Anda di halaman 1dari 11

A.

Pengertian fire clay

Lempung dari berbagai kelompok material terbentuk dari proses pelapukan batuan

metamorf ataupun batuan beku. Material ini umumnya sangat halus dengan ukuran

partikel kurang dari 2 mikron. Material yang menarik bagi pembuat (manufaktur)

refraktori adalah yang mempunyai kandungan alumino-silikat yang tinggi.

Kelompok refraktori ini biasanya mempunyai ketahanan yang bagus terhadap slag

asam (acid slag). Secara umum property dari kelompok ini yaitu sebagai berikut:

1) Bagus sebagai material insulator.

2) Beberapa jenis mempunyai perilaku ekspansi yang kompleks, tetapi kebanyakan

hanya mempunyai ekspansi panas yang kecil.

3) Kekuatan yang sedang pada temperatur tinggi, mengandung fasa gelas yang bertitik

lebur rendah.

4) Ketahanan yang bagus terhadap slag asam (acid slag).

5) Ketahanan yang bagus terhadap kejut panas (thermal shock)

6) Tidak mahal dan mudah tersedia.

Jenis-jenis lempung yaitu lempung Cina (China Clay), lempung Bola (Ball clays),

Fire clay (lempung api), Flint clays (lempung batu api), dan Bata lempung (Brick

clay).
Gambar.1.Contoh fire clay

Fire clay atau Tanah liat api adalah istilah yang diterapkan untuk berbagai

tanah liat yang tahan api dimana digunakan dalam pembuatan keramik, khususnya

batu bata api. Amerika Serikat Environmental Protection Agency mendefinisikan

bahwa fire clay merupakan mineral tanpa silika bebas.

Secara umum fire clay merupakan bahan galian yang terdiri dari mineral

kaolinit yang bentuk Kristalnya tidak sempurna (melorit=disorderit kaolit), ilite

kuarsa dan mineral lempung lainnya, bersifat plastis, dan biasanya dilapangan tidak

menunjukan perlapisan. Lempung ini tahan terhadap suhu tinggi (lebih dari 1600 oC)

tanpa terjadi pembentukan masa gelas.

Secara megaskopis sulit membedakan antara fire clay dan ball clay. Hal ini

dapat diketahui dengan metode AAS dimana kaolinit merupakan komposisi utama.

Berbeda dengan ball clay dan bond clay, fire clay terbentuk akibat proses sortasi dan

sedimentasi yang telah lanjut sehingga didalamnya tidak memperlihatkan adanya

perlapisan, diendapkan pada lingkungan lakustrin ataupun delta yang umumnya

mengandung batubara.
Ciri-ciri fire clay :

1. Tanah ini sangat tahan api (refractory), karena itu sangat tahan terhadap suhu

tinggi.

2. Plastis, atau sama sekali tidak plastis. Bertekstur kasar.

3. Kuat tekan kurang lebih 1200 kg/cm2. Warna nya abu-abu keputih-putihan.

4. Sifat tahan apinya di sebabkan karena ini tidak mengandung besi

oksida(2 3).

5. Termasuk jenis tanah liat sekunder karena biasanya ditemukan di daerah

lapisan batubara.

Tabel.1. komposisi dari fire clay

Fire Clay Compositions


Thorpe King Shackelford

Stonebridge Eisenberg I Eisenberg II Newcastle 1 Newcastle 2 Newcastle 3 N/A

SiO2 (%) 65.10 89.8 64.7 51.1 47.6 48.6 58.1

Al2O3 (%) 22.2 5.40 24.0 31.4 29.5 30.2 23.1

MgO (%) 0.18 0.09 0.40 1.54 0.71 1.91 1.00

CaO(%) 0.14 0.20 0.37 1.46 1.34 1.66 0.08

Iron Oxides 0.18 0.09 0.40 4.63 9.13 4.06 2.40


(%)

K2O (%) 0.18 0.61 2.40 not quoted

Berdasaarkan tabel di atas Komposisi kimia dari fire clay adalah 23-34% Alumina

( Al2O3 )50-60% silika( SiO2 ) dan kehilangan 6-27 % saat kontak dengan

Fe2O3,CaO,MgO,K2O,Na2O dan TiO2.


