Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PENDAHULUAN

SPACE OCCUPYING LESION (SOL)

A. Konsep Dasar

1. Pengertian

SOL (Space Occupying Lesion) merupakan generalisasi masalahmengenaiadanya lesi

pada ruang intracranial khususnya yang mengenai otak. (Suzanne danBrenda G Bare.

2008). SOL disebut juga tumor otak atau tumor intracranial merupakan sebuah lesi yang

terletak pada intrakranial yang menempati ruang didalam tengkorak .(Suzanne C.smaltzer

2001)

2. Anatomi Fisiologi

Susunan saraf adalah sistem yang menngontrol tubuh kita yang terus menerus

menerima, menghantarkan dan memproses suatu informasi dan bersama sistem hormon,

susunan saraf mengkoordinasikan semua proses fungsional dari berbagai jaringan tubuh,

organ dan sistem organ manusia.

Pembagian susunan saraf: (Muttaqin, Arif, 2008)

a. Susunan saraf pusat

1) Medulla spinalis

2) Otak: - otak besar

- otak kecil

- batang otak

b. Susunan saraf perifer

1) Susunan saraf somatik

2) Susunan saraf otonom

3) Susunan saraf simpatis

4) Susunan saraf parasimpatis


5) Susunan saraf somatik adalah susunan saraf yang mempunyai peranan spesifik untuk

mengatur aktivitas otot sadar atau serat lintang. Saraf ini mengontrol otot rangka

dan mengahantarkan impuls sensori ke otak. Susunan saraf otonom atau tidak sadar

adalah susunan saraf yang mempunyai peranan penting mempengaruhi pekerjaan

otot involunter (otot polos) seperti jantung, hati, pankreas, jalan pencernaan,

kelenjar, dan lain-lain. Susunan saraf otonom dibagi menjadi susunan saraf simpatik

(menyebabkan tubuh dalam keadaan aktif) dan susunan saraf parasimpatik (sistem

pengontrol konstruktif dan menyenangkan).

MEANINGEN

Meaningen (selaput otak) adalah selaput yang membungkus otak dan sumsum tulang

belakang, melindungi struktur saraf halus yang membawa pembuluh darah dan cairan

sekresi (cairan cerebrospinalis), memperkecil benturan atau getaran yang terdiri dari tiga

lapisan.

Durameter (lapisan luar) adalah selaput keras pembungkus otak yang berasal dari

jaringan ikat tebal dan kuat. Durameter pada tempat tertentu mengandung rongga yang

mengalirkan darah vena ke otak.

Arakhnoid (lapisan tengah) merupakan selaput halus yang memisahkan durameter

dengan piameter membentuk sebuah kantong atau balon berisi cairan otak yang meliputi

seluruh susuanan saraf sentral.

Medula spinalis terhenti setinggi di bawah lumbal I-II, terdapat sebuah kantong berisi

cairan.

Piameter (lapisan dalam) merupakan selaput tipis yang terdapat pada permukaan

jaringan otak. Piameter berhubungan dengan arakhnoid melalui struktur-struktur jaringan

ikat yang disebut trabekel.


OTAK

Otak merupakan alat tubuh yang sangat penting karena merupakan pusat komputer

dari semua alat tubuh. Bagain dari saraf sentral yang terletak di dalam rongga tengkorak

(cranium) dibungkus oleh selaput otak yang kuat. Otak berkembang dari sebuah tabung

yang mulanya memperlihatkan tiga gejala pembesaran otak awal.

a.Otak depan menjadi hemisfer serebri, corpus striatum, talamus, serta hipotalamus.

b. Otak tengah, tegmentum, krus serebrium, corpus kuadrigeminus.

c. Otak balakang, menjadi pons saroli, medula oblongata, dan serebelum.

SEREBRUM

Serebrum (otak besar) merupakan bagian yang terluas dan terbesar dari otak,

berbentik telur, mengisi penuh bagian depan atas rongga tengkorak. Pada otak besar

ditemukan beberapa lobus, yaitu:

a.Lobus frontalis, adalah bagian dari serebrum yang terletek di depan sulkus sentralis

berfungsi untuk mengontrol perilaku individu, membuat keputusan, kepribadian dan

menahan diri.

b. Lobus parientalis, terdapat di depan sulkus sentralis dan dibelakangi oleh korako

oksipitalis, berfungsi menginterpretasikan sensasi, berfungsi mengatur individu

mampu mengetahui posisi dan letak bagain tubuhnya.

c. Lobus temporal, terdapat di bawah lateral dari fisura serebralis dan di depan lobus

oksipitalis berfungsi menginterpretasikan sensasi kecap, bau, pendengaran, dan

ingatan jangka pendek.

d. Lobus oksipitalis, yang mengisi bagian belakang dari serebrum berfungsi dalam

menginterpretasikan penglihatan.
Korteks serebri selain dibagi dalam lobus dapat juga dibagi menurut fungsi dan

banyaknya area. Campbel membagi bentuk korteks serebri menjadi 20 area. Secara umum

korterks serebri dibagi mejadi 4 bagian:

a. Korteks sensoris. Pusat sensasi umum primer atau hemiserebri yang mengurus bagian

badan luar daerah korteks yang menangani suatu alat atau bagain tubuh bergantung

pada fungsi alat yang bersangkutan. Disamping itu juga korteks sensoris bagian fisura

lateralis menangani bagian tubuh bilateral lebih dominan.

b. Korteks asesori. Tiap indra manusia, korteks asesori sendiri merupakan kemampuan

otak manusia dalam bidang intelektual, ingatan, berpikir, rangsangan, yang ditermia

diolah dan disimpan serta dihubungkan dengan data yang lain.

c. Korteks motoris. Menerima impuls dari korteks sensori, fungsi utamanya adalah

kontribusi pada traktus piramidalis yang mengatur bagian tubuh kontra lateral.

d. Korteks pre-frontal. Terletak pada lobus frontalis berhubungan dengan sikap mental

dan kepribadian.

