Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembangunan bidang kesehatan pada dasarnya ditujukan untuk meningkatkan
kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang untuk mewujudkan
derajat kesehatan yang optimal.
Dalam rangka mewujudkan Visi Kementerian Kesehatan yaitu Masyarakat
sehat yang mandiri dan berkeadilan telah dirumuskan sasaran-sasaran
utama untuk menunjang pencapaiannya.
Sasaran utama yang harus dicapai oleh Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat
Kesehatan adalah :
1. Semua sediaan farmasi, makanan dan perbekalan kesehatan harus
memenuhi syarat.
2. Di setiap desa tersedia cukup obat esensial dan alat kesehatan dasar.
Kebijakan Pemerintah terhadap peningkatan akses obat diselenggarakan melalui
beberapa strata kebijakan yaitu Undang-Undang No. 36 tentang Kesehatan, Peraturan
Pemerintah No . 51 tentang Pekerjaan Kefarmasian, Indonesia Sehat 2010, Sistem
Kesehatan Nasional (SKN) dan Kebijakan Obat Nasional (KONAS). SKN 2009
memberikan landasan, arah dan pedoman penyelenggaraan pembangunan kesehatan
bagi seluruh penyelenggara kesehatan, baik Pemerintah Pusat, Provinsi dan
Kabupaten/Kota, mau masyarakat dan dunia usaha, serta pihak lain yang terkait. Salah
satu subsistem SKN 2009 adalah Obat dan Perbekalan Kesehatan. Dalam subsistem
tersebut penekanan diberikan pada ketersediaan obat, pemerataan termasuk
keterjangkauan dan jaminan keamanan, khasiat dan mutu obat.
Dengan adanya perubahan pada rencana strategis Kementerian Kesehatan, Konas,
SKN 2009 serta dalam rangka menerapkan SPM dibidang obat, maka strategi yang
digunakan oleh Provinsi, Kabupaten/Kota bahkan hingga tingkat Puskesmas dalam
pengelolaan obat juga akan mengalami perubahan.
Pedoman ini akan menjadi acuan bagi petugas pengelola obat di UPTD. Puskesmas
Brang Rea Penambahan jumlah Kabupaten/Kota tidak selalu diiringi dengan
tersedianya tenaga terampil di berbagai sektor. Termasuk di dalamnya keterbatasan
tenaga pengelola obat yang mempunyai latar belakang pendidikan farmasi dan telah
mengikuti berbagai pelatihan pengelolaan obat.
Di sisi lain pedoman pengelolaan obat yang tersedia masih bernuansa sentralistik.
Oleh karena itu diperlukan adanya buku pedoman pengelolaan obat baik di tingkat
Kabupaten/Kota maupun Puskesmas yang lebih sesuai dengan situasi dan kondisi yang
ada.
Sesuai dengan perkembangan di bidang kefarmasian telah terjadi pergeseran
orientasi pelayanan kefarmasian dari pengelolaan obat sebagai komoditi kepada
pelayanan yang komprehensif dalam pengertian tidak saja sebagai pengelola obat,
namun lebih luasnya mencakup pelaksanaan pemberian informasi untuk mendukung
penggunaan obat yang rasional.
Penyusunan pedoman pengelola oabt ini merupakan salah satu upaya untuk
meningkatkan mutu pengelolaan obat di puskesmas.
Pelatihan Manajemen Kefarmasian diPuskesmas ini merupakan salah satu pelengkap
dari Pedoman Pengelolaan Obat Kabupaten/Kota yang lebih dahulu terbit. Diharapkan
dengan tersedianya buku pedoman pengelolaan obat ini dapat menjadi acuan bagi
petugas pengelola obat di UPTD. Puskesmas Brang Rea dalam melaksanakan tugasnya
sehari-hari.
B. Tujuan Pedoman
1. Tujuan Umum
Sebagai acuan dalam penyusunan kebijakan, prosedur dan segala proses di bidang
pengelola obat-obatan.
2. Tujuan Khusus
a. Sebagai acuan bagi petugas pelayanan obat untuk melaksankan pelayanan
di UPTD. Puskesmas Brang Rea
b. Sebagai informasi bagi unit pelayanan lain tentang pelayanan obat di UPTD.
Puskesmas Brang Rea
C. Sasaran Pedoman
Sasaran dari Pedoman Pengelolaan Obat di UPTD.Puskesmas Brang Rea adalah:
1. Unit Pelayanan Pelayanan Perorangan (UKP)
2. Unit Pelayanan Masyarakat (UKM)
3. Pustu dan Poskesdes
4. Jaringan lainnya yang berkaitan dengan pelayanan Obat
D. Ruang Lingkup
Ruang lingkup pedoman ini secara keseluruhan mencakup :
1. Pengelolaan Obat dan Perbekalan Kesehatan yang meliputi :
a. Perencanaan dan Penyediaan/Permintaan Obat.
b. Penerimaan, Penyimpanan dan Distribusi Obat.
c. Pencatatan dan Pelaporan Obat.
d. Supervisi dan Evaluasi Pengelolaan Obat.
2. Pelayanan Kefarmasian yang meliputi :
a. Pengkajian dan Pelayanan Resep.
b. Pelayanan Informasi Obat.
c. Konseling.
d. Pelayanan Kefarmasian di Rumah (Home Pharmacy Care).
3. Penggunaan Obat Rasional yang meliputi :
a. Konsep Penggunaan Obat Rasional.
b. Pemantauan dan Evaluasi Penggunaan Obat Rasional.
E. Batasan Operasional
Batasan operasional pedoman penyelenggaraan pelayanan farmasi meliputi pengertian
dan variabel-variabel mutu pelayanan di ruang farmasi di UPTD. Puskesmas Brang
Rea.
BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifikasi Sumber Daya


