal ini petugas bagian
penerimaan resep juga dapat mengidentifikasi jenis-jenis pasien yang perlu pelayanan cepat
karena suatu kondisi khusus. Petugas bagian penerimaan resep selanjutnya melakukan
pengkajian terhadap resep pasien dan menghitung harga keseluruhan obat pasien. Penentuan
harga obat ini sudah terdapat ketetapan oleh pihak rumah sakit. Pada umumnya apabila
harga keseluruhan obat yang diterima pasien melebihi Rp. 100.000,- maka harus dilakukan
persetujuan terkait dengan harga obat kepada pasien yang bersangkutan. Apabila dalam
pengajuan harga obat ini pasien setuju maka dapat langsung dilanjutkan pembayaran obat
dan penyiapan obat. Namun apabila pasien merasa keberatan terkait dengan harga obat yang
akan diterima pasien, maka petugas penerimaan resep dapat memberikan pilihan yaitu
menebus sebagian obat atau ditawarkan penggantian obat yang memiliki khasiat yang sama
namun dengan harga yang lebih terjangkau. Proses pembayaran terhadap obat-obatan yang
diterima pasien dilakukan pada loket 2 yaitu bagian kasir.
Setelah dilakukan pembayaran maka resep pasien akan masuk bagian penyiapan obat.
Sebelum obat disiapkan, maka resep akan diterima bagian administrasi untuk dilakukan
entry resep serta pembuatan etiket. Etiket yang digunakan di satelit farmasi rawat jalan
terdiri dari 3 jenis yaitu etiket berwarna putih, etiket berwarna biru, dan etiket sticker. Etiket
berwarna putih digunakan untuk obat-obat yang digunakan secara oral dan melewati saluran
gastrointestinal. Etiket berwarna biru digunakan untuk obat-obatan yang administrasinya
tidak melewati saluran gastrointestinal. Sedangkan etiket dalam bentuk sticker merupakan
etiket yang digunakan untuk obat-obatan yang melewati saluran gastrointestinal. Namun
resep ini pembuatannya sudah secara otomatis dan telah memuat informasi tentang pasien
dan obat yang diterima pasien. Pembuatan etiket dalam bentuk sticker ini bertujuan untuk
mempermudah dalam penyiapan obat sehingga dapat menurunkan waktu tunggu pasien.
Selain kegiatan-kegiatan ini, bagian skrining juga berperan dalam pembuatan copy resep
apabila terdapat resep yang hanya ditebus sebagian atau tidak adanya salah satu jenis obat
yang diminta dalam resep. Output dari bagian administrasi berupa berkas-berkas yang terdiri
dari resep, slip pendaftaran, etiket, dan slip lain yang terkait dengan kondisi pasien.
Setelah resep dilakukan entry dan dibuatkan etiket, maka selanjutnya dilakukan
penyiapan obat. Pada kegiatan penyiapan obat terdapat banyak petugas yang memiliki
bagian masing-masing. Petugas bagian penyiapan obat ini terdiri dari petugas yang bertugas
dalam pengambilan obat-obatan, petugas pengemasan obat, petugas peracikan sediaan puyer
dan kapsul, dan petugas bagian peracikan sediaan topikal. Selanjutnya sebelum obat
diserahkan ke bagian penyerahan obat, maka dilakukan pemeriksaan kelengkapan obat
secara keseluruhan oleh petugas mulai dari nama pasien, nama obat, dosis bentuk sediaan,
dan etiket. Apabila obat-obatan dinilai telah sesuai, maka obat-obatan dapat langsung
diserahkan ke bagian penyerahan obat yaitu pada loket 1.
Proses penyerahan obat kepada pasien dimulai dengan memanggil nomor urut pasien.
Selanjutnya petugas bagian penyerahan obat harus memastikan ketepatan pasien dengan cara
mengecek kesesuaian nomor urut pasien, nama pasien, dan alamat pasien dengan yang
tertulis dalam resep pasien. Saat petugas menyerahkan obat kepada pasien harus disertai
dengan pemberian informasi obat yang meliputi nama obat, kegunaan obat, efek samping
dan aturan pakai. Apabila terdapat pasien kriteria tertentu yang membutuhkan konseling,
maka dapat dilakukan konseling kepada pasien oleh apoteker. Kriteria pasien yang perlu
dilakukan konseling dalam hal ini adalah pasien yang mendapatkan obat dengan cara kerja
khusus dan merupakan pasien yang pertama kali mendapatkan sediaan tersebut. Selain itu
kegiatan konseling juga dapat dilakukan kepada pasien yang dinilai perlu untuk dilakukan
konseling. Pada proses penerimaan resep, pemeriksaan akhir dan penyerahan dan pemberian
informasi obat dilakukan oleh Apoteker.
Satelit Farmasi Rawat Jalan selain melayani pasien umum juga melayani pasien BPJS.
Alur pelayanan pasien BPJS secara umum sama seperti alur pelayanan pada pasien umum.
Namun terdapat hal yang membedakan antara keduanya, yaitu terkait dengan pembayaran.
Pasien BPJS tidak dikenakan biaya obat karena pembayarannya telah ditanggung asuransi
kesehatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Proses pelayanan pasien BPJS dimulai ketika pasien menyerahkan resep atau kartu
pendaftaran ke bagian penerimaan resep di satelit farmasi rawat jalan loket 4. Ketika resep
datang, maka petugas bagian penerimaan resep akan memberikan nomor urut kepada pasien,
memberikan nomor resep, serta juga dapat mengidentifikasi tentang kondisi pasien apakah
perlu diberikan pelayanan lebih cepat atau tidak. Selanjutnya petugas bagian penerimaan
resep akan melakukan pengkajian terhadap resep yang diterima. Setelah dilakukan
pengkajian maka selanjutnya resep akan masuk bagian penyiapan obat dan akan diterima
oleh bagian administrasi. Bagian administrasi dalam hal ini bertugas dalam melakukan entry
resep, membuat etiket baik manual maupun secara komputerisasi, serta membuat copy resep
apabila terdapat suatu jenis obat yang tidak tersedia. Berkas-berkas dari bagian administrasi
yang telah siap untuk dilakukan penyiapan obat selanjutnya dapat langsung dilakukan
penyiapan obat. Dalam hal ini resep dapat dibagi menjadi 2 yang terdiri dari resep racikan
dan non racikan. Resep racikan sendiri juga dapat dibedakan menjadi 2 yaitu resep racikan
untuk sediaan topikal dan sediaan puyer/kapsul. Untuk resep racikan maka obat-obatan yang
perlu diracik dikumpulkan dalam 1 plastik dan dibawa ke petugas bagian peracikan.
Sedangkan untuk resep non racikan maka obat-obatan cukup disiapkan, dikemas, dan
diberikan etiket yang telah disiapkan oleh bagian administrasi sebelumnya. Obat yang telah
disiapkan sebelum diserahkan bagian penyerahan obat, maka harus dilakukan pemeriksaan
kembali oleh petugas bagian pengecekan akhir. Dalam hal ini pengecekan kembali berfungsi
untuk meminimalkan terjadinya kesalahan dalam penyiapan obat serta meminimalkan
terjadinya medication error. Setelah obat-obatan diteliti kembali dan dinyatakan sesuai,
maka selanjutnya obat-obatan beserta dengan berkas-berkas terkait diserahkan ke bagian
penyerahan obat pada loket 1 untuk dilakukan penyerahan obat dan pemberian informasi
terkait dengan pengobatan pasien.
Bagian penyerahan obat di loket 1 terdapat petugas yang bertugas dalam menyerahkan
obat-obatan sesuai dengan resep pasien. Sebelum dilakukan penyerahan obat kepada pasien,
maka pasien dipanggil berdasarkan nomor urut antrian. Ketika pasien datang maka juga
harus dilakukan pemeriksaan terkait dengan kesesuaian nomor urut antrian, nama pasien,
dan alamat pasien. Bagian ini selain menyerahkan obat juga memberikan informasi terkait
dengan instruksi pengobatan pasien serta informasi lain yang diperlukan. Sama halnya
dengan pelayanan pasien umum, apabila terdapat obat-obatan dengan cara kerja khusus
seperti seretide discuss, spiriva, inhaler dan lain-lainnya maka perlu dilakukan konseling
oleh apoteker. Kegiatan konseling ini dilakukan pada ruangan khusus dan bertujuan untuk
meningkatkan pemahaman pasien terkait dengan instruksi dan cara pakai obat yang diterima
pasien. Setelah kegiatan konseling berakhir, maka kegiatan konseling harus dilakukan
dokumentasi yang disertai dengan tanda tangan pasien.
2. Satelit Farmasi Gawat Darurat
Satelit farmasi gawat darurat (SFGD) melayani obat dan alat kesehatan yang dibutuhkan
di SFGD. Selain itu juga melayani kebutuhan obat dan alat kesehatan untuk Unit
Hemodialisa, SFRJ sore (diatas jam 17.00) dan SFRI di luar jam buka masing-masing tempat
tersebut.
Sistem distribusi perbekalan farmasi yang diterapkan di satelit farmasi IGD adalah sistem
peresepan individu. Sistem peresepan individu adalah sistem penyiapan dan pendistribusian
perbekalan farmasi berdasarkan resep per pasien. Penulisan resep untuk pasien di IGD
menggunakan kartu obat yang telah disediakan oleh RSMS. Resep harus ditulis oleh dokter
yang memeriksa dan merawat pasien saat itu disertai tanda tangan dokter tersebut pada kartu
obat. Penulisan resep dibedakan melalui kertas warna resep yang dibagimenjadi 3 jenis yaitu
untuk pasien rawat inap BPJS PBI menggunakan kertas resep berwarna hijau, sementara
pasien rawat inap BPJS Non PBI menggunakan kertas resep berwarna putih, dan untuk pasien
rawat inap Non BPJS menggunakan kertas resep warna kuning. Pemberian obat dilakukan
selama diobservasi di IGD atau maksimal untuk 1 hari.
Pasien yang datang ke IGD dibedakan menjadi 3, yaitu pasien yang sedang diobservasi,
pasien yang dioperasi di OK atau VK IGD, dan pasien yang diperbolehkan pulang dari IGD.
Alur pelayanan untuk pasien yang sedang diobservasi yaitu : perawat IGD datang ke
SFGD untuk mengambil obat dan alat kesehatan yang diperlukan untuk penanganan segera
pasien dengan menuliskan nama, dosis, dan jumlahnya ke dalam resep pasien. Petugas
farmasi SFGD kemudian mengecek obat atau alat kesehatan apa saja yang akan diambil dan
mencatat dalam buku catatan SFGD. Setelah kondisi kedaruratan teratasi, perawat IGD
menyerahkan resep yang telah berisi catatan obat dan alat kesehatan yang diambil
sebelumnya beserta resep yang ditulis dokter IGD paska kedaruratan teratasi kepada petugas
farmasi SFGD.
Pengambilan alat kesehatan oleh perawat dilakukan secara langsung ke SFGD dan jarang
mengambil perbekalan kesehatan berupa obat atau perbekalan lain yang ada di emergency kit.
Hal ini dilakukan karena perbekalan kesehatan yang ada di emergency kit tidak rutin
dilakukan pengecekan terhadap stock obat yang kosong dan waktu ED. Apabila obat yang
terdapat di emergency kitmempunyai ED tahun ini maka diganti dengan obat yang ED nya
minimal tahun depan. Hal inidilakauakanuntuk mencegah penggunaan obat ED pada pasien
gawat darurat. Pengecekan obat ED dilakukan oleh petugas khusus pengecekan, untuk
perbekes yang hampir ED diambil oleh petugas dan dilabeli dengan tulisan Near ED.
Petugas farmasi SFGD menerima dan memeriksa kelengkapan resep (nama pasien,
alamat pasien, no. registrasi/rekam medik, nama dan paraf dokter penulis resep), serta
mencocokkan nama, dosis dan jumlah obat atau alat kesehatan yang digunakan sebagai terapi
kedaruratan dengan catatan SFGD. Kemudian petugas farmasi SFGD mengambil dan
menyerahkan obat atau alat kesehatan sesuai dengan resep yang ditulis dokter IGD paska
kedaruratan. Selanjutnya untuk pasien yang akan dipindahkan ke ruang rawat inap, maka
petugas farmasi SFGD memasukkan data resep ke SIM. Setelah itu petugas farmasi SFGD
menyerahkan resep pasien kepada petugas transporter. Berikut ini skema alur pelayanan
untuk pasien yang sedang diobservasi di Satelit farmasi IGD.
Untuk pasien yang akan dioperasi di OperatieKamer(OK) atau Verlos Kamer (VK) IGD,
pelayanan perbekalan farmasi menggunakan sistem paket yaitu craneotomi,
laparotomi/hernia, dan sectio/KET. Perawat IGD mengajukan permintaan paket sesuai
dengan jenis operasi. Setelah operasi selesai, perawat IGD mengembalikan paket perbekalan
farmasi untuk kemudian dilakukan pemeriksaan jumlah perbekalan farmasi yang telah
digunakan dan sisanya. Perbekalan yang telah digunakan dimasukkan datanya di SIM.
Selain itu juga diterapkan sistem distribusi floor stock yakni menyediakan perbekalan
farmasi di lemari penyimpanan di ruang operasi. Stok dicek setiap hari dan disalurkan apabila
sudah menipis.
Stelit Farmasi IGD juga melayani resep untuk pasien-pasien di unit hemodialisa. Setiap
harinya, satelit farmasi IGD menyalurkan paket hemodialisa yang terdiri atas alkes (dializer,
infus NaCl, spuit, transfusion set, nipro set dan lain-lain
B. Sumber Daya Manusia
Satelit Farmasi IGD memiliki 1 apoteker dan 5 asisten apoteker, yang masing-masing
bertanggung jawab untuk pelaksanaan kegiatan manajemen perbekalan farmasi dan
pelayanan farmasi. Penanggung jawab apotek IGD di RS Margono adalah seorang apoteker.
Pelayanan farmasi setiap harinya dilakukan dalam 3 shift selama 24 jam sehingga dapat
selalu mengantisipasi kebutuhan pasien IGD yang kondisinya dapat berubah-ubah setiap saat.

