Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN DENGAN

GANGGUAN ABDOMINAL PAIN

Di susun oleh
Asih Tria Rahmawati
A31600870

PRROGRAM PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH
GOMBONG 2016/2017
A. DEFINISI

Abdominal pain (nyeri perut) merupakan sensai subyektif tidak


menyenangkan yang terasa di setiap regio abdomen. Nyeri abdomen akut
biasanya digunakan untuk mengambarkan nyeri dengan onset mendadak/
durasi pendek. Nyeri abdomen kronis biasanya digunakan untuk
menggambarkan nyeri berlanjut, baik yang berjalan dalam waktu lama
atau berulang/ hilang timbul. Nyeri kronis dapat berhubungan dengan
eksaserbasi akut (Price A. Grace, 2007).
Nyeri akut merupakan pengalaman sensori dan emosional tidak
menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan aktual atau
potensial atau yang di gambarkan sebagai kerusakan (international
association for the study of pain) awitan yang tiba tiba atau lambat dari
intensitas ringan hingga berat (Nanda, 2012).

Nyeri abdomen kronis merupakan pengalaman sensorik dan


emosional yang tidak meneyenangkan dan muncul akibat kerusakan
jaringan aktual atau potensial atau digambarkan dalam hal kerusakan
sedekemikian rupa (International Assoction for the Study of pain) awitan
yang tiba-tiba atau lambat dengan intensitas dan ringan hingga berat,
terjadi secara konstan atau berulang tanpa akhir yang dapat diantisipasi
atau di prediksi dan berlangsung 6 bulan (Nanda, 2012).

B. KLASIFIKASI NYERI ABDOMEN


Nyeri abdomen dapat berupa nyeri viseral maupun nyeri somatik,
dan dapat berasal dari berbagai proses pada berbagai organ di rongga
abdomen maupun di luar rongga abdomen, misalnya di rongga dada
(Sjamsuhidajat dkk, 2010).
1) Nyeri viseral
Nyeri viseral dapat terjadi bila terdapat rangsangan pada organ atau
struktur dalam rongga abdomen, misalnya karena cedera atau radang.
Peritonium viseral yang menyelimuti organ abdomen dipersarafi oleh
sistem saraf otonom dan tidak peka terhadap perabaan, atau
pemotongan. Nyeri viseral memperlihatkan pola yang khas sesuai
dengan persyarafan embrionalorgan bersangkutan, saluran cerna yang
berasal dari usus depan (foregut), yaitu lambung, duodenum, sistem
hepatobilier dan pankreas, menimbulkan nyeri di ulu hati atau
epigastrium. Bagian saluran cerna yang berasal dari usus tengah
(midgut), yaitu usus halus dan usus besar sampai pertengahan colon
tranversum menyebabkan nyeri disekitar umbilikus. Bagian saluran
cerna lainya yaitu pertengahan colon tranversum sampai dengan colon
sigmoid yang yang berasal dari usus belakang (hindgut) menimbulkan
nyeri perut di bagian bawah.
2) Nyeri somatik
Nyeri somatik terjadi karena rangsangan pada bagian yang dipersarafi
saraf tepi, misalnya regangan pada peritonium parietalis, dan luka pada
dinding perut. Nyeri dirasakan seperti ditusuk atau disayat dan pasien
dapat menunjukan letak nyeri dengan jarinya secara tepat. Rangsangan
yang menimbulkan nyeri ini dapat berupa raban, tekanan, rangsangan
kimiawi, atau proses radang (Sjamsuhidajat, 2010).

