Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN

Meningkatnya kesadaran hidup sehat pada masyarakat dan peningkatan pelayanan kesehatan
membawa pengaruh pada peningkatan usia harapan hidup, konsekuensinya akan membawa
pengaruh terhadap penambahan jumlah lanjut usia. Kompleksitas permasalahan pada lanjut usia
membawa beban tanggung jawab bagi keluarga ataupun masyarakat, bagi lansia pada keluarga
mampu secara ekonomi ataupun sosialnya sebagian besar tidak menimbulkan masalah, namun
bagi keluarga kurang mampu sangat rawan terjadi masalah sosial. Kondisi ini akan melibatkan
peran masyarakat dan lembaga sosial maupun pemerintah.

Unit Pelaksana Teknis Pelayanan Sosial Lanjut Usia adalah Unit Pelaksana Tehnis Dinas Sosial
Propinsi Jawa Timur yang melaksanakan tugas pelayanan, dan bimbingan sosial bagi lanjut usia
terlantar, berdasarkan pada Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor : 119 tahun 2008 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur. Oleh karena
itu peran lembaga pelayanan sosial bagi lanjut usia sangat diperlukan dalam upaya sebagai
penggati peran keluarga.

Seorang dapat dinyatakan sebagai seorang jompo atau lanjut usia setelah yang bersangkutan
mencapai umur 55 tahun, tidak mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk
keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain. Lanjut usia adalah suatu
proses alami yang tidak dapat dihindari dari usia manusia sebagai makhluk hidup yang terbatas
oleh suatu putaran alam dengan batas usia 55 tahun / lebih.

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu gangguan pada sistem peredaran darah yang
sering terdapat pada usia pertengahan atau lebih, yang ditandai dengan tekanan darah lebih dari
normal. Hipertensi menyebabkan perubahan pada pembuluh darah yang mengakibatkan makin
meningkatnya tekanan darah.
Dari banyak penelitian epidemiologi didapatkan bahwa dengan meningkatnya umur hipertensi
menjadi masalah pada lansia karena sering ditemukan pada lansia. Pada lansia hipertensi menjadi
faktor utama payah jantung dan penyakit jantung koroner. Lebih dari separuh kematian di atas
usia 60 tahun disebabkan oleh penyakit jantung dan serebrovaskular. Secara nyata kematian
akibat stroke dan morbiditas penyakit kardiovaskuler menurun dengan pengobatan hipertensi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. KONSEP LANSIA
1. Pengertian Lansia
Menurut UU no 4 tahun 1945 Lansia adalah seseorang yang mencapai umur 55 tahun,
tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima
nafkah dari orang lain (Wahyudi, 2000).

Usia lanjut adalah sesuatu yang harus diterima sebagai suatu kenyataan dan fenomena
biologis. Kehidupan itu akan diakhiri dengan proses penuaan yang berakhir dengan
kematian (Hutapea, 2005).

Usia lanjut adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindari (Azwar, 2006).

Menua secara normal dari system saraf didefinisikan sebagai perubahan oleh usia yang
terjadi pada individu yang sehat bebas dari penyakit saraf jelas menua normal ditandai
oleh perubahan gradual dan lambat laun dari fungsi-fungsi tertentu (Tjokronegroho
Arjatmo dan Hendra Utama,1995).

Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan lahan
kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan
fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki
kerusakan yang diderita (Constantinides 1994). Proses menua merupakan proses yang
terus menerus (berlanjut) secara alamiah dimulai sejak lahir dan umumnya dialami pada
semua makhluk hidup (Nugroho Wahyudi, 2000).
2. Proses Menua
a. Teori Biologi
Teori genetic dan mutasi (Somatik Mutatie Theory)
Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk spesies-spesies
tertentu. Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan biokimia yang terprogramoleh
molekul-molekul atau DNA dan setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi.
1) Teori radikal bebas
Tidak setabilnya radikal bebas mengakibatkan oksidasi-oksidasi bahan organik
yang menyebabkan sel-sel tidak dapat regenerasi.
2) Teori autoimun
Penurunan sistem limfosit T dan B mengakibatkan gangguan pada keseimbangan
regulasi system imun (Corwin, 2001). Sel normal yang telah menua dianggap benda
asing, sehingga sistem bereaksi untuk membentuk antibody yang menghancurkan
sel tersebut. Selain itu atripu tymus juga turut sistem imunitas tubuh, akibatnya
tubuh tidak mampu melawan organisme pathogen yang masuk kedalam tubuh.Teori
meyakini menua terjadi berhubungan dengan peningkatan produk autoantibodi.
3) Teori stress
Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubuh. Regenerasi
jaringan tidak dapat mempertahankan kesetabilan lingkungan internal, dan stres
menyebabkan sel-sel tubuh lelah dipakai.
4) Teori telomere
Dalam pembelahan sel, DNA membelah denga satu arah. Setiap pembelaan akan
menyebabkan panjang ujung telomere berkurang panjangnya saat memutuskan
duplikat kromosom, makin sering sel membelah, makin cepat telomer itu
memendek dan akhirnya tidak mampu membelah lagi.
5) Teori apoptosis
Teori ini disebut juga teori bunuh diri (Comnit Suitalic) sel jika lingkungannya
berubah, secara fisiologis program bunuh diri ini diperlukan pada perkembangan
persarapan dan juga diperlukan untuk merusak sistem program prolifirasi sel tumor.
Pada teori ini lingkumgan yang berubah, termasuk didalamnya oleh karna stres dan
hormon tubuh yang berkurang konsentrasinya akan memacu apoptosis diberbagai
organ tubuh.
b. Teori Kejiwaan Sosial
1) Aktifitas atau kegiatan (Activity theory).
Teori ini menyatakan bahwa pada lanjut usia yang sukses adalah mereka yang aktif
dan ikut bnyak kegiatan social.
2) Keperibadian lanjut (Continuity theory)
Teori ini menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut
usia sangat dipengaruhi tipe personality yang dimilikinya.
3) Teori pembebasan (Disengagement theory)
Dengan bertambahnya usia, seseorang secara berangsur-angsur melepaskan diri
dari kehidupan sosialnya atau menarik diri dari pergaulan sekitarnya. Keadaan ini
mengakibatkan interaksi lanjut usia menurun, baik secara kualitas maupun
kuantitas.
4) Teori Lingkungan
1). Exposure theory: Paparan sinar matahari dapat mengakibatkat percepatan
proses penuaan.
2). Radiasi theory: Radiasi sinar y, sinar xdan ultrafiolet dari alat-alat medis
memudahkan sel mengalami denaturasi protein dan mutasi
DNA.
3). Polution theory: Udara, air dan tanah yang tercemar polusi mengandung
subtansi kimia, yang mempengaruhi kondisi epigenetik yang
dpat mempercepat proses penuaan.
4). Stress theory: Stres fisik maupun psikis meningkatkan kadar kortisol dalam
darah. Kondisi stres yang terus menerus dapat mempercepat
proses penuaan.

