Anda di halaman 1dari 24

A.

KONSEP DASAR PENYAKIT

1. Definisi / Pengertian

Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim
sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak
jaringan normal disekitarnya. (FKUI, 2005).

Kanker serviks adalah tumor ganas yang tumbuh didalam leher rahim atau serviks
yang terdapat pada bagian terendah dari rahim yang menempelpada puncak
vagina.(Diananda,Rama, 2009 ).

Kanker Serviks adalah pertumbuhan sel-sel mulut rahim/serviks yang abnormal


dimana sel-sel ini mengalami perubahan kearah displasia atau mengarah
keganasan.Serviks merupakan bagian terndah dari rahim yang menonjol ke liang
senggama atau menempel pada puncak vagina. Kanker ini hanya menyerang wanita yang
pernah atau sekarang dalam status sexually active.Biasanya kanker ini menyerang wanita
yang telah berumur, terutama paling banyak pada wanita yang berusia 35-55 tahun.Akan
tetapi, tidak mustahil wanita yang mudapun dapat menderita penyakit ini.

Kanker serviks adalah keganasan nomor tiga paling sering dari alat kandungan
dan menempati urutan ke delapan dari keganasan pada perempuan di Amerika (Yatim,
2005)

2. Epidemiologi / Insiden Kasus

Kanker ini merupakan jenis penyakit kanker paling umum kedua diseluruh dunia
yang biasa diderita wanita diatas 15 tahun. Faktanya, di dunia sekitar 500.000 wanita
didiagnosa menderita kanker serviks dan rata rata 270.000 kematian setiap tahunnya.
Sementara di asia, kanker serviks menjadi penyakit kanker pada wanita kedua terbanyak
yang diderita dan lebih dari setengha wanita asia yang menderita kanker serviks
meninggal dunia.
Faktor risiko mayor untuk kanker servikal adalah infeksi dengan virus papilloma
manusia (HPV) yang ditularkan secara seksual.Penelitian epidemiologi diseluruh dunia
menegaskan bahwa infeksi HPV adalah faktor penting dalam perkembangan kanker
servikal (Bosch et al, 1995).

Factor risiko lain untuk perkembangan kanker servikal adalah aktivitas seksual
pada usia muda, paritas tinggi, jumlah pasangan seksual yang meningkat, status ekonomi
yang rendah, dan merokok. (Sylvia A. Price, 2005).

3. Etiologi / Penyebab

Penyebab kanker serviks belum jelas diketahui namun ada beberapa faktor resiko
dan predisposisi yang menonjol, antara lain :

a. Infeksi Human Papilloma Virus (HPV)

HPV adalah virus penyebab kutil genitalis (kondiloma akuminata)yang


ditularkan melalui hubungan seksual. Varian yang sangat berbahaya adalah HPV tipe
16,18,45,56

b. Umur pertama kali melakukan hubungan seksual.

Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan


seksual semakin besar mendapat kanker serviks. Hubungan seksual pertama kali pada
usia dini (umur < 16 tahun).

c. Infeksi virus.

Infeksi herpes genetalia atau infeksi klamidia menahun dan penyakit seksual
(ISK) lainnya.

d. Sosial Ekonomi.

Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah


mungkin faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas dan kebersihan
perseorangan.Pada golongan sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas
makanan kurang hal ini mempengaruhi imunitas tubuh.
e. Hygiene dan sirkumsisi.

Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kankers serviks pada wanita yang
pasangannya belum disirkumsisi.Hal ini karena pada pria non sirkum hygiene penis
tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan smegma.

f. Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim).

Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker, sedangkan pemakaian


AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi diserviks
yang kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus menerus, hal ini dapat
sebagai pencetus terbentuknya kanker serviks.

g. Sering berganti-ganti pasangan (multipatner sex).

Kedua faktor diatas juga berhubungan dengan infeksi HPV.Semakin banyak


berganti-ganti pasangan maka tertularnya infeksi HPV juga semakin tinggi.Begitu
pula dengan terpaparnya sel-sel mulut rahim yang mempunyai pH tertentu dengan
sperma-sperma yang mempunyai pH yang berbeda-beda pada multipatner dapat
merangsang terjadinya perubahan kearah dysplasia.

