Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Hukum Internasional memberikan hak dan wewenang kepada semua


negara untuk menjalankan yurisdiksi atas orang dan benda serta perbuatan yang
terjadi di dalam wilayah negara tersebut. Hal ini juga berarti bahwa setiap negara
berhak untuk merumuskan hal ikhwal lalu lintas antar negara baik orang, benda
maupun perbuatan yang terjadi di wilayahnya. Pengaturan terhadap lalu lintas
antar negara yang menyangkut orang di suatu wilayah negara, adalah berkaitan
dengan aspek keimigrasian yang berlaku di setiap negara memiliki sifat
universal maupun kekhususan masing-masing negara sesuai dengan nilai dan
kebutuhan kenegaraannya.

Keamanan dalam negeri suatu negara adalah suatu keadaan yang ditandai
dengan terjaminnya keamanan dan ketertiban masyarakat, tertib dan tegaknya
hukum serta terselenggaranya perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada
masyarakat.

Untuk mengatur berbagai macam warga negara asing yang keluar dan
masuk ke wilayah Indonesia, kebijakan pemerintah di bidang keimigrasian
menganut prinsip selective policy yaitu suatu kebijakan berdasarkan prinsip
selektif. Berdasarkan prinsip ini, hanya orang-orang asing yang dapat memberikan
manfaat bagi kesejahteraan rakyat, bangsa dan Negara Republik Indonesia, yang
tidak membahayakan keamanan dan ketertiban serta tidak bermusuhan baik
terhadap rakyat maupun Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan
kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945), yang diizinkan
masuk atau keluar wilayah Indonesia, dan untuk itu perlu ada pengaturan dan
batasan berupa perizinan yang diberikan kepada orang asing apabila hendak
tinggal di Indonesia.

1
Berdasarkan ketentuan keimigrasian yang bersifat universal, setiap negara
berwenang untuk mengizinkan atau melarang seseorang untuk masuk maupun
keluar suatu negara. Berdasarkan pengakuan universal tersebut, keberadaan
peraturan keimigrasian merupakan atribut yang sangat penting dalam menegakkan
kedaulatan hukum suatu negara di dalam wilayah teritorial negara yang
bersangkutan, dan setiap orang asing memasuki wilayah suatu negara akan
tunduk pada hukum negara tersebut sebagaimana halnya warga itu sendiri.

Indonesia sebagai negara yang berdaulat mempunyai tujuan untuk


mensejahterakan rakyatnya hal ini harus diwujudkan. Adanya perlindungan
segenap kepentingan bangsa, keikutsertaan dalam melaksanakan ketertiban dunia
dalam hubungannya dengan dunia internasional, semua aspek keimigrasian harus
didasarkan pada apa yang telah digariskan dalam Undang- Undang Dasar Tahun
1945 sebagai hukum dasar untuk pengaturan implementasi tugas-tugas
keimigrasian secara operasional. Jika dikaji dasar pertimbangan Undang-Undang
Nomor 6 Tahun 2011 tentang keimigrasian, maka pengaturan dan pelayanan di
bidang keimigrasian merupakan hak dan kedaulatan negara Republik
Indonesia sebagai negara hukum.

B. Perumusan Masalah

1. Bagaimanakah pengaturan izin tinggal orang asing di Indonesia?

2. Bagaimanakah hukuman atau sanksi terhadap orang asing yang melebihi


batas waktu izin tinggal yang diberikan (overstay) ?

C. Metode Penelitian

2
Penelitian yang dilakukan untuk penulisan makalah ini menggunakan
penelitian normatif (kepustakaan). Penelitian normatif adalah penelitian hukum
kepustakaan. . Studi kepustakaan dilakukan dengan maksud memperoleh data
sekunder yaitu melalui serangkaian kegiatan membaca, mengutip, menelaah
perundang undangan yang berkaitan dengan permasalahan.

