Anda di halaman 1dari 17

ORIENTASI PENGEMBANGAN KURIKULUM

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada masa Kolonial Belanda keadaan pendidikan di Indonesia sangatlah
memprihatinkan. Belum adanya Lembaga Pendidikan seperti sekarang ini, yang ada hanya
Lembaga Pendidikan dari Kolonial yang diperuntukkan bagi Kaum Bangsawan atau orang-
orang yang mempunyai derajat atau pangkat di pemerintahan desa atau daerah. Lebih dari
sebagian penduduk Indonesia tidak mengenyam pendidikan yang ada malah dijadikan
sebagai alat untuk memenuhi segala fasilitas demi kepentingan Kolonial.
Setelah Indonesia memasuki masa kemerdekaan, lembaga pendidikan baru mulai
dirintis, yang bertujuan nasional untuk mrncerdaskan bangsa. Setengah abad lebih
pendidikan di Indonesia berjalan, namun belum bias merumuskan materi-materi pelajaran
yang dilalui oleh anak didik yang disebut kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan
pendidikan di Indonesia.
Lebih dari sembilan kali kurikulum pendidikan di Indonesia sudah mulai berubah-
ubah. Namun sampai detik ini kurikulum tersebut belum mampu untuk menjadi formulasi
yang tepat untuk dijadikan pengatur pendidikan di Indonesia. Untuk itu marilah kita kaji
bersama-sama mengenai perjalanan orientasi kurikulum yang telah berjalan dan berlaku di
Indonesia.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah sejarah mengenai Perjalanan Orientasi Pengembangan
Kurikulum Pendidikan di Indonesia?
2. Bagaimanakah Praktik Orientasi Pengembangan Kurikulum di Indonesia?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Perjalanan Orientasi Kurikulum di Indonesia


Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya dua tahun sebelum pendidikan di
Indonesia di katakan berjalan walaupun masih apa adanya. Pendidikan tidak akan lepas
dari prosesi pembelajaran yang harus dilalui dalam setiap jenjang pendidikan, atau yang
biasa disebut dengan kurikulum pendidikan. Begitu pula pada awal berdirinya pendidikan
di Indonesia, kurikulumnya pun masih bias dikatakan belum rapi.Dari waktu kewaktu
kurikulum pendidikan di Indonesia selalu berusaha untuk disempurnakan, namun hingga
saat ini pendidikan di Indonesia belum mendapatkan formulasi kurikulum yang tepat dan
pas.
Alangkah baiknya kita melihat dulu perjalanan kurikulum pendidikan di Indonesia
sebelum mempunyai anggapan mengapa kegagalan selalu menghinggapi pendidikan di
Indonesia.
Adapun Perjalanan Kurikulum Di Indonesia, antara lain :
1. Rencana Pembelajaran Tahun 1947
Kurikulum pertama yang lahir pada masa kemerdekaan memakai istilah leer plan.
Dalam bahasa Belanda, artinya rencana pelajaran, lebih popular
ketimbang curriculum (bahasa Inggris).Perubahan kisi-kisi pendidikan lebih bersifat
politis: dari orientasi pendidikan Belanda ke kepentingan nasional. Asas pendidikan
ditetapkan Pancasila. Rencana Pelajaran 1947 baru dilaksanakan sekolah-sekolah pada
1950. Sejumlah kalangan menyebut sejarah perkembangan kurikulum diawali dari
Kurikulum 1950. Bentuknya memuat dua hal pokok: daftar mata pelajaran dan jam
pengajarannya, plus garis-garis besar pengajaran.
Rencana Pelajaran 1947 mengurangi pendidikan pikiran. Yang diutamakan
pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat, materi pelajaran
dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian dan pendidikan
jasmani.
2. Rencana Pembelajaran Terurai Tahun 1952

Kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran yang disebut Rencana
Pelajaran Terurai 1952. Silabus mata pelajarannya jelas sekali. seorang guru mengajar
satu mata pelajaran, kata Djauzak Ahmad, Direktur Pendidikan Dasar Depdiknas
periode 1991-1995. Ketika itu, di usia 16 tahun Djauzak adalah guru SD Tambelan dan
Tanjung Pinang, Riau.
Di penghujung era Presiden Soekarno, muncul Rencana Pendidikan 1964 atau
Kurikulum 1964. Fokusnya pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan
moral (Pancawardhana). Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang
studi: moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmaniah.
Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis.
3. Rencana Pendidikan Tahun 1964
Awalnya pada tahun 1947, kurikulum saat itu diberi nama Rentjana Pelajaran
1947. Pada saat itu, kurikulum pendidikan di Indonesia masih dipengaruhi sistem
pendidikan kolonial Belanda dan Jepang,. Rentjana Pelajaran 1947 boleh dikatakan
sebagai pengganti sistem pendidikan kolonial Belanda. Karena suasana kehidupan
berbangsa saat itu masih dalam semangat juang merebut kemerdekaan maka
pendidikan sebagai development conformism. Setelah Rentjana Pelajaran 1947, pada
tahun 1952 kurikulum di Indonesia mengalami penyempurnaan, diberi nama Rentjana
Pelajaran Terurai 1952. Yang paling menonjol dan sekaligus ciri dari kurikulum 1952
ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang
dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Usai tahun 1952, menjelang tahun 1964,
pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum di Indonesia. Kali ini diberi
nama Rentjana Pendidikan 1964. Pokok-pokok pikiran kurikulum ini adalah bahwa
pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk
pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program
Pancawardhana, yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan
dan jasmani.

