Anda di halaman 1dari 24

# ANALISIS PUSHOVER PADA JEMBATAN SEMI

INTEGRAL

Oleh:

Tetra Oktaviani

161158012

## PROGRAM STUDI MAGISTER TERAPAN

REKAYASA INFRASTRUKTUR
JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2017
DAFTAR ISI

i
DAFTAR GAMBAR

## Gambar 2.1 Ilustrasi Jembatan .............................................................................................. 3

Gambar 2.2 Data Mutu Beton 25 MPa .................................................................................. 4
Gambar 2.3 Data Mutu Beton 35 Mpa .................................................................................. 5
Gambar 2.4 Dimensi Balok Girder ........................................................................................ 6
Gambar 2.5 Dimensi Diafragma ........................................................................................... 6
Gambar 2.6 Dimensi Pier ...................................................................................................... 7
Gambar 2.7 Dimensi Pier Head ............................................................................................. 7
Gambar 2.8 Dimensi Pelat Lantai ......................................................................................... 8
Gambar 2.9 Standar Dimensi Barrier.................................................................................... 9
Gambar 2.10 Respon Spektra pada Zona Gempa 1 ............................................................. 11
Gambar 2.11 Input Nilai Respon Spektrum ........................................................................ 11
Gambar 2.12 Input Kombinasi Pembebanan yang digunakan ............................................ 12
Gambar 3.1 Jumlah Kembutuhan Tulangan yang dipakai pada (a) Balok (b) Kolom ........ 13
Gambar 3.2 Diagram Interaksi Struktur Kolom .................................................................. 14
Gambar 3.3 Input Load Case Gravitasi ............................................................................... 15
Gambar 3.4 Input Load Case Pushover .............................................................................. 15
Gambar 3.5 Load Application of Pushover ......................................................................... 16
Gambar 3.6 Result Saved of Pushover ................................................................................ 16
Gambar 3. 7 Tampilan Run Pushover ................................................................................. 17
Gambar 3. 8 Pushover Step 1 .............................................................................................. 17
Gambar 3. 9 Pushover Step 2 .............................................................................................. 18
Gambar 3. 10 Pushover Step 3 ............................................................................................ 18
Gambar 3. 11 Pushover Step 4 ............................................................................................ 19
Gambar 3.12 Kurva Pushover ............................................................................................. 19

ii
DAFTAR TABEL

iii
BAB I
PENDAHULUAN

## 1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang beresiko tinggi terhadap ancaman gempa.
Hal ini disebabkan letak negara Indonesia dipertemuan lempeng tektonik yaitu
lempeng Eurasia, Pasifik, Filipina, dan Indo-Australia. Banyak bangunan dan
kerusakan perlu dilakukan analisis pendekatan untuk memperhitungkan beban
lateral yang disebabkan oleh gempa bumi. Ada dua analisis, yaitu analisis statik dan
dinamik.
Beban ultimit seperti saat terjadinya gempa mengakibatkan respons struktur
memasuki kondisi non-linear maka, hanya analisis non-linear yang bisa memberi
gambaran respons non-linear bangunan secara memadai. Permodelan non-linear
meliputi non-linear geometri dan non-linear material (Satyarno, 2013). Sistem
struktur non-linear terdiri dari dua macam, yaitu non-linear material dan non-linear
geometri meskipun dua-duanya bisa terjadi secara bersamaan. Non-linear geometri
umumnya ditimbulkan oleh topologi dan konektivitas sistem struktur, perpindahan
yang hingga (finitesimal displacement), sedangkan Non-linear material bersumber
dari hubungan tegangan-regangan (stress-strain relationship) yang tidak bersifat
proporsional, baik pada daerah elastis maupun di luar daerah elastis (elasto-plastis
atau plastis sempurna).
Jembatan panjang atau kolom tinggi memerlukan suatu analisis yang lebih
kompleks untuk mengetahui perilaku dinamik atau gempa (A.J Kappos 2005).
Salah satu analisis yang digunakan adalah Prosedur Statik Non-linier. Prosedur ini
dilakukan dengan cara Analisis Pushover pada jembatan. Analisis tersebut
dilakukan untuk mengevaluasi respon struktur dan kelayakan struktur pada
perencanaan sistem suatu jembatan.
Pushover analisis adalah suatu analis ststic nonlinier dimana pengaruh
gempa rancana terhadap struktur bangunan gedung dianggap sebagai beban-
bebanstatik yang menagkap pada pusat massa masing-masing lantai,yang nilainya
ditingkatlkan berangsur angsur sampai melampaui pembebanan yang menyebabkan

