Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan Karunia-Nya
pada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini yang berjudul
Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Neonatus By SA Dengan Sindroma Gawat Nafas
Penulis membuat makalah ini berdasarkan sumber-sumber pustaka dan melakukan
pengkajian kasus di COVIS.
Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
Ibu ..............selaku pembimbing lapangan
Ibu ................selaku pembimbing akademik
Serta semua pihak yang telah ikut berpartisipasi dalam pembuatan makalah ini.
Penulis merasa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah
ini. Penulis berharap semoga makalah ini dapat dijadikan sebagai salah satu sumber bacaan
yang bermanfaat dan dapat digunakan dengan sebaik-baiknya.
Wassalam

Padang Panjang, Februari 2017


Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Periode setelah lahir merupakan awal kehidupan yang tidak menyenangkan bagi bayi.
Hal itu disebabkan oleh lingkungan kehidupan sebelumnya (intrauterus) dengan kehidupan
sekarang ( ekstrauterus ) yang sangat berbeda. Bayi yang dilahirkan prematur ataupun bayi
yang dilahirkan dengan penyulit/komplikasi, tentu proses adaptasi kehidupan tersebut
menjadi lebih sulit untuk dilaluinya. Bahkan sering kali menjadi pemicu timbulnya
komplikasi lain yang menyebabkan bayi tersebut tidak mampu melanjutkan kehidupan ke
fase berikutnya (meninggal). Bayi seperti ini yang disebut dengan istilah bayi resiko
tinggi.(surasmi,dkk.2003)
Salah satu dari bayi resiko tinggi adalah bayi dengan sindroma gawat nafas
(SGN/RDS). Respiratory Distress Syndrome ( RDS ) didapatkan sekitar 5 -10% pada bayi
kurang bulan, 50% pada bayi dengan berat 501-1500 gram (lemons et al,2001). Angka
kejadian berhubungan dengan umur gestasi dan berat badan. (www.google.com)
Persentase kejadian menurut usia kehamilan adalah 60-80% terjadi pada bayi yang
lahir dengan usia kehamilan kurang dari 28 minggu; 15-30% pada bayi antara 32-36
minggu dan jarang sekali ditemukan pada bayi yang cukup bulan. Insiden pada bayi
prematur kulit putih lebih tinggi dari pada kulit hitam dan lebih sering terjadi pada bayi
laki-laki dari pada perempuan (nelson,1999). Selain itu kenaikan frekuensi juga sering
terjadi pada bayi yang lahir dari ibu yang menderita gangguan perfusi darah uterus selama
kehamilan, misalnya ibu menderita penyakit diabetes, hipertensi, hipotensi, seksio serta
perdarahan antepartum. ( surasmi,dkk.2003 )
Namun seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bayi resiko
tinggi ( SGN ) dapat hidup dengan baik tanpa mengalami cacat. Hal ini terjadi jika ia
dirawat di ruang perawatan intensif neonatus, dengan tenaga perawat yang memiliki
spesialisasi kealihan di bidang tersebut.

B. TUJUAN

Adapun tujuan umum dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui teori serta
asuhan yang akan diberikan pada neonatus dengan resiko tinggi khususnya SGN
Sedangkan tujuan khusus dari makalah ini adalah:
Mengumpulkan data neonatus dengan SGN
Melakukan interpretasi data seperti mendiagnosa
Melakukan antisipasi masalah / diagnosa potensial
Melakukan tindakan segera jika diperlukan
Melakukan perencanaan
Melakukan pelaksaksanaan tindakan
Melakukan evaluasi dari pelaksaan yang telah dilakukan
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. PENGERTIAN

Sindrom gawat nafas ( respiratory distress syndroma, RDS ) adalah:


