Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pilihan kegiatan usaha sangat dipengaruhi kemampuan dan kesiapan
masing masing wajip pajak atas kegiatan usaha yang akan dipilihnya
selainjuga mempertimbangkan berbagai aspek seperti permodalan,izin, tren
pasar dan berbagai pertimbangan lain.
Pemilihan kegiatan usaha yang dikaitkan dengan ketentuan pajak
hanyalah salah satu tambahan pertimbanagn bagi pengusaha. Selain untuk
mengetahui titik lemah dan kekuatan yang dimilikikegiatan usaha yang akan
dipilih tentunya konteks ketentuan perpajakan, juga untuk mengetahui titik
lemah dan kuatnya dunia usaha lain dari sudut pandanh fiskal.
Pemilihan kegiatan usaha yang dikaitkan dengan ketentuan
perpajakan akan dibahas dengen pengelompokkan berbagai bentuk kegiatan
usaha .kegiatan usaha yang berada dalam satu kelompok kegiatan usaha
memungkinkan untuk memilki relevansi untu dibandingkan. Namun
demikia dari sudut pandan ketentuan perpajakan memungkinkan
semuanyanmemiliki relevansi, karena menggunakan sudut pandang
pengakuan penghasilan maupun biaya, pengenaan PPh atau PPn
Dalam dunia usaha, yang paling penting adalah keuntungan, dan
serba dimungkinkan untuk berusaha pada bidang lain, termasuk yang
sebelumnya tidak dikuasaioleh pengusaha tersebut paling tidak pengusaha
perlu mempunai pandangan luas, termasuk kegiatan usaha diluar bidangnya
, erutama mengenai prospek masing masing usaha, yang dalam hal ini juag
berkaitan dengan kebijakan fiskal.

Page | 1
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pertimbangan penghematan pajak di dalam bidang
pertanian?
2. Bagaimana pertimbangan penghematan pajak di dalam bidang Industri?
3. Bagaimana pertimbangan penghematan pajak di dalam bidang Real
Estate ?
C. Tujuan
Mahsiswa dapat membedakan strategi penghematan pajak di dalam bidang
pertania, industri, dan Real estate

Page | 2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Piliha usaha di bidang pertanian

Bidang usaha pertanian meliputi:


- Pertanian, perkebunan, dan kehutanan
- Peternakan, perburuan atau penangkapan maupun penangkaran
- Perikanan baik dari penangkapan maupun budidaya
Untuk memilih kegiatan usaha dibidang pertanian perlu diperlukan
pertimbangan sbb:
- Pertimbangan pengenaan PPh
- Pertimbangan pengenaan PPN
Pertimbangan Pengenaan PPh
Perhitungan pajak tahunan bagi usaha pertanian pada dasarnya sama dengan
kegiatan usaha lainnya.Badan usaha industri/eksportir di bidang ini ditunjuk
sebagai pemungut PPh pasal 22 atas pembelian bahan-bahan untuk keperluan
industri atau untuk diekspor dari pedagang pengumpul.pemungutan PPh pasal
22 tersebut tidak dilakukan apabila pembelian dilakukan kepada
petani/kelompok petani. Besarnya PPh pasal 22 yang harus di pungut sebesar
0,5% dari harga pembelian tidak temasuk PPn. Tetapi untuk petani dan
pedagang pengumpul penjualan hasil pertanian akan merupakan PKP jika sudah
di atas PTKP
Bagi pedagang pengumpul pertanian, pengenaan PPh-nya diperlakukan
sama seperti kegiatan perdaganagan lain. Hanya saja atas penjualan barang
pertanian ke industri akan dipungut PPh pasal 22, yang merupakan kredit pajak
bagi pengumpul.
Pada berbagai kegiatan pertanian, pengenaan PPh atas penghasilan yang
diperoleh mempunyai spesifikasi Khusus seperti pada kapal ikan asing.
Pertimbangan Pengenaan PPh Kapal Ikan Asing
Kapal ikan asing yg telah mendapat izin operasi pasa Zona Ekonomi Ekslusif
(ZEE) di wilayah laut Indonesia diperlakukan sama dengan BUT. Kapal ikan
asing tersebut mempunyai kewajiban pajak sbb:
- Resource Fee
- Pajak Penghasilan
Resource fee adalah PNBP dari WP yg dibayar karena WP
memperoleh izin menangkap ikan di ZEE Indonesia dan resource fee
diperlakukan sebagai biaya.

