Anda di halaman 1dari 58

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

I. Konsep Dasar Medis


A. Pengertian
Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi dengan berat badan
kurang dari 2500 gram pada waktu lahir (Hasan, 2005).

Dengan pengertian seperti yang telah diterangkan diatas, maka bayi BBLR dibagi
menjadi dua golongan, yaitu:
1. Prematuritas Murni : Masa gestasi kurang dari 37minggu dan Bbnya sesuai
dengan BB masa gestasi ini
2. Dismamatur : Kalau BB bayi tersebut kurang dari BB seharusnya untuk
masa-masa gestasi.

B. Etiologi
Penyebab kelahiran prematur tidak diketahui, tapi ada beberapa
faktor yang berhubungan, yaitu :

1. Faktor ibu
a. Gizi saat hamil yang kurang, umur kurang dari 20 tahun atau
diaatas 35 tahun
b. Jarak hamil dan persalinan terlalu dekat, pekerjaan yang
terlalu berat
c. Penyakit menahun ibu : hipertensi, jantung, gangguan
pembuluh darah, perokok
2. Faktor kehamilan
a. Hamil dengan hidramnion, hamil ganda, perdarahan
antepartum
b. Komplikasi kehamilan : preeklamsia/eklamsia, ketuban pecah
dini
3. Faktor janin
a. Cacat bawaan
b. Kelainan kromosom
c. Malformasi
d. Infeksi congenital (misal:rubella)
e. Kehamilan ganda
4. Faktor yang masih belum diketahui

C. Tanda - Tanda Klinis


Gambaran klinis BBLR secara umum adalah :

1. Berat kurang dari 2500 gram


2. Panjang kurang dari 45 cm
3. Lingkar dada kurang dari 30 cm
4. Lingkar kepala kurang dari 33 cm
5. Umur kehamilan kurang dari 37 minggu
6. Kepala lebih besar
7. Kulit tipis, transparan, rambut lanugo banyak, lemak kurang
8. Otot hipotonik lemah
9. Pernapasan tak teratur dapat terjadi apnea
10. Eksremitas : paha abduksi, sendi lutut / kaki fleksi-lurus
11. Kepala tidak mampu tegak
12. Pernapasan 40 50 kali / menit
13. Nadi 100 140 kali / menit

D.Komplikasi
1. Sindrom aspirasi mekonium, asfiksia neonatorum, sindrom
distres respirasi, penyakit membran hialin
2. Dismatur preterm terutama bila masa gestasinya kurang dari 35
minggu
3. Hiperbilirubinemia, patent ductus arteriosus, perdarahan
ventrikel otak
4. Hipotermia, Hipoglikemia, Hipokalsemia, Anemi, gangguan
pembekuan darah
5. Infeksi, retrolental fibroplasia, necrotizing enterocolitis (NEC)
6. Bronchopulmonary dysplasia, malformasi konginetal

II. Penatalaksanaan Kasus


A. Penatalaksanaan Medis
1. Resusitasi yang adekuat, pengaturan suhu, terapi oksigen
2. Pengawasan terhadap PDA (Patent Ductus Arteriosus)
3. Keseimbangan cairan dan elektrolit, pemberian nutrisi yang
cukup
4. Pengelolaan hiperbilirubinemia, penanganan infeksi dengan
antibiotik yang tepat
B. Penatalaksanaan Keperawatan
1. Penanganan bayi
Semakin kecil bayi dan semakin premature bayi, maka semakin
besar perawatan yang diperlukan, karena kemungkinan terjadi
serangan sianosis lebih besar. Semua perawatan bayi harus
dilakukan didalam incubator.

2. Pelestarian suhu tubuh


Bayi dengan berat lahir rendah, mempunyai kesulitan dalam
mempertahankan suhu tubuh. Bayi akan berkembang secara
memuaskan, asal suhu rectal dipertahankan antara 35,5 0 C s/d
370 C.

Bayi berat rendah harus diasuh dalam suatu suhu lingkungan


dimana suhu normal tubuhnya dipertahankan dengan usaha
metabolic yang minimal. Bayi berat rendah yang dirawat dalam
suatu tempat tidur terbuka, juga memerlukan pengendalian
lingkungan secara seksama. Suhu perawatan harus diatas 25 0C,
bagi bayi yang berat sekitar 2000 gram, dan sampai 300 C untuk
bayi dengan berat kurang dari 2000 gram.

3. Inkubator
Bayi dengan berat badan lahir rendah, dirawat didalam
incubator. Prosedur perawatan dapat dilakukan melalui
jendela atau lengan baju. Sebelum memasukkan bayi
kedalam incubator, incubator terlebih dahulu dihangatkan,
sampai sekitar 29,4 0
C, untuk bayi dengan berat 1,7 kg dan
32,20C untuk bayi yang lebih kecil. Bayi dirawat dalam keadaan
telanjang, hal ini memungkinkan pernafasan yang adekuat, bayi
dapat bergerak tanpa dibatasi pakaian, observasi terhadap
pernafasan lebih mudah.

4. Pemberian oksigen
Ekspansi paru yang buruk merupakan masalah serius bagi bayi
preterm BBLR, akibat tidak adanya alveoli dan surfaktan.
Konsentrasi O2 yang diberikan sekitar 30 - 35 % dengan
menggunakan head box, konsentrasi O2 yang tinggi dalam
masa yang panjang akan menyebabkan kerusakan pada
jaringan retina bayi yang dapat menimbulkan kebutaan

5. Pencegahan infeksi
Bayi preterm dengan berat rendah, mempunyai system
imunologi yang kurang berkembang, ia mempunyai sedikit atau
tidak memiliki ketahanan terhadap infeksi. Untuk mencegah
infeksi, perawat harus menggunakan gaun khusus, cuci tangan
sebelum dan sesudah merawat bayi.

6. Pemberian makanan
Pemberian makanan secara dini dianjurkan untuk membantu
mencegah terjadinya hipoglikemia dan hiperbillirubin. ASI
merupakan pilihan pertama, dapat diberikan melalui kateter
( sonde ), terutama pada bayi yang reflek hisap dan
menelannya lemah. Bayi berat lahir rendah secara relative
memerlukan lebih banyak kalori, dibandingkan dengan bayi
preterm.

III. FOKUS PENGKAJIAN KEPERAWATA


A. Pengkajian
1. Biodata
1) Identitas bayi
2) Identitas orang tua,
2. Pemeriksaan Biologis Ibu
1) Riwayat kehamilan,umur kehamilan dan lain-lain
2) Riwayat persalinan dan proses pertolongan persalinan
3) Keadaan fisik ibu saat pengkajian
4) Riwayat penyakit ibu

B. Prematuritas murni
1. BB < 2500 gram, PB < 45 cm, LK < 33 cm, LD < 30 cm
2. Masa gestasi < 37 minggu
3. Kepala lebih besar dari pada badan, kulit tipis transparan,
mengkilap dan licin
4. Lanugo (bulu-bulu halus) banyak terdapat terutama pada
daerah dahi, pelipis, telinga dan lengan, lemak subkutan
kurang, ubun-ubun dan sutura lebar
5. Genetalia belum sempurna, pada wanita labia minora belum
tertutup oleh labia mayora, pada laki-laki testis belum turun.
6. Tulang rawan telinga belum sempurna, rajah tangan belum
sempurna
7. Pembuluh darah kulit banyak terlihat, peristaltik usus dapat
terlihat
8. Rambut tipis, halus, teranyam, puting susu belum terbentuk
dengan baik
9. Bayi kecil, posisi masih posisi fetal, pergerakan kurang dan
lemah
10. Banyak tidur, tangis lemah, pernafasan belum teratur dan
sering mengalami apnea, otot masih hipotonik
11. Reflek tonus leher lemah, reflek menghisap, menelan dan
batuk belum sempurna

C. Dismaturitas
1. Kulit berselubung verniks kaseosa tipis/tak ada,
2. Kulit pucat bernoda mekonium, kering, keriput, tipis
3. Jaringan lemak di bawah kulit tipis, bayi tampak gesit, aktif
dan kuat
4. Tali pusat berwarna kuning kehijauan

D. Pemeriksaan diagnostik
1. Pemeriksaan glukosa darah terhadap
hipoglikemia
2. Pemantauan gas darah sesuia kebutuhan
3. Titer torch sesuai indikasi
4. Pemeriksaan kromosom sesuai indiksi
5. Pemantauan elektrolit
6. Pemeriksaan sinar X sesuai kebutuhan

E. Intervensi
N Diagnosa Tujuan/Kriteri Rencana Tindakan
o Keperawatan a

1. Pola nafas Pola nafas 1. Observasi pola nafas,


tidak efektif yang efektif frekwensi dan bunyi
b/d tidak nafas
adekuatnya Kriteria : R : mengetahui tipe
ekspansi paru a. Kebutuhan gangguan nafas, dan
oksigen seberapa jauh
menurun gangguan itu terjadi
b. Nafas 2. Observasi hasil BGA
spontan, R: mengetahui
adekuat, RR efektivitas pernafasan
30-60 dan rencana terapi
x/menit berikutnya
c. Tidak sesak. 3. Berikan posisi kepala
d. Tidak ada sedikit ekstensi
retraksi R : melebarkan jalan
nafas akan
memudahkan oksigen
masuk ke paru tanpa
usaha yang keras
4. Berikan oksigen
dengan metode yang
sesuai
R : memenuhi
kebutuhan oksigen
tubuh

