Anda di halaman 1dari 47

Get Homework Done

Homeworkping.com
Homework Help
https://www.homeworkping.com/

Research Paper help


https://www.homeworkping.com/

Online Tutoring
https://www.homeworkping.com/

click here for freelancing tutoring sites


LAPORAN KASUS
PASIEN DENGAN RADIKULOPATI
LUMBAL
Pembimbing :
dr. Agus Permadi Sp.S

Penyusun:

Bayu Akhirudin amir


030.08.054

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf


RS Otorita Batam
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti
Jakarta

KATA PENGANTAR
Segala puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan kasih sayang, kenikmatan, dan kemudahan yang begitu
besar. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW,
atas nikmat dan karunianya sehingga dapat terselesaikannya laporan kasus ini
dengan judul PASIEN DENGAN RADIKULOPATI LUMBAL Penulisan makalah
kasus ini dibuat dengan tujuan untuk memenuhi salah satu tugas kepaniteraan ilmu
penyakit saraf di RS Otorita Batam periode 1 April 2013 4 mei 2013.
Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak
sangatlah sulit untuk menyelesaikan makalah ini. Oleh Karena itu tidak penulis
ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada dr.Agus Permadi Sp.S selaku
pembimbing yang telah membantu dan memberikan bimbingan dalam penyusunan
makalah ini. Dan kepada semua pihak yang turut serta membantu penyusunan
laporan kasus ini.
Akhir kata dengan segala kekurangan yang penulis miliki, segala saran dan
kritik yang bersifat membangun akan penulis terima untuk perbaikan selanjutnya.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang mempergunakannya
selama proses kemajuan pendidikan selanjutnya.

Batam, 3 April 2013

Penulis
LEMBAR PERSETUJUAN
Presentasi Laporan Kasus dengan judul
PASIEN DENGAN RADIKULOPATI LUMBAL
Telah diterima dan disetujui oleh pembimbing, sebagai syarat untuk menyelesaikan
kepaniteraan klinik ilmu Penyakit Saraf di RS Otorita Batam periode 1 April 2013 4 Mei
2013.

Batam, 22 Maret 2013

dr. Agus Permadi Sp.S


PENDAHULUAN
Beberapa penyebab utama sakit punggung akut dan kronis (LBP) berhubungan
dengan radikulopati, namun radikulopati bukanlah penyebab sakit punggung, melainkan
akar saraf, herniasi, dan kondisi lain penyebab nyeri punggung.
Radikulopati lumboskral terjadi pada sekitar 3-5% dari populasi , dimana laki-laki
dan perempuan memiliki resiko yang sama, meskipun laki-laki paling sering terkena pada
usia 40-an, sedangkan wanita paling sering terkena antara usia 50-60 tahun. Dari mereka
yang memiliki kondisi ini, 10-25% mengembangkan gejala-gejala yang menetap selama
lebih dari 6 minggu.
LAPORAN KASUS

I. Identitas

Nama : Tn. Furqon Al-Fahmi


Umur : 17 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Cipta puri B2/10
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Siswa SMA
Status :-
Tanggal masuk : 1 april 2013

II. Anamnesis

a. Keluhan Utama
Nyeri pada kaki kanan sejak 3 tahun yang lalu

b. Keluhan Tambahan
(-)
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke Poliklinik RS Otorita Batam dengan keluhan nyeri kaki
kanan seperti tertarik sejak 3 tahun SMRS, pasien masih dapat berjalan
namun keluhan dirasakan semakin berat belakangan ini. Riwayat trauma
pernah jatuh dari motor 4 tahun yang lalu. Pingsan (-) batuk lama (-)

d. Riwayat Penyakit Dahulu


Mengalami kecelakaan motor 4 tahun yang lalu.

d. Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada keluarga yang mengalami hal yang sama.

e. Riwayat Pengobatan
(-)

f. Riwayat kebiasaan
Alkohol (-), Merokok (-)

g. Riwayat Alergi
Riwayat Alergi (-)

III. Pemeriksaan Fisik

a. Status Generalis
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : GCS 15 = E4 V5 M6
Tanda Vital : TD : 110/70 mmHg
Nadi : 85 x/menit
RR : 20 x/menit
Suhu : 35,5C
Status Gizi : BB : 65 kg
TB : 170 cm

b. Pemeriksaan Kepala
Kepala : status lokalis
Mata : pupil isokor, CA (-/-), SI (-/-)
Mulut : Sianosis (-)

c. Pemeriksaan leher
Tiroid : Tidak teraba membesar
KGB : Tidak teraba membesar

d. Pemeriksaan Thoraks
Paru : SN vesikuler kiri dan kanan, wheezing (-/-) , rhonki (-/-)
Jantung : S1 S2 reguler, murmur (-), gallop (-)

e. Pemeriksaan Abdomen
Datar, supel, jejas (-), Bu (+)

f. Pemeriksaan Ekstremitas
Akral hangat, Oedem
+ + - -
+ + - -

IV. Status neurologis


Kesadaran : Compos mentis
GCS : 15 (E4 V5 M6)
MMSE : 25
Mata : Pupil bulat isokor; diameter 3mm/3mm; RCL +/+ ; RCTL +/+

Tanda rangsang meningeal

Kaku kuduk Negatif Negatif


Brudzinsky 1 Negatif Negatif
Brudzinsky 2 Negatif Negatif
Kerniq 60 terbatas akibat nyeri 60 terbatas akibat nyeri
Laseq 60 terbatas akibat nyeri 60 terbatas akibat nyeri

Pemeriksaan Nervus Cranialis


Nervus I Tidak dilakukan
Nervus II Baik
Visus Baik
Lapang pandang
Nervus III, IV, VI
Ptosis Negatif Negatif
Diplopia Negatif Negatif
Nistagmus Positif (Horisontal) Positif(Horisontal)
Gerak bola mata Baik Baik
o Atas Baik Baik
o Bawah Baik Baik
o Lateral Baik Baik
o Medial Baik Baik
o Atas lateral Baik Baik
o Atas medial Baik Baik
o Bawah lateral Baik Baik
o Bawah medial Negatif Negatif
Baik Baik
Fiksasi Mata

Nervus V
Menggigit Baik
Membuka mulut Baik
Sensibilitas
o R. Opthalmicus Baik Baik
o R. Maksilaris Baik Baik
o R. Mandibularis Baik Baik

Nervus VII
Mengangkat alis Baik Baik
mengerutkan dahi Baik Baik
Memejamkan mata Baik Baik
Menyeringai Simetris

Nervus VIII Tidak dilakukan


Nervus IX, X
Disfagia Negatif
Disfonia Negatif
Posisi uvula Simetris di tengah
Refleks faring Tidak dilakukan

Nervus XI
Mengangkat bahu Baik Baik
Menoleh Baik Baik

Nervus XII
Tremor lidah Negatif
Lidah mencong Negatif
Disartria Negatif

Kanan Kiri
Refleks Tendon
Bisep Positif Positif
Trisep Positif Positif
Patela Positif Positif
Achiles Positif Positif
Refleks
Patologis
Babibsky Negatif Negatif
Chaddok Negatif Negatif
Schaffer Negatif Negatif
Klonus Patella Negatif Negatif
Klonus Achilles Negatif Negatis

Ekstremitas
LENGAN Kanan Kiri

Otot Tonus Normotonus Normotonus


Massa Normal Normal
Sendi Normal Normal
Gerakan Aktif Aktif
Kekuatan +5 +5
Oedem Tidak ada Tidak ada

TUNGKAI dan KAKI Kanan Kiri


Otot Tonus Normotonus Normotonus
Massa Normal Normal
Sendi Normal Normal
Gerakan inaktif Aktif
Kekuatan 4 5
Oedem Tidak ada Tidak ada

Sensoris

Kanan Kiri

Sensasi raba menurun Baik

Perbedaan suhu Baik Baik


Propioseptif Normal Normal

Koordinasi

Finger tip test Normal


Romberg test Normal

Gerak involunter
1. Tremor : Negatif
2. Khorea : Negatif
3. Balismus : Negatif
Susunan Saraf Otonom
1. Inkontinesia urine : Negatif
2. Inkontinesia alvie : Negatif
3. Hipersekresi keringat : Negatif

V. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium Darah
Tanggal : 1 April 2013
Hb : 16.2 gr/dl
Ht : 46,9` %
Leukosit : 6.3/mm3
Trombosit : 189/mm3
Ureum : 13.0 mg/dl
Creatinin: : 0,41 mg/dl
GDS : 91 mg/dl
LED : 2 mm/jam
Golongan Darah :O

Ro Thorakolumbal

Ekspetise Ro torakolumbal : -

Ro Thorax
Ekspetise Ro torakolumbal : -

VI. Diagnosa
Radikulopati lumbal

VII. Penatalaksaan
Tanggal 1 April 2013
Infus 2A / 8 jam
Ibuprofen 2 x 200mg
neurobion 500 1 x 1 amp
Diazepam 2 x 1
EMG

VIII. Prognosis
- Ad vitam : dubia ad bonam
- Ad sanationam : dubia ad bonam
- Ad fungsionam : dubia ad bonam
Resume

Pasien datang ke Poliklinik RS Otorita Batam dengan keluhan nyeri kaki kanan seperti
tertarik sejak 3 tahun SMRS. Pasien masih dapat berjalan namun keluhan dirasakan semakin berat
belakangan ini. Riwayat trauma pernah jatuh dari motor 4 tahun yang lalu. Pada pemeriksaan fisik
laseq dan kerniq 60 terbatas akibat nyeri. Dan gerakan tungkai kanan didapatkan inaktif, dengan
kekuatan otot 4. Serta pemeriksaan sensoris pada sensasi raba, didapatkan menurun pada tungkai
kanan.

