Anda di halaman 1dari 48

LAPORAN KASUS INFEKSI

IDENTITAS PASIEN
Nama : Nn. Y
Umur : 20 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Bangsa/suku : Makassar
Agama : Islam
Pekerjaan : Mahasiswi
Alamat : Jalan Abdulla daeng sirua
Tanggal Pemeriksaan : 27 Juli 2016

ANAMNESIS
Keluhan utama : Batuk
Anamnesis Terpimpin : Dialami sejak 4 hari yang lalu, hilang timbul
disertai lendir warna putih, darah (-), pasien juga mengeluh disertai beringus.
Demam sejak 2 hari yang lalu, tidak terus menerus, tidak disertai menggigil.
Sebelumnya pasien juga sering mengeluh batuk dan demam, terakhir kira-kira 1
bulan yang lalu namun sembuh setelah berobat. Saat ini, pasien tidak sesak dan
tidak demam. Namun ada riwayat demam 3 hari yang lalu. Kadang-kadang pasien
mengeluh sakit kepala. Mual, muntah tidak ada. Nafsu makan berkurang. BAB
biasa, BAK lancar.
Riw. Penyakit Sebelumnya :
Riwayat ISPA (+) kurang lebih 1 bulan lalu
Riwayat asma (-)
Riwayat demam berdarah (-)
Riwayat Penyakit Keluarga :
Riwayat keluhan yang sama dalam keluarga (+) kakak pasien sejak 1 minggu
yang lalu
Riwayat batuk lama dalam keluarga (-)

1
PEMERIKSAAN FISIS
Tinggi Badan : 165 cm
Berat Badan : 55 kg

Tanda Vital :
Tekanan Darah : 110/80 mmHg
Nadi : 90 x/menit
Pernapasan : 20 x/menit
Suhu : 37,4 oC

Kepala
Anemis (-)
Sianosis (-)
Ikterus (-)
Injektio konjungtiva (-)

Mulut
Lidah kotor (-)
Tonsil T1-T1, hiperemis (-)
Faring granula hipertrofi (-)

Leher
Massa Tumor (-)
Nyeri Tekan (-)
Pembesaran kelenjar (-)
Desakan vena sentralis : R-2cm H2O

2
Thorax
Inspeksi : Simetris Kiri = Kanan
Palpasi : Massa tumor (-), Nyeri Tekan (-),
Perkusi : sonor
Auskultasi : Bunyi pernapasan : Vesikuler
Bunyi Tambahan : Rh : -/-, Wh : -/-

Jantung
Inspeksi : Ictus kordis tidak tampak
Palpasi : Ictus kordis tidak teraba
Perkusi : Batas jantung kesan normal
Auskultasi : Bunyi jantung I/II murni reguler
Bising (-)
Abdomen
Inspeksi : Datar , ikut gerak napas,
Palpasi : Massa tumor (-), Nyeri tekan (-)
Perkusi : Timpani
Auskultasi : Peristaltik (+), kesan normal

Ekstremitas
Edema (-), peteki (-) Rumple leede (-)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan

DIAGNOSIS
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)

3
PENATALAKSANAAN
Pengobatan farmakologi yang diberikan adalah:
- Cefadroxil 2 x 1 tab
- Ambroxol syr 3x1
- Paracetamol tab 3x1
- Neurodex 1x1
Pengobatan non farmakologi yang dianjurkan kepada pasien antara lain :
Istirahat teratur.
Makan makanan yang bersih, sehat, dan bergizi.
Kontrol kesehatan secara teratur.

Penegakan diagnosis pada pasien ini berdasarkan anamnesis secara


holistik yaitu, aspek personal, aspek klinik, aspek risiko internal, dan aspek risiko
eksternal serta pemeriksaan penunjang dengan melakukan pendekatan
menyeluruh dan pendekatan diagnostik holistik.

Anamnesa Pendekatan Diagnostik Holistik


1. Aspek Personal
Pasien datang ke Rs Ibnu Sina dengan keluhan batuk sejak 4 hari yang
lalu. Harapan setelah berobat adalah agar pasien dapat sembuh.
2. Aspek Klinik
- Batuk dialami sejak 4 hari yang lalu, hilang timbul disertai lendir warna
putih, darah(-), pasien juga beringus sejak mulai demam.
- Demam ada sejak 2 hari yang lalu, tidak terus menerus, tidak disertai
menggigil
- ada riwayat demam 3 hari yang lalu. Kadang-kadang pasien mengeluh
sakit kepala. Mual, muntah tidak ada. Nafsu makan berkurang. BAB biasa,
BAK lancar.
3. Aspek Faktor Resiko Internal
Anggota keluarga yang lain mengalami penyakit yang serupa

4
4. Aspek Faktor Resiko Eksternal
Kondisi rumah yang kurang ventilasi dan pencahayaan..
5 Aspek Psikososial Keluarga
Pasien memiliki hubungan yang baik, rukun dan harmonis dengan anggota
keluarga lainnya.
6 Aspek Fungsional
Konsentrasi belajar pasien menurun akibat keluhan ini

Diagnosis Holistik (Bio-Psiko-Sosial)


Diagnose Klinis: Infeksi Saluran Pernapasan Akut

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan secara kedokteran keluarga pada pasien ini meliputi
pencegahan primer, pencegahan sekunder (terapi untuk pasien dan keluarga
pasien).
Pencegahan Primer
Pencegahan primer diperlukan agar orang sehat tidak terinfeksi penyakit
ISPA antara lain:
Istirahat teratur.
Makan makanan yang bersih, sehat, dan bergizi.
Kontrol kesehatan secara teratur.
Pencegahan Sekunder
- Cefadroxil 2 x 1 tab
- Ambroxol syr 3x1
- Paracetamol tab 3x1
- Neurodex 1x1

5
Terapi untuk keluarga
Terapi untuk keluarga hanya berupa terapi non farmakologi terutama yang
berkaitan dengan emosi, psikis dan proses pengobatan pasien. Dimana anggota
keluarga diberikan pemahaman agar bisa memberikan dukungan dan motivasi
kepada pasien untuk berobat secara teratur dan membantu memantau terapi
pasien serta pentingnya menjaga hygiene baik dari orang tua maupun pasien.

HASIL KUNJUNGAN RUMAH

Kunjungan rumah dilaksanakan untuk melihat keadaan lingkungan sekitar


pasien dan hubungan antara lingkungan dengan penyakit yang diderita. Dengan
demikian pasien dan keluarga dapat memahami bagaimana pengaruh lingkungan
terhadap suatu penyakit dan sebaliknya bagaimana suatu penyakit dapat
mempengaruhi lingkungan.
1) Profil Keluarga :
Pasien tersebut adalah seorang yang tinggal bersama kakak (N/24 thn) .
2) Status Sosial dan Kesejahteraan Keluarga
Pekerjaan sehari-hari pasien adalah seorang mahasiswa. Pasien ini tinggal
di rumah sewa yang terletak di Jalan Abdulla daeng Sirua. Rumah pasien dalam
kondisi baik, tertata rapi serta terawat. Rumah terdiri dari 2 kamar,1 kamar mandi,
dan dapur. Ventilasi di rumah baik, sirkulasi udara baik. Peralatan rumah tangga
lengkap, dan terdapat sebuah sebuah motor.
1. Pola Konsumsi Makanan Keluarga
Pola konsumsi keluarga tersebut cukup baik sesuai dengan kebutuhan asupan
gizi. Akan tetapi, makanan seharian lebih banyak mengandung lemak.
2. Psikologi Dalam Hubungan Antar Anggota Keluarga
Pasien memiliki hubungan yang baik dengan sesama anggota keluarga yang
lainnya, baik yang tinggal didalam rumah maupun yang tidak. Kebiasaan
Pasien jarang berolahraga secara teratur

6
Lingkungan
Lingkungan pemukiman keluarga bersih dan tertata dengan baik. Sampah
tersimpan pada tempatnya, demikian juga dengan tata letak peralatan dan
perlengkapan rumah. Hubungan dengan masyarakat di lingkungan tempat
tinggal baik.

3) Riwayat Penyakit Keluarga


kakak pasien juga menderita keluhan yang sama 1 minggu sebelumnya
dan mendapat pengobatan berupa amoxicilin, cefadroxil, paracetamol dan
neurodex.
4) Pola Konsumsi Makanan Keluarga
Pola konsumsi keluarga tersebut cukup baik sesuai dengan apa yang
dibutuhkan, yaitu dengan mengkonsumsi makanan bergizi seperti nasi, telur, ikan,
tahu, tempe dan sayur kadang-kadang.
5) Psikologi Dalam Hubungan Antar Anggota Keluarga
Pasien memiliki hubungan yang baik, rukun dan harmonis dengan anggota
keluarga lainnya.
6) Lingkungan
Lingkungan rumah kurang bersih dan tertata kurang baik. Sampah
tersimpan pada tempatnya demikian juga dengan tata letak peralatan dan
perlengkapan rumah.

7
Gambar 1. Lokasi kamar tidur

Gambar 2. Lokasi dapur

Gambar 3. Keadaan kamar mandi

8
Keadaan Pasien
Pasien sudah tidak demam tetapi kadang-kadang masih batuk. Nyeri
menelan sudah tidak ada begitu juga suara dirasakan sudah tidak serak. Pasien
minum obat secara teratur dan merasa kondisinya sudah membaik.

