Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN KMB III

TRAUMA SISTEM PERKEMIHAN

(RUPTUR GINJAL,URETRA,KANDUNG KEMIH,URETER)

OLEH:

1. ERVITA EKA H. (10.059)


2. LIA PUTRI W. (10.066)
3. MEILIA SUSANTI (10.072)
4. SITI MAHMUDAH (10.084)
5. SITI NUR AISYAH (10.085)

AKADEMI KEPERAWATAN DIAN HUSADA MOJOKERTO

2011
LAPORAN PENDAHULUAN TRAUMA SISTEM PERKEMIHAN
Pendahuluan

Saluran kemih (termasuk ginjal, ureter, kandung kemih dan uretra) dapat mengalami
trauma karena luka tembus (tusuk), trauma tumpul, terapi penyinaran maupun
pembedahan. Gejala yang paling banyak ditemukan adalah terdapatnya darah di urin
(hematuria), berkurangnya proses berkemih dan nyeri.

Beberapa trauma dapat menyebabkan nyeri tumpul, pembengkakan, memar, dan jika
cukup berat, dapat menurunkan tekanan darah (syok).

RUPTUR GINJAL
Trauma ginja merupakan trauma pada system urologi yang paling sering terjad. Kejadian penyakit
ini sekitar 8-10% dengan trauma tumpul atau trauma abdominal. Pada banyak kasus trauma ginjal
selalu dibarengi dengan organ penting lainnya. Pada trauma ginjal akan menmenimbulkan rupture
berupa perubahan organic pada jaringannya. Cedera ringan menyebabkan hematuria yang hanya
dapat diketahui dengan pemeriksaan mikroskopis cedera berat bisa menyebabkan hematuria yang
tampak sebagai air kemih yang berwarna kemerahan. Jika ginjal mengalami luka berat, bisa terjadi
perdarahan hebat dan air kemih bisa merembes ke jaringan di sekitarnya. Jika ginjal sampai
terpisah dari tangkainya yang mengandung vena dan arteri, maka bisa terjadi perdarahan hebat,
syok dan kematian.

Manefestasi Klinis

Akibat trauma tumpul dapat ditemukan jejas di daerah lumbal

Pada trauma tajam tampak luka.

Pada palpasi di dapat nyeri tekan

ketegangan otot pinggang, sedangkan massa jarang teraba

Massa yang cepat meluas sering ditandai tanda kehilangan darah yang banyak merupakan
tanda cedera vaskuler

Nyeri abdomen pada daerah pinggang atau perut bagian atas

Fraktur tulang iga terbawah sering menyertai cedera ginjal.

Hematuria makroskopik atau mikroskopik merupakan tanda utama cedera saluran kemih.

Klasifikasi

Klasifikasi trauma ginjal manurut Sargeant dan Marquadt yang dimodifikasi oleh Federle :

a) Grade I Lesi meliputi :


Kontusi ginjal
Minor laserasi korteks dan medulla tanpa gangguan pada sistem pelviocalices
Hematom minor dari subcapsular atau perinefron (kadang kadang)
75 80 % dari keseluruhan trauma ginjal

b) Grade II Lesi meliputi:


Laserasi parenkim yang berhubungan dengan tubulus kolektivus sehingga terjadi
extravasasi urine
Sering terjadi hematom perinefron
Luka yang terjadi biasanya dalam dan meluas sampai ke medulla 10 15 % dari
keseluruhan trauma ginjal

c) Grade III Lesi meliputi:


Ginjal yang hancur
Trauma pada vaskularisasi pedikel ginjal 5 % dari keseluruhan trauma ginjal

d) Grade IV Meliputi lesi yang jarang terjadi yaitu:


Avulsi pada ureteropelvic junction
Laserasi dari pelvis renal

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan adalah urinalisis. Pada pemeriksaan ini
diperhatikan kekeruhan, warna, pH urin, protein, glukosa dan sel-sel

Pemeriksaan radiologi dapat dilakukan dengan cara Traktus Urinarius. Cara-cara


pemeriksaan traktus urinarius dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu: foto polos
abdomen, pielografi intravena, urografi retrograde, arteriografi translumbal, angiografi
renal, tomografi, sistografi, computed tomography (CT-Scan), dan nuclear Magnetic
resonance (NMR).