4. Kurikulum 1968
Kelahiran kurikulum ini bernuansa politik, mengganti produk orde lama menjadi
produk orde baru. Tujuan kurikulum ini adalah pada pembentukan manusia pancasila
sejati. Kurikulum 1968 ini menekankan pendekatan organisaasi materi pelajaran,
kelompok pembinaan pancasila, pengetahuan dasar dan pengetahuan khusus. Jumlah
materi yang diajukan adalah 9 buah.
Kurikulum ini disebut kurikulum bulat. Kurikulum yang hanya memuat mata
pelajaran pokok saja. Muatan pelajarannya-pun bersifat teoritis, tidak mengaitkan
materi pelajaran dengan permasalahan factual dilapangan. Titik tekan terberat hanya
pada materi apa yang tepat yang harus diberikan kepada siswa disetiap jenjang yang
harus dilalui.
5. Kurikulum 1975
Kurikulum 1975 sebagai pengganti kurikulum 1968, menekankan pada tujuan
agar pendidikan lebih efektif dan efisien. Yang melatar belakangi berdirinya kurikulum
ini adalah pengaruh konsep managemen, yaitu managemen obyektifitas. Metode,
materi dan tujuan pengajaran dirinci dalam prosedur Pengembangan Prosedur Sistem
Intruksional(PPSI).
Pada kurikulum ini dikenal dengan istilah satuan pengajaran, yaitu rencana
pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan pelajaran dirinci lagi, yaitu : petunjuk
umum, Tujuan Intruksional Khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan
belajar-mengajar dan evaluasi.
Kurikulum ini banyak menuai kritikan, dikarenakan guru terlalu disibukkan
menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran.

6. Kurikulum 1984
Secara umum dasar perubahan kurikulum 1975 ke kurikulum 1984 di antaranya
sebagai berikut:
1. Terdapat beberapa unsur dalam GBHN 1983 yang berlum tertampung
ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah.
2. Terdapat ketidakserasian antara materi kurikulum berbagai bidang studi
dengan kemampan anak didik.
3. Terdapat kesenjangan antara program kurikulum dan pelaksanaanya di
sekolah.
4. Terlalu padatnya isi kurikulum yang harus diajarkan di setiap jenjang.
5. Pengadaan program studi baru (seperti di SMA) untuk memenuhi
kebutuhan perkembangan lapangan kerja.
Atas dasar perkembangan itu, maka menjelang tahun 1983 antara kebutuhan atau
tuntutan masyarakat dan ilmu pengetahuan/teknologi terhadap pendidikan dalam
kurikulum 1975 dianggap tidak sesuai lagi. Oleh karena itu diperlukan perubahan
kurikulum. Kurikulum 1984 tampil sebagai perbaikan atau revisi terhadap kurikulum
1975. Kurikulum 1984 memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
Berorientasi kepada tujuan instruksional. Didasari oleh pandangan bahwa
pemberian pengalaman belajar kepada siswa dalam waktu belajar yang sangat terbatas
di sekolah harus benar-benar fungsional dan efektif. Oleh karena itu, sebelum memilih
atau menentukan bahan ajar, yang pertama harus dirumuskan adalah tujuan apa yang
harus dicapai siswa dan melakukan pendekatan ketrampilan proses.
Pendekatan pengajarannya berpusat pada anak didik melalui cara belajar siswa
aktif (CBSA). CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan
kepada siswa untuk aktif terlibat secara fisik, mental, intelektual, dan emosional
dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam
ranah kognitif, afektif maupun psikomotor.
Menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum diberikan latihan. Konsep-
konsep yang dipelajari siswa harus didasarkan kepada pengertian, baru kemudian
diberikan latihan setelah mengerti. Untuk menunjang pengertian alat peraga sebagai
media digunakan untuk membantu siswa memahami konsep yang dipelajarinya.
Materi disajikan berdasarkan tingkat kesiapan atau kematangan siswa. Pemberian
materi pelajaran berdasarkan tingkat kematangan mental siswa dan penyajian pada
jenjang sekolah dasar harus melalui pendekatan konkret, semikonkret, semiabstrak, dan
abstrak dengan menggunakan pendekatan induktif dari contoh-contoh ke kesimpulan.
Dari yang mudah menuju ke sukar dan dari sederhana menuju ke kompleks.
Tokoh penting dibalik lahirnya Kurikulum 1984 adalah Profesor Dr. Conny R.
Seniawan, Kepala Pusat akurikulumm Dekdiknas periode 1980-1986 yang juga Rektor
IKIP Jakarta, sekarang Universitas Negeri Jakarta periode 1984-1992. Konsep CBSA
yang elok secara teoritis dan bagus hasilny di sekolah-ssekolah yang diujicobakan,
mengalami banyak deviasi dan reduksi saat diterapkan secara nasional. Sayangnya,
banyak sekolah kurang mampu menafsirkan CBSA. Yang terlihat adalah suasana
gaduh di ruang kelas lantaran siswa berdiskusi, di sana-sini ada tempelan gambar, dan
yang menyolok guru tak lagi mengajar model berceramah. Dengan adanya praktik
semacam itu, mengakibatkan banyaknya penolakan yang bermunculan.