2. Resiko tinggi Hidrasi baik 1. Observasi turgor kulit,


gangguan ubun-ubun
keseimbangan Kriteria: R: mengetahui tingkat
keseimbangan a. Turgor kulit gangguan cairan tubuh
cairan dan elastik 2. Catat intake dan
elektrolit b/d b. Tidak ada output
ketidakmampu edema R : sebagai bahan
an ginjal c. Produksi pertimbangan sejauh
mempertahan urin 1-2 mana resusitasi cairan
kan cc/kgbb/jam akan dilakukan
keseimbangan d. Elektrolit 3. Kolaborasi dalam
cairan dan darah dalam pemberian cairan intra
elektrolit batas normal vena dan elektrolit
R : memenuhi
kebutuhan cairan
tubuh
3.
Perubahan
nutrisi kurang Nutrisi adekuat 1. Observasi dan catat
dari toleransi minum
kebutuhan Kriteria : R : mengetahui intake
tubuh a. Berat badan bayi
berhubungan naik 10-30 2. Berikan ASI/PASI
dengan tidak gram / hari dengan metode yang
adekuatnya b. Tidak ada tepat
intake edema R : Memenuhi
c. Protein dan kebutuhan nutrisi bayi
albumin 3. Timbang berat badan
darah dalam setiap hari
batas normal R : mengetahui
perkembangan status
nutrisi bayi
4. Kolaborasi dalam
pemberian total
parenteral nutrition
kalau perlu
R : Memenuhi intake
4. yang tidak dapat
dipenuhi dengan cara
lain
Suhu bayi
Resiko tinggi stabil
hipotermi atau a. Suhu 36,5
hipertermi b/d 0
C -37,2 0C 1. Observasi suhu bayi
imaturitas b. Akral hangat R : mengetahui derajat
fungsi hipotermia dan
termoregulasi penentuan rencana
atau terapi berikutnya
perubahan 2. Tempatkan bayi
suhu dibawah radian
lingkungan warmer/incubator
R : menjaga
kehangatan dan
kesetabilan suhu bayi
3. Hindarkan bayi kontak
langsung dengan
benda sebagai sumber
dingin/panas
R : Kemampuan
adaptasi bayi terhadap
perubahan suhu
lingkungan belum baik
4. Ganti popok bila
basah
R : Menghindarkan
konduksi kalor tubuh
bayi

5. Resiko tinggi Bayi tidak 1. Hindari bayi dari


infeksi b/d terinfeksi orang-orang yang
imaturitas terinfeksi kalau perlu
fungsi Kriteria : rawat dalam incubator
imunologik a. Suhu 36,5 R : menghindari
0
C -37,2 0C transisi kuman
b. Darah 2. Cuci tangan sebelum
lengkap dan sesudah kontak
normal dengan bayi
R : mengurangi resiko
transisi kuman dari
tangan
3. Lakukan tehnik
aseptik dan antiseptik
bila melakukan
prosedur invasive
R : mengurangi resiko
transisi kuman dari
. tangan
4. Lakukan perawatan
tali pusat minimal
2X/hari
R : meminimalisir
perkembangbiakan
kuman penyebab
infeksi
DAFTAR PUSTAKA

Bherman, Richard. E. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Jakarta : EGC

Dongoes, Marylin. E. 1999. Rencana asuhan keperawatan. Jakarta : EGC

Sacharin, Rosa. 1994. Prinsip Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC

Saifudin, Abdul Bari dkk (2002), Buku Panduan Praktis Pelayanan


Kesehatan

Maternal dan Neonatal, Edisi 1, Yayasan Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo : Jakarta.

F.
BAB II
TINJAUAN KASUS

Tgl / jam MRS : Jumat, 21-12-2012/11.00 WIB


Ruang : Perinatologi
No. register : 415989
Dx medis : BBLR
Tgl pengkajian : Senin, 24-12-2012 / 09.00 WIB

A. IDENTITAS KLIEN
1. Nama : By. Ny. Rizky I
2. Nama panggilan : By. Ny. Rizky I
Umur / tgl lahir : 4 hari/21-12-2012
Jenis Kelamin : Perempuan
3. Identitas orang tua
Nama Ayah : Tn. Z Nama ibu : Ny. R
Umur : 30 tahun Umur : 19 tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Suku : Jawa Suku : Jawa
Bahasa : Jawa Bahasa : Jawa
Pendidikan : SMP Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Wiraswasta Pekerjaan : IRT
Alamat : Rambipuji Alamat
: Rambipuji

B. KELUHAN UTAMA
Hipotermi, muntah

C. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Telah lahir bayi berjenis kelamin perempuan pada hari jumat (21-
12-2012) jam 10.30 dari ibu G1 P0 A0 secara SC, Gemeli, ditolong
oleh dokter spesialis kandungan lahir langsung menangis AS= 5-7,
ketuban jernih, usia kehamilan menurut Ballard Score yaitu 31
minggu, cephal hemathom (-), Caput (-), anus (+), genetalia (+)
perempuan

D. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


1. Penyakit yang pernah diderita
Tidak ada riwayat penyakit sebelumnya
2. Riwayat operasi
Ibu klien melahirkan klien dengan operasi SC
3. Riwayat alergi
Tidak ada riwayat alergi
4. Riwayat imunisasi
Belum di imunisasi
E. RIWAYAT PERINATAL
1. Antenatal
Keluarga mengatakan pada saat hamil, ibu pasien
mengetahuinya baru sejak usia kehamilannya menginjak
bulan keempat.ibu tidak menyadarinya sampai ada keluhan
mual dan muntah ibu pasien memeriksakannya ke bidan dan
kemudian dinyatakan hamil. Dua bulan kemudian ibu pasien
kembali memeriksakannya ke posyandu dengan keluhan gatal
di kemaluan dan keputihan. Setelah itu pada bulan
selanjutnya pasien ibu pasien melakukan ANC karena ada
keluhan pilek, kemudian dalam jarak waktu 12 hari ibu pasien
kembali melakukan ANC karena keluhan batuk dan pilek. Pada
bulan Desember Ny. R melakukan ANC karena kakinya
bengkak, namun ketikan ditensi, tensinya normal dan
proteinuria (-). Tidak lama kemudian pasien ke puskesmas
Rambipuji karena mengeluh kenceng-kenceng dan ketuban
merembes. Setelah dilakukan USG ternyata posisi bayi
dengan letak sungsang sehingga pasien dirujuk ke RSD dr.
Soebandi
2. Intra Natal
Ibu klien melahirkan dengan SC, dengan indikasi gemeli,
letsu, kpd, dengan berat badan 1740 gr. Lingkar kepala 30
cm, panjang badan 42cm, lingkar abdomen 26 cm, lingkar
dada 27cm. langsung menangis AS 5-7. Genetalia labia
minora belum tertutupi labia mayora.

3. Post Natal
Pada saat lahir langsung menangis as 5-7, klien langsung
diberi vitamin K dan gentamicin tetes mata, keadaan klien
lemah dengan kesadaran composmetis, menangis (+) klien
diletakkan di incubator dengan suhu 34 C.

F. PEMERIKSAAN TINGKAT PERKEMBANGAN


1. Adaptasi sosial
-
2. Motorik kasar
Gerak pasien sering namun lemah
3. Motorik halus
Reflek hisap ada, reflek menggenggam ada
4. Bahasa
-
G. POLA FUNGSI KESEHATAN
1. Pola persepsi dan tata laksana kesehatan.
Ibu klien mengatakan selalu memeriksakan ke dokter apabila
anaknya sakit dan ketika sakit ibu klien selalu merawat klien
dengan baik.
2. Pola nutrisi dan metabolisme
Pasien muntah hijau pasien dipuasakan
3. Pola eliminasi
Pasien BAK dan BAB, sehari pasien diganti pampers 2-3 kali
4. Pola aktivitas
Aktivitas pasien hanya tidur di tempat tidur dan menggerakkan
kedua kaki dan tangannya serta kepalanya.
5. Pola istirahat tidur
Klien tidur dan menangis ketika haus atau BAB

6. Pola kognitif dan persepsi sensori.


Pasien hanya bisa menangis
7. Pola konsep diri.
Pola konsep diri tidak dapat terkaji
8. Pola hubungan peran.
Hubungan antara klien dan orang tua terhambat karena kondisi
pasien yang membutuhkan perawatan lebih lanjut
9. Pola fungsi sexual-sexualitas.
-
10. Pola mekanisme koping
Klien hanya menangis jika diberi rangsang.
11. Pola nilai kepercayaan.
-
H. PEMERIKSAAN FISIK
1. Status kesehatan umum
Keadaan / penampilan umum : cukup
Keasadaran : compos mentis, GCS
456
Tensi : ------ mmHg
Nadi : 125 x/menit
Suhu : 35,3oC
RR : 24 x/menit
Panjang badan : 32 cm
Lingkar kepala : 25 cm
Lingkar dada : 24 cm
Lingkar lengan atas : 15 cm
BBL : 1740 gr
BBS : 1655 gr
2. Kepala
Ubun-ubun belum menutup, tidak ada pelebaran sutura
Telinga : tulang rawan tipis telinga mudah ditekuk dan
kembali
Bibir kering, mulut bersih

3. Leher
Tidak ada pembesaran kelenjar limfe
4. Thoraks
Paru
- Inspeksi : simetris kanan dan kiri, RR: 24 x/menit,
areola sedikit menonjol
- Palpasi : pergerakan dada simetris
- Perkusi : sonor
- Auskultasi : wheezing -/- , ronchi -/-, Suara nafas
vesikuler.
Jantung
- Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
- Palpasi : ictus cordis tidak teraba
- Perkusi : suara redup
- Auskultasi : S1 S2 tunggal, Mur-mur (-)
5. Abdomen
- Inspeksi : terlihat kontur usus, permukaan abdomen
cekung
- Auskultasi : Bising usus 5 x/mnt
- Perkusi : suara timpani
- Palpasi : Tidak ada massa, teraba bentuk usus
Tali pusat lembab, warna sedikit kehitaman, tidak berbau
6. Tulang belakang.
- Bentuk : lordosis ( - ), Kifosis ( - ), Skoliosis
(-)
- Kelainan : tidak ada lesi / dekubitus
7. Ekstremitas
- Tangan : posisi kedua tangan fleksi
- Kaki : posisi kedua kaki adduksi, dan kedua kaki
oedem
- Kuku : tidak melebihi jari
- Jari : lengkap, tidak ada kelainan.
- Akral dingin, oedema ( - )
9. Anus - Genitalia : anus (+), genetalia labia mayor
belum menutupi labia minor
10. Pemeriksaan neurologis : reflek moro (-), reflek grasping
(+), reflek sucking (+) lemah, reflek swallowing (+), reflek
tonik neck (+), reflek rooting (+)
I. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Laboratorium Tanggal 22 Desember 2012
GDA : 231 < 200
Pemeriksaaan laboratorium Tanggal 24 desember 2012
Hasil lab:
Bilirubin direct : 0,39 0,2 0,4 mg/dl
Bilirubin total : 11,03 < 1,2 mg/dl
Albumin : 3,5 3,4 4,8 g/dl
Pemeriksaan Laboratorium tanggal 26 Desember 2012
Hasil lab:
Bilirubin direct : 0,66 0,2 0,4 mg/dl
Bilirubin total : 11,50 < 1,2 mg/dl
Albumin : 2,7 3,4 4,8 g/dl