III. Hasil dan Pembahasan


A. Hasil
Pelayanan resep oleh Satelit Farmasi Rawat Jalan terdapat suatu alur pelayanan yang
dimulai dari pasien datang dengan membawa resep hingga pasien pulang dengan membawa
obat. Secara garis besar, alur pelayanan resep tersebut dibedakan menjadi 2 yaitu pelayanan
resep untuk pasien umum dan pelayanan resep untuk pasien BPJS. Berikut ini merupakan
masing-masing alur pelayanan :
1) Alur Pelayanan Resep Pasien Umum

Kontrol Penomoran Pemberian


Identitas Resep dan No. Antrian
Pasien Resep
Pasien Racikan/No
Pasien n Racikan

Persetujuan Harga Entry


Entry Skrining
Harga Obat Data
Data dan Etiket
(Validasi
(Validasi
Resep)
Resep)

Diberi Penyerahan
Pembayara Dispensing Cek Akhir Obat dan
alternative lain, nPembayaran
menawarkan Obat PIO
penggantian
obat yang
memiliki zat
aktif dan Pasien Pengembalian
khasiat yang Pulang No. Antrian
sama
Gambar 1. Alur Pelayanan Rawat Jalan Pasien Umum RSMS

2) Alur Pelayanan Resep Pasien BPJS

Pasien datang
memberikan resep
Kegiatan Loket 4 :
1. Pemberian nomor antrian
Menyerahkan resep ke loket 2. Pemberian nomor resep
4 3. Pengkajian resep

Resep ditertima bagian


Administrasi Kegiatan bagian
Administrasi :
1. Entry Resep
Dispensing 2. Pembuatan etiket
3. Pembuatan copy resep
Pemeriksaan akhir

Penyerahan obat di loket 1

Gambar 2. Alur Pelayanan Rawat Jalan Pasien BPJS RSMS

3) Alur Pelayanan Resep di IGD

Perawat IGD datang ke SFGD untuk mengambil obat dan Alkes yang diperlukan

Petugas farmasi SFGD memeriksa obat dan alat kesehatan tsb serta
mencatat di kartu obat

Petugas SFGD mengambilkan perbekalan yang dibutuhkan dan


menyerahkannya kepada perawat IGD

Kondisi darurat teratasi

Kartu obat diserahkan kepada petugas SFGD


Gambar 3. Alur Pelayanan Pasien Sedang Diobservasi Dengan Kondisi Gawat Darurat

4) Alur Pelayanan Resep di Ruang OK

Pelayanan perbekalan farmasi di OK dan VK IGD untuk pasien yang akan dioperasi
menggunakan system paket (craneotomi, laparotomi/hernia, dan sectio/KET)

Perawat IGD mengajukan permintaan paket perbekalan farmasi sesuai dengan


jenis operasi

Setelah selesai operasi, petugas IGD mengembalikan paket perbekalan farmasi ke SFGD

Petugas SFGD memeriksa jumlah perbekalan farmasi yang telah digunakan dan sisanya
sesuai dengan daftar yang ada di kotak dan mencatatnya di kartu obat pasien

Perbekalan farmasi yang telah digunakan dimasukkan dalam SIM

Gambar 4. Alur Pelayanan untuk Pasien yang dioperasi di OK IGD

5) Alur Pelayanan Resep Pasien Pulang

Petugas/pasien
Resep dibawa masuk menyerahkan resep ke
Pasien datang oleh petugas
Apotek IGD
IGD/pasien

Melakukan konfirmasi Petugas farmasi IGD


Entry Resep
harga obat melakukan skrining resep

Pasien melakukan Dispensing Pengecekan


pembayaran akhir
Penyerahan Obat dan PIO
Gambar 5. Alur Pelayanan untuk Pasien yang diperbolehkan pulang dari IGD

B. Pembahasan
Satelit farmasi rawat jalan merupakan satelit farmasi yang melakukan pekerjaan meliputi
pelayanan resep, dispensing, pengelolaan obat dan alat kesehatan serta pelayanan farmasi
klinis. Pengelolaan obat dan alkes di rawat jalan RSMS meliputi perencanaan, pengadaan,
penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pelaporan, evaluasi dan pengendalian obat dan
alkes. Perencanaan satelit farmasi rawat jalan menggunakan metode konsumsi yang dilihat
berdasarkan pada pengeluaran harian dan jumlah kebutuhan obat berdasarkan pola peresepan
di pelayanan poliklinik. Pengadaan obat di satelit farmasi rawat jalan dilakukan setiap hari
pada pagi hari sebelum pelayanan berlangsung. Satelit farmasi rawat jalan melakukan
pemesanan secara langsung ke bagian gudang pusat RSMS menggunakan surat pesanan.
Barang yang dipesan diterima dan disimpan di gudang buffer di bagian satelit farmasi rawat
jalan. Penataan obat di gudang buffer yaitu berdasarkan bentuk sediaan, alfabetis, dan
dipisahkan antara obat generik dan obat merek dagang.
Penyimpanan obat untuk pelayanan di rawat jalan disimpan di rak-rak berdasarkan bentuk
sediaan (tablet, kapsul, suppositoria, cair, tetes mata, salep mata, salep kulit), alfabetis,
dipisahkan antara obat generik dengan obat merek dagang, obat yang harus disimpan pada
suhu dingin disimpan di kulkas, dan untuk penyimpanan narkotik dan psikotropika
menggunakan lemari yang mempunyai kunci ganda. Obat-obat high alert dan obat-obat yang
penggunaannya berisiko tinggi disimpan di lemari khusus high alert. Penyimpanan obat di
pelayanan farmasi rawat jalan secara keseluruhan sudah baik. Namun ada beberapa hal yang
masih kurang yaitu penyimpanan obat yang tidak sesuai dengan susunannya. Hal ini terjadi
karena kurangnya rak penyimpanan obat. Selain itu saat dispensing penyusunan obat menjadi
tidak teratur dan terjadi perubahan susunan obat. Penyusunan sesuai urutan alfabetis yang
sudah dilakukan menjadi teracak dikarenakan pelayanan obat di rawat jalan yang sangat
cepat. Untuk mengatasi hal ini dibutuhkan kebiasaan untuk menata kembali obat-obatan
sesuai dengan aturan setelah pelayanan di satelit farmasi rawat jalan selesai dilakukan.
Pendistribusian di satelit farmasi rawat jalan dilakukan dengan sistem individual
prescribing yaitu menyiapkan obat untuk setiap pasien sesuai dengan yang tertulis pada
resep. Di satelit farmasi rawat jalan melayani resep kurang lebih 500 resep dari semua poli
yang ada di RSMS baik pasien umum maupun pasien BPJS.
Pelaporan yang dilakukan oleh satelit farmasi rawat jalan meliputi pelaporan narkotik dan
psikotropik yang dilaporkan ke gudang pusat yang nantinya digunakan untuk pelaporan
sesuai perundang-undangan. Pelaporan lain yang dilakukan adalah melaporkan sisa stok
kegudang pusat. Pelaporan ini dilakukan setiap bulan.
Selain pelaporan dilakukan juga evaluasi yang meliputi evaluasi stok dengan
menyesuaikan jumlah stok fisik dengan jumlah stok yang ada dikartu stok dan yang ada di
SIM, evaluasi obat fast moving, slow moving, dan obat-obat ED.
Kegiatan pelayanan farmasi klinik yang dilakukan di pelayan rawat jalan antara lain
pelayanan resep, Dispensing, pemberian informasi obat dan konseling. Tahap kegiatan utama
dalam proses pelayanan resep di SFRJ RSMS, antara lain:
a. Penerimaan resep
Pasien menyerahkan resep kemudian nomor register dicatat pada lembar resep
berwarna kuning. Kemudian pasien diberi nomor urut pengambilan obat, yang dibedakan
antara resep racikan, non racikan dan DM.
b. Skrining Resep
Skrining resep yang meliputi skrining administrasi, farmasetis dan klinis. Skrining
resep dilakukan untuk mendeteksi dan mencegah terjadinya Medication error dan Drug
Related Problem (DRP) terhadap pasien yang menerima obat. Skrining resep dimulai
dengan melakukan pengkajian administrasi untuk melihat kelengkapan dan kebenaran
identitas pasien. Setelah itu, dilakukan skrining farmasetis untuk mengkaji kelengkapan
obat yang diresepkan termasuk bentuk sediaan, kekuatan sediaan dan jumlah obat yang
diminta. Pada tahap akhir, dilakukan skrining klinis untuk melihat adanya kemungkinan
Medication error atau DRP pada obat-obat yang diresepkan. Jika terdapat permasalahan
dalam resep, masalah tersebut dapat diselesaikan oleh Apoteker, bila perlu didiskusikan
juga dengan dokter penulis resep.
Penulisan etiket sesuai dengan resep dan diberi keterangan waktu minum obat serta
keterangan khusus yang diperlukan, misalnya untuk sediaan suspensi kocok dahulu,
antibiotik rutin setiap hari dihabiskan.
Dalam mengkaji kelengkapan resep, apoteker, atau asisten apoteker harus memastikan
bahwa informasi berikut telah tertera, yaitu:

1. Nama penderita, umur dan alamat pasien.


2. Tanggal penulisan resep, nama obat, dosis, bentuk sediaan, kuantitas, aturan pakai.
3. Tanda tangan dokter penulis.
4. Jika perlu, instruksi lain dari dokter
5. Pasien dipanggil kembali guna konfirmasi harga, dengan harapan pasien dapat
menerima obat secara penuh dalam kondisi keuangan pasien yang sesuai.
c. Penyiapan obat (Dispensing)
Tahap ini merupakan bagian utama dari proses dispensing. Dalam penyiapan
obat, staf dibagi menjadi dua bagian penyiapan obat, yaitu obat non-racikan, racikan.
Obat racikan terdiri dari bentuk sediaan puyer, kapsul dan salep atau krim. Dispensing
untuk obat racikan dibagi menjadi dua yaitu peracikan dan repackaging. Peracikan
dilakukan jika obat jadi akan dijadikan puyer, kapsul atau krim/salep. Repackaging
dilakukan jika volume obat yang besar dibuat menjadi volume yang lebih kecil.
Dispensing obat dilakukan sesuai dengan jenis sediaan dan jumlah obat yang
diminta dan memasukkannya ke dalam wadah obat/plastik, untuk obat non racikan.
Jika obat yang diminta racikan (puyer, kapsul, sirup, salep campuran dan lain-lain)
bahan di timbang dengan jumlah yang di minta dalam resep. Reseptir akan melakukan
pencampuran obat, sehingga obat racikan siap dikemas menggunakan wadah obat
atau plastik. Sedangkan untuk obat obat yang sering di gunakan, satelit farmasi
sudah mempersiapkan sebelumnya untuk mempercepat proses pelayanan. Setelah
dispensing selesai, dilakukan pemeriksaan kesesuaian obat yang telah didispensing
dengan permintaan dalam resep berupa:
1. Identitas pasien dan asal resep (poliklinik)
2. Nama Obat, Jenis Sediaan dan jumlahnya
3. Aturan pakai obat dalam etiket.
4. Pemeriksaan obat (final checking)
Sebelum obat diserahkan kepada pasien, dilakukan pemeriksaan kelengkapan obat
secara keseluruhan, dimulai dari nama pasien, nama obat, dosis, jumlah dan bentuk
sediaan, dan etiket. Pemeriksaan kembali obat dilakukan untuk menghindari kesalahan
terutama kelengkapan jumlah, dosis dan nama pasien.
d. Penyerahan obat
Apoteker menyerahkan obat kepada pasien disertai dengan pemberian
informasi obat yang meliputi nama obat, kegunaan obat, efek samping dan aturan
pakai. Jika diperlukan lakukan konseling untuk obat-obat tertentu misalnya sediaan
inhaler, tetes mata, tetes telinga, salep mata, suppositoria dan lain lain. Informasi
tertentu diberikan untuk pasien yang baru pertama kali menggunakan sediaan
tersebut.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 58 tahun 2014 tentang
Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit disebutkan bahwa kegiatan konseling
baik di rawat jalan atau di rawat inap dilakukan atas dasar inisiatif apoteker, rujukan
dokter, maupun keinginan pasien atau keluarganya. Konseling bertujuan untuk
meningkatkan pemahaman pasien terkait dengan instruksi pengobatan yang diberikan
sehingga dapat meningkatkan komitmen pasien dalam pengobatannya. Selain itu juga
dapat bermanfaat untuk mencegah terjadinya pengobatan yang tidak rasional oleh
pasien.
Implementasi kegiatan konseling di satelit farmasi rawat jalan RSUD Prof. Dr.
Margono Soekarjo dilaksanakan dengan baik. Pelaksanaan kegiatan konseling di
satelit farmasi rawat jalan dilakukan oleh apoteker yang kompeten. Ditinjau dari segi
sarana dan prasarana, satelit farmasi rawat jalan menyediakan ruangan konseling yang
nyaman bagi pasien dimana ruangan tersebut merupakan ruangan yang tertutup,
nyaman, serta cukup luas. Selain itu di ruang konseling juga terdapat beberapa alat
peraga yang dapat digunakan apoteker untuk memberikan instruksi atau contoh dalam
menggunakan suatu obat yang memiliki cara penggunaan khusus. Dengan hal-hal
tersebut diharapkan dapat membantu pasien dalam mendapatkan terapi yang optimal
serta meningkatkan keamanan penggunaan obat bagi pasien.
Berdasarkan Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit disebutkan
bahwa terdapat suatu kriteria pasien yang perlu dilakukan konseling. Kriteria pasien
tersebut terdiri dari pasien kondisi khusus (pediatri, geriatri, gangguan ginjal, hamil
dan menyusui), pasien dengan terapi jangka panjang, pasien yang mendapatka obat
dengan cara kerja khusus, pasien yang mendapatkan obat dengan indeks terapi yang
sempit, pasien dengan polifarmasi, dan pasien yang memiliki tingkat kepatuhan yang
rendah. Dalam hal ini satelit farmasi rawat jalan RSMS pelaksanaan kegiatan
konseling tidak dilakukan terhadap keseluruhan kriteria pasien tersebut. Hal ini
disebabkan karena tingginya tingkat kegiatan di satelit farmasi rawat jalan serta
kurangnya waktu dalam melaksanakan konseling. Pelaksanaan kegiatan konseling di
satelit farmasi rawat jalan hanya dilakukan kepada pasien yang pertama kali
mendapatkan obat dengan instruksi penggunaan khusus, contohnya adalah pasien
yang pertama kali mendapatkan obat seretide discuss, spiriva, maupun inhaler.
Kegiatan konseling dimulai dengan cara membuka komunikasi antara apoteker dan
pasien. Selanjutnya dilakukan identifikasi pemahaman pasien terkait dengan obat
yang diterimanya yaitu dengan teknik three prime questions serta menggali informasi
pasien lebih lanjut apabila diperlukan. Setelah pengetahuan pasien terkait dengan
pengobatan tersebut diketahui, kemudian dilakukan pemberian penjelasan kepada
pasien terkait dengan instruksi pengobatan. Pada akhir kegiatan konseling dilakukan
dokumentasi kegiatan dengan cara mengisi buku kegiatan konseling yang berisi
tanggal dilakukannya konseling, nama pasien, tanda tangan apoteker yang
memberikan konseling, dan tanda tangan pasien
Instalasi Gawat Darurat RSMS merupakan fasilitas pelayanan pasien yang
membutuhkan pertolongan cepat dan tepat dengan standar pelayanan gawat darurat
yang sesuai dengan kompetensi dan kemampuan sehingga dapat menjamin suatu
penganan gawat darurat respon time yang cepat dan penangan tepat. Pelayanan
dilaksanakan 24 jam setiap harinya sehingga diperlukan suatu unit farmasi yang dapat
menyediakan perbekalan farmasi termasuk obat dan alat kesehatan serta bahan medis
habis pakai secara cepat dan dapat melayani resep selama 24 jam.
Tujuan pelayanan resep untuk pasien IGD adalah memberikan obat dan alat
kesehatan untuk pasien umum dan BPJS secara tepat pasien, tepat jumlah dan dosis
obat, tepat waktu sesuai standar dan memahami aturan pemakaian obat. Penulisan
resep untuk pasien di IGD menggunakan kartu obat yang telah disediakan oleh RSMS
dan ditulis oleh dokter yang memeriksa dan merawat pasien saat itu disertai tanda
tangan dokter. Penulisan resep dibedakan melalui kertas warna resep, yaitu untuk
pasien rawat inap BPJS PBI menggunakan kertas resep berwarna hijau, sementara
pasien rawat inap BPJS Non PBI menggunakan kertas resep berwarna putih, dan
untuk pasien rawat inap Non BPJS menggunakan kertas resep warna kuning.
Pemberian obat dilakukan selama diobservasi di IGD atau maksimal untuk 1 hari.
Pada pelayanan pasien yang sedang diobservasi, perawat IGD mengambil obat
atau alat kesehatan yang diperlukan ke SFGD untuk penanganan segera pasien dan
menuliskan nama, dosis, dan jumlahnya ke dalam resep pasien. Petugas farmasi
SFGD kemudian mengecek obat atau alat kesehatan apa saja yang akan diambil dan
mencatat dalam buku catatan SFGD. Setelah kondisi kedaruratan teratasi, perawat
IGD menyerahkan resep yang telah berisi catatan obat dan alat kesehatan yang
diambil sebelumnya beserta resep yang ditulis dokter IGD paska kedaruratan teratasi
kepada petugas farmasi SFGD.
Kelengkapan resep diperiksa petugas di SFGD meliputi nama pasien, alamat
pasien, no. registrasi/rekam medik, nama dan paraf dokter penulis resep, serta
mencocokkan nama, dosis dan jumlah obat atau alat kesehatan yang digunakan
sebagai terapi kedaruratan dengan catatan SFGD. Petugas farmasi SFGD mengambil
dan menyerahkan obat atau alat kesehatan sesuai dengan resep yang ditulis dokter
IGD paska kedaruratan, setelah itu petugas farmasi SFGD memasukkan data resep ke
SIM ketika pasien IGD akan dirawat ke ruang rawat inap atau pasien pulang atas
permintaan sendiri (diperbolehkan dokter) kemudian petugas farmasi DFGD
menyerahkan resep pasien kepada petugas transporter.
Untuk pasien yang akan dioperasi secara CITO di Operatie Kamer (OK) atau
Verlos Kamer (VK) IGD, pelayanan perbekalan farmasi menggunakan sistem paket
yaitu craneotomi, laparotomi/hernia, dan sectio/KET. Perawat IGD mengajukan
permintaan paket sesuai dengan jenis operasi. Setelah operasi selesai, perawat IGD
mengembalikan paket perbekalan farmasi kemudian dilakukan pemeriksaan jumlah
perbekalan farmasi yang telah digunakan dan sisanya. Perbekalan yang telah
digunakan dimasukkan datanya ke SIM.
Perencanaan pengadaan perbekalan farmasi di satelit farmasi IGD didasarkan
pada pola dan jumlah pemakaiannya di IGD. Petugas melakukan permintaan stok
barang ke gudang pusat RSMS dengan melampirkan surat pemesanan (SP).
Permintaan stok barang ke gudang pusat RSMS dilakukan setiap hari senin, rabu dan
sabtu, namun jika ada permintaan cito, pengadaan langsung dilakukan. Stok obat dan
alkes yang akan habis dilakukkan pencatatan dibuku defakta oleh petugas.
Pengecekan barang pesanan yang datang dari Gudang dilakukan oleh petugas satelif
farmasi IGD bersama petugas gudang pusat untuk menyesuaikan antara nama
perbekalan farmasi, jenis, bentuk sediaan dan jumlah barang yang diterima dari
gudang pusat dengan jumlah yang dipesan oleh satelit farmasi IGD. Apabila telah
sesuai, penambahan stok barang di satelit IGD akan diproses melalui sistem IT yang
ada.
Penyimpanan perbekalan farmasi di satelit farmasi IGD telah diatur sesuai
dengan persyaratandan standar kefarmasian. Susunan penyimpanan dibuat
berdasarkan pembagian berikut :
a) Bentuk dan jenis perbekalan farmasi
1) Obat
Penyusunan obat dibedakan lagi berdasarkan bentuk sediaannya, yaitu sediaan
tablet, sediaan cair, sediaan topikal, injeksi dan cairan infus.
2) Alat kesehatan
Penyusunan alat kesehatan dikelompokkan berdasarkan kegunaannya.
b) Suhu penyimpanan dan stabilitas
Obat-obat termolabil yang memerlukan penyimpanan di suhu dingin (2-80C)
disimpan dalam lemari pendingin
c) Susunan alfabetis
Obat disusun sesuai urutan alfabetis nama generik atau nama dagangnya
d) Sistem FIFO dan FEFO
Perbekalan farmasi disusun dengan menempatkan barang yang pertama kali
masuk atau barang dengan tanggal kadaluwarsa paling dekat terletak di bagian
depan sehingga dapat dengan mudah dikeluarkan lebih dulu.
Penyimpanan di satelit farmasi IGD juga menerapkan pengaturan khusus
untuk obat-obat yang termasuk dalam kelompok obat high alert dan obat LASA
sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Sediaan narkotika dan psikotropika
disimpan di dalam lemari khusus yang terletak di bagian belakang satelit, terpisah
dari lemari penyimpanan obar lain. Lemari tersedut selalu terkunci.
Di IGD juga dilakukan kegiatan farmasi klinik dengan pelayanan langsung yang
diberikan Apoteker kepada pasien dalam rangka meningkatkan outcome terapi dan
meminimalkan risiko terjadinya efek samping karena obat, untuk tujuan keselamatan
pasien (patient safety) sehingga kualitas hidup pasien (quality of life) terjamin
namun kegiatan ini dapat dikatakan belum berjalan secara maksimal. Adapun
beberapa jenis pelayanan farmasi klinik yang dilakukan antara lain :
a. Pengkajian dan pelayanan resep
Pengkajian dan pelayanan resep yang dilakukan di Instalasi Gawat Darurat
hanya mencakup penerimaan, pemeriksaan ketersediaan, penyiapan dan
penyerahan sediaan farmasi yaitu obat, Alat Kesehatan dan bahan medis habis
pakai tanpa disertai dengan pemberian informasi obat. Hal ini karena kegawat
daruratan pasien yang harus terlebih dahulu segera ditangani. Untuk membantu
memudahkan pelayanan, resep yang ada di RSMS dibuat dalam format kartu
obat yang berisi daftar obat dan alat kesehatan yang digunakan.
b. Rekonsiliasi Obat dan Alat Kesehatan
Rekonsiliasi Obat merupakan proses membandingkan instruksi pengobatan
dengan Obat yang telah didapat pasien. Pada umumnya, rekonsiliasi obat
bertujuan untuk memastikan informasi yang akurat tentang Obat yang digunakan
pasien, mengidentifikasi ketidaksesuaian akibat tidak terdokumentasinya
instruksi dokter dan mengidentifikasi ketidaksesuaian akibat tidak terbacanya
instruksi dokter. Di IGD, rekonsiliasi obat dilakukan dengan membandingkan
dan mengecek penggunaan obat dan alat kesehatan serta bahan medis habis
pakai yang digunakan oleh dokter selama penanganan pasien seperti pada sistem
paket craneotomi, laparotomi/hernia, dan sectio/KET. Paket perbekalan farmasi
dikembalikan untuk kemudian dilakukan pemeriksaan jumlah perbekalan
farmasi yang telah digunakan dan sisanya. Proses ini berguna untuk
memasukkan data pada SIM dan memastikan kesesuaian instruksi yang
diberikan dokter.
c. Pelayanan informas obat
Dilakukan pada saat penyerahan obat kepada pasien yang akan pulang.
Pemberian informasi obat diutamakan untuk pasien dengan penggunaan obat
khusus dan berkelanjutan.
Adapun untuk kegiatan monitoring obat yakni menyesuaikan antara obat
yang diresepkan oleh dokter dengan rencana pengobatan dalam status pasien
belum dapat diterapkan secara maksimal.