Fungsi serebrum:

a. Mengingat pengalaman masa lalu.

b. Pusat persarafan yang menangani, aktivitas mental, akal, intelegensi, keinginan dan

memori.

c. Pusat menangis, buang air besar, dan buang air kecil.

BATANG OTAK

Diensefalon ke atas berhubungan dengan serebrum dan medula oblongata ke bawah

dengan medula spinalis. Serebrum melekat pada batang otak dibagian medula oblongata.

Pons varoli dan mensefalon. Hubungan serebelum dan medula oblongata disebut korpus
refiformi, sebelum dengan pons varoli disebut brakium pontis, dan serebelum dengan

mensefalon disebut brakium konjungtiva.

Batang otak terdiri dari:

a. Diensefalon, bagain batang otak paling atas terdapat diantara serebelum dengan

mensefalon. Diensefalon dibagi menjadi 4 wilayah:

1) Talamus merupakan stasium pemancar yang menerima impuls aferen dari seluruh

tubuh lalu memprosesnya dan meneruskannya ke segmen otak yang lebih tinggi.

2) Hipotalamus merupakan pusat pengontrol susunan saraf otonom juga

mempengaruhi metabolisme, observasi makanan, dan mengatur suhu tubuh,

karena letaknya dekat dengan kelenjar pituitari.

3) Subtalamus. Fungsinya belum dapat dimengerti sepenuhnya tetapi lesi pada

subtalamus dapat menimbulkan diskenisia diamatis yang disebut nemibalismus

yang ditandai olah gerakan kaki atau tangan yang terhempas kuat pada satu sisi

tubuh (gerakan involunter).

4) Epitalamus. Dengan sistem limbik dan berperan pada beberapa dorongan emosi

dasar dan itegrasi informasi olfaktorius.

Fungsi diensefalon:

1) Vasokonstriktor, mengecilkan pembuluh darah.

2) Respiratori, membantu proses persarafan.

3) Mengontrol kegiatan refleks.

4) Membantu kerja jantung.

b. Masenfalon, atap dari masenfalon terdiri dari 4 bagian yang menonjol ke atas. Dua

disebelah atas disebut korpus kuadrigeminus superior dan dua disebelah bawah

disebut kuadrigeminus inferior.

Fungsi mensefalon:
1) Membantu pergerakan mata dan mengangkat kelopak mata.

2) Memutar mata dan pusat pergerakan mata.

c. Pons varoli, brakium pontis yang menghubungkan mensefalon dengan pons varoli

dengan serebelum, terletak di depan serebelum diantara otak tengah dan medula

oblongata. Disini terdapat premotoksid yang mengatur gerakan pernapasan dan

refleks. Fungsinya:

1) Penghubung antara kedua bagian serebelum dan juga antara medula oblongata

dengan serebelum / otak besar.

2) Pusat nervus trigeminus.

d. Medula oblongata, merupakan bagian dari batang otak yang paling bawah yang

menghubungkan pons varoli dengan medula spinalis. Fungsi medula obongata:

1) Mengontrol kerja jantung.

2) Mengecilkan pembuluh darah (vasokonstriktor).

3) Pusat pernapasan.

4) Mengontrol kegiatan reflex

SEREBELUM

Serebelum (otak kecil) terletak pada bagian bawah dan belakang tengkorak

dipisahkan dengan serebelum oleh fisura transveralis di belakangi oleh pons varoli dan

diantar medula oblongata. Organ ini banyak meneri serabut aferen sensoris, merupakan

pusat koordinasi dan integrasi.

Korteks serebelum dibentuk oleh substansia grisea terdiri dari 3 lapisan yaitu granular

luar, lapisan purkinye, dan lapisan granular dalam. Serabut saraf yang masuk dan yang

keluar dari serebelum harus melewati serebelum.


SARAF OTAK

Susunan saraf terdapat pada bagian kepala yang keluar dari otak dan melewati libang

yang terdapat pada tulang tengkorak, berhubungan erat dengan otak panca indra mata,

telinga, hidung, lidah dan kulit. Saraf kepala terdiri dari:

a. Nervus olfaktorius. Sifatnya sensoris menyerupai hidung, membawa rangsangan

aroma (bau-bauan) dari rongga hidung ke otak.

b. Nervus optikus. Sifatnya sensoris, mensarafi bola mata, membawa rangsangan

penglihatan ke otak.

c. Nervus okulomotoris. Saraf ini bersifat motoris, mensarafi otot-otot orbital (otot-otot

penggerak bola mata).

d. Nervus troklealis. Sifatnya motoris, mensarafi otot-otot orbital dan merupakan saraf

pemutar mata yang pusatnya terletak di belakang pusat saraf penggerak mata.

e. Nervus trigeminus. Sifatnya majemuk (sensoris-motoris), saraf ini mempunyai 3

cabang:

1) Nervus oflamikus: sifatnya sensoris, mensarafi kulit kepala bagian depan,kalopak

mata atas, selaput lendir kelopak mata, dan bola mata.