Untuk dapat melaksanakan fungsinya dan menyelenggarakan upaya wajib Puskesmas,
dibutuhkan sumber daya manusia yang mencukupi, baik dalam jumlah maupun mutunya.
Pola ketenagaan minimal harus dimiliki oleh Puskesmas, Puskesmas Brang Rea
merupakan Puskesmas dengan tempat perawatan yang memiliki jenis, kualifikasi dan
Jumlah Tenaga gudang obat sebagai berikut :
Tabel 1. Jenis, Kualifikasi dan Jumlah Tenaga Gudang Obat Puskesmas
No Jenis Tenaga Kualifikasi Keterangan
1
2
3

B. Distribusi Ketenagaan
Frekwensi jumlah ketenagaan yang ada di Pelayanan Farmasi UPTD.Puskesmas Brang

Rea berjumlah 2 orang terdiri dari 1 orang penanggung jawab merangkap pelaksana dan 1

orang pelaksana dengan tupoksi dan kewenagannya sebagai berikut :

C. Jadwal Kegiatan

Jadwal pelayanan farmasi di UPTD. Puskesmas Brang Rea di buka pada jam :

1. Senin-Kamis : 08.00-15.30 Wita

Istirahat : 12.00-14.00 Wita

2. Jumat : 08.00-15.30 Wita

Istirahat : 11.30-14.00 Wita


BAB III
STANDAR FASILITAS

A. Denah

Denah pelayanan farmasi puskesmas brang rea adalah

B. Standar Fasilitas

1. Sarana
Persyaratan sarana gudang obat adalah sebagai berikut :
a. Luas minimal 3 x 4 m2 dan atau disesuaikan dengan jumlah obat yang disimpan.
b. Ruangan kering dan tidak lembab.
c. Memiliki ventilasi yang cukup.
d. Memiliki cahaya yang cukup, namun jendela harus mempunyai pelindung untuk
menghindarkan adanya cahaya langsung dan berteralis.
e. Lantai dibuat dari semen/tegel/keramik/papan (bahan lain) yang tidak
memungkinkan bertumpuknya debu dan kotoran lain. Harus diberi alas papan
(palet).
f. Dinding dibuat licin dan dicat warna cerah.
g. Hindari pembuatan sudut lantai dan dinding yang tajam.
h. Gudang digunakan khusus untuk penyimpanan obat.
i. Mempunyai pintu yang dilengkapi kunci ganda.
j. Tersedia lemari/laci khusus untuk narkotika dan psikotropika yang selalu terkunci
dan terjamin keamanannya.
k. Harus ada pengukur suhu dan higrometer ruangan.
2. Prasarana

Prasarana yang harus dimiliki Puskesmas untuk meningkatkan kualitas


pelayanan kefarmasian adalah sebagai berikut :
a. Papan nama Apotek atau Kamar Obat atau Ruang Farmasi yang dapat
terlihat jelas oleh pasien
b. Ruang tunggu yang nyaman bagi pasien
c. Peralatan penunjang pelayanan kefarmasian, antara lain timbangan gram dan
miligram, mortir-stamper, gelas ukur, corong, rak alat-alat, dan lain-lain.
d. Tersedia tempat dan alat untuk mendisplai informasi obat bebas dalam upaya
penyuluhan pasien, misalnya untuk memasang poster, tempat brosur, leaflet,
booklet dan majalah kesehatan.
e. Tersedia sumber informasi dan literatur obat yang memadai untuk pelayanan
informasi obat. Antara lain Farmakope Indonesia edisi terakhir, Informasi
Spesialite Obat Indonesia (ISO) dan Informasi Obat Nasional Indonesia (IONI).
f. Tersedia tempat dan alat untuk melakukan peracikan obat yang memadai
g. Tempat penyimpanan obat khusus seperti lemari es untuk supositoria, serum dan
