Anda di halaman 1dari 25

Laporan Kasus

TRIGGER FINGER

Oleh:
Yuventius Odie Devananda 04084821719219
Indah Meita Said 04084821719196
Sisca 04084821719197

Pembimbing:
dr. Haidar Nasution

DEPARTEMEN REHABILITASI MEDIK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
2017
2

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan kasus berjudul:

TRIGGER FINGER

Oleh:
Yuventius Odie Devananda 04084821719219
Indah Meita Said 04084821719196
Sisca 04084821719197

telah diterima dan disahkan sebagai salah satu syarat dalam mengikutiKepaniteraan Klinik di
Bagian/Departemen Rehabilitasi Medik Fakultas Kedokteran Univesitas Sriwijaya/ RSUP Dr.
Mohammad Hoesin Palembang periode 19 Juni s.d. 10 Juli 2017.

Palembang, Juli 2017


Pembimbing,

dr. Haidar Nasution


3

KATA PENGANTAR

Segala puji penyusun haturkan kepada Tuhan YME yang selalu memberikan rahmat
kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan kasus berjudul Trigger
Finger ini tepat sesuai dengan jadwal yang telah diberikan.
Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang membantu dalam
penulisan referat ini, terutama kepada dr.s Haidar Nasution sebagai pembimbing penulisan
laporan kasus ini.
Dengan penulisan laporan kasus ini, penulis berharap semua pihak yang membaca dapat
lebih memahami paralisis nervus fascialis sehingga dapat bermanfaat bagi calon dokter
umum khususnya serta bagi kesehatan masyarakat secara umum.

Palembang, Juli 2017

Penulis
4

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................................. 1


HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................... 2
KATA PENGANTAR ............................................................................................... 3
DAFTAR ISI ............................................................................................................. 4
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................... 17
BAB III KESIMPULAN ........................................................................................... 31
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 33
5

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Trigger finger merupakan suatu kondisi yang terjadi saat gerakan tendon
terhambat oleh terowongan osteofibrosa pada pulley A1, menghambat tendon dari
ekstensi natural dan posisi awal (Sato dkk., 2015). Trigger finger disebabkan karena
penebalan pada tendon jari dan penebalan/penyempitan pada terowongan pembungkus
tendon. Pasien dengan trigger finger akan merasakan gejala seperti nyeri, bunyi klik
(clicking sound) ketika jari ekstensi dan fleksi, serta terjadi keterbatasan gerak atau
seperti terkunci (locking) pada jari yang terkena. Penggunaan jari secara terus menerus
akan menyebabkan terjadinya iritasi dan peradangan yang berakhir pada penebalan.
Penebalan pada tendon akan menyebabkan terbentuknya nodul.
Trigger finger pada umumnya lebih banyak terjadi pada wanita daripada pria
dan cenderung terjadi pada kisaran usia 40 sampai dengan 60 tahun (Smith cit
Hariyanto M.,2012). Hal ini dikarenakan wanita cenderung lebih sering melakukan
aktivitas rumah tangga seperti mencuci, mengepel, menyapu, dan sebagainya. Tidak
hanya itu, kasus trigger finger lebih sering pula ditemukan pada pasien dengan diabetes
mellitus, rheumatoid arthritis dan gout (Hueston JT citFauzi A., 2015).
Penatalakasaan pada kasus ini dapat dilakukan melalui 2 cara, yaitu terapi non-
operatif dan terapi operatif. Terapi non operatif diantaranya yaitu dengan mengurangi
aktivitas berat pada jari-jari tangan, pemberian obat antiinflamasi/peradangan (NSAID),
splinting yaitu alat bantu untuk menahan jari-jari agar tetap lurus dan dapat pula
dilakukan injeksi kortikosteroid (Ryzewicz et al.,2006). Apabila seluruh tindakan
konservatif gagal, maka pasien dianjurkan untuk melakukan terapi operatif yaitu
dengan insisi pulley A1 yang dilakukan dengan teknik terbuka atau perkutan (Makkouk
HA cit Fauzi A.,2015).
Pada umumnya penebalan selubung tendon fleksor synovial dapat mengganggu
pergerakan tendon. Hal ini dapat menyebabkan keterbatasan ruang gerak dan rasa nyeri
pada jari yang menganggu aktivitas fungsional terutama aktivitas pada kehidupan
sehari-hari. Oleh karena itu penulis akan membahas laporan kasus mengenai trigger
finger dan kaitannya dengan berbagai terapi yang ada dalam lingkup rehabilitasi medik.
6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Trigger Finger


Trigger finger merupakan suatu kondisi yang disebabkan oleh inflamasi dan
penyempitan pada pulley A1. Trigger finger dapat ditandai dengan adanya rasa nyeri,
bunyi klik, dan hilangnya gerakan jari yang terkena. Trigger finger merupakan suatu
kondisi gertakan atau terkuncinya pada jari saat jari difleksi dan diekstensi. Hal ini
dikarenakan hipertrofi dan metaplasia fibrokartilago pada pertemuan tendon-pulley
sehingga menyebabkan tendon tidak dapat bergerak kedepan dan kebelakang secara
normal dibawah pulley. Trigger finger diperkirakan timbul dari tekanan tinggi di tepi
proksimal A1 pulley saat terdapat perbedaan pada diameter tendon fleksor dan
selubungnya pada tingkat metakarpal. Ibu jari (33%) dan jari manis (27%) merupakan
yang paing sering terkena pada orang dewasa, tetapi 90% trigger finger pada anak-anak
melibatkan ibu jari dan 25% nya bilateral.
Trigger finger adalah gangguan umum yang sering terjadi dan ditandai dimana jari
yang dibengkokkan tiba-tiba tidak dapat diluruskan kembali serta berhubungan dengan
disfungsi dan nyeri yang disebabkan penebalan setempat pada suatu tendo fleksor, dalam
kombinasi dengan adanya penebalan di dalam selubung tendon pada tempat yang sama.