Penatalaksanaan

Analgesik dibutuhkan untuk mengurangi rasa sakit

Hospitalisasi dan observasi

Perdarahan yang cukup berat membutuhkan pembedahan keseluruhan ginjal (nefroktomi)

Pengobatan non-bedah termasuk istirahat selama 1-2 minggu atau selama perdarahan
berkurang, adanya nyeri, dan observasi tertutup dan penanganan gejala-gejala dari gagal
ginjal. Pengobatan ini juga harus diimbangi dengan retriksi diet dan penanganan gagal
ginjal.

TRAUMA URETER
Lokasi ureter berada jauh di dalam rongga abdomen dan dilindungi oleh tulang dan otot, sehingga
cidera ureter karena trauma tidak umum terjadi. Cidera pada ureter kebanyakan terjadi karena
pembedahan. Perforasi dapat terjadi karena insersi intraureteral kateter atau instrumen medis
lainnya. Luka tusuk dan tembak juga dapat juga membuat ureter mengalami trauma. Dan meskipun
tidak umum, tumbukan atau decelerasi tiba-tiba seperti pada kecelakaan mobil dapat merusak
struktur ureter. Tindakan kateterisasi ureter yang menembus dinding ureter atau pemasukan zat
asam atau alkali yang terlalu keras dapat juga menimbulkan trauma ureter.

Trauma ini kadang tidak ditemukan sebelum manifestasi klinik muncul. Hematuria dapat terjadi,
tapi indikasi umum adalah nyeri pinggang atau manifestasi ekstravasasi urine. Saat urine merembes
masuk ke jaringan, nyeri dapat terjadi pada abdomen bagian bawah dan pinggang. Jika ekstravasasi
berlanjut, mungkin terjadi sepsis, ileus paralitik, adanya massa intraperitoneal yang dapat diraba,
dan adanya urine pada luka terbuka. IVP dan ultrasound diperlukan untuk mendiagnose trauma
ureter ini. Pembedahan merupakan tindakan utama untuk memperbaiki kerusakan, mungkin dengan
membuat anastomosis. Kadang-kadang prosedur radikal seperti uterostomy cutaneus,
transureterotomy, dan reimplantasi mungkin dilakukan.
Sebagian besar trauma ureter (saluran dari ginjal yang menuju ke kandung kemih) terjadi selama
pembedahan organ panggul atau perut, seperti histerektomi, reseksi kolon atau uteroskopi.
Seringkali terjadi kebocoran air kemih dari luka yang terbentuk atau berkurangnya produksi air
kemih. Penyebab trauma ureter lainnya yaitu luka tembak atau tusuk

Tanda dan gejala

Gejala biasanya tidak spesifik dan bisa timbul demam atau nyeri. Pada umumnya tanda dan gejala
klinik umumnya tidak spesifik yaitu :
- Hematuria menunjukkan cedera pada saluran kemih.
- Bila terjadi ekstravasasi urin dapat timbul urinom pada pinggang atau abdomen, fistel uretero-
kutan melalui luka atau tanda rangsang peritoneum bils urin masuk ke rongga intraperitoneal.
- Pada cedera ureter bilateral ditemukan anuria.

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan diagnostik yang biasanya dilakukan adalah :

urografi intravena

CT scan dan

urografi retrograd

Penatalaksanaan

Ureter bisa disambungkan kembali ke tempat asalnya atau di bagian kandung kemih yang
lainnya.Pada trauma yang tidak terlalu berat, dipasang kateter ke dalam ureter dan dibiarkan selama
2-6 minggu sehingga tidak perlu dilakukan pembedahan. Pengobatan terbaik untuk trauma ureter
akibat luka tembak atau luka tusuk adalah pembedahan.

TRAUMA URETRA
Uretra, sama seperti bladder, dapat mengalami cidera/trauma karena fraktur pelvic. Terjatuh
dengan benda membentur selangkangan (stradle injury) dapat menyebabkan contusio dan laserasi
pada uretra. Misalnya saat jatuh dari sepeda. Trauma dapat juga terjadi saat intervensi bedah. Luka
tusuk dapat pula menyebabkan kerusakan pada uretra.

Kerusakan uretra ini diindikasikan bila pasien tidak mampu berkemih, penurunan pancaran urine,
atau adanya darah pada meatus. Karena kerusakan uretra, saat urine melewati uretra, proses
berkemih dapat menyebabkan ekstravasasi saluran urine yang menimbulkan pembengkakan pada
scrotum atau area inguinal yang mana akan menyebabkan sepsis dan nekrosis. Darah mungkin
keluar dari meatus dan mengekstravasasi jaringan sekitarnya sehingga menyebabkan ekimosis.
Komplikasi dari trauma uretra adalah terjadinya striktur uretra dan resiko impotent. Impotensi
terjadi karena corpora kavernosa penis, pembuluh darah, dan suplay syaraf pada area ini
mengalami kerusakan.