J. TERAPI
1. Oral : tidak ada
2. Parenteral
Tanggal Nama obat Dosis Keterangan
24 Des D5 NS 9 Tpm via Infuse
2012
Ampicillin 2 x 150
mg
Aminophilin 2 x 4 mg
Gentacimin 1 x 6 mg
3. Lain lain
Klien berada di inkubator dengan suhu 34C

ANALISA DATA

KEMUNGKINA
TGL/JAM PENGELOMPOKAN DATA MASALAH
N PENYEBAB
24-12-12 DS: - Hipotermi Status
08.30 DO: prematuritas
- Suhu 35,3oC
- Akral dingin
24-12-12 DS : - Perubahan Penurunan
08.45 DO : nutrisi kurang daya cerna dan
- muntah (+) dari reflek menelan
- BB 1655 gr kebutuhan lemah
tubuh
24-12-12 DS : - Risiko Muntah
09.00 DO : aspirasi
- reflek hisap lemah
- muntah (+)
24-12-12 DS : Risiko infeksi Imunitas
09.05 DO : sekunder
- tali pusat lembab, tidak inadekuat
berbau, warna kehitaman
- BB 1655 gr
24-12-12 DS : - Risiko
09.10 DO : kerusakan
- Pasien menggunakan integritas
pampers kulit
- Terdapat infus cateter di
ektermitas kanan
24-12-12 DS : - Ketidakefektif Perawatan
09.20 DO: an bonding terpisah antara
- bayi menjalani perawatan attachment ibu dan bayi
di ruang perin
- ibu post SC dan istirahat
di rumah
24-12-12 DS : Ansietas Kurang
09.30 DO : (keluarga) pengetahuan
- ayah bayi yang selalu tentang kondisi
menanyakan keadaan kesehatan bayi
bayinya

PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN

NO TGL/JAM DIAGNOSA KEPERAWATAN


.
1 24-12- Hipotermi berhubungan dengan status prematuritas
12
09.00
2 24-12- Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh yang
12 berhubungan Penurunan daya cerna dan refleks menelan
09.00 lemah
3 24-12- Risiko aspirasi berhubungan dengan muntah
12
09.00
4 24-12- Risiko infeksi berhubungan dengan imunitas sekunder
12 inadekuat
09.00
5 24-12- Risiko kerusakan intergritas kulit berhubungan dengan
12
09.00
6 24-12- Ketidakefektifan Bonding Attacthment yang berhubungan
12 dengan Perawatan terpisah antara ibu dan bayi
09.00
7 24-12- Ansietas (keluarga) yang berhubungan dengan Kurang
12 pengetahuan tentang kondisi kesehatan bayi
09.00
INTERVENSI
TGL DIAGNOSA TUJUAN DAN INTERVENSI RASIONAL PARA
/ KEPERAWATA KRITERIA HASIL F
JAM N
24- Hipotermi yang Tujuan : Pasien 1. Observasi suhu klien 1. mengetahui Eril
12 berhubungan tidak mengalami seberapa jauh resiko
-201 dengan status hipotermi 2. Hindarkan bayi dengan hipotermi terjadi
2 prematuritas berlanjut setelah kontak langsung 2. Kompensasi bayi
dilakukan tindakan terhadap sumber panas terhadap perubahan
keperawatan atau dingin suhu masih belum
dalam waktu 2 x 3. Tempatkan bayi dalam baik
24 jam inkubator 3. suhu lingkungan
Kriteria hasil : yang hangat dan
- akral hangat stabil akan
- Suhu 36,5 4. Segera ganti baju dan menghindarkan bayi
37,2oC popok bayi jika basah dari hipotermi
- Kulit 4. menghindarkan
kemerahan 5. Motivasi dan ajarkan kehilangan panas
penerapan metode KMC tubuh bayi melalui
jika ibu dan bayi siap konduksi
5. menghindari
hipotermi dengan
kontak skin to skin

24- Perubahan Tujuan : Pasien 1. Observasi dan catat 1. mengetahui rencana Dian
12 nutrisi kurang nutrisinya toleransi minum bayi, intake bayi
-201 dari kebutuhan terpenuhi setelah reflek hisap 2. mengetahui residu
2 tubuh dilakukan tindakan 2. Pasang OGT bayi untuk memantau
berhubungan keperawatan rencana intake bayi
dengan dalam waktu 3 x 3. mengurangi beban GI
penurunan 24 jam 3. Puasakan bayi jika track yang masih
daya cerna Kriteria Hasil : residu bayi ada ( > 1cc belum siap menerima
- bayi tampak dalam 7 jam) makanan
aktif 4. Memenuhi kebutuhan
- Tidak terjadi 4. Rencana pemberian cairan dan nutrisi
penurunan BB cairan intravena D10% bayi
> 10 % dengan kebutuhan 130
- Reflek hisap cc/kgBB/hari jika
kuat pasien dipuasakan
- Residu < 1cc, 5. Mengadaptasikan
jernih 5. Programkan pemberian lambung terhadap
TF jika residu (-) pemasukan cairan
6. Timbang BB 1 x/hari 6. mengetahui status
perkembangan nutrisi
dan cairan
24- Risiko aspirasi Tujuan : Pasien 1. miringkan bayi apabila 1. menghindari Adit
12 tidak mengalami muntah terjadinya aspirasi
-201 aspirasi dalam 2. sendawakan bayi 2. mencegah muntah
2 waktu 2 x 24 jam dengan cara pada bayi
Kriteria hasil : menggendong dan
- muntah (-) menepuk punggung
- residu (-) bayi 3.Muntah merupakan
3. obsevasi adnya tanda aspirasi
muntah
24- Risiko infeksi Tujuan : Pasien 1. Monitor tanda-tanda 1. Deteksi dini Ririn
12 yang tidak mengalami infeksi kemungkinan infeksi
-201 berhubugan infeksi dalam 2. mengurangi transmisi
2 dengan waktu 3 x 24 jam 2. Hindarkan seminimal kuman
imunitas Kriteria hasil : mungkin kontak yang
inadekuat - Suhu normal : tidak perlu dengan 3. Mengurangi tranmisi
akibat 36,5 oC 37,5 bayi kuman
prematuritas o
C 3. Cuci tangan sebelum 4. mengurangi transmisi
- DL normal dan sesudah kontak kuman
- Tali pusat tidak dengan bayi
berubah warna 4. Lakukan teknik septik- 5. Meminimalkan
menjadi kuning, aseptik setiap pertumbuhan kuman
hijau, atau pemberian prosedur penyebab infeksi
kemerahan, invasif pada bayi 6. mengetahui
serta tidak 5. Lakukan perawatan tali progresitas infeksi
berbau pusat minimal 2x/hari 7. mencegah terjadinya
infeksi
6. Kolaborasikan
pemeriksaan DL jika
perlu
7. Kolaborasikan
pemberian inj.
Cefotaxime 2 X 100 mg
dan gentamicyn 1 x 8
mg

24- Risiko Tujuan : Pasien 1. Kaji warna dan 1. mencegah kerusakan Ririn
12 kerusakan tidak mengalami keadaan kulit bayi kulit lebih lanjut
-201 integritas kulit kerusakan setiap 4-8 jam 2. meningkatkan
2 yang integritas kulit 2. Ubah posisi tiap 4 jam, sirkulasi ke semua
berhubungan dalam waktu 3 x lakukan massase area kulit
dengan 24 jam 3. Monitor keadaan 3. untuk mengetahui
Kriteria Hasil : bilirubin direk dan peningkatan atau
- indirek penurunan kadar
bilirubin
4. Jaga kebersihan dan 4. area terkontamonasi
kelembaban kulit bayi memberikan media
yang sangat baik
untuk pertumbuhan
organisme patogen

24- Ketidakefektifa Tujuan : 1. BHSP (Bina Hubungan 1. Hubungan terapeutik Bismo


12 n bonding Tujuan : klien Saling Percaya) dengan memudahkan proses
-201 attachment dengan ibu dapat Orang tua pasien keperawatan
2 yang terjalin kedekatan 2. Menyarankan ibu untuk 2. Meningkatkan
berhubungan selama perawatan datang ke pojok laktasi kedekatan ibu dan
dengan setelah 1x24 jam bayi saat perawatan
perawatan Kriteria Hasil : 3. Menyarankan ibu untuk 3. Mendekatkan
terpisah antara B8 : Ibu menemui datang pada saat baby hubungan bayi dan
ibu dan bayi anaknya setiap show ibu
hari, orangtua
menghadiri baby
show