2.2 Anatomi pada Tangan


2.2.1 Tulang dan Sendi
a. Karpal
Tulang karpal terdiri dari 8 tulang pendek yang berartikulasi dengan
ujung distal ulna dan radius, dan dengan ujung proksimal dari tulang
metakarpal. Antara tulang-tulang karpal tersebut terdapat sendi geser.
Kedelapan tulang tersebut adalah scaphoid, lunate, triqutrum, piriformis,
trapezium, trapezoid, capitate, dan hamate.
b. Metakarpal
Metakarpal terdiri dari 5 tulang yang terdapat di pergelangan tangan
dan bagian proksimalnya berartikulasi dengan bagian distal tulang-tulang
karpal. Persendian yang dihasilkan oleh tulang karpal dan metakarpal
membuat tangan menjadi sangat fleksibel. Pada ibu jari, sendi pelana yang
7

terdapat antara tulang karpal dan metakarpal memungkinkan ibu jari


tersebut melakukan gerakan seperti menyilang telapak tangan dan
memungkinkan menjepit/menggenggam sesuatu. Khusus di tulang
metakarpal jari 1 (ibu jari) dan 2 (jari telunjuk) terdapat tulang sesamoid.
c. Phalangs
Tulang-tulang phalangs adalah tulang-tulang jari, terdapat 2 phalangs
di setiap ibu jari (phalangs proksimal dan distal) dan 3 di masing-masing
jari lainnya (phalangs proksimal, medial, distal). Sendi engsel yang
terbentuk antara tulang phalangs membuat gerakan tangan menjadi lebih
fleksibel terutama untuk menggenggam sesuatu.

Gambar 2.1. Tulang dan Sendi Tangan (Paulsen dan Waschke, 2012)

Gambar 2.2. Tulang dan Sendi Tangan (Paulsen dan Waschke, 2012)
8

2.2.2 Ligamen dan Tendon


Ligamen adalah struktur jaringan lunak yang menyambungkan tulang
ke tulang. Ligamen di sekitar sendi biasanya bergabung untuk membentuk
kapsul sendi . Sebuah kapsul sendi adalah kantung kedap air yang
mengelilingi sendi dan berisi cairan pelumas yang disebut cairan sinovial.
Pada pergelangan tangan, delapan tulang karpal dikelilingi dan didukung oleh
kapsul sendi. Dua ligamen penting mendukung sisi pergelangan tangan. Ini
adalah ligamen agunan. Ada jaminan ligamen yang menghubungkan dua
lengan ke pergelangan tangan, satu di setiap sisi pergelangan tangan.
Seperti namanya, para ligamentum ulnaris agunan (UCL) adalah di sisi
ulnaris pergelangan tangan. Melintasi tepi ulnaris (sisi yang jauh dari ibu jari)
dari pergelangan tangan. Dimulai pada styloid ulnaris, benjolan kecil di tepi
pergelangan tangan (di sisi jauh dari ibu jari) di mana ulna memenuhi
pergelangan tangan.Ada dua bagian untuk kabel berbentuk UCL. Salah satu
bagian terhubung ke berbentuk kacang (salah satu tulang karpal kecil) dan
ke ligamentum karpal transversal , band tebal jaringan yang melintasi di depan
pergelangan tangan. Ligamen lainnya melintasi triquetrum (tulang karpal kecil
dekat sisi ulnaris pergelangan tangan). UCL menambahkan dukungan untuk
disk kecil dari tulang rawan di mana ulna bertemu pergelangan
tangan. Struktur ini disebut segitiga fibrokartilago kompleks (TFCC) dan
dibahas secara lebih rinci di bawah ini. UCL menstabilkan TFCC dan menjaga
pergelangan tangan dari membungkuk terlalu jauh ke samping (ke arah ibu
jari).
Ligamen kolateral radial (RCL) adalah pada sisi ibu jari pergelangan
tangan. Ini dimulai pada tepi luar dari jari-jari pada benjolan kecil yang
disebut styloid radial . Ini menghubungkan ke sisi skafoid, tulang karpal
bawah jempol. RCL mencegah pergelangan tangan dari membungkuk terlalu
jauh ke samping (jauh dari ibu jari). Seperti ada banyak tulang yang
membentuk pergelangan tangan, terdapat banyak ligamen yang
menghubungkan dan mendukung tulang. Cedera atau masalah yang
menyebabkan ligamen ini untuk meregangkan atau merobek akhirnya dapat
menyebabkan radang sendi pergelangan tangan.
Tendon merupakan jaringan fibrosa yang kuat, yang menghubungkan
otot dengan tulang. Dimana tulang merupakan bagian tubuh yang menyokong
9