Tanda Vital :
Tekanan Darah : 110/80 mmHg
Nadi : 82 x/menit
Pernapasan : 20 x/menit
Suhu : 36,7 oC
Kepala : anemis (-), sianosis (-), ikterus (-)
Thorax : vesikuler, Rh -/-, Wh -/-
Cor : SI/II reguler, murni
Abdomen : Peristaltik (+) kesan normal
Ekstremitas : tak ada kelainan

Penatalaksanaan nonfarmakologis yang diberikan berupa saran untuk :


1) Makan secara teratur dan mengonsumsi makanan yang mengandung serat
tinggi serta vitamin, terutama vitamin C yang dapat meningkatkan daya
tahan tubuh.
2) Menjaga kebersihan rumah.
3) Mengontrol kesehatan secara teratur.

9
DISKUSI

Dialami sejak 3 hari yang lalu, hilang timbul disertai lendir warna putih,
darah(-), pasien juga beringus sejak mulai demam. Demam ada sejak 2 hari yang
lalu, tidak terus menerus, tidak disertai menggigil. Sebelumnya pasien juga sering
mengeluh batuk dan demam, terakhir kira-kira 1 bulan yang lalu namun sembuh
setelah berobat. Saat ini, pasien tidak sesak dan tidak demam. Namun ada riwayat
demam 3 hari yang lalu. Kadang-kadang pasien mengeluh sakit kepala. Mual,
muntah tidak ada. Nafsu makan berkurang. BAB biasa, BAK lancar. Dari
anamnesis dan pemeriksaan fisis yang dilakukan maka pasien didiagnosa infeksi
saluran penafasan akut.
Obat yang diminum oleh pasien adalah ambroxol, cefadroxyl. Cefadroxyl
dimaksudkan untuk membunuh bakteri yang kemungkinan menyebabkan infeksi.
Paracetamol disini dimaksudkan untuk mengatasi demam yang dirasakan dan juga
untuk mengurangi nyeri tenggorokannya yang terutama dirasakan bila menelan.

10
Ambroxol adalah obat batuk yang befungsi sebagai antitusif expektoran yang
berhungsi mengencerkan dahak, sehingga secara teoritis dapat mengurangi gejala
batuk yang dirasakan oleh pasien.
Pasien tinggal di rumah bersama kedua orangtuanya dan kedua adiknya.
Hubungan psikologi pasien dengan anggota keluarga lainnya baik, rukun dan
harmonis. Lingkungan rumah kurang bersih dan kurang tertata dengan baik.
Sampah tersimpan pada tempatnya tetapi tata letak peralatan dan perlengkapan
rumah masih kurang baik.
Setelah melakukan kunjungan rumah dan dilakukan anamnesis serta
pemeriksaan fisis untuk kedua kalinya, didapatkan keluhan pasien sudah
berkurang. Pasien dalam kondisi baik. Demam dan batuk sudah tidak ada. Pasien
sudah nyaman untuk melaksanakan aktivitas sehari-hari.

INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT

A. DEFINISI
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit saluran
pernapasan atas atau bawah, biasanya menular, yang dapat menimbulkan berbagai
spektrum penyakit yang berkisar dari penyakit tanpa gejala atau infeksi ringan
sampai penyakit yang parah dan mematikan, tergantung pada patogen
penyebabnya, faktor lingkungan, dan faktor pejamu.1

B. INSIDEN
ISPA adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas penyakit menular
di dunia. Hampir empat juta orang meninggal akibat ISPA setiap tahun, 98%-nya
disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan bawah. Tingkat mortalitas sangat
tinggi pada bayi, anak-anak, dan orang lanjut usia, terutama di negara-negara
dengan pendapatan per kapita rendah dan menengah. Begitu pula, ISPA

11
merupakan salah satu penyebab utama konsultasi atau rawat inap di fasilitas
pelayanan kesehatan terutama pada bagian perawatan anak.1
Populasi yang memiliki risiko tertinggi kematian akibat penyakit
pernapasan adalah pada usia muda dan usia lanjut, serta orang dengan penurunan
kekebalan tubuh. Sementara infeksi saluran pernapasan atas sering terjadi namun
tidak berbahaya, infeksi saluran pernapasan bawah lebih sering menyebabkan
kematian.
Insiden dari infeksi saluran pernapasan akut pada anak-anak di bawah 5
tahun diperkirakan 29 % dan 5 % kejadian pada anak-anak di negara berkembang
dan industry. Kebanyakan kasus terjadi di India (43 juta kasus), Cina (21 juta
kasus), Pakistan (10 juta kasus), Bangladesh, Indonesia dan Nigeria (masing-
masing 56 kasus). 21 % dari seluruh kematian pada anak-anak di bawah lima
tahun disebabkan oleh pneumonia, yang diperkirakan dari setiap 1000 kelahiran
hidup, 12-20 akan meninggal sebelum umur lima tahun.2
Menurut Departemen kesehartan Republik Indonesia pada akhit tahun
2000, diperkirakan kematian akibat pneumonia sebagai penyebab utama infeksi
saluran pernapasan akut di Indonesia mencapoai 6 kasus di antara 1000 bayi dan
balita.

C. ETIOLOGI
Bakteri adalah penyebab utama infeksi saluran pernapasan bawah, dan
Streptococcus pneumoniae di banyak negara merupakan penyebab paling umum
pneumonia yang didapat dari luar rumah sakit yang disebabkan oleh bakteri.
laporan 5 tahun terakhir dari beberapa pusat paru di Indonesia (Medan, Jakarta,
Surabaya, Malang, Makasar) didapatkan hasil pemeriksaan sputum sebagai
berikut Klebsiella pneumoniae 45,18 % , Streptococcus pneumoniae 14,04
%, Streptococcus viridans 9,21 %, Staphylococcus aureus 9 %, Pseudomonas
aeruginosa 8,56 %, Streptococcus haemoliticus 7.89 %, Enterobacter 5,26 %,
dan Pseudomonas spp 0,9 %. Laporan 5 tahun terakhir dari beberapa pusat paru di
Indonesia (Medan, Jakarta, Surabaya, Malang, Makasar) didapatkan hasil
pemeriksaan sputum sebagai berikut Klebsiella pneumoniae 45,18 %,

12
Streptococcus pneumoniae 14,04 %, Streptococcus viridans 9,21 %,
Staphylococcus aureus 9 %, Pseudomonas aeruginosa 8,56 %, Streptococcus
haemoliticus 7.89 %, Enterobacter 5,26 %, dan Pseudomonas spp 0,9 % . Namun
demikian, patogen yang paling sering menyebabkan ISPA adalah virus, atau
infeksi gabungan virus-bakteri. Respiratory Synctial Virus (RSV) merupakan
penyebab penyakit yang serius pada anak-anak. Selain pada anak-anak, RSV juga
memiliki peranan penting penyebab penyakit pada orang tua dan orang dewasa.
Hampir semua infeksi RSV simptomatik dan cenderung menyebabkan morbiditas
dan mortalitas serta penggunaan pelayanan kesehatan. 2,

D. FAKTOR RESIKO
Terjadinya ISPA tertentu bervariasi menurut beberapa faktor. Penyebaran dan
dampak penyakit berkaitan dengan:
a) kondisi lingkungan (misalnya, polutan udara, kepadatan anggota
keluarga), kelembaban, kebersihan, musim, temperatur);
b) ketersediaan dan efektivitas pelayanan kesehatan dan langkah pencegahan
infeksi untuk mencegah penyebaran (misalnya, vaksin, akses terhadap
fasilitas pelayanan kesehatan, kapasitas ruang isolasi);
c) faktor pejamu, seperti usia, kebiasaan merokok, kemampuan pejamu
menularkan infeksi,
status kekebalan, status gizi, infeksi sebelumnya atau infeksi serentak yang
disebabkan oleh
d) patogen lain, kondisi kesehatan umum; dan karakteristik patogen, seperti
cara penularan, daya tular, faktor virulensi (misalnya, gen penyandi
toksin), dan jumlah atau dosis mikroba (ukuran inokulum).1

13
Faktor pejamu yang spesifik juga mempengaruhi risiko infeksi dengan
mikroba spesifik. Misalnya perokok dan penderita PPOK lebih memiliki risiko
tinggi terinfeksi oleh S.pneumoniae, H.influenzae, Moraxella catarrhalis, dan
Legionella.5

E. KLASIFIKASI ISPA
Program Pemberantasan ISPA (P2 ISPA) mengklasifikasi ISPA sebagai berikut: 3
a) Pneumonia berat: ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada
kedalam (chest indrawing).
b) Pneumonia, terbagi dua yaitu community acquired pneumonia (pneumonia
komunitas) dan hospital acquired pneumonia (pneumonia nosokomial)
c) Bukan pneumonia: ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai
demam, tanpa tarikan dinding dada kedalam. Rinofaringitis, faringitis dan
tonsilitis tergolong bukan pneumonia.6

F. GEJALA KLINIK
Gejalanya meliputi demam, batuk, dan sering juga nyeri tenggorok, coryza
(pilek), sesak napas, mengi, atau kesulitan bernapas. Infeksi saluran pernapasan
akut dapat terjadi dengan berbagai gejala klinis. Gejala klinik yang membedakan
apakah penyebab dari ISPA adalah virus atau bakteri sulit dibedakan.4

