Anda di halaman 1dari 74

MAKALAH SANITASI TEMPAT-TEMPAT UMUM

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Sarana dan bangunan umum merupakan tempat dan atau alat yang dipergunakan oleh
masyarakat umum untuk melakukan kegiatannya, oleh karena itu perlu dikelola demi
kelangsungan kehidupan dan penghidupannya untuk mencapai keadaan sejahtera dari badan,
jiwa dan sosial, yang memungkinkan penggunanya hidup dan bekerja dengan produktif
secara social ekonomis. Sarana dan bangunan umum dinyatakan memenuhi syarat kesehatan
lingkungan apabila memenuhi kebutuhan fisiologis, psikologis dan dapat mencegah
penularan penyakit antar pengguna, penghuni dan masyarakat sekitarnya, selain itu harus
memenuhi persyaratan dalam pencegahan terjadinya kecelakaan. 1
Menurut laporan terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2006 sebanyak 24 % dari
penyakit global disebabkan oleh segala jenis faktor lingkungan yang dapat dicegah serta lebih
dari 13 juta kematian tiap tahun disebabkan faktor lingkungan yang dapat dicegah. Empat
penyakit utama yang disebabkan oleh lingkungan yang buruk adalah diare, infeksi Saluran
Pernapasan Bawah, berbagai jenis luka yang tidak intens, dan malaria. 2
Sanitasi merupakan salah satu tantangan yang paling utama bagi negara negara berkembang.
Menurut WHO, penyakit diare membunuh satu anak di dunia ini setiap 15 detik, karena
access pada sanitasi masih terlalu rendah. Hal ini menimbulkan masalah kesehatan
lingkungan yang besar, serta merugikan pertumbuhan ekonomi dan potensi sumber daya
manusia pada skala nasional. 3

Penyakit-penyakit berbasis lingkungan masih penyebab utama kematian di Indonesia.


Kecenderungan ini juga semakin mendapatkan legitimasi seiring dengan munculnya flu
burung dan flu babi, dua penyakit yang sangat berkaitan dengan sanitasi lingkungan. Di
Pekanbaru sendiri, data penyakit berbasis lingkungan pada tahun 2004, didapatkan data
malaria sebanyak 236 kasus, tahun 2005 198 kasus, tahun 2006 195 kasus. TB paru pada
tahun 2004 didapatkan 347 kasus, tahun 2005 633 kasus, tahun 2006 287 kasus. DBD tahun
2004 253 kasus, tahun 2005 839, tahun 2006 347 kasus. Diare tahun 2006 1.059 kasus, ISPA
tahun 2006 231 kasus. Oleh karena itu, ke depan semakin dibutuhkan upaya yang intensif dan
serius dari banyak pihak terkait untuk melakukan intervensi terahadap faktor lingkungan.2, 3,
4
Program kesehatan lingkungan Puskesmas Muara Fajar telah melakukan kegiatan
pendataan dan pengawasan sanitasi tempat-tempat umum, namun kegiatan tersebut belum
sesuai target yang ditetapkan Depkes RI. Dari laporan kegiatan program Kesling bulan
Januari-November 2009, terdapat 42 tempat umum yang ada di wilayah Puskesmas Muara
Fajar, baru 14 yang pernah dilakukan pemeriksaan sanitasi. Jika dipersentasikan, cakupan
pelayanannya adalah 33,33%, sedangkan menurut standar pelayanan minimal Kabupaten/kota
yaitu 80%. Hasil wawancara dengan penanggung jawab program Kesling, permasalahan
terletak pada kurangnya jumlah tenaga sanitarian dengan wilayah kerja yang luas, serta
banyaknya beban kerja lainnya. Selain itu formulir pemeriksaan dan inspeksi sanitasi untuk
tempat-tempat umum belum tersedia lengkap.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sanitasi Tempat-Tempat Umum


Sanitasi, menurut kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai pemelihara kesehatan.
Menurut WHO, sanitasi adalah upaya pengendalian semua faktor lingkungan fisik manusia,
yang mungkin menimbulkan atau dapat menimbulkan hal-hal yang merugikan, bagi
perkembangan fisik, kesehatan, dan daya tahan hidup manusia.
Tempat-tempat umum yaitu tempat kegiatan bagi umum, yang mempunyai tempat,
sarana dan kegiatan tetap, diselenggarakan badan pemerintah, swasta, dan atau perorangan,
yang dipergunakan langsung oleh masyarakat. Jenis tempat-tempat umum antara lain : 8, 9
a. Yang berhubungan dengan sarana Pariwisata :
- Penginapan/Losmen
- Mess
- Kolam Renang
- Bioskop
- Tempat Hiburan
- Tempat Rekreasi
- Bilyard
- Tempat Bersejarah
b. Yang berhubungan dengan sarana Perhubungan :
- Terminal Angkutan Darat
- Terminal Angkutan Sungai
c. Yang berhubungan dengan sarana Komersial :
- Pemangkas Rambut
- Salon Kecantikan
- Pasar-Pasar
- Apotik
- Toko Obat
- Perbelanjaan
d. Yang berhubungan dengan sarana Sosial :
- Tempat-Tempat Ibadah
- Rumah Sakit
- Klinik Bersalin
- Sekolah-Sekolah/Asrama
- Panti Asuhan
e. Kantor-Kantor Pemerintahan dan Swasta termasuk Bank-Bank Pemerintah dan Swasta.
Sanitasi tempat-tempat umum merupakan usaha untuk mengawasi kegiatan yang
berlangsung di tempat-tempat umum terutama yang erat hubungannya dengan timbulnya atau
menularnya suatu penyakit, sehingga kerugian yang ditimbulkan oleh kegiatan tersebut dapat
dicegah. Sarana dan bangunan umum dinyatakan memenuhi syarat kesehatan lingkungan
apabila memenuhi kebutuhan fisiologis, psikologis dan dapat mencegah penularan penyakit
antar pengguna, penghuni dan masyarakat sekitarnya, selain itu harus memenuhi persyaratan
dalam pencegahan terjadinya kecelakaan. Penyelenggaraan sarana dan bangunan umum
berada di luar kewenangan Departemen Kesehatan, namun sarana dan bangunan umum
tersebut harus memenuhi persyaratan kesehatan. Hal ini telah diamanatkan pada UU No.23
Tahun 1992 tentang Kesehatan.

2.2 Pedoman Penyehatan Sarana Dan Bangunan Umum


Dasar pelaksanaan kegiatan pendataan dan pengawasan sanitasi tempat-tempat umum
adalah Kepmenkes 288/Menkes/SK/III/2003 tentang Pedoman Penyehatan Sarana dan
Bangunan Umum. Menurut Kepmenkes tersebut, batasan pengertian penyehatan sarana dan
bangunan umum, adalah upaya kesehatan lingkungan, dalam pengendalian faktor risiko
penyakit pada sarana dan bangunan umum. Faktor resiko penyakit adalah hal-hal yang
memiliki potensi terhadap timbulnya penyakit.
Tujuan diadakannya penyehatan sarana dan bangunan umum adalah sebagai upaya
untuk meningkatkan pengendalian faktor risiko penyakit dan kecelakaan pada sarana dan
bangunan umum. Adapun sasaran dari kegiatan ini adalah :
a. Lingkungan Pemukiman antara lain perumahan, asrama, pondok pesantren, condominium /
apartemen, rumah susun dan sejenisnya.
b. Tempat umum antara lain hotel, penginapan, pasar, bioskop, tempat rekreasi, kolam renang,
terminal, Bandar udara, pelabuhan laut, pusat perbelanjaan dan usaha-usaha yang sejenis.
c. Lingkungan kerja antara lain kawasan perkantoran, kawasan industri, atau yang sejenisnya.
d. Angkutan umum antara lain bus umum, pesawat udara komersial, kapal penumpang,
kapal ferry penumpang, kereta api dan sejenis.
e. Lingkungan lainnya antara lain tempat pengungsian, daerah transmigrasi, lembaga
permasyarakatan, sekolah dan sejenis.
f. Sarana Pelayanan Umum antara lain samsat, bank, kantor pos dan tempat ibadah yang
sejenis.
g. Sarana Kesehatan antara lain rumah sakit, puskesmas, laboratorium, pabrik obat, apotik dan
yang sejenis.
Untuk pelaksanaan kegiatan di tingkat pusat, adalah Direktorat Jenderal
Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen PPM & PL), dan
sebagai penanggung jawab program adalah Direktur Jenderal PPM & PL. Untuk pelaksanaan
di tingkat propinsi sebagai penanggung jawab adalah Gubernur Kepala Daerah dan
Pelaksananya adalah Kepala Dinas Kesehatan Propinsi. Pelaksanaan di Tingkat Kabupaten,
sebagai Penanggung jawab program adalah Bupati / Walikota dan pelaksananya adalah
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota. Di Tingkat Kecamatan Penanggung jawab
pelaksanaan program adalah Camat dan pelaksananya adalah Kepala Puskesmas.
Dinas Kabupaten/kota memiliki unit pelaksana teknis yang bertanggung jawab
menyelenggarakan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya yaitu Puskesmas. Lingkup
kegiatan yang dilakukan dalam program penyehatan sarana dan bangunan umum di
tingkatKabupaten/Kota adalah :
a. Perencanaan
1) Membuat program kegiatan upaya penyehatan sarana dan bangunan umum.
2) Mengumpulkan data, menetapkan prioritas dan implementasi / pelaksanaan program serta
melakukan evaluasi.
b. Pengawasan kualitas
Pengawasan kualitas yang dilakukan, meliputi :
1) Inspeksi sanitasi.
2) Pengambilan sample dan pemeriksaan sample
3) Analisa data dan rumusan pemecahan masalah, serta memberi rekomendasi untuk tindak
lanjut.
c. Investigasi
Invstigasi dilakukan bila ditemukan adanya Kejadian Luar Biasa, dan atau keluhan dari
masyarakat.
d. Tindak lanjut
Tindak lanjut dilakukan berdasarkan hasil monitoring dan investigasi, melalui penyuluhan,
pelatihan, perbaikan dan pemeliharaan.
Sebagai sumber daya yang diperlukan untuk kegiatan Penyehatan Sarana dan
Bangunan Umum adalah :
1. Sumber daya manusia
Kegiatan ini didukung oleh tenaga kesehatan lingkungan yang memiliki pengetahuan dan
ketrampilan yang memadai. Tenaga kesehatan lingkungan adalah petugas atau pengelola
yang memperoleh pendidikan atau pelatihan dibidang kesehatan lingkungan.
2. Peralatan
Untuk menunjang kegiatan diperlukan instrumen yaitu :
a. Formulir Pengamatan
1) Formulir pemeriksaan
2) Formulir Inspeksi Sanitasi
b. Peralatan pengukuran kualitas lingkungan antara lain :
1) Pengukur pencahayaan (Lightmeter)
2) Pengukur kelembaban (Hygrometer)
3) Pengukur mikroba dalam ruangan (Microbiological Test Kit)
4) Pengukur kebisingan (Integrating Sound Level Meter)
5) Pengukur kualitas air
6) Pengukur kualitas udara (Air Polution Test Kit)
7) Sanitarian Kit
8) Vector Kit
9) Peralatan lain yang dipergunakan untuk mengukur kualitas lingkungan
3. Metode
Kegiatan ini dilaksanakan secara berkala, sekurang-kurangnya 2(dua) kali dalam satu tahun.
Pengawasan pada kejadian luar biasa (KLB) dilakukan sesuai dengan kondisi setempat dan
memperhatikan risiko atau gangguan pada kesehatan masyarakat. Cara pengawasan
dilakukan melalui wawancara, pengamatan, pengukuran, analisa laboratorium, penyusunan
laporan dan tindak lanjut.
4. Dana
Sumber pendanaan yang diperlukan dapat diperoleh melalui :
a. APBN
b. APBD
c. Bantuan Luar Negeri
d. Bantuan lain yang tidak mengikat

BAB III
PENUTUP

3.1.SIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
1. Beberapa masalah yang ditemukan pada program Kesling antara lain, belum
optimalnya kegiatan pendataan dan pengawasan sanitasi TTU, belum optimalnya
pemeriksaan rumah tangga sehat, serta belum berjalannya kegiatan pengawasan
sanitasi TPM.
2. Prioritas masalah yang didapatkan pada program Kesling PKM Muara Fajar
adalah belum optimalnya kegiatan pendataan dan pengawasan sanitasi tempat-tempat
umum.
3. Penyebab masalah belum optimalnya kegiatan tersebut antara lain kurangnya
jumlah petugas, tidak tersedianya formulir yang lengkap dan peralatan pengukuran
kualitas lingkungan, tidak tersedianya pedoman umum, serta belum adanya alokasi
dana khusus untuk kugiatan.
4. Alternatif pemecahan masalah yang disarankan antara lain memberikan surat
rekomendasi serta penyediaan formulir dan pedoman umum untuk pelaksanaan
kegiatan.
5. Upaya pemecahan masalah yang telah terlaksana adalah pemberian surat
rekomendasi yang berisi pemberdayaan petugas, penyediaan alat pengukuran kualitas
lingkungan, dan pengalokasian dana khusus untuk kegiatan.
6. Evaluasi terhadap pelaksanaan rekomendasi tidak dapat dilakukan karena
keterbatasan waktu.

3.2.SARAN
1. Sebaiknya Kepala Puskesmas memberdayaan petugas lain untuk membantu
petugas Kesling dalam pelaksanan kegiatan pendataan dan pengawasan sanitasi TTU.
2. Kepada Kepala Puskesmas sebaiknya menyediakan peralatan yang penting
untuk mengukur kualitas lingkungan, seperti 1 buah meteran, 1 buah vektor kit, 1
buah microbial test kit dan 1 air polution test kityang dapat dilakukan secara bertahap.
3. Petugas sanitasi agar dapat memanfaatkan sumber daya serta peralatan yang
ada secara optimal untuk menunjang kegiatan ini.
DAFTAR PUSTAKA

Adriyani, Seto. Manajemen Sanitasi Pelabuhan Domestik Di Gresik, Jurnal Kesehatan Lingkungan.
Surabaya : 2005

Depkes RI. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 288/MENKES/SK/III/2003 Tentang Pedoman


Penyehatan Sarana Dan Bangunan Umum. Jakarta : 2003.

Depkes RI. 2006. Intervensi Faktor Lingkungan Cegah 13 Juta


Kematian.http://www.depkes.go.id [Diakses 7 Desember 2009].

Arifin, Munif. 2009. Beberapa Pengertian Tentang Sanitasi


Lingkungan.http://inspeksisanitasi.blogspot.com/2009/07/sanitasi-lingkungan. [Diakses 7
Desember 2009].

Seksi Penyehatan Lingkungan. Laporan rekapitulasi penyakit berbasis lingkungan Puskesmas kota
Pekanbaru. Pekanbaru: Dinkes kota Pekanbaru, 2006.

Setiyabudi R. 2007. Dasar Kesehatan Lingkungan. Disitasi dari :http://www.ajago.blogspot.htm.


[Diakses : 20 November 2009].

World Health Organization (WHO). 2008. Environmental Health.http://www.WHO.int. [Diakses 20


November 2009].

Depkes RI. Undang-undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. Jakarta : 1992.

PEMKO Muara Enim. PERDA Kabupaten Muara Enim No.3 Tahun 1992 Tentang Susunan
Organisasi Dan Tata Kerja Dinas Sosial. Muara Enim : 1994.

///////////////////////////////////////

Sanitasi tempat-tempat umum (STTU)

BAB I
BAB II
PEMBAHASAN

PENGERTIAN
1. Pengertian sanitasi menurut WHO
Sanitasi merupakan suatu usaha untuk mengawasi beberapa faktor lingkungan fisik yang
berpengaruh kepada manusia terutama terhadap hal-hal yang mempunyai efek merusak
perkembangan fisik, kesehatan, dan kelangsungan hidup
2. Pengertian sanitasi:
Sanitasi adalah suatu upaya yang dilakukan untuk menjaga lingkungan agar tetap bersih dan
terbebas dari ancaman penyakit.
3. Pengertian tempat-tempat umum
Tempat-tempat umum merupakan suatu tempat dimana banyak orang berkumpul untuk
melakuikan kegiatan baik secara insidentil maupun terus-menerus, baik secara membayar,
maupun tidak, atau
Tempat-tempat umum adalah suatu tempat dimana banyak orang berkumpul dan melakukan
aktivitas sehari-hari.
4. Pengertian sanitasi tempat-tempat umum
Sanitasi tempat-tempat umum adalah: suatu usaha untuk mengawasi dan mencegah kerugian
akibat dari tidak terawatnya tempat-tempat umum tersebut yang mengakibatkan timbul
menularnya berbagai jenis penyakit, atau
Sanitasi tempat-tempat umum merupakan suatu usaha atau upaya yang dilakukan untuk
menjaga kebersihan tempat-tempat yang sering digunakan untuk menjalankan aktivitas hidup
sehari-hari agar terhindar dari ancaman penyakit yang merugikan kesehatan.
Tujuan
Tujuan dari pengawasan sanitasi tempat-tempat umum, antara lain:
1. Untuk memantau sanitasi tempat-tempat umum secara berkala.
2. Untuk membina dan meningkatkan peran aktif masyarakat dalam menciptakan lingkungan
yang bersih dan sehat di tempat-tempat umum.
Jenis-jenis tempat umum
Ada beberapa jenis-jenis tempat umum, antara lain:
1. Hotel
2. Kolam renang
3. Pasar
4. Salon
5. Panti Pijat
6. Tempat wisata
7. Terminal
8. Tempat ibadah

Syarat-syarat dari sanitasi tempat-tempat umum, yaitu:


1. Diperuntukkan bagi masyarakat umum
2. Harus ada gedung dan tempat yang permanent
3. Harus ada aktivitas (pengusaha, pegawai, pengunjung)
4. Harus ada fasilitas (SAB, WC, Urinoir, tempat sampah, dll)

Aspek penting dalam penyelenggaraan sanitasi tempat-tempat umum yaitu:


1. Aspek teknis/hukum (persyaratan H dan S, peraturan dan perundang-undangan sanitasi).
2. Aspek sosial, yang meliputi pengetahuan tentang : kebiasan hidup, adat istiadat,
kebudayaan, keadaan ekonomi, kepercayaan, komunikasi,dll.
3. Aspek administrasi dan manegement, yang meliputi penguasaan pengetahuan tentang cara
pengelolaan STTU yang meliputi: Man, Money, Method, Material, dan Machine.

Hambatan yang sangat sering dijumpai dalam pelaksaan sanitasi di tempat-tempat umum,
yaitu:
1. Pengusaha
a. Belum adanya pengertian dari para pengusaha mengenai peraturan perundang-undangan
yang menyangkut usaha STTU dan kaitannya dengan usaha kesehatan masyarakat.
b. Belum mengetahui/kesadaran mengenai pentingnya unsaha STTU untuk menghindari
terjadinya kecelakaan atau penularan penyakit.
c. Adanya sikap keberatan dari pengusaha untuk memenuhi persyaratan-persyaratan kerena
memerlukan biaya ekstra.
d. Adanya sikap apatis dari masyarakat tentang adanya peraturan/persyaratan dari STTU.
2. Pemerintah
a. Belum semua peralatan dimiliki oleh tenaga pengawasan pada tingkat II dan kecamatan.
b. Masih terbatasnya pengetahuan petugas dalam melaksanakan pengawasan.
c. Masih minimnya dana yang diakolasikan untuk pengawasan STTU.
d. Belum semua kecamatan/tingkat II memiliki sarana transportasi untuk melakukan kegiatan
pengawasan.

