Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sistem perkemihan atau sistem urinaria, adalah suatu sistem dimana terjadinya proses
penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan
menyerap zat-zat yang masih di pergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan oleh
tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih).
Kolik adalah rasa sakit hebat yang hilang timbul akibat hiperperistaltik dan spasme
otot polos organ berongga yang berbentuk tabung.
Kolik renal adalah rasa sakit yang hebat pada organ renal (ginjal) akibat dari
gangguan pada ginjal misalnya batu pada ginjal
Kolik ginjal adalah batu yang terbentuk di tubuli ginjal kemudian berada di kaliks,
infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan bisa mengisi pelvis serta seluruh kaliks ginjal dan
merupakan batu slauran kemih yang paling sering terjadi.

B. RUMUSAN MASALAH
Dalam penulisan makalah ini, ada beberapa masalah pokok yang menjadi pusat
pembahasan bagi penulis adalah sebagai berikut:
1. Apa konsep kolik ginjal?
2. Bagaimana asuhan keperawatan gawat darurat dengan kolik ginjal?

C. TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk memenuhi tugas dalam mata kuliah keperawatan gawat darurat.
2. Untuk menjelaskan konsep kolik ginjal.
3. Untuk menjelaskan asuhan keperawatan gawat darurat pada kolik ginjal.
4. Untuk menambah pengetahuan dan wawasan mahasiswa/i keperawatan mengenai kolik
ginjal.

1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Depinisi
Kolik adalah rasa sakit hebat yang hilang timbul akibat hiperperistaltik dan
spasme otot polos organ berongga yang berbentuk tabung.
Kolik renal adalah rasa sakit yang hebat pada organ renal (ginjal) akibat dari
gangguan pada ginjal misalnya batu pada ginjal
Kolik ginjal adalah batu yang terbentuk di tubuli ginjal kemudian berada di
kaliks, infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan bisa mengisi pelvis serta seluruh kaliks
ginjal dan merupakan batu slauran kemih yang paling sering terjadi.

B. Etiologi
Secara epidemiologis terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya batu
saluran kemih yang dibedakan sebagai faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik yaitu:
1. Faktor intrinsik, meliputi:
Herediter ; Diduga dapat diturunkan dari generasi ke generasi.
Umur ; Paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun.
Jenis kelamin ; Jumlah pasien pria 3 kali lebih banyak dibanding pasien wanita.
2. Faktor ekstrinsik, meliputi:
Geografi ; Pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian yang lebih tinggi
daripada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah stone belt (sabuk
batu).
Iklim dan temperatur.
Asupan air ; Kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium dapat
meningkatkan insiden batu saluran kemih.
Diet ; Diet tinggi purin, oksalat dan kalsium mempermudah terjadinya batu
saluran kemih.
Pekerjaan ; Penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak
duduk atau kurang aktivitas fisik (sedentary life).

Ada beberapa teori tentang terbentuknya Batu saluran kemih adalah:


1. Teori Nukleasi: Batu terbentuk di dalam urine karena adanya inti batu atau sabuk
batu (nukleus). Partikel-partikel yang berada dalam larutan kelewat jenuh akan

2
mengendap di dalam nukleus itu sehingga akhirnya membentuk batu. Inti bantu
dapat berupa kristal atau benda asing saluran kemih.
2. Teori matriks: Matriks organik terdiri atas serum/protein urine (albumin, globulin
dan mukoprotein) sebagai kerangka tempat mengendapnya kristal-kristal batu.
3. Penghambat kristalisasi: Urine orang normal mengandung zat penghambat
pembentuk kristal yakni magnesium, sitrat, pirofosfat, mukoprotein dan beberapa
peptida. Jika kadar salah satu atau beberapa zat ini berkurang akan memudahkan
terbentuknya batu dalam saluran kemih.
Penyebab lainnya:
- Penyakit ginjal
- Batu ginjal
- Peradangan pada ginjal
- Penggunaan narkoba