G. PENGOBATAN
a) Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik parenteral,
oksigen dan sebagainya.
b) Pneumonia: diberi obat sesuai dengan organisme penyebab.
c) Bukan pneumonia: tanpa pemberian obat antibiotik, terapinya berupa terapi
simptomatik. Diberikan perawatan di rumah, untuk batuk dapat digunakan
obat batuk yang tidak mengandung zat yang merugikan seperti kodein,
dekstrometorfan dan, antihistamin. Bila demam diberikan obat penurun
panas yaitu parasetamol. Uji klinik dari manfaat Zinc, Vitamin C, dan terapi
alternatif lain tidak mempunyai manfaat yang konsisten untuk terapi.4

14
1 Pemberian antibiotik yang tidak sesuai untuk infeksi saluran pernapasan
akut dapat menyebabkan peningkatan prevalensi dari resistensi antibiotic. Lebih
dari setengah dari seluruh pemberian resep antibiotic untuk ISPA tidak perlu
karena infeksi ini lebih sering disebabkan oleh virus dan tidak memerlukan
antibiotik. Mengetahui apakah ISPA yang terjadi ini karena infeksi bakteri atau
virus sangatlah penting untuk menentukan jenis pengobatan yang akan diberikan
nantinya.8
Sebelum hasil kultur keluar, maka antibiotik yang dapat diberikan adalah
antibiotic spektrum luas, yang kemudian sesuai hasil kultur diubah menjadi kltur
sempit. Lama pemberian terapi ditentukan berdasarkan adanya penyakit penyerta
dan/atau bakteriemi, beratnya penyakit pada onset terapi dan perjalanan penyakit
pasien. Umumnya terapi diberikan selama 7-10 hari. Ketentuan untuk
memberikan makrolid pada pasien pneumonia komunitas berat di daerah Asia
perlu penelitian lebih lanjut. Penelitian di Malaysia terhadap pasien pneumonia
komuniatas yang diberikan makrolod dan tidak diberika makrolid tidak didapta
perbedaan manfaat yang bermakna.Hal ini berkaitan dengan perbedaan jenis dan
kepekaan patogen penyebab pneumonia komunitas.

H. PENCEGAHAN
Landasan pencegahan dan pengendalian infeksi untuk perawatan pasien
ISPA meliputi pengenalan pasien secara dini dan cepat, pelaksanaan tindakan
pengendalian infeksi rutin untuk semua pasien, tindakan pencegahan tambahan
pada pasien tertentu (misalnya, berdasarkan diagnosis presumtif), dan
pembangunan prasarana pencegahan dan pengendalian infeksi bagi fasilitas
pelayanan kesehatan untuk mendukung kegiatan pencegahan dan pengendalian
infeksi.
Strategi pencegahan dan pengendalian infeksi di fasilitas pelayanan kesehatan
umumnya didasarkan pada jenis pengendalian berikut ini:6
1) Reduksi dan Eliminasi
Pasien yang terinfeksi merupakan sumber utama patogen di fasilitas
pelayanan kesehatan dan penyebaran agen infeksius dari sumbernya harus
dikurangi/dihilangkan. Contoh pengurangan dan penghilangan adalah promosi

15
kebersihan pernapasan dan etika batuk dan tindakan pengobatan agar pasien tidak
infeksius.
2) Pengendalian administratif
Pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan harus menjamin sumber daya yang
diperlukan untuk pelaksanaan langkah pengendalian infeksi. Ini meliputi
pembangunan prasarana dan kegiatan pencegahan dan pengendalian infeksi yang
berkelanjutan, kebijakan yang jelas mengenai pengenalan dini ISPA yang dapat
menimbulkan kekhawatiran, pelaksanaan langkah pengendalian infeksi yang
sesuai , persediaan yang teratur dan pengorganisasian pelayanan (misalnya,
pembuatan sistem klasifikasi dan penempatan pasien). Pimpinan fasilitas
pelayanan kesehatan juga harus melakukan perencanaan staf untuk
mempromosikan rasio pasien-staf yang memadai, memberikan pelatihan staf, dan
mengadakan program kesehatan staf (misalnya, vaksinasi, profilaksis) untuk
meningkatkan kesehatan umum petugas kesehatan.

3) Pengendalian lingkungan dan teknis


Pengendalian ini mencakup metode untuk mengurangi konsentrasi aerosol
pernapasan infeksius (misalnya, droplet nuklei) di udara dan mengurangi
keberadaan permukaan dan benda yang terkontaminasi sesuai dengan
epidemiologi infeksi. Contoh pengendalian teknis primer untuk aerosol
pernapasan infeksius adalah ventilasi lingkungan yang memadai ( 12 ACH) dan
pemisahan tempat (>1m) antar pasien. Untuk agen infeksius yang menular lewat
kontak, pembersihan dan disinfeksi permukaan dan benda yang terkontaminasi
merupakan metode pengendalian lingkungan yang penting.

4) Alat Pelindung Diri (APD)


Semua strategi di atas mengurangi tapi tidak menghilangkan kemungkinan
pajanan terhadap risiko biologis. Karena itu, untuk lebih mengurangi risiko ini
bagi petugas kesehatan dan orang lain yang berinteraksi dengan pasien di fasilitas
pelayanan kesehatan, APD harus digunakan bersama dengan strategi di atas dalam
situasi tertentu yang menimbulkan risiko penularan patogen yang lebih besar.

16
Penggunaan APD harus didefinisikan dengan kebijakan dan prosedur yang secara
khusus ditujukan untuk pencegahan dan pengendalian infeksi (misalnya,
kewaspadaan isolasi). Efektivitas APD tergantung pada persediaan yang memadai
dan teratur, pelatihan staf yang memadai, membersihkan tangan secara benar, dan
yang lebih penting, perilaku manusianya.
Semua jenis pengendalian di atas sangat saling berkaitan. Semua jenis
pengendalian tersebut harus diselaraskan untuk menciptakan budaya keselamatan
kerja institusi, yang menjadi landasan bagi perilaku yang aman.

LAPORAN KASUS NON INFEKSI

IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. M
Umur : 50 Tahun
J. Kelamin : Perempuan
Suku : Bugis
Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Jl. Pampang
Tgl Periksa : 28 Juli 2016

ANAMNESIS
Keluhan utama : Nyeri pada pergelangan kaki kiri
Anamnesis Terpimpin :
Dialami sejak 1 bulan yang lalu saat bangun tidur pagi hari sehingga tidak
dapat berjalan, nyeri hilang timbul, dan memberat sejak 2 hari terakhir. Nyeri

17
dirasakan seperti ditusuk-tusuk,nyeri berkurangdengan minum obat dari
dokter (dextral, phenylbutazon. Bengkak (+) turun dengan istirahat,
kemerahan (-).Demam (-), batuk (-), sesak(-), mual-muntah (-), nyeri ulu
hati(-)
BAB : baik
BAK.: baik
Riwayat keluhan yang sama (+) dialami sejak 5 tahun yang lalu. Riwayat
mengkonsumsi obat-obatan seperti dextral, phenylbutazon, hufamag, arkafit.
Riw. Penyakit Sebelumnya:
Riwayat Hipertensi (-)
Riwayat DM (-)
Riwayat kolesterol (-)
Riwayat penyakit ginjal (-)

Riwayat Penyakit Keluarga :


Riwayat keluhan yang sama dalam keluarga (+): tante dari ibu
Riwayat hipertensi (-)
Riwayat hiperkolesterol/ Hiperlipidemia (-)
Riwayat diabetes melitus (-)
Riwayat penyakit jantung (-)
Riwayat penyakit ginjal (-)

PEMERIKSAAN FISIS
Status Present :
Tinggi badan : 155 cm
Berat badan : 75 kg
Tanda Vital :
Tekanan darah : 130/70 mmHg
Nadi : 88 x/menit
Pernapasan : 24 x/menit
Suhu : 36,6oC

18
Kepala : Anemis (-), Sianosis (-), Ikterus (-)
Leher : DVS tidak ada peninggian
Thoraks : Vesikuler, Rh(-), Wh(-)
Cor : Suara jantung I dan II murni, reguler
Abdomen : Peristaltik (+) kesan normal
Ekstremitas : Nyeri pada pergelangan kaki kiri

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan

PENATALAKSANAAN
Pengobatan farmakologi yang diberikan adalah:
Natrium diklofenak 3x1
Meloxicam 5 mg 1x1
Pengobatan non farmakologi yang dianjurkan kepada pasien antara lain :
Istirahat teratur dan tidur yang cukup
Diet rendah purin
Menurunkan berat badan
Makan makanan yang bersih, sehat, dan bergizi.
Olahraga teratur

Penegakan diagnosis pada pasien ini berdasarkan anamnesis secara holistik


yaitu, aspek personal, aspek klinik, aspek risiko internal, dan aspek risiko
eksternal serta pemeriksaan penunjang dengan melakukan pendekatan
menyeluruh dan pendekatan diagnostik holistik.

