Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Secara anatomi meningen menyelimuti otak dan medula spinalis. Selaput
otak terdiri atas tiga lapisan dari luar ke dalam yaitu dura mater, arakhnoid, dan
pia mater. Dura mater terdiri atas lapisan yang berfungsi kecuali di dalam tulang
tengkorak, dimana lapisan terluarnya melekat pada tulang dan terdapat sinus
venosus. Falk serebri adalah lapisan vertikal dura mater yang memisahkan kedua
hemisfer serebri pada garis tengah.
Tentorium serebri adalah ruang horizontal dari dura mater yang
memisahkan lobus oksipitalis dari serebellum. Arakhnoid merupakan membran
lembut yang bersatu di tempatnya dengan pia mater, di antaranya terdapat ruang
subarakhnoid dimana terdapat arteri dan vena serebridan dipenuhi oleh cairan
serebrospinal. Sisterna magna adalah bagian terbesar dari subarakhnoid di
sebelah belakang otak belakang, memenuhi celah di antara serebellum dan
medula oblongata.Pia mater adalah membran halus yang akan pembuluh darah
kecil yang menyuplai darah ke otak dalam jumlah yang banyak. Pia mater adalah
lapisan yang langsung melekat dengan permukaan otak dan seluruh medula
spinalis (Muttaqin, 2008)
Meningitis adalah inflamasi yang terjadi pada meningen otak dan Medula
spinalis. Gangguan ini biasanya merupakan komplikasi bakteri (infeksi
sekunder) seperti sinusitis, otitis media, pneumonia, atau osteomielitis.
Organisme yang merupakan penyebab umum meningitis meliputi Neisseria
Meningitis (Meningitis Meningokok), Haemophilus influenzae, dan Strepcoccus
pneumonia (organisme ini biasanya terdapat di nasofaring). Organisme
penyebab meningitis yang sering menyerang bayi (sampai usia 3 bulan) adalah
Escherichia coli dan Listeria monocytogenes. Berdasarkan penyebabnya,
meningitis dapat dibagi menjadi meningitis aseptik (aseptic meningitis)yang
disebabkan oleh virus, meningitis non-infeksius yang disebabkan oleh darah di
ruang subarakhnoid, dan meningitis bakterial (bacterial meningitis) yang
disebkan oleh berbagai macam bakteri (Batticaca, 2012).

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari meningitis?
2. Apa etiologi meningitis?
3. Apa saja tanda gejala dan klasifikasi meningitis?
4. Bagaimana patofisiologi meningitis?
5. Bagimana pemeriksaan laboratorium meningitis?
6. Bagaimana penatalaksanaan medis dan keperawatan?
7. Apa saja komplikasi meningitis?

C. Tujuan
1. Mengetahui dan memahami definisi dari meningitis.
2. Mengetahui dan memahami etiologi meningitis.
3. Mengetahui dan memahami tanda gejala dan klasifikasi meningitis.
4. Mengetahui dan memahami patofisiologi meningitis.
5. Mengetahui dan memahami pemeriksaan laboratorium meningitis.
6. Mengetahui dan memahami penatalaksanaan medis dan keperawatan.
7. Mengetahui komplikasi meningitis.

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Definisi
Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen,cairan
serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada sistem
saraf pusat (Suriadi dan Rita Yuliani, 2007).
Meningitis adalah suatu peradangan araknoid danpiameter
(leptomeningens) dari otak dan medulla spinalis. Bakteri dan virus merupakan
penyebab yang paling umum dari meningitis, meskipun jamur dapat juga
menyebabkan. Meningitis bakteri paling sering terjadi. Deteksi awal dan
pengobatan akan lebih memberikan hasil yang lebih baik (Widagdo, 2008).
Meningitis merupakan radang selaput otak yang ditandai dengan adanya
peningkatan leukosit dalam CSF (Nugroho, 2011).
Meningitis adalah inflamasi yang terjadi pada meningen otak dan medula
spinalis. Gangguan ini biasanya merupakan komplikasi bakteri (infeksi
sekunder) seperti sinusitis, otitis media, pneumonia, endokarditis, atau
osteomielitis (Batticaca, 2012).
Meningitis adalah radang pada meningen (membran yang mengelilingi
otak dan medula spinalis)dan disebabkan oleh virus, bakteri atau organ-organ
jamur (NANDA, 2012).
Meningitis adalah peradangan pada meninges, membran dari otak dan
sumsum tulang belakang. Hal ini paling sering disebabkan oleh infeksi (bakteri,
virus,atau jamur), tetapi juga dapat diproduksi oleh iritasi kimia, perdarahan
subarachnoid, kanker dan kondisi lainnya (WHO, 2014).

B. Anatomi & Fisiologi Selaput Otak


Selaput otak terdiri dari 3 lapisan dari luar kedalam yaitu Durameter,
Arachnoid, Piameter.
Durameter terdiri dari lapisan yang berfungsi kecuali didalam tulang
tengkorak, dimana lapisan terluarnya melekat pada tulang dan terdapat sinus
venosus. Falx serebri adalah lapisan vertikal durameter yang memisahkan

3
kedua hemisfer serebri pada garis tengah. Tentorium serebri adalah ruang
horizontal dari Durameter yang memisahkan lobus oksipitalis dari serebelum.
Araknoid merupakan membran lembut yang bersatu ditempatnya dengan
parameter, diantaranya terdapat ruang subarnoid dimana terdapat arteri dan
vena serebral dan dipenuhi oleh cairan serebrospinal. Sisterna magna adalah
bagian terbesar dari ruang subaranoid disebelah belakang otak belakang,
memenuhi celah diantara serebelum dan medulla oblongata.
Piamater merupakan membran halus yang kaya akan pembuluh darah kecil
yang mensuplai darah keotak dalam jumlah yang banyak. Piameter adalah
lapisan yang langsung melekat dengan permukaan otak dan seluruh medula
spinalis.

