Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH KOSMETIKA HERBAL

FORMULASI DEODORANT BENTUK BATANG (stick) DENGAN LENDIR DAUN


LIDAH BUAYA (Aloe vera Linn.)

Disusun oleh :

1. Ahmad Jauhari (K1A014001)


2. Baiq Sopiah (K1A014009)
3. Putu Monik Ananta P (K1A014037)
4. Royana Ari Pratiwi (K1A014042)
5. Sinta Wahyu Utami (K1A014043)
6. Siti Fatmah (K1A014044)
7. Yusnandhi Iin Pratiwi (K1A014050)

PROGRAM STUDI FARMASI

UIVERSITAS MATARAM

MATARAM

2017

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat dan nikmat-Nya kepada kita semua. Diantaranya nikmat kesehatan dan
kesempatan, penulis mampu menyelesaikan makalah ini yang berjudul Formulasi Sediaan
Deodorant. Sehingga kita semua dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.

Dalam penyusunan dan penulisan makalah ini tidak sedikit hambatan yang penulis
hadapi. Sehingga dalam penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan baik
dalam penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk
itu kritik dan saran yang membangun dari semua pihak sangat diharapkan demi
menyempurnakan pembuatan makalah ini.

Dalam pembuatan makalah ini penulis juga menyampaikan ucapan terimakasih


kepada pihak-pihak yang telah mendukung dan membantu dalam memberikan informasi
tentang materi yang terkait. Semoga bermanfaat bagi kita semua khususnya penulis.

Mataram, 3 Juli 2017

Penulis,

2
DAFTAR ISI

COVER ............................................................................................................................... 1

KATA PENGANTAR ........................................................................................................ 2

DAFTAR ISI....................................................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................................ 6

BAB III PEMBAHASAN JURNAL .................................................................................. 10

BAB IV KESIMPULAN .................................................................................................... 23

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................... 24

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kesehatan merupakan suatu aspek yang sangat penting bagi kehidupan
manusia. Memelihara kebersihan badan merupakan salah satu upaya dalam menjaga
kesehatan tubuh. Sebagian besar pria maupun wanita, kini banyak yang memilih
menggunakan deodoran, atau Antiperspirant untuk menjaga agar aroma tubuh lebih
segar. Bahkan kini, produk deodoran dan antiperspirant semakin gencar diiklankan.
Deodoran merupakan produk yang digunakan untuk mengatasi bau badan yang
disebabkan oleh keringat yang bercampur dengan bakteri. Deodoran mengurangi bau
badan dengan cara menekan pertumbuhan bakteri penyebab bau badan dan
antiperspirant yang mengurangi keluarnya keringat dengan cara menutup dan
menghalangi pori-pori kulit ketiak.
Masalah bau badan merupakan salah satu kendala yang sangat mengganggu
dan membuat orang menjadi tidak percaya diri bila berdekatan dengan orang lain.
Bedak, parfum, deodoran, dapat digunakan untuk mengatasi kendala tersebut. Dengan
semakin meningkatnya kegiatan dan aktivitas masyarakat terutama di kota-kota besar,
terlebih lagi dampak media promosi yang menginformasikan tentang keberadaan
produk tersebut menyebabkan permintaan akan produk bedak, parfum, dan
deodoransemakin meningkat.
Untuk itu diperlukan inovasi dalam pembuatan deodorant atau antiperspirant
salah satunya dengan bahan baku herbal yaitu lendir daun lidah buaya yang dipercaya
memiliki efek bakterisida dan antiseptik. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan
membahas mengenai formulasi deodorant dalam bentuk batang dengan bahan lendir
daun lidah buaya.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam makalah ini yaitu:
1. Apa yang dimaksud dengan deodorant atau antiperspirant?
2. Bagaimana cara pembuatan deodorant stik dari bahan lendir daun lidah buaya?
3. Bagaimana evaluasi dari hasil deodorant stik lendir daun lidah buaya?