Ruang lingkup sanitasi tempat-tempat umum, yaitu:


Secara spesifik ada beberapa ruang lingkup sanitasi tempat-tempat umum, yaitu:
1. Penyediaan air minum (Water Supply)
2. Pengelolaan sampah padat, air kotor, dan kotoran manusia (wastes disposal meliputi
sawage, refuse, dan excreta)
3. Hygiene dan sanitasi makanan (Food Hygiene and Sanitation)
4. Perumahan dan kontruksi bangunan (Housing and Contruction)
5. Pengawasan fektor (Vektor Control)
6. Pengawasan pencemaran fisik (Physical Pollution)
7. Hygiene dan sanitasi industri (Industrial Hygiene and Sanitation)
Kegiatan yang mendasari sanitasi tempat-tempat umum (STTU), yaitu:
1. Pemetaan (monitoring)
Pemetaan (monitoring) adalah meninjau atau memantau letak, jenis dan jumlah tempat-
tempat umum yang ada kemudian disalin kembali atau digambarkan dalam bentuk peta
sehingga mempermudah dalam menginspeksi tempat-tempat umum tersebut.
2. Inspeksi sanitasi
Inspeksi sanitasi adalah penilaian serta pengawasan terhadap tempat-tempat umum dengan
mencari informasi kepada pemilik, penanggung jawab dengan mewawancarai dan melihat
langsung kondisi tempat umum untuk kemudian diberikan masukan jika perlu apabila dalam
pemantauan masih terdapat hal-hal yang perlu mendapatkan pembenahan.
3. Penyuluhan
Penyuluhan terhadap masyarakat (edukasi) terutama untuk menyangkut pengertian dan
kesadaran masyarakat terhadap bahaya-bahaya yang timbul dari TTU.
Teknik pembuangan kotoran sebagai pelaksanaan usaha kebersihan
Teknik pembuangan kotoran yang dimaksud dalam STTU berupa hasil dari kegiatan manusia
dalam hal ini berupa sampah. Dalam teknik penanganan sampah, tidak semua macam-macam
tempat-tempat umum melakukan teknik yang sama.
Ada yang melakukannya dengan mengumpulkan sampah pada TPS (tempat pembuangan
sementara) sebelum dibuang ke TPA (tempat pembuangan akhir), dan ada juga sampah yang
dihasilkan langsung dibakar pada tempat yang telah disediakan.
Selain itu volume pengangkutan sampah yang dihasilkannyapun berbeda-beda, ada yang
pengangkutan dari TPS ke TPA dilakukan setiap hari, tetapi ada juga yang pengangkutannya
sekitar dua sampai tiga kali dalam seminggu.

Hukum yang mendasari nilai ambang batas (NAB) yaitu;


1. UU No.23 thn 1992 tentang Kesehatan.
2. UU No.11 thn 1962 tentang Hygiene untuk usaha bagi umum.
3. UU No. 2 thn 1966 tentang Hygiene.
4. Permenkes No. 06/menkes/per/I/1990 tentang pesyaratan kesehatan kolam renang dan
pemandian umum.
5. Pemerkes No.80/menkes/II/1990 tentang persyaratan kesehatan hotel.
6. Peraturan daerah yang mengatur kegiatan-kegiatan usaha bagi umum.

Nilai ambang batasnya dalam penilaian STTU yang distandarkan yaitu:


A. Gedung secara umum
1) Bangunan gedung kuat
2) Bangunan gedung utuh
3) Bangunan gedung bersih
4) Bangunan tidak rentan menimbulkan kecalakaan
5) Bangunan tidak rentan menimbulkan penyakit
6) Bangunan gedung tidak mengganggu lingkungan sekitar
7) Bangunan gedung tidak terganggu lingkungan sekitar
B. Lantai
1) Lantai kedap air
2) Lantai rata
3) Lantai tidak licin
4) Lantai mudah dibersihkan
5) Lantai dalam keadaan bersih
C. Dinding
1) Dinding sebelah dalam berwarna terang
2) Dinding sebelah dalam rata
3) Dinding mudah dibersihkan
4) Dinding dalam keadaan bersih

D. Langit-langit
1) Langit-langit berwarna terang
2) Langit-langit mudah dibersihkan
3) Jarak langit-langit dari lantai minimal 2,5 meter
E. Atap
1) Atap kuat
2) Atap tidak bocor
3) Atap tidak memungkinkan dijadikan sarang serangga dan tikus.
F. Ventilasi
1) Terdapat ventilasi alami atau mekanis
2) Udara dalam ruangan tidak pengap
G. Pencahayaan
1) Pencahayaan dalam ruangan cukup terang
2) Pencahayaan tidak menimbulkan silau
H. Perlindungan terhadap serangga dan tikus
1) Lubang penghawaan terlindung rapat
2) Lubang pembuangan air limbah tertutup dan dilengkapi jeruji/saringan
3) Tempat penampungan air diberi tutup
4) Tempat penampungan air dibersihkan secara berkala
5) Saluran pembuangan air limbah mengalir dengan lancar
I. Penyediaan air bersih
1) Air bersih memenuhi syarat fisik ( tidak berasa, berbau dan berwarna)
2) Jumlah kuantitas air cukup
J. Kamar mandi dan jamban
1) Tersedia kamar mandi dan jamban
2) Kamar mandi bersih
3) Tersedia air dalam jumlah cukup
4) Dilengkapi dengan bahan pembersih (sabun, sikat, dll)
5) Lantai tidak licin
6) Lantai tidak tergenang air/miring kearang saluran pembuangan
7) Jamban menggunakan tipe minimal leher angsa
8) Jarak jamban dapat dijangkau atau berdekatan dengan bak penampungan air.
K. Tempat sampah
1) Tempat sampah terbuat dari bahan yang kuat
2) Tempat sampah kedap air
3) Tempat sampah mudah dibersihkan
4) Permukaan bagian dalam rata
5) Dilengkapi dengan tutup
L. Karyawan
1) Bertempramen baik
2) Tidak berpenyakit
3) Menggunakan pakaian kerja atau seragam
4) Pakaian dalam kondisi baik dan bersih

//////////////////

SANITASI TEMPAT-TEMPAT UMUM

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Definisi Tempat-Tempat Umum (TTU) adalah suatu tempat dimana umum (semua orang)
dapat masuk ke tempat tersebut untuk berkumpul mengadakan kegiatan baik secara insidentil
maupun terus menerus, (Suparlan 1977).
Tempat-tempat ibadah merupakan salah satu sarana tempat-tempat umum yang dipergunakan
untuk berkumpulnya masyarakat guna melaksanakan kegiatan ibadah. Masalah kesehatan
lingkungannya merupakan suatu masalah yang perlu di perhatikan dan ditingkatkan. Dalam
hal ini pengelola/pengurus tempat-tempat ibadah tersebut perlu dan sangat perlu untuk
diberikan pengetahuan tentang kesehatan lingkungan yang berhubungan dengan tempat-
tempat umum (tempat ibadah) guna mendukung upaya peningkatan kesehatan lingkungan
melalui upaya sanitasi dasar, pengawasan mutu lingkungan tempat umum, termasuk
pengendalian pencemaran lingkungan.

Masjid adalah suatu tempat termasuk fasilitasnya, dimana umum, pada waktu waktu
tertentu berkumpul untuk melakukan ibadah keagamaan Islam.

Masjid-masjid besar di Indonesia pada umumnya dibangun dengan konsep masjid berkubah
berbentuk setengah bola atau dome. Semestinya, pada saat merancang masjid, desain akustik
tidak boleh dikesampingkan karena berpengaruh terhadap kualitas bunyi yang diterima
pendengar diakibatkan dari suara dengung di dalam ruang masjid. Kegiatan yang sering
dilakukan di dalam masjid adalah kegiatan yang menimbulkan kejelasan penyampaian suara,
seperti sholat berjamaah dan ceramah agama.

Dasar pelaksanaan Penyehatan Lingkungan Masjid adalah Kep. Menkes


288/Menkes/SK/III/2003 tentang Pedoman Penyehatan Sarana dan Bangunan Umum.

Jadi sanitasi tempat-tempat umum adalah suatu usaha untuk mengawasi dan mencegah
kerugian akibat dari tempat-tempat umum terutama yang erat hubungannya dengan timbulnya
atau menularnya suatu penyakit.

Tempat-tempat umum merupakan tempat kegiatan bagi umum yang mempunyai tempat,
sarana dan kegiatan tetap yang diselenggarakan oleh badan pemerintah, swasta, dan atau
perorangan yang dipergunakan langsung oleh masyarakat (Adriyani, 2005).

Setiap aktifitas yang dilakukan oleh manusia sangat erat interaksinya dengan tempat-tempat
umum, baik untuk bekerja, melakukan interaksi sosial, belajar maupun melakukan aktifitas
lainnya.

Menurut Chandra (2006), tempat-tempat umum memiliki potensi sebagai tempat


terjadinya penularan penyakit, pencemaran lingkungan ataupun gangguan kesehatan
lainnya.Kondisi lingkungan tempat-tempat umum yang tidak terpelihara akan menambah
besarnya resiko penyebaran penyakit serta pencemaran lingkungan sehingga perlu dilakukan
upaya pencegahan dengan menerapkan sanitasi lingkungan yang baik.tempat-tempat umum
perlu dijaga sanitasinya, seperti halnya transportasi baik darat,air dan udara.Pasalnya,
tempat-tempat umum itu menjadi semacam indikator berbagai bidang, terutama sosial dan
ekonomi(Rosyadi,2002).tempat-tempat umum memiliki berbagai kegiatan yang sangat
penting. Salah satu hal utama dalam bidang sosial,tempat-tempat umum misalnya transportasi
air (pelabuhan) bisa dimanfaatkan sebagai tempat untuk memperoleh akses jalur transportasi
dari satu pulau ke pulau yang lainnya maupun dari satu negara ke negara yang lain. Dapat
dimungkinkan dari kegiatan tersebut, lingkungan pelabuhan akan tercemar dengan mudah
baik karena aktifitas manusia maupun karena faktor alam atau dari lingkungan itu sendiri.
Kondisi lingkungan yang telah tercemar dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan
terutama kepada masyarakat yang sering mengakses pelabuhan. Apabila hal ini dibiarkan
terus menerus maka akan terjadi permasalahan kesehatan yang cukup serius. Standar sanitasi
tempat-tempat umum dengan standar internasional harusnya lebih baik dari manajemen
sanitasi tempat-tempat umum pada umumnya guna mengantisipasi permasalahan kesehatan
lingkungan di tempat-tempat umum.

Jadi sanitasi tempat-tempat sangatlah penting dijaga sanitasinya agar tidak


menimbulkan berbagai masalah kesehatan,misalnya menimbulkan penyakit berbasis
lingkungan,untuk itu penulis terdorong untuk melakukan penulisan mengenai surveilans
epidemiologi agar mengubah pemikiran masyarakat akan arti dan kegunaan dari surveilans
epidemiologi.

B. TUJUAN

1. Tujuan umum

Untuk mengetahui tentang kesehatan lingkungan terutama sanitasi tempat-tempat umum.

2. Tujuan khusus
a) Untuk mengetahui sanitasi pada lingkungan yang memenuhi syarat kesehatan di
tempat-tempat umum

b) Untuk mengetahui sanitasi pengelolaan sampah yang memenuhi syarat kesehatan di


tempat-tempat umum

c) Untuk mengetahui sanitasi kualitas bangunan yang terpelihara dengan baik yang
memenuhi syarat kesehatan di tempat-tempat Umum

d) Untuk mengetahui jaminan rasa aman pada masyarakat pengunjung dan masyarakat
sekitarnya di tempat-tempat umum

e) Untuk mengetahui jaminan rasa nyaman pada masyarakat pengunjung dan masyarakat
sekitarnya di tempat-tempat umum

f) Untuk mengetahui jaminan rasa santai pada masyarakat pengunjung dan masyarakat
sekitarnya di tempat-tempat umum

g) Untuk mengetahui jaminan rasa terlindungi pada masyarakat pengunjung dan


masyarakat sekitarnya di tempat-tempat umum
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Sanitasi

Sanitasi adalah usaha kesehatan masyarakat yang menitikberatkan pada pengawasan terhadap
berbagai faktor lingkungan sedemikian rupa sehingga munculnya penyakit dapat dihindari.
Sehingga dapat dikatakan bahwa sanitasi adalah suatu usaha pengendalian faktor-faktor
lingkungan untuk mencegah timbulnya suatu penyakit dan penularannya yang disebabkan
oleh faktor lingkungan tersebut, sehingga derajat kesehatan masyarakat dapat optimal
(Depkes RI, 2002).

Sanitasi Tempat-Tempat Umum

Tempat-tempat umum memiliki potensi sebagai tempat terjadinya penularan penyakit,


pencemaran lingkungan, ataupun gangguan kesehatan lainnya. Pengawasan atau pemeriksaan
sanitasi terhadap tempat-tempat umum dilakukan untuk mewujudkan lingkungan tempat-
tempat umum yang bersih guna melindungi kesehatan masyarakat dari kemungkinan
penularan penyakit dan gangguan kesehatan lainnya (Chandra, 2007).

Sanitasi tempat-tempat umum, merupakan masalah kesehatan masyarakat yang cukup


mendesak. Karena tempat umum merupakan tempat bertemunya segala macam masyarakat
dengan segala penyakit yang dipunyai oleh masyarakat. Oleh sebab itu tempat umum
merupakan tempat menyebarnya segala penyakit terutama penyakit yang medianya makanan,
minuman, udara dan air. Dengan demikian sanitasi tempat-tempat umum harus memenuhi
persyaratan kesehatan dalam arti melindungi, memelihara, dan meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat (Mukono, 2005).

Definisi sanitasi menurut WHO adalah usaha pencegahan/ pengendalian semua faktor
lingkungan fisik yang dapat memberikan pengaruh terhadap manusia terutama yang sifatnya
merugikan/ berbahaya terhadap perkembangan fisik , kesehatan dan kelangsungan hidup
manusia.
Definisi Tempat-Tempat Umum (TTU) adalah suatu tempat dimana umum (semua orang)
dapat masuk ke tempat tersebut untuk berkumpul mengadakan kegiatan baik secara insidentil
maupun terus menerus, (Suparlan 1977).

Suatu tempat dikatakan tempat umum bila memenuhi kriteria :

1. Diperuntukkan masyarakat umum.

2. Mempunyai bangunan tetap/ permanen.

3. Tempat tersebut ada aktivitas pengelola,pengunjung/ pengusaha.

4. Pada tempat tersebut tersedia fasilitas :

a. Fasilitas kerja pengelola.

b. Fasilitas sanitasi, seperti penyediaan air bersih, bak sampah, WC/ Urinoir, kamar mandi,
pembuangan limbah.

Jadi sanitasi tempat-tempat umum adalah suatu usaha untuk mengawasi dan mencegah
kerugian akibat dari tempat-tempat umum terutama yang erat hubungannya dengan timbulnya
atau menularnya suatu penyakit. Untuk mencegah akibat yang timbul dari tempat-tempat
umum.

Usaha-usaha yang dilakukan dalam sanitasi tempat-tempat umum dapat berupa :

1. Pengawasan dan pemeriksaan terhadap factor lingkungan dan factor manusia yang
melakukan kegiatan pada tempat-tempat umum.

2. Penyuluhan terhadap masyarakat terutama yang menyangkut pengertian dan kesadaran


masyarakat terhadap bahaya-bahaya yang timbul dari tempat-tempat umum.

Peran sanitasi tempat-tempat umum dalam kesehatan masyarakat adalah usaha untuk
menjamin :

1. Kondisi fisik lingkungan TTU yang memenuhi syarat :

a. Kualitas kesehatan.

b. Kualitas sanitasi.

2. Psikologis bagi masyarakat :


a. Rasa keamanan (security) : bangunan yang kuat dan kokoh sehingga tidak menimbulkan
rasa takut bagi pengunjung.

b. Kenyamanan (confortmity) : misalnya kesejukkan.

c. Ketenangan (safety) : tidak adanya gangguan kebisingan, keramaian kendaraan.

Sedangkan yang disebut sanitasi tempat-tempat umum adalah suatau usaha untuk mengawasi
dan mencegah kerugian akibat dari tidak terawatnya tempat-tempat umum tersebut yang
mengakibatkan timbul dan menularnya berbagai jenis penyakit.

Sasasan khusus yang harus diberikan dalam pengawasn tempat-tempat umum meliputi :

1. Manusia sebagai pelaksana kegiatan (kebersihan secara umum maupun personal hygiene

2. Alat-alat kebersihan

3. Tempat kegiatan

Kenapa sanitasi di tempat-tempat umum sangat diperlukan ? :

1. Adanya kumpulan manusia yang berhubungan langsung dengan lingkungan

2. Kurangnya pengertian dari masyarakat mengenai masalah kesehatan

3. Kurangnya fasilitas sanitasi yang baik

4. Adanya kemungkinan besar terjadinya penularan penyakit

5. Adanya kemungkinan terjadinya kecelakaan

6. Adanya tuntutan physical dan mental confort

B. ASPEK PENTING DALAM PENYELENGGARAAN SANITASI TEMPAT-


TEMPAT UMUM

1. Aspek teknis/hukum (Peraturan dan perundang-undangan sanitasi)

2. Aspek sosial, yang meliputi pengetahuan tentang : kebiasaan hidup, adat istiadat,
kebudayaan, keadaan ekonomi, kepercayaan, komunikasi, dll
3. Aspek administrasi dan management, yang meliputi penguasaan pengetahuan tentang cara
pengelolaan STTU yang meliputi : Man, Money, Method, Material dan Machine

HAMBATAN YANG SANGAT SERING DIJUMPAI DALAM PELAKSANAAN


SANITASI DI TEMPAT-TEMPAT UMUM :

PENGUSAHA

1. Belum adanya pengertian dari para pengusaha mengenai peraturab per undang-undangn
yang menyangkut usha STTU dan kaitannya dengan usaha kesehtan masyarakat

2. Belum mengetahui / kesadaran mengenai pentingnya usaha STTU untuk menghindari


terjadinya kecelakaan atau penularan penyakit

3. Adanya sikap keberata dari pengusaha untuk memenuhi persyaratan-persyaratan karena


memerlukan biaya ekstra

4. Adanya sikap apatis dari masyarakat tenang adanya peraturan/persyaratan dari STTU

PEMERINTAH

1. Belum semua peraltan dimiliki oelh tenaga pengawas pada tingkat II dan kecamatan

2. Masih terbatasnya pengetahan petugas dalam melaksanakan pengawasan

3. Masih minimnya dana yang dialokasikan untuk pengawasan STTU

4. Belum semua kecamatan/tingkat II memiliki saran transportasi untuk melakukan


kegiatan pengawasan

LANGKAH-LANGKAH DALAM IMPLEMENTASI USAHA STTU

1. Identifikasi masalah (problem identification)

2. Pemeriksaan Sanitasi Tempat-Tempat Umum (sanitary inspection)


3. Follow Up

4. Evaluasi

5. Pencatatan dan pelaporan

C. JENIS-JENIS TEMPAT UMUM YANG SANGAT MEMERLUKAN


PENGAWASAN

* Hotel

* Restourant

* Kolam renang

* Pasar

* Bioskop

* tempat-tempat rekreasi

* tempat-tempat ibadah

* pertokoan

* Pemangkas rambut

* salon

* Stasiun kereta api atau bus

* rumah sakit

D. PEMERIKSAAN SANITASI TEMPAT-TEMPAT UMUM

1. Pemeriksaan Sanitasi Tempat Ibadah (MASJID DJAMIQ LEBAI SANDAR -


AMPENAN)

a. Pengertian Masjid
Masjid adalah suatu tempat termasuk fasilitasnya, dimana umum pada waktu-waktu tertentu
digunakan untuk melakukan ibadah keagamaan Islam.

b. Persyaratan Kondisi Masjid

1) Persyartan Kesehatan Lingkungan dan bangunan Umum :

a) Lokasi masjid tidak terletak di daerah banjir dan sesuai dengan perencanaan tata Kota
Ampenan

b) Bersih dan tertata rapi dan system drainase berfungsi dengan baik.

c) Tidak terdapat genangan air di lingkungan/ halaman masjid.

d) Terdapat pagar yang kuat dan terpelihara dengan baik.

e) Lantai masjid bersih, kuat, kedap air, tidak licin dan permukaanya rata.

f) Dinding masjid bersih berwarna terang dan permukaan yang selalu kontak dengan air
kedap air.

g) Atap ruangan masjid harus kuat, tidak tidak bocor serta tidak memungkinkan terjadinya
genangan air.

h) Langit-langit masjid harus memiliki tinggi dari lantai minimal 2,5 meter, kuat serta
berwarna terang.

i) Pencahayaan dalam ruangan masjid harus cukup terang.

j) Memiliki ventilasi yang dapat mengatur sirkulasi udara baik ventilasi alami maupun
buatan, sehingga kondisi ruangan menjadi terasa nyaman.

k) Alat sholat bersih dan tidak lembab, selalu dibersihkan dan dijemur secara periodic,
bebas dari kutu busuk dan serangga lainnya. sepanjang bagian depan shaf dipasang kain putih
yang bersih dengan lebar 30 cm2 yang digunakan untuk tempat bersujud.

2) Fasilitas Sanitasi :

a) Tersedia air bersih dalam jumlah yang cukup, kualitas air memenuhi persyaratan air
bersih atau air minum dan tersedia setiap saat, dan air wudhu keluar dari kran-kran khusus.
b) Air kotor/ limbah mengalir dengan lancar, saluran bersambung dengan saluran
pembuangan air kotor umum yang kedap air. Apabila tidak ada, ditampungan dalam bak yang
tertutup dan kedap air.

c) Tersedia tempat sampah yang tertutup, rapat, kedap air dan mudah dibersihkan, mudah
diangkat, jumlah dan kapasitas disesuaikan dengan kebutuhan, serta disediakan TPS yang
memenuhi syarat.