BAB II
PEMBAHASAN

3
A. Imigrasi

1. Pengertian Imigrasi

Imigrasi adalah perpindahan orang dari suatu negara-bangsa (nation-state) ke


negara lain, di mana ia bukan merupakan warga negara. Imigrasi merujuk
pada perpindahan untuk menetap permanen yang dilakukan oleh imigran,
sedangkan turis dan pendatang untuk jangka waktu pendek tidak dianggap
imigran. Walaupun demikian, migrasi pekerja musiman (umumnya untuk
periode kurang dari satu tahun) sering dianggap sebagai bentuk
imigrasi. PBB memperkirakan ada sekitar 190 juta imigran internasional pada
tahun 2005, sekitar 3% dari populasi dunia. Sisanya tinggal di negara
kelahiran mereka atau negara penerusnya.

Walaupun migrasi manusia telah berlangsung selama ribuan tahun, konsep


modern imigrasi, khususnya pada abad ke-19, terkait dengan perkembangan
negara-bangsa dengan kriteria kewarganegaraan yang jelas, paspor,
pengawasan perbatasan permanen, serta hukum
kewarganegaraan. Kewarganegaraan dari suatu negara memberikan hak-hak
khusus kepada penduduk negara tersebut, sementara para imigran dibatasi
oleh hukum imigrasi. Negara-bangsa membuat imigrasi menjadi suatu isu
politik; per definisi ia adalah tanah air suatu bangsa yang ditandai oleh
kesamaan etnis dan/atau budaya, sedangkan imigran memiliki etnis dan
budaya yang berbeda. Hal ini kadang menyebabkan suatu ketegangan
sosial, xenofobia, dan konfik identitas nasional pada banyaknegara maju.

2. Dasar Hukum Imigrasi

Dasar Hukum Imigrsi di atur dalam UU NO : 6 TAHUN 2011 Tentang


Keimigrasian, Tujuan UU ini di buat adalah Pada dasarnya fungsi dan peranan
keimigrasian bersifat universal, yaitu melaksanakan pengaturan lalu lintas

4
orang masuk atau ke luar wilayah suatu negara. Lazimnya dilaksanakan
berdasarkan suatu politik imigrasi, yaitu kebijakan negara yang telah
ditetapkan atau digariskan oleh pemerintahnya sesuai dengan ketentuan
hukum, peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pada Pembahasan
makalah ini kami lebih fokus kepada masalah izin tinggal dimana pengertian
izin tinggal itu adalah adalah izin yang diberikan kepada Orang Asing oleh
Pejabat Imigrasi atau pejabat dinas luar negeri untuk berada di Wilayah
Indonesia. Dimana di atur di dalam pasal 48 sampai pasal 65, dimana di
antaranya sebagai berikut :

Pasal 48

(1) Setiap Orang Asing yang berada di Wilayah


Indonesia wajib memiliki Izin Tinggal
(2) Izin Tinggal diberikan kepada Orang Asing
sesuai dengan Visa yang dimilikinya.
(3) Izin Tinggal sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
terdiri atas:

a. Izin Tinggal diplomatik;

b. Izin Tinggal dinas;

c. Izin Tinggal kunjungan;

d. Izin Tinggal

terbatas; dan

e. Izin Tinggal Tetap.


(4) Menteri berwenang melarang Orang Asing yang
telah diberi Izin Tinggal berada di daerah
tertentu di
Wilayah Indonesia.
(5) Terhadap orang asing yang sedang menjalani
penahanan untuk kepentingan proses penyidikan,

5
penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan
atau menjalani pidana kurungan atau pidana penjara
di lembaga pemasyarakatan, sedangkan izin
tinggalnya telah lampau waktu, Orang Asing tersebut
tidak dikenai kewajiban sebagaimana dimaksud pada
ayat (1).

Pasal 51
Izin Tinggal kunjungan berakhir karena pemegang Izin
Tinggal kunjungan:

a. kembali ke negara asalnya;

b. izinnya telah habis masa berlaku;

c. izinnya beralih status menjadi Izin Tinggal terbatas;

d. izinnya dibatalkan oleh Menteri atau Pejabat Imigrasi


yang ditunjuk;
e. dikenai Deportasi; atau
f. meninggal dunia.