TINJAUAN PUSTAKA

RADIKULOPATI
A. Definisi
Radikulopati adalah suatu keadaan yang berhubungan dengan gangguan fungsi dan
struktur radiks akibat proses patologis yang dapat mengenai satu atau lebih radiks saraf
dengan pola gangguan bersifat dermatomal.
Hal ini berguna untuk mengingat bahwa :
- struktur wajah dan cranium anterior berada di daerah bidang saraf trigeminal
- belakang kepala, servikal ke-2
- leher, servikal ke-3
- area diatas pundak, servikal ke-4
- area deltoid, servikal ke-5
- lengan bawah radial dan ibu jari, servikal ke-6
- telunjuk dan jari tengah , servikal ke-7
- jari kelingking dan tepi ulnar dari tangan dan lengan bawah, servikal ke-8 dan
torakik ke-1
- puting, torakik ke-5
- umbilicus, torakik ke-10
- selangkangan, lumbal ke-1
- sisi medial lutut, lumbal ke-3
- jari kaki besar, lumbal ke-5
- jari kaki kecil (kelingking), sakrum ke-1
- belakang paha, sakrum ke-2
- area genitor-anal, sakrum ke-3, 4, dan 5

B. Etiologi
Terdapat tiga faktor utama penyebab terjadinya radikulopati, yaitu proses
kompresif, proses inflamasi, dan proses degeneratif sesuai dengan struktur dan lokasi
terjadinya proses patologis.

1. Proses Kompresif
Kelainan-kelainan yang bersifat kompresif sehingga mengakibatkan radikulopati
adalah :
a. Herniated nucleus pulposus (HNP) atau herniasi diskus
b. Dislokasi traumatik
c. Fraktur kompresif
d. Skoliosis
e. Tumor medulla spinalis
f. Neoplasma tulang
g. Spondilosis
h. Spondilolistesis dan Spondilolisis
i. Stenosis spinal
j. Spondilitis tuberkulosis
k. Spondilosis servikal

2. Proses Inflamasi
Kelainan-kelainan inflamasi sehingga mengakibatkan radikulopati adalah :
a. GuillainBarr syndrome
b. Herpes Zoster

3. Proses Degeneratif
Kelainan yang bersifat degeneratif sehingga mengakibatkan radikulopati adalah
Diabetes Mellitus.

C. Tipe-tipe Radikulopati
1. Radikulopati Lumbar
Radikulopati lumbar merupakan bentuk radikulopati pada daerah lumbar yang
disebabkan oleh iritasi atau kompresi dari radiks saraf lumbal. Radikulopati lumbar sering
juga disebut siatika. Pada radikulopati lumbar, keluhan nyeri punggung bawah (low back
pain) sering didapatkan.
2. Radikulopati Servikal
Radikulopati servikal umumnya dikenal dengan saraf terjepit merupakan
kompresi pada satu atau lebih radiks saraf pada leher. Gejala pada radikulopati servikal
seringnya disebabkan oleh spondilosis servikal.

3. Radikulopati Torakal
Radikulopati torakal merupakan bentuk yang relatif jarang dari kompresi saraf pada
punggung tengah. Daerah ini strukturnya tidak banyak membengkok seperti pada daerah
lumbar atau servikal. Oleh karena itu, area toraks lebih jarang menyebabkan sakit pada
spinal. Namun, kasus yang sering ditemukan pada bagian ini adalah nyeri pada infeksi
herpes zoster.

D. Patofisiologi
1. Proses Kompresif pada Lumbal Spinalis
Pergerakan antara vertebral L4-L5 dan L5-S1 lebih leluasa sehingga
lebih sering terjadi gangguan. Vertebra lumbalis memiliki beban yang
besar untuk menahan bagian atas tubuh sehingga tulang, sendi, nukleus,
dan jaringan lunaknya lebih besar dan kuat. Pada banyak kasus, proses
degenerasi dimulai pada usia lebih awal seperti pada masa remaja
dengan degenerasi nukleus pulposus yang diikuti protusi atau ekstrasi
diskus. Secara klinis yang sangat penting adalah arah protusi ke
posterior, medial, atau ke lateral yang menyebabkan tarikan malah
robekan nukleus fibrosus.
Protusi diskus posterolateral diketahui sebagai penyebab kompresi dari
radiks. Protusi diskus dapat mengenai semua jenis kelamin dan
berhubungan dengan riwayat trauma sebelumnya. Bila proses ini
berlangsung secara progresif dapat terbentuk osteofit. Permukaan sendi
menjadi malformasi dan tumbuh berlebihan, kemudian terjadi penebalan
dari ligamentum flavum.
Pada pasien dengan kelainan kanal sempit, proses ini terjadi sepanjang
vertebra lumbalis, sehingga menyebabkan kanalis menjadi tidak bulat
dan membentuk trefoil axial shape. Pada tahap ini prosesnya
berhubungan dengan proses penuaan. Stenosis kanalis vertebra lumbalis
sering mengenai laki-laki pekerja usia tua.
Sendi faset (facet joint), nukleus, dan otot juga dapat mengalami
perubahan degeneratif dengan atau tanpa kelainan pada diskus.

A. Herniated nucleus pulposus (HNP) atau herniasi diskus


Herniated nucleus pulposus atau herniasi diskus, disebut juga ruptured, prolapsed
atau protruded disc, diketahui sebagai penyebab terbanyak back pain dan nyeri tungkai
berulang. Herniasi nukleus merupakan tonjolan yang lunak, tetapi suatu waktu mengalami
perubahan menjadi fibrokartilago, akhirnya menjadi tonjolan kalsifikasi. HNP kebanyakan
terjadi diantara vertebra L5-S1, jarang terjadi pada L4-L5, L3-L4, L2-L3, L1-L2, dan
vertebra torakal. Frekuensi yang sering juga terjadi pada vertebra C5-C6 dan C6-C7.
Penyebabnya biasanya ialah trauma fleksi, tetapi pada beberapa kasus bias juga tanpa
adanya trauma.
Penyebab lain adalah kecenderungan degenerasi diskus intervertebralis, yang mana
meningkat sesuai dengan peningkatan umur, dapat mengenai daerah servikal dan lumbal
pada penderita yang sama.
Kebanyakan kasus terjadi pada usia antara 20-64 tahun dan kejadian tersering ialah
pada usia 30-39 tahun. Setelah umur 40 tahun, frekuensinya menurun. Laki-laki memiliki
dua kali lipat kemungkinan untuk menderita HNP dibandingkan wanita. Nukleus pulposus
yang menonjol melalui annulus fibrosus yang robek biasanya terjadi pada satu sisi
dorsolateral atau sisi lainnya (terkadang pada bagian dorsomedial) akan menyebabkan
penekanan pada satu atau lebih radiks saraf.

B. Dislokasi Traumatik
Pada trauma yang menimbulkan dislokasi dari sendi faset vertebra akan
menimbulkan nyeri punggung yang hebat. Keadaan ini akan menyebabkan penyempitan
foramen intervertebral, sehingga radiks dan jaringan yang berdekatan mengalami iritasi dan
kompresi di dalam kanalnya dengan gejala-gejala radikuler.

C. Fraktur Kompresif
Pada fraktur yang bersifat kompresif, bila terjadi penekanan pada radiks atau
penyempitan pada foramen intervertebral yang dapat mengenai satu atau lebih radiks saraf
akan menimbulkan defisit neurologi.
D. Skoliosis
Skoliosis umumnya terjadi pada orang dewasa dengan keluhan utama nyeri
punggung. Keadaan ini sering berhubungan dengan lengkungan lumbal dan torakolumbal.
Nyeri tersebut disebabkan oleh adanya proses degeneratif pada sendi faset lengkungan itu
sendiri.