2. Pemeriksaan Sanitasi Tempat Umum (TERMINAL MANDALIKA - BERTAIS)

Terdapat beberapa terminologi tentang terminal. Berdasarkan Undang-Undang No. 14 Tahun


1992 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, terminal merupakan prasarana transportasi
jalan untuk barang serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum yang
merupakan satu wujud simpul jaringan transportasi. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.
41 Tahun 1993 Tentang angkutan jalan umum, terminal adalah sarana transportasi untuk
keperluan memuat dan menurunkan orang atau barang serta mengatur kedatangan dan
pemberangkatan kendaraan umum yang merupakan satu simpul jaringan transportasi.
Berdasarakan kedua terminologi diatas, terminal adalah prasarana transportasi jalan untuk
keperluan memuat dan menurunkan orang dan/atau barang serta mengatur kedatangan dan
pemberangkatan kendaraan umum, yang merupakan salah satu wujud simpul jaringan
transportasi (Kepmenhub 35/2003). Keberadaan terminal merupakan salah satu prasarana
utama dalam pelayanan angkutan umum. Keberadaan terminal berperan dalam menentukan
tingkat kinerja dari pelayanan angkutan umum dalam suatu wilayah (Menteri Pekerjaan
Umum, 2010).

Kategori Terminal

Terminal adalah bagian dari infrastruktur transportasi yang merupakan titik lokasi
perpindahan penumpang ataupun barang. Pada lokasi itu terjadi konektivitas antar lokasi
tujuan, antar modal, dan antar berbagai kepentingan dalam sistem transportasi dan
infrastruktur. Pengelolaan pada berbagai hal tersebut perlu diperhatikan dan dikembangkan
untuk pengembangan manajemen terminal. Kegiatan pengelolaan, regulasi (peraturan) dan
norma-norma yang disepakati akan menentukan perkembangan terminal secara terarah
(coach terminal).
Terminal dibagi beberapa kategori yang meliputi (Menteri Pekerjaan Umum, 2010):

- Terminal Penumpang adalah Prasarana Transportasi jalan untuk keperluan menurunkan dan
menaikan penumpang, perpindahan intra/atau moda transportasi serta mengatur kedatangan
pemberangkatan kendaraan angkutan penumpang umum. Terminal penumpang dapat
dikelompokan atas dasar tingkat penggunaan terminal kedalam tiga tipe sebagai berikut :

a. Terminal penumpang tipe A berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan antar
kota antar propinsi dan/atau angkutan lintas batas negara, angkutan antar kota dalam propinsi,
angkutan kota dan angkutan pedesaan.

b. Terminal penumpang tipe B berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan antar
kota dalam propinsi, angkutan kota dan/atau angkutan pedesaan.

c. Terminal penumpang tipe C berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan


pedesaan.

Fasilitas Sanitasi Terminal

Fasilitas sanitasi terminal dapat dikelompokkan atas fasilitas utama dan fasilitas pendukung,
semakin besar suatu terminal semakin banyak fasilitas yang bisa disediakan. Fasilitas-faslitas
tersebut antara lain (Menteri Pekerjaan Umum, 2010):

1. Tempat parkir kendaraan umum selama menunggu keberangkatan, termasuk di dalamnya


tempat tunggu dan tempat istirahat kendaraan umum.

2. Bangunan kantor terminal.

3. Tempat tunggu penumpang dan/atau pengantar.

4. Menara pengawas.

5. Pelataran parkir kendaraan pengantar dan/atau taksi.

6. Kamar kecil/toilet.

Persyaratan Minimum Sanitasi Terminal


Secara garis besar persyaratan sanitasi terminal dikelompokkan menjadi 2 bagian besar, yaitu
bagian luar terdiri dari tempat parkir, pembuangan sampah, dan penerangan; dan bagian
dalam terdiri dari gedung perkantoran, ruang tunggu, jamban dan urinoir, tempat cuci tangan,
pembuangan air hujan dan air kotor, pemadam kebakaran, dan kotak P3K yang
dikelompokkan menjadi kelompok kecil, antara lain (Chandra, 2007):

Persyaratan Minimum Sanitasi Terminal Bagian Luar :

Tempat Parkir

Fasilitas parkir adalah lokasi yang ditentukan sebagai tempat pemberhentian yang bersifat
tidak sementara untuk melakukan kegiatan pada suatu kurun waktu. Tujuan fasilitas parkir
adalah memberikan tempat istirahat kendaraan (Direktorat Perhubungan Darat, 1998).

Persyaratan tempat parkir pada terminal (Chandra, 2007):

a. Terdapat tempat parkir kendaraan umum yang bersih.

b. Tidak terdapat sampah berserakan, genangan air, dan lain-lain.

Pembuangan Sampah

Menurut definisi WHO, sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak
disenangi, atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi
dengan sendirinya.

Pembagian Sampah

Sampah padat dapat dibagi menjadi beberapa kategori, seperti berikut (Chandra, 2007):

1. Berdasarkan zat kmia yang terkandung di dalamnya.

a. Organik, misalnya, sisa makanan, daun, sayur, dan buah.

b. Anorganik, misalnya, logam, pecah-belah, abu, dan lain-lain.

2. Berdasarkan dapat atau tidaknya dibakar.


a. Mudah terbakar, misalnya, kertas plastik, daun kering, kayu.

b. Tidak mudah terbakar, misalnya, kaleng, besi, gelas, dan lain-lain.

3. Berdasarkan dapat atau tidaknya membusuk.

a. Mudah membusuk, misalnya, sisa makanan, potongan daging, dan sebagainya.

b. Sulit membusuk, misalnya, plastik, karet, kaleng, dan sebagainya.

4. Berdasarkan ciri atau karakteristik sampah.

a. Garbage, terdiri atas zat-zat yang mudah membusuk dan dapat terurai dengan cepat,
khususnya jika cuaca panas. Proses pembusukkan sering kali menimbulkan bau busuk.
Sampah jenis ini dapat ditemukan di tempat pemukiman, rumah makan, rumah sakit, pasar,
dan sebagainya.

b. Rubbish, terbagi menjadi dua:

1) rubbish mudah terbakar terdiri atas zat-zat organik, misalnya, kertas, kayu, karet, daun
kering, dan sebagainya.

2) rubbish tidak mudah terbakar terdiri atas za-zat anorganik, misalnya, kaca, kaleng, dan
sebagainya.

c. Ashes, semua sisa pembakaran dan industri.

d. Street sweeping, sampah dari jalan atau trotoar akibat aktivitas mesin atau manusia.

e. Dead animal, bangkai binatang besar (anjing, kucing, dan sebagainya) yang mati akibat
kecelakaan atau secara alami.

f. House hold refuse, atau sampah campuran (misalnya, garbage, ashes, rubbish) yang
berasal dari perumahan.

g. Abandoned vehicle, berasal dari bangkai kendaraan.

h. Demolision waste, berasal dari hasil sisa-sisa pembangunan gedung.


i. Sampah industri, berasal dari pertanian, perkebunan, dan industri.

j. Santage solid, terdiri atas benda-benda solid atau kasar yang biasanya berupa zat organik.

k. Sampah khusus, atau sampah yang memerlukan penanganan khusus seperti kaleng dan zat
radioaktif.

Pengelolaan Sampah

Ada beberapa tahapan di dalam pengelolaan sampah padat yang baik, diantaranya, tahap
pengumpulan dan penyimpanan di tempat sumber; dan tahap pengangkutan (Chandra, 2007).

Tahap Pengumpulan dan Penyimpanan di Tempat Sumber.

Sampah yang ada di lokasi sumber (kantor, rumah tangga, hotel, terminal dan sebagainya)
ditempatkan dalam tempat penyimpanan sementara, dalam hal ini tempat sampah. Sampah
basah dan sampah kering sebaiknya dikumpulkan dalam tempat yang terpisah untuk
memudahkan pemusnahannya.

Adapun tempat penyimpanan sementara (tempat sampah) yang digunakan harus memenuhi
persyaratan berikut ini:

a. Konstruksi harus kuat dan tidak mudah bocor.

b. Memiliki tutup dan mudah dibuka tanpa mengotori tangan.

c. Ukuran sesuai sehingga mudah diangkat oleh satu orang.

Hubungan Sampah dan Kesehatan Lingkungan

Pengelolaan sampah mempunyai pengaruh negatif terhadap masyarakat dan lingkungan yang
tampak pada 4 aspek (Mukono, 2005):

a. Aspek kesehatan.

1) Sampah dapat memberikan tempat tinggal bagi vektor penyakit seperti: serangga, tikus,
cacing, dan jamur.
2) Dari vektor yang tersebut di atas dapat menimbulkan penyakit antara lain:

a) Diare, kholera, typus, DHF (Dengue Haemorrhagic Fever).

b) Pes, murine typus.

c) Penyakit kulit dan candidiasis.

d) Taenia.

b. Aspek lingkungan.

1) Estetika lingkungan.

2) Penurunan kualitas udara.

3) Pembuangan sampah ke badan air akan menyebabkan pencemaran air.

c. Aspek sosial masyarakat.

1) Pengelolaan sampah yang kurang baik dapat mencerminkan status keadaan sosial
masyarakat.

2) Keadaan lingkungan yang kurang saniter dan estetika akan menurunkan hasrat turis untuk
berkunjung.

Persyaratan pembuangan sampah pada terminal (Chandra, 2007):

1. Tersedianya tempat pengumpulan sampah sementara sebelum dibuang.

2. Tempat pengumpulan sampah harus tertutup dan kedap air.

Persyaratan Minimum Sanitasi Terminal Bagian Dalam :

Ruang Tunggu

Bagi para calon penumpang bus, selama menungggu keberangkatan, keberadaan ruang
tunggu yang nyaman dengan berbagai ruang penunjang yang informatif sangatlah
didambakan. Dengan ruang tunggu yang terpadu dengan ruang-ruang penunjang lainnya
tentu menyebabkan para calon penumpang lebih bisa menikmati suasana terminal dengan
nyaman dan beraktivitas dengan lebih efisien. Oleh sebab itu penciptaann ruang tunggu
terminal yang bisa menjawab pemikiran-pemikiran di atas adalah dengan menampilkan
sebuah ruang tunggu yang meningkatkan pelayanan publik dan dapat mengikis image ruang
tunggu terminal yang terkesan kurang aman, sumpek, gerah dan kumuh. Penciptaan ini
bertujuan untuk menciptakan/mendesain suatu interior ruang tunggu terminal yang
memanfaatkan penerapan warna dan bentuk-bentuk fasilitas yang mengesankan suatu interior
ruang tunggu terminal yang modern namun masih mengangkat krakter lokal daerah (

Persyaratan ruang tunggu terminal (Chandra, 2007):

1. Ruangan bersih.

2. Tempat duduk bersih dan bebas dari kutu busuk.

3. Penerangan yang cukup dan tidak menyilaukan.

4. Tersedia tempat sampah dan terbuat dari benda yang kedap air.

5. Lantai terbuat dari bahan kedap air, tidak licin, dan mudah dibersihkan.

(Padmanaba dkk ,2010).

Jamban dan Urinoir (Pengelolaan Kotoran Manusia)

Dalam ilmu kesehatan lingkungan dari berbagai jenis kotoran manusia, yang lebih
dipentingkan adalah tinja (feces) dan air seni (urine) karena kedua bahan buangan ini
memiliki karakteristik tersendiri dan dapat menjadi sumber penyebab timbulnya berbagai
macam penyakit saluran pencernaan (Suparmin, 2002).

Mengingat kuantitas dan karakteristik tinja yang dihasilkan manusia, maka diperlukan teknik
pembuangan yang memadai agar tinja tidak menimbulkan masalah kenyamanan ataupun
kesehatan bagi manusia.

BAB III

PENUTUP
KESIMPULAN

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :

1. Beberapa masalah yang ditemukan pada program Kesling antara lain, belum
optimalnya kegiatan pengawasan sanitasi tempat-tempat umum, belum optimalnya
pemeriksaan terminal, serta belum berjalannya kegiatan pengawasan sanitasi tempat-
tempat umum.
2. Prioritas masalah yang didapatkan pada program Kesehatan lingkungan adalah
belum optimalnya kegiatan pendataan dan pengawasan sanitasi tempat-tempat umum.
3. Penyebab masalah belum optimalnya kegiatan tersebut antara lain kurangnya
jumlah petugas, tidak tersedianya formulir yang lengkap dan peralatan pengukuran
kualitas lingkungan, tidak tersedianya pedoman umum, serta belum adanya alokasi
dana khusus untuk kugiatan.
4. Evaluasi terhadap pelaksanaan rekomendasi tidak dapat dilakukan karena
keterbatasan waktu.

SARAN

1. Sebaiknya Kepala Terminal memberdayaan petugas lain untuk membantu


petugas Kesling dalam pelaksanan kegiatan pendataan dan pengawasan sanitasi
Tempat-Tempat Umum.
2. Petugas sanitasi agar dapat memanfaatkan sumber daya serta peralatan yang
ada secara optimal untuk menunjang kegiatan ini.

DAFTAR PUSTAKA
Hilal, Nur.2008. Penyehatan Tanah dan Pengelolaan Ssampah Padat. JKL Purwokerto.
Aboejoewono, A. 1985. Pengelolaan Sampah Menuju ke Sanitasi Lingkungan dan
Permasalahannya.

Candra Dermawan, 2006, Artikel Iptek - Bidang Teknologi Transportasi ITS: Sarana
Transportasi Lalu Lintas Darat Masa Depan.

Sanitasi Tempat-Tempat Umum. www. Google. Com

Masjid.

Terminal bus.