3. Factor Yang Mempengaruhi Penuaan


Penuaan dapat terjadi secara fisiologis dan patologi. Bila seseorang mengalami penuaan
fisiologis (fisiological aging), diharapkan mereka dapat tua dalam keadaan sehat.
Penuaan ini sesuai dengan kronologis usia dipengaruhi oleh faktor endogen. Perubahan
ini dimulai dari sel jaringan organ sistem pada tubuh. Sedangkan faktor lain yang juga
berpengaruh pada proses penuaan adalah faktor eksogen seperti lingkungan, sosial
budaya, dan gaya hidup. Mungkin pula terjadi perubahan degeneratif yang timbul karena
stress yang dialami individu. (Pudjiastuti& Utomo, 2003).
Yang termasuk faktor lingkungan antara lain pencemaran lingkungan akibat kendaraan
bermotor, pabrik, bahan kimia, bising, kondisi lingkungan yang tidak bersih, kebiasaan
menggunakan obat dan jamu tanpa kontrol, radiasi sinar matahari, makanan berbahan
kimia, infeksi virus, bakteri dan mikroorganisme lain. Faktor endogen meliputi genetik,
organik dan imunitas. Faktor organik yang dapat ditemui adalah penurunan hormone
pertumbuhan, penurunan hormone testosterone, peningkatan prolaktin, penurunan
melatonin, perubahan folicel stimulating hormon dan luteinizing hormone
(Sumampouw Albert, 2003).

Menurut Wahyudi Nugroho (2008), faktor yang mempengaruhi penuaan adalah hereditas
(keturunan), nutrisi/makanan, status kesehatann, pengalaman hidup, lingkungan dan
stress. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketuaan adalah (Nugroho, 2000:19):
a. Hereditas atau ketuaan genetic
b. Nutrisi atau makanan
c. Status kesehatan
d. Pengalaman hidup
e. Lingkungan
f. Stres

4. Perubahan-Perubahan Pada Lansia


Banyak kemampuan berkurang pada saat orang bertambah tua. Dari ujung rambut sampai
ujung kaki mengalami perubahan dengan makin bertambahnya umur. Menurut Nugroho
(2000) perubahan yang terjadi pada lansia adalah sebagai berikut:
a. Perubahan Fisik
1) Sel
Jumlahnya menjadi sedikit, ukurannya lebih besar, berkurangnya cairan intra
seluler, menurunnya proporsi protein di otak, otot, ginjal, dan hati, jumlah sel otak
menurun, terganggunya mekanisme perbaikan sel.
2) Sistem Persyarafan
Respon menjadi lambat dan hubungan antara persyarafan menurun, berat otak
menurun 10-20%, mengecilnya syaraf panca indra sehingga mengakibatkan
berkurangnya respon penglihatan dan pendengaran, mengecilnya syaraf
penciuman dan perasa, lebih sensitive terhadap suhu, ketahanan tubuh terhadap
dingin rendah, kurang sensitive terhadap sentuhan.
3) Sistem Penglihatan.
Menurun lapang pandang dan daya akomodasi mata, lensa lebih suram
(kekeruhan pada lensa) menjadi katarak, pupil timbul sklerosis, daya
membedakan warna menurun.
4) Sistem Pendengaran.
Hilangnya atau turunnya daya pendengaran, terutama pada bunyi suara atau nada
yang tinggi, suara tidak jelas, sulit mengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia
diatas umur 65 tahun, membran timpani menjadi atrofi menyebabkan otosklerosis.
5) Sistem Cardiovaskuler.
Katup jantung menebal dan menjadi kaku,Kemampuan jantung menurun 1%
setiap tahun sesudah berumur 20 tahun, kehilangan sensitivitas dan elastisitas
pembuluh darah: kurang efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi
perubahan posisi dari tidur ke duduk (duduk ke berdiri) bisa menyebabkan
tekanan darah menurun menjadi 65mmHg dan tekanan darah meninggi akibat
meningkatnya resistensi dari pembuluh darah perifer, sistole normal 170 mmHg,
diastole normal 95 mmHg.
6) Sistem pengaturan temperatur tubuh
Pada pengaturan suhu hipotalamus dianggap bekerja sebagai suatu thermostat
yaitu menetapkan suatu suhu tertentu, kemunduran terjadi beberapa factor yang
mempengaruhinya yang sering ditemukan antara lain: Temperatur tubuh menurun,
keterbatasan reflek menggigildan tidak dapat memproduksi panas yang banyak
sehingga terjadi rendahnya aktifitas otot.
7) Sistem Respirasi.
Paru-paru kehilangan elastisitas, kapasitas residu meningkat, menarik nafas lebih
berat, kapasitas pernafasan maksimum menurun dan kedalaman nafas turun.
Kemampuan batuk menurun (menurunnya aktifitas silia), O2 arteri menurun
menjadi 75 mmHg, CO2 arteri tidak berganti.
8) Sistem Gastrointestinal.
Banyak gigi yang tanggal, sensitifitas indra pengecap menurun, pelebaran
esophagus, rasa lapar menurun, asam lambung menurun, waktu pengosongan
menurun, peristaltik lemah, dan sering timbul konstipasi, fungsi absorbsi
menurun.
9) Sistem Genitourinaria.
Otot-otot pada vesika urinaria melemah dan kapasitasnya menurun sampai 200
mg, frekuensi BAK meningkat, pada wanita sering terjadi atrofi vulva, selaput
lendir mongering, elastisitas jaringan menurun dan disertai penurunan frekuensi
seksual intercrouse berefek pada seks sekunder.
10) Sistem Endokrin.
Produksi hampir semua hormon menurun (ACTH, TSH, FSH, LH), penurunan
sekresi hormone kelamin misalnya: estrogen, progesterone, dan testoteron.
11) Sistem Kulit.
Kulit menjadi keriput dan mengkerut karena kehilangan proses keratinisasi dan
kehilangan jaringan lemak, berkurangnya elastisitas akibat penurunan cairan dan
vaskularisasi, kuku jari menjadi keras dan rapuh, kelenjar keringat berkurang
jumlah dan fungsinya, perubahan pada bentuk sel epidermis.
12) System Muskuloskeletal.
Tulang kehilangan cairan dan rapuh, kifosis, penipisan dan pemendekan tulang,
persendian membesar dan kaku, tendon mengkerut dan mengalami sclerosis,
atropi serabut otot sehingga gerakan menjadi lamban, otot mudah kram dan
tremor.

b. Perubahan Mental
Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental adalah:
1) Perubahan fisik.
2) Kesehatan umum.
3) Tingkat pendidikan.
4) Hereditas.
5) Lingkungan.
6) Perubahan kepribadian yang drastis namun jarang terjadi misalnya kekakuan
sikap.
7) Kenangan, kenangan jangka pendek yang terjadi 0-10 menit.
8) Kenangan lama tidak berubah.
9) Tidak berubah dengan informasi matematika dan perkataan verbal,
berkurangnya penampilan, persepsi, dan ketrampilan, psikomotor terjadi
perubahan pada daya membayangkan karena tekanan dari factor waktu.

c. Perubahan Psikososial
1) Perubahan lain adalah adanya perubahan psikososial yang menyebabkan rasa
tidak aman, takut, merasa penyakit selalu mengancam sering bingung panic dan
depresif.
2) Hal ini disebabkan antara lain karena ketergantungan fisik dan sosioekonomi.
3) Pensiunan, kehilangan financial, pendapatan berkurang, kehilangan status, teman
atau relasi
4) Sadar akan datangnya kematian.
5) Perubahan dalam cara hidup, kemampuan gerak sempit.
6) Ekonomi akibat perhentian jabatan, biaya hidup tinggi.
7) Penyakit kronis.
8) Kesepian, pengasingan dari lingkungan social.
9) Gangguan syaraf panca indra.
10) Gizi
11) Kehilangan teman dan keluarga.
12) Berkurangnya kekuatan fisik.