B. Sanksi Terhadap WNA Yang Melebihi Batas Waktu Izin Tinggal Yang
Di Berikan (OVERSTAY)

Untuk mewujudkan peradilan yang bersih memang harus dimulai dari


kalangan hakim, sebagai sub sistem dari Sistem Peradilan Pidana Terpadu
(Integrated Criminal Justice System), dan selanjutnya penegak hukum lainnya
harus memiliki sikap mental, moral yang baik, kemampuan substansial secara
profesional serta komitmen yang tinggi terhadap penegakan hukum sesuai dengan
tuntutan masyarakat an tuntutan Era Reformasi, dan selain itu perlu dilakukan

6
pengawasan secara terus menerus terhadap aparat penegak hukum baik secara
institusional maupun oleh masyarakat.

Pengaturan untuk menghindari terjadinya perbuatan melampaui batas


waktu izin tinggal oleh orang asing yang berada di Indonesia kebijakan hukumnya
harus diarahkan sebagai berikut:

1. Perbuatan melampaui batas waktu izin tinggal berada dalam domain


pelanggaran hukum administratif, sehingga proses penegakan hukumnya
berada di luar sistem peradilan pidana, dengan bentuk keputusan pejabat
imigrasi.

2. Kriteria dan pertimbangan pengenaan jenis-jenis tindakan keimigrasian


diatur secara ketat demi menjaga terwujudnya prinsip keadilan, kepastian
hukum dan persamaan di muka hukum. Namun demikian sebagai bentuk
keputusan administratif, tetap ada diskresi pejabat imigrasi untuk menilai
secara langsung duduk perkara dan alasan-alasan lain yang melatarbelakangi
terjadinya pelanggaran melampaui batas waktu izin tinggal kasus per kasus.

3. Mekanisme keberatan atas keputusan administratif disusun sesuai dengan


prinsip-prinsip yang berlaku dalam hukum administrasi negara (tata usaha
negara).

4. Perluasan jenis tindakan keimigrasian dengan mencantumkan pengenaan


denda (biaya beban) pada perumusan saksi atas perbuatan pelanggaran
melampaui batas waktu izin tinggal. Denda yang selama ini merupakan
bentuk pidana ditarik menjadi salah satu bentuk tindakan keimigrasian.
Denda tersebut setelah setuju dibayarkan menjadi Pemerintahan Negara
Bukan Pajak (PNBP) yang harus disetorkan ke Rekening kas Negara.

5. Upaya preventif terhadap pelanggaran melampaui batas waktu dilakukan


oleh sistem informasi keimigrasian yang dilakukan pada saat pengajuan
permohonan visa dan izin tinggal, serta sistem peringatan ketika orang asing
tersebut berada di Indonesia.

7
Berdasarkan hal-hal di atas pertimbangan mengenai sanksi pidana dalam
Undang-Undang Keimigrasian yang digolongkan ke dalam rumpun hukum
administratif menjadi sesuatu yang khusus dibandingkan dengan peraturan
perundang-undangan lainnya yang sejenis dalam hukum administrative.

Menurut undang-undang nomor 6 tahun 2011 tentang keimigrasian pasal 8 dan


pasal 9 mengatur tentang masuk dan keluar wilayah Indonesia :

Pasal 8

1. Setiap orang yang masuk atau keluar Wilayah Indonesia wajib


memiliki Dokumen Perjalanan yang sah dan masih berlaku.

2. Setiap Orang Asing yang masuk Wilayah Indonesia wajib memiliki Visa
yang sah dan masih berlaku, kecuali ditentukan lain berdasarkan Undang-
Undang ini dan perjanjian internasional.

Pasal 9

1. Setiap orang yang masuk atau keluar Wilayah Indonesia wajib


melalui pemeriksaan yang dilakukan oleh Pejabat Imigrasi di Tempat
Pemeriksaan Imigrasi.

2. Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pemeriksaan


Dokumen Perjalanan dan/atau identitas diri yang sah.

3. Dalam hal terdapat keraguan atas keabsahan Dokumen Perjalanan


dan/atau identitas diri seseorang, Pejabat Imigrasi berwenang untuk
melakukan penggeledahan terhadap badan dan barang bawaan dan
dapat dilanjutkan dengan proses penyelidikan Keimigrasian.

