Anda di halaman 1dari 13

14

I. PENDAHULUAN signifikan (Killen et al., 2002 dalam


Mushinzimana et al., 2005).
1.1. Latar Belakang Unsur-unsur cuaca/iklim juga merupakan
Malaria merupakan masalah kesehatan input pendugaan sistem peringatan dini. Unsur
utama di Kabupaten Sukabumi. Dari data cuaca merupakan faktor pembatas
PPM&PL Depkes (Pemberantas Penyakit perkembangbiakan vektor tiap fase dan
Menular dan Penyehatan Lingkungan populasi nyamuk. Pendugaan peringatan dini
Departemen Kesehatan) tahun 2002, tercatat berdasarkan unsur-unsur cuaca/iklim dapat
143 kasus positif malaria dan 18 orang memprediksi lonjakan kasus malaria dari
meninggal dunia. Sedangkan dari data tahun waktu ke waktu. Hal ini disebabkan oleh
2003, sebanyak 1.790 kasus malaria dan 27 kasus malaria tersebut dapat dipresentasikan
orang meninggal dunia tercatat terjadi di sebagai vektor malaria (Teklehaimot et al.,
Kabupaten Sukabumi. Kondisi tersebut 2004).
menyebabkan kembalinya Kabupaten
Sukabumi sebagai daerah KLB (Kejadian 1.2. Tujuan
Luar Biasa) Malaria (www.depkes.go.id). Tujuan penelitian ini adalah menyusun
Peningkatan kasus malaria cenderung rancangan model spasial untuk membantu
dipengaruhi oleh perubahan pola distribusi memprediksi pola penyebaran malaria
vektor malaria. Pola distribusi vektor malaria berdasarkan kondisi penutupan lahan dan
(nyamuk Anopheles sp.) berkembang dari unsur-unsur cuaca.
skala lokal menjadi skala global
(http://www.who.ch/). Kondisi tersebut 1.3. Hipotesis
didukung oleh perubahan daerah endemik Penyebaran kasus malaria ditentukan dari
malaria yang bertambah luas dan peningkatan pendugaan penyebaran vektor malaria.
jumlah penduduk tanpa disertai dengan
peningkatan sarana kesehatan. Perpindahan
penduduk dari satu tempat ke tempat lain, II. TINJAUAN PUSTAKA
khususnya dari daerah rawan penyakit
menular ke daerah lain, menyebabkan daerah 2.1. Deskriptif Penyakit dan Vektor
yang telah bebas dari penyakit terkena Malaria
kembali (www.depkes.go.id). Penyakit malaria merupakan penyakit
Berbagai upaya dilakukan untuk menular yang berasal dari infeksi parasit
memberantas penyakit maupun vektor Plasmodium sp. Parasit Plasmodium
malaria. Upaya tersebut mencakup berkembang di dalam sistem imun (kekebalan
pengobatan pasien, penggunaan obat-obatan tubuh) manusia, menginfeksi hati, dan
anti malaria, pemusnahan nyamuk vektor menghancurkan sel darah merah. Pada masa
pembawa penyakit serta pemusnahan tempat inkubasi, Plasmodium hidup dan berkembang
pembiakan nyamuk. Tetapi upaya tersebut biak dalam sel hati. Beberapa hari sebelum
kurang efektif karena obat anti-malaria gejala pertama terjadi, organisme tersebut
maupun obat pembasmi nyamuk memberikan menyerang dan menghancurkan sel darah
dampak yang kecil terhadap penurunan merah sejalan dengan perkembangan mereka,
kepadatan transmisi nyamuk. (Hargreaves K sehingga menyebabkan demam. Demam ini
et al., 2000 dalam Mushinzimana et al., dapat terjadi selama dua minggu setelah
2005). Oleh karena itu diperlukan sistem infeksi (FKUI, 1990).
kewaspadaan dini serta perencanaan Berdasarkan jenis Plasmodium yang dapat
pemberantasan malaria yang tepat dan berkembang di dalam tubuh manusia, malaria
berkesinambungan oleh pemerintah dan dapat dibedakan menjadi 4 tipe, yaitu: Malaria
masyarakat setempat. Tertiana disebabkan oleh Plasmodium vivax,
Pendugaan Sistem Kewaspadaan/ Malaria Quartana yang disebabkan oleh
Peringatan Dini Malaria atau Early Warning Plasmodium malariae, Malaria Tropika atau
System Malaria (EWSM) berdasarkan pada Malaria Serebral yang disebabkan oleh
pendugaan kepadatan larva vektor serta Plasmodium falciparum, dan Malaria Ovale
penentuan tempat perindukan dan habitat yang disebabkan oleh Plasmodium ovale. Dari
vektor. Pendugaan faktor-faktor tersebut keempat jenis Plasmodium tersebut,
dibatasi oleh lingkungan habitat dan tempat Plasmodium falciparum merupakan jenis
perindukan vektor itu sendiri. Hal ini Plasmodium yang sangat berbahaya
disebabkan oleh lingkungan mampu mengatur (PPM&PL Depkes). Hal ini disebabkan oleh
atau mereduksi transmisi malaria secara Plasmodium falciparum dapat menyebabkan
15