Page | 3
Pertimbangan Pengenaan PPN
Untuk bidang pertanian terdapat BKP strategis dan BKP non strategis. BKP
strategis dibebaskan dari pengenaan PPN sbb:
- Makanan ternak, unggas, ikan dan atau bahan baku untuk pembuatannya.
- Barang hasil pertanian
- Bibit atau benih, barang pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan,
penangkaran, atau perikanan.
Pembebasan PPN atas BKP strategis pertanian tertentu akan membuat harga
komoditas pertanian ini memiliki daya saing lebih dibandingkan produk selain
BKP strategis pertanian atau produk lainnya.Tetapi penyerahan atas BKP
strategis tersebut yg dibebaskan dari pengenaan PPN hanya yg berasal dari
petani atau kelompok tani. Fasilitas pembebasan PPN pada BKP strategis bisa
menjadi pertimbangan bagi pengusaha untuk memilih kegiatan usaha dibidang
pertanian
-Pertimbangan Pengenaan PPN pada Pertanian
Berbagai kegiatan usaha dibidang pertanian yg mempunyai perlakuan khusus
antara lain sbb:
- Pertanian padi dan penggilingan gabah
- Pertanian tebu
Pertimbangan Pengenaan PPN pada pertanian padi dan Penggilingan
Gabah
Ketentuan yg berkaitan dengan pertanian padi dan barang pertanian yg
dihasilkan antara lain:
- Penyerahan atau inpor padi hibrida dalam kategori penyerahan atau inpor
benih yg akan dikembangkan dalam bidang pertanian, tidak dikenakan PPN
- Beras maupun gabah termasuk barang-barang kebutuhan pokok yg
dibebaskan dari pengenaan PPN
Namun untuk jasa penggilingan gabah menjadi beras adalah jasa yg
dikenakan PPN. Jadi semua pengusaha penggilingan beras, termasuk pengusaha
kecil, penggilingan gabah keliling dikukuhkan sebagai PKP dan harus
memungut PPN dari pihak yang meminta jasa. Untuk penggilingan beras Bulog,
sepanjang yg meminta jasa penggilingan beras tersebut bukan PKP maka tidak
dikenakan PPN.
Kalau ingin menghindari PPN maka pengusaha dapat memilih membeli
gabah dan menjual beras. Karena gabah dan beras merupakan BKP strategis yg
dibebaskan dari PPN dan tidak ada jasa yg terjadi karena gabah yg diolah adalah
milik sendiri, sehingga tidak terutang PPN.

Page | 4
Pertimbangan Pengenaan PPN pada Pertanian Tebu
Atas penyerahan tebu yg dilakuakn oleh petani dan kelompok tani
dibebaskan dari PPN, tetapi kalu bukan oleh petani atau kelompok tani
dikenakan PPN.Gula pasir sebagai produk dari tebu dikenakan PPN, karena
sudah melewati pabrikasi dengan ditambahkan bahan lain.
Jasa penggilingan tebu yang dilakukan oleh pabrik dan gula yg dijual
dikenakan PPN.
Petani dan Pabrik bisa melakukan kerja sama, sbb:
- Sistem Bagi Hasil (SBH)
- Sistem Pembelian Tebu (SBT)
Dengan SBH petani misalnya akan menerima 65% produksinya dalam
bentuk pembelian gula, sedangkan pabrik menerima 35% produksi nya dalam
bentuk gula yang terutang PPN, (karena yg 35% adalah ganti pembayaran atas
jasa pengolahan tebu).
Pada SBT, misalnya petani akan menerima 65% produksinya dalam bentuk
gula pasir, sedangkan pabrik akan menerima 35% produksinya dalam bentuk
gula pasir yg terutang PPN. Petani bisa menjual gulanya itu ke Pabrik atau pihak
ke tiga dengan tidak dikenakan PPN lain halnya jika petani tersebut PKP.
Pertimbangan Pengenaan PPN Perkebunan dan Kehutanan
BKP yg strategis dalam perkebunan dan kehutanan yg dibebaskan dari
pengenaan PPN antara lain:
i. Barang hasil perkebunan dan kehutanan
ii. Bibit tanaman perkebunan dan kehutanan
Banyak sektor kegiatan usaha dalam bidang perkebunan, namun yg
pengenaan pajaknya diatur tersendiri, antara lain:
a. Kelapa sawit
b. Kopra
c. Karet
d. Kakao
e. Teh
f. Kehutanan
a. Pertimbangan Pengenaan PPN Kelapa Sawit
Penjualan Bibit kelapa sawit dan Tandan Buah Segar (TBS) dibebaskan
PPN.
b. Pertimbangan Pengenaan PPN Kopra
Penyerahan kelapa dan kopra dari petani, kelompok tani, pengusaha kecil
dan pengepu/pedagang antar pulau tidak dikenakan PPN.
c. Pertimbangan Pengenaan PPN Perkebunan Karet
Penyerahan karet sadapan langsung atau yg telah diolah oleh petani,
kelompok tani dibebaskan dari pengenaan PPN

Page | 5
d. Pertimbangan Pengenaan PPN Perkebunan Kakao
Penyerahan kakao oleh petani/kelompok tani dibebaskan dari pengenaan
PPN
e. Pertimbangan Pengenaan PPN Perkebunan The
Penyerahan daun the hijau dan hitam oleh petani dan kelompok tani
dibebaskan dari pengenaan PPN. Jika dilakukan oleh pedagang antar pulau
dikenakan PPN.
f. Pertimbangan Pengenaan PPN Kehutanan
Penyerahan Kayu bulat (log) oleh petani/kelompok tani dibebaskan dari
PPN, penyerahan selain oleh petani dan kelompok tani dikenakan PPN.
Kayu olahan adalah BKP yg dikenakan PPN.