vaksin, dan lemari terkunci untuk penyimpanan narkotika sesuai dengan
peraturan perundangan yang berlaku.
h. Tersedia kartu stok untuk masing-masing jenis obat atau komputer agar
pemasukan dan pengeluaran obat, termasuk tanggal kadaluarsa obat, dapat
dipantau dengan baik.
i. Tempat penyerahan obat yang memadai, yang memungkinkan untuk melakukan
pelayanan informasi obat.
BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN

A. Lingkup Kegiatan

Obat merupakan komponen yang esensial dari suatu pelayanan kesehatan. Oleh
karena itu diperlukan pengelolaan yang baik dan benar serta efektif dan efisien secara
berkesinambungan. Pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan meliputi
kegiatan perencanaan dan permintaan, penerimaan, penyimpanan dan distribusi,
pencatatan dan pelaporan, serta supervisi dan evaluasi pengelolaan obat.
1. Perencanaan Obat di Puskesmas
Perencanaan merupakan suatu proses kegiatan seleksi obat dan perbekalan kesehatan
untuk menentukan jenis dan jumlah obat dalam rangka pemenuhan kebutuhan obat
di Puskesmas.
2. Penyediaan/ Permintaan Obat di Puskesmas
Sumber penyediaan obat di Puskemas berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
maupun pengadaan sendiri oleh Puskesmas. Obat yang diperkenankan untuk
disediakan di Puskesmas adalah obat esensial yang jenis dan itemnya telah
ditetapkan oleh Menteri Kesehatan dengan merujuk pada Formularium Nasional
Selain itu, sesuai dengan kesepakatan global maupun Keputusan Menteri Ke sehatan
No. 085 tahun 1989 tentang Kewajiban Menuliskan Resep dan atau Menggunakan
Obat Generik di Pelayanan Kesehatan Milik Pemerintah dan Permenkes RI No.
HK.02.02/MENKES/068/I/2010 tentang Kewajban Menggunakan Obat Generik di
Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah, maka hanya obat generik saja yang
diperkenankan tersedia di Puskesmas
3. Menghitung kebutuhan obat dengan cara :
Jumlah untuk periode yang akan datang diperkirakan sama dengan pemakaian pada
periode sebelumnya.
SO = SK + SWK + SWT + SP
Sedangkan untuk menghitung permintaan obat dapat dilakukan dengan rumus :
Permintaan = SO SS
Keterangan :
SO = Stok optimum
SK = Stok Kerja (Stok pada periode berjalan)
SWK = Jumlah yang dibutuhkan pada waktu kekosongan obat
SWT = Jumlah yang dibutuhkan pada waktu tunggu ( Lead Time )
SP = Stok penyangga
SS = Sisa Stok
Stok kerja Pemakaian ratarata per periode distribusi.
Waktu Lamanya kekosongan obat dihitung dalam hari.
kekosongan
Waktu tunggu Waktu tunggu, dihitung mulai dari permintaan obat
oleh Puskesmas sampai dengan penerimaan obat
di Puskesmas.
Stok Adalah persediaan obat untuk mengantisipasi
Penyangga terjadinya peningkatan kunjungan, keterlambatan
kedatangan obat. Besarnya ditentukan
berdasarkan kesepakatan antara Puskesmas dan
Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota.
Sisa Stok Adalah sisa obat yang masih tersedia di
Puskesmas pada akhir periode distribusi.
Stok Optimum Adalah stok ideal yang harus tersedia dalam waktu
periode tertentu.