E. Tumor Medulla Spinalis


Tumor di daerah lumbosakral dapat terjadi pada konus medularis dan kauda ekuina.
Tumor yang tersering adalah ependioma. Tumor ini berasal dari sel-sel ependim yang
terdapat pada konus medularis dan filum terminale. Tumor ini timbulnya lambat, hanya
sebagian kecil yang berasal dari konus, sebagian besarnya ialah berasal dari filum terminale
yang kemudian mengenai radiks saraf.
Selain ependioma, terdapat tumor primer intraspinal yang sering ditemukan yang
terdiri dari sel-sel Schwann atau disebut dengan schwannoma. Schwannoma merupakan
tumor ekstramedular intradural dan dapat muncul dari saraf spinal pada setiap level.
Tersering muncul dari radiks posterior dengan keluhan-keluhan nyeri radikuler.
Pertumbuhannya lambat sebelum diagnosis diketahui dengan benar.
F. Neoplasma Tulang
Tumor ganas dapat merupakan tumor primer dari tulang ataupun sekunder hasil
metastase dari tempat lain, seperti kelenjar mammae, paru-paru, prostat, tiroid, ginjal,
lambung, dan uterus.
Tumor ganas primer yang sering ditemukan adalah multiple myeloma yang
menyerang dan merusak tulang terutama pada laki-laki dewasa tua berusia 40 tahun. Dapat
menyebabkan kolaps vertebra dengan keluhan pertama ialah nyeri punggung.
Tumor ganas sekunder juga sering ditemukan pada vertebra, dapat merupakan
tumor osteoblastik (metastasis dari kelenjar mammae) atau osteolitik yang dapat berasal
dari kelenjar mammae, paru-paru, ginjal, dan tiroid. Tumor tersebut menyebabkan destruksi
tulang dengan akibat wedge shape atau kolaps pada vertebra yang terkena, satu atau
beberapa radiks akan ikut terlibat.

G. Spondilosis
Spondilosis merupakan penyakit degeneratif pada tulang belakang. Bila usia
bertambah maka akan terjadi perubahan degeneratif pada tulang belakang, yang terdiri dari
dehidrasi dan kolaps nukleus pulposus serta penonjolan ke semua arah dari annulus
fibrosus. Annulus mengalami kalsifikasi dan perubahan hipertrofik terjadi pada pinggir
tulang korpus vertebra, membentuk osteofit atau spur atau taji. Dengan penyempitan
rongga intervertebra, sendi intervertebra dapat mengalami subluksasi dan menyempitkan
foramina intervertebra, yang dapat juga ditimbulkan oleh osteofit.
Nyeri biasanya kurang menonjol pada spondilosis. Disestesia tanpa nyeri dapat
timbul pada daerah distribusi radiks yang terkena, dapat disertai kelumpuhan otot dan
gangguan refleks. Terjadi pembentukan osteofit pada bagian yang lebih sentral dari korpus
vertebra yang menekan medulla spinalis. Kauda ekuina dapat terkena kompresi pada
daerah lumbal bila terdapat stenosis kanal lumbal. Gejalanya berupa sindrom kauda ekuina
dengan paraparesis, defisit sensorik pada kedua tungkai, serta hilangnya kontrol sfingter.
Sindrom pseudoklaudikasi (klaudikasi neurologik) dapat terjadi dimana pasien mengeluh
nyeri pinggang dan tungkai saat berdiri atau berjalan, dan akan menghilang bila berbaring.

H. Spondilolitesis dan Spondilolisis


Spondilolistesis adalah pergeseran ke arah depan dari satu korpus vertebra terhadap
korpus vertebra dibawahnya. Hal ini paling sering terjadi pada spondilolisis, yaitu suatu
kondisi dimana bagian posterior unit vertebra menjadi terpisah, menyebabkan hilangnya
kontinuitas antara prosesus artikularis superior dan inferior. Spondilolistesis diduga
disebabkan oleh fraktur arkus neural segera setelah lahir, walaupun ini jarang simtomatis
sampai dewasa; usia rata-rata pasien yang mencari pengobatan adalah 35 tahun. Lokasi
yang paling sering dari keterlibatan adalah L5, yang mengalami subluksasi terhadap
sakrum. Yang lebih jarang ialah terjadi akibat penyakit degeneratif tulang belakang, ini
biasanya meliputi L5 atau L4.
Gejala paling sering adalah nyeri punggung bawah, biasanya dimulai pada usia
yang lebih dini dan perlahan-lahan memburuk, yang diperkuat oleh gerakan ekstensi.
Tetapi, nyeri dapat timbul mendadak bila ada cedera. Nyeri tungkai akibat kompresi radiks
saraf kurang sering ditemukan. Bila deformitas berat maka kauda ekuina dapat terkena
kompresi.

I. Stenosis Spinal
Stenosis spinal merupakan penyempitan kanal medulla spinalis yang mungkin
terjadi secara kongenital atau menyempit karena penonjolan annulus, hipertrofi sendi faset,
atau ligamen longitudinal posterior yang tebal atau mengeras, sehingga menekan saraf yang
mengandung beberapa radiks.
Penyempitan kanalis lumbalis dapat disebabkan oleh pedikel yang pendek karena
kongenital, lamina dan sendi faset yang tebal, kurva skoliosis, dan lordotik. Kebanyakan
kasus merupakan idiopatik dan sering terjadi pada usia pertengahan dan usia tua.

2. Proses Kompresif pada Torakal dan Lumbal Spinalis


Spondilitis Tuberkulosa
Spondilitis tuberkulosa sering terjadi pada vertebra torakal dan lumbal. Vertebra
yang sering terinfeksi adalah torakolumbal T8-L3. Bagian anterior vertebra lebih sering
terinfeksi dibandingkan bagian posterior dengan gejala awal berupa nyeri radikuler yang
dikenal sebagai nyeri interkostalis.
Perjalanan infeksi pada vertebra dimulai setelah terjadinya fase hematogen atau
reaktivasi kuman dorman. Basil masuk ke korpus vertebra melalui jalur arteri dan
penyebaran berlangsung secara sistemik sepanjang arteri ke perifer termasuk ke dalam
korpus vertebra yang berasal dari arteri segmentalis interkostal. Di dalam korpus, arteri ini
berakhir sebagai end artery (tanpa anastomosis), sehingga perluasan infeksi korpus
vertebra sering dimulai pada daerah paradiskal.
Jalur kedua adalah melalui pleksus Batson, suatu anyaman vena epidural dan
peridural. Vena dari korpus vertebra mengalir ke pleksus Batson pada perivertebral. Vena
dari korpus keluar melalui bagian posterior. Pleksus ini beranastomosis dengan vena dasar
otak, dinding dada, interkostal, lumbal, dan vena pelvis. Aliran retrograde yang dapat
terjadi akibat perubahan tekanan dinding dada dan abdomen dapat menyebabkan basil
menyebar dari infeksi tuberkulosa yang berasal dari organ di daerah aliran vena tersebut.
Jalur ketiga adalah dari abses paravertebral yang telah terbentuk dan menyebar
sepanjang ligamentum longitudinal anterior dan posterior ke korpus vertebra yang
berdekatan. Infeksi pada korpus vertebra berlanjut menjadi nekrosis dan destruksi sehingga
pada bentuk sentral dapat terjadi kompresi spontan akibat trauma, sedangkan pada bentuk
paradiskus akan menimbulkan kompresi, iskemi, dan nekrosis diskus. Pada bentuk anterior,
terjadi destruksi dari korpus di bagian anterior sehingga korpus vertebra menjadi bentuk
baji dan pada pasien terlihat adanya gibbus formation apabila proses ini telah berjalan
lama. Gangguan neurologis yang terjadi pada fase awal adalah akibat penekanan oleh pus,
perkejuan atau jaringan granulasi dengan nyeri sebagai keluhan pertama yang muncul.
Nyeri dapat dirasakan terlokalisir di sekitar lesi atau berupa nyeri menjalar sesuai saraf
yang terkena.

3. Proses Kompresif pada Servikal


A. Spondilosis Servikal
Seiring dengan bertambahnya usia terjadi pula perubahan degeneratif pada tulang
punggung, seperti dehidrasi dan kolaps nukleus pulposus, serta penonjolan annulus fibrosus
ke segala arah. Annulus menjadi kalsifikasi dan perubahan hipertrofik terjadi pada pinggir
korpus vertebral seperti osteofit, dengan penyempitan rongga intervertebral. Dapat
mengenai satu atau beberapa radiks, unilateral atau bilateral, namun keluhannya tidak
sehebat herniasi diskus.

B. Herniated nucleus pulposus (HNP)


Mekanisme herniasi diskus di servikal sama seperti pada bagian lumbal. Namun
insidensinya 15 kali lebih jarang dibandingkan HNP di daerah lumbar. Nyeri yang terasa
menjalar sepanjang lengan, yang dinamakan brakialgia, akibat lesi iritatif di radiks
posterior C4-T1.