4
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dalam makalah ini yaitu:
1. Mengetahui pengertian deodorant atau antiperspirant.
2. Mengetahui cara pembuatan deodorant stik lendir daun lidah buaya.
3. Mengetahui evaluasi yang dilakukan pada hasil deodorant stik lendir lidah
buaya.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian
1. Antipresipirant
Antiperspiran adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk menekan
produksi keringat, baik ekrin maupun apokrin (Gros dan Keith, 2009).
Mekanisme antiperspiran dapat berupa (Wasitaatmadja, 1997):
Penyumbatan saluran keringat atau muara saluran keringat dengan cara:
a. Membentuk endapan protein keringat
b. Membentuk endapan keratin epidermis
c. Membentuk infiltrat dinding saluran keringat, Contoh: garam-garam
aluminium, seperti (Rahayu, dkk., 2009):
i. Aluminium kalium sulfat (tawas/alum)
ii. Aluminium klorohidrat
Aluminium klorohidrat adalah kelompok garam yang mempunyai
rumus umum AlnCl(3n-m)(OH)m, biasanya digunakan dalam
deodoran dan antiperspiran serta flokulan pada permunian air.
Aluminium klorohidrat digunakan dalam antiperspiran dan pada
terapi hiperhidrosis.
iii. Aluminium klorida
Aluminium klorida adalah bahan kimia dengan rumus kimia AlCl3.
Aluminium klorida dikenal sebagai astringen dan antiseptik.
iv. Aluminium zirconium tetrachlorohydrex; anhydrous aluminium
zirconium tetrachlorohydrex; aluminium zirconium chloride
hydroxide; aluminium zirconium tetrachlorohydrate; aluminium
zirconium chlorohydrate.
2. Deodorant
Deodoran adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk menyerap keringat,
menutupi bau badan dan mengurangi bau badan (Rahayu, dkk., 2009). Deodoran
dapat juga diaplikasikan pada ketiak, kaki, tangan dan seluruh tubuh biasanya

6
dalam bentuk spray (Egbuobi, dkk., 2013). Bahan aktif yang digunakan dalam
deodoran dapat berupa: (Wasitaatmadja, 1997, Butler, 2000).
1. Pewangi (parfum); untuk menutupi bau badan yang tidak disukai. Dengan
adanya pewangi maka deodoran dapat digolongkan dalam kosmetik pewangi
(perfumery).Pembunuh mikroba yang dapat mengurangi jumlah mikroba pada
tempat asal bau badan.
2. Antiseptik: pembunuh kuman apatogen atau patogen, misalnya heksaklorofen,
triklosan, triklokarbanilid, amonium kwartener, ion exchange resin. Sirih
merupakan antiseptik tradisional yang banyak digunakan.
3. Antibiotik topikal: pembunuh segala kuman, misalnya neomisin, aureomisin.
Pemakaian antibiotik tidak dianjurkan karena dapat menimbulkan resistensi
dan sensitisasi.
4. Antienzim yang berperan dalam proses pembentukan bau, misalnya asam
malonat, metal chelating, klorofil. Dosis yang diperlukan terlalu tinggi
sehingga dapat menimbulkan efek samping.
5. Eliminasi bau (odor eliminator); yang dapat mengikat, menyerap, atau
merusak struktur kimia bau menjadi struktur yang tidak bau, misalnya seng
risinoleat, sitronelik senesiona, ion exchange resin.
Perbedaan antara antiperspiran dan deodoran; antiperspiran diklasifikasikan
sebagai kosmetik medisinal/obat karena mempengaruhi fisiologi tubuh yaitu fungsi
kelenjar keringat ekrin dan apokrin dengan mengurangi laju pengeluaran keringat
sedangkan deodoran membiarkan pengeluaran keringat, tetapi mengurangi bau badan
dengan mencegah penguraian keringat oleh bakteri (efek antibakteri) dan menutupi
bau dengan parfum. Penggunaan deodoran bukan hanya pada ketiak saja, tetapi bisa
juga pada seluruh bagian tubuh. Deodoran tidak mengontrol termoregulasi, sehingga
deodoran digolongkan sebagai sediaan kosmetik (Butler, 2000; Egbuobi, dkk., 2013).
Sediaan deodoran bukanlah sediaan antiperspiran tetapi sediaan antiperspiran secara
otomatis adalah sediaan deodoran juga. Hal ini karena sediaan antiperspiran dapat
mengurangi populasi bakteri ketika pengeluaran keringat dihambat sehingga bau
badan berkurang.
3. Deodoran antiperspiran stick
Deodoran antiperspiran stick, berbentuk batang padat, mudah dioles dan
merata pada kulit, bau sedap, stik transparan atau berwarna. Pembuatannya berbeda
dengan pembuatan lipstik karena deodoran ini merupakan gel sabun. Pembuatannya