atau memberi bentuk pada tubuh manusia. Sedangkan otot merupakan jaringan
yang terdapat pada seluruh tubuh manusia yang berguna untuk pergerakan.
Tulang dan otot tersebut dilekatkan oleh jaringan kuat yang bernama tendon.
Tendon sangatlah kuat tetapi tidak banyak stretch. Ketika mereka
menjadi rusak, tendon bisa memakan waktu yang lama untuk sembuh.
Tendinitis merupakan peradangan pada tendon. Peradangan tersebut bisa
disebabkan oleh beberapa sebab,misalnya dikarenakan oleh regangan, olaraga
yang berlebihan, luka, repitisi gerakan, gerakan yang tidak biasa dan tiba-tiba.
Sebagian besar tendinitis terjadi pada usia pertengahan atau usia lanjut, karena
tendon menjadi lebih peka terhadap cedera, elastisitasnya berkurang.
Tendinitis juga terjadi pada usia muda karena olahraga yangberlebihan atau
gerakan yang berulang-ulang.
Selubung tendon juga dapat terkena penyakit sendi, seperti artritis
reumatoid, skleroderma sistemik, gout, dan sindroma reiter. Pada dewasa
muda yang menderita gonore (terutama wanita), bakteri gonokokus bisa
menyebabkan tenosinovitis (tendinitisyang disertai dengan peradangan pada
selubung pelindung di sekeliling tendon), biasanya pada tendon di bahu,
pergelangan tangan, jari tangan, pingggul, pergelangan kaki, dan kaki.
Ada beberapa penyakit yang menyebabkan tendinitis, diantaranya
adalah rheumatoid artritis, gout, Reiters syndrome, lupus, dan diabetes. Orang
dengan penyakit gout ada kristal asam urat yang nampak pada pembungkus
tendon yang menyebabkangesekan dan robekan.kadar kolesterol darah yang
sangat tinggi juga dapat berhubungan dengan kondisi ini.
Untuk lebih memahami trigger finger, penting untuk kita memahami
anatomi yang terkait. Tendon adalah jaringan ikat yang menghubungkan otot
ke tulang. Setiap otot memiliki dua tendon, yang masing-masing melekat pada
tulang. Pertemuan tulang bersama dengan otot membentuk sendi. Ketika otot
berkontraksi, tendon akan menarik tulang, sehingga terjadi gerakan sendi.
Tendon pada jari-jari melewati ligamen, yang bertindak sebagai katrol.
Sebagaimana kita ketahui trigger finger adalah suatu bentuk cedera akibat
aktivitas berlebihan yang berulang-ulang dengan gejala mulai dari tanpa rasa
sakit dengan sesekali bunyi gemeretak / menyentak jari, untuk disfungsi parah
dan rasa sakit dengan jari terus terkunci dalam posisi menekuk ke bawah ke
telapak tangan.
10

Gambar 2.3 Tendon Flexor Jari Tangan

Gambar 2.4 Pembungkus Tendon Pada Tangan dan Pengikatnya (Paulsen dan
Waschke, 2012)

Gambar 2.5. Tendon pada Jari Tengah Potongan Melintang (Snell, 2011)
11

2.3 Persarafan pada Tangan


Saraf yang bepergian ke tangan menyeberangi pergelangan tangan meliputi tiga
saraf utama mulai bersama di bahu: saraf radial, saraf median, dan saraf ulnaris. Saraf ini
membawa sinyal dari otak ke otot-otot yang menggerakkan lengan, tangan, jari, dan ibu
jari. Saraf juga membawa sinyal kembali ke otak tentang sensasi seperti sentuhan, nyeri,
dan suhu.
Saraf radialis berjalan di sepanjang tepi jempol-sisi lengan bawah. Ini wraps sekitar
akhir tulang jari-jari ke bagian belakang tangan. Ini memberi sensasi ke bagian belakang
tangan dari ibu jari ke jari ketiga. Hal ini juga pergi ke belakang ibu jari dan hanya di
luar buku jari utama dari permukaan belakang cincin dan jari tengah.
Saraf median perjalanan melalui sebuah terowongan dalam pergelangan tangan
disebut carpal tunnel. Saraf median memberikan sensasi ke sisi telapak ibu jari, jari
telunjuk, jari panjang, dan setengah dari jari manis. Ini juga mengirimkan cabang saraf
untuk mengontrol otot-otot tenar jempol. Otot-otot tenar membantu memindahkan ibu
jari dan membiarkan Anda menyentuh pad jempol ke ujung setiap jari masing-masing di
sisi yang sama, gerakan yang disebut oposisi.
Saraf ulnaris bergerak melalui terowongan terpisah, yang disebut kanal
Guyon. Terowongan ini dibentuk oleh dua tulang karpal (yang berbentuk
kacang dan bengkok ), dan ligamentum yang menghubungkan mereka. Setelah melewati
kanal, cabang-cabang saraf ulnar keluar untuk memasok perasaan ke jari kelingking dan
setengah jari manis. Cabang-cabang saraf ini juga memasok otot kecil di telapak dan otot
yang menarik ibu jari ke arah telapak tangan.
Saraf yang melakukan perjalanan melalui pergelangan tangan tunduk
masalah. Konstan membengkokkan dan meluruskan dari pergelangan tangan dan jari
dapat menyebabkan iritasi atau tekanan pada saraf di dalam terowongan dan
menyebabkan masalah seperti nyeri, kesemutan, dan kelemahan pada tangan, jari, dan
ibu jari.
12

Gambar 3.1. Persarafan Pada Tangan

2.4 Epidemiologi Trigger Finger


Pada umumnya penebalan selubung tendon fleksor synovial dapat mengganggu
pergerakan tendon. Hal ini biasanya terkait dengan rheumatoid arthritis, diabetes, dan
pekerjaan berat. Kemungkinan untuk terjadi pada wanita adalah lebih besar daripada
pada laki-laki yaitu sebesar 75%.
Trigger finger dapat menjadi sumber rasa sakit yang signifikan. Selain itu, ruang
gerak yang terbatas pada jari dapat mengganggu. Aktivitas fungsional (seperti
menggenggam dan mengetik). Namun tidak ada kematian yang terkait dengan kondisi
13

ini. Tidak ada kecenderungan rasial diketahui terkait dengan trigger finger. Trigger finger
paling sering terjadi pada orang dewasa, dengan kisaran usia rata-rata adalah 52-62 tahun.