///////////////////

PEMERIKSAAN INSPEKSI SANITASI TEMPAT-TEMPAT UMUM Definisi sanitasi


menurut WHO adalah usaha pencegahan/ pengendalian semua faktor lingkungan fisik yang
dapat memberikan pengaruh terhadap manusia terutama yang sifatnya merugikan/ berbahaya
terhadap perkembangan fisik , kesehatan dan kelangsungan hidup manusia. Definisi Tempat-
Tempat Umum (TTU) adalah suatu tempat dimana umum (semua orang) dapat masuk ke
tempat tersebut untuk berkumpul mengadakan kegiatan baik secara insidentil maupun terus
menerus, (Suparlan 1977). Suatu tempat dikatakan tempat umum bila memenuhi kriteria :
1. Diperuntukkan masyarakat umum. 2. Mempunyai bangunan tetap/ permanen.
3. Tempat tersebut ada aktivitas pengelola,pengunjung/ pengusaha. 4. Pada tempat tersebut
tersedia fasilitas : a. Fasilitas kerja pengelola. b. Fasilitas sanitasi, seperti penyediaan air
bersih, bak sampah, WC/ Urinoir, kamar mandi, pembuangan limbah. Jadi sanitasi tempat-
tempat umum adalah suatu usaha untuk mengawasi dan mencegah kerugian akibat dari
tempat-tempat umum terutama yang erat hubungannya dengan timbulnya atau menularnya
suatu penyakit. Untuk mencegah akibat yang timbul dari tempat-tempat umum. Usaha-usaha
yang dilakukan dalam sanitasi tempat-tempat umum dapat berupa : 1. Pengawasan dan
pemeriksaan terhadap factor lingkungan dan factor manusia yang melakukan kegiatan pada
tempat-tempat umum. 2. Penyuluhan terhadap masyarakat terutama yang menyangkut
pengertian dan kesadaran masyarakat terhadap bahaya-bahaya yang timbul dari tempat-
tempat umum. Peran sanitasi tempat-tempat umum dalam kesehatan masyarakat adalah usaha
untuk menjamin : 1. Kondisi fisik lingkungan TTU yang memenuhi syarat : a. Kualitas
kesehatan. b. Kualitas sanitasi. 2. Psikologis bagi masyarakat : a. Rasa keamanan
(security) : bangunan yang kuat dan kokoh sehingga tidak menimbulkan rasa takut bagi
pengunjung. b. Kenyamanan (confortmity) : misalnya kesejukkan. c. Ketenangan (safety) :
tidak adanya gangguan kebisingan, keramaian kendaraan. A. Pemeriksaan Sanitasi
Tempat-Tempat Umum 1. Pemeriksaan Sanitasi Tempat Ibadah (Masjid) a. Pengertian
Masjid Masjid adalah suatu tempat termasuk fasilitasnya, dimana umum pada waktu-waktu
tertentu digunakan untuk melakukan ibadah keagamaan Islam. b. Persyaratan Kondisi
Masjid 1) Persyartan Kesehatan Lingkungan dan bangunan Umum : a) Lokasi masjid
tidak terletak di daerah banjir dan sesuai dengan perencanaan tata Kota Yogyakarta.
b) Bersih dan tertata rapi dan system drainase berfungsi dengan baik. c) Tidak terdapat
genangan air di lingkungan/ halaman masjid. d) Terdapat pagar yang kuat dan terpelihara
dengan baik. e) Lantai masjid bersih, kuat, kedap air, tidak licin dan permukaanya rata.
f) Dinding masjid bersih berwarna terang dan permukaan yang selalu kontak dengan air
kedap air. g) Atap ruangan masjid harus kuat, tidak tidak bocor serta tidak memungkinkan
terjadinya genangan air. h) Langit-langit masjid harus memiliki tinggi dari lantai minimal
2,5 meter, kuat serta berwarna terang. i) Pencahayaan dalam ruangan masjid harus cukup
terang. j) Memiliki ventilasi yang dapat mengatur sirkulasi udara baik ventilasi alami
maupun buatan, sehingga kondisi ruangan menjadi terasa nyaman. k) Alat sholat bersih
dan tidak lembab, selalu dibersihkan dan dijemur secara periodic, bebas dari kutu busuk dan
serangga lainnya. sepanjang bagian depan shaf dipasang kain putih yang bersih dengan lebar
30 cm2 yang digunakan untuk tempat bersujud. 2) Fasilitas Sanitasi : a) Tersedia air
bersih dalam jumlah yang cukup, kualitas air memenuhi persyaratan air bersih atau air minum
dan tersedia setiap saat, dan air wudhu keluar dari kran-kran khusus. b) Air kotor/ limbah
mengalir dengan lancar, saluran bersambung dengan saluran pembuangan air kotor umum
yang kedap air. Apabila tidak ada, ditampungan dalam bak yang tertutup dan kedap air.
c) Tersedia tempat sampah yang tertutup, rapat, kedap air dan mudah dibersihkan, mudah
diangkat, jumlah dan kapasitas disesuaikan dengan kebutuhan, serta disediakan TPS yang
memenuhi syarat. 2. Pemeriksaan Sanitasi Pasar a. Pengertian Pasar Pasar adalah suatu
tempat yang terdiri dari pelataran terbuka dan sebagian lagi bangunan-bangunan yang
digunakan untuk menjual dan meragakan barang-barang dagangan kepada masyarakat.
Macam-macam Pasar : Pasar dapat dibedakan berdasarkan bentuk, letak,jenis barang yang
diperdagangkan dan waktu dibukanya. 1) Berdasarkan Bentuk Berdasarkan bentuknya
pasar dibedakan menjadi pasar terbuka dan pasar tertutup. 2) Berdasarkan Letak
a) Pasar Kota, yaitu pasar-pasar yang terletak di ibukota provinsi, kabupaten, kecamatan,
atau pusat pemerintah. Umumnya dibuka setiap hari. b) Pasar Desa, yaitu pasar-pasar yang
terletak di desa. Umumnya dibuka pada hari-hari tertentu saja. 3) Berdasarkan Barang
yang diperdagangkan a) Pasar Hewan, yaitu pasar yang khusus untuk menjual hewan.
b) Pasar Kembang, yaitu pasar yang khusus menjual bunga. c) Pasar kelontong, yaitu
pasar yang menjual barang-barang kelontong. d) Pasar biasa/umum, yaitu pasar yang
menjual berbagai macam barang dagangan (campuran). 4) Berdasarkan Waktu dibukanya
a) Pasar pagi, yaitu pasar yang dibuka pada pagi hari saja antara jam 05.30 s/d 12.00.
b) Pasar Sore, yaitu pasar yang hanya dibuka pada sore hari saja antara jam 14.00 s/d 18.00.
c) Pasar Malam, yaitu pasar yang hanya dibuka pada malam hari saja setelah jam 18.00.
b. Hubungan Pasar dengan Kesehatan Manusia Pasar perlu dilakukan pengawassan dan
pemeriksaan sanitasi kesehatan lingkungannya karena baik secara langsung maupun tidak
langsung pasar dapat berpengaruh terhadap kesehatan lingkungan dan manusia. Adapun
hubungan pasar dengan kesehatan manusia adalah: 1) Pasar merupakan tempat yang
paling baik sebagai tempat penularan penyakit melalui : a) Droplet Infection, percikan
ludah, seperti TBC paru, influenza, dsb. b) Direct Contact (penularan langsung), missal
karena padatnya pasar para pengunjung berdesak-desakan sehingga terjadi sentuhan maka
akan terjadi penularan secara langsung dari penderita penyakit kulit seperti rabies, kusta,
gudik, dsb. c) Indirect Contact (penularan tidak langsung), yaitu melalui air, alat makan,
piring, sendok untuk mengambil jajanan, dsb. 2) Pasar yang kurang diperhatikan
kebersihannya, seperti pembuangan sampah dan limbah, akan menjadi tempat yang baik bagi
berkembangbiaknya vector penyakit. c. Persyaratan Kondisi Pasar 1) Persyaratan
Kesehatan Lingkungan dan Bangunan Umum a) Lokasi pasar tidak terletak di daerah
banjir dan sesuai dengan perencanaan tata kota Yogyakarta. b) Bersih dan tertata rapi dan
system drainase berfungsi dengan baik. c) Tidak terdapat genangan air di
lingkungan/halaman pasar. d) Susunan/ tata ruang bangunan diatur sedemikian rupa
sehingga lalu lintas orang lancar, permukaan bangunan tempat jualan rata, miring dan lebih
tinggi dari lantai. e) Lantai tidak licin, bersih terbuat dari bahan yang cukup kuat, kedap
air dan permukaannya rata. 2) Fasilitas Sanitasi a) Air bersih tersedia dengan
jumlah yang cukup dan memenuhi persyartan fisik. b) Tersedia jamban bagi para
pedagang dan pengunjung, yang bersih dan terpelihara. Jamban terhubung dengan saluran air
kotor kota atau septic tank. c) Pembuangan limbah disalurkan melalui saluran tertutup,
kedap air dan air limbah mangalir lancar. d) Tempat pembuangan sampah terbuat dari
bahan yang kuat, tahan karat, kedap air dan tertutup. Permukaan dalam rata dan halus.
Tersedia tempat sampah dalam jumlah yang cukup dan TPS yang memenuhi syarat.
3) Lain-lain a) Tersedia alat pembersih dengan jumlah yang cukup dan berfungsi
dengan baik. b) Tersedia kotak P3K dengan obat-obatan yang masih dalam keadaan baik.
c) Tersedia alat pemadam kebakaran yang berfungsi baik dan mudah dijangkau serta
terdapat penjelasan tentang cara penggunaannya. d) Tersedia alat pengeras suara untuk
memberikan penerang/ pengumuman dan masih berfungsi dengan baik. 3. Pemeriksaan
Sanitasi Hotel a. Pengertian Hotel Hotel adalah salah satu jenis akomodasi yang
mempergunakan sebagian atau keseluruhan bagian untuk jasa pelayanan penginapan,
penyedia makanan dan minuman serta jasa lainnya bagi masyarakat umum yang dikelola
secara komersil. b. Persyaratan Sanitasi Hotel Melati: Berikut beberapa persyaratan sanitasi
kesehatan yang perlu diperhatikan oleh pihak perhotelan : 1) Persyaratan kesehatan
Lingkungan dan bangunan Hotel : a) Terhindar dari pencemaran kimia, fisika dan
pencemaran bakteri. Tidak terletak di daerah banjir, Lingkungan bersih. b) Tidak
memungkinkan sebagai tempat bersarang atau tempat perkembangbiakan serangga dan tikus,
dapat mencegah masuk dan berkembangbiaknya binatang pengganggu lainnya.
c) Berpagar kuat. d) Bangunan kokoh/ kuat. e) Penggunaan ruangan dipergunakan
sesuai ddengan fungsinya. f) Konstruksi lantai bersih, bahan kuat, kedap air dan
permukaan rata, tidak licin, bagian yang selalu berkontak dengan air dibuat miring kearah
saluran pembuangan air agar tidak berbentuk genangan air. g) Dinding bersih permukaan
yang selalu berkontak dengan air harus kedap air. Permukaan bagian dalam mudah
dibersihkan. Berwarna terang. h) Atap kuat dan tidak bocor, langit-langit tinggi dari lantai
minimal 2,5 meter. i) Pintu dapat dibuka dan ditutup serta dikunci dengan baik.
j) Pencahayaan Ruang: 1) Untuk kegiatan dengan resiko kecelakaan tinggi > 300 lux.
2) Lampu tamu > 60 lux. 3) Lampu tidur 5 lux. 4) Lampu baca > 100 lux
5) Lampu relax >30 lux 2) Persyaratan kesehatan kamar Ruang Hotel : a) Umum
a. Kondisi ruangan tidak pengap dan berbau bebas dari kuman-kuman pathogen kadar gas
beracun tidak melebihi nilai ambang batas (NAB). b. Tingkat kebisingan tidak tidak
melebihi persyaratan (kamar tidur ). c. Khusus kamar tidur bersih peralatan ditata rapi.
Suhu 18-28C kelembaban 40-70 %. d. Dinding ,pintu, jendela yang tembus pandang atau
cahaya yang dilengkapi dengan tirai. b) Ruang istirahat karyawan : a. Bersih
b. Tersedia jamban, kamar mandi dan peturasan yang terpisah untuk karyawan pria dan
wanita. c. Ruang istirahat karyawan pria dan wanita terpisah. d. Tersedia lemari atau
locker. e. Kamar mandi, jamban dan peturasan bersih. f. Aliran air bersih dan lancar.
g. Sarana pembuangan air limbah tertutup. h. Perbandingan jumlah karyawan dengan
jumlah minimal kamar mandi, jamban dan peturasan tepat. i. Kamar lena atau kamar
ganti bersih, udara ruang segar, tersedia lemari. c) Gudang Tempat penyimpanan peralatan
atau perabotan hotel dan tempat umum penyimpanan peralatan dapur, kantin, serta peralatan
restoran harus dipisah. d) Pengelolaan sampah (Tempat Sampah) a) Tempat sampah
terbuat dari bahan yang kuat, ringan, tahan karat dan kedap air. b) Permukaan bagian
dalam halus dan rata. c) Mempunyai tutup yang mudah ditutup atau dibuka tanpa
mengotori tangan. d) Jumlah dan volume tempat sampah sesuai dengan produksi sampah
per hari. e) Mudah diisi dan dikosongkan. f) Sampah dari setiap ruang diangkut setiap
hari. e) Adapun persyaratan yang harus dipenuhi berkaitan dengan karyawan antara lain :
a) Karyawan dilengkapi dengan pakaian kerja yang bersih dan utuh. b) Memiliki surat
keterangan dari dokter yang masih berlaku. c) Memiliki sertifikat kursus penyehatan
makanan bagi petugas pengelola makanan. Untuk hotel berbintang telah menjalani
pemeriksaan rectal swab bagi penjamah makanan. f) Dapur a) Luas dapur sekurang-
kurangnya 40 % dari ruang makan atau 27 % dari luas bangunan, permukaan lantai dibuat
cukup landai kea rah saluran pembuangan air limbah. b) Permukaan langit-langit harus
menutup seluruh atap ruang dapur, permukaan rata, berwarna terang dan mudah dibersihkan.
c) Penghawan dilengkapi dengan alat pengeluaran udara panas maupun bau-bauan yang
dipasang setinggi 2 meter dari lantai dan kapasitasnya disesuaikan dengan luas dapur.
d) Tungku dapur dilengkapi dengan sangkup asap, alat perangkap asap, cerobong asap,
saringan dan saluran pengumpul lemak dan semua terletak di bawah sangkup asap.
e) Pintu yang berhubungan dengan halaman luar dibuat rangkap, dengan pintu bagian luar
membuka ke arah luar. Daun pintu bagian dalam dilengkapi dengan alat pencegah masuknya
serangga yang dapat menutup sendiri. f) Ruang dapur paling sedikit terdiri dari : tempat
pencucian peralatan, penyimpanan bahan makanan, pengelolaan, persiapan dan administrasi.
g) Intensitas pencahayaan alam maupun buatan minimal 100 foot candle. h) Pertukaran
udara sekurang-kurangnya 15 kali perjam untuk menjamin kenyamanan kerja di dapur,
menghilangkan asap dan debu. i) Ruang dapur hrus bebas dari serangga, tikus dan hewan
lainnya. j) Tersedia sedikitnya meja peracikan, peralatan, lemari, rak-rak peralatan, bak-
bak pencucian yang berfungsi dan terpelihara dengan baik serta tidak boleh berhubungan
dengan jamban/ WC, peturasan/urinoir kamar mandi dan tempat tinggal. g) Ruang Makan
a) Setiap kursi tersedia ruang minimal 0,85 m2, pintu yang berhubungan dengan halaman
dibuat rangkap dan bagian luar membuka kea rah luar. b) Meja, kursi dan taplak meja
dalam keadaan bersih. c) Tempat untuk menyediakan /peragaan makanan jadi dibuat
fasilitas khusus yang menjamin tidak tercemarnya makanan. d) Tidak mengandung gas-
gas beracun sesuai dengan ketentuan dan tidak mengandung angka kuman lebih dari 5
juta/gram, serta tidak berhubungan langsung dengan jamban/WC, peturasan, urinoir, kamar
mandi dan tempat tinggal. e) Lantai, dinding dan langit-langit harus selalu bersih, warna
terang, set kursi yang bersih dan tidak mengandung kutu busuk/kepinding. h) Gudang
bahan makanan a) Jumlah bahan makanan yang disimpan disesuaikan dengan ukuran
gudang, tidak menyimpan bahan lain selain makanan. b) Pencahayaan minimal 4 foot
candle pada bidang setinggi lutut. c) Dilengkapi dengan rak-rak tempat penyimpanan
makanan, ventilasi yang menjamin sirkulasi udara serta dilengkapi dengan pelindung
terhadap serangga. 4. Pemeriksaan Sanitasi Salon a. Pengertian Salon Kecantikan Salon
adalah sarana pelayanan untuk memelihara kecantikan khususnya memelihara rambut dan
kulit dengan menggunakan kosmetik, manual, preparataif, aparatif dan dekoratif tanpa
melakukan operasi. Jenis-jenis salon kecantikan menurut pelayanan yang dilakukan ada 3
macam, yaitu : 1) Salon kecantikan rambut. 2) Salon kecantikan kulit. 3) Salon
kecantikan rambut dan kulit. Menurut jenis bahan kosmetik yang digunakan ada 3 jenis, yaitu
: 1) Salon kecantikan modern. 2) Salon kecantikan tradisional. 3) Salon kecantikan
kombinasi. Menurut tipenya salon diklasifikasikan menjadi 4 tipe, yaitu : 1) Salon
kecantikan tipe D Salon tipe D merupakan usaha kecil-kecilan dengan ciri fisik :
a) Rumah sendiri/ tempat lain dengan ukuran minimal 9 m2. b) Jumlah kursi perawatan
untuk rambut maksimal 4 kursi, kulit maksimal 2 dipan. Jenis kegiatan yang dapat dilayani
pada salon ini adalah : a) Tata kecantikan rambut. b) Pencucian kulit kepala/rambut.
c) Pemangkasan/pemotongan dan pengeringan rambut. d) Penataan rambut.
e) Pengeritingan. f) Pengecatan (tanpa pemucatan). g) Perawatan kulit kepala/
rambut (creambath). h) Tata kecantikan kulit wajah, tangan (menikur) dan kaki (pedikur)
tanpa kelainan. i) Merias wajah sehari-hari (pagi,siang,sore). 2) Salon kecantikan tipe
C Salon tipe C memiliki ciri fisik : a) Rumah sendiri/ tempat lain dengan ukuran minimal
30 m2. b) Jumlah kursi perawatan untuk rambut maksimal 6 kursi, kulit maksimal 3 dipan.
Jenis kegiatan yang dapat dilayani pada salon ini adalah : a) Tata kecantikan rambut.
b) Pencucian kulit kepala/rambut. c) Pemangkasan/pemotongan dan pengeringan
rambut. d) Penataan rambut. e) Pengeritingan. f) Pengecatan (dengan pemucatan).
g) Perawatan kulit kepala/ rambut (creambath). h) Pelurusan. i) Perawatan rambut
dengan kelainan ringan (kebotakan, ketombe, kerontokkan ). j) Tata kecantikan
k) Merawat kulit wajah, tangan (menikur) dan kaki (pedikur) dengan kelainan.
l) Merias wajah sehari-hari (pagi,siang,sore), panggung, disko, karakter, cacat dan usia
lanjut. m) Penambahan buku mata, n) Menghilangkan bulu-bulu yang tidak dikehendaki.
o) Perawatan kulit dengan menggunakan alat listrik sederhana (2 jenis seperti frimator dan
sauna ). 3) Salon Kecantikan tipe B Salon kecantikan kulit atau rambut tipe B memberikan
pelayanan kecantikan dan rambut dengan perawatan manual, preparative, aparatif dan
dekoratif. Disini alat kecantikan (alat listrik) yang digunakan masih terbatas. Salon ini
diselenggarakan dengan manajemen yang baik yang memiliki pimpinan, staf administrasi dan
staf teknik, memiliki cirri-ciri fisik, yaitu : a) Rumah sendiri/ tempat lain dengan ukuran
minimal 50 m2. b) Jumlah kursi perawatan untuk rambut maksimal 8 kursi, kulit
maksimal 4 dipan. Jenis kegiatan yang dapat dilayani pada salon ini adalah : a) Tata
kecantikan rambut. b) Pencucian kulit kepala/rambut. c) Pemangkasan/pemotongan dan
pengeringan rambut. d) Penataan rambut. e) Pengeritingan. f) Pengecatan (dengan
pemucatan). g) Perawatan kulit kepala/ rambut (creambath). h) Pelurusan.
i) Perawatan rambut dengan kelainan ringan (kebotakan, ketombe, kerontokkan ).
j) Penambahan rambut kepala. k) Tata kecantikan l) Merawat kulit wajah, tangan
(menikur) dan kaki (pedikur) dengan kelainan. m) Merias wajah sehari-hari
(pagi,siang,sore), panggung, disko, karakter, cacat dan usia lanjut. n) Penambahan buku
mata, o) Menghilangkan bulu-bulu yang tidak dikehendaki. p) Perawatan kulit dengan
menggunakan alat listrik q) Perawatan badan (body massage). 4) Salon Kecantikan tipe
A Salon kecantikan tipe A merupakan tempat pusat pelayanan kecantikan kulit dan rambut
(beauty center) yang member pelayanan perawatan lengkap baik manual, preparative, aparatif
dan dekoratif ditambah perawatan khusus seperti obesitas, diet dan seram. Peralatan listrik
yang digunakan lebih lengkap. Salon ini dikelola secara institusional dengan manajemen
yang baik seperti tipe B, tetapi disini lebih lengkap terutama staf ahli teknis. Jenis perawatan
yang diberikan pada tipe A : a) Tata kecantikan sama dengan salon kecantikan tipe B.
b) Tata kecantikan kulit seperti pada salon kecantikan tipe B ditambah perawatan yang
lebih luas baik secara tradisional Indonesia (empiric timur) maupum modern (empiric barat)
seperti : Akupresur, aroma terapi, reflekzone. c) Perawatan dengan alat listrik :
helioterapy, hydrotherapy, mekanoterapy dan elektroterapi. d) Perawatan tradisional yang
spesifik seperti : perawatanpengantin, ibu hamil, ibu setelah melahirkan, dll. b. Persyaratan
Kondisi Salon 1) Persyaratan Kesehatan dan Bangunan 2) Fasilitas Sanitasi 3) Alat
kerja dan Bahan 4) Karyawan 5) Lain-lain 5. Pemeriksaan Sanitasi Rumah makan
atau Restoran. a. Pengertian Rumah Makan/ Restoran Rumah makan merupakan
salah satu tempat pegelolaan makanan (TPM) yang menetap dengan segala peralatan dan
perlengkapannya yang digunakan untuk proses membuat, menyimpan, menyajikan dan
menjual makanan minuman bagi umum. Selain itu dikatagorikan sebagai rumah makan bila
luas ruang makan minimal 25 meter persegi serta mempunyai kapasitas tempat duduk
minimal 10 kursi. Persyaratan Hygiene Sanitasi adalah ketentuan-ketentuan teknis
yang ditetapkan terhadap produk rumah makan dan restoran, personel dan perlengkapannya
yang meliputi persyaratan bakteriologis, kimia dan fisika. Fasilitas sanitasi adalah sarana fisik
bangunan dan perlengkapannya digunakan untuk memelihara kualitas lingkungan atau
mengendalikan faktor-faktor lingkungan fisik yang dapat merugikan kesehatan manusia
antara lain sarana air bersih, jamban, peturasan, saluran limbah, tempat cuci tangan, bak
sampah, kamar mandi, lemari pakaian kerja (locker),peralatan pencegahan terhadap lalat,
tikus dan hewan lainnya serta peralatan kebersihan; b. Persyaratan hygiene sanitasi yang
harus dipenuhi meliputi : a) Persyaratan lokasi dan bangunan b) Persyaratan fasilitas
sanitasi; c) Persyaratan dapur, ruang makan dan gudang makanan; d) Persyaratan
bahan makanan dan makanan jadi; e) Persyaratan pengolahan makanan f) Persyaratan
penyimpanan bahan makanan dan maknanan jadi; g) Persyaratan peralatan yang
digunakan. 6. Pemeriksaan Sanitasi Sekolah Dasar a. Pengertian Sekolah Dasar adalah
proses pendidikan yang diberikan kepada anak didik yang mendasari setiap pendidikan
selanjutnya. Sekolah merupakan tempat berkumpulnya siswa dan warga sekolah dalam
kegiatan proses belajar mengajar. Sebagian besar waktu anak-anak dihabiskan di lingkungan
sekolah. Oleh karenanya lingkungan sekolah yang aman , nyaman dan sehat sangat
diperlukan untuk mendukung proses belajar mengajar. Fasilitas Sanitasi sekolah yang
meliputi Air bersih, Toilet (Kamar mandi, WC dan Urinoir), sarana Pembuangan Air Limbah,
Sarana pembuangan Sampah dan Pengendalian Vektor di lingkungan sekolah perlu
mendapatkan perhatian . Fasilitas Sanitasi atau kesehatan lingkungan yang tidak memadai
merupakan faktor risiko terjadinya berbagai gangguan kesehatan termasuk kecelakaan dan
berbagai penyakit berbasis lingkungan. b. Persyaratan Sanitasi Sekolah Dasar Meliputi :
a) Persyaratan lokasi dan bangunan b) Persyaratan kesehatan ruang kelas
c) Persyaratan fasilitas sanitasi d) Persyaratan fasilitas penunjang 7. Pemeriksaan
Sanitasi Kolam Renang Menurut peraturan Menteri Kesehatan No. 061/
Menkes/ Per/ I/ 1991, kolam renang adalah suatu usaha bagi umum yang menyediakan
tempat untuk berenang, berekreasi, berolahraga, serta jasa pelayanan lainnya, menggunakan
air bersih yang telah diolah. Kolam renang termasuk dalam tempat pemandian umum buatan
karena kolam renang dibangun atau dibuat oleh manusia. Syarat konstruksi kolam renang
adalah sebagai berikut 1. Bahan a. Dari bahan yang kuat, kedap air, keras, tetapi halus
b. Di cat dengan warna muda c. Setiap sudut pertemuan dinding dibentuk sudut
lengkung 2. Bentuk a. Lubang pengering (outlet drain) pada bagian yang terdalam
b. Setiap dinding harus vertical c. Dasar kolam yang kedalamannya kurang dari 1.5 m
kemiringannya maksimum 10% dan tidak boleh ada penurunan yang curam. Umtuk
kedalaman yang lebih dari 1.5 m sampai 3 m penurunan maksimum 30 d. Untuk
membedakan masing-masing wilayah (zone) harus diberikan tanda yang jelas agar tidak
menimbulkan kecelakaan 3. Tempat berjalan a. Pada sekeliling kolam renang harus ada
tempat berjalan dengan lebar minimal 1 m dengan kemiringan kea rah luar kolam
b. Sekeliling kolam renang di tepi tempat berjalan ada parit pengering 4. Pipa pemasukan
air (in let) Saluran air yang masuk ke kolam harus terjamin tidak ada hubungan silang (cross
conection) dengan air kotor. Lubang pemasukan air bersih berseberangan dengan lubang
pembuangan/ pengering Pipa pembuangan/ pengering Pipa pembuangan bias dihubungkan
dengan pipa penyedot. Bila lebar kolam lebih dari 7 m harus dibuat beberapa lubang
pembuangan. Pada lubang pembuangan harus dilengkapi dengan jeruji yang dibuat dari
bahan yang tidak membahayakan bagi para perenang. Cara pengeluaran air harus
menghindari terjadinya pusaran air (fortex). Pipa pembuangan tidak boleh berhubungan
langsung dengan roil kota. Lubang pipa pengering minimal berjarak 25cm dari dinding, bila
dipisahkan atau dibuat lebih dari satu lubang pengering jarak lubang satu dengan lainnya
maksimal 50cm. 5. Saluran peluap (Scum gutters) a. Pada dua sisi dinding kolam harus
ada saluran peluap b. Dalam saluran minimal 7.5 cm c. Lubang saluran harus cukup
besar agar mudah dalam membersihkan d. Lubang pengering pada saluran peluap berjarak
antara 3.5 m sampai 5.5m 6. Tangga a. Tangga harus vertical b. Dibuat dari bahan
yang berbentuk bulat dan tahan karat c. Dipasang terutama pada bagian kolam yang dalam
dan yang dekat dengan papan loncat 7. Papan loncat (Diving board) Papan lonacat harus
sesuai dengan ketentuan teknis agar tidak menimbulkan kecelakaan. Ketentuan papan loncat
adalah: a. Tinggi papan loncat harus sesuai dengan kedalaman kolam Tinggi papan
loncat Dalamnya kolam 1.00 m 2.75 m 1.75 m 3.00 m 2.75 m 3.75 m 3.50 m 4.00 m > 3,50
m Mak. 5.00 m b. Jarak papan loncat satu dengan yang lainnya minimal 3.5m.
8. Pencahayaan (Lighting) a. Pencahayaan tidak menyilaukan perenang b. Tidak
dipasang lampu diatas air kolam.