19
Anamnesa Pendekatan Diagnostik Holistik
1. Aspek Personal
Pasien datang ke RS Ibnu Sina dengan keluhan nyeri pada pergelangan
kaki kiri sejak 1 bulan yang lalu. Harapan setelah berobat adalah agar pasien dapat
sembuh.
2. Aspek Klinik
- Nyeri pada pergelangan kaki kiri dialami sejak 1 bulan yang lalu saat
bangun tidur pagi hari sehingga tidak dapat berjalan,
- nyeri hilang timbul, dan memberat sejak 2 hari terakhir. Nyeri dirasakan
seperti ditusuk-tusuk
3. Aspek Faktor Resiko Internal
Anggota keluarga yang lain tidak mengalami penyakit yang serupa
4. Aspek Faktor Resiko Eksternal
Pekerjaan mempengaruhi kesehembuhan

5. Aspek Psikososial Keluarga


Pasien memiliki hubungan yang baik, rukun dan harmonis dengan anggota
keluarga lainnya.
6. Aspek Fungsional
Kualitas bekerja menurun karena pasien sering mengalami keluhan nyeri

Diagnosis Holistik (Bio-Psiko-Sosial)


Diagnose Klinis: Gout Rtritis

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan secara kedokteran keluarga pada pasien ini meliputi
pencegahan primer, pencegahan sekunder (terapi untuk pasien dan keluarga
pasien).

Pencegahan Primer
1) Istirahat teratur dan tidur yang cukup
2) Diet rendah purin

20
3) Menurunkan berat badan
4) Makan makanan yang bersih, sehat, dan bergizi.
5) Olahraga teratur

Pencegahan Sekunder
Pengobatan non farmakologi yang dianjurkan kepada pasien antara lain :
1) Istirahat teratur dan tidur yang cukup
2) Diet rendah purin
3) Menurunkan berat badan
4) Makan makanan yang bersih, sehat, dan bergizi.
5) Olahraga teratur

Profil keluarga
1. Profil Keluarga :
Ny. M adalah seorang istri dari Bapak S dan memiliki 5 orang anak
yaitu : anak pertama bernama A yang sekarang Kerja diperusahaan swasta ,
anak kedua R dan ketiga bernama U keduanya duduk di bangku SMA, anak
ke empat dan kelima duduk dibangku SMP.
2. Status Sosial dan Kesejahteraan Keluarga
Bapak A bekerja sebagai pegawai swasta Istrinya sebagai seorang
wiraswasta (pegawai kantin). Penghasilan sampai saat ini dirasa mencukupi
kebutuhan keluarganya, apalagi istrinya juga bekerja, sehingga dapat
membantu kebutuhan keluarga dan biaya sekolah anak-anaknya.
Rumah pasien luasnya 8 x10 m2 dan dihuni oleh 7 orang. Jumlah
kamar yang ada sebanyak 3 buah kamar tidur, 1 kamar digunakan oleh Tn dan
Ny. L, sedangkan kamar yanglainnya digunkan oleh anak anaknya . Rumah
pasien terdiri dari ruang tamu dan ruang keluarga yang jadi satu, ruang makan
dan dapur terpisah. WC terletak bersebelahan dengan dapur. Rumah tersebut
adalah bangunan permanen, pembangunannya sempurna, dinding rumah
bersih sudah dicat berwarna putih. Isi rumah tidak tertata rapi, namun cukup
bersih, memiliki ventilasi dan pencahayaan yang kurang baik. Sumber air

21
diperoleh dari sumur yang letaknya di depan rumah. Bapak A memiliki
sebuah sepeda motor yang digunakannya untuk transportasi ke tempat
kerjanya.
3. Riwayat Penyakit Keluarga
Berdasarkan wawancara dan kunjungan ke rumah Ny. M diketahui
bahwa orang tua (ibu dan bapak) pasien tidak memiliki riwayat keluhan yang
sama tetapi osi mengaku memiliki seorang tante dari ibu yang memiliki
keluhan yang sama dan sekarang sudah sembuh dengan berobat teratur.
4. Pola Konsumsi Makanan Keluarga
Pola konsumsi keluarga tersebut kurang baik karena keluarga Ny. M
tidak makan teratur dikarenakan Ny. M dan suaminya pulang ke rumah pada
sore hari. Meskipun pola makannya tidak teratur, tetapi makanan dimasak
oleh Ny. M sesuai selera yang diinginkan. Makanan sehari-hari keluarga
tersebut cukup bervariasi terdiri dari nasi, ikan, ayam, tahu, tempe, makanan
kaleng, mie instan, bakso dan sayur. Ny. M sendiri tiap hari makan siang
(bakso) di tempat kerjanya.
5. Psikologi Dalam Hubungan Antar Anggota Keluarga
Psikologi hubungan antar anggota keluarga secara umum baik.
Keluarga tersebut sudah terbentuk selama kurang lebih 15 tahun (Bapak A
dan Ibu L sudah menikah Sekitar 15 tahun). Ada kasih sayang, perhatian dan
tanggung jawab dan kepemimpinan kepala keluarga dan kebersamaan serta
keakraban sesama anggota keluarga. Suasana yang harmonis terjalin di dalam
keluarga ini.
6. Lingkungan
Lingkungan sekitar rumah keluarga sudah cukup baik karena
lingkungan perumahan ini sudah memiliki saluran pembuangan air, dan
pekarangan rumah kurang bersih. Meskipun demikian, Ibu M rajin
membersihkan rumahnya. Lantai rumah dibersihkan setiap hari. Sehingga
suasana di dalam rumah cukup bersih, tidak berdebu, walaupun barang-
barang di dalam rumah ada belum tertata rapi. Pembangunan rumah selesai
sepenuhnya. Sampah dibuang di tempat sampah dan kemudian di bakar.

22
Gambar.1 Ruang Tamu

Gambar.2 Kamar Tidur Gambar. 3 Ruang makan

23
Gambar.4 Dapur Gambar. 5 Kamar mandi

DISKUSI
Ny. M datang ke Poliklinik IBNU SINA dengan keluhan nyeri pada
pergelangan kaki kiri sejak 1 bulan yang lalu, saat bangun tidur pagi hari
sehingga osi tidak dapat berjalan, tidak terus menerus, dan memberat sejak 2 hari
terakhir. Nyeri dirasakan seperti ditusuk-tusuk, nyeri berkurang dengan minum
obat dari dokter (dextral, phenylbutazon, hufamag, arkafit). Bengkak (+) turun
dengan istirahat, kemerahan (-). Demam tidak ada, mual-muntah tidak ada.
Riwayat keluhan yang sama (+) dialami sejak 5 tahun yang lalu awalnya
mengenai sendi kecil pada tangan kemudian siku, lutut, ibu jari dan pergelangan
kaki. Riwayat mengkonsumsi obat-obatan seperti dextral, phenylbutazon,
hufamag, arkafit.
Dari gejala diatas, pasien di diagnosis dengan artritis gout yang
merupakan kelompok penyakit heterogen sebagai akibat deposisi kristal
monosodium urat pada jaringan atau akibat superasaturasi asam urat didalam
cairan ekstraselular dapat timbul sebagai artropati, nefropati, atau kelainan kulit.
Gout terjadi ketika kristal asam urat terakumulasi pada sendi dan menyebabkan
pembengkakan dan rasa sakit. Kristal asam urat terbentuk ketika seseorang
memiliki asam urat dalam darah dengan kadar yang tinggi (lebih dari 7,0 ml/dl).
Pengobatan yang diberikan pada pasien ini adalah Natrium diklofenak
yang dikonsumsi 3 kali sehari dan Meloxicam yang dikonsumsi 1 kali sehari,
pasien disarankan untuk mengkonsumsi obat dengan teratur. Pengobatan arthritis
gout bertujuan menghilangkan keluhan nyeri sendi dan peradangan dengan obat-

24
obat antara lain: kolkisin, OAINS, kortikosteroid, atau hormone ACTH. Pada
pasien ini diberikan OAINS (meloxicam dan natrium diklofenak) untuk
mengurangi rasa nyeri. Golongan NSAID yang dianggap memberikan efek klinis
menghambat sintesis prostaglandin yang memodulasi komponen-komponen
inflamasi. Natrium diklofenak diakumulasi di cairan sinovia yang menjelaskan
efek terapi di sendi jauh lebih panjang dari waktu paruh obat tersebut.

TINJAUAN PUSTAKA

ARTRITIS GOUT

A. DEFINISI
Artritis gout (pirai) merupakan kelompok penyakit heterogen sebagai
akibat deposisi Kristal monosodium urat pada jaringan atau akibat
superasaturasi asam urat didalam cairan ekstraselular dapat timbul sebagai
artropati, nefropati, atau kelainan kulit. Gangguan metabolism yang mendasari
gout adalah hiperurisemia yang didefinisikan sebagai peninggian kadar urat
lebih dari 7,0 ml/dl dan 6,0 mg/dl. (7,8)

B. EPIDEMIOLOGI

25
Gout merupakan penyakit dominan pada pria dewasa. Sebagaimana
dikatakan oleh Hippocrates bahwa gout jarang pada pria sebelum remaja
sedangkan pada perempuan jarang sebelum menopause. Prevalensi gout
bertambah dengan meningkatnya taraf hidup. Di Indonesia belum banyak
publikasi epidemiologi tentang arthritis pirai.(9)
C. ETIOLOGI
Gout terjadi ketika kristal asam urat terakumulasi pada sendi dan
menyebabkan pembengkakan dan rasa sakit yang parah saat gout menyerang.
Kristal asam urat terbentuk ketika seseorang memiliki asam urat dalam darah
dengan kadar yang tinggi.(10)
Normalnya, asam urat larut dalam darah dan mengalir melalui ginjal
dan menuju urin untuk dikeluarkan. Tapi terkadang tubuh menghasilkan
terlalu banyak asam urat atau ginjal mengeluarkan terlalu sedikit asam urat ini.
Ketika ini terjadi maka kristal asam urat akan terbentuk di sendi atau jaringan
sekitar yang menyebabkan rasa sakit dan bengkak

D. FAKTOR RESIKO
Beberapa faktor yang meningkatkan kadar asam urat di dalam tubuh antara lain:(11)
1) Konsumsi alkohol yang berlebihan dapat meningkatkan risiko gout.
2) Kondisi medis tertentu seperti tekanan darah tinggi atau diabetes dapat
meningkatkan peluang anda terkena gout.
3) Obat tertentu dapat meningkatkan kadar asam urat seperti aspirin atau
thiazide diuretics.
4) Faktor keturunan.
5) Lelaki berumur antara 40 dan 50 tahun lebih banyak terkena gout daripada
wanita. Tetapi setelah menopause wanita akan rentan terkena gout.