-Pertimbangan Pengenaan PPN pada Perikanan

Hampir semua kegiatan dibidang perikanan, baik penangkapan maupun budidaya


termasuk BKP strategis yg dibebaskan PPN jika penyerahannya dilakukan oleh
petani atau kelompok tani, seperti

a. Barang hasil perikanan

b. Benih perikanan

c. Makanan ikan

d. Bahan baku pembuat makanan ikan

-Pertimbangan Pengenaan PPN pada Peternakan

Kegiatan usaha dalam bidang peternakan sangatlah luas. Bidang usaha peternakan
yg pernyerahannya dan impornya dibebaskan PPN sepanjang dilakukan oleh
petani/kelompok tani:

a. Susu segar
b. Sapi perah
c. Sapi bakalan
d. Bibit Kambing
e. Makanan ternak
f. Telur dan ayam

Page | 6
B. Pilihan usaha di bidang Industri

Pilihan WP terhadap bidang industri tertentu sangat tergantung pada


kemampuan mengelola bidang industri tersebut. Namun WP dapat menggunakan
pertimbangan perpajakan jika ingin melakukan diversifikasi usaha atau sebagai
perbandingan saja.

WP industri perlu mempertimbangkan perlakuan perpajakan yg diterapkan pada


masing-masing kegiatan industri, yaitu:

- Pertimbangan PPh

- Pertimbangan PPN

Pertimbangan Pengenaan PPh Bidang Industri

Jika memperhatikan ketentuan PPh bidang industri , sebenarnya tidak ada


perbedaan untuk perhitungan PPh terutang akhir tahun pada semua jenis kegiatan
industri dan tidak ada perlakuan khusus untuk pengakuan penghasilan dan biaya.
Namun apabila memperhatikan hal-hal yg berkaitan dengan kewajiban pemungutan
PPh maka akan didapatkan perbedaan.

Kewajiban pemungutan seperti PPh pasal 22 hanya diwajibkan pada industri


terntentu:

No. Industri Pemungutan PPh Sifatnya

1. Industri Kertas 0,1 % DPP Tidak Final

2. Industri Baja 0,3 % DPP Tidak Final

3. Industri Semen 0,25 % DPP Final

Page | 7
4. Industri 0,45 % DPP Tidak Final
Otomotif

Pertimbangan Pengenaan PPN Bidang Industri

Pengenaan PPN pada produk industri dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sbb:

- Dasar pengenaan dan tarifnya

- Cara pelunasan

Dasar pengenaan dan tarif PPN pada indsutri umumnya sebesar 10% dari DPP.
Tetapi untuk industri tertentu tidak menggunakan dasar dan tarif tersebut.

No. Industri PPN Dasar Pengenaan PPN

1. Industri Kertas 10% DPP

2. Industri Baja 10% DPP

3. Industri hasil 8,4% Harga Banderol


tembakau

4. Industri semen 10% DPP

5. Industri 10% DPP


Otomotif

Page | 8
6. Industri 10% Harga jual rata-rata
rekaman
gambar

7. Industri 10% Harga jual rata-rata


Rekaman Suara

8. Industri minyak Ditanggung Ditanggung pemerintah


goreng pemerintah

Harga jual rata-rata adalah harga yg ditetapkan pemerintah, sehingga yg


memiliki harga yg lebih tinggi dari harga rata-rata akan diuntungkan, dan harga
rata-rata tersebut include PPN atau sudah termasuk PPN sehingga harga rata-rata
lebih besar dari DPP.

Cara pelunasan PPN pada umumnya melalui mekanisme PKPM (pajak


keluaran-pajak masukan) namun pada industri tertentu melibatkan Ditjen Bea
Cukai, karena berkaitan dengan kegiatan cukai maupun bea masuk, seperti untuk
rokok, rekaman suara dan gambar juga impor.

Ada kekhususan cara pelunasan PPN bagi industri rokok, industri rekaman
gambar dan industri rekama suara, jika umumnya pelunasan PPN pada saat produk
terjual tetapi diindustri tersebut pelunasannya pada saat penebusan pita cukai,
walaupun produk belum terjual atau dengan kata lain PPN dibayar dimuka.