Make Money Online : http://ow.ly/KNICZ


////////////////

SANITASI TEMPATTEMPAT UMUM A.M.FADHIL HAYAT


PENGERTIAN SANITASI : Usaha pengawasan yg ditujukan thd faktor lingk yg dpt
mrp mata rantai dari penularan penyakit TEMPAT-TEMPAT UMUM: Sarana yg
diselenggarakan oleh pemerintah/swasta/perorangan yg digunakan utk kegiatan bagi
masyarakat >> sarana pariwisata, transportasi, sarana ibadah, pasar, sarana sosial lainnya
STTU: usaha pengawasan yg ditujukan thd TTU yg dpt mrp mata rantai dari penularan
penyakit
Indikator STTU Air bersih: tersedia air bersih, memenuhi syarat kuantitas dan kualitas,
digunakan utk mencuci alat2 dan bahan makanan, minum, dan cuci tangan Jamban: tersedia
jamban, memenuhi syarat konstruksi dan kebersihan, digunakan oleh seluruh pengelola dan
pengunjung
Sampah: tersedia tempat sampah, memenuhi syarat konstruksi dan kebersihan, sampah
ditampung dan dibuang di TPS SPAL: ada SPAL, memenuhi syarat konstruksi dan berfungsi,
tdk ada air limbah yg menggenang Pencahayaan & Penghawaan: lingkungan dan bangunan
cukup cahaya dan penghawaan, pedagang dan pengunjung merasa nyaman, tdk sumpek dan
sesak
Ruang Lingkup Perdagangan: Pasar Tradisional/Modern, Mall Pariwisata: Hotel,
Kolam Renang, Tempat Rekreasi lainnya Transportasi: Sarana (bus, kapal, pesawat
udara, kereta api) Prasarana (pelabuhan, terminal, bandara, stasiun) Pelayanan kesehatan:
Rumah sakit, puskesmas Sarana Ibadah
Perdagangan
Pariwisata
Transportasi
Pelayanan Kesehatan
Tempat ibadah
Kegiatan Rumah Sakit Rawat jalan: poliklinik, KIA, KB, general check-up, gigi
Rawat inap: interna, anak, bedah, kebidanan, ICU, dll Gawat darurat Pelayanan medik
Pelayanan penunjang medik: lab, radiologi, farmasi, fisioterapi Pelayanan penunjang non-
medik: laundry, dapur, administrasi, dll Diklat, penelitian
Limbah Rumah Sakit Limbah infeksius: ekskreta, spesimen lab, bekas balutan,
jaringan busuk, dll Limbah tajam: pecahan gelas, termometer, jarum bekas, alat suntik
Limbah plastik: kemasan obat, cairan infus, disposable syringe, perlak Limbah jaringan
tubuh: sisa amputasi, plasenta Limbah sitotoksik: sisa obat kanker Limbah kimia, radioaktif,
laundry, dapur, domestik
Potensi bahaya di RS Pemaparan radiasi Bahan kimia toksik Bahaya biologis
Temperatur ekstrim Kebisingan Debu Stress, dll. 15 04/29/09
Tipe hazards di RS Physical exertion Fire & natural disaster Compressed gas
Flammable & combustible liquids, vapors, gases Electrical equipments 04/29/09 16
Penyakit Akibat Kerja di RS Faktor biologik (kuman patogen dari pasien) Faktor
kimia (antiseptik pd kulit, gas anastesi, dll.) Faktor ergonomik (cara duduk yg salah, cara
mengangkat pasien yg salah, dll.) Faktor fisik dlm dosis kecil & terus menerus (panas pd
kulit, radiasi pd sistem reproduksi/darah) Faktor psikososial (ketegangan di kamar bedah,
penerimaan pasien gawat darurat, bangsal penyakit jiwa, dll.) 17 0
//////////////////

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HELVETIA
MEDAN 2013

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Definisi Tempat-Tempat Umum (TTU) adalah suatu tempat dimana umum (semua
orang) dapat masuk ke tempat tersebut untuk berkumpul mengadakan kegiatan baik secara
insidentil maupun terus menerus, (Suparlan 1977).
Tempat-tempat ibadah merupakan salah satu sarana tempat-tempat umum yang
dipergunakan untuk berkumpulnya masyarakat guna melaksanakan kegiatan ibadah. Masalah
kesehatan lingkungannya merupakan suatu masalah yang perlu di perhatikan dan
ditingkatkan. Dalam hal ini pengelola/pengurus tempat-tempat ibadah tersebut perlu dan
sangat perlu untuk diberikan pengetahuan tentang kesehatan lingkungan yang berhubungan
dengan tempat-tempat umum (tempat ibadah) guna mendukung upaya peningkatan kesehatan
lingkungan melalui upaya sanitasi dasar, pengawasan mutu lingkungan tempat umum,
termasuk pengendalian pencemaran lingkungan.
Masjid adalah suatu tempat termasuk fasilitasnya, dimana umum, pada waktu waktu
tertentu berkumpul untuk melakukan ibadah keagamaan Islam.
Masjid-masjid besar di Indonesia pada umumnya dibangun dengan konsep masjid berkubah
berbentuk setengah bola atau dome. Semestinya, pada saat merancang masjid, desain akustik
tidak boleh dikesampingkan karena berpengaruh terhadap kualitas bunyi yang diterima
pendengar diakibatkan dari suara dengung di dalam ruang masjid. Kegiatan yang sering
dilakukan di dalam masjid adalah kegiatan yang menimbulkan kejelasan penyampaian suara,
seperti sholat berjamaah dan ceramah agama.
Dasar pelaksanaan Penyehatan Lingkungan Masjid adalah Kep. Menkes
288/Menkes/SK/III/2003 tentang Pedoman Penyehatan Sarana dan Bangunan Umum.
Jadi sanitasi tempat-tempat umum adalah suatu usaha untuk mengawasi dan mencegah
kerugian akibat dari tempat-tempat umum terutama yang erat hubungannya dengan timbulnya
atau menularnya suatu penyakit.
Tempat-tempat umum merupakan tempat kegiatan bagi umum yang mempunyai tempat,
sarana dan kegiatan tetap yang diselenggarakan oleh badan pemerintah, swasta, dan atau
perorangan yang dipergunakan langsung oleh masyarakat (Adriyani, 2005).
Setiap aktifitas yang dilakukan oleh manusia sangat erat interaksinya dengan tempat-
tempat umum, baik untuk bekerja, melakukan interaksi sosial, belajar maupun melakukan
aktifitas lainnya.
Menurut Chandra (2006), tempat-tempat umum memiliki potensi sebagai tempat
terjadinya penularan penyakit, pencemaran lingkungan ataupun gangguan kesehatan
lainnya.Kondisi lingkungan tempat-tempat umum yang tidak terpelihara akan menambah
besarnya resiko penyebaran penyakit serta pencemaran lingkungan sehingga perlu dilakukan
upaya pencegahan dengan menerapkan sanitasi lingkungan yang baik.tempat-tempat umum
perlu dijaga sanitasinya, seperti halnya transportasi baik darat,air dan udara.Pasalnya,
tempat-tempat umum itu menjadi semacam indikator berbagai bidang, terutama sosial dan
ekonomi(Rosyadi,2002).tempat-tempat umum memiliki berbagai kegiatan yang sangat
penting. Salah satu hal utama dalam bidang sosial,tempat-tempat umum misalnya transportasi
air (pelabuhan) bisa dimanfaatkan sebagai tempat untuk memperoleh akses jalur transportasi
dari satu pulau ke pulau yang lainnya maupun dari satu negara ke negara yang lain. Dapat
dimungkinkan dari kegiatan tersebut, lingkungan pelabuhan akan tercemar dengan mudah
baik karena aktifitas manusia maupun karena faktor alam atau dari lingkungan itu sendiri.
Kondisi lingkungan yang telah tercemar dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan
terutama kepada masyarakat yang sering mengakses pelabuhan. Apabila hal ini dibiarkan
terus menerus maka akan terjadi permasalahan kesehatan yang cukup serius. Standar sanitasi
tempat-tempat umum dengan standar internasional harusnya lebih baik dari manajemen
sanitasi tempat-tempat umum pada umumnya guna mengantisipasi permasalahan kesehatan
lingkungan di tempat-tempat umum.
Jadi sanitasi tempat-tempat sangatlah penting dijaga sanitasinya agar tidak
menimbulkan berbagai masalah kesehatan,misalnya menimbulkan penyakit berbasis
lingkungan,untuk itu penulis terdorong untuk melakukan penulisan mengenai surveilans
epidemiologi agar mengubah pemikiran masyarakat akan arti dan kegunaan dari surveilans
epidemiologi.
B. TUJUAN
1. Tujuan umum
Untuk mendapatkan nilai tugas UTS STTU.
2. Tujuan khusus
a) Untuk mengetahui sanitasi penyediaan air bersih yang memenuhi syarat kesehatan di
tempat-tempat umum
b) Untuk mengetahui sanitasi pembuangan kotoran yang memenuhi syarat kesehatan di tempat-
tempat umum
c) Untuk mengetahui sanitasi pengelolaan limbah cair yang memenuhi syarat kesehatan di
tempat-tempat umum
d) Untuk mengetahui sanitasi pengelolaan sampah yang memenuhi syarat kesehatan di tempat-
tempat umum
e) Untuk mengetahui sanitasi pengendalian vector dan binatang pengganggu yang memenuhi
syarat kesehatan di tempat-tempat umum
f) Untuk mengetahui sanitasi kualitas bangunan yang terpelihara dengan baik yang memenuhi
syarat kesehatan di tempat-tempat Umum
g) Untuk mengetahui jaminan rasa aman pada masyarakat pengunjung dan masyarakat
sekitarnya di tempat-tempat umum
h) Untuk mengetahui jaminan rasa nyaman pada masyarakat pengunjung dan masyarakat
sekitarnya di tempat-tempat umum
i) Untuk mengetahui jaminan rasa santai pada masyarakat pengunjung dan masyarakat
sekitarnya di tempat-tempat umum
j) Untuk mengetahui jaminan rasa terlindungi pada masyarakat pengunjung dan masyarakat
sekitarnya di tempat-tempat umum
k) Untuk mengetahui jaminan rasa privasi pada masyarakat pengunjung dan masyarakat
sekitarnya di tempat-tempat umum
C. PERMASALAHAN
Kualitas sanitasi tempat-tempat umum yang buruk dapat mengakibatkan gangguan
kesehatan di masyarakat. Tingginya angka kesakitan penyakit infeksi berbasis lingkungan
masih merupakan masalah utama di Indonesia,sehingga diperlukan suatu upaya yang
mengarah pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat, salah satunya pengelolaan
kesehatan lingkungan yang berkelanjutan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.MENJAMIN KEADAAN LINGKUNGAN YANG MEMENUHI


SYARAT KESEHATAN SEPERTI :
A. PENYEDIAAN AIR BERSIH
Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya
memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Air minum adalah air
yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.
-Syarat-syarat Kualitas Air Bersih diantaranya adalah sebagai berikut :
1) Syarat Fisik : Tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna
2) Syarat Kimia : Kadar Besi : maksimum yang diperbolehkan 0,3 mg/l, Kesadahan
(maks 500 mg/l)
Syarat Mikrobiologis : Koliform tinja/total koliform (maks 0 per 100 ml air
Air adalah sangat penting bagi kehidupan manusia. Manusia lebih cepat meninggal
karena kekurangan air dari pada kekurangan makanan. Tubuh orang dewasa terdiri dari 70 %
air. Menurut WHO, di negara maju tiap orang memerlukan air antara 60-120 liter perhari.
Negara berkembang termasuk Indonesia memerlukan air antara 30-60 l/h
Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yg kualitasnya
memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Sedangkan air minum
adalah air yg kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.
Sumber air minum
1) Air hujan tapi tdk mengandung kalsium
2) Air sungai
3) Air danau
4) Mata air berasal dari tanah
5) Air sumur dangkal
6) Air sumur dalam
B.PEMBUANGAN KOTORAN
Metode pembuangan tinja yang baik yaitu dengan jamban dengan syarat sebagai berikut
[2]:
1) Tanah permukaan tidak boleh terjadi kontaminasi
2) Tidak boleh terjadi kontaminasi pada air tanah yang mungkin memasuki mata air atau
sumur
3) Tidak boleh terkontaminasi air permukaan
4) Tinja tidak boleh terjangkau oleh lalat dan hewan lain
5) Tidak boleh terjadi penanganan tinja segar ; atau, bila memang benar-benar diperlukan,
harus dibatasi seminimal mungkin
6) Jamban harus babas dari bau atau kondisi yang tidak sedap dipandang
7) Metode pembuatan dan pengoperasian harus sederhana dan tidak mahal.
8) Yang dimaksud kotoran manusia adalah semua benda atau zat yang tidak dipakai lagi
oleh tubuh dan yang harus dikeluarkan dari dalam tubuh. Zat-zat yang harus dikeluarkan dari
dalam tubuhh ini berbentuk tinja (faeces), air seni (urine) dan CO2 sebagai hasil dari proses
pernafasan.
9) Pembuangan kotoran manusia dalam ilmu kesehatan lingkungan dimaksudkan hanya
tempat pembuangan tinja dan urine, pada umumnya disebut latrine, jamban atau kakus.
Penyediaan sarana jamban merupakan bagian dari usaha sanitasi yang cukup penting
peranannya. Ditinjau dari sudut kesehatan lingkungan pembuangan kotoran yang tidak saniter
akan dapat mencemari lingkungan terutama tanah dan sumber air.
10) Pembuangan tinja yang tidak saniter akan menyebabkan berbagai macam penyakit
seperti : thypus, disentri, kolera, bermacam-macam cacing (gelang, kremi, tambang dan pita),
schistosomiasis dan sebagainya.
11) Kementerian Kesehatan telah menetapkan syarat dalam membuat jamban sehat. Ada
beberapa kriteria yang harus diperhatikan :

