Anda di halaman 1dari 6

Fajar

FAJAR

Fajar kini telah meyingsing


Melambai lembut menyambut tepi pagi
Bersama derap sang malam beranjak undur diri
Masihku terpaku dalam hening
Mengeja segela rasa dalam relung hati
***

Dinginnya sang fajar menghentakku


Sesaat mendekap rapat dalam dingin
Menjalar ke sekujur tubuhku
Menyasar setiap sendi kalbu
Dalam terpaan hembusan angin
***

Heningku kian tak berujung


Berkisah tentang rindu tiada terbendung
Dingin yang hinggap pun kian menjalari
Namun, alam khayalku lantang mendayung
Terlintas bayangmu menggoda hati
***

Pagi akan segera menjelang


Sang fajar akan selalu ku rindukan
Kutitipkan rindu pada awan yang terbentang
Hingga tiba masanya kembali keperaduan

SIAPA YANG BEGO


Di sebuah pangkalan becak terjadilah dialog antara turis dengan salah satu abang becak yang
sedang nongkrong.
Turis : Hai, apa kamu tahu dimana lapangan terbang ?
Abang : Tidak tahu, Tuan...
Turis : Gimana sih kamu, kamu khan orang sini masak lapangan terbang aja nggaktahu !
Abang : Eh,begini Tuan. Di sini yang ada kapal terbang, kalau lapangan terbangmah nggak
ada?..!!? ("Turis kok bego ya?", kata abang becak dalam hati

AYAH YANG PALING BERUNTUNG


Johnny: "Hai, Yah, tahukah kalau Ayah adalah seorang ayah yang beruntung?"
Ayah : "Kok bisa, Nak?"
Johnny: "Ayah tidak perlu membelikan buku baru buatku tahun ini. Aku tidak naikkelas."
Sejarah Singkat Paskibra

Sejarah Paskibra

Gagasan Paskibraka lahir pada tahun 1946, pada saat ibukota


Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta. Memperingati HUT Proklamasi
Kemerdekaan RI yang ke-1, Presiden Soekarno memerintahkan salah
satu ajudannya, Mayor (Laut) Husein Mutahar, untuk menyiapkan
pengibaran bendera pusaka di halaman Istana Gedung Agung
Yogyakarta. Pada saat itulah, di benak Mutahar terlintas suatu gagasan
bahwa sebaiknya pengibaran bendera pusaka dilakukan oleh para
pemuda dari seluruh penjuru Tanah Air, karena mereka adalah generasi
penerus perjuangan bangsa yang bertugas.
Tetapi, karena gagasan itu tidak mungkin terlaksana, maka Mutahar
hanya bisa menghadirkan lima orang pemuda (3 putra dan 2 putri) yang
berasal dari berbagai daerah dan kebetulan sedang berada di
Yogyakarta. Lima orang tersebut melambangkan Pancasila. Sejak itu,
sampai tahun 1949, pengibaran bendera di Yogyakarta tetap
dilaksanakan dengan cara yang sama.
Ketika Ibukota dikembalikan ke Jakarta pada tahun 1950, Mutahar tidak
lagi menangani pengibaran bendera pusaka. Pengibaran bendera
pusaka pada setiap 17 Agustus di Istana Merdeka dilaksanakan oleh
Rumah Tangga Kepresidenan sampai tahun 1966. Selama periode itu,
para pengibar bendera diambil dari para pelajar dan mahasiswa yang
ada di Jakarta.
Tahun 1967, Husein Mutahar dipanggil presiden saat itu, Soeharto,
untuk menangani lagi masalah pengibaran bendera pusaka. Dengan ide
dasar dari pelaksanaan tahun 1946 di Yogyakarta, dia kemudian
mengembangkan lagi formasi pengibaran menjadi 3 kelompok yang
dinamai sesuai jumlah anggotanya, yaitu:

Pasukan 17 / pengiring (pemandu),


Pasukan 8 / pembawa bendera (inti),
Pasukan 45/pengawal.
T : Penyakit apa yang paling terkenal di china?
J : Kung Flu

T : Bedanya kangkung sama onta?


J : Kalau onta di arab, kalau kangkung diurap
.

T : Jus apa yang paling menyakitkan


J : Jus a friend gak bisa jadi pacar..

T : Nenek nenek jatuh di kali, munculnya di mana?


J : Di koran