kematian terutama pada anak-anak di bawah 5 2.2. Siklus Hidup Parasit dan Vektor
tahun (FKUI, 1990). Malaria
Plasmodium vivax dan Plasmodium 2.2.1. Siklus Hidup Parasit Malaria
falcifarum merupakan penyebab penyakit 2.2.1.1. Plasmodium vivax
malaria utama di Kabupaten Sukabumi. Dari Ketika nyamuk Anopheles betina (yang
data kesediaan darah pasien malaria, tercatat mengandung parasit malaria) menggigit
lebih dari 90% mengandung Plasmodium manusia, Plasmodium vivax akan
falciparum maupun Plasmodium vivax. mengeluarkan sporozoit dari kelenjar ludah
Plasmodium malariae dan kasus indegenous nyamuk masuk ke dalam peredaran perifer
tercatat jarang terjadi di Kabupaten Sukabumi manusia. Setelah kira-kira 30 menit, sporozoit
(PPM&PL Depkes). masuk ke dalam sel hati dan tumbuh menjadi
Anopheles sp. merupakan subfamili dari skizon hati dan menjadi hipnozoit. Hipnozoit
Anophelinae seperti Anopheles sundaicus dan tetap beristirahat dalam sel hati selama
Anopheles aconicus. Kedua nyamuk ini beberapa waktu (kira-kira 3 bulan), sampai
banyak ditemukan di daerah Sukabumi aktif kembali dan mulai dengan daur
(PPM&PL Depkes). Nyamuk Anopheles sp. eksoeritrosit sekunder (FKUI, 1990).
merupakan genus yang utama dalam subgenus Merozoit dari skizon hati masuk ke
ini. Menurut Brown (1986) dalam Soviana et peredaran darah, menghinggapi eritrosit dan
al., (2000), Anopheles sp. dapat mulai dengan daur eritrosit untuk
diklasifikasikan sebagai berikut: perkembangbiakan aseksual (skizogoni
Kingdom : Animal darah). Merozoit skizon eritrosit tersebut
Filum : Invertebrata tumbuh menjadi trifozoit muda yang
Kelas : Insekta berbentuk cincin dengan ukuran sepertiga
Subkelas : Pterygota eritrosit. Eritrosit yang dihinggapi parasit
Ordo : Diptera Plasmodium vivax akan mengalami perubahan
Subordo : Nematocera ukuran menjadi lebih besar, berwarna pucat
Famili : Culicidae dan berbentuk seperti titik Schuffner (FKUI,
Subfamili : Anophelinae 1990).
Genus : Anopheles Daur eritrosit pada Plasmodium vivax
Species :Anophleles sundaicus, berlangsung selama 48 jam secara
Anopheles aconicus, dan lain-lain berkesinambungan. Hal ini ditandai dengan
berubahnya trifozoit muda menjadi trifozoit
tua yang sangat aktif. Pigmen parasit semakin
nyata dan berwarna kuning. Sedangkan
eritosit dipenuhi oleh merozoit dari skizon
yang telah matang (FKUI, 1990).
Siklus seksual (sporogoni) parasit
Plasmodium vivax dalam nyamuk,
dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Siklus
akan berlangsung selama 16 hari jika berada
pada suhu 20C dan 8-9 hari pada suhu 27C.
Gambar 1 Nyamuk Anopheles sp. dewasa. Sedangkan dibawah 15C, perkembangbiakan
seksual parasit tidak berlangsung (FKUI,
1990).
Nyamuk Anopheles sp. merupakan
ektoparasit yang berbentuk langsing baik 2.2.1.2. Plasmodium falciparum
tubuh, sayap maupun probosisnya. Anophleles Perkembangan aseksual parasit
sp. mempunyai morfologi yang hampir sama Plasmodium falciparum berbeda dengan
dengan jenis nyamuk lainnya. Nyamuk Plasmodium vivax. Perkembangan aseksual
Anopheles mempunyai maksilari papi yang dalam hati hanya berlangsung hingga fase pra-
sama panjang dengan probosis (alat untuk eritrosit. Parasit tidak mengalami fase
menusuk dan menghisap cairan makanan atau eksoeritrosit yang dapat menimbulkan relaps
darah) tetapi pada nyamuk jantan, ujung palpi jangka panjang (rekuens) seperti Plasmodium
membesar (club-shaped). Posisi hinggap vivax yang mempunyai hipnozoit dalam hati
nyamuk menungging, dengan kaki-kaki yang (FKUI, 1990).
panjang dan langsing (Brown, 1986 dalam Jumlah skizon hati parasit Plasmodium
Soviana et al., 2000). falciparum lebih banyak dibandingkan
Plasmodium vivax. Stadium trifozoit muda
16

Plasmodium falciparum sangat kecil dan halus waktu 1-3 hari pada suhu 30C, tetapi akan
dengan ukuran seperenam eritrosit. Trofozoit membutuhkan 7 hari pada suhu 16C. Telur
tua akan menghilang dari darah tepi setelah 24 Anopheles sangat resisten terhadap
jam tertahan di kapiler-kapiler darah, seperti pengeringan dan suhu yang sangat tinggi
otak, jantung, plasenta, usus dan sumsum maupun suhu rendah. Telur Anopheles akan
tulang belakang; di tempat-tempat ini, parasit musnah pada suhu diatas 40C dan tidak
akan berkembang secara skizogoni. Skizon berkembang pada suhu di bawah 12C
yang telah matang akan membentuk merozoit (Brown, 1983).
dan mengisi dua per-tiga eritrosit. Kondisi ini
cenderung menyebabkan penyumbatan Perkembangan Larva Anopheles sp.
kapiler-kapiler darah (FKUI, 1990). Stadium larva membutuhkan air untuk
Pembentukan gametosit parasit kehidupannya. Larva mengalami 4 stadium
berlangsung di alat-alat dalam dan darah tepi perkembangan untuk mencapai panjang kira-
kapiler. Gametosit (makrogametosit dan kira 10 mm. Larva Anopheles sp. memiliki
mikrogametosit) mengalami skigozoni. kebiasaan beristirahat dengan mengantung
Sitoplasma bertambah besar, tidak padat dan secara horizontal terhadap permukaan air.
berwarna merah muda (FKUI, 1990). Jumlah Larva nyamuk Anopheles memakan algae,
gametosit pada infeksi Plasmodium bakteri dan bahan-bahan organik kecil yang
falciparum lebih banyak dibandingkan dengan berukuran 20-100 mikron dari permukaan air
jumlah gametosit Plasmodium lainnya. Hal (Brown, 1983). Waktu yang dibutuhkan
inilah yang menyebabkan Plasmodium stadium larva menjadi pupa berkisar antara 9-
falcifarum merupakan species penyakit 12 hari (Cander, 1981 dalam Derhana, 2005),
malaria yang paling berbahaya dan pada suhu dibawah 10C, larva tidak
(http://www.ppmplp.depkes.go.id). menjadi pupa (Borror et al. 1989 dalam
Siklus seksual Plasmodiun falciparum Derhana, 2005).
dalam nyamuk hampir sama dengan
Plasmodium vivax. Siklus seksual berlangsung Perkembangan Pupa Anopheles sp.
22 hari pada suhu lingkungan 20C, 15-17 Stadium pupa merupakan fase tanpa
hari pada suhu 23C dan 10-11 hari pada suhu makan dan sangat sensitif terhadap pergerakan
25C-28C. Sedangkan dibawah 15C, air. Stadium ini berlangsung dalam waktu 2-3
perkembangbiakan seksual parasit tidak hari, tetapi dapat diperpanjang hingga 10 hari
berlangsung (FKUI, 1990). jika berada pada suhu rendah, di bawah suhu
10C. Pupa nyamuk tidak mengalami
2.2.2. Siklus Hidup Vektor Malaria perkembangan. Waktu menetas (ekslosi), kulit
Seekor nyamuk betina Anopheles yang pupa terkelupas akibat gesekan gelembung
telah menghisap darah, dapat menghasilkan udara dan kegiatan bentuk nyamuk dewasa
telur antara 100-400 butir dalam satu kali yang ingin melepaskan diri (Soviana dan
masa telur (Brown, 1983). Nyamuk Anopheles Hadi, 2000).
sp. mengalami metamorfosis sempurna yaitu
telur, larva, pupa dan dewasa. Telur akan Perkembangan Anopheles sp. dewasa
menetas menjadi larva kemudian melakukan Nyamuk yang telah melepaskan diri dari
pengelupasan kulit sebanyak 4 kali; lalu kulit pupa akan mencari pasangan untuk
tumbuh menjadi pupa dan akhirnya menjadi mengadakan perkawinan. Perkawinan akan
nyamuk dewasa. Waktu yang diperlukan terjadi antara 1-2 hari setelah keluar dari pupa.
untuk pertumbuhan sejak telur diletakkan Nyamuk jantan dewasa umumnya dapat
sampai dewasa bervariasi antara 2-10 minggu bertahan hidup selama 6-7 hari sedangkan
bergantung pada sumber darah dan suhu nyamuk betina dapat bertahan hidup selama 2
udara. Keempat fase metamorfosis tersebut minggu di alam (Soviana dan Hadi, 2000).
memerlukan lingkungan untuk
perkembangannya (FKUI, 1990). Kebiasaan
Setiap jenis nyamuk memiliki jarak
Perkembangan Telur Anopheles sp. terbang yang berbeda-beda. Nyamuk
Telur Anopheles menyerupai perahu Anopheles sp. mempunyai jarak terbang
dengan pelampung dari chorion yang efektif antara tempat perindukan dan sumber
berlekuk-lekuk disebelah lateral. Telur makanan darah. Sedangkan jarak terbang
tersebut memiliki panjang kira-kira 0,7 mm. maksimum berkisar 1-3 mil (Brown, 1983).
Nyamuk Anopheles meletakan telurnya di Nyamuk tertarik oleh cahaya terang,
dalam air dan umumnya akan menetas dalam pakaian berwarna gelap dan adanya manusia
17