a) Tidak mencemari air


b) Tidak mencemari tanah permukaan
c) Bebas dari serangga
d) Tidak menimbulkan bau dan nyaman digunakan
C.PENGELOLAAN LIMBAH CAIR
Air Limbah adalah air buangan yang dihasilkan dari suatu proses pruduksi industri maupun
domestik (rumah tangga), yang terkadang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu
tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis[3]. Dalam konsentrasi
dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negative terhadap lingkungan
tertutama kesehatan manusia sehingga dilakukan penanganan terhadap limbah.Air kotor
adalah air bekas pakai yang sudah tidak memenuhi syarat kesehatan lagi dan harus dibuang
agar tidak menimbulkan wabah penyakit.
D.PENGELOLAAN SAMPAH
Pengertian Sampah Berdasarkan Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 tentang sampah,
sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat.
Pengelolaan sampah dimaksudkan adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh,
dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan sampah dan penanganan sampah.
Sampah-Berdasarkan sifat fisik dan kimianya sampah dapat digolongkan menjadi: 1) sampah
ada yang mudah membusuk terdiri atas sampah organik seperti Sampah sisa sayuran, Sampah
sisa daging, Sampah daun dan Sampah lain-lain; 2) sampah yang tidak mudah membusuk
seperti Sampah plastik, Sampah kertas, Sampah karet, Sampah logam, Sampah sisa bahan
bangunan dan Sampah lain-lain; 3) sampah yang berupa debu/abu; dan 4) sampah yang
berbahaya (B3) bagi kesehatan, seperti sampah berasal dari Sampah industri dan Sampah
rumah sakit yang mengandung zat-zat kimia dan agen penyakit yang berbahaya.
Pengelolaan sampah bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas
lingkungan serta menjadikan sampah sebagai sumberdaya. Dari sudut pandang kesehatan
lingkungan, pengelolaan sampah dipandang baik jika sampah tersebut tidak menjadi media
berkembang biaknya bibit penyakit serta sampah tersebut tidak menjadi medium perantara
menyebarluasnya suatu penyakit. Syarat lainnya yang harus dipenuhi, yaitu tidak mencemari
udara, air dan tanah, tidak menimbulkan bau (tidak mengganggu nilai estetis), tidak
menimbulkan kebakaran dan yang lainnya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengelolaan sampah di antaranya: (1) sosial politik, yang
menyangkut kepedulian dan komitment pemerintah dalam menentukan anggaran APBD
untuk pengelolaan lingkungan (sampah), membuat keputusan publik dalam pengelolaan
sampah serta upaya pendidikan, penyuluhan dan latihan keterampilan untuk meningkatkan
kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah, (2) Aspek Sosial
Demografi yang meliputi sosial ekonomi (kegiatan pariwisata, pasar dan pertokoan, dan
kegiatan rumah tangga, (3) Sosial Budaya yang menyangkut keberadaan dan interaksi
antarlembaga desa/adat, aturan adat (awig-awig), kegiatan ritual (upacara adat/keagamaan),
nilai struktur ruang Tri Mandala, jiwa pengabdian sosial yang tulus, sikap mental dan
perilaku warga yang apatis, (4) keberadan lahan untuk tempat penampungan sampah, (5)
finansial (keuangan), (6) keberadaan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan (5)
kordinasi antarlembaga yang terkait dalam penanggulangan masalah lingkungan (sampah).
Sampah semakin hari semakin sulit dikelola, sehingga disamping kesadaran dan partisipasi
masyarakat, pengembangan teknologi dan model pengelolaan sampah merupakan usaha
alternatif untuk memelihara lingkungan yang sehat dan bersih serta dapat memberikan
manfaat lain.
E.PENGENDALIAN VECTOR DAN BINATANG PENGGANGGU
Serangga sebagai reservoir (habitat dan suvival) bibit penyakit yang kemudian disebut
sebagai vektor misalnya : pinjal tikus untuk penyakit pes/sampar, Nyamuk Anopheles sp
untuk penyakit Malaria, Nyamuk Aedes sp untuk Demam Berdarah Dengue (DBD), Nyamuk
Culex sp untuk Penyakit Kaki Gajah/Filariasis. Penanggulangan/pencegahan dari penyakit
tersebut diantaranya dengan merancang rumah/tempat pengelolaan makanan dengan rat proff
(rapat tikus), Kelambu yang dicelupkan dengan pestisida untuk mencegah gigitan Nyamuk
Anopheles sp, Gerakan 3 M (menguras mengubur dan menutup) tempat penampungan air
untuk mencegah penyakit DBD, Penggunaan kasa pada lubang angin di rumah atau dengan
pestisida untuk mencegah penyakit kaki gajah dan usaha-usaha sanitasi.
Binatang pengganggu yang dapat menularkan penyakit misalnya anjing dapat menularkan
penyakit rabies/anjing gila. Kecoa dan lalat dapat menjadi perantara perpindahan bibit
penyakit ke makanan sehingga menimbulakan diare. Tikus dapat menyebabkan Leptospirosis
dari kencing yang dikeluarkannya yang telah terinfeksi bakteri penyebab.
Cara pengendalian vektor
1. Usaha pencegahan (Prevention) : mencegah kontak dengan vektor
Ex:pembErantasan nyamuk,kelabu.
2. Usaha penekanan (supression) : menekan populasi vektor sehingga tidak membahayakan
kehidupan manusia
3. Usaha pembasmian (eradication) : menghilangkan vektor sampai habiS
F. KUALITAS BANGUNAN YANG TERPELIHARA DENGAN BAIK
Upaya peningkatan sanitasi lingkungan (environmental sanitation improvement)
a Pengendalian secara fisik-mekanik (physical-mechanical control) >>
modifikasi/manipulasi lingkungan >> landfilling, draining
b. Pengendalian secara biologis (biological control) >> memanfaatkan musuh alamiah atau
pemangsa/predator, fertilisasi
c. Pengendalian dengan pendekatan per-UU (legal control) >> karantina
d. Pengendalian dengan menggunakan bahan kimia (chemical control)
e. kualitas bangunan yang terpelihara dengan baik
Konsep bangunan hijau (green building) adalah bangunan dimana dalam perancangan,
pembangunan, pengoperasian, serta dalam pemeliharaannya memperhatikan aspek-aspek
lingkungan dan berdasarkan kaidah pembangunan berkelanjutan. Pada prinsipnya tujuan dari
green building adalah :
1. Meminimalkan/ mengurangi penggunaan sumber daya alam
2. Meminimalkan/ mengurangi dampak lingkungan
3. Meningkatkan kualitas udara ruangan menjadi lebih sehat
2. MEMBERIKAN JAMINAN PSIKOLOGI PADA MASYARAKAT PENGUNJUNG DAN
MASYARAKAT SEKITARNYA YAITU:
A. RASA AMAN
Lingkungan yang Sehat untuk Anak-anak Alliance (HECA) mempromosikan sejumlah
sederhana, biaya rendah, efektif dan berkelanjutan langkah-langkah untuk memerangi risiko
lingkungan untuk anak-anak kita. di bawah ini adalah contoh dari langkah-langkah sederhana
yang dapat diambil di rumah atau di sekolah-sekolah.
1. Penyimpanan air yang aman di rumah dan perawatan air di rumah ketika kualitas
yang ragu-ragu mengurangi pencemaran air dan menyebabkan manfaat kesehatan terbukti.
2. Mencuci tangan dengan sabun sebelum menyiapkan makanan, sebelum makan dan setelah
buang air besar secara signifikan mengurangi risiko penyakit diare.
2. Ikuti WHO Lima Kunci untuk Makanan yang lebih aman untuk mengurangi risiko
penyakit bawaan makanan: menjaga kebersihan; terpisah mentah dan dimasak, masak dengan
saksama; menyimpan makanan pada suhu aman; dan penggunaan air bersih dan bahan baku.
3. Ventilasi yang baik di rumah, bersih dan ditingkatkan bahan bakar kompor memasak
polusi udara dalam ruangan menurun dan memburuknya dan pengembangan infeksi
pernafasan akut.
4. Sebagai anak-anak biasanya pergi tidur lebih awal daripada orang dewasa pada saat
nyamuk menjadi aktif, penggunaan insektisida kelambu yang diobati dan pemutaran jendela,
pintu dan atap menyediakan sarana yang sangat efektif untuk melindungi mereka terhadap
penyakit malaria.
5. Pastikan aman penyimpanan, pengemasan, penggunaan dan penandaan yang jelas
pembersih, bahan bakar, pelarut, pestisida dan bahan kimia lainnya yang digunakan di rumah
dan di sekolah-sekolah.
B.RASA NYAMAN
Misi ini ditujukan untuk menciptakan suasana kota yang bersih, sehat, layak huni dan
inspiratif, sebagaimana yang diinginkan oleh warga Jakarta. Pola hidup masyarakat Jakarta
yang berkualitas sangat ditentukan oleh ketersediaan layanan pendidikan dan kesehatan yang
berstandar tinggi dan luas jangkauannya. Di bidang pendidikan, fokusnya adalah penyediaan
fasilitas ruang kelas, perpustakaan dan laboratorium yang memenuhi standar pendidikan
modern. Kualitas dan dedikasi pendidik/guru terus ditingkatkan; kesejahteraannya terus
dijamin. Di bidang kesehatan, selain dari apa yang telah dikemukakan pada bagian pertama
misi ini, terus dilakukan pula gerakan untuk memperluas kesadaran masyarakat tentang pola
hidup bersih dan sehat. Gerakan ini sejalan dengan kebijakan penataan pemukiman dan
ruang terbuka hijau yang pada gilirannya menciptakan kehidupan yang harmonis dalam
masyarakat multi-etnik dan beragam agama yang menjadi ciri
masyarakat Jakarta. Kenyamanan dan kesejahteraan yang berkelanjutan hanya bisa terwujud
jika masyarakat terbebas dari segala bentuk diskriminasi.
C.RASA SANTAI
Kampung Sama Bahari memang paling sering dikunjungi wisatawan, terutama turis asing
peneliti.Kabarnya, perkampungan itu jauh lebih teratur dibandingkan perkampungan Bajo
lainnya.Merapat di dermaga kecil, pengunjung memasuki jalan umum yang sesungguhnya
jembatan.Walau sebagian besar masih ditopang batang kayu gelondong, sebagian jembatan
beralas kayu tersebut sudah menggunakan pancang beton.
Suku Bajo di Sama Bahari mengandalkan mata pencarian dari mengelola hasil laut. Selain
nelayan, mereka juga mulai mengenal tambak terapung. Beberapa di antara mereka juga
bertani rumput laut. Ikan hasil tangkapan dan panenan rumput laut dijual ke Kota Wanci,
Pulau Wangi-wangi. Tetapi umumnya, nelayan menjual ikan ke kapal pengumpul ikan yang
datang.
Kebanyakan suku Bajo nelayan tradisional. Mereka menangkap ikan dengan menggunakan
jaring, bagan apung, dan pancing. Konon dulu orang Bajo biasa menangkap ikan dengan
tombak. Kini seiring peradaban modern, kebiasaan itu mulai hilang.Bahkan ada warga Sama
Bahari yang sudah menjadi bandar ikan. Pendapatannya bisa mencapai ratusan ribu rupiah
hingga jutaan sekalimelaut.Di tengah perkampungan, suku Bajo membangun sebidang
lapangan, tempat anak-anak sering bermain bola. Tak jauh dari lapangan, ada semacam balai-
balai tempat berkumpul, atau menonton siaran televisi. Berkat antena parabola, mereka dapat
menyaksikan siaran televisi luar negeri. Untuk sumber listrik, mereka menggunakan
generator.
Menurut Outreach & Community Development Coordinator WWF Indonesia Veda Santiadji,
perkampungan Bajo di Sama Bahari relatif cukup modern. Mereka sudah memiliki sejumlah
fasilitas umum seperti sekolah, madrasah, musala, tempat pelelangan dan penyimpanan ikan.
D.TERLINDUNGI
Mencermati tema nasional Hari Kesehatan se Dunia ke-62 tahun 2010 mengingatkan kita
bahwa masyarakat yang hidup diperkotaan harus punya peran dan kesadaran/kepedulian yang
tinggi. Berperan dalam hal ini harus bertindak terhadap permasalahan yang ada
dilingkungannya. Sedangkan kesadaran disini kita harus peduli mengantisipasi bilamana
lingkungan sekitar kurang mendukung atau perilaku kesehatan yang menyimpang.Masalah
kota sehat pada dasarnya merupakan pendekatan kesehatan masyarakat yang bertumpu pada
kemitraan pemerintah daerah dengan masyarakat (dunia usaha, akademisi, profesi, media
massa, LSM dan organisasi masyarakat lainnya) dalam mengatasi masalah-masalah
kesehatan perkotaan yang berkaitan erat dengan masalah lingkungan fisik dan lingkungan
social kota.
Untuk mewujudkan kota sehat diperlukan proses keterlibatan warga kota yang telah
memenuhi tatanan kesehatan dengan berbagai sector terkait seperti bidang pertanian,
pariwisata dan perhubungan.
Masalah kesehatan di perkotaan lebih komplek dan beragam misalnya penyakit
menular/infeksi atau penyakit yang terkait dengan lingkungan serta kondisi kesehatan
lingkungan yang buruk, termasuk kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap kesehatan.
Disisi lain penyakit modern di perkotaan seperti : degeneratif, kelebihan gizi,
penyakit/kelainan mental, penyakit kelamin, penyalahgunaan obat/Napza dan minuman
keras, penyakit karena kekerasan dan kecelakaan masih menjadi perhatian kita semua. Selain
itu, pemukiman kumuh, pencemaran udara, air dan tanah serta perilaku kesehatan yang
kurang mendukung, seperti : merokok , membuang sampah dan membuang kotoran
disembarang tempat, masih sering ditemui diwilayah perkotaan. Masalah lain yang perlu
mendapat perhatian kita bersama, kepadatan lalu lintas, pencemaran udara, perumahan yang
kurang sehat/kumuh dan pelayanan masyarakat yang kurang layak yang kesemuanya
berdampak pada kesehatan masyarakat dan akhirnya berpengaruh pada kualitas hidup
manusia di dalamnya. Semua itu memerlukan proses penyuluhan ke masyarakat untuk
mengubah dan memperbaiki perilaku menjadi lebih sehat, mengingat kota sehat merupakan
konsepyangberkesinambungan.
Karena untuk mewujudkan kota sehat, model yang biasa dilakukan dengan gerakan-gerakan
masyarakat. Barangkali gerakan masyarakat itu perlu diimbangi dengan ketegasan penegakan
peraturan yang telah ada harus diatasi dengan pemberlakuan aturan dan pengawasan serta
pemberian sangsi bila terjadi pelanggaran, misalnya sangsi denda uang atau penjara bila
terjadi pelanggaran atau kelalaian yang kemungkinan dapat merubah perilaku , seperti halnya
warga kota.Andaikan semua ini dapat kita implementasikan tentunya kwalitas hidup
masyarakat tercapai, niscaya lambat laun kota sehat warga sehat akan terwujud.
E.PRIVASI
Pada tanggal 3-4 Agustus ini di Jakarta berlangsung Pertemuan Khusus Tingkat
Menteri tentang Sasaran Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals/MDGs)
se-Asia Pasifik dengan tema Run Up to 2015.Pertemuan ini merupakan persiapan negara-
negara di kawasan Asia dan Pasifik dalam menghadapi MDGs + 10 Summit pada September
2010. Pertemuan tingkat tinggi ini akan mengevaluasi perjalanan MDGs sebagai komitmen
global penanggulangan kemiskinan yang sudah menapak 10 tahun dari target 15 tahun yang
direncanakanSebelumnya pada 23 Juni lalu Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon
mengawali rangkaian kegiatan MDGs + 10 Summit dengan meluncurkan Millennium
Development Goals Report 2010, sebuah laporan yang memperlihatkan kemajuan dan
kelambanan dunia dalam menapaki target komitmen global untuk pengurangan atau
penghapusan kemiskinan dunia.Untuk kawasan Asia dan Pasifik, laporan tentang posisi
pencapaian MDGs juga telah diterbitkan dengan judul Achieving the Millennium
Development Goals in an Era of Global Uncertainty: Asia-Pacific Regional Report
2009/2010. Laporan ini menjadi bahan bahasan dalam pertemuan 3-4 Agustus ini.Ada
kesamaan pandangan antara UN MDGs Report 2010 dan Asia Pacific Report 2009-2010
dalam melihat krisis finansial sebagai tantangan mencapai MDGs.
Organisasi Buruh Internasional makin menegaskan pandangan tersebut dengan
melansir laporan bahwa penambahan jumlah orang miskin pada masa krisis finansial ketika
mereka secara tiba-tibaharuskehilanganpekerjaannya.
Indonesia boleh berbangga menjadi anggota G-20 dan tahan diterpa krisis finansial 2008-
2009, tetapi harus disadari posisi Indonesia dalam pencapaian MDGs juga belum
memuaskan.
Berkali-kali, dalam Progress Report MDGs kawasan Asia dan Pasifik, Indonesia
masih masuk kategori negara yang lamban langkahnya dalam mencapai MDGs pada tahun
2015.
Sumber kelambanannya ditunjukkan dari masih tingginya angka kematian ibu
melahirkan, belum teratasinya laju penularan HIV-AIDS, makin meluasnya laju deforestasi,
rendahnya tingkat pemenuhan air minum dan sanitasi yang buruk serta beban utang luar
negeri yang terus menggunung (MDGs Progres Report in Asia and the Pacific, UNESCAP,
2010).
Fakta muram ini juga diperkuat dengan makin merosotnya kualitas hidup manusia
Indonesia sebagaimana yang dilaporkan di Human Development Index (Indeks Pembangunan
Manusia/IPM).
Jika pada tahun 2006 berada di posisi ke-107 dan tahun 2008 di posisi ke-109, pada
tahun 2009 makin melorot di posisi ke-111. (Overcoming Barriers: Human Mobility and
Development, UNDP, 2009). Kondisi ini menjadi tantangan berat Indonesia untuk
menuntaskan lima tahun terakhir dari target MDGs pada 2015.
Oleh karena itu, harus ada perubahan mendasar dalam menilai keberhasilan
pembiayaan negara, bukan hanya pada tingkat penyerapan anggaran tetapi juga pada dampak
penggunaan anggaran pada pencapaian target MDGs dan indikator IPM yang terukur.
Titik lemah lain dalam upaya pencapaian MDGs di Indonesia adalah tidak adanya pengakuan
inisiatif masyarakat (baik organisasi masyarakat sipil maupun sektor swasta) yang selama ini
punya peran dalam upaya pencapaian MDGs di Indonesia. Pemerintah Indonesia tidak pernah
mendorong rasa kepemilikan bersama (ownership) MDGs ini kepada seluruh rakyatnya.
Setidaknya dalam empat kali laporan yang disusun oleh Pemerintah Indonesia sangat kuat
kesan bahwa pencapaian MDGs identik dengan pelaksanaan program pemerintah. Padahal
kita tahu, ada banyak inisiatif dan kreativitas masyarakat muncul dalam menjawab masalah
kemiskinan.
Ironisnya, pemerintah tak pernah mengakuinya dalam laporan MDGs. Pemerintah
lebih asyik menyajikan laporan pencapaian MDGs dalam grafik-grafik statistik yang tak bisa
mengukur wajah kemiskinan yang berbeda konteks dan pengalaman kesejarahannya.
2.1 Sanitasi Tempat-Tempat Umum
Definisi sanitasi menurut WHO adalah usaha pencegahan/ pengendalian semua faktor
lingkungan fisik yang dapat memberikan pengaruh terhadap manusia terutama yang sifatnya
merugikan/ berbahaya terhadap perkembangan fisik , kesehatan dan kelangsungan hidup
manusia.
Menurut beberapa literatur yang disebut tempat umum adalah suatu tempat dimana
orang banyak atau masyarakat umum berkumpul untuk melakukan kegiatan baik secara
sementara (insidentil) maupun secara terus menerus (permanent), baik membayar mapupun
tidak membayar.
Kriteria suatu tempat umum adalah terpenuhinya beberapa syarat :
1. Diperuntukkan bagi masyarakat umm
2. Harus ada gedung/tempat yang permanen
3. Harus ada aktivitas (pengusaha, pegawai, pengunjung)
4. Harus ada fasilitas (SAB, WC, Urinoir, tempat sampah, dll)
Sedangkan yang disebut sanitasi tempat-tempat umum adalah suatau usaha untuk
mengawasi dan mencegah kerugian akibat dari tidak terawatnya tempat-tempat umum
tersebut yang mengakibatkan timbul dan menularnya berbagai jenis penyakit.
Sasasan khusus yang harus diberikan dalam pengawasn tempat-tempat umum meliputi :
1. Manusia sebagai pelaksana kegiatan (kebersihan secara umum maupun personal hygiene
2. Alat-alat kebersihan
3. Tempat kegiatan
Kenapa sanitasi di tempat-tempat umum sangat diperlukan ? :
1. Adanya kumpulan manusia yang berhubungan langsung dengan lingkungan
2. Kurangnya pengertian dari masyarakat mengenai masalah kesehatan
3. Kurangnya fasilitas sanitasi yang baik
4. Adanya kemungkinan besar terjadinya penularan penyakit
5. Adanya kemungkinan terjadinya kecelakaan
6. Adanya tuntutan physical dan mental confort
ASPEK PENTING DALAM PENYELENGGARAAN SANITASI TEMPAT-TEMPAT
UMUM
1. Aspek teknis /hukum (persyaratan H dan S, Peraturan dan perundang-undangan sanitasi
2. Aspek sosial, yang meliputi pengetahuan tentang : kebiasaan hidup, adat istiadat,
kebudayaan, keadaan ekonomi, kepercayaan, komunikasi, dll
3. Aspek administrasi dan management, yang meliputi penguasaan pengetahuan tentang cara
pengelolaan STTU yang meliputi : Man, Money, Method, Material dan Machine
HAMBATAN YANG SANGAT SERING DIJUMPAI DALAM PELAKSANAAN
SANITASI DI TEMPAT-TEMPAT UMUM
PENGUSAHA
1. Belum adanya pengertian dari para pengusaha mengenai peraturab per undang-undangn yang
menyangkut usha STTU dan kaitannya dengan usaha kesehtan masyarakat
2. Belum mengetahui / kesadaran mengenai pentingnya usaha STTU untuk menghindari
terjadinya kecelakaan atau penularan penyakit
3. Adanya sikap keberata dari pengusaha untuk memenuhi persyaratan-persyaratan karena
memerlukan biaya ekstra
4. Adanya sikap apatis dari masyarakat tenang adanya peraturan/persyaratan dari STTU

