Anda di halaman 1dari 30

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)

2.1.1. Definisi

Istilah ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran

Pernafasan Akut mulai diperkenalkan pada tahun 1984 setelah dibahas

dalam lokarnya nasional ISPA di Cipanas. Istilah ini merupakan

padanan istilah Inggris Acute Resepiratory Infection disingkat ARI.

Dalam lokakarya nasional ISPA tersebut ada dua pendapat yang

pertama istilah ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut ) dan pendapat

yang kedua memilih ISNA (Infeksi saluran Nafas Akut. Pada akhir

lokakarya diputuskan untuk memilih istilah ISPA dan istilah ini juga

dipakai hingga sekarang (Depkes,2002)

ISPA mengandung 3(tiga) unsur yaitu infeksi, saluran pernafasan

akut dengan pengertian sebagai berikut:


a. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganime ke dalam tubuh

manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala

penyakit.

b. Saluran pernafasan adalah organ yang mulai dari hidung hingga

alveoli beserta organ adneksnya seperti sinus-sinus, rongga telinga

tengah dan pleura. ISPA secara otomatis mencakup saluran

pernafasan bagian atas, salura pernafasan bagian bawah (termasuk

jaringan paru-paru) dan organ adneksasaluran pernafasan. Dengan

batasan ini jaringan paru termasuk dalam saluran pernafasan

(respiratory trac)

c. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari.

Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun

untuk beberapa penyakit yang dapat digolongka dalam ISPA. Proses

ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.

Dari ke tiga penjelasan unsure diatas dapat disimpulan bahwa

infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah proses infeksi akut

berlangsung selama 14 hari yang di sebabkan oleh mikroorganisme

yang menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran nafas,

mulai hidung (saluran nafas) hingga alveoli (saluran bawah)


termasuk jaringan adeksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan

pleura (Karna,2006)

2.1.2. Etiologi

Etiologi ISPA terdiri lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan

reketsia. Bakteri penyebabnya antara lain dari genus streptococcus,

stapitococus, pneumococus, hemofillus, berdotela dan

corinebakterium. Virus penyebab ISPA antara lain adalah golongan

miksovirus, sadenovirus, koronavirus, spikonavirus, mikoplasma,

hervesvirus dan lain-lain (Depkes, 2002).

Infeksi saluran pernafasan akut merupakan kelompok penyakit

yang komplek dan heterogen, yang disebabkan oleh berbagai etiologi.

Kebanyakan infeksi saluran pernafasan akut disebabkan oleh virus dan

mikroplasma. Etiologi ISPA terdiri dari 300 lebih jenis bakteri,

virus,dan jamur. Bakteri penyebab ISPA misalnya: Strepto-kokus

Hemolitikus, Stafilokokus, Pneumokokus, Hemofilus Influenza,

Bordella Pertu-sis, dan Korinebakterium Diffteria (Achmadi dkk,

2004)
Bakteri tersebut diudara bebas akan masuk dan menempel pada

saluran pernafasan bagian atas yaitu tenggorokan dan hidung.

Biasanya bakteri tersebut menyerang anak-anak yang kekebalan

tubuhnya lemah misalnya saat perubahan musim panas ke musim

hujan.

Untuk golongan virus penyebab ISPA antara lain golongan

miksovirus (termasuk didalamnya virus para-influensa, virus

influensa, dan virus campak), dan adenovirus. Virus para-influensa

merupakan penyebab terbesar dari sindroma batuk rejan, bronkiolitis

dan penyakit demam saluran nafas bagian atas. Untuk virus influensa

bukan penyebab terbesar terjadinya sindroma saluran pernafasan

kecuali hanya epidemic-epidemi saja. Pada bayi dan anak-anak, virus-

virus influenza merupakan penyebab terjadinya lebih banyak penyakit

saluran nafas bagian atas dari pada saluran nafas bagian bawah

(DepKes RI, 2007).

2.1.3. Patofisiologi
Saluran pernafasan atas berfungsi menghangatkan,

melembabkan, dan menyaring udara. Bersama udara, masuk

berbagai patogen yang dapat menyangkut dihidung. Faring (tonsila),

laring, atau trakea dan dapat berpoliferasi, bila daya tahan tubuh

menurun. Penyebab infeksi (bila terjadi) tergantung pada pertahanan

tubu pula dan dari virulensi kuman yang bersangkutan. Contoh ISPA

adalah nasofaringitis. Influenza (virus) yaitu radang nasofaring,

faring, laring, trakea, disertai pembengkakan membrane mukosa dan

keluarnya eksudat serosa mukopurulen (infeksi sekunder)

(tambayong).