IV. Kesimpulan dan Saran


A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan kami tentang Alur Pelayanan di Satelit Farmasi Rawat
Jalan dan Satelit Farmasi Gawat Darurat RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo, dapat kami
simpulkan bahwa :
1. Dari hasil praktek kerja lapangan, mahasiswa mampu mengetahui dan memahami alur
pelayanan pada satelit farmasi rawat jalan umum, rawat jalan BPJS, dan IGD di RSUD
Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.
2. SFGD melayani permintaan perbekalan farmasi untuk pasien yang sedang diobservasi,
pasien yang dioperasi di OK atau VK IGD, dan pasien yang diperbolehkan pulang dari
IGD. Perbedaan IGD dan rawat jalan yaitu pada sistem peresepan, di IGD menggunakan
sistem manual, sedangkan di rawat jalan menggunakan sistem manual dan komputerisasi.
Sistem distribusi yang dilakukan di IGD yaitu UDD (Unit Dose Dispensing) dan sistem
paket, sedangkan di rawat jalan hanya individual prescribing.
B. Saran
Pengambilan obat hendaknya dilakukan oleh petugas SFGD saja, karena perawat IGD
maupun bidan di ruang VK IGD kurang memiliki kompetensi dalam hal tersebut. Serta selalu
mencatat dengan tepat nama obat, alkes, maupun jumlah yang diambil agar tidak terjadi
kesalahan.
LAMPIRAN 6

EVALUASI MEDICATION ERROR DI INSTALASI FARMASI RAWAT JALAN


DAN RAWAT INAP RSUD PROF DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO

I. Pendahuluan

Medication error didefinisikan sebagai peresepan, pemberian dan administrasi obat


yang salah, yang menyebabkan konsekuensi tertentu atau tidak. Medication error dapat
menyebabkan efek samping yang membahayakan yang potensial memicu resiko fatal dari
penyakit. Suatu sistem praktik pengobatan yang aman perlu dikembangkan dan dipelihara
untuk memastikan bahwa pasien menerima pelayanan dan proteksi sebaik mungkin. Hal ini
dikarenakan semakin bervariasinya obat-obatan dan meningkatnya jumlah dan jenis obat
yang ditulis per pasien saat ini.
Tanggung jawab seorang apoteker dalam dispensing dan pemberian obat menjadi
semakin berat akibat ketersediaan obat tertentu yang lebih banyak untuk suatu penyakit,
waktu kadaluarsa obat yang semakin cepat, dan banyaknya jenis obat-obat baru yang tertulis
pada resep. Penggunaan obat yang semakin meningkat dapat meningkatkan bahaya terjadinya
kesalahan pengobatan. Masalah ini semakin serius karena kesalahan pengobatan merupakan
pemicu terjadinya kecelakaan dalam rumah sakit, sehingga perlu dicari upaya untuk
mencegah dan meminimalkan terjadinya kesalahan-kesalahan pengobatan tersebut.
Monitoring keamanan dan efikasi obat secara adekuat dapat mencegah terjadinya efek
samping. Di Rumah Sakit, pemberian informasi dan control administrasi obat merupakan
tantangan yang berat. Selain itu, pada pasien rawat jalan, kontrol penggunaan obat dan
keparahan efek samping juga belum dimonitor dengan baik. Interaksi obat dengan obat,
makanan, dan bahan kimia dapat mempengaruhi terapeutik pasien.
Misi apoteker adalah untuk membantu memastikan bahwa pasien mendapatkan
penggunaan obat yang terbaik dan rasional. Apoteker harus mempelopori, bekerja sama dan
disiplin dalam mencegah, mendeteksi dan mengatasi masalah yang berkaitan dengan obat
yang dapat mengakibatkan kerugian pada pasien. Adanya faktor risiko dan riwayat
penggunaan obat sebelumnya yang mungkin dapat berinteraksi perlu dipantau untuk
meminimalkan risiko. Apoteker harus bekerja sama dengan tenaga kesehatan lain untuk
memastikan bahwa obat yang digunakan aman. Hal-hal tersebut dilakukan agar dampak
negatif dari medication error seperti pemborosan dari segi ekonomi dan menurunnya mutu
pelayanan pengobatan (meningkatnya efek samping dan kegagalan pengobatan) dapat
diminimalkan.