1
pelelehan (sendi plastis )pertama di dalam struktur gedung (Yosafat Aji
Pranata,2008).
Menurut Dewobroto (2005), Proses evaluasi tahan gempa berbasis kinerja
dimulai dengan membuat model rencana bangunan kemudian melakukan simulasi
informasi tingkat kerusakan (level of damage), ketahanan struktur, sehingga dapat
memperkirakan berapa besar keselamatan (life), kesiapan pakai (occupancy) dan
kerugian harta benda (economic loss) yang akan terjadi.

1.2 Tujuan
Tujuan dari penulisan laporan ini adalah untuk mengetahui informasi tingkat
kerusakan dan ketahan struktur yang telah direncanakan.

## 1.3 Ruang Lingkup

Ruang lingkup dalam penulisan laporan ini adalah seperti berikut:
1. Aplikasi pemrograman yang digunakan adalah SAP 2000 dengan metode
pendekatan yang digunakan adalah Analisis Pushover.
2. Respon spektrum yang digunakan berdasarkan SNI 2833 Tahun 2008 tentang
Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Jembatan adalah Zona Gempa 1
dengan konsistensi tanah lunak.

2
BAB II
PARAMETER DESIGN

## 2.1 Data Struktur

Jembatan yang direncanakan merupakan jembatan tipe semi integral
Jembatan semi integral merupakan jembatan yang dibuat tanpa adanya pergerakan
antar bentang (spans) atau antar bentang dengan abutment dengan panjang bentang
lebih dari 20 meter. Total bentang jembatan ini adalah 120 meter dengan lebar
jembatan 8 meter yang terdiri dari 2 jalur dan masing-masing jalur terdapat 2 lajur
dan 1 bahu jalan. Ilustrasi jembatan ini dapat dilihat pada Gambar 2.1

## Gambar 2.1 Ilustrasi Jembatan

Bentang jembatan sendiri ditopang oleh 5 PCI girder dan diafragma setiap
5 meter. Data umum struktur jembatan tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.1.

## No. Uraian Simbol Dimensi Satuan

1 Tipe Jembatan Semi Integral
2 Jenis Struktur Atas Balok Girder
3 Total Bentang Jembatan Lx 120 m
4 Lebar Jembatan Ly 8 m
5 Jarak Antar Girder 2 m
6 Jumlah Girder 5 buah
7 Tebal Pelat Lantai 0,25 m
8 Tebal Aspal 0,05 m
9 Jarak Abutment A ke Pier-1 L1 25 m

3
No. Uraian Simbol Dimensi Satuan
10 Jarak Pier-1 ke Pier-2 L2 35 m
11 Jarak Pier-2 ke Pier-3 L2 35 m
12 Jarak Pier-1 ke Abutment B L1 25 m
13 Tinggi Pier 1 h1 20 m
14 Tinggi Pier 2 h2 50 m
15 Tinggi Pier 3 h3 35 m

2.2 Material
Material yang digunakan dalam merancang jembatan ini adalah beton bertulang
dengan mutu beton 25 MPa dan 35 Mpa. Beton dengan mutu 25 MPa dipakai untuk
diafragma, Pier, Pier Head, dan pelat lantai. Sedangkan mutu beton yang dipakai
untuk Balok Girder adalah 35 MPa. Data mutu yang digunakan dapat dilihat pada
Gambar 2.2 dan Gambar 2.3

## Gambar 2.2 Data Mutu Beton 25 MPa

4
Gambar 2.3 Data Mutu Beton 35 Mpa

## 2.2.1 Dimensi Komponen Material

Dimensi dari elemen struktur jembatan yang digunakan adalah meter.
Dimensi elemen struktur tersebut dapat dilihat sebagai berikut:
1. Girder yang digunakan adalah balok girder dengan mutu beton sebesar
35 MPa. Dimensi balok girder yang digunakan dapat dilihat pada
Gambar 2.4.