7. Kurikulum 1994 dan suplemen kurikulum 1999


Pada kurikulum sebelumnya, yaitu kurikulum 1984, proses pembelajaran
menekankan pada pola pengajaran yang berorientasi pada teori belajar mengajar
dengan kurang memperhatikan muatan (isi) pelajaran. Hal ini terjadi karena
berkesesuaian suasana pendidikan di LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga
Kependidikan) pun lebih mengutamakan teori tentang proses belajar mengajar.
Akibatnya, pada saat itu dibentuklah Tim Basic Science yang salah satu tugasnya ikut
mengembangkan kurikulum di sekolah. Tim ini memandang bahwa materi (isi)
pelajaran harus diberikan cukup banyak kepada siswa, sehingga siswa selesai
mengikuti pelajaran pada periode tertentu akan mendapatkan materi pelajaran yang
cukup banyak. Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984 dan
dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang no. 2 tahun 1989 tentang Sistem
Pendidikan Nasional. Hal ini berdampak pada sistem pembagian waktu pelajaran, yaitu
dengan mengubah dari sistem semester ke sistem caturwulan. Dengan sistem
caturwulan yang pembagiannya dalam satu tahun menjadi tiga tahap diharapkan dapat
memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat menerima materi pelajaran cukup banyak.
Terdapat ciri-ciri yang menonjol dari pemberlakuan kurikulum 1994, di antaranya
sebagai berikut:
1. Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem catur wulan.
2. Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat
(berorientasi kepada materi pelajaran/isi).
3. Kurikulum 1994 bersifat populis, yaitu yang memberlakukan satu sistem
kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia. Kurikulum ini bersifat
kurikulum inti sehingga daerah yang khusus dapat mengembangkan pengajaran
sendiri disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar.
4. Dalam pelaksanaan kegiatan, guru hendaknya memilih dan menggunakan
strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik,
dan sosial. Dalam mengaktifkan siswa guru dapat memberikan bentuk soal
yang mengarah kepada jawaban konvergen, divergen (terbuka, dimungkinkan
lebih dari satu jawaban) dan penyelidikan.
Selama dilaksanakannya kurikulum 1994 muncul beberapa permasalahan,
terutama sebagai akibat dari kecenderungan kepada pendekatan penguasaan materi
(content oriented), di antaranya sebagai berikut:
1. Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan
banyaknya materi/ substansi setiap mata pelajaran.
2. Materi pelajaran dianggap terlalu sukar karena kurang relevan dengan tingkat
perkembangan berpikir siswa, dan kurang bermakna karena kurang terkait
dengan aplikasi kehidupan sehari-hari.
Kurikulum 1994 ini bergulir lebih pada upaya memadukan kurikulum-kurikulum
sebelumya. kurikulum ini memiliki jiwa yang ingin mengombinasikan antara
kurikulum 1975 dan kurikulum 1984, antara pendekatan tujuan dan proses
pembelajaran. namun, perpaduan tujuan dan proses pembelajaran tersebut belum
menuai hasil. Kritik bertebaran, lantaran beban belajar siswa dinilai terlalu berat. dari
muatan nasional hingga lokal. Materi muatan lokal disesuaikan dsesuaikan dengan
kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasa daerah, kesenian, keterampilan
daerah, dan lain-lain. Berbagai kepentingan kelompok-kelompok masyaarakat juga
mendesak agar isu-isu tertenatu masuk dalam kurikulum. Dengan adanya desakan
tersebut akhgirnya kurikulum 1994 menjelma menjadi kurikulum super padat.
Kejatuhan rezim Soeharto pada tahun 1998, diikuti dengan kehadiran Suplemen
Kurikulum 1999 membuat perubahan pada kurikulum ini. Tapi perubahannya lebih
pada menambal sejumlah materi.

8. Kurikulum 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi)


Implementasi pendidikan di sekolah mengacu pada seperangkat kurikulum. Salah
satu bentuk inovasi yang dikembangkan pemerintah guna meningkatkan mutu
pendidikan adalah melakukan inovasi di bidang kurikulum. Kurikulum 1994
disempurnakan lagi sebagai respon terhadap perubahan struktural dalam pemerintahan
dari sentralistik menjadi disentralistik sebagai konsekuensi logis dilaksanakannya UU
No. 22 dan 25 tentang otonomi daerah.
Pada era ini kurikulum yang dikembangkan diberi nama Kurikulum Berbasis
Kompetensi (KBK). KBK adalah seperangkat rencana dan pengaturan tentang
kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar
mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan
kurikulum sekolah (Depdiknas, 2002). Kurikulum ini menitik beratkan pada
pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar
performasi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa
penguasaan terhadap serangkat kompetensi tertentu. KBK diarahkan untuk
mengembangkan pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap dan minat peserta
didik, agar dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran, ketepatan dan
keberhasilan dengan penuh tanggungjawab.