4. Penerimaan Obat di Puskesmas


Penerimaan adalah suatu kegiatan dalam menerima obat-obatan yang diserahkan
dari unit pengelola yang lebih tinggi kepada unit pengelola di bawahnya.
Penerimaan obat harus dilaksanakan oleh petugas pengelola obat atau petugas lain
yang diberi kuasa oleh Kepala Puskesmas.
5. Penyimpanan dan Distribusi Obat di Puskesmas
Penyimpanan adalah suatu kegiatan pengamanan terhadap obatobatan yang diterima
agar aman (tidak hilang), terhindar dari kerusakan fisik maupun kimia dan mutunya
tetap terjamin.
6. Pencatatan dan Pelaporan Obat
Pencatatan dan pelaporan data obat di Puskesmas merupakan rangkaian kegiatan
dalam rangka penatalaksanaan obat-obatan secara tertib, baik obat-obatan yang
diterima, disimpan, didistribusikan dan digunakan di Puskesmas dan atau unit
pelayanan lainnya.
7. Supervisi
Supervisi adalah proses pengamatan secara terencana oleh petugas pengelola obat
dari unit yang lebih tinggi (Instalasi Farmasi Provinsi/Kabupaten/Kota) terhadap
pelaksanaan pengelolaan obat oleh petugas ke unit yang lebih rendah (Instalasi
Farmasi Kabupaten/Kota/Puskesmas/Puskesmas Pembantu/UPT lainnya).
Pengamatan diarahkan untuk menjaga agar semua pekerjaan atau kegiatan yang
dilakukan sesuai dengan pedoman yang disepakati bersama.
8. Evaluasi Pengelolaan Obat
Evaluasi adalah serangkaian prosedur untuk menilai suatu program dan memperoleh
informasi tentang keberhasilan pencapaian tujuan, kegiatan, hasil dan dampak serta
biayanya. Fokus utama dari evaluasi adalah mencapai perkiraan yang sistematis dari
dampak program.