PEMERINTAH
1. Belum semua peraltan dimiliki oelh tenaga pengawas pada tingkat II dan kecamatan
2. Masih terbatasnya pengetahan petugas dalam melaksanakan pengawasan
3. Masih minimnya dana yang dialokasikan untuk pengawasan STTU
4. Belum semua kecamatan /tingkat II memiliki saran transportasi untuk melakukan kegiatan
pengawasan
LANGKAH-LANGKAH DALAM IMPLEMENTASI USAHA STTU
1. Identifikasi masalah (problem identification)
2. Pemeriksaan H&S TTU (sanitary inspection)
3. Follow Up
4. Evaluasi
5. Pencatatan dan pelaporan
JENIS-JENIS TEMPAT UMUM YANG SANGAT MEMERLUKAN
PENGAWASAN
* Hotel
* Restourant
* Kolam renang
* Pasar
* Bioskop
* tempat-tempat rekreasi
* tempat-tempat ibadah
* pertokoan
* Pemangkas rambut
* salon
* Stasiun kereta api atau bus
* rumah sakit
Definisi Tempat-Tempat Umum (TTU) adalah suatu tempat dimana umum (semua
orang) dapat masuk ke tempat tersebut untuk berkumpul mengadakan kegiatan baik secara
insidentil maupun terus menerus, (Suparlan 1977).
Suatu tempat dikatakan tempat umum bila memenuhi kriteria :
1.Diperuntukkan masyarakat umum.
2.Mempunyai bangunan tetap/ permanen.
3.Tempat tersebut ada aktivitas pengelola,pengunjung/ pengusaha.
4. Pada tempat tersebut tersedia fasilitas :
a.Fasilitas kerja pengelola.
b.Fasilitas sanitasi, seperti penyediaan air bersih, bak sampah, WC/ Urinoir, kamar mandi
Jadi sanitasi tempat-tempat umum adalah suatu usaha untuk mengawasi dan mencegah
kerugian akibat dari tempat-tempat umum terutama yang erat hubungannya dengan timbulnya
atau menularnya suatu penyakit. Untuk mencegah akibat yang timbul dari tempat-tempat
umum.
Usaha-usaha yang dilakukan dalam sanitasi tempat-tempat umum dapat berupa :
1. Pengawasan dan pemeriksaan terhadap factor lingkungan dan factor manusia yang
melakukan kegiatan pada tempat-tempat umum.
2. Penyuluhan terhadap masyarakat terutama yang menyangkut pengertian dan kesadaran
masyarakat terhadap bahaya-bahaya yang timbul dari tempat-tempat umum.
Peran sanitasi tempat-tempat umum dalam kesehatan masyarakat adalah usaha untuk
menjamin :
1. Kondisi fisik lingkungan TTU yang memenuhi syarat :
a. Kualitas kesehatan.
b. Kualitas sanitasi.
2. Psikologis bagi masyarakat :
a. Rasa keamanan (security) : bangunan yang kuat dan kokoh sehingga tidak menimbulkan rasa
takut bagi pengunjung.
b. Kenyamanan (confortmity) : misalnya kesejukkan.
c. Ketenangan (safety) : tidak adanya gangguan kebisingan, keramaian kendaraan.
2.1.1 Pemeriksaan Sanitasi Tempat Ibadah (Masjid)
Tempat-tempat ibadah merupakan salah satu sarana tempat-tempat umum yang
dipergunakan untuk berkumpulnya masyarakat guna melaksanakan kegiatan ibadah. Masalah
kesehatan lingkungannya merupakan suatu masalah yang perlu di perhatikan dan
ditingkatkan. Dalam hal ini pengelola/pengurus tempat-tempat ibadah tersebut perlu dan
sangat perlu untuk diberikan pengetahuan tentang kesehatan lingkungan yang berhubungan
dengan tempat-tempat umum (tempat ibadah) guna mendukung upaya peningkatan kesehatan
lingkungan melalui upaya sanitasi dasar, pengawasan mutu lingkungan tempat umum,
termasuk pengendalian pencemaran lingkungan.
Dengan peran serta dari pengurus tempat-tempat ibadah diharapkan :
1. Berubahnya atau terkendalinya atau hilangnya semua unsur fisik dan lingkungan yang
terdapat dilingkungan tempat ibadah yang dapat memberi pengaruh jelek terhadap kesehatan
2. Meningkatnya mutu kesehatan lingkungan tempat-tempat ibadah.
3. Terwujudnya kesadaran dan keikutsertaan masyarakat dan sektor lain dalam pelestarian dan
peningkatan penyehatan lingkungan tempat-tempat ibadah.
4. Terlaksananya pendidikan kesehatan tentang peningkatan kesehatan lingkungan .
5. Terlaksananya pengawasan secara teratur pada sanitasi tempat-tempat ibadah.
a. Pengertian Masjid.
Masjid adalah suatu tempat termasuk fasilitasnya, dimana umum, pada waktu waktu
tertentu berkumpul untuk melakukan ibadah keagamaan Islam. Dasar pelaksanaan
Penyehatan Lingkungan Masjid adalah Kep. Menkes 288/Menkes/SK/III/2003 tentang
Pedoman Penyehatan Sarana dan Bangunan Umum.
Komponen penilaian meliputi :
1. Letak
Sesuai dengan rencana tata kota
- Tidak berada pada arah angin dari sumber pencemaran (debu,asap,bau dan cemaran lainx)
- Tidak berada pada jarak < 100 meter dari sumber pencemaran debu, asap, bau & cemaran
lainnya
2. Kontruksi
3. Persyaratan, seperti :
a. Alat sembahyang
b. Lantai
-Kuat, tidak terbuat dari tanah, bersih, rapat air, tidak licin dan mudah dibersihkan.
c. Ventilasi
- Minimal 10% dari luas bangunan, sejuk dan nyaman (tdk pengap dan tdk panas)
d. Pencahayaan
e. Tempat sandal dan sepatu
f. Tersedia tempat sandal dan sepatu yang khusus
b. Persyaratan Kondisi Masjid
1. Persyartan Kesehatan Lingkungan dan bangunan Umum :
a. Lokasi masjid tidak terletak di daerah banjir dan sesuai dengan perencanaan tata Kota
Meulaboh
b. Bersih dan tertata rapi dan system drainase berfungsi dengan baik.
c. Tidak terdapat genangan air di lingkungan/ halaman masjid.
d. Terdapat pagar yang kuat dan terpelihara dengan baik.
e. Lantai masjid bersih, kuat, kedap air, tidak licin dan permukaanya rata.
f. Dinding masjid bersih berwarna terang dan permukaan yang selalu kontak dengan air kedap
air.
g. Atap ruangan masjid harus kuat, tidak tidak bocor serta tidak memungkinkan terjadinya
genangan air.
h. Langit-langit masjid harus memiliki tinggi dari lantai minimal 2,5 meter, kuat serta berwarna
terang.
i. Pencahayaan dalam ruangan masjid harus cukup terang.
j. Memiliki ventilasi yang dapat mengatur sirkulasi udara baik ventilasi alami maupun buatan,
sehingga kondisi ruangan menjadi terasa nyaman.
k. Alat sholat bersih dan tidak lembab, selalu dibersihkan dan dijemur secara periodic, bebas
dari kutu busuk dan serangga lainnya. sepanjang bagian depan shaf dipasang kain putih yang
bersih dengan lebar 30 cm2 yang digunakan untuk tempat bersujud.
2) Fasilitas Sanitasi :
1. Air Bersih
- Jumlah mencukupi / selalu tersedia setiap saat
- Tidak berbau, tidak berasa & tidak berwarna
- Angka kuman tidak melebihi NAB
- Kadar bahan kimia tidak melebihi NAB
2. Pembuangan Air Kotor
- Terdapat penampungan air limbah yang rapat serangga
- Air limbah mengalir dengan lancar
- Saluran kedap air
- Saluran tertutup
3. Toilet/ WC
- Bersih
- Letaknya tidak berhubungan langsung dengan bangunan utama
- Tersedia air yang cukup
- Tersedia sabun & alat pengering
- Toilet pria & wanita terpisah
- Jumlahnya mencukupi untuk pengunjung terbanyak
- Saluran pembuangan air limbah dilengkapi dengan penahan bau (water seal)
- Lubang penghawaan harus berhubungan langsung dengan udara luar
4. Peturasan
- Bersih
- Dilengkapi dengan kran pembersih
- Jumlahnya mencukupi
5. Tempat Sampah
- Tempat sampah kuat, kedap air, tahankarat, dan dilengkapi dengan penutup
- Jumlah tempat sampah mencukupi
- Sampah diangkut setiap 24 jam ke TPA
- Kapasitas tempat sampah terangkat oleh 1 orang
6. Tempat Wudhu
Bersih
Terpisah dari toilet, peturasan, & ruang mesjid
Air wudhu keluar melalui kran kran khusus & jumlahnya mencukupi
Kolam air wudhu tertutup (rapat serangga)
Tidak terdapat jentik nyamuk pada kolam air wudhu
Limbah air wudhu mengalir lancar
Tempat wudhu pria dan wanita sebaiknya terpisah
7.Tempat Sembahyang
- Bersih, tidak berbau yang tidak enak
- Bebas kutu busuk & serangga lainnya
- Sepanjang bagian depan tiap sap dipasang kain putih yang bersih dengan lebar 30 cm
sebagai tempat sujud
8.Tempat sandal dan sepatu
- Tersedia tempat sandal & sepatu yang khusus
- Bersih dan kuat
Pengertian Rumah Sehat
Secara umum yang dimaksud dengan rumah sehat adalah sebuah rumah yang dekat dengan
air bersih, berjarak lebih dari 100 meter dari tempat pembuangan sampah, dekat dengan
sarana pembersihan, serta berada di tempat dimana air hujan dan air kotor tidak menggenang
(1).
B. Persyaratan Umum Rumah Sehat
Berdasarkan hasil rumusan yang dikeluarkan oleh APHA di Amerika, rumah sehat adalah
rumah yang memenuhi persyaratan sebagai berikut (1):
a. Harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisiologis;
b. Memenuhi kebutuhan-kebutuhan psikologis;
c. Dapat terhindar dari penyakit menular;
d. Terhindar dari kecelakaan-kecelakaan.
Jika diteliti lebih lanjut, persyaratan yang diuraikan di atas adalah sama dengan persyaratan
seperti yang disebutkan berikut ini.
1. Persyaratan letak rumah
Letak rumah yang baik dapat menghindarkan penghuninya dari bahaya timbulnya penyakit
menular, kecelakaan, dan kemungkinan gangguan-gangguan lainnya. Persyaratan letak rumah
merupakan persyaratan pertama dari sebuah rumah sehat. Berikut ini adalah pertimbangan
memilih letak rumah (2):
a. Permukaan tanah dan lapisan bawah tanah (soil dan subsoil), tanah rendah yang sering
digenangi banjir sudah jelas tidak baik menjadi tempat perumahan yang permanen. Tanah
berbatu karang biasanya lembap dan dingin, karena air pada waktu hujan tidak bisa meresap
ke dalam tanah. Akan tetapi, dengan konstruksi yang baik (lantai yang kedap air) rumah
dengan kondisi tersebut bisa digunakan tanpa ada gangguan. Apalagi bila dilengkapi dengan
drainase yang baik.
b. Hadap rumah (dalam hubungannya dengan matahari, arah angin, dan lapangan terbuka).
Di belahan bumi sebelah utara misalnya, kamar-kamar yang terletak di sebelah utara akan
menerima sinar matahari lebih sedikit. Oleh karena itu, sebaiknya dapur dan ruang tempat
menyimpan makanan terletak di bagian utara rumah.
2. Persyaratan fisik
Persyaratan fisik meliputi konstruksi dan luas bangunan. Konstruksi rumah harus baik dan
kuat, sehingga dapat mencegah kemungkina terjadinya kelembaban dan mudah diperbaiki
bila ada kerusakan. Persyaratan fisik menyangkut konstruksi rumah. Berdasarkan
pengalaman-pengalaman sebelumnya, setiap orang merasa perlu untuk membuat fondasi
yang kokoh supaya konstruksinya kuat. Tipe fondasi bermacam-macam bergantung pada
berat dari rumah atau gedung yang akan dibangun dan keadaan bawah tanah (subsoil).
Subsoil yang berbatu-batu atau kerikil akan dapat menahan beban yang berat, tetapi subsoil
yang terdiri atas tanah liat, kekuatan menahan bebannya tidak tetap. Kekuatannya bisa
bertambah dan bisa pula menurun, bergantung pada keadaan peresapan airnya yang juga
berubah-ubah mengikuti perubahan keadaan musim. Fondasi yang tidak sesuai akan
mengakibatkan rumah yang di atasnya bisa rontok. Ada tiga cara dalam membuat fondasi,
yaitu:
a. Membuat parit-parit yang diisi dengan adukan semen;
b. Membuat semacam rakit dengan adukan semen yang konkret;
c. Membangun tiang-tiang/pilar-pilar dari besi beton.
Luas bangunan harus disesuaikan dengan jumlah penghuni rumah, luas lantai bangunan
disesuaikan dengan penghuninya. Luas bangunan yang tak sebanding dengan jumlah
penghuni akan mengakibatkan sesak, kurang bebas, dan akan menyebabkan tidak sehat. Jika
salah satu anggota keluarga ada yang menderita penyakit infeksi menular, maka kurangnya
suplai oksigen akan memudahkan terjadinya penularan penyakit. Luas bangunan yang
optimum adalah 2,5-3 m untuk tiap orang (tiap anggota keluarga) (2).
3. Persyaratan fisiologis
Rumah sehat harus dipenuhi criteria ventilasi yang baik, pencahayaan yang cukup, terhindar
dari kebisingan, dan adanya lapangan rekreasi, terutama untuk anak-anak bermain.
a. Ventilasi
Ventilasi merupakan hal yang penting untuk diperhatikan, rumah sebaiknya dibuat
sedemikian rupa sehingga udara segar dapat masuk ke dalam rumah secara bebas, sehingga
asap dan udara kotor dapat hilang secara tepat. Hal ini dapat dicapai dengan menempatkan
pintu dan jendela dalam posisi yang tepat, sehingga udara dapat masuk ke dalam kamar-
kamar dan ruangan-ruangan lain di dalam rumah. Fungsi ventilasi adalah:
1) Menjaga agar aliran udara di dalam rumah tetap segar;
2) Membebaskan udara ruangan dari bakteri-bakteri, terutama bakteri pathogen karena
aliran udara yang terus-menerus;
3) Menjaga ruangan agar kelembaban dapat terjaga secara optimal.
Ada dua macan ventilasi, yaitu ventilasi alamiah dan ventilasi buatan. Aliran udara dalam
ruangan pada ventilasi alamiah terjadi secara alami melalui jendela, pintu, lubang-lubang,
dinding, angin-angin, dan sebagainya. Sedangkan pada ventilasi buatan aliran udar terjadi
karena adanya alat-alat khusus untuk mengalirkan udara seperti mesin pengisap (AC) dan
kipas angin (2).
b. Pencahayaan
Sebuah rumah dapat dikatakan sebagai rumah yang sehat apabila memiliki pencahayaan yang
cukup. Hal ini dikarenakan cahaya mempunyai sifat dapat membunuh bakteri atau kuman
yang masuk ke dalam rumah. Selain itu, yang perlu diperhatikan dalam pencahayaan adalah
tingkat terangnya cahaya itu. Kurangnya pencahayaan akan menimbulkan beberapa akibat
pada mata, kenyamanan, sekaligus produktivitas seseorang. Oleh karena itu, dapat dikatakan
bahwa pencahayaan yang cukup dalam sebuah rumah sangat mempengaruhi kesehatan orang-
orang yang ada di dalamnya. Ada dua macam cahaya, yaitu cahaya alamiah dan cahaya
buatan. Cahaya alamiah merupakan cahaya langsung berasal dari sumber cahaya matahari.
Cahaya ini sangat penting sebab bermanfaat selain untuk penerangan secara alami, tidak
perlu mengeluarkan biaya, dan berfungsi membunuh bakteri-bakteri patogen di dalam rumah,
misalnya basil TBC. Idealnya, cahaya masuk luasnya sekurang-kurangnya adalah 15-20%
dari luas lantai yang terdapat di dalam ruangan rumah. Cahaya buatan merupakan cahaya
yang bersumber dari listrik, lampu, api, lampu minyak tanah, dan sebagainya (2).
c. Kebisingan
Saat ini pengaruh kebisingan mulai diperhatikan oleh setiap orang. Hal ini dikarenakan
kebisingan dapat mengganggu konsentrasi dan kenyamanan seseorang. Apalagi kalau
datangnya tiba-tiba seperti letusan yang sangat mengganggu kehidupan. Orang yang memiliki
penyakit jantung dapat meninggal seketika karena adanya letusan tersebut. Rumah sehat
adalah sebuah rumah yang bisa terhindar dari kebisingan/letaknya jauh dari sumber
kebisingan (2).
4. Persyaratan psikologis
Rumah sehat harus memiliki pembagian ruangan yang baik, penataan perabot yang rapi, tidak
over crowding, dan sebagainya. Over crowding menimbulkan efek-efek negative terhadap
kesehatan fisik, mental, maupun moral. Penyebaran penyakit-penyakit menular di rumah
yang padat penghuninya cepat terjadi. Selain itu, di daerah yang seperti ini, kesibukan dan
kebisingan akan meningkat, yang akan menimbulkan gangguan terhadap ketenangan, baik
individu, keluarga, maupun keseluruhan masyarakat di sekitarnya. Ketenangan dan
kerahasiaan setiap individu tidak akan terjamin dan akan mengakibatkan akses-akses
menurunnya moral. Undang-undang perumahan di beberapa Negara maju member wewenang
kepada pemerintah untuk menanggulangi masalah seperti ini. Rumah tempat tinggal
dinyatakan over crowding bila jumlah orang yang tidur di rumah tersebut menunjukkan hal-
hal sebagai berikut (2):
a. Dua individu dari jenis kelamin yang berbeda dan berumur di atas 10 tahun dan bukan
berstatus sebagai suami istri, tidur di dalam satu kamar.
b. Jumlah orang di dalam rumah dibandingkan dengan luas lantai telah melebihi ketentuan
yang telah ditetapkan.

5. Fasilitas-fasilitas dalam rumah sehat


Rumah yang sehat harus mempunyai fasilitas-fasilitas sebagai berikut (2):
a. Penyediaan air bersih yang cukup;
b. Pembuangan tinja;
c. Pembuangan air limbah (air bekas);
d. Pembuangan sampah;
e. Fasilitas dapur;
f. Ruang berkumpul keluarga.
C. Faktor-faktor yang Perlu Diperhatikan dalam Membangun Rumah
1. Tingkat kemampuan ekonomi
Individu jika ingin membangun suatu rumah tentunya akan mengukur tingkat kemampuan
ekonominya, terutama menyangkut kesiapan finansial. Bagi masyarakat desa terkadang
persoalan tidak serumit di perkotaan, dimana tanah yang akan dipergunakan untuk
membangun suatu perumahan tidak semahal di kota, bahan-bahan yang akan dipergunakan
dapat memanfaatkan sarana yang ada seperti bambu, kayu, atau atap bisa dibuat dari daun,
alang-alang, daun lontar, dan lain-lain. Bahan-bahan tersebut di desa relative masih mudah
didapat dan murah, namun di kota persoalannya akan berbeda. Hal-hal yang perlu menjadi
perhatian tiap-tiap individu dalam masyarakat yang akan membangun rumah adalah
membangun rumah tidak sekedar mendirikan saja, tetapi bagaimana perawatan rumah
tersebut sehingga dapat dipergunakan dalam waktu yang cukup lama bahkan dapat dinikmati
oleh anak cucunya (2).
2. Faktor alam (lingkungan)
Lingkungan yang dimaksud termasuk lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Hal ini
menyangkut bagaimana kondisi lingkungan alam dan social di sekitar kita. Membangun
rumah di daerah yang rawan bencana banjir harus diperhatikan letak lokasi tanah diupayakan
sebelumnya saat membangun ketinggian tanah diperkirakan agar di saat musim penghujan
tidak kebanjiran. Membangun rumah di dekat daerah rawan longsor dan daerah rawan gempa,
bahan yang digunakan harus ringan, namun kokoh. Rumah daerah dingin, panas,
pegunungan, pantai, kota, dan desa akan mempunyai karakteristik tersendiri dan perlu desain
yang berbeda-beda. Rumah dekat dengan hutan bisa dibuat sedemikian rupa dengan membuat
tangga yang tinggi agar binatang buas dan ular tidak dapat naik (2).
3. Kemajuan teknologi
Saat ini teknologi perumahan sudah begitu modern, namun rumah yang modern belum tentu
sesuai dengan selera individu di masyarkat. Teknologi modern selain membutuhkan biaya
dan perawatan yang mahal juga diperlukan pengetahuan yang cukup agar mengerti tentang
teknologi tersebut. Bagaimanapun masyarakat telah memiliki teknologi perumahan yang
telah diwarisi dari orang tuanya. Oleh karena itu, penerapan teknologi yang tepat guna harus
dipertahankan sedangkan kekurangan-kekurangan yang ada dimodifikasi, sehingga dapat
memenuhi persyaratan rumah sehat yang telah ditetapkan. Teknologi yang tinggi jika
diterapkan di daerah tertentu belum tentu sesuai. Membangun rumah dengan pilar-pilar yang
tinggi, bahan dari batu bata, rumah kaca, desain kamar tertutup, ventilasi, dan jendela diganti
dengan AC, hal ini jika diterapkan di desa belum tentu sesuai sebab udara di desa masih
segar, rumah masih belum begitu padat, dan pencahayaan masih bagus (2).
4. Peraturan pemerintah menyangkut tata guna bangunan
Peraturan pemerintah terkait tata guna bangunan jika tidak dibuat secara tegas dan dan jelas
dapat menyebabkan gangguan ekosistem seperti banjir, pemukiman kumuh, dan lain-lain.
Saat ini di kota-kota besar hal ini sudah menjadi problem yang kompleks. Namun jika di
pedesaan hal ini belum menjadi masalah yang serius (2).
D. Standar Rumah Sehat
Pada dasarnya rumah yang baik dan pantas untuk dihuni harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut: bebas dari kelembapan; mudah diadakan perbaikan; mempunyai cukup akomodasi
dan fasilitas untuk mencuci, mandi dan buang kotoran; serta mempunyai fasilitas yang cukup
untuk menyimpan, meracik, dan memasak makanan. Pada tahun 1946 di Inggris ada sebuah
Sub Committee on Standards of Fitness for Habitation yang membuat rekomendasi terhadap
rumah yang akan dihuni, antara lain sebagai berikut (2):
1. Dalam segala hal harus kering.
2. Dalam keadaan rumah diperbaiki.
3. Tiap kamar mempunyai lampu dan lubang ventilasi.
4. Mempunyai persediaan air yang cukup untuk segala keperluan rumah tangga.
5. Mempunyai kamar mandi.
6. Mempunyai tempat/kamar cuci, dengan pembuangan air limbah yang baik.
7. Mempunyai system drainase yang baik.
8. Mempunyai jamban yang memenuhi syarat kesehatan (di dalam atau di luar).
9. Cukup fasilitas untuk menyimpan, meracik, dan memasak makanan.
10. Tempat menyimpan makanan harus mempunyai ventilasi yang baik.
11. Jalan masuk ke rumah yang baik.
12. Mempunyai fasilitas alat pemanas/pendingin di kamar.
13. Setiap kamar mempunyai titik lampu yang cukup.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. KESIMPULAN
Kesimpulan dari analisa Indeks Potensi Tatanan Sehat (IPTS) meliputi sanitasi tempat-tempat
umum berupa; sekolah, tempat peribadatan,terminal, dan rumah sakit adalah sebagai berikut:
1. Indikator Potensi Tatanan Sehat (IPTS) Sekolah di wilayah Batu Kota sebesar 75%
berpotensi sehat, sedangkan 25% sekolah tidak berpotensi sehat.
2. Indikator Potensi Tatanan Sehat (IPTS) Tempat Peribadatan sebesar 56% di wilayah
Kota Batu berpotensi sehat, sedangkan 44% tempat peribadatan tidak berpotensi sehat.
3. Indikator Potensi Tatanan Sehat (IPTS) Terminal sebesar 100% berpotensi sehat.
4. Indikator Potensi Tatanan Sehat (IPTS) Rumah Sakit tidak ditemukan hasil karena
belum dilakukan pemeriksaan.
2.SARAN
1. Upaya yang harus dilakukan untuk mengintervensi tatanan sekolah yang tidak
berpotensi sehat dilakukan pelatihan dokter kecil, karena faktor inilah yang harus segera
ditindaklanjuti sebagai kegiatan mandiri pelayanan kesehatan siswa sekolah dasar oleh dokter
kecil yang telah dibina.
2. Peningkatan Indeks Potensi Tatanan Sehat (IPTS) Tempat Peribadatan yang perlu
diperhatikan adalah mengenai kebersihan lingkungan yang meliputi;kebersihan lantai,
kebersihan tempat wudlu, dan kebersihan langit-langit.
3. Usaha mempertahankan kondisi terminal yang sehat memerlukan kerjasama dan
koordinasi yang baik antara lembaga terkait dengan masyarakat.Masyarakat perlu
mendapatkan pendidikan kesehatan tentang kesehatan lingkungan sehingga akan tercipta
suasana terminal yang menyenangkan dan bersih.
4. Analisis Indeks Potensi Tatanan Sehat Rumah Sakit perlu dilakukan untukmelihat
kondisi rumah sakit.