E. PATOGENESIS
Asam urat merupakan produk akhir metabolisme purin. Normalnya
90% dari hasil metabolit nukleotida adenine, guanine, dan hipoxantin akan
digunakan kembali intuk dibentuk kembali masing-masing menjadi AMP,

26
IMP, dan GMP oleh adenine fosforibosiltransferase (APRT) dan hipoksantin
guanine fosforibosiltransferase (HGPRT) dan sisanya akan diubah menjadi
xantin dan menjadi asam urat oleh xanin oksidase. Ekskresi asam urat di
ginjal adalah sekitar 10% dari jumlah yang difiltrasi, berarti konsentrasi
AU/garam asam urat di urin akhir adalah 10-20 Kali lebih tinggi daripada di
plasma. (8)
Sekitar 90% pasien dengan gout primer memiliki predisposisi genetik
karena ekskresi asam urat di ginjal dapat menyamai pembentukan asam urat
yang normal hanya bila konsentrasi asam urat di dalam plasma dan filtrasi
glomerulus meningkat (hiperurisemia asimptomatik). Jjika asupan purin
meningkat dan berlangsung lama Kristal natrium urat akan berulangkali
mengendap. Jika hiperurisemia disebabkan oleh kekurangan HGPRT parsial
sehingga perbandingan nukleotida yang digunakan kembali menurun, hal ini
menyebabkan asam urat akan lebih banyak dibentuk. (8)
Karena kelarutan urat yang rendah di cairan synovial dan pada suhu
yang rendah, serta karena jari lebih dingin daripada inti tubuh, Kristal urat
lebih sering dibentuk di ujung sendi kaki (mikrotofi).Konsentrasi asam urat
yang meningkat dalam urin menimbulkan pembentukan batu ginjal.10
Serangan gout terjadi jika Kristal urat secara tiba-tiba dilepaskan dari
mikrotofi, kemudian dikenali oleh sistem imun sebagai benda asing.
Selanjutnya terjadi inflamasi aseptik di sendi dan menarik neutrofil untuk
memfagosit Kristal urat. Jika diikuti dengan pemecahan neutrofil, Kristal urat
yang telah difagosit akan dilepasakn kembali sehingga mempertahankan
proses tersebut. Hal ini menyebabkan pembengkakan sendi yang sangat nyeri
dan berwarna merah gelap pada 70-90% serangan pertama yang mengenai
sendi bagian proksimal ibu jari.
Awitan (onset) serangan gout akut berhubungan dengan perubahan
kadar asam urat serum, meninggi atau menurun. Pada kadar asam urat serum
yang stabil, jarang mendapat serangan.(10)

F. MANIFESTASI KLINIK

27
Manifestasi klinik gout terdiri atas arthritis gout akut, interkritikal
gout, dan gout menahun dengan tofi.(7)
Stadium Artritis Gout Akut
Radang sendi pada stadium ini sangat akut dan timbul secara cepat dalm
waktu singkat. Gejala timbul saat bangun tidur pagi hari, terasa sakit yang
sangat hebat dan tidak dapat berjalan. Biasanya bersifat monoartikuler
dengan keluhan utama berupa nyeri, bengkak, terasa hangat, merah dengan
gejala sistemik berupa demam, menggigil dan merasa lelah. Lokasi yang
paling sering pada MTP-1 yang biasanya disebut podagra. Apabila proses
penyakit berlanjut, dapat terkena sendi lain yaitu pergelangan tangan/kaki,
lutut dan siku.
Faktor pencetus serangan akut antara lain berupa trauma lokal, diet tinggi
purin, kelelahan fisik, stress, tindakan operasi, pemakaian obat antidiuretik
atau penurunan dan peningkatan asam urat.
Stadium interkritikal
Stadium ini merupakan kelanjutan dari stadium akut dimana terjadi
periode interkritik asimptomatik. Walaupun secara klinik tidak didapatkan
tanda-tanda radang akut, namun pada aspirasi sendi ditemukan Kristal
urat.
Stadium Artritis Gout Menahun
Artritis gout menahun biasanya disertai tofi yang banyak dan terdapat
poliartikular. Tofi ini sering pecah dan sulit sembuh dengan obat, kadang-
kadang timbul infeksi sekunder. Lokasi tofi yag paling sering pada cuping
telinga, MTP-1, olekranon,tendon Achilles dan jari tangan. Pada stadium
ini kadang disertai batu saluran kemih sampai penyakit ginjal menahun.

G. DIAGNOSIS
Diagnosis arthritis gout dapat ditegakkan dengan:(9)
1) Aspirasi Cairan Sendi: Merupakan gold standar penegakkan diagnosis
arthritis gout.

28
2) Tes Darah: sampel darah diperiksa untuk melihat jumlah sel, kadar
asam urat, fungsi ginjal, dll.
3) Radiologi: Sinar-X terutama digunakan untuk menilai kerusakan
sendi yang mendasari,.

H. PENATALAKSANAAN
Secara umum penanganan arthritis gout adalah pemberian edukasi,
pengaturan diet, istirahat sendi dan pengobatan. Pengobatan dilakukan secara
dini agar tidak terjadi kerusakan sendi atau komplikasi lain. Pengobatan
arthritis gout akut bertujuan menghilangkan keluhan nyeri sendi dan
peradangan dengan obat-obat antar lain: kolkisin, OAINS, kortikosteroid, atau
hormone ACTH. Obat penurun asam urat seperti allupurinol atau obat
urikosurik tidak boleh diberikan pada stadium akut.(11)

I. PENCEGAHAN(11)
1) Makan rendah kolesterol, diet rendah lemak. Orang dengan gout memiliki
risiko lebih tinggi untuk penyakit jantung.
2) Hindari makanan tinggi purin (dalam biokimia dalam makanan yang
dimetabolisme menjadi asam urat), termasuk kerang dan daging merah.
3) Perlahan-lahan menurunkan berat badan. Hal ini dapat menurunkan kadar
asam urat Anda. Kehilangan berat badan terlalu cepat kadang-kadang
dapat memicu serangan gout.
4) Batasi asupan alkohol, terutama bir.
5) Tetap terhidrasi.
6) Tingkatkan asupan produk susu, seperti susu tanpa lemak dan yogurt,
karena mereka dapat mengurangi frekuensi serangan gout.
7) Hindari fruktosa, seperti dalam sirup jagung.
8) Bicarakan dengan dokter Anda jika Anda mengambil diuretik thiazide
(hidroklorotiazid, HCTZ), aspirin dosis rendah, levodopa (Larodopa),
siklosporin (Gengraf, Neoral, Sandimmune), atau asam nikotinat.

29
PROFIL KELUARGA SEHAT

I. IDENTITAS
Nama : Tn M
Umur : 52 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Bangsa/suku : Bugis
Agama : Islam
Pekerjaan : Pegawai Swasta
Alamat : jl. Pampang 2
Status dalam keluarga : suami

II. PEMERIKSAAN FISIS


Tinggi badan : 156 cm
Berat badan : 55 kg
Status Gizi menurut IMT : normal
Tekanan Darah : 150/90 mmHg
Nadi : 88 x/menit

30
Pernapasan : 24 x/menit
Suhu : 36,8oC
Kepala : anemia (-), sianosis (-), ikterus (-)
Leher : tidak ada kelainan
Thorax : vesikuler, Rh -/-, Wh -/-
Cor : SI/II reguler, murni
Abdomen : Peristaltik (+) kesan normal
Ekstremitas : tidak ada kelainan

III. ANGGOTA KELUARGA


1) Identitas
Nama : Ny. N
Umur : 49 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Bangsa/suku : Bugis
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Hubungan keluarga : istri

Pemeriksaan Fisis
Tinggi badan : 153 cm
Berat badan : 47 kg
Status Gizi menurut IMT : normal
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Nadi : 76 x/menit
Pernapasan : 20 x/menit
Suhu : 37oC

31
Kepala : anemia (-), sianosis (-), ikterus (-)
Leher : tidak ada kelainan
Thorax : vesikuler, Rh -/-, Wh -/-
Cor : SI/II reguler, murni
Abdomen : Peristaltik (+) kesan normal
Ekstremitas : tidak ada kelainan

2) Identitas
Nama :B
Umur : 21 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Bangsa/suku : Makassar
Agama : Islam
Pekerjaan : Mahasiswi
Hubungan keluarga : anak pertama

Pemeriksaan Fisis
Tinggi badan : 152 cm
Berat badan : 50 kg
Status Gizi menurut IMT : normal
Tekanan Darah : mmHg
Nadi : 80 x/menit
Pernapasan : 16 x/menit
Suhu : 36,6oC
Kepala : anemis (-), sianosis (-), ikterus (-)