Meningitis dapat disebabkan oleh berbagai organisme yang bervariasi,


tetapi ada tiga tipe utama yakni:
Infeksi bakteri, piogenik yang disebabkan oleh bakteri pembentuk pus,
terutama meningokokus, pneumokokus, dan basil influenza.
Tuberkulosis, yang disebabkan oleh basil tuberkel (Mycobacterium
tuberculose).
Infeksi virus, yang disebabkan oleh agen-agen virus yang sangat
bervariasi.

4
Gambar 2.1 Lapisan Meningens
(Dikutip tanpa modifikasi dari Rohkamm R, Color Atlas of Neurology,
2004)

C. Etiologi
Meningitis dapat disebabkan oleh berbagai macam organisme :
haemophilus influenza, neisseria meningitis (meningococus), diplococus
pneumoniae, streptococcus group A, pseudomonas, staphylococcus aureus,
escherichia coli, klebsiella, proteus. Paling sering klien memiliki kondisi
predisposisi seperti : fraktur tengkorak, infeksi, pembedahan otak atau spinal,
dimana akan meningkatkan terjadinya miningitis.(Widagdo, 2008)
Ada pula etiologi dari meningitis disebabkan oleh :
1. Bakteri : Mycobacterium tuberculosa, diplococcus pneumoniae
(pneumokok), Neisseria meningitis (meningokok), strepcocus haemolyticus,
staphylococcusaureus, Haemophylus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella
pneumoniae, Peudomonasaeruginosa.
2. Penyebab lainnya lues, virus, toxoplasma gondhii dan ricketsia.
3. Faktor predisposisi : jenis kelamin laki-laki lebih sering dibandngkan dengan
wanita.
4. Faktor maternal : ruptur membran fetal, infeksi materal pada minggu terakhir
kehamilan.
5. Faktor imunologi : defisiensi mekanisme imun, defisiensi imunoglobulin.
6. Kelainan sistem saraf pusat, pembedahan atau injury yang berhubungan
dengan sistem persyarafan.(Muttaqin, 2008)
Infeksi meningen umumnya di hubungkan dengan satu atau dua jalan,
yaitu melalui salah satu aliran darah sebagai konsekuensi dari infeksi-infeksi

5
bagian lain, seperti selulitis, melalui penekanan langsung seperti didapat setelah
cedera traumatik tulang wajah. Dalam jumlah kecil ada beberapa kasus
merupakan iatrogenetik atau hasil sekunder prosedur invasif (seperti lumbal
fungsi) atau alat-alat invasif (seperti alat TIK) (Arif Muttaqin, 2008).

D. Klasifikasi
Jenis meningitis ada 3 yaitu :
1. Meningitis bacterial /purulenta /septik
Meningitis bacterial merupakan karakteristik inflamasi pada seluruh
meningen, dimana organisme masuk kedalam ruang arachnoid dan
subarachnoid. Meningitis bakterial merupakan kondisi emergensi
neurologi dengan angka kematian sekitar 25% (Ignatavicius & Wrokman,
2006).
Meningitis bacterial adalah suatu peradangan pada selaput otak,
ditandai dengan peningkatan jumlah sel polimorfonuklear dalam cairan
serebrospinal dan terbukti adanya bakteri penyebab infeksi dalam cairan
serebrospinal (Arif Mansjoer, 2000).
Meningitis purulenta adalah radang selaput otak yang menimbulkan
eksudasi berupa pus, disebabkan oleh kuman non spesifik dan nonvirus
(Ngastiyah, 2005).
Meningitis bakterial jika cepat dideteksi dan mendapatkan penanganan
yang tepat akan mendapatkan hasil yang baik. Meningitis bakterial sering
disebut juga sebagai meningitis purulen atau meningitis septik.
Bakteri yang dapat mengakibatkan serangan meningitis adalah;
Streptococcus pneuemonia (pneumococcus), Neisseria meningitides,
Haemophilus influenza, (meningococcus), Staphylococcus aureus dan
Mycobakterium tuberculosis (Ginsberg, 2008). Streptococcus pneumoniae
(pneumococcus), bakteri ini penyebab tersering meningitis akut, dan
paling umum menyebabkan meningitis pada bayi ataupun anak-
anak. Neisseria meningitides (meningococcus) bakteri ini merupakan
penyebab kedua terbanyak setelah Streptococcus pneumoniae, Meningitis
terjadi akibat adanya infeksi pada saluran nafas bagian atas yang kemudian