4. Klasifikasi

Klasifikasi Kanker Serviks menurut FIGO 1978

Tingkat

Kriteria

Karsinoma In Situ ( KIS), membran basalis utuh

Proses terbatas pada serviks walaupun ada perluasan ke korpus uteri

Ia
Karsinoma yang didiagnosa baru hanya secara mikroskop dan belum menunjukkan
keluhan klinik

I a1

Kanker sudah mulai menyebar ke jaringan otot dengan dalam < 3mm, ukuran besar tumor
<7mm

1a2

Kanker sudah menyebar lebih dalam (>3mm 5mm) dengan lebar = 7mm

Ib

Ukuran kanker sudah lebih dari IA2

IB1

Ukuran tumor = 4cm

IB2

Ukuran tumor >4cm

II

Kanker sudah menyebar keluar jaringan serviks tetapi belum mengenai dinding rongga
panggul meskipun sudah menyebar ke vagina tapi masih terbatas pada 1/3 atas vagina

II a

Tumor jelas belum menyebar kesekitar uterus

II b

Tumor jelas sudah menyebar kesekitar uterus

III
Kanker sudah menyebar kedinding panggul dan sudah mengenai jaringan vagina
lebih rendah dari 1/3 bawah. Bisa juga penderita sudah mengalami ginjal bengkak karena
bendungan air seni (hidronekrosis) dan mengalami gangguan fungsi ginjal

III a

Kanker sudah menginvasi dinding panggul .

III b

Kanker menyerang dinding panggul disertai dengan gangguan fungsi ginajal dan
atau hidronekrosis

IV

Kanker sudah menyebar keluar rongga panggul dan secara klinik sudah terlihat
tanda tanda invasi kanker ke selaput lendir kandung kencing dan atau rectum

IV a

Sel kanker menyebar pada alat atau organ yang dekat dengan serviks

IV b

Kanker sudah menyebar pada alat atau organ yang jauh dari serviks

5. Patofisiologi

Kanker insitu pada serviks adalah keadaan dimana sel sel neoplastik terjadi pada
seluruh lapisan epitel disebut dysplasia, dysplasia merupakam neoplasia serviks
intrapitheliai (CNI). CNI terbagi menjadi 3 tingkatan yaitu timglat 1 ringan, tingkat II
sedang, tingkat III berat. Tidak ada gejala spesifik untuk kanker serviks perdarahan
merupkan satu satunya gejala yang nyata.

Dari beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya kanker sehingga


menimbulkan gejala atau semacam keluhan dan kemudian sel - sel yangmengalami
mutasi dapat berkembang menjadi sel displasia. Apabila selkarsinoma telah mendesak
pada jaringan syaraf akan timbul masalahkeperawatan nyeri. Pada stadium tertentu sel
karsinoma dapat mengganggukerja sistem urinaria menyebabkan hidroureter atau
hidronefrosis yangmenimbulkan masalah keperawatan resiko penyebaran
infeksi.Keputihanyang berkelebihan dan berbau busuk biasanya menjadi keluhan juga,
karenamengganggu pola seksual pasien dan dapat diambil masalah keperawatangangguan
pola seksual.

Gejala dari kanker serviks stadium lanjut diantaranya anemia hipovolemik yang
menyebabkan kelemahan dan kelelahan sehingga timbul masalah keperawatan gangguan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.Pada pengobatan kanker leher rahim sendiri akan
mengalami beberapa efek samping antara lain mual, muntah, sulit menelan, bagi saluran
pencernaan terjadi diare gastritis, sulit membuka mulut, sariawan, penurunan nafsu
makan( biasa terdapat pada terapi eksternal radiasi ). Efek samping tersebut menimbulkan
masalah keperawatan yaitu nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.

Sedangkan efek dari radiasi bagi kulit yaitu menyebabkan kulit merah dan kering
sehingga akan timbul masalah keperawatan resiko tinggi kerusakan integritas kulit.
Semua tadi akan berdampak buruk bagi tubuhyang menyebabkan kelemahan atau
kelemahan sehingga daya tahan tubuh berkurang dan resiko injury pun akan
muncul.Tidak sedikit pula pasien dengan diagnosa positif kanker leher rahim ini merasa
cemas akan penyakit yang dideritanya. Kecemasan tersebut bisa dikarenakan dengan
kurangnya pengetahuan tentang penyakit, ancaman status kesehatan dan mitos
dimasyarakat bahwa kanker tidak dapat diobati dan selaludihubungkan dengan
kematian.(Price, syivia Anderson, 2005).

6. Pathway

7. Manefestasi Klinik

a. Gejala muncul ketika sel serviks yang abnormal berubah menjadi keganasan dan
menyusup ke jaringan sekitarnya. Tidak ada tanda dan gejala yang spesifik untuk kanker
serviks ini.