2.5 Etiologi Trigger Finger


Beberapa penyebab trigger finger sudah pernah dilaporkan, diperkirakan etiologi yang
tepat belum jelas. Seperti yang dapat diketahui, gerakan jari yang berulang dan trauma
lokal, stress, dan penyakit degeneratif turut berpartisipasi dalam peningkatan insidensi
trigger finger pada tangan yang dominan. Etiologi trigger finger secara umum disebabkan
oleh pembentukan nodul pada tendon atau perubahan morfologi dari pulley atau
keduanya.

2.6 Faktor Risiko Trigger Finger


Kemungkinan disebabkan oleh trauma lokal dengan stres dan gaya degeneratif. Ada
yang menghubungkan penyebab trigger finger karena penggunaan fleksi tangan yang
terus-menerus dan pada tiap individu sering dengan penyebab multifaktor. Oleh karena
itu sering disebut dengan tenosinovitis stenosing (stenosans tenovaginitis khusus pada
jari). Stenosing berarti penyempitan terowongan atau tabung-seperti struktur (selubung
tendon). Tenosynovitis berarti radang tendon.
Pasien dengan riwayat penyakit vascular kolagen seperti rheumatoid artritis, diabetes
mellitus, arthitis psoriatis, amyloidosis, hipotiroid, sarkoidosis, dan pigmented
vilonodular synovitis memiliki faktor resiko lebih besar terkena trigger finger
dibandingkan orang yang yang tidak memiliki riwayat tersebut.
Mekanisme terjadinya keadaan ini adalah adanya aktifitas-aktifitas fisik yang berat
dan berulang-ulang pada orang yang mempunyai kecenderungan pengumpulan cairan di
sekitar tendon dan sendinya seperti pasien diabetes mellitus dan rheumatoid artritis.
Pengumpulan cairan disekitar tendon ini menyebabkan terjadinya penebalan nodul tendon
(biasanya pada tendon m.flexor digitorum profundus) sehingga tendon yang bengkak ini
bisa mengganggu gerakan normal pada tendon. Adanya pembengkakan ini mudah sekali
tendon terjepit sehingga jari susah untuk difleksikan (macet) atau terkunci pada posisinya
dan mengakibatkan jari terasa sakit dan mengeluarkan suara klik apabila usaha lebih
keras diberikan.
Kejadian trigger finger kongenital umumnya disebabkan oleh adanya nodul pada
tendon fleksor polisis longus. Sementara pada orang dewasa, beberapa kasus yang
terjadi mungkin berhubungan dengan trauma berulang. Lebih dari satu penyebab
14

potensial telah dijelaskan, tetapi etiologi tetap idiopatik, artinya penyebabnya tidak
diketahui. Keadaan ini sering disebut dengan tenosinovitis stenosing (stenosans
tenovaginitis khusus pada jari), tapi hal ini mungkin keliru, karena radang bukan fitur
dominan pada keadaan ini.
Selain itu, molekul kolagen (kolagen membuat naik sekitar 95% dari subtansi
tendon) menurun dan rusak. Produk degradasi dari kolagen, yang disebut degenerasi
mukous, menumpuk di dalam tendon. Hal ini menciptakan benjolan atau pembengkakan
tendon. Hal ini tampaknya menjadi bagian alami dari penuaan (seperti rambut
beruban dan keriput) dan bukan merupakan tanda penyakit atau berlebihan.
Artinya, tidak dapat dikatakan nodul pada trigger finger lebih umum pada orang
yang melakukan aktivitas berat dimana tangan yang lebih dominan.

2.7 Patofisiologi Trigger Finger


Pada trigger finger terjadi peradangan dan hipertrofi dari selubung tendon yang
semakin membatasi gerak fleksi dari tendon. Selubung ini biasanya membentuk sistem
pulley yang terdiri dari serangkaian sistem yang berfungsi untuk memaksimal kekuatan
fleksi dari tendon dan efisiensi gerak di metakarpal. Nodul mungkin saja dapat membesar
pada tendon, yang menyebabkan tendon terjebak di tepi proksimal pulley ketika pasien
mencoba untuk meluruskan jari, sehingga menyebabkan kesulitan untuk bergerak. Ketika
upaya lebih kuat dibuat untuk meluruskan jari, dengan menggunakan kekuatan lebih dari
ekstensor jari atau dengan menggunakan kekuatan eksternal (dengan mengerahkan
kekuatan pada jari dengan tangan lain), trigger finger yang terkunci tadi terbuka dengan
menimbulkan rasa sakit yang signifikan pada telapak distal hingga ke dalam aspek
proksimal digit. Hal yang kurang umum terjadi antara lain nodul tadi bergerak pada distal
pulley, mengakibatkan kesulitan pasien meregangkan jari.
Sebuah nodul dapat meradang dan membatasi tendon dari bagian bawah jalur yang
melewati pulley. Jika nodul terdapat pada distal pulley, maka jari dapat macet dalam
posisi yang lurus. Sebaliknya, jika benjolan terdapat pada proksimal dari pulley, maka jari
pasien dapat macet dalam posisi tertekuk. Setelah ditemukan sonoelstografi, teknik
assesmen kuantitatif untuk kekakuan jaringan lunak, jari macet pada trigger finger
diakibatkan oleh bertambah kakunya dan tebalnya A1 pulley. (Miyamoto, 2011 dalam
Kale, 2016)
15