Letak nyeri somatik:


Letak Organ

Abdomen kanan atas Kandung epedu, hati, duodenum,


pankreas, kolon, paru, miokard

Epigastrium Lambung, pankreas, duodenum,


paru, kolon
Abdomen kiri atas Limpa, kolon, ginjal, pankreas,
paru

Abdomen kanan bawah Apendiks, adneksa, sekum, ileum,


ureter

Abdomen kiri bawah Kolon, adneksa, uretra

Suprapubik Bulu-buli, uretra, usus halus

Periumbilikal Usus halus

Punggung Pangkreas, aorta, ginjal

Bahu Diafragma

C. MANIFESTASI KLINIS
Berdasarkan akut dan kronis:
1) Nyeri akut : perubahan selera makan, perubahan tekanan darah,
perubahan frekuensi pernafasan,perilaku distraksi, mengespreksikan
perilaku gelisah, sikap melindungi area yang nyer, perubahan posisi
untuk menghindari nyeri,fokus pada diri sendiri, gangguan pola tidur.
2) Nyeri kronis : hambatan kemampuan meneruskan aktivitas
sebelumnya, anoreksia, perubahan pola tidur, letih, sikap melindungi
area yang nyeri, perilaku proyektif yang dapat diamati, keluhan nyeri,
gelisah, perubahan posisi tubuh (Nanda, 2012).

D. SIFAT NYERI
Berdasarkan letak atau penyebaranya nyeri dapat bersifat nyeri alih
dan nyri yang di proyeksikan. Untuk penyakit tertentu, meluasnya rasa
nyeri dapat membantu menegakan diagnosis. Nyeri bilier khas menjalar ke
pingang dan kearah belikat (skapula), nyeri pankreatitis dirasakan
menembus kebagian pinggang. Nyeri pada bahu menunjukan adanya
rangsangan pada diafragma (Sjamsuhidajat, 2010).
1) Nyeri alih
Nyeri alih terjadi jika sesuatu segmen persyarafan melayani lebih dari
satu daerah. Misalnya diafragma yang berasal dari regio leher C3-C5
pindah ke bawah pada masa embrional sehingga rangsangan pada
diafragma oleh perdarahan atau peradangan akan dirasakan di bahu.

2) Nyeri proyeksi
Nyeri proyeksi merupakan nyeri yang disebabkan oleh rangsangan
saraf sensori akibat cedera atau peradangan saraf contoh: nyeri fantom
setelah amputasi , atau nyeri perifer setempat pada herpeszoster dapat
menyebabkan nyeri hebat di dinding perut sebelum gejala atau tanda
herpes menjadi tanda jelas dan rasa nyeri ini dapat menetap bahkan
setelah penyakitnyasudah sembuh.

E. ETIOLOGI
Nyeri yang berasal dari abdomen :
1) Inflamasi peritonium parietal
Kontaminasi bakterial: apendisitis yang mengalami perforasi atau
perforasi viskus lainya , penyakit radang pelvis.
Iritasi kimiawi: tukak yang mengalami perforasi, pankreatitis,
mittelschmerz
2) Obstruksi mekanis visera berongga : Obstruksi usus kecil dan besar,
obstruksi percabangan bilier, obstruksi ureter
3) Gangguan vaskuler : Embolisme atau trombosis, pecahnya vaskuler,
tekanan atau penyumbatan akibat torsi, anemia
4) Dinding abdomen: Distorsi dan traksi mesentrium, trauma atau infeksi
otot-otot
5) Distensi permukaan viseral : perdarahan hati atau kapsula ginjal
6) Perdarahan viskus : apendisitis, demam thypoid
(Carpenito, 2010).
F. PATOFISIOLOGI
Rasa nyeri pada abdomen somatik dari suatu proses penyakit yang
menyebarke seluruh peritonium dan melibatkan visera mesentrium yang
berisi banyak ujung saraf somatik, yang lebih dapat meneruskan rasa
nyerinya dan lebih dapat melokalisai rasa nyeri dari pada saraf otonom.
Reflek rasa nyeri abdomen dapat timbul karena adanya rangsangan
nervus frenikus , misalnya pada pneomonia, rasa nyeri yang berasal dari
usus halus akan timbul di daerah abdomen bagian atas epigastrium.
Sedangkan nyeri dari usus besar akan timbul dibagian bawah abdomen.
Reseptor rasa nyeri didalam traktus digestivus terletak pada saraf yang
tidak bermielin yang berasal dari sistem saraf otonom pada mukosa usus.
Saraf ini disebut sebagai serabut saraf C yang dapat meneruskan rasa nyeri
lebih menyebar dan lebih lama dari rasa nyeri yang dihantarkan dari kulit
oleh serabut saraf A. Resptor rasa nyeri pada abdomen terbatas di
submukosa, lapisan muskularis. Dan serosa dari organ abdomen. Serabut
C ini akan bersamaan dengan saraf simpatis menuju keganglia pre dan
paravertebra dan memasuki akar dorsa ganglia, implus aferen akan
melewati medula spinalis pada traktus spinatalamikus lateralis menuju
talamus, kemudian ke korteks serebri, implus aferen dari visera biasanya
dimulai oleh reganggan atau akibat penurunan amabng nyeri pada jaringan
yang meradang (Carpenito, 2010).
G. PATHWAY