1) Perdarahan vagina abnormal.


Dapat berkembang menjadi ulserasi pada permukaan epitel serviks, tetapi
tidak selalu ada.

2) Nyeri abdomen dan punggung bagian bawah.

Menandakan bahwa perkembangan penyakit sangat cepat.

3) Menstruasi abnormal (lebih lama dan lebih banyak)

4) Keputihan yang menetap, dengan cairan yang encer, berwarna merah muda, coklat,
mengandung darah atau hitam serta bau busuk.

b. Gejala kanker serviks stadium lanjut.

1) Nafsu makan berkurang (anoreksia), penurunan berat badan, dan kelelahan

2) Nyeri panggul, punggung dan tungkai

3) Dari vagina keluar air kemih atau feses

c. Perdarah yang dialami segera setelah senggama (75 80%)

d. Perdarahan yang terjadi diluar senggama

e. Perdarahan spontan saat defekasi

f. Perdarahan diantara haid

g. Perdarahan sesudah menapouse

h. Perdarahan spontan dan nyeri pada rongga panggul bila kanker sudah dalam stadium
lanjut

i. Rasa berat dibawah dan rasa kering di vagina

j. Anemia akibat perdarahan berulang

k. Rasa nyeri akibat infiltrasi sel tumor ke serabut saraf (Dr. Rama Diananda, 2009)

8. Pemeriksaan Diagnostik / penunjang


a. Sitologi, dengan cara tes pap

Tes Pap : Tes ini merupakan penapisan untuk mendeteksi infeksi HPV dan
prakanker serviks. Ketepatan diagnostik sitologinya 90% pada displasia keras (karsinoma
in situ) dan Pemeriksaan ini yang dikenal sebagai tes papanicolaous ( tes PAP ) sangat
bermanfaat untuk mendeteksi lesi secara dini, tingkat ketelitiannya melebihi 90% bila
dilakukan dengan baik. Sitologi adalah cara Skrining sel - sel serviks yang tampak sehat
dan tanpa gejala untuk kemudian diseleksi. Kanker hanya dapat didiagnosis secara
histologik.

b. Pap smear

Pap smear dilakukan pada wanita usia 18 tahun atau ketika telah melakukan
aktivitas seksual sebelum itu, misalnya menikah. Setelah 3 kali hasil pemeriksaan
tahunan menunjukkan negative maka selanjutnya harus melakukan pemeriksaan setiap
tiga tahun sekali sampai umur 65 tahun.

c. Kolposkopi (pemeriksaan serviks dengan lensa pembesar).

Kolposkopi dilakukan ketika ditemukan displasia atau kersinoma insitu.Alat ini


memberikan gambaran tentang pembesaran serviks dan daerah abnormal yang mungkin
dapat dibiopsi. Kolposkopi adalah pemeriksaan dengan menggunakan kolposkopi, suatu
alat yang dapat disamakan dengan sebuah mikroskop bertenaga rendah dengan sumber
cahaya didalamnya ( pembesaran 6 - 40 kali ). Kalau pemeriksaan sitologi menilai
perubahan morfologi sel - sel yang mengalami eksfoliasi, maka kolposkopi menilai
perubahan pola epitel dan vascular serviks yang mencerminkan perubahan biokimia dan
perubahan metabolik yang terjadi di jaringan serviks.

d. Servikografi

e. Pemeriksaan visual langsung

f. Gineskopi

g. Pap net (Pemeriksaan terkomputerisasi dengan hasil lebih sensitive)


h. Kuretase endoserviks

Kuretase endoserviks dilakukan jika daerah abnormal tidak terlihat.

i. Biopsy kerucut.

Biopsy kerucut adalah mengambil tonjolan jaringan serviks yang lebih besar
untuk penelitian apakah ada atau tidak kanker invasive.

j. MRI/CT scan abdomen atau pelvis.

MRI/CT scan abdomen atau pelvis digunakan untuk menilai penyebaran local dari
tumor dan atau terkenanya nodus limfa regional.

k. Tes Schiller.

Tes Schiller dilakukan dengan cara serviks diolesi dengan larutan yodium, sel
yang sehat warnanya akan berubah menjadi coklat sedangkan sel yang abnormal
warnanya menjadi putih atau kuning.

l. Konisasi.