32
Leher : tidak ada kelainan
Thorax : vesikuler, Rh -/-, Wh -/-
Cor : SI/II reguler, murni
Abdomen : Peristaltik (+) kesan normal
Ekstremitas : tidak ada kelainan

3) Identitas
Nama :S
Umur : 19 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Bangsa/suku : Makassar
Agama : Islam
Pekerjaan : Mahasiswi kebidanan UMI
Hubungan keluarga : anak kedua

Pemeriksaan Fisis
Tinggi badan : 152 cm
Berat badan : 44 kg
Status Gizi menurut IMT : normal
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Nadi : 84 x/menit
Pernapasan : 20 x/menit
Suhu : 37,2oC
Kepala : anemia (-), sianosis (-), ikterus (-)
Leher : tidak ada kelainan
Thorax : vesikuler, Rh -/-, Wh -/-
Cor : SI/II reguler, murni
Abdomen : Peristaltik (+) kesan normal
Ekstremitas : tidak ada kelainan

IV. PROFIL KELUARGA

33
Tn.M tinggal di sebuah lingkungan perumahan yang ditinggalinya
bersama istri (52 tahun) dan kedua anaknya (21 tahun) dan (19 tahun).
V. STATUS SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN KELUARGA
Tn.H bekerja sebagai Pegawai Swasta di salah satu perusahaan,
sedangkan istrinya bekerja sebagai ibu rumah tangga.Tn.H bekerja dari hari
senin-sabtu dari pukul 08.00 sampai 16.00 WITA.
Kondisi rumah yang ditempati Tn.H terbilang cukup baik, dengan
kondisi rumah batu berlantai keramik dengan 3 kamar tidur, sekitar rumah
yaitu bagian samping kiri dan kanannya berbatasan dengan rumah batu, dan
berada di lingkungan perumahan yang cukup padat. Pekarangan rumahnya
ditanami dengan pohon-pohonan misalnya pohon mangga, pohon lombok dan
bunga-bungaan. Tn.H menempati sebuah kamar dengan luas sekitar 2,8 x
22,3 m2. Perabot tertata rapi dan kebersihan kamar cukup memuaskan.
Rumah itu memiliki 1 kamar mandi yang terletak di dekat dapur. Kondisi
kamar mandi dan dapur cukup bersih. Ventilasi dan pencahayaan cukup
memadai serta memenuhi syarat. Sumber air untuk kebutuhan mandi,
mencuci dan memasak diperoleh dari air PAM, dan air galon untuk minum.

VI. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


Menurut Tn.H dalam keluarganya tidak ada yang menderita
penyakit yang bermakna, hanya saja ayah dari Tn.H memiliki riwayat DM
dan ibu nya memiliki riwayat hipertensi. Dokter hanya menyarankan Tn.H
untuk mengurangi mengkonsumsi makanan-makanan yang berlemak,
olahraga teratur, banyak istirahat untuk mengurangi rasa stress.
VII. POLA KONSUMSI MAKANAN KELUARGA
Menu makanan keluarga sehari-hari bervariasi, yang biasanya terdiri
dari nasi, ikan, tahu, tempe, sayur-sayuran dimana sudah dapat mencukupi
kebutuhan asupan gizi keluarganya. Hanya saja Tn. M memiliki kebiasaan
suka mengkonsumsi makanan olahan jeroan misalnya coto dan sebagainya.
VIII. PSIKOLOGI DALAM HUBUNGAN ANTAR ANGGOTA KELUARGA

34
Hubungan Tn.M dengan keluarganya sangat dekat dan komunikasi
berjalan dengan lancar dan selalu melakukan aktivitas bersama misalnya
Tn.M sering membantu menyelesaikan tugas-tugas anaknya jika ada waktu
luang, rekreasi bersama keluarga pada hari libur.
IX. LINGKUNGAN
Tn.M tinggal di perumahan yang padat penduduk. Kebersihan
lingkungan rumah terjaga, begitu juga lingkungan rumah tetangga sekitar
rumah. Meskipun masih ada beberapa rumah yang tidak terlalu
memperhatikan kebersihan lingkungan rumahnya. Jalanan di depan rumah
dalam keadaan baik dan merupakan paving blok dengan apotek hidup yang di
tanam di sepanjang tepi jalan

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 PENGERTIAN RUMAH SEHAT


Rumah sehat adalah tempat tinggal yang menjamin terjaganya kesehatan
para penghuni yang tinggal di dalamnya. Pengertian Rumah sehat dalam hal
ini lebih dari sekedar bangunan tempat tinggal, tetapi juga lingkungan tempat
rumah itu berada juga harus sehat. Rumah sehat adalah kondisi fisik, kimia,
biologi didalam rumah dan perumahan sehingga memungkinkan penghuni
atau masyarakat memperoleh derajat kesehatan yang optimal. (12)
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam membangun suatu rumah:(12)
1. Faktor lingkungan, baik lingkungan fisik, biologis maupun
lingkungan sosial. Maksudnya membangun suatu rumah harus
memperhatikan tempat dimana rumah itu didirikan. Di pegunungan
ataukah di tepi pantai, di desa ataukah di kota, di daerah dingin
ataukah di daerah panas, di daerah pegunungan dekat gunung berapi
(daerah gempa) atau di daerah bebas gempa dan sebagainya. Rumah
didaerah pedesaan, kondisi sosial budaya pedesaaan, misalnya

35
bahanya, bentuknya, menghadapnya, danlain sebagainya. Rumah
didaerah gempa harus dibuat dengan bahan-bahan yang ringan namun
harus kokoh, rumah didekat hutan harus dibuat sedemikian rupa
sehingga aman terhadap serangan-serangan binatang buas.
2. Tingkat kemampuan ekonomi masyarakat, hal ini dimaksudkan rumah
dibangun berdasarkan kemampuan keuangan penghuninya, untuk itu
maka bahan-bahan setempat yang murah misal bambu, kayu atap
rumbia dan sebagainya adalah merupakan bahan-bahan pokok
pembuatan rumah. Perlu dicatat bahwa mendirikan rumah adalah
bukan sekadar berdiripada saat itu saja, namun diperlukan
pemeliharaan seterusnya

2.2 SYARAT RUMAH SEHAT


Rumah pada dasarnya merupakan tempat hunian yang sangat penting bagi
kehidupan setiap orang. Rumah tidak sekedar sebagai tempat untuk melepas lelah
setelah bekerja seharian, namun didalamnya terkandung arti yang penting sebagai
tempat untuk membangun kehidupan keluarga sehat dan sejahtera. Rumah adalah
salah satu kebutuhan pokok manusia untuk bertempat tinggal dan melindungi
seseorang dari pengaruh lingkungan fisik yang berhubungan secara langsung
misalnya, hujan, panas matahari, angin, dan sebagainya.(12)

I. Rumah Sehat Menurut Winslow


Keadaan perumahan adalah salah satu faktor yang menentukan keadaan
hygiene dan sanitasi lingkungan. Seperti yang dikemukakan WHO bahwa
perumahan yang tidak cukup dan terlalu sempit mengakibatkan pula tingginya
kejadian penyakit dalam masyarakat.12
Rumah sehat yang diajukan oleh Winslow12:
1. Harus memenuhi kebutuhan fisiologis
a. Suhu ruangan

36
Suhu ruangan harus dijaga agar jangan banyak berubah.Sebaiknya
tetap berkisar antara 18-20oC. Suhu ruangan ini tergantung pada:
Suhu udara luar
Pergerakan udara
Kelembaban udara
Suhu benda-benda di sekitarnya
Pada rumah-rumah modern, suhu ruangan ini dapat diatur dengan air-
conditioning (AC).
b. Harus cukup mendapat penerangan

Harus cukup mendapatkan penerangan baik siang maupun malam


hari. Yang ideal adalah penerangan listrik. Diusahakan agar ruangan-
ruangan mendapatkan sinar matahari terutama pagi hari. Sehingga
dibutuhkan ventilasi yang cukup dalam suatu ruangan.
c. Harus cukup mendapatkan pertukaran hawa (ventilasi)

Pertukaran hawa yang cukup menyebabkan hawa ruangan tetap


segar (cukup mengandung oksigen). Untuk ini rumah-rumah harus cukup
mempunyai jendela. Luas jendela keseluruhan + 15% dari luas lantai.
Susunan ruangan harus sedemikian rupa sehingga udara dapat mengalir
bebas bila jendela dibuka.
d. Harus cukup mempunyai isolasi suara

Dinding ruangan harus kedap suara, baik terhadap suara-suara


yang berasal dari luar maupun dari dalam. Sebaiknya perumahan jauh dari
sumber-sumber suara yang gaduh, misalnya: pabrik, pasar, sekolah,
lapangan terbang, stasiun bus, stasiun kereta api, dan sebagainya.

2. Harus memenuhi kebutuhan psikologis


a. Keadaan rumah dan sekitarnya, cara pengaturannya harus memenuhi rasa
keindahan (aesthetis) sehingga rumah tersebut menjadi pusat kesenangan
rumah tangga yang sehat.

37
b. Adanya jaminan kebebasan yang cukup, bagi setiap anggota keluarga
yang tinggal di rumah tersebut.
c. Untuk tiap anggota keluarga, terutama yang mendekati dewasa harus
mempunyai ruangan sendiri-sendiri sehingga privacy-nya tidak
terganggu.
d. Harus ada ruangan untuk menjalankan kehidupan keluarga di mana
semua anggota keluarga dapat berkumpul.
e. Harus ada ruangan untuk hidup bermasyarakat, jadi harus ada ruang
untuk menerima tamu.