2.8 Gambaran Klinis Trigger Finger


Diagnosa dibuat secara eksklusif dengan anamnesa yang menyeluruh dan
pemeriksaan fisik. Trigger finger dapat mengenai lebih dari satu jari pada satu waktu,
meskipun biasanya lebih sering terjadi pada ibu jari, tengah, atau jari manis. Trigger
finger biasanya ditandai dengan adanya bengkak dan kaku pada jari terutama pada pagi
hari, atau saat memegang obyek dengan kuat.
Gejala ini muncul biasanya dimulai tanpa adanya cedera. Gejala-gejala ini termasuk
adanya benjolan kecil, nyeri di telapak tangan, pembengkakan, rasa tidak nyaman di jari
dan sendi. Kekakuan akan bertambah jika pasien tidak melakukan aktifitas, misalnya saat
anda bangun pagi. Dan kadang kekakuan akan berkurang saat melakukan aktifitas.
Kadang-kadang jika tendon terasa bebas bisa bergerak tegak akan dirasakan sendi seperti
terjadi "dislokasi" / pergeseran sendi. Pasien juga sering mengeluhkan jari terkunci pada
saat melakukan gerakan volunter yang dipaksakan atau bahkan gerakan pasif. Pada kasus
yang berat jari tidak dapat diluruskan bahkan dengan bantuan. Pasien dengan diabetes
biasanya akan terkena lebih parah.
16

Pada tingkat sendi palmaris distal, nodul bisa teraba lembut, biasanya di atas sendi
metakarpofalangealis (MCP). Jari yang terkena bisa macet dalam posisi menekuk (lihat
gambar di bawah) atau (kurang biasa) posisi diperpanjang. Ketika pasien berusaha untuk
memindahkan angka lebih kuat melampaui pembatasan, angka mungkin cepat atau
memicu melampaui pembatasan.
Pada beberapa studi ditemukan bahwa gejala perioperative yang menonjol pada
trigger thumb adalah rasa nyeri ketika jari digerakkan, sedangkan pada trigger finger
adalah berkurangnya ROM dan triggering primer. Dalam kasus yang parah, pasien tidak
mampu untuk menggerakkan jari yang melampaui rentang gerak. Pada ibu jari yang
macet, pada palpasi yang lembut dapat ditemukan nodul pada aspek palmar sendi MCP
pertama dari sendi palmaris distal.

2.9 Diagnosa Banding Trigger Finger


1. Trigger Finger
2. Carpal tunnel syndrome
Carpal tunnel syndrome (CTS) atau sindroma terowongan karpal (STK) adalah
salah satu gangguan pada lengan tangan karena terjadi penyempitan pada terowongan
karpal, baik akibat edema fasia pada terowongan tersebut maupun akibat kelainan
pada tulang-tulang kecil tangan sehingga terjadi penekanan terhadap nervus
medianus dipergelangan tangan. Carpal Tunnel Syndrome diartikan sebagai neuropati
tekanan saraf medianus dalam terowongan karpal di pergelangan tangan dengan
kejadian yang paling sering, bersifat kronik, dan ditandai dengan nyeri tangan pada
malam hari, parestesia jari-jari yang mendapat innervasi dari saraf medianus,
kelemahan dan atrofi otot thenar.
Gejala klinis CTS menurut Grafton (2009) adalah sebagai berikut :
a. Mati rasa, rasa terbakar, atau kesemutan di jari-jari dan telapak tangan.
b. Nyeri di telapak, pergelangan tangan, atau lengan bawah, khususnya selama
penggunaan.
c. Penurunan cengkeraman kekuatan.
d. Kelemahan dalam ibu jari
e. Sensasi jari bengkak, ( ada atau tidak terlihat bengkak)
f. Kesulitan membedakan antara panas dan dingin.
17

3. De Quervain syndrome (RA)


Nyeri yang terasa di pergelangan tangan sering disebabkan oleh tenosinovitis.
Pada sisi radial terjadi tendovaginitis otot abductor polocis longus, yang dikenal
dengan sebagai tenosinovitis De Quervein, dan pada sisi ulnar dapat dijumpai
tendovagintis otot ekstensor karpi ulnaris. Kedua jenis peradangan itu merupakan
manisfestasi arthritis rheumatoid. Pada bagian dorsal pergelangan tangan sinovitis
rheumatoid dapat membangkitkan benjolan di tengah-tengah ligamentum karpi dorsal
di atas os navikular dan lunatum.
Sinovitis di pergelangan tangan selalu menimbulakan nyeri tekan, nyeri gerak
aktif dan nyeri gerak isometrik. Karena itu, maka pergelangan tangan tidak dapat
distabilkan secara kuat, sehingga tenaga pengepalan tidak kuat dan tangan sukar
diluruskan pada pergelangan tangan.
Pada tenosinovitis De Quervein nyeri tekan di dapat pada penekanan diprosesus
stiloideus radii. Gerakan pasif ibu jari tidak membangkitkan nyeri. Sebaliknya
gerakan aktif dan isometrik menimbulkan nyeri yang hebat. Deviasi radial secara
pasif tidak menimbulkan nyeri. Sebaliknya defiasi ulnar secara aktif menimbulkan
nyeri yang hebat