C. Pathofisiologi
Batu-batu bisa menyebabkab sakit perut yang akut, ginjal dan punggung.
Pasien merasa resah karena sakit. Terdapat kebimbangan dan pembakaran sensasi
selama hajat dan kadang-kadang pasien ada darah dalam air seni. Sakit ini juga
dikenal sebagai renal colic.
Sakit perut dari organ ginjal (renal colic) biasanya hadir karena sakit perut tiba-
tiba mulai akut, berselang perut mulas, sakit lambung (di samping tubuh, antara tulang
rusuk dan hip terakhir) yang dapat menyebar ke arah bawah perut atau selangkangan
paha. Hal ini sering dikaitkan dengan mual dan muntah-muntah. Ini insiden yang
menahun sekitar 16 per 10.000 orang dan masa insiden 2-5%. Renal colic, bersama
dengan haematuria, merupakan gejala klasik dari urolithiasis, yang harus
dipertimbangkan sebagai diagnosa diferensial. Namun ada ketentuan lainnya yang
memiliki gejala yang bisa meniru ginjal karena sakit perut urolithiasis. Salah satu
contohnya adalah perdarahan di dalam ginjal yang dapat menghasilkan gumpalan,
sementara yang tersangkut di saluran kencing.
Lainnya adalah kehamilan ectopic, tetapi ini biasanya akan dapat dijelaskan
oleh ultrasound imaging. Pasien dengan abdominal aortic gondok nadi dapat juga
memiliki gejala yang mirip renal colic karena urolithiasis. Pasien dengan gangguan
usus akut juga hadir dengan menyerupai renal colic, tetapi tidak seperti dengan
urolithiasis itu tidak berkaitan dengan haematuria. Selain itu, seseorang yang memakai

3
narkoba berpretensi untuk mengidap renal colic. Secara keseluruhan, bagaimanapun,
misdiagnosis sebenarnya sangat jarang.
Sebagian besar batu saluran kencing adalah idiopatik dan dapat bersifat
simtomatik ataupun asimtomatik. Teori terbentuknya batu antara lain:
1. Teori inti matriks
Terbentuknya batu saluran kencing memerlukan adanya substansi organic
sebagai inti. Substansia organic ini terutama terdiri dari mukopolisakarida dan
mukoprotein A yang akan mempermudah kristalisasi dan agregasi substansi pembentuk
batu.
2. Teori supersaturasi
Terjadinya kejenuhan substansi pembentuk batu dalam urin seperti sistin,
santin, asam urat, kalsium oksalat akan mempermudah terbentuknya batu.
3. Teori presipitasi-kristalisasi
Perubahan PH urin akan mempengaruhi solubilitas substansi dalam urin. Pada
urin yang bersifat asam akan mengendap sistin, santin, asam dan garam urat, sedangkan
pada urin yang bersifat alkali akan mengendap garam-garam fosfat.
4. Teori berkurangnya factor penghambat
Berkurangnya factor penghambat seperti peptid fosfat, pirofosfat, polifosfat,
sitrat, magnesium, asam mukopolisakarid akan mempermudah terbentuknya batu
saluran kencing.

D. Manifestasi/Gejala Klinis
Gejala utama batu ginjal yang akut adalah kolik ginjal atau nyeri kolik. Lokasi
nyeri bergantung pada lokasi batu. Apabila batu ada di dalam pelvis ginjal, penyebab
nyerinya adalah hidronefrosis dan nyeri ini tidak tajam, tetap, dan dirasakan di area

4
sudut kostovertebra. Apabila batu turun ke ureter, pasien akan mengalami nyeri yang
hebat, kolik, dan rasa seperti ditikam. Nyeri ini bersifat interminten dan disebabkan
oleh spasme (kejang) urter dan anoksia dinding ureter yang ditekan batu. Nyeri ini
menyebar ke area suprapubik, genitelia eksterna, dan paha. Nyeri dapat disertai
dengan mual dan muntah, serta akan mengarah kepada kelamahan. (Mary, 2008. Hal
60)

E. Komplikasi
1. Obstruksi urine dapat terjadi di sebelah hulu dari batu dibagian mana saja di saluran
kemih. Obstruksi diatas kandung kemih dapat menyebabkan hidroureter, yaitu
ureter membengkak oleh urine. Hidoureter yang tidak diatasi, atau obstruksi pada
atau atas tempat ureter keluar dari ginjal dapat menyebabkan hidronefrosis yaitu
pembengkakan pelvis ginjal dan sistem duktus pengumpul. Hidronefrosis dapat
menyebabkan ginjal tidak dapat memekatkan urine sehingga terjadi
ketidakseimbangan elektrolit dan cairan.
2. Obstruksi menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatistik intersium dan dapat
menyebabkan penurunan GFR. Obstruksi yang tidak diatasi dapat menyebabkan
kolapsnya nefron dan kapiler sehingga terjadi iskemia nefron karena suplai darah
terganggu. Akhirnya dapat terjadi gagal ginjal jika kedua ginjal terserang.