Didalam BAB VI Undang-Undang keimigrasian nomor 6 tahun 2011 pasal 66 dan


pasal 68 juga mengatur tentang pengawasan keimigrasian terhadap warga negara
asing ;

8
Pasal 66

1. Menteri melakukan pengawasan Keimigrasian.


2. Pengawasan Keimigrasian meliputi:
a. pengawasan terhadap warga negara Indonesia yang memohon
dokumen perjalanan, keluar atau masuk Wilayah Indonesia, dan yang
berada di luar Wilayah Indonesia; dan
b. pengawasan terhadap lalu lintas Orang Asing yang masuk atau
keluar Wilayah Indonesia serta pengawasan terhadap keberadaan dan
kegiatan Orang Asing di Wilayah Indonesia.

Pasal 68

1. Pengawasan Keimigrasian terhadap Orang Asing dilaksanakan pada


saat permohonan Visa, masuk atau keluar, dan pemberian Izin
Tinggal dilakukan dengan:

a. pengumpulan, pengolahan, serta penyajian data dan informasi;

b. penyusunan daftar nama Orang Asing yang dikenai Penangkalan


atau Pencegahan;

c. pengawasan terhadap keberadaan dan kegiatan Orang Asing di


Wilayah Indonesia;

d. pengambilan foto dan sidik jari; dan

e. kegiatan lain yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

2. Hasil pengawasan Keimigrasian sebagaimana dimaksud pada ayat


(1) merupakan data Keimigrasian yang dapat ditentukan sebagai data
yang bersifat rahasia.

9
Adapun sanksi adminitrasi bagi warga negara asing yang melebihi batas izin
tinggal di Indonesia diatur dalam pasal sebagai berikut :

Pasal 78

1. Orang Asing pemegang Izin Tinggal yang telah berakhir masa


berlakunya dan masih berada dalam Wilayah Indonesia kurang dari 60
(enam puluh) hari dari batas waktu Izin Tinggal dikenai biaya beban
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.

2.Orang Asing yang tidak membayar biaya beban sebagaimana


dimaksud pada ayat

3.dikenai Tindakan Administratif Keimigrasian berupa Deportasi dan


Penangkalan.

4.Orang Asing pemegang Izin Tinggal yang telah berakhir masa


berlakunya dan masih berada dalam Wilayah Indonesia lebih dari 60
(enam puluh) hari dari batas waktu Izin Tinggal dikenai Tindakan
Administratif Keimigrasian berupa Deportasi dan Penangkalan.
Apabila ada warga negara asing yang tidak puas mengenai sanksi yang
diberikan oleh pengawai keimigrasian bisa menempuh upaya hukum
sebagaimana yang telah diatur dalam pasal sebagai berikut :

Pasal 77

1. Orang Asing yang dikenai Tindakan Administratif Keimigrasian


dapat mengajukan keberatan kepada Menteri.

2. Menteri dapat mengabulkan atau menolak keberatan yang diajukan


Orang Asing sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan Keputusan
Menteri.

3. Keputusan Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat

4. bersifat final.

10
5. Pengajuan keberatan yang diajukan oleh Orang Asing tidak menunda
pelaksanaan Tindakan Administratif Keimigrasian terhadap yang
bersangkutan.

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan

1. Izin tinggal yang diberikan oleh suatu Negara kepada orang asing adalah
suatu wujud kedaulatan Negara sebagai suatu Negara hukum yang memiliki
kewenangan sepenuhnya untuk menentukan dan mengatur batasan- batasan bagi
orang asing untuk tingla di suatu Negara. Izin tersebut bukanlah hal dari
seseorang asing, tetapi merupakan privilege yang diberikan oleh Negara

11
kepada orang asing. Selain itu batasan-batasan mengenai izin tinggal adalah
untuk melindungi kepentingan bangsa dari aspek-aspek sosial, budaya,
ekonomi, ketenagakerjaan, keamanan dan ketertiban.