2.1.4. Tanda dan Gejala

Seorang anak yang menderita ISPA bisa menunjukkan

bermacammacam tanda dan gejala seperti batuk, serak , sakit

tenggorokan, sakit telinga (congekan), sesak nafas, pernafasan yang

cepat, nafas yang berbubyi, penarikan dada ke dalam, bisa juga

mual, muntah, tidak mau makan, badan lemah dan sebagainya

(Defkes RI, 2007)

a. Tanda dan Gejala ISPA ringan yaitu :


1. Batuk

2. Pilek

3. Serak

4. Demam

b. Tanda dan Gejala ISPA sedang, yaitu :

1. Pernafasan yang cepat

2. Wheezing (nafas menciut-ciut)

3. Panas 39 c

c. Tanda dan Gejala ISPA berat, yaitu :

1. Penarikan dada ke dalam (chest indrawing) pada saat

penarikan nafas

2. Stidor (pernafasan ngorokk)


3. Tidak ada nafsu makan (anorexia)

2.1.5. Klasifikasi

a. ISPA ringan

Gejala-gejala ISPA ringan yaitu

1. Batuk

2. Pilek

3. Sesak

4. Panas atau demam

b. ISPA sedang

Gejala-gejala ISPA sedang yaitu :


1. Pernafasan lebih dari 50x/menit pada balita yang berumur

kurang dari satu tahun dan pernafasan 40x/menit pada

balita yang berumur satu tahun atau lebih

2. Suhu lebih dari 39 c

3. Timbul bercak-bercak pada kulit menyerupai bercak

campak

4. Pernafasan bunyi seperti mendengkur

5. Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang tengah

c. ISPA sedang

Gejala-gejala ISPA berat yaitu

1. Bibir atau kulit menbiru

2. Anak tidak sadar atau kesadaran menurun

3. Lubang hidung kembang kempis pada waktu bernafas


4. Pernafasan berbunyi seperti mendengkur dan anak tampak

gelisah

5. Nadi cepat lebih dari 60x/menit atau tidak terata

6. Sel iga tertarik ke dalam pada waktu bernafas

2.1.6. Gambaran klinis

Infeksi saluran pernafasan akut secara khas timbul dengan

hidung tersumbat dan rinorea (terus mengeluarkan secret dari

hidung). Sakit tenggorokan dan rasa tidak nyaman saat menelan,

bersin, batu nyaring dan kering adalah gejala yang umum. Malaise

umum dan sedang adalah manifestasi sistemik yang khas. Penyakit

biasanya berlangsung selama beberapa hari 1-3 minggu dan sembuh

secara spontan (Asih dan Christantie,2004)

2.1.7. Faktor Resiko ISPA

Berikut ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi resiko

terjadinya ISPA menurut Depkes (2000) antara lain :


a. Umur di bawah 2 bulan

b. Jenis kelamin laki-laki

c. Asupan gizi yang kurang

d. Berat badan lahir rendah

e. Tidak mendapat ASI yang memadai

f. Populasa udara

g. Kepadatan tempat tinggal

h. Imunisasi yang tidak memadai

i. Membedong bayi

j. Definisiensi vitamin A

Adapun menurat sari (2008) menyatakan beberapa faktor yang

mendapatkan terjadinya ISPA pada balita yaitu 2 (dua) faktor, antara

lain :
a. Faktor Anak

1. Umur

2. Jenis Kelamin

3. Status gizi

4. Pemberian air susu ibu (ASI)

5. Pemberian vitamin A

6. Status imunisasi

b. Faktor Ibu

1. Pendidikan ibu

2. Pengetahuan ibu

3. Faktor upaya pencegahan dan pengobatan

4. Faktor lingkungan
5. Pencegahan udara dalam rumah

6. Kepadatan orang dalam rumah

7. Faktor social ekonomi

2.1.8. Pokok-pokok Penatalakksanaan Penderita ISPA

Dalam upaya pemberantasan ISPA, penatalaksanaan penderita

terutama dimaksudkan untuk mencegah berlanjutan ISPA ringan

menjadi ISPA sedang, mencegah ISPA sedang menjadi ISPA berat dan

mengurangi resiko kematian karna ISPA berat.