Menurut Hernawati Ina MPH (2006) perubahan pada lansia ada 3 yaitu perubahan
biologis, psikologis, sosiologis.
a) Perubahan biologis meliputi :
Massa otot yang berkurang dan massa lemak yang bertambah mengakibatkan
jumlah cairan tubuh juga berkurang, sehingga kulit kelihatan mengerut dan
kering, wajah keriput serta muncul garis-garis yang menetap. Penurunan indra
penglihatan akibat katarak pada usia lanjut sehingga dihubungkan dengan
kekurangan vitamin A vitamin C dan asam folat, sedangkan gangguan pada
indera pengecap yang dihubungkan dengan kekurangan kadar Zn dapat
menurunkan nafsu makan, penurunan indera pendengaran terjadi karena adanya
kemunduran fungsi sel syaraf pendengaran. Dengan banyaknya gigi geligih yang
sudah tanggal mengakibatkan ganguan fungsi mengunyah yang berdampak pada
kurangnya asupan gizi pada usia lanjut. Penurunan mobilitas usus menyebabkan
gangguan pada saluran pencernaan seperti perut kembung nyeri yang
menurunkan nafsu makan usia lanjut. Penurunan mobilitas usus dapat juga
menyebabkan susah buang air besar yang dapat menyebabkan wasir.

Kemampuan motorik yang menurun selain menyebabkan usia lanjut menjadi


lanbat kurang aktif dan kesulitan untuk menyuap makanan dapat mengganggu
aktivitas/ kegiatan sehari-hari. Pada usia lanjut terjadi penurunan fungsi sel otak
yang menyebabkan penurunan daya ingat jangka pendek melambatkan proses
informasi, kesulitan berbahasa kesulitan mengenal benda-benda kegagalan
melakukan aktivitas bertujuan apraksia dan ganguan dalam menyusun rencana
mengatur sesuatu mengurutkan daya abstraksi yang mengakibatkan kesulitan
dalam melakukan aktivitas sehari-hari yang disebut dimensia atau pikun. Akibat
penurunan kapasitas ginjal untuk mengeluarkan air dalam jumlah besar juga
berkurang. Akibatnya dapat terjadi pengenceran nutrisi sampai dapat terjadi
hiponatremia yang menimbulkan rasa lelah. Inkotenensia urine diluar kesadaran
merupakan salah satu masalah kesehatan yang besar yang sering diabaikan pada
kelompok usia lanjut yang mengalami IU sering kali mengurangi minum yang
mengakibatkan dehidrasi.

b. Kemunduran psikologis
Pada usia lanjut juga terjadi yaitu ketidak mampuan untuk mengadakan
penyesuaianpenyesuaian terhadap situasi yang dihadapinya antara lain sindroma
lepas jabatan sedih yang berkepanjangan.
c. Kemunduran sosiologi
Pada usia lanjut sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan pemahaman usia
lanjut itu atas dirinya sendiri. Status social seseorang sangat penting bagi
kepribadiannya di dalam pekerjaan. Perubahan status social usia lanjut akan
membawa akibat bagi yang bersangkutan dan perlu dihadapi dengan persiapan
yang baik dalam menghadapi perubahan tersebut aspek social ini sebaiknya
diketahui oleh usia lanjut sedini mungkin sehingga dapat mempersiapkan diri
sebaik mungkin.

B. KONSEP HIPERTENSI
1. Pengertian
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan
sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg. Pada populasi lansia,
hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90
mmHg. (Smeltzer, 2001).
Menurut WHO ( 1978 ), tekanan darah sama dengan atau diatas 160 / 95 mmHg
dinyatakan sebagai hipertensi.
2. Klasifikasi
Hipertensi pada usia lanjut dibedakan atas : ( Darmojo, 1999 )
a. Hipertensi dimana tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140 mmHg dan / atau
tekanan diastolik sama atau lebih besar dari 90 mmHg
b. Hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan sistolik lebih besar dari 160 mmHg dan
tekanan diastolik lebih rendah dari 90 mmHg.
Secara klinis derajat hipertensi dapat dikelompokkan sesuai dengan rekomendasi dari
The Sixth Report of The Join National Committee, Prevention, Detection and Treatment
of High Blood Pressure (JNC VI, 1997) sebagai berikut :
No 1. 2. 3. 4.
Grade Grade 4
High Grade 1 Grade 2
Kategori Optimal Normal 3 (sangat
Normal (ringan) (sedang)
(berat) berat)
Sistolik 120 130 140 160 180
<120 >210
(mmHg) 129 139 159 179 209
Diastolik 100 100
<80 80 84 85 89 90 99 >120
(mmHg) 109 119
Klasifikasi hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2 golongan
besar yaitu :
a. Hipertensi essensial ( hipertensi primer ) yaitu hipertensi yang tidak diketahui
penyebabnya
b. Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang di sebabkan oleh penyakit lain
3. Etiologi
Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya perubahan
perubahan pada :
a. Elastisitas dinding aorta menurun
b. Katup jantung menebal dan menjadi kaku
c. Kemampuan jantung memompa darah menurun
d. 1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah
menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
e. Kehilangan elastisitas pembuluh darah
f. Hal ini terjadi karenakurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi
g. Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer
Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya, data-data
penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan terjadinya
hipertensi. Faktor tersebut adalah sebagai berikut :
a. Faktor keturunan
Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar
untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi
b. Ciri perseorangan
Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah:
1) Umur ( jika umur bertambah maka TD meningkat )
2) Jenis kelamin ( laki-laki lebih tinggi dari perempuan )
3) Ras ( ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih )
c. Kebiasaan hidup
Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah :
1) Konsumsi garam yang tinggi ( melebihi dari 30 gr )
2) Kegemukan atau makan berlebihan
3) Stress
4) Merokok
5) Minum alcohol
6) Minum obat-obatan ( ephedrine, prednison, epineprin )
Penyebab hipertensi sekunder adalah :
a. Ginjal
b. Glomerulonefritis
c. Pielonefritis
d. Nekrosis tubular akut
e. Tumor
f. Vascula
g. Aterosklerosis
h. Hiperplasia
i. Trombosis
j. Aneurisma
k. Emboli kolestrol
l. Vaskulitis
m. Kelainan endokrin
n. DM
o. Hipertiroidisme
p. Hipotiroidisme
q. Saraf
r. Stroke
s. Obat obatan

4. Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat
vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis,
yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis
ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam
bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis.
Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut
saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin
mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan
ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi.
Individu dengan hipertensi sangat sensitiv terhadap norepinefrin, meskipun tidak
diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.

Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai
respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan
aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan
vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat
memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang
mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan rennin. Renin
merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II,
suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh
korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal,
menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cenderung
mencetuskan keadaan hipertensi.

Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural dan fungsional


pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah yang
terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas
jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada
gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah.
Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi
volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan penurunan
curang jantung dan peningkatan tahanan perifer (Smeltzer, 2001).

Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya hipertensi palsu disebabkan
kekakuan arteri brachialis sehingga tidak dikompresi oleh cuff sphygmomanometer
(Darmojo, 1999).

5. Tanda Dan Gejala


Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi :
a. Tidak ada gejala
Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan tekanan
darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. Hal ini berarti
hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur.
b. Gejala yang lazim
Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri
kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang
mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis.
Menurut Rokhaeni ( 2001 ), manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita
hipertensi yaitu :
1) Mengeluh sakit kepala, pusing
2) Lemas, kelelahan
3) Sesak nafas
4) Gelisah
5) Mual
6) Muntah
7) Epistaksis
8) Kesadaran menurun

6. Pemeriksaan Penunjang
a. Hemoglobin / hematokrit
Untuk mengkaji hubungan dari sel sel terhadap volume cairan ( viskositas ) dan
dapat mengindikasikan factor factor resiko seperti hiperkoagulabilitas, anemia.
b. BUN : memberikan informasi tentang perfusi ginjal

c. Glukosa
Hiperglikemi ( diabetes mellitus adalah pencetus hipertensi ) dapat diakibatkan oleh
peningkatan katekolamin ( meningkatkan hipertensi )
d. Kalium serum
Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron utama ( penyebab ) atau
menjadi efek samping terapi diuretik.
e. Kalsium serum
Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensi
f. Kolesterol dan trigliserid serum
Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk / adanya pembentukan
plak ateromatosa ( efek kardiovaskuler )
g. Pemeriksaan tiroid
Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi
h. Kadar aldosteron urin/serum
Untuk mengkaji aldosteronisme primer ( penyebab )
i. Urinalisa
Darah, protein, glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau adanya diabetes.
j. Asam urat
Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi
k. Steroid urin
Kenaikan dapat mengindikasikan hiperadrenalisme
l. IVP
Dapat mengidentifikasi penyebab hieprtensiseperti penyakit parenkim ginjal, batu
ginjal / ureter
m. Foto dada
Menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub, perbesaran jantung
n. CT scan
Untuk mengkaji tumor serebral, ensefalopati
o. EKG
Dapat menunjukkan pembesaran jantung, pola regangan, gangguan konduksi,
peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi
7. Penatalaksanaan
Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas akibat
komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan pencapaian dan pemeliharaan
tekanan darah dibawah 140/90 mmHg.
Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi :
a. Terapi tanpa Obat
Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi ringan dan sebagai
tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat. Terapi tanpa obat ini meliputi :
b. Diet
Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah :
1) Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr
2) Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh
3) Penurunan berat badan
4) Penurunan asupan etanol
5) Menghentikan merokok
c. Latihan Fisik
Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang dianjurkan untuk penderita
hipertensi adalah olah raga yang mempunyai empat prinsip yaitu :
Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari, jogging, bersepeda, berenang
dan lain-lain. Intensitas olah raga yang baik antara 60-80 % dari kapasitas aerobik atau
72-87 % dari denyut nadi maksimal yang disebut zona latihan.

Lamanya latihan berkisar antara 20 25 menit berada dalam zona latihan. Frekuensi
latihan sebaiknya 3 x perminggu dan paling baik 5 x perminggu.

d. Edukasi Psikologis
Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi :
1. Tehnik Biofeedback
Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk menunjukkan pada subyek
tanda-tanda mengenai keadaan tubuh yang secara sadar oleh subyek dianggap tidak
normal. Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi gangguan
somatik seperti nyeri kepala dan migrain, juga untuk gangguan psikologis seperti
kecemasan dan ketegangan.
2. Tehnik relaksasi
Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan untuk mengurangi
ketegangan atau kecemasan, dengan cara melatih penderita untuk dapat belajar
membuat otot-otot dalam tubuh menjadi rileks
e. Pendidikan Kesehatan ( Penyuluhan )
Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan pasien tentang
penyakit hipertensi dan pengelolaannya sehingga pasien dapat mempertahankan
hidupnya dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
f. Terapi dengan Obat
Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah saja tetapi juga
mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi agar penderita dapat
bertambah kuat. Pengobatan hipertensi umumnya perlu dilakukan seumur hidup
penderita. Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli Hipertensi
(JOINT NATIONAL COMMITTEE ON DETECTION, EVALUATION AND
TREATMENT OF HIGH BLOOD PRESSURE, USA, 1988 ) menyimpulkan bahwa
obat diuretika, penyekat beta, antagonis kalsium, atau penghambat ACE dapat
digunakan sebagai obat tunggal pertama dengan memperhatikan keadaan penderita
dan penyakit lain yang ada pada penderita.
Pengobatannya meliputi :
1) Step 1
Obat pilihan pertama : diuretika, beta blocker, Ca antagonis, ACE inhibitor
2) Step 2
Alternatif yang bisa diberikan :
a) Dosis obat pertama dinaikkan
b) Diganti jenis lain dari obat pilihan pertama
c) Ditambah obat ke 2 jenis lain, dapat berupa diuretika , beta blocker, Ca
antagonis, Alpa blocker, clonidin, reserphin, vasodilator
3) Step 3 : Alternatif yang bisa ditempuh
a) Obat ke-2 diganti
b) Ditambah obat ke-3 jenis lain
4) Step 4 : Alternatif pemberian obatnya
Ditambah obat ke-3 dan ke-4

C. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Proses Keperawatan
2. Tujuan Umum
3. Askep Lansia
4. Fokus Askep
A. IDENTITAS UPT
Unit Pelaksana Teknis Pelayanan Sosial Lanjut Usia adalah Unit Pelaksana Tehnis Dinas
Sosial Propinsi Jawa Timur yang melaksanakan tugas pelayanan, dan bimbingan sosial
bagi lanjut usia terlantar, berdasarkan pada Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor :
119 tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas Sosial
Provinsi Jawa Timur.
LANDASAN HUKUM
1. Pancasila dan UUD 1945 Pasal 27 ayat 2 dan Pasal 34.
2. UU No. 11 Th 2009 Tentang kesejahteraan sosial.
3. UU No.13 Tahun 1998 Tentang kesejahteraan Lanjut Usia.
4. UU No.22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah Jo No.32 Th 2004
5. UU No. 25 Tahun 1999 Tentang, Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah Junto
PP No. 25 Th. 2000.
6. PP No. 38 tahun 2007 tentang pembagian urusan pemerintahan antara
pemerintahan, pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kab/Kota
7. PP No. 41 tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah
8. Permendagri No. 57 tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Penataan Organisasi
Perangkat Daerah
9. Perda Prov Jatim No. 5 tahun 2008 tentang Pembentukan Perda
10. Perda Prov Jatim No. 7 Tahun 2008 Tentang Urusan Pemerintahan Daerah
Provinsi Jawa Timur.
11. Pergub Prov Jatim No. 119 tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit
Pelaksana Teknis Dinas Sosial Provinsi Jatim

B. SEJARAH BERDIRINYA UPT


Unit Pelaksana Teknis Pelayanan Sosial Lanjut Usia Pasuruan ini didirikan pada
tanggal 1 Oktober 1979 dengan nama SASANA TRESNA WERDHA ( STW )
"SEJAHTERA" PANDAAN yang pada awalnya melayani 30 orang,
Pada tanggal 17 Mei 1982 diresmikan pemakaiannya oleh Menteri Sosial Bapak
Saparjo dengan dasar KEP.MENSOS RI NO. 32/HUK / KEP/VI/82 di bawah
pengendalian Kanwil Depsos Propinsi Jawa Timur dengan kapasitas tampung 110
orang dan menempati areal seluas 13.968 M
Pada tahun 1994 mengalami pembakuan penamaan UPT Pusat / Panti / Sasana
dilingkungan Departemen Sosial dengan SK. Mensos RI No.14/HUK/1994 dengan
nama Panti Sosial Tresna Werdha Sejahtera " Pandaan.
Dalam perkembangan waktu dan perkembangan kebutuhan akan pelayanan lanjut usia
terjadi perubahan dengan Melalui SK.Mensos RI. No.8/HUK/1998 ditetapkan menjadi
Panti percontohan Tingkat Propinsi dengan kapasitas 110 orang.
Pada tahun 1988 ketika Departemen Sosial RI Dihapus, panti ini sempat di kelola melalui
Badan Kesejahteraan Sosial Nasional Pusat. Dan pada tahun 2000 pada saat pelaksanaan
otonomi daerah diberlakukan maka semua perangkat pusat termasuk aset-asetnya
diserahkan pada Pemerintah Provinsi Jawa Timur, melalui Peraturan Daerah No. 12
Tahun 2000. tentang Dinas Sosial Propinsi Jawa Timur bahwa Panti Sosial Tresna
Werdha Sejahtera Pandaan, merupakan Unit Pelaksana Tehnis Dinas
Sosial Propinsi Jawa Timur.
Sejalan dengan perkembangan jangkauan pelayanan pada lanjut usia melalui Perda
No.14 Tahun 2002 tentang perubahan atas Perda No.12 Tahun 2000 tentang Dinas
Sosial, bahwa Panti Sosial Tresna Werdha Pandaan berubah nama menjadi : Panti
Sosial Tresna Werdha Pandaan- Bangkalan, yang jangkauan pelayanannya
bertambah untuk wilayah Madura dengan penambahan Unit Pelayanan Sosial lanjut
Usia di Bangkalan
Berdasarkan pada Peraturan Gubernur No. 119 tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Panti Sosial Tresna
Werdha Pandaan- Bangkalan berubah menjadi : Unit Pelaksana Teknis Pelayanan
Sosial Lanjut Usia Pasuruan dengan jangkauan pelayanan wilayah Kabupaten
Pasuruan dan Kab./Kota sekitarnya ditambah Pelayanan Sosial Lanjut Usia di
Lamongan dengan jangkauan pelayanan wilayah Kabupaten Lamongan dan Kabupaten
sekitarnya
C. VISI DAN MISI UPT
1. Visi :
Terwujudnya peningkatan taraf kesejahteraan sosial bagi lanjut usia yang bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa
2. Misi :
a. Melaksanakan tugas pelayanan dan rehabilitasi bagi lanjut usia dalam upaya
memenuhi kebutuhan rohani, jasmani dan sosial sehingga dapat menikmati hari
tua yang diliputi kebahagiaan dan ketentraman lahir batin.
b. Mengembangkan sumber potensi bagi lanjut usia potensial, sehingga dapat mandiri
dan dapat menjalankan fungsi sosial secara wajar.
c. Peningkatan peran serta masyarakat dalam penanganan lanjut usia terlantar.

D. TUJUAN UPT (Umum Dan Kusus)


1. Tujuan Umum
Memberikan tempat pelayanan sosial serta kasih sayang terhadap para Lanjut Usia
terlantar ( potensial dan tidak potensial ) dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
2. Tujuan Khusus
a. Terpenuhinya kebutuhan rohani meliputi:
Ibadah sesuai dengan Agama masing-masing, kebutuhan kasih sayang,
peningkatan semangat hidup dan rasa percaya diri.
b. Terpenuhinya kebutuhan jasmani meliputi
Kebutuhan pokok secara layak (Sandang, pangan dan papan),
pemeliharaan kesehatan, pemenuhan kebutuhan rekreatif untuk mengisi waktu
luang . Terpenuhinya kebutuhan sosial, terutama bimbingan sosial antar penghuni
panti, pembina maupun dengan masyarakat.

E. FUNGSI
UPT Pelayanan sosial Lanjut Usia mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Dinas
dalam pelayanan sosial lanjut usia terlantar
Untuk melaksanakan tugas UPT mempunyai fungsi :
1. Pelaksana program kerja UPT
2. Pembinaan dan pengendalian pengelolaan ketatausahaan, penyelenggaraan
kegiatan pelayanan sosial bimbingan dan pembinaan lanjut
3. penyelenggaraan praktek pekerjaan sosial dalam bimbingan sosial lanjut usia
4. pemberian bimbingan umum kepada klien di lingkungan UPT
5. penyelenggaraan kerjasama dengan instansi / lembaga lain perorangan dalam
rangka pengembangan progran UPT
6. Pengembangan metodologi pelayanan kesejahteraan sosial dalam pelayanan sosial
lanjut usia
7. Penyelenggaraan penyebarluasan informasi tentang pelayanan tentang pelayanan
kesejahteraan sosial
8. Penyelenggaraan konsultasi bagi keluarga atau masyarakat yang
menyelenggarakan usaha kesejahteraan sosial
9. Melaksanakan tugas-tugas ketatausahaan
10. Pelaksanaan pelayanan masyarakat
11. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas

F. PROSEDUR DAN PERSYARATAN


1. Laki / perempuan usia 60 tahun keatas
2. Potensial dan tidak potensial.
3. Atas kemauan sendiri dan tidak ada unsur paksaan
4. Berbadan sehat tidak mempunyai penyakit menular yang dinyatakan dengan surat
keterangan sehat dari Dokter.
5. Direkomendasi dari kantor sosial / Pemda setempat.
6. Calon klien dinyatakan lulus seleksi oleh petugas panti.
G. STRUKTUR ORGANISASI

H. DENAH WISMA ATAU UPT


I. SARANA DAN PRASARAN WISMA
1. Nama UPT : UPT. Pelayanan Sosial Lanjut Usia Pasuruan
2. Lokasi Pandaan Pasuruan :
Luas Lahan / Tanah : 13.968 m2
Jumlah bangunan :
a) Gedung Kantor : 2 unit
b) Gedung Serba Guna : 1 unit
c) Gedung Lokal Kerja : 1 unit
d) Rumah Tinggal Kepala Panti : 1 unit
e) Rumah Dinas jabatan : 1 unit
f) Masjid : 1 unit
g) Wisma Klien dua lantai : 1 unit
h) Wisma Klien satu lantai : 11 unit
i) Pos Keamanan Pol PP : 1 unit
j) Gedung dapur umum : 1 unit
k) Ruang Jenset : 1 unit
l) Sumur bor : 3 unit
m) Water tourn : 4 unit
n) Tandon air : 3 unit
o) Papan nama : 1 unit
p) Kandang ternak : 1 unit
Daya listrik terpasang : 16.000 Kwh
Tanah makam : 3.222 m2
3. Lokasi Babat - Lamongan :
Luas Lahan / Tanah : 1.280 m2
Jumlah bangunan :
a) Gedung Kantor : 1 unit
b) Rumah Dinas : 1 unit
c) Mushola : 1 unit
d) Wisma Klien : 2 unit
e) Gedung dapur umum : 1 unit
f) Sumur bor : 1 unit
g) PDAM : 1 unit
h) Tandon air : 1 unit
i) Papan nama : 1 unit
j) Green Horse : 1 unit
Daya listrik terpasang : 3.500 Kwh
Tanah makam : ---
4. Kapasitas tampung :
Pandaan : 107 orang
Lamongan : 55 orang
5. Lokasi :
Pandaan : Jl. Dr. Sutomo Pandaan,
Kec. Pandaan, Kab. Pasuruan
Telepon/Fax : (0343) 631255
Lamongan : Jl. Raya Babat 221, Babat Lamongan
Telepon : (0322) 451137

J. Fasilitas UPT PSLU Pasuruan


1. Peternakan : Ada, jenis : kambing, ayam
2. Perikanan : Ada, jenis : kolam lele
3. Pekarangan : Ada, jenis : kebun
4. Sarana olah raga : Ada, jenis : pijat refleksi, senam tera
5. Taman : Ada, jenis : taman burung, taman bunga
6. Sarana hiburan : Ada, jenis : TV
7. Sarana ibadah : Ada, jenis : masjid

K. Pelayanan kesehatan
1. Kegiatan posyandu lansia : Ada
2. Keaktifan di posyandu lansia : Ada
3. Pelayanan kesehatan : Ada (poliklinik)
JADWAL KEGIATAN PELAYANAN DALAM UPT (Jadwal Untuk Lansia)
Jam/Hari Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Minggu KET.
sholat
04.00- sholat subuh sholat subuh sholat subuh sholat subuh sholat subuh sholat subuh subuh
05.00 berjamaah berjamaah berjamaah berjamaah berjamaah berjamaah berjamaah petugas piket
kebersihan
05.00- kebersihan diri kebersihan diri diri dan
06.30 dan lingkungan kerja bakti kerja bakti kerja bakti kerja bakti dan lingkungan lingkungan petugas piket
06.30- makan
07.30 makan pagi makan pagi makan pagi makan pagi makan pagi makan pagi pagi
07.30- kegiatan kegiatan instruktur,
08.00 individu senam tera senam tera senam tera kegiatan individu kegiatan individu individu petugas piket
pembinaan
pembinaan pembinaan keterampilan
keterampilan keterampilan tangan,
bimbingan tangan, pertanian, tangan, pertanian, pertanian, sholat
08.00- sosial / peternakan, dan peternakan, dan peternakan, pemeriksaan sholat dhuha dhuha petugas, dokter,
09.30 kemasyarakatan perikanan perikanan dan perikanan kesehatan berjamaah berjamaah dan pegawai
sholat dhuha sholat dhuha
berjamaah dan berjamaah dan
bimbingan sholat dhuha sholat dhuha bimbingan sholat dhuha
sosial berjamaah dan berjamaah dan sosial berjamaah dan
keagamaan, bimbingan sosial bimbingan sosial keagamaan, bimbingan sosial
mengaji, keagamaan, keagamaan, mengaji, keagamaan,
10.00- ceramah dan mengaji, ceramah mengaji, ceramah ceramah dan mengaji, ceramah kegiatan instruktur/petugas
11.30 belajar dan belajar dan belajar belajar dan belajar kegiatan individu individu piket
sholat
11.30- sholat dhuhur sholat dhuhur sholat dhuhur sholat dhuhur sholat jumat atau sholat dhuhur dhuhur instruktur/
12.00 berjamaah berjamaah berjamaah berjamaah dhuhur berjamaah berjamaah berjamaah petugas piket
12.00- makan
13.00 makan siang makan siang makan siang makan siang makan siang makan siang siang petugas piket
13.00- istirahat
14.00 istirahat siang istirahat siang istirahat siang karawitan istirahat siang istirahat siang siang instruktur
14.00- kegiatan kegiatan kegiatan
15.00 individu kegiatan individu kegiatan individu individu kegiatan individu kegiatan individu individu
shalat ashar
15.00- berjamaah sholat
15.30 shalat ashar shalat ashar shalat ashar shalat ashar sholat ashar ashar
berjamaah berjamaah berjamaah berjamaah berjamaah berjamaah petugas piket
bimbingan rohani
15.30- (bagi yang
16.30 beragama kristen) instruktur
kebersihan diri kebersihan
16.30- kebersihan diri kebersihan diri kebersihan diri dan kebersihan diri kebersihan diri diri dan
17.00 dan lingkungan dan lingkungan dan lingkungan lingkungan dan lingkungan dan lingkungan lingkungan individu
17.00- makan
17.30 makan malam makan malam makan malam makan malam makan malam makan malam malam individu
sholat
sholat magrib sholat magrib sholat magrib sholat magrib sholat magrib sholat magrib magrib
berjamaah, berjamaah, berjamaah, berjamaah, berjamaah, berjamaah, berjamaah,
17.30- ceramaah, ceramaah, sholat ceramaah, sholat ceramaah, ceramaah, sholat ceramaah, sholat ceramaah, petugas /
19.30 sholat isya isya isya sholat isya isya isya sholat isya instruktur
nonton tv nonton tv
nonton tv bersama di bersama di
bersama di nonton tv bersama nonton tv bersama wisma nonton tv bersama nonton tv bersama wisma
19.30- wisma masing- di wisma masing- di wisma masing- masing- di wisma masing- di wisma masing- masing-
21.00 masing masing masing masing masing masing masing
21.00- istirahat
04.00 istirahat tidur istirahat tidur istirahat tidur istirahat tidur istirahat tidur istirahat tidur tidur
BAB III
PENGKAJIAN

A. Gambaran Umum Wisma Teratai


Wisma teratai merupakan salah satu wisma di UPT PSLU Pandaan Pasuruan, dimana dihuni
oleh 8 orang lansia wanita. Setiap wisma terdapat 1 orang pembina wisma. Wisma Teratai
memiliki 5 kamar tidur, satu kamar di peruntukkan bagi pembina Wisma Teratai, dan 4
kamar lainnya dihuni oleh 8 orang lansia yang menempati wisma tersebut. Satu kamar lansia
diperuntukkan bagi 2 orang lansia.