II. Isi
2.1 Definisi Medication Error

Medication error adalah setiap kejadian yang sebenarnya dapat dicegah yang dapat
menyebabkan atau membawa kepada penggunaan obat yang tidak layak atau
membahayakan pasien ketika obat berada di luar kontrol. Medication error merupakan
suatu kesalahan pengobatan sebagai kegagalan dalam proses pengobatan yang meniliki
potensi membahayakan bagi pasien dalam proses perawatan (Windarti, 2008).
Berdasarkan keputusan Mentri Kesehatan No. 1027 / MENKES / SK / IX / 2004
medication error adalah kejadian yang merugikan pasien akibat pemakaian obat selama
dalam penanganan tenaga kesehatan, yang sebetulnya dapat dicegah. Kesalahan
pengobatan biasa terjadi di rumah sakit dan kesalahan dapat terjadi pada setiap tahap dari
peresepen oleh dokter, melalui dispensing oleh apoteker, dan administrasi oleh staf
keperawatan atau pasien itu sendiri (DirJen Pelayanan Farmasi dan Alat Kesehatan,
2004).
2.2 Penggolongan Medication Error
Berdasarkan tahap kejadiannya, medication error dibagi dalam 4 fase, yaitu fase
prescribing error, fase transcribing error, fase dispensing error, dan fase administration
error oleh pasien (Cohen, 1991).
2.2.1 Prescribing Error
Medication error pada fase prescribing adalah error yang terjadi pada fase
penulisan resep. Fase ini meliputi:
a. Kesalahan resep
Seleksi obat didasarkan pada indikasi, kontraindikasi, alergi yang diketahui,
terapi obat yang ada, dosis, bentuk sediaan, mutu, kecepatan pemberian, atau
instruksi untuk menggunakan suatu obat yang diorder atau diotorisasi oleh
dokter atau penulis lain yang tidak sah yang tidak benar. Seleksi obat yang
tidak benar misalnya seorang pasien dengan infeksi bakteri yang resisten
terhadap obat yang ditulis untuk pasien tersebut.
Resep atau order obat yang tidak terbaca yang menyebabkan kesalahan yang
sampai pada pasien.
b. Kesalahan karena yang tidak diotorisasi
Pemberian kepada pasien, obat yang tidak diotorisasi oleh seorang
penulis resep yang sah untuk pasien. Mencakup suatu obat yang keliru, suatu
dosis diberikan kepada pasien yang keliru, obat yang tidak diorder, duplikasi
dosis, dosis diberikan di luar pedoman atau protokol klinik yang telah
ditetapkan, misalnya obat diberikan hanya bila tekanan darah pasien turun di
bawah suatu tingkat tekanan yang ditetapkan sebelumnya.
c. Kesalahan karena dosis tidak benar
Pemberian kepada pasien suatu dosis yang lebih besar atau lebih kecil dari
jumlah yang diorder oleh dokter penulis resep atau pemberian dosis duplikat
kepada pasien, yaitu satu atau lebih unit dosis sebagai tambahan pada dosis
obat yang diorder.
d. Kesalahan karena indikasi tidak diobati
Kondisi medis pasien memerlukan terapi obat tetapi tidak menerima suatu
obat untuk indikasi tersebut. Misalnya seorang pasien hipertensi atau
glukoma tetapi tidak menggunakan obat untuk masalah ini.
e. Kesalahan karena penggunaan obat yang tidak diperlukan
Pasien menerima suatu obat untuk suatu kondisi medis yang tidak
memerlukan terapi obat.
2.2.2 Transcribing Error
Pada fase transcribing, kesalahan terjadi pada saat pembacaan resep untuk proses
dispensing, antara lain salah membaca resep karena tulisan yang tidak jelas. Salah
dalam menerjemahkan order pembuatan resep dan signature juga dapat terjadi pada
fase ini. Jenis kesalahan obat yang termasuk dalam transcribing error, yaitu :
a. Kesalahan karena pemantauan yang keliru
Gagal mengkaji suatu regimen tertulis untuk ketepatan dan pendeteksian
masalah, atau gagal menggunakan data klinik atau data laboratorium untuk
pengkajian respon pasien yang memadai terhadap terapi yang ditulis.
b. Kesalahan karena ROM (Reaksi Obat Merugikan)
Pasien mengalami suatu masalah medis sebagai akibat dari ROM atau efek
samping.
Reaksi diharapkan atau tidak diharapkan, seperti ruam dengan suatu
antibiotik, pasien memerlukan perhatian pelayanan medis.
c. Kesalahan karena interaksi obat
Pasien mengalami masalah medis, sebagai akibat dari interaksi obat-obat, obat-
makanan, atau obat-prosedur laboratorium.
2.2.3 Administration Error
Kesalahan pada fase administration adalah kesalahan yang terjadi pada proses
penggunaan obat. Fase ini dapat melibatkan petugas apotek dan pasien atau
keluarganya. Kesalahan yang terjadi misalnya pasien salah menggunakan supositoria
yang seharusnya melalui dubur tapi dimakan dengan bubur, salah waktu minum
obatnya seharusnya 1 jam sebelum makan tetapi diminum bersama makan. Jenis
kesalahan obat yang termasuk administration errors yaitu :
a. Kesalahan karena lalai memberikan obat
Gagal dalam memberikan satu dosis yang disorder untuk seorang pasien
sebelum dosis terjadwal berikutnya.
b. Kesalahan karena waktu pemberian yang keliru
Pemberian obat di luar suatu jarak waktu yang ditentukan sebelumnya dari
waktu pemberian obat terjadwal.
c. Kesalahan karena teknik pemberian yang keliru
Prosedur yang tidak tepat atau teknik yang tidak benar dalam pemberian suatu
obat.
Kesalahan rute pemberian yang keliru berbeda dengan yang ditulis; melalui rute
yang benar, tetapi tempat yang keliru (misalnya mata kiri sebagai ganti mata
kanan), kesalahan karena kecepatan pemberian yang keliru.
d. Kesalahan karena tidak patuh
Perilaku pasien yang tidak tepat berkenaan dengan ketaatan pada suatu
regimen obat yang ditulis. Misalnya paling umum tidak patuh
menggunakan terapi obat antihipertensi.
e. Kesalahan karena rute pemberian tidak benar
Pemberian suatu obat melalui rute yang lain dari yang diorder oleh dokter, juga
termasuk dosis yang diberikan melalui rute yang benar, tetapi pada tempat yang
keliru (misalnya mata kiri, seharusnya mata kanan).
2.2.4 Dispensing Error
2.2.4.1 Definisi Dispensing
Dispensing obat adalah kegiatan atau proses untuk memastikan kelayakan atau
order resep obat, seleksi suatu obat dengan zat aktif yang memadai dan memastikan
bahwa penderita atau perawat mengerti penggunaan dan pemberian obat yang tepat dari
obat tersebut (Siregar, 2001).
Dispensing adalah proses menyiapkan dan menyerahkan obat kepada orang yang
namanya tertulis pada resep. Dispensing merupakan tindakan atau proses yang
memastikan ketepatan resep obat, ketepatan seleksi zat aktif yang memadai, dan
memastikan bahwa pasien atau perawat mengerti penggunaan atau pemberian yang tepat
(Siregar, 2001).
Dispensing error adalah perbedaan antara obat yang diresepkan dengan obat yang
diberikan oleh farmasi kepada pasien atau yang didistribusikan ke bangsal, meliputi
pemberian obat dengan kualitas informasi yang rendah (Cheung, 2009).
Dispensing yang baik adalah suatu proses praktik yang memastikan bahwa suatu
bentuk sediaan obat yang benar dan efektif dihantarkan pada penderita yang benar dalam
dosis dan dari obat yang tertulis kuantitasnya, dengan instruksi yang jelas, dan dalam
suatu kemasan yang memelihara potensi obat. Dispensing termasuk suatu kegiatan yang
terjadi antara waktu resep/order dan obat diterima atau suplai lain yang ditulis
disampaikan kepada penderita (Siregar, 2003).
2.2.4.2 Kategori Kesalahan Dispensing
Menurut Direktorat Bina Farmasi dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat
Kesehatan Departemen Kesehatan RI (2008), kategori kesalahan dalam pemberian obat
adalah :
1. Pasien mengalami reaksi alergi
2. Kontraindikasi
3. Obat kadaluwarsa
4. Bentuk sediaan yang salah
5. Frekuensi pemberian yang salah
6. Label obat salah / tidak ada / tidak jelas
7. Informasi obat kepada pasien yang tidak jelas
8. Obat diberikan pada pasien yang salah
9. Cara menyiapkan / meracik obat yang salah
10. Jumlah obat yang tidak sesuai
11. ADR (jika digunakan berulang)
12. Rute pemberian yang salah
13. Cara penyiapan yang salah
14. Penjelasan petunjuk penggunaan kepada pasien yang salah.
Kesalahan pada fase dispensing terjadi pada saat penyiapan hingga
penyerahan resep oleh petugas apotek. Salah satu kemungkinan terjadinya error
adalah salah dalam mengambil obat dari rak penyimpanan karena kemasan atau
nama obat yang mirip atau dapat pula terjadi karena berdekatan letaknya. Selain itu,
salah dalam menghitung jumlah tablet yang akan diracik ataupun salah dalam
pemberian informasi. Jenis kesalahan obat yang termasuk dalam dispensing error
yaitu :
a. Kesalahan karena bentuk sediaan
Pemberian kepada pasien suatu sediaan obat dalam bentuk berbeda dari
yang diorder oleh dokter penulis.
Penggerusan tablet lepas lambat, termasuk kesalahan.
b. Kesalahan karena pembuatan penyiapan obat yang keliru
Sediaan obat diformulasi atau disiapkan tidak benar sebelum pemberian.
Misalnya, pengenceran yang tidak benar, atau rekonstitusi suatu sediaan
yang tidak benar. Tidak mengocok suspensi. Mencampur obat-obat yang
secara fisik atau kimia inkompatibel.
Penggunaan obat kadaluarsa, tidak melindungi obat terhadap pemaparan
cahaya.
c. Kesalahan karena pemberian obat yang rusak
Pemberian suatu obat yang telah kadaluarsa atau keutuhan fisik atau kimia
bentuk sediaan telah membahayakan. Termasuk obat-obat yang disimpan
secara tidak tepat.

2.3 Faktor Penyebab Medication Error


Menurut American Hospital Association, medication error antara lain dapat
terjadi pada situasi berikut:
a. Informasi pasien yang tidak lengkap, misalnya tidak ada informasi tentang
riwayat alergi dan penggunaan obat sebelumnya.
b. Tidak diberikan informasi obat yang layak, misalnya cara minum atau menggunakan
obat, frekuensi dan lama pemberian hingga peringatan jika timbul efek samping.
c. Kesalahan komunikasi dalam peresepan, misalnya interpretasi apoteker yang keliru
dalam membaca resep dokter, kesalahan membaca nama obat yang relatif mirip
dengan obat lainnya, kesalahan membaca desimal, pembacaan unit dosis hingga
singkatan peresepan yang tidak jelas (q.d atau q.i.d/QD).
d. Pelabelan kemasan obat yang tidak jelas sehingga berisiko dibaca keliru oleh
pasien.
e. Faktor-faktor lingkungan, seperti ruang apotek/ruang obat yang tidak terang,
hingga suasana tempat kerja yang tidak nyaman yang dapat mengakibatkan
timbulnya medication error.
2.4 Pencegahan Medication Error
Sejumlah pasien dapat mengalami cedera atau mengalami insiden pada saat
memperoleh layanan kesehatan, khususnya terkait penggunaan obat yang dikenal
dengan medication error. Di rumah sakit dan sarana pelayanan kesehatan lainnya,
kejadian medication error dapat dicegah jika melibatkan pelayanan farmasi klinik
dari apoteker yang sudah terlatih. Saat ini di negara-negara maju sudah ada apoteker
dengan spesialisasi khusus menangani medication safety. Peran Apoteker
Keselamatan Pengobatan (Medication Safety Pharmacist) meliputi :
a. Mengelola laporan medication error.
Membuat kajian terhadap laporan insiden yang masuk.
Mencari akar permasalahan dari error yang terjadi.
b. Mengidentifikasi pelaksanaan praktek profesi terbaik untuk menjamin medication
safety.
Menganalisis pelaksanaan praktek yang menyebabkan medication error.
Mengambil langkah proaktif untuk pencegahan.
Memfalisitasi perubahan proses dan sistem untuk menurunkan insiden yang
sering terjadi atau berulangnya insiden sejenis.
c. Mendidik staf dan klinisi terkait lainnya untuk menggalakkan praktek pengobatan
yang aman.
Mengembangkan program pendidikan untuk meningkatkan medication safety
dan kepatuhan terhadap aturan yang ada.
d. Berpartisipasi dalam tim yang berhubungan dengan medication safety.
Komite Keselamatan Pasien RS
e. Terlibat dalam pengembangan dan dan pengkajian kebijakan penggunaan obat.
f. Memonitor kepatuhan terhadap standar pelaksanaan keselamatan pasien yang
ada.

2.5 Kategori Medication Error menurut Guideline on Medication Error Reporting 2009
TIDAK ADA KESALAHAN
A Potensi kesalahan, keadaan / peristiwa yang memiliki potensi untuk
menyebabkan insiden

SALAH TIDAK MENIMBULKAN KERUGIAN PASIEN


B Terjadi kesalahan tapi kesalahan tidak mencapai pasien
C Terjadi kesalahan sudah sampai ke pasien, tetapi tidak menyebabkan
kecacatan pada pasien.
D Terjadi kesalahan sudah sampai ke pasien dan diperlukan konfirmasi
untuk pemantauan atau intervensi yang diperlukan untuk mencegah
bahaya

SALAH DAN MENIMBULKAN KERUGIAN PASIEN


E Terjadi kesalahan yang mungkin telah mengakibatkan kerugian
sementara untuk pasien dan diperlukan intervensi
F Terjadi kesalahan yang mungkin mengakibatkan kerugian sementara
pada pasien dan diperlukan awal atau lama rawat inap.
G Terjadi kesalahan yang mungkin mengakibatkan bahaya permanaen
pada pasien.
H Terjadi kesalahan bahwa intervensi yang diperlukan yang diperlukan
untuk mempertahankan hidup.

SALAH DAN MENYEBABKAN KEMATIAN


I Terjadi kesalahan yang mungkin mengakibatkan kematian pasien.
Panitia akan mengevaluasi semua laporan kesalahan pengobatan untuk
klasifikasi yang tepat dari kesalahan atau potensi kesalahan.

2.6 Panduan Mengkategorikan Medication Error menurut Guideline on Medication


Error Reporting 2009

Klasifikasi Medication Error


Keadaan atau peristiwa
yang memiliki kapasitas TIDAK TERJADI KESALAHAN
untuk penyebab kesalahan Kategori A Potensi kesalahan, Keadaan /
peristiwa memiliki potensi untuk
menyebabkan insiden

Apakah kesalahan yang SALAH TIDAK MEMBAHAYAKAN


Tidak Kategori B Terjadi kesalahan tidak sampai
Kategori A sebenannya terjadi ? ke pasien
Kategori C Terjadi kesalahan tidak
Ya membahayakan
Kategori D Diperlukan monitoring tidak
Kategori B Tidak Apakah kesalahan sampai merugikan
ke pasien ?
SALAH MEMBAHAYAKAN
Kategori E Diperlukan pengobatan karena
Ya bahaya sementara
Kategori F Rawat inap karena kerugian
Apakah kesalahan sementara
Kategori C menyebabkan kematian Kategoti G Karena kerugian permanen
pasien ? Kategori H Hampir terjadi kematian
III. Metode Penelitian

3.1 Bahan
Data yang digunakan adalah hasil pengamatan tingkat kesalahan yang terjadi pada
saat pelayanan obat pada instalasi farmasi rawat inap dan rawat jalan di RSUD Prof. Dr.
Margono Soekardjo Purwokerto pada tanggal 17 21 Oktober 2016.
3.2 Metode
Mengamati tingkat kesalahan dalam proses pelayanan obat mulai dari screening
resep sampai obat diserahkan kepada pasien.
IV. Hasil Dan Pembahasan
A. Hasil
Hasil pengamatan yang telah dilakukan pada tanggal 17 21 Oktober 2016 di instalasi
farmasi rawat inap dan rawat jalan RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto
diketahui bahwa medication error yang sering terjadi adalah sebagai berikut :
1. Senin, 17 Oktober 2016
Instalasi Medication Error Jumlah Jumah
Jenis Kesalahan Kategori
Farmasi (ME) ME Resep
Rawat Skrining Kesalahan dalam B 1 600
Jalan pembacaan resep
Kesalahan dalam B 2
pembuatan etiket
Total 3
Kesalahan dalam B 15
pengambilan jumlah
obat
Kesalahan dalam B 1
Dispensing penempelan etiket

Kesalahan dalam B 1
pemberian kekuatan
obat Total 17
TOTAL MEDICATION ERROR DI RAWAT 20
JALAN
Rawat Kesalahan dalam B 26 355
Inap pengambilan jumlah
obat
Kesalahan dalam B 10
penempelan etiket
Kesalahan dalam B 2
Dispensing
penulisan etiket

Kesalahan dalam B 5
pemberian bentuk
sediaan Total 43
Entry Kesalahan dalam B 5
entry resep ke
computer Total 5
TOTAL MEDICATION ERROR DI RAWAT 48
INAP

1. Selasa, 18 Oktober 2016


Instalasi Medication Error Jenis Kesalahan Kategori Jumlah Jumah
Farmasi (ME) ME Resep
Rawat Dispensing Kesalahan dalam B 36 527
Jalan pemberian jumlah
obat
Kesalahan dalam B 9
penempelan etiket
Kesalahan dalam B 11
pengambilan nama
obat (salah obat) Total 56
TOTAL MEDICATION ERROR DI RAWAT 56
JALAN
Rawat Kesalahan dalam B 18 380
Inap pemberian jumlah
obat
Kesalahan dalam B 5
penempelan etiket

Dispensing Kesalahan dalam B 1


pengambilan betuk
sediaan (salah bentuk
sediaan)
Kesalahan dalam B 2
pengambilan nama
obat (salah obat) Total 26
Entry Obat belum dientry B 2
ke computer
Total 2
TOTAL MEDICATION ERROR DI RAWAT 28
INAP

1. Rabu, 19 Oktober 2016


Instalasi Medication Error Jenis Kesalahan Kategori Jumlah Jumah
Farmasi (ME) ME Resep
Rawat Skrining Kesalahan dalam B 4 600
Jalan pembuatan etiket
Total 4
Kesalahan dalam B 24
pengambilan jumlah
obat
Kesalahan dalam B 5
penempelan etiket
Dispensing
Kesalahan dalam B 1
pengambilan bentuk
sediaan (salah bentuk
sediaan)
Kesalahan dalam B 2
pengambilan
kekuatan obat
Kesalahan dalam B 1
mengambil nama
obat (salah obat) Total 33
Entry Obat belum dientry B 2

Kesalahan dalam B 1
pengetikan resep di
komputer Total 3
TOTAL MEDICATION ERROR DI RAWAT 40
JALAN
Rawat Skrining Tulisan resep tidak B 1 381
Inap jelas
Total 1
Dispensing Kesalahan dalam B 29
pemberian jumlah
obat
Kesalahan dalam B 15
pemberian etiket

Kesalahan dalam B 9
pemberian nama obat
(salah obat) Total 53
Entry Kesalahan dalam B 3
entry resep di
komputer Total 3
TOTAL MEDICATION ERROR DI RAWAT 57
INAP