Kumpulan gejala yang terdiri dari dispnea atau hiperpnea dengan frekuensi pernafasan
besar 60 x/i, sianosis, merintih waktu ekspirasi dan retraksi didaerah epigastrium,
suprosternal, interkostal pada saat inspirasi.
( Ngatisyah.2005 hal 23 )
Kumpulan gejala yang terdiri dari frekuensi nafas bayi lebih dari 60x/i atau kurang dari
30x/i dan mungkin menunjukan satu atau lebih dari gejala tambahan gangguan nafas
sebagai berikut:
- Bayi dengan sianosis sentral ( biru pada lidah dan bibir )
- Ada tarikan dinding dada
- Merintih
- Apnea ( nafas berhenti lebih dari 20 detik )
( PONED,2004 )
Istilah yang digunakan untuk disfungsi pernafasan pada neonatus.
( Surasmi, asrining,dkk. 2003 hal 70 )
Gangguan ini merupakan penyakit yang berhubungan dengan perkembangan maturitas
paru
Menurut Petty dan Asbaugh (1971), definisi dan kriteria RDS bila didapatkan sesak
nafas berat (dyspnea ), frekuensi nafas meningkat (tachypnea ), sianosis yang menetap
dengan terapi oksigen, penurunan daya pengembangan paru,adanya gambaran infiltrat
alveolar yang merata pada foto thorak dan adanya atelektasis, kongesti vascular,
perdarahan, edema paru, dan adanya hyaline membran pada saat otopsi
Menurut Murray et.al (1988) disebut RDS apabila ditemukan adanya kerosakan paru
secara langsung dan tidak langsung, kerosakan paru ringan sampai sedang atau
kerosakan yang berat dan adanya disfungsi organ non pulmonar.
Menurut Bernard et.al (1994) apabila onset akut, ada infiltrat bilateral pada foto thorak,
tekanan arteri pulmonal =18mmHg dan tidak ada bukti secara klinik adanya hipertensi
atrium kiri, adanya kerosakan paru akut dengan PaO2 : FiO2 kurang atau sama dengan
300, adanya sindrom gawat napas akut yang ditandai PaO2 : FiO2 kurang atau sama
dengan 200, menyokong suatu RDS .

B. ETIOLOGI

- Kelainan paru: pneumonia


- Kelainan jantung: penyakit jantung bawaan, disfungsi miokardium
- Kelainan susunan syaraf pusat akibat: Aspiksia, perdarahan otak
- Kelainan metabolik: hipoglikemia, asidosis metabolik
- Kelainan bedah: pneumotoraks, fistel trakheoesofageal, hernia diafragmatika
- Kelainan lain: sindrom Aspirasi mekonium, penyakit membran hialin
Bila menurut masa gestasi penyebab gangguan nafas adalah
- Pada bayi kurang bulan
a. penyakit membran hialin
b.pneumonia
c. asfiksia
d.kelainan atau malformasi kongenital
- Pada bayi cukup bulan
a. Sindrom Aspirasi Mekonium
b. pneumonia
c. asidosis
d. kelainan atau malformasi kongenital
Gangguan traktus respiratorius:
Hyaline Membrane Disease(HMD),
Berhubungan dengan kurangnya masa gestasi ( bayi prematur )
Transient Tachypnoe of the Newborn(TTN),
Paru-paru terisi cairan, sering terjadi pada bayi caesar karena dadanya tidak mengalami
kompresi oleh jalan lahir sehingga menghambat pengeluaran cairan dari dalam paru.
Infeksi(Pneumonia),
Sindroma Aspirasi,
Hipoplasia Paru,
Hipertensi pulmonal,
Kelainan kongenital(Choanal Atresia, Hernia Diafragmatika, Pierre- robin syndrome),
Pleural Effusion,
Kelumpuhan saraf frenikus,
Luar traktus respiratoris:
kelainan jantung kongenital, kelainan metabolik, darah dan SSP