6
bakterinya masuk kedalam peredaran darah. Haemophilus influenza,
Haemophilus influenzae type b (Hib) adalah jenis bakteri yang juga dapat
menyebabkan meningitis. Jenis bakteri ini sebagai penyebab terjadinya
infeksi pernafasan bagian atas, telinga bagian dalam dan sinusitis.
Pemberian vaksin (Hib vaksin) telah membuktikan terjadinya angka
penurunan pada kasus meningitis yang disebabkan bakteri jenis ini.
Staphylococcus aureus, Mycobakterium tuberculosis jenis hominis.
Prognosis pada meningitis bakteri : Prognosis buruk pada usia yang lebih
muda, infeksi berat yang disertai DIC. Mortalitas bergantung pada
virulensi kuman penyebab, daya tahan tubuh pasien, cepat atau lambatnya
mendapat pengobatan yang tepat dan pada cara pengobatan dan perawatan
yang diberikan. Perawatan, akan dibicarakan bersama sama dengan
meningitis tuberkolosa.
2. Meningitis virus
Meningitis virus biasanya disebut meningitis aseptik. Sering terjadi
akibat lanjutan dari bermacam-macam penyakit akibat virus, meliputi;
measles, mumps, herpes simplek, dan herpes zoster (Ignatavicius &
Wrokman, 2006).
Meningitis virus adalah suatu sindrom infeksi virus susunan saraf pusat
yang akut dengan gejala rangsang meningeal, pleiositosis dalam likuor
serebrospinalis dengan deferensiasi terutama limfosit, perjalanan penyakit
tidak lama dan selflimited tanpa komplikasi (Ngastiyah, 2005).
Virus penyebab meningitis dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu
virus RNA (ribonuclear acid) dan virus DNA (deoxyribo nucleid
acid). Contoh virus RNA adalah enterovirus (polio), arbovirus (rubella),
flavivirus (dengue), mixovirus (influenza, parotitis, morbili). Sedangkan
contoh virus DNA antara lain virus herpes, dan retrovirus (AIDS)
(PERDOSSI, 2005).
Meningitis virus biasanya dapat sembuh sendiri dan kembali seperti
semula (penyembuhan secara komplit) (Ignatavicius & Wrokman, 2006).
Pada kasus infeksi virus akut, gambaran klinik seperti meningitis akut,
meningo-ensepalitis akut atau ensepalitis akut. Prognosis pada meningitis

7
virus : Penyakit ini self limited dan penyembuhan sempurna dijumpai
setelah 3-4 hari pada kasus ringan dan setelah 7-14 hari pada keadaan yang
berat.
3. Meningitis jamur
Infeksi jamur dan parasit pada susunan saraf pusat merupakan
penyakit oportunistik yang pada beberapa keadaan tidak terdiagnosa
sehingga penanganannya juga sulit. Manifestasi infeksi jamur dan parasit
pada susunan saraf pusat dapat berupa meningitis (paling sering) dan
proses desak ruang (abses atau kista).
Angka kematian akibat penyakit ini cukup tinggi yaitu 30% -40% dan
insidensinya meningkat seiring dengan pemakaian obat imunosupresif dan
penurunan daya tahan tubuh (Martz, 1990 dalam Depkes RI, 1998).
Meningitis kriptokokus neoformans biasa disebut meningitis jamur,
disebabkan oleh infeksi jamur pada sistem saraf pusat yang sering terjadi
pada pasien acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) (Ignatavicius
& Wrokman, 2006).

E. Patofisiologi Meningitis Bakterial


Bakteri yang dapat menimbulkan meningitis adalah bakteri yang mampu
melewati perlindungan yang dibuat oleh tubuh dan memiliki virulensi poten.
Faktor host yang rentan dan lingkungan yang mendukung memiliki peranan
besar dalam patogenesis infeksi (Fenichel, 2009).
Infeksi dapat mencapai selaput otak melalui:
1. Aliran darah (hematogen) karena adanya infeksi di tempat lain seperti
faringitis, tonsilitis, endokarditis, pneumonia, infeksi gigi (Gambar 2.2).
Meningitis bakterial sebagian besar terjadi akibat penyebaran hematogen
melalui proses bakteri melekat pada sel epitel mukosa port of entry,
menembus rintangan mukosa dan memperbanyak diri dalam aliran darah
serta menimbulkan bakteremi. Bakteremi dapat berlanjut masuk ke dalam
cairan serebrospinal (melewati sawar darah otak) dan memperbanyak diri
dalam cairan serebrospinal, menimbulkan peradangan pada selaput otak
(meningen) dan otak;

8
2. Perluasan langsung dari infeksi yang disebabkan oleh infeksi dari sinus
paranasalis, mastoid, abses otak dan sinus kavernosus;
3. Implantasi langsung dapat terjadi pada trauma kepala terbuka, tindakan
bedah otak atau pungsi lumbal;
4. Meningitis pada neonatus dapat terjadi oleh karena
a. Aspirasi cairan amnion yang terjadi pada saat bayi melalui jalan lahir
atau oleh kuman yang normal ada pada jalan lahir.
b. Infeksi bakterial secara transplasenta terutama Listeria, sp. Insiden
infeksi maternal memiliki angka kejadian 1:2000 pada bayi cukup
bulan dan 3:1000 pada bayi prematur (Fenichel, 2009).

Gambar 2.2 Port of entry bakterial meningitis


Aliran cairan serebrospinal (berikutnya akan disebut CSS) dapat dilihat
pada Gambar 2.3. Cairan serebrospinal terutama dihasilkan pleksus koroid di
ventrikel lateral (Stefan dan Frorian, 2000). Proses meningitis bakterial
dimulai dari masuknya bakteri ke dalam susunan saraf pusat melalui tempat-
tempat yang lemah yaitu di makro vaskular otak atau pleksus koroid yang
merupakan media yang baik bagi bakteri karena mengandung kadar glukosa
yang tinggi (Fenichel, 2009).
Sawar darah otak normal terdiri dari sel endotel dari kapiler darah otak
(kecuali pada hipofisis posterior, area postrema, pleksus koroid dan
sirkumventrikular). Astrosit akan membentuk tight junction yang padat yang

9
menghalangi lewatnya zat terlarut dalam darah (elektrolit dan protein) atau
sel (Stefan dan Frorian, 2000). Dengan demikian lingkungan ekstrasel otak
akan terpisah dari darah sehingga mencegah terpajannya sel saraf terhadap
perubahan elektrolit, transmitter, hormon, faktor pertumbuhan, dan reaksi
imun (Fenichel, 2009).

