Anda di halaman 1dari 14

ANALISIS KOMPLEKS

DERET KOMPLEKS

DISUSUN OLEH

KELOMPOK II
NAMA ANGGOTA :
1. DONY WENRI NAINGGOLAN (4153311006)
2. ELIA SISKA (4153311007)
3. FERAWATI BR SITINJAK (4153311010)
4. PUTRI ALAWIYAH LUBIS (4153311026)

KELAS : PENDIDIKAN MATEMATIKA EKSTENSI A 2015

JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2017
BAB I
PENDAHULUAN

Barisan bilangan kompleks adalah suatu fungsi f : yang didefenisikan dengan


f(n) = untuk setiap n dapat dinyatakan dengan :
f(1) = 1 . (2) = 2 = (3) = 3 () =
Fungsi f dengan f(n) = untuk setiap n adalah suatu barisan yang dapat
dinyatakan sebagai notasi
{ } = {1 , 2 , 3 , }
Bilangan-bilangan 1 , 2 , 3 , disebut suku-suku barisan dan suku disebut suku umum
(suku ke n) barisan. Barisan ( ) dikatakan divergen, jika barisan ( ) tidak konvergen.
Dengan kata lain barisan ( ) divergen (tidak konvergen ke z) jika dan hanya jika untuk
setiap terdapat bilangan 0 > 0 sehingga untuk setiap bilangan asli > 0 terdapat
bilangan kompleks sehingga berlaku | | >. Jika barisan ( ) mempunyai limit,
diperoleh jumlah tak berhingga
1 + 2 + 3 + +
Jadi dalam simbol dituliskan dengan

lim =

=1

=1 disebut deret tak berhingga (atau deret bilangan kompleks). Bilangan-bilangan 1 +


2 + 3 + dinamakan suku-suku deret, dan dinamakan suku ke-n (suku umum).
Barisan ( ) dengan =
=1 dinamakan jumlah bagian ke n dari deret =1 .

Kekonvergenan suatu deret ditentukan oleh ada atau tidak adanya limit barisan
jumlah bagiannya.

2
BAB II
PEMBAHASAN

4.2 Deret Bilangan Kompleks


Diberikan barisan bilangan kompleks ( ). Kemudian dari barisan ( ) dibentuk
barisan lain ( ) yang suku-sukunya didefenisikan dengan :
1 = 1
2 = 1 + 2
3 = 1 + 2 + 3
.........................
= 1 + 2 + 3 +
.................................
Dan seterusnya
Jika barisan ( ) mempunyai limit, diperoleh jumlah tak berhingga
1 + 2 + 3 + +
Jadi dalam simbol dituliskan dengan

lim =

=1

=1 disebut deret tak berhingga (atau deret bilangan kompleks). Bilangan-bilangan 1 +

2 + 3 + dinamakan suku-suku deret, dan dinamakan suku ke-n (suku umum).


Barisan ( ) dengan =
=1 dinamakan jumlah bagian ke n dari deret =1 .

Kekonvergenan suatu deret ditentukan oleh ada atau tidak adanya limit barisan jumlah
bagiannya. Kekonvergenan deret tersebut disajikan pada defenisi berikut ini.
DEFENISI 6.2
a. Deret
=1 dikatakan konvergen ke S jika dan hanya jika lim =


b. Deret
=1 dikatakan konvergen ke S jika dan hanya jika lim =

tidak ada

Contoh 6.3

Tunjukkan bahwa deret
=1 2 konvergenan ke-i

3
Penyelesaian :
1 1 1 1
1 = , 2 = , 3 = , =
2 4 8 2
Jumlah bagiannya adalah
1 1
1 = 1 =
= (1 )
2 2
1 1 1 1 1
1 = 1 + 2 = + = ( + ) = (1 )
2 4 2 4 4
1 1 1 1 1 1 1
1 = 1 + 2 + 3 = + + = ( + + ) = (1 )
2 4 8 2 4 8 8
...............................................................................................
1 1 1 1
1 = + + + +
2 4 8 2
1 1 1 1
= ( + + + + )
2 4 8 2
1
= (1 )
2
Diperoleh,
1
lim = lim (1 )
2
1
= lim (1 2 )

=
1
Jadi terbukti bahwa barisan ( ) konvergen ke i. Dengan kata lain deret
=1 2 konvergen

ke- i
Jadi bilangan kompleks dinyatakan dengan z = x + iy maka jumlah bagian menjadi
= 1 + 2 + +
= (1 + ) + (2 + 2 ) + + ( + )
= 1 + 2 + 3 + + ) + i ( 1 + 2 + 3 + + )