2) Nervus maksialis: sifatnya sensoris, mensarafi gigi atas, bibir atas, palatum,

batang hidung, rongga hidung, dan sinus maksilaris.

3) Nervus mandibularis: sifatnya majemuk (sensori-motori). Serabut-serabut

motorisnya mensarafi otot-otot pengunyah.

f. Nervus abdusen. Sifatnya motoris, mensarafi otot-otot orbital. Fungsinya sebagai

saraf penggoyang sisi mata.

g. Nervus fasialis. Sifatnya majemuk (sensori-motoris), serabut-serabut motorisnya

mensarafi otot-otot lidah dan selaput lendir rongga mulut. Di dalam saraf ini terdapat
serabut-serabut saraf otonom (parasimpatis) untuk wajah dan kulit kepala. Fungsi

sebagai mimik wajah dan menghantarkan rasa pengecap.

h. Nervus auditorius. Sifatnya sensori, mensarafi alat pendengar, membawa rangsangan

dari pendengaran dan dari telingan ke otak. Fungsi sebagai saraf pendengar.

i. Nervus glosofaringeus. Sifatnya majemuk (sensori-motoris), ia mensarafi faring,

tonsil dan lidah. Saraf ini dapat membawa rangsangan cita rasa ke otak.

j. Nervus vagus. Sifatnya majemuk (sensori-motoris), mengandung serabut-serabut

saraf motorik, sensorik dan parasimpatis, faring, laring, paru-paru, esofagus, gaster

intestinum minor, kelenjar-kelenjar pencernaan dalam abdomen, dan lain-lain.

k. Nervus asesorius. Sifatnya motoris dan mensarafi muskulus sternokleidomastoid dan

muskulus trapezium. Fungsinya sebagai saraf perasa.

l. Nervus hipoglosus. Sifatnya motoris dan mensarafi otot-otot lidah. Fungsinya sebagai

saraf lidah.

m. Selain saraf-saraf otak terdapat juga saraf medula spinalis yang berjumlah 31 pasang:

a. Servikal: 8 pasang

b. Torakal: 12 pasang

c. Lumbal: 5 pasang

d. Sakral: 5 pasang

e. Koksigea: 1 pasang

Penyebaran semua saraf medula spinalis dimulai dari torakal 1 sampai dengan lumbal

3, mempunyai cabang-cabang dalam saraf akan keluar membentuk pleksus dan ini akan

membentuk saraf tepi (perifer):

a. Pleksus servikalis, dibentuk oleh cabang-cabang saraf servikalis anterior dari saraf

servikal 4 dan torakal 1, saraf terpenting nervus mediana.


b. Pleksus lumbalis, dibuat oleh serabut saraf dan torakal 12, saraf terbesar yaitu nervus

femoralis dan nervus obturator.

c. Pleksus lubrosakralis, dibentuk oleh saraf lumbal dan sakral, saraf skiatik yang

merupakan saraf terbesar keluar mempersarafi otot anggota gerak bawah.

Pembuluh darah yang mendarahi otak tardiri dari :

a. Sepasang pembuluh darah karotis : denyut pembuluh darah besar ini dapat kita raba

dileher depan, sebelah kiri dan kanan dibawah mandibula, sepasang pambuluh darah

ini setelah masuk ke rongga tengkorak akan bercabang menjadi tiga :

1) Sebagian menuju ke otak depan (arteri serebri anterior)

2) Sebagian menuju ke otak belakang (arteri serebri posterior)

3) Sebagian menuju otak bagian dalam (arteri serebri interior)

Ketiganya akan saling berhubungan melalui pembuluh darah yang disebut arteri

komunikan posterior.

b. Sepasang pembuluh darah vertebralis : denyut pembuluh darah ini tidak dapat diraba

oleh karna kedua pembuluh darah ini menyusup ke bagian samping tulang leher,

pembuluh darah ini mendarahi batang otak dan kedua otak kecil, kedua pembuluh

darah teersebut akan saling berhubungan pada permukaan otak pembuluh darah yang

disebut anastomosis.

Cairan serebrospinal adalah hasil sekresi pleksus koroid. Cairan ini bersifat alkali

bening mirip plasma. Sirkulasi cairan serebrospinalis, cairan ini disalurkan oleh pleksus

koroid ke dalam ventrikel yang ada dalam otak, kemudian cairan masuk ke dalam kanalis

sumsum tulang belakang dan ke dalam ruang subarackhnoid melalui ventrikularis.