7
mirip dengan pembuatan emulsi, yaitu suatu fase minyak (fatty acid) diadukkan dalam
suatu fase larutan alkali dalam air/alkohol pada suhu sekitar 70oC. Gel panas yang
terbentuk diisikan ke dalam cetakan pada suhu sekitar 60 - 65 oC dan dibiarkan
memadat (Ditjen POM, 1985; Tranggono dan Latifah, 2007).
Deodoran antiperspiran stick adalah kosmetika yang berbahan dasar; natrium
stearat (asam sterat dan natrium hidroksida) dan sebagai pelarut menggunakan
propilen glikol atau alkohol (Bulter, 2000). Untuk mencegah kristalisasi garam
aluminium maka digunakan gliserin atau propilen glikol dan untuk alasan yang sama
maka hanya sejumlah kecil alkohol yang ditambahkan pada formula (Poucher,
1978).Garam kompleks aluminium dibuat dengan penambahan laktat ke dalam
aluminium klorhidrat. Garam kompleks natrium aluminium klorhidrosilaktat dapat
bercampur dengan natrium stearat atau sabun lain, karena ionisasi aluminium dapat
ditekan jika pH larutan meningkat (Ditjen POM, 1985). Pertengahan tahun 1950,
diperkenalkan natrium aluminium klorhidrosilaktat kompleks yang stabil di dalam
dasar deodoran stik. Sediaan yang mengandung kompleks ini mempunyai aktifitas
antibakteri tetapi, efektifitas sebagai antiperspiran menjadi berkurang (Butler, 2000).

2.2 Mekanisme Kerja Antiperspiran


Untuk mengerti bagaimana mekanisme kerja deodorant antiperspirant, kita
harus mengerti kenapa kita memerlukan deodorant atau antiperspirant. Seseorang
membeli deodorant atau antiperspirant bertujuan untuk mengurangi atau menutupi bau
badan yang tidak enak (BPOM, 2009).
Deodorant bekerja dengan cara menghambat pertumbuhan mikroorganisme
yang ditemukan pada axial sedangkan antiperspirant bekerja dengan cara membatasi
jumlah sekresi kelenjar keringat yang dikirim ke permukaan kulit melalui
pembentukan halangan atau sumbatan pada saluran keringat. Sebagai akibatnya,
mekanisme kerjanya akan mengurangi produksi keringat pada kelenjar keringat.
Perbedaan antara antiperspirant & deodorant yaitu:
Deodorant membiarkan pengeluaran keringat tetapi mencegah bau melalui
cara melawannya dengan bahan antiseptik yang membunuh bakteri penyebab
bau juga menutup bau dengan bahan parfum.

8
Antiperspirant mengandung perfume dan bahan kimia yang menghambat atau
menyumbat pori-pori untuk menghentikan pengeluaran keringat (BPOM,
2009).