/////////////////

SANITASI TEMPAT-TEMPAT UMUM


8 NOVEMBER 2012 BY RENDEZVOUS2318
PENTINGNYA PENGELOLAAN SANITASI DI TEMPAT-TEMPAT UMUM

Menurut beberapa literatur yang disebut tempat umum adalah suatu


tempat dimana orang banyak atau masyarakat umum berkumpul untuk melakukan kegiatan
baik secara sementara (insidentil) maupun secara terus menerus (permanent), baik membayar
mapupun tidak membayar.

Kriteria suatu tempat umum adalah terpenuhinya beberapa syarat :

1. Diperuntukkan bagi masyarakat umm


2. Harus ada gedung/tempat yang permanen
3. Harus ada aktivitas (pengusaha, pegawai, pengunjung)
4. Harus ada fasilitas (SAB, WC, Urinoir, tempat sampah, dll)

Sedangkan yang disebut sanitasi tempat-tempat umum adalah suatau usaha untuk mengawasi
dan mencegah kerugian akibat dari tidak terawatnya tempat-tempat umum tersebut yang
mengakibatkan timbul dan menularnya berbagai jenis penyakit.
Sasasan khusus yang harus diberikan dalam pengawasn tempat-tempat umum meliputi :

1. Manusia sebagai pelaksana kegiatan (kebersihan secara umum maupun personal


hygiene)
2. Alat-alat kebersihan
3. Tempat kegiatan

Kenapa sanitasi di tempat-tempat umum sangat diperlukan ? :

1. Adanya kumpulan manusia yang berhubungan langsung dengan lingkungan


2. Kurangnya pengertian dari masyarakat mengenai masalah kesehatan
3. Kurangnya fasilitas sanitasi yang baik
4. Adanya kemungkinan besar terjadinya penularan penyakit
5. Adanya kemungkinan terjadinya kecelakaan
6. Adanya tuntutan physical dan mental confort

ASPEK PENTING DALAM PENYELENGGARAAN SANITASI TEMPAT-TEMPAT


UMUM
1. Aspek teknis /hukum (persyaratan H dan S, Peraturan dan perundang-undangan
sanitasi
2. Aspek sosial, yang meliputi pengetahuan tentang : kebiasaan hidup, adat istiadat,
kebudayaan, keadaan ekonomi, kepercayaan, komunikasi, dll
3. Aspek administrasi dan management, yang meliputi penguasaan pengetahuan tentang
cara pengelolaan STTU yang meliputi : Man, Money, Method, Material dan Machine
HAMBATAN YANG SANGAT SERING DIJUMPAI DALAM PELAKSANAAN
SANITASI DI TEMPAT-TEMPAT UMUM

PENGUSAHA

1. Belum adanya pengertian dari para pengusaha mengenai peraturab per undang-
undangn yang menyangkut usha STTU dan kaitannya dengan usaha kesehtan
masyarakat
2. Belum mengetahui / kesadaran mengenai pentingnya usaha STTU untuk menghindari
terjadinya kecelakaan atau penularan penyakit
3. Adanya sikap keberata dari pengusaha untuk memenuhi persyaratan-persyaratan
karena memerlukan biaya ekstra
4. Adanya sikap apatis dari masyarakat tenang adanya peraturan/persyaratan dari STTU

PEMERINTAH
1. Belum semua peraltan dimiliki oelh tenaga pengawas pada tingkat II dan kecamatan
2. Masih terbatasnya pengetahan petugas dalam melaksanakan pengawasan
3. Masih minimnya dana yang dialokasikan untuk pengawasan STTU
4. Belum semua kecamatan /tingkat II memiliki saran transportasi untuk melakukan
kegiatan pengawasan
LANGKAH-LANGKAH DALAM IMPLEMENTASI USAHA STTU
1. Identifikasi masalah (problem identification)
2. Pemeriksaan H&S TTU (sanitary inspection)
3. Follow Up
4. Evaluasi
5. Pencatatan dan pelaporan
JENIS-JENIS TEMPAT UMUM YANG SANGAT MEMERLUKAN PENGAWASAN
Hotel
Restourant
Kolam renang
Pasar
Bioskop
tempat-tempat rekreasi
tempat-tempat ibadah
pertokoan
Pemangkas rambut
salon
Stasiun kereta api atau bus
rumah sakit

///////////////////

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Definisi Tempat-Tempat Umum (TTU) adalah suatu tempat dimana umum (semua
orang) dapat masuk ke tempat tersebut untuk berkumpul mengadakan kegiatan baik secara
insidentil maupun terus menerus, (Suparlan 1977).
Tempat-tempat ibadah merupakan salah satu sarana tempat-tempat umum yang
dipergunakan untuk berkumpulnya masyarakat guna melaksanakan kegiatan ibadah. Masalah
kesehatan lingkungannya merupakan suatu masalah yang perlu di perhatikan dan
ditingkatkan. Dalam hal ini pengelola/pengurus tempat-tempat ibadah tersebut perlu dan
sangat perlu untuk diberikan pengetahuan tentang kesehatan lingkungan yang berhubungan
dengan tempat-tempat umum (tempat ibadah) guna mendukung upaya peningkatan kesehatan
lingkungan melalui upaya sanitasi dasar, pengawasan mutu lingkungan tempat umum,
termasuk pengendalian pencemaran lingkungan.
Masjid adalah suatu tempat termasuk fasilitasnya, dimana umum, pada waktu waktu
tertentu berkumpul untuk melakukan ibadah keagamaan Islam.
Masjid-masjid besar di Indonesia pada umumnya dibangun dengan konsep masjid
berkubah berbentuk setengah bola atau dome. Semestinya, pada saat merancang masjid,
desain akustik tidak boleh dikesampingkan karena berpengaruh terhadap kualitas bunyi yang
diterima pendengar diakibatkan dari suara dengung di dalam ruang masjid. Kegiatan yang
sering dilakukan di dalam masjid adalah kegiatan yang menimbulkan kejelasan penyampaian
suara, seperti sholat berjamaah dan ceramah agama.
Dasar pelaksanaan Penyehatan Lingkungan Masjid adalah Kep. Menkes
288/Menkes/SK/III/2003 tentang Pedoman Penyehatan Sarana dan Bangunan Umum.
Jadi sanitasi tempat-tempat umum adalah suatu usaha untuk mengawasi dan
mencegah kerugian akibat dari tempat-tempat umum terutama yang erat hubungannya dengan
timbulnya atau menularnya suatu penyakit.

BAB I
PEMBAHASAN

2.1 Sanitasi Tempat-Tempat Umum

Definisi sanitasi menurut WHO adalah usaha pencegahan/ pengendalian semua faktor
lingkungan fisik yang dapat memberikan pengaruh terhadap manusia terutama yang sifatnya
merugikan/ berbahaya terhadap perkembangan fisik , kesehatan dan kelangsungan hidup
manusia.
Definisi Tempat-Tempat Umum (TTU) adalah suatu tempat dimana umum (semua
orang) dapat masuk ke tempat tersebut untuk berkumpul mengadakan kegiatan baik secara
insidentil maupun terus menerus, (Suparlan 1977).
Suatu tempat dikatakan tempat umum bila memenuhi kriteria :
1.Diperuntukkan masyarakat umum.
2.Mempunyai bangunan tetap/ permanen.
3.Tempat tersebut ada aktivitas pengelola,pengunjung/ pengusaha.
4. Pada tempat tersebut tersedia fasilitas :
a.Fasilitas kerja pengelola.
b.Fasilitas sanitasi, seperti penyediaan air bersih, bak sampah, WC/ Urinoir, kamar mandi
Jadi sanitasi tempat-tempat umum adalah suatu usaha untuk mengawasi dan
mencegah kerugian akibat dari tempat-tempat umum terutama yang erat hubungannya dengan
timbulnya atau menularnya suatu penyakit. Untuk mencegah akibat yang timbul dari tempat-
tempat umum.
Usaha-usaha yang dilakukan dalam sanitasi tempat-tempat umum dapat berupa :
1. Pengawasan dan pemeriksaan terhadap factor lingkungan dan factor manusia yang
melakukan kegiatan pada tempat-tempat umum.
2. Penyuluhan terhadap masyarakat terutama yang menyangkut pengertian dan kesadaran
masyarakat terhadap bahaya-bahaya yang timbul dari tempat-tempat umum.

Peran sanitasi tempat-tempat umum dalam kesehatan masyarakat adalah usaha untuk
menjamin :
1. Kondisi fisik lingkungan TTU yang memenuhi syarat :
a. Kualitas kesehatan.
b. Kualitas sanitasi.
2. Psikologis bagi masyarakat :
a. Rasa keamanan (security) : bangunan yang kuat dan kokoh sehingga tidak menimbulkan
rasa takut bagi pengunjung.
b. Kenyamanan (confortmity) : misalnya kesejukkan.
c. Ketenangan (safety) : tidak adanya gangguan kebisingan, keramaian kendaraan.

2.1.1 Pemeriksaan Sanitasi Tempat Ibadah (Masjid)

Tempat-tempat ibadah merupakan salah satu sarana tempat-tempat umum yang


dipergunakan untuk berkumpulnya masyarakat guna melaksanakan kegiatan ibadah. Masalah
kesehatan lingkungannya merupakan suatu masalah yang perlu di perhatikan dan
ditingkatkan. Dalam hal ini pengelola/pengurus tempat-tempat ibadah tersebut perlu dan
sangat perlu untuk diberikan pengetahuan tentang kesehatan lingkungan yang berhubungan
dengan tempat-tempat umum (tempat ibadah) guna mendukung upaya peningkatan kesehatan
lingkungan melalui upaya sanitasi dasar, pengawasan mutu lingkungan tempat umum,
termasuk pengendalian pencemaran lingkungan.
Dengan peran serta dari pengurus tempat-tempat ibadah diharapkan :
1. Berubahnya atau terkendalinya atau hilangnya semua unsur fisik dan
lingkungan yang terdapat dilingkungan tempat ibadah yang dapat memberi pengaruh
jelek terhadap kesehatan
2. Meningkatnya mutu kesehatan lingkungan tempat-tempat ibadah.
3. Terwujudnya kesadaran dan keikutsertaan masyarakat dan sektor lain dalam
pelestarian dan peningkatan penyehatan lingkungan tempat-tempat ibadah.
4. Terlaksananya pendidikan kesehatan tentang peningkatan kesehatan
lingkungan .
5. Terlaksananya pengawasan secara teratur pada sanitasi tempat-tempat ibadah.
a. Pengertian Masjid.
Masjid adalah suatu tempat termasuk fasilitasnya, dimana umum, pada waktu waktu
tertentu berkumpul untuk melakukan ibadah keagamaan Islam. Dasar pelaksanaan
Penyehatan Lingkungan Masjid adalah Kep. Menkes 288/Menkes/SK/III/2003 tentang
Pedoman Penyehatan Sarana dan Bangunan Umum.

Komponen penilaian meliputi :


1. Letak
Sesuai dengan rencana tata kota
- Tidak berada pada arah angin dari sumber pencemaran (debu,asap,bau dan cemaran lainx)
- Tidak berada pada jarak < 100 meter dari sumber pencemaran debu, asap, bau & cemaran
lainnya
2. Kontruksi
3. Persyaratan, seperti :
a. Alat sembahyang
b. Lantai
-Kuat, tidak terbuat dari tanah, bersih, rapat air, tidak licin dan mudah dibersihkan.
c. Ventilasi
- Minimal 10% dari luas bangunan, sejuk dan nyaman (tdk pengap dan tdk panas)
d. Pencahayaan
e. Tempat sandal dan sepatu
f. Tersedia tempat sandal dan sepatu yang khusus

b. Persyaratan Kondisi Masjid

1. Persyartan Kesehatan Lingkungan dan bangunan Umum :


a. Lokasi masjid tidak terletak di daerah banjir dan sesuai dengan perencanaan tata Kota
Meulaboh
b. Bersih dan tertata rapi dan system drainase berfungsi dengan baik.
c. Tidak terdapat genangan air di lingkungan/ halaman masjid.
d. Terdapat pagar yang kuat dan terpelihara dengan baik.
e. Lantai masjid bersih, kuat, kedap air, tidak licin dan permukaanya rata.
f. Dinding masjid bersih berwarna terang dan permukaan yang selalu kontak dengan air
kedap air.
g. Atap ruangan masjid harus kuat, tidak tidak bocor serta tidak memungkinkan terjadinya
genangan air.
h. Langit-langit masjid harus memiliki tinggi dari lantai minimal 2,5 meter, kuat serta
berwarna terang.
i. Pencahayaan dalam ruangan masjid harus cukup terang.
j. Memiliki ventilasi yang dapat mengatur sirkulasi udara baik ventilasi alami maupun buatan,
sehingga kondisi ruangan menjadi terasa nyaman.
k. Alat sholat bersih dan tidak lembab, selalu dibersihkan dan dijemur secara periodic, bebas
dari kutu busuk dan serangga lainnya. sepanjang bagian depan shaf dipasang kain putih yang
bersih dengan lebar 30 cm2 yang digunakan untuk tempat bersujud.

2) Fasilitas Sanitasi :

1. Air Bersih
- Jumlah mencukupi / selalu tersedia setiap saat
- Tidak berbau, tidak berasa & tidak berwarna
- Angka kuman tidak melebihi NAB
- Kadar bahan kimia tidak melebihi NAB
2. Pembuangan Air Kotor
- Terdapat penampungan air limbah yang rapat serangga
- Air limbah mengalir dengan lancar
- Saluran kedap air
- Saluran tertutup
3. Toilet/ WC
- Bersih
- Letaknya tidak berhubungan langsung dengan bangunan utama
- Tersedia air yang cukup
- Tersedia sabun & alat pengering
- Toilet pria & wanita terpisah
- Jumlahnya mencukupi untuk pengunjung terbanyak
- Saluran pembuangan air limbah dilengkapi dengan penahan bau (water seal)
- Lubang penghawaan harus berhubungan langsung dengan udara luar
4. Peturasan
- Bersih
- Dilengkapi dengan kran pembersih
- Jumlahnya mencukupi
5. Tempat Sampah
- Tempat sampah kuat, kedap air, tahankarat, dan dilengkapi dengan penutup
- Jumlah tempat sampah mencukupi
- Sampah diangkut setiap 24 jam ke TPA
- Kapasitas tempat sampah terangkat oleh 1 orang
6. Tempat Wudhu
Bersih
Terpisah dari toilet, peturasan, & ruang mesjid
Air wudhu keluar melalui kran kran khusus & jumlahnya mencukupi
Kolam air wudhu tertutup (rapat serangga)
Tidak terdapat jentik nyamuk pada kolam air wudhu
Limbah air wudhu mengalir lancar
Tempat wudhu pria dan wanita sebaiknya terpisah
7.Tempat Sembahyang
- Bersih, tidak berbau yang tidak enak
- Bebas kutu busuk & serangga lainnya
- Sepanjang bagian depan tiap sap dipasang kain putih yang bersih dengan lebar 30 cm
sebagai tempat sujud
8.Tempat sandal dan sepatu
- Tersedia tempat sandal & sepatu yang khusus
- Bersih dan kuat

DAFTAR PUSTAKA

http://dwiafriapratama.blogspot.com/2012/01/pemeriksaan-inspeksi-sanitasi-tempat.html
http://ardhikesehatanlingkungan.blogspot.com/2011/12/sanitasi-tempat-ibadah.html

///////////////

////////////////

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi (pengelolaan air limbah domestic).
Pembuangan akhir limbah tinjaumumnya dibuang menggunakan beberapa cara antara lain
dengan menggunakan septic tank, dibuang langsung ke sungaiatau danau, dibuang ke tanah ,
dan ada juga yang dibuang kekolam atau pantai. Di beberapa daerah pedesaan di Indonesia,
masih banyak dijumpai masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinandengan sanitasi
yang sangat minim.
Permasalahan sanitasi di Indonesia dewasa ini masih menjadi suatu permasalahan yang
sangat kompleks dan urgent. Masih banyak daerah-daerah di Indonesia bahkan di daerah
ibukota sendiri yang mengalami permasalahan sanitasi. Padahal sanitasi juga dapat menjadi
tolok ukur dan faktor pendukung sebuah kesejahteraan bagi masyarakat.
Masih sering dijumpaisebagian masyarakat yang membuang hajatnya di sungai
karenatidak mempunyai saluran pembuangan khusus untuk pembuanganair limbah rumah
tangga maupun air buangan dari kamarmandi. Bahkan terkadang masih dijumpai masyarakat
yangmembuang hajatnya di pekarangan rumahnya masing-masing.
Sanitasi merupakan salah satu komponen dari kesehatan lingkungan, yaitu perilaku yang
disengaja untuk membudayakan hidup bersih untuk mencegah manusia bersentuh langsung
dengan kotoran dan bahan buangan berbahaya lainnya, dengan harapan dapat menjaga dan
meningkatkan kesehatan manusia.Hal ini terjadi selain disebabkan karena factor ekonomi,
faktorkebiasaan yang sulit dirubah dan kualitas pendidikan yangrelative rendah dari
masyarakat pun memang sangatberpengaruh besar terhadap pola hidup masyarakat.
Dalam penerapannya dimasyarakat, sanitasi meliputi penyediaan air, pengolaan limbah,
pengolaan sampah, control vector, pencegahan dan pengontrolan pencemaran tanah, sanitasi
makanan, serta pencemaran udara.
Sanitasi sangat menentukan keberhasilan dari paradigma pembangunan kesehatan
lingkungan lima tahun ke depan yang lebih menekankan pada aspek pencegahan dari aspek
pengobatan. Dengan adanya upaya pencegahan yang baik, angka kejadian penyakit yang
terkait dengan kondisi lingkungan dapat di cegah. Selain itu anggaran yang diperlukan untuk
preventif juga relative lebih terjangkau daripada melakukan upaya pengobatan.
Menurut beberapa literatur yang disebut tempat umum adalah suatu tempat dimana
orang banyak atau masyarakat umum berkumpul untuk melakukan kegiatan baik secara
sementara (insidentil) maupun secara terus menerus (permanent), baik membayar mapupun
tidak membayar.
Dari latar belakang yang telah penulis jabarkan diatas maka penulis mengambil judul
dalam makalah iniadah Pengelolaan Sanitasi Di Tempat-Tempat Umum (STTU)
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam kalah ini adalah :
1. Apa pengertian sanitasi?
2. Bagimana pengelolaaan sanitasi Tempat-tempat umum (STTU)?

C. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahu dan memahami pengertian dari Sanitasi
2. Memahami pengelolaan sanitasi tempat-tempat umum (STTU).

D. Manfaat Penulisan
Dalam penulisan makalah diharapkan dapat bermanfaat bagi peihak bagi semua pihak
yang terlibat didalamnya, dengan tujuan agar adanya pemahaman dan peningkatan mengenai
pelaksanaan penglolaan sanitasi tempat-tempat umum (STTU).

///////////////

1. Cover
2. Daftar Isi
3. Kata Pengantar
4. Bab I Pendahuluan
5. Bab II Pembahasan
6. Bab III Penutup
7. Daftar Pustaka
8. Lampiran