Dengan cara mengangkat jaringan yang berisi selaput lendir


serviks dan epitel gepeng dan kelenjarnya. Konisasi dilakukan bila hasil
sitologi meragukan dan pada serviks tidak tampak kelainan-kelainan yang
jelas. Konikasi diagnostik dilakukan pada keadaan - keadaan sebagai
berikut :

1) Proses dicurigai berada di endoserviks.

2) Lesi tidak tampak seluruhnya dengan pemeriksaan kolposkopi.

3) Diagnostik mikroinvasi ditegakkan atas dasar specimen biopsy.

4) Ada kesenjangan antara hasil sitologi dan histopatologik.

9. Prognosis
Pada kanker rahim stadium lanjut, 1/3 penderita kankernya tumbuh lagi
setelah pengobatan. Kekambuhan terjadi 1 2 tahun setelah obat dihentikan.
Penyebaran kanker biasanya ke bagian vagina atas, rahim dan organ lain di
panggul. Kanker ini tumbuh lagi pada bagian atas vagina, setelah dilakukan
operasi pengangkatan rahim.

Prognosis kanker serviks adalah buruk. Prognosis yang buruk tersebut


dihubungkan dengan 85-90 % kanker serviks terdiagnosis pada stadium invasif,
stadium lanjut, bahkan stadium terminal (Suwiyoga, 2000; Nugroho, 2000).
Selama ini, beberapa cara dipakai menentukan faktor prognosis adalah
berdasarkan klinis dan histopatologis seperti keadaan umum, stadium, besar
tumor primer, jenis sel, derajat diferensiasi Broders. Prognosis kanker serviks
tergantung dari stadium penyakit. Umumnya, 5-years survival rate untuk stadium
I lebih dari 90%, untuk stadium II 60-80%, stadium III kira - kira 50%, dan untuk
stadium IV kurang dari 30% (Geene,1998; Kenneth, 2000).

10. Komplikasi

a. Berkaitan dengan intervensi pembedahan

1) Vistula Uretra

2) Disfungsi bladder

3) Emboli pulmonal

4) Infeksi pelvis

5) Obstruksi usus

b. Berkaitan dengan kemoterapi

1) Sistitis radiasi Enteritis

2) Supresi sumsum tulang


3) Mual muntah ak ibat pengunaan obat kemoterapi yang mengandung
sisplatin

4) Kerusakan membrane mukosa GI

5) Mielosupresi

11. Penatalaksanaan

a. Penatalaksanaan Medis

Tingkat Penatalaksaan

Ia

I b dan II a

II b , III dan IV

IV a dan IV b

Biopsi kerucut

Histerektomi trasnsvaginal

Biopsi kerucut

Histerektomi trasnsvaginal

Histerektomi radikal dengan limfadenektomi panggul dan evaluasi


kelenjar limfe paraorta (bila terdapat metastasis dilakukan radiologi pasca
pembedahan)

Histerektomi transvaginal
Radioterapi

Radiasi paliatif

Kemoterapi

2. Penatalaksanaan Keperawatan

Dalam lingkar perawatan meliputi sebelum pengobatan terapi radiasi


eksternal anatara lain kuatkan penjelasan tentang perawatan yang digunakan
untuk prosedur. Selama terapi yaitu memilih kulit yang baik dengan
menganjurkan menghindari sabun, kosmetik, dan deodorant. Pertahankan
kedekuatan kulit dalam perawatan post pengobatan antara lain hindari infeksi,
laporkan tanda - tanda infeksi, monitor intake cairan, beri tahu efek radiasi
persisten 10 - 14 hari sesudah pengobatan, dan melakukan perawatan kulit dan
mulut.

Dalam terapi radiasi internal yang perlu dipertimbangkan dalam perawatan umum
adalah teknik isolasi dan membatasi aktivitas, sedangkan dalam perawatan pre
insersi antara lain menurunkan kebutuhan untuk enema atau buang air besar
selama beberapa hari, memasang kateter sesuai indikasi, latihan nafas panjan dan
latihan rom dan jelaskan pada keluarga tentang pembatasan pengunjung. Selama
terapi radiasi perawatannya yaitu monior tanda - tanda vital tiap 4 jam.
Memberikan posisi semi fowler, berikan makanan berserat dan cairan parenteral
sampai 300ml dan memberikan support mental. Perawatan post pengobatan antara
lain menghindari komplikasi post pengobatan ( tromboplebitis, emboli pulmonal
dan pneumonia ), monitor intake dan output cairan. (Bambang sarwiji, 2011)