24- Ansietas Tujuan : keluarga 1. Berikan penjelasan 1. Memberikan Deny


12- (keluarga) yang (ibu atau ayah) kepada keluarga pemahaman kepada
201 berhubungan mengerti tentang kondisi pasien keluarga
2 dengan Kurang mengenai kondisi 2. Bicara pelan dan
pengetahuan anaknya setelah tenang pada keluarga 2. Memberikan
tentang kondisi diberikan 3. Singkirkan dari ketenangan kepada
kesehatan bayi pendidikan stimulasi yang ibu
kesehatan dalam berlebihan 3. Agar tidak menambah
1x60 menit tingkat kecemasan
keluarga
Kriteria Hasil :
- Keluarga (ibu
atau ayah)
tenang
Keluarga tidak
gelisah
IMPLEMENTASI
DIAGNOSA TGL/ TINDAKAN PARAF
KEPERAWATAN JAM
24-12-2012
Dx IV 08.30 1. Melakukan perawatan tali pusat (tali pusat Dian,
Dx V 08.35 lembab warna kehitaman) Deny,
Dx II, IV 08.40 2. Menyeka pasien Ririn,
08.45 3. Mengobservasi muntahan (muntah 3 kali Eril,
Dx II warna hijau) Bismo,
Dx II, III 4. Memasang OGT Adit
Dx II 5. Menarik residu (residu 3 cc warna hijau)
Dx II 6. Menghitung kebutuhan cairan
Kebutuhan cairan 130 cc/kgBB/hari
BBL = 1740 gr 130 x 1,74 = 226,2 cc/hari
09.00 Pasien dipuasakan
Dx III 09.15 tpm infuse D10% 226,2 24 = 9,42 9 tpm
Dx VII 7. Memiringkan posisi pasien (miring ke kiri)
09.30 8. Menjelaskan kepada orang tua tentang
Dx VI kondisi pasien
12.00 9. Menganjurkan orang tua untuk mengunjungi
Dx I 13.00 pasien dan melihatnya pada saat baby show
Dx II, III 10. Melakukan TTV (Suhu : 35,3 C; HR : 125
x/menit; RR : 42 x/menit)
11. Menarik residu (residu hijau 2 cc)
25-12-2012
Dx I 07.30 1. Memberikan penyinaran lampu untuk Bismo
memberikan penghangatan dan Eril
Dx II 2. Menghitung kebutuhan cairan
Kebutuhan cairan hari ke-5 130cc/kgBB/hari
BBL = 1740 gr 140 x 1,74 = 243,6 cc/hari
TF 6 x 5 cc = 30
243,6 - 30 = 213,6 cc parenteral
tpm infuse D10% 213,6 24 = 8,9 9 tpm
Dx II 07.30 3. Mengisi buret dan menghitung tpm (9 tpm)
Dx IV 08.00 4. Menarik residu (residu tidak ada)
5. Memberikan TF susu neosure 5 cc
Dx II, III 09.00 6. Melakukan injeksi cefotaxime 100 mg dan
Dx II gentamycin 6 mg serta aminophilin 4 mg
Dx VI, VII 10.00 7. Melakukan baby show

Dx I 11.00 8. Melakukan TTV (Suhu : 36,2 C; Hr : 138


x/menit; RR : 44 x/menit
Dx II, III 12.00 9. Menarik residu (residu kosong)
Dx II 10. Memberikan TF susu neosure 5 cc
14.00 11. Operan
14.00 1. Operan Dian
Dx II 2. Mengisi buret dan menghitung tpm (9 tpm) dan
Dx V 14.30 3. Memberikan fototerapi 2 x 24 jam Adit
Dx IV, V 4. Menyeka pasien
Dx IV 5. Melakukan perawatan tali pusat (tali pusat
kering dan berwarna kehitaman)
Dx I 16.00 6. Membedong pasien
Dx II, III 7. Menarik residu (residu kosong)
Dx II 8. Memberikan susu/TF susu neosure sebanyak
5 cc
Dx VI, VII 17.00 9. Melakukan baby show
Dx I 18.00 10. Melakukan TTV (Suhu : 37,2 C; HR : 152
x/menit; RR : 44 x/menit
Dx II, III 19.00 11. Menarik residu (residu kosong)
Dx II 12. Memberikan susu/TF susu neosure sebanyak
5 cc
20.00 13. Operan
20.00 1. Operan Deny
Dx II 2. Menarik residu (residu kosong) dan
Dx II, III 3. Memberikan susu/TF susu neosure 5 cc Ririn
Dx II 20.30 4. Mengisi buret dan menghitung tpm (9 tpm)
Dx IV 21.00 5. Melakukan injeksi cefotaxime 100 mg dan
gentamicin 6 mg serta aminophilin 4 mg
Dx II, III 24.00 6. Menarik residu (residu kosong)
Dx II 7. Memberikan susu/TF susu neosure 5 cc
Dx II, III 04.00 8. Menarik residu (residu kosong)
Dx II 9. Memberikan TF susu neosure 5 cc
Dx IV, V 05.00 10. Menyeka pasien
Dx IV 11. Melakukan perawatan tali pusat (tali pusat
kering berwarna kehitaman dan berbau khas)
Dx I 06.00 12. Membedong pasien
Dx II 13. Menimbang BB (BB=1655 gr )
Dx II, III 07.00 14. Menarik residu (residu kosong)
Dx II 15. Memberikan TF susu neosure 5 cc
16. Operan
26-12-2012
Dx I 07.30 1. Memberikan penyinaran lampu untuk Dian
memberikan penghangatan dan
Dx II 2. Menghitung kebutuhan cairan Adit
Kebutuhan cairan hari ke-6 140cc/kgBB/hari
BBL = 1740 gr 140 x 1,74 = 243,6 cc/hari
Pasien menjalani fototerapi cairan ditambah
20 x 1,74 = 34
TF 8 x 5 cc = 40
Dx II,III 243,6 + 34 - 40 = 237,6 cc parenteral
Dx II tpm infuse D10% 237,6 24 = 9,9 10 tpm
Dx II 3. Menarik residu (residu kosong)
Dx IV 4. Memberikan TF susu Neosure 5 cc
07.30 5. Mengisi buret dan menghitung tpm (10 tpm)
Dx VI, VII 09.00 6. Melakukan injeksi cefotaxime 100 mg dan
Dx II,III gentamycin 6 mg serta aminophilin 4 mg
Dx II 10.00 7. Melakukan baby show
Dx I 8. Menarik residu (residu kosong)
Dx II, III 9. Memberikan TF susu Neosure 5 cc
Dx II 11.00 Melakukan TTV (Suhu : 37,3 C, Hr :
13.00 152x/menit, RR : 46 x/menit)
10. Menarik residu (residu kosong)
14.00 11. Memberikan TF susu neosure 5 cc
12. Operan
14.00 1. Operan Deny
Dx II 2. Mengisi buret dan menghitung tpm dan
Dx IV, V 14.30 3. Menyeka pasien Ririn
Dx IV 4. Melakukan perawatan tali pusat (Tali pusat
Dx I kering, berwarna hitam dan berbau khas)
Dx V 16.00 5. Membedong pasien
Dx II, III 6. Menghentikan fototerapi dan cek bilirubin
Dx II 7. Menarik residu (residu kosong)
Dx VI, VII 17.00 8. Memberikan susu/TF susu neosure sebanyak
Dx I 18.00 5 cc
Dx II, III 19.00 9. Melakukan baby show Melakukan TTV
Dx II (Suhu : 36,3 C,Hr : 160 x/menit, RR : 48
20.00 x/menit)
10. Menarik residu (residu kosong)
11. Memberikan susu/TF susu neosure sebanyak
5 cc
12. Operan
20.00 1. Menarik residu (residu kosong) Eril dan
Dx II, III 2. Memberikan susu/TF susu neosure 5 cc Bismo
Dx II 3. Mengisi buret dan menghitung tpm
Dx II 20.30 4. Melakukan injeksi ceftadizime 100 mg dan
Dx IV 21.00 mikasin 25 mg
5. Menarik residu (residu kosong)
Dx II, III 22.00 6. Memberikan susu/TF susu neosure 5 cc
Dx II 7. Menarik residu (residu kosong)
Dx II, III 01.00 8. Memberikan TF susu neosure 5 cc
Dx II 9. Menarik residu (residu kosong)
Dx II, III 04.00 10. Memberikan TF susu neosure 5 cc
Dx II 05.00 11. Menyeka pasien
Dx IV, V 12. Menimbang BB (BB=1680 gr)
Dx IV 13. Melakukan perawatan tali pusat (Tali pusat
Dx I kering, tidak kemerahan dan berbau khas)
07.00 14. Membedong pasien
15. Operan
27-12-2012
Dx I 07.30 1. Memberikan penyinaran lampu untuk Dian
memberikan penghangatan dan
Dx II 2. Menghitung kebutuhan cairan Adit
Kebutuhan cairan hari ke-7 150cc/kgBB/hari
BBL = 1740 gr 150 x 1,74 = 261 cc/hari
Cairan ditambah 20 x 1.74 = 34
TF 12 x 5 cc = 60
261 + 34 - 60 = 235 cc parenteral
tpm infuse D10% 235 24 = 9,7 10 tpm
Dx II,III 08.00 3. Menarik residu (residu kosong)
Dx II 4. Memberikan TF susu neosure 5 cc
Dx II 5. Mengisi buret dan menghitung tpm (10 tpm)
Dx II, III 09.00 6. Melakukan injeksi Ceftadizime 100 mg dan
Dx II mikasin 25 mg
Dx IV 10.00 7. Melakukan baby show
8. Menarik residu (residu kosong)
Dx VI, VII 9. Memberikan TF susu neosure 5 cc
Dx II,III 11.00 10. Melakukan TTV (Suhu : 36,4 C, Hr : 146
Dx II 12.00 x/menit, RR : 56 x/menit)
Dx I 11. Menarik residu (residu kosong)
Dx II, III 14.00 12. Memberikan TF susu neosure 5 cc
Dx II 13. Menarik residu (residu kosong)
14.00 14. Memberikan TF susu neosure 5 cc
15. Operan
14.00 1. Operan Deny
Dx II 2. Mengisi buret dan menghitung tpm (10 tpm) dan
Dx IV, V 3. Menarik residu (residu kosong) Ririn
Dx IV 4. Memberikan susu/TF susu neosure sebanyak
Dx I 14.30 5 cc
Dx II, III 5. Menyeka pasien
Dx II 6. Melakukan perawatan tali pusat
Dx VI, VII 16.00 7. Membedong pasien
Dx I 8. Menarik residu (residu kosong)
Dx II, III 9. Memberikan susu/TF susu neosure sebanyak
Dx II 17.00 5 cc
18.00 10. Melakukan baby show
11. Melakukan TTV (Suhu : 36,5 C, Hr :
20.00 138x/menit, RR : 60 x/menit)
12. Menarik residu
13. Memberikan susu/TF sebanyak 5 cc
14. Operan
Dx II, III 20.00 1. Menarik residu (residu kosong) Eril dan
Dx II 2. Memberikan susu/TF susu neosure 5 cc Bismo
Dx II 3. Mengisi buret dan menghitung tpm (10 tpm)
Dx IV 20.30 4. Melakukan injeksi ceftadizime 100 mg dan
21.00 mikasin 25 mg
Dx II, III 22.00 5. Menarik residu (residu kosong)
Dx II 6. Memberikan susu/TF susu neosure 5 cc
Dx II, III 24.00 7. Menarik residu (residu kosong)
Dx II 8. Memberikan TF susu neosure 5 cc
Dx II, III 02.00 9. Menarik residu (residu kososng)
Dx II 10. Memberikan TF susu neosure 5 cc
D II, III 04.00 11. Menarik residu (residu kosong)
Dx II 12. Memberikan TF susu neosure 5 cc
Dx IV, V 05.00 13. Menyeka pasien
Dx II 14. Menimbang BB
Dx IV 15. Melakukan perawatan tali pusat (Tali pusat
Dx I kering, tidak kemerahan dan berbau khas)
07.00 16. Membedong pasien
17. Operan
28-12-2012
Dx I 07.30 1. Memberikan penyinaran lampu untuk Deny
memberikan penghangatan dan
Dx II 2. Menghitung kebutuhan cairan Ririn
Kebutuhan cairan hari ke-8 150cc/kgBB/hari
BBL = 1740 gr 150 x 1,74 = 261 cc/hari
TF 12 x 5 cc = 60
261 - 60 = 201 cc parenteral
tpm infuse D10% 201 24 = 8,3 8 tpm
Dx II,III 08.00 3. Menarik residu (residu kosong)
Dx II 4. Memberikan TF susu neosure 5 cc
Dx II 09.00 5. Mengisi buret dan menghitung tpm (8tpm)
Dx II, III 6. Menarik residu (residu kosong)
Dx II 10.00 7. Memberikan TF susu neosure 5 cc
Dx IV 8. Melakukan injeksi Ceftadizime 100 mg dan
mikasin 25 mg
Dx VI, VII 11.00 9. Melakukan baby show
Dx II,III 12.00 10. Menarik residu (residu kosong)
Dx II 11. Memberikan TF susu neosure 5 cc
Dx I 14.00 12. Melakukan TTV (Suhu : 36,4 C, Hr : 148
Dx II, III x/menit, RR : 58 x/menit)
Dx II 14.00 13. Menarik residu (residu kosong)
14. Memberikan TF susu neosure 5 cc
15. Menarik residu (residu kosong)
16. Memberikan TF susu neosure 5 cc
17. Operan
14.00 1. Operan Eril dan
Dx II 2. Mengisi buret dan menghitung tpm (8tpm) Bismo
Dx IV, V 3. Menarik residu (residu kosong)
Dx IV 4. Memberikan susu/TF susu neosure sebanyak
Dx I 14.30 5 cc
Dx II, III 5. Menyeka pasien
Dx II 6. Melakukan perawatan tali pusat (Tali pusat
Dx VI, VII 16.00 kering, tidak kemerahan dan berbau khas)
Dx I 7. Membedong pasien
Dx II, III 8. Menarik residu (residu kosong)
Dx II 17.00 9. Memberikan susu/TF susu neosure sebanyak
18.00 5 cc
10. Melakukan baby show
20.00 11. Melakukan TTV (Suhu : 36,4 C, Hr :
144x/menit, RR : 52 x/menit)
12. Menarik residu (residu kosong)
13. Memberikan susu/TF susu neosure sebanyak
5 cc
14. Operan
Dx II, III 20.00 1. Menarik residu (residu kosong) Dian
Dx II 2. Memberikan susu/TF susu neosure sebanyak dan
Dx II 5 cc Adit
Dx IV 20.30 3. Mengisi buret dan menghitung tpm (8tpm)
21.00 4. Melakukan injeksi ceftadizime 100 mg dan
Dx II, III 22.00 mikasin 25 mg
Dx II 5. Menarik residu (residu kosong)
Dx II, III 24.00 6. Memberikan susu/TF susu neosure 5 cc
Dx II 7. Menarik residu (residu kosong)
Dx II, III 02.00 8. Memberikan TF susu neosure sebanyak 5 cc
Dx II 9. Menarik residu (residu kosong)
D II, III 04.00 10. Memberikan TF susu neosure sebanyak 5 cc
Dx II 11. Menarik residu (residu kosong)
Dx IV, V 05.00 12. Memberikan TF susu neosure 5 cc
Dx II 13. Menyeka pasien
Dx IV 14. Menimbang BB
Dx I
07.00 15. Melakukan perawatan tali pusat (Tali pusat
kering, tidak kemerahan dan berbau khas)
16. Membedong pasien
17. Operan