Tanda dan gejala

Gejalanya adalah ditemukannya darah di ujung penis, hematuria dan gangguan berkemih.
Kadang air kemih merembes ke dalam jaringan di dinding perut, kantung zakar atau perineum
(daerah antara anus dan vulva atau kantung zakar).
Penatalaksanaaan

Penatalaksanaan trauma uretra meliputi pembedahan dengan pemakaian kateter uretra atau
suprapubik sebelum sembuh, atau pemasangan kateter uretra/suprapubik dan membiarkan urethra
sembuh sendiri selama 2 3 minggu tanpa pembedahan. Selama periode tersebut pasien dimonitor
untuk terjadinya infeksi atau ekstravasasi urine.

Trauma kandung kemih


Definisi
Trauma tumpul atau penetrasi perlukaan pada bladder yang mungkin dapat/tidak dapat
menyebabkan ruptur bladder. Trauma bladder sering berhubungan dengan kecelakaan mobil saat
sabuk pengaman menekan bladder, khususnya bladder yang penuh.

Etiologi dan faktor resiko


Kandung kencing yang penuh dengan urine dapat mengalami rupture oleh tekanan yang kuat pada
perut bagian bawah. Cidera ini umumnya terjadi karena pemakaian sabuk pengaman pada klitis.

Manifestasi klinik
Trauma bladder selalu menimbulkan nyeri pada abdomen bawah dan hematuria. Jika klien
mempunyai riwayat trauma pada abdomen, itu merupakan faktor predisposisi trauma bladder.
Klien dapat menunjukkan gejala kesulitan berkemih.

Test diagnostik pada trauma bladder meliputi IVP dengan lateral views atau CT scan saat bladder
kosong dan penuh, atau csytogram. Jika darah keluar dari meatus, disrupsi uretral mungkin telah
terjadi. Pada kasus ini, klien tidak boleh dikateterisasi sampai disrupsi tersebut teratasi.

Manajemen medis
Tindakan pertama pada trauma bladder adalah insersi kateter foley atau kateter suprapubik untuk
memonitor hematuria dan menjaga agar bladder tetap kosong sampai sembuh. Cidera karena
contusio atau perforasi kecil dapat diperbaiki dengan pembedahan.

Manajemen keperawatan
Pengkajian terhadap klien yang dicurigai mengalami trauma bladder merupakan hal yang penting.
Perawat harus selalu memonitor urine output klien untuk mengetahui jumlah atau adanya
hematuria. Perawat harus mencatat penurunan urine output yang berhubungan dengan intake cairan
klien. Insersi kateter harus dilakukan secara hatihati pada klien yang dicurigai mengalami trauma
bladder.

Manajemen keperawatan pada klien bedah


Pada pasien post operative, perawat harus mempertaha-nkan drainase urine untuk mencegah
tekanan pada jaritan kandung kemih. Karena klien memakai cateter uretra atau suprapubik maka
penting diberikan informasi kepada klien tentang perawatan kateter. Kemampuan pasien untuk
memenuhi kebutuhan perawatan dirinya harus ditingkatkan sehingga mampu merawat dirinya di
rumah. Rujuk untuk perawatan setelah keteter dicabut. Berikan pula informasi mengenai latihan
untuk memulihkan fungsi otot-otot kandung kemih.

Pemeriksaan penunjang

Untuk mendiagnosa luka kandung kemih sebaiknya melakukan cryptography yaitu suatu
prosedur di mana pewarna radioaktif (senyawa kontras) yang dapat dilihat dengan X-ray,
disuntikkan ke dalam kandung kemih

Prosedur selanjutnya adalah dengan melakukan CT scan atau X-ray untuk melihat
kebocoran
Sementara untuk luka kandung kemih yang terjadi selama prosedur operasi biasanya
diketahui tepat pada waktunya sehingga rangkaian tes tersebut tidak perlu dilakukan.

Penatalaksanaan

Robekan kecil (laserasi) bisa diatasi dengan memasukkan kateter ke dalam uretra untuk
mengeluarkan air kemih selama 7-10 hari dan kandung kemih akan membaik dengan
sendirinya

Untuk luka yang lebih berat, biasanya dilakukan pembedahan untuk menentukan luasnya
cedera dan untuk memperbaiki setiap robekan.