B. Genesa fire clay

Fire clay terbentuk akibat proses sortasi dan sedimentasi yang telah lanjut

sehingga di dalamnya tidak memperlihatkan adanya perlapisan, diendapkan pada

lingkungan lakustrin atau pun delta yang umumnya mengandung batubara. Fire clay

termasuk tanah sekunder (sedimen) merupakan jenis tanah liat yang bersifat lunak namun

tahan terhadap panas dan tidak berubah bentuk, dan mempunyai titik lebur yang tinggi

yaitu 1600C-1750C. Bertekstur kasar, memiliki daya lentur dan berwarna terang (putih)

ke abu-abu gelap menuju ke hitam. Tanah ini sangat tahan api (refractory), karena itu

sangat tahan terhadap suhu tinggi, Plastis apabila basa, dan atau sama sekali tidak plastis

apabila kering. Kuat tekan pada fire clay 1200 Kg/Cm2 ,Titik lebur yang tinggi

mencapai suhu 15000C. Sifat tahan apinya disebabkan karena tanah jenis ini tidak

mengandung besi oksida.

Dalam komposisi fire clay yang paling dominan adalah alumina dan silika yang

mingakibatkan fire clay sangat tahan terhadap suhu yang tinggi.

Alumina

Alumina merupakan refraktori yang berasal dari deposit alami dan buatan.

Sumber-sumber alami terdiri dari Bauksite dan Diaspore. Sedangkan yang buatan terdiri

dari Calcined Alumina, Sintered Alumina, dan Fused Alumina.

Bauksit adalah bijih yang mengandung Boehmite (Al2O3.H2O) atau Gibbsite

(Al2O3.3H2O) dalam bentuk yang bervariasi. Bauksit juga mengandung oksida besi,

alumino-silikat dan titania. Bauksit yang kaya akan oksida besi dan pengotor lain dapat

digunkan untuk membuat Calcined Alumina melalui proses Bayer atau untuk membuat

logam alumunium. Bauksit yang langsung digunakan unuk membuat refraktori harus

memiliki kandungan pengotor yang rendah. Segera setelah ditambang kemudian bauksit
dikalsinasi di rotary kiln untuk penyetabilan. Komponen utama adalah corundum

(alumina ) dengan sedikit Mullit dan sejumlah kecil fasa glas.

Gambar 2. Calcined Alumina

Diaspore adalah monohidrat alumina, membentuk corundum langsung selama

pemanasan, sehingga hanya membutuhkan kalsinasi sebelum digunakan sebagai bahan

baku refraktori.

Calcined alumina dibuat dengan proses Bayer, beberapa grade tersedia dengan property

yang sesuai dengan aplikasinya.

Sintered Alumina dibuat dengan peletisasi (peletizing) calcined alumina, lalu disinterisasi

pada temperature sangat tinggi (> 1800 C) di Rotary Kiln. Sintered pellet kemudian di

remuk (crushing) yang akan menghasilkan alumina kualitas sangat tinggi dengan butiran

kasar. Kadang-kadang juga disebut tabular alumina karena bentuk kristalnya yang besar

menyerupai tablet. Kandungan mineral utama adalah alumina dengan hanya sejumlah

kecil sangat kecil (trace) alumina (Na2O.11Al2O3).

Fused Alumina dibuat dengan cara melebur calcined bauxite atau calcined alumina di

electric Arc furnace (EAF). Material yang telah lebur tersebut lalu dicetak menjadi ingot

dan kemudian diremuk.


Terdapat beberapa jenis fused Alumina, yaitu:

1. Brown Fused Alumina yang terbuat dari bauksit, selama peleburan pengotor-pengotor

dipisahkan sehingga akan diperoleh kandungan alumina sebesar 94-97%, pengotor

yang tersisa akan memberikan warna coklat.

2. White Fused Alumina yang terbuat dari calcined Alumina dan mengandung alumina

sebesar > 99%, material ini bersifat sangat refraktori (> 1900 C), densitasnya tinggi

dan tangguh, bila warnanya pink maka mengandung oksida Khrom sekitar 2%.

Gambar 3. White fused Alumina

Fused alumina mempunyai kristalisasi yang hamper sempurna sehingga membuatnya

sangat stabil, oleh karena itu mempunyai kekuatan yang sangat bagus pada

temperature tinggi dan ketahanan yang prima terhadap abrasi dan korosi.

Properti umum yang dimiliki refraktori alumina adalah sebagai berikut:

1. Kekuatan yang tinggi pada temperatur tinggi.

2. Sangat keras.

3. Bersifat Amphoter, ketahanan korosi yang bagus terhadap berbagai variasi slag.

4. Konduktivitas panasnya lebih tinggi daripada kelompok alumino-silikat.

5. Kurang tahan terhadap kejut panas.


Silika
Silika membentuk sekitar 60% dari lapisan kerak bumi, sehingga bahan baku

untuk refraktori silica mudah tersedia. Sumber alaminya adalah kwarsa dan tanah

diatomae. Pasir silica adalah bahan baku utama. Pasir dpat berasal dari pantai,

lempung pasir, atau dibuat dengan meremuk batu pasir. Sedangkan tanah diatomae

atau diatomit mengandung rangka-rangka silica dari alga bersel tunggal yang disebut

diatom. Rangka-rangka tersebut tersusun dari silica hidrat dan silica amorf. Setelah

dikalsinasi material bersifat sangat porous dan ringan sehingga bagus digunakan

sebagi material insulator.