Setelah melintasi ruangan seluruh otak dan sumsum tulang belakang maka kembali ke

sirkulasi melalui glandula arakhnoid pada sinus sagitalis superior. Perjalanan cairan
serebrospinalis, setelah meninggalkan ventrikel lateralis (ventrikel I dan II) cairan otak

dan sumsumtulang belakang menuju ventrikel III melalui foramen monroi dan terus ke

ventrikel IV melalui aquaduktus silvi cairan dialirkan ke foramen magendi selanjutnya ke

sisterna magma dan ke kanalis spinalis. Dari sisterna magna cairan akan membasahi

bagian-bagian dari otak. Selanjutnya, cairan ini akan diabsorpsi oleh vili-vili yang

terdapat pada arakhnoid.

Gambar : Bagian-bagian otak

3. Klasifikasi

Stadium tumor berdasarkan sistem TNM ( stadium TNM ). Terdiri dari 3 kategori,

yaitu : T ( tumor primer ), N ( nodul regional, metastase ke kelenjar limfe regional ) dan

M ( metastase jauh ).

Kategori T :

Tx = syarat minimal menentukan indeks T tidak terpenuhi.

Tis = Tumor in situ.

T0 = Tidak ditemukan adanya tumor primer.

T1 = Tumor dengan f maksimal < 2 cm.

T2 = Tumor dengan f maksimal 2 5 cm.

T3 = Tumor dengan f maksimal > 5 cm.


T4 = Tumor invasi keluar organ.

Kategori N :

N0 = Nodul regional negative.

N1 = Nodul regional positif, mobile ( belum ada perletakan ).

N2 = Nodul regional positif, sudah ada perlekatan.

N3 = Nodul jukstregional atau bilateral.

Kategori M :

Mo = Tidak ada metastase organ jauh.

M1 = Ada metastase organ jauh.

M2 = Syarat minimal menentukan indeks M tidak terpenuhi.

Tumor otak dapat diklasifikasikan sebagai berikut menurut (Lionel Ginsberg,

Neurologi :117) yaitu :

1. Benigna umumnya ekstra aksial, yaitu tumbuh dari meningen, nervus

kranialis, atau struktur lain dan menyebabkan kompresi ekstrinsik pada

substansi otak.

2. Maligna umumnya intra aksial yaitu berasal dari parenkim otak :

a) Primer umumnya berasal dari sel glia/neurobia ( glioma ) tumor ini

diklasifikasikan maligna karena sifat invasif lokal, metastasis

ekstrakranial sangat jarang, dan dikenali sebagai subtipe histologi dan

derajat diferensiasi.

b) Sekunder metastasis dari tumor maligna dari bagian tubuh lainnya.

4. Etiologi

Penyebab tumor sampai saat ini belum diketahui secara pasti, walaupun telah banyak

penyelidikan yang dilakukan. Adapun faktor-faktor yang perlu ditinjau yaitu:

a. Radiasi
Jaringan dalam sistem saraf pusat peka terhadap radiasi dan dapat mengalami

perubahan degenerasi, namun belum ada bukti radiasi dapat memicu terjadinyasuatu

glioma

b. Virus

Banyak penelitian tentang inokulasi virus dengan maksud untuk mengetahui peran

infeksi virus dalam proses terjadinya neoplasma, tetapi hingga saat ini

belumditemukanhubunganantarainfeksivirusdenganperkembangantumorpadasistem

saraf pusat.

c. Substansi-substansi karsinogenik

Penyelidikan tentang substansi karsinogenik sudah lama dan luas dilakukan. Kinitelah

diakui bahwa ada substansi yang karsinogenik.

d. Herediter

Riwayat tumor otak dalam satu anggota keluarga jarang ditemukan kecuali pada

meningioma, astrositoma dan neurofibroma dapat dijumpai pada anggota-anggota

sekeluarga. Sklerosis tuberose atau penyakit Sturge-Weber yang dapat dianggap sebagai

manifestasi pertumbuhan baru, memperlihatkan faktor familial yang jelas.

e. Sisa-sisa Sel Embrional (Embryonic Cell Rest).

Bangunan-bangunan embrional berkembang menjadi bangunan-bangunan yang

mempunyai morfologi dan fungsi yang terintegrasi dalam tubuh. Tetapi ada kalanya

sebagian dari bangunan embrional tertinggal dalam tubuh, menjadi ganas dan merusak

bangunan di sekitarnya.
5. Manifestasi Klinik

Tanda dan gejala umum:

a. Nyeri kepala berat pada pagi hari, makin tambah bila batuk dan membungkuk.

b. Kejang.

c. Tanda-tanda peningkatan TIK: nyeri kepala, papil edema, muntah.

d. Perubahan kepribadian.

e.Gangguan memori dan alam perasa

Menurut lokasi tumor:

a. Lobus frontalis

Gangguan mental/ gangguan kepribadian ringan: depresi, bingung, tingkah lakuaneh,

sulit memberi argumentasi, gangguan bicara.

b. Lobus oksipital

Kejang, gangguan penglihatan.

c. Lobus temporalis

Tinnitus, halusinasi pendengaran, afasia sensorik, kelumpuhan otot wajah.

d. Lobus parietalis

Hilang fungsi sensorik, gangguan penglihatan.

e. Cerebellum

Papil edema, nyeri kepala, gangguan motorik, hiperekstremitas sendi, hipotonia.