Cara yang paling menguntungkan dalam pembayaran PPN pada industri


adalah dengan mempergunakan mekanisme PKPM yg dilakukan setelah produk
terjual.

Page | 9
C. Pilihan Usaha Bidang Real Estate

Usah bidang real estate adalah: kegiatan perolehan tanah untuk kemudian
dibangun perumahan atau bangunan komersil dan atau bangunan industri.
Bangunan tersebut dimaksud untuk dijual atau disewakan sebagai satu kesatuan
atau enceran (retail). Aktivitas ini juga mencakup perolehan tanah untuk dijual
kapling tanpa bangunan

Pilihan kegiatan usaha dalam bidang real estate harus memperhatikan perlakuan
perpajakan seperti berikut:

- Perlakuan PPh
- Perlakuan PPN
- Perlakuan PPn BM

Pertimbangan Perlakuan PPh

PPh pada real estate dikenakan atas semua penghasilan dari penjualan
bangunan, kapling tanah, maupun jasa pengembangan atau membangun sendiri.WP
yg usaha pokoknya pengalihan hak atas tanah dan bangunan seperti real estate ini,
atas penjualan tanah dan atau bangunan pengenaan PPh-nya dibedakan atas
penyerahan rumah sederhana, rumah sangat sederhana, dan rumah susun sederhana
dikenakan PPh 2% sedangkan lainnya dikenakan PPh 5% dan semuanya bersifat
final.

Dan jika penghasilan dari pengusaha real estate hanya penghasilan yg telah
dikenakan PPh final di atas maka Pph terutang akhir tahun adalah nihil.Tetapi jika
terdapat penghasilan lain seperti jasa membangun sendiri atau pengembangan,
maka pada akhir tahun masih akan terdapat PPh terutang.

Dibawah ini akan disajikan PPh final atas pengalihan tanah dan atau bangunan:

No. Penjual Kriteria Harga Tanah PPh Sifat


dan Bangunan
1. WP OP Penghasilan>PTKP - 5% Final
2. WP OP Penghasilan<PTKP <Rp. 60 juta Tdk
terutang
3. WP OP Penghasilan >PTKP >Rp. 60 juta 5% Final

Page | 10
4. Yayasan, - - 5% Final
organisasi
sejenis

5. WP Badan yg Yg dijual rumah - 5% Final


usaha pokoknya sederhana
pengalihan hak
atas tanah &
bangunan
6. WP Badan yg Rumah sangat - 2% Final
usaha pokoknya sederhana
pengalihan hak
atas tanah & Rumah susun
bangunan sederhana

Pertimbangan Perlakuan PPN

Pada dasarnya semua perumahan yg diserahkan oleh perusahaan real estate


dikenakan PPN, namun ada beberapa tipe rumah yg tidak dikenakan PPN, yaitu:

a. Rumah sederhana
b. Rumah susun sederhana
c. Pondok boro
d. Asrama mahasiswa dan pelajar
e. Rumah sederhana sehat (Rs Sehat/RSH), dan
f. Rumah inti Tumbu (RIT)

Atas penyerahan rumah-rumah tersebut di atas tidak dikenakan PPN apabila


perolehannya dilakukan secara tunai atau melalui fasilitas kredit kepemilikan
bersubsidi atau melalui pembayaran berdasarkan prinsip syariah dengan syarat:

- Harga jual tidak melebihi Rp. 55 juta

- Merupakan rumah pertama yg dimiliki dan digunakan sendiri sebagai


tempat tinggal dan tidak dipindahtangankan dalam jangka waktu 5 tahun
sejak dimiliki.

Pertimbangan Perlakuan PPn BM

Rumah mewah dikenakan PPn BM sebesar 20%. Yg termasuk rumah mewah:

- Hunian mewah seperti aprtemen, kondominium, town house dan


sejenisnya denga luas bangunan 150 M2 atau lebih atau denga harga jual bangunan
Rp. 4.000.000 per M2, tidak termasuk nilai tanahnya

Page | 11
- Rumah termasuk rumah kantor atau rumah toko, yang luas bangunannya
400 M2 atau lebih atau denga harga bangunan Rp. 3.000.000 per M2 tidak termasuk
nilai tanahnya.

Page | 12
BAB III
Penutup

Kesimpulan

Page | 13
Daftar Pustaka

Google.com
https://books.google.co.id/books?id=9nAeg3xbW48C&pg=PA27&lpg=P
A27&dq=pemilihan+kegiatan+usaha&source=bl&ots=Q5V9MoZLN9&s
ig=E8tQZ4lf3osEqWKZIQdx0KKA0AA&hl=en&sa=X&redir_esc=y#v=
onepage&q&f=false
https://www.scribd.com/doc/79803658/PEMILIHAN-KEGIATAN-USAHA

Page | 14