Adapun karakteristik KBK menurut Depdiknas (2002) adalah sebagai berikut:


1. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual
maupu klasikal.
2. Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.
3. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode
yang bervariasi.
4. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang
memenuhi unsur edukatif.
5. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya
penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.
[[
Untuk itu, agar KBK mampu konsisten dan valid dalam operasionalnya, terdapat
beberapa asumsi-asumsi yang mampu tercapainya hal tersebut:
v Banyak sekolah yang memiliki sedikit guru professional dan tidak
mampu melaksanakan pembelajaran secara optimal.
v Banyak sekolah yang hanya mengoleksi sejumlah mata pelajaran dan
pengalaman, sehingga mengajar diartikan sebagai kegiatan menyajikan
materi yang terdapat dalam setiap mata pelajaran.
v Peserta didik memiliki potensi yang berbeda dan bervariasi, dalam hal
tertentu memiliki potensi tinggi, tetapi dalam hal lain, mungkin biasa saja,
bahkan rendah.
v Pendidikan berfungsi mengkondisikan lingkungan yang membantu
peserta didik mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki secara
optimal.
v Kurikulum sebagai rencana pembelajaran harus berisi kompetensi-
kompetensi potensial yang tersusun secara sistematis, sebagai jabaran dari
seluruh aspek kepribadian peserta didik.

9. Kurikulum 2006 (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)


Kurikulum ini dikatakan sebagai perbaikan dari KBK yang diberi nama
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP ini merupakan bentuk
implementasi dari UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang
dijabarkan ke dalam sejumlah peraturan antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 19
tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan.

Peraturan Pemerintah ini memberikan arahan tentang perlunya disusun dan


dilaksanakan delapan standar nasional pendidikan, yaitu:
a. Standar isi
b. Standar proses
c. Standar kompetensi lulusan
d. Standar pendidik dan tenaga kependidikan
e. Standar sarana dan prasarana
f. Standar pengelolaan, standar pembiayaan
g. Standar penilaian pendidikan.

Kurikulum dipahami sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai


tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu,
maka dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, pemerintah telah
menggiring pelaku pendidikan untuk mengimplementasikan kurikulum dalam bentuk
kurikulum tingkat satuan pendidikan, yaitu kurikulum operasional yang disusun oleh
dan dilaksanakan di setiap satuan pendidikan.
Secara substansial, pemberlakuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
lebih kepada mengimplementasikan regulasi yang ada, yaitu PP No. 19/2005. Akan
tetapi, esensi isi dan arah pengembangan pembelajaran tetap masih bercirikan
tercapainya paket-paket kompetensi (dan bukan pada tuntas tidaknya sebuah subject
matter), yaitu:
a. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual
maupun klasikal.
b. Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.
c. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang
memenuhi unsur edukatif.
d. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan
atau pencapaian suatu kompetensi.

B. ORIENTASI PENGEMBANGAN KURIKULUM DI INDONESIA


Orientasi Pengembangan kurikulum menurut Seller menyangkut enam aspek, yaitu
:
1. Tujuan pendidikan menyangkut arah kegiatan pendidikan. Artinya , hendak
dibawa ke mana siswa yang kita didik itu.
2. Pandangan tentang anak. Apakah anan dianggap sebagai organisme yang aktif
atau pasif.
3. Pandangan tentang proses pembelajaran. Apakah proses pembelajaran itu
dianggap sebagai proses transformasi ilmu pengetahuan atau mengubah prilaku.
4. Pandangan tentang lingkungan. Apakah lingkungan belajar harus dikelola secara
formal, atau secara bebas yang dapat memungkinkan anak bebas belajar.
5. Konsepsi tentang peran guru . Apakah guru harus berperan sebagai instruktur
yang bersifat otoriter, atau guru dianggap sebagai fasilitator yang siap memberi
bimbingan dan bantuan pada anak untuk belajar.
6. Evaluasi belajar. Apakah mengukur keberhasilan ditentukan dengan tes atau
nontes.
Orientasi pengembangan kurikulum diartikan sebagai sebuah arah atau pendekatan
yang memiliki penekanan tertentu pada suatu hal dalam mengembangkan
kurikulum baik bagi para pengembang kurikulum maupun para pelaksana di
sekolah.

Ada 3 orientasi:
1. Orientasi Pada Bahan Pelajaran
Orientasi pada bahan pelajaran yakni masalah bahan pelajaran sangat di tekankan dan
dijadikan pangkal kerja. Secara umum dapat dikatakan bahwa pendekatan ini mengajarkan
materi pelajaran dahulu dan setelah itu menjabarkannya ke dalam pokok-pokok dan sub-
sub pokok bahasan yang nantinya akan diajarkan kepada siswa.
Pertimbangan-pertimbangan dalam menentukan bahan-bahan pelajaran didasarkan pada:
a. Penting atau tidaknya bahan pelajaran tersebut untuk diajarkan di sekolah
tertentu.
b. Manfaat dari bahan tersebut.
c. Kerelevansianya dengan kebutuhan anak setelah nantinya terjun ke
masyarakat.

Pengembangan kurikulum yang berorientasi pada bahan pelajaran yang dipentingkan


adalah apa materi atau bahan yang disajikan, bukan pada apa tujuannya, sebab tujuan dapat
ditentukan setelah jelas bahan pelajaranya.
Dalam referensi lain pun diterangkan bahwasanya perencanaan dan pengembangan
kurikulum berdasar materi atau bahan ajar inilah yang mula-mula dilaksanakan. Inti dari
proses belajar mengajar ditentukan oleh pemilihan materi. Pembahasan mengenai
pembaharuan kurikulum terutama hanya membahas bagaimana sumber bahan dapat
berkembang.