2.3 Macam- macam sediaan antiperspirant

Antiperspirant dapat berbentuk aerosol, bedak kompak, emulsi, krim, larutan, atau stik.
a. Antiperspirant aerosol
b. Antiperspirant bedak kompak
c. Antiperspirant emulsi, merupakan larutan yang mengandung emulgator. Untuk
larutan yang mengandung kadar elektrolit tinggi diperlukan ketelitian dalam
memilih emulgator, agar tidak mudah rusak.
d. Antiperspirant krim
e. Antiperspirant larutan
f. Antiperpirant stik, dibuat menggunakan garam kompleks dengan penambahan
laktat ke dalam aluminium klorhidrat. Garam kompleks natrium aluminium
klorhidroksilaktat dapat campur dengan Natrium Stearatatau sabun lain, karena
ionisasi Aluminium dapat ditekan jika pH larutan meningkat menjadi 8-8,5 ,
menyebabkan sangat mudah campur.

9
BAB III

PEMBAHASAN JURNAL

A. METODE PENELITIAN
1. ALAT DAN BAHAN
ALAT
a. Lemaries ( tempatpenyimpanan )
BAHAN
a. Lendirdaunlidahbuaya ( Aloe Vera Linn ) ( Zataktif )
b. Bronidox ( sebagai anti oksidan)
2. METODE
A.Pengumpulan bahan dan deterimasi tanaman
B. Isolasi dan Identifikasi bakteri penyebab bau badan dari sukarelawan

Lendir lidah buaya gel kental & bening

Diblender
Disimpan dalam lemari es 15
menit

Buih telah hilang

Pemanasan suhu 30-40 C


+ Bronidox

Hasil

3. Penentuan konsentrasi hambat tumbuh minimum ( KHTM) lender daun lidah


buaya (AloeVera Linn )
4. Pembuatan sediaan deodorant batang (stick) dengan lender daun lidah buaya
(Aloe vera Linn.) berbagai konsentrasi

10
Dibuat konsentrasi 10,
11,12,13,14,15,16,17,18,19,20 (%
v/v)

Hasil

5. Pengujian stabilitas fisik, efekti-vitas,dan keamanan sediaan yang dibuat

Dilakukan beberapa pengujian

Pemeriksaan Organoleptik
Pengukuran viskositas
Penentuan kadar air,Abu dan
bobot jenis
Identifikasi bakteri
Penentuan KHTM
Uji stabilitas fisik sedian
deodorant batas tipe alcohol dan
lemak
Uji titik potong deodorant
batang tipe alcohol gel
Uji aktifitas anti bakteri sediaan
Uji keamanan sediaan

Hasil

B. EVALUASI DAN HASIL

Pada penelitian ini, tanaman yang digunakan adalah Lidah Buaya. Klasifikasi dari
tanaman lidah buaya yang digunakan adalah:

11
Anak Divisi : Spermatophyta

Divis : Angiospermae

Kelas : Dycotyledone

Bangsa : Liliales

Suku : Liliaceae

Marga : Aloe

Jenis : Aloe vera Linn ( Aloe barbadensis Miller )

Nama Daerah : Letah buaya (Sunda)

1. Pemeriksaan Organoleptis

Dari Tabel 1 diatas dapat diketahui bahwa perubahan bentuk, warna, dan bau lendir
daun lidah buaya mulai terjadi pada hari ke-35, yaitu bentuk lendir daun lidah buaya dari
cairan kental berubah menjadi bentuk cairan agak kental, warna dari hijau kekuningan
menjadi hijau pucat. Perubahan selanjutnya pada hari ke-42 warna berubah dari hijau
pucat dan makin coklat pada hari selanjutnya. Sedangkan pada hari ke-49 bau khas lidah
buaya mulai melemah dan menjadi bau busuk pada hari ke-56 waktu penyimpanan, dan
bentuk cairan berubah dari cairan agak kental menjadi cairan encer. Hasil tersebut terjadi

12
karena adanya reaksi oksidasi baik secara enzimatis maupun non enzimatis (dari udara).
Bau busuk yang timbul pada hari ke-56 waktu penyimpanan mungkin dikarenakan adanya
penguraian asam amino yang terdapat pada lendir daun lidah buaya.