5
Gambar 2.4 Dimensi Balok Girder

## Gambar 2.5 Dimensi Diafragma

6
3. Pier, dimensi pier dapat dilihat pada Gambar 2.6.

## Gambar 2.7 Dimensi Pier Head

7
5. Pelat lantai, dimensi pelat lantaidapat dilihat pada Gambar 1.8.

## Pembebanan yang diberikan pada struktur jembatan semi integral ini

Beban sendiri pada strktur SAP2000 akan terhitung secara otomatis dari berat
elemen struktur jembatan tersebut (PCI, girder, diafragma, pier, pier head dan
pelat lantai).

## 2. Beban mati tambahan (SUPERLOAD/SDL)

Beban mati tambahan yang dimasukkan dalam pemodelan struktur ini adalah
berat aspal setebal 5 cm yang membebani pelat lantai sepanjang jembatan.
a. Berat aspal = tebal aspal x lebar tinjauan x berat jenisaspal
= 0,05 x 1 x 22 = 1,1 kN/m

8
b. Berat Barrier
Berdasarkan Petunjuk Lokasi dan Spesifikasi Bangunan Pengaman Tepi
Jalan No:013/S/BNKT/1990 mengenai dimensi paraper (barrier) yang
digunakan dapat dilihat pada gambar berikut.

150 50 200
400

5
850

1
300

4
3
150

400

## Berdasarkan gambar di atas, selanjutnya barrier dibagi ke dalam beberapa

luasan seperti berikut:

## Luas 2 = 250 150 = 37500 mm2

9
1
Luas 3 = 2 200 300 = 30000 mm2

## Luas 4 = 50 300 = 15000 mm2

1
Luas 5 = 2 50 400 = 10000 mm2

## Berat barrier = 0,22 24 1 = 5,28 kN

Berat barrier kemudian dijadikan sebuah beban merata dengan luas
penampang bawah barrier 0,5 m2, maka berat barrier menjadi:
5,28 kN
qMS(barrier) = = 10,56 kN/m2.
0,5 m2

## 3. Beban Lalu lintas

Beban lalu lintas pada sebuah jembatan terdiri dari beban terbagi merata (BTR)
dan beban garis terpusat (BGT) (RSNI T-02-2005). Beban terbagi rata (BTR)
sedangkan beban garis terpusat (BGT) yang digunakan adalah p = 49 kN/m.

## 4. Beban gempa (QUAKE)

Beban gempa yang digunakan adalah respon spektrum berdasarkan SNI 2833
Tahun 2008 tentang Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Jembatan
dengan asumsi wilayah Zona Gempa 1 dan konsistensi tanah adalah lunak.
Grafik respon spektrum tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.10. Respon
spektrum yang digunakan dalam analisis menggunakan SAP 2000 dapat dilihat

10
Gambar 2.10 Respon Spektra pada Zona Gempa 1

## Gambar 2.11 Input Nilai Respon Spektrum

11
5. Kombinasi Pembebanan
Kombinasi pembebanan yang digunakan dalam menganalsis struktur jembatan
terdiri dari delapan (8) buah dengan kombinasi antara lentur dan geser pada
kolom dan balok. Kombinasi pembebanan yang digunakan sesuai dengan
kemungkinan variasi arah gempa, yaitu 100% arah X 30% arah Y dan 30% arah
X 100% arah Y. Kombinasi yang digunakan seperti terlihat pada Gambar 2.12.

## Gambar 2.12 Input Kombinasi Pembebanan yang digunakan

12
BAB III
ANALISIS PUSHOVER

## 3.1 Langkah-Langkah Analisis Pushover

Langkah-langkah dalam melakuan analisis pushover adalah sebagai berikut:
1. Parameter design yang telah dijabarkan dalam BAB II harus diinput dengan
benar dan sesuai dengan standar perancangan yang digunakan.
2. Selanjutnya lakukan Run pada pemodelan tersebut untuk mendapatkan gaya-
gaya dalam pada kolom dan balok. Table-tabel gaya dalam tersebut nantinya
diexport ke dalam Excel dan digunakan untuk menentukan banyaknya
penulangan pada kolom dan balok. Hasil dari perhitungan tersebut kemudian
diperoleh jumlah tulangan yang akan digunakan seperti pada Gambar 3.1.