3. Setiap kali terjadi obstruksi aliran urine (stasis), kemungkinan infeksi bakteri
meningkat. Dapat terbentuk kanker ginjal akibat peradangan dan cedera berulang
(Corwin, 2009. Hal 716).

F. Pemeriksaan Penunjang
Uji diagnostik :Yang termasuk dalam pemeriksaan diagnostik adalah sinar X ,
ultrasonografi, pemibdaian CT,. Urinalisis dan kalsium serum dan kadar asam urat
serum juga diperiksa. Untuk mengetahui asiditas dan alkalinitas urine, pH urine
dipantau dengan dipstick setiap pasien berkemih. Pengumpulan spesimen urine 24
jam untuk mengetahui kadar kalsium, oksalat, fosfor, dan asam urat dalam urine.
(Mary, 2008. Hal 61).

G. Penatalaksanaan
Tips Diet Renal Colic Makan makanan kaya vitamin A. Hindari makanan kaya
oxalate seperti kacang-kacangan, lobak, arbei, seledri, cokelat, anggur, cabe hijau,

5
bayam, strawberries, summer squash, dan teh. Makan apel dan semangka. Kurangi
jumlah makanan kaya kalsium-susu, keju, m entega, susu dan makanan lainnya.
Tujuan dasar penatalaksanaan adalah untuk menghilangkan batu, menentukan
jenis batu, mencegah kerusakan nefron, mengendalikan infeksi dan mengurangi
obstruksi yang terjadi.
Indikasi pengeluaran batu saluran kemih:
- Obstruksi jalan kemih
- Infeksi
- Nyeri menetap atau nyeri berulang-ulang
- Batu yang agaknya menyebabkan infeksi atau obstruksi
- Batu metabolic yang tumbuh cepat.
1. Pengurangan nyeri
Tujuan segera dari penanganan kolik renal atau ureteral adalah untuk
mengurangi nyeri sampai penyebabnya dapat dihilangkan; morfin atau meperidin
diberikan untuk mencegah syok dan sinkop akibat nyeri yang luar biasa. Mandi
air hangat diarea panggul dapat bermanfaat. Cairan diberikan, kecuali pasien
mengalami muntah atau menderita gagal jantung kongestif atau kondisi lain yang
memerlukan pembatasan cairan. Ini meningkatkan tekanan hidrostatik pada ruang
di belakang batu sehingga mendorong pasase batu tersebut ke bawah. Masukan
cairan sepanjang hari mengurangi konsentrasi kristaloid urin, mengencerkan urin
dan menjamin haluaran urin yang besar.
2. Pengangkatan batu
Pemeriksaan sitoskopik dan pasase kateter ureteral kecil untuk
menghilangkan batu yang menyebabkan obstruksi (jika mungkin), akan segera
mengurangi tekanan-belakang pada ginjal dan mengurangi nyeri.
3. Lithotripsi Gelombang Kejut Ekstrakorporeal (ESWL)
Adalah prosedur noninvasive yang digunakan untuk menghancurkan batu
di kaliks ginjal. Setelah batu tersebut pecah menjadi bagian yang kecil seperti
pasir, sisa batu-batu tersebut dikeluarkan secara spontan.
4. Metode Endourologi Pengangkatan Batu
Mengangkat batu renal tanpa pembedahan mayor. Nefrostomi perkutan
(atau nefrolitotomi perkutan) dilakukan dan nefroskop dimasukkan ke traktus
perkutan yang sudah dilebarkan ke dalam parenkim ginjal.
5. Ureteroskopi