2. Pengukuran Viskositas

Dari Tabel 2 di atas dapat diketahui bahwa viskositas rata-rata lendir daun
lidah buaya tanpa poses stabilisasi selama waktu penyimpanan mengalami penurunan
yang cukup signifikan.

3. Penentuan Kadar Air, Kadar Abu, dan Bobot Jenis

Dari Tabel 3 dapat diperoleh kadar air lendir daun lidah buaya rata-rata
sebesar 98,62 %. Hal ini sesuai dengan persyaratan kadar air dari lendir daun lidah
buaya (Aloe vera Linn.) berdasarkan pustaka yaitu kurang dari 99 % sehingga lendir
daun lidah buaya (Aloe vera Linn.) yang digunakan dalam penelitian dapat dikatakan
sudah memenuhi persyaratan. Pada penentuan kadar abu, diperoleh kadar abu rata-
rata lendir daun lidah buaya (Aloe vera Linn.) sebesar 0,135%. Jika dilihat dari
persyaratan kadar abu lendir daun lidah buaya (Aloe vera Linn.) menurut pustaka
adalah sebesar 4%, maka dapat disimpulkan bahwa lendir daun lidah buaya (Aloe

13
vera Linn.) yang digunakan dalam pene-litian sudah memenuhi persyaratan.
Berdasarkan Tabel 3 diatas juga didapat hasil berat jenis rata-rata lendir daun lidah
buaya (Aloe vera Linn.) adalah sebesar 1,013 g/cm3. Menurut pustaka berat jenis
lendir daun lidah buaya (Aloe vera Linn.) harus mendekati berat jenis air. Hal ini
menunjukkan bahwa hasil yang diperoleh diatas sudah memenuhi persyaratan.
4. Identifikasi Bakteri
Berdasarkan hasil identifikasi bakteri dari ketiak tiga orang sukarelawan, dapat
diketahui bahwa pada setiap sukarelawan hanya terdapat bakteri Staphylococcus
epidermidis sebagai penyebab bau badan. Bakteri tersebut akan digunakan untuk
menentukan Konsentrasi Hambat Tumbuh Minimum (KHTM) lendir daun lidah
buaya (Aloe vera Linn.) dan juga untuk menguji aktivitas antibakteri sediaan
deodoran batang yang dibuat dengan berbagai konsentrasi lendir daun lidah buaya
(Aloe vera Linn.).
5. Penentuan KHTM Lendir Daun Lidah buaya (Aloe vera Linn.)
Penentuan KHTM (Konsentrasi Hambat Tumbuh Minimum) dilaku-kan
terhadap satu jenis bakteri yang berhasil diidentifikasi dari ketiga su -karelawan,
yaitu Staphylococcus epidermidis dengan hasil sebagai berikut:
Tabel 4. Hasil Penentuan KHTM (Konsentrasi Hambat Tumbuh Minimum)
Lendir Daun Lidah Buaya (Aloe vera Linn.) Terhadap Bakteri Staphlococcus
epidermidis

Keterangan :

v/v : volume pervolume


- : tidak ada pertumbuhan bakteri
+ : ada pertumbuhan bakteri

14
Dari Tabel 4 diatas diperoleh Konsentrasi Hambat Tumbuh Minimum
(KHTM) lendir daun lidah buaya (Aloe vera Linn.) terhadap bakteri
Staphylococcus epidermidis adalah sebesar 15% v/v.