= +
=1 =1

Jadi deret
=1 dapat ditulis dalam bentuk

= =
=1 =1 =1

4
Berdasarkan uraian diatas dapat diturunkan sifat-sifat deret bilangan kompleks yang
disajikan pada teorema berikut.
TEOREMA 6.6
Diberikan deret bilangan kompleks
=1 dengan + +

a.
=1 konvergen jika dan hanya jika =1 =1 konvergen

b. Jika
=1 konvergen, maka lim = 0

c. Jika
=1 konvergen mutlak, maka =1 konvergen, artinya jika =1 | |

maka
=1 konvergen

Teorema diatas hanya akan dibuktikan bagian (a) dan (b). Sedangkan bagian (c) diberikan
kepada para pembaca sebagai latihan.
Bukti (a) :
Misalkan deret
=1 konvergen ke a+ib sehingga =1 = + . Akan

ditunjukkan bahwa deret


=1 konvergen ke a dan deret =1 konvergen ke b.

Menurut definisi diperoleh.


= lim = lim ( + ) = +

=1 =1 =1

Akibatnya diperoleh

lim = dan lim =



=1 =1

Karena
lim
=1 dan lim =1 berturut-turut merupakan jumlah bagian dari =1 +


=1 maka =1 dan =1 konvergen.

Misalkan
=1 konvergen ke a dan =1 konvergen ke b. Akan ditunjukkan


=1 konvergen ke a+ib. Karena = =1 + =1 menurut, teorema diperoleh

lim = + . Karena lim


=1 , diperoleh

= +
=1

Jadi terbukti bahwa


=1 konvergen

Bukti (b) :

5
Diberikan bilangan > 0 sebarang. Akan dibuktikan lim = 0 berarti terdapat

bilangan asli 0 sehingga jika > 0 berlaku | | <


Diketahui
=1 konvergen, bearti terdapat bilangan kompleks z sehingga berlaku

= lim =

=1

Jadi untuk setiap bilangan > 0 terdapat bilangan asli 0 sehingga jika > 0 berlaku

|1 | < |1 | <
2 2
Menurut ketaksamaan segitiga diperoleh,
| ||1 | = |(1 ) + ( )|
= |1 | +

< + =
2 2
Jadi terbukti bahwa
=1 = 0

Kontrapositif Teorema 3.2.2 (b) merupakan suatu pernyataan yang benar pula.
Adapun pernyataan adalah sebagai berikut :
Diberikan deret bilangan kompleks
=1 dengan + ,

Jika
=1 0 maka =1 divergen

Sedangkan Konvers Teorema 3.2.2 (b) diatas tidak benar. Sebagai contoh yang
1 1
menggambarkan pernyataan ini adalah deret harmonis
=1 . Jelas bahwa lim =

0, .
Jadi perlu diingat bahwa :
Jika lim = 0 tidak mengakibatkan
=1 konvergen

Demikian pula konvers Teorema 6.2.2 (c) yaitu :


Jika
=1 konvergen mengakibatkan =1 || konvergen adalah salah.
(1)+1 (1)+1 1
Sebagai contoh, deret
=1 konvergen, tetapi deret
=1 | | =
=1 divergen

Uji kekonvergenan yang dapat digunakan dalam menentukan kekonvergenan suatu


deret, diantaranya adalah uji banding, uji ratio, uji akar,uji integral, dan uji deret berganti
tanda. Dalam buku ini hanya akan dibahas ujia banding dan uji rasional saja, sebab uji inilah
sering dipakai perhitungan maupun dalam pembuktian. Sedangkan uji lainnya dipersilahkan
kepada para pembaca untuk mempelajarinya sendiri.
TEOREMA 6.7 (Uji Banding)

6
Diberikan | | | |
a. Jika
=1 | | kekonvergenan, maka =1 | | konvergen (mutlak)

b. Jika
=1 | | divergen, maka =1 || divergen

Bukti :
a. Diketahui | | | | dan
=1 | | konvergen. Akan dibuktikan =1 | |

konvergen mutlak. Misalkan ( ) adalah barisan jumlah bagian untuk deret



=1 | | dan ( ) adalah barisan jumlah bagian untuk deret=1 | | karena


=1 | | konvergen, berarti terdapat bilangan real M sehingga | | .

Karena | | | | diperoleh untuk setiap . Karena


barisan ( ) sebagai jumlah bagian deret
=1 | | sehingga berlaku

untuk suatu bilangan real M. Akibatnya


=1 | | konvergen.

b. Diketahui | | | | dan
=1 | | divergen. Akan dibuktikan =1 | |

divergen. Andaikan deret


=1 | | konvergen. Karena | | | | sehingga

dari (a) diperoleh barisan deret


=1 | | konvergen. Hal ini bertentangan

dengan hipotesis yang diketahui jadi pengandaian di atas salah, haruslah deret

=1 | | divergen.

