Anda di halaman 1dari 18

REFERAT

TRAUMA LARING

PEMBIMBING:

dr. Dumasari Siregar Sp.THT-KL

PENULIS:

Rosmana Apolla Putera

030.12.243

KEPANITERAAN KLINIK THT

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BUDHI ASIH

PROGRAM STUDI PROFESI DOKTER

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

JAKARTA, FEBRUARI 2017


DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN................................................................................................3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.....................................................................................4
I. Pengertian...........................................................................................................4
II. Epidemiologi......................................................................................................5
III. Anatomi dan Fisiologi........................................................................................5
IV. Etiologi Trauma Laring......................................................................................7
V. Gejala Klinis.......................................................................................................7
VI. Patofisiologi........................................................................................................8
VII. Diagnosis..........................................................................................................13
VIII. Tatalaksana.......................................................................................................13
IX. Komplikasi........................................................................................................15
X. Morbiditas dan Mortalitas.................................................................................15
BAB III KESIMPULAN...............................................................................................17
BAB IV DAFTAR PUSTAKA......................................................................................18
BAB I.

PENDAHULUAN

Suara adalah pemampatan mekanis atau gelombang longitudinal yang merambat melalui

suatu medium berupa zat padat, cair ataupun gas. Suara dihasilkan dari getaran suatu benda

yang disebut sumber bunyi. Pada manusia, suara dihasilkan dari getaran suatu organ yang

disebut sebagai pita suara yang berada pada daerah laring.

Laring selain berfungsi sebagai lokasi dari pita suara juga memiliki fungsi sebagai

saluran pernafasan. Laring tersusun atas beberapa tulang rawan yang berfungsi memberi

bentuk serta melindungi saluran nafas. Kerusakan pada daerah laring, terutama pada tulang-

tulang rawan yang menyusunnya biasanya disebabkan oleh trauma eksternal. Trauma pada

laring sangat berbahaya karena kerusakan pada laring berpotensi menyebabkan sumbatan jalan

nafas yang dapat berakibat kematian.

Trauma laring termasuk golongan trauma yang sangat jarang terjadi. Diperkirakan

kurang lebih 1 dari 30.000 kunjungan UGD merupakan kasus trauma laring. Trauma laring

dapat mengakibatkan obstruksi jalan nafas yang serius dan berakibat fatal bila tidak didiagnosis

dengan tepat dan cepat. Hal utama yang harus diperhatikan pada kasus trauma laring akut

adalah melindungi jalan nafas.

Fungsi vokal, merupakan prioritas kedua karena harus mendahulukan keselamatan dari

pasien, biasanya ditentukan oleh efektifitas dari penanganan awal. Karena itu, penting sekali

untuk dapat mengenali dan mendiagnosis serta mengetahui penanganan yang tepat bagi jenis

trauma yang jarang, tetapi cukup serius ini.(1,3)


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

I. Pengertian

Trauma laring adalah suatu keadaan di mana laring mengalami suatu kerusakan yang

biasanya disebabkan oleh trauma. Trauma pada laring dapat berupa trauma tumpul, trauma

tajam, luka tusuk, dan luka tembak. Trauma tumpul pada daerah leher selain dapat merusak

struktur laring juga dapat menyebabkan cedera pada jaringan lunak seperti otot, saraf,

pembuluh darah, dan struktur lainnya.

Trauma tumpul pada leher dapat diakibatkan oleh hal-hal yang mungkin sering terjadi

dalam kehidupan sehari-hari. Seperti saat leher membentur dashboard dalam kecelakaan,

ataupun tertendang dan terpukul saat olahraga beladiri. Trauma tumpul pada leher juga dapat

disebabkan oleh cekikan, atau usaha bunuh diri dengan menggantung diri.(2)

Penanganan trauma tumpul pada leher terutama bertujuan untuk menyelamatkan jiwa,

mencegah kerusakan organ yang lebih jauh, mencegah kecacatan tubuh dan menyembuhkan.