6. Uji Stabilitas Fisik Sediaan Deodoran batang Tipe Alkohol Gel dan Tipe Lemak
a. Tipe Alkohol Gel

Tabel 5. Hasil Uji Stabilitas Bentuk, Warna, Bau, Homogenitas, dan Jenis
Olesan Deodoran Batang Tipe Alkohol Gel dengan Lendir Daun Lidah
Buaya (Aloe vera Linn.) Berbagai Konsentrasi

Keterangan :

FA : Deodoran batang tipe alkohol gel tanpa lendir daun lidah buaya
FA1 : Deodoran batang tipe alkohol gel dengan lendir daun lidah buaya 12 %
FA2 : Deodoran batang tipe alkohol gel dengan lendir daun lidah buaya 15 %
FA3 : Deodoran batang tipe alkohol gel dengan lendir daun lidah buaya 18 %
- : Tidak terjadi perubahan
+ : Terjadi perubahan

15
Dari Tabel 5 diatas, diketahui bahwa bentuk, bau, homogenitas, dan
jenis olesan deodoran batang tipe alkohol gel dengan berbagai konsentrasi
lendir daun lidah buaya (Aloe vera Linn.) pada umumnya stabil tidak
mengalami perubahan selama waktu penyimpanan 56 hari. Kecuali stabilitas
warna dari formula FA, FA1, FA2, FA3 menunjukkan perubahan pada
penyimpanan hari ke-56 yaitu warna berubah dari putih menjadi putih
kekuningan. Hal ini mungkin disebabkan karena pengaruh dari jumlah lendir
daun lidah buaya (Aloe vera Linn.) yang ditambahkan atau mungkin karena
adanya interaksi dari masing-masing bahan penyusun formula dengan lendir
daun lidah buaya.

b. Tipe Lemak
Tabel 6. Hasil Uji Stabilitas Bentuk, Warna, Bau, Homogenitas, dan Jenis
Olesan Deodoran Batang Tipe Lemak dengan Lendir Daun Lidah Buaya
(Aloe vera Linn.) Berbagai Konsentrasi

Keterangan :

16
FB : Deodoran batang tipe lemak tanpa lendir daun lidah buaya
FB1 : Deodoran batang tipe lemak dengan lendir daun lidah buaya 12 %
FB2 : Deodoran batang tipe lemak dengan lendir daun lidah buaya 15 %
FB3 : Deodoran batang tipe lemak dengan lendir daun lidah buaya 18 %
- : Tidak terjadi perubahan
+ : Terjadi perubahan

Dari Tabel 6 di atas, diketahui bahwa bentuk, warna, bau,


homogenitas, dan jenis olesan deodoran batang tipe lemak dengan berbagai
konsentrasi lendir daun lidah buaya (Aloe vera Linn.) pada umumnya
menunjukkan kestabilan selama waktu penyimpanan 56 hari. Hal ini mungkin
disebabkan karena tidak terjadinya interaksi atau penguraian dari masing-
masing bahan penyusun formula dan tidak adanya pengaruh dari jumlah
lendir daun lidah buaya yang ditambahkan.

7. Uji Titik Potong Deodoran Batang


a. Tipe Alkohol Gel
Tabel 7. Hasil Uji Titik Potong Deodoran Batang Tipe Alkohol Gel dengan
Lendir Daun Lidah Buaya (Aloe vera Linn.) Berbagai Konsentrasi selama
Waktu Penyimpanan

Keterangan :

FA : Deodoran batang tipe alkohol gel tanpa lendir daun lidah buaya
FA1 : Deodoran batang tipe alkohol gel dengan lendir daun lidah buaya 12 %
FA2 : Deodoran batang tipe alkohol gel dengan lendir daun lidah buaya 15 %
FA3 : Deodoran batang tipe alkohol gel dengan lendir daun lidah buaya 18 %

Dari Tabel diatas juga diketahui bahwa harga titik potong masing-
masing formula FA, FA1, FA2, dan FA3 menunjukkan adanya kenaikan