2.10 Diagnosis Trigger Finger


a. Anamnesis
Pada anamnesis, pasien biasanya mengeluhkan terdapatnya keterbatasan
fungsional terutama kesulitan untuk menggenggam tangan dan memindahkan
objek yang disebabkan oleh jari yang terkunci, rasa nyeri, atau keduanya.
Gangguan motorik halus meliputi kesulitan untuk memasukkan kunci ke lubang
kunci, mengetik, atau mengancing baju. Gangguan pada motorik kasar dapat
berupa gangguan saat menyetir atau saat menggenggam barang-barang di rumah
atau tempat kerja.

b. Pemeriksaan Fisik
Elemen esensial dalam pemeriksaan fisik adalah lokalisasi dari gangguan
yang berada pada sendi metakarpophalangeal. Teraba tekstur yang lunak,
terkadang terdapat nodul yang lunak atau krepitasi pada bagian volar pada
metacarpal head. Membuka dan menutup tangan secara aktif dapat menyebabkan
rasa nyeri yang disebabkan inflamasi pada tendon yang melewati sarung yang
18

terkonstriksi. Pasien dengan triggering kronik dapat terjadi kontraktur pada sendi
fleksi interphalang. Penting untuk ditentukan apakah ada ROM pasif yang normal
pada sendi metakarpalphalangeal dan sendi interphalang.
Pada pemeriksaan neurologis ditemukan kekuatan otot, sensasi, dan refleks
yang normal kecuali pada kasus yang parah dapat terjadi kelemahan atau atropi
karena jari jarang digunakan. Kormobiditas dapat mempengaruhi hasil
pemeriksaan neurologis, contohnya pasien diabetes mellitus atau CTS dapat
mengalami terganggunya sensasi.

c. Pemeriksaan Penunjang
Pasien yang tidak memiliki riwayat trauma atau inflamasi tidak perlu
dilakukan pemeriksaan radiografi secara rutin. Dapat dilakukan MRI untuk
mengkonfirmasi adanya tenosynovitis pada sarung fleksor, tetapi tidak
berpengaruh besar terhadap diagnosis klinis. Pemeriksaan ultrasound dapat
menunjukkan nodul pada tendon, tenosynovitis, dan triggering aktif pada level
A1.

2.11 Tatalaksana Trigger Finger


1. Terapi
a. Terapi Medikamentosa
- Pengobatan OAINS
Berikan pengobatan non steroid seperti aspirin, ibuprofen, naprosyn,
atau ketoprofen.
- Injeksi Korstikosteroid
Lini pertama dari tatalaksana adalah injeksi steroid. Injeksi
kortikosteroid untuk pengobatan trigger finger telah dilakukan sejak
1953. Tindakan Ini harus dicoba sebelum intervensi bedah karena sangat
efektif (hingga 93%), terutama pada pasien non-diabetes dengan onset
baru-baru ini terkena gejala dan satu digit dengan nodul teraba. Hal ini
diyakini bahwa injeksi kortikosteroid kurang berhasil pada pasien
dengan penyakit lama (durasi > 6 bulan), diabetes mellitus, dan
keterlibatan beberapa digit karena tidak mampu untuk membalikkan
perubahan metaplasia chondroid yang terjadi pada pulley A1.
19

Tatalaksana non-invasif ataupun tatalaksana injeksi steroid


ditentukan oleh tingkat keparahan gejalanya (semakin parah gejalanya
maka akan semakin baik responnya terhadap terapi injeksi), level
aktivitas pasien (seberapa cepat pasien harus kembali ke tempat kerja),
atau berdasarkan pilihan pasien dan klinisi.
Injeksi kortikosteroid lokal dikombinasikan dengan anastesi lokal.
Bidai dapat digunakan setelah injeksi selama beberapa hari yang
bertujuan untuk melindungi area suntikan. Karena diperlukan waktu 3
sampai 5 hari bagi obat untuk memberikan efek, dan pasien disarankan
untuk menghindari aktivitas tangan sebisa mungkin selama 1 minggu
setelah injeksi.
Injeksi biasanya bermanfaat dan kerap kali kuratif. Beberapa
penelitian Cochrane menemukan bahwa injeksi kortikosteroid lebih
bermanfaat dibandingkan dengan penggunaan placebo dengan tingkat
keberhasilan yang variatif. Sebuah studi menunjukkan terjadi
peningkatan keberhasilan terapi dari 54% menjadi 88% 1 tahun setelah
injeksi. Prosedur ini tidak terlalu efektif pada pasien dengan beberapa
komplikasi seperti diabetes atau RA, atau ketika kondisi tersebut terjadi
lebih dari 4 bulan.
Injeksi diberikan secara langsung ke dalam selubung tendon.
Namun, laporan menunjukkan bahwa injeksi ekstrasinovial mungkin
efektif, sambil mengurangi risiko tendon ruptur (pecah). Pecah Tendon
adalah komplikasi yang sangat jarang, hanya satu kasus yang dilaporkan.
Komplikasi lain termasuk atrofi kulit, nekrosis lemak, hipopigmentasi
kulit sementara elevasi glukosa serum pada penderita diabetes, dan
infeksi. Jika gejala tidak hilang setelah injeksi pertama, atau muncul
kembali setelah itu, suntikan kedua biasanya lebih mungkin untuk
berhasil sebagai tindakan awal.
20