2. Penindakan berdasarkan Undang- Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang


Keimigrasian terhadap perbuatan melampaui batas waktu izin tinggal (overstay)
dilaksanakan dalam dualisme sistem penegakan hukum yaitu didasarkan pada
hukum pidana dan hukum administratif. Tindakan keimigrasian secara
administratif lebih efektif dan efesien, dalam hal penegakan hukum terhadap
perbuatan overstay apabila dilandasi atas asas subsidaritas hukum pidana yakni
mengedepankan prinsip ultimum remedium dalam hukum pidana maka
penyelesaian secara adminsitratif adalah kebijakan yang lebih tepat dan
mengenai sasaran.

3.2. Saran

1. Perlu diupayakan lebih memberikan kepastian hukum dalam penegakan hukum


keimigrasian, khususnya dalam menangani perbuatan melampaui batas waktu
izin tinggal. Selanjutnya harus dilakukan oleh pihak-pihak pemangku
kepentingan (stakeholders) diantaranya:

a. Upaya adanya pembaharuan sistem penegakan hukum keimigrasian juga


harus diikuti dengan pembaruan hukum acara penegakan hukum
keimigrasian baik terhadap pelanggaran yang termasuk pelanggaran
pidana dan pelanggaran administratif. Prosedur penegakan hukum
administratif harus mengacu pada asas-asas umum penyelenggaraan
pemerintahan yang baik (good governance) sehingga hukum acara yang
dilandasi mekanisme kontrol dan jaminan keadilan dalam proses
penindakan pada akhirnya aparatur penegak hukum keimigrasian
dipersempit ruangnya untuk melakukan penyimpangan.

b. Perlu melibatkan penyidik Polri dalam melakukan penyidikan tindak


pidana keimigrasian untuk membantu penyidik PNS Imigrasi. Kemudian
untuk penyelesaian pelanggaran hukum keimigrasian misalnya overstay

12
tidak perlu dikriminalisasikan karena perbuatan tersebut hanyalah
pelanggaran administratif. Dan penyelesaiannya secara jelas diatur dan
dilakukan secara administratif, untuk itu cukup penyidik PNS imigrasi
yang melakukannya sedangkan tindakan pemalsuan dokumen,
memberikan keterangan palsu dan tindakan- tindakan yang dapat
dikatagorikan kriminalisasi lain, selain melibatkan penyidik PNS imigrasi
harus juga penyidik Polri untuk ikut terlibat dalam melakukan penyidikan.

2. Penegakan hukum keimigrasian disesuaikan dengan perkembangan hukum


internasional dan kepentingan nasional di masa datang, maka perlu dilakukan
sebagai berikut :

a. Harus meningkatkan sarana dan prasarana keimigrasian dengan


menggunakan Teknologi Informasi guna penguatan sistem informasi
keimigrasian yang terintegrasi agar mampu memberikan sistem
peringatan dengan memberikan data yang akurat dan mutakhir
dalam mengantisipasi penegakan hukum keimigrasian baik secara
preventive maupun represif

b. Harus lebih meningkatkan sumber daya manusia personil imigrasi


melalui pendidikan dan pelatihan agar lebih memahami substansi yang
lebih manusiawi yang berlandaskan nilai nilai HAM dan pelaksanaan
Good Governance dan Clean Governance serta diikuti dengan
peningkatan kesejahteraan yang sejalan dengan ketegasan dalam
pemberian punishment and reward.

13
DAFTAR PUSTAKA

Koemiatmanto Soetorawiro, Hukum Kewarganegaraan dan Keimigrasian


Indonesia, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996.
Lili Rasjidi dan Putra, I. B. Wyasa, Hukum Sebagai Suatu System, Bandung:
Remaja Rosdakarya.
M. Imam Santoso, Perspektif Imigrasi dalam Pembangunan Ekonomi dan
Ketahanan Nasional, Jakarta: UI Press,
2004.
Muladi dan Barda Nawawi Arief, Teori-Teori dan Kebijakan Pidana, Bandung:
Alumni,
1984.
Muhammad Indra, .Perspektif Penegakan Hukum dalam Sistem Keimigrasian
Indonesia, Disertasi, Progam Doktor Program Pascasarjana, Bandung:
Universitas Padjadjaran, 2008.

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian.

14