Dalam penanganan trauma dikenal primary survey yang dengan cepat dilanjutkan

resusitasi dan secondary survey sebelum akhirnya dilanjutkan dengan terapi definitif. Selama

primary survey, keadaan yang mengancam nyawa harus dikenali dan resusitasinya dilakukan

pada saat itu juga. Pada primary survey dikenal sistem ABCDE (Airway, Breathing,

Circulation, Disability, Exposure/Environmental control) yang disusun berdasarkan urutan

prioritas penanganan. Prioritas utama penanganan adalah menjamin jalan napas selalu adekuat

sehingga tidak terjadi sumbatan jalan nafas. Oleh karena itu, trauma jalan nafas adalah keadaan

yang memerlukan penanganan yang cepat dan efektif untuk menghindari akibat-akibat yang

tidak diinginkan.(1,3)
Insidensi dari trauma laring dilaporkan < 1% dari semua kasus trauma. Mortalitas trauma

laring cukup tinggi yaitu berkisar antara 25%-40%. Penulis lain melaporkan bahwa 23% pasien

dengan trauma tumpul jalan napas meninggal pada 2 jam pertama setelah sampai di UGD.

Berdasarkan hasil dari data-data tersebut, dapat disimpulkan bahwa trauma laring

merupakan keadaan yang jarang ditemukan namun sangat mengancam jiwa, sehingga

dipandang perlu untuk dibuat tinjauan pustakanya.(3)

II. Epidemiologi

Trauma laring merupakan kasus yang jarang dan 80% kasus terjadi pada 2,5 cm diatas

carina. Namun, angka kejadian kasus trauma laring dilaporkan cenderung meningkat.(3)

Sabina dkk melaporkan 23 kasus TLT selama 1992-1998, 12 kasus cedera laring, 8 kasus

cedera trakea dan 3 kasus mengenai keduanya. Sembilan belas dari 23 kasus akibat trauma

tajam (82,6%), 4 kasus akibat trauma tumpul.(3)

Trauma laring lebih banyak ditemukan pada laki-laki daripada wanita dengan

perbandingan 5:1, dan lebih sering ditemukan pada usia produktif (19-40 tahun).(1,3) Hal ini

mungkin disebabkan oleh karena laki-laki lebih memiliki aktivitas dan mobilitas yang jauh

lebih tinggi jika dibandingkan dengan wanita.(3)

III. Anatomi dan Fisiologi

Laring adalah organ khusus yang mempunyai pelindung pada pintu masuk jalan nafas

dan berfungsi dalam pembentukan suara. Di atas ia berbatasan dengan laringofaring, dan di

bawah ia bersambung dengan trakea. Kerangka laring dibentuk oleh beberapa tulang rawan:

hioid, epiglotis, tiroid, aritenoid dan krikoid yang dihubungkan oleh ligamentum dan

digerakkan oleh otot.(3)


Saraf sensorik mukosa laring di atas plika vokalis berasal dari ramus laringeus internus

yang bercabang dari nervus laringeus superior sedangkan di bawah plika vokalis dipersarafi

oleh nervus laringeus rekurens. Persarafan motorik ke otot intrinsik laring dipersarafi oleh

nervus laringeus rekurens terkecuali m.cricotiroideus yang dipersarafi oleh nervus laringeus

eksternus. Pendarahan laring bagian atas diperdarahi oleh ramus laringeus superior dari

a.tiroidea superior sedangkan bagian bawah oleh ramus laringeus inferior dari a.tiroidea

inferior.(3)

Udara mengalir dari faring menuju laring. Laring terdiri dari rangkaian cincin tulang

rawan yang dihubungkan oleh otot-otot dan mengandung pita suara. Ruang berbentuk segitiga

di antara pita suara yang disebut glotis bermuara ke dalam trakea dan membentuk bagian antara

saluran pernafasan atas dan bawah. Glotis merupakan pemisah antara saluran pernafasan atas

dan bawah.

Meskipun laring terutama dianggap berhubungan dengan fonasi, tetapi fungsinya sebagai

organ pelindung jauh lebih penting. Pada waktu menelan, gerakan laring ke atas, penutupan

glotis, dan fungsi seperti pintu dari epiglottis yang berbentuk daun pada pintu masuk laring

berperan untuk mengarahkan makanan dan cairan masuk ke dalam esophagus. Jika benda asing

masih bisa masuk, reaksi batuk yang dimiliki laring akan membantu menghalau benda dan

sekret keluar dari saluran pernafasan bagian bawah.(4)

Laring dilindungi dengan baik oleh mandibula, sternum, dan mekanisme fleksi dari leher.