C. PATOFISIOLOGI

Faktor-faktor yang memudahkan terjadinya RDS pada bayi prematur disebabkan oleh
alveoli masih kecil sehingga kesulitan berkembang, pengembangan kurang sempurna
kerana dinding thorax masih lemah, produksi surfaktan kurang sempurna. Kekurangan
surfaktan mengakibatkan kolaps pada alveolus sehingga paru-paru menjadi kaku. Hal
tersebut menyebabkan perubahan fisiologi paru sehingga daya pengembangan paru
(compliance) menurun 25% dari normal, pernafasan menjadi berat, shunting intrapulmonal
meningkat dan terjadi hipoksemia berat, hipoventilasi yang menyebabkan asidosis
respiratorik. Telah diketahui bahwa surfaktan mengandung 90% fosfolipid dan 10%
protein , lipoprotein ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan dan menjaga agar
alveoli tetap mengembang. Secara makroskopik, paru-paru nampak tidak berisi udara dan
berwarna kemerahan seperti hati. Oleh sebab itu paru-paru memerlukan tekanan
pembukaan yang tinggi untuk mengembang. Secara histologi, adanya atelektasis yang luas
dari rongga udara bahagian distal menyebabkan edema interstisial dan kongesti dinding
alveoli sehingga menyebabkan desquamasi dari epithel sel alveoli type II. Dilatasi duktus
alveoli, tetapi alveoli menjadi tertarik karena adanya defisiensi surfaktan ini. Dengan
adanya atelektasis yang progresif dengan barotrauma atau volutrauma dan keracunan
oksigen, menyebabkan kerosakan pada endothelial dan epithelial sel jalan pernafasan
bagian distal sehingga menyebabkan eksudasi matriks fibrin yang berasal dari darah.
Membran hyaline yang meliputi alveoli dibentuk dalam satu setengah jam setelah lahir.
Epithelium mulai membaik dan surfaktan mulai dibentuk pada 36- 72 jam setelah lahir.
Proses penyembuhan ini adalah komplek; pada bayi yang immatur dan mengalami sakit
yang berat dan bayi yang dilahirkan dari ibu dengan chorioamnionitis sering berlanjut
menjadi Bronchopulmonal Displasia (BPD).

D. MANIFESTASI KLINIS
Berat dan ringannya gejala klinis pada penyakit RDS ini sangat dipengaruhi oleh tingkat
maturitas paru. Semakin rendah berat badan dan usia kehamilan, semakin berat gejala
klinis yang ditujukan.
Menurut Surasmi, dkk (2003) tanda dan gejala yang muncul adalah sebagai berikut :
1) Takhipneu (> 60 kali/menit)
2) Pernafasan dangkal
3) Mendengkur
4) Sianosis
5) Pucat
6) Kelelahan
7) Apneu dan pernafasan tidak teratur
8) Penurunan suhu tubuh
9) Retraksi suprasternal dan substernal
10) Pernafasan cuping hidung

E. KLASIFIKASI

Secara klinis gangguan nafas dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu:


a. Gangguan nafas berat
b. Gangguan nafas sedang
c. Gangguan nafas ringan

Tabel 1. Klasifikasi Gangguan Nafas


Klasifikasi Frekuensi nafas Gejala tambahan
Gangguan nafas 60 kali/ menit Dengan sianosis sentral dan
berat 90 kali/ menit tarikan dinding dada atau
<> merintih saat ekspirasi
Dengan sianosis sentral atau
tarikan dinding dada atau
merintih saat ekspirasi
Dengan atau tanpa gejala
lain dari gangguan nafas
Gangguan nafas 60-90 kali/ menit Dengan tarikan dinding dada
sedang > 90 kali/ menit atau merintih saat ekspirasi
tetapi tanpa sianosis sentral
Tanpa tarikan dinding dada
atau merintih saat ekspirasi
atau sianosis sentral
Gangguan nafas 60-90 kali/ menit Tanpa tarikan dinding dada
ringan atau merintih saat ekspirasi
atau sianosis sentral