4. Proses Inflamasi

A. GuillainBarr syndrome
Guillain-Barr syndrome (GBS) merupakan kelainan sistem imun tubuh yang mana
menyerang bagian dari system saraf perifer. Gejala pertama dari kelainan ini derajatnya
bervariasi meliputi kelemahan atau sensasi kesemutan pada kedua tungkai kaki. Dalam
banyak kasus kelemahan simetris dan sensasi abnormal menyebar ke lengan dan tubuh
bagian atas. Gejala ini dapat meningkatkan intensitas sampai otot-otot tertentu tidak dapat
digunakan sama sekali dan, bila berat, pasien GBS hampir mengalami lumpuh total. Dalam
kasus-kasus gangguan yang mengancam kehidupan - berpotensi mengganggu pernapasan
dan, pada saat yang bersamaan, dengan gangguan tekanan darah atau denyut jantung - dan
dianggap sebagai kegawatdaruratan medis. Pasien GBS sering memakai ventilator untuk
membantu pernapasan dan diawasi dengan ketat untuk masalah seperti detak jantung yang
tidak normal, infeksi, pembekuan darah, dan tekanan darah tinggi atau rendah.
Guillain-Barr dapat mempengaruhi siapa pun. Hal ini bisa menyerang pada usia
berapa pun dan kedua jenis kelamin sama-sama rentan terhadap gangguan tersebut.
Sindrom ini jarang terjadi, namun, hanya menyerang sekitar satu orang dalam 100.000
populasi. Biasanya Guillain-Barr terjadi beberapa hari atau minggu setelah pasien
memiliki gejala infeksi virus pernapasan atau pencernaan. Kadang-kadang operasi akan
memicu sindrom. Dalam kasus yang jarang vaksinasi dapat meningkatkan risiko GBS.
Setelah manifestasi klinis pertama dari penyakit, gejala dapat berkembang selama
beberapa jam, hari, atau minggu. Kebanyakan pasien GBS mencapai tahap kelemahan
terbesar dalam 2 minggu pertama setelah gejala muncul. Gejala-gejala yang dapat timbul
pada pasien GBS adalah kehilangan sensitivitas, seperti kesemutan, kebas (mati rasa), rasa
terbakar, atau nyeri, dengan pola persebaran yang tidak teratur dan dapat berubah-ubah.
Kelumpuhan pada pasien GBS biasanya terjadi dari bagian tubuh bawah ke atas atau dari
luar ke dalam secara bertahap, namun dalam waktu yang bervariasi. Pada pasien GBS
parah, kerusakan dapat berdampak pada paru-paru dan melemahkan otot-otot pernapasan
sehingga diperlukan ventilator untuk menjaga pasien agar tetap bertahan. Kondisi pasien
dapat bertambah parah karena kemungkin terjadi infeksi di dalam paru-paru akibat
berkurangnya kemampuan pertukaran gas dan kemampuan membersihkan saluran
pernapasan. Kematian umumnya terjadi karena kegagalan pernapasan dan infeksi yang
ditimbulkan.
Menurut penelitian, penyebab GBS ialah adanya sistem kekebalan tubuh yang
menyerang tubuh itu sendiri, yang dikenal sebagai penyakit autoimun. Biasanya sel-sel dari
sistem kekebalan tubuh menyerang hanya material asing dan organisme yang masuk tubuh
atau kita sebut sebagai antigen. Pada sindrom Guillain-Barr, sistem kekebalan tubuh mulai
menghancurkan selubung myelin yang mengelilingi akson dari saraf perifer, atau bahkan
menyerang akson itu sendiri.
Pada penyakit di mana selubung mielin saraf perifer yang injuri atau rusak, saraf
tidak bisa mengirimkan sinyal secara efisien. Itulah sebabnya otot-otot mulai kehilangan
kemampuan mereka untuk merespon perintah otak, perintah yang harus dilakukan melalui
jaringan saraf. Otak juga menerima sinyal sensorik lebih sedikit dari seluruh tubuh, yang
mengakibatkan ketidakmampuan untuk merasakan tekstur, panas, nyeri, dan sensasi
lainnya. Secara bergantian, otak dapat menerima sinyal yang tidak tepat yang
mengakibatkan kesemutan, "crawling-skin" atau sensasi nyeri. Karena sinyal menuju dan
dari lengan serta kaki harus melakukan perjalanan jarak terpanjang mereka yang paling
rentan terhadap gangguan, sehingga kelemahan otot dan sensasi kesemutan biasanya
pertama kali muncul di tangan dan kaki kemudian mulai dirasakan kebagian atas tubuh.
Ketika Guillain-Barr didahului oleh infeksi virus atau bakteri, maka kemungkinan
virus atau bakteri tersebut telah mengubah sifat sel dalam sistem saraf sehingga sistem
kekebalan tubuh memperlakukan mereka sebagai sel asing. Hal ini juga memungkinkan
bahwa virus membuat sistem kekebalan tubuh menjadi kurang mengenali sel myelin dan
akson sebagai sel tubuhnya sendiri , yang memungkinkan beberapa sel-sel kekebalan,
seperti beberapa jenis limfosit dan makrofag, untuk menyerang myelin. Limfosit T yang
tersensitisasi bekerja sama dengan limfosit B untuk memproduksi antibodi terhadap
komponen selubung mielin dan dapat berkontribusi pada kerusakan myelin.
B. Herpes Zoster
Herpes zoster paling sering termanifestasi pada satu atau lebih ganglia vertebra
posterior atau ganglia sensoris kranial, kemungkinan karena partikel virus yang menetap
dalam ganglia ini dalam keadaan tidak aktif sejak episode awal varicella. Hal ini
menyebabkan rasa sakit dan temuan karakteristik kutaneus sepanjang dermatom sensoris
yang sesuai dari ganglia yang terlibat. Jarang melibatkan sel kornu anterior dan posterior,
leptomeninges, dan saraf perifer, jarang dengan adanya kelemahan otot atau kelumpuhan,
pleocytosis (terdapat 20-50 limfosit) cairan spinal, dan / atau kehilangan sensori. Jarang
terjadi myelitis, meningitis, atau ensefalitis, keterlibatan visceral mungkin juga terjadi.

5. Proses Degeneratif

Penyakit Diabetes Mellitus


Pasien DM merupakan predisposisi dari berbagai macam gangguan saraf perifer
berupa peripheral neuropathy yang cenderung progresif dan ireversibel. Keluhan pada
pasien DM terutama ialah polineuropati distal sensoris yang simetris.
Mekanisme biokimia yang berkontribusi penting dalam perkembangan bentuk-
bentuk simetris paling umum dari polineuropati diabetes kemungkin besar meliputi jalur
poliol, produk akhir glikasi lanjut, dan stres oksidatif.

a. Jalur Poliol
Hiperglikemia menyebabkan peningkatan kadar glukosa intraseluler dalam saraf,
menyebabkan saturasi pada jalur glikolisis normal. Glukosa ekstra masuk ke dalam proses
jalur poliol dan diubah menjadi sorbitol dan fruktosa oleh enzim aldosa reduktase dan
sorbitol dehidrogenase. Akumulasi dari sorbitol dan fruktosa menyebabkan myoinositol
saraf berkurang, menurunkan aktivitas membran Na+/ K+-ATPase, mengganggu transportasi
aksonal, dan terjadi gangguan struktural saraf, menyebabkan potensial aksi menjadi
abnormal.
b. Produk Akhir Glikasi Lanjut (Advanced Glycation End Products-AGE)
Reaksi nonenzimatik dari glukosa berlebih dengan protein, nukleotida, dan hasil
lipid pada produk akhir glikasi lanjut (AGE), kemungkinan memiliki peran dalam
mengganggu integritas neuronal dan mekanisme perbaikan melalui gangguan metabolisme
sel saraf dan transportasi aksonal.
c. Stress Oksidatif
Peningkatan produksi radikal bebas pada diabetes dapat merugikan melalui
beberapa mekanisme yang belum sepenuhnya dipahami. Ini termasuk kerusakan langsung
pada pembuluh darah yang menyebabkan iskemia saraf dan memfasilitasi dari reaksi AGE.
Gejala Neuropati Diabetik
a. Gejala Sensoris
Neuropati sensorik biasanya onsetnya perlahan dan menunjukkan distribusi stoking-
dan-sarung tangan (stocking-and-glove distribution) di ekstremitas distal. Gejala sensorik
mungkin negatif atau positif, fokal atau difus. Gejala sensorik negatif termasuk baal atau
mati rasa, yang mana pasien dapat menggambarkannya seperti mengenakan sarung tangan
atau kaus kaki. Kehilangan keseimbangan, terutama dengan mata tertutup, dan luka tanpa
rasa sakit akibat hilangnya sensasi yang umum. Gejala positif dapat digambarkan sebagai
rasa terbakar, nyeri seperti ditusuk-tusuk, kesemutan, perasaan seperti tersengat listrik,
sakit, adanya keketatan, atau hipersensitivitas terhadap sentuhan.

b. Gejala Motorik
Kelainan motorik meliputi kelemahan distal, proksimal, atau beberapa kelemahan
yang bersifat fokal. Pada ekstremitas atas, gejala motor distal meliputi gangguan koordinasi
halus pada tangan, seperti membuka tutup botol atau mengunci pintu. Kaki sering
terpeleset atau jatuh dan lecet kemungkinan merupakan gejala awal dari kelemahan kaki.
Gejala kelemahan anggota gerak bawah proksimal meliputi kesulitan menaiki atau meuruni
tangga, atau sulit bangun dari posisi duduk atau terlentang. Sedangkan gejala kelemahan
anggota gerak atas proksimal ialah kesulitan dalam mengangkat lengan atas.