Selama satu tahun,rata-rata seorang anak dipedesaan bisa

terkena ISPA 3 kali. Di daerah perkotaan bisa sampei 6 kali. Dari

sejumlah kasus tersebut, kurang lenbih 90% dalam bentuk ISPA

ringan yangbisa diatasi sendiri oleh masyarakat.

Kurang lebih 10% kasus ISPA berlanjut atau terjadi dalam

bentuk ISP sedang dan berat yang memerlukan antimikroba.


Dari seluruh kasus ISPA 1-3% diantaranya dalam bentuk

ISPAberat adalah pneumonia yang menjadi perhatian utama pada

upaya pemberantasan ISPA (Depkes RI,2007)

Upaya pemberantasan ISPA akan dilaksanakan baik oleh

petugas kesehatan maupun oleh kader dengan sebanyak mungkin

melibatkan masyarakat ibu rumah tangga.

a. Penyuluhan Kesehatan

Masyarakat hendaknya mampu membedakan dengan cara yang

mudah apakah seorang penderita bisa diobati sendiri ataukah harus

dibawah petugas kesehatan. Penyuluhan ini merupakan kunci

eberhasilan upaya pemberantasan ISPA karna kegiatan inilah yang

akan mengubah sikap dan perilaku masyarakat serta akan menunjang

seluruh upaya pemberantasan (Depkes RI,2007).

b. Penatalaksanaan Penderita ISPA

Karena kegiatan ini merupakan bagian dari upaya

pemberantasan bukan hanya oleh dokter dan peramedik (tetapi juga

oleh dokter dan masyarakat sendiri terutama ibi-ibi), maka perlu


adanya penyempurnaan dalam klasifikasidn penatalaksanaan ISPA.

Perlu diingatkan bahwa sebagian besar kasus ISPA bisa ditanggulangi

sendiri oleh para ibu atau kader. Untuk itu diperlukan suatu metode

penatalaksanaan yang sederhana namun efektif untuk diterapkan

dilapangan.

c. Imunisasi

Karena sebagian dari kasus ISPA merupakan penyakit yang

bisa dicegah dengan iminisasi (misalnya difteri, pertusis dan campak)

maka peningkata cakupan imunisasi akan perperan besar dalam upaya

pemberantasan ISPA.

2.1.9. Penatalaksanaan Penderita ISPA

a. Pencegahan ISPA

Cara-cara pencegahan agar bayi dan balita tidak terkena ISPA

yaitu dengan beberapa cara:

1. Jauhkan balita dari penderitaan batuk


2. Berikan asi pada bayi atau balita dari usia 0-2 tahun

3. Lakukan imunisasi lengkap di Posyandu maupun Puskesmas

4. Jauhkan bayi atau balita dari asap,debu serta bahan-bahan lainyang

mudah terhirup seperti asap kendaraan bermotor, asap obat

nyamuk, asap dapur dan lain-lain.

5. Bersihkan lingkungan rumah terutama ruang tempat tinggal balita,

serta usahakan ruangan udara memiliki udara bersih dan ventilasi

yang cukup.

b. Pengobatan dan Perawatan

1. Pengobatan terhadap penyakit ISPA

a) ISPA ringan

1) Paracetamol

2) Antibiotic

3) Oksigen
b) ISPA sedang

1) Prokain penisilin (injeksi)

Dosis : 1 tahun 300.000 unit

1 tahun keatas 600.000 unit

2) Kotrimoksasol (oral atau obat telan )

Dosis : 1 tahun tablet dewasa 2 x sehari

1 tahun keatas tablet 2 x sehari

3) Ampicilin (oral)

Dosis : 25 mg/kg BB/dosis 4 x sehari selama 5 hari

c) ISPA berat

1) Benzil penisilin (injeksi)

Dosis : 1 tahun 300.000 unit/dosis


1 tahun keatas 600.000 unit/dosis

2) Kloramfenikol (injeksi atau oral)

Dosis : 50 mg/kg BB/dosis 4 x sehari selama 5-10 hari

2 Gentamisin (injeksi)

Dosis : 2,5 mg/kg BB/dosis dibagi 3 dosis (tiap 8 jam)

IM/IV

3 Klokosilin (injeksi/oral)

Dosis : 25-50 mg/kg BB/dosis 4 x sehari

2. Perawatan terhadap penyakit ISPA

a) ISPA ringan

Perawatan dan pengobatan ISPAmringan dapat dilakukan

di rumah. Hal-hal yang dapat dilakukan jika anak menderita

ISPA ringan yaitu :


1) Pilek

Jika hidung anak tersumbat oleh ingus maka

usahakanlah untk membersihan hidung yang tersumbat

agar anak dapat bernafas dengan lancar, membersihkan

ingus harus hati-hati agar tidakmelukai hidung.