Fungsi primer dari laring adalah sebagai jalan nafas, melindungi saluran pernafasan di

bawahnya, dan memproduksi suara. Laring dapat dibagi menjadi 3 area : supraglotis, glotis dan

subglotis. Laring disangga oleh 1 tulang dan 2 tulang rawan: os hyoid, kartilago tiroid, dan

kartilago krikoid. Supraglotis adalah area yang paling tidak bergantung pada penyangga

eksternal dan mengandung sebagian besar jaringan lunak dan mukosa. Glotis sangat
bergantung pada penyangga eksternal dan dengan koordinasi mobilitas krikoaritenoid dan

aktifitas neuromuscular berfungsi untuk mengatur jalan nafas dan memproduksi fonasi. Pada

orang dewasa, jalan nafas mengalami penyempitan di daerah glotis. Subglotis disangga hanya

oleh kartilago sirkuler pada laring, yaitu krikoid, yang merupakan area tersempit dalam jalan

nafas bayi dan anak-anak.(1)

IV. Etiologi Trauma Laring

Trauma laring terbagi atas(2):

1. Trauma mekanik eksternal seperti trauma tumpul, trauma tajam, komplikasi

trakeostomi atau krikotirotomi.

2. Trauma mekanik internal seperti akibat tindakan endoskopi, intubasi endotrakea atau

pemasangan pipa nasogaster.

3. Trauma akibat luka bakar oleh panas (gas atau cairan panas) dan kimia (cairan

alkohol, amoniak, natrium hipoklorit dan lisol) yang terhirup.

4. Trauma akibat radiasi pada pemberian radioterapi tumor ganas leher.

5. Trauma sebagai akibat dari pemakaian suara yang berlebihan (vocal abuse) misalnya

akibat menjerit keras, atau bernyanyi dengan suara keras.

V. Gejala Klinis

Pasien trauma laring sebaiknya dirawat untuk observasi dalam 24 jam pertama.

Timbulnya gejala stridor yang perlahan-lahan yang makin menghebat atau timbul mendadak

sesudah trauma merupakan tanda adanya sumbatan jalan nafas. Suara serak atau suara hilang

timbul bila terdapat kelainan pita suara akibat trauma seperti edema, hematoma, laserasi, atau

kelumpuhan pita suara.(2)

Emfisema subkutis terjadi bila ada robekan mukosa laring atau trakea, atau fraktur

tulang-tulang laring hingga mengakibatkan udara pernafasan keluar dan masuk ke jaringan
subkutis di leher. Emfisema leher dapat meluas sampai ke daerah muka, dada, dan abdomen,

dan pada perabaan terasa sebagai krepitasi kulit.(2)

Hemoptisis atau batuk darah terjadi akibat laserasi mukosa jalan nafas dan bila jumlahnya

banyak dapat menyumbat jalan nafas. Perdarahan biasanya terjadi akibat luka tusuk, luka sayat,

luka tembak. Namun dapat juga disebabkan oleh luka tumpul. Disfagia atau kesulitan menelan

juga dapat timbul akibat trauma laring.(2)

VI. Patofisiologi

Trauma laring dapat menyebabkan edema dan hematoma di plika ariepiglotika dan plika

ventrikularis karena jaringan submukosa di daerah ini mudah membengkak. Selain itu mukosa

faring dan laring mudah robek yang diikuti dengan terbentuknya emfisema subkutis. Infeksi

sekunder melalui robekan ini dapat menyebabkan selulitis, abses, atau fistel.(2)

Tulang rawan laring dan persendiannya dapat mengalami fraktur dan dislokasi.

Kerusakan pada perikondrium dapat menyebabkan hematoma, nekrosis tulang rawan, dan

perikondritis.(2)

Robekan mukosa yang tidak dijahit dengan baik yang diikuti oleh infeksi sekunder, dapat

menimbulkan terbentuknya jaringan granulasi, fibrosis, dan akhirnya stenosis.(2)

Boies (1968) membagi trauma laring dan trakea berdasarkan beratnya kerusakan yang

timbul, dalam 3 golongan(2):

1. Trauma dengan kelainan mukosa saja, berupa edema, hematoma, emfisema

submukosa, luka tusuk atau sayat tanpa kerusakan tulang rawan.