12. Pencegahan
Ada beberapa cara untuk mencegah kanker serviks, yaitu:

a) Mencegah terjadi infeksi HPV dengan vaksin HPV

Vaksin HPV yang terdiri dari 2 jenis dapat melindungi tubuh dalam
melawan kanker yang disebabkan oleh HPV. Salah satu vaksin dapat
membantu menangkal timbulnya kutil didaerah genital yang diakibatkan
oleh HPV 6 dan 11, juga 16 dan 18.

b) Melakukan pemeriksaan Pap Smear secara teratur

c) Memperbanyak makan sayur dan buah segar

d) Tidak boleh melakukan hubungan seksual pada anak perempuan di bawah


18 tahun.

e) Pilih kontrasepsi dengan metode barrier, seperti diafragma dan kondom,


karena dapat memberi perlindungan terhadap kanker leher rahim.

f) Jangan melakukan hubungan seksual dengan penderita penyakit kelamin


atau gunakan kondom untuk mencegah penularan penyakit

g) Jangan berganti-ganti pasangan seksual

h) Berhenti merokok

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian

a. Identitas klien.

b. Keluhan utama.

Perdarahan dan keputihan

c. Riwayat penyakit sekarang


Klien datang dengan perdarahan pasca coitus dan terdapat keputihan yang berbau tetapi tidak
gatal. Perlu ditanyakan pada pasien atau keluarga tentang tindakan yang dilakukan untuk
mengurangi gejala dan hal yang dapat memperberat, misalnya keterlambatan keluarga untuk
memberi perawatan atau membawa ke Rumah Sakit dengan segera, serta kurangnya pengetahuan
keluarga.

d. Riwayat penyakit terdahulu.

Perlu ditanyakan pada pasien dan keluarga, apakah pasien pernah mengalami hal yang demikian
dan perlu ditanyakan juga apakah pasien pernah menderita penyakit infeksi.

e. Riwayat penyakit keluarga

Perlu ditanyakan apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit seperti ini atau penyakit
menular lain.

f. Riwayat psikososial

Dalam pemeliharaan kesehatan dikaji tentang pemeliharaan gizi di rumah dan bagaimana
pengetahuan keluarga tentang penyakit kanker serviks.

Pengkajian data dasar.

a. Aktivitas dan istirahat

Gejala:

1) Kelemahan atau keletihan akibat anemia

2) Perubahan pada pola istirahat dan kebiasaan tidur pada malam hari.

3) Adanya faktor-faktor yang memengaruhi tidur seperti nyeri, ansietas, dan keringat malam.

4) Pekerjaan atau profesi dengan pemajanan karsinogen lingkungan dan tingkat stress tinggi.
b. Integritas ego

Gejala:

Faktor stress, merokok, minum alcohol, menunda mencari pengobatan, keyakinan religious atau
spiritual, masalah tentang lesi cacat, pembedahan, menyangkal diagnosis, pembedahan,
menyangkal diagnosis, dan perasaan putus asa.

c. Eliminasi

Pengkajian eliminasi yang dapat dilakukan oleh perawat adalah sebagai berikut.

1) Pada kanker serviks: perubahan pada pola defekasi, perubahan eliminasi urinalis, misalnya
nyeri.

2) Pada kanker ovarium didapat tanda haid tidak teratur, sering berkemih, menopause dini,
dan menoragia.

d. Makanan dan minuman

Gejala:

1) Pada kanker serviks: kebiasaan diet buruk (misalnya: renah serat, tinggi lemak, adiktif,
bahan pengawet rasa).

2) Pada kanker ovarium: dyspepsia, rasa tidak nyaman pada abdomen, lingkar abdomen yang
terus meningkat (kanker ovarium).

e. Neurosensori

Gejala: merokok, pemajanan abses.

f. Nyeri atau kenyamanan

Gejala:

Adanya nyeri derajat bervariasi, misalnya ketidaknyaman ringan sampai nyeri hebat
(dihubungkan dengan proses penyakit), nyeri tekan pada payudara (pada kanker ovarium).
g. Pernapasan

Gejala: merokok, pemajanan abses.

h. Keamanan

Gejala: pemajanan pada zat kimia toksik, karsinogen

Tanda: demam, ruam kulit, ulserasi.

i. Seksualitas

Gejala: perubahan pola respons seksual, keputihan (jumlah karakteristik, bau), perdarahan
sehabis senggama (pada kanker servix).

j. Interaksi sosial

Gejala: ketidaknyamanan atau kelemahan sistem pendukung.

k. Penyuluhan

Gejala: riwayat kanker pada keluarga, sisi primer: penyakit primer, riwayat pengobatan
sebelumnya.

2. Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri berhubungan dengan agen cedera biologi : penekanan saraf lumbosakralis

2. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake


nutrisi tidak adekuat: anoreksia, mual dan muntah.

3. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan infeksi saluran kemih

4. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan sensasi

5. Hambatan interaksi sosial berhubungan dengan gangguan konsep diri


6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan secara menyeluruh akibat anemia dan
kemoterapi.

7. Ansietas berhubungan dengan krisis situasional, perubahan status kesehatan , ancaman


kematian.

8. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan

9. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan aktual pada struktur tubuh

10. Risiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuat pertahanan sekunder: imunosupresi.

11. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan melalui rute
normal (pendarahan)

3. Rencana Tindakan Keperawatan

Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Rencana Intervensi


Keperawatan
1. Nyeri Setelah diberikan tindakan . Observasi karakteristik nyeri, mis
berhubungan dengan keperawatan selama ....x 24 jam tajam, konstan ,ditusuk. Selidiki
agen cedera biologi : diharapkan klien dapat mengetahui perubahan karakter /lokasi/intensitas
penekanan saraf cara- cara mengatasi nyeri dan rasa nyeri.
lumbosakralis nyeri dapat berkurang atau 2. Pantau TTV
terkontrol, dengan Kriteria Hasil: 3. Berikan tindakan nyaman mis,
1. Menyatakan nyeri berkurang pijatan punggung, perubahan posisi,
atau terkontrol musik tenang, relaksasi/latihan nafas
2. Intensitas nyeri berkurang 4. Kolaborasi dalam pemberian
3. Pasien tampak rileks analgesik sesuai indikasi
2. Setelah diberikan tindakan 1. Catat status nutrisi pasien: turgor
Ketidakseimbangan keperawatan selama ....x 24 jam kulit, timbang berat badan, integritas
nutrisi: kurang dari diharapkan kebutuhan nutrisi mukosa mulut, kemampuan menelan,
kebutuhan tubuh adekuat, dengan kriteria hasil: adanya bising usus, riwayat
berhubungan dengan - Menunjukkan berat badan mual/rnuntah atau diare.
intake nutrisi tidak meningkat mencapai tujuan dengan 2. Kaji ulang pola diet pasien yang
adekuat: anoreksia, nilai laboratoriurn normal dan disukai/tidak disukai.
mual dan muntah bebas tanda malnutrisi. 3. Monitor intake dan output secara
- Melakukan perubahan pola periodik.
hidup untuk meningkatkan dan 4. Catat adanya anoreksia, mual,
mempertahankan berat badan yang muntah, dan tetapkan jika ada
tepat. hubungannya dengan medikasi. Awasi
frekuensi, volume, konsistensi Buang
Air Besar (BAB).
5. Anjurkan bedrest.
6. Lakukan perawatan mulut
sebelum dan sesudah tindakan
pernapasan.
7. Anjurkan makan sedikit dan
sering dengan makanan tinggi protein
dan karbohidrat.
8. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
menentukan komposisi diet.
9. Awasi pemeriksaan laboratorium.
(BUN, protein serum, dan albumin).
3. Gangguan Setelah dilakukan asuhan 1. Awasi pemasukan dan
eliminasi urine keperawatan selama ...x24 jam pengeluaran pasien dan karakteristik
berhubungan dengan diharapkan eliminasi urine pasien urine.
infeksi saluran kemih dapat kembali berfungsi secara 2. Awasi TTV pasien secara
normal dengan kriteria hasil berkala
1. Frequensi BAK pasien 3. Tentukan pola berkemih normal
kembali normal. pasien dan perhatikan variasi.
2. Pola berkemih dan input dan 4. Awasi pemeriksaan
output pasien dalam batas normal laboratorium, contoh elektrolit, BUN,
Kreatinin.
5. Ambil urine untuk kultur dan
sensitivitas.
6. Berikan obat sesuai indikasi