2) Demam

Bila anak mengalami demam maka hal yang harus

dilakukan yaitu mengkompres dan member obat penurun

panas dari golongan paracetamol.

Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:

- Menganjurkan anak beristirahat dan berbaring di

tempat tidur

- Memberikan minum yang cukup tapi bukan es

- Berikan minuman yang cukup dan bergizi


- Anak jangan dibiarkan terkena hawa dingin ata

hawa panas, pakaikan pakaian tipis dan menyerap

keringat pada anak tersebut.

- Perhatiak apakah ada tanda-tanda ISPA sedang atau

ISPA berat

3) ISPA sedang

Tindakan yang perlu dilakukan jika terdapat tanda-

tanda atau gejala ISPA sedang adalah harus mendapatkan

pertolongan dari petugas kesehatan (perawat dan bidaan)

dan pemberian antimikroba yang dipakai ialah salah

satunyaantara lain prokain, penicilin, kotrimoksasol.

Ampicilin, Amokcilin.

4) ISPA berat

Penderitaa ISPA berat harus dirawat di rumah sakit

atau di Puskesmas khusus seperti oksigen atau cairan infuse

2.2 Epidemiologi
2.2.1 Distribusi Frekuensi ISPA

Penyakit ISPA sering terjadi pada anak-anak episode penyakit

batuk pilek pada balita diIndonesia diperkirakan 3-6 kali pertahun

(rata-rata 4 kali pertahun). Artinya seorang balita rata-rata

mendapatka serangan batuk sebanyak 3-6 kali setahun. Dari hasil

pengamatan epidemiologi dapat diketahui bahwa angka kesakitan

dikota cenderung lebih besar dari pada dipedesaan. Hal ini mungkin

disebabkan oleh tingkat kepadatan tempat tinggal dan pencemaran

lingkungan dikota lebih tinggi dari pada didesa (Widoyono,2000).

Dinegara berkembang penyakit pneumonia merupakan 25%

penyumbangan kematian pada anak,terutama pada bayi berusia

kurang dari 2 bulan. Dari Survei Kesehatan Rumah Tangga(SKRT)

tahun 2001 diketahui bahwa morbiditas pada bayi akibat pneumonia

pertahun berkisar antara 10%-20% dan populasi balita pneumonia

merpakan penyebab utama kematian pada balita dengan peringkat

utama, sedangkan hasil mortalitas tahun 2005 menepatkan ISPA atau

pneumonia sebagai penyebab kematian bayi terbesar dengan

prsentase 22,30% dari selruh balita (Anonim.2008).

2.3. Konsep perilaku


2.3.1. Definisi perilaku

Dari segi biologi, Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas

organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan. Oleh sebab itu, dari

sudut pandang biologis semua makhluk hidup dari tumbuh-tumbuhan,

binatang sampai dengan manusia itu berperilaku, karena mereka

mempunyai aktivitas masing-masing. Uraian diatas dapat disimpulkan

bahwa yang dimaksut perilaku (manusia) adalah semua kegiatan atau

aktivitas manusia. Baik yang diamati langsung maupun yang tidak

dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo,2003).

Menurut Skinner dalam Notoatmodjo (2003) merumuskan bahwa

Perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus

(rangsangan dari luar ).

Menurut Lewin dalam Notoatmodjo (2003) berpendapat bahwa

perilaku manusia adalah suatu keadaan yang seimbang antara kekuatan-

kekuatan pendorong (driving forces) dan kekuatan penahan (restining

forces).
Menurut Robert Kwick dalam Notoatmodjo (2007) menyatakan

bahwa perilaku adalah tindakan atau perbuatan suatu organisme yang

dapat diamati dan bahkan dapat dipelajari.

2.3.2. Teori Perilaku

Menurut L Green dalam Notoatmodjo (2007), perilaku

dipengaruhi oleh 3 faktor utama, yaitu :

1) Faktor Predisposisi (Predisposing factors)

Faktor-faktor ini mencangkup pengetahuan dan sikap

masyarakat terhadap kesehatan. Tradisi dan kepercayaan

masyarakat hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan. Sistem nilai

yang dianut masyarakat. Tingkat pendidikan, tingkat sosial dan

sebagiannya.