Gambar 4. Pasir Silika

Fused silica dibuat dengan melebur pasir murni, hampir sama dengan cara

membuat fused alumina, dengan sedikit perbedaan yaitu disertai quenching terhadap

material. Produknya bersifat amorf dan mempunyai ekspansi panas yang sangat

rendah, sehingga volumenya sangat stabil. Akan tetapi material hanya dapat

digunakan untuk periode yang panjang pada temperature sampai 1200 C, ketika itu

material gelas akan melunak dan membentuk kristobalit pada 1270 C.

Silika mempunyai banyak polimorf sehingga perubahan fasa akan terjadi bila

memanaskan silica, selain itu juga disertai dengan perubahan volume yang cukup
berarti. Hal ini akan menyebabkan masalah jika memanaskan material yang

mengandung kwarsa.

Penggunaan refraktori silica penggunaannya terus menurun, hal ini disebabkan oleh

perubahan-perubahan yang terjadi pada teknologi steelmaking dimana membutuhkan

refraktori yang mampu mengatasi temperature yang lebih tinggi. Selain itu juga

masalah kesehatan yang berkaitan dengan handling silica (silikosis) juga turut

menyumbang pada penurunan popularitasnya.

Properti umum dari refraktori silica adalah sebagai berikut :

1) Masih dapat menanggung beban sampai mendekati titik leburnya.

2) Hanya sedikit menyusut sampai 1600 C.

3) Tahan terhadap korosi leburan Fe dan slag asam

4) Insulator yang baik.

5) Sensitif terhadap kejut panas pada 600 C.

6) Bila terkena uap air dalam waktu yang lama dapat menyebabkan hancur

(crumbling).

7) Debu SiO2 dapat menyebabkan maslah kesehatan (Silikosis).


C. Sistem Penambangan

Fire clay ditemukan di alam dalam bentuk bongkahan padat dan merupakan

bahan galian yang lunak. Oleh sebab itu, penambangan dilakukan dengan sistem quary

dengan alat sederhana.Sistem penambangan gophering tidak dianjurkan, tetapi apabila

karena kondisi geologi terpaksa harus dilaksanakan dengan teknik penambangan yang

aman. Fire clay dari hasil penambangan dibersihkan dari kotoran terutama dari

kontaminan pengganggu yang umumnya merupakan oksida besi (Fe2O3) yang berwarna

coklat. Kemudian dilakukan proses pemisahan ukuran butir dengan cara diaduk dengan

air lalu diendapkan pada bak pengendapan. Endapan yang berada diatas diambil dan siap

dimanfaatkan untuk pembuatan bata tahan api. Fire clay yang telah diendapkan dan siap

dicampurkan dengan air untuk diputar di meja putar.

D. Sebaran di Indonesia

Gambar 5. Peta Sebaran Fire Clay


Sebaran fire clay terdapat di :

Sumatera Selatan : Air Batu Kab. Ogan Komering Hulu merupakan endapan sekunder

bersama-sama dengan kaolin, G. Meraksa, Kab. Ogan Komering Hulu.

Jawa Barat : Cicarucug Kab. Bogor, Parangpanjang Kab. Bogor, Kebunbeura Kab.

Bogor.

Kalimantan Selatan: Binuang Kab.Tapin(terdapat dalam sedimen paleogen,berasosiasi

dengan batubara.

Kalimantan Timur: Sigihan Kab. Kutai (terdapat dalam batuan sedimen Miosen dan

berasosiasi dengan lapisan batubara); Tg. Pude Kab.Kutai.

Sulawesi: Daerah Mengempan; Tondongkura

E. Kegunaan

Fireclay berfungsi sebagai bahan untuk membuat barang refractory seperti bata

tahan api, perlengkapan tungku, dalam badan keramik sebagai bahan campuran untuk

menambah kemampuan bentuk pembuatan produk stoneware maupun porselin.

Di gunakan pula dalam industri keramik konvensional seperti industri pembuatan

piring, mangkuk, peralatan kamar mandi, lantai dan dinding, perhiasaan rumah seperti

pot bunga porselin, bahan pernak-pernik dan juga berbagai jenis fire clay digunakan

sebagai peralatan listrik untuk voltan rendah dan tinggi.


Gambar 6. contoh hasil dari firre clay setelah di buat pernak-pernik.