(Antibiotik)
4.Kerusakan integritas Setelah dilakukan tindakan Kaji/catat ukuran atau warna,
kulit berhubungan keperawatan selama ...x24 jam kedalaman luka dan kondisi sekitar
dengan gangguan diharapkan kerusakan integritas luka.
sensasi kulit pasien teratasi dengan kriteria 2. Anjurkan pasien untuk menjaga
hasil: kebersihan kulit dengan cara mandi
a. Integritas kulit yang baik bisa sehari 2 kali
dipertahankan (sensasi, elastisitas, 3. Lindungi kulit yang sehat
temperatur, hidrasi, pigmentasi) terhadap kemungkinan maseras
b. Tidak ada luka/lesi pada kulit 4. Beri nasehat kepada pasien
c. Perfusi jaringan baik untuk menjaga agar kulit tetap lembab
d. Mampu melindungi kulit dan dan fleksibel dengan pengolesan
mempertahankan kelembaban kulit cream atau lotion
dan perawatan alami 5. Kolaborasi dalam pemberian
e. Menunjukkan terjadinya proses obat topical
penyembuhan luka
5.Hambatan interaksi Setelah dilakukan asuhan 1. Kaji pola hubungan dan prilaku
sosial berhubungan keperawatan selama ...x24jam sosial
dengan gangguan diharapkan interaksi sosial px tidak 2. Kaji penggunaan keterampilan
konsep diri terganggu dengan kriteria hasil : koping pasien dan mekanisme
- Menyatakan kesadaran pertahanan.
perasaan yang menimbulkan 3. Dorong pasien untuk
interaksi sosial buruk. mengekspresi perasaan dan persepsi
- Terlibat dalam peningkatan masalah
perubahan positif dalam prilaku 4. Izinkan px menyebutkan prilaku
sosial dan hubungan interpersonal. yang menyebabkan ketidaknyamanan.
6. Intoleransi etelah diberikan tindakan 1. Evaluasi respon pasien terhadap
aktivitas b/d keperawatan selama ...x24 jam aktivitas. Catat laporan dispnea,
kelemahan secara diharapkan pasien diharapkan peningkatan kelemahan atau
menyeluruh akibat mampu melakukan aktivitas dalam kelelahan.
anemia dan batas yang ditoleransi dengan 2. Berikan lingkungan tenang dan
kemoterapi kriteria hasil: batasi pengunjung selama fase akut
- Melaporkan atau menunjukan sesuai indikasi.
peningkatan toleransi terhadap 3. Bantu pasien memilih posisi
aktivitas yang dapat diukur dengan nyaman untuk istirahat.
adanya dispnea, kelemahan 4. Bantu aktivitas perawatan diri
berlebihan, dan tanda vital dalam yang diperlukan. Berikan kemajuan
rentan normal. peningkatan aktivitas selama fase
penyembuhan.
5. Jelaskan pentingnya istirahat
dalam rencana pengobatandan
perlunya keseimbangan aktivitas dan
istirahat.
7.Ansietas Setelah diberikan tindakan 1. Observasi tingkah laku yang
berhubungan dengan keperawatan selama ...x24 jam menunjukkan tingkat ansietas
ancaman kematian. diharapkan cemas klien berkurang 2. Pantau respon fisik, palpitasi,
dengan kriteria hasil: gerakan yang berulang, hiperventilasi,
- Klien tampak rileks insomnia.
- Melaporkan ansietas 3. Diskusikan dengan pasien atau
berkuarang sampai tingkat dapat orang terdekat penyebab emosional
diatasi yang labil/ reaksi psikotik.
- Mampu 4. Tekankan harapan bahwa
mengidentifikasikan cara hidup pengendalian emosi harus tetap
yang sehat untuk membagikan diberikan sesuai dengan
perasaannya. perkembangan terapi obat.
5. Kolaborasi: Berikan obat
antiansietas ( transquilizier, sedatif )
dan pantau efeknya.
6. Kolaborasi: Rujuk pada sistem
penyokong sesuai dengan kebutuhan
seperti konseling, ahli agama, dan
pelayanan sosial.
8.Defisit perawatan Setelah dilakukan tindakan selama Kaji kemampuan dan tingkat
diri berhubungan .X24 jam perawatan diri klien penurunan dallam skala0-4 untuk
dengan kelemahan dapat terpenuhi melakukanaktifitas hidup sehari-hari
Kreteria hasil: 2. Hindari apa yang tidak dapat di
Klien dapat menunjukkan lakukan klien dan bantu bila perlu
perubahan gaya hidup untuk 3. Ajak klien untuk berpikir positif