Kelebihannya:
Adanya kebebasan dan keluwesan dalam memilih dan menentukan bahan atau
materi pelajaran yang akan diajarkan sebab tidak ada tujuan-tujuan yang
membuatnya terikat.

Kelemahannya:
Bahan pelajaran yang disusun kurang jelas arah dan tujuannya. Kurang adanya
pegangan yang pasti untuk menentukan cara atau metode yang cocok untuk dipakai
menyajikan materi tersebut. Kurang jelas segi apa yang harus dinilai pada murid
setelah berakhirnya kegiatan dan bagaimana cara menilainya.

2. Orientasi Pada Tujuan


Pendekatan yang berorientasi pada tujuan ini, menempati rumusan atau penetapan
tujuan yang hendak dicapai dalam posisi sentral, sebab tujuan adalah pemberi arah dalam
pelaksanaan proses belajar mengajar. Seperti tertera pada Hirarki Tujuan Pendidikan
Indonesia terdiri atas :
a. Tujuan Nasional-Tujuan Pendidikan Nasional.
b. Tujuan Institusional-Tujuan Kurikuler.
c. Tujuan Instruksional, yang terbagi lagi menjadi Tujuan Instruksional umum, dan
Tujuan Instruksional Khusus.

Masing-masing tujuan yang ada di bawahnya terkait secara langsung dengan tujuan
yang ada di atasnya. Penyusunan kurikulum dengan orientasi berdasarkan tujuan, artinya
bahwa tujuan pendidikan dicantumkan terlebih dahulu. Tujuan pendidikan di Indonesia
tertera pada GBHN. Atas dasar tujuan-tujuan yang telah ada, selanjutnya ditetapkan
pokok-pokok bahan pelajaran dan kegiatan belajar mengajar, yang kesemuanya itu
diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan. Pengembangan kurikulum yang
menganut pendekatan berorientasi pada tujuan ini mendasarkan diri pada tujuan-tujuan
pendidikan yang telah dirumuskan secara jelas dari tujuan nasional sampai tujuan
instruksional. Dalam hal ini kegiatan pertama adalah merumuskan tujuan-tujuan
pendidikan yang akan dilaksanakan dan dicapai melalui kegiatan belajar mengajar
mengajar. Tujuan-tujuan pendidikan yang dirumuskan biasanya bersifat menyeluruh,
mencakup aspek-aspek, mulai aspek pengetahuan, nilai-nilai, keterampilan maupun sikap.
Dalam pengembangan semacam ini yang menjadi persoalan adalah menentukan tujuan-
tujuan atau harapan apa yang diinginkan dari tercapainya hasil pembelajaran tersebut.
Pengembangan kurikulum yang semacam ini di Indonesia adalah kurikulum 1975.
Berdasarkan tujuan yang dirumuskan tersebut maka disusun atau diterapkanlah bahan
pelajaran yang meliputi pokok-pokok dan sub-sub pokok bahasan sehingga lebih terarah.
Kelebihannya:
a. Tujuan yang ingin dicapai sudah jelas dan tegas, sehingga bahan, metode, jenis-
jenis kegiatan juga jelas dalam menetapkannya. Karena telah ada tujuan-tujuan
yang jelas maka memudahkan penilaian- penilaian untuk mengukur hasil kegiatan.
b. Hasil penilaian yang terarah akan mampu membantu para pengembang kurikulum
mengadakan perbaikan-perbaikan / perubahan-perubahan penyesuaian yang
diperlukan.

Kekurangannya:
a. Sulit
b. Merumuskan, apalagi jika merumuskan secara operasional setiap kali
melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

3. Orientasi Pada Keterampilan Proses


Dalam pendekatan ini yang lebih di tekankan adalah masalah kegiatan proses
belajar mengajar apa yang harus dilakukan siswa dan bagaimana cara melakukan proses
harus di pikirkan dan dikembangkan. Keterampilan proses adalah pendekatan belajat
mengajar yang memberi tekanan kepada proses pembentukkan keterampilan memperoleh
pengetahuan dan mengkomunikasikan perolehannya. Pendekatan keterampilan proses
diupayakan dilakukan secara efektif dan efesien dalam mencapai tujuan pelajaran. Titik
berat yakni memikirkan, merencanakan, dan melaksanakan bagaimana, cara dan langkah-
langkah agar siswa menguasai keterampilan serta memahami ilmu pengetahuan.
Pengembangan kurikulum di Indonesia yang menganut orientasi tersebut adalah kurikulum
1984. Pendekatan ini menurut keaktifan keduanya, baik guru maupun siswa. guru secara
aktif merencanakan, memilih, menentukan, membimbing, menyerahi kegiatan, sedang
siswa harus terlibat baik secara fisik, mental, maupun emosional, serta mereka harus
menemukan sendiri, mengelola, mempergunakan serta mengkomunikasikan segala hal
yang di temukan dalam proses belajar.