6. Patofisiologis

Fase awal abses otak ditandai dengan edema lokal, hiperemia infiltrasi leukosit atau

melunaknya parenkim. Trombisis sepsis dan edema. Beberapa hari atau minggu dari fase

awal terjadi proses liquefaction atau dinding kista berisi pus. Kemudian terjadi ruptur, bila

terjadi ruptur maka infeksi akan meluas keseluruh otak dan bisatimbul meningitis. ( long,

2006).
Abses otak (AO) dapat terjadi akibat penyebaran perkontinuitatum dari focus infeksi

di sekitar otak maupun secara hematogen dari tempat yang jauh, atau secara langsung

seperti traumakepala dan operasi kraniotomi.Abses yang terjadi olehpenyebaran

hematogendapatpada setiapbagian otak,tetapipaling seringpadapertemuan substansia alba

dan grisea; sedangkan yang perkontinuitatum biasanyaberlokasi pada daerah dekat

permukaan otak pada lobus tertentu. Pada tahap awal AOterjadi reaksi radang yang difus

pada jaringan otak dengan infiltrasi lekosit disertaiudem, perlunakan dan kongesti jaringan

otak, kadang-kadang disertai bintikperdarahan. Setelah beberapaharisampai

beberapamingguterjadinekrosisdan pencairan pada pusat lesi sehingga membentuk suatu

rongga abses. Astroglia, fibroblast dan makrofag mengelilingi jaringan yang nekrotik.

Mula-mula abses tidak berbatas tegas tetapi lama kelamaan dengan fibrosis yang progresif

terbentuk kapsuldengan dindingyang konsentris. Tebal kapsul antara beberapa milimeter

sampaibeberapa sentimeter.

7. Penatalaksanaan

Sasaran penatalaksanaan adalah untuk mengangkat semua tumor atau sebanyak

yang memungkinkan tanpa meningkatkan devisit neorologis (paralisis, kebutaan) atau

mencapai kehilangan gejala-gejala dengan pengangkatan tumor sebagian (dekompresi),

terapi radiasi, kemoterapi, atau kombinasi dari keduanya. Evaluasi dan pengobatan harus

dilakukan sesegera mungkin sebelum terjadi kerusakan neurologis yang tidak dapat pulih

kembali. Sebagian besar pasien menjalani prosedur pembedahan neuro, diikuti dengan

radiasi, dan kemungkinan kemoterapi (Baughman & Hackley, 2000)

Terapi yang lain

1. Kortikosteroid untuk mencegah pembengkakan pasca operasi.

2. Transpalasi sumsum tulang autolog intravena untuk toksisitas sumsum tulang yang

berkaitan dengan tingginya dosis obat dan radiasi.


3. Implan radioisotop langsung ke dalam tumor otak (Baughman & Hackley, 2000)

Intervensi keperawatan

1. Evaluasi reflek gag dan kemampuan untuk menelan setelah tindakan operatif

2. Ajarkan klien untuk mengarahkan makanan dan cairan ke bagian yang tidak sakit,

baringkan dengan posisi tegak untuk makan, berikan diit semilunak, dan siapkan

penghisap untuk berjaga-jaga jika terjadi kehilangan respon gag.

3. Kaji kembali fungsi pasca operasi, karena dapat saja terjadi perubahan.

4. Lakukan pemeriksaaan neurologis; pantau tanda-tanda vital; pertahankan laju catatan

neurologis; berikan jarak waktu untuk intervensi keperawatan sehingga dapat

mencegah terjadinya peningkatan TIK yang cepat.

5. Orientasi kembali pasien jika perlu terhadap orang, waktu, dan tempat.

6. Gunakan alat pengorientasi (benda-benda milik pribadi, foto-foto, jam), lakukan

supervisi dan bantu saat melakukan perawtan diri, dan pantau serta lakukan intervensi

untuk mencegah cidera.

7. Dengan cermat, pantau pasien dengan kejang.

8. Periksa fungsi motorik dengan interval yang teratur, kaji adanya gangguan sensori.

9. Evaluasi kemampuan bicara; kaji gerakan mata, ukuran dan reaksi pupil (Baughman

& Hackley, 2000)

8. Pemeriksaan diagnostik/penunjang

a. CT Scan : Memberi informasi spesifik mengenal jumlah, ukuran, kepadatan, jejas

tumor, dan meluasnya edema serebral sekunder serta memberi informasitentang sistem

vaskuler.

b. MRI : Membantu dalam mendeteksi jejas yang kecil dan tumor didalambatang otak dan

daerah hiposisis, dimana tulang menggangu dalam gambaranyang menggunakan CT Scan


c. Biopsi stereotaktik : Dapat mendiagnosa kedudukan tumor yang dalam dan untuk

memberi dasar pengobatan seta informasi prognosi.

d. Angiografi : Memberi gambaran pembuluh darah serebal dan letak tumor

e. Elektroensefalografi (EEG) : Mendeteksi gelombang otak abnormal.

9. Komplikasi

a. Gangguan fungsi neurologis.

Jika tumor otak menyebabkan fungsi otak mengalami gangguan pada serebelum maka

akan menyebabkan pusing, ataksia ( kehilangan keseimbangan ) atau gaya berjalan

yang sempoyongan dan kecenderunan jatuh ke sisi yang lesu, otot-otot tidak

terkoordinasi dan ristagmus ( gerakan mata berirama tidak disengaja ) biasanya

menunjukkan gerakan horizontal

b.Gangguan kognitif.