Gambar 2.3 Aliran cairan serebrospinal


(Dikutip tanpa modifikasi dari Stefan S., Frorian L. Color atlas of
pathophysiology, 2000). Cairan serebrospinal mengalir melalui foramina
interventrikular (1) masuk ke ventrikel ketiga, akan masuk ke ventrikel
keempat melalui aquaduktus (2). Cairan serebrospinal kemudian bersirkulasi
melalui foramen Luschka dan Magendi (3) menuju ruang subarakhnoid dan
vili arakhnoid dari sinus dura mater (badan Pacchionian), dan masuk ke dalam
sinus venosus (4).

F. Manifestasi Klinis
Penderita penyakit meningitis perlu didiagnosa terlebih dahulu untuk
memastikan dia benar-benar terjangkit penyakit ini. Meskipun begitu, ada
beberapa gejala penyakit meningitis yang biasnya muncul pada penderita.
Gejala-gejala tersebut antara lain :
1. Sakit kepala
2. Demam

10
3. Otot leher kaku
4. Ketakutan pada cahaya terang
5. Ketakutan pada suara keras (phonophobia)
6. Sering ingin muntah
7. Nampak seperti kebingungan
8. Susah bangun dari tidurnya
(Andareto, 2015)
Ada pula gejala-gejala (Manifestasi klinis) dari meningitis yakni :
1. Neonatus : menolak untuk makan, refleks menghisap kurang, muntah, diare,
tonus otot melemah, menangis lemah.
2. Anak-anak dan remaja : demam tinggi, sakit kepala,muntah, perubahan
sensori, kejang, mudah terstimulasi, foto pobia, halusinasi, maniak, stupor,
koma, kaku kuduk, tanda kernig, dan brudzinski positif, ptechial
(menunjukkan infeksi meningococal).
(Kusuma & Nurarif, 2012)

G. Pemeriksaan Rangsangan Meningeal


1. Pemeriksaan Kaku Kuduk
Pasien berbaring terlentang dan dilakukan pergerakan pasif berupa fleksi
dan rotasi kepala. Tanda kaku kuduk positif (+) bila didapatkan kekakuan
dan tahanan pada pergerakan fleksi kepala disertai rasa nyeri dan spasme
otot. Dagu tidak dapat disentuhkan ke dada dan juga didapatkan tahanan
pada hiperekstensi dan rotasi kepala.
2. Pemeriksaan Tanda Kernig
Pasien berbaring terlentang, tangan diangkat dan dilakukan fleksi pada
sendi panggul kemudian ekstensi tungkai bawah pada sendi lutut sejauh
mengkin tanpa rasa nyeri. Tanda Kernig positif (+) bila ekstensi sendi lutut
tidak mencapai sudut 1350 (kaki tidak dapat di ekstensikan sempurna)
disertai spasme otot paha biasanya diikuti rasa nyeri.
3. Pemeriksaan Tanda Brudzinski I (Brudzinski Leher)
Pasien berbaring terlentang dan pemeriksa meletakkan tangan kirinya
dibawah kepala dan tangan kanan diatas dada pasien kemudian dilakukan

11
fleksi kepala dengan cepat kearah dada sejauh mungkin. Tanda Brudzinski
I positif (+) bila pada pemeriksaan terjadi fleksi involunter pada leher.
4. Pemeriksaan Tanda Brudzinski II ( Brudzinski Kontra Lateral Tungkai)
Pasien berbaring terlentang dan dilakukan fleksi pasif paha pada sendi
panggul (seperti pada pemeriksaan Kernig). Tanda Brudzinski II positif
(+) bila pada pemeriksaan terjadi fleksi involunter pada sendi panggul dan
lutut kontralateral.

H. Pemeriksaan Penunjang Meningitis


1. Pemeriksaan darah dan pencitraan
Apabila seseorang dicurigai mengalami meningitis, pemeriksaan darah
dilakukan untuk melihat adanya peradangan (misalnya C-reactive protein,
perhitungan darah lengkap), serta kultur darahs Tunkel AR; Hartman BJ;
Kaplan SL et al., 2004; Chaudhuri A; MartinezMartin P; Martin PM et
al, 2008). Pemeriksaan yang paling penting untuk mengidentifikasikan
atau menyingkirkan adanya meningitis adalah analisis likuor
serebrospinalis melalui punksi lumbal (LP, spinal tap) Straus SE, Thorpe
KE, Holroyd-Leduc J, 2006). Namun, punksi lumbal tidak dianjurkan bila
terdapat massa di dalam otak (tumor atau abses) atau tekanan intrakranial
(TIK) yang meningkat, karena bisa menyebabkan herniasi otak. Bila
seseorang berisiko karena adanya massa di dalam otak atau peningkataan
TIK (cedera kepala baru, gangguan sistem kekebalan tubuh yang sudah
diketahui, tanda neurologis lokal, atau bukti peningkatan TIK berdasarkan

12
pemeriksaan), CT scan atau MRI dianjurkan sebelum dilakukan punksi
lumbal. Hal ini terjadi pada 45% kasus pada dewasa (Van de Beek D, de
Gans J, Tunkel AR, Wijdicks EF, 2006). Bila CT scan atau MRI
diperlukan sebelum dilakukan lumbal punksi, atau bila lumbal punksi
terbukti sulit dilakukan, panduan profesional menganjurkan agar antibiotik
diberikan dahulu untuk mencegah keterlambatan pengobatan (Tunkel AR;
Hartman BJ; Kaplan SL et al., 2004). terutama apabila proses ini mungkin
bisa memerlukan waktu lebih dari 30 menit. CT scan atau MRI sering
dilakukan pada tahap selanjutnya untuk menilai komplikasi dari
meningitis. Pada meningitis yang berat, pemantauan elektrolit darah perlu
dilakukan; contohnya, hiponatremia biasa ditemukan dalam meningitis
bakteri, karena kombinasi berbagai faktor, termasuk dehidrasi, gangguan
ekskresi dari hormon antidiuretik (SIADH), atau infus cairan intravena
yang terlalu agresif (Maconochie I, Baumer H, Stewart ME, 2008).