17
selama waktu penyimpanan. Hal ini disebabkan oleh hilangnya sebagian
alkohol dari sediaan selama waktu penyimpanan, sehingga konsistensi sediaan
deodoran batang akan menjadi lebih keras.

b. Tipe Lemak
Tabel 8. Hasil Uji Titik Potong Deodoran Batang Tipe Lemak dengan
Lendir Daun Lidah Buaya (Aloe vera Linn.) Berbagai Konsentrasi Selama
Waktu Penyimpanan

Keterangan :

FB : Deodoran batang tipe lemak tanpa lendir daun lidah buaya


FB1 : Deodoran batang tipe lemak dengan lendir daun lidah buaya 12 %
FB2 : Deodoran batang tipe lemak dengan lendir daun lidah buaya 15 %
FB3 : Deodoran batang tipe lemak dengan lendir daun lidah buaya 18 %

Dari Tabel diatas diketahui bahwa harga titik potong masing-masing


formula FA, FA1, FA2, dan FA3 menunjukkan adanya kenaikan selama waktu
penyimpanan. Hal ini disebabkan oleh hilangnya sebagian isopropilalkohol
selama waktu penyimpanan, sehingga konsistensi sediaan deodoran batang akan
menjadi lebih keras. Juga dapat disimpulkan bahwa semakin banyak lendir daun
lidah buaya, titik potongnya makin rendah sehingga massanya akan lebih lunak.
Hal tersebut mungkin disebabkan karena penambahan lendir daun lidah buaya
mempengaruhi jumlah fase cair sediaan deodoran batang.

8. Uji Aktivitas Antibakteri Sediaan


a. Tipe Alkohol Gel
Tabel 9 Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Deodoran Batang Tipe Alkohol Gel
dengan Lendir Daun Lidah Buaya (Aloe vera Linn,) Berbagai Konsentrasi
Selama Waktu Penyimpanan

18
Keterangan :

FA : Deodoran batang tipe alkohol gel tanpa lendir daun lidah buaya
FA1 : Deodoran batang tipe alkohol gel dengan lendir daun lidah buaya 12 %
FA2 : Deodoran batang tipe alkohol gel dengan lendir daun lidah buaya 15 %
FA3 : Deodoran batang tipe alkohol gel dengan lendir daun lidah buaya 18 %
mm : milimeter

Dari Tabel 9 diatas juga diketahui bahwa diameter hambat sediaan


deodoran batang dengan berbagai konsentrasi lendir daun lidah buaya
terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis tidak mengalami penurunan
selama waktu penyimpanan. Hal ini mungkin terjadi karena pada konsentrasi
15% dan 18% lendir daun lidah buaya (Aloe vera Linn.) sudah berdifusi
sempurna dalam media agar dan bakteri, atau dikarenakan bakteri didalam

19
cawan petri sudah tidak mengalami pertumbuhan lagi, sehingga zona bening
tidak melebar selama 56 hari waktu penyimpanan.

b. Tipe Lemak
Tabel 10. Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Deodoran Batang Tipe Lemak
dengan Lendir Daun Lidah Buaya (Aloe vera Linn.) Berbagai Konsentrasi
Selama Waktu Penyimpanan

Keterangan :

FA3 : Deodoran batang tipe lemak dengan lendir daun lidah buaya 18 %
mm : milimeter

Dari Tabel 10 diatas diketahui bahwa diameter hambat sediaan


deodoran batang dengan berbagai konsentrasi lendir daun lidah buaya
terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis mengalami kenaikan dari 15,0
mm menjadi 15,2 mm pada hari ke-56 waktu penyimpanan. Hal ini mungkin
terjadi karena pada hari ke-56 lendir daun lidah buaya masih berdifusi, dan
bakteri didalam cawan petri belum sepenuhnya mati, sehingga zona bening akan
melebar pada 56 hari waktu penyimpanan.