EVALUASI
MASALAH
TGL/
KEP./ CATATAN PERKEMBANGAN PARAF
JAM
KOLABORATIF
Dx.1 24- S:- Deny,
12- O : - akral hangat, kulit Bismo,
2012 kering Adit,
- Suhu : 35,3 C Dian,
- HR : 125 x/menit Ririn,
- RR : 42 x/menit Eril
A : Hipotermi masih terjadi
P : lanjutkan intervensi
Dx.2
S:-
O : - puasa
- Klien tampak lemah
- Reflek hisap lemah
- Mukosa bibir kering
- Residu (+), 3 cc warna
hijau jernih
- Turgor kulit < 2 detik
- Penurunan BB 4 %
A: Nutrisi dan cairan kurang
dari kebutuhan tubuh
masih terjadi
P: lanjutkan intervensi
Dx.3

S:-
O : - klien muntah
- Pasien terpasang OGT
- Residu 3 cc
A : Risiko aspirasi belum
Dx.4 teratasi
P : Lanjutkan intervensi

S:-
O : - Suhu : 35,3 C
- Hr : 125 x/menit
- RR : 42 x/menit
- Tali pusat lembab,
warna kehitaman dan
berbau khas.
Dx.5 - BB 1655 gr.
A : Risiko tinggi infeksi
masih ada
P : Lanjutkan intervensi

S:-
O : kulit tipis, kering, tidak
ada
Dx.6 lesi. CRT < 2 detik.
Pasien di Inkubator
dengan suhu 34 C
A : Risiko kerusakan
intergritas
kulit teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi

Dx.7 S:-
O : ibu masih belum bisa
melihat
Bayinya, ibu di rumah,
Bayi diruang perin.
A : ketidakefektifan bonding
belum teratasi.
P : Lanjutkan intervensi

S:-
O : keluarga mengerti apa
yang
dijelaskan perawat.
Kontak mata positif
Keluarga tampak lebih
rileks.
A : ansietas keluarga
teratasi
P : lanjutkan Intervensi
Dx 1 25- S:- Eril
12- O : - akral hangat, kulit dan
2012 kering Bismo
/ - Suhu : 36,2 C
Pagi - Hr : 138 x/menit
- RR : 44 x/menit
A : Hipotermi masih terjadi
P : lanjutkan intervensi
Dx 2
S:-
O : - Klien tampak lemah
- Minum susu 6x5 cc
- Reflek hisap lemah
- Mukosa bibir kering
- Residu (-),
- Turgor kulit < 2 detik
- Penurunan BB 4 %
A: Nutrisi dan cairan kurang
dari kebutuhan tubuh
masih terjadi
P: lanjutkan intervensi
Dx 3

S:-
O : Klien tidak muntah,
tidak ada residu
A : Risiko aspirasi teratasi
sebagian
Dx 4 P : Lanjutkan intervensi

S:-
O : - Suhu : 36,2 C
- Hr : 138 x/menit
- RR : 44 x/menit
- Tali pusat kering, tidak
kemerahan dan berbau
khas.
- BB 1655 gr.
Dx 5 A : Risiko tinggi infeksi
masih ada
P : Lanjutkan intervensi

S:-
O : kulit tipis, kering, tidak
ada
lesi.CRT < 2 detik
Dx 6 kremer III, fototerapi (+)
A : Risiko kerusakan
intergritas
kulit teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi

S:-
O : ibu masih belum bisa
melihat
Bayinya, ibu dirumah,
Bayi diruang perin.
A : ketidakefektifan bonding
belum teratasi.
P : Lanjutkan intervensi
Dx 1 25- S:- Dian
12- O : - akral hangat, kulit dan
2012 kering Adit
Sore - Suhu : 37,2 C
- Hr : 152 x/menit
- RR : 44 x/menit
A : Hipotermi teratasi
sbagian
Dx 2 P : lanjutkan intervensi

S:-
O : - minum 6x5cc
- Klien tampak lemah
- Reflek hisap lemah
- Mukosa bibir kering
- Residu (-),
- Turgor kulit < 2 detik
- BB=1680 gram
A: Nutrisi dan cairan kurang
dari kebutuhan tubuh
Dx 3 masih terjadi
P: lanjutkan intervensi

S:-
O : klien tidak muntah.
A : Risiko aspirasi teratasi
Dx 4 sebagian
P : Lanjutkan intervensi

S:-
O : - Suhu : 36,3 C
- Tali pusat kering, tidak
kemerahan dan tdk
berbau.
Dx 5 - BB 1680 gr.
A : Resiko tinggi infeksi
masih ada
P : Lanjutkan intervensi

S:-
O : kulit tipis, kering, tidak
ada
Dx 6 lesi.CRT < 2 detik
,fototerapi (+)
A : Risiko kerusakan
intergritas
kulit teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi

S:-
O : ibu masih belum bisa
melihat
Bayinya, ibu dirumah,
Bayi diruang perin.
A : ketidakefektifan bonding
belum teratasi.
P : Lanjutkan intervensi
Dx.1 25- S:- Ririn
12- O : - akral hangat, kulit dan
2012 kering Deny
/ - Suhu : 37,2 C
Mala - Hr : 130 x/menit
m - RR : 52 x/menit
A : Hipotermi teratasi
sbagian
Dx.2 P : lanjutkan intervensi

S:-
O : - minum 6x5cc
- Klien tampak lemah
- Reflek hisap lemah
- Mukosa bibir kering
- Residu (+), 5 cc coklat
keruh
- Turgor kulit < 2 detik
- Penurunan BB 4 %