2. Pemeriksaan Pungsi Lumbal


Lumbal pungsi biasanya dilakukan untuk menganalisa jumlah sel dan
protein cairan cerebrospinal, dengan syarat tidak ditemukan adanya
peningkatan tekanan intrakranial.
a. Pada Meningitis Serosa terdapat tekanan yang bervariasi, cairan
jernih, sel darah putih meningkat, glukosa dan protein normal, kultur
(-).

13
b. Pada Meningitis Purulenta terdapat tekanan meningkat, cairan keruh,
jumlah sel darah putih dan protein meningkat, glukosa menurun,
kultur (+) beberapa jenis bakteri.

Gambar 2.5 Pemeriksaan Lumbal Pungsi


3. Pemeriksaan darah
Dilakukan pemeriksaan kadar hemoglobin, jumlah leukosit, Laju Endap
Darah (LED), kadar glukosa, kadar ureum, elektrolit dan kultur.
a. Pada Meningitis Serosa didapatkan peningkatan leukosit saja.
Disamping itu, pada Meningitis Tuberkulosa didapatkan juga
peningkatan LED.
b. Pada Meningitis Purulenta didapatkan peningkatan leukosit.
4. Pemeriksaan Radiologis
a. Pada Meningitis Serosa dilakukan foto dada, foto kepala, bila mungkin
dilakukan CT Scan.
b. Pada Meningitis Purulenta dilakukan foto kepala (periksa mastoid,
sinus paranasal, gigi geligi) dan foto dada.

I. Pencegahan Meningitis
1. Pencegahan Primer
Tujuan pencegahan primer adalah mencegah timbulnya faktor resiko
meningitis bagi individu yang belum mempunyai faktor resiko dengan
melaksanakan pola hidup sehat.

14
Pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan imunisasi meningitis
pada bayi agar dapat membentuk kekebalan tubuh. Vaksin yang dapat
diberikan seperti Haemophilus influenzae type b (Hib), Pneumococcal
conjugate vaccine (PCV7), Pneumococcal polysaccaharide vaccine
(PPV), Meningococcal conjugate vaccine (MCV4), dan MMR (Measles
dan Rubella). Imunisasi Hib Conjugate vaccine (Hb-OC atau PRP-OMP)
dimulai sejak usia 2 bulan dan dapat digunakan bersamaan dengan jadwal
imunisasi lain seperti DPT, Polio dan MMR. Vaksinasi Hib dapat
melindungi bayi dari kemungkinan terkena meningitis Hib hingga 97%.
Pemberian imunisasi vaksin Hib yang telah direkomendasikan oleh WHO,
pada bayi 2-6 bulan sebanyak 3 dosis dengan interval satu bulan, bayi 7-
12 bulan di berikan 2 dosis dengan interval waktu satu bulan, anak 1-5
tahun cukup diberikan satu dosis. Jenis imunisasi ini tidak dianjurkan
diberikan pada bayi di bawah 2 bulan karena dinilai belum dapat
membentuk antibodi. Meningitis Meningococcus dapat dicegah dengan
pemberian kemoprofilaksis (antibiotik) kepada orang yang kontak dekat
atau hidup serumah dengan penderita.
Vaksin yang dianjurkan adalah jenis vaksin tetravalen A, C, W135 dan
Y.35 meningitis TBC dapat dicegah dengan meningkatkan sistem
kekebalan tubuh dengan cara memenuhi kebutuhan gizi dan pemberian
imunisasi BCG. Hunian sebaiknya memenuhi syarat kesehatan, seperti
tidak over crowded (luas lantai > 4,5 m2 /orang),
ventilasi 10 20% dari luas lantai dan pencahayaan yang cukup.
Pencegahan juga dapat dilakukan dengan cara mengurangi kontak
langsung dengan penderita dan mengurangi tingkat kepadatan di
lingkungan perumahan dan di lingkungan seperti barak, sekolah, tenda dan
kapal. Meningitis juga dapat dicegah dengan cara meningkatkan personal
hygiene seperti mencuci tangan yang bersih sebelum makan dan setelah
dari toilet.
2. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder bertujuan untuk menemukan penyakit sejak awal,
saat masih tanpa gejala (asimptomatik) dan saat pengobatan awal dapat

15
menghentikan perjalanan penyakit. Pencegahan sekunder dapat dilakukan
dengan diagnosis dini dan pengobatan segera. Deteksi dini juga dapat
ditingkatan dengan mendidik petugas kesehatan serta keluarga untuk
mengenali gejala awal meningitis. Dalam mendiagnosa penyakit dapat
dilakukan dengan pemeriksaan fisik, pemeriksaan cairan otak,
pemeriksaan laboratorium yang meliputi test darah dan pemeriksaan X-ray
(rontgen) paru. Selain itu juga dapat dilakukan surveilans ketat terhadap
anggota keluarga penderita, rumah penitipan anak dan kontak dekat
lainnya untuk menemukan penderita secara dini. Penderita juga diberikan
pengobatan dengan memberikan antibiotik yang sesuai dengan jenis
penyebab meningitis yaitu :
a. Meningitis Purulenta
1) Haemophilus influenzae b : ampisilin, kloramfenikol, setofaksim,
seftriakson.
2) Streptococcus pneumonia : kloramfenikol , sefuroksim, penisilin,
seftriakson.
3) Neisseria meningitidies : penisilin, kloramfenikol, serufoksim dan
seftriakson.
b. Meningitis Tuberkulosa (Meningitis Serosa)
Kombinasi INH, rifampisin, dan pyrazinamide dan pada kasus yang
berat dapat ditambahkan etambutol atau streptomisin. Kortikosteroid
berupa prednison digunakan sebagai anti inflamasi yang dapat
menurunkan tekanan intrakranial dan mengobati edema otak.
3. Pencegahan Tertier
Pencegahan tertier merupakan aktifitas klinik yang mencegah kerusakan
lanjut atau mengurangi komplikasi setelah penyakit berhenti. Pada tingkat
pencegahan ini bertujuan untuk menurunkan kelemahan dan kecacatan
akibat meningitis, dan membantu penderita untuk melakukan penyesuaian
terhadap kondisi-kondisi yang tidak diobati lagi, dan mengurangi
kemungkinan untuk mengalami dampak neurologis jangka panjang
misalnya tuli atau ketidakmampuan untuk belajar. Fisioterapi dan
rehabilitasi juga diberikan untuk mencegah dan mengurangi cacat.