2) Faktor Pendukung (enabling factors)

Faktor-faktor ini mencangkup ketersedian sarana dan

prasarana atau fasilitas kesehatan bagi kesehatan,misalnya air

bersih, tempat pembuangan sampah, tempat pembuangan tinja,


ketersediaan makanan yang bergizi dan sebagiannya, termasuk juga

fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit, poli

klinik, posyandu, polindes, pos obat desa, dokter dan bidan praktek

swasta dan sebagiannya.

3) Faktor Pendorong (Reinforcing factor)

Faktor-faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh

masyarakat, tokoh agama, sikap dan perilaku para petugas termasuk

petugas kesehatan. Termasuk juga disini undang-undang, peraturan-

peraturan baik dari pusat maupun pemerin-tah daerah yang terkait

dengan kesehatan.

2.3.3. Fungsi Perilaku

Menurut Katz dalam Notoatmodjo (2003) berasumsi bahwa :

a) Perilaku memiliki fungsi instrumental, artinya dapat berfungsi

dan memberikan pelayanan terhadap kebutuhan. Seseorang

dapat bertindak (berperilaku) positif terhadap objek demi

pemenuhan kebutuhannya. Sebaliknya bila objek tidak dapat

memenuhi kebutuhannya maka ia akan berperilaku negatif.


b) Perilaku berfungsi sebagai defence mecanism atau sebagai

pertahanan diri dalam mengahadapi lingkungannya. Artinya,

dengan perilakunya, dengan tindakan-tindakannya, manusia

dapat melindungi ancaman-ancaman yang datang dari luar.

c) Perilaku berfungsi sebagai penerima objek dan pemberi arti.

Dalam perannya dengan tindakan itu seseorang senantiasa

menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

d) Perilaku berfungsi sebagai nilai ekspresif dari diri seseorang

dalam menjawab suatu situasi.

2.3.4. Bentuk-Bentuk perubahan perilaku

Bentuk perubahan perilaku sangat bervariasi, sesuai dengan

konsep yang digunakan oleh para ahli dalam pemahamannya

terhadap perilaku. bentuk-bentuk perubahan perilaku menurut

WHO dikelompokkan menjadi tiga :

1. Perubahan alamiah (Natural Change)


Perilaku manusia selalu berubah. Sebagian perubahan itu

disebabkan karena kejadian alamiah. Apabila dalam masyarakat

sekitar terjadi suatu perubahan lingkungan fisik atau sosial

budaya dan ekonomi, maka anggota-anggota masyakat

didalamnya juga akan mengalami perubahan.

2. Perubahan Terencana (Planned Change)

Perubahan perilaku ini terjadi karena memang

direncanakan sendiri oleh objek.

3. Kesediaan untuk berubah (Readdiness to Change)

Apabila terjadi suatu inovasi atau program-program

pembangunan didalam masyarakat, maka yang sering terjadi

adalah sebagian orang sangat cepat untuk menerima inovasi atau

perubahan tersebut (berubah perilakunya).

2.3.5 Faktor-faktor Resiko Yang Berhubungan Dengan Penyakit ISPA

a. Kesehatan Lingkungan
Kesehatan Lingkungan pada hakikatnya adalah suatu

kondisi atau keadaan yang optimum sehingga berpengaruh

positif terhadap terwujudnya status kesehatan yang optimum

pula.

Ruang lingkup kesehatan lingkungan tersebut antara lain

mencakup perumahan, pembuangan kotoran manusia (tinja),

penyediaan air bersih, pembuangan sampah, pembuangan air

kotor (limbah) dan sebagainya. Adapun yang dimaksut dengan

usaha kesehatan lingkungan adalah suatu saha memperbaii atau

mengoptimumkan lingkungan hidup manusia agar merupakan

media yang baik untuk tewujudnya kesehatan yang optimum

bagi manusia yang hidup didalamnya (Notoatmodjo, 2003).

Sanitasi Lingkungan memiliki peran yang cukup dominan

dalam penyediaan lingkungan yang mendukung kesehatan anak

dan tumbuh kembang. Kebiasaan baik kebersihan perorangan

maupun kebersihan lingkungan memegang peranan penting

dalam timbulnya suatu penyakit. Demikian pula dengan polusi

udara baik yang berasal dari pabrik,asap kendaraan atau asap

rokok dapat berpengaruh terhadap tingginya kejadian penyait

ISPA (Sari,2008).
Gangguan saluran pernafasan yang diderita selain

disebabkan oleh infeksi kuman juga disebabkan adanya

pencemaran udara yang terdapat dalam rumah, kebayakan karna

asap dapaur kebiasaan orang tua yang suka merokok dalam

rumah,penggunaan insektisida semprot maupun bakar dan

penggunaan bahan bangunan sistensis seperti cat dan asbes

(sukar, 1996).