Dx.3 A: Nutrisi dan cairan kurang


dari kebutuhan tubuh
masih terjadi
P: lanjutkan intervensi

S:-
Dx.4 O : klien tidak muntah.
A : Risiko aspirasi teratasi
sebagian
P : Lanjutkan intervensi

S:-
O : - Suhu : 37,2 C
- Tali pusat kering, tidak
Dx.5 kemerahan dan berbau
khas.
- BB 1655 gr.
A : Resiko tinggi infeksi
masih ada
P : Lanjutkan intervensi

S:-
Dx.6 O : kulit tipis, kering, tidak
ada
lesi.CRT < 2 detik
kremer III, fototerapi
(+)
A : Risiko kerusakan
intergritas
kulit teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi

S:-
O : ibu masih belum bisa
melihat
bayinya, ibu di rumah,
Bayi diruang perin.
A : ketidakefektifan bonding
belum teratasi.
P : Lanjutkan intervensi
Dx 1 26- S:- Dian
12- O : - akral hangat, kulit dan
2012 kering Adit
/ - Suhu : 37,3 C
Pagi - Hr : 152 x/menit
- RR : 46 x/menit
A : Hipotermi tidak terjadi
P : lanjutkan intervensi
Dx 2
S:-
O : - minum ASI 8x5 cc
- Klien tampak lemah
- Reflek hisap lemah
- Mukosa bibir kering
- Tidak ada Residu
- Turgor kulit < 2 detik

A: Nutrisi dan cairan kurang


dari kebutuhan tubuh
masih terjadi
Dx 3 P: lanjutkan intervensi

S:-
O : klien tidak muntah.
A : Risiko aspirasi teratasi
sebagian
Dx 4 P : Lanjutkan intervensi

S:-
O : - Suhu : 37,3 C
- Hr : 152 x/menit
- RR : 46 x/menit
- Tali pusat kering, tidak
kemerahan dan berbau
khas.
A : Risiko tinggi infeksi
masih ada
Dx 5 P : Visite dokter yaitu
injeksi diganti ceftazidime
2x100 mg dan mikasin
1x25 mg.

S:-
O : kulit tipis, kering, tidak
ada
Dx 6 lesi.CRT < 2 detik
fototerapi (+)
A : Risiko kerusakan
intergritas
kulit teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi

S:-
O : ibu masih belum bisa
melihat
Bayinya, ibu di rumah,
Bayi diruang perin.
A : ketidakefektifan bonding
belum teratasi.
P : Lanjutkan intervensi
Dx.1 26- S:- Deny
12- O : - akral hangat, kulit dan
12/ kering Ririn
Sore - Suhu : 36,3 C
- Hr : 160 x/menit
- RR : 48 x/menit
A : Hipotermi teratasi
Dx.2 sbagian
P : lanjutkan intervensi
S:-
O : - minum 8x5cc
- Klien tampak lemah
- Reflek hisap lemah
- Mukosa bibir kering
- Residu (-),
- Turgor kulit < 2 detik
- BB=1680 gram
A: Nutrisi dan cairan kurang
dari kebutuhan tubuh
Dx.3 masih terjadi
P: lanjutkan intervensi

S:-
O : klien tidak muntah.
A : Risiko aspirasi teratasi
Dx.4 sebagian
P : Lanjutkan intervensi

S:-
O : - Suhu : 36,3 C
- Tali pusat kering, tidak
kemerahan dan tdk
berbau.
Dx.5 - BB 1680 gr.
A : Resiko tinggi infeksi
masih ada
P : Lanjutkan intervensi

S:-
O : kulit tipis, kering, tidak
ada
lesi.CRT < 2 detik
Dx.6 ,fototerapi dihentikan
jam
16.00
A : Risiko kerusakan
intergritas
kulit teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi

S:-
O : ibu masih belum bisa
melihat
Bayinya, ibu dirumah,
Bayi diruang perin.
A : ketidakefektifan bonding
belum teratasi.
P : Lanjutkan intervensi

Dx 1 26- S:- Eril


12- O : - akral hangat, kulit dan
2012 kering Bismo
/ - Suhu : 36,4 C
Mala - Hr : 160 x/menit
m - RR : 46 x/menit
A : Hipotermi teratasi
sbagian
Dx 2 P : lanjutkan intervensi

S:-
O : - minum 12x5cc
- Klien tampak lemah
- Reflek hisap lemah
- Mukosa bibir kering
- Turgor kulit < 2 detik
A: Nutrisi dan cairan kurang
dari kebutuhan tubuh
Dx 3 masih terjadi
P: lanjutkan intervensi

S:-
O : klien tidak muntah.
A : Risiko aspirasi teratasi
Dx 4 sebagian
P : Lanjutkan intervensi

S:-
O : - Suhu : 36,4 C
- Tali pusat kering, tidak
kemerahan dan berbau
Dx 5 khas.
A : Resiko tinggi infeksi
masih ada
P : Lanjutkan intervensi

S:-
O : kulit tipis, kering, tidak
ada
Dx 6 lesi.CRT < 2 detik
fototerapi (+)
A : Risiko kerusakan
intergritas
kulit teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi

S:-
O : ibu masih belum bisa
melihat
Bayinya, ibu di rumah,
Bayi diruang perin.
A : ketidakefektifan bonding
belum teratasi.
P : Lanjutkan intervensi
Dx 1 27- S:- Dian
12- O : - akral hangat, kulit dan
2012 kering Adit
/ - Suhu : 36,4 C
Pagi - Hr : 146 x/menit
- RR : 56 x/menit
A : Hipotermi tidak terjadi
P : lanjutkan intervensi
Dx 2
S:-
O : - minum ASI 12x5 cc
- Klien tampak lemah
- Reflek hisap lemah
- Mukosa bibir kering
- Tidak ada Residu
- Turgor kulit < 2 detik
A: Nutrisi dan cairan kurang
dari kebutuhan tubuh
teratasi sebagian
Dx 3 P: lanjutkan intervensi

S:-
O : klien tidak muntah.
A : Risiko aspirasi teratasi
sebagian
Dx 4 P : Lanjutkan intervensi

S:-
O : - Suhu : 37,3 C
- Hr : 152 x/menit
- RR : 46 x/menit
- Tali pusat kering, tidak
kemerahan dan berbau
khas.
- Timbul ptekie
Dx 5 A : Risiko tinggi infeksi
masih ada
P : Intervensi dilanjutkan

S:-
O : kulit tipis, kering, tidak
ada
lesi.CRT < 2 detik
Dx 6 fototerapi (+)
A : Risiko kerusakan
intergritas
kulit teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi

S:-
O : ibu masih belum bisa
melihat
Bayinya, ibu di rumah,
Bayi diruang perin.
A : ketidakefektifan bonding
belum teratasi.
P : Lanjutkan intervensi
Dx.1 27- S:- Deny
12- O : - akral hangat, kulit dan
12/ kering Ririn
Sore - Suhu : 36,5 C
- Hr : 138 x/menit
- RR : 60 x/menit
A : Hipotermi teratasi
sebagian
P : lanjutkan intervensi
Dx.2

S:-
O : - minum 12x5cc
- Klien tampak lemah
- Reflek hisap lemah
- Mukosa bibir kering
- Residu (-),
- Turgor kulit < 2 detik
- Penurunan BB 3 %
A: Nutrisi dan cairan kurang
dari kebutuhan tubuh
Dx.3 masih terjadi
P: lanjutkan intervensi

S:-
O : klien tidak muntah.
A : Risiko aspirasi teratasi
Dx.4 P : Lanjutkan intervensi

S:-
O : - Suhu : 36,5C
- Tali pusat kering, tidak
kemerahan dan berbau
khas.
Dx.5 - BB 1680 gr.
A : Resiko tinggi infeksi
masih ada
P : Lanjutkan intervensi

S:-
O : kulit tipis, kering, tidak
ada
lesi.CRT < 2 detik
bilirubin derek = 0,66
Dx.6 bilirubin total = 11.50,
lanjutkan fototerapi (+)
A : Risiko kerusakan
intergritas
kulit teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi

S:-
O : ibu masih belum bisa
melihat
Bayinya, ibu dirumah,
Bayi diruang perin.
A : ketidakefektifan bonding
belum teratasi.
P : Lanjutkan intervensi
Dx 1 27- S:- Eril
12- O : - akral hangat, kulit dan
2012 kering Bismo
/ - Suhu : 36,7 C
Mala - Hr : 150 x/menit
m - RR : 44 x/menit
A : Hipotermi teratasi
sebagian
Dx 2 P : lanjutkan intervensi

S:-
O : - minum 12x5cc ASI per
sonde
- Klien tampak lemah
- Reflek hisap lemah
- Mukosa bibir kering
- Turgor kulit < 2 detik
A: Nutrisi dan cairan kurang
Dx 3 dari kebutuhan tubuh
masih terjadi
P: lanjutkan intervensi

S:-
O : klien tidak muntah.
Dx 4 A : Risiko aspirasi teratasi
sebagian
P : Lanjutkan intervensi

S:-
O : - Suhu : 36,7 C
- Tali pusat kering, tidak
Dx 5 kemerahan dan berbau
khas.
A : Resiko tinggi infeksi
masih ada
P : Lanjutkan intervensi

S:-
O : kulit tipis, kering, tidak
ada
Dx 6 lesi.CRT < 2 detik
fototerapi (+), ptekie
masih ada
A : Risiko kerusakan
intergritas
kulit teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi

S:-
O : ibu masih belum bisa
melihat
Bayinya, ibu di rumah,
Bayi diruang perin.
A : ketidakefektifan bonding
belum teratasi.
P : Lanjutkan intervensi
Dx.1 28- S:- Deny
12- O : - akral hangat, kulit dan
12/ kering Ririn
Pagi - Suhu : 36,4 C
- Hr : 148 x/menit
- RR : 58 x/menit
A : Hipotermi teratasi
sebagian
Dx.2 P : lanjutkan intervensi