dan hewan sebagai sumber makanan darah. hinggap/istirahat yang eksofilik (senang
Daya tarik jarak jauh disebabkan oleh adanya hinggap di luar rumah) dan endofilik (suka
perangsangan bau dari zat-zat yang hinggap di dalam rumah). Anopheles sp. juga
dikeluarkan oleh hewan ataupun manusia, memiliki tempat menggigit yang berbeda-
seperti CO2 dan beberapa zat asam amino. beda yakni eksofagik (menggigit di luar
Lokalisasi suhu hangat dan kelembaban turut rumah) dan endofagik (lebih suka menggigit
mempengaruhi pola penyebaran nyamuk di dalam rumah). Obyek yang digigit
(Brown, 1983). Anopheles sp. juga berbeda-beda, yakni
Umumnya species nyamuk Anopheles sp. antrofilik ( menggigit manusia) dan zoofilik (
sebagai host definitive memiliki perilaku yang menggigit hewan). Perilaku nyamuk dewasa
berbeda-beda. Perilaku tersebut menentukan di Kabupaten Sukabumi secara terperinci
proses penularan malaria seperti tempat dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Tempat Perindukan Larva, Tempat Peristirahatan dan Perilaku Nyamuk Anopheles sp.
Dewasa Sebagai Vektor Malaria
Vektor Tempat Perindukan Larva Perilaku Nyamuk Dewasa
Muara sungai yang dangkal pada musim
Antrofilik > Zoofilik, menggigit
An. kemarau,tambak ikan yang kurang
sepanjang malam.
sundaicus* terpelihara, parit-parit disepanjang pantai
Tit: di dalam dan luar rumah
bekas galian yang berisi air payau.
Zoofilik > Antrofilik,
Persawahan dengan saluran irigasi, tepi
An. Eksofagik menggigit diwaktu
sungai pada musim kemarau, kolam ikan
aconicus* senja hingga dini hari
dengan tanaman kecil di dalamnya.
Tit: di luar rumah (pit traps)
Zoofilik
An. Sawah dan saluran irigasi, kolam, rawa, Eksofagik > Endofagik dan
barbirostris* mata air, sumur, dan lain-lain. menggigit pada malam hari
Tit: di luar (pada tanaman)
Zoofilik > Antrofilik menggigit
Mata air dan sungai dengan air jernih
An. pada malam hari
yang mengalir lambat di daerah
malculatus* Tit: di luar rumah (sekitar
pegunungan dan daerah perkebunan teh.
kandang)
Antrofillik > Zoofilik menggigit
Kumpulan air yang permanen/ sementara,
pada malam hari
An. subpicus celah tanah bekas kaki binatang, tambak
Tit: di dalam dan di luar rumah
ikan dan bekas galian.
(kandang)
Bekas roda yang tergenang air, air, bekas Antrofilik < Zoofilik
jejak kaki binatang pada tanah lumpur Tis: Endofilik menggigit pada
An.
yang berair, tepi sungai pada musim malam hari
balabacensis
kemarau, kolam atau kali yang berbatu di Tit: di luar tumah (sekitar
hutan dan daerah pedalaman. kandang).
Zoofilik > Antrofilik dan
An. Sawah, kolam dan rawa yang ada menggigit dari senja hingga
nigerrimus tanaman air. malam hari
Tit: di luar rumah (kandang)
Keterangan:
An : Anopheles
Tit : tempat tinggal tetap
Tis : tempat tinggal sementara
* : jenis nyamuk Anopheles sp. dominan di Kabupaten Sukabumi (PPM&PL Depkes Kab. Sukabumi)
: jenis nyamuk Anopheles sp. yang di temukan di Jawa Barat
: jenis nyamuk Anopheles sp. yang ditemukan di Kabupaten Sukabumi
(Sumber: Depkes, 1990 dalam FKUI, 1990)

Walaupun memiliki tempat hinggap, Mengalami siklus genotropik.


tempat menggigit dan objek yang digigit yang Kegiatan menghisap darah pada hewan
berbeda-beda, nyamuk Anopheles memiliki dan manusia, hanya dilakukan oleh
ciri-ciri siklus hidup yang hampir sama, nyamuk betina dan dilakukan segera
sebagai berikut: setelah kawin.
18