2. Trauma yang dapat mengakibatkan rusak atau hancurnya tulang rawan (crushing

injuries).

3. Trauma yang mengakibatkan hilangnya sebagian jaringan.


Pembagian golongan trauma ini erat hubungannya dengan prognosis fungsi primer laring

dan trakea, yaitu sebagai saluran nafas yang adekuat.

Inhalasi uap yang sangat panas, gas atau asap yang berbahaya akan cenderung

mencederai laring dan trakea servikal dan jarang merusak saluran napas bawah. Daerah yang

terkena akan menjadi nekrosis, membentuk jaringan parut yang menyebabkan defek stenosis

pada daerah yang terkena.(3)

Trauma akibat intubasi bisa disebabkan karena trauma langsung saat pemasangan atau

pun karena balon yang menekan mukosa terlalu lama sehingga menjadi nekrosis. Trauma

sekunder akibat intubasi umumnya karena inflasi balon yang berlebihan walaupun

menggunakan cuff volume besar bertekanan rendah. Trauma yang disebabkan oleh cuff ini

terjadi pada kira-kira setengah dari pasien yang mengalami trauma saat trakeostomi. Trauma

intubasi paling sering menyebabkan sikatrik kronik dengan stenosis, juga dapat menimbulkan

fistula trakeoesofageal, erosi trakea oleh pipa trakeostomi, fistula trakea-arteri inominata, dan

ruptur bronkial.(3)

Penggunaan pipa endotrakea dengan cuff yang bertekanan tinggi merupakan etiologi

yang paling sering terjadi pada intubasi endotrakea. Penggunaan cuff dengan volume tinggi

tekanan rendah telah menurunkan insiden stenosis trakea pada tipe trauma ini, namun trauma

intubasi ini masih tetap terjadi dan menjadi indikasi untuk reseksi trakea dan rekonstruksi.(3)

Faktor resiko trauma laring pada intubasi dan penggunaan pipa endotrakea:

1. Wanita

2. Usia pasien yang lebih dari 50 tahun

3. Penggunaan tube dengan lumen ganda

4. Pengembangan balon / cuff yang berlebihan

5. Trakeomalacia
6. Posisi yang salah dari tube

7. Kondisi medis pasien yang buruk

8. Batuk yang terlalu keras dan berlebihan

9. Trakeostomi perkutan

10. Perawakan pendek

11. Obesitas.

Trauma tumpul pada saluran nafas bagian atas dan dada paling sering disebabkan oleh

hantaman langsung, trauma akibat fleksi/ekstensi hebat, atau trauma benturan pada dada yang

biasanya sering terjadi saat kecelakaan lalu lintas. Hiperekstensi mengakibatkan traksi

laringotrakea yang kemudian membentur kemudi, handle bars atau dashboard. Trauma tumpul

lebih sering disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor dimana korban terhimpit di antara

jok mobil dan setir atau dikeluarkan dari kendaraan dan terhimpit di antara kendaraan yang

mengalami kecelakaan.(3)

Trauma langsung pada leher bagian depan dapat mengakibatkan rusaknya cincin trakea

maupun laring. Trauma tumpul langsung pada daerah leher dapat menyebabkan ruptur trakea

pars membranosa. Hal ini terjadi akibat tekanan intraluminer yang mendadak tinggi pada posisi

glotis yang tertutup akan menyobek bagian trakea yang terlemah yaitu trakea pars membranosa.

Mekanisme lain yang cukup berperan adalah trauma tumpul akan menekan kartilago trakea

yang berbentuk U ke tulang vertebrae, hal ini menjelaskan kenapa laserasi yang terjadi

cenderung sesuai level dari trumanya.(3)

Trauma tumpul laringotrakea pada anak jarang dijumpai dan bila dijumpai biasanya

jarang menimbulkan kerusakan/fraktur kartilago, kecuali trauma yang didapat cukup keras. Hal

tersebut disebabkan karena tulang rawan pada laringotrakea anak-anak masih sangat elastis

dibandingkan dengan orang dewasa. Namun kerusakan jaringan lunak (edema dan hematom)
yang terjadi pada anak-anak dengan trauma tumpul laringotrakea jauh lebih hebat dibanding

pada dewasa, hal ini disebabkan karena struktur fibrosa yang jarang dan lemahnya perlekatan

jaringan submukosa dengan perikondrium.(3)

Penyebab yang lain adalah trauma tak langsung akibat dari akselerasi-deselerasi. Pada

trauma akselerasi-deselerasi dengan posisi glotis menutup akan mengakibatkan tekanan

intraluminer yang meninggi sehingga dapat menyebabkan robekan pada bagian membran

trakea.(6) Robekan ini terjadi akibat diameter transversal yang bertambah secara mendadak.