Ventilasi merupakan jalan pertukaran udara, sehingga

udara dalam rumah dalam rumah yang kotor bias keluar diganti

udara yang bersih. Ventilasi yang tidak pernah dibuka

menyebabkan udara didalam rumah kotor, sehingga bias

menimbulkan penyakit, salah satunya batuk dan pilek.

Ventilasi rumah juga mempunyai banyak fungsi. Fungsi

pertama adalah untuk menjaga agar aliran udara didalam rumah

tersebut tetap segar. Hal ini berarti keseimbangan oksigen yang

diperlukan oleh penghuni rumah tersebut tetap terjaga.

Kurangnya ventilasi akan menyebabkan kurangnya oksigen

didalam rumah yang berarti karbondiosida yang bersifat racun

bagian penghuninya menjadi meningkat dan terjadilah

peningkatan gangguan pernafasan. Disamping itu tidak cukup


ventilasi akan menyebabkan kelembaban udara didalam ruangan

naik karena terjadinya proses penguapan cairan dari kulit dan

penyerapan kelembaban ini akan merupakan media baik untuk

bakteri-bakteri pathogen ( bakteri-bakteri penyrbab penyakit ).

Fungsi kedua dari ventilasi adalah untuk membebaskan

udara ruangan dari bakteri-bakteri terutama bakteri pathogen,

karna disitulah selalu terjadi aliran udara yang teru smenerus.

Bakteri yang terbawa oleh udara akan selalu mengalir. Fungsi

lainya adalah untuk menjaga agar ruangan rumah selalu tetap

didaalam kelembaban (humidity) yang optimum (Notoatmodjo,

2003).

Rumah yang sehat memerlukan cahaya yang cukup, tidak

kurang dan tidak terlalu banyak. Kurangnya cahaya yang masuk

kedalam rumah terutama cahaya matahari disamping kurang

nyaman, juga merupakan media atau tempat yang baik untuk

hidup dan berkembangnya bibit-bibit penyakit. Sebaiknya terlalu

banyak cahaya didalam rumah akan silau dan akhrinya dan

akhrinya dapat merusak mata. Cahaya dapat dibedakan menjadi

dua antara lain cahaya alamiah yaitu matahari dan cahaya buatan
yaitu menggunakan sumber cahaya alamiah seperti lampu

minyak tanah, listrik, api dan sebagainya (Notoatmodjo, 2003)

b. Perilaku ibu

Faktor perilaku dalam pencegahan dan penanggulangan

penyakit ISPA pada bayi dan balita dalam hal ini adalah praktek

penanganan ISPA di keluarga baik yang dilakukan oleh ibu

ataupun anggota keluarga lainnya. Keluarga merupakan unit

terkecil dari masyarakat yang berkumpul dan tinggal dalam suatu

rumah tangga, satu dengan lainnya saling tergantung dan

berinteraksi. Bila salah satu atau beberapa anggota keluarga

mempunyai masalah kesehatan, maka akan berpengaruh terhadap

anggota keluarga lainnya.

Peran aktif keluarga/masyarakat dalam menangani ISPA

sangat penting karena penyakit ISPA merupakan penyakit yang

ada sehari-hari didalam masyarakat atau keluarga. Hal ini perlu

mendapat perhatian serius oleh kita semua karena penyakit ini

banyak menyerang balita, sehingga ibu balita dan anggota

keluarga yang sebagian besar dekat dengan balita mengetahui

dan terampil menangani penyakit ISPA ini ketika anaknya sakit.


Keluarga perlu mengetahui serta mengamati tanda keluhan

dini pneumonia dan kapan mencari pertolongan dan rujukan

pada sistem pelayanan kesehatan agar penyakit anak balitanya

tidak menjadi lebih berat. Berdasarkan hal tersebut dapat

diartikan dengan jelas bahwa peran keluarga dalam praktek

penanganan dini bagi balita sakit ISPA sangatlah penting, sebab

bila praktek penanganan ISPA tingkat keluarga yang

kurang/buruk akan berpengaruh pada perjalanan penyakit dari

yang ringan menjadi bertambah berat. (http://id.faktor-faktor

resiko pada balita) diakses 5 desember 2010.

Beri Nilai