3. Harus dapat menghindarkan terjadinya kecelakaan


a. Konstruksi rumah dan bahan-bahan bangunan harus kuat sehingga tidak
mudah ambruk.
b. Sarana pencegahan terjadinya kecelakaan di sumur, kolam, dan tempat-
tempat lain, terutama untuk anak-anak.
c. Diusahakan agar tidak mudah terbakar.
d. Adanya alat pemadam kebakaran terutama yang menggunakan gas.
4. Harus dapat menghindarkan terjadinya penyakit
a. Adanya sumber air yang sehat, cukup kualitas maupun kuantitasnya.
b. Harus ada tempat pembuangan kotoran, sampah, dan air limbah yang
baik.
c. Harus dapat mencegah perkembangbiakan vektor penyakit, seperti:
nyamuk, lalat, tikus, dan sebagainya.
d. Kamar harus cukup luas. Luas kamar tidur + 5 m2 per kapita per luas
lantai.

II. Bahan Bangunan

38
a. Lantai: Saat ini, ada berbagai jenis lantai rumah. Lantai rumah dari
semen atau ubin, kermik, atau cukup tanah biasa yang dipadatkan. Ubin
atau semen adalah baik, namun tidak cocok untuk kondisi ekonomi
pedesaan. Lantai kayu sering terdapat pada rumah-rumah orang yang
mampu di pedesaan, dan ini pun mahal. Oleh karena itu, untuk rumah
pedesaan cukuplah tanah biasa yang dipadatkan. Syarat yang penting di
sini adalah tidak berdebu pada musim kemarau dan tidak basah pada
musim hujan. Untuk memperoleh lantai tanah yang padat (tidak berdebu)
dapat ditempuh dengan menyiram air kemudian dipadatkan dengan
benda-benda yang berat, dan dilakukan berkali-kali. Lantai yang basah
dan berdebu menimbulkan sarang penyakit.13
b. Dinding : tembok adalah baik, namun disamping mahal, tembok
sebenarnya kurang cocok untuk daerah tropis, lebih-lebih bila ventilasi
tidak cukup. Dinding rumah di daerah tropis khususnya di pedesaan,
lebih baik dinding atau papan. Sebab meskipun jendela tidak cukup,
maka lubang-lubang pada dinding atau papan tersebut dapat merupakan
ventilasi, dan dapat menambah penerangan alamiah.13
c. Atap genteng adalah umum dipakai baik di daerah perkotaan, maupun di
pedesaan. Di samping atap genteng cocok untuk daerah tropis, juga dapat
terjangkau oleh masyarakat dan bahkan masyarakat dapat membuatnya
sendiri. Namun demikian, banyak masyarakat pedesaan yang tidak
mampu untuk itu, maka atap daun rumbai atau daun kelapa pun dapat
dipertahankan. Atap seng atau asbes tidak cocok untuk rumah pedesaan,
disamping mahal juga menimbulkan suhu panas di dalam rumah.13
d. Lain-lain (tiang, kaso, dan reng)
Kayu untuk tiang, bambu untuk kaso dan reng adalah umum di pedesaan.
Menurut pengalaman bahan-bahan ini tahan lama. Tetapi perlu
diperhatikan bahwa lubang-lubang bambu merupakan sarang tikus yang
baik. Untuk menghindari ini maka cara memotongnya harus menurut
ruas-ruas bambu tersebut, apabila tidak pada ruasnya, maka lubang pada
ujung-ujung bambu yang digunakan untuk kaso tersebut ditutup dengan
kayu.12
III. Ventilasi

39
Ventilasi rumah mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama adalah
untuk menjaga agar aliran udara dalam rumahtersebut tetap segar. Hal ini
berarti keseimbangan O2 yang diperlukan oleh penghuni rumah tetap terjaga.
Kurangnya ventilasi akan menyebabkan kurangnya O2 dalam rumah yang
berarti kadar CO2 yang bersifat racun bagi penghuninya menjadi meningkat.
Di samping itu, tidak cukupnya ventilasi akan menyebabkan peningkatan
kelembaban udara dalam ruangan, karena terjadinya proses penguapan cairan
dari kulit dan penyerapan. Kelembaban ini akan merupakan media yang baik
untuk bakteri-bakteri patogen (bakteri-bakteri penyebab penyakit).13
Fungsi kedua dari ventilasi adalah untuk membebaskan udara ruangan
dari bakteri-bakteri, terutama bakteri patogen, karena di situ selalu terjadi
aliran udara yang terus-menerus. Bakteri yang terbawa oleh udara akan selalu
mengalir. Fungsi lainnya adalah untuk menjaga agar ruangan rumah selalu
tetap dalam kelambaban (humudity) yang optimum.14
Ada dua macam ventilasi, yakni14:
a. Ventilasi alamiah, di mana aliran udara dalam ruangan tersebut terjadi
secara alamiah melalui jendela, pintu, lubang angin, lubang-lubang pada
dinding, dan sebagainya. Di pihak lain ventilasi alamiah ini tidak
menguntungkan, karena juga merupakan jalan masuknya nyamuk dan
serangan lainnya ke dalam rumah. Untuk itu harus ada usaha-usaha lain
untuk melindungi kita dari gigitan nyamuk tersebut.
b. Ventilasi buatan, yaitu dengan mempergunakan alat-alat khusus untuk
mangalirkan udara tersebut, misalnya kipas angin, dan mesin pengisap
udara. Tetapi jelas alat ini tidak cocok dengan kondisi rumah di pedesaan.
Perlu diperhatikan di sini bahwa sistem pembuatan ventilasi harus dijaga
agar udara tidak kembali lagi, harus mengalir. Artinya dalam ruangan
rumah harus ada jalan masuk dan keluarnya udara.
Agar diperoleh kesegaran udara dalam ruangan dengan cara
penghawaan alami, maka dapat dilakukan dengan memberikan atau
mengadakan peranginan silang (ventilasi silang) dengan ketentuan sebagai
berikut: 12
1) Lubang penghawaan minimal 5% (lima persen) dari luas lantai ruangan.
2) Udara yang mengalir masuk sama dengan volume udara yang mengalir
keluar ruangan.

40
3) Udara yang masuk tidak berasal dari asap dapur atau bau kamar
mandi/WC. Khususnya untuk penghawaan ruangan dapur dan kamar
mandi/WC, yang memerlukan peralatan bantu elektrikal-mekanikal seperti
blower atau exhaust fan, harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a) Lubang penghawaan keluar tidak mengganggu kenyamanan bangunan
disekitarnya.
b) Lubang penghawaan keluar tidak mengganggu kenyamanan ruangan
kegiatan dalam bangunan seperti: ruangan keluarga, tidur, tamu dan
kerja.
IV. Cahaya
Rumah yang sehat memerlukan cahaya yang cukup, tidak kurang dan
tidak terlalu banyak. Kurangnya cahaya yang masuk ke dalam rumah,
terutama cahaya matahari, disamping kurang nyaman, juga merupakan media
atau tempat yang baik untuk hidup dan berkembangnya bibit penyakit.
Sebaliknya terlalu banyak cahaya dalam rumah akan menyebabkan silau, dan
akhirnya dapat merusak mata. Cahaya dapat dibedakan menjadi 2, yakni13:
a. Cahaya alamiah, yakni matahari. Cahaya ini sangat penting, karena
dapat membunuh bakteri-bakteri patogen dalam rumah, misalnya basil
TBC. Oleh karena itu, rumah yang sehat harus mempunyai jalan
masuk cahaya yang cukup. Seyogianya jalan masuk cahaya (jendela)
luasnya sekurang-kurangnya 15% sampai 20% dari luas lantai yang
terdapat dalam ruangan rumah. Perlu diperhatikan dalam membuat
jendela diusahakan agar sinar matahari dapat langsung masuk ke
dalam ruangan, tidak terhalang oleh bangunan lain. Fungsi jendela di
sini, di samping sebagai ventilasi, juga sebagai jalan masuk cahaya.
Lokasi penempatan jendela pun harus diperhatikan dan diusahakan
agar sinar matahari lama menyinari lantai (bukan menyinari dinding).
Maka sebaiknya jendela itu harus di tengah-tengah tinggi dinding
(tembok).
Jalan masuknya cahaya alamiah juga diusahakan dengan genteng kaca.
Genteng kaca pun dapat dibuat secara sederhana, yakni dengan
melubangi genteng biasa pada waktu pembuatannya, kemudian
menutupnya dengan pecahan kaca.

41
b. Cahaya buatan, yaitu menggunakan sumber cahaya yang bukan
alamiah, seperti lampu minyak tanah, listrik, dan sebagainya.