Contoh 6.4
1 1 1 1 1
Uji kekonvergenan deret + + + + + + dengan menggunakan uji
2 5 10 17 2 +1

banding.
Penyelesaian :
1 1 1
Bentuk umum deret ini adalah <
=1 2 konvergen. Karena itu,
2 +1 2
1
berdasarkan uji banding diperoleh bahwa deret
=1 2 +1 konvergen.

Uji kekonvergenan suatu deret dengan menggunakan uji rasio disajikan pada teorema
berikut.
Deret
=1 | | adalah deret konvergen, karena merupakan deret geometri dengan

< 1 dari (**) dan menggunakan uji banding, diperoleh bahwa deret
=1|+ | berbeda

dari deret
=1 | | dalam suku pertama. Jadi deret =1 | | konvergen sehingga deret

yang diberikan konvergen mutlak.


Diberikan bilangan > 0 sebarang. Karena | | 0 untuk setiap n, maka > 0

7
Diketahui < 1 . Dipilih bilangan real r sehingga < < 1. Kemudian diambil =
+1
< 1. Karena lim | | = terdapat bilangan asli sehingga > berlaku

+1
|| | | <

Diperoleh jika > berlaku


+1 +1
| | < + = + = | | < | | . ()

Diambil = 0 , 0 + 1, 0 + 2 sehingga dari (*) diperoleh
|0+1 | < | |
|0+2 | < 2 | |
|0+3 | < 3 | |
........................
|0+1 | < | |, ....... (*)
Deret
=1 | | adalah deret konvergen, karena merupakan deret geometri dengan ratio

< 1 . Dari (**) dan menggunakan uji banding, diperoleh bahwa deret
=1|+ |

konvergen. Deret
=1|+ | berbeda dari deret =1 | | dalam suku pertama. Jadi

deret
=1 | | konvergen sehingga deret yang diberikan konvergen mutlak.
+1 +1
Karena lim | | = > 1 lim | | = +. Hal ini berarti untuk setiap

bilangan > 0 terdapat bilangan sehingga > berlaku


+1
lim | | <

Perhatikan bahwa :
+1
1 < lim | | < jika dan hanya jika| | < |+1 | <

Diambil = 0 , 0 + 1, 0 + 2 sehingga diperoleh
| | < |+1 |
| | < |+1 | < |+2 |
Jadi jika > berlaku | | > | | akibatnya lim 0 karena lim

0
=1 divergen
1
Misalkan deret
=1 =1 diperoleh

+1 1
lim | | = lim |(+1) . |
1
1
= lim |(+1) |

8
1
= lim |(+1) |

=1
1
Deret
=1 konvergen untuk > 1 dan divergen untuk 1. Jadi deret =1 | | dapat

konvergen dan dapat juga divergen, sedangkan yang divergen memenuhi


+1
lim | |=1

Contoh 6.4

((2+2))
Tunjukkan bahwa deret lim Konvergen dengan menggunakan uji ratio
1 !

Penyelesaian :

((2+2)) ((2+2))
Misalkan = maka +1 =
! !
(2+2)+1
+1 (+1)!
lim | | = lim | (+1)! |

!

2+2
= lim | +1 |

8
= lim
+1

Jadi menurut ratio, diperoleh bahwa deret tersebut konvergen mutlak.

4.3 Deret Pangkat


Dalam hal ini akan dibahas deret pangkat yang merupakan dasar dalam pembahasan
deret Taylor dan deret Maclaurin. Selanjutnya akan dibahas pula jari-jari dan daerah
kekonvergenan suatu deret pangkat. Pengertian deret pangkat disajikan pada defenisi berikut.

DEFENISI 6.3
Deret pangkat adalah suatu deret tak berhingga yang berbentuk
2 2
=0 ( ) = 0 + 1 ( ) + 2 ( ) + ( ) +...

Dimana (n = 1,2,3 ...) konstanta kompleks z variabel kompleks dan c dinamakan pusa
deret.
Kekonvergenan deret pangkat pada suatu titik berhubungan dengan kekonvergenan
deret bilangan kompleks. Hal ini disajikan pada defenisi berikut.

DEFENISI 6.4

9
Deret pangkat
=1 ( )

konvergen pada titik 0 jika dan hanya jika deret

=1 ( ) merupakan deret bilangan kompleks yang konvergen.