F. PEMERIKSAAN

Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan takhipneu (> 60 kali/menit), pernafasan
mendengkur, retraksi subkostal/interkostal, pernafasan cuping hidung, sianosis dan pucat,
hipotonus, apneu, gerakan tubuh berirama, sulit bernafas dan sentakan dagu. Pada awalnya
suara nafas mungkin normal kemudian dengan menurunnya pertukaran udara, nafas
menjadi parau dan pernapasan dalam.
Pengkajian fisik pada bayi dan anak dengan kegawatan pernafasan dapat dilihat dari
penilaian fungsi respirasi dan penilaian fungsi kardiovaskuler. Penilaian fungsi respirasi
meliputi:
1) Frekuensi nafas
Takhipneu adalah manifestasi awal distress pernafasan pada bayi. Takhipneu tanpa
tanda lain berupa distress pernafasan merupakan usaha kompensasi terhadap terjadinya
asidosis metabolik seperti pada syok, diare, dehidrasi, ketoasidosis, diabetikum,
keracunan salisilat, dan insufisiensi ginjal kronik. Frekuensi nafas yang sangat lambat
dan ireguler sering terjadi pada hipotermi, kelelahan dan depresi SSP yang merupakan
tanda memburuknya keadaan klinik.
2) Mekanika usaha pernafasan
Meningkatnya usaha nafas ditandai dengan respirasi cuping hidung, retraksi dinding
dada, yang sering dijumpai pada obtruksi jalan nafas dan penyakit alveolar. Anggukan
kepala ke atas, merintih, stridor dan ekspansi memanjang menandakan terjadi gangguan
mekanik usaha pernafasan.
3) Warna kulit/membran mukosa
Pada keadaan perfusi dan hipoksemia, warna kulit tubuh terlihat berbercak (mottled),
tangan dan kaki terlihat kelabu, pucat dan teraba dingin.
Penilaian fungsi kardiovaskuler meliputi:
1) Frekuensi jantung dan tekanan darah
Adanya sinus tachikardi merupakan respon umum adanya stress, ansietas, nyeri,
demam, hiperkapnia, dan atau kelainan fungsi jantung.
2) Kualitas nadi
Pemeriksaan kualitas nadi sangat penting untuk mengetahui volume dan aliran sirkulasi
perifer nadi yang tidak adekwat dan tidak teraba pada satu sisi menandakan
berkurangnya aliran darah atau tersumbatnya aliran darah pada daerah tersebut. Perfusi
kulit kulit yang memburuk dapat dilihat dengan adanya bercak, pucat dan sianosis.
Pemeriksaan pada pengisian kapiler dapat dilakukan dengan cara:
(1) Nail Bed Pressure ( tekan pada kuku)
(2) Blancing Skin Test, caranya yaitu dengan meninggikan sedikit ekstremitas
dibandingkan jantung kemudian tekan telapak tangan atau kaki tersebut selama 5
detik, biasanya tampak kepucatan. Selanjutnya tekanan dilepaskan pucat akan
menghilang 2-3 detik.
3) Perfusi pada otak dan respirasi
Gangguan fungsi serebral awalnya adalah gaduh gelisah diselingi agitasi dan letargi.
Pada iskemia otak mendadak selain terjadi penurunan kesadaran juga terjadi kelemahan
otot, kejang dan dilatasi pupil.

Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik meliputi pemeriksaan darah, urine, dan glukosa darah ( untuk
mengetahui hipoglikemia ). Kalsim serum ( untuk menentukan hipokalsemia ), analisis gas
darah arteri dengan PaO2 kurang dari 50 mmHg dan PCO2 diatas 60 mmHg, peningkatan
kadar kalium darah, pemeriksaan sinar-X menunjukkan adanya atelektasis,
lesitin/spingomielin rasio 2 :1 mengindikasikan bahwa paru sudah matur, pemeriksaan
dekstrostik dan fosfatidigliserol meningkat pada usia kehamilan 33 minggu.