6
Mencakup visualisasi dan aksis ureter dengan memasukkan suatu alat
ureteroskop melalui sistoskop. Batu dapat dihancurkan dengan menggunakan
laser, lithotripsy elektrohidraulik atau ultrasound kemudian diangkat.
6. Pelarutan batu
Infus cairan kemolitik (misal: agen pembuat asam dan basa) untuk
melarutkan batu dapat dilakukan sebagai alternative penanganan untuk pasien
kurang beresiko terhadap terapi lain dan menolak metode lain, atau mereka yang
memiliki batu yang mudah larut (struvit).
7. Pengangkatan batu
Jika batu terletak didalam ginjal, pembedahan dilakukan dengan
nefrolitotomi (insisi pada ginjal untuk mengangkat batu) atau nefrektomi, jika
ginjal tidak berfungsi akibat infeksi atau hidronefrosis. Batu dalam piala ginjal
diangkat dengan pielolitotomi, sedangkan batu pada ureter diangkat dengan
ureterolitotomi dan sistotomi jika batu berada dikandung kemih. Jika batu berada
dikandung kemih; suatu alat dapat dimasukkan ke uretra ke dalam kandung
kemih; batu kemudian dihancurkan oleh penjepit pada alat ini. prosedur ini
disebut sistolitolapaksi.

7
BAB III
KONSEP KEPERAWATAN

Diagnosa keperawatan yang di tegakkan di peroleh berdasarkan pengkajian primer


dan sekunder.
a. Pengkajian Primer
Pengkajian A, B, C, D
1) Airway
Jalan napas bersih
Tidak terdengar adanya bunyi napas ronchi
Tidak ada jejas badan daerah dada
2) Breathing
Peningkatan frekunsi napas
Napas dangkal
Distress pernapasan : pernapasan cuping hidung, takipneu, retraksi
Menggunakan otot-otot pernapasan
Kesulitan bernapas : sianosis
3) Circulation
Penurunan curah jantung : gelisah, letargi, takikardia
4) Disability
Kesadaran : Compomentis.

Analisa Data
Data Penyebab Masalah

Peningkatan frekunsi Kelainan pada ginjal Gangguan pola napas


napas
Napas dangkal Adanya gangguan keseimbangan
Distress pernapasan : asam basa
pernapasan cuping
hidung, takipneu, retraksi Menyebabkan darah menjadi

Menggunakan otot-otot asam (asidosis)

pernapasan

Kesulitan bernapas : Kompensasi tubuh dengan cara

sianosis napas yang dalam dan cepat

8
untuk mengeluarkan asam di
dalam darah

Sesak

Gangguan pola napas

Diagnosa dan Perencanaan


Diagnosa : Pola napas tak efektif
Tindakan : Terapi oksigen
Pemberian oksigen kecepatan rendah : masker venturi atau nasal prong
Ventilator mekanik dengan tekanan jalan nafas positif kontinu (CPAP)
atau PEEP
Inhalasi nebulizer
Pemantauan hemodinamik/jantung
Pengobatan : Brokodilator, Steroid

Diagnosa : Penurunan curah jantung


Tindakan : Kaji / pantau tekanan darah
Palpasi nadi radial, catat frekuensi dan ketraturan, auskultasi nadi apical,
catat frekuensi/irama dan adanya bunyi jantung ekstra
Berikan istrahat psikologi dengan lingkungan tenang membantu pasien
hindari situasi stress
Berikan oksigen tambahan

b. Pengkajian Sekunder
Pengumpulan Data
1) Aktivitas / Istrahat
Gejala : Klien mengatakan tidak mampu melakukan aktivitas

Tanda ; Klien nampak lemah

2) Makanan dan Cairan


Gejala : Klien mengatakan merasa mual dan muntah

9
Tanda ; Klien nampak mual dan muntah

3) Nyeri dan Kenyamanan


Gejala : Klien mengatakan nyeri pada perut

Tanda ; Nampak ekspresi wajah meringis, nyeri tekan pada daerah abdomen

Pengelompokan Data
Data Subyektif
Klien mengatakan tidak mampu melakukan aktivitas
Klien mengatakan merasa mual dan muntah
Klien mengatakan nyeri pada perut
Data Obyektif
Klien nampak lemah
Klien Nampak mual dan muntah
Nampak ekspresi wajah meringis, nyeri tekan pada daerah abdomen

Analisa Data
Data Penyebab Masalah

Klien mengatakan tidak Intake nutrisi tidak adequat Intoleransi aktivitas


mampu melakukan aktivitas
Klien nampak lemah Energi dalam tubuh berkurang

Kompenbsasi tubuh
menggunakan energi
cadangan dalam tubuh

Kelemahan otot
Klien mengatakan nyeri pada Factor penyebab Nyeri
perut
Nampak ekspresi wajah Penakanan pada saraf saraf di
meringis, nyeri tekan pada ginjal
daerah abdomen