Pada tumor otak akan menyebabkan fungsi otak mengalami gangguan sehingga

dampaknya kemampuan berfikir, memberikan rasional, termasuk proses mengingat,

menilai, orientasi, persepsi dan memerhatikan juga akan menurun.

c. Gangguan tidur & mood

Tumor otak bisa menyebabkan gangguan pada kelenjar pireal, sehingga hormone

melatonin menurun akibatnya akan terjadi resiko sulit tidur, badan malas, depresi, dan

penyakit melemahkan system lain dalam tubuh.

d. Disfungsi seksual

a. Pada wanita mempunyai kelenjar hipofisis yang mensekresi kuantitas prolaktin yang

berlebihan dengan menimbulkan amenurrea atau galaktorea (kelebihan atau aliran

spontan susu )

b. Pada pria dengan prolaktinoma dapat muncul dengan impoteni dan hipogonadisme.
B. Landasan Teori AsuhanKeperawatan

1. Identitas Klien

Mencangkup nama, usia (pada masalah disfungsi neurologis kebanyakan terjadi

pada usia tua), jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa,

tanggal dan jam masuk rumah sakit (MRS), nomor register, dan diagnosa medis.

2. Riwayat Kesehatan

a. Keluhan Utama

Nyeri kepala.

Mual dan muntah

Kejang.

b. Riwayat Kesehatan Sekarang

o Gejala yang menyertai : Gangguan kesadaran, Kebingungan, hilang keseimbangan,

pucat, mual dan muntah, gangguan pada penglihatan bau dan rasa

c. Riwayat Kesehatan Dahulu

o Apakah pernah mengalami cedera kepala.

d. Riwayat Kesehatan Keluarga

o Apakah ada keluarga yang pernah mengalami tumor otak.

3. Pola Fungsional Gordon

1. Pola persepsi kesehatan dan manajemen Kesehatan

Tindakan yang dilakukan sebelum masuk R.S : Pasien minum obat anti nyeri.

2. Pola Nutrisi / Metabolik

Didapatkan adanya keluhan kesulitan menelan, nafsu makan menurun, mual dan

muntah pada fase akut. Mual dan muntah terjadi sebagai akibat rangsangan pusat

muntah pada medula oblongata. Muntah paling sering terjadi pada anak-anak dan
berhubungan dengan peningkatan intrakranial disertai pergeseran batang otak.

Muntah dapat terjadi tanpa didahului mual dan dapat berupa muntah proyektil.

3. Pola Eliminasi

Inkontenensia urin yag berlanjut menunjukkan kerusakan neurologis luas

4. Pola Aktivitas dan Latihan

Adanya kesulitan untuk beraktivitas karena kelemahan, kehilangan sensori, dan

mudah lelah menyebabkan masalah pada pola aktivitas dan latihan.

5. Pola Istirahat dan Tidur

Tidur dan istirahat klien terganggu karena nyeri kepala

6. Pola Perseptual / Kognitif

Penglihatan :perubahan dalam penglihatan

Pendengarangan : kehilangan pendengaran

Perabaan :sensitive terhadap sentuhan dan gerakan

Bagaimana persepsi terhadap panca indra :terjadi kehilamgan

pengindraanqseperti,pengecpan,penciuman dan pendengaran

7. Pola Peran Hubungan

Adanya perubahan hubungan dan peran karena klien mengalami kesulitan untuk

berkomunikasi akibat gangguan bicara.

8. Pola Seksualitas/ Reproduksi

Berdampak pada hubungan dan perubahan tingkat kepuasan.

9. Pola Koping- Toleransi Stres

Biasanya mengalami kesulitan untuk memecahkan masalah karena berpikir dan

kesulitan berkomunikasi. Klien mengalami ketakutan akan kecacatan, rasa cemas,

rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal, dan padangna

terhadap dirinya yang salah (gangguan citra tubuh).


10. Pola Persepsi Diri / Konsepsi Diri

Klien merasa tidak berdaya, tidak ada harapan, mudah marah, tidak kooperatif

11 Pola Nilai dan Keyakinan

Klien biasanya jarang melakukan ibadah spiritual karena tingkah laku yang tidak

stabil, dan kelemahan/ kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh

4. Pemeriksaan Fisik

a) Keadaan umum

Klien tampak lemah, hanya tiduran ditempat tidur.

b) Kesadaran

GCS : E4. M6. V5. 15 composmentis.

c) Tanda tanda vital

Tekanan darah : mm/Hg. Suhu : oC. Nadi : kali/menit. Respirasi : kali/menit.

d) Kepala

Tampak benjolan sebesar buah jeruk, warna sama dengan sekitar.

e) Mata

Tidak anemis, sklera tidak ikterik, penglihatan berkurang, bola mata Nampak merah

.f) Hidung

Rongga bersih, tidak ada sekret / darah.

g) Telinga

Tampak simetris da n bersih

h) Mulut

Tidak terjadi sianosis dan bersih.

i) Leher

Tidak terdapat kelenjar thiroid.


j) Thorax

Jantung

I : ictus carotis tidak tampak.

P : ictus carotis teraba di sic V.