B. Data Penghuni Wisma


1. Mbah Lilik (81 tahun), sekolah, pekerjaan terakhir juru rawat
2. Mbah Kamsatun (96 tahun), sekolah, pekerjaan terakhir penjahit
3. Mbah Ismiyati (74 tahun), pendidikan terakhir SMP, pekerjaan terakhir dukun bayi.
4. Mbah Sri Handayani (61 tahun), pendidikan terakhir SMA
5. Mbah Suharmi (60 tahun), pendidikan terakhir SMA, pekerjaan terakhir koperasi simpan
pinjam
6. Mbah Endi (80 tahun), tidak sekolah, pekerjaan terakhir petani.
7. Mbah Waginem (70 tahun), tidak sekolah, pekerjaan terakhir petani.
8. Mbah Musrifah (tidak terkaji), pendidikan terakhir pernah mondok, pekerjaan terakhir
ibu rumah tangga

C. Pemukiman
1. Bentuk bangunan : Rumah
2. Jenis bangunan : Permanen
3. Atap rumah : Genteng
4. Dinding : Tembok
5. Lantai : Keramik
6. Kebersihan lantai : Bersih
7. Ventilasi : 15% luas lantai
8. Pencahayaan : Baik
9. Penerangan : Baik
10. Kebersihan : Terjaga dengan baik
11. Pengaturan ruang dan perabot :Baik
12. Kelengkapan alat rumah tangga : Lengkap

D. Sanitasi
1. Penyediaan air bersih (MCK) : Sumur
2. Penyediaan air minum : Air mineral
3. Pengelolaan jamban : Pribadi
4. Jenis jamban : Kloset Duduk
5. Jarak dengan sumber air : > 10m
6. Sarana pembuangan air limbah (SPAL) : Lancar
7. Petugas sampah : Di timbun dan di bakar
8. Polusi udara : tidak ada polusi di sekitar wisma walaupun
lingkup panti berada di sekitar pabrik

E. Denah Wisma Teratai

1 2

4
7 6

9 12

10 11

Keterangan :
1 : koperasi sejahtera 7 : kamar IV
2 : kamar petugas wisma 8 : gudang
3 : kamar I 9 : dapur
4 : kamar II 10 :
5 : ruang tamu 11 : kamar mandi lansia
6 : kamar III 12 : kamar mandi petugas

F. Aspek Fisik
1. Tingkat mobilisasi
No Tingkat Mobilisasi Jumlah Prosentase
1 0 7 90%
2 1 1 10%
3 2 0 0
4 3 0 0
5 4 0 0
Jumlah 10 100%
Keterangan:
0: Mampu merawat diri sendiri secara penuh
1: Memerlukan penggunaan alat
2: Memerlukan bantuan dan pengawasan orang lain
3: Memerlukan bantuan, pengawasan dan peralatan
4: Sangat tergantung
Dari hasil pengkajian pada lansia di Wisma Teratai dengan jumlah keseluruhan
sebanyak 8 orang didapatkan 7 orang (90%) mempunyai tingkat mobilisasi mampu
merawat diri sendiri secara penuh, 1 orang (10%) memerlukan penggunaan alat.

2. Derajat Activity Daily Living (ADL) menurut Indeks Barthel


No Interpretasi Jumlah Prosentase (%)
1 Mandiri 7 90%
2 Ketergantungan Ringan 1 10%
3 Ketergantungan Moderat 0 0
4 Ketergantungan Penuh 0 0
Jumlah 8 100
Keterangan:
Skor 0 20 : Ketergantungan Penuh
Skor 21 61 : ketergantungan Berat
Skor 62 90 : Ketergantungan Moderat
Skor 91 99 : Ketergantungan Ringan
Skor 100 : Mandiri
Dari hasil pengkajian pada lansia di Wisma Teratai dengan jumlah keseluruhan
sebanyak 8 orang didapatkan 7 orang (90%) mempunyai derajat kemampuan mandiri, 1
orang (10%) lansia memiliki ketergantungan ringan.

3. Keluhan Terbanyak
No Keluhan Jumlah Prosentase (%)
1 Pusing 4 50
Linu / nyeri di daerah lutut
2 2 30
dan persendian
3 Batuk 1 10
4 Diare 0 0
5 Gatal-gatal 0 0
6 Tidak ada keluhan 1 10
Jumlah 8 100
Dari hasil pengkajian pada lansia di Wisma Teratai dengan jumlah keseluruhan
sebanyak 8 orang didapatkan keluhan terbanyak adalah pusing sebanyak 4 orang (50%).
Pusing dirasakan saat pagi hari menjelang siang dan saat berpindah posisi dari duduk ke
berdiri. Sebagian besar klien mengeluhkan kesakitan saat berpindah posisi dari duduk ke
berdiri, terutama pada saat bangun tidur.

4. Pola Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi


No Frekuensi makan Jumlah Prosentase (%)
1 1 kali sehari 0 0
2 2 kali sehari 0 0
3 3 kali sehari 8 100
4 Tidak teratur 0 0
Jumlah 8 100
Dari hasil pengkajian pada lansia di Wisma Teratai dengan jumlah keseluruhan
sebanyak 8 (100%) orang didapatkan semuanya mempunyai pola pemenuhan
kebutuhan nutrisi dengan frekuensi makan 3 kali sehari dan porsi yang dihabiskan
hanya setengah porsi.

5. Pola Kebiasaan Tidur


No Lama tidur per hari Jumlah Prosentase (%)
1 < 4 jam 0 0
2 4-6 jam 3 37,5
3 > 6 jam 5 62,5
Jumlah 10 100
Dari hasil pengkajian pada lansia di Wisma Teratai dengan jumlah keseluruhan
sebanyak 8 orang didapatkan hasil 3 orang (37,5%) mempunyai pola kebiasaan tidur
selama 4-6 jam dalam sehari dan 5 orang (62,5%) selama > 6 jam.
6. Pola Perawatan diri
Personal higiene (mandi, gosok
No Jumlah Prosentase (%)
gigi, kebersihan tempat tidur)
1 Mandiri 8 100
2 Butuh bantuan 0 0
Jumlah 8 100
Dari hasil pengkajian pada lansia di Wisma Teratai dengan jumlah keseluruhan
sebanyak 8 orang didapatkan mayoritas memiliki pola perawatan diri secara
mandiri sebanyak 8 orang (100%).