G. PENATALAKSANAAN

Menurut Suriadi dan Yuliani (2001) dan Surasmi,dkk (2003) tindakan untuk mengatasi
masalah kegawatan pernafasan meliputi :
1) Mempertahankan ventilasi dan oksigenasi adekwat.
2) Mempertahankan keseimbangan asam basa.
3) Mempertahankan suhu lingkungan netral.
4) Mempertahankan perfusi jaringan adekwat.
5) Mencegah hipotermia.
6) Mempertahankan cairan dan elektrolit adekwat.

Penatalaksanaan secara umum :


a. Pasang jalur infus intravena, sesuai dengan kondisi bayi, yang paling sering dan bila
bayi tidak dalam keadaan dehidrasi berikan infus dektrosa 5 %
Pantau selalu tanda vital
Jaga patensi jalan nafas
Berikan Oksigen (2-3 liter/menit dengan kateter nasal)
b. Jika bayi mengalami apneu
Lakukan tindakan resusitasi sesuai tahap yang diperlukan
Lakukan penilaian lanjut
c. Bila terjadi kejang potong kejang
d. Segera periksa kadar gula darah
e. Pemberian nutrisi adekuat
Setelah menajemen umum, segera dilakukan menajemen lanjut sesuai dengan
kemungkinan penyebab dan jenis atau derajat gangguan nafas. Menajemen spesifik
atau menajemen lanjut:
Gangguan nafas ringan
Beberapa bayi cukup bulan yang mengalami gangguan napas ringan pada waktu lahir
tanpa gejala-gejala lain disebut Transient Tacypnea of the Newborn (TTN). Terutama
terjadi setelah bedah sesar. Biasanya kondisi tersebut akan membaik dan sembuh
sendiri tanpa pengobatan. Meskipun demikian, pada beberapa kasus. Gangguan napas
ringan merupakan tanda awal dari infeksi sistemik.
Gangguan nafas sedang
Lakukan pemberian O2 2-3 liter/ menit dengan kateter nasal, bila masih sesak dapat
diberikan o2 4-5 liter/menit dengan sungkup
Bayi jangan diberi minukm
Jika ada tanda berikut, berikan antibiotika (ampisilin dan gentamisin) untuk terapi
kemungkinan besar sepsis.
- Suhu aksiler <> 39C
- Air ketuban bercampur mekonium
- Riwayat infeksi intrauterin, demam curiga infeksi berat atau ketuban pecah dini (>
18 jam)
Bila suhu aksiler 34- 36,5 C atau 37,5-39C tangani untuk masalah suhu abnormal
dan nilai ulang setelah 2 jam:
- Bila suhu masih belum stabil atau gangguan nafas belum ada perbaikan, berikan
antibiotika untuk terapi kemungkinan besar seposis
- Jika suhu normal, teruskan amati bayi. Apabila suhu kembali abnormal ulangi
tahapan tersebut diatas.
Bila tidak ada tanda-tanda kearah sepsis, nilai kembali bayi setelah 2 jam
Apabila bayi tidak menunjukan perbaikan atau tanda-tanda perburukan setelah 2 jam,
terapi untuk kemungkinan besar sepsis
Bila bayi mulai menunjukan tanda-tanda perbaikan kurangai terapi o2secara bertahap
. Pasang pipa lambung, berikan ASI peras setiap 2 jam. Jika tidak dapat menyusu,
berikan ASI peras dengan memakai salah satu cara pemberian minum
Amati bayi selama 24 jam setelah pemberian antibiotik dihentikan. Bila bayi kembali
tampak kemerahan tanpa pemberian O2 selama 3 hari, minumbaik dan tak ada
alasan bayi tatap tinggal di Rumah Sakit bayi dapat dipulangkan
Gangguan nafas berat
Amati pernafasan bayi setiap 2 jam selama 6 jam berikutnya.
Bila dalam pengamatan ganguan nafas memburuk atau timbul gejala sepsis lainnya.
Terapi untuk kemungkinan kesar sepsis dan tangani gangguan nafas sedang dan dan
segera dirujuk di rumah sakit rujukan.
Berikan ASI bila bayi mampu mengisap. Bila tidak berikan ASI peras dengan
menggunakan salah satu cara alternatif pemberian minuman.
Kurangi pemberian O2 secara bertahap bila ada perbaikan gangguan napas. Hentikan
pemberian O2 jika frekuensi napas antara 30-60 kali/menit.
Penatalaksanaan medis:
Pengobatan yang biasa diberikan selama fase akut penyakit RDS adalah:
- Antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder
- Furosemid untuk memfasilitasi reduksi cairan ginjal dan menurunkan caiaran paru
- Fenobarbital
- Vitamin E menurunkan produksi radikalbebas oksigen
- Metilksantin ( teofilin dan kafein ) untuk mengobati apnea dan untuk pemberhentian
dari pemakaian ventilasi mekanik. (cusson,1992)
Salah satu pengobatan terbaru dan telah diterima penggunaan dalam pengobatan RDS
adalah pemberian surfaktan eksogen ( derifat dari sumber alami misalnya manusia,
didapat dari cairan amnion atau paru sapi, tetapi bisa juga berbentuk surfaktan buatan )