Selain itu dapat juga terjadi robekan diantara cincin trakea dari os krikoid sampai karina akibat

tarikan paru yang mendadak.(3)

Pada trauma tumpul dan tembak semua kerusakan berbentuk stelata. Trauma tembak

akan mengakibatkan kerusakan yang hebat karena energi kinetik yang besar dari peluru.

Demikian juga halnya dengan trauma tumpul. Energi yang diterima permukaan tubuh akan

dihantarkan ke sekitarnya sehingga dapat merusak jaringan sekitarnya.

Berbeda dengan trauma tajam di mana permukaan tubuh menerima energi lebih kecil.

Selain itu energi yang diterima hanya diteruskan ke satu arah saja.(3)

Mekanisme cedera laringotrakea akibat trauma tumpul dapat disimpulkan menjadi empat

yaitu(3):

1. Penurunan diameter anteroposterior rongga thoraks

2. Deselerasi yang cepat

3. Peningkatan mendadak tekanan intraluminal laringotrakea pada glotis yang tertutup

4. Trauma benturan langsung.

Trauma laringotrakea sering juga disebabkan karena trauma tajam (5-15%). Trauma

tajam paling banyak diakibatkan perkelahian di tempat rawan kejahatan. Senjata yang dipakai

adalah belati, pisau clurit, pisau lipat, golok maupun senjata berpeluru. Angka kejadian trauma
tajam semakin meningkat dan penyebab utamanya relatif lebih banyak oleh trauma tembus

peluru dibanding trauma tusuk. Trauma tembus tajam dan trauma tembus tembak cenderung

semakin meningkat terutama karena kejahatan.(3)

Meskipun trauma tembus dapat mengenai bagian manapun dari saluran nafas, trakea

merupakan struktur yang paling sering mengalami trauma akibat luka tusukan. Laring yang

mengalami trauma kira-kira pada sepertiga saluran nafas bagian atas, dan sisa dua pertiga

bagian lagi adalah trakea pars servikalis. Kematian pasien dengan trauma tembus saluran nafas

ini biasanya disebabkan oleh trauma vaskular dan jarang akibat trauma saluran nafas itu

sendiri.(3)

Penyebab lain trauma laringotrakea adalah usaha bunuh diri pada pasien dengan

gangguan kejiwaan atau pada pasien dengan stress berat. Selain penyebab di atas, pernah

dilaporkan adanya trauma laringotrakea akibat: iatrogenik injuries (mediastinoskopi,

transtracheal oxygen therapy, mechanical ventilation), pisau cukur, strangulasi, electrical

injury, luka bakar, dan caustic injury.(3)

Cairan edema dapat cepat terkumpul di submukosa supraglotis dan subglotis.

Pembengkakan daerah endolaring subglotis cenderung melingkar sehingga akan menimbulkan

obstruksi saluran napas. Masuknya udara ke dalam ruang submukosa akan lebihmenekan dan

mengurangi diameter laring dan trakea. Udara di dalam jaringan lunak (emfisema) akan

menyebabkan emfisema epiglotis dan penyempitan saluran napas supraglotis.(3)

Banyak faktor yang mempengaruhi tipe / jenis cedera yang terjadi pada saluran napas

seperti arah dan kekuatan gaya, posisi leher, umur, konsistensi kartilago laringotrakea dan

jaringan lunaknya. Cedera yang terjadi dapat berupa kontusio laringotrakea, edema, hematom,

avulsi, fraktur dan dislokasi kartilago tiroid, krikoid serta trakea.(3)