b. Terapi Nonfarmakologi
- Pembedahan
Pada orang dewasa, injeksi kortikosteroid direkomendasikan
sebelum memutuskan untuk melakukan tindakan pembedahan.
Intervensi berupa pembedahan memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi
apabila terapi konservatif gagal atau direkomendasikan bagi pasien yang
ingin sembuh dengan cepat atau sembuh total dari disabilitas ini. Orang
dengan diabetes, RA, keterlibatan banyak sendi, dan onset pada usia
muda lebih cenderung membtuhkan terapi bedah.
Waktu operasi agak kontroversial dengan data yang menunjukkan
pertimbangan bedah setelah kegagalan baik tunggal maupun beberapa
suntikan kortikosteroid.
Tindakan pembedahan ini pertama kali diperkenalkan oleh Lorthioir
pada tahun 1958. Fungsi operasi biasanya bertujuan melonggarkan jalan
bagi tendon yaitu dengan cara membuka selubungnya. Dalam
penyembuhannya, kedua ujung selubung yang digunting akan menyatu
lagi, tetapi akan memberikan ruang yang lebih longgar, sehingga tendon
akan bisa bebas keluar masuk.
Terdapat dua tipe umum dari pembedahan untuk kondisi ini yaitu
operasi pelepasan tendon A1 standar dan operasi pelepasan tendon A1
secara perkutaneus. Pada suatu studi mengenai teknik pelepasan tendon
A1 secara perkutaneus angka kesuksesan mencapai 100% pada 12
minggu follow up. Kedua teknik bedah ini secara umum efektif dan
memiliki resiko komplikasi yang rendah.

Gambar 2.11.1 Pembedahan (Ryewicz, 2006)


21

2. Rehabilitasi Medik
Rehabilitasi medik menurut WHO adalah semua tindakan yang ditujukan
guna mengurangi dampak cacat handikap serta meningkatkan kemampuan
penyandang cacat mengenai integritas sosial. Tujuan rehabilitasi medik pada
pasien Trigger Finger adalah mengembalikan fungsi yang terganggu akibat
kekakuan sendi jari sehingga pasien dapat kembali melakukan aktivitas kerja
sehari-hari dan bersosialisasi dengan masyarakat.
Rehabilitasi dapat meliputi tatalaksana okupasional dan terapi fisik pada
tangan yang mengalami masalah. Terapi tidak perlu diawasi secara umum,
kecuali pada kondisi yaitu pasien mengalami penurunan kekuatan otot yang
signifikan, penurunan ROM yang signifikan, penurunan fungsi akibat terlalu lama
dibidai dan tidak digunakan, ketika modalitas seperti ultrasound dan
iontophoresis disarankan untuk mengurangi inflamasi, dan ketika pembidaian
dirasakan perlu.
Terapi difokuskan untuk meningkatkan fungsi serta mengurangi inflamasi
dan nyeri. Terapi dapat dilakukan dengan teknik seperti pijat es, mandi kontras,
ultrasound, dan iontophoresis dengan penggunaan steroid lokal. Bagi orang
dengan tangan yang sangat besar atau kecil atau variasi anatomi yang lain
(contohnya : sendi yang mengalami artritis), bidai yang dimodifikasi dapat lebih
pas dan memungkinkan pasien untuk bergerak dengan lebih baik pada saat
bekerja daripada bidai buatan pabrik. ROM dan kekuatan dapat ditingkatkan
sebelum dan sesudah tindakan operasi.
a. Program fisioterapi
1. Pemanasan
- Pemanasan superfisial dengan infra red
- Pemanasan profunda berupa shortwave diathermy
2. Stimulasi listrik
Tujuan pemberian stimulasi listrik yaitu menstimulasi otot untuk
mencegah atau memperlambat terjasi atrofi sambil menunggu proses
regenerasi dan memperkuat otot yang masih lemah. Misalnya, dengan
faradisasi yang tujuannya adalah untuk menstimulasi otot redukasi dari
aksi otot, melatih fungsi otot baru, meningkatkan sirkulasi serta
mencegah atau merenggangkan perlengketan.
22

b. Program Ortotik Prostetik


1. Splinting
Tujuan splinting adalah untuk mencegah gesekan yang disebabkan
oleh pergerakan tendon fleksor melalui pulley A1 yang sakit sampai
hilangnya peradangan. Secara umum splinting merupakan pilihan
pengobatan yang tepat pada pasien yang menolak atau ingin
menghindari injeksi kortikosteroid. Sebuah studi pekerja manual dengan
interfalangealis distal (DIP) di splint dalam ekstensi penuh selama 6
minggu menunjukkan pengurangan gejala pada lebih dari 50% pasien.
Dalam studi lain, teknik splint dilakukan dengan cara membidai
sendi metakarpalphalangeal pada sudut 10-15o pada posisi fleksi dengan
bagian proksimal dan distal interphalang yang bebas, dilakukan hingga 6
minggu secara terus menerus. Cara ini cukup efektif, meskipun lebih
kurang efektifitasnya pada ibu jari. Untuk pasien yang paling terganggu
oleh gejala mengunci di pagi hari, splinting sendi PIP pada malam hari
dapat menjadi efektif. splinting menghasilkan tingkat keberhasilan yang
lebih rendah pada pasien dengan gejala trigger finger yang berat atau
lama.