Taruma jaringan infeksi

Kerusakan sel

pelepasan mediator nyeri (histamin, bradiklanin, prostaglandin, serotonin, ion


kalium)

merangsang septor (reseptor nyeri)

dihantarkan

medula spinalis

sistem aktivasi resikuler sistem aktivasi area grisea periakulduktus

talamus hipotalamus dan sistem limbik talamus

otak

korteks somato sensorik

ekspresi nyeri

Nyeri

H. KOMPLIKASI
1. Gangguan pola istirahat tidur
2. Perporasi gastrointestinal
3. Obstruksi gastrointestinal
(carpenito, 2010).
I. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1) Pemeriksaan darah lengkap
2) Amilase: kadar serum >3x batas atas kisaran normal merupakan
diagnostik pangkratitis.
3) Gas darah arteri: asidosis metabolik (iskemia usus, peritonitis,
pangkreatitis)
4) Urinalis : Infeksi saluran kemih
5) EKG: infrak miokard
6) Rongten abdomen: usus iskemik (dilatasi usus yang edema dan
menebal). Pankreatitis (pelebaran ieiunum bagian atas sentimel),
kolongitis (udara dalam cababa bilier), kolitis akut (kolon mengalami
dilatasi, edema dan gambaran menghilang). Obstruksi akut (usus
mengalami dilatasi), batu ginjal.
7) Ultrasonografi
8) Ct scan : merupakan pemeriksaan pennjang pilihan untuk inflamasi
peritonium yang tidakterdiagnosis (pada pasien yang dipertimbangkan
untuk dilakukan laparatomi dan didiagnosis blm pasti, pangkratitis,
trauma hati,/limpa/mesentrium, deverkulitis, aneurisma)
(Sudoyo, 2009).

J. SEKALA NYERI

Sekala nyeri Keterangan


0 Tidak nyeri
1-3 Nyeri ringan
4-6 Nyeri sedang
7-9 Sangat nyeri (masih dapat dikontrol)
10 Sangat nyeri (tidak bisa di kontrol)
K. PENATALAKSANAAN
Dengan semakin cangihnya pemeriksaan baik pemeriksaan
radiologi dan endoskopi, tatalaksana pasien dengan akut abdomen juga
semakin luas selain terapi farmakologis dan terapi bedah terapi endoskopi
dan terapi radiologi intervensi serta terapi melalui laparaskopi merupakan
modalitas yang biasa dilakukan pada pasien dengan akut abdomen.
Beberapa keadaan akut abdomen dimana tindakan operasi bukan
merupakan pilihan utama adalah pankreatitis biliaris akut dimana setelah
terapi antibiotik yang kuat drainage bilier melalui endoskopi harus
dilakukan (Aru W, Sudoyo, 2009).
Penatalaksanaan Keperawatan:
1) Monitor tanda-tanda vital
2) Kaji nyeri secara komprehensif
3) Kaji adanya infeksi atau peradangan di sekitar nyeri
4) Beri rasa nyaman
5) Distraksi
Mengalihkan perhatian terhadap nyeri, efektif untuk nyeri ringan
sampai sedang. Distraksi visual (melihat TV atau pertandingan bola),
distraksi audio (mendengar music atau mendengarkan dzikir dan
bacaan ayat suci al-quran), distraksi sentuhan massage, memegang
mainan)
6) Kompres hanagat
Kompres hangat menimbulkan efek vasodilatasi pembuluh darah
sehingga meningkatkan aliran darah. Peningkatan aliran darah dapat
menyingkirkan produk-produk inflamasi seperti bardikinin, histamin,
dan prostaglandin yang menimbulkan nyeri lokal. Selain itu kompres
hangat dapat merangsang serat saraf yang menutup gerbang sehingga
transmisi impuls nyeri ke medula spinalis dan otak dapat dihambat
(Price & Wilson 2007).
Penatalaksanaan Medis :