S:-
O : - minum 12x5cc
- Klien tampak lemah
- Reflek hisap lemah
- Mukosa bibir kering
- Residu (-),
- Turgor kulit < 2 detik
- Penurunan BB 3 %
A: Nutrisi dan cairan kurang
dari kebutuhan tubuh
Dx.4 masih terjadi
P: lanjutkan intervensi

S:-
O : - Suhu : 36,4 C
- Tali pusat kering, tidak
kemerahan dan berbau
khas.
Dx.5 - BB 1680 gr.
A : Resiko tinggi infeksi
masih ada
P : Lanjutkan intervensi

S:-
O : kulit tipis, kering, tidak
ada
lesi.CRT < 2 detik
bilirubin derek = 0,66
bilirubin total = 11.50,
lanjutkan fototerapi (+)
Dx.6 sampai
tgl 29 jam 08.00 WIB.
A : Risiko kerusakan
intergritas
kulit teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi

S:-
O : ibu masih belum bisa
melihat
Bayinya, ibu dirumah,
Bayi diruang perin.
A : ketidakefektifan bonding
belum teratasi.
P : Lanjutkan intervensi
Dx 1 28- S:- Eril
12- O : - akral hangat, kulit dan
2012 kering Bismo
/ - Suhu : 36,4 C
Sore - Hr : 144 x/menit
- RR : 52 x/menit
A : Hipotermi masih terjadi
P : lanjutkan intervensi
Dx 2
S:-
O : - minum 12x5cc
- Klien tampak lemah
- Reflek hisap lemah
- Mukosa bibir kering
- Residu (-),
- Turgor kulit < 2 detik
- Penurunan BB 3 %
A: Nutrisi dan cairan kurang
dari kebutuhan tubuh
masih terjadi
Dx 3 P: lanjutkan intervensi

S:-
O : klien tidak muntah.
A : Risiko aspirasi teratasi
Dx 4 P : hentikan intervensi

S:-
O : - Suhu : 36,5 C
- Tali pusat kering, tidak
kemerahan dan berbau
khas.
Dx 5 A : Resiko tinggi infeksi
masih ada
P : Lanjutkan intervensi

S:-
O : kulit tipis, kering, tidak
ada
lesi.CRT < 2 detik
Dx 6 fototerapi (+), ptekie
masih ada
A : Risiko kerusakan
intergritas
kulit teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi

S:-
Dx 7 O : ibu masih belum bisa
melihat
Bayinya, ibu dirumah,
Bayi diruang perin.
A : ketidakefektifan bonding
belum teratasi.
P : Lanjutkan intervensi

S : keluarga bertanya
mengenai kondisi anaknya
O : keluarga mengerti apa
yang
dijelaskan perawat.
A : ansietas keluarga
teratasi
P : lanjutkan Intervensi
Dx 1 28- S:- Dian
12- O : - akral hangat, kulit dan
2012 kering Adit
/ - Suhu : 36,4 C
Mala - Hr : 132 x/menit
m - RR : 46 x/menit
A : Hipotermi masih terjadi
P : lanjutkan intervensi
Dx 2
S:-
O : - minum 12x5cc
- Klien tampak lemah
- Reflek hisap lemah
- Mukosa bibir kering
- Residu (-),
- Turgor kulit < 2 detik
- Penurunan BB 3 %
A: Nutrisi dan cairan kurang
dari kebutuhan tubuh
masih terjadi
Dx 3 P: lanjutkan intervensi

S:-
O : klien tidak muntah.
A : Risiko aspirasi teratasi
P : hentikan intervensi
Dx 4

S:-
O : - Suhu : 36,5 C
- Tali pusat kering, tidak
kemerahan dan berbau
khas.
Dx 5 A : Resiko tinggi infeksi
masih ada
P : Lanjutkan intervensi

S:-
O : kulit tipis, kering, tidak
ada
lesi.CRT < 2 detik
Dx 6 fototerapi (+), ptekie
masih ada
A : Risiko kerusakan
intergritas
kulit teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi

S:-
Dx 7 O : ibu masih belum bisa
melihat
Bayinya, ibu dirumah,
Bayi diruang perin.
A : ketidakefektifan bonding
belum teratasi.
P : Lanjutkan intervensi

S : keluarga bertanya
mengenai kondisi anaknya
O : keluarga mengerti apa
yang
dijelaskan perawat.
A : ansietas keluarga
teratasi
P : lanjutkan Intervensi

BAB III
PEMBAHASAN

Keadaan sehat ataupun sakit dapat terjadi pada siapa saja tidak
mengenal umur, pangkat maupun golongan. Asuhan keperawatan pada
bayi berat lahir rendah merupakan salah satu bidang garapan perawat
yang boleh dikatakan wajib di ruang perinatologi RSD dr. Soebandi
Jember. Mengingat jumlah pasien baik pasien dalam maupun pasien
rujukan dengan kasus BBLR atau komplikasinya cukup banyak. Namun
sayangnya besarnya angka ini tidak diimbangi dengan besarnya
pengertian orang tua terhadap perlunya penanganan khusus bayi
dengan berat lahir rendah ini.

Bayi ny. R merupakan salah satu bayi yang dikategorikan BBLSR dengan
berat lahir 1740 gr. Lahir di RSD dr. Soebandi dengan cara sc dan di
diagnosa gemeli, KMK. Berdasarkan pengkajian dan analisa data pada
tanggal 24 desember 2012, maka muncul masalah keperawatan
diantaranya hipotermi, nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, risiko
aspirasi, risiko tinggi infeksi, kerusakan intregritas kulit, ketidakefektifan
bonding dan ansietas keluarga.

Pengkajian pada By Ny. R dilakukan pada tanggal 24-12-2012 (08.00)


yaitu pada saat By Ny. R telah memasuki usia hari ke 4. Pada saat
pengkajian ini dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital, hasilnya
didapat yaitu : suhu : 35,3C; N :125x/menit; RR:24x/menit, BBL: 1740
gram BBS: 1655 gram dari pengukuran suhu tersebut didapatkan bahwa
bayi Ny. Risiko mengalami hipotermi. Maka tindakan yang dilakukan
adalah menempatkan bayi dalam inkubator, mengganti popok yang
basah, selalu mengobsevasi suhu klien, mengajarkan teknik KMC
(Kangaroo Mother Care) pada orang tua pasien. Dari satu hari intervensi
pada By Ny.R, maka evaluasi yang dihasilkan hanya berupa evaluasi
proses. Namun sejauh ini intervensi menghasilkan beberapa kemajuan
yaitu suhu pada bayi Ny R. mengalami peningkatan suhu yaitu 37,2 C.
Maka masalah keperawatan hipotermi dikatakan teratasi tetapi masih
perlu diobservasi lebih lanjut karena pada kasus BBLR masih rentan
dalam penurunan suhu tubuh.
Menurut Pemberian nutrisi bayi berat lahir rendah (BBLR) tidak sama dengan pemberian
pada bayi cukup bulan, hal ini karena kematangan fungsi saluran cerna, enzim serta
kemampuan pengosongan lambung yang berbeda dengan bayi cukup bulan. Kebutuhan
nutrisi BBLR merupakan kebutuhan yang paling besar dibandingkan kebutuhan masa
manapun dalam kehidupan. Kebutuhan ini mutlak untuk kelangsungan hidup serta tumbuh
kembang yang optimal. Belum ada standar kebutuhan nutrien yang disusun secara tepat
untuk BBLR sebanding dengan air susu ibu (ASI). Rekomendasi yang ada bertujuan agar
kebutuhan nutrien dipenuhi mendekati kecepatan tumbuh dan komposisi tubuh janin
normal sesuai masa gestasi serta mempertahankan kadar normal nutrient dalam darah dan
jaringan tubuh. Pemilihan jenis nutrisi sangat penting dan ASI tetap merupakan piihan
utama karena berbagai keunggulannya. Formula prematur terus disempurnakan agar
menyerupai komposisi nutrien ASI dengan menambah glutamate dan nukleotida.

Masalah nutrisi merupakan salah satu dari beberapa masalah serius pada bayi berat lahir
rendah (BBLR). Hal ini sangat erat berkaitan dengan berbagai kondisi ataupun komplikasi
pada berbagai sistem atau organ tubuh seperti saluran nafas, susunan saraf pusat, saluran
cerna, hati, ginjal, dan lainnya. Di satu pihak nutrisi merupakan kebutuhan mutlak untuk
kelangsungan hidup serta tumbuh kembang yang optimal ataupun pencegahan komplikasi,
namun di pihak lain nutrisi dapat mengakibatkan timbulnya komplikasi. Selain itu, terdapat
yang bervariasi kondisi pada BBLR berdasarkan masa gestasi maupun berat lahir; sehingga
tata laksana medis maupun nutrisi BBLR lebih bersifat individual. Permasalahan nutrisi
khusus pada BBLR adalah rendahnya cadangan nutrisi, imaturitas fungsi organ, potensial
untuk pertumbuhan cepat, serta berisiko tinggi untuk terjadinya morbiditas.

Saluran cerna merupakan organ pertama yang berhubungan dengan proses digesti dan
absorpsi makanan. Ketersediaan enzim pencernaan baik untuk karbohidrat, protein,
maupun lemak sangat berkaitan dengan masa gestasi. Umumnya pada neonatus cukup
bulan (NCB) enzim pencernaan sudah mencukupi kecuali laktase dan diperkirakan sekitar
25% NCB sampai usia 1 minggu menunjukkan intoleransi laktosa. Aktivitas enzim sukrase
dan Iaktase Iebih rendah pada BBLR dan sukrase Iebih cepat meningkat daripada laktase.
Di samping masalah enzim, kemampuan pengosongan lambung (gastric emptying time)
Iebih lambat pada bayi BBLR dari pada bayi cukup bulan. Demikian pula fungsi mengisap
dan menelan (suck and swallow) masih belum sempurna, terlebih bila bayi dengan masa
gestasi kurang dari 34 minggu. Toleransi terhadap osmolaritas formula yang diberikan
masih rendah, sehingga kemungkinan terjadinya komplikasi seperti NEC (neoritising
enterocolitis) ataupun diare Iebih besar.
Pengkajian pada By Ny. R dilakukan pada tanggal 24-12-2012 (08.00) yaitu pada saat By
Ny. R telah memasuki usia hari ke 4. Pada saat pengkajian ini dilakukan pemeriksaan
tanda-tanda vital, hasilnya didapat yaitu : suhu : 35,3C; N :125x/menit; RR:24x/menit,
BBL: 1740 gram BBS: 1655 gram dan pasien juga mengalami muntah hijau yang cukup
banyak, sehingga dari data tersebut dapat diangkat sebuah masalah keperawatan yaitu
perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Hal tersebut dapat diakibatkan karena
adanya prematuritas dari bayi yang menyebabkan bayi mengalami penurunan daya cerna.
Akibatnya pasien dipasang OGT dan dipuasakan. Namun keesokan harinya pasien sudah
mulai dicoba untuk TF 6 x 5 cc sehingga seiring berjalnnya waktu topical feeding mulai
dinaikkan secara bertahap.