Nyamuk betina hanya mengalami satu kali Transmisi penyakit malaria dominan
kawin. dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan faktor
Spermatozoa dikeluarkan oleh nyamuk sosial. Transmisi malaria terjadi akibat adanya
jantan ke spermateka betina untuk kontak langsung antara manusia dan vektor
membuahi sel telur. malaria akibat pengaruh lingkungan; yaitu
Menghisap darah untuk memperoleh jenis pemukiman (perkampungan atau berada
nutrien yang dibutuhkan dalam di pinggir hutan), jenis pekerjaan, sanitasi dan
perkembangan telur dalam ovaria. penempatan kandang ternak (DEPKES, 1990
(Beberapa species dapat bersifat autogeni dalam Saleh, 2002). Penempatan kandang
pada kelompok telur pertama). ternak di sekitar rumah dapat mereduksi
Setelah menghisap darah, abodemen yang transmisi penyakit malaria terhadap manusia
berwarna merah muda akan membesar dan nyamuk Anopheles sp. Hal ini disebabkan
berwarna merah tua (gelap) setelah darah oleh ketersedian sumber darah di alam.
diserap oleh telur di dalam ovari yang Kebiasaan nyamuk untuk menggigit di luar
besar. rumah (alam) juga turut mempengaruhi
Telur diletakkan satu per satu langsung di transmisi tersebut (Tabel 1). Pengaruh
permukaan air alam (Soviana dan Hadi, lingkungan mempengaruhi pola penyebaran
2000). vektor malaria (Host Definitive).
Faktor sosial ataupun manusia itu sendiri
Pola penyebaran malaria dipengaruhi oleh juga mempengaruhi transmisi malaria. Usia,
tiga faktor utama yaitu host jenis kelamin, ras, sosial ekonomi, status
(manusia/nyamuk), agent (parasit perkawinan, riwayat penyakit sebelumnya,
Plasmodium) dan environment (lingkungan). gaya dan cara hidup, hereditas (keturunan),
Penyebaran malaria akan terjadi apabila ketiga status gizi dan tingkat imunitas turut
komponen tersebut mendukung. Manusia mempengaruhi transmisi malaria
sebagai Host Intermediate dapat terinfeksi (http://www.ppmplp.depkes.go.id).
oleh agent dan merupakan tempat
berkembangbiaknya agent (FKUI, 1990). 2.3. Hubungan Cuaca dan Topografi
dengan Vektor Malaria
Epidiomologi 2.3.1. Suhu
Faktor-faktor yang mempengaruhi Suhu merupakan karakteristik tempat
penentuan vektor malaria di suatu daerah perindukan yang mempengaruhi metabolisme,
endemis malaria adalah: perkembangan, pertumbuhan, adaptasi dan
1. Kebiasaan nyamuk Anopheles menghisap sebaran geografik larva nyamuk. Peningkatan
darah manusia. suhu 1C dapat meningkatkan kecepatan
2. Lama hidup nyamuk betina dewasa lebih angka metabolisme dengan rata-rata
dari 10 hari. konsumsi O2 dan CO2 sebesar 10%. Pengaruh
3. Nyamuk Anopheles dengan kepadatan peningkatan suhu juga mempengaruhi proses
tinggi dan mendominasi species lain yang biologis nyamuk seperti kegiatan gerakan
ditemukan. bernafas, detak jantung, ritme sirkulasi darah
4. Hasil infeksi percobaan di laboratoriun dan kegiatan enzim. (Ward, 1992 dalam
yang menunjukkan kemampuan untuk Saleh, 2002).
mengembangkan Plasmodium menjadi Pada suhu diatas 32C -35C, metabolisme
stadiun sporozoit (FKUI, 1990). serangga akan terganggu menuju proses
Data epidiomologi malaria juga dapat fisiologi. Suhu udara rata-rata yang optimun
ditentukan/ dianalisis dengan membandingkan untuk perkembangan nyamuk adalah
jumlah kasus, SPR, ABER dan API, AMI tiap 25C-27C. Sedangkan perkembangan
tahun (Saleh, 2002). nyamuk akan terhenti dibawah suhu 10C dan
diatas suhu 40C (Sukowati, 2004). Macan
Entomologi Kesehatan (1963) dalam Saleh (2002), menemukan suhu
Faktor-faktor yang menyebabkan air 18C merupakan suhu yang paling rendah
timbulnya penyakit malaria adalah: dibutuhkan larva nyamuk di daerah tropis,
1. Peningkatan kerentanan penduduk sedangkan suhu 36C selama 2 bulan berturut-
2. Peningkatan penderita reservoir turut dapat mematikan semua larva nyamuk.
3. Peningkatan jumlah dan umur vektor Pengaruh suhu udara terhadap perkembangan
4. Peningkatan jumlah penderita nyamuk secara terperinci dapat dilihat dari
5. Pengaruh indegenous malaria (DEPKES, tabel 2.
1990 dalam Saleh, 2002).
19

Tabel 2 Pengaruh Suhu Udara Rata-Rata Terhadap Siklus Nyamuk Anopheles sp. dan Siklus
Sporogoni Parasit Plasmodium sp. serta Pengaruhnya Terhadap Jumlah Luasan
Perindukan Menjadi Kejadian Kasus Malaria
Fase dan Durasi Siklus Nyamuk Anopheles sp. dan Siklus Sporogony
Faktor Cuaca
Parasit Plasmodium sp. yang Dipengaruhi Oleh Faktor Cuaca
Luasan Perindukan nyamuk ---------------- Kasus Malaria
Siklus Nyamuk Siklus Sporogony parasit
Suhu Udara
Anopheles sp. Plasmodium sp. Periode Inkubasi di
Rata-Rata
LarvaDewasa Gigitan Pertama infeksi dalam Tubuh Manusia
(hari) (hari)
16C 47 111
17C 37 56
18C 31 28
20C 23 19
22C 18 7,9 10-16 hari
30C 10 5,8
35C 7,9 4,8
39C 6,7 4,8
40C 6,5 4,8
(Sumber: Teklehaimot et al., 2004)

2.3.2. Kelembaban Udara 2.3.4. Radiasi


Kelembaban udara dapat mempengaruhi Radiasi mempengaruhi secara langsung
longevity (umur) nyamuk. Sistem pernafasan perkembangan dan umur serangga. Inframerah
nyamuk menggunakan pipa-pipa udara yang dengan panjang gelombang 760 m3.105 m
disebut trachea dengan lubang-lubang dinding memberikan efek pemanasan optimum untuk
yang disebut spiracle. Pada waktu perkembangan serangga. Sedangkan ultra
kelembaban rendah, spiracle terbuka lebar violet dengan panjang gelombang
tanpa ada mekanisme pengaturnya sehingga 0.1 m- 400 m memberikan efek mematikan
menyebabkan penguapan air dari dalam tubuh (Koesmaryono, 1999).
nyamuk (Suroso, 2001). Penambahan Cahaya tampak (400 m - 760 m)
kelembaban udara di laboratoruim mempengaruhi fototropisme dan
menunjukkan adanya pengaruh yang fotoperioditas serangga. Fotoperioditas
signifikan terhadap populasi nyamuk, tetapi (lamanya terang dan gelap panjang hari)
kondisi tersebut tidak signifikan di alam mempengaruhi aktifitas serangga. Kegiatan
(Saleh, 2002). Kisaran kelembaban udara mengigit nyamuk aktif sepanjang malam
dipengaruhi oleh suhu udara. Namun jelas mulai pukul 18.00 06.00 dan puncak
bagi serangga, kelembaban udara yang mengigit terjadi pada pukul 24.0001.00
optimum untuk perkembangan adalah 73% - (Marsaulina, 2002).
100% (Sunjaya, 1970, Andrewartha & Birch
1974 dalam Koesmaryono, 1999). 2.3.5. Angin
Angin tidak memberikan pengaruh
2.3.3. Curah Hujan langsung terhadap pertumbuhan dan
Frekuensi curah hujan yang moderat perkembangan serangga. Angin memberikan
dengan penyinaran yang relatif panjang peranan yang besar dalam pola penyebaran
menambah habitat nyamuk. Luasan habitat serangga (Koesmaryono, 1999).
nyamuk tiap species Anopheles bervariasi. Hal
tersebut dipengaruhi oleh jumlah dan 2.3.6. Topografi
frekuensi hari hujan, keadaan geografi, dan Pola penyebaran malaria terhadap
sifat fisik lahan. Curah hujan yang terus ketinggian suatu tempat mempunyai
berkurang pada lahan pertanian akan hubungan yang erat. Pola penyebaran tersebut
menciptakan kondisi lagoon dan tambak semakin luas terjadi pada wilayah yang berada
menjadi payau sehingga menciptakan habitat pada ketinggian dibawah 1000 mdpl dan
bagi Anopheles sundaicus (Sukowati, 2004). semakin sedikit atau tidak ditemukan pada
ketinggian diatas 1000 mdpl. Hal ini
disebabkan oleh perilaku nyamuk Anopheles
sp. yang senang hidup di dataran rendah
(www.depkes.go.id). Kisaran ketinggian
20