Jika deret bilangan kompleks


=1 ( )

divergen, maka deret pangkat

=1 ( ) divergen pada 0 . Jika deret pangkat =1 ( ) konvergen pada

setiap titik himpunan S, maka dikatakan deret pangkat tersebut konvergen pada S, tetapi jika
deret pangkat
=1 ( ) divergen pada titik S, dikatakan deret pangkat =1 (

) divergen pada S.
Jika pusat deret pangkat c = 0 maka deret pangkat berbentuk
=1 . Deret

pangkat
=1 konvergen di suatu titik mengakibatkan konvergen mutlak di setiap

bilangan kompleks dengan syarat tertentu. Situasi ini disajikan pada teorema berikut.
TEOREMA 6.8
Jika deret
=1

konvergen di 0 0 , maka deret pangkat
=1

konvergen mutlak setiap nilai z dengan || < | |


Bukti :
Diberikan bilangan > 0 sebarang. Karena deret
=1

konvergen, maka

=1 = 0. Hal ini berarti terdapat bilangan asli 0 sehingga jika > 0 berlaku

| | <
Untuk setiap bilangan kompleks z, berlaku 0 || < | | dan akibatnya adalah 0

| | = | | < 1 oleh karena itu, diperoleh
0 0


| | = | 0 . | = | 0 || |
0 0

Karena lim 0 = 0 terdapat bilangan real > 0 sehingga berlaku | 0 | < . Jadi

diperoleh :


=0 +1[ 0 [ =0 +1 | |
0

Karena 0 | | < 1 dan
=0 +1 | |

suatu deret ukur, maka deret
0 0

=0 +1 | | konvergen. Akibatnya deret


=0 0 konvergen. Jadi terbukti bahwa
0


deret
=0 0 konvergen.

TEOREMA 6.9

10

Deret
=0 0 divergen untuk 1 (=0 0 divergen ), maka deret =0 0

divergen untuk setiap z C |z| > |1 | diperoleh | | > 1 Akibatnya,
=0 0 =
1



=0 | 0 ( ) | =0| 0 || |

1 1

Deret
=0 | | divergen. Akibatnya , =0 0 divergen.
1

Setiap deret pangkat 2


=0 ( ) terdapat bilangan tunggal p,0 yang

dinamakan jari-jari konvergen deret yang mempunyai sifat-sifat sebagai berikut.


Jika p-0 maka deret 2
=0 ( ) konvergen di z-c dan divergen z . Jika 0 < <

maka deret 2
=0 ( ) konvergen mutlak untuk setiap z dengan | | <

Jika p = maka deret 2


=0 ( ) konvergen mutlak untuk setiap z.

Bilangan p dinamakan jari-jari kekonvergenan deret pangkat


=0 ( )
2

sedangkan {z : }|z-c| p dinamakan daerah kekonvergenan dan | | < disebut


lingkaran kekonvergenan. Kekonvergenan 2
=0 ( ) untuk z dengan |z-c| < silakan

diperiksa sendiri. Daerah kekonvergenan deret pangkat


=0 ( )
2
digambarkan
sebagai berikut ini

| | =
P
divergen

Daerah Kekonvergenan

Masalah penentuan daerah kekonvergenan deret pangkat kompleks diperoleh dengan mencari
jari-jari kekonvergenan deret pangkat 2
=0 ( ) yaitu,

= lim | |
+1
1

= lim | |
+1

Contoh 6.5
Tentukan daerah konvergensi dari deret pangkat
1

=0

(+)

=0 (+1)3 4

Penyelesaian :

11
1 1
Misalkan = , maka +1 =

1

= lim | | = lim |1 |
+1 (+1)

+1
= lim | |

=1
1
Jadi jari-jari kekonvergenan deret pangkat
=0 adalah = 1 dan daerah

kekonvergenannya adalah
=0 konvergen pada || < 1 dan divergen pada || > 1.


Bila z = 1 maka deret
=0 merupakan deret harmonis. Karena itu deret
=0 divergen.

1 1
Misalkan = maka +1 = dan jari-jari kekonvergenannya adalah
(+1)3 .4 (+1)3 .4+1

= lim | |
+1

(+2)3 .4+1
= lim | |
(+1)3 .4

4(+2)3
= lim
(+1)3

=4
(+2)
Jadi daerah kekonvergenannya adalah
=1 (+1)3 .4 konvergen pada | + 2| < 4 dan

(+2) 1
divergen pada | + 2| > 4. Sedangkan deret
=1 (+1)3 .4 = =1 (+1)3 . Konvergen pada

lingkaran | + 2| = 4 mengapa ?

12
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan :
Barisan bilangan kompleks adalah suatu fungsi f : yang didefenisikan dengan
f(n) = untuk setiap n dapat dinyatakan dengan :
f(1) = 1 . (2) = 2 = (3) = 3 () =
Bilangan-bilangan 1 , 2 , 3 , disebut suku-suku barisan dan suku disebut suku umum
(suku ke n) barisan. Barisan ( ) dikatakan divergen, jika barisan ( ) tidak konvergen.
Dengan kata lain barisan ( ) divergen (tidak konvergen ke z) jika dan hanya jika untuk
setiap terdapat bilangan 0 > 0 sehingga untuk setiap bilangan asli > 0 terdapat
bilangan kompleks sehingga berlaku | | >.

13
DAFTAR PUSTAKA

Tim Dosen Aljabar Linier Elementer I.2016.Analisis Kompleks . FMIPA: Unimed.

14