1. Kamis, 20 Oktober 2016


Instalasi Medication Error Jenis Kesalahan Kategori Jumlah Jumah
Farmasi (ME) ME Resep
Rawat Skrining Kesalahan dalam B 3 533
Jalan pembuatan etiket
Total 3
Kesalahan dalam 17
B
pengambilan jumlah
obat
Dispensing
Belum ada copy B 1
resep
Total 18
Entry Kesalahan dalam B 2
pengetikan resep di
komputer Total 2
TOTAL MEDICATION ERROR DI RAWAT 23
JALAN
Rawat Skrining Kesalahan dalam B 3 375
Inap pembuatan etiket
Total 3
Dispensing Kesalahan dalam B 23
pengambilan jumlah
obat
Kesalahan dalam B 5
penempelan etiket
Kesalahan dalam B 2
penulisan etiket
Kesalahan dalam B 6
pengambilan bentuk
sediaan (salah bentuk
sediaan)
Kesalahan dalam B 7
pengambilan nama
obat (salah obat) Total 43
Entry Resep belum dientry B 3
di komputer
Total 3
TOTAL MEDICATION ERROR DI RAWAT 49
INAP

2. Jumat, 21 Oktober 2016


Instalasi Medication Error Jenis Kesalahan Kategori Jumlah Jumah
Farmasi (ME) ME Resep
Rawat Skrining Kesalahan dalam B 6 360
Jalan pembuatan etiket
Total 6
Dispensing Kesalahan dalam B 19
pengambilan jumlah
obat
Kesalahan dalam B 5
penempelan etiket

Kesalahan dalam B 1
pengambilan bentuk
sediaan (salah bentuk Total 25
sediaan)
Entry Resep belum dientry B 1

Total 1
TOTAL MEDICATION EROR DI RAWAT 32
JALAN
Rawat Skrining Kesalahan dalam B 16 354
Inap pembuatan etiket
Total 16
Dispensing Kesalahan dalam B 42
pengambilan jumlah
obat
Kesalahan dalam B 13
penulisan etiket

Kesalahan dalam B 2
pengambilan nama
obat (salah obat) Total 57
Entry Kesalahan dalam B 2
pengetikan resep di
computer Total 2
TOTAL MEDICATION ERROR RAWAT INAP 75

RAWAT JALAN RAWAT INAP


% ME = Kejadian ME x 100 % % ME = Kejadian ME x 100 %
Total Resep Total Resep
= 171 x 100 % = 6,53 % = 257 x 100 % = 13,93 %
2620 1845
% ME S = ME S x 100% % ME S = ME S x 100%
Total ME Total ME
= 16 x 100 % = 9,36 % = 20 x 100 % = 7,78 %
171 257
% ME D = ME D x 100% % ME D = ME D x 100%
Total ME Total ME
= 149 x 100 % = 87,13 % = 222 x 100 % = 86,38 %
171 257

% ME E = ME E x 100% % ME E = ME E x 100%
Total ME Total ME
= 6 x 100 % = 3,51 % = 15 x 100 % = 5,84 %
171 257
Keterangan :
ME : Medication Error
ME S : Medication Error Skrining
ME D : Medication Error Dispensing
ME C : Medication Error Checking
ME E : Medication Error Entry
B. Pembahasan
Medication eror merupakan kejadian yang merugikan pasien akibat pemakaian
obat selama dalam penanganan tenaga kesehatan yang sebetulnya dapat dicegah.
(Kepmenkes RI nomor 1027 / MENKES / SK / IX / 2004).Pelaporan kejadian
medication error masih bersifat reaktif dan belum terstruktur dengan baik,
sedangkanpenanganannya sering terlambat dan upaya pencegahan sulit dilakukan
sehingga perlu dikembangkan berbagai indikator mutu terkait keselamatan pasien
khususnya medication error di Rumah Sakit. Kategori medication error meliputi
prescribing error, transcribing error, dispensing error, dan administration error.
Medication error yang sering terjadi dalam melakukan praktek kefarmasian di
Rumah Sakit diantaranya adalah kesalahan nama pasien, kesalahan dalam memberikan
atau menempatkan etiket, kesalahan dalam pengambilan obat yang disebabkan nama
obat mirip atau pun kemasan yang sama, serta kesalahan dalam perhitungan jumlah obat
sehingga obat diberikan berlebih atau kurang. Berdasarkan hasil pengamatan yang telah
dilakukan pada Apotek rawat inap, Apotek rawat jalan umum, dan Apotek rawat jalan
BPJS RS Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto diketahui bahwa medication error
yang sering terjadi termasuk dalam kategori A (Potensial menyebabkan error) dan
kategori B (terjadi kesalahan tetapi tidak berbahaya karena obat belum sampai ke tangan
pasien).
Dilakukan survei terhadap medication error yang terjadi di Instalasi Rawat
Jalan dan Instaalasi Rawat Inap di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo (RSMS) pada
tanggal 17 21 Oktober 2016. Dari hasil survai yang telah dilakukan, didapatkan hasil
medication eror antara lain scrining, dispensing dan entry. Pada Instalasi Faramasi
Rawat Jalan RSMS diperoleh kejadian medication error berupa kesalahan dalam
pembacaan resep, kesalahan dalam pembuatan etiket, kesalahan dalam pemberian jumlah
obat, kesalahan dalam pemberian dosis, kesalahan dalam penempelan etiket, kesalahan
dalam pengambilan obat, kesalahan dalam pengambilan bentuk sediaan, kesalahan dalam
pengambilan kekuatan obat, obat belum dientry, kesalahan dalam pengetikan resep di
computer, serta belum ada copy resep. Diperoleh data pada Instalasi Farmasi Rawat Jalan
RSMS yaitu scrining sebanyak 9,36%, dispensing sebanyak 87,13%, dan entry sebanyak
3,51%. Medication error yang paling besar terjadi pada Instalasi Farmasi Rawat Jalan
RSMS yaitu dispensing sebanyak 87,13%. Sedangkan pada Instalasi Faramasi Rawat
Inap RSMS diperoleh data kejadian medication error yaitu scrining sebanyak 7,78%,
dispensing sebanyak 86,38% dan entry sebanyak 5,84%. Medication error yang paling
besar terjadi pada Instalasi Farmasi Rawat Jalan RSMS yaitu dispensing sebanyak
86,38%.
Dari pengamatan yang telah dilakukan pada Instalasi Farmasi rawat jalan dan
rawat inap didapatkan hasil Medication Error sebesar 6,53% terjadi di rawat jalan, dan
13,93% terjadi di rawat inap. Berdasarkan jumlah resep antara instalasi farmasi rawat
jalan dan instalasi farmasi rawat inap jumlah resep lebih banyak di instalasi farmasi
rawat jalan, namun demikian medication error terbesar terjadi pada instalasi farmasi
rawat inap, hal ini dikarenakan pada instalasi farmasi rawat inap jenis item obatnya lebih
banyak seperti sediaan injeksi, infuse, tablet, salep, sirup, dan alat kesehatan
dibandingkan daripada rawat jalan yang jenis item obatnya terbatas seperti tablet,
sirup,racikan dan salep. Dilihat dari jumlah item yang ada pada resep, lebih banyak
jumlah itemnya yang ada di rawat inap dibandingkan rawat jalan. Pada resep yang ada di
rawat jalan, jumlah item yang tercantum pada resep rata-rata sebanyak 10 item,
sedangkan pada rawat inap jumlah item yang tercantum adalah 20 item, termasuk alat
kesehatan injeksi dan infus. Dilihat dari jumlah SDM lebih banyak SDM yang ada di
rawat inap yaitu sebanyak kurang lebih 17 orang terbagi menjadi 3 shif. Pada ada
instalasi farmasi rawat inap diperlukan proses yang lebih rumit dibandingkan rawat jalan,
karena pada instalasi farmasi rawat inap alur pelayanan resepnya terbagi menjadi dua
yaitu untuk pasien pulang dan pasien yang dirawat. Semakin banyaknya SDM yang ada
dapat memudahkan untuk mengetahui adanya medication error sehingga medication
error dapat dicegah, pengamatan yang dilakukan adalah pada saat petugas mencegah
terjadinya medication error, sehingga data medication error yang didapat lebih banyak
di rawat inap dari pada rawat jalan.

V. Kesimpulan Dan Saran


A. Kesimpulan
Dari hasil pengamatan yang dilakukan didapatkan kesimpulan bahwa medication
error yang terjadi pada Instalasi Farmasi Rawat Inap dan Rawat Jalan RSUD Prof. Dr.
Margono Soekarjo Purwokerto diketahui bahwa medication error yang terjadi termasuk
kategori B (terjadi kesalahan tetapi tidak berbahaya karena obat belum sampai ke tangan
pasien). Kejadian medication error di instalasi farmasi rawat inap sebesar 13,93 %
dengan medication error skrining sebesar 7,78%, dispensing sebesar 86,38 5, dan entry
sebesar 5,84 %. Medication error di instalasi farmasi rawat jalan sebesar 6,53 % dengan
medication error skrining sebesar 9,36 %, dispensing sebesar 87,13 % dan entry sebesar
3,51 %.
B. Saran
1. Diharapkan petugas untuk meningkatkan ketelitian dalam menangani resep dan
melakukan dispensing.
2. Diharapkan lebih fokus pada tugas yang dilakukan oleh masing masing
LAMPIRAN 7

MONITORING PASIEN ENSEPHALOPHATI HEPATIKUM, KOLESTASIS, DAN


JOUNDICE DI BANGSAL MAWAR RSUD PROF DR. MARGONO SOEKARJO
PURWOKERTO

I. Pendahuluan
A. Latar Belakang
Hati merupakan organ terbesar di dalam tubuh manusia, terletak di rongga perut sebelah
kanan dan mempunyai fungsi amat penting pada proses metabolisme tubuh, yaitu dalam
proses anabolisme atau sintesis bahan-bahan yang penting untuk kehidupan manusia seperti
sintesis protein dan pembentukan glukosa, sedangkan dalam proses katabolisme dengan
melakukan detoksikasi bahan-bahan seperti ammonia, berbagai jenis hormon dan obat-
obatan. Selain itu hati merupakan tempat untuk metabolisme karbohidrat, metabolisme
protein, metabolisme lemak dan metabolisme bilirubin, di samping itu hati juga berperan
sebagai gudang tempat penyimpanan bahan-bahan seperti glikogen dan beberapa vitamin dan
memelihara aliran normal darah splanknikus.
Oleh karena itu terjadi kerusakan sel-sel parenkhim hati akut maupun kronik yang berat,
fungsi-fungsi tersebut akan mengalami gangguan atau kekacauan, sehingga dapat timbul
kelainan seperti ensefalopati hepatikum (Akil, 1998).
Koma hepatikum dalam khasanah ilmu kedokteran disebut ensefalopati hepatik atau
hepatic encephalopathy.Ada dua jenis enselafalopati hepatik berdasarkan ada tidaknya edema
otak, yaitu Portal Systemic Encephalopathy (PSE) dan Acute Liver Failure.
Ensefalopati hepatik adalah suatu sindrom neuropsikiatri, mempunyai spektrum klinik
yang luas, dapat timbul akibat penyakit hati yang berat, baik akut maupun yang menahun
ditandai adanya gangguan tingkah laku, gejala neurologik, astriksis, berbagai derajat
gangguan kesadaran sampai koma, dan kelainan elektro ensefalografi.
Pengobatan dini ensefalopati hepatik meliputi setiap upaya terapeutik yang dilakukan
pada RHS ataupun pada Ensefalopati Hepatik kronik, untuk mencegah terjadinya serangan
ensefalopati hepatik akut.Karena terjadinya episode ensefalopati hepatik akut biasanya
didahului oleh keadaan dekompensasi (fungsi) hati, pengobatan ini juga dapat bermakna
mempertahankan keadaan kompensasi selama mungkin.
Meskipun patogenesis yang tepat tentang terjadinya ensefalopati hepatik belum
diketahui sepenuhnya, namun hipotesa-hipotesa yang ada menekankan peranan dari sel-sel
parenkim hati yang rusak dengan atau tanpa adanya by pass sehingga bahan-bahan yang
diduga toksis terhadap otak tidak dapat dimetabolisir seperti : ammonia, merkaptan, dan lain-
lain dapat menumpuk dan mencapai otak. Faktor lain adalah terjadinya perubahan pada
neutransmitter, gangguan keseimbangan asam amino aromatik (AAA) dan asam amino rantai
cabang (AARC) yang akhir-akhir ini banyak dibicarakan. Selain itu perlu disimak perubahan
yang terjadi pada otak misalnya edema dan peningkatan tekanan intra kranial, serta
perubahan-perubahan pada astrosit terutama terjadi pada ensefalopati hepatik akut (fulminant
hepatic failure).

II. Tinjauan Pustaka


A. Definisi
Ensefalopati hepatik (EH) merupakan sindrom neuropsikiatri yang dapat terjadi pada
penyakit hati akut dan kronik berat dengan beragam manifestasi, mulai dari ringan hingga
berat, mencakup perubahan perilaku, gangguan intelektual, kelainan neurologis, adany
apenyakit parenkim hati serta penurunan kesadaran tanpa adanya kelainan pada otak yang
mendasarinya (Medicinus, 2014).
Ensefalopati hepatik adalah suatu kompleks gangguan susunan saraf pusat yang dijumpai
pada pasien yang mengidap gagal hati.Kelainan ini ditandai oleh gangguan memori dan
perubahan kepribadian (Corwin, 2001).
Ensefalopati hepatik (ensefalopati sistem portal, koma hepatikum) adalah suatu kelainan
dimana fungsi otak mengalami kemunduran akibat zat-zat racun di dalam darah, yang dalam
keadaan normal dibuang oleh hati.
B. Etiologi
- Hepatitis fulminan
- Sirosis dan hipertensi portal
- Azotemia (spontan atau oleh karena diuretik)
- Perdarahan gastrointestinal
- Alkolis metabolik
- Protein yang berlebihan
- Infeksi
- Obstipasi
- Penggunaan obat sedatif, tranquiliser dan analgesik
- Penggunaan alkohol
C. Patofisiologi
Terjadinya ensefalopati hepatik didasari pada akumulasi berbagai toksin dalam peredaran
darah yang melewati sawar darah otak.Amonia merupakan molekul toksik terhadap sel yang
diyakini berperan penting dalam terjadinya ensefalopati hepatik karena kadarnya meningkat
pada pasien sirosis hati. Beberapa studi lain juga mengemukakan faktor pencetus lain
penyebab ensefalopati seperti pada gambar 1 berikut :