tempat perindukan nyamuk Anopheles juga Data Input; data input merupakan
relatif berubah. Hal tersebut disebabkan oleh subsistem yang bertugas untuk
perubahan suhu udara pada masing-masing mengumpulkan dan mempersiapkan data
ketinggian (Srivastava et al., 2003). spasial dan data atribut dari berbagai
sumber. Subsistem ini bertanggung jawab
2.4. Sistem Informasi Geografis (SIG) dalam mengkonversi atau
2.4.1. Konsep Dasar dan Pengertian SIG mentransformasikan format data asli
Sistem informasi geografis pada menjadi format yang digunakan dalam
hakekatnya merupakan sebuah rangkaian SIG (Gistut, 1994 dalam Prahasta, 2001).
kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan Data Output; data output merupakan
gambaran situasi muka bumi atau informasi subsistem yang berfungsi untuk
tentang ruang muka bumi yang diperlukan menampilkan atau mengeluarkan keluaran
untuk dapat menjawab atau menyelesaikan seluruh atau sebagian basisdata, baik
masalah yang terdapat dalam ruang muka dalam bentuk softcopy maupun hardcopy
bumi yang bersangkutan. SIG mampu seperti tabel, grafik dan peta (Demers,
mengintegrasikan deskripsi lokasi dengan 1997 dalam Prahasta, 2001).
karakteristik fenomena yang ditemukan pada Data Management; data menagement
suatu lokasi sehingga dapat mendukung dalam berfungsi untuk mengorganisasikan data
pengambilan keputusan spasial. Kegiatan spasial dan data atribut ke dalam sebuah
tersebut meliputi pengumpulan, penataan, basisdata sehingga mudah untuk dipanggil,
pengolahan, penganalisaan, dan penyajian di-update maupun di-edit (Aronoff, 1989
data/fakta spasial yang ada atau terdapat dalam Prahasta, 2001).
dalam ruang muka bumi tertentu (Prahasta, Data Manipulation dan Analysis;
2001). subsistem ini berfungsi untuk menentukan
Menurut ESRI (1996) dalam Prahasta informasi-informasi yang dapat dihasilkan
(2001), SIG merupakan kumpulan yang oleh SIG. Subsistem ini juga dapat
terorganisir dari perangkat keras komputer, melakukan manipulasi dan pemodelan data
perangkat lunak, data geografi dan data untuk menghasilkan informasi yang
personil yang dirancang secara efisien untuk diiginkan (Demers, 1997 dalam Prahasta,
memperoleh, menyimpan, meng-update, 2001).
memanipulasi, menganalisis dan
menampilkan semua bentuk informasi yang Uraian jenis masukan, proses, dan jenis
bereferensi geografi. keluaran dari keempat subsistem tersebut,
dapat ditunjukkan seperti Gambar 2.
2.4.2. Subsistem SIG
Subsistem-subsistem yang terdapat dalam
SIG adalah:

DATA INPUT DATA MANAGEMENT DAN


MANIPULATION
OUTPUT
Tabel
Storage
Peta
Laporan (database)

Tabel
Pengukuran
Lapangan
Input Retrieval Output Laporan
Data Digital
Informasi
Peta (Tematik, Digital
Topografi, dll) Processing (Softcopy)

Citra Satelit, Foto


Udara, dll
Gambar 2 Uraian subsistem-subsistem SIG.
(Sumber: Prahasta, 2001)
21

2.4.3. Data SIG


Data basisdata SIG disusun dalam bentuk
layer/ theme (Gambar 3). Satu layer dapat
memuat informasi tertentu, seperti:
penggunaan lahan (LandUsed), jaringan jalan,
sungai, batas administrasi, lokasi stasiun
kilmatologi. Presentasi masing-masing layer
tersebut dilakukan dengan manipulasi obyek
dasar atau entity spasial yang memiliki atribut
geometri. Bentuk reprenstasi entity spasial
tersebut berupa konsep data vektor dan
konsep data raster yang disajikan dengan
menggunakan model data raster atau model Gambar 3 Data SIG dalam bentul layers/
data vektor (Prahasta, 2001). themes
(Sumber: Wibowo, 2005)
2.4.3.1. Model Raster
Model data raster menampilkan,
menempatkan, dan menyimpan data spasial
dengan menggunakan struktur matriks atau
piksel-piksel yang membentuk grid. Setiap
piksel memiliki atribut tersendiri, termasuk
koordinatnya yang unik (di sudut grid (pojok),
di pusat grid, atau di tempat lainnya). Akurasi
model data raster tergantung pada resolusi
atau ukuran pikselnya (sel grid) di permukaan
bumi. Entity spasial raster disimpan di dalam
layers yang secara fungsionalitas direlasikan
dengan unsur-unsur petanya. Contoh sumber-
sumber entity spasial raster adalah citra satelit, Gambar 4 Ilustrasi model data vektor dan
citra radar, dan model ketinggian dijital (DEM model data raster.
(Sumber: Wibowo, 2005)
Digital Elevation Model). Pada model
raster, data geografi ditandai oleh nilai-nilai
2.4.4. Fungsi Analisis
(bilangan) elemen matriks persegi panjang
Secara umum terdapat dua jenis fungsi
dari suatu obyek (Prahasta, 2001).
analisis dalam SIG, yaitu fungsi analisis
atribut (basisdata atribut) dan fungsi analisis
2.4.3.2. Model Vektor
spasial (Prahasta, 2001).
Model data vektor menampilkan,
menempatkan, dan menyimpan data spasial
2.4.4.1. Fungsi Analisis Atribut
dengan menggunakan titik-titik (entity titik),
Fungsi analisis atribut terdiri atas operasi
garis-garis (entity garis) atau poligon (entity
dasar sistem pengolahan basisdata (DBMS)
area) beserta atribut-atributnya. Bentuk dasar
dan perluasannya, yaitu:
representasi data spasial ini didefinisikan oleh
sistem koordinat kartesian dua dimensi (x,y). Operasi dasar basisdata, seperti
Representasi vektor suatu obyek disajikan membuat dan menghapus basisdata atau
dalam ruang atau dimensi koordinat yang tabel basisdata, menyisipkan data baru ke
diasumsikan bersifat kontiniu (Prahasta, dalam tabel basisdata, mencari data dari
2001). Perbedaan data spasial antara model tabel basisdata, meng-edit data dan
vektor dan model raster ditunjukkan oleh menghapus data dari tabel basisdata serta
Gambar 4. membuat indeks untuk setiap tabel
basisdata.