9. Uji Keamanan Sediaaan


Deodoran batang yang diuji keamanannya adalah deodoran dengan lendir
daun Lidah buaya (Aloe vera Linn.) konsentrasi tertinggi, yaitu 18 % v/v

20
masing-masing untuk tipe alkohol gel dan tipe lemak. Hasil uji keamanan sediaan
dapat dilihat pada Tabel 11 dan Tabel 12 berikut :
Tabel 11. Hasil Uji Keamanan Deodoran Batang Tipe Alkohol Gel dengan
Lendir Daun Lidah Buaya (Aloe vera Linn.) Konsentrasi tertinggi (18%)

21
Keterangan :
- : tidak terjadi iritasi
+ : timbul panas
++ : timbul eritema
+++ : timbul gatal-gatal
++++ : timbul perih

Dari Tabel 11 dan Tabel 12 diatas, diketahui bahwa deodoran batang


tipe alkohol gel dengan lendir daun lidah buaya (Aloe vera Linn.) konsentrasi
tertinggi (18% v/v) ternyata tidak menimbulkan iritasi pada kulit. Hal ini
dibuktikan dengan tidak timbulnya panas, eritema, gatal-gatal, atau perih, sehingga
dapat disimpulkan bahwa sediaan ini aman untuk digunakan.

22
BAB IV

KESIMPULAN

1. Antiperspiran adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk menekan produksi


keringat, baik ekrin maupun apokrin.
2. Pembuatan deodoran dilakukan dengan Pengumpulan bahan dan determinasi
Tanaman, Isolasi dan identifikasi bakteri penyebab bau badan dari ketiak
Sukarelawan,Penentuan Konsentrasi Hambat Tumbuh Minimum (KHTM) lendir daun
lidah buaya (Aloe vera Linn.),Pembuatan sediaan deodoran batang(stick) dengan
lendir daun lidah buaya (Aloe vera Linn.) berbagai konsentrasi (Dibuatkonsentrasi 10,
11,12,13,14,15,16,17,18,19,20 (% v/v)), lalu dilakukan Pengujian stabilitas fisik,
efekti-vitas, dan keamanan sediaan yang dibuat.
3. Evaluasi yang dilakukan adalah Pengukuran viskositas, Penentuankadar air,abu dan
bobot jenis Identifikasi bakteri, Penentuan KHTM,Uji stabilitas fisik sediaan
deodorant batas tipe alcohol dan lemak, Uji titik potong deodorant batang tipe alcohol
gel,Uji aktifitas anti bakteri sediaan, dan Uji keamanan sediaan.

23
DAFTAR PUSTAKA

Leon, A. G., dan David L. (1954). Handbook of Cosmetic Materials-The Properties, Uses
and Toxic and Dermatologic Actions. Interscience Publishes Inc.: New York.
Butler, H. (ed.). (2000). Poucher's Perfumes, Cosmetics and Soaps, 10th Edn. Britain:
Kluwer Academic Publishers. Hal. 69-100.
Ditjen POM. (1979). Farmakope Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Hal. 81.
Ditjen POM. (1985). Formularium Kosmetika Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Hal. 83, 85, 106-132.
Egbuobi, R. C., Ojiegbe, G. C., Dike-ndudim, J. N., dan Enwun, P. C. (2013). Antibacterial
Activities of different brands of deodorants marketed in owerrri, imo state,
Nigeria. African Journal of clinical and experimental microbiologi 14 (1): 14-16.
Rahayu, S., Sherley, dan Indrawati S. (2009). Deodoran-antiperspirant. Naturakos IV(12).
BPOM RI (online).
http://perpustakaan.pom.go.id/koleksilainnya/buletinnaturakos/0309.
Tranggono, R.I., dan Latifah, F. (2007). Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. 49, 188.
Wasitaatmadja, S.M. (1997). Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta: UI-Press. Hal. 3-5,
144-147.

24