Pengkajian pada By Ny. R dilakukan pada tanggal 24-12-2012 (08.00)


yaitu pada saat By Ny. R telah memasuki usia hari ke 4. Risiko infeksi
terhadap kerentanan terhadap infeksi nosokomial karena klien pada saat
pengkajian tali pusat klien belum lepas, klien terpasang OGT dan
didapatkan residu keruh sebanyak 5 cc, Tanda infeksi 5B= (-),
mengobservasi TTV: suhu:35,3C, N :125x/menit, RR:24x, BBL: 1740
gram BBS: 1655 gram, Intervensi keperawatan dilaksanakan pada
diagnosa ini pertama kali pada tanggal 24 desember 2012 adalah
Melakukan monitor tanda-tanda infeksi. Menghindari seminimal mungkin
kontak yang tidak perlu dengan bayi, Mencuci tangan sebelum dan
sesudah kontak dengan bayi, Melakukan teknik septik-aseptik setiap
pemberian prosedur invasif pada bayi, Makukan perawatan tali pusat
minimal 2x/hari, dan kolaborasikan pemberian inj. Cefotaxime 2 X 100
mg dan gentamicyn 1 x 8 mg. Pada hari rabu tanggal 26-12-2012
antibiotik ceftazidin 2 x 100 mg dan Mikasin 1 x 25 mg. Setelah
dilakukan intervensi tersebut Suhunya : 36,4 C, Tali pusat kering, tidak
kemerahan dan berbau khas, BB 1680 gr. Sehingga Risiko tinggi infeksi
masih ada sehingga perencanaan melanjutkan intervensi. Dari satu hari
intervensi pada By Ny.R, maka evaluasi yang dihasilkan hanya berupa
evaluasi proses. Namun sejauh ini intervensi menghasilkan beberapa
kemajuan yaitu meminimalisis adanya infeksi lanjutan yang lebih lanjut.

Pengkajian pada By Ny. R dilakukan pada tanggal 24-12-2012 (08.00)


yaitu pada saat By Ny. R telah memasuki usia hari ke 4. Risiko kerusakan
integritas kulit pada saat pengkajian klien tidak ada masalah akan tetapi
pada saat sore hari klien fototerapian. Didapatkan klien kremer 3, TTV:
suhu:35,3C,N :125x/menit,RR:24x, BBL: 1740 gram BBS: 1655 gram,
Intervensi keperawatan dilaksanakan pada diagnosa ini pertama kali
pada tanggal 24 desember 2012 adalah mengkaji warna dan keadaan
kulit bayi setiap 4-8 jam, mengbah posisi tiap 4 jam, lakukan massase,
memonitor keadaan bilirubin direk dan indirek, menjaga kebersihan dan
kelembaban kulit bayi, setelah dilakukan intervensi tersebut didapatkan
evaluasi kulit tipis, kering, tidak ada lesi, CRT < 2 : detik, bilirubin derek
= 0,66 mg/dl,bilirubin total = 11.50 mg/dl, lanjutkan fototerapi (+)
sampai tgl 29 jam 08.00 WIB, setelah dilakukan pelaksanan didapatkan
analisa risiko kerusakan intergritas kulit teratasi sebagian sehingga
planningnya melanjutkan intervensi. Dari satu hari intervensi pada By
Ny.R, maka evaluasi yang dihasilkan hanya berupa evaluasi proses.
Namun sejauh ini intervensi menghasilkan beberapa kemajuan yaitu
meminimalisir kerusakan intergritas kulit yang lebih lanjut.

Dari serangkaian kebutuhan dasar yang diperlukan bayi terkadang kita


melupakan akan kebutuhan keluarga yang dapat berakibat masalah
jangka panjang yang akan muncul pada bayi, salah satunya tumbuh
kembang, maka dari itu kita perlu memperhatikan peran keluarga untuk
memberi bekal agar bayinya mendapat kesejahteraan yang maksimal,
keadaan ini perlu mendapat dukungan dari ibu, ayah dan keluarga
namun keadaan ini berbeda dengan yang dialami bayi ny R, setelah
lahir dia ditempatkan di ruang perawatan bayi (perinatologi) sedangkan
ibunya di ruang nifas. Hal ini menyebabkan terputusnya komunikasi dan
emosional ibu terhadap bayinya, ibu tampak tidak menjenguk banyinya,
ibu juga tidak menghadiri pojok laktasi. Maka dari hal tersebut kami
mengangkat masalah ketidakefektifan bonding yang berhubungan
dengan pemisahan ibu dan anak, hasil yang kami harapkan yakni ibu
mengunjungi anaknya saat baby show dan ibu datang untuk menyusui
ASI pada anaknya. Menurut Wong (1998) memberikan arti Bonding
menggambarkan suatu perkembangan ikatan emosional dari orang tua
kepada bayi dan Attachment menggambarkan suatu perkembangan
ikatan emosional dari bayi kepada orangtuanya. Menurut penulis
bonding attachment yang diperlukan adalah mendekatkan ibu dengan
bayi dengan memberi sentuhan, ciuman, suara/panggilan agar bayi
lebih mengenali dan dapat beradaptasi dengan keadaan yang baru
namun sebelumnya kondisi demikian harus di tunjang dengan keadaan
emosional ibu baik secara fisik maupun psikis serta kemampuan ibu
dalam memberi perawatan kepada anaknya. Hasil yang didapat setelah
dilakukan pemberian informasi dan pendidikan pada tanggal 24-12-2012
jam 09.00 kesehatan ibu bayi masih belum sehat sehingga tidak dapat
menemui bayi, serta kondisi yang jauh dari rumah sakit mengakibatkan
ibu enggan untuk menjenguk anaknya. Tercatat hanya 1 kali ibu
mengunjungi bayinya dan memberi ASI yakni pada tanggal 28-12-2012
jam 17.00. Dari hasil kemajuan yang didapat dapat disimpulkan bahwa
masih kurangnya kepedulian ibu by Ny R dalam memberikan dukungan
kesehatan secara internal dari dalam diri ibu, maka dari itu perlu
kerjasama yang kuat antara ibu, suami, keluarga, petugas kesehatan
agar dapat mendukung kesehatan bayi yang maksimal.

Pengkajian pada By Ny. R dilakukan pada tanggal 24-12-2012 (08.00)


yaitu pada saat By Ny. R telah memasuki usia hari ke 4. Data yang
didapat selain dari bayi juga ada data yang dari keluarga yang
menunjukan adanya kecemasan pada anggota keluarga, sehingga kami
mengambil diagnosa ansietas keluarga yang berhubungan dengan
ketidak tahuan tentang kondisi kesehatan anaknya yang ditandai
dengan keluarga sering bertanya keadaan anaknya. Intervensi
keperawatan dilaksanakan pada diagnosa ini pertama kali pada tanggal
24 desember 2012 adalah dengan cara membina hubungan saling
percaya, memberikan kesempatan keluarga untuk mengungkapkan
perasaannya atas ke khawatirannya terhadap anaknya setelah itu kita
memberikan penjelasan tentang kondisi kesehatan bayinya,
memberikan informasi jadwal kunjungan besuk agar keluarga bisa
melihat bayinya. Setelah dilakukan intervensi tersebut keluarga tampak
lebih rilek dan tenang karena telah mengetahui kondisi kesehatan
bayinya. Setelah itu dilakukan pendokumentasian baik di lembar asuhan
keperawatan penulis maupun di lembar asuhan keperawatan ruangan
karena selama ujian ini penulis diberi kewenangan penuh untuk
mengelola pasen tersebut, sehingga segala perencanaan pasien,
intervensi, hingga pendokumentasiannya dilakukan secara mandiri oleh
penulis.

Pengkajian pada By Ny. R dilakukan pada tanggal 24-12-2012 (08.00)


yaitu pada saat By Ny. R telah memasuki usia hari ke 4. Data yang
didapat selain dari bayi juga ada data yang dari keluarga yang
menunjukan adanya kecemasan pada anggota keluarga, sehingga kami
mengambil diagnosa ansietas keluarga yang berhubungan dengan
ketidaktahuan tentang kondisi kesehatan anaknya yang ditandai dengan
keluarga sering bertanya keadaan anaknya. Intervensi keperawatan
dilaksanakan pada diagnosa ini pertama kali pada tanggal 24 desember
2012 adalah dengan cara membina hubungan saling percaya,
memberikan kesempatan keluarga untuk mengungkapkan perasaannya
atas ke khawatirannya terhadap anaknya setelah itu kita memberikan
penjelasan tentang kondisi kesehatan bayinya, memberikan informasi
jadwal kunjungan besuk agar keluarga bisa melihat bayinya. Setelah
dilakukan intervensi tersebut keluarga tampak lebih rilek dan tenang
karena telah mengetahui kondisi kesehatan bayinya. Setelah itu
dilakukan pendokumentasian baik di lembar asuhan keperawatan
penulis maupun di lembar asuhan keperawatan ruangan karena selama
ujian ini penulis diberi kewenangan penuh untuk mengelola pasen
tersebut, sehingga segala perencanaan pasien, intervensi, hingga
pendokumentasiannya dilakukan secara mandiri oleh penulis.