B. Langkah Kegiatan
1. Pelayanan Resep
Pelayanan resep merupakan suatu proses pelayanan terhadap permintaan tertulis
dokter kepada tenaga kefarmasian untuk menyediakan dan menyerahkan obat yang
diminta untuk pasien sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Pelayanan resep
meliputi skrining resep, penyiapan dan penyerahan obat.
Setelah menerima resep, dilakukan skrining dengan tahapan sebagai
berikut :
a. Pemeriksaan kelengkapan administratif resep, yaitu nama dokter, nomor surat,
izin praktik (SIP), paraf/tandatangan dokter, tanggal penulisan resep, nama obat,
jumlah obat, aturan pakai, nama, umur, berat badan, jenis kelamin dan alamat
atau nomor teleponn pasien.
b. Pemeriksaan kesesuaian farmasetik, yaitu bentuk sediaan, dosis, potensi,
inkompatibilitas, cara dan lama penggunaan obat.
c. Pertimbangan klinik seperti kesesuaian indikasi, alergi, efek samping, interaksi
dan kesesuaian dosis.
d. Konsultasikan dengan dokter apabila ditemukan keraguan pada resep atau obatnya
tidak tersedia.
2. Penyiapan Obat
Setelah memeriksa resep, dilakukan hal-hal sebagai berikut :
1. Menyiapkan obat sesuai dengan permintaan pada resep :
a. Menghitung kebutuhan jumlah obat sesuai dengan resep.
b. Mengambil obat yang dibutuhkan pada rak penyimpanan dengan memperhatikan
nama obat, tanggal kadaluwarsa dan keadaan fisik obat.
2. Melakukan peracikan obat bila diperlukan.
3. Memberikan etiket :
a. Warna putih untuk obat dalam/oral.
b. Warna biru untuk obat luar dan suntik, dan
c. Menempelkan label kocok dahulu pada sediaan bentuk suspensi atau emulsi.
4. Memasukkan obat ke dalam wadah yang tepat dan terpisah untuk obat
yang berbeda untuk menjaga mutu obat dan menghindari penggunaan yang salah.
3. Penyerahan Obat
Setelah penyiapan obat, dilakukan hal-hal sebagai berikut :
a. Sebelum obat diserahkan kepada pasien harus dilakukan pemeriksaan kembali
mengenai penulisan nama pasien pada etiket, cara penggunaan serta jenis dan jumlah
obat (kesesuaian antara penulisan etiket dengan resep).
b. Memanggil nama dan nomor tunggu pasien.
c. Memeriksa ulang identitas dan alamat pasien.
d. Menyerahkan obat yang disertai pemberian informasi obat.
e. Memberikan informasi cara penggunaan obat dan hal-hal lain yang terkait dengan
obat tersebut, antara lain manfaat obat, makanan dan minuman yang harus dihindari,
kemungkinan efek samping, cara penyimpanan obat, dll.
f. Penyerahan obat kepada pasien hendaklah dilakukan dengan cara yang baik dan
sopan, mengingat pasien dalam kondisi tidak sehat mungkin emosinya kurang stabil.
g. Memastikan bahwa yang menerima obat adalah pasien atau keluarganya.
h. Membuat salinan resep sesuai dengan resep asli dan diparaf oleh apoteker (apabila
diperlukan).
i. Menyimpan resep pada tempatnya dan mendokumentasikan yang memudahkan untuk
pelaporan.
BAB V
LOGISTIK
BAB VI
KESELAMATAN PASIEN

Keselamatan pasien (Patient safety) secara sederhana di definisikan sebagai suatu


upaya untuk mencegah bahaya yang terjadi pada pasien. Walaupun mempunyai definisi yang
sangat sederhana, tetapi upaya untuk menjamin keselamatan pasien di fasilitas kesehatan
sangatlah kompleks dan banyak hambatan. Konsep keselamatan pasien harus dijalankan
secara menyeluruh dan terpadu.
Strategi untuk meningkatkan keselamatan pasien :
a. Menggunakan obat dan peralatan yang aman
b. Melakukan praktek klinik yang aman dan dalam lingkungan yang aman
c. Melaksanakan manajemen risiko, contoh : pengendalian infeksi
d. Membuat dan meningkatkan sistem yang dapat menurunkan risiko yang
berorientasi kepada pasien.
e. Meningkatkan keselamatan pasien dengan :
- mencegah terjadinya kejadian tidak diharapkan (adverse event)
- membuat sistem identifikasi dan pelaporan adverse event
- mengurangi efek akibat adverse event
Keselamatan Pasien Dalam Pelayanan Kefarmasian
Dalam membangun keselamatan pasien banyak istilah-istilah yang perlu difahami dan
disepakati bersama. Istilah-istilah tersebut diantaranya adalah:
- Kejadian Tidak Diharapkan/KTD (Adverse Event)
- Kejadian Nyaris Cedera/KNC (Near miss)
- Kejadan Sentinel
- Adverse Drug Event
- Adverse Drug Reaction
- Medication Error
- Efek samping obat
BAB VII
KESELAMATAN KERJA