16
J. Komplikasi
Masalah lain dapat muncul pada tahap awal perjalanan penyakit. Hal ini
memerlukan tata laksana khusus, dan kadang-kadang merupakan petunjuk
penyakit yang berat atau prognosis yang lebih jelek. Infeksi dapat memicu
sepsis, suatu sindrom respons radang sistemik dimana terjadi penurunan
tekanan darah, denyut jantung cepat, suhu tubuh abnormal yang tinggi atau
rendah, dan peningkatan laju napas. Tekanan darah yang sangat rendah dapat
muncul pada tahap awal, khususnya namun tidak eksklusif pada meningitis
meningokokus; yang akan mengakibatkan kurangnya suplai darah bagi organ
lain. Koagulasi intravaskular diseminata, yang merupakan aktivasi berlebihan
dari pembekuan darah, dapat mengobstruksi aliran darah ke organ dan secara
paradoks meningkatkan risiko pendarahan. Gangren pada anggota badan
terjadi pada pasien penyakit meningokokus (Mc Crackens & Llorens, 2003).
Infeksi meningokokus dan pneumokokus dapat menyebabkan perdarahan
kelenjar adrenal, sehingga menyebabkan sindrom Waterhouse-Friderichsen,
yang seringkali mematikan (Varon J, et.al, 1998).
Dengan jaringan otak membengkak, tekanan di dalam tengkorak akan
meningkat dan otak yang membengkak dapat mengalami herniasi melalui dasar
tengkorak. Hal ini terlihat dari menurunnya kesadaran, hilangnya refleks pupil
terhadap cahaya, dan postur tubuh abnormal. Terjadinya ini pada jaringan otak
juga dapat menyumbat aliran normal LCS di otak (hidrosefalus) (Van de Beek
D, de Gans J, Tunkel AR, Wijdicks, 2006). Kejang dapat terjadi karena
berbagai penyebab; pada anak, kejang biasanya terjadi pada tahap awal
meningitis (30% kasus) dan tidak selalu menunjukkan adanya penyakit yang
mendasari (Tunkel AR; Hartman BJ; Kaplan SL et al., November 2004).
Kejang disebabkan oleh peningkatan tekanan dan luasan daerah radang di otak
(Van de Beek D, de Gans J, Tunkel AR, Wijdicks, 2006). Kejang parsial
(kejang yang melibatkan salah satu anggota badan atau sebagian tubuh), kejang
terus menerus, kejang pada orang dewasa dan yang sulit terkontrol dengan
pemberian obat menunjukkan luaran jangka panjang yang lebih buruk (Mc
Crackens & Llorens, 2003).

17
Radang meningen dapat menyebabkan abnormallitas pada saraf kranial,
kelompok saraf yang berasal dari batang otak yang mensuplai kepala dan leher
dan mengontrol, dari berbagai fungsi diantaranya, gerakan mata, otot wajah,
dan fungsi pendengaran. Gangguan penglihatan dan tuli dapat menetap setelah
episode meningitis (Mc Crackens & Llorens, 2003). Radang pada otak
(ensefalitis) atau pembuluh darahnya (vaskulitis serebral), dan juga
pembentukan bekuan darah pada vena (penyumbatan vena serebral), dapat
menyebabkan kelemahan, hilangnya sensasi, atau gerakan dan fungsi berbagai
bagian tubuh yang abnormal, yang disuplai oleh bagian otak yang terkena.

K. Penatalaksanaan
Tatalaksana yang paling penting pada penderita meningitis adalah bantuan
hidup dasar yaitu mencegah kerusakan otak lebih lanjut dengan: 1).
mempertahankan jalan nafas yang adekuat adalah prinsip yang terpenting.
Ventilasi mekanik bila dibutuhkan terutama pada penderita dengan kejang atau
penurunan kesadaran (Taylor dan Ashwal, 1993); 2). Mempertahankan semua
fungsi sistem vital (Martin dan Urs, 2006). Sistem kardiovaskular
dipertahankan dengan mempersiapkan akses intravaskular, terutama pada
penderita yang datang dengan syok dapat diberikan resusitasi cairan 20 ml/kg
BB secepatnya dan dapat diulang dua kali (Pollard dkk., 1999). Tatalaksana di
unit gawat darurat mengacu pada periode emas yaitu resusitasi enam puluh
menit pertama. Fase hipovolemia dapat berlanjut ke fase syok yang refrakter
terhadap terapi cairan, merupakan indikasi pemberian inotropik (Hazinsky
dkk., 2002).
Pemeriksaan mikrobiologi membutuhkan waktu beberapa hari sehingga
apabila dicurigai meningitis bakterial, maka pemberian antibiotik harus segera
(Saez-Lorens dan McCracken, 2003; Bernard dan James, 2006; Fenichel,
2009). Pemilihan antibiotik empiris didasarkan pada data epidemiologi kultur
atau pola kuman setempat. Pemberian terapi empirik antibiotik pada meningitis
harus diberikan sampai 48-72 jam atau sampai patogen dapat diidentifikasikan
(Hermsen dan Rotschafer, 2005). Antibiotik yang direkomendasikan untuk

18
terapi empirik meningitis purulen berdasarkan faktor predisposisi usia menurut
Tunkel et al. pada tahun 2004 dapat dilihat pada Tabel I.