E. Manifestasi Klinik Radikulopati


Secara umum, manifestasi klinis radikulopati adalah sebagai berikut :
a. Rasa nyeri berupa nyeri tajam yang menjalar dari daerah parasentral dekat
vertebra hingga kearah ekstremitas. Rasa nyeri ini mengikuti pola
dermatomal. Nyeri bersifat tajam dan diperhebat oleh gerakan, batuk,
mengedan, atau bersin.
b. Paresthesia yang mengikuti pola dermatomal.
c. Hilang atau berkurangnya sensorik (hipesthesia) di permukaan kulit
sepanjang distribusi dermatom radiks yang bersangkutan.
d. Kelemahan otot-otot yang dipersarafi radiks yang bersangkutan.
e. Refleks tendon pada daerah yang dipersarafi radiks yang bersangkutan
menurun atau bahkan menghilang
Gejala radikulopati tergantung pada lokasi radiks saraf yang terkena (yaitu pada
servikal, torakal, atau lumbar). Nyeri radikular yang muncul akibat lesi iritaif di radiks
posterior tingkat servikal dinamakan brakialgia, karena nyerinya dirasakan sepanjang
lengan. Demikian juga nyeri radikular yang dirasakan sepanjang tungkai, dinamakan
iskialgia, karena nyerinya menjalar sepanjang perjalanan nervus iskiadikus dan lanjutannya
ke perifer. Radikulopati setinggi segmen torakal jarang terjadi, karena segmen ini lebih
rigid daripada segmen servikal maupun lumbar. Jika terjadi radikulopati setinggi segmen
torakal, maka akan timbul nyeri pada lengan, dada, abdomen, dan panggul.

1. Manifestasi Klinis Radikulopati pada Daerah Servikal


a. Leher terasa kaku, rasa tidak nyaman pada bagian medial skapula.
b. Gejala diperburuk dengan gerakan kepala dan leher, juga dengan regangan
pada lengan yang bersangkutan. Untuk mengurangi gejala tersebut,
penderita seringkali mengangkat dan memfleksikan lengannya di belakang
kepala.
c. Lesi pada C5 ditandai dengan nyeri pada bahu dan daerah trapezius,
berkurangnya sensorik sesuai dengan pola dermatomal, kelemahan dan
atrofi otot deltoid. Lesi ini dapat mengakibatkan berkurangnya kemampuan
abduksi dan eksorotasi lengan.
d. Lesi pada C6 ditandai dengan nyeri pada trapezius, ujung bahu, dan
menjalar hingga lengan atas anterior, lengan bawah bagian radial, jari ke-1
dan bagian lateral jari ke-2. Lesi ini mengakibatkan paresthesia ibu jari,
menurunnya refleks biseps, disertai kelemahan dan atrofi otot biseps.
e. Lesi pada C7 ditandai dengan nyeri bahu, area pektoralis dan medial aksila,
posterolateral lengan atas, siku, dorsal lengan bawah, jari ke-2 dan ke-3,
atau seluruh jari. Lesi ini dapat mengakibatkan paresthesia jari ke-2, ke-3,
dan juga jari pertama, atrofi dan kelemahan otot triseps, ekstensor tangan,
dan otot pektoralis.
f. Lesi pada C8 ditandai dengan nyeri sepanjang bagian medial lengan bawah.
Lesi ini akan mengganggu fungsi otot-otot intrinsik tangan dan sensasi jari
ke-4 dan 5 (seperti pada gangguan nervus ulnaris).
2. Manifestasi Klinis Radikulopati pada Daerah Lumbal
a. Rasa nyeri pada daerah sakroiliaka yang menjalar hingga ke bokong, paha,
betis, dan kaki. Nyeri dapat ditimbulkan dengan Valsava Maneuvers (seperti
: batuk, bersin, atau mengedan saat defekasi).
b. Pada rupture diskus intervertebra, nyeri dirasakan lebih berat bila penderita
sedang duduk atau akan berdiri. Ketika
duduk, penderita akan menjaga lututnya
dalam keadaan fleksi dan menumpukan berat
badannya pada bokong yang berlawanan.
Ketika akan berdiri, penderita menopang
dirinya pada sisi yang sehat, meletakkan
tangannya di punggung, menekuk tungkai
yang terkena (Minors Sign). Nyeri mereda
ketika pasien berbaring. Umumnya penderita
merasa nyaman dengan berbaring terlentang
disertai fleksi sendi coxae dan lutut, serta
bahu disangga dengan bantal untuk mengurangi lordosis lumbal. Pada tumor
intraspinal, nyeri tidak berkurang atau bahkan memburuk ketika berbaring.
c. Gangguan postur atau kurvatura vertebra. Pada pemeriksaan dapat
ditemukan berkurangnya lordosis vertebra lumbal karena spasme involunter
otot-otot punggung. Sering ditemui skoliosis lumbal, dan mungkin juga
terjadi skoliosis torakal sebagai kompensasi. Umumnya tubuh akan condong
menjauhi area yang sakit, dan panggung akan bungkuk ke depan dan kearah
yang sakit untung menghindari stretching pada saraf yang bersangkutan.
Jika iskialgia sangat berat, pasien akan menghindari ekstensi sendi lutut, dan
berjalan dengan bertumpu pada jari kaki (karena dorsofleksi kaki
menyebabkan stretching pada saraf, sehingga memperburuk nyeri). Pasien
membungkuk ke depan, berjalan dengan langkah kecil dan semifleksi sendi
lutut, disebut Neris Sign.
d. Ketika pasien berdiri, dapat ditemukan gluteal fold yang menggantung dan
tampak lipatan kulit tambahan karena otot gluteus yang lemah. Hal ini
merupakan bukti keterlibatan radiks S1.
e. Dapat ditemukan nyeri tekan pada sciatic notch dan sepanjang nervus
iskiadikus.
f. Pada kompresi radiks spinal yang berat, dapat ditemukan gangguan sensasi,
paresthesia, kelemahan otot, dan gangguan refleks tendon. Fasikulasi jarang
terjadi.
g. HNP biasanya terletak di posterolateral dan mengakibatkan gejala yang
unilateral. Tetapi, jika letak hernia agak besar dan sentral, dapat
menyebabkan gejala pada kedua sisi yang mungkin dapat disertai gangguan
berkemih dan buang air besar.
F. Anamnesis Riwayat Penyakit