(a) (b)
Gambar 3.1 Jumlah Kembutuhan Tulangan yang dipakai pada (a) Balok (b) Kolom

gaya yang ada. Pengecekan keamanan seperti berikut:

13
DIAGRAM INTERAKSI
K 400 x 600 12D-19
90000
85000
80000
75000
70000
65000
60000
55000
50000
45000
Pn (kN)

40000
35000
30000
25000
20000
15000
10000
5000
0
0 500 1000 1500 2000 2500

e (m m)

## Gambar 3.2 Diagram Interaksi Struktur Kolom

Dari gaya-gaya dalam yang telah diexport ke dalam Excel kemudian didapatkan
diagram interaksi kolom dan selanjutnya dilkakukan kontrol tulangan kolom
seperti berikut:
Pu = 7492 kN
M2 = 5287.297 kN
M3 = 15714.98 kN
e2 = 705.7307 mm
e3 = 2097.583 mm
y2 = 31000 kN
y3 = 11500 kN

Po = 82556 kN
Pn = 9337 kN
Pn = 0,85*Pn = 0,85 * 9337= 7936 kN

## Pn Pu 7936 kN 7492 kN (OK)

14
4. Jika kontrol penulangan dinyatakan aman, langkah selanjutnya adalah
melakukan analisis pushover dengan cara memberikan beban berupa Load Case

## Gambar 3.4 Input Load Case Pushover

15
Gambar 3.5 Load Application of Pushover

## 5. Setelah tahapan tahapan tersebut selesai, lakukan Run akhir untuk

mendapatkan hasil analisis pushover seperti Gambar 3.7.

16
Gambar 3. 7 Tampilan Run Pushover

## 3.2 Hasil Analisa Pushover

Hasil akhir dari analisa pushover yang diperoleh dari menu Deformed Shape terdiri
dari empat step seperti berikut:

## Gambar 3. 8 Pushover Step 1

17
Gambar 3. 9 Pushover Step 2

## Gambar 3. 10 Pushover Step 3

18
Gambar 3. 11 Pushover Step 4

## Gambar 3.12 Kurva Pushover

Dari Gambar 3.12 diperoleh bahwa garis hijau merupakan curve capacity dan
garis merah merupakan kurva respon spektrum, sehingga dari garis tersebut
diperoleh garis perpotongan (demand Spectra) pada Sa = 0,320 dan Sd = 0,124.

19
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis pushover pada jembatan semi integral dengan panjang
bentang 120 meter adalah sebagai berikut:
1. Dimensi Pier (Kolom) sebesar 1,5 m x 1,5 m dengan fc sebesar 25 MPa dibutuhkan
tulangan sebanyak 28 buah/sisi.
terpendek saja.
3. Kurva pushover yang diperoleh dari hasil analisis tidak menunjukkan adanya pola
kerusakan pada struktur karena garis hijau (curve capacity) terus mengalami
kenaikan secara signifikan. Hal ini terjadi karena struktur jembatan yang dirancang
kuat atau bahkan boros.
4. Perfomence point pada hasil analisis ini berada pada titik Sa = 0,320 dan Sd = 0,124.

4.2 Saran
1. Perencanaan tulangan secara detail terhadap masing-masing elemen struktur
memungkinkan terlihatnya pola keruntuhan/kerusakan pada struktur jembatan yang
2. Dimensi yang digunakan pada analisis pushover sebaiknya tidak boros agar tujuan
dalam melakukan analisa pushover sendiri dapat tercapai sehingga nantinya saat
penerapan pada konstruksi sebenarnya dapat dilakukan pencegahan-pencegahan
dalam menghindari kerusakan tersebut.

20

### Dapatkan aplikasi gratis kami

Hak cipta © 2021 Scribd Inc.