PENGKAJIAN KEPERAWATAN

Pada dasarnya pengkajian yang dilakukan menganut konsep perawatan secara holistic. Pengkajian
dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan. Pada kasus ini akan dibahas khusus pada
sistim tubuh yang terpengaruh :

1. Ginjal (Renal)
Kemungkinan Data yang diperoleh :

Oliguria (produksi urine kurang dari 400 cc/ 24jam)


Anuria (100 cc / 24 Jam
Infeksi (WBCs , Bacterimia)
Sediment urine mengandung : RBCs ,
2. Riwayat sakitnya dahulu.
Sejak kapan muncul keluhan
Berapa lama terjadinya hipertensi
Riwayat kebiasaan, alkohol,kopi, obat-obatan, jamu
Waktu kapan terjadinya nyeri kuduk dan pinggang
3. Penanganan selama ada gejala
Kalau dirasa lemah atau sakit apa yang dilakukan
Kalau kencing berkurang apa yang dilakukan
Penggunaan koping mekanisme bila sakit
4. Pola : Makan, tidur, eliminasi, aktifitas, dan kerja.
5. Pemeriksaan fisik
Peningkatan vena jugularis
Adanya edema pada papelbra dan ekstremitas
Anemia dan kelainan jantung
Hiperpigmentasi pada kulit
Pernapasan
Mulut dan bibir kering
Adanya kejang-kejang
Gangguan kesadaran
Pembesaran ginjal
Adanya neuropati perifer
6. Test Diagnostik
Pemeriksaan fungsi ginjal, kreatinin dan ureum darah
Menyiapkan pasien yang akan dilakukan Clearens Creatinin Test (CCT) adalah:

Timbang Berat badan dan mengukur tinggi badan


Menanmpung urine 24 jam
Mengambil darah vena sebanyak 3 cc (untuk mengetahui kreatinin darah)
Mengambil urine 50 cc.
Lakukan pemeriksaan CCT dengan rumus :

Vol. Urine [cc/menit x Konsentrasi kreatinin urine (mg %)}

Kreatinin Plasma (mg %)

Persiapan Intra Venous Pyelography


Puasakan pasien selama 8 jam
Bila perlu lakukan lavemen/klisma.
PATOFISIOLOGI TRAUMA SALURAN KEMIH

Trauma saluran kemih

Ruptur ginjal trauma ureter Trauma uretra Trauma balder

Trauma tumpul/abdominal luka tusuk terjatuh trauma tumpul/


Penetrasi balder

Cidera ringan hematuria cidera pembedahan kontusio&laserasi cidera blader

Kerusakan blader
gg.nyaman nyeri hematuria hematuria
nyeri abdomen
gg.mobilisasi gg.nyaman nyeri air kencing mrembes

hematuria
DIAGNOSA PERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL (Post operatif)

1. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya stoma, aliran/rembesan
urine dari stoma, reaksi terhadap produk kimia urine.
2. Gangguan body image berhubungan dengan adanya stoma, kehilangan kontrol eliminasi urine,
kerusakan struktur tubuh ditandai dengan menyatakan perubahan terhadap body imagenya,
kecemasan dan negative feeling terhadap badannya.
3. Nyeri berhubungan dengan disrupsi kulit/incisi/drains, proses penyakit (cancer/trauma),
ketakutan atau kecemasan ditandai dengan menyatakan nyeri, kelelahan, perubahan dalam vital
signs.
4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan inadekuatnya pertahanan tubuh primer (karena
kerusakan kulit/incisi, refluk urine).
5. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan trauma jaringan, edema postoperative ditandai
dengan urine output sedikit, perubahan karakter urine, retensi urine.
6. Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan gangguan struktur body dan fungsinya,
response pasangan yang tidak adekuat, disrupsi respon seksual misalnya kesulitan ereksi.
7. Deficit pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan
dengan kehilangan kemampuan untuk menangkap informasi, misinterpretasi terhadap
informasi ditandai dengan menyatakan miskonsepsi/misinterpretasi, tidak mampu mengikuti
intruksi secara adekuat.
8. Resiko tinggi gangguan nutrisi kurang Dari Kebutuhan Tubuh sehubungan dengan intake yang
tidak adekuat.
DIAGNOSAKEPERAWATAN TUJUAN INTERVENSI RASIONAL