Amonia diproduksi oleh berbagai organ. Amonia merupakan hasil produksi koloni
bakteri usus dengan aktivitas enzim urease, terutama bakteri gram negatif anaerob,
Enterobacteriaceae, Proteusdan Clostridium. Enzim urease bakteri akan memecah urea
menjadi amonia dan karbondioksida. Amonia juga dihasilkan oleh usus halus dan usus besar
melalui glutaminase usus yang memetabolisme glutamin (sumber energi usus) menjadi
glutamat dan amonia. Pada individu sehat, amonia juga diproduksi oleh otot dan ginjal.
Secara fisiologis, amonia akan dimetabolisme menjadi urea dan glutamin di hati. Otot dan
ginjal juga akan mendetoksifikasi amonia jika terjadi gagal hati dimana otot rangka
memegang peranan utama dalam metabolisme amonia melalui pemecahan amonia menjadi
glutamin via glutamin sintetase. Ginjal berperan dalam produksi dan eksresi amonia,
terutama dipengaruhi oleh keseimbangan asam-basa tubuh. Ginjal memproduksi amonia
melalui enzim glutaminase yang merubah glutamin menjadi glutamat, bikarbonat dan
amonia. Amonia yang berasal dari ginjal dikeluarkan melalui urin dalam bentuk ion amonium
(NH4+) dan urea ataupun diserap kembali ke dalam tubuh yang dipengaruhi oleh pH tubuh.
Dalam kondisi asidosis, ginjal akan mengeluarkan ion amonium dan urea melalui urin,
sedangkan dalam kondisi alkalosis, penurunan laju filtrasi glomerulus dan penurunan
perfusiperifer ginjal akan menahan ion amonium dalam tubuh sehingga menyebabkan
hiperamonia.
Amonia akan masuk ke dalam hati melalui vena porta untuk proses detoksifiaksi.
Metabolisme oleh hati dilakukan di dua tempat, yaitu selhati periportal yang memetabolisme
ammonia menjadi urea melalui siklus Krebs-Henseleit dan sel hati yang terletak dekat vena
sentral dimana urea akan digabungkan kembali menjadi glutamin.Pada keadaan sirosis,
penurunan massa hepatosit fungsional dapat menyebabkan menurunnya detoksifikasi amonia
oleh hati ditambah adanya shunting portosistemik yang membawa darah yang mengandung
ammonia masuk ke aliran sistemik tanpa melalui hati.Peningkatan kadar amonia dalam darah
menaikkan risiko toksisitas amonia. Meningkatnya permebialitas sawar darah otak untuk
ammonia pada pasien sirosis menyebabkan toksisitas amonia terhadap astrosit otak yang
berfungsi melakukan metabolisme amonia melalui kerja enzim sintetase glutamin.Disfungsi
neurologis yang ditimbulkan pada EH terjadi akibat edema serebri, dimana glutamin
merupakan molekulosmotik sehingga menyebabkan pembengkakan astrosit.Amonia secara
langsung juga merangsang stres oksidatif dan nitrosatif pada astrosit melalui peningkatan
kalsium intraselular yang menyebabkan disfungsi mitokondria dan kegagalan produksi energi
selular melalui pembukaan pori-pori transisi mitokondria. Amonia juga menginduksi oksidasi
RNA dan aktivasi protein kinase untuk mitogenesis yang bertanggung jawab pada
peningkatan aktivitas sitokin dan repson inflamasi sehingga mengganggu aktivitas
pensignalan intraselular

D. Manifestasi Klinik
E. Tujuan Terapi

F. Tatalaksana Terapi
Terapi Non Farmakologi
Terapi tanpa obat bagi penderita penyakit hati adalah dengan diet seimbang, jumlah
kalori yang dibutuhkan sesuai dengan tinggi badan, berat badan, dan aktivitas.Pada
keadaan tertentu diperlukan diet rendah protein, banyak makan sayur dan buah, serta
melakukan aktivitas sesuai kemampuan untuk mencegah sembelit, menjalankan pola
hidup teratur.Tujuan terapi diet pada penderita penyakit hati adalah menghindari
kerusakan hati yang permanen, meningkatkan kemampuan regenerasi jaringan hati dengan
keluarnya protein yang memadai, memperhatikan simpanan nutrisi dalam tubuh,
mengurangi gejala ketidaknyamanan yang diakibatkan oleh penyakit hati.Diet yang
seimbang sangatlah penting.Kalori yang berlebih dalam bentuk karbohidrat dapat
menambah disfungsi hati dan menyebabkan penimbunan lemak pada hati.jumlah kalori
dari lemak seharusnya tidak lebih dari 30% jumlah kalori keseluruhan karena dapat
membahayakan sistem kardiovaskuler. Selain terapi diet yang seimbang, terapi tanpa obat
ini harus diimbangi dengan terapi non farmakologi lain seperti segera beristirahat bila
merasa lelah dan menghindari minuman beralkohol.
Terapi Farmakologi
Penurunan kadar amonia merupakan salah satu strategi yang diterapkan dalam
tatalaksana EH. Beberapa modalitas untuk menurunkan kadar amonia dilakukan dengan
penggunaan laktulosa, antibiotik, L-Ornithine L-Aspartate, probiotik, dan berbagai terapi
potensial lainnya.
Non-absorbable Disaccharides (Laktulosa)
Laktulosa merupakan lini pertama dalam penatalaksanaan EH. Sifatnya yang laksatif
menyebabkan penurunan sintesis dan uptake amonia dengan menurunkan pH kolon
dan juga mengurangi uptake glutamin.Selain itu, laktulosa diubah menjadi
monosakarida oleh flora normal yang digunakan sebagai sumber makanan sehingga
pertumbuhan flora normal usus akan menekan bakteri lain yang menghasilkan urease.
Proses ini menghasilkan asam laktat dan juga memberikan ion hidrogen pada amonia
sehingga terjadi perubahan molekul dari amonia (NH3) menjadi ion amonium
(NH4+). Adanya ionisasi ini menarik amonia dari darah menuju lumen. Dosis
laktulosa yang diberikan adalah 2 x 15-30 ml sehari dan dapat diberikan 3 hingga 6
bulan. Efek samping dari penggunaan laktulosa adalah menurunnya persepsi rasa dan
kembung. Penggunaan laktulosa secara berlebihan akan memperparah episode EH,
karena akan memunculkan faktor presipitasi lainnya, yaitu dehidrasi dan
hiponatremia.
Antibiotik
Antibiotik dapat menurunkan produksi amonia dengan menekan pertumbuhan bakteri
yang bertanggung jawab menghasilkan amonia, sebagai salah satu faktor presipitasi
EH.Selain itu, antibiotik juga memiliki efek anti-inflamasi
dandownregulationaktivitas glutaminase.Antibiotik yang menjadi pilihan saat ini
adalah rifaximin, berspektrum luas dan diserap secara minimal.Dosis yang diberikan
adalah 2 x 550 mg dengan lama pengobatan 3-6 bulan.Rifaximindipilih menggantikan
antibiotik yang telah digunakan pada pengobatan EH sebelumnya, yaitu neomycin,
metronidazole, paromomycin, dan vancomycinoral karena rifaximinmemiliki efek
samping yang lebih sedikit dibandingkan antibiotik lainnya.
L-Ornithine L-Aspartate (LOLA)
LOLA merupakan garam stabil tersusun atas dua asam amino, bekerja sebagai
substrat yang berperan dalam perubahan amonia menjadi urea dan glutamine. LOLA
meningkatkan metabolisme amonia di hati dan otot, sehingga menurunkan amonia di
dalam darah.Selain itu, LOLA juga mengurangi edema serebri pada pasien dengan
EH. LOLA, yang merupakan subtrat perantara pada siklus urea, menurunkan kadar
amonia dengan merangsang ureagenesis. L-ornithinedan L-aspartatedapat
ditransaminase dengan -ketoglutarate menjadi glutamat, melalui ornithine
aminotrasnferase(OAT) dan aspartate aminotransferase(AAT), berurutan. Molekul
glutamatyang dihasilkan dapat digunakan untuk menstimulasi glutamine synthetase,
sehingga membentuk glutamindan mengeluarkan amonia. Meskipun demikian,
glutamindapat dimetabolisme dengan phosphate-activated glutaminase(PAG), dan
menghasilkan amonia kembali.Suatu RCT double blind menunjukkan pemberian
LOLA selama 7 hari pada pasien sirosis dengan EH menurunkan amonia dan
memperbaiki status mental. Akan tetapi, penurunan amonia pada pasien EH yang
mendapatkan LOLA diperkirakan hanya sementara.
Probiotik
Probiotik didefinisikan sebagai suplementasi diet mikrobiologis hidup yang
bermanfaat untuk nutrisi pejamu. Amonia dan substansi neurotoksik telah lama
dipikirkan berperan penting dalam timbulnya EH. Amonia juga dihasilkan oleh flora
dalam usus sehingga manipulasi flora usus menjadi salah satu strategi terapi EH.
Mekanisme kerja probiotik dalam terapi EH dipercaya terkait dengan menekan
substansi untuk bakteri patogenik usus dan meningkatkan produk akhir fermentasi
yang berguna untuk bakteri baik.
Diuretik
Diuretik tertentu, seperti Spironolactone, dapat membantu mengatasi edema yang
menyertai sirosis hati, dengan atau tanpa asites. Obat ini tidak boleh diberikan pada
pasien dengan gangguan keseimbangan elektrolit atau gangguan ginjal berat karena
menyebabkan ekskresi elektrolit. Obat diuretik lain yang digunakan dalam penyakit
hati selain spironolacton adalah furosemid yang efektif untuk pasien yang gagal
memberikan tanggapan terhadap Spironolactone. Obat lain seperti Thiazide atau
Metolazone dapat bermanfaat pada keadaan tertentu.
Multivitamin dan mineral
Golongan ini digunakan sebagai terapi penunjang pada pasien hepatitis dan penyakit
hati lainnya.Biasanya penyakit hati menimbulkan gejala-gejala seperti lemah, malaise,
dan lain-lain, sehingga pasien memerlukan suplemen vitamin dan mineral.Hati
memainkan peranan penting dalam beberapa langkah metabolisme vitamin. Vitamin
terdiri dari vitamin-vitamin yang larut dalam lemak (fat-soluble) seperti vitamin A, D,
E, dan K atau yang larut air (water soluble) seperti vitamin C dan B-kompleks.
Kekurangan vitamin vitamin yang larut dalam air dapat terjadi pada pasien dengan
penyakit hati tahap lanjut, tetapi hal ini biasanya terjadi karena masukan makanan dan
gizi yang kurang atau tidak layak.
Vitamin vitamin yang larut dalam lemak tidak hanya membutuhkan asupan gizi
makanan yang cukup tetapi juga pencernaan yang baik serta penyerapan yang baik
oleh tubuh. Oleh sebab itu, produksi bilirubin dalam jumlah normal sangat
penting.Bilirubin di dalam saluran cerna atau usus dibutuhkan untuk penyerapan
vitamin larut lemak ke dalam tubuh.Bilirubin bekerja sebagai detergen, memecah dan
melarutkan vitamin agar dapat diserap tubuh dengan baik. Jika produksi bilirubin
buruk, suplemen oral vitamin A, D, E, K mungkin tidak cukup untuk mengembalikan
level vitamin ke level normal. Penggunaan larutan serupa deterjen dari vitamin E cair
meningkaykan penyerapan vitamin E pada pasien dengan penyakit hati tahap lanjut.
Larutan yang sama juga dapat memperbaiki penyerapan vitamin A, D, dan K jika
vitamin K diminum bersamaan dengan vitamin E. Vitamin E dapat mencegah
kerusakan hati dan sirosis. Suplemen vitamin E meningkatkan kandungan vitamin
dalam tiga bagian hati dan mengurangi kerusakan oksidatif pada sel hati. Vitamin E
dapat memberikan perlindungan terhadap nekrosis akibat karbon tetraklorid dan
sirosis dengan mekanisme mengurangi penyebaran proses oksidasi lipid dan
mengurangi jangkauan kerusakan oksidatif hati.
III. Hasil
A. Rekonsiliasi

RSUD Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO RM


PURWOKERTO
Nama : TN. KK Nomor RM :
0 0 2 6 6 9 2 6
Tanggal lahir / Umur : 17.09.54/64 B B : 45 kg TB : 160 cm
Ruang : MAWAR (6.5)
REKONSILIASI OBAT
Dari : Poli Penyakit Dalam tgl : 3/10/16 Ke :Mawar tgl : 3/10/16
Nama Obat, Bentuk
Dilanjutkan Dilanjutkan
Sediaan & Kekuatan Jml Aturan
No pada saat rawat pada saat pulang Ket
(termasuk Jamu, Obat Pakai
inap ? ?
Supplemen, OTC, dll)
Tidak Ya Tidak
1 Inf. Comatusin Hepar 1 20 tpm Ya

2 Inj. Cefotaxim 2x1g Ya Ya Cefixim


1 Tidak Tidak
cap
3 Inj. Omeprazole 1x1 Ya Ya Omepraz
1 Tidak Tidak
ol cap
4 3x1 Ya Ya Vit. K
Inj. Vit. K 3 Tidak Tidak
tab
5 Curcuma tab 3x1 Ya Ya
3 Tidak Tidak
6 Urdafalk tab 250 mg 3 3x1 Ya Tidak Ya Tidak
7 Ya Tidak Ya Tidak
8 Ya Tidak Ya Tidak
9 Ya Tidak Ya Tidak

B. Riwayat Penggunaan Obat Harian


RSUD Prof. Dr. MARGONO
SP
SOEKARJO PURWOKERTO
19
INSTALASI FARMASI
Nama : TN. KK Nomor RM :
Tgl lahir/Umur : 17.09.54 /64 BB : 45 kg; TB : 160 0
0 cm; 6 : Mawar
2Kamar 6 9 2.42 6
RPM : Ebsefalopati Hepatikum, kolestasis RPD : Ensefalopati Hepaticum
DPJP :dr. Andreas, Sp.Pd. Diagnosis : Ensefalopati Hepatikum, Kolestasis, Joundice
Merokok : - batang/hr; Kopi : - gelas/hr; Lainnya : - ; Alergi : -
RIWAYAT PENGGUNAAN OBAT HARIAN
Diisi oleh Apoteker yang merawat :
Parameter / Tgl Nilai 3 4 5 6 7 8 9 10 11
Tanda Vital

Normal
Tekanan Darah 130/ 130/ 140/ 135/ 135/ 125/ 140/
120/80 120/80 110/80
(mm Hg) 80 80 80 80 80 80 82
Nadi (kali per
80 64 80 66 72 70 68 72 84 72
menit)
Suhu Badan (oC) 36-37 36 36 36.8 36 36 36 36.6 36 37
Respirasi (kali per
20 20 20 20 22 20 18 20 20 16
menit)
Nyeri perut +++ +++ ++ - - - - - -
Lemas +++ +++ ++ ++ ++ +++ +++ +++ +++
Belum BAB +++ ++ ++ ++ + - - - -
KELUHAN

Insomnia +++ +++ +++ +++ +++ +++ ++ ++ ++


Sulit menelan - - - - - +++ ++ +++ ++
Nafsu makan ++
+++ +++ ++ ++ + + + +
rendah
Mual +++ - - - - - - - -
Leher kaku - - - - +++ +++ +++ +++ +++
Mengigau +++ - - - ++ - - - -

Laboratorium Nilai
Rutin / Tanggal Normal
AFP (ng/dL) 7 3,86
Bilirubin Total 15.0 15.2
Laboratorium Rutin

0.00-1.10
(mg/dL) 1 6
Bilirubin Direk 11.2 11.8
0.00-0.30
(mg/dL) 2 2
Bilirubin Indirek
0.00-1.10 3.79 3.44
(mg/dL)
SGOT (u/L) 15-37 104 91
SGPT (u/L) 30-65 193 155
Hb (mg/dL) 11.2-17.3 13.5
Hematokrit (%) 40-52 39
3800- 1912
Leukosit (u/L)
1060 0
Terapi (Nama Aturan
Obat, Kekuataan) Pakai
PARENTERAL

Inj. Cefotaxim 2 x 1 gram


Inj. Omeprazole 1 x 1 amp
Inj. Vit. K 3 x 1 amp
Inj. Metil 2 x 3 amp
Prednison
Drip LOLA opl 1x1
NaCl 500 cc
ORAL

Curcuma tab 3 x 1 tab


Urdafalk 250 mg 3 x 1 tab
Lactulax 1x1C
Infus Comatusin 20 tpm
I.V.F.D

Hepar
Infus D5% 20 tpm

BB : Berat Badan; TB : Tinggi Badan; RPM : Riwayat Penyakit saat MRS; RPD : Riwayat Penyakit Dahulu