V. Luas Bangunan Rumah


Kebutuhan ruang per orang dihitung berdasarkan aktivitas dasar
manusia di dalam rumah. Aktivitas seseorang tersebut meliputi aktivitas tidur,
makan, kerja, duduk, mandi, kakus, cuci dan masak serta ruang gerak lainnya.
Kebutuhan minimum ruangan pada rumah sehat perlu memperhatikan
beberapa ketentuan sebagai berikut: 12
a) kebutuhan luas per jiwa
b) kebutuhan luas per Kepala Keluarga (KK)
c) kebutuhan luas bangunan per kepala Keluarga (KK)
d) kebutuhan luas lahan per unit bangunan
Luas lantai bangunan rumah sehat harus cukup untuk penghuni di
dalamnya, artinya harus disesuaikan dengan jumlah penghuninya. Luas
bangunan yang tidak sebanding dengan jumlah penghuninya akan
menyebabkan perjubelan (overcrowded). Hal ini tidak sehat, sebab disamping
menyebabkan kurangnya konsumsi O2 juga bila salah satu anggota keluarga
terkena penyakit infeksi, akan mudah menular kepada anggota keluarga yang
lain. Luas bangunan yang optimum adalah apabila dapat menyediakan 2,5 3
m2 untuk setiap orang.13
Hubungan rumah yang terlalu sempit dan kejadian penyakit1:
1. Kebersihan udara
Karena rumah terlalu sempit (terlalu banyak penghuninya), maka
ruangan-ruangan akan kekurangan oksigen sehingga akan menyebabkan
menurunnya daya tahan tubuh sehingga memudahkan terjadinya
penyakit. Penularan penyakit-penyakit saluran pernapasan, misalnya
TBC akan mudah terjadi di antara penghuni rumah. Dari penelitian
berjudul Hubungan Antara Karakteristik Lingkungan Rumah dengan
Kejadian Tuberkulosis (TB) pada Anak di Kecamatan Paseh Kabupaten
Sumedang, yang dilakukan oleh Nurhidayah, dkk (2007) menunjukkan

42
ada hubungan yang bermakna antara luas ventilasi rumah, kelembaban
rumah, pencahayaan rumah, dan kepadatan penghuni rumah dengan
kejadian tuberculosis pada anak, sedangkan variable suhu tidak memiliki
hubungan yang bermakna dnegan kejadian tuberculosis pada anak.1,4
2. Fasilitas dalam rumah untuk tiap orang akan berkurang
Fasilitas dalam rumah untui tiap orang akan berkurang karena harus
dibagi dalam jumlah yang banyak. Misalnya air.Walaupun kwalitasnya
baik, tapi karena pemakainya banyak maka kwantitasnya menjadi
kurang, sehingga penghuni rumah tidak tiap hari mandi atau tiap hari
tidak mandi. Hal ini akan memudahkan terjadinya penyakit kulit.
3. Memudahkan terjadinya penularan penyakit
Karena rumah terlalu sempit maka perpindahan (penularan) bibit
penykait dari manusia yang satu ke manusia yang lainnya akan lebih
mudah terjadi, misalnya: TBC, penyakit-penyakit kulit, dan penyakit-
penyakit saluran pernapasan.
4. Privacy dari tiap anggota keluarga terganggu
Karena rumah terlalu sempit, maka tiak semua anggota keluarga
mempunyai kamar sendiri-sendiri, sehingga privacy-nya akan terganggu.
Hal ini akan menyebabkan tiap anggota keluarga, teruama anak-anak
muda tida suka tinggal di rumah, yang akan memudahkan timbulnya
kejahatan dan kenakalan anak/remaja, serta kehidupan rumah tangga
yang tidak harmonis. Kehidupan rumah tangga yang tidak harmonis ini
di samping menyebabkan perkembangan jiwa dari anak-anak yang tidak
baik juga menimbulkna masalah-masalah sosial dalam masyarakat.

43
VI. Fasilitas-Fasilitas Dalam Rumah Sehat
Rumah yang sehat harus mempunyai fasilita-fasilitas sebagai
berikut2,3:
a. Penyediaan air bersih yang cukup
b. Pembuangan tinja
c. Pembuangan air limbah (air bekas)
d. Pembuangan sampah
e. Fasilitas dapur
f. Ruang berkumpul keluarga

VII.10 Patokan Untuk Rumah Ekologis Sebagai Rumah Sehat


10 patokan rumah ekologis merupakan prinsip dasar dalam perencanaan
rumah sehat yang berkesinambungan serta pembangunan berkelanjutan di daerah
tropis. Patokan tersebut didasarkan pada dua seminar dan lokakarya internasional
tentang arsitektur ekologis dan lingkungan di daerah tropis pada tahun 2000 dan
2005, serta 25 asas tentang Baubiologie (lihat: Schneider, Anton. Gesnder
Wohnen durchbiologisches Bauen. Neubeuren 1982).
Dalam rangka menuju masa depan yang terpelihara dan alam lestari, maka
planet bumi ini harus dirawat dengan lebih seksama, dan rumah yang dibangun
seharusnya ekologis. Kebutuhan atas perkembangan berkelanjutan belum pernah
sepenting seperti sekarang. Pengaruh perabadan manusia cenderung merusak
lingkungan sebagai dasar kehidupannya.13

PEMBAHASAN

Rumah adalah salah satu kebutuhan pokok manusia untuk bertempat


tinggal dan melindungi seseorang dari pengaruh lingkungan fisik yang
berhubungan secara langsung misalnya, hujan, panas matahari, angin, dan
sebagainya. Rumah sehat adalah kondisi fisik, kimia, biologi didalam rumah dan
perumahan sehingga memungkinkan penghuni atau masyarakat memperoleh
derajat kesehatan yang optimal.

44
Gambar: Ruang tamu Gambar: ruangmakan

Gambar: kamar tidur Gambar: Kamar mandi


Secara umum, rumah Tn. M sudah memenuhi syarat-syarat rumah sehat, antara
lain dalam hal:
1. Ruang tamu yang tertata rapi, bersih, terdapat ventilasi yang cukup
sehingga ruangan mendapat pencahayaan dan sirkulasi udara yang
cukup.
2. Kualitas bahan bangunan yang sudah bagus dalam pembuatan dinding,
tidak ada yang retak-retak. Dinding ruangan cukup kedap suara
3. Lantai rumah menggunakan tehel.
4. Terdapat ruang tamu yang digunakan untuk bersosialisasi dengan
tetangga ataupun kerabat. Terdapat ruang keluarga untuk berinteraksi
antar sesama keluarga.

45
5. Terdapat tiga buah kamar tidur, dimana satu kamar ditempati oleh kedua
orang tua, dan masing-masing anaknya menempati satu kamar.
6. Kamar mandi selalu dibersihkan, bak mandi dibilas setiap sekali
seminggu. Jarak antara sumber air (sumur bor) dengan jamban kurang
lebih 10 m.
7. Air yang digunakan dalam keluarga menggunakan air PAM, air dimasak
terlebih dahulu sebelum minum.
8. Terdapat tempat pembuangan sampah dan air limbah yang baik.
Beberapa hal yang tidak memenuhi syarat-syarat rumah sehat:
1. Jarak antara rumah yang satu dengan yang lain menempel secara langsung,
tidak terdapat jarak pemisah.
2. Lingkungan rumah yang berada di sekitar perumahan yang padat dan
rentan banjir, memudahkan berkembangnya penyakit menular di musim
penghujan
3. Tidak terdapat alat pemadam kebakaran

DAFTAR PUSTAKA

46
1. WHO. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Saluran Pernapasan Akut
(ISPA) yang Cenderung Menjadi Epidemi dan Pandemi di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan.2007.
2. WHO. Acute Respiratory Infections (Update September 2009). [serial
online]. 2009. [cited 2009 Des 12]. Available from:
www.who.int/vaccine_research/diseases/ari/en/print.html
3. Wahyono Dj, Hapsari I, Astuti IWB. Pola Pengobatan Infeksi Saluran Napas
Akk Usia Bawah Lima Tahun (Balita) Rawat Jalan di Puskesmas I Purwareja
Klampok Kabupaten Banjarnegara Tahun 2004.[serial online]. 2008. [cited
2009 Des 12]. Available from: http://mfi.farmasi.ugm.ac.id
4. Falsey, Ann R et al. respiratory Synctial Virus Infection in Elderly and High
Risk Adults. 2005. [cited 2009 Des 12].Availabele from : www.nejm.org.
5. Goldman, Lee and Aussielo, Dennis. Cecil Medicine 23rd Edition.USA :
Elsevier Inc. 2008.
6. Rasmaliah. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan Penanggulangannya.
2004. [cited 2009 Des 12].Available from : http://library.usu.ac.id/
7. Tehupeiory E. Artritis Pirai (Artritis Gout). Dalam Sudoyo AW, Setiyohadi B,
Alwi I, Simadibrata MK, Setiati S, editors. Buku ajar ilmu penyakit dalam
edisi IV jilid II. Jakarta : FKUI; 2007. Hal. 1208-10.
8. Delp M. Dalam Major Diagnosis Fisik. Jakarta:: EGC; 1996. Hal. 465.
9. Ihsanginanjar. Gout. 12 Desember 2010 [cited on 15 Oktober 2011].
Available from: http://patofisiologi.wordpress.com/2010/12/24/gout/#more-
167
10. Shiel W. Gout and Diet. 15 Oktober 2011 [cited on 15 Oktober 2011].
Available from: http://www.emedicinehealth.com/gout/article_em.htm#Gout
%20Overview
11. Silbernagl S. Metabolisme. Dalam Setiawan I,Mochtar I, editors. Teks dan
Atlas Berwarna Patofisiologi. Jakarta: EGC;2007. Hal. 250.
12. Entjang, Indan. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Bandung: PT. Citra ADitya
Bakti; 2000. Hal.105-8.

47
13. Notoatmodjo, Soekidjo. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta:
Rineka Cipta, 2007. p. 167-172
14. Anonymous. Syarat-Syarat Rumah Sehat. [online]. 2009 [cited 2009
November]; Available from : URL: http://www.smallcrabonline619-syarat-
syarat-rumah-sehat.htm

48