Resiko tinggi kerusakan integritas Tujuan : 1. Cek Drain dan luka 1. Pemasangan drain untu
kulit berhubungan dengan adanya insisi, upayakan agar mengeluarkan sisa-sisa
stoma, aliran/rembesan urine dari Klien bebas dari
aliran bebas/lancar . cairan Koreksi posisi
stoma, reaksi terhadap produk kimia resiko kerusakan
urine. integritas kulit. 2. Observasi warna dan untuk mencegah
sifat drainase. akumulasi cairan dalam
Kriteria :
3. Pertahankan posisi tubuh.
Data Subyektif : Luka operai selang drainase tube di 2. Drainase berisi darah dan
Klien mengatakan : Kapan sembuh tanpa tempat tidur sisa darah selama hari
selang saya dicabut dan lukanya komplikasi. 4. Atur posisi semi fowler hari pertama post
dapat capat sembuh karena 5. Observasi sedakan, pembedahan.
Tidak ada
ingin mandi bebas selama ini distensi abdomen, 3. Mempertahankan tetap
iritasi pada
hanya dilap dgn whaslap. Batuk. lancarnya aliran dan
daerah
Banyak berkeringat & membuat 6. Ganti pakaian klien, mencegah pembentukan
tempat higiene kulit, disekitar lumen
badan tdk enak & gatal-gatal.
pemasangan luka insisi. 4. Mempermudah aliran em
Posisi tidur tdk enak krn ada
drain 7. Anjurkan Pasien untuk pedu
luka operasi & selang.
Data Obyektif : Kulit Pasien miring kiri dan kanan 5. Lepasnya draine dapat
utuh setiap 2 jam menyebabkan iritasi dan
Terpasang tube difiksasi ke
komplikasi yg serius .
Tidak ada
tempat tidur.
6. Menjaga kebersihan kulit
Luka jahitan berjumlah 15 tanda tanda
disekitar insisi dapat
jahitan infeksi pada
mening katkan
Jumlah cairan yg keluar 200cc. kulit.
perlindungan kulit ter
Badan masih ikterus terutama hadap ulserasi.
sklera mata. 7. Mencegah terjadinya
Posisi tidur/ istirahat kerusakan integritas kulit.
semifowler dan ber sandar di
KOLABORASI :
tempat tidur diganjal dgn 1.Untuk mengurangi infeksi
1. Beri antibiotik sesuai
bantal. atau abses
indikasi.
Luka Operasi tdk tampak tanda- 2.Peningkatan leukosit sebagai
2. Monitor hasil lab: Contoh :
tan da infeksi. gambaran adanya proses
Leukosit
imflamasi contoh abses atau
terjadinya peritonitis.
DIAGNOSA

KEPERAWATAN TUJUAN INTERVENSI RASIONAL

Resiko tinggi gangguan Tujuan : 1. Beri makanan 1.Kegagalan asupan nutrisi


nutrisi kurang Dari sesuai dengan dapat terjadi akibat maknan
Kebutuhan Tubuh Status Nutrisi Pasien yang dihidangkan tidak sesuai
Dipertahankan Dalam batas kebutuhan dan
sehubungan dengan intake dengan kebutuhan dan
yang tidak adekuat. normal kesukaannya. kesukaan.
Kriteria: 2. Observasi
Data Subyektif : 2.Untuk memastikan cukupnya
jumlah asupan makanan peroral
Pasien mengeluh nafsu -. Pasien menghabiskan porsi
makan kurang suka melihat makanan yang disiapkan makanan yang
makanan terkonsumsi
-. Tidak mengeluh mual dan
Data Obyektif. muntah 3. Beri penjelasan 3.Pengetahuan akan membantu
meningkatkan toleransi pasien
pada pasien terhadap kebutuhan yang ada
Klien Nampak Lemah, Tidak -. Tidak mengeluh pusing
makan nasi yang disiapkan. tentang nutrisi
yang
dibutuhkan dan
kegunaannya. 4.Merangsang nafu makan
4. Sajikan menu klien
yang menarik
5. Kolaborasi
5.Mengatasi kegagalan asupan
dengan medis makanan peroral
tentang keluhan
untuk
mendapatkan
infus.,obat anti
mual, obat
penambah
nafsu makan.
6. Lakukan cek 6.Mengetahui perkembangan
BB tiap 3 hari status nutrisi