P : konfigurasi jantung abnormal.

A : bunyi jantung I II normal.

Paru

I : bentuk nampak simetris saat statis dan dinamis.

P : taktil formitus normal antara kanan dan kiri.

P : suara sonor pada intercostal IV V dada kanan.

A : suara nafas vaskuler.

k) Abdomen

I : bentuk datar, tidak ada venektasi

A : peristaltik usus 18 kali / menit.

Pe : tidak ada nyeri tekan.

P : terdengar suara timpani

l) Ekstrimitas

Atas : tidak terdapat lesi, edema, terpasang infus disebelah kiri

Bawah : tidak terdapat lesi, oedema dan fraktur.

m) Pemeriksaan saraf kranial

a) Saraf I : Pada klien tumor intrakranial yang tidak mengompresi saraf ini tidak

ada kelainan pada fungsi penciuman.

b) Saraf II : Gangguan lapang pandang disebabkan lesi pada bagian tertentu dari

lintasan visual (khiasma optikum, traktus optikus, korpus genikolatum

lateraleradrasiooptika, lobus oksipitalis, korteks asosiatif).


c) Saraf III, IV, VI : Adanya kelumpuhan unilateral atau bilateral dari saraf VI

memberikan manifestasi pada suatu tanda adanya glioblastoma multiforme.

d)Saraf V : Pada keadaan tumor intrakranial yang tidak mengompresi saraf

trigeminus maka tidak ada kelainan pada fungsi saraf ini. Pada neurolema

yang mengganggu saraf ini akan didapatkan adanya parilisis wajah unilateral.

e) Saraf VII : Persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah asimetris, otot

wajah tertarik kebagian sisi yang sehat.

f) Saraf VIII : Pada neurolema di dapatkan adanya tuli persepsi. Tumor lobus

temporalis menyebabkan tinnitus dan halusinasi pendengaran yang mungkin

di akibatkan iritasi korteks pendengaran temporalis atau korteks yang

berbatasan.

g) Saraf IX dan X : Kemampuan menelan kurang baik, kesukaran membuka

mulut.

h) Saraf XI : Tidak ada atrofi otot sternokleidomastoldeus dan trapezius.

i) Saraf XII : Lidah simetris, terdapat deviasi pada satu sisi dan fasikulasi. Indra

pengecapan normal.

n) Pemeriksaan Fisik Neurologis

Tingkat Kesadaran dibagi menjadi dua yaitu kualitatif dan kuantitatif

a. Kualitatif

1) Komposmentis (kesadaran yang normal)

2) Somnolen: keadaan mengantuk.

Kesadaran dapat pulih penuh bila dirangsang. Biasa disebut juga letargi. Penderita

mudah dibangunkan, mampu memberi jawaban verbal dan menangkis rangsang

nyeri
3) Sopor (stupor): kantuk yang dalam.

Masih dapat dibangunkan dengan rangsang yang kuat, namun kesadarannya

segera menurun kembali. Masih mengikuti suruhan singkat, terlihat gerakan

spontan. Dengan rangsang nyeri penderita tidak dapat dibangunkan sempurna.

Tidak diperoleh jawaban verbal dari penderita tetapi gerak motorik untuk

menangkis rangsang nyeri masih baik

4) Koma ringan

Tidak ada respon terhadap rangsang verbal. Reflek kornea, pupil masih baik.

Gerakan timbul sebagai respon dari rangsang nyeri tetapi tidak terorganisasi.

Penderita sama sekali tidak dapat dibangunkan

5) Koma dalam atau komplit

Tidak ada gerakan spontan. Tidak ada jawaban sama sekali terhadap rangsang

nyeri yang bagaimanapun kuatnya.

b. Kuantitatif (Skala Koma Glasgow)

1) Membuka Mata

Spontan 4

Dengan perintah/ di goyang 3

Dengan rangsang nyeri 2

Tidak ada reaksi 1

2) Respon verbal (bicara)

Baik, tidak ada disorientasi 5

Bingung/ ragu (bisa membentuk kalimat tapi kacau) 4

Bisa membentuk kata tapi tidak sesuai 3

Bisa bicara tapi tidak berarti 2

Tidak ada respon 1


3) Respon Motorik

Menuruti perintah 6

Dapat melokalisir adanya rangsangan nyeri 5

Reaksi menghindar 4

Tidak tau dimana rangsangan 3

Reaksi abnormal 2

Reaksi 1

c. Kekuatan Otot

(0) Paralisis total atau tidak ditemukan adanya kontraksi pada otot

(1) Kontraksi otot yang terjadi hanya berupa perubahan dari tonus otot yang dapat

diketahui dengan palpasi dan tidak dapat menggerakkan sendi.

(2) Otot hanya mampu menggerakkan persendian tetapi kekuatannya tidak dapat

melawan pengaruh gravitasi.

(3) Selain dapat menggerakkan sendi, otot juga dapat melawan pengaruh gravitasi

tetapi tidak kuat terhadap tahanan yang diberikan oleh pemeriksa.

(4) Kekuatan otot seperti pada tingkat 3 disertai dengan kemampuan otot terhadap

tahanan yang ringan

(5) Kekuatan otot normal

d. Rangsangan Meningeal

Kaku kuduk

Untuk memeriksa kaku kuduk dapat dilakukan sbb:

Tangan pemeriksa ditempatkan dibawah kepala pasien yang sedang berbaring,

kemudian kepala ditekukan (fleksi) dan diusahakan agar dagu mencapai dada.