VII. Diagnosis

Luka terbuka dapat disebabkan oleh trauma tajam pada leher setinggi laring, misalnya

oleh pisau, clurit, dan peluru. Kadang-kadang pasien dengan luka terbuka pada laring

meninggal sebelum mendapat pertolongan oleh karena terjadinya asfiksia. Diagnosis luka

terbuka di laring dapat ditegakkan dengan adanya gelembung-gelembung udara pada daerah

luka, oleh karena udara yang keluar dari trakea.(2)

Berbeda dengan luka terbuka, diagnosis luka tertutup pada laring lebih sulit. Diagnosis

ini penting untuk menentukan sikap selanjutnya, apakah perlu segera dilakukan eksplorasi atau

cukup dengan pengobatan konservatif dan observasi saja. Kebanyakan pasien trauma laring

juga mengalami trauma pada kepala dan dada, sehingga pasien biasanya dirawat di ruang

perawatan intensif dalam keadaan tidak sadar dan sesak nafas.(2)

Gejala dari trauma laring bergantung pada berat ringannya trauma. Pada trauma ringan

gejalanya dapat berupa nyeri pada waktu menelan, batuk, atau bicara. Di samping itu mungkin

terdapat suara parau, tetapi belum terdapat sesak nafas. Pada trauma berat dapat terjadi fraktur

dan dislokasi tulang rawan serta laserasi mukosa laring, sehingga menyebabkan gejala

sumbatan jalan nafas (stridor dan dispnea), disfonia atau afonia, hemoptisis, hematemesis,

disfagia, odinofagia serta emfisema yang ditemukan di daerah muka, dada, leher, dan

mediastinum.(2)

VIII. Tatalaksana

Penatalaksanaan luka terbagi atas luka terbuka dan luka tertutup.

1. Luka terbuka

Penatalaksanaan luka terbuka pada laring terutama ditujukan pada perbaikan saluran

nafas dan mencegah aspirasi darah ke paru. Tindakan segera yang harus dilakukan adalah
trakeotomi dengan menggunakan kanul trakea yang memiliki balon, sehingga tidak terjadi

aspirasi darah. Setelah trakeostomi barulah dilakukan eksplorasi untuk mencari dan mengikat

pembuluh darah yang cedera serta menjahit mukosa dan tulang rawan yang robek. Untuk

mencegah infeksi dan tetanus dapat diberikan antibiotika dan serum anti-tetanus.(2)

2. Luka tertutup

Tindakan trakeostomi untuk mengatasi sumbatan jalan nafas tanpa memikirkan

penatalaksanaan selanjutnya akan menimbulkan masalah di kemudian hari, yaitu kesukaran

dekanulasi. Eksplorasi harus dilakukan dalam waktu paling lama 1 minggu setelah trauma.

Eksplorasi yang dilakukan setelah lewat seminggu akan memberikan hasil yang kurang baik

dan menimbulkan komplikasi di kemudian hari.(2)

Keputusan untuk menentukan tindakan, apakah akan melakukan eksplorasi atau

konservatif bergantung pada hasil pemeriksaan laringoskopi langsung atau tidak langsung, foto

jaringan lunak leher, foto toraks, dan CT scan. Pada umumnya pengobatan konservatif dengan

istirahat suara, humidifikasi dan pemberian kortikosteroid diberikan pada keadaan mukosa

laring yang edem, hematoma, atau laserasi ringan, tanpa adanya gejala sumbatan laring.(2)

Indikasi untuk melakukan eksplorasi adalah(2):

1. Sumbatan jalan nafas yang memerlukan trakeostomi.

2. Emfisema subkutis yang progresif.

3. Laserasi mukosa yang luas.

4. Tulang rawan krikoid yang terbuka.

5. Paralisis bilateral pita suara.


Eksplorasi laring dapat dicapai dengan membuat insisi kulit horizontal. Tujuannya ialah

untuk melakukan reposisi pada tulang rawan atau sendi yang mengalami fraktur atau dislokasi,

menjahit mukosa yang robek dan menutup tulang rawan yang terbuka dengan flap atau graft

kulit. Untuk menyangga lumen laring dapat digunakan stent atau yang dipertahankan selama 4

atau 6 minggu.(2)

IX. Komplikasi

Komplikasi yang dapat terjadi dibagi menjadi 2, yaitu akut dan kronis(2):

1. Akut

a. Obstruksi jalan nafas

b. Afonia

c. Disfonia

d. Odinofagia

e. Disfagia

f. Hematoma dan infeksi

2. Kronis

a. Perubahan suara

b. Obstruksi kronik yang timbul secara perlahan

c. Cedera pita suara

d. Kosmetik

e. Aspirasi kronik

f. Fistula

X. Mobiditas dan Mortalitas

Pasien yang mengalami cedera berat laringotrakea biasanya akan mengalami gangguan

menetap jalan napas dan gangguan bersuara serta kemungkinan mengalami aspirasi.
Komplikasi ini terjadi karena kontraktur dari bekas luka atau granulasi yang hebat/berlebihan.