kebutuhan merawat diri, mampu terhadap kelemahan yang dimilikinya.
melakukan aktifitas perawatan diri Barikan klien motivasi dan izinkan
sesuai dengan tingkat kemampuan. klien melakukan tugas, dan berikan
umpan balik positif atas usahanya
4. Rencanakan tindakan untuk
mengurangi pergerakan pada sisi paha
yang sakit, seperti tempatkan makanan
dan peralatan dekat dengan pasien
5. Identifikasi kebiasaan BAB.
Anjurkan minum dan meningkatkan
latihan
9. Gangguan citra setelah diberikan askep selama ... x Kaji adanya gangguan pada citra diri
tubuh berhubungan 24 jam gangguan citra diri teratasi pasien
dengan perubahan dengan kriteria hasil : 2. Berikan kesempatan untuk
aktual pada struktur a. Mengembangkan peningkatan pengungkapan, dengarkan dengan cara
tubuh kemauan untuk menerima keadaan terbuka dan tidak menghakimi untuk
diri mengekspresikan perasaan.
b. Mengikuti dan turut 3. Bantu pasien yang cemas dalam
berpartisipasi dalam tindakan mengembangkan kemampuan untuk
perawatan mandiri menilai diri dan mengenali diri serta
c. Melaporkan perasaan dalam mengatasi masalah
pengendalian situasi 4. Dorong pasien untuk
d. Menguatkan kembali dukungan bersosialisasi dengan orang lain dan
positif dari diri sendiri Bantu pasien kearah penerimaan diri
e. mengutarakan perhatian
terhadap diri sendiri yang lebih
sehat
f. Tampak tidak begitu
memprihatinkan kondisi
g. Menggunakan tekhnik
menyembunyikan kekurangan dan
menekankan tekhnik untuk
meningkatkan penampilan
10. Risiko infeksi Setelah diberikan asuhan . Catat faktor risiko terjadinya
berhubungan dengan keperawatan selama ...x24 jam, infeksi
tidak adekuat diharapkan tidak terjadi risiko 2. Turunkan faktor risiko infeksi
pertahanan sekunder: infeksi dengan kriteria hasil: nosokomoal melalui cuci tangan yang
imunosupresi. - Tidak terdapat tanda-tanda tepat pada semua perawat,
infeksi ( kalor, dolor, rubor, tumor, pertahankan teknik aseptik.
fungsiolesa) 3. Dorong perawatan diri/ aktivitas
- TD: 100/60 mmHg, N=80- sampai batas toleransi. Bantu dengan
100x/mnt, RR=20 x/mnt, S=36- program latihan bertahap.
37,5C) 4. Kolaborasi: berikan antimikrobial
sesuai indikasi
11.Resiko kekurangan Setelah dilakukan tindakan 1. Observasi tanda-tanda vital
volume cairan keperawatan selama x 24 jam 2. Observasi tanda-tanda dehidrasi
berhubungan dengan diharapkan volume cairan pasien 3. Pantau mambran mukosa kering,
kehilangan cairan dapat terpenuhi dengan criteria torgor kulit yang kurang baik, dan rasa
melalui rute normal hasil : haus
(pendarahan - Px dapat mempertahankan 4. Ukur dan catat urine setiap kali
volume sirkulasi adekuat berkemih
- Tanda tanda vital dalam 5. Berikan penjelasan kepada pasien
batas normal : untuk banyak minum minimal 1,5
S = 36,5-37,50C liter/hari
RR = 16-24 x/menit 6. Berikan cairan IV
TD = 120/80 mmHg
N = 60-100 x/menit
- Nadi perifer px teraba
- Haluaran urine adekuat
- Membrane mukosa px
lembab
- Turgor kulit elastis
4. Implementasi

Sesuai dengan intervensi yang dibuat

5. Evaluasi

Sesuai dengan tujuan dan kriteria hassil

DAFTAR PUSTAKA
Baughman, Diane C. 2000. Keperawatan Medikal Bedah : Buku Saku Untuk Brunner dan
Suddarth. Jakarta : EGC

Doenges, Marilyn E, 1999.. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3 alih bahasa I Made Kariasa, Ni Made Sumarwati,
Jakarta : EGC,

Kartikawati,Erni.2013.Bahaya Kanker Payudara dan Kanker serviks. Jkarta;Buku Biru

NANDA-Nic Noc. 2013.Aplikasi Asuhan Keperawatan berdasarkan Diagnosa Medis dan


NANDA jilid 1. Yogyakarta:Med Actiont

Yatim,faizal. 2008.Penyakit Kandungan.Jakarta;Pustaka Popular Obor

Sarwono. 1994. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.