Kelebihan:
a. Pendekatan lebih mengutamakan siswa dapat menguasai keterampilan
bagaimana cara belajar ( how learn to learn) daripada hasilnya.
b. Dapat mempergunakan dan mengembangkan sendiri keterampilan yang telah
didapat. Jadi dengan pendekatan ini diharapkan siswa akan berlatih mencari,
menemukan, dan mengembangkan sendiri masalah-masalah pengetahuan, dalam
hal ini guru harus menciptakan suasana yang baik dan diperlukan kemampuan
untuk bertanya, membuat siswa aktif menjawab pertanyaan siswa serta
mengorganisasi kelas.

Kekurangan:
a. Sulitnya mengorganisasi kelas, sebab dalam hal ini guru dituntut aktif secara
dapat membuat siswa ikut aktif.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat diambil kesimpulan :
1. Bahwa sejarah perjalanan kurikulum di Indonesia adalah sebagai berikut :
a. Rencana Pembelajaran Tahun 1947
b. Rencana Pembelajaran Terurai Tahun 1952
c. Rencana Pendidikan Tahun 1964
d. Kurikulum 1968
e. Kurikulum 1975
f. Kurikulum 1984
g. Kurikulum 1994 dan suplemen kurikulum 1999
h. Kurikulum 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi)
i. Kurikulum 2006 (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)

2. Bahwa Orientasi Kurikulum Pendidikan yang pernah dipakai di Indonesia


adalah :

a. Orientasi Pada Bahan Pelajaran


Orientasi pada bahan pelajaran yakni masalah bahan pelajaran sangat di
tekankan dan dijadikan pangkal kerja. Serta dapat dikatakan bahwa pendekatan ini
mengajarkan materi pelajaran dahulu dan setelah itu menjabarkannya ke dalam
pokok-pokok dan sub-sub pokok bahasan yang nantinya akan diajarkan kepada
siswa.

b. Orientasi Pada Tujuan


Penyusunan kurikulum dengan orientasi berdasarkan tujuan, artinya bahwa
tujuan pendidikan dicantumkan terlebih dahulu. Tujuan pendidikan di Indonesia
tertera pada GBHN. Atas dasar tujuan-tujuan yang telah ada, selanjutnya ditetapkan
pokok-pokok bahan pelajaran dan kegiatan belajar mengajar, yang kesemuanya itu
diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan. Pengembangan
kurikulum yang menganut pendekatan berorientasi pada tujuan ini mendasarkan
diri pada tujuan-tujuan pendidikan yang telah dirumuskan secara jelas dari tujuan
nasional sampai tujuan instruksional.

c. Orientasi Pada Keterampilan Proses


Dalam pendekatan ini yang lebih di tekankan adalah masalah kegiatan
proses belajar mengajar apa yang harus dilakukan siswa dan bagaimana cara
melakukan proses harus di pikirkan dan dikembangkan. Keterampilan proses adalah
pendekatan belajat mengajar yang memberi tekanan kepada proses pembentukkan
keterampilan memperoleh pengetahuan dan mengkomunikasikan perolehannya.
Pendekatan keterampilan proses diupayakan dilakukan secara efektif dan efesien
dalam mencapai tujuan pelajaran. Titik berat yakni memikirkan, merencanakan, dan
melaksanakan bagaimana, cara dan langkah-langkah agar siswa menguasai
keterampilan serta memahami ilmu pengetahuan.
DAFTAR PUSTAKA

Hamalik, Oemar. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT.


Remaja Rosda karya. 2008.
Dakir, H. Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum, Jakarta: PT. Rineka
Cipta, 2004.
Nurgiyantoro, Burhan. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah.
Yogyakarta: BPFE. 1988.
Soetopo, Henyat, Soemanto, Wasty, Pembinaan Pengembanga Kurikulum,
Jakarta: Bumi Aksara, 1993.
Subandijah, Pengembangan dan Inovasi Kurikulum, Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 1996.
http://kesadaransejarah.blogspot.com/2007/11/kurikulum-pendidikan-kita.html
http://education-indonesia.blogspot.com/2007/05/kurikulum-beridentitas-
kerakyatan.html
http://re-searchengines.com/0607agung.html
http://gperangin.blogspot.com/orientasi pengembangan kurikulum.html
http://www.khalian21.blogspot.com2008/03/orientaskurikulumdarimasaprakemer
dekaan.html
Diposkan oleh MAS ANGGA di 17.11
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest
ORIENTASI PENGEMBANGAN KURIKULUM

A. Latar Belakang

Pada masa Kolonial Belanda keadaan pendidikan di Indonesia sangatlah


memprihatinkan. Belum adanya Lembaga Pendidikan seperti sekarang ini, yang ada hanya
Lembaga Pendidikan dari Kolonial yang diperuntukkan bagi Kaum Bangsawan atau orang-
orang yang mempunyai derajat atau pangkat di pemerintahan desa atau daerah. Lebih dari
sebagian penduduk Indonesia tidak mengenyam pendidikan yang ada malah dijadikan
sebagai alat untuk memenuhi segala fasilitas demi kepentingan Kolonial.
Setelah Indonesia memasuki masa kemerdekaan, lembaga pendidikan baru mulai
dirintis, yang bertujuan nasional untuk mrncerdaskan bangsa. Setengah abad lebih
pendidikan di Indonesia berjalan, namun belum bias merumuskan materi-materi pelajaran
yang dilalui oleh anak didik yang disebut kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan
pendidikan di Indonesia.
Lebih dari sembilan kali kurikulum pendidikan di Indonesia sudah mulai berubah-
ubah. Namun sampai detik ini kurikulum tersebut belum mampu untuk menjadi formulasi
yang tepat untuk dijadikan pengatur pendidikan di Indonesia. Untuk itu marilah kita kaji
bersama-sama mengenai perjalanan orientasi kurikulum yang telah berjalan dan berlaku di
Indonesia.

B. Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 atau Pendidikan Berbasis Karakter adalah kurikulum baru yang
dicetuskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk
menggantikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Kurikulum 2013 merupakan sebuah
kurikulum yang mengutamakan pemahaman, skill, dan pendidikan berkarakter, siswa
dituntut untuk paham atas materi, aktif dalam berdiskusi dan presentasi serta memiliki
sopan santun disiplin yang tinggi.
Kurikulum ini menggantikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang diterapkan sejak
2006 lalu. Dalam Kurikulum 2013 mata pelajaran wajib diikuti oleh seluruh peserta didik
di satu satuan pendidikan pada setiap satuan atau jenjang pendidikan. Mata pelajaran
pilihan yang diikuti oleh peserta didik dipilih sesuai dengan pilihan mereka.Kedua
kelompok mata pelajaran tersebut (wajib dan pilihan) terutama dikembangkan dalam
struktur kurikulum pendidikan menengah (SMA dan SMK) sementara itu mengingat usia
dan perkembangan psikologis peserta didik usia 7 15 tahun maka mata pelajaran pilihan
belum diberikan untuk peserta didik SD dan SMP

C. ORIENTASI PENGEMBANGAN KURIKULUM DI INDONESIA


Orientasi Pengembangan kurikulum menurut Seller menyangkut enam aspek, yaitu :
1. Tujuan pendidikan menyangkut arah kegiatan pendidikan. Artinya , hendak dibawa
ke mana siswa yang kita didik itu.
2. Pandangan tentang anak. Apakah anan dianggap sebagai organisme yang aktif atau
pasif.
3. Pandangan tentang proses pembelajaran. Apakah proses pembelajaran itu dianggap
sebagai proses transformasi ilmu pengetahuan atau mengubah prilaku.
4. Pandangan tentang lingkungan. Apakah lingkungan belajar harus dikelola secara
formal, atau secara bebas yang dapat memungkinkan anak bebas belajar.
5. Konsepsi tentang peran guru . Apakah guru harus berperan sebagai instruktur yang
bersifat otoriter, atau guru dianggap sebagai fasilitator yang siap memberi
bimbingan dan bantuan pada anak untuk belajar.
6. Evaluasi belajar. Apakah mengukur keberhasilan ditentukan dengan tes atau
nontes.
Orientasi pengembangan kurikulum diartikan sebagai sebuah arah atau pendekatan
yang memiliki penekanan tertentu pada suatu hal dalam mengembangkan
kurikulum baik bagi para pengembang kurikulum maupun para pelaksana di
sekolah

Ada 3 orientasi:
1. Orientasi Pada Bahan Pelajaran
Orientasi pada bahan pelajaran yakni masalah bahan pelajaran sangat di tekankan
dan dijadikan pangkal kerja. Secara umum dapat dikatakan bahwa pendekatan ini
mengajarkan materi pelajaran dahulu dan setelah itu menjabarkannya ke dalam pokok-
pokok dan sub-sub pokok bahasan yang nantinya akan diajarkan kepada siswa.
Pertimbangan-pertimbangan dalam menentukan bahan-bahan pelajaran didasarkan pada:
a. Penting atau tidaknya bahan pelajaran tersebut untuk diajarkan di sekolah tertentu.
b. Manfaat dari bahan tersebut.
c. Kerelevansianya dengan kebutuhan anak setelah nantinya terjun ke masyarakat.
Pengembangan kurikulum yang berorientasi pada bahan pelajaran yang dipentingkan
adalah apa materi atau bahan yang disajikan, bukan pada apa tujuannya, sebab tujuan dapat
ditentukan setelah jelas bahan pelajaranya.
Dalam referensi lain pun diterangkan bahwasanya perencanaan dan pengembangan
kurikulum berdasar materi atau bahan ajar inilah yang mula-mula dilaksanakan. Inti dari
proses belajar mengajar ditentukan oleh pemilihan materi. Pembahasan mengenai
pembaharuan kurikulum terutama hanya membahas bagaimana sumber bahan dapat
berkembang.

Kelebihannya:
Adanya kebebasan dan keluwesan dalam memilih dan menentukan bahan atau materi
pelajaran yang akan diajarkan sebab tidak ada tujuan-tujuan yang membuatnya terikat.

Kelemahannya:
Bahan pelajaran yang disusun kurang jelas arah dan tujuannya. Kurang adanya pegangan
yang pasti untuk menentukan cara atau metode yang cocok untuk dipakai menyajikan
materi tersebut. Kurang jelas segi apa yang harus dinilai pada murid setelah berakhirnya
kegiatan dan bagaimana cara menilainya.