Radikulopati Servikal
Mendapatkan riwayat penyakit yang rinci merupakan hal yang penting untuk
menegakkan diagnosis dari radikulopati servikal. Pemeriksa harus mengajukan pertanyaan-
pertanyaan sebagai berikut :
1. Pertama, apa keluhan utama pasien (misalnya : nyeri, mati rasa
(baal), kelemahan otot), dan lokasi dari gejala?
Skala analog visual dari 0-10 dapat digunakan untuk menentukan tingkat
nyeri yang dirasakan oleh pasien.
Gambar anatomi nyeri juga dapat membantu dokter dalam memberikan
suatu tinjauan singkat pola nyeri pada pasien.
2. Apakah aktivitas dan posisi kepala dapat memperparah atau
meringankan gejalanya?
Informasi ini dapat membantu baik untuk mendiagnosis maupun dalam
penatalaksanaannya.
3. Apakah pasien pernah mengalami cedera diarea leher? Jika iya,
kapan terjadinya, seperti apa mekanisme terjadi cederanya, dan apa
yang dilakukan pada saat itu?
4. Apakah pasien pernah mengalami episode gejala serupa sebelumnya
atau nyeri leher yang terlokalisir?
5. Apakah pasien memiliki gejala sugestif dari myelopathy servikal,
seperti perubahan gaya berjalan, disfungsi usus atau kandung kemih,
atau perubahan sensoris atau kelemahan pada ekstremitas bawah?
6. Apa pengobatan sebelumnya yang telah dicoba oleh pasien (baik
berupa resep dokter atau mengobati sendiri) :
Penggunaan dari es dan/atau penghangat
Obat-obatan (seperti : acetaminophen, aspirin, nonsteroidal anti-
inflammatory drugs [NSAIDs])
Terapi fisik, traksi, atau manipulasi
Suntikan
Operasi
7. Tanyakan riwayat sosial pasien, meliputi olahraga dan posisi pasien,
pekerjaan, dan penggunaan dari nikotin dan / atau alkohol.
8. Kekhasan pasien dengan radikulopati servikal ialah datang dengan
mengeluh adanya ketidaknyamanan pada leher dan lengan.
Ketidaknyamanan tersebut dapat berupa sakit tumpul sampai nyeri
hebat seperti rasa terbakar. Biasanya, nyerinya ini menjalar menuju
batas medial skapula, dan keluhan utama pasien ialah nyeri bahu.
Ketika radikulopatinya sedang berlangsung, nyeri tersebut menjalar
menuju lengan atas atau bawah dan menuju tangan, sepanjang
distribusi sensori dari radiks saraf yang terlibat.
9. Pasien yang lebih tua kemungkinan memiliki episode sakit leher
sebelumnya atau membeitahukan riwayat memiliki radang sendi
tulang servikal atau leher.
10. Herniasi diskus akut dan penyempitan tiba-tiba foramen saraf juga
dapat terjadi pada cedera yang melibatkan ekstensi servikal, lateral
bending, atau rotasi dan pembebanan aksial. Pasien-pasien mengeluh
peningkatan rasa sakit dengan posisi leher yang menyebabkan
penyempitan foraminal (misalnya, ekstensi, lateral bending, atau
rotasi menuju sisi yang bergejala).
11. Banyak pasien yang menceritakan bahwa mereka dapat mengurangi
gejala radikularnya dengan mengabduksikan bahunya dan
menempatkan tangannya dibelakang kepala. Manuver ini diduga
untuk meringankan gejala dengan mengurangi ketegangan pada
radiks saraf.
12. Pasien mungkin mengeluhkan perubahan sensorik di sepanjang
dermatom radiks saraf yang terlibat, dapat berupa kesemutan, mati
rasa (baal), atau hilangnya sensasi.
13. Beberapa pasien mungkin mengeluh kelemahan motorik. Sebagian
kecil pasien akan datang dengan kelemahan otot saja, tanpa rasa
sakit yang signifikan atau keluhan sensorik.
Radikulopati Lumbal
1. Timbulnya gejala pada pasien dengan radikulopati lumbosakral sering tiba-tiba
dan berupa LBP (nyeri punggung bawah). Beberapa pasien menyatakan nyeri
punggung yang sudah ada sebelumnya menghilang ketika sakit pada kaki mulai
terasa.
2. Duduk, batuk, atau bersin dapat memperburuk rasa sakit, yang berjalan dari
bokong turun ke tungkai kaki posterior atau posterolateral menuju pergelangan
kaki atau kaki.
3. Tanyakan penjalaran dari nyerinya, kelemahan otot, dan adanya perubahan
postur tubuh, cara duduk dan berdiri, kesulitan ketika berdiri setelah duduk atau
berbaring, dan perubahan dalam posisi berjalan.
4. Tanyakan apakah ada gangguan sensasi (seperti : kesemutan, baal, dan rasa
terbakar) dan gangguan dalam berkemih ataupun defekasi.
5. Ketika memperoleh riwayat pasien, waspadai setiap red flags (yaitu, indikator
kondisi medis yang biasanya tidak hilang dengan sendirinya tanpa manajemen).
Red flags tersebut dapat menyiratkan kondisi yang lebih rumit yang
memerlukan pemeriksaan lebih lanjut (misalnya, tumor, infeksi). Adanya
demam, penurunan berat badan, atau menggigil memerlukan evaluasi
menyeluruh. Usia pasien juga merupakan faktor ketika mencari kemungkinan
penyebab lain dari gejala-gejala pasien. Individu dengan usia kurang dari 20
tahun dan yang lebih dari 50 tahun memiliki risiko keganasan lebih tinggi yang
dapat menyebabkan nyeri (misalnya, tumor, infeksi).
G. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang lengkap adalah suatu hal yang penting. Penting
memperhatikan abnormalitas postur, deformitas, nyeri tekan, dan spasme otot. Pada
pemeriksaan neurologis harus diperhatikan :
Gangguan sensorik (hipesthesia atau hiperesthesia). Perlu dibedakan
gangguan saraf perifer dan segmental.
Gangguan motorik (pemeriksaan kekuatan otot, atrofi, fasikulasi, dan
spasme otot).
Perubahan refleks.
Pemeriksaan panggul dan rektum perlu dilakukan untuk menyingkirkan adanya
neoplasma dan infeksi di luar vertebra.

Pemeriksaan Fisik Radikulopati Servikal

Pada pemeriksaan radikulopati servikal, antara lain akan didapatkan :


1. Terbatasnya range of motion leher.
2. Nyeri akan bertambah berat dengan pergerakan (terutama hiperekstensi).
3. Tes Lhermitte (Foramina Compression Test). Tes ini dilakukan dengan menekan
kepala pada posisi leher tegak lurus atau miring. Peningkatan dan radiasi nyeri
ke lengan setelah melakukan tes ini mengindikasikan adanya penyempitan
foramen intervertebralis servikal, sehingga berkas serabut sensorik di foramen
intervertebra yang diduga terjepit, secara faktual dapat dibuktikan.

Lhermittes Test
4. Tes Distraksi
Tes ini dilakukan ketika pasien sedang merasakan nyeri radikuler. Pembuktian
terhadap adanya penjepitan dapat diberikan dengan tindakan yang mengurangi penjepitan
itu, yakni dengan mengangkat kepala pasien sejenak.
Distraction Test

Pemeriksaan Fisik Radikulopati Lumbar

1. Tes Lasegue (Straight Leg Raising Test)


Pemeriksaan dilakukan dengan cara :
a. Pasien yang sedang berbaring diluruskan (ekstensi) kedua
tungkainya.
b. Secara pasif, satu tungkai yang sakit diangkat lurus, lalu
dibengkokkan (fleksi) pada persendian panggulnya (sendi
coxae), sementara lutut ditahan agar tetap ekstensi.
c. Tungkai yang satu lagi harus selalu berada dalam keadaan
lurus (ekstensi).
d. Fleksi pada sendi panggul/coxae dengan lutut ekstensi akan
menyebabkan stretching nervus iskiadikus (saraf spinal L5-
S1).
e. Pada keadaan normal, kita dapat mencapai sudut 70 derajat
atau lebih sebelum timbul rasa sakit dan tahanan.
f. Bila sudah timbul rasa sakit dan tahanan di sepanjang nervus
iskiadikus sebelum tungkai mencapai sudut 70 derajat, maka
disebut tanda Lasegue positif (pada radikulopati lumbal).

2. Modifikasi/Variasi Tes Lasegue (Bragards Sign, Sicards Sign, dan Spurlings Sign)
Merupakan modifikasi dari tes Lasegue yang mana dilakukan tes Lasuge disertai
dengan dorsofleksi kaki (Bragards Sign) atau dengan dorsofleksi ibu jari kaki (Sicards
Sign). Dengan modifikasi ini, stretching nervus iskiadikus di daerah tibial menjadi
meningkat, sehingga memperberat nyeri. Gabungan Bragards sign dan Sicards sign
disebut Spurlings sign.
Lasegues Sign (SLRs Test)

a) Bragards sign b)
Spurlings sign

3. Tes Lasegue Silang atau OConell Test


Tes ini sama dengan tes Lasegue, tetapi yang diangkat tungkai yang sehat. Tes
positif bila timbul nyeri radikuler pada tungkai yang sakit (biasanya perlu sudut yang lebih
besar untuk menimbulkan nyeri radikuler dari tungkai yang sakit).

4. Nerve Pressure Sign


Pemeriksaan dilakukan dengan cara :
a. Lakukan seperti pada tes Lasegue (sampai pasien merasakan adanya nyeri)
kemudian lutut difleksikan hingga membentuk sudut 20 derajat.
b. Lalu, fleksikan sendi panggul/coxae dan tekan nervus tibialis pada fossa
poplitea hingga pasien mengeluh adanya nyeri.
c. Tes ini positif bila terdapat nyeri tajam pada daerah lumbal, bokong sesisi, atau
sepanjang nervus iskiadikus.

5. Naffziger Tests
Tes ini dilakukan dengan menekan kedua vena jugularis selama 2 menit. Tekanan
harus dilakukan hingga pasien mengeluh adanya rasa penuh di kepalanya. Kompresi vena
jugularis juga dapat dilakukan dengan sphygmomanometer cuff, dengan tekanan 40 mmHg
selama 10 menit. Dengan penekanan tersebut, dapat mengakibatkan tekanan intrakranial
meningkat. Meningkatnya tekanan intrakranial atau intraspinal, dapat menimbulkan nyeri
radikular pada pasien dengan space occupying lesion yang menekan radiks saraf. Pada
pasien ruptur diskus intervertebra, akan didapatkan nyeri radikular pada radiks saraf yang
bersangkutan.Pasien dapat diperiksa dalam keadaan berbaring atau berdiri.

H. Pemeriksaan Penunjang Radikulopati


1. Radiografi atau Foto Polos Roentgen
Tujuan utama foto polos Roentgen adalah untuk mendeteksi adanya kelainan
structural.
2. MRI dan CT-Scan
MRI merupakan pemeriksaan penunjang yang utama untuk mendeteksi kelainan
diskus intervertebra. MRI selain dapat mengidentifikasi kompresi medulla spinalis
dan radiks saraf, juga dapat digunakan untuk mengetahui beratnya perubahan
degenerative pada diskus intervertebra. MRI memiliki keunggulan dibandingkan
dengan CT-Scan, yaitu adanya potongan sagital dan dapat memberikan gambaran
hubungan diskus intervertebra dan radiks saraf yang jelas,sehingga MRI merupakan
prosedur skrining yang ideal untuk menyingkirkan diagnose banding gangguan
structural pada medulla spinalis dan radiks saraf.
CT-Scan dapat memberikan gambaran struktur anatomi tulang vertebra dengan
baik, dan memberikan gambaran yang bagus untuk herniasi diskus intervertebra.
Namun demikian, sensitivitas CT-Scan tanpa myelography dalam mendeteksi
herniasi masih kurang bila dibandingkan dengan MRI.