Pasien dengan trauma tumpul leher cenderung mengalami komplikasi lambat yang banyak

seperti kesulitan fonasi dibanding pada trauma tajam. Komplikasi lambat lebih sering

ditemukan bila terapi definitif baru dilakukan melebihi dari 24 jam pasca trauma.(3)

Lebih dari 75% pasien dengan trauma tumpul laringotrakea meninggal di tempat kejadian

atau pada saat menuju rumah sakit, dan setelah tindakan operatif-pun angka mortalitasnya

masih mencapai 14-25% akibat cedera lain yang menyertai.(1) Penulis lain melaporkan bahwa

21% pasien dengan trauma tumpul jalan napas meninggal pada 2 jam pertama setelah

kedatangannya di UGD.(4) Mortalitas pasien dengan trauma jalan napas dilaporkan berkisar 15-

30% dan biasanya disebabkan karena syok yang irreversibel, aspirasi masif darah, cedera

vaskuler di daerah servikotorakal dan cedera organ ikutan.(4) Penyebab kematian tersering pada

trauma laringotrakea adalah obstruksi jalan nafas akibat aspirasi darah.(1) Mortalitas pada

trauma tumpul lebih besar dibanding pada trauma tajam, dilaporkan pada trauma tumpul 40%

sedangkan pada trauma tajam hanya 20%.(3)


BAB III

KESIMPULAN

Trauma laring adalah salah satu trauma yang paling jarang terjadi, namun trauma laring

merupakan salah satu trauma yang paling berbahaya jika tidak ditangani dengan segera.

Hampir seluruh tulang penyusun kerangka laring adalah tulang rawan. Oleh karena itu,

berbagai jenis trauma dapat dengan mudah menyebabkan trauma pada laring, baik itu trauma

tajam sebagai akibat tusukan dari benda tajam, trauma tumpul sebagai akibat hantaman benda

tumpul yang keras pada laring maupun trauma tembus sebagai akibat dari luka tembak pada

laring.

Penangan pada trauma laring harus diutamakan pada fungsi laring sebagai jalan nafas

terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan trauma laring tidak hanya dapat menyebabkan masalah

pada fungsi fonasi, namun yang lebih penting trauma laring juga dapat menyebabkan terjadinya

sumbatan jalan nafas yang tentunya akan berakibat sangat fatal jika trauma laring tidak

ditangani dengan segera.


BAB IV

DAFTAR PUSTAKA

1. Quinn FB, Ryan MW. Laryngeal trauma. September 2003. Online [cited February

2017] available from URL http://www.utmb.edu/otoref/Grnds/Laryng-Trauma-2003-

0903/Laryng-trauma-2003-0902.htm.

2. Soepardi EA, Iskandar HN (edit). Buku ajar ilmu kesehatan telinga-hidung-tenggorok

kepala leher. Jakarta:Balai Penerbit FKUI;2001.p.170-2.

3. Akhmadu, Wuryantoro. Trauma laringotrakea. 2007. Online [cited February 2017]

available from URL http://www.bedahtkv.com/index.php?/Paper/Referat-dan-Tinjauan-

Pustaka/Trauma-Laringotrakea.html

4. Price SA, Wilson LM. Sistem respirasi. Patofisiologi:konsep klinis proses-proses

penyakit volume II edisi keenam. Jakarta:EGC;2005. p.737.

5. Anonymous. Larynx. Online [cited February 2017] available from URL

http://en.wikipedia.org/wiki/Larynx

6. Chen EH, Logman ZM, et al. A case of tracheal injury after emergent endotracheal

intubation: a review of the literature and causalities. Anesth Analog Case Report

2001;93:1270-1.