C. Asuhan Kefarmasian

RSUD Prof. Dr. MARGONO


SOEKARJO PURWOKERTO RM
INSTALASI FARMASI
Nama : TN. KK Nomor RM :
Tgl lahir/Umur : 17.9.54 /64 BB : 45 kg; TB : 160 0cm; 0 Kamar 6
2 6: Mawar 9
2.4 2 6

PEMANTAUAN TERAPI OBAT (2)


Diisi oleh Apoteker yang merawat
Asuhan Kefarmasian
Tanggal
Subjektif Objektif Assessment Planning
3/10 2016 Nyeri TD : 130/80 Obat yang diberikan - Obat yang
Perut N : 64 sudah sesuai untuk diberikan berfungsi
Lemas S: 36C diagnosa ensefalopati untuk :
Belum RR:20 hepatic dengan -Inj. Cefotaxime
BAB kolestasis sebagai profilaksis
Insomnia SGOT: 104 karena leukosit
Nafsu SGPT: 193 Pasien mengalami -Inj. Omeprazole
makan susah BAB belum untuk mengatasi
rendah ada obat nyeri perut dan mual
Terapi :
Mual -Inj. Vit. K sebagai
Inj. Cefotaxim 2 x 1 g Efek samping defisiensi vit K pada
Inj. Omeprazol 1 x penggunaan kasus ensefalopati
1 amp Comatusin Hepar hepatic
Inj. Vit. K 3 x 1 adalah insufisiensi -Urdafalk untuk
amp ginjal berat mengatasi batu
Curcuma tab 3x1 empedu
tab -Inf. Comatusin
Urdafalk 3 x 1 tab hepar untuk
Inf. Comatusin mengatasi
Hepar 20 tpm insufisiensi hati
dengan koma
hepatikum
-Curcuma tablet
berfungsi sebagai
hepatoprotektor
- Komunikasikan
dengan DPJP untuk
mengatasi susah
BAB, diusulkan
pemakaian Lactulax
1x1C
- Monitor klirens
kreatinin pasienserta
SGOT SGPT
4 / 10 2016 Nyeri perut TD: 140/80 Pasien mengalami Komunikasi dg
Lemas N: 80 susah BAB belum DPJP untuk
Belum BAB RR: 20 ada obat mengatasi keluhan
Insomnia S : 36C susah BAB,
Nafsu diusulkan pemberian
makan Terapi : Lactulax 1 x 1 C
rendah Inj. Cefotaxim 2 x 1 g
Inj. Omeprazol 1 x
1 amp
Inj. Vit. K 3 x 1
amp
Curcuma tab 3x1
tab
Urdafalk 3 x 1 tab
Inf. Comatusin
Hepar 20 tpm
5 / 10 2016 Nyeri perut TD: 140/80 Pasien mengalami Komunikasi dg
Lemas N: 66 susah BAB belum DPJP untuk
Belum BAB RR : 20 ada obat mengatasi keluhsn
Insomnia S : 36.8C susah BAB,
Nafsu diusulkan pemberian
makan Terapi : Lactulax 1 x 1 C
rendah Inj. Cefotaxim 2 x 1 g
Inj. Omeprazol 1 x
1 amp
Inj. Vit. K 3 x 1
amp
Drip LOLA opl
NACl 500 cc 1 x 1
Curcuma tab 3x1
tab
Urdafalk 3 x 1 tab
Inf. Comatusin
Hepar 20 tpm

6 / 10 2016 Lemas TD: 135/80 Obat yang diberikan Obat yang diberikan
Belum BAB N: 72 sudah sesuai untuk berfungsi untuk :
Insomnia RR : 22 diagnosa ensefalopati -LOLA Pengobatan
Nafsu S : 36C hepatic dengan hiperamonemia
makan kolestasis akibat penyakit hati
rendah Terapi : akut atau kronik
Inj. Cefotaxim 2 x 1 g misalnya sirosis hati,
Inj. Omeprazol 1 x perlemakan hati,
1 amp hepatitis, terapi pra
Inj. Vit. K 3 x 1 koma hepatik atau
amp ensefalopati hepatik.
Drip LOLA opl
NACl 500 cc 1 x 1 Pasien sudah tidak Komunikasikan
Curcuma tab 3x1 mengalami nyeri dengan DPJP untuk
tab perut tetapi masih penghentian injeksi
Urdafalk 3 x 1 tab mendapatkan terapi omeprazole,
Lactulax 1 x 1C omeprazole injeksi Pemakaian injeksi
Inf. Comatusin omeprazol maksimal
Hepar 20 tpm 10 hari karena
sifatnya yang
irreversible dalam
pembentukan asam
lambung
7/10/2016 Lemas TD: 135/80 Pasien mengeluhkan Komunikasikan
Keluhan N: 70 leher merasa kaku, dengan DPJP untuk
susah BAB RR : 20 belum ada obat mengatasi leher
membaik S : 36C kaku,
Insomnia direkomendasikan
Nafsu Terapi : untuk penggunaan
makan Inj. Cefotaxim 2 x 1 g relaksan otot
membaik Inj. Omeprazol 1 x
Leher kaku 1 amp Infus D5% berfungsi
Inj. Vit. K 3 x 1 untuk menstabilkan
amp tekanan darah
Drip LOLA opl
NACl 500 cc 1 x 1
Curcuma tab 3x1
tab
Urdafalk 3 x 1 tab
Lactulax 1 x 1C
Inf. Comatusin
Hepar 20 tpm
Inf. D5% 20 tpm

8/10/201 Lemas TD: 1250/80 Pasien mengeluhkan Komunikasikan


Insomnia N:68 leher kaku tetapi dengan DPJP untuk
Sulit RR : 18 belum mendapat obat mengatasi leher
menelan S : 36C kaku,
Nafsu direkomendasikan
makan Terapi : untuk penggunaan
membaik Inj. Cefotaxim 2 x 1 g relaksan otot
Leher Inj. Omeprazol 1 x
teraSA kaku 1 amp Metil prednisolon
Inj. Vit. K 3 x 1 untuk mengatasi
amp radang pada
Drip LOLA opl tenggorokan yang
NACl 500 cc 1 x 1 menyebabkan pasien
Curcuma tab 3x1 sulit menelan
tab
Urdafalk 3 x 1 tab
Lactulax 1 x 1C
Inf. Comatusin
Hepar 20 tpm
Inf. D5% 20 tpm

9/10/16 Lemas TD: 140/82 Pasien mengeluhkan Komunikasikan


Insomnia N:72 leher kaku tetapi dengan DPJP untuk
Sulit RR : 20 belum mendapat obat mengatasi leher
menelan S : 36,6 C kaku,
Leher kaku direkomendasikan
Terapi : untuk penggunaan
Terapi : relaksan otot
Inj. Cefotaxim 2 x 1 g
Inj. Omeprazol 1 x
1 amp
Inj. Vit. K 3 x 1
amp
Drip LOLA opl
NACl 500 cc 1 x 1
Curcuma tab 3x1
tab
Urdafalk 3 x 1 tab
Lactulax 1 x 1C
Inf. Comatusin
Hepar 20 tpm
Inf. D5% 20 tpm

10/10/16 Lemas TD: 120/80 Pasien mengeluhkan Komunikasikan


Insomnia N:84 leher kaku tetapi dengan DPJP untuk
Sulit RR : 20 belum mendapat obat mengatasi leher
menelan S : 36C kaku,
Leher kaku direkomendasikan
Terapi : untuk penggunaan
Terapi : relaksan otot
Inj. Cefotaxim 2 x 1 g
Inj. Omeprazol 1 x
1 amp
Inj. Vit. K 3 x 1
amp
Drip LOLA opl
NACl 500 cc 1 x 1
Curcuma tab 3x1
tab
Urdafalk 3 x 1 tab
Lactulax 1 x 1C
Inf. Comatusin
Hepar 20 tpm
Inf. D5% 20 tpm

11/10/16 Lemas TD: 110/80 Pasien mengeluhkan Komunikasikan


Insomnia N:72 leher kaku tetapi dengan DPJP untuk
Sulit RR : 16 belum mendapat obat mengatasi leher
menelan S : 37 C kaku,
Leher kaku direkomendasikan
Terapi : untuk penggunaan
Terapi : relaksan otot
Inj. Cefotaxim 2 x 1 g
Inj. Omeprazol 1 x
1 amp
Inj. Vit. K 3 x 1
amp
Drip LOLA opl
NACl 500 cc 1 x 1
Curcuma tab 3x1
tab
Urdafalk 3 x 1 tab
Lactulax 1 x 1C
Inf. Comatusin
Hepar 20 tpm
Inf. D5% 20 tpm

IV. Pembahasan
TN. KK (64 th) masuk rumah sakit pada tanggal 3 Oktober 2016 dan pulang dari rumah
sakit pada tanggal 11 Oktober 2016. Pasien TN. KK datang deengan keluhan nyeri perut,
badan terasa lemas, nafsu makan berkurang, dan mual.Dokter mendiagnosa pasien TN. KK
mengalami ensefalopati hepatikum, kolestasis, dan jaundice.Pasien tidak pernah merokok,
minum kopi, dan tidak ada riwayat alergi terhadap obat.
Pemeriksaan data laboratorium dilakukan pada tanggal 3 Oktober 2016 meliputi
pemeriksaan bilirubin total, bilirubin direk, bilirubin indirect, SGOT, SGPT, Hb, Hematokrit,
dan Leukosit.
Hasil bilirubin total pasien TN. KK sangat tinggi yaitu (15,01 mg/dL) dibandingkan nilai
bilirubin total (0,00 1,10 mg/dL). Bilirubin terjadi dari hasil peruraian hemoglobin dan
merupakan produk antaradalam proses hemolisis. Bilirubin dimetabolisme oleh hati dan
diekskresi kedalam empedu sedangkan sejumlah kecil ditemukan dalam
serum.Peningkatanbilirubin terjadi jika terdapat pemecahan sel darah merah berlebihan atau
jika hati tidak dapat mensekresikan bilirubin yang dihasilkan.Terdapat dua bentuk bilirubin:
a) Tidak langsung atau tidak terkonjugasi (terikat dengan protein).
b) Langsung atau terkonjugasi yang terdapat dalam serum.
Pada hasil pemeriksaan TN. KK nilai bilirubin langsung / direct sangat tinggi (11,20
mg/dL) dibandingkan nilai normal (0,00 0,30 mg/dL), sedangkan nilai bilirubin tidak
langsung / indirect (3,79 mg/dL) juga lebih tinggi dibandingkan nilai normal bilirubin tidak
langsung / indirect (0,00 1,10 mg/dL). Peningkatan kadar bilirubin langsung dan tidak
langsung menunjukkan pasien mengalami gangguan fungsi hatinya yaitu hepatitis,
ensefalopati hepatic, dan kolestasis. Peningkatan kadar bilirubin terkonjugasi lebih sering
terjadi akibat peningkatanpemecahan eritrosit, sedangkan peningkatan bilirubin tidak
terkonjugasi lebih cenderung akibat disfungsi atau gangguan fungsi hati.
Pemeriksaan hasil laboratorium TN. KK pada pemeriksaan SGOT (104 u/L) yang
menunjukkan nilai tinggi dibandingkan nilai normal SGOT (15 37 u/L).SGOT (Serum
Glutamic Oxaloacetic Transaminase) atau AST (Aspartat Aminotransferase) adalah enzim
yang memiliki aktivitas metabolisme yang tinggi, ditemukandi jantung, hati, otot rangka,
ginjal, otak, limfa, pankreas dan paru-paru. Penyakit yang menyebabkan perubahan,
kerusakan atau kematian sel pada jaringan tersebut akan mengakibatkan terlepasnya enzim
ini ke sirkulasi. Pada pemeriksaan laboratorium SGPT (Serum Glutamic Piruvat
Transaminase) atau ALT (Alanin Aminotransferase) pasien TN. KK (193 u/L) menunjukkan
nilai yang tinggi dibandingkan nilai normal SGPT (30 65 u/L). Konsentrasi enzim ALT
yang tinggi terdapat pada hati.ALT juga terdapat pada jantung, otot dan ginjal.ALT lebih
banyak terdapat dalam hati dibandingkanjaringan otot jantung dan lebih spesifik
menunjukkan fungsi hati daripada AST. ALT berguna untuk diagnosa penyakit hati dan
memantau lamanya pengobatan penyakit hepatik, sirosis postneurotik dan efek hepatotoksik
obat.
Hasil pemeriksaan laboratorium TN. KK pada pemeriksaan leukosit menunjukkan
nilai yang sangat tinggi (19120 u/L) dibandingkan nilai normal leukosit (3800 10600 u/L).
Fungsi utama leukosit adalah melawan infeksi.Peningkatan leukosit TN. KK menunjukkan
bahwa TN. KK mengalami infeksi oleh mikroorganisme.
Pasien TN. KK mendapatkan terapi secara parenteral seperti injeksi cefotaxim, injeksi
omeprazol, injeksi vitamin K, injeksi metil prednisone, dan drip LOLA. Pemberian injeksi
cefotaxim dengan dosis 2 x 1 gram sebagai profilaksis infeksi pada penyakit gangguan hepar
yang dialami oleh TN. KK yang ditandai dengan meningkatnya nilai leukosit.Injeksi
Omeprazole dengan dosis 1 x 1 ampul diberikan untuk mengatasi mual dan nyeri perut yang
dialami oleh pasien. Pemberian injeksi vitamin K diberikan untuk menangani defisiensi
vitamin K. Perpanjangan prothombin time (PT) karena defisiensi vitamin K sering
menyebabkan cholestasis, biasanya akan membaik dalam 24 jam setelah pemberian vitamin
K 10 mg peroral atau subkutan. Pemberian injeksi metil prednisone pada kasus ini berfungsi
karena pasien TN. KK mengalami sulit menelan akibat peadangan.Pemeberian L-Ornitin L-
Aspartat sebagai pengobatan hiperamonia pada pasien dengan penyakit hati.Pengobatan oral
juga diberikan kepada TN. KK. Pemberian curcuma tablet dengan dosis 3 x 1 tab berfungsi
sebagai kolagoga dan hepatoprotektor. Pemberian urdafalk 250 mg dengan dosis 3 x 1 tab
untuk peluruh batu empedu. Pemberian Lactulac dengan dosis 1 x 1 C untuk mengatasi
keluhan susah BAB, selain itu Laktulosa merupakan lini pertama dalam penatalaksanaan
ensefalopati hepatikum. Sifatnya yang laksatif menyebabkan penurunan sintesis dan uptake
amonia dengan menurunkan pH kolon dan juga mengurangi uptake glutamin.Selain itu,
laktulosa diubah menjadi monosakarida oleh flora normal yang digunakan sebagai sumber
makanan sehingga pertumbuhan flora normal usus akan menekan bakteri lain yang
menghasilkan urease. Proses ini menghasilkan asam laktat dan juga memberikan ion hidrogen
pada amonia sehingga terjadi perubahan molekul dari amonia (NH3) menjadi ion amonium
(NH4+). Adanya ionisasi ini menarik amonia dari darah menuju lumen. Selain itu pasien TN.
KK juga mendapat terapi infuse seperti infus Comatusin Hepar dan infus D5%. Pemberian
infus comatusin hepar berfungsi sebagai terapi penyembuhan gangguan fungsi hati,
sedangkan pemberian infus D5% untuk mengatasi lemas yang dialami pasien, selain itu juga
berfungsi untuk menstabilkan tekanan darah.