3. Myelography
Pemeriksaan ini memberikan gambaran anatomis yang detail, terutama elemen
osseus vertebra. Myelography merupakan proses yang invasif, karena melibatkan penetrasi
pada ruang subarakhnoid. Secara umum myelogram dilakukan sebagai tes preoperative dan
seringkali dilakukan bersamaan dengan CT-Scan.

4. Nerve Conduction Study (NCS) dan Electromyography (EMG)


NCS dan EMG sangat membantu untuk membedakan asal nyeri atau untuk
menentukan keterlibatan saraf, apakah dari radiks, pleksus saraf, atau saraf tunggal. Selain
itu, pemeriksaan ini juga membantu menentukan lokasi kompresi radiks saraf. Namun bila
diagnosis radikulopati sudah pasti secara pemeriksaan klinis, maka pemeriksaan
elektrofisiologis tidak dianjurkan.

5. Laboratorium
Pemeriksaan darah perifer lengkap, laju endap darah, faktor rematoid,
fosfatase alkali/asam, dan kalsium.
Urin analisis, berguna untuk penyakit nonspesifik seperti infeksi.

I. Diagnosis Banding
1. Radikulopati Servikal
- Cedera Pleksus Brakhialis
- Rotator Cuff Injury
2. Radikulopati Lumbar
- Cedera Diskus Lumbosakral
- Cedera Diskus Torakik

J. Penatalaksanaan
1. Terapi Non Farmakologi
a. Akut :
- Imobilisasi
- Pengaturan berat badan, posisi tubuh, dan
aktivitas
- Modalitas termal (terapi panas dan dingin)
- Pemijatan
- Traksi (tergantung kasus)
- Pemakaian alat bantu (misalnya korset atau
tongkat)
b. Kronik
- Terapi psikologis
- Modulasi nyeri (akupunktur atau modalitas
termal)
- Latihan kondisi otot
- Rehabilitasi vokasional
- Pengaturan berat badan, posisi tubuh, dan
aktivitas
2. Terapi Farmakologi

- NSAIDs
Contoh : Ibuprofen
Mekanisme Aksi : Menghambat reaksi inflamasi dan nyeri
dengan cara menurunkan sintesis prostaglandin
Dosis dan penggunaan :
Dewasa : 300 800 mg per oral setiap 6 jam (4x1 hari) atau 400 800 mg IV
setiap 6 jam jika dibutuhkan
- Tricyclic Antidepressants
Contoh : Amitriptyline
Mekanisme Aksi : Menghambat reuptake serotonin dan / atau
norepinefrin oleh membran saraf presynaptic, dapat
meningkatkan konsentrasi sinaptik dalam SSP. Berguna sebagai
analgesik untuk nyeri kronis dan neuropatik tertentu.
Dosis dan penggunaan :
Dewasa : 100 300 mg 1x1 hari pada malam hari
- Muscle Relaxants
Contoh : Cyclobenzaprine
Mekanisme Aksi : Relaksan otot rangka yang bekerja secara
sentral dan menurunkan aktivitas motorik pada tempat asal tonik
somatic yang mempengaruhi baik neuron motor alfa maupun
gamma.
Dosis :
Dewasa : 5 mg per oral setiap 8 jam (3x1 hari)
- Analgesik
Contoh : Tramadol (Ultram)
Mekanisme Aksi : Menghambat jalur nyeri ascenden, merubah
persepsi serta respon terhadap nyeri, menghambat reuptake
norepinefrin dan serotonin
Dosis :
Dewasa : 50 100 mg per oral setiap 4 6 jam (4x1 hari) jika
diperlukan
- Antikonvulsan
Contoh : Gabapentin (Neurontin)
Mekanisme Aksi : Penstabil membran, suatu analog struktural dari
penghambat neurotransmitter gamma-aminobutyric acid (GABA),
yang mana tidak menimbulkan efek pada reseptor GABA.
Dosis :
Dewasa : Neurontin
Hari ke-1 : 300 mg per oral 1x1 hari
Hari ke-2 : 300 mg per oral setiap 12 jam (2x1 hari)
Hari ke-3 : 300 mg per oral setiap 8 jam (3x1 hari)
3. Invasif Non Bedah
- Blok saraf dengan anestetik local
- Injeksi steroid (metilprednisolone) pada
epidural untuk mengurangi pembengkakan
sehingga menurunkan kompresi radiks saraf

4. Bedah (pada HNP)


Indikasi :
skiatika dengan terapi konservatif selama > 4 minggu : nyeri berat,
menetap, dan progresif
defisit neurologis memburuk
sindroma kauda
stenosis kanal (setelah terapi konservatif tidak berhasil)
terbukti adanya kompresi radiks berdasarkan pemeriksaan
neurofisiologis dan radiologi

K. Prognosis
Quo ad vitam : ad bonam
Quo ad functionam : dubia ad malam
Quo ad sanationam : dubia ad bonam

NYERI

A. Definisi
Nyeri adalah pengalaman sensoris dan emosional yang tidak menyenangkan, yang
berhubungan dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial terjadi kerusakan jaringan.
Nyeri bisa bersifat akut (sembuh dalam beberapa hari atau minggu) atau kronik
(berlangsung 3-6 bulan).

B. Klasifikasi Nyeri
1. Berdasarkan Waktu
a. Nyeri Akut
Berlangsung dalam beberapa detik, atau paling lama sampai beberapa minggu,
biasanya bersifat nosiseptif
b. Nyeri Kronik
Nyeri yang menetap, berlangsung selama 3-6 bulan, dapat bersifat nosiseptif,
neuropatik, atau gabungan keduanya.

2. Berdasarkan Mekanisme Klinis


1. Nyeri Nosiseptif
2. Nyeri Neuropatik
3. Nyeri Psikogenik

C. Tipe Nyeri (Berdasarkan Mekanisme Klinis)


1. Nyeri Nosiseptif (Nyeri Inflamasi)
Nyeri yang disebabkan oleh aktivasi atau sensitisasi dari nosiseptor perifer, yaitu
suatu reseptor khusus yang mentransduksi stimulus noksius, yang timbul akibat adanya
kerusakan jaringan. Kata nosiseptif berasal dari kata noci dari Bahasa Latin yang artinya
luka atau trauma. Kata ini digunakan untuk menggambarkan respon saraf yang hanya
timbul pada saat terjadi traumatik atau stimulus noksius. Ada dua jenis nyeri nosiseptif,
yaitu nyeri "somatik" dan nyeri "viseral".
a. Nyeri Somatik
Nyeri somatik disebabkan oleh adanya luka atau cedera yang mengenai kulit, otot,
tulang, sendi, dan jaringan ikat. Nyeri somatic bagian dalam biasanya digambarkan sebagai
nyeri tumpul atau pegal, dan terlokalisir pada satu area. Nyeri somatik yang berasal dari
kulit atau jaringan dibawahnya biasanya memiliki kualitas nyeri yang tajam dan perasaan
seperti terbakar atau tertusuk.
Nyeri somatik biasanya melibatkan inflamasi dari jaringan yang mengalami luka
atau cedera. Meskipun peradangan adalah respon normal tubuh terhadap cedera, dan sangat
penting untuk penyembuhan, peradangan yang tidak hilang seiring dengan waktu dapat
menyebabkan penyakit kronis menyakitkan. Contoh nyeri nosiseptif somatik ialah nyeri
sendi yang disebabkan oleh rematoid arthritis.

b. Nyeri Viseral
Nyeri viseral diistilahkan sebagai nyeri yang berasal dari cedera yang sedang
berlangsung pada organ bagian dalam atau jaringan penyokongnya. Ketika jaringan yang
mengalami luka tersebut merupakan suatu struktur berongga, seperti usus atau kantung
empedu, nyerinya seringkali kurang baik dalam hal lokasi dan sering terjadi kram. Jika
cederanya mengenai struktur yang tidak berongga, maka nyerinya tersebut dapat berupa
nyeri tekan, dalam, dan seperti ditusuk.

2. Nyeri Neuropatik
Nyeri yang didahului atau disebabkan oleh lesi atau disfungsi primer pada sistem
saraf, baik sentral maupun perifer. Beberapa pasien yang mengalami nyeri neuropatik
menggambarkan nyerinya sebagai nyeri yang aneh, tidak biasa, yang mungkin dapat berupa
sensasi nyeri terbakar atau tersengat listrik.

3. Nyeri Psikogenik
Sebagian besar pasien dengan nyeri kronik memiliki gangguan psikologis. Pasien
kemungkinan dapat menjadi cemas atau depresi, atau mengalami kesulitan dalam
menghadapi masalah. Masalah psikologis bukan hanya suatu konsekuensi nyeri, tetapi juga
berkontribusi terhadap nyeri itu sendiri. Nyeri psikogenik merupakan suatu istilah
sederhana untuk semua jenis nyeri yang hanya dapat dijelaskan secara psikologis, tanpa
adanya kerusakan jaringan dan sistem saraf sebagai penyebab utamanya.