H. TINDAKAN PENCEGAHAN

Tindakan pencegahan yang harus dilakukan untuk mencegah komplikasi pada bayi
resiko tinggi adalah mencegah terjadinya kelahiran prematur, mencegah tindakan seksio
sesarea yang tidak sesuai dengan indikasi medis, melaksanakan manajemen yang tepat
terhadap kehamilan dan kelahiran bayi resiko tinggi, dan pada penatalaksanaan kelahiran
dengan usia kehamilan 32 minggu atau kurang dianjurkan memberi dexametason atau
betametason 48-72 jam sebelum persalinan. Pemberian glukortikoid juga dianjurkan
karana berfungsi meningkatkan perkembangan paru janin.
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
a. identitas pasien dan penanggung jawab
b. Riwayat kesehatan

riwayat kesehatan sekarang

riwayat kesehatan dahulu

riwayat kesehatan keluarga

c. identifikasi faktor resiko

Riwayat maternal

Menderita penyakit seperti diabetes mellitus

Kondisi seperti perdarahan placenta

Tipe dan lamanya persalinan

Stress fetal atau intrapartus

Status infant saat lahir

Prematur, umur kehamilan

Apgar score, apakah terjadi aspiksia

Bayi prematur yang lahir melalui operasi caesar

d. kaji sistem pernafasantanda dan gejala RDS

Takipnea (pernafasan lebih dari 60 x per menit, mungkin 80 100 x )

Nafas grunting

Nasal flaring

Retraksi intercostal, suprasternal, atau substerna

Cyanosis (sentral kemudian diikuti


sirkumoral) berhubungan dengan persentase desaturasi hemoglobin

Penurunan suara nafas, crakles, episode apnea

e. kaji sistem kardiovaskular

Bradikardi (dibawah 100 x per menit) dengan hipoksemia berat


Murmur sistolik

Denyut jantung dalam batas normal

f. kaji sistem integumen

Pallor yang disebabkan oleh $asokontriksi periferal

Pitting edema pada tangan dan kaki

mottling

Penurunan suhu tubuh

B. Diagnosa keperawatan
1. ketidak efektifan pola nafas
2. gangguan pertukaran gas
3. ketidak efektifan bersihan jalan nafas
4. resiko kekurangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
5. Resiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya imunitas, malnutrisie .