Pelaksanaan Keselamatan Kerjaa adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan
tempat kerja yang aman, sehat dan bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat
mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada
akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktifitas kerja, khususnya keselatan dan
keamanan pelayanan obat.
Keselamatan tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian materi bagi pekerja
dan pengusaha, tetapijuga dapat mengganggu proses produksi secara menyeluruh, merusak
lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak pada masyarakat luas.
Langkah-langkah dalam penerapan manajemen resiko pelayanan obat adalah :
1. Memastikan petugas pelayanan obat memahami cara memakai alat pelindung diri seperti
masker.
2. Memastikan adanya alat pemadam kebakaran untuk mencegah terjadinya kebakaran.
3. Petugas mencatat setiap kejadian kecelakaan kerja yang terjadi di pelayanan obat.
BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU
Pengendalian mutu Pelayanan Kefarmasian merupakan kegiatan untuk mencegah
terjadinya masalah terkait Obat atau mencegah terjadinya kesalahan pengobatan atau
kesalahan pengobatan/medikasi (medication error), yang bertujuan untuk keselamatan pasien
(patient safety).
Unsur-unsur yang mempengaruhi mutu pelayanan:
1. Unsur masukan (input), yaitu sumber daya manusia, sarana dan prasarana, ketersediaan
dana, dan Standar Prosedur Operasional.

2. Unsur proses, yaitu tindakan yang dilakukan, komunikasi, dan kerja sama.

3. Unsur lingkungan, yaitu kebijakan, organisasi, manajemen, budaya, respon dan tingkat
pendidikan masyarakat.
Pengendalian mutu Pelayanan Kefarmasian terintegrasi dengan program pengendalian
mutu pelayanan kesehatan Puskesmas yang dilaksanakan secara berkesinambungan.
Kegiatan pengendalian mutu Pelayanan Kefarmasian meliputi:
1. Perencanaan, yaitu menyusun rencana kerja dan cara monitoring dan evaluasi untuk
peningkatan mutu sesuai standar.

2. Pelaksanaan, yaitu:Monitoring dan evaluasi capaian pelaksanaan rencana kerja


(membandingkan antara capaian dengan rencana kerja); dan memberikan umpan balik
terhadap hasil capaian.