Perluasan operasi basisdata; seperti


mengekspor atau mengimpor basisdata
kedalam sistem basisdata lain dan
berkomuniksi dengan sistem basisdata
yang lainnya (Prahasta, 2001).
22

2.4.4.2. Fungsi Analisis Spasial


Beberapa fungsi analisis spasial dalam
SIG sebagai berikut:
Fungsi pengukuran, query spasial dan
fungsi klasifikasi (Reclassify); fungsi
pengukuran mencakup pengukuran jarak
suatu obyek, luas area dalam 2 dimensi
atau 3 dimensi. Query spasial berfungsi
mengidentifikasikan obyek secara selektif,
definisi pengguna, maupun melalui
kondisi logika. Contoh query spasial
adalah mencari suatu area yang kurang Gambar 6 Klasifikasi data spasial dari 7 kelas
dari 40000 m2 pada area penutupan lahan (a) menjadi 5 kelas (b).
(Sumber: Prahasta 2001)
(Gambar 5.). Sedangkan fungsi klasifikasi
bertugas untuk mengklasifikasikan
Tumpang Susun (overlay); fungsi ini
kembali suatu data (data spasial atau data
menghasilkan data spasial baru dari
atribut) menjadi data spasial yang baru
minimal dua data spasial yang menjadi
dengan menggunakan kriteria tertentu.
input-nya. Ilustrasi fungsi overlay
Misalnya penggunaan data spasial
ditunjukkan seperti Gambar 7. Fungsi
ketinggian muka bumi (topografi) untuk
overlay ini juga berlaku untuk model data
diturunkan menjadi data spasial seperti
raster. Prinsip overlay juga mengikuti
kemiringan lereng (slope), arah hadap
operasi aritmatik (seperti penjumlahan,
sebuah permukaan (aspect), variasi
pengurangan dan perkalian), operasi
bentukan dalan dalam degradasi kecerahan
statistik (seperti minimum dan
(hillshade) dan kontur. Fungsi ini
maksimum), operasi boolean (seperti and
merupakan fungsi yang meng-eksplore
dan or), kondisional (if condition) dan
data tanpa membuat perubahan yang
operasi lainnya.
mendasar. Fungsi eksplore umumnya
digunakan sebelum analisis data. Fungsi
klasifikasi juga digunakan untuk
menyederhanakan kelas data spasial
(Gambar 6.).

Gambar 7 Prinsip dasar overlay poligon. Dua


buah poligon layer A dan B akan menghasilkan
data spasial baru (data atribut) yang
Gambar 5 Query spasial untuk mencari luas merupakan hasil interaksi layer A dan B.
penutupan lahan kurang dari 40000m2. (Sumber: Prahasta 2001)
(Sumber: Prahasta 2001)
Buffering; fungsi buffering akan
Jaringan (network); fungsi jaringan menghasilkan data spasial baru yang
merujuk data spasial titik-titik (points) berbentuk poligon atau zona dengan jarak
atau garis-garis (lines) sebagai suatu tertentu dari data spasial yang menjadi
jaringan yang tidak dapat dipisahkan. input-nya. Data spasial titik akan
Misalnya menghitung jarak titik awal dan menghasilkan data spasial berupa
titik akhir dan mengakumulasi jarak-jarak lingkaran-lingkaran yang mengelilingi titik
dari segmen yang membentuknya. pusatnya. Data spasial garis akan
23

menghasilkan data spasial baru berupa karakterisrik geografis, seperti desa,


poligon-poligon yang melingkupi gari- puskesmas, puskesmas pembantu, rumah
garis tersebut. Sedangkan data spasial sakit, stasiun klimatologi, dan lain-lain. Kode
poligon akan menghasilkan data spasial desa digunakan sebagai identifer unik yang
baru yang besar dan konsentris. distandarisasi secara nasional untuk
menghubungkan data atribut (kasus malaria
3D analysis; fungsi ini terdiri dari sub-sub dan populasi) dengan karakteristik geografis
fungsi yang berhubungan dengan (peta).
presentasi data spasial dalam ruang tiga Sistem surveilens di Jawa-Bali melibatkan
dimensi. Fungsi ini banyak menggunakan dua mekanisme pengumpulan data, yaitu
fungsi interpolasi (Prahasta, 2001). Active Case Detection (ACD) dan Passive
Case Detection (PCD). ACD merupakan
2.4.5. Pemanfaatan SIG dalam Penyebaran mekanisme pengumpulan data secara
Malaria langsung di lapangan. Petugas lapangan
SIG dapat dapat dimanfaatkan untuk secara teratur mengunjungi lokasi yang berada
membantu penentuan penyebaran malaria. di wilayah kerja masing-masing puskesmas.
Secara umum SIG Malaria terdiri atas Sedangkan PCD merupakan mekanisme
serangkaian subsistem manajemen data dasar pengumpulan data secara tidak langsung. Data
(data dasar dan data geografis), serta diperoleh dari puskesmas dan puskesmas
subsistem analisis dan pemanggilan (retrival) pembantu.
data. Inventarisasi data populasi dan data Indikator sistem surveilens ditentukan oleh
malaria yang distandarisasi, peta-peta SIG API rate, AMI rate, ABER dan SPR. Annual
malaria, dan fungsi analisis spasial dari SIG Parasite Incidence Rate (API rate) dan
antara lain klasifikasi, penilaian, tumpang Annual Malaria Incidence Rate (AMI rate)
susun, dan fungsi-fungsi lingkungan merupakan indikator utama dalam sistem
digunakan dalam SIG Malaria (Wibowo, surveilens. API dan AMI merupakan indikator
2005). yang digunakan untuk mengetahui tingkat
epidemis malaria suatu wilayah. Penggunakan
2.4.6. Protokol SIG Malaria API dan AMI tersebut secara nasional
Menurut Luo, 2001 , kerangka umum SIG ditetapkan masing-masing untuk pulau Jawa-
malaria sebagai berikut: Bali dan pulau-pulau di luar Jawa-Bali.
2.4.6.1. Subsistem Manajemen Data Dasar Sedangkan Annual Blood Examination Rate
Populasi Malaria (ABER) dan Slide Positive Rate (SPR)
Data kasus malaria (Plasmodium sp. dan merupakan indikator sekunder yang
jumlah penderita) dan data populasi digunakan dalam penilaian kegiatan
merupakan data dasar dalam SIG. Data surveilens. Rincian data dan indikator SIG
tersebut membutuhkan identifer (kode umum) Malaria dapat dilihat pada Tabel 3.
yang digunakan untuk menghubungkan data
populasi dan kasus malaria dengan

Tabel 3 Daftar Data dan Peta Populasi dan Malaria dalam SIG Malaria
Daftar Data Atribut Daftar Peta
1. Jumlah populasi tiap desa 1. Peta titik desa
2. Jumlah kasus malaria klinis 2. Peta titik rumah sakit
3. Jumlah sediaan darah yang diperiksa 3. Peta titik puskesmas
4. Jumlah kasus positif 4. Peta titik puskesmas pembantu
5. Jumlah kasus positif bagi Plasmodium falciparum 5. Peta batas desa
6. Jumlah kasus positif bagi Plasmodium vivax 6. Peta batas kecamatan
7. Jumlah kasus indigenous 7. Peta penggunaan lahan
8. Jumlah kasus indigenous Plasmodium falciparum 8. Peta topografi
9. Jumlah kasus indigenous Plasmodium vivax 9. Peta hidrologi
10.Daftar puskesmas pembantu yang memiliki laboratoriun 10. Peta jaringan jalan raya

2.4.6.2. Subsistem Manajemen Data sistem ini dapat berupa titik, garis, dan
Geografis poligon. Dalam SIG Malaria, lokalitas (seperti
Subsistem manajemen data geografis kota, puskesmas, puskesmas pembantu, rumah
merupakan sistem berupa vektor yang dikenal sakit, pusat kota) digambarkan sebagai titik.
sebagai model topologi. Objek pada sub Jaringan transportasi (jalan dan jalan raya),
24

jaringan hidrologi (sungai dan anak sungai), diperoleh tadi. Penginderaan jauh
jaringan Wilayah Kerja Puskesmas (WKP) memanfaatkan berbagai perangkat seperti
dan kontur digambarkan sebagai garis. kamera, radiometer, penyiam (scanner), atau
Sedangkan batas desa, batas kecamatan, dan sensor seperti satelit.
batas kabupaten digambarkan sebagai poligon.
Data lingkungan seperti bentang wilayah, 2.5.1. Klasifikasi Citra
hidrologi, penggunaan lahan, pola Citra penginderaan jauh dianalisis secara
perlindungan tanah (land cover) dan jaringan digital untuk mendapatkan informasi tematik.
jalan raya juga termasuk dalam data geografis. Klasifikasi multispektral adalah suatu metode
Data lingkungan tersebut digunakan dalam yang digunakan untuk mengekstrak informasi,
pengambilan keputusan untuk mempelajari terutama informasi penutup lahan. Klasifikasi
pola penyebaran spasial malaria. Sedangkan multispektral menggunakan pendekatan
peta jaringan jalan raya digunakan untuk kuantitatif dan mengurangi subyektifitas pada
menilai pemberian pelayanan kesehatan dalam kegiatan interpretasi. Metode klasifikasi
kegiatan surveilens dan penanggulangan multispektral dapat menggunakan algoritma-
malaria. algoritma berikut : (1) Klasifikasi Tegas
(Hard Classifier), (2) Klasifikasi Samar (Soft
2.4.6.3. Subsistem Analisis dan Classifier), dan (3) Klasifikasi Hibrid (Jensen,
Pemanggilan Data 1996 dalam Prahasta 2001). Algoritma
Sub sistem analisis dan pemanggilan data Klasifikasi Tegas pada umumnya terbagi
merupakan subsistem yang berperan penting menjadi dua kelompok besar yaitu Klasifikasi
untuk meningkatkan kemampuan pengguna, Terbimbing (Supervised Classification) dan
terutama dalam kegiatan pengambilan Klasifikasi Tak Terbimbing (Unsupervised
keputusan. Sub sistem ini berperan dalam Classification).
output SIG Malaria. Hal ini disebabkan oleh
cakupan subsistem sebagian besar berupa 2.5.2. Klasifikasi Terbimbing (Supervised
karakteristik SIG, seperti visualisasi, query Classification)
(pemanggilan) data atribut dan spasial, Klasifikasi Terbimbing menggunakan
klasifikasi, operasi hitung, operasi tumpang pengetahuan yang telah didapatkan
susun dan fungsi lingkungan. sebelumnya yang dapat berasal dari hasil
Ketiga subsistem SIG Malaria saling ekstraksi informasi/interpretasi foto udara,
berkorelasi menghasilkan tampilan Output peta dan lain-lain. Pengetahuan ini akan
berupa grafik, peta, dan tabel. Subsistem digunakan untuk mengidentifikasi piksel-
manajemen data dasar populasi dan malaria piksel contoh dan menetapkan kelas ciri yang
serta subsistem data geografis mempengaruhi bersesuaian. Parameter-parameter statistika
hasil yang akan dikeluarkan oleh subsistem dari contoh kelas digunakan untuk
analisis dan pemanggilan data. Keterkaitan mengkelaskan ciri yang mirip dari sebuah
antar ketiga subsistem tersebut ditunjukan piksel, seperti pencarian daerah yang
pada Gambar 8. homogen dan memiliki kisaran variabilitas
yang baik. Estimasi ciri kelas umumnya
2.5. Penginderaan Jauh menggunakan klasifikasi Bayes Maximum
Penginderaan jauh merupakan salah satu Likelihood dengan asumsi distribusi normal
teknik dalam SIG untuk mengumpulkan (normal class distribution) dan vektor rataan
informasi dari jarak tertentu (Aronoff, 1991 kelas dan matriks kovarian harus dihitung
dalam Prahasta, 2001). Pernyataan dari jarak (Schowengerdt, 1983). Swain (1978)
tertentu secara umum menggambarkan menyatakan bahwa untuk mendapatkan
bahwa tidak ada kontak langsung dengan statistik kelas yang memenuhi syarat, piksel
informasi yang ingin contoh yang diperlukan berkisar antara 10
Sub sistem manajemen Sub sistem manajemen 100, dengan notasi vektor pengukuran sebagai
data dasar dan malaria data geografis (peta)
berikut:

SIG Xc = [BVij1, BVij2, , BVijk] .......................(1)


Sub sistem analisis spasial dengan BVijk menyatakan nilai piksel
dan pemanggilan daerah
(brightness value) untuk piksel ke-i,j dan pada
band ke-k. Selanjutnya akan didapatkan pula
Grafik Peta Tabel
vektor pengukuran rataan untuk setiap kelas
sebagai berikut:
Gambar 8 Kerangka umum SIG
25

Mc = [c1, c2, , ck] ..................................(2) suatu citra, maka dapat diharapkan bahwa
akan semakin banyak piksel yang akan
dengan ck merepresentasikan nilai rataan dari dikelaskan sebagai air. Dengan demikian,
data yang diperoleh untuk kelas c pada band dimungkinkan untuk memasukkan informasi a
k. Selain itu bisa didapatkan pula matrik priori pada pengambilan keputusan dalam
kovarian pada setiap kelas c sebagai berikut: klasifikasi. Pemasukan informasi ini dapat
dilakukan dengan pembobotan setiap kelas c
dengan kemungkinan a priori ac sehingga:
X ada dalam kelas c, jika dan hanya jika:
Pc(ac) Pi(ai), i adalah kelas ke-1, 2, , m
Pc(ac) = loge(ac) - { -0.5loge[det(Vc)]}
T -1
[0.5(X-Mc) Vc (X-Mc)]...............................(4)

dengan Covckl adalah kovarian dari kelas c 2.6. Weather Monitoring Model
dari band k sampai l. Weather Monitoring Model [WMM] yang
Aturan keputusan dalam algoritma Bayes dikembangkan oleh Risdiyanto (2001),
Maximum Likelihood merupakan penentu merupakan model untuk memonitor kondisi
penggolongan setiap piksel ke dalam kelas cuaca harian. WMM mengintegrasikan model
yang bersesuaian dengan menempatkan piksel numerik (sebagai model mekanistik) dan
berdasar kemiripan atau kemungkinan yang model spasial sehingga menghasilkan sebuah
paling tinggi. Hal ini mengasumsikan bahwa informasi spasial cuaca. WMM dapat
statistik dari data training set untuk setiap memberikan informasi data-data cuaca seperti
kelas dan setiap band menyebar secara normal temperature udara, tekanan udara, kecepatan
(Gaussian). Aturan keputusan pada algoritma dan arah angin, radiasi matahari, dan estimasi
ini dapat dinotasikan sebagai berikut: kandungan uap air. WMM juga dapat
digunakan untuk membangkitkan data cuaca
X ada dalam kelas c, jika dan hanya jika:
harian.
Pc Pi, i adalah kelas ke-1, 2, , m
T -1 2.7. Artikel dan Jurnal Malaria Secara
Pc = { -0.5loge[det(Vc)]} [0.5(X-Mc) Vc (X- Spasial dan Statiktik
Mc)] .............................................................(3) Penelitian mengenai prediksi malaria
secara spasial dan statistik telah banyak
dengan det(Vc) adalah determinan dari
dilakukan. Penelitian tersebut menyangkut
matriks kovarian Vc.
berbagai aspek seperti aspek biologi, aspek
Persamaan 3. mengasumsikan bahwa
ekologi dari parasit dan vektor malaria
setiap kelas memiliki kemungkinan kejadian
maupun manusia. Sejumlah penelitian
yang sama pada permukaan bumi. Kejadian
mengenai spasial dan statistik malaria yang
pada data penginderaan jauh menunjukkan
telah dipublikasikan, dapat dilihat secara
bahwa ada kemungkinan kejadian yang tinggi
terperinci pada tabel 4.
bagi suatu kelas daripada kelas yang lain.
Sebagai ilustrasi, bila kelas air mendominasi

Tabel 4 Artikel/ Jurnal Malaria Secara Spasial Dan Statistik*


Penulis Features Metodologi
Bourna et al., Hubungan El Nino terhadap outbreak
Prediksi zona risiko malaria.
1997 kasus malaria.
Penentuan pola penyebaran
Luo, 2001 Integrasi SIG.
kasus klinis malaria.
Pendekatan SIG dan model algoritma
Srivastava, 2001 Prediksi habitat vektor malaria. parameter ekologi dan intergrasi
penyebaran nyamuk Anopheles dirus.
Penentuan habitat vektor Arithmetic Overlay dari unsur-unsur
Srivastava, 2003
malaria. lingkungan.
Zhou et al., Model statistik berdasarkan hubungan
Persamaan kasus malaria.
2003 iklim terhadap kasus malaria.
26

Penulis Features Metodologi


Levine et al., Prediksi distribusi ekologi dan
Model genetik algoritma parasit malaria.
2004 geografi vektor malaria.
Persamaan regresi antara Analisis MARA Fuzzy Climate Suitability
Omumbo et al.,
trasmisi malaria, parasit malaria Index dan model statistk berdasarkan
2004
dan iklim. data kasus malaria.
Interpretasi trasmisi malaria
berdasarkan parasit malaria, Model statistik antar parasit dan vektor
Paul et al., 2004
vektor malaria dan outbreak malaria.
malaria.
Persamaan dinamik malaria
Smith and Model statistik hubungan antara parasit,
berdasarkan parasit, vektor
McKenzie, 2004 vektor malaria dan manusia.
malaria dan manusia.
Prediksi pola kasus malaria Regresi Poisson dengan PDL
Teklehaimanot
berdasarkan mekanisme biologi (Polynomial Distribusi Lag) model dari
et al., 2004
parasit malaria. unsur cuaca.
Regresi Poisson dengan PDL
Teklehaimanot Prediksi kasus epidemik
(Polynomial Distribusi Lag) model dari
et al., 2004 berdasarkan parasit malaria.
unsur cuaca.
Peta penyebaran malaria Analisis kasus malaria sebelum dan
Briet et al., 2005
sebelum dan setelah tsunami. setelah tsunami.
Chen et al., Identifikasi Anopheles Penentuan tempat perindukan nyamuk
2005 arabiensis dan transmisi. dan kasus malaria.
Hulden et al., Analisis API (Annual Parasite
Zona epidemik malaria.
2005 Incidence) Malaria.
Kopec et al., Early Warning System Malaria Monitoring Online curah hujan di daerah
2005 (EWSM) berbasis curah hujan. epidemik malaria.
Krishnamoorthy, Penentuan zona risiko malaria Survei kasus dan analisis perubahan
et al., 2005 dan perubahan lahan. lahan sebelum dan setelah tsunami.
Perbandingan LandCover dari citra
Mushinzimana, Penentuan tempat nyamuk
LANDSAT ETM 7+, IKONOS, dan
et al., 2005 Anopheles sp.
Aerial Photo.
Early Warming System Malaria
Wibowo, 2005 Integrasi SIG dan kegiatan surveilens
(EWMS).
Keterangan:
* : data diurutkan berdasarkan tahun artikel/ jurnal malaria
(Sumber: www.malariajournal.com dan www.pnas.com)

III. KEADAAN UMUM wilayah dibatasi oleh 60 % daratan dan 40 %


KABUPATEN SUKABUMI lautan dengan batas wilayah sebagai berikut:
Sebelah utara berbatasan dengan
3.1. Kondisi Geografis Kabupaten Bogor
Kabupaten Sukabumi merupakan salah Sebelah selatan berbatasan dengan
satu kabupaten di provinsi Jawa Barat. Samudera Hindia
Kabupaten Sukabumi terletak pada batas Sebelah barat berbatasan dengan
meridian 6043'-7029' Lintang Selatan dan Kabupaten Lebak, Provinsi Banten dan
106049'-107000' Bujur Timur. Kabupaten Samudera Hindia
Sukabumi berjarak tempuh 120 km dari Sebelah timur berbatasan dengan
ibukota negara dan 95 km dari ibukota Kabupaten Cianjur [www.bappeda-
provinsi Jawa Barat. sukabumi.go.id]
Wilayah Kabupaten Sukabumi merupakan
wilayah kabupaten terluas di JawaBali, 3.2. Topografi
sekaligus sebagai salah satu kabupaten Secara topografis profil rupa bumi
tertinggal di Jawa Barat. Luas wilayah Kabupaten Sukabumi umumnya
administratif Kabupaten Sukabumi adalah bergelombang di bagian selatan dan
41280 km2 atau 412799.54 ha. Secara fisik bergunung di bagian utara dan wilayah bagian
tengah. Kabupaten Sukabumi berada pada
ketinggian berkisar antara 02960 meter di