2. Orientasi Pada Tujuan


Pendekatan yang berorientasi pada tujuan ini, menempati rumusan atau penetapan
tujuan yang hendak dicapai dalam posisi sentral, sebab tujuan adalah pemberi arah dalam
pelaksanaan proses belajar mengajar. Seperti tertera pada Hirarki Tujuan Pendidikan
Indonesia terdiri atas :
a. Tujuan Nasional Tujuan Institusional-Tujuan Kurikuler.-Tujuan Pendidikan Nasional.
b. Tujuan Institusional-Tujuan Kurikuler.
c. Tujuan Instruksional, yang terbagi lagi menjadi Tujuan Instruksional umum, dan Tujuan
Instruksional Khusus.
Masing-masing tujuan yang ada di bawahnya terkait secara langsung dengan tujuan
yang ada di atasnya. Penyusunan kurikulum dengan orientasi berdasarkan tujuan, artinya
bahwa tujuan pendidikan dicantumkan terlebih dahulu. Tujuan pendidikan di Indonesia
tertera pada GBHN. Atas dasar tujuan-tujuan yang telah ada, selanjutnya ditetapkan
pokok-pokok bahan pelajaran dan kegiatan belajar mengajar, yang kesemuanya itu
diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan. Pengembangan kurikulum yang
menganut pendekatan berorientasi pada tujuan ini mendasarkan diri pada tujuan-tujuan
pendidikan yang telah dirumuskan secara jelas dari tujuan nasional sampai tujuan
instruksional. Dalam hal ini kegiatan pertama adalah merumuskan tujuan-tujuan
pendidikan yang akan dilaksanakan dan dicapai melalui kegiatan belajar mengajar
mengajar. Tujuan-tujuan pendidikan yang dirumuskan biasanya bersifat menyeluruh,
mencakup aspek-aspek, mulai aspek pengetahuan, nilai-nilai, keterampilan maupun sikap.
Dalam pengembangan semacam ini yang menjadi persoalan adalah menentukan tujuan-
tujuan atau harapan apa yang diinginkan dari tercapainya hasil pembelajaran tersebut.
Pengembangan kurikulum yang semacam ini di Indonesia adalah kurikulum 1975.
Berdasarkan tujuan yang dirumuskan tersebut maka disusun atau diterapkanlah bahan
pelajaran yang meliputi pokok-pokok dan sub-sub pokok bahasan sehingga lebih terarah.
Kelebihannya:
Tujuan yang ingin dicapai sudah jelas dan tegas, sehingga bahan, metode, jenis-jenis
kegiatan juga jelas dalam menetapkannya. Karena telah ada tujuan-tujuan yang jelas maka
memudahkan penilaian- penilaian untuk mengukur hasil kegiatan.
Hasil penilaian yang terarah akan mampu membantu para pengembang kurikulum
mengadakan perbaikan-perbaikan / perubahan-perubahan penyesuaian yang diperlukan.
Kekurangannya:
Sulit Merumuskan, apalagi jika merumuskan secara operasional setiap kali melaksanakan
kegiatan belajar mengajar.

3. Orientasi Pada Keterampilan Proses


Dalam pendekatan ini yang lebih di tekankan adalah masalah kegiatan proses
belajar mengajar apa yang harus dilakukan siswa dan bagaimana cara melakukan proses
harus di pikirkan dan dikembangkan. Keterampilan proses adalah pendekatan belajat
mengajar yang memberi tekanan kepada proses pembentukkan keterampilan memperoleh
pengetahuan dan mengkomunikasikan perolehannya. Pendekatan keterampilan proses
diupayakan dilakukan secara efektif dan efesien dalam mencapai tujuan pelajaran. Titik
berat yakni memikirkan, merencanakan, dan melaksanakan bagaimana, cara dan langkah-
langkah agar siswa menguasai keterampilan serta memahami ilmu pengetahuan.
Pengembangan kurikulum di Indonesia yang menganut orientasi tersebut adalah kurikulum
1984. Pendekatan ini menurut keaktifan keduanya, baik guru maupun siswa. guru secara
aktif merencanakan, memilih, menentukan, membimbing, menyerahi kegiatan, sedang
siswa harus terlibat baik secara fisik, mental, maupun emosional, serta mereka harus
menemukan sendiri, mengelola, mempergunakan serta mengkomunikasikan segala hal
yang di temukan dalam proses belajar.
Kelebihan:
a. Pendekatan lebih mengutamakan siswa dapat menguasai keterampilan bagaimana
cara belajar ( how learn to learn) daripada hasilnya.
b. Dapat mempergunakan dan mengembangkan sendiri keterampilan yang telah didapat.
Jadi dengan pendekatan ini diharapkan siswa akan berlatih mencari, menemukan, dan
mengembangkan sendiri masalah-masalah pengetahuan, dalam hal ini guru harus
menciptakan suasana yang baik dan diperlukan kemampuan untuk bertanya, membuat
siswa aktif menjawab pertanyaan siswa serta mengorganisasi kelas.

Kekurangan:
Sulitnya mengorganisasi kelas, sebab dalam hal ini guru dituntut aktif secara dapat
membuat siswa ikut aktif.

Sungai Penuh, 10 Januari 2014


Kepala Madrasah, Yang membuat laporan

ARIYEN, S.Pd, M.PdI HENDRI BAHTERA, S.Pd


NIP. 197210261998031003 NIP. 197205072006041013