Selama penekukan diperhatikan adanya tahanan. Bila terdapat kaku kuduk kita
dapatkan tahanan dan dagu tidak dapat mencapai dada. Kaku kuduk dapat bersifat

ringan atau berat.

Kernig sign

Pada pemeriksaan ini, pasien yang sedang berbaring difleksikan pahanya pada

persendian panggul sampai membuat sudut 90. Setelah itu tungkai bawah

diekstensikan pada persendian lutut sampai membentuk sudut lebih dari 135

terhadap paha. Bila teradapat tahanan dan rasa nyeri sebelum atau kurang dari

sudut 135, maka dikatakan Kernig sign positif.

Brudzinski I (Brudzinskis neck sign)

Pasien berbaring dalam sikap terlentang, dengan tangan yang ditempatkan dibawah

kepala pasien yang sedang berbaring , tangan pemeriksa yang satu lagi sebaiknya

ditempatkan didada pasien untuk mencegah diangkatnya badan kemudian kepala

pasien difleksikan sehingga dagu menyentuh dada. Test ini adalah positif bila

gerakan fleksi kepala disusul dengan gerakan fleksi di sendi lutut dan panggul

kedua tungkai secara reflektorik.

Brudzinski II (Brudzinskis contralateral leg sign)

Pasien berbaring terlentang. Tungkai yang akan dirangsang difleksikan pada sendi

lutut, kemudian tungkai atas diekstensikan pada sendi panggul. Bila timbul gerakan

secara reflektorik berupa fleksi tungkai kontralateral pada sendi lutut dan panggul

ini menandakan test ini postif.

Lasegue sign

Untuk pemeriksaan ini dilakukan pada pasien yang berbaring lalu kedua tungkai

diluruskan (diekstensikan), kemudian satu tungkai diangkat lurus, dibengkokkan

(fleksi) persendian panggulnya. Tungkai yang satu lagi harus selalu berada dalam

keadaan ekstensi (lurus). Pada keadaan normal dapat dicapai sudut 70 sebelum
timbul rasa sakit dan tahanan. Bila sudah timbul rasa sakit dan tahanan sebelum

mencapai 70 maka disebut tanda Lasegue positif. Namun pada pasien yang sudah

lanjut usianya diambil patokan 60.

e. Pemeriksaan Refleks

1. Refleks Fisiologis

Reflek Tendon Patella

Minta pasien duduk dan tungkai menggantung di tempat tidur, rilekskan pasien

dan alihkan perhatian untuk menarik kedua tangan di depan dada dan pukul

tendon patella.

Reflek bisep

Fleksikan lengan pasien pada bagian siku smpai 450 dengan posisi tangan

pronasi, letakkan ibu jari pemeriksa pada dasar tendon bisep dan jari-jari lain di

atas tendon bisep dan pukul ibu jari dengan reflek hammer

Reflek trisep

Pegang lengan bawah penderita yang disemifleksikan , kemudian ketuklah

tendon insersio m.triceps pada atas olecranon atau topang lengan yang berada

dalam keadaan abduksi dengan lengan bawah yang tergantung bebas kemudian

lakukan ketukan. Respon : terjadi gerakan ekstensi elbow.

2. Reflek Patologis

Babynski Test

Tes ini dilakukan dengan menggoreskan ujung palu reflex pada telapak kaki

pasien mulai dari tumit menuju ke atas bagian lateral telapak kaki setelah

sampai di kelingking goresan dibelokkan ke medial dan berakhir dipangkal

jempol kaki. Tanda positif responnya berupa dorso fleksi ibu jari kaki disertai

pemekaran atau abduksi jari-jari lain. Tanda ini spesifik untuk cedera traktus
piramidalis atau upper motor neuron lesi. Tanda ini tidak bias ditimbulkan pada

orang sehat kecuali pada bayi yang berusia di bawah satu tahun. Tanda ini

merupakan reflex patologis.

Oppenheim Test

Tanda atau reflex patologis ini dapat dibangkitkan dengan mengurut tulang tibia

dari atas ke bawah menggunakan ibu jari dan jari telunjuk. Tanda ini positif

responnya sama babinski tes yang mengindikasikan upper motor neuron lesi.

Chaddock Test

Memberikan rangsangan dengan jalan menggores pada bagian lateral malleolus

lateralis.

Gordon Test

Cara : memencet atau mencubit otot betis.

Refleks Schaefer

Cara: memencet/mencubit tendon achilles.

Semua pemeriksaan Reflex patologis diatas memiliki respon yang sama dengan

Babynski ketika ada kelainan pada upper motor neuron.


DAFTAR PUSTAKA

Johnson, M., et all. 2002. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. New

Jersey: Upper Saddle River

Mc Closkey, C.J., et all. 2002. Nursing Interventions Classification (NIC) Second

Edition. New Jersey: Upper Saddle River

Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem

Http://www.google.com/asuhan keperawatan stroke non hemoragik.com/ Diakses tanggal 08

Agustus 2016, Pukul. 20.30 WIB.