1) Pemberian analgesic
Obat golongan analgesik akan merubah persepsi dan
interprestasi nyeri dengan jalan mendpresi sistem saraf pusat pada
thalamus dan korteks serebri. Analgesik akan lebih efektif
diberikan sebelum pasien merasakan nyeri yang berat
dibandingkan setelah mengeluh nyeri. Contoh obat analgesik yani
asam salisilat (non narkotik), morphin (narkotik), dll.
2) Plasebo
Plasebo merupakan obat yang tidak mengandung komponen
obat analgesik seperti gula, larutan garam/ normal saline, atau air.
Terapi ini dapat menurunkan rasa nyeri, hal ini karena faktor
persepsi kepercayaan pasien.
3) Pembedahan
L. DIAGNOSIS ABDOMEN BERDASARKAN LOKASI
Kuadran atas kanan : Epigastrik : Kuadran atas kiri
1) Kolesistitis 1) Ulkus peptikum 1) Infrak limpa
2) Kolangitis 2) Gastritis 2) Ruptur limpa
3) Pankreatitis 3) Infrak miokard 3) Abses limpa
4) Pneomonia/empiema 4) Perikarditis 4) Gastritis
5) Pleurisy 5) Ruptur 5) Ulkus gaster
6) Abses (aneorisma, 6) Pankreatitis
7) Subdiaphragmatik aorta) 7) abses
8) Hepatitis 6) Esofagitis
9) Syndrome
Kuadran bawah kanan Periumbilikus Kuadran bawah kiri
1) apendisitis 1) apendisitis awal 1) divertikulitis
2) hernia inguinalis 2) gastroenteritis 2) salpingitis
3) kehamilan (ektopik) 3) bowel 3) hernia
4) nefrolitasis 4) rupture inguinalis
5) inflammatory 4) kehamilan
6) mesenteric etopik
5) nefrolitiasis

(Anthony S, fauci dkk, 2008).

M. INTERVENSI KEPERAWATAN

Nyeri akut:
Tujuan dan KH: Setelah dilakukan tindakan selama 3x24 jam diharapkan
masalah nyeri teratasi Pain level: Tanda vital dalam rentang normal,
mampu mengontrol nyeri, melaporkan nyeri berkurang, mampu mengenali
nyeri (lokasi, frekuensi,sekala,intensitasdan tanda nyeri).
Pain Management
- Monitor TTV
- Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan factor presipitasi
- Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu
ruangan, pencahayaan dan kebisingan
- Ajarkan tentang teknik non farmakologi
- Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
- Tingkatkan istirahat
- Kolaborasi pemberian analgetik
DAFTAR PUSTAKA

Asmadi. 2008. Tehnik Prosedural Keperawatan: Konsep Aplikasi


Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta : Salemba Medika.
Carpenito, Lynda Juall. 2010. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8.
Definisi dan Klasifikasi. Jakarta : EGC.
Doengoes, Marilynn E. 2012. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman
untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien.
Jakarta : EGC.
Herlman, T. Heather.2012. NANDA International Diagnosis Keperawatan :
Definisi dan Klasifikasi 2012-2014. Jakarta : EGC.
Price A. Grace and Neil R. B oerley. 2007. At a Glance Ilmu Bedah. Edisi 3.
Jakarta: EGC
Sjamsuhidajat, Wimdejong. 2010. Buku ajar ilmu Bedah. Edisi 3 Jakarta;
EGC
Sudoyo, Aru W, dkk.2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1 Edisi V.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI.