Anda di halaman 1dari 6

Suhu Tubuh dan Labirin Sebagai Reseptor Keseimbangan

Dian Septiani, Dzaalika Aldeirre, Melisa Epriani, Siti Aisah (Kelompok 6)


Dosen: Atin Supiyani Aslab: Lona, Himatul
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Jakarta Jl. Pemuda 10, Rawamangun, Jakarta 13220
Telp/Fax(021)4894909
Email : diannseptiani@gmail.com

Abstrak
Suhu tubuh pada kebanyakan hewan dipengaruhi oleh suhu lingkungannya.
Selain suhu tubuh yang penting untuk dipertahankan terdapat juga labirin sebagai
reseptor. Pada praktikum ini bertujuan untuk mengetahui regulasi suhu tubuh
hewan poikiloterm, mengetahui subjektivitas reseptor suhu, mengetahui
mekanisme keseimbangan pada manusia, dan mengetahui mekanisme
keseimbangan pada katak. Pada praktikum suhu dan subjektifitas reseptor diberi
perlakuan pada katak dan tangan manusia yang di masukkan kedalam air es (4 ),
air ledeng (25 ) dan air panas (40 ). Pada praktikum keseimbangan, OP diberi
perlakuan dengan diputar dibangku putar dengan kepala tertunduk 30 dan kepala
dimiringkan 120 kemudian dilihat reaksi OP setelah 10 putaran lambat, 10
putaran cepat dan setelah berhenti. Pada praktikum keseimbangan katak, katak
diberi perlakuan dengan keadaan normal, dirusak cerebrum dan dirusak medula
spinalis dan dicatat bagaimana reaksinya ketika posisi tegak, berenang, terbalik,
berputar dan posisi atas bawah. Dari hasil perlakuan pada katak dapat dilihat jika
katak termasuk poikiloterm sementara pada tangan manusia dapat dilihat sensasi
yang dirasakan oleh tangan yaitu panas dan dingin. Pada keseimbangan manusia
diketahui bahwa posisi kepala dan rotasi akan memberikan rangsangan terhadap
kanalis semisirkularis.Pada keseimbangan katak diketahui bahwa medulla spinalis
berperan penting dalam proses keseimbangan.
Kata Kunci: Poikiloterm, Labirin, Suhu Tubuh , Keseimbangan

Pendahuluan
Suhu tubuh hewan harus dipertahankan agar tetap konstan. Hewan dibagi
menjadi 2 berdasarkan asal panas tubuhnya yaitu endoterm dan eksoterm. Hewan
endoterm berasal dari panas dalam tubuh sebagai hasil metabolisme energi.
Sedang hewan eksoterm panas tubuh bergantung pada suplai panas dari
lingkungannya. Suhu tubuh hewan vertebrata ada yang dapat beradaptasi
mengikuti perubahan suhu lingkungan (poikiloterm) yakni kelas Pisces, Amphibia
dan Reptilia. Sedangkan aves dan mamalia suhu tubuhnya stabil walaupun suhu
lingkungan berubah (homoiterm). Selain suhu tubuh yang harus dipertahankan
terdapat juga labirin yang berfungsi sebagai reseptor keseimbangan. Labirin pada
vertebrata dari pisces sampai mamalia merupakan bagian dari sistem pendengaran
(yang terdapat di rongga telinga bagian dalam. Tujuan dari praktikum ini adalah
untuk mengetahui regulasi suhu tubuh hewan poikiloterm, mengetahui
subjektivitas reseptor suhu, mengetahui mekanisme keseimbangan pada manusia
(sebagai kontrol), dan mengetahui mekanisme keseimbangan pada katak.

Materi dan Metode Praktikum


Materi
Pada vertebrata telah berkembang mekanisme-mekanisme untuk
mempertahankan suhu tubuh dengan menyesuaikan tingkat pembentukan dan
pengeluaran panas. Pada ikan, amfibi dan reptil, mekanisme pengeluaran ini
relatif kurang berkembang dengan sempurna, dan hewan-hewan ini disebut
berdarah dingin (poikilotermik) karena suhu tubuh mereka berfluktuasi cukup
besar. Pada unggas dan mamalia, hewan berdarah panas (homeotermik),
beroperasi sekelompok respon refleks yang terutama terintegrasi di hipotalamus
untuk mempertahankan suhu tubuh dalam rentang yang sempit walaupun terjadi
perubahan yang besar pada suhu lingkungan.
Telinga dalam memiliki komponen khusus, yakni apparatus vestibularis, yang
memberikan informasi untuk keseimbangan dan koordinasi gerakan kepala
dengan gerakan mata dan postur tubuh. Apparatus vestibularis terdiri dari dua set
struktur yang terletak di dalam tulang temporalis kanalis semisirkularis dan
organ otolit, yaitu utrikulus dan sakulus. Semua komponen apparatus vestibularis
mengandung endolimfe dan dikelilingi oleh perilimfe. Komponen vestibuler
masing-masing mengandung sel-sel rambut yang berespons terhadap perubahan
bentuk mekanis. Sel-sel reseptor vestibularis dapat mengalami depolarisasi atau
hiperpolarisasi, bergantung pada arah gerakan cairan. Kanalis semisirkularis
mendeteksi akselerasi atau deselerasi anguler. Rambut-rambut terbenam dalam
suatu lapisan gelatinosa seperti topi di atasnya, yaitu kupula. Kupula bergoyang
sesuai arah gerakan cairan. (Sherwood, 2001)

Metode Praktikum
Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 2 Oktober 2016 di Laboratorium
Fisiologi FMIPA Universitas Negeri Jakarta. Alat dan bahan yang digunakan
adalah katak, termometer, air es (4 ), air ledeng (25 ) dan air panas (40 ), tali,
baki, balok kecil, bangku putar dan jarum pentul. Pada praktikum suhu dan
subjektifitas reseptor diberi perlakuan pada katak dan tangan manusia yang di
masukkan kedalam air es (4 ), air ledeng (25 ) dan air panas (40 ), Pada
praktikum keseimbangan, OP diberi perlakuan dengan diputar dibangku putar
dengan kepala tertunduk 30 dan kepala dimiringkan 120 , 10 putaran lambat, 10
putaran cepat dan setelah berhenti. Pada praktikum keseimbangan katak, katak
diberi perlakuan dengan keadaan normal, dirusak cerebrum dan dirusak medula
spinalis dan posisi tegak, berenang, terbalik, berputar dan posisi atas bawah.

Hasil dan Pembahasan


Hasil Praktikum
1. Suhu dan Subjektivitas Reseptor
Air Es (4C) Air Ledeng Air Panas (40C)
(25C)
t Katak 14C 24C 34 C
Tangan Manusia Tangan kiri: Tangan kiri: Tangan kanan:
Kaku, Pegal, Mati hangat Panas (hangat),
Rasa, dingin, Tangan kanan: tangan memerah
tangan memucat dingin
2. Keseimbangan Manusia
Nama OP 10 Putaran 10 Putaran Cepat Setelah Berhent
Lambat
Nesya Tertunduk 30 Agak pusing Seperti naik Goyah, ketika bangun lalu
halilintar, pusing, jatuh ke depan
berteriak

Kepala miring Agak pusing Seperti ingin Tubuh jadi miring. Kepala
120 jatuh, tubuh agak susah kembali tegak
seperti miring
Rizal Tertunduk 30 Biasa Mulai pusing Pusing, seperti gempa

Kepala miring Biasa Mulai pusing, Lebih pusing,seperti


120 seperti ingin jatoh miring ingin jatuh
3. Keseimbangan Katak

Normal Rusak Cerebrum Rusak Medula


Spinalis
Posisi Tegak normal Tungkai terkulai lemas Tidak ada respon
Tegak
Berenang Berenang aktif Berenang dengan miring dan Tidak dapat
berputar berenang
Terbaik Mencoba berbalik Tidak dapat membalikan Tidak
badanya,tidak bergerak bergerak,kaku
Diputar Kepala berlawanan arah Masih dapat merspon ,kepala Tidak ada respon
dengan arah yang diputar miring kekiri
Atas Ketika digerakkan keatas Tidak ada respon,postur tubuh Tidak ada respon
bawah kepalannya turun,dan tetap
sebaliknya
Pembahasan

Suhu dan Subjektivitas Reseptor


Pada kegiatan ini dilakukan dua perlakuan yaitu mengukur suhu katak dan
tangan manusia.
1. Suhu katak
Pada kegiatan ini katak diukur suhunya dengan memasukkan katak dalam air
es, air ledeng, dan air hangat. Hasil yang didapat bahwa suhu katak berubah-ubah
seperti berubah-ubahnya kondisi suhu lingkungan. Pada regulasi suhu tubuh
katak, impuls akan diantarkan sampai tingkat presepsi, lalu di hipotalamus akan
mengubah suhu tubuh. Pada hewan poikiloterm saraf pengatur suhu tubuh di
hipotalamus belum berkembang, hal inilah yang membuat katak tidak pernah
menggigil. Namun katak tetap memiliki ambang batas toleransi suhu yaitu 10-40
C. Jika suhu melewati ambang batas dapat menyebabkan kerusakan enzim dan
kematian pada katak. Dapat disimpulkan bahwa katak termasuk hewan
poikiloterm, dimana suhu tubuhnya ditentukan oleh keseimbangan dengan kondisi
lingkungannya, Artinya suhu tubuh katak sesuai atau sama dengan suhu
lingkungannya.
2. Tangan manusia
Setelah tangan kanan dimasukkan dalam air panas praktikan merasakan
tangannya panas (berasal dari respon saraf ruffini) serta tangan memerah. Hal ini
disebabkan oleh terjadi perpindahan panas secara konduksi dan terjadi
vasodilatasi saat tangan memerah. Kemudian saat tangan kiri dimasukkan dalam
air dingin, praktikan merasakan tangannya kaku, pegal, mati rasa, dingin (di
respon oleh saraf Krause), dan tangan memucat karena terjadi vasokontriks dan
dan pembekuan sel darah. Ketika kedua tangan dimasukkan kedalam air ledeng,
tangan yang kedinginan akan merasa hangat sedangkan tangan yang kepanasan
akan merasa dingin ketika dimasukkan ke dalam air ledeng. Hal ini disebabkan
oleh terjadinya perpindahan panas dari tangan kanan ke tangan kiri melalui proses
konveksi. Suhu tubuh diatur oleh pusat pengatur suhu tubuh yang berada di
hipotalamus. Reseptor panas atau dingin yang berada di kulit akan mengirimkan
impuls saraf ke medulla spinalis dan kemudian ke hipotalamus otak untuk
pengaturan suhu tubuh.
Keseimbangan Manusia

Hasil yang didapat pada perputaran cepat OP merasa seperti naik halilintar.
Ketika perputaran diberhentikan , OP merasa jatuh ke depan. Dalam keadaan
tegak, kanalis semisirkularis anterior merespon terhadap gerakan kepala
menunduk atau menengadah. Arah jatuhnya tubuh OP berlawanan dengan arah
putar endolimfe di dalam kanalis semisirkularis yang menjadi poros rotasi. Hal ini
merupakan mekanisme bentuk kompensasi dan keterkaitan antara sistem
vestibular dan propioseptor. Sensasi saat pertama kali berputar aliran endolimfe
akan mengalir berlawanan arah dengan arah putar sehingga kupula bergerak
sesuai dengan arah endolimfe. Dengan demikian OP merasa arah putaran pada
saat pertama kali berlawanan arah dengan arah putar sesungguhnya. Bila
kecepatan putar menetap sehingga tak ada percepatan yang dihasilkan, kupula
akan kembali ke posisi normal sehingga OP merasa tidak ada perputaran yang
terjadi. Saat kecepatan mulai diturunkan (deselerasi) cairan endolimfe akan
mengalir searah dengan arah putar sehingga kupula akan melekuk ke arah putar.
Hal ini menjelaskan mengapa pada saat kecepatan putar diturunkan OP merasa
berputar ke arah putaran sesungguhnya. Kupula membutuhkan waktu sekitar 25-
30 detik untuk kembali ke posisi normal setelah melekuk hal ini menjelaskan
mengapa OP masih merasa berputar pada saat putaran telah dihentikan.

Keseimbangan Katak
Berdasarkan hasil pengamatan, pada saat Rana sp. dalam posisi normal,
tubuh dalam keadaan tegak normal, ketika cerebrum ditusuk tungkai terkulai
lemas,saat medulla spinalis dirusak tidak memberikan respon apapun. Hal ini
disebabkan karena cerebrum sebagai pengendali gerak tubuh sehingga apabila
otak ini rusak maka, katak tidak dapat mengendalikan gerak tubuhnya. Inilah yang
menyebabkan Rana sp tidak bergerak dan tidak memberikan respon apapun.
Kemudian saat otak belakang dirusak, Rana sp tidak menujukkan respon gerak.
Kerusakan ini mengakibatkan sistem spinal tidak berfungsi lagi dan
mengakibatkan terjadinya disorientasi posisi. Pada saat berenang, katak berenang
aktif, dan ketika cerebrum dirusak, katak berenang dalam posisi yang miring
karena ketika otak kiri ditusuk maka bagian tubuh sebelah kanan menjadi
disfunction. Kemudian pada saat katak diputar, dalam keadaan normal kepala
katak berlawanan arah dengan arah yang diputar, Ketika posisi katak di keatas
bawahkan dalam keadaan normal yang terjadi ketika digerakkan keatas kepalanya
turun,dan sebaliknya. Hal ini disebabkan karena pada struktur telinga dalam
terdapat macula akustika (organ keseimbangan statis) dan krista akustika (organ
keseimbangan dinamis) melakukan koordinasi penyampaian impuls sarafnya
masing-masing. Sel reseptor pada macula akustika yang berupa sel-sel rambut dan
sel-sel penunjang melekat pada membran yang mengandung butir-butiran kecil
kalsium karbonat (CaCO3) yang disebut otolith. Perubahan posisi kepala
menimbulkan tarikan gravitasi yang menyebabkan pergerakan otolith sehingga
menyebabkan depolarisasi sel reseptor yang berjalan ke otak kecil sebagai organ
keseimbangan.
Kesimpulan

Katak termasuk hewan poikiloterm, dimana suhu tubuhnya ditentukan


oleh keseimbangannya dengan kondisi lingkungannya, dan berubah-ubah
seperti berubah-ubahnya kondisi suhu lingkungan.
Labirin berfungsi sebagai alat keseimbangan tubuh karena memiliki organ-
organ vestibular (sakulus,utrikulus, dan kanalis semisirkularis).
Sakulus dan utrikulus dikhususkan untuk mendeteksi posisi kepala
terhadap arah tarik gravitasi bila kepala dalam posisi hampir vertikal.
Kanalis semisirkularis berfungsi untuk mempertahankan keseimbangan
akibat percepatan sudut. Pada saat objek berotasi dengan cepat terjadi
nistagmus karena terjadi gerakan endolimfe yang berlawanan arah dengan
arah percepatan sudut.

Daftar Pustaka

Campbell, Neil A. Jane B. Reece, dan Lawrence G. Mitchell, Biologi Edisi ke 5


Jilid 3. Jakarta: Erlangga, 2004
Ganong, William F. 2003.
Guyton, dan Hall. 1997. Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC
Buku Ajar Fisiologi Kedokteran (Edisi 20). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC Isnaeni, Wiwi. 2006.
Fisiologi Hewan. Yogyakarta: Kanisius. Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi
Manusia. Jakarta: Buku Kedokteran:EGC
Pertanyaan

1. Jelaskan mekanisme jalannya impuls dari reseptor panas sampai integrasi


di korteks somatosensoris tempat terbentuknya sensasi dan di area
asosiasi tempat terbentuknya persepsi pada saat telapak tangan merasakan
panas
Jawaban : mekanismenya yakni ketika memasuki medula spinalis, sinyal
akan menjalar dalam traktus Lissauer sebanyak beberapa segmen di atas
atau di bawah dan selanjutnya akan berakhir di :
Area reticular batang otak
Kompleks ventrobasal talamus
Beberapa sinyal termal dari kompleks ventrobasal akan dipancarkan
menuju ke korteks somatosensorik. Adakalnya dengan penelitian
mikroelektroda ditemukan adanya suatu neuron pada area somatosensorik
I yang dapat langsung berespon terhadap stimulus panas pada daerah kulit
yang spesifik. Selanjtnya telah diketahui bahwa pembuangan girus
postsentralis pada manusia dapat mengurangi kemampuan untuk
membedakan gradasi suhu.