Gambar 2.11.2 Teknik Splint

c. Home Program
- Kompreskan es selama lima sampai lima belas menit pada daerah yang
bengkak dan nyeri.
- Hindari aktifitas yang mengakibatkan tendon mudah teriritasi, seperti
latihan jari yang berulang-ulang.
23

2.12 Komplikasi Trigger Finger


a. Komplikasi dari Penyakit
Komplikasi biasanya jarang dan dapat termasuk kehilangan ROM secara
permanen dari perkembangan kontraktur pada jari yang terkena, kebanyakan pada
sendi proksimal interphalang. Lebih jarang lagi pada nyeri kronis dapat
berkembang walaupun sudah diberikan pengobatan.

b. Komplikasi dari Terapi


Komplikasi dari terapi terutama dari NSAID, telah banyak diketahui
termasuk efek samping gastrik, renal, dan hepatik. Komplikasi dari injeksi
kortikosteroid lokal termasuk depigmentasi kulit, dermatitis, atrofi dari sel lemak,
rupture tendon, kerusakan saraf sensoris dari jari, dan infeksi. Individu dengan
RA lebih sering mengalami rupture tendon; karena itu injeksi berulang tidak
direkomendasikan pada kasus ini. Untuk kompikasi pembedahan termasuk infeksi
dan kerusakan saraf.

2.13 Prognosis Trigger Finger


Quo ad Vitam : bonam
Quo ad Functionam : bonam
Quo ad sanationam : bonam
Kebanyakan pasien merespon terhadap injeksi kortikosteroid dengan atau
tanpa bebat terkait. Beberapa kasus mungkin dapat sembuh secara spontan dan
kemudian terulang kembali tanpa korelasi yang jelas dengan pengobatan atau
faktor memperburuk.
Pasien yang membutuhkan tindakan bedah umumnya memiliki hasil yang
sangat baik. Prognosis juga sangat baik untuk trigger thumb kongenital yang dapat
diperbaiki dengan reseksi dari nodul tendon.
24

BAB III
KESIMPULAN

Fasciitis plantaris adalah suatu peradangan pada fascia plantaris. Ini terjadi karena
penguluran berlebihan pada fascia plantaris yang dapat mengakibatkan kerobekan kemudian
timbul suatu iritasi pada fascia plantaris.
Fascitiis plantaris merupakan masalah muskuloskeletal yang dipicu oleh beberapa
faktor, yaitu umur, jenis kelamin, berat badan (overweight atau obesitas), degeneratif,
anatomi kaki seperti flat foot atau pes cavum, aktivitas fisik, dan trauma.
Ada beberapa faktor penyebab pada kasus fasciitis plantaris . Beberapa faktor
tersebut antara lain yaitu faktor anatomi, faktor biomekanik, dan faktor lingkungan. Contoh
pada faktor anatomitermasuk arcus yang rendah atau pes planus, arcus yang tinggi atau pes
cavus, dan tekanan tubuh yang berlebih atau obesitas. Pada faktor biomekanik termasuk
tightness pada tendon achilles, kelemahan flexor plantar fascia. Pada faktor lingkungan bisa
disebabkan oleh trauma, dan aktivitas yang berlebih.
Penatalaksanaan fasciitis plantaris terdiri dari terapi konservatif dan terapi surgical.
Terapi konservatif dapat dilakukan dengan istirahat dan modifikasi aktivitas, ice massage,
latihan stretching, fisioterapi, dan penggunaan obat-obatan penghilang nyeri. Terapi surgical
dilakukan apabila gagal dengan terapi konservatif setelah 6 bulan atau lebih. Sekitar 80 90
% kasus fasciitis plantaris sembuh tanpa terapi surgical.
25

DAFTAR PUSTAKA

Hueston JT, Wilson WF. The aetiology of trigger finger explained on the basis of
intratendinous architecture. Hand. 1972 Oct. 4(3):257-60. Dalam Kale, Satischandra. 2016.
Trigger Finger. WebMD. Diakses melalui http://emedicine.medscape.com/article/1244693-
overview#a4 pada Senin, 13 Maret 2017

Kale, Satischandra. 2016. Trigger Finger. WebMD. Diakses melalui


http://emedicine.medscape.com/article/1244693-overview#a4 pada Senin, 13 Maret 2017

Miyamoto H, Miura T, Isayama H, Masuzaki R, Koike K, Ohe T. Stiffness of the first


annular pulley in normal and trigger fingers. J Hand Surg Am. 2011 Sep. 36(9):1486-91.
Dalam Kale, Satischandra. 2016. Trigger Finger. WebMD. Diakses melalui
http://emedicine.medscape.com/article/1244693-overview#a4 pada Senin, 13 Maret 2017

Paulsen, F, J Waschke. 2012. Sobotta : atlas anatomi manusia : anatomi umum dan
sistem muskuloskeletal, alih bahasa Brahm U Pendit. Jakarta: EGC

Rind, Libi, dk. 2010. Trigger Finger Dalam Lyn D. Weiss, Jay M. Weiss, Thomas
Pobre. 2010 Oxford American Handbook of Physical Medicine Rehabilitation. New York:
Oxford University Press

Ryewicz M, Moriatis J. 2006. Trigger digits : principles, management, and


complications. J Hand Surg.31A:135-46

Snell RS. Neuroanatomi klinik. 5th ed. Jakarta: EGC; 2007.

Anda mungkin juga menyukai