19
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN MENINGITIS

A. Anamnesis
Anamnesis pada klien dengan meningitis meliputi keluhan utama, riwayat
penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu dan riwayat psikososial.
1. Keluhan utama
Suhu badan tinggi, kejang dan penurunan tingkat kesadaran.
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Biasanya didapatkan keluhan yang berhubungan dengan akibat infeksi dan
peningkatan tekanan intrakranial. Keluhan tersebut diantaranya sakit
kepala dan demam adalah gejala awal yang sering. Sakit kepala
dihubungkan dengan meningitis yang selalu berat dan sebagai akibat iritasi
meningen. Demam umumnya ada dan tetap tinggi selama perjalanan
penyakit. Kejang perlu mendapat perhatian untuk dikaji lebih dalam,
bagaimana sifat timbulnya kejang, stimulus apa yang sering menimbulkan
kejang dan tindakan apa yang telah diberikan dalam upaya menurunkan
kejang tersebut. Adanya penurunan atau perubahan pada tingkat kesadaran
dihubungkan dengan meningitis bakteri. Disorientasi dan gangguan
memori biasanya gejala awal dari penyakit. Keluhan perubahan perilaku
juga umum terjadi. Sesuai perkembangan penyakit, dapat terjadi letargik,
tidak responsif dan koma. Pengkajian lainnya yang perlu ditanyakan seperti
riwayat selama menjalani perawatan di rumah sakit, pernahkah menjalani
tindakan invasif yang memungkinkan masuknya kuman meningen
terutama tindakan melalui pembuluh darah.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Pernahkah klien mengalami infeksi jalan nafas bagian atas, otitis media,
mastoiditis, anemia sel sabit, dan hemoglobinopatis lain, tindakan bedah
saraf, riwayat trauma kepala dan adanya pengaruh imunologis pada masa
sebelumnya. Riwayat sakit TB paru perlu ditanyakan kepada klien terutama
bila ada keluhan batuk produktif dan pernah menjalani pengobatan obat
anti tuberkulosis untuk mengidentifikasi meningitis tuberkulosa.

20
4. Data biopsikososial
a. Aktivitas
Gejala : Perasaan tidak enak (malaise).
Tanda : ataksia, kelumpuhan, gerakan involunter.
b. Sirkulasi
Gejala : Adanya riwayat kardiopatologi : endokarditis dan PJK.
Tanda : tekanan darah meningkat, nadi menurun, dan tekanan nadi
berat, taikardi, disritmia.
c. Eliminasi
Tanda : Inkontinensi dan atau retensi.
d. Makan
Gejala : Kehilangan nafsu makan, sulit menelan.
Tanda : anoreksia, muntah, turgor kulit jelek dan membran mukosa
kering.
e. Higiene
Tanda : Ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri.
f. Neurosensori
Gejala : Sakit kepala, parestesia, terasa kaku pada persarafan yang
terkena, kehilangan sensasi, hiperalgesia, kejang, diplopia, fotofobia,
ketulian dan halusinasi penciuman.
Tanda : letargi sampai kebingungan berat hingga koma, delusi dan
halusinasi, kehilangan memori, afasia,anisokor, nistagmus,ptosis,
kejang umum/lokal, hemiparese, tanda brudzinki positif dan atau kernig
positif, rigiditas nukal, babinski positif,reflek abdominal menurun dan
reflek kremastetik hilang pada laki-laki.
g. Nyeri/keamanan
Gejala : sakit kepala (berdenyut hebat, frontal).
Tanda : gelisah, menangis.
h. Pernafasan
Gejala : riwayat infeksi sinus atau paru.
Tanda : peningkatan kerja pernafasan.

21
B. Pengkajian Tingkat Kesadaran
Pada keadaan lanjut tingkat kesadaran meningitis biasanya berkisar pada
letargi, stupor dan semikomatosa. Jika klien sudah mengalami koma maka
penilaian GCS sangat penting untuk menilai tingkat kesadaran klien.
C. Pengkajian Fungsi Serebral
Status mental : observasi penampilan, tingkah laku, nilai gaya bicara, ekspresi
wajah dan aktifitas motorik klien. Pada klien meningitis tahap lanjut biasanya
status mental klien mengalami perubahan.
D. Pengkajian Saraf Kranial
Meliputi pemeriksaan N I-XII
1. N I : biasanya pada klien meningitis tidak ada kelainan fungsi penciuman.
2. N II : tes ketajaman penglihatan pada kondisi normal. Pemeriksaan
papiledema mungkin didapatkan terutama pada meningitis supuratif
disertai abses serebri dan efusi subdural yang menyebabkan terjadinya
peningkatan TIK berlangsung lama.
3. N III, IV dan VI : Pemeriksaan fungsi reaksi pupil pada klien meningitis
yang tidak disertai penurunan kesadaran biasanya tanpa kelainan. Pada
tahap lanjut meningitis yang sudah mengganggu kesadaran, tanda-tanda
perubahan dari fungsi dan reaksi pupil akan didapatkan. Dengan alasan
yang tidak diketahui, klien meningitis mengeluh mengalamai fotofobia
atau sensitif yang berlebihan terhadap cahaya.
4. N V : pada klien meningitis umumnya tidak didapatkan paralisis pada
otot wajah dan refleks kornea biasanya tidak ada kelainan.
5. N VII : persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah simetris.
6. N VIII : tidak ditemukan adanya tuli konduktif dan tuli persepsi
7. N IX dan X : kemampuan menelan baik
8. N XI : tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius. Adanya
usaha dari klien untuk melakukan fleksi leher dan kaku kuduk (rigiditas
nukal)
9. N XII : lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada
fasikulasi. Indra pengecapan normal.