3. Tindakan hasil monitoring dan evaluasi, yaitu:


a. Melakukan perbaikan kualitas pelayanan sesuai standar dan
b. Meningkatkan kualitas pelayanan jika capaian sudah memuaskan.
Monitoring merupakan kegiatan pemantauan selama proses berlangsung untuk
memastikan bahwa aktivitas berlangsung sesuai dengan yang direncanakan. Monitoring dapat
dilakukan oleh tenaga kefarmasian yang melakukan proses. Aktivitas monitoring perlu
direncanakan untuk mengoptimalkan hasil pemantauan.
Contoh: monitoring pelayanan resep, monitoring penggunaan Obat, monitoring kinerja
tenaga kefarmasian.
Untuk menilai hasil atau capaian pelaksanaan Pelayanan Kefarmasian, dilakukan evaluasi.
Evaluasi dilakukan terhadap data yang dikumpulkan
yang diperoleh melalui metode berdasarkan waktu, cara, dan teknik pengambilan data.
Berdasarkan waktu pengambilan data, terdiri atas:
1. Retrospektif:
Pengambilan data dilakukan setelah pelayanan dilaksanakan. Contoh: survei kepuasan
pelanggan, laporan mutasi barang.
2. Prospektif:
Pengambilan data dijalankan bersamaan dengan pelaksanaan pelayanan. Contoh: Waktu
pelayanan kefarmasian disesuaikan dengan waktu pelayanan kesehatan di Puskesmas,
sesuai dengan kebutuhan.
Berdasarkan cara pengambilan data, terdiri atas:
1. Langsung (data primer):
Data diperoleh secara langsung dari sumber informasi oleh pengambil data.
Contoh: survei kepuasan pelanggan terhadap kualitas pelayanan kefarmasian.
2. Tidak Langsung (data sekunder):
Data diperoleh dari sumber informasi yang tidak langsung. Contoh: catatan penggunaan
Obat, rekapitulasi data pengeluaran Obat.
Berdasarkan teknik pengumpulan data, evaluasi dapat dibagi menjadi:
1. Survei
Survei yaitu pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner. Contoh: survei kepuasan
pelanggan.
2. Observasi
Observasi yaitu pengamatan langsung aktivitas atau proses dengan menggunakan cek list
atau perekaman. Contoh: pengamatan konseling pasien.
Pelaksanaan evaluasi terdiri atas:
1. Audit
Audit merupakan usaha untuk menyempurnakan kualitas pelayanan dengan pengukuran
kinerja bagi yang memberikan pelayanan dengan menentukan kinerja yang berkaitan
dengan standar yang dikehendaki dan dengan menyempurnakan kinerja tersebut. Oleh
karena itu, audit merupakan alat untuk menilai, mengevaluasi, menyempurnakan
pelayanan kefarmasian secara sistematis.
Terdapat 2 macam audit, yaitu:
a. Audit Klinis
Audit Klinis yaitu analisis kritis sistematis terhadap pelayanan kefarmasian, meliputi
prosedur yang digunakan untuk pelayanan, penggunaan sumber daya, hasil yang
didapat dan kualitas hidup pasien. Audit klinis dikaitkan dengan pengobatan berbasis
bukti.
b. Audit Profesional
Audit Profesional yaitu analisis kritis pelayanan kefarmasian oleh seluruh tenaga
kefarmasian terkait dengan pencapaian sasaran yang disepakati, penggunaan sumber
daya dan hasil yang diperoleh. Contoh: audit pelaksanaan sistem manajemen mutu.
2. Review (pengkajian)
Review (pengkajian) yaitu tinjauan atau kajian terhadap pelaksanaan pelayanan
kefarmasian tanpa dibandingkan dengan standar. Contoh: kajian penggunaan antibiotik.
BAB IX
PENUTUP

Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan


kesehatan,bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat.
Konsep kesatuan upaya kesehatan (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif) menjadi
pedomandan pegangan bagi semua fasilitas kesehatan termasuk Puskesmas yang merupakan
unitpelaksana kesehatan tingkat pertama (primary health care). Pelayanan kesehatan tingkat
Pertama adalah pelayanan yang bersifat pokok (basic health services) yang sangat
dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat termasuk didalamnya pelayanan kefarmasian di
Puskesmas.
Dengan bergesernya paradigma kefarmasian yang semula hanya berfokus pada
pengelolaan obat menjadi pelayanan yang komprehensif, maka diharapkan dengan
tersusunnya buku Pedoman Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas ini akan terjadi
peningkatan mutu pelayanan kefarmasian di Puskesmas kepada masyarakat.
Disamping itu pula diharapkan pedoman ini bermanfaat bagi apoteker dan asisten
apoteker yang bertugas di Puskesmas dalam memberikan pelayanan kefarmasian yang
bermutu agar tercapai penggunaan obat yang rasional.