V. Kesimpulan
Hasil monitoring pasien TN. KK (64 th) di bangsal mawar RSUD. Prof. Dr. Margono
Soekarjo yang telah dilakukan selama 3 hari dapat disimpulkan bahwa :
1. Pasien diagonosa menderita Ensefalopati Hepatikum, Kolestasis, dan Joundice
2. Tujuan terapi bagi penderita ensefalopati hepatikum adalahmemperpanjang survival dan
memperbaiki kualitas hidup, dengan caramengidentifikasi dan mengatasi pencetus serta
pemberian terapi.
3. DRP yang didapat dari terapi TN.KK yaitu adanya indikasi sembelit dan leher kaku yang
belum diterapi. Selain itu pasien juga mendapatkan terapi omeprazol injeksi, dimana
pasien tidak memiliki keluhan nyeri perut dan mual pada tanggal 6 oktober dan
sebaiknya pemberian omeprazol dihentikan. Monitoring lebih lanjut perlu dilakukan
seperti tes fungsi hati dan fungsi ginjal.
LAMPIRAN 8

ALUR PELAYANAN SATELIT FARMASI ICU, HCU, ICCU, DAN


KEMOTERAPI DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
PURWOKERTO

I. Pendahuluan
Pelayanan resep merupakan suatu proses pelayanan terhadap permintaan tertulis dokter,
dokter gigi, dokter hewan kepada apoteker untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi
pasien sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Pelayanan Resep dimulai dari
penerimaan, pemeriksaan ketersediaan, pengkajian Resep, penyiapan sediaan farmasi, alat
kesehatan, dan bahan medis habis pakai termasuk peracikan obat, pemeriksaan, penyerahan
disertai pemberian informasi. Pada setiap tahap alur pelayanan resep dilakukan upaya
pencegahan terjadinya kesalahan pemberian obat (medication error) untuk menganalisa
adanya masalah terkait obat. Kegiatan pelayanan resep harus dilakukan karena merupakan
salah satu bagian dari pelayanan kefarmasian di rumah sakit. Kegiatan ini dilakukan di
seluruh depo Apotek di rumah sakit, antara lain dilakukan di Intensive Care (ICU,
HCU,ICCU) dan di depo farmasi kemoterapi.
Apotek Intensive Care merupakan bagian dari Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS)
yang bertugas memberikan pelayanan kefarmasian kepada pasien rawat inap yang
membutuhkan pelayanan ketat. Apotek tersebut merupakan bagian dari Sub Instalasi Farmasi
Rumah Sakit. Sub Instalasi Farmasi Intensive Care Rumah Sakit memiliki 3 unit depo atau
satelit farmasi, yang terdiri terdiri dari Depo Farmasi Intensive Care Unit (ICU), Depo
Farmasi High Unit Care (HCU), Depo Farmasi Intensive Coronary Care Unit (ICCU)
(Anonim, 2014).
Intensive Care Unit (ICU) merupakan unit tersendiri di dalam rumah sakit yang
bertugas menangani pasien gawat karena penyakit, trauma atau komplikasi penyakit lain.
ICU berfokus pada pasien yang membutuhkan perawatan intensif yang memerlukan support
terhadap instabilitas hemodinamik, airway atau respiratory compromise dan atau gagal
ginjal, kadang ketiga-tiganya. Perawatan intensif biasanya hanya disediakan untuk pasien-
pasien dengan kondisi yang potensial reversible atau mereka yang memiliki peluang baik
untuk bertahan hidup (Depkes, 2010).
High Care Unit (HCU) adalah unit pelayanan di rumah sakit bagi pasien dengan kondisi
respirasi, hemodinamik dan kesadaran yang stabil yang masih memerlukan pengobatan,
perawatan, dan observasi secara ketat dengan tingkat pelayanan yang berada di antara ICU
dan ruang rawat inap (Depkes, 2010). Sedangkan Intensive Coronary Care Unit (ICCU)
adalah unit tersendiri di dalam RS yang menangani pasien-pasien gawat karena penyakit
jantung dan pembuluh darah (Depkes, 2010).
Depo farmasi kemoterapi merupakan salah bagian dari unit pelayanan di rumah sakit
yang bertanggungjawab memberikan pelayanan terhadap obat-obatan sitostatika dari mulai
melakukan pengecekan kesesuaian protokol dan dosis obat, bentuk sediaan dan cara
pemberian, pengoplosan hingga distribusi ke pasien (Anonim, 2014).
II. Alur Pelayanan

1. Alur Pelayanan Sub Instalasi Farmasi Intensive Care Unit (ICU)


Dokter menulis resep

IGD, IBS, rawat inap, rawat


Pasien datang jalan dan unit lain

Datang pada jam kerja Datang diluar jam kerja


Apoteker Apoteker

Instruksi dari dokter Instruksi dari dokter


(resep dalam form) (resep dalam form)

Apoteker melakukan skrining Perawat melakukan dispensing obat


administratif , farmasetis dan secara mandiri dan mencatat nama
klinis obat serta jumlahya pada buku bon

Jika ada DRP Jika tidak ada Perawat mendistribusikan obat ke


DRP loker tiap pasien dan diserahkan
kepada pasien sesuai dengan waktu
Konsultasikan ke Dispensing pemberian obat
Dokter DPJP (Metode OUDD)
Keesokan harinya, apoteker
Obat didistribusikan ke menyalin resep ke kartu obat
2. Alur Pelayanan Sub Instalasi Farmasi Intensive Coronary Care Unit (ICCU)

Dokter menulis resep

IGD, IBS, rawat inap, rawat


Pasien datang jalan dan unit lain

Datang pada jam kerja Datang diluar jam kerja


Apoteker Apoteker

Instruksi dari dokter Instruksi dari dokter


(resep dalam form) (resep dalam form)

Apoteker melakukan skrining Perawat melakukan dispensing obat


administratif , farmasetis dan secara mandiri dan mencatat nama
klinis obat serta jumlahya pada buku bon

Jika ada DRP Jika tidak ada Perawat mendistribusikan obat ke


DRP loker tiap pasien dan diserahkan
kepada pasien sesuai dengan waktu
Konsultasikan ke Dispensing pemberian obat
Dokter DPJP (Metode OUDD)
Keesokan harinya, apoteker
Obat didistribusikan ke menyalin resep ke kartu obat
loker tiap pasien
3. Alur Pelayanan Sub Instalasi Farmasi Kemoterapi (Cytotoxice)
a. Alur Pelayanan Resep Rawat Jalan Depo Farmasi Kemoterapi

Dokter menulis resep

Pasien datang Dari poliklinik

Datang pada jam kerja Datang diluar jam kerja


Apoteker Apoteker

Instruksi dari dokter Instruksi dari dokter


(resep dalam form) (resep dalam form)

Apoteker melakukan skrining Perawat melakukan dispensing obat


administratif , farmasetis dan klinis secara mandiri dan mencatat nama
obat serta jumlahya pada buku bon

Jika ada DRP Jika tidak ada Perawat mendistribusikan obat ke


DRP loker tiap pasien dan diserahkan
kepada pasien sesuai dengan waktu
Konsultasikan ke Dispensing pemberian obat
Dokter DPJP (Metode OUDD)
Keesokan harinya, apoteker
menyalin resep ke kartu obat
b. Alur Pelayanan Resep Rawat Inap Depo Farmasi Kemoterapi

Dokter menulis resep

Pasien membawa resep ke satelit


kemoterapi

Apoteker melakukan skrining resep yang meliputi kelengkapan


administratif, farmasetis dan klinis

Jika ada DRP konsultasikan Jika tidak ada DRP


dengan Dokter

Dispensing (Menempel
stiker sitostatika, High
Alert dan etiket pada
flabot infus)

Obat di diistribusikan ke
loker masing2 pasien

Perawat mengambil obat


di loker pasien dan
memberikan obat sesuai
dengan waktu pemberian
III. Pembahasan

1. Sub Instalasi Farmasi Intensive Care


Apotek Intensive Care merupakan bagian dari Sub Instalasi Farmasi RSMS. Sub
Instalasi Farmasi Intensive Care RSMS memiliki 3 unit depo atau satelit farmasi, yaitu
Depo Farmasi Intensive Care Unit (ICU), Depo Farmasi High Unit Care (HCU), Depo
Farmasi Intensive Cardiology Care Unit (ICCU). Ketiga depo farmasi tersebut bertugas
memberikan pelayanan kefarmasian kepada pasien rawat inap yang membutuhkan
pelayanan ketat, sehingga dalam melakukan tugas tersebut dituntut agar tidak
melakukan kesalahan dalam melakukan pelayanan kefarmasian.
Kegiatan pelayanan farmamsi klinik yang dilakukan di masingmasing depo
farmasi dimulai dari melakukan pengkajian dan memberikan pelayanan obat dan alkes
sesuai instruksi terapi yang ditulis oleh dokter hingga dilakukannya penelusuran riwayat
penggunaan obat harian, rekonsiliasi obat dan visite bersama dokter.
Alur pelayanan obat dan alkes yang ada di masingmasing depo farmasi intensive
care sudah sesuai standar pelayanan kefarmasian PMK No 58 tahun 2014, dimana
kegiatan farmasi klinik dimulai dengan melakukan pengkajian terhadap resep atau
instruksi dokter untuk menganalisa adanya masalah terkait obat, mencegah terjadinya
kesalahan dalam pemberian obat (medication error). Apabila ditemukan masalah terkait
obat harus dikonsultasikan kepada dokter penulis resep. Namun pada proses pengkajian
resep, masih sedikit terkendala dengan tidak tercatatnya berat badan pasien, tinggi
badan pasien, riwayat penyakit pasien, dan riwayat alergi pasien pada beberapa rekam
medis pasien. Padahal hal tersebut penting untuk menentukan penyesuaian dosis dan
pemilihan terapi.
Dalam melakukan kegiatan penyiapan Sediaan Farmasi, dan alat kesehatan juga
harus menjamin agar tidak terjadi kesalahan dalam pemberian obat (medication error),
salah satunya dengan melakukan double checking sebelum resep diditribusi ke rak obat
pasien, yaitu dengan cara orang yang menyiapkan obat dan yang melakukan pengecekan
ulang harus dilakukan oleh orang yang berbeda. Pengecekan kesesuaian obat dengan
instruksi terapi juga dapat dilakukan kembali oleh perawat yang akan memberikan obat
kepada pasien.
Kegiatan farmasi klinik lain yang dilakukan didepo farmasi intensive care adalah
melakukan rekonsiliasi obat dan penelusuran riwayat penggunaan obat harian (RPOH).
Rekonsiliasi dilakukan untuk mencegah terjadinya kesalahan obat (medication error)
seperti obat tidak diberikan, duplikasi, kesalahan dosis atau interaksi obat, sedangkan
RPOH merupakan proses untuk mendapatkan informasi mengenai seluruh obat/sediaan
farmasi lain yang pernah dan sedang digunakan, riwayat pengobatan yang diperoleh dari
data rekam medik/pencatatan penggunaan obat pasien. Hasil dari penelusuran
penggunaan obat harian pasien dapat mengidentifikasi potensi terjadinya interaksi obat,
melakukan penilaian rasionalitas obat yang diresepkan mendokumentasikan adanya
alergi dan Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD). Ketika terjadi masalah dalam
pengobatan tersebut dapat dikonsultasikan pada Dokter Penanggung Jawab Pasien
(DPJP) saat visite bersama.
2. Depo Farmasi Kemoterapi
Alur pelayanan untuk pasien rawat inap yaitu dokter menulis protokol terapi pasien,
disalin oleh perawat ke kartu obat pasien, kemudian perawat mengantar kartu obat
pasien dan protokol terapi ke apotek kemoterapi.
Apoteker melakukan skrining yaitu identitas pasien, kesesuaian dosis, pelarut,
bentuk sediaan dan stabilitas obat. Pengecekan identitas pasien bertujuan untuk melihat
kesesuaian protokol terapi dengan nama pasien yang mendapat protokol terapi tersebut.
Apoteker juga melakukan pengecekan dosis, jika dosis yang dituliskan di protokol terapi
tidak sesuai dengan kondisi pasien, maka dilakukan perhitungan kembali oleh apoteker.
Pemilihan pelarut bertujuan untuk ketercampuran obat dengan pelarut yang sesuai
dan stabilitas obat setelah dilakukan pencampuran.Namun dilapangan tidak dilakukan
pencatatan stabilitas obat setelah dilakukan pencampuran dan lama stabilitas pada suhu
tertentu. Hal ini untuk menjamin efek obat yang diberikan kepada pasien.
Ruangan untuk pencampuran obat-obat sitostatika harus sesuai dengan syarat yang
telah ditentukan dengan tujuannya adalah untuk menjamin keamanan obat bebas dari
kontaminasi mikroba, melindungi petugas dan lingkungan sekitar dari paparan obat
sitostatika Persyaratan ruangan untuk pencampuran obat sitostatika adalah ruangan
terdiri dari ruang persiapan, ruang cuci tangan dang anti pakaian, ruang antara dan ruang
steril.
Persyaratan ruang steril yaitu ruangan tidak ada sudut atau siku, dinding dilapisi
epoksi, suhu 18-220C, kelembaban 35-50%, dilengkapi High Efficiency Particulate Air
(HEPA) filter, jumlah partikel berukuran micron tidak lebih dari 350.000 partikel,
jumlah jasad renik tidak lebih dari 100 per meter kubik udara, ada pass box yang
bertujuan untuk menyalurkan obat-obat sebelum maupun sesudah dicampur. Sedangkan
ruangan untuk pencampuran sitostatika di rumah sakit Margono untuk ruang sterilnya
masih ada sudut di dndingnya, dinding ruangan belum dilapisi epoksi, masih banyak
debu terutama dibagian samping dan belakang LAF, belum ada pass box sehingga
penyaluran obatnya dilakukan oleh petugas lain yang diluar melalui pintu.
Selain itu petugas yang melakukan pencampuran sebaiknya meminimalkan gerakan,
tidak boleh berbicara, tidak boleh keluar masuk ruangan jika proses pencampuran masih
berlangsung. Namun di lapangan petugas masih keluar masuk ruangan selama proses
pencampuran, saling berbicara. Alat Pelindung Diri (APD) yang digunakan oleh petugas
masih belum memenuhi standar diantaranya petugas tidak menggunakan kacamata
google, sepatu booth, gown tidak digunakan secara benar hanya menutupi bagian depan
petugas.

Iv. Kesimpulan Dan Saran


Kesimpulan
1. Melakukan seleksi dan perencanaan obat berdasarkan kebutuhan atau penggunaan
sesuai dengn formularium rumah sakit untuk menghindari kekosongan obat.
2. Melakukan pengadaan, penyimpanan, distribusi obat dan alkes untuk masing-
masing satelit Intensive Care dan Kemoterapi.
3. Melakukan skrinning resep mulai dari administrasi, farmasetis dan klinis.
4. Melakukan dispensing meliputi pemberian etiket, pengemasan dengan metode
OUDD sampai pada pendistribusian obat ke loker-loker pasien.
5. Melakukan PTO (Pemantauan Terapi Obat) dan rekonsiliasi obat serta melakukan
monitoring dan evaluasi.

Saran
1. Pencatatan barang keluar dan barang masuk pada kartu stok sebaiknya
dilakukan secara rutin dan berkala.
2. Perlu ditambahkan passing box pada apotek kemoterapi, demi keselamatan
bersama.
3. Petugas yang melakukan handling cytostatica sebaiknya menggunakan alat
Pelindung Diri (APD) yang sesuai dengan prosedur yang berlaku.
4. Sebaiknya dilakukan pencataan berat badan dan tinggi badan pasien untuk
meminimalisir kekeliruan dalam pemberian dosis.