Anda di halaman 1dari 3

Alamat web:

http://www.lensaindonesia.com/2014/09/29/jawa-timur-menuju-bebas-lepra-pada-2017.html

berita Jawa Timur menuju bebas lepra pada 2017


LENSAINDONESIA.COM: Seiring dengan pesatnya kemajuan provinsi Jawa Timur di segala
bidang, Pemprov Jatim juga terus berkomitmen meningkatkan pelayanan untuk seluruh
masyarakat di wilayahnya yang tersebar di 38 kabupaten/kota. Salah satunya adalah dengan
menekan angka penderita penyakit kusta atau lepra yang mengancam penduduk, khususnya
wilayah pesisir.

Data dari Badan dan Kesehatan dunia, WHO, menyatakan pada tahun 2013 terdapat 17.012
kasus penyakit kusta di Indonesia dengan pria memiliki tingkat terkena kusta dua kali lebih
tinggi dibanding wanita. Dari data itu disebutkan bahwa Jawa Timur adalah provinsi
terbanyak yang memiliki penderita kusta.

Baca juga: Pemprov Jatim resmi ubah RS Kusta dan RS Paru jadi RS Infeksi dan Dinkes Jatim
waspadai penyakit kusta menyebar di kalangan pelajar

Menurut catatan terkini, jumlah penderita mencapai 4.293 orang. Dari jumlah itu, penderita
yang sampai cacat seumur hidup tercatat sebanyak 184, penderita usia anak tercatat
sebanyak 177. Dari 4.293 penderita kusta di Jatim, sebanyak 3.054 atau 71 persen
penderitanya berada di wilayah Madura, Tapal Kuda dan Pantura.

Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Leprae ini sebetulnya secara medis
dapat disembuhkan secara total. Itu bisa terwujud bila penanganan awal langsung dilakukan
sesaat setelah didiagnosis menderita penyakit kusta. Caranya, dengan meminum obat MDT
(Multi Drug Therapy) secara rutin yang dapat diperoleh secara gratis di RS khusus kusta
maupun puskesmas se-Indonesia.

Kepala UPT RS Kusta Kediri, Nur Siti Maimunah mengimbau seluruh masyarakat yang telah
didiagnosis terkena penyakit kusta, sebaiknya segera melakukan pengobatan rutin untuk
menghindari kemungkinan cacat pada anggota tubuhnya. Penyakit ini memang bisa
menyebabkan kecacatan. Karena kuman penyebab penyakit ini, Mycobacterium
Leprae, menyerang syaraf tepi manusia. Dalam jangka waktu tertentu penyakit ini juga bisa
menular, ujarnya pada Lensa Indonesia beberapa waktu lalu.

Sementara ciri-ciri awal orang terkena penyakit ini biasanya menyerang kulit manusia
dengan tanda bercak atau hampir mirip dengan panu namun berwarna kemerahan. Bagian
tubuh yang terserang biasanya makula, dagu, dahi, kuping dan tangan. Jika ada bercak di
kulit yang tak kunjung hilang itu perlu diwaspdai. Awalnya seperti penyakit panu tapi kalau
kusta biasanya tidak gatal, tambahnya.

Untuk pelayanan pasien penyakit kusta di tempatnya, rata-rata ditempatkan di ruang publik
kelas C yang mempunya 65 tempat tidur khusus penderita. Mereka akan ditangani dokter
umum, sementara konsultasinya menggunakan dokter spesialis.

Nur mengungkapkan, rata-rata pasien kusta yang datang ke tempatnya adalah masyarakat
yang kurang mampu dan memakai jaminan kesehatan Badan Pengelola Jaminan Kesehatan
(BPJS) serta Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Pasien kusta disini banyak dan rata-rata
memang golongan orang yang tidak mampu. Mereka yang menggunakan BPJS ataupun
Jamkesda segala macam perawatan tidak kami kenakan biaya, semuanya gratis baik untuk
rawat jalan hingga rawat inap, paparnya.

Untuk jumlah pasien rawat inap di RS Kusta Kediri, per enam bulan terakhir ini mencapai 335
orang. Sedangkan untuk jumlah pasien rawat inap pada 2013 lalu mencapai 512 orang.

Pihak RS menjatah harga paket rawat inap yang menggunakan jaminan kesehatan sebesar
Rp 3.568.667 dan rawat jalan Rp 160.000. Untuk yang rawat inap disini kan maksimal hanya
satu minggu, namun khusus kusta itu berlaku hingga pasien sembuh dan pulang. Biasanya
pasien-pasien saya malah betah tinggal di rumah sakit, nggak mau pulang, sambungnya
lantas tertawa.

Sedangkan daerah asal pasien kusta di rumah sakit milik provinsi ini, terbanyak berasal dari
Kabupaten Kediri sebanyak 115 orang, Kabupaten Nganjuk 61 orang, Kabupaten Madiun 45
orang, Kabupaten Ponorogo 33 orang, Kabupaten Magetan 23 orang dan Kabupaten
Jombang 23 orang.
Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur, dr Harsono, menegaskan pihaknya gencar
menekan angka penyakit kusta agar jumlah penderitanya dari tahun ke tahun bisa menurun.
Selain menangani pasien yang positif mengidap penyakit kusta, Dinkes Jatim juga mulai
melakukan pendeteksian dini khususnya kepada kalangan pelajar di Jatim.

Dia berharap dengan usaha pendeteksian dini ini bisa ditemukan kasus baru dalam kasus
penyebaran penyakit kusta. Hal ini penting dilakukan agar pasien yang punya riwayat
menderita penyakit kusta awal bisa diobati agar tidak sampai cacat permanen.

Dinas Kesehatan Jawa Timur gencar menurunkan tim juru kusta, memburu penderita kusta
usia anak di lingkungan sekolah, khususnya di daerah-daerah miskin dan tertinggal. Itung-
itungan kami, semua penderita kusta di Jatim akan habis ditangani hingga 2017 nanti.
Sehingga Jatim bebas kusta pada 2017, tukasnya.

Jatim sendiri mempunyai dua rumah sakit yang khusus menangani penyakit kusta atau lepra
ini, yaitu RS Kusta di Kediri dan RS Kusta Sumberglagah di Kabupaten Mojokerto. Untuk RS
Kusta Kediri hanya mendapatkan anggaran dari APBD sebesar Rp 3 miliar per tahunnya. RS
Kusta Sumberglagah Mojokerto merupakan yang terbesar setelah Kediri, karena punya daya
tampung yang cukup banyak untuk penderita kusta ditunjang dengan APBD lebih besar,
yakni Rp 16,5 miliar per tahunnya.@sarifa