7. Hasil Laboratorium
a. Mbah Musripah
Jenis Nilai saat ini Nilai normal
Cholesterol 222,1 < 200
HDL 48,3 <40
Trigliserida 113,0 <150
LDL Colesterol 141,3

b. Sri handayani
Jenis Nilai saat ini Nilai normal
Gula darah puasa 92 130
Cholesterol 229,2 < 200
HDL 49,6 <40
Trigliserida 85,8 <150
LDL Colesterol 152,5
c. Waginem
Jenis Nilai saat ini Nilai normal
Gula darah puasa 108 130
Cholesterol 239,9 < 200
HDL 47,2 <40
Trigliserida 121,8 <150
LDL Colesterol 158,3

d. Endi
Jenis Nilai saat ini Nilai normal
Gula darah puasa 90 130
Cholesterol 210,5 < 200
HDL 44,9 <40
Trigliserida 135,8 <150
LDL Colesterol 138,4

e. Suharmi
Jenis Nilai saat ini Nilai normal
Gula darah puasa 87 130
Cholesterol 198,5 < 200
HDL 44,3 <40
Trigliserida 213,8 <150
LDL Colesterol 111,4
f. Lilik
Jenis Nilai saat ini Nilai normal
Gula darah puasa 91 130
Cholesterol 210,7 < 200
HDL 45,5 <150
Trigliserida 128,4
LDL Colesterol 139,5
g. Komsatun
Jenis Nilai saat ini Nilai normal
Gula darah puasa 118 130
Cholesterol 203,5 < 200
HDL 46,2 <40
Trigliserida 119,8 <150
LDL Colesterol 133,3

h. Ismiyati
Jenis Nilai saat ini Nilai normal
Gula darah puasa 146 130
Cholesterol 176,7 < 200
HDL 48,1 <40
Trigliserida 111,5 <150
LDL Colesterol 106,5

8. Hasil Tekanan Darah

Nama Tekanan Darah Pernapasan Nadi


Mbah Lilik 120/80 mmHg 19 kali/menit 82 kali/menit
Mbah Kamsatun 110/70 mmHg 24 kali/menit 84 kali/menit
Mbah Ismiyati 150/80 mmHg 20 kali/menit 76 kali/menit
Mbah Sri 120/80mmHg 20 kali/menit 76 kali/menit
Mbah Endi 140/90 mmHg 22 kali/menit 80 kali/menit
Mbah Suharmi 110/90 mmHg 20 kali/menit 86 kali/menit
Mbah Waginem 150/90 mmHg 22 kali/menit 88 kali/menit
Mbah Musrifah 120/80 mmHg 26 kali/menit 88 kali/menit

G. Aspek Spiritual
a. Tabel keaktifan beribadah sesuai agama masing-masing
Klasifikasi Jumlah Prosentase (%)
Aktif 8 100
Jarang 0 0
Tidak sama sekali 0 100
Jumlah 8 100
Dari hasil pengkajian pada lansia di Wisma Teratai dengan jumlah
keseluruhan sebanyak 8 orang didapatkan 8 orang (100%) melaksanakan ibadah
sesuai keyakinannya masing-masing.

H. Aspek psikologis
1. Tabel Stabilitas Emosi
Klasifikasi Jumlah Prosentase (%)
Labil 0 0
Stabil 8 100
Iritabel 0 0
Datar 0 0
Jumlah 8 100
Dari hasil pengkajian pada lansia di Wisma Teratai dengan jumlah keseluruhan
sebanyak 8 (100%) orang didapatkan semua memiliki emosi yang stabil.

2. SPMSQ (Short Portable Mental Status Questionare)


No Fungsi Intelektual Jumlah Prosentase (%)
1 Utuh 6 80
2 Kerusakan ringan 1 10
3 Kerusakan sedang 0 0
4 Kerusakan berat 1 10
Jumlah 8 100

Keterangan :
Salah 0 3 : Fungsi intelektual utuh
Salah 4 5 : Fungsi intelektual kerusakan ringan
Salah 6 8 : Fungsi intelektual kerusakan sedang
Salah 9 10 : Fungsi intelektual kerusakan berat
Dari hasil pengkajian pada lansia di Wisma Teratai dengan jumlah keseluruhan sebanyak
8 orang didapatkan hasil 1 orang (10%) mengalami kerusakan ringan pada fungsi
intelektualnya, 9 orang (90%) mempunyai fungsi intelektual utuh.
3. MMSE (Mini Mental Status Exam)
No Kemampuan Kognitif Jumlah Prosentase (%)
1 24-30 4 50
2 18-23 2 25
3 0-17 2 25
Jumlah 8 100
Keterangan :
24 30 : Tidak ada gangguan kognitif
18 23 : Gangguan kognitif sedang
0 17 : Gangguan kognitif berat
Dari hasil pengkajian pada lansia di Wisma Teratai dengan jumlah keseluruhan
sebanyak 8 orang didapatkan 4 (50%) orang tidak ada gangguan kognitif, 1 orang
(10%) gangguan kognitif sedang.

I. Aspek Sosial
1. Tabel Hubungan Dengan Orang Lain Dalam Wisma
Klasifikasi Jumlah Prosentase (%)
Tidak kenal 0 0
Sebatas kenal 0 0
Mampu berinteraksi 5 62,5
Mampu bekerja sama 3 37,5
Jumlah 8 100
Dari hasil pengkajian pada lansia di Wisma Teratai dengan jumlah keseluruhan
sebanyak 8 orang didapatkan 3 orang (37,5%) mampu bekerja sama dan 2 orang
(25%) sebatas kenal, sedangkan 3 (37,5%) orang lain mampu berinteraksi.
2. Tabel Hubungan Dengan Orang Lain Di Luar Wisma Dalam Panti
Klasifikasi Jumlah Prosentase (%)
Tidak kenal 1 12,5
Sebatas kenal 1 12,5
Mampu berinteraksi 3 37,5
Mampu bekerja sama 3 37,5
Jumlah 8 100
Dari hasil pengkajian pada lansia di Wisma Teratai dengan jumlah
keseluruhan sebanyak 8 orang didapatkan hasil 3 orang (37,5%) memiliki
hubungan dengan orang lain di luar wisma dalam panti dan mampu bekerja sama, 3
orang (37,5%) mampu berinteraksi, 1 orang (12,5%) tidak mengenal orang lain di
luar wisma dalam panti, dan 1 (12,5%) orang lainnya mengatakan sebatas kenal.

BAB IV
ANALISA DAN PERENCANAAN
BAB V
PELAKSANAAN DAN EVALUASI KEGIATAN

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

Lampiran 1

DOKUMENTASI KEGIATAN

Penyuluhan