22
E. Pengkajian Sistem Motorik
Kekuatan otot menurun, kontrol keseimbangan, dan koordinasi pada
meningitis tahap lanjut mengalami perubahan.

F. Pengkajian Refleks
Pemeriksaan refleks profunda, pengetukan pada tendon, ligamentum atau
periosteum derajat refleks pada respon normal. Refleks patologis akan
didapatkan pada klien meningitis dengan tingkat kesadaran koma. Adanya
refleks Babinski (+) merupakan tanda lesi UMN.
Gerakan involunter.
Tidak ditemui adanya tremor, tic, dan distonia. Pada keadaan tertentu klien
biasanya mengalami kejang umum. Kejang dan peningkatan TIK juga
berhubungan dengan meningitis. Kejang terjadi sekunder akibat area fokal
kortikal yang peka.

G. Pengkajian Sistem Sensorik


Pemeriksaan sensorik pada meningitis biasanya didapatkan sensasi raba, nyeri,
suhu yang normal, tidak ada perasaan abnormal di permukaan tubuh, sensasi
propriosefsi, dan diskriminatif normal.

H. Pemeriksaan Fisik yang berhubungan dengan peningkatan tekanan intra


kranial
Kaji adanya Perubahan TTV (takikardi dan bradikardi), pernapasan tidak
teratur, sakit kepala, muntah, dan penurunan tingkat kesadaran. Iritasi
meningen : adanya kaku kuduk, Kernig sign (+), dan adanya tanda Brudzinski.

23
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari uraian singkat tentang meningitis diatas dapat diperoleh beberapa poin
antara lain :
1. Meningitis adalah suatu peradangan araknoid dan piameter
(leptomeningens) dari otak dan medulla spinalis. Bakteri dan virus
merupakan penyebab yang paling umum dari meningitis, meskipun jamur
dapat juga menyebabkan. Meningitis bakteri paling sering terjadi. Deteksi
awal dan pengobatan akan lebih memberikan hasil yang lebih baik
(Widagdo, 2008).
2. Penyebab dari penyakit meningitis antara lain Bakteri; Mycobacterium
tuberculosa, Diplococcus pneumoniae (pneumokok), Neisseria meningitis
(meningokok), Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus aureus,
Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae,
Peudomonas aeruginosa. Penyebab lainnya lues, Virus, Toxoplasma
gondhii dan Ricketsia.
3. Faktor predisposisi yang berperan antara lain jenis kelamin laki laki lebih
sering dibandingkan dengan wanita. Faktor maternal anatar lain ruptur
membran fetal, infeksi maternal pada minggu terakhir kehamilan.
Sedangkan faktor imunologinya adalah defisiensi mekanisme imun,
defisiensi imunoglobulin. Kelainan sistem saraf pusat, pembedahan atau
injury yang berhubungan dengan sistem persarafan.
4. Meningitis dapat diklasifikasikan menjadi tiga yaitu Meningitis purulenta,
meningitis virus dan meningitis jamur.
5. Intervensi yang dapat diberikan kepada pasien dengan meningitis antara
lain:
a. Letakkan kantung es pada kepala, pakaian dingin di atas mata, berikan
posisi yang nyaman kepala agak tinggi sedikit, latihan rentang gerak
aktif atau pasif dan masage otot leher.
b. Kaji derajat imobilisasi pasien.

24
c. Pantau perubahan orientasi, kemamapuan berbicara,alam perasaaan,
sensorik dan proses pikir.
d. Kaji status mental dan tingkat ansietasnya

B. Saran
Diharapkan dengan adanya makalah ini pembaca khususnya mahasiswa
keperawatan dapat memperoleh ilmu yang lebih tentang penyakit meningitis
dan bagaimana penerapan asuhan keperawatan pada pasien dengan meningitis.
Semoga makalah ini dapat dijadikan sumber literature yang layak digunakan
untuk mahasiswa.

25
DAFTAR PUSTAKA

Andareto, O. (2015). Penyakit Menular disekitar Anda.Jakarta: Pustaka Ilmu


Semesta.

Batticaca, F. B. (2012).Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem


Persyarafan. Jakarta: Salemba Medika

Kusuma, H., & Nurarif, A. H. (2012). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan


NANDA NIC-NOC. Jakarta: Media Hardhi

Maconochie I, Baumer H, Stewart ME (2008). MacOnochie, Ian K, ed. "Fluid


therapy for acute bacterial meningitis". Cochrane Database of Systematic
Reviews (1)

Muttaqin, A. (2008). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan


Sistem Persarafan. Jakarta: Salemba Medika.

Nugroho, T. (2011). Asuhan Keperawatan Maternitas,Anak,Bedah,Penyakit


Dalam.Yogyakarta: Nuha Medika

Rohkamm R. (2004). Color Atlas of Neurology.pdf

Sez-Llorens X, McCracken GH (June 2003). "Bacterial meningitis in children".


Lancet 361 (9375): 213948.

Stefan S., Frorian L. (2000). Color atlas of pathophysiology.pdf

Tunkel AR; Hartman BJ; Kaplan SL et al. (November 2004). "Practice guidelines
for the management of bacterial meningitis" (PDF). Clinical Infectious
Diseases 39 (9): 126784

Widagdo, W. (2008). Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem


Persyarafan. Jakarta: TIM.

Van de Beek D, de Gans J, Tunkel AR, Wijdicks EF (January 2006). "Community-


acquired bacterial meningitis in adults". The New England Journal of
Medicine 354 (1): 4453

26