D. Proses pada Nyeri


Ada empat proses yang terjadi pada perjalanan nyeri, yaitu :
1. Transduksi
Proses perubahan rangsang nyeri menjadi suatu aktivitas listrik yang akan diterima
ujung-ujung saraf. Rangsang ini dapat berupa stimulus fisik, kimia, ataupun panas. Dan
dapat terjadi diseluruh jalur nyeri.
2. Transmisi
Proses penyaluran impuls listrik yang dihasilkan oleh proses transduksi sepanjang
jalur nyeri, dimana moleku-molekul di celah sinaptik mentransmisi informasi dari satu
neuron ke neuron berikutnya.
3. Modulasi
Proses dimana terjadi interaksi antara sistem analgesik endogen yang dihasilkan
oleh tubuh kita dengan input nyeri yang masuk ke kornu posterior medulla spinalis. Sistem
analgesik endogen ini meliputi enkefalin, endorfin, serotonin, dan noradrenalin, yang
mana memiliki efek yang dapat menekan impuls nyeri pada kornu posterior medulla
spinalis. Kornu posterior ini dapat diibaratkan sebagai pintu yang dapat terbuka atau
tertutup. Terbuka atau tertutupnya pintu nyeri tersebut diperankan oleh sistem analgesik
endogen di atas. Proses modulasi inilah yang menyebabkan persepsi nyeri menjadi sangat
subyektif orang per orang.

4. Persepsi
Persepsi merupakan proses terakhir berupa tanggapan terhadap adanya nyeri tersebut.

E. Tipe Serabut Aferen Nyeri Perifer


F. Sistem Penekan Rasa Nyeri (Analgesia) dalam Otak dan Medulla Spinalis
Derajat reaksi seseorang terhadap nyeri sangat bervariasi. Keadaan ini sebagian
disebabkan oleh keadaan otak sendiri untuk menekan besarnya sinyal nyeri yang masuk ke
dalam sistem saraf, yaitu dengan mengaktifkan system pengatur rasa nyeri, disebut sistem
analgesia. Sistem ini terdiri dari tiga komponen utama, yaitu :
1. Area periakuaduktus grisea dan periventrikular mesensefalon, dan bagian atas
pons yang mengelilingi akuaduktus Sylvii, serta bagian ventrikel ketiga dan
keempat. Neuron-neuron dari daerah ini akan mengirimkan sinyal ke nukleus
rafe magnus.
2. Nukleus rafe magnus, merupakan nucleus tipis di garis tengah yang terletak
dibagian bawah pons dan bagian atas medulla oblongata, serta nukleus
retikularis paragigantoselularis yang terletak disebelah lateral dari medulla. Dari
nuclei ini, sinyal-sinyal urutan kedua dijalarkan ke bawah kolumna
dorsolateralis di medulla spinalis menuju ke kompleks penghambat rasa nyeri di
dalam radiks dorsalis medulla spinalis.
3. Kompleks penghambat rasa nyeri, pada tempat ini sinyal analgesia dapat
menghambat sinyal rasa nyeri sebelum dipancarkan ke otak. Serabut-serabut
dari nukleus rafe magnus, akan mengirimkan sinyal ke kornu medulla spinalis
untuk menyekresi serotonin. Serotonin menyebabkan neuron-neuron local
medulla spinalis untuk menyekresi enkefalin. Enkefalin dianggap dapat
menimbulkan baik hambatan presinaptik maupun postsinaptik pada serabut-
serabut nyeri tipe C dan tipe A- yang bersinaps di kornu dorsalis.
G. Nyeri Neuropatik
Dua ciri khas dari nyeri neuropatik, yaitu respon yang berlebihan terhadap stimulus
nyeri yang umum (hyperalgia), atau sensasi nyeri terhadap stimulus yang biasanya tidak
menimbulkan nyeri (allodynia). Nyeri neuropatik adalah suatu respon yang tidak tepat,
akibat adanya cedera atau disfungsi pada sistem saraf. Nyeri neuropatik adalah suatu
sensasi panas menetap (misalnya, seperti terbakar atau sangat panas), suatu sensasi
tertusuk, atau suatu perasaan tidak nyaman, atau khawatir, atau gelisah, yang tidak dapat
dimengerti. Biasanya disertai oleh mati rasa, hypesthesia (penurunan sensitivitas),
hyperesthesia (peningkatan sensitivitas), dan kelemahan otot (penurunan kekuatan), atau
paralisis menyeluruh. Pada area yang terkena akan tampak perubahan trofik dan kutaneus,
dan jika dilakukan tes konduksi saraf, maka akan menunjukkan tanda disfungsi.

Klasifikasi Nyeri Neuropatik


a. Berdasarkan Intensitas Nyeri
- Verbal Rating Scale (VRS)
Pasien ditanya bagaimana sifat dari nyeri yang dirasakannya. Skor terdiri dari
empat poin, yaitu :
0 = Tidak ada nyeri atau perasaan tidak enak ketika ditanya
1 = Nyeri yang ringan yang dilaporkan pasien ketika ditanya
2 = Nyeri sedang yang dilaporkan pasien ketika ditanya
3 = Nyeri dihubungkan dengan respon suara, tangan atau lengan,
wajah
merintih atau menangis
Untuk pasien dengan gangguan kognitif, skala nyeri verbal
ini sulit digunakan.

- Visual Analog Scale (VAS)


Skala berupa garis lurus yang panjangnya 10 cm (atau 100 mm), dengan
penggambaran verbal pada masing-masing ujungnya. Skor tersebut dibagi menjadi empat
kategori :
0 = Tidak Nyeri
1 3 = Nyeri ringan
4 6 = Nyeri sedang
7 10 = Nyeri berat

- Faces Pain Rating Scale (untuk anak)


Banyak digunakan pada pasien pediatrik dengan kesulitan atau keterbatasan verbal.
Dijelaskan kepada pasien mengenai perubahan mimic wajah sesuai rasa nyeri dan pasien
memilih sesuai rasa nyeri yang dirasakannya.

b. Berdasarkan Lokasi dan Penyebabnya


Nyeri neuropatik sentral
Penyebabnya :
CVA (cerebrovascular accident)
Cedera medulla spinalis
Multiple Sclerosis
Tumor
Nyeri neuropatik perifer
Penyebabnya :
Lesi atau cedera akibat trauma, prosedur bedah, atau penekanan
Kelainan metabolik (contohnya : DM, uremia, porfiria, hipotiroidisme,
dan amiloidosis)
Infeksi (contohnya : herpes zoster, HIV, difteri, lepra,dll)
Kanker
Racun, obat-obatan, atau alkohol
Penyakit vaskular (contohnya : stroke)
c. Berdasarkan Gejala dan Tanda
Stimulus Independent Pain (gejala nyeri diutarakan oleh pasien),
seperti :
- Rasa terbakar
- Nyeri seperti ditusuk
- Nyeri seperti tersetrum
- Parestesia (sensasi tidak nyaman yang tiba-
tiba, biasanya digambarkan sebagai rasa
kesemutan oleh pasien)
- Disestesia (sensasi abnormal yang
digambarkan sebagai ketidaknyamanan oleh
pasien)
Stimulus Evoked Pain (nyeri dibangkitkan pada pemeriksaan) :
- Alodinia : Nyeri yang disebabkan oleh
stimulus yang secara normal tidak
menimbulkan stimulus

- Hiperalgesia : Respon yang berlebihan terhadap stimulus yang secara normal


menimbulkan nyeri
F. Nyeri Neuropatik Perifer
Nyeri neuropatik perifer merupakan nyeri kronis saraf perifer yang biasanya disertai
dengan cedera jaringan. Serat-serat saraf sendiri mungkin rusak, disfungsional, atau cedera.
Serat saraf yang rusak ini akan mengirimkan sinyal yang salah ke pusat-pusat rasa sakit
lain. Dampaknya ialah meliputi perubahan dalam fungsi saraf, baik di tempat cedera
maupun di daerah sekitar tempat cedera tersebut. Akibatnya, orang akan merasa tidak
nyaman dengan gejala yang digambarkan sebagai kesemutan, nyeri seperti ditusuk, atau
nyeri seperti terbakar dan tersengat listrik.

DAFTAR PUSTAKA
1. Guyton & Hall. Textbook of Medical Physiology 11th Edition
2. Adams and Victors. Principle of Neurology 8th Edition
3. Richard S. Snell. Clinical Neuroanatomy 6th Edition
4. Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran UI. Edisi Ketiga
5. http://emedicine.medscape.com/article/94118-clinical . Cervical Radiculopathy
Clinical Presentation. Diakses 20 Oktober 2012, pkl : 08.00 WIB
6. http://emedicine.medscape.com/article/95025-overview. Lumbosacral
Radiculopathy. Diakses 20 Oktober 2012, pkl : 09.00 WIB
7. http://www.theacpa.org/default.aspx. American Chronic Pain Association - The
ACPA American Chronic Pain Association. Diakses pkl : 10.00 WIB
8. http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/pain.html#cat59 . Pain: MedlinePlus. Diakses
20 Oktober 2012, pkl : 13.00 WIB