10
Merangsang pengeluaran zat
pirogen bradikinin, serotonin
dan progtaglandin

Impuls di sampai ke SSP
bagian korteks serebri

Thalamus

Nyeri dipersepsikan

Diagnosa dan perencanaan


Nyeri berhubungan dengan retensi urin
Tupan :
Setelah diberi askep selama beberapa hari gangguan nyaman nyeri klien teratasi
Tupen :
Setelah diberi askep selama beberapa hari nyeri klien berangsur angsur dapat berkurang
dengan kriteria :
Klien melaporkan tidak nyeri lagi
Ekspresi wajah tidak meringis
Intervensi
1) Kaji skala nyer, frekuensi, dan lokasi nyeri
R/ Mengetahui derajat nyeri, dan lokasi yang dirasakan sehingga memudahkan
dalam menentukan tindakan selanjutnya
2) Atur posisi klien senyaman mungkin
R/ posisi yang nyaman membantu mengurangi rasa nyeri yang muncul
3) Ajarkan klien tehnik relaksasi dan tehnik distraksi
R/ Dengan tehnik menarik napas dalam dan mengeluarkan serta mengajak klien
untuk berbincang membantu mengalihkan stimulus nyeri yang dirasakan
4) Ciptakan lingkungan yang tenang dan anjurkan klien beristrahat yang cukup
R/ Lingkungan yang tentang dapat membuat klien dapat beristrahat yang cukup
sehingga mengurangi itensitas nyeri
5) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat analgetik
R/ Membantu mengurangi rasa nyeri dengan menekan pusat nyeri

11
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan
Tupan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan masalan intoleransi aktivitas teratasi
Tupen :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan secara bertahap klien mampu beraktivitas
secara mandiri dengan kriteria :
Klien dapat memenuhi kebutuhan secara mandiri
Klien dapat ikut serta dalam proses pengobatan
Intervensi
1) Pantau kemampuan klien dalam melakukan aktivitas sehari-hari
R/ Untuk mengetahui tindakan apa yang dapat dilakukan oleh klien sehingga
perawat mudah dalam mengambil keputusan selanjutnya
2) Bantu klien dalam melakukan pemeuhan kebutuhan sehari-hari
R/ Membantu klien memenuhi aktivitas sehari hari
3) Anjurkan klien untuk ikut serta dalam tindakan pemulihan kesehatan klien
R/ Dengan partisipasi keluarga klien dapat merasakan bahwa keluarga memberi
support dalam pemulihan kesehatan

12
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kolik adalah rasa sakit hebat yang hilang timbul akibat hiperperistaltik dan
spasme otot polos organ berongga yang berbentuk tabung.
Kolik renal adalah rasa sakit yang hebat pada organ renal (ginjal) akibat dari
gangguan pada ginjal misalnya batu pada ginjal.
Kolik ginjal adalah batu yang terbentuk di tubuli ginjal kemudian berada di
kaliks, infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan bisa mengisi pelvis serta seluruh kaliks
ginjal dan merupakan batu slauran kemih yang paling sering terjadi.
B. SARAN
Berdasarkan uraian pada pembahasan di atas penulis ingin memberikan beberapa
saran sebagai berikut :
1. Agar mahasiswa dapat memahami asuhan keperawatan gawat darurat dengan
kolik ginjal sehingga dapat menjadi pedoman baginya untuk terjun di dunia
kesehatan.
2. Pentingnya penggunaan asuhan keperawatan gawat darurat dengan kolik ginjal
menuntut perawat agar mampu melakukan praktik keperawatan gawat darurat
dan menyelesaikan masalah keperawatan klien.

13
DAFTAR PUSTAKA

Marilynn E Doengoes, et all, alih bahasa Kariasa IM, (2000), Rencana Asuhan Keperawatan,
pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien, EGC, Jakarta.

R. Syamsu Hidayat dan Wim de Jong, Buku Ajar Ilmu Bedah, Buku kedokteran EGC Edisi 2,
Hlm 489.

Sjamsuhidajat. R (1997), Buku ajar Ilmu Bedah, EGC, Jakarta.

14