C. Intervensi keperawatan
D. implementasi
Implementasi merupakan tindakan yang dilakkan sesuai dengan renca n a asuhan keperawatan
yang telah disusun sebelumnya berdasarkan tindakan yang telah dibuat dimana
tindakan yang dilakukan mencakup tindakan mandiri dan kolaborasi (Tarwoto
dan Wartonah
E. Evaluasi
a) Bersihan jalan nafas efektif
b) Gangguan pertukaran gas teratasi
c) Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi
d) Tidak terjadi infeksi
e) Klien dan keluarga memiliki pengetahuan yang cuku
DAFTAR PUSTAKA
FKUI .1985. Ilmu Kesehatan Anak Jilid I. Jakarta: EGC
Ladewig,patricia,dkk.2006.Buku Saku Asuhan Keperawatan Ibu Bayi Baru Lahir Edisi
5.Jakarta: EGC
Manuaba, Ida Bagus Gde. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB untuk Pendidikan
Bidan. Jakarta: EGC
Mansjoer, A dkk. 2002. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : FKUI
Ngatisyah.2005.Perawatan Anak Sakit Edisi 2.Jakarta: EGC
Pelatihan PONED Komponen Neonatal 28-30 Oktober 2004)
Surasmi,Asrining,dkk.2003.Perawatan Bayi Resiko Tinggi.Jakarta: EGC
http://askep-askeb-kita.blogspot.com/

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
Kumpulan gejala yang terdiri dari dispnea atau hiperpnea dengan frekuensi pernafasan besar
60 x/i, sianosis, merintih waktu ekspirasi dan retraksi didaerah epigastrium, suprosternal,
interkostal pada saat inspirasi.
( Ngatisyah.2005 hal 23 )
Etiologinya:
Gangguan traktus respiratorius: Hyaline Membrane Disease(HMD), Transient Tachypnoe of
the Newborn(TTN), Infeksi(Pneumonia), Sindroma Aspirasi, Hipoplasia Paru, hip-ertensi
pulmonal, kelainan kongenital(Choanal Atresia, Hernia Diafragmatika, Pierre- robin
syndrome), Pleural Effusion, kelumpuhan saraf frenikus, dll
Luar traktus respiratoris: kelainan jantung kongenital, kelainan metabolik, darah dan SSP
Manifestasi klinisnya Takhipneu (> 60 kali/menit), Pernafasan dangkal, Mendengkur,
Sianosis, Pucat, Kelelahan, Apneu dan pernafasan tidak teratur, Penurunan suhu tubuh,
Retraksi suprasternal dan substernal, Pernafasan cuping hidung
Penatalaksanaan meliputi :
1) Mempertahankan ventilasi dan oksigenasi adekwat.
2) Mempertahankan keseimbangan asam basa.
3) Mempertahankan suhu lingkungan netral.
4) Mempertahankan perfusi jaringan adekwat.
5) Mencegah hipotermia.
6) Mempertahankan cairan dan elektrolit adekwat.
B. SARAN
Saran yang dapat diberikan dari makalah ini adalah laksanakanlah penatalaksanaan yang
sebaik-baiknya pada neonatus dengan sindroma gawat nafas ini, sehingga pada akhirnya akan
dapat menurunkan angka kematian neonatus
- Bagi Mahasiswa
Dalam penetapan manajemen kebidanan diharapkan mahasiswa dapat melakukan pengkajian
yang lebih lengkap untuk mendapatkan hasil yang optimal dan mampu memberikan asuhan
yang kompeten bagi pasien. Mahasiswa juga diharapkan dapat mengaplikasikan ilmu yang
diperolehnya selama proses pembelajaran di lapangan.
- Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan bimbingan yang seoptimal mungkin dari pendidik lapangan dalam membimbing
mahasiswa di lapangan dalam memberikan asuhan kebidanan dan keperawatan bagi pasien
sehingga mahasiswa dapat mengevaluasikan teori dan praktek yang telah diperolehnya.
- Bagi pasien dan keluarga
Diharapkan kepada klien agar menerapkan asuhan kebidanan yang telah diberikan baik berupa
tindakan pencegahan maupun dalam pelaksanaannya